Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 20 November 2015 di Baitul Ahad, Nagoya, Jepang

“Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ، آمين

“Orang-orang yang, jika Kami teguhkan mereka di bumi, mereka mendirikan shalat dan membayar zakat dan menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan. Dan kepada Allah kembali segala urusan”. [Al-Hajj, 22:42]

Alhamdulillah, pada hari ini Jemaat Ahmadiyah Jepang diberikan taufik untuk meresmikan masjid pertamanya. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan-Nya kepada masjid ini dalam segala hal dan semoga mereka yang datang ke masjid ini dapat memenuhi tujuan didirikannya masjid ini. Sungguh, beberapa masjid juga didirikan oleh non-Ahmadi dengan menghabiskan dana hingga ratusan juta dolar. Ini merupakan masjid Ahmadiyah pertama di Jepang tetapi bukan masjid pertama di negara ini karena di sini terdapat sekitar seratus masjid.

Hanya dengan mendirikan masjid saja bukan berarti kita telah memenuhi tujuan kita di Jepang. Masjid kita dianggap sebagai masjid terbesar di Jepang dari segi kapasitasnya. Ini juga bukan hal yang sangat penting dan janganlah hal ini membuat kita berfikir bahwa kita telah mencapai tujuan utama kita. Tujuan kita baru akan terpenuhi jika kita senantiasa berupaya untuk meraih tujuan kita setelah mengambil baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yakni menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala, memenuhi huququllah dan huququl ibad, mengangkat standard amalan kita ke tingkat yang tinggi dan menyampaikan keindahan ajaran Islam ke setiap orang di negara ini.

Dahulu, ketika Jepang memiliki kebebasan beragama dan orang-orangnya cenderung kepada agama, mereka pun juga tertarik kepada Islam. Ketika hal ini disampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau as mengungkapkan keinginan yang besar untuk menyampaikan pesan Islam sejati ke bangsa Jepang. Beliau as menjelaskan lebih dari seabad yang lalu, bahwa jika orang-orang Jepang cenderung kepada Islam, maka sampaikanlah kepada mereka pesan Islam yang sejati. Beliau as bertanya kenapa pula mereka harus berpaling kepada agama yang telah mati. Seraya menjelaskan, beliau as bersabda bahwa bagaimana mereka yang tidak memiliki ruh Islam di dalam dirinya ini yakni mereka yang telah menutup pintu wahyu dan telah menjadikan agamanya mati, dapat memberikan manfaat kepada bangsa Jepang?

Dengan penuh rintihan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa umat Islam yang lain tidak hanya bersikap zalim terhadap diri mereka sendiri dengan mengikuti keyakinan seperti itu, namun mereka juga membuat orang-orang lain jauh dari Islam dengan menampilkan keyakinan yang keliru.

Beliau as bersabda bahwa apa yang perlu dilakukan ialah hendaknya Jemaat ini mempersiapkan orang-orang yang kompeten dan memiliki ghairat untuk tujuan ini. Beliau as juga mengungkapkan keinginan untuk menulis buku untuk pertablighan kepada orang-orang Jepang. Sebagai pengikut Hadhrat Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud as datang untuk menyebarkan beliau saw di dunia termasuk Jepang dan Oceania serta di berbagai belahan dunia lainnya.

Ini merupakan karunia Allah Ta’ala bahwa para Ahmadi telah hijrah ke Jepang dan juga merupakan karunia-Nya bahwa beberapa orang sukses menjalankan bisnis mereka di sana. Hampir semua Ahmadi di Jepang adalah mereka yang telah memperoleh kemajuan ekonomi setelah hijrah dari Pakistan. Banyak diantara mereka merupakan para Ahmadi keturunan yang para leluhur mereka telah menerima Ahmadiyah dan ada di antara para leluhur mereka ini yang memiliki keinginan untuk hijrah ke Jepang setelah mendengar keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun demikian keinginan mereka tidak terpenuhi. Oleh karena itu, para Ahmadi yang sekarang berada di Jepang dan telah diberikan kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk berada di sana hendaknya menyebarkan pesan Islam ini. Apakah mereka yang hijrah ke sini hanya untuk alasan ekonomi saja?

