Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

02 Oktober 2015 di Masjid Baitul Futuh, UK (Inggris).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ()

Terjemahan ayat-ayat adalah “Dan pasti akan Kami menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kerugian dalam hal harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.’” [Al-Baqarah, 2:156-157]

Ayat-ayat ini menyebutkan kualitas-kualitas mu-min sejati yang mereka tunjukan di saat tertimpa kesulitan, ujian dan kehilangan. Allah Ta’ala menyatakan bahwa seorang mu-min sejati hanya dikenal ketika ia memiliki kualitas-kualitas seperti ini. Ketika ditimpa musibah baik secara perorangan maupun berkelompok, mereka senantiasa berhasil keluar seraya mencari ridha Allah Ta’ala; sungguh mereka hendaknya mencari ridha Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan perkara ini sebagai berikut: “Janganlah menganggap musibah-musibah itu buruk. Seseorang yang menganggap demikian bukanlah seorang mu-min. Allah Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () Ketika berbagai kesulitan demikian menimpa para Rasul, namun kondisi tersebut membawa kabar suka akan turunnya keberkatan-keberkatan kepada mereka. Sebaliknya ketika berbagai kesulitan yang sama menimpa orang-orang jahat, maka kondisi tersebut akan menghancurkan mereka. Pada saat turunnya ujian dan cobaan, bacalah: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan kepada-Nya kami akan kembali’ untuk meraih ridha-Nya.

Kehidupan seorang mu-min terbagi atas dua bagian. Ketika seorang mu-min melakukan suatu hal yang baik, ia akan memperoleh ganjarannya. Namun, ganjaran atas kesabaran adalah tak terhitung dan tak terbatas. Tuhan berfirman bahwa inilah orang-orang yang sabar dan inilah orang-orang yang telah memahami Tuhan. Tuhan membagi kehidupan mereka yang memahami intisari kesabaran menjadi dua bagian. Pertama, ketika ia berdoa, Allah Ta’ala menerima doanya sebagaimana difirmankan: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ‘Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan bagi kamu…’ [Al-Mu-min, 40:61] serta, أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ …Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku…’ [Al-Baqarah, 2:187}

Kedua, ketika Allah Ta’ala tidak menerima doa seorang mu-min karena suatu hikmah dibaliknya dan pada saat tersebut, seorang mu-min sejati senantiasa tunduk terhadap kehendak Ilahi. Dikatakan bahwa Allah Ta’ala memiliki hubungan dengan seorang mu-min seperti layaknya seorang sahabat. Sebagaimana dua orang sahabat, terkadang yang satu mendengarkan sahabatnya dan di lain kesempatan, ia pun terkadang meminta sahabatnya untuk mendengarkannya. Hubungan antara Allah Ta’ala dengan seorang mu-min juga demikian, sebagaimana Dia berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ‘Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan bagi kamu…’ Dan pada di lain kesempatan Dia berkehendak agar orang-orang mu-min sejati mendengarkan-Nya serta berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ ‘Kami menguji kamu dengan sesuatu ketakutan…’ Memahami hal ini merupakan suatu keimanan bahwa hendaknya tidak hanya menekankan pada satu sisi saja.

Seorang mu-min hendaknya tidak merasa sedih tatkala tertimpa musibah, karena ia tidaklah lebih besar daripada seorang Nabi. Sebenarnya pada saat tertimpa kesulitan, maka mulailah terpancar suatu sumber mata air kecintaan. Seorang mu-min tidak melewati suatu cobaan tanpa memperoleh ribuan jenis kelezatan.

Para kekasih Allah Ta’ala memperoleh cobaan bukan karena dosa yang mereka perbuat. Berbagai ujian tersebut menampakan kecakapan para mu-min. Lihatlah, betapa luhurnya akhlak Hadhrat Rasulullah saw yang diperlihatkan di masa-masa sulit dan di masa kejayaan beliau saw. Jika Hadhrat Rasulullah saw tidak melewati berbagai cobaan tersebut, lalu bagaimana kita dapat menjelaskan tentang akhlak yang luhur beliau saw!

