Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

Khalifatul Masih al-Khaamis Ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 9 Aman 1391 HS/Maret 2012

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

  

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)          

Tujuan para Nabi datang di dunia ini ialah untuk membawa manusia dekat dengan Allah Ta’ala, untuk membuat manusia menjadi penyembah Allah dan untuk mengajak manusia melaksanakan ajaran-ajaran yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala. Nabi yang kaamil (sempurna) dan mukammal (paripurna) mulia diantara semua Nabi yang telah diutus oleh Allah Ta’ala adalah aqa dan maula (majikan dan junjungan) kita Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau saw telah melaksanakan kewajiban untuk menyebarkan ajaran yang telah diturunkan kepada beliau ke seluruh dunia. Tidak ada contoh bandingannya ajaran yang harus disebarkan ke seluruh pelosok dunia oleh beliau saw. Beliau saw menyampaikan amanat kebenaran itu kepada orang-orang Arab Badui (yang tinggal di gurun-gurun pasir yang terletak jauh di pedalaman). Kepada para ghulam (sahaya) juga beliau sampaikan. Kepada para pemimpin Mekkah juga tanpa rasa takut sedikit pun beliau saw sampaikan. Kepada Raja-raja yang besar juga beliau sampaikan amanat kebenaran itu dan mengingatkan mereka untuk menunaikan hak-hak ibadah kepada Allah Ta’ala. Selanjutnya, para sahabat beliau saw juga menyampaikan amanat kebenaran ini kepada dunia. Sekarang setelah 1400 tahun Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya telah mengutus ghulam shadiq (pelayan sejati) Hadhrat Nabi Muhammad saw yaitu Hadhrat Masih Masih Mau’ud as ke dunia; yang kemudian beliau as melakukan tajdid (pembaharuan) pekerjaan agung ini dan beliau as mengajak dunia kepada Tuhan. Beliau as memberitahukan dunia bagaimana cara untuk mencari jalan kepada Allah Ta’ala. Bagaimana caranya agar dapat sampai kepada-Nya. Jika hendak mencari jalan kepada Allah Ta’ala dan mempunyai keinginan untuk sampai kepada-Nya tiada lain hanya dan hanyalah Islam yang dapat menyampaikan manusia kepada Allah Ta’ala. Beliau menyeru para penganut agama-agama lain juga. Didalam sebuah bait syair (nazm) beliau bersabda, ’Ao logo keh yehi nur-e khuda paoge’ – “Marilah kemari wahai orang-orang! Inilah dia nur Tuhan yang akan kalian dapatkan.” [2]

Di tempat lain beliau as bersabda,

“Jika kita lemparkan pandangan secara mendalam terhadap agama-agama di dunia, maka akan diketahui bahwa setiap agama memiliki kesalahan kecuali Islam. Hal ini bukan karena setiap agama semenjak permulaan mempunyai kesalahan. Pada masa sekarang setiap agama mempunyai kesalahan bukan karena sejak permulaan agama itu dusta. Melainkan Allah Ta’ala telah meninggalkan pemeliharaan-Nya terhadap agama-agama itu setelah Islam datang ke dunia. Keadaannya laksana sebuah taman yang tidak mempunyai pemelihara (tukang kebun). Tidak ada pemeliharaan untuk menyiraminya dan untuk perawatan kebersihannya. Oleh sebab itu lambat laun timbul kerusakan-kerusakan didalamnya. Semua pohon-pohon yang biasa memberi buah-buahan sekarang menjadi kering. Akibatnya, di situ tumbuh bermacam duri dan onak serta tumbuh-tumbuhan liar lainnya. Ruhaniyyat yang menjadi akar agama betul-betul sudah hilang lenyap. Dan yang tersisa hanya kata-kata hampa belaka.” [3]  

Selanjutnya beliau as menjelaskan bahwa karena Islam adalah syariat terakhir oleh sebab itu Allah Ta’ala tidak berlaku seperti itu terhadap Islam, tidak membiarkan ajarannya menjadi kering. Diberbagai tempat dan didalam kurun waktu yang berlainan disetiap abad Allah Ta’ala mengirimkan penjaganya agar taman itu tetap menghijau. Dan untuk zaman ini, beliau as bersabda, “Allah Ta’ala telah mengutus saya sebagai Mujaddid dan saya adalah Mujaddid millenium (ribuan tahun) terakhir.” Maka merupakan kewajiban setiap orang Muslim untuk menjalin hubungan dengan asyiq shadiq (pencinta sejati) Rasulullah saw ini (yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as) demi menjadi bagian indah dari keindahan taman Islam dan demi menjadi pohon-pohon yang berbuah. Sebab, hubungan dengan Allah Ta’ala dan hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala hanya dapat tercipta melalui perantaraan itu semua. Beliau as menyampaikan ajaran Islam yang indah itu bukan hanya di Hindustan melainkan di negara-negara lain juga. Demikian juga beliau as menanamkan ruh dan  semangat didalam kalbu para pengikut dan para sahabat yang telah baiat kepada beliau as untuk menyebarluaskan amanat yang indah itu kepada dunia agar mereka datang menghadap kepada Tuhan dan menjalin hubungan erat dengan-Nya. Hubungan ini dapat dijalin dengan sesungguhnya hanya melalui ghulam shadiq (pelayan sejati) Hadhrat Rasulullah saw [yaitu Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as]. Orang-orang yang telah baiat kepada Hadhrat Masih Mu’ud as terdiri dari orang-orang miskin, para karyawan, para tuan tanah, para petani dan orang-orang kampung yang buta huruf juga, para buruh (pekerja) juga, orang-orang bisnis juga dan orang-orang terpelajar juga dan setiap orang dari mereka memahami amanat Hadhrat Masih Mau’ud as sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. mereka mengambil faedah dari pertemuan dan pergaulan dengan beliau as dan setelah memahami amanat (pesan) hakiki itu, Islam hakiki itu maka mereka pun berupaya menyebarkannya di dunia. Mereka memperoleh pengertian yang murni tentang memenangkan Islam diatas agama-agama lain dan mereka menggabungkan diri dengan orang-orang yang mengundang manusia kepada Tuhan. Jadi itulah mereka orang-orang yang menyebarkan amanah Islam dengan cepat sekali bukan hanya di Hindustan saja melainkan berupaya menyebarkannya ke negara-negara lainnya juga. Sekarang saya akan menerangkan beberapa kisah pertablighan orang-orang tersebut.