Hadhrat Masih Mau’ud as merasa sedih bahwa umat Islam telah menjadikan agama ini mati dengan menganggap pintu wahyu telah tertutup. Dengan demikian, pesan Islam apa yang dapat mereka sampaikan kepada bangsa Jepang karena bangsa Jepang ini tidak membutuhkan suatu agama yang mati. Sekarang para Ahmadi yang tinggal di Jepang dapat membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang hidup. Jika pintu wahyu itu tertutup lalu apa perbedaan antara Islam dengan agama lainnya? Untuk membuktikan keunggulan Islam adalah dengan mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan Islam masih berbicara kepada mereka yang Dia sukai. Kemajuan ekonomi hendaknya bukan menjadi satu-satunya tujuan untuk datang ke Jepang, namun hendaknya setiap orang menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala. Islam tidak memerlukan paksaan atau kekuatan untuk menyebarkan pesannya. Pesan ini merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan mutlak kepada Allah Ta’ala, yang memiliki standard ibadah yang tinggi kepada Allah Ta’ala, yang lebih menyukai berjihad terhadap dirinya sendiri untuk menjadikan dirinya lebih baik bukan melakukan pembunuhan dan penganiayaan.

Ini merupakan tragedi yang luar biasa dalam umat Islam yang di satu sisi mereka menolak Allah Ta’ala masih dapat menurunkan wahyu sedangkan di sisi lain mereka berusaha untuk menyebarkan Islam melalui paksaan dan penganiayaan serta dengan membunuh orang-orang tak bersalah. Serangan yang terjadi di Paris baru-baru ini sangat biadab. Tidaklah mereka ini meraih karunia Allah Ta’ala melainkan menanti azab-Nya. Dalam hal ini, terdapat tanggung jawab yang luar biasa di pundak para Ahmadi untuk meningkatkan kualitas ibadah mereka kepada Allah Ta’ala serta untuk menyebarkan pesan ajaran Islam. Tanggung jawab mereka adalah untuk memenuhi hak-hak masjid yang baru, untuk meramaikannya dan mendirikan shalat lima waktu di dalamnya, untuk memenuhi huququllah, untuk mengintrospeksi amal perbuatannya serta untuk memperluas wilayah pertablighan. Sungguh, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa jika kalian untuk memperkenalkan Islam di zaman ini, maka dirikanlah masjid di sana. Dengan demikian kesempatan untuk tabligh dan memperkenalkan Islam akan terbuka.

Keberadaan masjid di Jepang ini memberikan tanggung jawab bagi para Ahmadi yang tinggal di sana berkenaan dengan standard ibadah kepada Allah Ta’ala dan pertablighan mereka. Media telah menayangkan sedikit liputan acara pembukaan masjid tersebut sebagai gambaran Islam yang damai. Sekarang peran para Ahmadi di Jepang adalah untuk memanfaatkan momen perkenalan tersebut. Tentu bangunan masjid kita bukanlah sesuatu yang baru di Jepang. Ada sekitar 100 masjid di negara ini. Makna keberadaan masjid kita tidak sama dengan Muslim lainnya yakni untuk memberikan gambaran hakiki tentang Islam yaitu suatu gambaran yang diberikan oleh Hadhrat Rasulullah saw dan untuk itu, telah diutus seorang pecinta sejati beliau saw yakni Hadhrat Masih Mau’ud as di zaman ini.

Ini juga merupakan tanggung jawab para Ahmadi untuk menampilkan gambaran seperti ini. Namun untuk memenuhi tanggung jawab tersebut tidak hanya cukup dengan akidah saja bahkan juga perlu standard amalan yang baik dan juga semangat persaudaraan. Ke arah mana junjungan kita saw serta pecinta sejati beliau as mengarahkan pandangannya, maka ke arah itu pula lah hendaknya kita memandang. Kita dapat menemukan ulasan ini di dalam Al-Quran.

