Ayat Alquran tentang Khilafah

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذينَ آمَنوا مِنكُم وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ لَيَستَخلِفَنَّهُم فِي الأَرضِ كَمَا استَخلَفَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُم دينَهُمُ الَّذِي ارتَضىٰ لَهُم وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِن بَعدِ خَوفِهِم أَمنًا ۚ

يَعبُدونَني لا يُشرِكونَ بي شَيئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعدَ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الفاسِقونَ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka ; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka ; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka. (Q.S An-Nuur [24]: 56)

Tafsir:

Ayat ini mengandung sebuah janji bahwa umat Islam akan dijamin dengan kepemimpinan rohani dan duniawi. Janji tersebut ditujukan untuk seluruh Umat Islam, namun lembaga Khilafah akan mengambil bentuk nyata pada pribadi-pribadi tertentu yang akan menjadi penerus Nabi dan representasi seluruh bangsa. Mereka akan menjadi  Khilafah yang dizahirkan seperti sebelumnya. Ayat tersebut selanjutnya mengatakan bahwa pemenuhan janji ini akan bergantung pada ketaatan umat Islam dalam shalat dan membayar zakat dan pada ketaatan mereka kepada Rasulullah saw dalam semua masalah agama dan hal dunia yang terkait kemasyarakatan. Ketika mereka telah memenuhi persyaratan ini, anugerah Khilafah akan diturunkan kepada mereka dan mereka akan dijadikan pemimpin bangsa-bangsa; keadaan ketakutan mereka akan digantikan oleh keamanan dan keselamatan, Islam akan berkuasa di dunia, dan terutama Keesaan dan Ketauhidan Tuhan—tujuan sebenarnya dari Islam—akan tertanam kokoh.

Janji berdirinya Khilafah adalah jelas dan tak dapat diragukan lagi. Karena Rasulullah saw saat ini merupakan satu-satunya penuntun manusia untuk selama-lamanya, Khilafah beliau harus terus ada dalam satu atau bentuk lain di dunia sampai akhir zaman, sementara semua Khilafah lainnya tidak ada lagi. Ini adalah satu dari antara banyak keunggulan Rasulullah saw atas semua Nabi dan Rasul Allah lainnya. Zaman ini telah menyaksikan Khalifah rohani terbesar beliau dalam diri Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Ahmad, Hadhrat Masih Mau’ud (Almasih Yang Dijanjikan).

Al Qur’an telah menyebutkan tiga jenis Khalifah:

  1. Khalifah, yang merupakan nabi, seperti Nabi Adam dan Daud. Tentang Nabi Adam, Allah berfirman dalam Alquran: “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. (QS. Al-Baqarah [2]: 31); dan tentang Nabi Daud Dia berkata: “Hai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau khalifah di bumi ini”. (Q.S Shad [38]: 27).
  2. Nabi-nabi yang merupakan Khalifah dari seorang Nabi lain yang lebih besar seperti para nabi Bani Israil yang semuanya adalah Khalifah dari Musa. Tentang mereka Alquran mengatakan: “Sesungguhnya, telah Kami turunkan Taurat yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengan itulah para nabi yang patuh kepada Kami berhakim bagi orang-orang Yahudi” (QS Al-Maidah [5]: 45)
  3. Khalifah non-nabi dari seorang Nabi, dengan atau tanpa kekuasaan duniawi, seperti orang-orang saleh yang alim dalam syariat. Misi mereka adalah melindungi dan melestarikan syariat agar tidak dirusak (QS Al-Maidah [5]: 45)

Secara singkat, tafsir ayat diatas mencakup semua kategori Khalifah ini, yaitu para Khalifah Rasyidah dari Rasulullah saw, Almasih yang Dijanjikan, para Penerusnya dan para Pembaharu rohani atau Mujaddid. Misi mereka, seperti yang dikatakan ayat di atas, adalah untuk melindungi syariat dan mengembalikan “domba-domba yang tersesat ke pangkuan Tuannya.”

Tanda-tanda dan ciri-ciri khusus para Khalifah ini adalah:

  • Mereka adalah Khalifah yang ditunjuk melalui keputusan Tuhan sendiri dalam arti bahwa hati orang-orang mukmin menjadi condong kepada mereka dan mereka dengan ikhlas menerimanya sebagai Khalifah mereka;
  • Agama yang mereka khidmati menjadi tertanam kokoh melalui doa-doa dan usaha-usaha dakwah mereka;
  • Mereka mendapatkan ketenangan dan kedamaian pikiran di tengah kesusahan, kemalangan atau penganiayaan yang tidak bisa digoyahkan oleh apa pun; dan
  • Mereka menyembah Tuhan saja, yaitu dalam melaksanakan tanggung jawab besar mereka, mereka tidak takut kepada siapa pun dan mereka menjalankan tugas-tugas mereka tanpa gentar dan tanpa berkecil hati atau kecewa dengan kesulitan-kesulitan yang menghalangi mereka.

Ayat ini juga dapat dianggap sebagai penggenapan sebuah nubuatan yang dibuat pada saat Islam sangat lemah dan berhala-berhala sedang disembah di seluruh Arabia dan umat Islam karena sedikit jumlahnya mengkhawatirkan jiwa mereka, namun dalam perjalanan hanya satu generasi nubuatan itu benar-benar terpenuhi. Penyembahan berhala menghilang dari Arabia dan Islam menjadi kokoh tertanam tidak hanya di Arabia tapi juga unggul di seluruh dunia dan para pengikut Rasulullah saw, yang sebelumnya dianggap sebagai sampah masyarakat, menjadi pemimpin dan guru bangsa-bangsa.

Kata-kata, “Barangsiapa tidak bersyukur (ingkar) setelah itu, mereka akan menjadi orang durhaka,” menunjukkan bahwa Khilafat adalah suatu berkat Ilahi yang agung. Tanpa itu tidak mungkin ada solidaritas, persatuan dan kesatuan di antara umat Islam dan karena itu mereka tidak dapat membuat kemajuan nyata tanpanya. Jika umat Islam tidak menunjukkan penghargaan semestinya terhadap Khilafat dengan cara memberikan dukungan dan ketaatan kepada Khalifah mereka, mereka akan kehilangan karunia Ilahi yang besar ini dan selain itu akan mengundang ketidaksenangan Tuhan atas diri mereka.

(Alquran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, Vol 4, hal 1869-1870.)


Sumber: Passage from the Quran on Khilafat

Penerjemah: Hendi Kusmarian

Editor: Jusmansyah

(Visited 38 times, 1 visits today)