Rukun Iman yang ke-tiga adalah beriman kepada Kitab-kitab Allah, sebagaimana Al-Qur’an menyebutkan :

Nisa 137

“Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan yang telah diturunkan sebelumnya. Dan siapa yang ingkar kepada Allah swt. dan malaikat-malaikat-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya sesatlah ia dengan kesesatan yang sangat jauh.” (Q.S. An-Nisa [4]: 137)

Yunus 38

“Dan tidaklah mungkin Al-Qur’an ini diada-adakan oleh selain Allah swt.; tetapi membenarkan yang ada sebelumnya dan menjelaskan Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam.” (Q.S. Yunus [10]: 38)

Nabi Muhammad saw bersabda:

Tirmidzi_ImanIslam3

Artinya: Dari ‘Umar bin Khattâb r.a, ia berkata; kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah s.a.w lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak ada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Hingga dia mendatangi Nabi s.a.w, lalu menyandarkan lututnya pada lutut beliau dan meletakan kedua telapak tangannya pada paha beliau, kemudian dia bertanya Hai Muhammad! Apakah iman itu?” Rasulullah s.a.w menjawab: ‘Kamu beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan takdir baik dan buruk (HR Tirmizi, Kitab Iman, bab Jibril menggambarkan tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah s.a.w)  

Rukun Iman yang ketiga adalah percaya kepada kitab-kitab suci, yaitu firman-firman Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul. Kitab-kitab tersebut dapat disebut sebagai kitab samawi yang isinya adalah wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala, bukan kitab yang disusun manusia lalu dinamakan kitab agama. Berapa banyak kitab yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi dan Rasul itu, tidak ada yang dapat mengetahui atau memastikannya. Kitab suci yang dikenal oleh manusia dan disebutkan di dalam Al-Qur’an ada empat yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Dari keempat kitab suci di atas hanya dua yang merupakan kitab syariat, yaitu Taurat dan Al-Qur’an, sedangkan Zabur dan Injil tidak termasuk kitab syariat.

Perkataan ‘kitab’, berarti karangan, kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum, akan tetapi dalam perkataan itu tidak tersimpul pengertian bahwa tiap-tiap perkataan yang tercantum di dalam karangan itu adalah dari Allah Ta’ala. Akan tetapi kitab kepunyaan umat Islam diberi nama kalamullah, yang berarti bahwa satu persatu dari perkataannya difirmankan oleh Allah Ta’ala, seperti halnya isi karangan dari Kitab Nabi Musa as. adalah memang difirmankan Allah Ta’ala. Ajaran Nabi Isa as. yang dikemukakan beliau ke dunia adalah memang dari Allah Ta’ala. Tetapi sekalian kitab itu tidaklah memakai perkataan yang langsung diucapkan oleh Allah Ta’ala sendiri. Jika orang yang gemar menelaah Taurat, Injil dan Al-Qur’an sudi membacanya ia akan mengambil kepastian, bahwa isi karangan Taurat dan Injil itu memang sungguh dari Allah Ta’ala, tetapi kata-katanya bukanlah dari Allah Ta’ala. Demikian juga ia akan memastikan pula bahwa isi karangan Al-Qur’anul Karim pun adalah dari Allah Ta’ala dan tiap kata demi katanya adalah dari Allah Ta’ala juga. Atau katakanlah demikian, bahwa jikalau seseorang yang tidak mempercayai baik Al-Qur’an Karim, Taurat maupun Injil membaca ketiga-tiga Kitab itu satu per satu masing-masing dalam waktu beberapa menit, maka pastilah ia kemudian akan mengatakan bahwa meskipun pengemuka Taurat dan Injil mengatakan kedua Kitab itu datang dari Allah, tetapi sekali-kali ia tidak akan mengatakan bahwa tiap-tiap perkataannya adalah ucapan Allah Ta’ala.

Tetapi berkenaan dengan Al-Qur’an Karim, ia terpaksa akan mengakui bahwa isi pengemukanya tidak saja mendakwakan isi karangan itu dari Allah Ta’ala bahkan juga ia akan mengakui bahwa tiap-tiap perkataan Al-Qur’an itu memang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Itulah sebabnya maka Al-Qur’an Karim menamakan dirinya kitabullah bahkan kalamullah juga. Jadi Islam mempunyai suatu kelebihan dari agama-agama lain dalam hal inilah bahwa kitab-kitab agama lain itu memang kitabullah, tetapi bukan kalamullah; sedang kitab dari umat Islam bukan saja kitabullah, bahkan juga kalamullah. (Apakah Ahmadiyah Itu? Cet.1985, hal 7-9)

Hazrat Imam Mahdi as bersabda :

Anjami Atam 144

Bersaksilah kamu bahwa kami berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Qur’an dan kami mengikuti sabda-sabda Rasulullah saw yang menjadi sumber kebenaran dan ilmu makrifat, dan kami menerima apa-apa yang telah diijma’kan berkenaan dengannya pada masa itu, kami tidak menambah apapun dan tidak pula mengurangi apapun darinya dan kami hidup dan mati atasnya. Siapa saja yang menambah apapun dalam syari’at yang sempurna ini atau menguranginya atau mengingkari akidah yang telah diijma’kan, maka ia akan mendapat kutukan Allah, kutukan malaikat dan manusia semuanya. (Anjami Atam, hal. 144).