Tidaklah cukup hanya dengan mengatakan “Alhamdulillah, kita telah menerima Imam Zaman”. Pada zaman ini, perkara yang terdapat pada ayat yang dibacakan di awal khotbah tadi hanyalah tertuju kepada orang-orang Ahmadi saja yakni yang telah menerima Imam Zaman dan yang di tengah-tengah mereka telah berdiri Nizam Khilafat untuk penegakan agama. Dan Allah Ta’ala telah menetapkan beberapa dasar bagi mereka yang memiliki hubungan dengan sistem Khilafat. Pertama perhatian kita ditarik ke arah penegakan shalat. Jika kurang memperhatikan hal ini, maka adalah tidak benar menyatakan diri sebagai Muslim sejati lalu berkata bahwa kita akan menciptakan perubahan yang revolusioner di dunia dan kita telah menerima pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Masih Mau’ud as. Hal ini karena tujuan utama kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah untuk menghubungkan manusia dengan Allah Ta’ala dan yang kedua adalah untuk menghubungkan manusia dengan sesamanya.

Ayat yang disebutkan di atas menyatakan bahwa mereka yang takut kepada Allah Ta’ala senantiasa memenuhi hak-hak beribadah kepada Allah Ta’ala dan juga membelanjakan hartanya untuk kebaikan bagi orang lain. Mereka tidak hanya menjalankannya seumur hidup mereka namun juga meninggalkan suatu model bagi orang lain supaya dapat diikuti yakni suatu teladan bagaimana cara meraih tujuan sejati kehidupan ini dan bagaimana untuk melindungi diri dari Syaitan. Jika kita menerima seseorang yang diutus Allah Ta’ala di zaman ini, kita harus menganggap hal ini sebagai karunia Allah Ta’ala karena di sisi lain, kondisi Muslim yang lain sedang terpecah belah.

Kita telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan setelah beliau as, telah berdiri kokoh suatu Khilafat yang melaluinya kita bergerak di bawah isyarat satu tangan. Agar menjadi suatu Khilafat yang berdiri kokoh tidak hanya diraih melalui kekuasaan dan kekuatan, namun juga diraih melalui kedamaian batin. Insya Allah, saat itu akan segera tiba ketika banyak pemerintahan juga akan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Dunia sekarang memandang ke arah kita untuk menyampaikan ajaran Islam yang sejati. Ini juga merupakan sebuah kehormatan yang Allah Ta’ala tanamkan di dalam hati mereka.

Allah Ta’ala berfirman bahwa untuk menjadi penerima karunia ini, hendaknya kalian tetap teguh pada kebaikan lalu sebarkanlah dan hindarkanlah keburukan dan juga selamatkanlah orang lain dari keburukan itu. Dengan demikian, amalan ini akan memberikan kemajuan bagi kalian.

Setiap Ahmadi hendaknya memberikan perhatian agar tetap fokus untuk memperbaiki amal perbuatan mereka dan hal ini akan terus menjadi sarana bagi Jemaat kita agar tetap berdiri kokoh dan dihormati. Dengan demikian, berbagai pemerintahan juga akan datang di bawah naungan kita serta menjadi pengikut Hadhrat Rasulullah saw. Ini sungguh merupakan sebuah kabar suka bagi umat Islam sejati yang bukanlah para penindas melainkan orang-orang yang bersikap adil, yang bukanlah orang-orang yang melupakan Tuhan melainkan senantiasa beribadah kepada-Nya, dan juga bukanlah orang-orang yang merampas kekuasaan orang lain melainkan senantiasa memenuhi hak-hak orang lain. Mereka tidak bersikap egois melainkan merupakan orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri serta memiliki hubungan yang tulus dengan Khilafat Ahmadiyah. Mereka tidak hanya mengulang-ulang janji mereka pada berbagai kesempatan Ijtima saja melainkan senantiasa menyebarkan nilai-nilai kebaikan serta menghentikan keburukan dan sebelum melakukan hal itu semua, mereka senantiasa mengintrospeksi diri mereka sendiri. Segala aspek ini menjadikan mereka semakin dekat dengan Allah Ta’ala serta menjadi sarana bagi mereka untuk memenuhi hak-hak manusia serta menjadikan mereka para Muslim Ahmadi sejati seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud as harapkan.

