Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 13 November 2015 di Baitul Futuh, London

“Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ، آمين

Setiap Ahmadi yang telah membaca mengenai Hadhrat Maulana Nuruddin ra akan mengetahui kecintaan sejati yang beliau ra miliki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika dapat diberikan suatu teladan kecintaan bagi Hadhrat Masih Mau’ud as yakni suatu kecintaan yang timbul semata-mata karena Allah Ta’ala, maka tidak ada seorang pun yang memiliki kecintaan demikian selain Hadhrat Maulana Nuruddin ra.

Keteladanan beliau ra mencakup ketaatan yang sempurna setelah mengambil baiat, bagaimana beliau ra memenuhi hak-hak baiat serta bagaimana beliau ra memelihara hubungan, kesetiaan dan menunjukan kerendahan hati di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra menegakan suatu standard terbaik berkenaan dengan hal ini di dalam sejarah Ahmadiyah. Walhasil, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan penghormatan kepada beliau ra di dalam syair berbahasa farsi dimana tidak seorangpun pernah diberikan penghormatan seperti ini, yakni: چہ خوش بودے اگر ہر یک زامت نور دیں بودے Ini merupakan penghormatan yang luar biasa bahwa seorang Imam Zaman menjadikan keteladanan Hadhrat Maulana Nuruddin ra sebagai tolak ukur bagi para pengikut beliau as. Syair yang menyebutkan “Betapa bagusnya jika setiap orang di Jemaat ini menjadi Nuruddin” menunjukan bahwa jika setiap orang menjadi seperti beliau ra maka suatu perubahan yang revolusioner dapat diciptakan.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah meriwayatkan beberapa kisah berkenaan dengan Hadhrat Maulana Nuruddin ra yang menggambarkan ikatan kecintaan yang mendalam, kerendahan hati serta kesetiaan yang luar biasa antara sang guru rohani dengan pengikutnya. Suatu kali saat berkunjung ke Qadian, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra bahwa beliau as telah menerima wahyu mengenai diri beliau ra yakni jika beliau ra kembali ke kampung halamannya, beliau ra akan kehilangan kehormatan beliau ra.

Pada saat itu di kampung halamanya, beliau ra sedang membangun rumah yang besar. Rumah tersebut memiliki banyak ruangan yang akan digunakan sebagai tempat untuk memberikan daras Al-Quran serta untuk klinik. Namun beliau ra tidak kembali ke kampung halamannya meskipun hanya untuk melihat kondisi rumahnya lalu berkata bahwa beliau ra telah meninggalkannya demi Allah Ta’ala dan tidak perlu lagi untuk melihatnya.

Pada saat itu, beberapa orang merasa bangga dengan intelektual mereka dan cenderung kepada urusan duniawi. Umumnya pendapat Hadhrat Maulana Nuruddin ra dan Hadhrat Musliah Mau’ud ra akan selalu sama sedangkan orang-orang yang merasa dirinya penting di dalam Jemaat ini memiliki pendapat yang berbeda. Suatu kali sedang didiskusikan mengenai masa depan Ta’limul Islam School. Beberapa orang ingin agar sekolah tersebut ditutup karena merasa bahwa Jemaat tidak sanggup menjalankan 2 sekolah. Mereka ingin mempertahankannya sebagai Madrasah Bahasa Arab saja. Hadhrat Muslih Mau’ud ra, yang masih kecil pada saat itu, sangat menentang pendapat ini dan Hadhrat Maulana Nuruddin pun memiliki pandangan serupa. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau ra sangat bergairah mengenai hal ini. Disebabkan oleh tingginya rasa hormat Hadhrat Maulana Nuruddin ra terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, maka beliau ra tidak ingin untuk menyampaikan perkara ini di hadapan beliau as. Beliau ra biasa meminta Hadhrat Muslih Mau’ud as yang masih kecil pada saat itu untuk menyampaikan pesan beliau ra kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada akhirnya, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan keputusan yang mendukung pendapat satu setengah orang ini (Satu adalah Hadhrat Nuruddin ra sedangkan setengah adalah Hadhrat Muslih Mau’ud as. Beliau ra dihitung setengah karena masih kecil pada saat itu).