Kemaslahatan sesuatu dilihat dari apakah benda itu telah memenuhi tujuan diciptakannya. Sebagai contoh, jika seekor lembu dibeli dengan tujuan untuk membajak maka kebaikannya diukur dari kemampuan lembu itu melaksanakan fungsinya dalam meluku tanah. Begitu pula jelas kiranya bahwa tujuan dari sebuah kitab samawi adalah untuk menyelamatkan para penganutnya dari kehidupan penuh dosa melalui ajaran-ajaran dan pengaruhnya. Kitab itu harus mampu memberikan kehidupan bersih kepada mereka dan setelah mensucikan mereka, lalu mengaruniakan kepada mereka wawasan yang sempurna guna mengenali Tuhan serta menciptakan hubungan kasih dan pengabdian di antara mereka dengan Wujud Maha Esa yang menjadi sumber mata air semua kegembiraan. Sesungguhnya kecintaan inilah yang menjadi sumber keselamatan dan yang menjadi surga dimana semua keletihan, kegetiran, kesakitan dan siksaan bisa terobati.

Tidak diragukan lagi kitab diwahyukan yang sempurna dan hidup adalah kitab yang menuntun para pencari Tuhan ke arah sasarannya dan menyelamatkan yang bersangkutan dari kehidupan dan akhlak yang rendah, untuk bertemu dengan Wujud Penyelamat yang Maha Tercinta. Kitab tersebut harus mampu melepaskan orang dari segala keraguan dan mengaruniakan kepadanya pemahaman yang sempurna seolah-olah ia bisa melihat Tuhan-nya. Kitab demikian harus bisa menciptakan hubungan yang erat di antara Tuhan dengan dirinya sehingga ia menjadi hamba Allah yang setia dimana Allah s.w.t. akan mengasihinya sedemikian rupa sehingga Dia membedakan yang bersangkutan dibanding manusia lain melalui berbagai pertolongan dan bantuan-Nya serta membukakan pintu gerbang pemahaman Wujud-Nya kepadanya.

Tujuan utama dari sebuah Kitab Ilahi dan seorang Rasul Allah adalah menyelamatkan dunia dari kehidupan dosa serta menciptakan hubungan yang suci di antara Tuhan dengan dunia. Bukanlah tujuan dari Kitab demikian untuk mengajarkan ilmu-ilmu sekuler dan temuan-temuan duniawi.

Tidaklah sulit bagi seorang berfikiran jernih dan adil untuk memahami bahwa tujuan dari sebuah Kitab Ilahi adalah menuntun manusia kepada Tuhan dan menjadikan mereka beriman kepada-Nya sepenuh hati serta menahan mereka dari melakukan dosa dengan cara menanamkan keagungan dan penghormatan kepada Tuhan dalam hati mereka. Apalah artinya sebuah kitab yang tidak bisa mensucikan hati atau memberikan pemahaman murni dan sempurna sehingga orang lalu jadi membenci dosa. Daya tarik dosa adalah laiknya penyakit lepra yang tidak bisa disembuhkan kecuali adanya manifestasi dari Tuhan yang Maha Hidup, yang Maha Mengerti, dimana tanda-tanda keagungan dan kekuasaan-Nya turun bagai hujan atas diri manusia. Manusia tidak akan terbebas dari dosa kecuali ia menyadari Wujud Tuhan dengan Kekuasaan-Nya yang Maha Dahsyat sebagaimana seekor domba menyadari adanya harimau dua langkah di depannya. Manusia perlu dibebaskan dari ketertarikan fatal terhadap dosa. Keagungan Tuhan seharusnya mengisi hati yang bersangkutan agar hal itu bisa mengikisnya dari daya tarik nafsu yang turun ke atas dirinya seperti kilat dan menghanguskan seketika sisa-sisa ketakwaannya. Nafsu-nafsu kotor yang menyerang berulangkali seperti penyakit epilepsi dan menghancurkan semua rasa kesalehan, tidak mungkin dipupus melalui impresi tentang Tuhan yang direka-rekanya sendiri. Hal demikian tidak juga bisa diredam dengan olah pikiran sendiri atau dicegah melalui penebusan dosa oleh orang lain.