Ada beberapa orang di dalam Jemaat ini yang mengatakan bahwa mereka akan mengorbankan segalanya demi Khilafat Ahmadiyah namun ketika diminta untuk menyudahi perselisihan yang ada di antara kita, maka mereka senantiasa mencari berbagai alasan. Jika kalian ingin menjadi Muslim sejati, maka jadilah mereka yang memberikan kedamaian dan rasa aman. Memiliki hubungan dengan masjid yang baru di Jepang hendaknya bukan berarti berhubungan dengan bangunan jasmaninya saja melainkan jalinlah hubungan dengan seseorang yang telah Allah Ta’ala utus untuk menghubungkan manusia dengan Allah Ta’ala serta membawa manusia condong kepada sebuah sistem yang meminta adanya pengorbanan dengan cara meninggalkan segala perselisihan, keinginan pribadi dan egoisme. Dan pengorbanan semacam ini tidak hanya memberikan pengorbanan harta saja tetapi juga mengorbankan rasa keakuan. Mengajak untuk berbuat kebaikan hendaknya tidak hanya ditujukan kepada orang lain saja namun juga kepada diri sendiri dan sebelum melarang orang lain untuk berbuat keburukan, hendaknya pertama-tama lakukanlah introspeksi terhadap diri sendiri.

Sebagian besar para Ahmadi di Jepang berasal dari Pakistan tempat mereka menghadapi penganiayaan karena beribadah kepada Allah Ta’ala, di sana mereka menghadapi penganiayaan karena menyebut masjid mereka sebagai sebuah masjid, di sana mengucapkan salam pun berakhir dengan 3 tahun di dalam penjara. Beberapa Ahmadi di Jepang telah mencari suaka dan hendaknya mereka merenungkan betapa banyak keberkatan yang telah Allah Ta’ala turunkan kepada mereka. Tidak ada penganiayaan di Jepang karena beribadah kepada Allah Ta’ala, tidak ada hukuman karena menyebut tempat ibadah mereka sebagai masjid dan alih-alih dipenjara, mengucapkan salam di sini begitu dihargai. Apakah hal ini tidak meminta kita agar menciptakan perubahan yang revolusioner di dalam diri kita dan mengetahui apa tujuan penciptaan kita? Allah Ta’ala menginginkan agar kita hendaknya hidup dengan saling memberikan rasa kasih sayang dan kecintaan serta menyebarkannya di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas kemudian senantiasa menanamkannya di dalam diri kita. Untuk hal ini pun diperlukan usaha.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran: التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ. Yaitu, orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah Ta’ala, yang bepergian pada jalan Allah Ta’ala, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas hukum Allah Ta’ala. Dan sampaikanlah kabar suka kepada orang-orang yang beriman. [At-Taubah, 9:112]

Syarat pertama untuk menjadi mukmin sejati adalah bertaubat dari segala dosa serta berjanji untuk secara sempurna menghindarinya. Hal ini tidak hanya menunjuk kepada dosa-dosa besar saja namun berbagai kesalahan dan kekhilafan yang menimbulkan kekacauan di dalam Nizam Jemaat juga termasuk dosa. Beribadah kepada Allah Ta’ala juga merupakan kewajiban sebagaimana wajib untuk mengikuti kehendak Ilahi. Sungguh, kehendak Allah Ta’ala bagi manusia adalah agar beribadah kepada-Nya sebagaimana difirmankan: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. [Adz-Dzariyat, 51:57] Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang kaya, orang miskin dan pengusaha hendaknya tidak lalai dalam hal ini. Beberapa Ahmadi telah memberikan pengorbanan harta yang sangat luar biasa untuk pembangunan masjid di Jepang. Beberapa yang lain telah mengalami berbagai kesulitan agar dapat memberikan pengorbanan dan anak-anak mereka juga ikut memberikan pengorbanan. Meskipun telah ada semangat pengorbanan yang luar biasa, namun hal ini tidak membebaskan siapapun untuk lalai dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Berbagai pengorbanan akan diterima jika disertai dengan pemenuhan hak-hak kepada Allah Ta’ala.