Orang-orang yang mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as ketika beliau as menyampaikan pendakwaannya adalah mereka yang dari awal mengkhidmati beliau as dengan cara yang luar biasa. Salah seorang dari mereka adalah Hadhrat Maulana Nuruddin ra. Beliau ra sudah mulai membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as sebelum beliau as mendakwakan diri. Ketika mendakwakan diri sebagai Al-Masih, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis buku Fatah Islam dan Tauzeeh Maram. Saat buku-buku ini masih sedang dalam proses penerbitan, seseorang yang berpikiran buruk melihat beberapa bukti dan menginginkan agar Hadhrat Maulana Nuruddin, yang telah mengambil baiat pada saat itu, menjadi berbalik menentang beliau as. Ia merasa bahwa dengan membaca masalah kenabian di dalam buku-buku ini, Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin pasti akan meninggalkan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ia membawa beberapa orang bersamanya untuk bertemu dengan Hadhrat Maulana Nuruddin lalu bertanya apa pendapat beliau ra jika mendengar ada seseorang yang telah mendakwakan diri bahwa ia telah diutus sebagai seorang nabi di zaman ini dan nabi ini datang setelah kewafatan Hadhrat Rasulullah saw. Hadhrat Maulana Nuruddin ra menjawab bahwa hal tersebut tergantung pada orang yang mendakwakan diri itu. Jika ia bukan orang yang jujur, maka ia akan dianggap sebagai pendusta. Namun jika ia merupakan seorang yang jujur maka beliau ra akan menganggap diri beliau lah yang salah karena seorang nabi masih bisa datang. Orang tersebut lalu berkata bahwa Hadhrat Maulana Nuruddin ra ini telah tersesat. Akan tetapi beliau ra bersabda bahwa tidak diragukan lagi bahwa apa yang telah Mirza Sahib tulis adalah benar dan beliau ra beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Seorang saudari Hadhrat Maulana Nuruddin ra dulunya merupakan murid dari seorang Pir. Namun ketika berkunjung ke Qadian, ia mengambil baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Sepulangnya dari Qadian, Pir tersebut bertanya mengenai baiatnya lalu berkata bahwa Nuruddin telah menyihirnya. Ketika hal ini diceritakan kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra, beliau ra memberikan nasehat bahwa jika saudarinya bertemu dengan Pir tersebut, katakanlah “Engkau bertanggung jawab terhadap apa yang engkau lakukan dan saya akan bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan dan saya telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as agar terhindar dari azab di kiamat nanti”. Mendengar hal ini, Pir tersebut menjawab “Jangan khawatir. Pada hari kiamat, saya akan menanggung segala dosa engkau dan engkau bisa masuk surga”. Saudari tersebut bertanya “Bagaimana engkau bisa melakukannya?” Pir tersebut menjawab “Saya akan melototi para malaikat lalu berkata apakah pengorbanan para nenek moyang kami yakni Imam Hasan dan Husain tidak cukup sehingga sekarang kami harus merasa takut?”

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as berkata kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra bahwa satu cara untuk memperbesar Jemaat kita adalah dengan memiliki banyak anak dan demi tujuan ini perlu untuk melaksanakan pernikahan lebih dari sekali. Hadhrat Maulana Nuruddin ra dengan sangat rendah hati berkata bahwa beliau ra siap untuk mentaati perintah tersebut namun siapa yang mau menikahkan putrinya dengan beliau ra pada usia beliau ra saat ini. Hadhrat Masih Mau’ud as pun tersenyum mendengar hal tersebut.

