Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 8 Mei 2009/Hijrah 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

Salah satu nama sifat Allah Swt adalah   الواسع (Al-Wâsi’) artinya adalah Dzat Tuhan Yang rizqi-Nya dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Dan Dia adalah Dzat Yang kekayaan-Nya juga meliputi keperluan semua makhluk ciptaan-Nya. Selain itu  الواسع (Al-Wâsi’) juga artinya Dzat Yang menganugerahkan rizki-Nya tanpa batas. Dia adalah Dzat yang apabila diminta oleh hamba-Nya, Dia menganugerahkan sebanyak-banyaknya. Banyak orang mengartikan bahwa Dia adalah Dzat Yang menguasai setiap benda atau setiap makhluk-Nya dan Dia mengetahui keadaan setiap benda. Semua arti yang telah diuraikan di atas bisa diketahui di dalam Kitab Suci Alqur’an.

Sekarang saya ingin menjelaskan beberapa ayat Alqur’an yang di dalamnya Allah Swt mengingatkan beberapa perkara kepada orang-orang mukmin yang ada kaitannya dengan sifat Al-Wâsi’. Di dalam Surah Al-Baqarah ayat 269, Allah Swt berfirman tentang tipu daya syaitan dalam menggoda murid-muridnya:

— Asy-syaythônu ya’idu-kumul-faqro wa ya-muru-kum bil-fahsyâ-, wal-Lôhu ya’idu-kum maghfirotam-min-Hu wa fadhlâ,-wal-Lôhu Wâsi’un ‘Alîm —

Artinya: Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kekejian, sedangkan Allah menjanjikan kepada kalian ampunan dan karunia dari sisi-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.

Di dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan dua macam tipu daya yang digunakan setan untuk menjauhkan jarak antara hamba-hamba dengan Allah Swt. Pertama dengan faqar yakni menimbulkan dalam hati rasa takut miskin dan kedua mengajak kepada perbuatan keji. Menakut-nakuti dengan kemiskinan mempunyai beberapa macam cara. Syaitan berkata kepada Allah Swt: “Aku akan menghadang manusia di atas setiap jalan dan mereka akan disesatkan dari jalan yang lurus.” Maka untuk menyempurnakan usaha busuknya itu, setan tidak memberikan kesempatan kepada manusia. Usaha menghadang di atas setiap jalan itu bukan karena kemampuannya sendiri yang kuat, melainkan Allah Swt telah memberi izin kepadanya untuk berbuat demikian. Allah Swt berfirman kepadanya, “Baiklah jika engkau hendak berbuat demikian lakukanlah sekehendak hatimu. Akan tetapi orang-orang yang mengikuti jalanmu, akan Aku masukkan ke dalam jahanam.” Hal itu telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah Swt di dalam Kitab Suci Alqur’an. Allah Swt mengingatkan hamba-hamba-Nya: “Hati-hatilah kalian, jika kalian ingin menjadi hamba-Ku yang sejati maka jagalah diri kalian dari godaan setan. Pada dasarnya cara-cara yang dilakukan oleh syaitan untuk menggoda kalian akan tampak sangat menarik dan menyenangkan hati. Akan tetapi natijahnya atau akibatnya tidak baik bagi kehidupan kalian.” Sehubungan dengan itu, Allah Swt telah menasihatkan di banyak tempat di dalam Kitab Alqur’an supaya manusia menjaga diri dari padanya. Allah Swt telah menjelaskan beberapa bahaya dan kerugian-kerugiannya. Di satu tempat Allah Swt berfirman:

Wa yurîdusy-syaythônu ay-yudhillu-hum dholâlam-ba’îdâ-Artinya: Dan setan ingin menyesatkan mereka menuju kesesatan yang sangat berbahaya (An Nisa: 61). Dan berfirman: Setan akan menjerumuskan kalian ke dalam kesengsaraan. Dan mula-mula dia akan berkawan dengan kalian lalu dia akan menjerumuskan kalian ke dalam kesengsaraan dan kehinaan. Sebagaimana firman Tuhan ini:

— Innasy-syaythôna lakumâ ‘aduwwum-mubîn — Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua (Al-A’raf : 23). Ayat ini berkenaan dengan Adam dan Hawa. Bahaya permusuhan setan itu tidak berhenti sampai kepada Adam dan Hawa saja bahkan telah diperingatkan kepada semua kaum lelaki dan semua perempuan juga, bahwa setan adalah musuh kalian yang nyata. Oleh sebab itu kalian harus berhati-hati dengan tipu daya setan itu. Giatlah beramal saleh dan tunaikan ibadah dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Peristiwa dan kisah-kisah yang dijelaskan di dalam Kitab Alqur’an bukanlah mengulangi peristiwa-peristiwa itu untuk pengetahuan kita, melainkan sebagai nubuwatan bagi masa yang akan datang bahwa akan terjadi peristiwa semacam itu. Oleh karena itu jika kalian orang mukmin dan mukmin sejati, maka kalian harus berjaga-jaga terhadap semua peristiwa yang telah terjadi itu, jangan-jangan peristiwa itu berulang lagi pada waktu ini. Bersamaan dengan bertukarnya keadaan zaman, tipu daya setan-pun selalu berganti-ganti. Setiap langkah manusia menuju kepada berbagai kemajuan di mana berkat-berkat kebaikannya memberi faedah kepada manusia di sana berkat-berkat kebaikan itu dipergunakan oleh setan itu untuk memperdayakan atau mengelabui kalian. Dan Allah Swt berfirman: Jika kalian terpikat dan mengikuti langkahnya di belakang, maka kalian akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan.”

Ayat yang telah saya bacakan dari Surah Al Baqarah di atas dikatakan bahwa Syaitan menakut-nakuti kalian dengan faqar (kemiskinan). Faqar artinya juga kemiskinan, dan faqar juga artinya patah tulang punggung. Tuhan berfirman bahwa setan menakut-nakuti kalian dengan faqar, jika dia berhasil memperdayakan kalian maka kalian tidak akan mampu berdiri lagi. Jika kalian berlaku demikian, maka kalian akan ditimpa kemalangan dengan kemiskinan. Sehingga di dalam dunia ini kemajuan yang sifatnya duniawi kalian akan sangat terbelakang di dalamnya. Dan sekali-kali kalian tidak akan mampu mempertahankan kedudukan kalian, jika kalian tidak mau melakukan pengurbanan. Jadi dengan berbagai macam cara setan menakut-nakuti kalian untuk tidak melakukan pengurbanan, kadang-kadang menakut-nakuti bahwa sekarang ini bukan masanya bagi kalian untuk melakukan ibadah. Kadang-kadang menghalangi kalian untuk mengurbankan harta, menakut-nakuti dengan faqar, yaitu jika pada waktu ini kalian mengeluarkan uang untuk berkurban maka perniagaan kalian akan menghadapi kemelesetan dan kerugian. Kadang-kadang setan menakut-nakuti sambil mengatakan, apabila uang ini kalian kurbankan pasti anak-anak kalian akan mengalami kelaparan. Demikianlah cara setan menakut-nakuti kalian. Namun ingatlah! Hamba Allah Swt yang sejati tidak bisa ditakut-takuti seperti itu oleh setan.

