Aku pernah muda dan sekarang ini sudah tua, namun semua orang menyaksikan bahwa aku tidak pernah mempedulikan masalah-masalah duniawi dan hanya tertarik kepada masalah keimanan saja. Aku telah menemukan firman amat suci dan penuh dengan marifat keruhanian yang diberi nama Al-Quran. Kitab ini tidak mempertuhan seorang manusia dan tidak melecehkan Tuhan dengan cara mengecualikan ruh dan raga dari hasil ciptaan-Nya. Kitab Suci Al-Quran membawa berkat dalam hati manusia yang menjadikannya menganut suatu agama yang benar serta menjadikan dirinya sebagai pewaris dari rahmat Ilahi. Setelah berhasil menemukan Nur demikian, bagaimana mungkin kami kembali kepada kegelapan dan setelah memperoleh mata bagaimana mungkin kami menjadi buta?” (Sanatan Dharm, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 474, London, 1984).

***

“Jelas sudah kalau Al-Quran itu telah menyempurnakan agama Islam sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

اليَومَ أَكمَلتُ لَكُم دينَكُم وَأَتمَمتُ عَلَيكُم نِعمَتي وَرَضيتُ لَكُمُ الإِسلامَ دينًا ۚ

Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama’ (QS.5 Al-Maidah:4).

“Karena itu setelah Kitab Suci Al-Quran tidak diperlukan diturunkannya kitab lain, mengingat semua yang dibutuhkan manusia sudah dirangkum di dalamnya. Sekarang ini hanya pintu wahyu yang masih terbuka namun tidak secara otomatis demikian. Firman hakiki dan suci yang berisikan pertolongan Allah swt serta berbagai hal-hal tersembunyi di dalamnya hanya bisa diperoleh dengan cara mensucikan batin melalui pengamalan Al-Quran dan mematuhi Yang Mulia Rasulullah saw.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 80, London, 1984).

***

“Apa yang termaktub di dalam Al-Quran merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada di atas semua wahyu-wahyu lainnya. Tidak dimungkinkan adanya wahyu lain yang diturunkan yang akan bertentangan karena hal seperti itu sama saja dengan memansukhkan Ayat-ayat Suci.” (Majmua Ishtiharat, vol. 2, hal. 84).

 ***

“Mukjizat nyata Al-Quran yang bisa diperhatikan setiap orang dan yang akan memukau orang jika kita kemukakan, terlepas apakah yang bersangkutan bangsa India, Parsi, Eropa atau Amerika, adalah tidak terbatasnya khazanah wawasan, kebenaran dan kebijakan yang dapat diungkapkan di setiap zaman menurut kebutuhan laiknya prajurit bersenjata yang setiap saat mampu menangkis pandangan keliru. Kalau Al-Quran bersifat terbatas dalam wawasan dan kebenaran yang dikandungnya maka tidak mungkin akan disebut sebagai mukjizat yang sempurna. Tidak hanya keindahan komposisinya yang dikagumi baik mereka yang buta huruf Arab atau pun yang melek huruf, tetapi mukjizat Al-Quran yang nyata adalah tidak terbatasnya wawasan dan mutiara-mutiara hikmah yang dikandungnya. Seseorang yang tidak mengakui mukjizat Al-Quran, sesungguhnya kalis dari pengetahuan mengenainya. Mereka yang tidak meyakini mukjizat tersebut, tidak akan bisa menghargai Al-Quran sebagaimana layaknya ia dihargai, dan tidak mengenal Tuhan sebagaimana mestinya Dia dikenali, serta tidak menghormati Yang Mulia Rasulullah saw sebagaimana laiknya beliau dihormati.”

“Perhatikanlah bahwa mukjizat dari wawasan serta kebenaran tak terbatas yang dikandung Al-Quran itu telah menghasilkan kemaslahatan jauh lebih banyak di setiap zaman dibanding jika dengan pedang. Semua bentuk keraguan yang muncul di setiap zaman sejalan dengan situasinya serta semua pengakuan dari wawasan yang dianggap lebih baik, nyatanya secara total disangkal Al-Quran. Tidak ada seorang pun penganut aliran Brahmo, Buddha, Arya atau pun filosof lainnya yang mampu mengemukakan kebenaran Ilahi lainnya yang belum ada terkandung di dalam Al-Quran. Keajaiban-keajaiban Kitab Suci Al-Quran tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana sifat-sifat mulia hukum alam tidak pernah berakhir di masa-masa lalu karena selalu tampak baru dan segar, begitu pula halnya dengan Kitab Suci ini sehingga firman Tuhan dan kinerja-Nya dapat dibuktikan selalu berjalan selaras.”