Tidak diragukan lagi, berbagai cobaan yang dialami orang mu-min tampak sebagai cobaan bagi orang-orang lain namun para mu-min tidak menganggapnya sebagai cobaan. Penting bagi seseorang untuk tetap teguh pada taubatnya yang hakiki dan menyadari bahwa taubat akan memberikannya kehidupan yang baru. Jika kalian ingin merasakan buah pertaubatan, maka wujudkanlah pertaubatan kalian secara perbuatan. Ketika seorang tukang kebun menanam sebuah tanaman kecil, ia senantiasa mengairinya agar ia dapat tumbuh. Begitu pula, iman merupakan sebuah tanaman kecil yang dipelihara dengan perbuatan. Oleh karena itu, amalan sangat penting bagi keimanan. Jika tidak ada amal, tanaman kecil tersebut akan layu dan mati.[1]

Sebagai seorang mu-min, janganlah kalian menganggap buruk cobaan-cobaan. Seseorang yang menganggap buruk segala cobaan bukanlah seorang mu-min sempurna. Al-Quran menyatakan,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ()

Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dia akan senantiasa menguji kalian dengan kehilangan harta, kehilangan jiwa, anak-anak, buah-buahan dan lain-lain. Dan mereka yang tetap sabar pada waktu itu serta senantiasa bersyukur, hendaklah diberikan kabar suka bahwa bagi mereka terbuka lebar pintu karunia-karunia Allah Ta’ala. Mereka yang mengucapkan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ‘Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali’ yakni, kita dan segala yang kita miliki berasal dari Allah Ta’ala dan pada akhirnya segalanya akan kembali pada-Nya, maka senantiasa akan memperoleh keberkatan-keberkatan Ilahi. Kehilangan apa saja tidak membuat mereka larut dalam kesedihan. Orang-orang seperti ini tunduk pada kehendak Ilahi. Mereka merupakan orang-orang yang sabar dan ganjaran atas kesabarannya tak terbatas dari Allah Ta’ala.”[2]

Beberapa orang menuduh Allah Ta’ala tidak mendengarkan doa-doa mereka atau mereka mengkritik para wali bahwa doa-doa mereka yang ini dan yang itu tidak dikabul. Pada dasarnya, orang-orang ini bodoh dan tidak mengetahui hukum Ilahi. Seseorang yang telah merasakan hal tersebut akan mengetahui secara sempurna berkenaan dengan prinsip Allah Ta’ala telah menyediakan dua aspek yang dengannya Dia mendengar dan juga meminta untuk didengar. Yang disebut keimanan adalah menerima kedua aspek ini. Janganlah menekankan hanya pada satu dari dua aspek tersebut saja, jika tidak, kalian akan bersikap bertentangan dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan dan kalian akan menjadi seseorang yang senantiasa berupaya untuk melanggar hukum-Nya”[3]

“Hanya ada dua sarana bagi kemajuan rohaniah manusia. Pertama, manusia senantiasa memperoleh kemajuan rohani dengan menjalankan kewajiban-kewajiban agama sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Ta’ala seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain jenis tanggungjawab syariat sesuatu perintah Ilahi. Namun, karena menjalankan hal ini terletak pada tangan manusia itu sendiri, terkadang ia malas dan lalai serta mencari-cari kemudahan-kemudahan dari kewajiban-kewajiban tersebut.

Oleh karena itu, cara yang kedua adalah yang langsung turun dari Allah Ta’ala kepada manusia dan yang pada hakikatnya merupakan sumber kemajuan rohani seseorang. Hal ini karena di dalam kewajiban-kewajiban agama, manusia mendapatkan jalan untuk kemudahan dan kelonggaran. Jika seseorang diberikan cambuk lalu diminta untuk mencambuk dirinya sendiri, maka pasti di hatinya tergoda rasa iba dan sayang pada dirinya sendiri. Siapa pula yang ingin menimbulkan rasa sakit bagi dirinya sendiri? Inilah kenapa Allah Ta’ala telah menetapkan suatu cara yang lain untuk kesempurnaan kemajuan rohani manusia serta telah menyatakan, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () Artinya, ‘Kami akan senantiasa terus menguji kalian, terkadang dengan ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Namun, berikanlah kabar suka akan ganjaran yang luar biasa serta keberkatan yang khas dari Allah Ta’ala bagi mereka yang tetap sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rasa lapar ini lalu berkata: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Lihatlah, betapa kerasnya upaya seorang petani untuk mempersiapkan lahan, menyemai benih dan kemudian melewati berbagai macam kesulitan untuk mengairi lahan. Walhasil, setelah menanggung berbagai kesulitan, upaya serta pemeliharaan, namun ketika hasil pertanian itu telah siap terkadang – sesuai hikmah-Nya yang mendalam – turun hujan yang disertai angin kencang atau hasil pertanian menjadi rusak akibat kekeringan. Ini hanyalah contoh kesulitan-kesulitan yang dihadapi karena faktor alam. Ajaran murni yang diberikan kepada umat Islam dalam contoh demikian ini merupakan suatu model dan pelajaran sejati untuk tetap tunduk pada kehendak dan ketetapan Allah Ta’ala. Ajaran ini khusus pada umat Islam saja.[4]

Hendaknya kita senantiasa ingat dan jangan pernah terlintas dalam pikiran mengapa Allah Ta’ala memberikan kita berbagai cobaan yang besar. Dan hendaknya kita tidak terusik oleh olok-olokan para penentang serta pikiran buruk bahwa jika Allah Ta’ala ada bersama kita, lalu kenapa kita menanggung kehilangan.

Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan dalam kutipan tadi agar selalu ingat bahwa bahkan para Nabi, para kekasih-Nya serta Jemaat mereka senantiasa menghadapi berbagai cobaan. Ketika para kekasih-Nya ini melewati berbagai kesulitan, bukanlah berarti mereka sedang menjalani hukuman Allah Ta’ala. Pada hakikatnya, pengalaman-pengalaman ini membawa kabar suka atas banyaknya keberkatan. Tetapi, tatkala berbagai kesulitan demikian menimpa orang-orang jahat, maka hal tersebut justru akan menghancurkan mereka. Selanjutnya, beliau as bersabda bahwa mereka yang bersabar saat musibah akan memperoleh pahala yang tanpa batas dan tak terhitung.

Seorang beriman harus tahu arti sabar. Kesabaran bukan berarti seseorang tidak boleh merasa sedih atas kehilangan yang menimpanya. Hal tersebut berarti seseorang tidak membiarkan perasaan tersebut menguasai dirinya serta menghilangkan akal sehatnya. Tidak masalah bagi seseorang untuk merasa sedih namun hal ini hendaknya diikuti dengan tekad yang baru untuk memperbaiki amalnya lebih dari pada sebelumnya.

Hendaknya diingat pula bahwa hanya mereka yang sabar yang mengetahui hakikat doa. Mereka memahami bahwa terkadang doa dikabulkan dengan cepat dan terkadang pula tidak diterima dengan suatu hikmah di baliknya. Orang-orang mu-min sejati hendaknya senantiasa menyerahkan dirinya pada kehendak Ilahi; inilah kesabaran yang hakiki. Jika begini keadaannya maka akan memperoleh ganjaran dan nikmat dari-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda bahwa hamba-hamba sejati Allah senantiasa merasakan kenikmatan bahkan saat tertimpa musibah karena mereka dapat melihat karunia-karunia Allah Ta’ala yang terus menerus dan tak terbatas. Beliau as menjelaskan bahwa orang-orang mu-min tidak mendapatkan berbagai kesulitan sebagai akibat dari dosanya. Pada hakikatnya masa-masa sulit tersebut merupakan ujian bagi mereka dari Allah Ta’ala sehingga dunia dapat melihat bahwa orang-orang ini senantiasa qana’ah dan bahagia dalam berbagai kondisi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa seorang pribadi yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah Hadhrat Rasulullah saw, namun beliau saw senantiasa menanggung berbagai cobaan dan ujian baik terhadap diri beliau saw sendiri maupun terhadap umat beliau. Ujian dan cobaan yang beliau saw alami begitu parah sehingga tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengalami penderitaan seperti yang beliau saw alami. Namun, beliau tetap bersabar dan rela atas kehendak Allah Ta’ala untuk melewati setiap kesulitan dan teladan beliau saw ini begitu khas dan tidak ada bandingannya di dunia. Inilah akhlak tertinggi dan teladan terbaik bagi seluruh umat Muslim.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa sebagaimana seorang tukang kebun mengairi tanamannya, begitu pula hendaknya orang-orang mu-min memelihara iman mereka dengan amal shaleh sehingga mereka menjadi orang-orang yang berjaya. Beliau as memberikan nasehat untuk tidak merasa gelisah dengan yang apa yang orang-orang katakan karena mereka pun mengkritik para Wali. Mereka tidak mengetahui hukum Ilahi namun orang-orang mu-min mengetahui terkadang Allah Ta’ala mendengarkan dan terkadang pula Dia meminta manusia untuk mendengarkan-Nya. Hendaknya kita tidak melanggar hukum ini.

Ketika kompleks Baitul Futuh terbakar, seorang Ahmadi berkata bahwa seorang temannya yang non-Ahmadi berkata kepadanya, “Jika segala doa orang-orang Ahmadi dikabulkan lalu kenapa kecelakaan tersebut dapat terjadi?” Ahmadi tersebut menjelaskan, “Apakah berbagai cobaan dan ujian tidak menimpa Hadhrat Rasulullah saw? Lalu kenapa pula cobaan dan ujian tidak menimpa orang-orang mu-min!”

Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) as bersabda hendaknya kita tidak melanggar hukum Ilahi. Berbagai masalah menimpa orang-orang mu-min dan kemudian berlalu. Apa yang diperlukan ialah mencari ridha Allah Ta’ala melalui sabar dan doa dan jadilah mereka yang senantiasa mengucapkan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali”, ketika sedang ditimpa musibah artinya kami berasal dari Allah Ta’ala. Dan dengan mengungkapkannya di saat sedang tertimpa berbagai kesulitan menunjukan kita berasal dari Allah Ta’ala dan Dia tidak akan menghancurkan kita.

Ketika kita menghadapi berbagai ujian dan cobaan, mungkin Allah Ta’ala berkehendak untuk mempersiapkan kita lebih dari sebelumnya untuk menerima keberkatan-keberkatan-Nya. Dengan mengucapkan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” berarti kita berpaling kepada Allah Ta’ala dan berharap bahwa tidak ada lagi halangan untuk dapat meraih keberkatan-keberkatan yang luar biasa di masa mendatang.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sabar dan senantiasa menjadikan kita terus meningkatkan amalan kita dan senantiasa berpaling kepada-Nya. Inilah cara untuk meraih kemajuan yang lebih cepat, Insya Allah. Perolok-olokan yang dilontarkan para penentang sedikit pun tidak dapat merugikan kita jika kita memiliki hubungan yang benar dengan Allah Ta’ala.

Banyak kerusakan yang kita alami karena kebakaran yang terjadi kemarin terhadap dua aula tambahan masjid. Ini kebakaran yang hebat. Ketika berbagai media melaporkannya, beberapa orang yang dengki mengungkapkan kebahagiaannya atas peristiwa kebakaran masjid tersebut. Bahkan mereka berkata, “Itu bukanlah masjid. Mereka (para Ahmadi) bukanlah orang Islam. Jadi yang terbakar itu adalah tempat ibadah mereka.” Kemudian, mereka mengungkapkan penyesalan mereka karena yang terbakar hanya 2 aula saja sedangkan masjidnya sendiri tidak terbakar! Demikianlah orang-orang Islam pada hari ini. Tetapi, semuanya tidaklah sama. Umat Islam di beberapa wilayah mengungkapkan rasa simpatik mereka. Umat Islam di suatu tempat mengungkapkan rasa simpatinya seraya menceritakan pengalaman mereka sendiri tentang masjid mereka yang pernah mengalami kerusakan akibat kebakaran. Mereka mengatakan telah membukanya kembali hanya dalam waktu singkat.

Beberapa orang Inggris (non Islam) yang kurang akal juga mengatakan itu hal yang baik jika masjid terbakar. Sentimen anti-Muslim memang tengah tersebar luas. Tapi para tetangga kita dan mereka yang mengenal kita membungkam mulut para non-Muslim dan non-Ahmadi yang menyerang kita seraya berkata bahwa mereka hendaknya malu terhadap diri mereka sendiri karena orang-orang Ahmadi mengikuti ajaran Islam yang sejati.

Berbagai media di seluruh dunia memberitakan berkenaan dengan kebakaran tersebut dengan menyebutkan bahwa masjid terbesar di Eropa Barat sedang terbakar. Berita ini menggiring orang-orang untuk berkomentar, “Siapa mereka itu, Jemaat seperti apa itu” dan dengan demikian, Jemaat pun ditampilkan secara luas. Meskipun kita sedang bersedih namun kita tetap sabar dan mengucapkan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan kepada-Nya kami akan kembali.” Allah Ta’ala membangkitkan orang-orang yang mendukung kita bahkan dalam keadaan sedang mengalami musibah seperti ini. Hal ini mengungkapkan pada dunia bahwa Allah Ta’ala ada bersama kita.

Para polisi belum menjelaskan penyebab kebakaran tersebut namun indikasinya kemungkinan api muncul di gudang yang berdampingan dengan dapur. Di sana terdapat barang-barang serta benda-benda plastik yang menyebabkan api bisa menyala dengan cepat dan menjalar melalui tiang-tiang kayu di atap dan saluran AC. Apapun penyebabnya, hal ini juga menunjukan adanya kesalahan para karyawan dan pengurus masjid. Hendaknya mereka beristighfar sebanyak-banyaknya.

