Keberadaan malaikat merupakan kepercayaan yang bersifat universal, diterima di berbagai tempat dan agama yang berbeda. Namun, terkadang mereka menyebutnya dengan istilah yang berbeda. Demikian pula sifat malaikat dipahami secara berbeda di antara pengikut agama yang berbeda. Islam berbicara tentang malaikat sebagai makhluk dari alam rohani yang memiliki sifat dan wujud satu sama lain.

Makhluk ciptaan tersebut harus mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama ialah makhluk itu harus bersifat unik dan transendental. Karena tidak kasat mata dan terbebas dari segala tirai, maka makhluk tersebut harus berbeda bentuk dari segala ciptaan lainnya dan amat mirip dengan Tuhan-nya karena merefleksikan Wujud sang Maha Kuasa. Dimensi lainnya ialah karena juga merupakan makhluk ciptaan maka mereka ini dengan sendirinya bisa mempunyai hubungan dengan makhluk lainnya dan bisa mengadakan pendekatan dengan mereka.

Melalui perencanaan-Nya tersebut, maka Allah s.w.t. telah menciptakan makhluk yang disebut sebagai malaikat. Para malaikat ini semuanya larut dalam kepatuhan kepada Allah s.w.t. dan mereka tidak memiliki niat, rencana atau keinginan tersendiri. Mereka tidak bisa berbaik hati kepada siapa pun atau murka kepada siapa pun atau mengharapkan sesuatu untuk dirinya sendiri atau pun tidak menyukai sesuatu berdasarkan keinginan dirinya sendiri karena mereka sepenuhnya menjadi layaknya “anggota tubuh” Tuhan.

Semua rencana dan rekayasa Allah Allah s.w.t. direfleksikan pada cermin transparan mereka, lalu melalui mediasi mereka disebarkan kepada seluruh ciptaan. Mengingat Allah yang Maha Agung karena fitrat Kesucian-Nya yang Maha Sempurna merupakan wujud yang Maha Unik dan Transendental maka semua makhluk yang tidak terbebas dari ego dan kekaburan dari tirai eksistensi mereka serta hanya sadar akan eksistensi dirinya saja, tidak mungkin mempunyai hubungan langsung dengan Sumber segala Berkat. Karena itu diperlukan adanya suatu bentuk makhluk yang di satu sisi berhubungan dengan Allah s.w.t. dan di sisi lain dengan makhluk ciptaan-Nya dimana dengan cara ini makhluk tersebut memperoleh berkat dari satu sisi dan menyalurkannya ke sisi lain.

Bentuk keimanan kepada malaikat disebutkan dalam Al-Qur’an:

AlBaqarah 286

Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, dan begitu pula orang-orang mukmin; semuanya beriman kepada Allah swt. dan Malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-kitab-Nya, Dan Rasul-rasul-Nya mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan di antara seorang pun dari Rasul-rasul-Nya yang satu terhadap yang lainnya; dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, kami mohon ampunan Engkau dan kepada Engkau kami akan kembali.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)

 

Terkait dengan keimanan kepada Malaikat, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, menulis;

Aku meyakini bahwa malaikat itu milik Allah s.w.t. dan mereka itu berada dekat dengan Wujud-Nya. Bagi setiap malaikat sudah ditentukan posisi kedudukannya masing-masing. Tidak ada dari mereka yang bergerak dari posisi tersebut, baik naik atau pun turun. Turunnya mereka sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Qur’an tidak sama dengan turunnya seorang manusia dari tempat ketinggian ke tempat yang lebih rendah, dan naiknya malaikat berbeda dengan kenaikan manusia ke suatu tempat yang lebih tinggi. Naik atau turunnya manusia terkait dengan perubahan dalam posisinya yang dilakukan dengan mengeluarkan upaya dan tenaga, sedangkan malaikat tidak perlu mengeluarkan tenaga atau pun melakukan perubahan posisi. Karena itu jangan kalian mengira bahwa naik atau turunnya malaikat sama dengan naikatau turunnya jasad lain. Kenaikan dan turunnya malaikat mirip dengan naik dan turunnya Tuhan dari dan ke Arasy-Nya serta dari dan ke langit bumi. (Aainah Kamalaati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 384-387, London, 1984).