Beberapa hari yang lalu saya tengah membaca sebuah artikel di dalam Al-Fazal tentang pengurbanan harta. Penulisnya menguraikan di dalamnya peristiwa seorang Ahmadi di Rabwah. Katanya orang itu sedang berdiri di depan kedai penjual daging dan ia tengah membeli daging di situ. Tiba-tiba Sekretaris Mal lewat di situ. Melihat orang itu ada di sana sedang membeli daging Sekretaris Mal itu berhenti untuk mengingatkannya dan berkata kepadanya, katanya: “Anda masih punya tunggakan candah ini dan itu.” Orang itu bertanya: “Berapa tunggakan saya?” Setelah dikasih tahu ia pun langsung membayarnya sambil berdiri di situ. Dan daging yang sudah dipegang di tangannya itu dikembalikannya lagi kepada penjual daging itu sambil berkata: “Hari ini kami tidak akan makan daging, akan makan seadanya saja!” Demikianlah seorang hamba Allah yang tidak bisa dikalahkan oleh setan. Sekali pun syaitan mengatakan: “Apa yang sedang kamu lakukan ini, anak-anak kamu sedang menangis di rumah ingin makan dengan daging. Kamu membiarkan mereka dengan harapan kosong?” Dengan karunia Allah Swt, bukan hanya seorang, bukan beratus, bahkan beribu banyaknya contoh seperti itu di dalam Jemaat Ahmadiyah ini. Bukan hanya meninggalkan makan daging, melainkan demi pengurbanan harta, mereka membiarkan diri mereka menahan lapar. Akan tetapi mereka tidak mau ketinggalan di dalam pengurbanan harta. Selain itu ada juga yang mengurbankan jiwa atau nyawa mereka. Sejarah Jemaat penuh dengan kisah pengurbanan seperti itu. Sekarang di Pakistan ratusan orang telah menjadi sasaran korban pembunuhan dan tiba-tiba saja seorang Ahmadi telah menjadi sasaran peluru. Akan tetapi orang-orang Ahmadi yang menyerahkan diri kepada Allah Swt, mereka tahu bahwa dengan perbuatan ini atau dengan mengerjakan amalan itu, dengan tinggal di daerah ini atau dengan lewat melalui jalan itu, di manapun terdapat kemungkinan akan terjadi peristiwa kematian disebabkan mereka telah menjadi Ahmadi. Akan tetapi semata-mata karena Allah Swt, mereka tidak ragu-ragu lagi untuk melakukan pengurbanan dalam bentuk apapun. Di dalam sejarah Ahmadiyah pengurbanan Hadhrat Sayyid Abdul Latif Syahid(r.a.) dan Hadhrat Abdurrahman Syahid(r.a.) di zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah diperlihatkan kepada dunia, inilah Abdurrahman, demi keridhaan Allah Swt ia tidak merasa takut untuk mengurbankan nyawa. Peristiwa pengurbanan seperti itu terjadi belasan kali di dalam kehidupan orang-orang Ahmadi. Pengurbanan seperti itu bukan karena terjadi serangan secara tiba-tiba mereka mengurbankan nyawa, atau karena ada syarat-syarat tertentu, melainkan dengan keimanan yang tangguh sambil menghadapkan dada mereka di hadapan musuh mereka telah melakukan pengurbanan itu. Mereka telah menyerahkan jiwa raga mereka sebagai nazar kepada Allah Swt.

Allah Swt berfirman tentang Setan, bahwa kerja setan hanya menakut-nakuti orang mukmin supaya jangan melakukan pengurbanan. Kadang-kadang setan menakut-nakuti dengan mengatakan: “Jika kamu kurbankan hartamu, kamu akan menjadi miskin,” kadang-kadang mengatakan, “jika kamu kurbankan hartamu nanti anak-anak kamu tidak akan mampu melanjutkan sekolah,” dan setan juga menakut-nakuti bahwa jika kalian melakukan pengurbanan jiwa-raga maka anak-anak yang akan ditinggalkan akan terkatung-katung.

Pada zaman sekarang ini peranan keuangan juga dinyatakan sebagai tulang punggung. Maka orang-orang pencinta pengurbanan, yang mengurbankan harta dan jiwa raga mereka, ditakut-takuti dengan mengatakan bahwa sumber kehidupan bagi kamu dan anak keturunan kamu akan mengalami kehancuran. Akan tetapi mereka tidak bisa dipengaruhi oleh hasutan setan itu, namun mereka terus saja melakukan pengurbanan tanpa berhenti. Orang mukmin tidak terpengaruh sedikitpun oleh hasutan syaitan. Selain itu banyak sekali macam-ragam pengurbanan yang dilakukan oleh orang-orang Ahmadi sekali pun ditakut-takuti oleh setan.