Jika dilihat dari bagaimana cara api ini berkobar, dapat saja terjadi banyak kerusakan. Bahkan pemadam kebakaran pun sedikit menjauhinya. Api yang sebesar ini yang mencapai suhu 100 0C dapat saja menyebabkan lebih banyak kerusakan lagi. Namun pada kenyataannya tidak.

Saya biasa menyebutkan Allah Ta’ala memberikan sarana untuk menciptakan kesan-kesan baik terhadap Jemaat melalui pernyataan orang ghair atau Dia masukkan kesan itu kedalam hati mereka. Selama terjadinya kebakaran, seorang wartawan mulai mewawancarai Sekretaris Isyaat kita di pinggir jalan dan menanyakan bagaimana hubungan kita dengan para tetangga dan bagaimana kesan mereka. Seketika itu, sebuah mobil berhenti dan tampak seorang wanita Inggris keluar lalu berkata, “Saya adalah tetangga Jemaat. Saya datang memberikan pertolongan dan dukungannya.” Begitu pula banyak yang lainnya juga datang, yakni perwakilan gereja dan memberikan komentarnya secara langsung. Mendengar perkataan orang-orang ini, sang wartawan pun berkata bahwa ia telah mendapatkan jawabannya!

Di satu sisi, demikianlah sikap mayoritas orang yang bahkan bukan Muslim. Namun sebaliknya, beberapa umat Islam menyatakan kebahagiaannya dan mengucapkan Subhanallah. Baik, hari ini mereka mengucapkan Subhanallah sebagai ejekan. Boleh saja mereka berbuat demikian untuk menyerukan kemuliaan Allah Ta’ala. Tetapi, Insya Allah, kita akan segera membangunnya kembali dengan yang lebih baik dan lebih indah dan benar-benar menyerukan Subhanallah dan Masya Allah.

Seperti yang telah disebutkan, ini merupakan sunnah Allah Ta’ala bahwa Dia meletakan ujian dan cobaan bagi manusia. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan kebakaran tersebut dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Jika ini merupakan sebuah konspirasi atau kejahatan, perkara ini tidak akan dapat menghalangi kemajuan Jemaat. Namun, sebagaimana yang disebutkan, para pengurus hendaknya melihat kejadian ini sebagai peringatan untuk melihat dan merenungkan kesalahan mereka.

Sebagaimana yang disampaikan pada khotbah Ied, seringkali kerugian serta kebakaran diciptakan untuk menghentikan maksud dan tujuan yang hendak dicapai oleh suatu Jemaat atau seorang Nabi Allah namun hal ini tidaklah berhasil. Jika hal ini disebabkan karena niat buruk, maka kerugiannya relatif kecil dan Allah Ta’ala memberikan kabar suka kepada mereka yang senantiasa bersabar.

Sejak zaman pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as, berbagai konspirasi dan kobaran api telah berlangsung. Tapi dampaknya Jemaat mengalami kemajuan. Salah satu jenis kobaran api tersebut adalah yang jelas-jelas terlihat oleh setiap orang. Jenis api lainnya adalah api kedengkian. Terlihat jelas bahwa aula-aula sebelah masjid kita terbakar namun Allah Ta’ala senantiasa mengganti kerugian kita, Insya Allah. Kesabaran serta doa kita akan menganugerahkan kita ketenangan di bawah naungan Allah Ta’ala. Api tersebut mengobarkan api kedengkian dalam diri banyak kalangan. Dan ketika sedang berbahagia atas peristiwa kebakaran tersebut, mereka pun menyesali, “Kenapa masjidnya pun tidak ikut terbakar! Kenapa kerugian cuma sedikit! Seharusnya kerugiannya sangat besar!” Api yang telah membakar aula-aula kita tersebut juga telah membakar api kedengkian para penentang Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pekerjaan Jemaat Ahmadiyah tidak berhenti bahkan ketika api sedang berkobar. Ini hanyalah kejadian biasa saja. Beberapa karyawan kita sangat gelisah. Suatu hal yang alami jika merasa sedih atas kerugian yang diderita namun hendaknya seseorang tidak membiarkan perasaan itu menguasai dirinya. Sebagian besar MTA beroperasi di sini. Pada hari tersebut, ada jadwal program Live (siaran langsung) Rah-e-Huda. Para kru memutuskan untuk tidak tayang secara Live dan menayangkan program ulangan saja karena mereka tidak memiliki akses ke studio dan tidak tahu kondisi di sana.