“Sebagaimana telah aku kemukakan sebelumnya, sering sekali keajaiban Kitab Suci Al-Quran dibukakan kepadaku dan banyak di antaranya yang tidak akan ditemukan dalam tafsir-tafsir lainnya. Sebagai contoh, telah diwahyukan kepadaku bahwa jangka waktu yang dilewati di antara masa turunnya Nabi Adam as sampai dengan masa Yang Mulia Rasulullah saw  sesungguhnya ada dikandung dalam Surah Al-Ashr dalam nilai huruf-hurufnya yang mencapai angka 4.740 tahun Qamariah (berdasar perhitungan bulan). Kebenaran seperti ini tidak akan ditemui dalam kitab-kitab tafsir lainnya. Begitu pula Allah Yang Maha Agung telah membukakan kepadaku tafsir ayat:

إِنّا أَنزَلناهُ في لَيلَةِ القَدرِ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada Malam Takdir’ (QS.97 Al- Qadr:2)

bahwa artinya tidak hanya berkaitan dengan turunnya Al-Quran tetapi juga pengertian lain seperti yang telah aku kemukakan dalam buklet Fateh Islam. Kitab tafsir manakah yang ada mengandung kebenaran-kebenaran seperti ini? Patut diperhatikan bahwa berbagai pergandaan arti di dalam Al-Quran tidaklah berarti ada kontradiksi di dalamnya, tidak juga menggambarkan adanya cacat pada ajarannya. Bahkan sesungguhnya Nur keakbaran Al-Quran malah menjadi bertambah cemerlang karena adanya tambahan tafsir Nur-nur yang baru. Dengan berjalannya waktu yang mengembangkan lebih lanjut batas pemikiran manusia maka perlu kiranya bagi Al-Quran untuk selalu memanifestasikan dirinya dalam bentuk-bentuk mutakhir serta membukakan pengetahuan-pengetahuan baru dan menyangkal khayalan dan bidah yang mungkin muncul. Karena itu jika Kitab yang dianggap sebagai Khatamal Kutub tidak bisa menanggulangi keadaan-keadaan baru maka pernyataan tersebut tidak akan ada artinya. Jika nyatanya Kitab ini memang merangkum keseluruhan kebutuhan manusia di setiap zaman maka kita harus mengakui kalau Kitab ini telah merangkum jumlah wawasan yang tak ada batasnya.”

“Patut diketahui bahwa perlakuan Allah swt terhadap para penerima wahyu yang sempurna ialah Dia akan selalu mengungkapkan rahasia-rahasia tersembunyi dari Al-Quran kepada yang bersangkutan. Sering terjadi bahwa ada suatu ayat Al-Quran yang diwahyukan kepada seorang penerima wahyu dimana tujuannya agak berbeda dengan pengertian awal saat diturunkannya wahyu tersebut. Maulvi Abdullah Ghaznavi suatu kali menulis dalam sebuah surat bahwa yang bersangkutan pernah menerima sebuah wahyu yang berbunyi:

قُلنا يا نارُ كوني بَردًا وَسَلامًا عَلىٰ إِبراهيمَ

Kami berkata: “Hai api, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan keselamatan” (QS.21 Al-Anbiya:70)

namun ia tidak memahami apa maksudnya. Ia kemudian menerima wahyu berikutnya yang berbunyi:

“Kami berkata: “Hai keteguhan hati, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan keselamatan”

barulah ia menyadari bahwa dalam hal ini yang dimaksud sebagai api adalah keteguhan hati.” (Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 255-262, London, 1984).

 ***

“Sekarang ini adalah masa dimana ribuan celaan dan keraguan telah dilontarkan manusia dimana agama Islam telah mengalami serangan dari berbagai penjuru. Allah swt sudah berfirman:

‘Tiada suatu benda pun melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tak terbatas dan tidaklah Kami merunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu’. (QS.15 Al-Hijr:22).

“Jadi sekarang inilah saatnya telah muncul kebutuhan untuk mengungkapkan wawasan dan kebenaran yang tersembunyi di dalam Kitab Suci Al-Quran yang akan menyangkal setiap bentuk agama filosofis atau pun yang non-filosofis. Karena adanya serangan dari mereka yang menganut aliran-aliran filsafat baru, tibalah saatnya bagi manifestasi wawasan-wawasan yang tersembunyi tersebut. Tanpa adanya pengungkapan wawasan demikian maka mustahil Islam bisa menang di atas agama-agama palsu tersebut.”

“Kemenangan yang diperoleh di ujung sebilah pedang tidak ada artinya sama sekali karena akan menghilang kembali dengan menurunnya kekuasaan si pemegang pedang. Kemenangan haqiqi hanya bisa diperoleh melalui pembeberan barisan wawasan dan kebenaran abadi. Kemenangan seperti inilah yang sedang diperjuangkan Islam. Nubuatan tersebut berkaitan dengan masa sekarang. Sekaranglah waktunya bagi Al-Quran untuk membuka semua pengertian-pengertian yang selama ini tersembunyi.”