Terdapat juga contoh pengurbanan waktu. Setiap orang Ahmadi tahu bahwa, dengan karunia Allah Swt, setiap orang Ahmadi yang telah betul-betul mengikatkan dirinya dengan Jemaat, ada saja waktu yang mereka kurbankan kepada Jemaat. Bukan hanya di waktu diadakan ijtima atau di waktu Jalsah Salanah saja orang-orang Ahmadi mengurbankaan waktu mereka, bahkan sangat banyak setiap hari Sabtu dan setiap hari Jum’at, mereka kurbankan waktu mereka untuk kepentingan Jemaat dan untuk menunaikan sembahyang Jum’at, mereka tidak menghiraukan tipu-daya setan yang berusaha menghalangi mereka. Akan tetapi banyak juga di antara para Ahmadi yang pada hari Jum’at dan hari-hari Ied-pun tidak datang. Mereka mengurbankan ibadah-ibadah mereka dan keadaan shalat mereka demi kehidupan dunia dan hal itu patut disesalkan. Banyak jumlah orang Ahmadi yang tidak menaruh perhatian kepada pentingnya pengurbanan di masa ini. Hal ini bukan hanya disebabkan kemalasan beribadah kepada Allah Swt, namun mereka telah menempakan diri terlalu sibuk di dalam kegiatan perniagaan mereka. Di waktu itu mereka tidak ingin mengurbankan waktu sekali pun untuk menunaikan kewajiban shalat. Terhadap orang-orang semacam ini Tuhan berfirman: “Setan menakut-nakuti kalian dengan berbagai macam cara, apabila kalian hendak melakukan pengurbanan apa pun. Kadang-kadang menakut-nakuti dengan kemiskinan, Setan menghalangi kalian agar  jangan melakukan shalat. Kadang-kadang dengan segala macam cara menghalangi kalian untuk berkurban.” Sebagai seorang mukmin sejati, Tuhan memberi peringatan agar kalian waspada dari godaan setan. Bagaimanapun Setan mempunyai berbagai macam cara yang selalu dipergunakan untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Allah Swt berfirman: “Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan menghalangi kalian untuk berkurban, akan tetapi dari segi lain setan menggoda kalian untuk membelanjakan harta kalian untuk melakukan perbuatan keji. Orang-orang kaya sering membelanjakan harta mereka untuk perbuatan keji. Orang-orang dunia, orang-orang bukan mukmin yang kaya-raya membelanjakan harta mereka dalam perbuatan pesta-pora duniawi yang sia-sia, dalam perjudian, minuman keras dan perbuatan yang betul-betul tidak ada gunanya. Orang-orang yang mengikuti godaan setan membelanjakan harta mereka tidak terhitung banyaknya. Mereka tidak mau menyesal, sebab setan membawa mereka kepada kesenangan dunia yang sifatnya sementara. Setan demikian halus cara menggodanya sehingga manusia menjadi lupa daratan, sehingga tidak sadar bahwa mereka tengah melakukan perbuatan yang dosa bahwa mereka sedang menjadi murid-murid setan. Maka kepada orang-orang mukmin Allah Swt berfirman:

wa Lâ tattabi’û khuthuwâtisy-syaythôni innahû lakum ‘aduwwum-mubîn —  artinya: Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan sesungguhnya ia adalah musuh kamu yang nyata (berusaha untuk menjauhkan kamu dari pada Allah Swt). (Al-An’am:143). Kapanpun juga kalian jangan mengharapkan sesuatu kebaikan dari setan. Bahkan jangan sekali-kali mengira sedikitpun bahwa kalian akan mendapat suatu kebaikan dari setan. Sebab pekerjaan setan hanyalah mengajak kamu kepada perbuatan keji dan jahat. Dengan menuntun murid-muridnya di belakang, Setan menyempurnakan maksudnya untuk membuat sebagian besar manusia menjadi jauh dari Allah Swt. Maka Allah Swt mengingatkan agar manusia selalu berjaga-jaga dari tipu-daya setan seperti itu. Setan sangat pandai membuat tipu-daya terhadap kalian. Maka bergegaslah kalian ke arah Allah Swt, sebab dengan cara demikianlah maksud dan tujuan kehidupan kalian akan tercapai. Caranya ialah bertobatlah kalian dari perbuatan yang sudah terlanjur dilakukan kemudian tunduklah di hadapan Allah Swt. Dan Allah Swt menjanjikan pengampunan kepada kalian. Dia akan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa kalian yang telah dilakukan di masa lampau. Dan di masa depan, Dia akan memberi taufik kepada kalian untuk beramal saleh dan melakukan pengurbanan, Dia akan menyediakan sarana untuk memaafkan dan karunia bagi kalian. Dengan menggunakan lafaz  يَعِدُكُمُ  – ya’idukum — di dalam ayat di atas, Allah Swt memberi jaminan yang meyakinkan bahwa jika betul-betul bertobat dengan sesungguhnya maka dosa-dosa kalian akan diampuni. Dan bukan hanya pengampunan bahkan Dia akan membuka pintu karunia juga bagi kalian sehingga kalian merasa heran bahwa hal itu di luar dugaan. Di dalam ayat tersebut, tipu daya syaitan yang diingatkan oleh Allah Swt yaitu menakuti-nakuti manusia dengan faqar (kemiskinan), yakni setan menakut-nakuti bahwa dengan mengeluarkan pengurbanan, manusia akan menjadi miskin dan akan menjadi sangat lemah seperti orang yang rusak tulang punggungnya sehingga tidak bisa berdiri dengan tegak lagi. Setan menakut-nakuti manusia bahwa akibat mengeluarkan pengurbanan akan menjadi lemah sehingga tidak mampu berdiri lagi. Akan tetapi Allah Swt berfirman: “Setan telah berkata dusta kepada kalian. Pada hari kiamat, dia tidak akan mengaku atas perkataannya itu. Akan tetapi Allah Swt berjanji kepada kalian bahwa Dia akan menyediakan sarana pengampunan bagi kalian.” Sebagai hasilnya, di dunia ini juga Tuhan akan menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kalian. Dan di hari akhir juga, apa yang telah dijanjikan kepada hamba-hamba-Nya yaitu Dia akan menyelimuti hamba-hamba-Nya dengan selimut maghfirah-Nya akan disempurnakan-Nya.

