Aku ingin menyampaikan kepada semuanya bahwa Al-Quran adalah Kitab yang bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut. Melalui Kitab ini manusia akan ditarik ke arah Tuhan dan hatinya akan menjadi beku terhadap kecintaan kepada dunia. Dengan mengikuti Kitab tersebut maka Tuhan yang tersembunyi di balik yang paling tersembunyi, akan memanifestasikan Wujud-Nya dan memperlihatkan kekuatan yang tidak dipahami orang luar dan memberitahukan tentang eksistensi Diri-Nya dengan penegasan: ‘Aku ini ada.’ Namun Kitab Veda tidak ada memiliki sifat ini. Kitab ini lebih mirip sebundal naskah usang yang pemiliknya sudah mati dan tidak bisa ditelusuri lagi isinya. Sosok Permeshwar yang diagungkan Kitab Veda nyatanya tidak bisa dibuktikan sebagai sesuatu yang hidup. Bahkan sebenarnya tidak ada Kitab Veda memberikan bukti kalau Permeshwar mereka memang ada. Ajaran menyimpang dalam Kitab Veda menjadikannya diragukan bahwa seseorang dapat menemui Sang Pencipta melalui hasil ciptaan-Nya, karena menurut ajaran Kitab Veda ruh dan benda semuanya bersifat abadi dan tidak diciptakan. Lalu bagaimana seseorang bisa menemukan Sang Pencipta melalui sesuatu yang tidak diciptakan? Begitu pula Kitab Veda telah menutup pintu wahyu samawi dan menyangkal tanda-tanda Tuhan yang baru.”

“Menurut Kitab Veda, Sang Permeshwar tidak bisa memberikan tanda yang mendukung hamba-Nya yang khusus, sesuatu yang seharusnya bersifat istimewa dibanding pengetahuan dan pengalaman rata-rata manusia. Palingpaling yang bisa diutarakan tentang Veda adalah bahwa Kitab-kitab itu menyebutkan adanya eksistensi Tuhan sebagai mahluk rata-rata lainnya, dan tidak ada mengemukakan suatu bukti yang bisa mendukung eksistensi Tuhan. Singkat kata, Kitab Veda tidak mampu memberikan pemahaman yang datang segar dari Tuhan yang bisa mengangkat seseorang dari bumi ke langit. Adapun dari pengamatan kami sendiri dan dari pengalaman mereka yang telah mendahului kita, semuanya menjadi saksi bahwa Al-Quran menggiring para penganutnya kepada dirinya melalui pengaruh keruhanian, Nur yang inheren dan mencerahkan batin, serta penampakan tanda-tanda akbar untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan yang tidak mungkin diretas oleh pedang yang tajam sekali pun. Kitab ini membuka mata hati manusia dan membendung sumber dosa yang kotor dan menganugrahi seseorang dengan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, membukakan hal-hal yang tersembunyi, membantu pengabulan doa serta memberitahukan tentang kemakbulan tersebut. Allah Yang Maha Perkasa melalui tanda-tanda-Nya yang dahsyat menjadikan nyata kepada setiap orang yang memusuhi seorang penganut Al-Quran yang setia bahwa Dia itu selalu beserta hamba-Nya yang selalu mematuhi firman-Nya.”

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 305-309, London, 1984).

***

“Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dapat dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al-Quran. Kalau saja aku bisa mengharapkan bahwa umat manusia sanggup melihat apa yang telah aku lihat dan bisa mendengar apa yang telah aku dengar serta meninggalkan dongeng-dongeng mereka dan mau beralih mencari realitas yang nyata. Sarana untuk mendapatkan pengetahuan sempurna guna bisa bertemu dengan Tuhan, memperoleh air pencuci batin yang melarutkan semua keraguan serta cermin melalui mana seseorang bisa memandang Wujud yang Maha Luhur tersebut, adalah melalui cara bercakap-cakap dengan Tuhan sebagaimana telah aku sebutkan tadi. Ia yang jiwanya haus akan kebenaran, sewajarnya bangkit dan mencarinya. Sesungguhnya aku menyatakan bahwa jika jiwa diilhami dengan pencaharian yang hakiki dan kalbu memang merasa kehausan yang sebenarnya, maka pasti manusia akan meneliti dan mencari jalan ini. Aku ingin meyakinkan para pencari kebenaran bahwa hanya Islam saja yang bisa memberikan kabar gembira mengenai jalan tersebut karena umat lainnya sudah lama sekali menutup pintu turunnya wahyu.”