Ketika saya mengetahui hal tersebut, saya katakan bahwa program Live hendaknya tetap ditayangkan dari studio Masjid Fazl dan hendaknya tidak ada hal yang dapat menghentikan program ini. Para kru hendaknya tidak memutuskan hal ini sendiri tanpa berkonsultasi dengan saya. Hendaknya mereka langsung meminta nasehat apa yang hendaknya dilakukan terhadap program Live ini. Mereka tidak dapat mengambil keputusan yang tepat berkenaan dengan kondisi tersebut. Jika program Live ini tidak ditayangkan maka akan menjadi pesan bagi dunia dan bagi para Ahmadi lainnya bahwa peristiwa tersebut telah menciptakan kekacauan dalam Jemaat kita. Alhamdulillah, tayangan Live terus mengudara dari studio Masjid Fazl dimana telah di adakan acara tanya-jawab.

Hendaknya kita tidak putus asa ketika mengalami musibah tersebut dan hendaknya tidak pula meninggalkan tugas-tugas kita serta hanya berdiri sebagai penonton seperti halnya orang-orang yang menyaksikan kebakaran tersebut. Setiap orang hendaknya menjalankan tugas-tugas mereka dan membuat rencana alternatif bagi tugas-tugas mereka. Seharusnya adalah demikian dan selebihnya tinggalkan di tangan Allah.

Tn. Mir Mahmud telah meriwayatkan ketika bangunan-bangunan di kota Rabwah pertama kali dimulai setelah pemisahan Pakistan, kondisi keuangan Jemaat sangat lemah. Berbagai bangunan dan masjid perlu dibangun dan sebuah kota harus didirikan di suatu tempat yang betul-betul kosong. Ketika Masjid Mubarak didirikan, atap masjid tersebut dibuat tanpa menggunakan bahan yang layak. Hadhrat Muslih Mau’ud ra datang ke masjid dan bersabda, “Dikatakan pada saya atap ini bisa rubuh, tolong diperiksa dan jika benar adanya, lalu silahkan diperbaiki.”

Sementara kita sedang menghadapi beragam cobaan, kebakaran ini pun merupakan salah satunya. Sungguh, Jemaat menghadapi banyak cobaan setelah terjadinya pemisahan tersebut dan hanya mereka yang mengetahui kondisi keuangan Jemaat pada saat itulah yang akan memahaminya. Ada perbedaan yang luar biasa antara kondisi keuangan pada saat ini dengan apa yang terjadi pada saat itu. Namun kita hendaknya tidak menjadikan kondisi tersebut menghalangi kita.

Jika kejadian kemarin ini juga merupakan sebuah cobaan, maka hendaknya kita berjanji dan kemudian membuktikannya melalui amalan kita bahwa kita akan berpaling kepada Allah Ta’ala dan berdoa serta melewati cobaan ini dengan kesuksesan. Dengan karunia Allah Ta’ala, perbaikannya akan lebih baik daripada sebelumnya. Tidak masalah siapa yang mendatangkan kerugian ini bagi kita, jika ini terjadi karena ketidakmampuan atau kelalaian kita atau merupakan kecelakaan, apapun penyebabnya, Insya Allah, kita harus mendirikan kembali serta mengembalikan bagunan kompleks yang indah tersebut.

Tidak perlu ada candah khusus untuk hal ini, namun para anggota Jemaat sudah mulai mengirimkan bantuannya. Para anak-anak telah mulai mengirimkan celengan mereka yang berisi uang-uang koin. Seorang gadis kecil berumur 7-8 tahun berkata kepada ayahnya bahwa ia biasa bermain di aula yang terbakar tersebut. Kemudian ia ingin menyumbang untuk pembangunan gedung yang terbakar tersebut dan ia pun mengirimkan uangnya. Siapakah yang dapat menimpakan kerugian kepada suatu kaum yang anak-anaknya memiliki tekad demikian?!

Tetangga kita juga memenuhi kewajibannya sebagai tetangga dengan menawarkan bantuan. Tn. Amir mengatakan kepala sebuah sekolah mengirim pesan para siswanya sedang mengumpulkan bantuan untuk pembangunan kembali gedung tersebut. Kebaikan serta akhlak luhur demikian ditampilkan oleh para non-Muslim yang seharusnya ditampilkan oleh umat Muslim. Apakah kita akan menerima bantuan mereka atau tidak namun kita hendaknya menghargai perasaan mereka.

Sebagaimana yang saya sebutkan di awal bahwa api tersebut sangat besar dan beberapa tiang dan rangka besi menjadi patah, namun beberapa kantor selamat dari api itu dan dokumen-dokumen mereka aman seperti kantor Wasiyat dan Qadha serta beberapa kantor lainnya. Kantor MTA lolos dari kobaran api. MTA memiliki peralatan-peralatan yang mahal. Dengan karunia Allah, hari ini mereka telah mulai bekerja di sana. Kantor MTA berdampingan dengan ruangan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran tersebut.