[1] Hadhrat Imam Din Shahib radhiyallahu ‘anhu ra menjelaskan, “Pada suatu ketika Maulwi Fatah Din Shahib menulis surat kepada saya, ‘Di Dharmkot Maulwi Abdus Subhan Maniawala telah datang untuk Mubahatsah (bertukar pikiran, pembahasan mendalam). Bawalah segera seorang Maulwi (guru agama) dari Qadian.’ Kami membawa (mengajak) Maulwi Abdullah Kasymiri segera ke Dharamkot. Di sana banyak sekali orang sudah berkumpul. Melihat begitu banyak orang Maulwi Shahib pergi ke Bhaguwale bertemu dengan Sardar Roshan Singh. Orang-orang Jemaat kita juga pergi ke Bhaguwale, semangat tabligh mereka besar sekali, akhirnya Mubahatsah dipimpin oleh Sardar Roshan Singh dan mulailah membahas masalah hidup atau matinya Masih as Akan tetapi pihak penentang mulai membuat-buat alasan dengan mengatakan, ‘Mubahatsah akan diteruskan jika ditunjukkan dimana nama Mirza Shahib tercantum dalam Alqur’an. Dan ditambah dengan syarat, tunjukkan nama Mirza Ghulam Ahmad Bin Mirza Ghulam Murtaza Shahib dalam Alqur’an, baru kami akan teruskan Mubahatsah ini jika tidak Mubahatsah tidak akan saya teruskan.’ Maulwi Abdullah Kasymiri Shahib menjawab, ‘Jangan kuatir, akan kami tunjukkan nama beliau didalam Alqur’an, maka mulai berlangsunglah Mubahatsah itu.’ Menjawab tuntutan dari Maulwi itu maka Maulwi Abdullah Kashmiri Shahib berkata, ‘Jika anda dapat menunjukkan nubuatan mengenai para Anbiya yang sudah lampau, nama-nama serta nama-nama orang tua mereka, maka kami juga akan menunjukkan seperti itu. Namun jika tidak ada bukti semacam itu bagi para Anbiya dimasa lampau mengapa sekarang harus ada tuntutan seperti itu?’ Pihak penentang tidak dapat memberi jawaban yang masuk akal. Akhirnya mereka merasa malu dan diam semuanya. Sardar Roshan Singh Shahib yang ditunjuk untuk memimpin Mubahatsah itu berkata, ‘Maulwi Shahib ini tidak tahu apa-apa sedikit pun.’ Kemudian Singh Shahib-pun mulai mencemoohkannya didalam Bahasa Punjabi. Katanya didalam Mubahatsah itu kami memperoleh kemenangan. Dan akhirnya semua kisah tabligh itu  dilaporkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka beliau as pun bersabda, ‘Mengapa Maulwi Shahib tidak memberitahukan kepadanya nama saya disebut ismuhu Ahmad “اسمه أحمد” didalam Alqur’an?’”(As Saf ayat 7)  [4]

[2] Hadhrat Pir Iftikhar Ahmad Shahib radhiyallahu ‘anhu menulis mengenai ayahnya yang bernama Pir Ahmad Jan, “Ayah saya telah percaya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as semenjak da’wa beliau as menjadi Mujaddid untuk zaman ini dan beliaupun mulailah bertabligh dengan penuh semangat kepada teman-teman yang kenal maupun kepada mereka yang belum kenal dan beliau menulis sebuah selebaran yang cukup panjang dan mencetaknya dan pernah dimuat didalam Al Fazal juga. Selain bertabligh dan membuat selebaran beliau mengambil bahagian dalam pengorbanan mal atau hartan juga. Sampai akhir hayat beliau sibuk dalam kegiatan seperti itu. Beliau selalu berusaha sedapat mungkin membayar candah dan melakukan isyaat tentang Jemaat.” [5]

Itulah maksud dan tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as di zaman ini. Dengan karunia Allah Ta’ala selain dengan isya’at literatur melalui MTA juga Allah Ta’ala sedang menyebarkan agama Islam dalam berbagai bahasa. Ketika program MTA baru dimulai, waktu itu hanya sewa satu buah satelit dan untuk beberapa jam saja. Namun dengan karunia Allah Ta’ala sekarang menggunakan 10 satelit program (siaran) MTA sedang mengangkasa ke setiap penjuru di seluruh dunia selama 24 jam. Bahkan di India dimana memerlukan Dish Antena yang besar sekarang di sana sedang diusahakan sekuat tenaga untuk segera menggunakan satelit tersendiri sehingga dengan menggunakan dish antena kecil ukuran dua kaki atau lebih pun insya Allah akan dapat menerima sinyal siaran MTA.

[3] Sesungguhnya sekarang riwayat-riwayat saya perdengarkan. Hadhrat Master Nadzir Husain Shahib ra walad (putra dari) Hakim Muhammad Husain Shahib menjelaskan, “Semenjak kecil saya sangat gemar sekali bertabligh. Sampai bulan September tahun 1903 ayah saya tinggal Bhatti Darwazah di Lahore, di Mahallah Bath Rangga. Pada zaman itu suatu kali seorang Ahmadi, Abu Sa’id dari Arab datang kepada beliau. Melihat semangat saya menuntut ilmu agama dan semangat bertabligh beliau mengajar saya dalil-dalil secara mudah tentang wafat Al-Masih dan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya sering kemukakan dalil-dalil itu di hadapan para Imam Masjid dan saya katakan kepada mereka, ‘Silakan menjawab dalil-dalil ini!’ Pada suatu ketika saya pergi kepada Imam Masjid Bhatti Darwazah dan dalil-dalil itu dikemukakan kepadanya maka dia berkata, ‘Kami baru akan menjawab pertanyaan kamu apabila Mirza Shahib (tuan Mirza) berjalan di tengah-tengah debu sedang beterbangan ditiup angin, maka apabila Mirza Shahib sudah kembali ke rumah tengoklah muka beliau apakah seperti orang lain penuh dengan debu atau tidak?’ (Maksudnya, Imam [masjid] itu menentukan syarat, yakni ketika keluarnya Hadhrat Masih Mau’ud as dari rumah di waktu debu sedang beterbangan ditiup angin apakah waktu itu muka Hadhrat Masih Mau’ud as terkena debu atau tidak?) ‘Jika kamu melihat sendiri keadaan Mirza Shahib seperti yang saya katakan, baru saya akan menjawab dalil-dalil yang kamu tunjukkan ini kepada saya. (ia bukan mau percaya tapi mau menjawab) dan akan saya beritahu apa hakikatnya.’ Master Nazir Shahib mengatakan, “Sebelumnya saya pernah mendapat kesempatan berkali-kali pergi jalan-jalan di Qadian bersama Hadhrat Aqdas. Saya segera datang ke Qadian bersama ayah saya dan di waktu pagi kami ikut pergi jalan-jalan bersama Hudhur Aqdas. Langkah jalan Hudhur Aqdas cepat sekali dan saya kadangkala sambil berlari mengikuti langkah beliau. Pada waktu itu tiba-tiba angin bertiup dan pasir serta debu beterbangan mengenai muka semua orang. Ketika Hudhur kembali dari jalan-jalan dan Hudhur duduk melepaskan lelah bersama orang-orang di dalam ruangan bundar di rumah beliau, semua orang berdiri membuat lingkaran di sekeliling Hudhur. Saya masuk menerobos semua orang dan berdiri dekat Hudhur dan saya mulai memperhatikan semua muka orang-orang dan juga muka Hudhur maka saya sangat heran sekali bahwa sedikitpun tidak ada tanda-tanda debu atau bekas debu melekat pada muka Hudhur sedangkan muka orang-orang penuh dengan debu. Pada hari itu juga keadaan yang mengherankan itu saya ceritakan kepada Hadhrat Maulwi Nuruddin Khalifah Awal. Beliau berkata, ‘Keadaan seperti itu pada Hudhur merupakan sebuah tanda bukti sebagai Masih Mau’ud.’ Setelah kembali ke Lahore keadaan itu saya ceritakan kepada Imam Masjid Bhati dan diberitahukan juga apa yang dikatakan oleh Hadhrat Maulwi Nuruddin bahwa hal itu sebuah tanda bukti sebagai Masih Mau’ud. Imam Masjid itu dengan keras membantah sambil berkata, ‘Saya tidak percaya hal itu. Semua itu hanya kisah dibuat-buat yang diajarkan oleh Maulwi Nuruddin belaka.’ Alhasil Imam itu luput dari fakta kebenaran sedang kami sendiri telah menyaksikan tanda itu dengan mata kepala sendiri.” [6]

