Benarkah Alquran Kitab Sempurna Yang Merangkum Semua Kebenaran Ilahi

Jawaban atas kritik kaum Brahmo Samaj

Ada yang mengajukan keberatan bahwa bagaimana mungkin seluruh kebenaran pengetahuan Ilahi dirangkum dalam satu Kitab saja dan karena itu bagaimana mungkin Kitab yang tidak sempurna itu dapat diharapkan akan membimbing manusia ke arah pengertian yang benar?”

“Jawaban atas pertanyaan seperti itu ialah keberatan demikian patut mendapat perhatian jika salah satu dari kelompok Brahmo Samaj dapat mengemukakan dari pikirannya sendiri adanya kebenaran baru berkaitan dengan pengenalan Tuhan atau hal lainnya yang belum diungkapkan di dalam Alquran. Jika ia mampu maka kaum Brahmo Samaj boleh mengagulkan diri menyatakan bahwa belum semua kebenaran mengenai akhirat dan pengenalan Tuhan sudah dikemukakan dalam Alquran, dan bahwa mereka menemukan kebenaran baru di luar Kitab itu. Nyatanya hal seperti itu tidak mungkin terjadi dan kalau mereka melakukannya juga, paling-paling mereka hanya berhasil mengelabui beberapa orang yang bodoh saja. Kitab Suci Al-Quran menyatakan:

ما فَرَّطنا فِي الكِتابِ مِن شَيءٍ ۚ

‘Tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini’ (QS.6 Al-Anaam:39)

dengan pengertian bahwa tidak ada kebenaran yang berkaitan dengan pengetahuan Ilahi yang diperlukan manusia yang terlewat tidak disentuh oleh Al-Quran.

Di tempat lain dinyatakan:

رَسُولٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ يَتْلُوا۟ صُحُفًۭا مُّطَهَّرَةًۭ ﴿ ﴾ فِيهَا كُتُبٌۭ قَيِّمَةٌۭ

‘Seorang rasul dari Allah Yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya terkandung perintah-perintah kekal abadi’ (QS.98 Al-Bayinah:3-4)

 

Dari ayat ini jelas bahwa Al-Quran telah merangkum keseluruhan kebenaran serta pengetahuan dari awal maupun akhir. Begitu pula difirmankan:

كِتَـٰبٌ أُحْكِمَتْ ءَايَـٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ﴿

‘Ini adalah kitab yang ayat-ayatnya telah dibuat kokoh dan bebas dari cacat, kemudian itu telah diuraikan terperinci, dari Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui’ (QS.11 Hud:2)

“Dengan kata lain, Kitab ini memiliki dua sifat; pertama, Yang Maha Bijaksana telah menyusunnya secara kokoh dengan argumentasi yang kuat dalam kebijakan dan bukan semata-mata sebagai dongeng; dan kedua, Kitab ini menjelaskan segala hal yang patut diketahui mengenai akhirat. Dinyatakan juga di tempat lain:

 

إِنَّهُۥ لَقَوْلٌۭ فَصْلٌۭ ﴿  ﴾ وَمَا هُوَ بِٱلْهَزْلِ

 ‘Sesungguhnya Al-Quran itu perkataan yang menentukan, dan Al-Quran itu bukan pembicaraan kosong’ (QS.86 Ath-Thariq:14-15)

yaitu Kitab ini menjelaskan semua pandangan mengenai kehidupan akhirat dan bukan merupakan suatu hal yang tidak ada artinya. Begitu pula dinyatakan:

وَما أَنزَلنا عَلَيكَ الكِتابَ إِلّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اختَلَفوا فيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحمَةً لِقَومٍ يُؤمِنونَ

‘Kami tidak menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman’ (QS.16 An-Nahl:65)

yaitu dengan pengertian bahwa Kitab ini diwahyukan agar perselisihan paham di antara manusia akibat dari penalaran yang salah atau karena kesengajaan, bisa dilenyapkan dan bagi mereka yang beriman akan terbuka jalan yang lurus. Yang juga diindikasikan dalam ayat ini ialah kekeliruan yang muncul akibat dari komposisi manusia dapat diselesaikan oleh Firman yang kalis dari segala cacat tersebut.”

