Mereka yang hanya mengandalkan logika saja sebenarnya sama saja dengan orang-orang yang berkekurangan dalam tindakan dan keimanan serta ketulusan perilaku, sebagaimana juga mereka berkekurangan dalam pengetahuan, pemahaman dan keyakinan. Kelompok orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi teladan atau dimasukkan ke dalam kelompok jutaan orang-orang suci yang menjadi hamba Allah Yang diridhoi oleh-Nya.”

“Berkat dari orang-orang suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian serta pengaruh keakraban diri mereka telah menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya menjadi hamba-hamba Allah s.w.t.. Mereka ini tidak mempedulikan dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan duniawi. Mereka mengikuti jalan takwa dimana karenanya ratusan dari mereka telah kehilangan nyawa dan ribuan kepala telah terpenggal sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.”

“Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu, mereka tetap saja memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan mereka sebagaimana laiknya seorang pencinta yang setia. Mereka hanya tertawa ketika kaki mereka dibelenggu dan merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah mala petaka. Demi kecintaan kepada yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka, lebih memilih kehinaan daripada kemashuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan, lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidakberdayaan daripada kawan-kawan dan kesukaan. Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi daripada Tuhan. Berkat dari mengikuti Firman Tuhan, mereka telah memperoleh Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain. Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok manusia pilihan seperti itu selalu ada di dalam Islam dan mereka ini menangkal para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka.”

“Dengan demikian kami telah membuktikan secara konklusif bahwa sebagaimana Al-Quran bisa membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu jugalah dengan melaluinya seseorang akan mencapai kesempurnaan dalam perilaku. Nur dan tanda-tanda keridhoan Allah s.w.t. telah muncul dan akan selalu terlihat pada mereka yang mengikuti Firman Suci. Bagi seorang pencari kebenaran, hal seperti ini menjadi bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa berkat surgawi dan tanda-tanda Ilahi hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Quran. Adapun aliran atau sekte lainnya seperti Brahmo Samaj, kaum Arya dan kaum Kristiani yang menyangkal adanya wahyu, sesungguhnya dikaliskan dari Nur kebenaran tersebut.”

“Kami bersedia memberikan kepuasan kepada siapa pun yang ingin menyangkal pandangan kami, tetapi dengan syarat bahwa yang bersangkutan memang berhasrat memeluk agama Islam secara tulus. Silakan datanglah kepada kami dengan niat baik, keteguhan hati dan ketulusan untuk mencari kebenaran.”

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 350- 352, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 455-456, ISBN 185372-765-2
(Visited 57 times, 1 visits today)