Ayat di atas kemudian menyatakan: الْحَامِدُونَ “Mereka menyampaikanlah pujian terhadap Allah Ta’ala.” Hendaknya kita senantiasa memuji Allah Ta’ala bahwa Dia telah membuka jalan pertablighan bagi kita dengan memberikan kita karunia untuk mendirikan masjid di Jepang. Kita juga hendaknya memuji Allah Ta’ala bahwa Dia telah membuka sarana-sarana baru bagi kita untuk menyebarkan ajaran Islam. Kita juga hendaknya memuji Allah Ta’ala bahwa Dia telah memperbaiki kondisi ekonomi kita semata-mata hanya karena karunia-Nya bukan karena keterampilan kita di suatu bidang. Memuji Allah Ta’ala hendaknya juga termasuk dengan senantiasa bersyukur bahkan dalam kondisi yang tidak menyenangkan sekalipun. Kita hendaknya memuji Allah Ta’ala bahwa Dia telah memberikan kita taufik untuk menerima Imam Zaman.

Allah Ta’ala berfirman di dalam ayat tersebut السَّائِحُونَ bahwa mukmin sejati senantiasa berpergian untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Dan hijrahnya para Ahmadi ke Jepang hendaknya untuk tujuan ini.

Ayat tersebut kemudian menyatakan الرَّاكِعُونَ bahwa mukmin sejati senantiasa tunduk di hadapan Allah Ta’ala. Ayat tersebut berarti ruku’ di dalam shalat serta berarti membelanjakan harta, tenaga, kemampuan dan pengetahuan demi kepentingan agama. Hendaknya kita tidak hanya mengulang-ulang janji kita sebagai suatu ritual saja namun juga berupaya untuk mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam ayat tersebut, السَّاجِدُونَ bahwa mukmin sejati juga sujud di hadapan Allah Ta’ala dan menaruh perhatian terhadap doa-doa. Hadhrat Rasulullah saw bersabda, (أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ) “Seorang hamba Allah yang sejati berada dalam kondisi yang terdekat dengan-Nya ketika sujud. Maka perbanyaklah doa-doa saat sujud itu.” Oleh karena itu, berupayalah untuk mencari kedekatan Allah Ta’ala ketika sujud.[ Sunan an-Nasai, Kitab ath-Tathbiq, ] Hanya meletakan kening di lantai saja bukanlah berarti sujud. Namun, kita hendaknya sujud dan tunjuk di hadapan Allah Ta’ala dengan segala kerendahan hati dan berupaya untuk mencari keridhaan-Nya. Apa yang perlu dilakukan adalah mengorbankan segalanya di hadapan Allah Ta’ala, mengesampingkan keakuannya, menjalankan perintah-Nya dan menaati Nizam Jemaat. Memang, juga merupakan perintah Allah Ta’ala untuk menaati Nizam Jemaat dan hal tersebut menciptakan Qurb Ilahi.

