• Selasa, 1 November, 2016

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad bersabda prinsip keadilan sedang dirusak oleh kepentingan keuangan

20161028-20161028_190822-11-edited-front

Pada tanggal 28 Oktober 2016, Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hudhur, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad memberikan kuliah bersejarah di York University, Toronto, di hadapan lebih dari 180 tamu, termasuk akademisi, politisi, media dan para tokoh pemikir.

20161028-20161028_190912-11-edited

Kuliah yang bertajuk “Keadilan di Dunia yang Tidak Adil ” ini diselenggarakan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah Kanada bekerja sama dengan York University.

Dalam kuliahnya, Hudhur berbicara tentang bertambah banyaknya konflik di dunia dan meningkatnya risiko terjadinya perang dunia.

Hudhur membuka kuliahnya dengan menyatakan bahwa di saat kecerdasan manusia dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, di saat yang sama terkadang kecerdasan tersebut juga digunakan sebagai ‘kekuatan untuk kejahatan dan kehancuran’.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Teknologi telah berkembang hingga ada teknologi yang mampu menghancurkan suatu negara dari peta dunia hanya dengan menekan satu tombol. Saya merujuk pada pengembangan senjata pemusnah massal yang mampu menimbulkan ketakukan dan kehancuran yang bisa tak terbayangkan. Senjata-senjata tersebut sedang diproduksi yang memiliki potensi tidak hanya memiliki potensi menghancurkan suatu peradaban namun juga meninggalkan penderitaan bagi generasi mendatang.”

20161028-20161028_190927-10-edited

Mengacu pada kekisruhan di dunia saat ini, Hudhur bersabda bahwa sebagai seorang pemimpin Muslim, beliau merasakan kesedihan secara pribadi karena berbagai konflik dan aksi terorisme di dunia pada hari ini dikaitkan dengan Islam.

Setelah itu, Hudhur merujuk pada referensi utama Islam, yaitu Al-Qur’an dan sabda-sabda Pendiri Islam, Rasulullah saw, untuk menghilangkan mitos bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, ekstremisme atau terorisme.

20161028-20161028_190550-11-edited

Merujuk pada sabda termasyhur Rasulullah saw bahwa seseorang harus menginginkan bagi orang lain sesuatu yang dia inginkan untuk dirinya sendiri, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Secara lisan, sangat mudah mengatakan bahwa “Ya kami menginginkan yang terbaik untuk orang lain”, namun dalam prakteknya, hal ini jauh lebih sulit dan menantang. Apabila terjadi konflik kepentingan, kebanyakan orang cenderung mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan mereka sendiri di atas hak orang lain. “

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengutip ayat al-Quran surah ke 4, ayat 59 yang mengharuskan umat Islam untuk ‘menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya’.

20161028-20161028_191009-10-edited

Hudhur menekankan kewajiban setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam proses pemilu demoktratis sebagai contoh amanat yang akan diberikan kepada seseorang.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Dalam suatu pemilihan umum atau pemilihan lainnya, seseorang tidak boleh secara otomatis memberikan suaranya untuk teman atau anggota partainya. Akan tetapi mereka harus mempertimbangkan siapa yang paling berkualitas dan cocok untuk tugas yang akan dilaksanakan. Setelah itu, mereka yang terpilih dan yang diserahkan jabatan pemerintahan atau kekuasaan harus menjalankan tugas mereka dengan penuh kejujuran, integritas dan keadilan. Ajaran ini merupakan model demokrasi yang dianjurkan Islam.”

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Hal ini harus menjadi suatu prinsip yang memberikan bimbingan dalam pemberian suara bagi seseorang atau dalam pengambilan kebijakan tertentu, alih-alih hanya mengikuti perintah partai atau hubungan pribadi.”

20161028-20161028_190819-12-edited

Hudhur bersabda bahwa di tingkat internasional, negara-negara kecil seringkali menggantungkan nasibnya pada negara-negara maju. Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi negara-negara maju untuk menunaikan amanah yang diberikan kepada mereka.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Di PBB, negara-negara tertentu seharusnya tidak boleh memiliki kekuasaan dan pengaruh yang berlebihan, atau anggota tetap Dewan Keamanan seharusnya tidak hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri serta memanfaatkan hak veto mereka bahkan terhadap hal yang bertentangan dengan kepentingan mayoritas. Sebaliknya, semua anggota PBB harus bekerja sama dan menunaikan amanah yang menjadi dasar pendirian institusi tersebut – yaitu untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia”

20161028-20161028_190851-12-edited

Hudhur bersabda bahwa kepentingan sendiri telah menjadi ‘ciri khas’ para anggota negara kuat di PBB. Beliau mengatakan bahwa hak anggota tetap Dewan Keamanan untuk memanfaatkan veto benar-benar tidak adil.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad juga bersabda bahwa terdapat berbagai kesalahan kebijakan luar negeri dalam beberapa tahun terakhir dan bahwa Perang Irak 2003 adalah “contoh utama”, dimana banyak dari mereka yang awalnya mendukung perang tersebut sekarang menyatakan bahwa perang tersebut adalah satu kesalahan besar.