Allah yang Maha Kuasa yang Kesucian dan Keluhuran-Nya meliputi segalanya, telah memanfaatkan sarana-sarana yang tepat bagi manifestasi Wujud-Nya. Jasmani dan segala benda yang bersifat material terkungkung oleh karakteristik pribadi mereka sendiri sehingga setiap niat dan tindakan alamiahnya membatasi kesadaran pada eksistensi dirinya sendiri saja. Karena juga memiliki eksistensi yang nyata dan tetap yang mencakup egonya sendiri dengan mengkaliskan yang non-ego, maka ia terpisah jauh dari sang Maha Sumber yang Maha Pengasih dimana ia terkucilkan oleh tirai tabir yang tebal berupa eksistensinya sendiri beserta ego dan karena ia adalah benda ciptaan. Mereka tidak berhak menerima berkat-berkat Allah yang Maha Agung secara langsung selama tabir tersebut masih ada dan eksistensi mereka belum mendekati keadaan non-eksisten. Karena eksistensi mereka tidak mirip dengan keadaan non-eksisten maka setiap jenis ciptaan seperti ini akan menyatakan eksistensinya secara gamblang.

Matahari menyatakan bahwa wujudnya merupakan sumber panas dan dingin yang bisa mempengaruhi dunia selama tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, dimana ia menciptakan panas melalui sinarnya dan menimbulkan dingin karena diversi dari sinar tersebut. Dunia menyatakan perwujudan dirinya sebagai bumi yang terdiri dari seribu negeri, menghasilkan berbagai jenis tanaman, mengandung berbagai bentuk batuan mineral di dalam dirinya dan ia menerima segala perlakuan langit sebagaimana halnya seorang perempuan. Adapun api mewujudkan dirinya sebagai sesuatu yang membakar dan menyala serta menjadi substitusi matahari ketika hari gelap. Jadi segala benda di bumi ini memuji dan menyatakan dirinya sendiri. Semua benda-benda tersebut menyatakan wujud mereka masing-masing dan terkungkung oleh tirai dari karakteristik diri mereka sendiri serta mengkaliskan diri tidak berhubungan langsung dengan Sumber dari segala Berkat. Karena adanya tirai dimaksud maka tidak ada hubungan langsung yang tercipta di antara sang Maha Pencipta dengan wujud mereka. Berhubung dengan itu maka kebijakan sang Maha Agung menetapkan bahwa sebagai manifestasi utama dari segala rekayasa Wujud-Nya, haruslah ada suatu bentuk ciptaan yang tidak terhalang oleh tirai dirinya sendiri. Bentuk ciptaan ini harus memiliki bentuk yang berbeda dengan benda lainnya yaitu terbebas dari egonya sendiri dan melayani Tuhan sebagai bagian dari anggota Tubuh-Nya dimana jumlah kuantitas mereka harus sejalan dan seimbang dengan perencanaan Allah Allah s.w.t. berkaitan dengan keseluruhan makhluk ciptaan-Nya. Wujud ciptaan tersebut haruslah memiliki fitrat sebagai cermin yang tembus pandang dan selalu harus hadir di hadirat Allah s.w.t.

Tidak ada dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan itu bisa berubah sifat, tetapi jelas dikatakan kalau manusia memang mudah berubah. Adapun Tuhan menjalankan proses perubahan sejalan dengan kodrat-Nya. Ketika seorang anak berada di dalam rahim maka ia dihidupi oleh darah ibunya dan ketika telah lahir maka ia dihidupi pada awalnya oleh susu dan setelah itu dengan makanan lainnya. AllahAllah s.w.t. telah mengatur hal ini dalam suatu proses yang berlangsung bersama waktu. Ketika anak itu berada dalam rahim maka Tuhan mengatur agar partikel-partikel internal dalam tubuh ibunya untuk memproduksi darah baginya. Ketika sudah lahir maka pengaturan tersebut dibatalkan. Malaikat sebagai partikel-partikel yang mengatur susu ibu, diperintahkan untuk menghasilkan susu. Begitu anak itu selesai masa susuannya maka perintah itu pun dibatalkan dan malaikat yang merupakan partikel bumi diperintahkan untuk menghasilkan makanan dan minuman baginya sampai akhir hayatnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi gambaran perubahan dalam firman Tuhan. Tuhan sudah memberitahukan kepada kita melalui Al-Qur’an bahwa sistem alamiah ini tidak berjalan dengan sendirinya dan bahwa semua partikel atau zarah dari semua benda-benda mendengar perintah Tuhan dan berlaku sebagai malaikat-Nya. Para malaikat tersebut ditugaskan oleh Wujud-Nya untuk melaksanakan berbagai fungsi yang telah ditetapkan atas mereka masing-masing dimana mereka melaksanakan semuanya sejalan dengan perintah-Nya. Partikel dari emas akan menghasilkan emas, partikel perak menghasilkan perak, partikel mutiara akan menghasilkan mutiara, sedangkan partikel dari tubuh manusia menyiapkan anaknya di dalam rahim. Keseluruhan partikel tersebut tidak berfungsi atas kemauannya sendiri, melainkan mengikuti perintah suara Tuhan dan bekerja sejalan dengan itu. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai malaikat-Nya. Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka semua itu termasuk malaikat bumi. Adapun malaikat langit melaksanakan pengaruhnya dari langit seperti sinar matahari yang merupakan malaikat Tuhan yang menjadikan masak buah-buahan di pohon dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat Tuhan yang menghimpun awan yang mempengaruhi ladang pertanian dengan berbagai cara. Di samping mereka terdapat banyak lagi berbagai malaikat dengan fungsinya masing-masing. Alam menjadi saksi bahwa malaikat merupakan wujud yang esensial dan kita bisa menyaksikan kinerjanya dengan mata kita sendiri. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 89-90, London, 1984).