Kondisi sujud membawa seseorang semakin dekat dengan Allah Ta’ala dan dilakukan dengan segala kerendahan hati. Ketika kita diberikan taufik untuk bersujud dengan segala kerendahan hati secara sempurna dan berupaya sebaik mungkin untuk meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala, hendaknya kita juga menggunakan kemampuan kita untuk membawa orang lain yakni mereka yang membenamkan diri mereka di dalam urusan-urusan duniawi agar semakin dekat dengan-Nya. Ini merupakan tugas serta tanggung jawab setiap Ahmadi untuk menyelamatkan dunia dari kemurkaan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman pada ayat tersebut, وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ bahwa mukmin sejati senantiasa memperhatikan batas-batas hukum yang ditetapkan Allah Ta’ala yakni hendaknya memberikan upaya yang penuh dalam menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah Ta’ala sebagaimana yang difirmankan di dalam Al-Quran, yang diterangkan Hadhrat Rasulullah saw dan juga yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang menginginkan agar kita senantiasa menjalankannya. Berusahalah untuk mengamalkan sabda-sabda Khalifa-e-Waqt. Hendaknya kita menjaga keimanan serta amalan kita dan menghargai keberkatan-keberkatan Khilafat yang Allah Ta’ala telah berikan kepada kita di zaman ini. Allah Ta’ala telah berfirman bahwa berdirinya Khilafat merupakan suatu hal yang penting dan Allah Ta’ala telah memberikan kabar suka kepada orang-orang mukmin sejati yang senantiasa mengamalkan hal ini.

Ini merupakan ihsan Allah Ta’ala kepada kita bahwa kita menggunakan penemuan-penemuan modern untuk kebaikan kita. Jemaat telah mengeluarkan ratusan ribu dolar setiap tahun untuk MTA. Ini merupakan sarana yang sangat besar bagi pertablighan dan tarbiyat. Dan terutama sekali, ini merupakan sarana agar dapat terjalin hubungan dengan Khalifa-e-Waqt. Seorang ibu mengeluh karena kurangnya sumber daya Jemaat di Jepang. Anak-anak mereka sebagian besar menghabiskan hari-hari mereka di sekolah dan di rumah bersama orang tua mereka. Ketika berada di rumah, hendaknya para orang tua sekurang-kurangnya memperlihatkan kepada mereka berbagai program Khalifa-e-Waqt. Hal ini akan memberikan tarbiyat kepada mereka dan mereka akan memahami konsep persatuan di dalam Jemaat. Para orang tua hendaknya mengikuti program-program Khalifa-e-waqt di MTA serta membuat anak-anak mereka juga mengikutinya. Bahkan orang-orang yang berada di luar Jemaat menulis surat kepada saya (Hadhrat Khalifatul Masih) seraya mengatakan bahwa bagaimana dengan mendengarkan khotbah Khalifah dapat menjadikan mereka sadar akan hakikat agama. Jika masalahnya adalah perbedaan waktu, maka ditayangkan pula siaran ulang pada waktu-waktu tertentu.

Kemudian, ada juga penyakit kecendrungan untuk mencari-cari kesalahan orang lain bukannya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang membangun. Para pengurus hendaknya juga memberikan tarbiyat dengan penuh kasih sayang. Dari pada menimbulkan perselisihan, mereka hendaknya saling meningkatkan rasa kasih sayang satu sama lain. Kita senantiasa menyampaikan pesan love for all hatred for none. Namun apa manfaat menyampaikan hal tersebut jika kita sendiri memiliki kedengkian di dalam hati? Mereka yang merasakan hal demikian di dalam diri mereka hendaknya mengadakan perubahan demi mencari keridhaan Allah Ta’ala lalu jadilah mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan kabar suka sebagai mukmin sejati. Beberapa keluarga senantiasa menyampaikan hal-hal negatif tentang Jemaat dan para pengurus di rumah. Ketahuilah bahwa meraka sedang menghancurkan generasi mereka. Kita menyatakan untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan dan dengan demikian hendaknya pertama-tama kita mengarahkan hal tersebut kepada diri kita sendiri dan juga kepada keluarga kita. Jika tidak, pertablighan kita akan mengalami kegagalan.