“Rasanya jelas bahwa mereka yang terbawa keliru karena ucapan, bisa dibawa kembali ke jalan yang lurus hanya melalui Firman Ilahi. Manusia secara alamiah saja tidak akan mampu membedakan kebaikan di antara berbagai karangan atau komposisi orang lain, tidak juga bisa menyadarkan yang keliru mengenai kesalahan mereka. Seorang hakim walau telah mencatat semua tuntutan dari penggugat dan telah menjawab untuk mengatasi semua keberatan dari si terdakwa, masih saja pihak-pihak berkaitan merasa tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dan sanggahan mereka dalam keputusan Sang hakim, dan bagaimana bisa keputusan akhir memuaskan semua pihak jika didasarkan pada hal-hal rancu yang tersirat?”

“Berbeda dengan itu, perintah-perintah Tuhan secara konklusif ditegaskan demi kepuasan para hamba-Nya ketika Dia memberitahukan tentang kesalahan mereka akibat terperosok oleh ucapan dusta orang lain serta menjelaskan hal kejatuhan mereka itu secara jelas dan tegas, dimana mereka akan menyadari bahwa jika mereka tidak memperbaiki diri setelah diberi peringatan maka mereka akan dihukum. Apakah adil bagi Tuhan jika Dia langsung mencekam seseorang sebagai pelanggar peraturan lalu menghukumnya tanpa terlebih dahulu membuktikan kesalahan pandangan orang itu dengan ketentuan yang jelas dan tanpa menghilangkan terlebih dahulu keraguan yang bersangkutan melalui Firman-Nya yang tegas?”

Kesempurnaan Sistem Petunjuk Dalam Al-Quran

Pada tempat lain juga telah difirmankan:

هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ ۚ

(‘Al-Quran diturunkan) sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan pemisahkan yang hak dari yang batil’ (QS.2 Al-Baqarah:186)

“Berarti Al-Quran memiliki tiga karakteristik. Pertama, Kitab ini membimbing manusia kepada pengetahuan tentang keimanan yang telah menghilang. Kedua, Kitab ini mengemukakan rincian dari pengetahuan tersebut secara detil. Ketiga, Kitab ini mengemukakan firman tegas tentang hal-hal berkaitan dengan mana telah muncul perselisihan paham, sehingga dengan demikian menjadi pembeda di antara yang hak dan yang batil.”

“Berkaitan dengan sifat komprehensifitas daripada Al-Quran, dinyatakan dalam sebuah ayat bahwa:

وَكُلَّ شَيءٍ فَصَّلناهُ تَفصيلًا

‘Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan keterangan yang terperinci’ (QS.17 Bani Israil:13).

“Makna dari ayat ini ialah semua pengetahuan tentang keimanan telah dijelaskan secara rinci di dalam Al-Quran dan Kitab ini memberikan sarana dan mengajarkan bahwa pengetahuan luhur demikian akan membimbing manusia tidak saja ke arah kemajuan parsial tetapi justru kepada perkembangan yang sempurna.”

“Begitu juga dinyatakan:

وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتابَ تِبيانًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ

‘Telah Kami turunkan kepada engkau kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk dan rahmat dan kabar suka bagi orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah’ (QS.16 An-Nahl:90).

“Makna ayat ini untuk mengemukakan bahwa Kitab tersebut diwahyukan agar setiap kebenaran agama menjadi jelas dan kejelasan tersebut bisa menjadi pedoman dan rahmat bagi mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kemudian juga difirmankan:

الر ۚ كِتابٌ أَنزَلناهُ إِلَيكَ لِتُخرِجَ النّاسَ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النّورِ بِإِذنِ رَبِّهِم إِلىٰ صِراطِ العَزيزِ الحَميدِ

‘Inilah suatu kitab yang telah Kami turunkan kepada engkau, supaya engkau dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin tuhan mereka dan menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji’ (QS.14 Ibrahim:2)

 “Berarti bahwa Al-Quran dapat mengikis semua bentuk keraguan yang telah menyelinap ke dalam fikiran manusia sehingga memunculkan pandangan-pandangan yang salah, serta mengaruniakan Nur dari pemahaman yang sempurna. Dengan kata lain, Kitab ini memberikan semua wawasan dan kebenaran yang dibutuhkan manusia guna berpaling ke arah Tuhan mereka dan beriman kepada-Nya.”