Meskipun beberapa putra Hadhrat Maulana Nuruddin ra memiliki pendirian yang salah berkenaan dengan Khilafat dan Jemaat, namun karena kecintaan beliau ra yang luar biasa terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau ra senantiasa didoakan oleh mereka semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat beliau ra karena beliau ra telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as ketika seluruh dunia sedang menentangnya.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mengusulkan pernikahan bagi Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan bagi saudaranya yaitu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad ra, beliau as pertama-tama akan bertanya berapa banyak anak yang dimiliki keluarga tersebut dan berapa banyak saudara yang sang ayah miliki. Ketika akan menikahkan Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, beliau as pun menanyakan pertanyaan yang sama. Ketika dikatakan bahwa mereka memiliki 7 anak, maka hal ini menjadi sangat dipertimbangkan oleh beliau as lalu bersabda bahwa hendaknya pernikahan dilaksanakan.

Hadhrat Khalifatul Masih menambahkan bahwa pada hari-hari ini, di berbagai tempat diberikan penekanan yang besar terhadap “Keluarga Berencana”. Beberapa negara sekarang menyadari bahwa pemahaman seperti ini adalah salah. Tentu berbagai masalah senantiasa muncul ketika seseorang berusaha melawan hukum alam. Banyak pasangan di China diberi denda karena melanggar hukum yang membatasi mereka untuk hanya memiliki satu anak. Hal ini menyebabkan terjadinya banyak aborsi dan tentunya juga pembunuhan bayi. China sekarang telah menghapus pembatasan tersebut. Juga telah disadari bahwa dimanapun terdapat pembatasan seperti itu maka akan timbul masalah kurangnya tenaga kerja manusia.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa di masa awal, banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan di Qadian seperti memasak, memperoleh bahan pangan dan lain-lain. Semua pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh keluarga Hadhrat Masih Mau’ud as saja. Biasanya orang-orang yang lain akan datang membantu. Contohnya ketika bahan bakar datang. Bahan bakar tersebut harus disimpan. Oleh karena itu, seorang pembantu wanita yang membawa bahan bakar tersebut biasanya akan memanggil seseorang yang ada di sana untuk membantunya menyimpan bahan bakar tersebut. Lalu beberapa orang akan mendatanginya dan melakukan pekerjaan tersebut.

Suatu kali ketika bahan bakar tersebut sampai, pembantu wanita tersebut berteriak memanggil namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Sesaat kemudian, Hadhrat Maulana Nuruddin ra pulang setelah memberikan daras Al-Quran. Beliau ra merupakan seseorang yang memiliki kedudukan yang luar biasa di dalam Jemaat karena pengetahuan serta keahlian beliau ra sebagai tabib. Wanita tersebut menyeru bahwa “Sebentar lagi akan turun hujan, tolong seseorang bisa datang membantu untuk memindahkan bahan bakar ini”. Hadhrat Maulana Nuruddin ra melihat hal ini dan berkata “Baiklah, hari ini saya akan menjadi seseorang yang akan melakukan pekerjaan ini”. Beliau merupakan seorang guru. Melihat sang guru melakukan pekerjaan tersebut, banyak para murid beliau ra datang ikut membantu. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau ra melihat Hadhrat Maulana Nuruddin ra memberikan bantuan dengan cara seperti ini 2-3 kali.

Ini merupakan kebiasaan Hadhrat Maulana Nuruddin ra bahwa ketika merasa sangat senang dan disebabkan oleh rasa cinta yang begitu besar terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau ra akan menyebut Hadhrat Masih Mau’ud as dengan panggilan “Mirza kita”. Beliau ra mengenal Hadhrat Masih Mau’ud as jauh sebelum pendakwaan beliau as dan sudah biasa menggunakan istilah yang akrab ini sejak masa-masa awal. Beberapa orang mengkritik bahwa naudzubillah Hadhrat Maulana Nuruddin tidak memberikan rasa hormat yang selayaknya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Maulana Nuruddin ra mejawab “Beberapa orang mengkritik bahwa saya tidak menghormati Hadhrat Masih Mau’ud as padahal saya menggunakan istilah ini kepada beliau as karena besarnya kecintaan saya kepada beliau as.”