Selain itu Setan mengajak kepada perbuatan keji. Akibat dari melakukannya, di dunia ini juga manusia terlibat di dalam berbagai macam kesulitan. Manusia menjadi mangsa beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh beberapa jenis binatang. Banyak jenis kerusakan dan bahaya menimpa manusia yang menjadi musibah di dunia ini juga dan di akhirat nanti akan menimpa berupa azab kepada manusia sebagai hukuman. Akan tetapi bagi seorang mukmin, ada janji dari Allah Swt bahwa Dia akan menganugerahkan karunia kepadanya dan karunia-Nya itu akan terus ditingkatkan kepadanya. Dan pintu barkat-barkat-Nya akan selalu terbuka baginya. Hal itu akan membawa semangat kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, baik di dunia ini dan juga di akhirat nanti. Dan ia akan menjadi sarana untuk meningkatkan martabatnya. Allah Swt berfirman: “Janji ini adalah janji Tuhan Yang Memiliki langit dan bumi. Dia adalah Wâsi’ yakni Karunia-Nya tidak mengenal batas.” Orang Ahmadi yang giat dan taat melakukan pengurbanan, dia sangat paham bahwa hasil dari setiap pengurbanan itu, Allah Swt menganugerahkan karunia-Nya yang melimpah sehingga ada di luar kemampuan pikirannya, dengan cara bagaimana Allah Swt telah menolongnya. Allah Swt menganugerahkan harta demikian luasnya kepada orang yang melakukan pengurbanan, sehingga sering kali ada di luar jangkauan pikiran manusia. Banyak orang Ahmadi telah menulis surat kepada saya dan menjelaskan bagaimana karunia Allah Swt telah melimpah turun kepada mereka sehingga di luar dugaan mereka. Begitu banyak Allah Swt memberi berkat di dalam pengurbanan jiwa raga, dalam pengurbanan harta sehingga anak-anak keturunan mereka pun merasa heran atas karunia-Nya itu. Banyak keluarga Ahmadi yang telah mendapat martabat syahid demi Jemaat. Dan kesalehan anak-anak mereka menjadi saksi akan martabat ayah mereka sebagai syahid. Dan martabat kesyahidan mereka itu, dengan karunia Allah Swt, telah menjadi sebab turunnya banyak karunia dan berkat di atas keluarga mereka juga. Sehingga mereka telah menyaksikan betapa luasnya nikmat dan rahmat Allah Swt Yang Wâsi’ dan ‘Alîm itu. Dengan mengatakan Dzat-Nya sebagai ‘Alîm, Tuhan telah mengingatkan kita bahwa Dia sangat mengetahui apa yang telah kita kurbankan dan mengetahui amal-perbuatan baik apa yang telah kita lakukan. Di masa depan juga, Allah Swt Yang Wâsi’ akan menganugerahkan berkat dan karunia-Nya demikian banyaknya karena amal saleh yang akan kalian lakukan untuk meraih keridhaan-Nya sehingga ada di luar perkiraan kalian. Jadi, hal itu semua adalah asas utama yang harus selalu kita ingat.

Selain itu bagaimana Allah Swt menurunkan ihsan-Nya lagi terhadap hamba-hamba-Nya dapat kita saksikan bahwa istighfar kalian, taubat kalian, amal saleh kalian dan pengurbanan kalian bukan hanya membuka sarana pengampunan kalian, melainkan Allah Swt segera menugaskan para malaikat untuk mendampingi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertobat itu serta mendampingi orang-orang yang sedang berusaha keras di atas jalan menuju Allah Swt dan sedang memberi pengurbanan demi meraih keridhaan-Nya. Para malaikat itu memohonkan ampunan bagi mereka. Sebagaimana Allah Swt berfirman di dalam surah Al-Mu’min ayat 8

— Alladzîna yahmilûnal-‘arsya wa man hawlahû yusabbihûna bi-hamdi Robbihim wa yu-minûna biHî wa yastaghfirûna lil-ladzîna âmanû, Robbanâ wasi’ta kulla syay-ir-rohmataw-wa ‘ilman faghfir lil-ladzîna tâbû wat-tabaû sabîliKa wa qihim ‘adzâbal-jahîm —

 

Artinya: Mereka yang memikul ‘arasy dan mereka yang ada di sekitarnya, mereka memuji kesucian Tuhan mereka, dan mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman kata mereka: “Ya Tuhan kami! Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat Engkau dan ilmu Engkau. Maka ampunilah mereka yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab neraka.