[4] Selanjutnya Hadhrat Syer Muhammad Shahib ra menceritakan, “Pada suatu ketika saya bermimpi melihat sebuah perigi (sumur) penuh dengan air susu. Dan dengan menggunakan baldi (ember) saya menimba susu dari sumur itu kemudian memberi minum kepada teman-seman hingga sumur itu menjadi kering. Setelah itu saya pergi kepada Maulwi Fatah Din Shahib dan saya ceritakan mimpi itu. Beliau berkata, ‘Pergilah kepada Maulwi Abdul Karim atau kepada Maulwi Nuruddin Shahib!’ Saya pun pergi ke Qadian dan berjumpa dengan Maulwi Abdul Karim Shahib lalu saya ceritakan mimpi itu kepada beliau. Maka beliau berkata, ‘Air susu itu maksudnya ilmu.’ Saya bilang kepada beliau, ‘Saya satu huruf pun tidak belajar.’ Kata beliau, ‘Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang diajarkan oleh Allah Ta’ala. Dan memberi minum dengan ember penuh air susu maksudnya akan banyak sekali orang-orang yang mendapat berkat ilmu yang anda peroleh dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Sumur menjadi kering maksudnya adalah orang-orang yang engkau tablighi dan menentang penda’waan Hadhrat Aqdas sebagai Mahdi; mereka itu akan mati di hadapan engkau.’ Ketiga ta’wil yang telah dijelaskan itu semuanya telah sempurna. Sekalipun terdapat permusuhan dan penentangan yang sangat keras di Khanpata akhirnya melalui tabligh saya dengan pertolongan Allah Ta’ala dan doa-doa Hadhrat Shahib, telah banyak penduduk kampung-kampung yang menjadi Ahmadi.”  [7]

[5] Hadhrat Qazi Muhammad Yusuf Shahib ra berasal dari Mardan menjelaskan, “Sepanjang perjalanan di Hindustan saya mengunjungi kota-kota seperti Delhi, Bombay, Agra, Shimla dan Calcutta. Di Baluchistan saya berkunjung ke Sibbi, Quetta dan Mastunag. Di Afghanistan saya mengadakan perjalanan ke Jalalabad dan Kabul dan Carahkar Numani. Di Punjab pergi ke Murree, Qadian, Gurdaspur dan Amritsar, Rawalpidi, Lahore, Sindh dan Wazirabad. Saya juga mengunjungi kota-kota terkenal di Sarhad kemudian mengunjungi Sawat, Jammu dan Kashmir. Saya juga mengunjungi kuburan Youza Asaf atau Yesus al-Masih (Nabi Isa) di Rauzhah Bal terletak di Mahallah Khanyar. Semenjak saya baiat maka pada hari itu saya terkenal dengan sebutan (panggilan) Qadiani, Qadian dan Mirzai di kalangan seluruh pelajar Islamic School (sekolah Islam) di kota Peshawar dan di setiap distrik di kawasan itu. Dalam kata lain setelah baiat saya selalu menyatakan diri dan menjelaskan sebagai seorang Ahmadi sehingga Ahmadiyah semakin terkenal di kalangan masyarakat. Misalnya jika saya pergi ke suatu daerah di sana saya mulai bertabligh memperkenalkan Ahmadiyah. Orang-orang pun mulai bertanya apa Ahmadiyah itu. Hampir setiap hari terjadi tanya-jawab dan diskusi tentang Ahmadiyah sehingga orang-orang mulai membicarakan tentang Ahmadiyah. Kemana saja pergi, ke sekolah-sekolah atau ke tempat-tempat lain saya melakukan tabligh seperti itu. Kadang-kadang penyampaian amanat atau tabligh ini saya lakukan ke sekolah-sekolah dan kawasan-kawasan diwilayah perbatasan juga. Di perbatasan itu saya pergi ke sepanjang provinsi, di sana mendapat kesempatan mengunjungi sekolah-sekolah Muslim dan bertemu dengan para siswa di asrama mereka kemudian tabligh kepada mereka di sana. Melalui pidato saya, melalui tulisan-tulisan dan melalui diskusi Ahmadiyah telah tersebar di semua kawasan perbatasan itu. Banyak orang di sana khususnya orang-orang tua yang telah menjadi Ahmadi. Semua yang menjadi Ahmadi melalui tabligh saya dan yang baiat melalui tabligh mereka jumlahnya sekitar 250 orang. Sebagian dari mereka sudah meninggal dunia sebagian lagi masih hidup. Di masa Khilafat Tsaniah (Khilafat kedua) diantara mereka ada juga yang masuk Jemaat Lahore namun sebagian lagi dari mereka tetap bergabung dengan Jemaat kita.” [8]

[6] Hadhrat Ahmad Din Shahib ra putra Mana Shahib telah mengatakan, “Pada sebuah Khotbah Jum’at saya mendengar langsung dari mulut Hadhrat Masih Mau’u as beliau bersabda, ‘Sekalipun orang-orang yang menjadi anggota Jemaatku tidak memiliki banyak ilmu namun mereka akan menang diatas orang lain. Dan orang-orang ghair Ahmadi tidak akan dapat melawan mereka.’ Maka saya sendiri telah dapat membuktikan bahwa sekalipun saya tidak berpendidikan dan tidak banyak memiliki ilmu dan juga saya buta huruf namun apabila diskusi saya dapat mengalahkan ulama-ulama non Ahmadi, sehingga mereka berkata kepada saya, ‘Kamu telah berdusta mengatakan tidak punya ilmu dan buta huruf.’” [9]

Yakni para Maulwi tidak percaya bahwa beliau itu tidak punya ilmu dan buta huruf.