Ketika saya diberitahukan mengenai hal ini, saya merasa khawatir dan langsung berdoa, karena api telah mencapai tempat tersebut artinya juga dapat menyambar masjid. Segala arsip rusak namun 70% nya telah di-back-up. Begitu pula hampir 100% arsip penerjemahan juga telah di-back-up. Beberapa kaset hilang yang menyimpan detail kunjungan-kunjungan namun yang hilang bukanlah yang berisi sejarah-sejarah karena yang berisi peristiwa-peristiwa penting telah diback-up. Ini adalah suatu mukjizat bahwa MTA bisa selamat dari kerusakan karena kebakaran tersebut telah membakar plafon bangunan di sampingnya. Allah Ta’ala memberikan kesempatan bagi pemadam kebakaran untuk mengontrol kebakaran tersebut di tempat itu. Tahir Hall dan Masjid benar-benar selamat dari kebakaran. Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari kehilangan jiwa.

Seseorang sedang bekerja di perpustakaan dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi di luar. Ketika selesai bekerja dan meninggalkan perpustakaan, kepulan asap hitam menyerangnya. Karena merasa khawatir, beliau mencoba lari namun kepulan asap tersebut telah memenuhi tempat tersebut dan beliau tidak dapat melihat apapun. Beliau berusaha bernafas. Dengan kesulitan yang luar biasa, beliau meraba-raba dinding koridor dan mulai berjalan.

Beliau semakin sulit bernafas, kemudian berdoa seperti wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa api pun merupakan khadim bagi para khadim utusan-Nya. Jadi beliau berdoa agar dapat diselamatkan karena beliau pun adalah khadim Hadhrat Masih Mau’ud as. Dua hingga tiga kali beliau merasa akan terjatuh. Namun jika beliau terjatuh beberapa saat saja maka panas api yang begitu luar biasa tersebut akan melahap beliau. Dengan semangat, beliau melewati koridor yang gelap tersebut dan mencapai pintu ketika beliau melihat cahaya. Kemudian, ketika beliau membersihkan mulutnya dengan air, air yang beliau gunakan pun berubah menjadi hitam seperti tinta. Ini merupakan mukjizat yang luar biasa bagi beliau untuk dapat selamat dari peristiwa tersebut; terlambat beberapa saat saja akan dilahap api.

Api kedengkian para pendengki akan meningkat, oleh karena itu hendaknya kita memanjatkan doa-doa dengan khusyuk. Saya (Hadhrat Khalifatul Masih atba) memerintahkan agar membaca doa-doa berikut: رَبِّ كُلُّ شَيْءٍخَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنِيْ وَانْصُرْنِىْ وَارْحَمْنِيْ “Ya Tuhan-ku, segala sesuatu adalah hamba Engkau, ya Tuhan-ku, lindungilah hamba, tolonglah hamba dan kasihanilah hamba.”

اللَّهُمَّ! إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ Ya Allah! Sesungguhnya kami menjadikan Engkau tameng dalam menghadapi musuh-musuh dan kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan perbuatan–perbuatan mereka.”

رَبَّنَا ءَاتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Tuhan kami, anugerahilah segala sesuatu yang baik di dunia ini dan segala yang baik di akhirat dan selamatkanlah kami dari azab Api.”

Jika kejadian ini terjadi karena ketidakmampuan serta kelalaian kita, hendaknya kita banyak-banyak beristighfar. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menjalankan tanggung jawab kita dengan sebaik-baiknya di masa mendatang, semoga Dia menghilangkan kelemahan kita. Dan jika ini merupakan suatu cobaan maka semoga kita dapat melewatinya dengan kesuksesan dan semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kita keberkatan-keberkatan lebih dari pada sebelumnya. Semoga Dia memasukan kita ke dalam golongan orang-orang yang sabar yang senantiasa memperoleh karunia dari-Nya dan semoga kita merasakan kemajuan yang lebih dari pada sebelumnya!