Di sini perkataan mereka yang memikul ‘arasy maksudnya adalah para malaikat. Di dalam surah Al-Haqqah ayat 18 dikatakan bahwa pada Hari Qiamat delapan malaikat akan memikul ‘arasy. Jadi pemikul Arasy maksudnya adalah para malaikat atau sifat yang ditugaskan oleh Allah Swt untuk memikulnya. Seperti yang tercantum di dalam surah Al-Fatihah sifat Rabb, Rahman, Rahim dan Maliki Yaumiddin semua sifat-sifat ini sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. Dan semua sifat ini merupakan sifat-sifat dasar Allah Swt. Dan orang-orang yang beriman dan setelah beriman mereka memusatkan perhatian untuk bertaubat dan mereka tunduk di hadapan Allah Swt dan mereka giat beramal saleh, malaikat-malaikat mendo’akan mereka khususnya para malaikat yang ditugaskan oleh Allah Swt untuk menjalankan sifat-sifat Allah Swt itu. Setiap malaikat yang tugasnya untuk menjalankan sifat yang bersangkutan dengan seseorang manusia, dia mendo’akan hamba Tuhan dengan sifat itu. Dia memohonkan ampunan untuk orang-orang itu dari Allah Swt yang setelah beriman dan mereka berusaha dengan sungguh-sunguh untuk mendapatkan kecintaan Allah Swt dan sambil bertaubat dan beramal saleh selalu berusaha untuk meraih qurub atau kedekatan dengan Allah Swt. Dan mereka selalu menyelamatkan diri dari serangan-serangan setan. Demikian juga para malaikat bertugas, di bawah para malaikat itu memohonkan ampunan bagi hamba-hamba-Nya itu sambil memikul sifat-sifat-Nya. Seolah-olah Allah Swt menggerakkan malaikat-malaikat-Nya untuk memberikan ganjaran sebanyak-banyaknya bagi amal saleh hamba-hamba-Nya dan memerintahkan agar para malaikat itu memohonkan ampunan bagi hamba-hamba-Nya itu secara terus-menerus. Di mana hamba-hamba-Nya semakin banyak menerima ganjaran, di sana mereka mendapat taufik dari Allah Swt untuk melakukan amal-amal saleh disebabkan para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka.

Manusia adalah makhluk Allah Swt yang penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Jika kesalahan atau kekeliruan terus dilakukan tanpa disengaja atau jika tergelincir melakukan suatu kejahatan tanpa disengaja, maka malaikat yang ditugaskan itu akan berkata kepada Allah Swt  Yang rahmat-Nya dan kasih sayang-Nya sangat luas dan tidak mengenal batas itu supaya memberikan pengampunan kepada mereka. Dan di masa depan pun sambil mentaati hukum-hukum Engkau mereka akan mengambil bagian dari pangampunan Engkau itu.

Di sini rahmat disebutkan pada permulaan, sesudah itu para malaikat memohon do’a untuk pengampunan dosa. Anugerah pengampunan diterima karena rahmaat dari pada Engkau. Maka dengan meneruskan turunnya rahmat yang sangat luas itu akan selalu membuka pintu  pengampunan Engkau. Ilmu Engkau sungguh sangat luas sekali!! Ilmu apa pun yang terdapat di dalam kalbu manusia, Engkau mengetahui semuanya. Sekarang setelah mereka melakukan amal saleh apa pun yang akan mereka lakukan di masa datang, para malaikat itu berkata: Engkau mengetahuinya pula dan Engkau telah menguasai semuanya. Dan tentu Engkau tahu ke mana pun mereka pergi atau terpeleset ke jalan sesat dan menjadi bahan bakar Jahanam. Akan tetapi mengingat kasih sayang Engkau yang maha luas, kami berdo’a kepada Engkau untuk mengekalkan amal saleh mereka dan supaya mereka selalu menaruh perhatian kepada amal-amal saleh dan terhindar dari Jahanam. Dan jika rahmat Engkau turun kepada mereka, tentu mereka akan selalu mendapat taufik dari Engkau untuk beramal saleh.