[7] Hadhrat Doktor Muhammad Baksh Shahib ra putra Mian Kale Khan Shahib menulis, “Pada tahun 1903 saya baiat masuk Jemaat melalui sepucuk surat yang dikirim dari Catog daerah Simla. Saya telah mengunjungi Hudhur as pada tahun 1902. Pada waktu itu jenggot Hudhur as dalam keadaan diberi pewarna mahindi (disemir dengan warna tertentu) dan kain diikatkan menutup seputar kepala beliau (bagian janggut memutar keatas melingkar). Beliau memakai [semacam] kain sarung yang diikatkan pada pinggang beliau. Hudhur as sedang duduk di atas carpay di halaman dekat Masjid Mubarak. Pada waktu itu ada empat atau lima orang yang telah bersalaman dengan Hudhur dan Hudhur menanyakan kabar masing-masing. Beliau bertanya kepada saya, ‘Tuan berasal dari mana?’ Saya jawab, ‘Dari Kheranwala administrasi Kapurthala dan saya sedang cuti datang ke sini, saya bekerja di Top Khana. Di sana hanya saya sendiri sebagai orang Ahmadi dan saya suka bertabligh namun tabligh di kalangan tentara sangat sulit. Pada umumnya di sana tidak diizinkan melakukan tabligh di kalangan petugas [pemerintah].’ Hudhur as bersabda, ‘Anda tidak akan tetap sendirian sebagai Ahmadi. Bertablighlah terus dengan teguh dan teratur, jangan takut.‘ Setelah itu Hudhur as menanyakan, ‘Apakah tuan tinggal di satu tempat saja di asrama?’ Saya jawab, ‘Setiap tiga tahun sekali pindah asrama.’ Beliau bersabda lagi, ‘Kemana pun tuan pergi hubungilah Jemaat di sana.’” [10]

Beliau telah memberi petunjuk mendasar dan sangat penting yaitu setiap Ahmadi kemanapun pergi ia harus mengadakan kontak atau hubungan dengan Jemaat di sana

[8] Hadhrat Mamo Khan Shahib ra putra Kale Khan Shahib menyampaikan, “Pada tahun 1902 saya melihat sebuah mimpi bahwa bulan jatuh dari langit keatas pangkuan saya. Saya ceritakan kisah mimpi ini kepada Sayyid Muhammad Syah Shahib Marhum Machiwala seorang Ahmadi yang sangat mukhlis. Beliau berkata, ‘Anda akan mendapat kehormatan atau akan baiat di tangan seorang yang sangat mulia.’ Umur saya pada waktu itu baru 24 tahun. Saya bekerja di sekolah Sayyid Muhammad Syah Shahib Machiwala. Beliau mulai bertabligh kepada saya. Pada waktu itu sedang masyhur orang-orang membicarakan nubuatan mengenai Pandit Lekhram. Saya berkata kepada Syah Shahib, ‘Jika nubuatan yang berkenaan dengan Pandit Lekhram itu terbukti benar maka saya akan baiat masuk Ahmadiyah.’ Maka ketika nubuatan ini telah sempurna saya pun segera baiat. Pada waktu itu Maulwi Abdul Karim Shahib masih hidup. Saya melalui Sayyid Muhammad Syah Shahib menuliskan surat baiat dan diserahkan kepada Hudhur as. (Yakni tatkala surat telah sampai ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Maulwi Abdul Karim Shahib menulis jawaban surat itu katanya,) ‘Surat sudah sampai atas nama anda, baiat anda sudah diterima. Hadhrat Shahib telah mendoakan anda.’ Pada tahun 1904 saya baiat melalui surat dan pada tahun 1906 saya pergi ke Qadian dan baiat lagi secara langsung.” [11]