Al-Qur’an adalah kitab yang bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut. Melalui kitab ini manusia akan ditarik ke arah Tuhan dan hatinya akan menjadi beku terhadap kecintaan kepada dunia. Dengan mengikuti Kitab tersebut maka Tuhan yang tersembunyi di balik yang paling tersembunyi, akan memanifestasikan Wujud-Nya dan memperlihatkan kekuatan yang tidak dipahami orang luar dan memberitahukan tentang eksistensi Diri-Nya dengan penegasan: ‘Aku ini ada.’ Al-Qur’an menggiring para penganutnya kepada dirinya melalui pengaruh keruhanian, Nur yang inheren dan mencerahkan batin, serta penampakan tanda-tanda akbar untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan yang tidak mungkin diretas oleh pedang yang tajam sekali pun. Kitab ini membuka mata hati manusia dan membendung sumber dosa yang kotor dan menganugrahi seseorang dengan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, membukakan hal-hal yang tersembunyi, membantu pengabulan doa serta memberitahukan tentang kemakbulan tersebut. Allah yang Maha Perkasa melalui tanda-tanda-Nya yang dahsyat menjadikan nyata kepada setiap orang yang memusuhi seorang penganut Al-Qur’an yang setia bahwa Dia itu selalu beserta hamba-Nya yang selalu mematuhi firman-Nya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 305-309, London, 1984).

Kitab ini merupakan batu ujian terbaik dalam membedakan kebenaran dari kedustaan. Ia adalah obor tunggal bercahaya terang yang menerangi jalan kebenaran. Tidak diragukan lagi kalau hati dari mereka yang cenderung kepada jalan yang lurus pasti akan tertarik kepada Al-Qur’an. Allah s.w.t. telah membentuk hati mereka agar mereka cenderung kepada yang Maha Tercinta sebagaimana laiknya kekasih dan mereka tidak akan menemukan keselesaan di tempat lain. Mereka jika mendengar petunjuk-Nya yang jelas dan nyata, maka mereka tidak akan mendengar kepada yang lainnya lagi. Mereka beriman dengan sukacita pada setiap kebenaran yang dikandung di dalamnya. Kitab tersebut menjadi sarana pencerahan hati yang menerangi nurani serta menjadi pengungkapan hal-hal yang luar biasa. Kitab ini membimbing manusia kepada kemajuan sejalan dengan kemampuan mereka. Mereka yang bertakwa selalu merasakan kebutuhan berjalan di bawah Nur dari Al-Qur’an. Setiap kali Islam harus berbenturan dengan agama lain karena pengaruh keadaan di setiap zaman maka instrumen tajam dan efektif yang bisa diraih segera adalah Al-Qur’an. Begitu juga setiap kali ada pemikiran filosofis yang menentangnya maka Al-Qur’an akan menghancurkan tanaman beracun tersebut dengan pandangan filosofi sejati yang terkandung di dalamnya. (Izalai Auham, Amritsar,Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal.381-382, London, 1984).

Kitab Suci Al-Qur’an merupakan mutiara yang langka. Bagian luarnya adalah Nur, bagian dalamnya juga Nur, begitu pula bagian atas dan bawahnya adalah Nur semata serta Nur disetiap kata di dalamnya. Kitab ini merupakan taman ruhani yang rangkaian buahnya mudah dijangkau dan melalui mana mengalir banyak sungai. Semua bentuk kemaslahatan bisa ditemukan di dalamnya dan setiap obor penunjuk jalan dinyalakan daripadanya. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 545-546, London, 1984).

Karena itu setelah Kitab Suci Al-Qur’an tidak diperlukan diturunkannya kitab lain, mengingat semua yang dibutuhkan manusia sudah dirangkum di dalamnya. Sekarang ini hanya pintu wahyu yang masih terbuka namun tidak secara otomatis demikian. Firman hakiki dan suci yang berisikan pertolongan Allah s.w.t. serta berbagai hal-hal tersembunyi di dalamnya hanya bisa diperoleh dengan cara mensucikan batin melalui pengamalan Al-Qur’an dan mematuhi Hazrat Rasulullah s.a.w. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal.80, London, 1984).

Kemenangan yang diperoleh di ujung sebilah pedang tidak ada artinya sama sekali karena akan menghilang kembali dengan menurunnya kekuasaan si pemegang pedang. Kemenangan hakiki hanya bisa diperoleh melalui pembeberan barisan wawasan dan kebenaran abadi. Kemenangan seperti inilah yang sedang diperjuangkan Islam. Nubuatan tersebut berkaitan dengan masa sekarang. Sekaranglah waktunya bagi Al-Qur’an untuk membuka semua pengertian-pengertian yang selama ini tersembunyi. (Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 464-467, London,1984).

(Visited 136 times, 1 visits today)