Saya hendak mengimami tiga shalat jenazah ghaib setelah shalat Jumat. Jenazah pertama adalah Tn. Chaudhri Mahmud Ahmad Mubasyir, seorang darwaisy Qadian yang meninggal dunia pada 18 September di usia hampir 97 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Almarhum putra Tn. Choudri Ghulam Muhammad, Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau berasal dari kota Sargoda. Beliau datang ke Qadian pada 1934 untuk belajar di Madrasah Ahmadiyah. Beliau bekerja di ketentaraan pada 1943 dan setelah pensiun beliau mewakafkan diri. Atas perintah Khalifatul Masih II ra, beliau datang ke Qadian dan bekerja di kantor yang berbeda serta mengkhidmati Jemaat di lembaga Anjuman di Syahjahanpur dan mengurusi tanah-tanah Jemaat di Qadian dan mendapat taufik pengkhidmatan yang banyak. Beliau juga qadhi. Beliau berkhidmat di kantor Tabligh dan dakwah, juga ta’lim dan tarbiyat. Biasa membuat syair. Beliau ungkapkan perasaan manusia dalam syair-syairnya. Ceria dan ramah. Pergaulan baiknya luas dengan warga non Ahmadi di Qadian. Sejumlah non Ahmadi mengiringi jenazahnya. Dikaruniai 4 putra dan 3 putri yang tinggal di Qadian dan di Pakistan. Beliau biasa mengkhidmati pengunjung Qadian, baik kenal maupun tidak. Semoga Allah meninggikan derajatnya dan mengaruniai putra/inya melanjutkan kebaikannya.

Jenazah kedua, Tn. Khalid Salim, seorang Ahmadi mukhlis dari Suriah yang meninggal dunia pada 27 Agustus karena serangan jantung. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau lahir pada 1927 dan termasuk Ahmadi awal di Suriah. Beliau masuk Jemaat berkat tabligh tn. Munir Hushni, almarhum. Beliau rajin puasa dan shalat. Bertabiat sederhana, berkata lurus, ramah, tepercaya, taat, saleh dan mukhlis. Pecinta Khilafat. Sangat menghormati Nizham Khilafat dan para Muballigh. Memperlakukan semua orang dengan kecintaan dan kehormatan. Meski jauh dari tempat shalat tapi umumnya paling awal hadir di tempat shalat Jumat. Biasa adzan. Berharapan tinggi meski sudah sepuh. Biasa mengunjungi para Ahmadi lama. Membiasakan diri menyimak khotbah Khalifah dan memberitahukan isinya pada yang lain. Memenuhi janji baiat dengan ikhlas dan setia hingga nafas terakhir. Telah menghadiri jalsah tahunan di Rabwah dan UK.

Para Muballigh dan tiap orang Ahmadi yang mengenal beliau di Suriah mengakui sifat ikhlas beliau yang luar biasa dan sikap baik beliau terhadap Muballigh. Semoga Allah meninggikan derajatnya. Hanya seorang putrinya yang menjadi Ahmadi. Semua anaknya yang lain belum men.jadi Ahmadi. Sayang sekali. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala menganugerahi putra-putrinya agar menerima Ahmadiyah sesuai harapan almarhum yang baik dan sebagai pengabulan atas doanya atas mereka. Kisah baiatnya, suatu kali dulu ia melihat seseorang sedang berdebat dengan seorang Syaikh perihal agama sesuai firman Allah dan Rasul-Nya. Tapi Syaikh itu berkata, “Engkau kafir! Engkau kafir!” Orang yang dicap kafir itu seorang Ahmadi. Almarhum berpikir, “Bagaimana mungkin orang yang berkata-kata sesuai firman Allah dan sabda Rasul-Nya bisa dikatakan kafir berulang-ulang?” Ia terkesan peristiwa itu. Ia menghubungi Ahmadi tersebut dan meminta informasi perihal Ahmadiyah. Ilmunya tentang Jemaat bertambah dan akhirnya berbaiat. Semoga Allah meninggikan derajat almarhum.

Terakhir atau jenazah yang ketiga adalah seorang Ahmadi Suriah, Tn. Mukarram Ahmad ar-Rihal. Ia meninggal dunia akibat terkena pecahan peluru meriam pada konflik Suriah. Semoga Allah meninggikan derajatnya. Hendaknya kita juga mendoakan untuk situasi yang terjadi di Suriah. Semoga Allah Ta’ala memberikan rasa pengertian kepada seluruh umat Muslim. Semoga mereka diberikan taufik untuk menjadi Muslim hakiki yang saling menyayangi dan menerima Imam Zaman; bukan yang saling memerangi satu sama lain.

[1] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as, Vol I, hal 603-604; majalah Al-Badr, 20-03-1903, no.9

[2] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as, Vol I, hal 605

[3] Malfuzhat, jilid 5, h. 198-199, edisi 1985, cetakan Inglistan.

[4] Malfuzhat, jilid 10, h. 413-414, edisi 1985, cetakan Inglistan.