[9] Hadhrat Mian Abdur Rashid Shahib ra meriwayatkan, “Ada seorang anak muda [Muslim] non Ahmadi di Lahore yang bekerja di Kereta Api dan tertarik dengan agama Hindu Arya. Oleh karena itu, kedua orang tuanya gelisah sekali. Dia dibawanya ke Mesjid Badshahi untuk dipertemukan dengan seorang Maulwi (kyai, guru agama Islam). Di hadapan Maulwi itu dikemukakan beberapa keberatan dan kritikan dari Arya. Mendengar hal itu darah Maulwi Shahib (tuan kyai) bergolak dan marah kepadanya sehingga ia berusaha memukulnya. Kritikan dan keberatan dari Arya dikemukakan namun Maulwi Shahib tidak tahu menjawab akhirnya marah dan berusaha memukulnya. Anak muda itu melepaskan pagri (ikat kepala, sorban)nya dan meninggalkannya di situ kemudian ia lari dari sana. Orang-orang pun mengejarnya dari belakang. Melihat gelagat demikian seorang Ahmadi bernama Ahmad Din Shahib yang sedang bekerja sebagai penjahit pakaian di situ, lari mengejar bersama mereka sampai ke rumah pemuda itu. Setelah mengetahui semua masalahnya dia datang kepada saya dan menceritakan kepada saya apa yang telah terjadi. Katanya, ‘Anak muda itu harus ditemui dan diusahakan menasihatinya mengapa ia telah menjadi seorang Hindu Arya.’ Karena sudah menjadi Ahmadi, Ahmad Din Shahib merasa sedih mengapa dia meninggalkan Islam kemudian masuk Arya sedangkan Maulwi itu marah dan mau memukulnya. Saya pergi bersamanya ke rumah anak muda itu. Mula-mula anak muda itu tidak bersedia untuk berbicara dan berkata, ‘Sekarang saya sudah menjadi [Hindu] Arya, sekarang nasihat Tuan dan nasihat ayah saya atau nasihat siapapun tidak akan memberi kesan apa-apa kepada saya.’ Dengan meninggalkan memakan daging dia sudah menjalani kehidupan seperti orang Arya, dia pergi mengikuti pertemuan-pertemuan mereka dan mengikuti cara-cara ibadah mereka. Berkat saya sering pergi menemuinya dia sekarang sedikit-demi sedikit mulai akrab dengan saya. Kemana pun dia pergi jalan-jalan saya mengikutinya. Kadangkala saya menunggunya juga untuk jalan-jalan, apabila sudah mulai berjalan saya pun ikut bersama dengannya. Tidak berapa lama waktu libur sekolah tiba. Saya mengajaknya pergi ke Qadian namun dia tidak bersedia pergi dan berkata, ‘Saya tidak ingin berjumpa dengan para Maulwi [ulama, karena trauma pernah akan ditampar seorang Maulwi, Red.].’ Saya memberikan pengertian kepadanya (menjelaskan baik-baik), ‘Di Qadian tidak ada sesuatu yang dikhawatirkan. Dan tidak akan ada perlakuan yang buruk terhadap tuan. Di sana tuan boleh mengemukakan keberatan dan kritikan sesuka hati anda. Saya bertanggung jawab penuh terhadap itu semua.’ Akhirnya ia bersedia dan kami berdua pergi ke Qadian. Sampai di sana kami berjumpa dengan Hadhrat Maulwi Nuruddin (Khalifah Awwal). Beliau berjumpa kami dengan sangat ramah dan baik sekali dan berkata kepada anak muda itu, ‘Katakanlah keberatan apa kritikan apa yang ada di dalam benak anda akan kami jawab.’ Saya berkata, ‘Hudhur, dia ini telah meninggalkan makan daging dan sekarang sudah menjalani kehidupan seperti orang Hindu Arya.’ Maka Hadhrat Maulwi Shahib berkata, ‘Kirimkanlah dari rumah ke Mehmaan Khanah (tempat tamu) untuknya dal (sejenis kacang) dan sayur mayur.‘ Anak muda itu sangat terkesan atas penghormatan Maulwi Shahib kepadanya dengan sangat memperhatikan secara istimewa makanan untuknya. Ketika saya pergi untuk shalat Zuhur saya bawa dia juga ke mesjid. Setelah selesai shalat, Hudhur as duduk bersama-sama di mesjid Mubarak. Pada masa itu Hadhrat Masih Mau’ud as sedang menyusun buku tentang Arya. Maka Hadhrat Shahib as menceritakan masalah keluhan-keluhan atau keberatan-keberatan yang diajukan kaum Arya dan beliaupun langsung menjelaskan jawaban-jawabannya. Mendengar itu semua anak muda itu sangat terkesan sekali sehingga banyak sekali keluhan dan keberatannya telah dapat dijauhkan dan iapun mulai mempunyai perhatian dan kecintaan terhadap Islam. Setelah shalat Asar saya mengajak lagi anak itu untuk mendengarkan daras Alquran yang disampaikan oleh Hadhrat Maulwi Nuruddin Shahib. Hadhrat Hakim Maulwi Nuruddin Shahib sudah biasa memberi daras Alqur’an di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as yang mengambil tempat di Mesjid Aqsa. Setelah itu kami berdua menjumpai Maulwi Shahib dan saya berkata kepada beliau, ‘Hudhur (yang mulia), mohon diberi penjelasan dan nasihat kepada anak muda kita ini.’ Beliau berkata, ‘Apa yang menjadi keluhan atau keberatan silakan tanya kepada saya.’ Maka anak muda itu menanyakan kepada beliau tentang memakan daging. Jawabannya diberikan dengan cara yang sangat baik  kepadanya sehingga ia merasa puas dan tenang sekali. Setelah shalat Maghrib kami berdua hadir lagi didalam pertemuan dengan Hudhur as (Masih Mau’ud) di Mesjid Mubarak. Hudhur as terus berbincang-bincang dengan hadirin. Orang-orang biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan melalui Maulwi Abdul Karim Shahib. Maka anak muda itu dengan tekun mendengarkan perbincangan itu. Setelah itu dia tidak pernah mengajukan keluhan atau keberatan lagi. Pada hari kedua di waktu Zuhur dia mengambil wudhu dan pergi ke Mesjid untuk menunaikan shalat. Pada hari itu pergi lagi untuk mendengarkan daras Alqur’an Maulwi Nuruddin Shahib. Pada hari ketiga dia baiat di tangan Hudhur as dan masuk Islam kembali.” Rashid Shahib selanjutnya menulis, “Sekarang anak muda itu sangat paham tentang Islam dan sangat mencintainya sehingga ketika ia kembali ke kampungnya dia pun mulai menjelaskan kelebihan dan keindahan Islam serta menjawab keluhan dan keberatan-keberatan kaum Arya di dalam pertemuan-pertemuan yang pernah dimasukinya.” [12]

Demikianlah rasa cinta dan simpati mereka kepada Islam setelah masuk Jemaat sehingga tidak mau membiarkan seorang dari umat Islam menyia-nyiakan imannya (masuk agama lain).

[10] Selanjutnya Hadhrat Mian Abdul Aziz Shahib ra yang dikenal juga dengan nama Mughal meriwayatkan, “Ada seorang Maulwi Pathan [ulama bangsa Pathan yg dikenal keras sifatnya, red.] di Nila Gunbad yang saya tablighi. Maulwi Shahib itu telah mengakui kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s akan tetapi dia berkata, ‘Anda tidak ada gunanya bertabligh kepada saya sebab di dalam bangsa kami (Pathan) ada peraturan apabila sekali kami sudah menentangnya maka kami tidak akan percaya jika Tuhan sekalipun yang berkata kepada kami tetap kami tidak akan percaya.’ Tidak lama kemudian diketahui bahwa Maulwi itu telah mati bunuh diri.” [13]

Peristiwa kedua seorang Maulwi Pathan juga telah mati minum racun. Apabila kami sedang berjalan melewati kedainya, seringkali ia berkata kepada kami, “Tengoklah orang kafir sedang lewat.’ Saya katakan kepadanya, ‘Hai saudara, periksalah dahulu dan bandingkanlah mana yang salah dan mana yang benar, jangan sesuka hati mengatakan kafir kepada kami?’ Dia bilang, ‘Jika Tuhan sekalipun yang berkata kepada saya, saya tidak akan percaya kepada apapun yang kamu tablighkan.’ Demikianlah jawabannya seperti Maulwi yang pertama. Orang tersebut telah mati bunuh diri dengan minum racun. “ [14]

[11] Hadhrat Munshi Qazi Mahbub Alam Shahib ra menulis katanya, “Saya mulai bertabligh kepada Mian Musa dan kemudian saya kirim beliau ke Qadian. Akan tetapi tanpa memperoleh apa-apa dan tanpa baiat kembali lagi ke rumahnya. Setelah itu kadang-kadang saya perdengarkan artikel yang dimuat didalam Surat Kabar ‘Badr’. Kemudian pada suatu hari saya perdengarkan sebuah riwayat didalam Hadis kepadanya bahwa seorang Badui (orang gurun) datang kepada Nabi saw dan bertanya kepada beliau saw, ‘Hai Muhammad, apakah engkau berani bersumpah kepada Tuhan bahwa engkau seorang Rasul yang telah diutus oleh-Nya?’ Maka dijawab oleh beliau setelah bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, ‘Saya adalah rasul Allah.’ Barulah orang Badui itu langsung baiat. Bahkan ketika kembali kepada kaumnya ia menyampaikan hal itu. Kisah itupun saya ceritakan kepada Musa Shahib sehingga hatinya sangat terkesan. Maka Musa Shahib pun menulis surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as seperti kata-kata Badui itu katanya, ‘Apakah Mirza Shahib (tuan Mirza) berani bersumpah kepada Allah Ta’ala bahwa telah diutus oleh Tuhan sebagai Masih Mau’ud?’ Ketika surat itu telah sampai kepada Hadhrat Shahib, maka beliau perintahkan kepada Maulwi Abdul Karim untuk menulis jawabannya, ‘Saya bersumpah kepada Allah Ta’ala bahwa saya adalah Masih Mau’ud yang telah dijanjikan oleh Hadhrat Muhammad saw kepada umat ini.’ Disamping itu Maulwi Abdul Karim juga menulis di dalam surat itu atas nama diri beliau yang maksudnya, ‘Beliau as telah bersumpah kepada Allah Ta’ala sebagai Masih Mau’ud, sekarang berimanlah jangan menunggu turunnya azab dari Allah Ta’ala.’ Setelah menerima surat jawaban itu Mian Muhammad Musa Shahib beserta seluruh keluarganya menulis pernyataan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.” [15]