“Seorang yang berpikir akan mudah memahami bahwa tidak ada mahluk ciptaan Allah Yang Maha Agung yang tidak memiliki sifat-sifat yang indah dan ajaib. Kalau ada seseorang yang mencoba melakukan penelitian tentang sifat dan keajaiban seekor lalat maka sampai akhir Hari Kiamat pun kerjanya belum akan selesai. Dengan sendirinya keajaiban dan sifat-sifat Al-Quran tentunya lebih banyak lagi dibanding seekor lalat. Karena itu tidak diragukan lagi bahwa keajaiban-keajaiban yang dikandung Al-Quran sesungguhnya lebih banyak lagi dibanding keseluruhan alam semesta ini. Jika manusia menyangkal hal tersebut, sama saja dengan menyangkal sumber Ilahi dari Al-Quran karena tidak ada apa pun di dunia ini yang merupakan ciptaan Tuhan yang tidak mengandung keajaiban-keajaiban tanpa batas.”

“Kebenaran dan tafsir baru mutiara-mutiara hikmah yang dikandung Al-Quran yang bisa mengembangkan pemahaman selalu diungkapkan menurut saat dibutuh. Munculnya penyelewengan atau bid’ah dalam agama menuntut adanya tafsir baru yang arif. Jelas bahwa Al-Quran itu sendiri sudah merupakan mukjizat, namun keakbaran dari mukjizat tersebut adalah juga karena merangkum seluruh kebenaran yang tidak ada batasnya yang dimanifestasikan pada saatnya yang tepat. Dengan munculnya kesulitan pada suatu masa, wawasan-wawasan yang selama itu tersembunyi kemudian diungkapkan.”

“Pada masa sekarang ini sedang berkembang pesat pengetahuan-pengetahuan sekuler yang sebagian terbesar bertentangan dengan Al-Quran serta menjadikan manusia menjadi fasik. Banyak sekali ditemukan keajaiban-keajaiban baru di dalam bidang matematika, fisika dan filsafat. Patutlah kiranya jika pintu kemajuan keruhanian dan pemahaman sepantasnya juga dibukakan agar tersedia sarana untuk menangkal setiap kemudharatan baru. Ketahuilah bahwa sesungguhnya pintu tersebut sudah dibukakan dan Allah Yang Maha Agung telah memutuskan untuk mengungkapkan keajaiban-keajaiban Al-Quran yang selama ini tersembunyi guna menghadapi para filosof dunia yang angkuh tersebut. Para ulama setengah matang yang sesungguhnya menjadi musuh agama Islam, tidak akan bisa menggagalkan maksud Tuhan tersebut. Kalau mereka tidak menghentikan kejahilannya maka mereka akan dihancurkan dan mereka akan menerima cemeti Ilahi yang akan menjadikan mereka menjadi debu rata dengan tanah. Orang-orang bodoh ini tidak mau membuka mata melihat kondisi di sekitar mereka. Melalui mereka itu Al-Quran sepertinya ditampilkan sebagai sesuatu yang lemah dan hina, namun sekaranglah saatnya Kitab Suci Al-Quran akan muncul sebagai pemenang.”

“Kitab Suci Al-Quran akan muncul di medan laga sebagai singa yang akan menghancur-leburkan seluruh filosofi dunia dan akan mencanangkan keunggulan dirinya serta akan memenuhi nubuatan bahwa Islam akan menang di atas semua agama lainnya seperti yang dinyatakan dalam firman:

لِيُظهِرَهُ عَلَى الدّينِ كُلِّهِ

‘Supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama’ (QS.61 Ash- Shaf:10)

untuk kemudian mencapai kulminasinya dalam pemenuhan nubuatan keruhanian bahwa:

 وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُم دينَهُمُ

‘Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka’. (QS.24 An-Nur:56)

“Tidak mungkin menegakkan agama di dunia secara sempurna jika melalui paksaan. Agama Islam dikatakan telah tegak sepenuhnya di muka bumi jika agama lain yang akan menentangnya sudah tidak ada lagi dan semua lawan telah meletakkan senjata mereka. Saat itu sudah tiba sekarang dan para ulama bodoh tidak akan bisa menghalanginya. Sekarang ini Putra Maryam yang bapak ruhaninya adalah Sang Maha Pengajar, yang juga mirip dengan Adam, akan membagi-bagikan harta karun dari dalam Al-Quran di antara umat manusia sedemikian rupa sehingga mereka puas sepenuhnya dan tidak menginginkan lainnya lagi.” (Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 464-467, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 372-378, ISBN 185372-765-2

 

(Visited 75 times, 1 visits today)