Mengutip konsekuensi dari kesalahan tersebut, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Tidak diragukan lagi bahwa ketidakadilan tersebut telah menghancurkan pondasi perdamaian dunia dan telah memungkinkan kelompok-kelompok teroris seperti Daesh (ISIS) berakar dan tumbuh. Kelompok-kelompok ini sekarang tidak hanya menjadi ancaman bagi dunia Muslim tetapi juga untuk seluruh umat manusia.”

20161028-20161028_191635-12-edited

Hudhur bersabda bahwa negara-negara kuat tersebut tampaknya tidak belajar dari pengalaman kesalahan di masa lalu dan mencontohkan bagaimana dorongan keuangan lebih diprioritaskan dalam perdagangan senjata dibanding moralitas dan keadilan.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Sejumlah negara Barat terus menjual senjata ke Arab Saudi yang sedang digunakan untuk menyerang orang-orang Yaman. Tidak ada negara Muslim yang memiliki pabrik-pabrik senjata berskala besar yang mampu memproduksi senjata mematikan dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, satu-satunya sumber senjata mereka adalah dunia Barat.”

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Para penulis dan pengamat Barat bahkan telah membahas tentang kemunafikan dan imoralitas perdagangan senjata internasional. Namun ketika dipertanyakan tentang perdagangan senjata tersebut, pemerintahan-pemerintahan Barat antara mengabaikan pertanyaan tersebut atau berusaha menjustifikasi apa yang jelas-jelas tidak bisa dibenarkan. Yang mereka pedulikan hanya menerima cek sehingga miliaran uang bisa masuk ke anggaran pendapatan negara mereka sendiri.”

20161028-20161028_184844-12-edited-edited

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Singkatnya, uang berbicara dan moralitas sirna entah kemana. Bagaimana perdamaian bisa dicapai dalam situasi seperti ini?”

Mengacu pada standar Islam tentang keadilan, Hudhur merujuk pada al-Quran Surat ke 4 ayat 136, yang mengharuskan umat Islam untuk bersedia memberikan kesaksian (yang memberatkan) terhadap diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah juga merujuk pada al-Quran Surat ke 5 ayat 9, yang menyatakan, ‘dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk bertindak yang bertentangan dengan keadilan. Hendaklah bersikap adil, karena adil lebih dekat dengan taqwa. ‘

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Inilah standar mulia keadilan yang diajarkan oleh Islam dan jika pemerintah Muslim saat ini tidak mengikuti ajaran tersebut, itu adalah kesalahan mereka. Oleh karena itu, akan sepenuhnya tidak adil dan salah untuk menyalahkan Islam atas kesalahan-kesalahan mereka.”

Sebagai penutup, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Jika kita benar-benar menginginkan perdamaian di zaman kita maka kita harus bertindak dengan adil. Kita harus menghargai kesetaraan dan keadilan. Seperti yang Rasulullah saw sabdakan dengan begitu indah, kita harus menginginkan bagi orang lain sesuatu yang kita inginkan bagi diri kita sendiri. Kita harus berusaha memenuhi hak-hak orang lain dengan semangat dan tekad yang sama dengan saat kita berusaha memenuhi hak-hak kita sendiri. Kita harus memperluas cakrawala kita dan melihat apa yang tepat bagi dunia, bukan hanya apa yang tepat bagi kita. Ini adalah sarana terwujudnya perdamaian di zaman kita.”

Kanselir York University, Tn. Greg Sorbara, dan Menteri Riset, Inovasi dan Sains Ontario, Hon. Reza Moridi menjadi pembawa acara kuliah ini.

Sebelum kuliah utama dari Hudhur, baik Mr. Sorbara dan Mr Moridi memberikan sambutan selamat datang kepada Hudhur di Universitas, dilanjutkan oleh sambutan dari Tn. Lal Khan Malik, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah di Kanada.

Kanselir York University, Tn. Greg Sorbara mengatakan:

“Jemaat Muslim Ahmadiyah Kanada tumbuh secepat dan sedinamis organisasi lain di negara ini, dengan misi yang patut didengar oleh seluruh dunia, yakni misi perdamaian dan cinta untuk semua dan kebencian tidak untuk siapapun. (Love for All, Haterd for None)

spk-edited

Hon. Reza Moridi, mengatakan:

“Kita sangat beruntung bahwa di dunia Muslim kita memiliki seorang pemimpin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Hudhur, yang memimpin dunia Muslim dengan ajaran-ajarannya, dengan buku-bukunya, khotbah-khotbahnya dan pertemuan-pertemuannya. Beliau menganjurkan perdamaian, beliau menganjurkan persaudaraan, beliau menganjurkan kesetaraan bagi semua manusia dan kami sangat diberkati memiliki pemimpin seperti Hudhur. “

welcome-edited

Baik sebelum dan setelah acara tersebut, Hudhur mengadakan pertemuan secara pribadi dengan Tn. Sorbara dan Tn. Moridi. @AhmadiyyatIslam


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumberpressahmadiyya.com

(Visited 51 times, 1 visits today)