Kemudian Munshi Qazi Mahbub Alam Shahib menulis;, “Di Lahore ada seorang pengacara namanya Karim Bakhsh Shahib yang dikenal dengan nama Bakra juga. Dia selalu mencaci-maki Hadhrat Masih Mau’ud as dengan keras sekali dan mencaci dengan menggunakan kata-kata yang sangat kotor. Pada suatu hari ketika sedang bertukar pikiran dengan saya dia berkata, ‘Siapa yang berkata Masih sudah wafat?’ Saya menjawab, ‘Saya dapat membuktikan bahwa Isa as sudah wafat. Tiba-tiba dia dengan keras sekali menampar muka saya sehingga hilang ingatan saya dan sayapun terjatuh ke lantai.’ Ketika saya kembali dari sana maka pada malam hari saya melihat ru’ya (mimpi) bahwa Karim Bakhsy Bakara terbaring diatas sebuah caarpay atau dipan yang sudah patah. Dan dibawah caarpay itu ada sebuah lubang dimana ia sedang terperosok ke dalamnya dalam keadaan tak berdaya. Di waktu pagi saya pergi kepadanya dan berkata, ‘Saya melihat ru’ya bahwa kamu akan  jatuh dalam kehinaan yang sangat menyedihkan.’ Maka tidak lama kemudian seorang anak perempuannya hamil karena hasil hubungan haram yang menyebabkan ia menanggung kehinaan. Anaknya pergi untuk menggugurkan kandungannya yang akhirnya ia sendiri meninggal. Ketika Polisi mengetahui hal itu segera datang untuk memeriksa kasus itu dan untuk pemeriksaan polisi itu ia telah banyak membelanjakan uang yang akhirnya kehormatannya pun jatuh dan terbenam dalam kehinaan. Karena malu diapun tidak mau keluar rumah dan pada suatu hari saya berkata kepadanya, ‘Sebelum ini kamu sering menghina dan mencaci maki Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kata-kata kotor sekarang inilah akibat yang terjadi.’ Dia tidak menjawab walaupun sepatah kata.” [16]

Akan tetapi, sekarang keadaan di Pakistan sudah demikian rupa bahwa jika sekalipun suatu masalah dikatakan dengan sebenarnya kepada para Mullah maka mereka segera melakukan permusuhan secara hukum sambil bertopang kepada undang-undang Negara. Untuk menjaga kehormatan diri sendiri mereka mengatasnamakan Hadhrat Rasulullah saw dengan dalih demi melindungi kedudukan Khataman Nabiyyin beliau saw menurut pengertian mereka yang tidak berdasar.

Hadhrat Munshi Qazi Mahbub Alam Shahib menulis, “Pada waktu pernikahan saya telah berlangsung berkat doa Hadhrat Shahib as maka saya bertabligh kepada mertua perempuan saya dan beliau sangat terkesan sekali akan tetapi beliau tidak bersedia untuk baiat. Pada suatu hari beliau menyerahkan perhiasannya kepada saya dan berkata, ‘Serahkanlah ini kepada Hadhrat Shahib dan katakanlah kepada beliau bahwa balasannya agar dapat saya terima di hari kiamat.’ Maka saya pergi ke Qadian dan berjumpa dengan Hudhur as sambil memberitahukan bahwa perhiasan ini dari mertua saya dan beliau mengharapkan pembalasannya di Hari Kiamat. Hudhur Aqdas menerimanya sambil bersabda, ‘Insya Allah pembalasannya akan diterima oleh beliau.’ Lama setelah itu ketika beliau meninggal dunia dan saya tidak menyalatkan jenazah beliau sebab beliau tidak baiat dan ketika hal itu saya ceritakan kepada Hadhrat Aqdas (pada tahun 1906) bahwa mertua saya sudah meninggal dunia dan saya tidak menyalatkan jenazah beliau, maka Hudhur Aqdas as bersabda, ‘Seharusnya anda menyalatkan jenazah beliau sebab beliau telah membuktikan dengan amalan bahwa beliau seorang Ahmadi.’”[17]

Bisa jadi karena lingkungan atau karena kurangnya ilmu, beliau tidak baiat. Akan tetapi dari amalan beliau terbukti sebagai seorang Ahmadi. Maksud dan tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as untuk penyebaran Islam dan menciptakan hubungan dengan Tuhan, beliau telah menyerahkan semuanya untuk penyebaran Islam, beliau telah menyerahkan benda-benda yang sangat dicintainya sebagai seorang perempuan yang pada waktu itu jumlahnya banyak. [Perhiasan merupakan barang yang sangat dicintai oleh kaum perempuan] beliau (mertua perempuan Munshi Shahib) telah menyerahkan perhiasannya. Sebab, takut akan Hari Pembalasan. Di dalam hatinya terdapat keinginan meraih keridhaan Allah Ta’ala. Namun demikian, di sini hal ini juga jelas bahwa pengertiannya tidaklah diambil demikian bahwa orang yang menganggap kita tidak salah dan tidak menganggap kita buruk dia dapat dianggap sebagai orang Ahmadi. Keadaannya seperti telah beliau (perempuan mertua tuan Qazi) katakan, beliau telah menyerahkan harta bendanya, benda yang sangat dicintainya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as untuk biaya penyebaran agama Islam untuk maksud mana beliau diutus ke dunia. Hanya menganggap baik terhadap Jemaat atau tidak menganggap buruk didalam hati tidaklah cukup. Sebab, di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah menjelaskan bahwa jika seseorang tidak menganggap kita buruk mengapa mereka tidak mengumumkannya secara terbuka? Dan jika tidak ada halangan dan kesulitan mengapa mereka tidak melakukan baiat?” [18] Jadi setiap keputusan diambil sesuai dengan situasinya.