Patut diingat bahwa dalam syariah Islam tidak ada dikatakan kalau malaikat khusus derajatnya lebih tinggi dari orang-orang khusus tertentu. Bahkan dinyatakan bahwa manusia-manusia khusus tersebut derajatnya lebih tinggi dbanding malaikat. Fungsi para malaikat sebagai mediator dalam sistem fisik dan spiritual tidak menunjukkan superioritas mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an, mereka itu diberi tugas dengan fungsi sebagai pelayan sebagaimana dinyatakan Allah s.w.t.: ‘Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepadamu’ (Q.S. Ibrahim [14]: 34)

Seorang pos menyampaikan surat dari seorang Raja kepada seorang Gubernur, tidak berarti bahwa opas pos yang menjadi mediasi di antara keduanya lalu menjadi lebih tinggi derajatnya dari Gubernur tersebut. Keadaannya sama dengan mediator yang bertugas menyampaikan rancangan sang Maha Kuasa dalam sistem fisik dan spiritual kepada bumi. Allah yang Maha Agung telah menjelaskan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an bahwa apa pun yang telah diciptakan di langit dan di bumi adalah bagi kemaslahatan manusia dimana manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dari semuanya dan dilayani oleh semuanya itu sebagaimana dinyatakan: ‘Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepadamu, kedua-duanya menjalankan tugasnya dengan tetap dan teratur’ (Q.S. Ibrahim [14]: 34). Di tempat lain dikemukakan: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat, dan demikianlah apabila telah Ku-bentuk dia hingga jadi sempurna dan telah Ku-tiupkan roh-Ku ke dalamnya maka sungkurkanlah dirimu, tunduk kepadanya.’ Maka para malaikat pun bersujudlah mereka semua bersama-sama, kecuali Iblis tidak. Ia bersitakabur dan ia termasuk orang-orang kafir(QS. Shad [38 ]: 72-75).

Muncul pertanyaan yaitu kalau Rohul Kudus hanya dikaruniakan kepada hamba-hamba pilihan Ilahi yang telah mencapai tahapan makam keabadian (Baqa) dan kedekatan (Liqa) dengan Tuhan, lalu bagaimana hal itu bisa memeliharakan juga umat manusia lainnya? Jawabannya ialah, benar turunnya Rohul Kudus secara sempurna terjadi pada para hamba Allah pilihan, namun bantuannya secara umum juga dinikmati manusia lainnya setakat dengan tingkat kecintaan dan ketulusan mereka. Manifestasi Rohul Kudus dengan derajat yang lebih luhur terjadi pada tahapan Baqa dan Liqa dimana kasih Ilahi turun di atas kasih manusia dan pada pertemuan tersebut dimanifestasikan Rohul Kudus yang jika dibandingkan akan menisbikan manifestasi lainnya. Tidak berarti manifestasi lainnya lalu menjadi tidak bermakna lagi. Allah yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan ketulusan kecintaan manusia menjadi sia-sia meski hanya sebesar zarah. Ketika kasih-Nya turun di atas kecintaan manusia kepada Tuhan-nya, Rohul Kudus akan berkilau sampai suatu tingkatan tertentu. Tingkatan ini ditentukan oleh ketinggian derajat kecintaan manusia tersebut. Saat sungai kecintaan manusia kepada Tuhan-nya mengalir, maka di sisi lain akan turun mengalir kasih Allah, dimana pada pertemuan kedua sungai itu muncul sinar cemerlang yang dalam istilah kami disebut sebagai Rohul Kudus. Kalian tentunya memperhatikan ketika sesendok kecil gula dimasukkan ke dalam suatu bejana besar berisi air, tidak akan terasa air itu menjadi manis, tetapi tidak ada yang akan menyangkal bahwa sudah ditambahkan gula kedalamnya. Begitu juga halnya dengan Rohul Kudus yang turun secara tidak sempurna di atas manusia yang tidak sempurna pula. Turunnya Rohul Kudus tersebut tidak diragukan karena tetap saja akan muncul pemikiran baik dalam pikiran dari orang yang paling nista sekali pun. Terkadang seorang pendosa juga mendapatkan ru’ya atau mimpi hakiki sebagai akibat pengaruh Rohul Kudus sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an dan Hadith sahih, hanya saja jika dibandingkan dengan orang-orang suci dan kekasih Allah, maka nilainya hampir tidak berarti seolah-olah tidak pernah ada. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 77-80, London, 1984).