Karena masjid ini telah didirikan maka penuhilah hak-hak masjid ini. Seraya berbicara kepada para Ahmadi Jepang, saya (Hadhrat Khalifatul Masih V atba) katakan hendaknya mereka mempelajari agama dan memperoleh kemajuan dalam keimanan. Mereka hendaknya tidak melihat bagaimana kondisi para Ahmadi keturunan yang ini dan itu. Sebagaimana disebutkan berkali-kali, Allah Ta’ala bukanlah kerabat seseorang. Pertolongan serta bantuan-Nya akan turun kepada mereka yang shaleh. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap Ahmadi agar menjalani kehidupan mereka di atas prinsip-prinsip ini dan semoga masjid ini membawa perubahan yang revolusioner di dalam keimanan dan amalan setiap Ahmadi. Semoga hak-hak masjid ini dapat dipenuhi tidak hanya dengan rasa antusias dan minat yang bersifat sementara.

Berkenaan dengan kondisi masjid ini, tanah tempat masjid ini berdiri memiliki luas sekitar 1000 meter persegi. Masjid ini memiliki lantai dasar dan lantai pertama. Masjid ini terletak di jalan utama di dekat persimpangan. Masjid ini memiliki jalan keluar yang dekat dengan 2 jalan tol dan juga dekat dengan stasiun kereta api yang langsung terhubung ke Nagoya International Airport. Sebagai tabaruk, masjid ini menggunakan beberapa batu bata dari Masjid Mubarak Qadian dan Darul Masih Qadian. Lantai dasar masjid ini memiliki ruang utama dengan kapasitas lebih dari 500 orang. Ruang Lajnah berada di atas dan juga ada teras di sana. Dengan adanya balkon kecil di atas teras, kapasitas masjid dapat meningkat tujuh ratus hingga delapan ratus orang. Di lantai satu juga ada perkantoran dan perpustakaan. Juga ada rumah bagi mubaligh dan beberapa kamar tamu.

Bangunan tersebut dibeli dan dilakukan beberapa perubahan untuk mengubahnya menjadi masjid termasuk 4 menara dan sebuah kubah. Karena terletak di jalan utama, masjid ini senantiasa menarik banyak perhatian. Ini merupakan masjid pertama di wilayah Timur Jauh. Semoga keberadan masjid ini membuat semakin banyak lagi masjid didirikan. Bangunan dan tanah ini dibeli pada bulan Juni 2013 senilai 137.000.000 Yen (sekitar 1.2 juta dolar). Kurang dari setengahnya dibantu dari pusat dan sisanya diperoleh dari pengorbanan Jemaat Jepang. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada mereka semua!

Awalnya dikira bahwa izin perencanaan dapat diperoleh dengan mudah akan tetapi ada masa ketika segala hal tampak sulit. Di satu sisi, para pengacara menasehatkan untuk tidak melanjutkan rencanan tersebut karena Jemaat di sini belum terdaftar dan mengusulkan untuk membatalkan kontrak. Akan tetapi Allah Ta’ala menghilangkan segala hambatan tersebut. Ada juga kekhawatiran bahwa masyarakat lokal akan melancarkan protes akan tetapi setelah mengadakan pertemuan, Allah Ta’ala mengisi hati mereka dengan keyakinan dan mereka dengan segera menyetujuinya. Beberapa diantara mereka hadir pada khotbah jumat ini. Segala masalah hendaknya semakin meningkatkan keimanan para Ahmadi yang tinggal di Jepang dan hendaknya mereka memberikan perhatian terhadap tanggung jawab mereka.