[12] Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki ra menceritakan, “Setelah baiat saya membaca buku-buku Hadhrat Aqdas dan setelah itu timbul semangat didalam hati dan mulailah melakukan tabligh. Cara saya bertabligh yaitu dimanapun saya melihat ada empat-lima orang berkumpul disana setelah mengucapkan ‘assalamu ‘alaikum’ saya mengucapkan ‘mubarak ho’ (selamat ya!) kepada mereka. Mereka mengalihkan perhatian [kepada saya karena keheranan] sambil bertanya, ‘Ada apakah?’ Saya menjawab, ‘Hadhrat Imam Mahdi sudah datang.’ Diantara mereka ada yang menertawakan, ada yang memperolok-olok dan ada juga yang bertanya ingin mendapat penjelasan lebih jauh. Bagaimanapun juga dalam bentuk apapun perbincangan mulai berjalan saya ambil kesempatan untuk bertabligh.”[19]

Cara untuk bertabligh sudah banyak sekali, sekarang dimanapun di dunia di Jemaat ini sudah banyak dicetak leaflets (selebaran-selebaran), melalui sarana itu manusia mulai tanya-jawab tentang Jemaat. Dengan itu harus mendapat kesempatan untuk bertabligh. Tidaklah cukup hanya dengan menyampaikan tulisan diatas kertas bahwa Jemaat Ahmadiyah menyampaikan amanat perdamaian dan setelahnya kewajiban telah selesai tertunaikan. Bahkan, hendaknya harus meningkatkan hubungan dengan masyarakat sejauh mana dapat ditingkatkan. Demikianlah juga seperti peresmian masjid-masjid di UK (Inggris) pada waktu ini. Dengan karunia Allah sebanyak tiga buah masjid sudah kita buka dan insya Allah bulan depan akan diresmikan tiga buah lagi di UK ini. Sekarang Jemaat UK juga sudah banyak memperhatikan kearah ini, dengan perantaraan ini juga jalan tabligh harus dibuka. Harus diperbanyak rabtah dan Jemaat setempat juga harus mengadakan hubungan lebih banyak dengan masyarakat sekitar. Dimana terdapat permusuhan menentang kehadiran Mesjid-mesjid disana dengan karunia Allah melalui peresmian Mesjid itu ada laporan [yang masuk ke Hudhur] bahwa orang-orang yang pada mulanya jauh tidak ada hubungan dengan Jemaat mereka mulai mencari tahu tentang Jemaat. Maka apabila mereka datang mencari tahu, orang-orang Jemaat harus mengambil faedah sebanyak-banyaknya dari kesempatan itu.

Selanjutnya Hadhrat Maulana Ghulam Rajiki menceritakan, “Mian Ghulam Muhammad Shahib dari etnis (suku) Arain penduduk kawasan Sa’dullahpur, Bhalah-Gujarat telah masuk kedalam silsilah Ahmadiyah melalui saya. Demikian juga saudara-saudara beliau bahkan Imam Mesjid kampung Sa’dullahpur Maulwi Ghaos Muhammad Shahib seorang anggota golongan Ahli Hadits dengan karunia Allah Ta’ala telah menjadi para Ahmadi melalui tabligh saya.” [20]

Jadi dari antara Maulwi juga banyak yang berfitrat bersih (baik) yang paham agama dan sekarang juga banyak orang-orang seperti itu. Para Maulwi (ulama) yang memiliki fitrat baik di Pakistan maupun di negara-negara lain juga yang sekalipun sangat keras dalam urusan agama dan sekalipun disebabkan mendengar kata-kata orang lain menjadi penentang Hadhrat Masih Mau’ud as apabila hakikat kebenaran telah diketahui, mereka membaca dan memahaminya akhirnya mereka juga baiat masuk kedalam Jemaat.

[13] Hadhrat Mian Muhammad Abdullah Shahib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Dari keluarga kami yang pertama baiat kedalam Jemaat adalah Haji Fazluddin Shahib pada tahun 1892 di Qadian. Haji Shahib (tuan Haji, Pak Haji) adalah keponakan saya. Beliau bertabligh kepada ayah saya dan saudara-saudara saya sampai tahun 1903. Pada suatu malam ayah saya melihat mimpi bahwa bulan yang sangat indah bersinar sempurna sedang memancarkan seluruh cahayanya dari arah Qadian. Ayah saya menta’wilkan hal itu sebagai bukti kebenaran da’wa (pengakuan, pernyataan) Hadhrat Masih Mau’ud as. Kami semua pada hari itu juga baiat melalui surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.” [21]

Hadhrat Maulwi Muhammad Abdullah mengatakan, “Tabligh telah biasa dilakukan sebelum baiat dan setelah baiat saya melakukan tabligh begitu semangat sehingga beratus orang telah baiat masuk Jemaat melalui saya.” [22]

Peristiwa-peristiwa dan kisah-kisah masih banyak. Insya Allah akan saya terangkan lagi di waktu yang akan datang. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para sahabat yang telah menyampaikan amanat Jemaat kepada banyak sekali manusia. Sekarang anak keturunan mereka sedang menikmati buah iman dan taqwa mereka itu. Berdoalah bagi para sahabat itu. Kita harus banyak bersyukur (menghargai) kepada mereka. Menyatakan syukur yang hakiki adalah dimana kita banyak berdoa untuk mereka, kita harus berusaha juga untuk memperkuat hubungan dengan Jemaat dan berusaha menyampaikan amanat Jemaat ini sebanyak-banyaknya kepada yang lain. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk itu.

Selanjutnya sekarang ini saya sampaikan kabar duka sehubungan dengan terjadinya lagi pensyahidan di Pakistan. Salah seorang saudara kita telah disyahidkan di Nawabshah. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Mukarram Maqsud Ahmad Shahib putra Mukarram Muhammad Idris yang sebelumnya pernah tinggal di Karwandi hingga tahun 1983 akan tetapi kemudian pindah tinggal di Darur Rahmat, Rabwah. Keluarga beliau berasal dari desa ‘Betia Got’ di dekat Qadian. Dari antara keluarga beliau kakek beliau Maulwi Abdul Haqq Nur Shahib adalah orang Ahmadi pertama di dalam keluarga besar beliau. Beliau baiat pada tahun 1934. Kakek beliau adalah seorang tuan tanah yang teruji mengelola tanah luas sehingga Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani (II) ra mengirim kakek beliau ke Sind untuk menggarap lahan milik Jemaat di situ. Kakek beliau juga ditetapkan sebagai pengawas di Nashirabad, Mahmudabad dan negara-negara bagian lainnya. Selanjutnya pada tahun 1942 beliau mengelola sendiri tanah-tanah pribadi beliau dan tidak lagi mengurus tanah-tanah Jemaat dan pindah ke Khairpur. Pada tanggal 21 Desember 1966 kakek beliau ini, Mukarram Abdul Haqq Nur pun disyahidkan. Waktu itu Maqsud Shahib masih berusia 12 tahun dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri atas peristiwa pensyahidan tersebut. Pada suatu Khotbah Jum’at di bulan Juni 1999, Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rha menyebutkan tentang kakek belau ini terkait pembahasan mengenai para syuhada masa lampau. Beliau (Maqsud Shahib) tinggal di Karwandi hingga tahun 1983. Setelahnya, dari sana pindah ke Rabwah. Saat di Rabwah beliau bekerja di bagian penjualan perusahaan homeopathy, ‘Curative Company’ dibawah pimpinan tuan Rajah Nashir. Sebagai salesman (penjaja barang), beliau mendapat kepercayaan dari perusahaan bertugas untuk wilayah Sind dan biasa pergi berkunjung ke sana setiap bulan untuk menjual obat-obatan dan menerima atau mencari order (pesanan). Pada waktu itu beliau sedang berkanvas ke Sind, dua orang pengendara motor tak dikenal menembak beliau di pusat kota, sehingga beliau menjadi syahidin kedua di Nawabshah dalam waktu beberapa hari ini.