Ketulusan Hadhrat Maulana Nuruddin ra sudah jelas bagi semua orang. Namun demikian, beliau ra tidak bisa berjalan dengan sangat cepat seperti Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika pergi jalan keluar, Hadhrat Masih Mau’ud as akan berjalan dengan sangat cepat sedangkan Hadhrat Maulana Nuruddin ra akan berhenti dan duduk di bawah pohon setelah berusaha untuk mengikuti beliau as. Beliau ra akan menunggu di sana dan kembali pulang bersama. Ketika mengetahui hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as mengubah cara beliau as. Hadhrat Maulana Nuruddin ra tetap mengikuti beliau as beberapa saat. Namun ketika Hadhrat Masih Mau’ud as berjalan semakin kencang dan Hadhrat Maulana Nuruddin ra tertinggal di belakang, lalu Hadhrat Masih Mau’ud as akan berhenti dan berbalik seraya bertanya kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra. Dengan demikian beliau ra akan berjalan cepat menghampiri beliau as untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hadhrat Maulana Nuruddin ra akan berjalan semakin lambat setiap 30-40 yard (27-37 meter) dan Hadhrat Masih Mau’ud as lalu akan bertanya lagi kepada beliau ra. Dengan cara seperti ini beliau ra akan berjalan dengan cepat untuk menghampiri Hadhrat Masih Mau’ud as. Alasan dibalik hal ini adalah tentu Hadhrat Masih Mau’ud as ingin mendorong Hadhrat Maulana Nuruddin ra untuk membentuk kebiasaan berjalan dengan cepat.

Profesi beliau ra sebagai tabib membuat hari-hari beliau ra banyak di klinik dan beliau ra pun memiliki kendaraan untuk mengunjungi para pasien beliau ra. Memang, ketulusan beliau ra tidak perlu dipertanyakan dan Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan penghormatan kepada beliau melalui syair: چہ خوش بودے اگر ہر یک زامت نور دیں بودے Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as berada di Delhi ketika Mir Nasir Nawab Sahib sedang jatuh sakit keras. Dokter mengusulkan agar dilakukan operasi sementara beberapa orang yang lain menyarankan menggunakan obat Unani (Perso-Arabic). Hadhrat Masih Mau’ud as mengirimkan telegram ke Hadhrat Maulana Nuruddin ra agar segera datang ke Delhi dalam kondisi apapun. Hadhrat Maulana Nuruddin ra sedang berada di klinik pada saat itu dan bahkan tidak mengenakan jas. Beliau ra membawa seorang sahabat dan segera berangkat. Ketika sahabat tersebut mengusulkan untuk pulang terlebih dahulu dan mengambil uang, Hadhrat Maulana Nuruddin ra menjawab tidak. Perintah beliau as adalah agar segera datang dalam kondisi apapun. Mereka berjalan ke kota Batala sejauh 11 mile (18 km) dan sampai di stasiun kereta api. Sahabat tersebut bertanya bagaimana mereka akan membayar ongkosnya. Hadhrat Maulana Nuruddin ra menjawab “Mari duduk di sini, Allah Ta’ala akan mengaturnya”. Sementara itu, seseorang datang menghampiri mereka dan bertanya apakah beliau adalah Hakim Nuruddin. Ketika beliau membenarkannya, orang tersebut kemudian berkata bahwa masih ada waktu sebelum kereta tersebut berangkat dan ia juga telah meminta kepala stasiun agar menunggu mereka. Ia berkata bahwa istrinya sedang sakit. Apakah beliau ra mau melihatnya dan mengobatinya? Hadhrat Maulana Nuruddin pergi melihat pasien tersebut, menulis resep dan kembali ke stasiun. Sebagai bentuk terima kasih, ia kemudian membelikan tiket dan memberikan uang 50 Rupee. Dengan demikian Hadhrat Maulana Nuruddin ra bisa sampai ke Delhi dan merawat Mir Nasir Sahib.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa ini merupakan suatu teladan tawakal kepada Allah Ta’ala yang luar biasa. Bagaimanapun juga terkadang seseorang juga dihadapkan dengan berbagai ujian. Terkadang ia harus menanggung kelaparan dan bahkan kekurangan pakaian atau berada di ambang kematian sehingga orang-orang dapat mengetahui bahwa para hamba Allah Ta’ala secara sempurna bergantung kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya.