Jadi, itulah kemurahan Tuhan Yang Rahman dan Tuhan Yang Ghafûrur-Rahîm Yang untuk menyediakan sarana pengampunan bagi manusia dan untuk menegakkan amal perbuatan salehnya menyediakan setiap jenis sarana dan kemungkinan. Jika terdapat perbuatan dosa hamba-Nya, Dia memberi hukuman tidak melebihi batas perbuatan dosanya itu. Jika manusia berbuat kebaikan, maka Dia memberikan ganjaran sampai sepuluh kali lipat ganda besarnya. Jika hamba-Nya memberi pengurbanan di jalan-Nya, maka Dia memberi pembalasan kepadanya sampai tujuh ratus kali lipat ganda besarnya. Bahkan akan lebih besar lagi dari itu, karena Dia adalah Tuhan Yang Wâsi’, pembalasan-Nya tidak mengenal batas. Akan tetapi manusia begitu tidak bersyukurnya kepada penghargaan Tuhan itu, sehingga mereka meninggalkan Tuhan Yang Rahman dan Rahîm itu, Yang pembalasan-Nya begitu luas tidak mengenal batas, disebabkan terpengaruh oleh tipu daya Setan, mereka bergegas kepada kenikmatan dunia yang sifatnya sementara.

Dan sebagai natijah dari do’a Nabi Musa a.s., Allah Swt telah mengingatkan tentang rahmat-Nya dengan firman-Nya di dalam surah Al-A’raf ayat 157 sebagai berikut:

 

— Waktub lanâ fî hâdzihid-dunyâ hasanataw-wa-fil-âkhiroti innâ hudnâ ilayK(a), qôla’adzâbî –ushîbu bihî man –asyâ-, wa rohmatî wasi’at kulli syay-î-, fasa-aktubuhâ lil-ladzîna yattaqûna wa yu-tûnaz-zakâta wal-ladzîna hum bi-âyâtinâ yu-minûn. —

 

Artinya: Dan tuliskanlah bagi kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat nanti. Sesungguhnya kami telah mendapat petunjuk untuk kembali kepada Engkau. Berfirman Dia: ”Aku akan timpakan azab-Ku kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, Aku akan menuliskannya bagi orang-orang yang bertaqwa dan mereka yang membayar zakat dan kepada mereka yang beriman kepada Tanda-tanda Kami.”

Sebagaimana telah saya jelaskan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda bahwa kisah para nabi yang telah dipaparkan di dalam Kitab Suci Alqur’an merupakan nubuwatan yang bakal terjadi di masa datang. Maka apabila do’a-do’a beliau itu disebutkan di dalam Alqur’an dan menerangkan tentang rahmat Allah Swt di atas mereka, maka rahmat itu sekarang juga telah tersebar seperti tersebarnya di masa lampau. Namun hal itu boleh terjadi, apabila manusia telah memenuhi syarat-syaratnya yang telah dijelaskan oleh Allah Swt. Dan di samping mengingatkan rahmat-Nya yang sangat luas dan tidak terkira batasnya itu sehingga meliputi segala jenis benda, Allah Swt mengingatkan manusia juga kepada maksud dan tujuan hidup mereka di alam dunia ini. Memang benar rahmat-Ku meliputi segala jenis benda, namun telah dipikulkan pula banyak sekali tanggung jawab di dalam kehidupan kalian. Maka penuhilah semua tanggung jawab itu, dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan. Dan di antara tanggung jawab kalian adalah kalian harus berusaha giat untuk menjadi orang bertaqwa, menunaikan ibadah kepada-Ku, menanamkan kecintaan di dalam kalbu kalian terhadap-Ku melebihi kecintaan terhada barang-barang lainnya, memberikan pengurbanan harta untuk menunaikan hak-hak kewajiban terhadap-Ku dan terhadap hamba-hamba-Ku dan kalian harus beriman terhadap Tanda-tanda-Ku.