“Sesungguhnya pintu itu tidak dikunci mati oleh Allah s.w.t. namun karena manusia telah mengkaliskan dirinya dari anugerah tersebut maka ia mencari helah atau alasan atas ketiadaannya. Karena kita tidak akan mungkin bisa melihat tanpa adanya mata, tak akan mungkin bisa mendengar tanpa telinga serta tidak akan bisa berbicara tanpa adanya lidah, begitu jugalah kita tidak akan mungkin akan sanggup memandang Wujud Yang Maha Terkasih tanpa adanya Kitab Suci Al-Quran. Dahulu aku berusia muda dan sekarang sudah tua, namun aku belum ada menemukan orang yang bisa menikmati pemahaman sempurna tanpa adanya sumber mata air yang suci ini.” (Islami Usulki Philosophy, Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 442- 443, London, 1984).

***

“JALAN YANG LURUS dan sarana utama yang sarat dengan Nur kepastian serta pedoman yang sempurna bagi kesejahteraan kerOhanian dan kemampuan intelektual kita adalah Kitab Suci Al-Quran yang juga merupakan pamungkas dalam perbandingan antar agama di dunia. Kitab ini berisi banyak sekali air kehidupan serta mengandung permata yang tidak ternilai tersembunyi di dalamnya. Kitab ini merupakan batu ujian terbaik dalam membedakan kebenaran dari kedustaan. Ia adalah obor tunggal bercahaya terang yang menerangi jalan kebenaran. Tidak diragukan lagi kalau hati dari mereka yang cenderung kepada jalan yang lurus pasti akan tertarik kepada Al-Quran. Allah s.w.t. telah membentuk hati mereka agar mereka cenderung kepada yang Maha Tercinta sebagaimana laiknya kekasih dan mereka tidak akan menemukan keselesaan di tempat lain. Mereka jika mendengar petunjuk-Nya yang jelas dan nyata, maka mereka tidak akan mendengar kepada yang lainnya lagi. Mereka beriman dengan sukacita pada setiap kebenaran yang dikandung di dalamnya. Kitab tersebut menjadi sarana pencerahan hati yang menerangi nurani serta menjadi pengungkapan hal-hal yang luar biasa. Kitab ini membimbing manusia kepada kemajuan sejalan dengan kemampuan mereka. Mereka yang muttaqi selalu merasakan kebutuhan berjalan di bawah Nur dari Al-Quran. Setiap kali Islam harus berbenturan dengan agama lain karena pengaruh keadaan di setiap zaman maka instrumen tajam dan efektif yang bisa diraih segera adalah Al-Quran. Begitu juga setiap kali ada pemikiran filosofis yang menentangnya maka Al-Quran akan menghancurkan tanaman beracun tersebut dengan pandangan filosofi sejati yang terkandung di dalamnya.”

“Di zaman modern ini ketika missionaris umat Kristen mulai berpropaganda dan berusaha menarik orang-orang yang bodoh dan tidak terpelajar dari Ketauhidan Ilahi untuk beralih kepada penyembahan seorang mahluk yang lemah serta menggunakan segala macam dandanan menutupi dogma mereka yang diragukan sehingga menciptakan badai di India, adalah Kitab Suci Al- Quran yang telah mengalahkan mereka. Kini mereka tidak lagi mempunyai muka untuk menghadapi orang-orang yang terpelajar dimana apologia [1] mereka telah remuk sebagaimana halnya secarik kertas.” (Izalah Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 381-382, London, 1984).


[1] 36 Apologia adalah alih bahasa dari apologetics yang merupakan cabang dari theologi yang mencoba mempertahankan secara intelektual kebenaran agama Kristen. Di abad perten­gahan, apologetics ditujukan untuk menyatakan superioritas agama Kristen diatas agama Yahudi dan Islam. Di abad modern, apologetics diarahkan kepada pembenaran agama Kristen sebagai pemenuhan kebutuhan eksistensi manusia mengingat sulit mencari buk­ti kebenaran historis daripada Kitab Injil. (Penterjemah)

Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 354-358, ISBN 185372-765-2
(Visited 40 times, 1 visits today)