Ada banyak kisah berkenaan dengan pengorbanan harta untuk pendirian bangunan masjid ini. Seorang Ahmadi mengajak seorang pengurus yang meminta pengorbanan ke rumahnya dan berkata bahwa ia akan memberikan apapun yang ia miliki. Istrinya memberikan beberapa kotak yang darinya ia mengeluarkan uang tunai dan kekayaan senilai 10 ribu dolar lalu menyumbangkannya. Presiden Jemaat Jepang berkata bahwa beliau mengenal beberapa keluarga lainnya yang kurang baik secara ekonomi namun malah membatasi pengeluarannya lalu memberikan pengorbanan harta. Di satu titik, terjadi kekurangan hingga 250 ribu pounds yang kemudian dipenuhi oleh para Ahmadi di Jepang dengan memberikan pengorbanan yang luar biasa meskipun mereka telah memberikan sumbangan sebelumnya. Seorang mahasiswa muda yang bekerja paruh waktu senantiasa memberikan gaji bulanannya secara rutin. Anak-anak memberikan uang saku mereka, seorang gadis kecil mengumpulkan hadiah yang ia terima di berbagai kesempatan lalu memberikan pengorbanan hampir senilai 9 ribu dolar. Para wanita memberikan perhiasannya termasuk seseorang yang memberikan gelang emas 24 karat. Seorang wanita lainnya memberikan perhiasan yang telah diberikan ibunya dan ada juga seorang wanita yang baru tiba dari Pakistan memberikan perhiasannya yang baru saja dibeli Januari lalu.

Semoga Allah Ta’ala sendiri yang menurunkan keberkatan-keberkatan kepada orang-orang ini dan terus meningkatkan keimanan mereka. Semoga mereka senantiasa memenuhi hak-hak masjid ini dan hidup bersama-sama dengan kasih sayang dan kecintaan. Orang-orang Jepang yang bertetangga dengan kita telah menunjukan sikap yang tulus. Ketika seorang tetangga mengetahui bahwa para tamu dari luar negeri akan hadir untuk acara pembukaan masjid tersebut, ia pun memberikan rumah besarnya yang memiliki 3 lantai agar dapat digunakan sebagai akomodasi bagi para tamu. Tetangga lainnya juga menawarkan tempat parkir. Ini merupakan tradisi bangsa Jepang untuk menghiasi bangunan baru dengan beraneka ragam bunga yang indah. 2 orang Jepang mengungkapkan keinginannya untuk menghias masjid untuk acara pembukaan dan hal ini sangat membantu. Seorang pengacara non Ahmadi juga sangat membantu dalam proses pendaftaran dan segala masalah hukum berkenaan dengan masjid ini. Bayarannya adalah 20 ribu dolar yang kemudian ditolak karena ia merasa bahwa Jemaat Ahmadiyah telah berbuat banyak bagi Jepang. Acara pembukaan ini juga diliput oleh media.

Surat kabar terbesar kedua di negara ini menerbitkan laporan tanggal 11 November. Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa sebuah masjid dan pusat Jemaat Ahmadiyah telah berdiri. Terdapat menara pada bangunan tersebut dan memiliki kapasitas hingga 500 orang. Jemaat Ahmadiyah gemar menyebarkan perdamaian dan kecintaan dan menayangkan berbagai program yang mempromosikan interaksi sosial. Ada juga sekitar 200 anggota Jemaat di Jepang yang sebagian besarnya merupakan berasal dari Pakistan sementara yang lainnya berasal dari 15 etnik yang berbeda. Jemaat ini terdepan dalam kegiatan-kegiatan sukarela. Mereka membagikan makanan kepada korban bencana gempa bumi Kobe dan Tsunami serta gempa bumi di Jepang bagian utara serta banjir di tahun ini.

Inilah kesan yang dirasakan oleh orang lain terhadap Jemaat, sebagai perwakilan dari Islam yang senantiasa mempromosikan kedamaian dan rasa aman, yang mengkidmati kemanusiaan. Ini merupakan tugas bagi setiap Ahmadi di Jepang untuk tetap melakukan hal ini dan juga meningkatkannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik bagi setiap Ahmadi untuk mempromosikan bahwa Islam adalah suatu agama yang penuh kedamaian dan memberikan rasa aman serta masjid kita merupakan simbol dari hal ini sehingga jalan untuk menyebarkan Islam di negara ini menjadi semakin luas dan semoga bangsa ini juga memperoleh karunia untuk dapat mengenal Sang Pencipta serta memahami kedudukan Hadhrat Rasulullah saw.

Penerjemah: Hafizurrahman