Sesungguhnya kedatangan utusan-utusan Allah Swt ke dunia juga adalah salah satu dari tanda-tanda Allah Swt juga. Sebab melalui mereka itu, Allah Swt memperlihatkan Tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya kepada dunia. Pada zaman sekarang juga, kita menyaksikan bahwa bersamaan dengan kedatangan Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Asyiq Shadiq Hazrat Rasulullah saw ke dunia, Allah Swt telah memulai untuk mempertunjukkan rangkaian Tanda-tanda-Nya kepada dunia. Misalnya terjadinya gerhana bulan dan matahari dalam bulan suci Ramadhan yang telah disaksikan oleh dunia, kadangkala zahir dalam bentuk gempa-gempa bumi, kadangkala zahir dalam bentuk penyakit ta’un, selain itu kita saksikan berbagai macam penemuan barang-barang baru di zaman ini, tentang mana sebelumnya telah dinubuwatkan sebagai Tanda dari Tuhan yang sekarang sedang mendapat kesempurnaannya. Dan semua Tanda itu diperlihatkan oleh Allah Swt kepada dunia setelah kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Untuk itu manusia di seluruh dunia telah mengakuinya. Banyak terjadi gempa-gempa bumi dan telah tersebar penyakit-penyakit baru, sekalipun di zaman dahulu penyakit-penyakit itu juga pernah timbul namun dunia mengakui bahwa kejadian di zaman lampau tidak keras seperti yang tengah terjadi di masa sekarang ini. Dan apabila seorang Utusan Tuhan telah mengumumkan ‘semua peristiwa itu akan terjadi dan akan terjadi untuk memperkuat kebenaran pendakwaanku’, maka hal itu menjadi Tanda yang khusus bagi dunia. Maka Allah Swt berfirman: “Perhatikanlah Tanda-tanda-Ku itu, percayalah kepadanya dan berimanlah kepada Utusan-Ku, janganlah menolaknya. Maka rahmat-Ku akan turun dengan sangat luas sekali di atas kalian, bahkan rahmat-Ku akan berterusan tersebar di atas kalian.” Dan hal itu pasti akan tampak jelas kepada mereka yang sedang giat melakukan amal-amal saleh. Selain itu Allah Swt adalah Mâlik, siapa yang Dia sukai Dia turunkan rahmat di atasnya, siapa yang Dia sukai Dia turunkan azab di atasnya. Dan siapa yang Dia sukai, Dia anugerahkan pengampunan kepadanya. Akan tetapi kekuasaan Rahmat-Nya itu telah meliputi segala sesuatu, oleh sebab itu semua hamba-Nya harus mengharapkan agar Dia menurunkan pengampunan-Nya, namun mereka pun harus mengamalkan hukum-hukum-Nya juga. Bukanlah pekerjaan seorang mukmin yang benar, jika apa yang telah diwajibkan kepadanya lalu ia meninggalkannya, sebab ia mengira bahwa rahmat Tuhan itu sangat luas dan tidak terkira, tentu Dia akan mengampuninya sekalipun ia berbuat dosa sekehendak hatinya. Perbuatan demikian sungguh perbuatan orang dungu dan bodoh, dan dia tidak memahami sifat-sifat Allah Swt. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan: “Dari ayat itu kita mengetahui bahwa rahmat Tuhan adalah ‘aam dan sangat luas sedangkan sifat adil-Nya timbul dalam situasi yang khusus. Yakni sifat ini setelah melampaui batas undang-undang Tuhan, barulah ia menunjukkan hak-kewajibannya. Memang tidak ragu-ragu lagi bahwa rahmat Tuhan itu sangat luas sekali, akan tetapi kemarahan Tuhan juga berkobar yang tampak di bawah sifat adil-Nya, lalu ia mengeluarkan keputusan dengan keadilan. Sehingga tampak keistimewaan sifat-Nya itu. Dan apabila manusia melanggar undang-undang Tuhan dan perlakuannya telah melampaui batas, maka pada waktu itulah sifat adil-Nya itu akan menunaikan hak dan kewajibannya. Maka Allah Swt Yang menguasai undang-undang kekuasaan-Nya, di bawah undang-undang-Nya itu menjatuhkan hukuman terhadap orang yang melampaui batas itu. Oleh sebab itu, Dia tidak memberi rahmat begitu saja kepada orang-orang yang berdosa, melainkan terhadap orang-orang yang bertakwa, terhadap para pembayar zakat, dan beriman kepada Tanda-tanda Allah Swt, tentang mereka itu semua Dia berfirman: “Rahmat-Ku wajib turun di atas mereka itu semua.” Jadi tugas seorang mukmin adalah berusaha terus-menerus untuk meraih rahmat itu dan harapkanlah rahmat yang sangat luas dari Tuhan Yang Wâsi’. Untuk itu semoga Allah Swt memberi taufik kepada kita semua. Amin!!

Alihbasa langsung dari Audio Urdu oleh Hasan Basri.