Seperti telah kita ketahui bersama, di Nawabshah dalam 10 hari ini telah terjadi dua kesyahidan. Almarhum seorang mushi. Ahliyah (istri) almarhum menyampaikan, “Sebetulnya beliau sudah pernah menceritakan dua tiga bulan sebelumnya bahwa beliau menerima ancaman. Di satu tempat toko obat-obatan milik seorang dokter Hindu yang almarhum biasa mengunjunginya untuk menjajakan obat juga telah didatangi orang tak dikenal yang mengancam, ‘Apabila orang Mirzai itu masih datang ke toko anda, anda dan dia juga akan kami bunuh.’” Istri almarhum lebih lanjut mengatakan, “Syahid Marhum adalah pemilik akhlak yang tinggi, disiplin shalat dan teratur melaksanakan nafal-nafal, dawam shalat berjamaah, dan juga mengambil bagian dalam pengorbanan harta benda. Sehingga, beliau pun sudah membayar semua kewajiban candah beliau dan istri sebelum berangkat bekerja ke luar kota itu. Gemar da’wah ilallah mewarisi semangat bertabligh kakeknya. Di dalam perjalanan selama beberapa hari, beliau membagi-bagikan literature Jemaat dan sangat aktif bertabligh. Disebabkan pertablighan beliau inilah lalu muncul permusuhan. Di pasar  beliau dikenal sebagai Ahmadi. Setiap kali orang-orang kenal beliau dan tahu beliau Ahmadi beliau memberikan hadiah buku-buku dan yang lainnya kepada orang itu. Seorang penyayang dan pecinta kebersihan. Ambil bagian terdepan dalam tugas khidmat khalq. Suka memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang lain, Sangat baik hubungannya dengan Khilafat dan asyik menyintai Alqur’an.” Istri beliau menambahkan bahwa suatu hari beliau bertanya kepada Mukarram Maqshud Ahmad Shahib, “Apakah keluarga kita ini dapat dimasukkan ke dalam keluarga syuhada Jemaat?” Beliau menjawab, “Mengapa tidak, bila Allah Taala memang telah memilih kita untuk itu maka kita bias termasuk didalamnya.” Beliau meninggalkan istri beliau, Amatur Rasyid Syaukat. Selain itu, almarhum meninggalkan tiga orang anak laki-laki dan dua perempuan. Salah seorang putra beliau tinggal di Manchester dan belum menikah. Salah seorang putrinya sudah menikah dan tinggal di Amerika, seorang lagi tinggal di Rabwah dan menjadi guru di sekolah kita. Semoga Allah Taala mengangkat derajat derajat-derajat beliau, menganugerahi kesabaran bagi yang ditinggalkan. Semoga pihak musuh dicengkeram hukuman secepatnya.

Satu lagi  jenazah yang juga akan saya pimpin shalatnya setelah shalat Jum’at ialah [jenazah] Hajirah Begum Shahibah istri Mukarram Masteri Muhammad Husain Shahib, seorang almarhum Darwisy Qadian.

Beliau wafat pada umur 79 tahun pada malam diantara tanggal 4 dan 5 Maret. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Beliau adalah putri dari Mukarram Munsyi Abdur Rahim Fani dari Amrohah yang berpindah untuk tinggal di Qadian dan datang ke Qadian pada 1950. Almarhumah menikah pada tahun 1951 dan hidup bersama suami dengan penuh kesabaran dan kesyukuran. Sekalipun mempunyai keluarga besar dengan jumlah anak perempuan 5 orang dan anak laki-laki 5 orang namun mendidik mereka dengan corak yang sebaik-baiknya. Semua putra-putri beliau telah menikah dan berkeluarga. Almarhumah seorang musiah dan telah dimakamkan di ‘Bahisyti Maqbarah’ di Qadian. Semoga Allah Ta’ala memperlakukan almarhumah dengan penuh pengampunan dan meninggikan derajat-derajatnya; menganugerahi kedudukan tinggi di surga keridhaan-Nya dan menganugerahi kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.

Alihbahasa: Mln. Hasan Basri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan yang Perkasa

[2] Aainah Kamaalaati Islam, Ruuhani Khazaain jilid 5 halaman 225

[3] Pidato Sialkot, Ruhani Khaza’in, Vol. 20, p. 203

[4] Register Riwaayaat Shahabah ghair mathbu’ah jilid 5 halaman 57, riwayat Hadhrat Imam Din Shahib ra.

Dan, ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu yang membenarkan apa yang ada sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad’. Maka, tatkala ia datang, kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.” (Surah Ash-Shaff, 61 : 7)

[5] Op.cit. jilid 7 halaman 1, riwayat Hadhrat Pir Iftikhar Ahmad Shahib ra

[6] Op.cit. jilid 7 halaman 62, riwayat Hadhrat Master Nadzir Husain Shahib ra

[7] Op.cit., jilid 7 halaman 82, riwayat Hadhrat Syer Muhammad Shahib ra

[8] Op.cit., jilid 7 halaman 197-198, riwayat Hadhrat Qadhi (Qazi, Urdu) Muhammad Yusuf Shahib ra

[9] Op., cit. jilid 7 halaman 26, riwayat Hadhrat Ahmad Din Shahib ra

[10] Op. Cit., jilid 7 h. 126, riwayat Hadhrat Doktor Muhammad Baksh Shahib ra

[11] Op. cit., jilid 7 halaman 149, riwayat Hadhrat Mamo Khan Shahib ra

[12] Op. cit., jilid 11 hlmn 30-32, riwayat Hadhrat Mian Abdur Rashid Shahib ra

[13] Op. cit., jilid 9 hlmn 28, riwayat Hadhrat Mian Abdul ‘Aziz Shahib ra

[14] Ibid.

[15] Op. cit., jilid 9 hlmn 136-137, riwayat Munsyi Qadhi (Qazi, Urdu) Mahbub ‘Alim Shahib ra

[16] Op.cit., jilid 9 halaman 206-207

[17] Op.cit., jilid 9 halaman 265-266

[18] Malfuuzhaat, jilid 5, halaman 526, Terbitan Rabwah

[19] Register Riwaaayaat Shahabah, ghair mathbu’ah jilid 9 halaman 206-207, riwayah Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Shahib Rajiki ra

[20] Register Riwaaayaat Shahabah, ghair mathbu’ah jilid 10 halaman 63-64, riwayah Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Shahib Rajiki ra.

[21] Register Riwaaayaat Shahabah, ghair mathbu’ahjilid 10 halaman 134, riwayat Mian Muhammad ‘Abdullah Shahib ra.

[22] Op.cit., halaman 219

(Visited 42 times, 1 visits today)