Hadhrat Maulana Nuruddin ra sungguh memiliki kedudukan yang luar biasa dan Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakannya di dalam syair bahasa Farsi beliau ra: چہ خوش بودے اگر ہر یک زامت نور دیں بودے Namun demikian, hendaknya menghindari untuk memberikan pernyataan yang terlalu berlebih-lebihan dan hiperbola. Beberapa anak Hadhrat Maulana Nuruddin ra berusaha untuk melebih-lebihkan derajat beliau ra seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang menentang Khilafat dan memiliki kepentingan pribadi. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa hendaknya seseorang senantiasa mengatakan hal yang benar. Hadhrat Masih Mau’ud as meninggikan derajat Hadhrat Maulana Nuruddin ra dan begitu juga Hadhrat Rasulullah saw sangat memuji Hadhrat Abu Bakar ra. Bagaimanapun juga, Al-Quran tidak diturunkan untuk menegakan kehormatan Hadhrat Abu Bakar ra dan juga tidak ada dimanapun disebutkan pada wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai ditegakannya kehormatan Hadhrat Maulana Nuruddin ra. Memang, apa yang disampaikan adalah faktual dan benar. Merupakan suatu bentuk rasa tidak terima kasih jika tidak menyebutkan pengorbanan seseorang. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau ra ingat suatu kali seseorang berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa pengobatan Hadhrat Maulana Nuruddin ra sangat bermanfaat baginya. Mendengar hal tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud as yang tidak sedang dalam kondisi yang baik pada hari itu bangkit dan berkata kepada Hadhrat Amman Jaan ra bahwa Allah Ta’ala telah memberikan ilham kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra untuk datang ke Qadian dan begitu banyak orang yang memperoleh manfaat dari beliau ra. Keberadaan beliau ra merupakan suatu ihsan yang luar biasa dari Allah Ta’ala.

Suatu kali seorang sahabat mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian dan ia pun pergi ke Masjid Mubarak. Ia pun meletakan sepatunya di dekat pintu mesjid. Kemudian seseorang dengan pakaian sederhana datang dan duduk di dekat sepatu tersebut. Sahabat itu mengira orang tersebut adalah seorang pencuri yang biasa mencuri sepatu. Oleh sebab itu, ia pun mengawasi orang tersebut. Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, sahabat tersebut mendengar bahwa seseorang telah menjadi Khalifatul Masih dan ia pun mengambil baiat. Ketika ia menjulurkan tangannya untuk mengambil baiat, ia melihat sosok yang sama dengan orang yang ia kira pencuri sepatu yakni Hadhrat Khalifatul Masih I ra. Sahabat tersebut menjadi malu.

Sungguh ini merupakan kebiasaan Hadhrat Maulana Nuruddin ra untuk duduk di dekat tempat sepatu dan hanya akan maju ke depan jika Hadhrat Masih Mau’ud as memanggil beliau ra. Beliau ra meraih derajat yang tinggi dari sikap kerendahan hati demikian. Demikianlah kerendahan hati seseorang yang unggul dalam pengetahuan agama, yang berasal dari kalangan tabib paling terkenal di India dan yang memperoleh penghormatan dari Hadhrat Masih Mau’ud as dan hal ini hanya meningkatkan kualitas kerendahan hati beliau ra. Semoga Allah Ta’ala terus meningkatkan derajat beliau ra dan memberikan pemahaman kepada mereka yang menciptakan kekacauan atas nama beliau ra dan semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita agar dapat menarik berbagai pelajaran dari teladan beliau ra sesuai dengan harapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pada hari ini, Jalsah Salanah Mauritius dimulai. Mereka sedang mengadakan perayaan seabad. Semoga Jalsah mereka memperoleh keberkatan dalam segala hal dan semoga perjalanan seratus tahun yang lalu dapat memberikan kemajuan yang baru. Semoga Jemaat di sana menciptakan beragam rencana-rencana baru! Ada beberapa pembuat masalah di Mauritius. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka dan semoga Allah Ta’ala menurunkan keberkatan-Nya di dalam Jalsah ini dan dalam segala programnya.