Pada tempat lain dinyatakan:

ما كانَ حَديثًا يُفتَرىٰ وَلٰكِن تَصديقَ الَّذي بَينَ يَدَيهِ وَتَفصيلَ كُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً لِقَومٍ يُؤمِنونَ

‘Ini bukanlah suatu hal yang telah dibuat-buat, melainkan suatu penyempurnaan apa yang telah ada sebelumnya dan penjelasan terperinci untuk segala sesuatu, dan suatu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman’ (QS.12 Yusuf:112)

“Berarti bahwa Al-Quran bukanlah suatu buku yang bisa dikarang oleh seorang manusia. Tanda-tanda kebenarannya nyata sekali karena Kitab ini telah menegakkan kebenaran dari Kitab-kitab sebelumnya, dengan pengertian bahwa nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab-kitab sebelumnya berkaitan dengan Al-Quran telah menjadi kenyataan dengan diwahyukannya Kitab ini. Begitu pula Al-Quran telah memberikan argumentasi yang mendukung akidah-akidah hakiki yang sebelumnya tidak dikemukakan dalam Kitab-kitab terdahulu dan dengan demikian telah menjadikan akidah tersebut menjadi sempurna. Dengan cara ini Al-Quran telah meneguhkan kebenaran Kitab-kitab terdahulu dan dengan demikian telah menegakkan kebenarannya sendiri. Bahwa Kitab ini berisi semua kebenaran dari agama-agama lainnya, juga menjadi tanda kebenaran dirinya. Semua hal itu menjadi tanda kebenarannya karena tidak ada manusia yang pengetahuannya demikian komprehensif sehingga menguasai semua kebenaran agama dan mutiara kebenaran tanpa ada yang terlewatkan.”

 “Dalam ayat-ayat tersebut di atas Allah Yang Maha Kuasa secara tegas menyatakan bahwa Al-Quran secara komprehensif telah merangkum semua kebenaran dan hal ini menjadi argumentasi yang kuat untuk menopang kebenarannya. Sudah lewat ratusan tahun sejak pernyataan dari Al-Quran itu dan sampai sekarang tidak ada dari Brahmo Samaj atau pun yang lainnya yang berani menyangkalnya. Rasanya menjadi jelas bahwa mereka dengan tidak memberikan kebenaran baru yang mungkin terlewat oleh Al-Quran, tentulah mereka itu seperti orang-orang tidak waras yang mengemukakan sesuatu tanpa realitas yang mendukung. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa mereka itu sebenarnya memang tidak mencari kebenaran sebagaimana seorang muttaqi tetapi hanya untuk memuaskan nafsu jahat mereka dalam mencari jalan untuk membebaskan diri dari Firman Tuhan dan dari Tuhan sendiri.”

“Guna memperoleh kebebasan demikian, mereka telah berpaling dari Kitab Tuhan yang hakiki dimana kebenarannya lebih cemerlang daripada matahari sekalipun. Mereka tidak mau membicarakan hal-hal itu dalam semangat orang terpelajar, tidak juga mereka mau mendengarkan suara pihak lain. Mereka seharusnya diingatkan, kapan pernah seorang manusia mampu mengajukan suatu kebenaran keagamaan yang bertentangan dengan Al-Quran yang tidak ada jawabannya di dalam Kitab ini. Selama lebih dari 1300 tahun sudah Kitab Suci Al-Quran menyatakan bahwa semua kebenaran keagamaan telah dirangkum di dalamnya. Alangkah jahatnya orang yang tanpa menguji Kitab yang demikian luhur lalu mengatakannya sebagai berkekurangan. Betapa angkuhnya mereka karena tidak mau mengakui kebenaran pernyataan Al-Quran tetapi juga tidak mampu membantahnya. Sebenarnya walau bibir mereka terkadang mengucapkan nama Tuhan, namun hati mereka berisi segala kekotoran duniawi. Bila mereka memulai diskusi keagamaan, mereka selalu tidak mau melanjutkannya sampai selesai karena takut kebenaran akan mengemuka. Mereka seenak hatinya sendiri menyatakan bahwa Kitab ini berkekurangan padahal Allah s.w.t. telah berfirman:

 اليَومَ أَكمَلتُ لَكُم دينَكُم وَأَتمَمتُ عَلَيكُم نِعمَتي وَرَضيتُ لَكُمُ الإِسلامَ دينًا ۚ

 ‘Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama’ (QS.5 Al-Maidah:4)

“Apakah kalian tidak takut kepada Tuhan? Apakah kalian akan terus saja berkelakukan seperti ini? Apakah kalian fikir bahwa mulut kalian tidak akan dilaknat Tuhan nanti? Jika kalian fikir bahwa kalian telah menemukan kebenaran luhur setelah penelitian dan kerja keras kalian, lalu menyatakan bahwa hal itu terlewatkan oleh Al-Quran, kami undang kalian untuk datang menyerahkannya kepada kami, dan kami nanti akan berikan bukti dari Al-Quran bahwa semuanya sudah terangkum di dalamnya.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 223-227, London, 1984).


 

Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 482-489, ISBN 185372-765-2
(Visited 139 times, 1 visits today)