Salah satu pertanyaan yang mencuat ialah: ‘Mengapa Tuhan yang Maha Kuasa memerlukan malaikat-malaikat untuk mengoperasikan segala rancangan-Nya? Apakah kerajaan-Nya bergantung juga pada pegawai dan staf sebagaimana halnya pemerintahan manusia dan apakah Dia juga memerlukan bala tentara?’ Jawaban untuk itu ialah Tuhan tidak membutuhkan apa pun, baik malaikat, bulan, bintang atau pun matahari, hanya saja Dia menginginkan bahwa kekuasaan-Nya diperlihatkan melalui mediasi berbagai sarana agar kebijakan dan pengetahuan bisa berkembang di antara umat manusia. Jika tidak ada mediasi seperti itu maka tidak akan ada ahli astronomi, ahli fisika, ahli kedokteran atau pun ahli botani. Adalah pemanfaatan dari sarana-sarana tersebut yang memunculkan ilmu-ilmu pengetahuan di kalangan manusia. Jika kalian renungkan maka kalian akan menyadari bahwa menyangkal pemanfaatan malaikat sama saja dengan menyangkal pemanfaatan mentari, bulan, flora, mineral dan unsur-unsur alam lainnya. Mereka yang mempunyai wawasan batin mengetahui bahwa setiap zarah yang ada berfungsi sejalan dengan rancangan Ilahi dimana bahkan setetes air pun yang masuk ke dalam diri kita tidak bisa menghasilkan hal yang merugikan atau menguntungkan tanpa perkenan Ilahi. Dengan demikian, sebenarnya semua partikel dan benda-benda langit pada realitasnya adalah sejenis malaikat yang beroperasi melayani setiap saat, sebagian melayani kebutuhan jasmani manusia dan sebagian lagi kebutuhan ruhaninya. Yang Maha Bijak yang telah memilih berbagai media bagi pengembangan jasmani manusia dan menciptakan demikian banyak mediator jasmani guna mempengaruhi jasad manusia dalam berbagai cara, begitu juga Dia yang Maha Tunggal, yang kinerja-Nya selalu mengandung kesatuan dan simetri, telah menentukan bahwa pengembangan keruhanian manusia juga harus mengikuti sistem yang sama dengan pengembangan jasmani agar kedua sistem itu (yang eksternal mau pun yang internal, yang jasmani mau pun ruhani) melalui keseimbangan dan keselarasan di antara keduanya hanya akan mengarah kepada Satu Pencipta yang mengatur segala sesuatu menurut kehendak-Nya.

Hal inilah yang menjadi alasan bahwa untuk pengembangan jasmani dan ruhani manusia, ditetapkanlah para malaikat sebagai mediator. Semua mediator tersebut berada di bawah kendali Allah s.w.t. laiknya sebuah mesin yang dikendalikan Tangan-Nya. Mereka ini tidak mempunyai keinginan tersendiri dan juga tidak mempunyai kekuasaan kendali apa pun. Seperti halnya udara mempengaruhi tubuh kita dengan perkenan Ilahi dan keluarnya pun dengan perkenan-Nya, begitu juga halnya dengan para malaikat: ‘Mereka kerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka’ (Q.S. An-Nahl [16]: 51). Sayang sekali Pandit Dayanand menyangkal adanya sistem pendaya-gunaan malaikat ini. Kalau saja ia memiliki pengetahuan tentang sistem ragawi dan ruhani dari Tuhan, maka ia tidak akan menyangkal hal ini dan meyakini akan keluhuran ajaran Al-Qur’an sebagai gambaran yang benar dari sistem hukum alam. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 85-88, London, 1984).

(Visited 93 times, 1 visits today)