Tahun 2016 dan Tanggung Jawab Kita

Ringkasan Khotbah Jumat

Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifah Ahmadiyah ke-5

1 Januari 2016 di Baitul Futuh, London

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ حْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَ رَسُوْلُهٗ .

. أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْم . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ  . الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ . مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ . إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ . إِهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ .

Hari ini merupakan hari pertama tahun baru. Tahun ini dimulaidengan hari Jumat yang penuh berkat. Merupakan suatu kebiasaan untuksaling mengucapkan selamat tahun baru. Demikian pula orang-orangjuga mengirimkan ucapan selamat kepada saya. Mereka juga salingmengucapkannya satu sama lain. Tahun baru ini dirayakan di negaranegaramaju di dunia Barat dengan berpesta dan mabuk-mabukan sepanjang malam disertai dengan pertunjukan kembang api.

Bahkan pesta tahun baru seperti ini juga dirayakan di negara-negara Muslim. Berita TV melaporkan bahwa kemarin malam sebuah bangunan 63 lantai terbakar di Dubai yang berdampingan dengan pesta kembang api dan berkali-kali diberitahukan bahwa pesta kembang api tetap terus berlangsung meskipun terjadi kebakaran.

Kebanyakan negara-negara Muslim pada saat-saat ini berada dalam keadaan yang buruk. Namun demikian, beginilah cara orang-orang menunjukan gaya hidup materialis mereka. Bahkan seandainya tidak terjadi kebakaran sekalipun, sekarang ini merupakan saatnya bagi orang-orang kaya tersebut untuk mengatakan bahwa mereka akan membantu umat Islam yang menjadi korban bukannya membelanjakan harta mereka untuk hal yang sia-sia. Tetapi kondisi mereka sedemikian rupa sehingga beberapa hari yang lalu terdengar berita sebuah hotel paling eksklusif di Dubai memiliki Christmass Tree (pohon natal) termahal di dunia yakni 11juta dollar. Inilah kecenderungan umat Islam yang kaya saat ini.

Sebaliknya, banyak Ahmadi yang melewati malam mereka dengan beribadah kepada Allah Ta’ala atau yang bangun lebih awal mendirikan shalat nafal untuk memulai tahun baru. Shalat Tahajjud dilaksanakan berjamaah di berbagai tempat. Namun demikian, kita senantiasa dianggap sebagai non-Muslim sementara mereka yang menciptakan huru-hara itu disebut Muslim. Bagaimanapun juga, dengan karunia AllahTa’ala, kita adalah umat Islam dan kita tidak membutuhkan sertifikat siapapun untuk hal ini. Jika kita ingin memperoleh kesaksian, maka adalah dengan menjadi Muslim sejati di pandangan Allah Ta’ala. Dan hal ini tidak akan terjadi hanya dengan melakukan shalat nafal baik sendiri atau pun secara berjamaah pada hari pertama di awal tahun atau dengan bersedekah atau melakukan kebaikan lainnya saja.

Tidak diragukan lagi, segala amal saleh menarik karunia AllahTa’ala tetapi dibutuhkan juga konsistensi dan tekad dalam mengamalkannya. Allah Ta’ala menghendaki konsistensi dalam beramal saleh. Bersamaan dengan pelaksanaan shalat tahajjud, apa yang perlu dilakukan agar menarik ridha Allah Ta’ala ialah dengan menciptakan perubahan suci yang revolusioner di dalam hati. Hal ini tidak dapatdicapai dengan melakukan amal saleh pada beberapa hari saja.

Kita hendaknya merenungkan amal perbuatan apa yang perlu kitalakukan untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Berkenaan dengan hal ini, sayahendak menceritakan beberapa kutipan yang berisi tentang nasehat dari seseorang yang telah Allah Ta’ala utus untuk zaman ini, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as. Kutipan-kutipan ini memaparkan bagaimana meraih ridha Allah Ta’ala secara terus menerus dan dengan penuhkeyakinan dan bagaimana caranya agar 12 bulan dan 365 hari pada tahunini senantiasa memperoleh keberkatan untuk meraih karunia Ilahi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Lihatlah kondisi dunia saat ini! Yang Mulia Nabi kita Hadhrat Rasulullah saw dengan amal beliau saw memperlihatkan hidup-mati beliau saw serta segalanya adalah demiAllah Ta’ala. Adapun kondisi umat Islam di dunia pada hari ini ialah jikasalah seorang diantara mereka ditanya apakah ia seorang Muslim, maka ia akan menjawab ‘Alhamdulillah’. Prinsip hidup orang yang ia ikuti (yaitu Nabi Muhammad saw) adalah untuk Allah Ta’ala sedangkan hidup-mati umat Islam pada hari ini untuk dunia hingga saat menjelang ajalnya. Dunia tetap menjadi tujuan keinginannya. Lalu bagaimana iadapat mengatakan bahwa ia mengikuti Hadhrat Rasulullah saw?

Masalah ini sangat menggusarkan pikiran dan jangan anggap inisebagai hal sepele. Tidaklah mudah menjadi seorang Muslim. Jangan puas sebelum kalian menanamkan ketaatan terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan teladan Islam di dalam diri kalian.

Jika kalian dikenal sebagai seorang Muslim tanpa mengamalkan ketaatan, maka keimanan kalian hanya sebatas kulit saja dan orang-orangbijak tidak merasa cukup hanya dengan kulit dan gelar saja. Itu bukan perbuatan orang bijak. Ada seorang Muslim meminta seorang Yahudi untuk menjadi Muslim. Orang Yahudi itu menjawab, ‘Jangan merasa cukup hanya dengan nama saja. Saya memanggil anak saya dengan nama‘Khalid’ (abadi) tapi saya malah telah menguburkannya sebelum malam menyelimuti.” Dengan demikian, carilah hakikatnya dan jangan merasa senang hanya karena gelar semata. Betapa memalukannya seseorang yangdikenal berasal dari umat seorang Nabi agung saw, namun malah menghabiskan kehidupannya seperti orang-orang ingkar.

Tunjukanlah teladan Hadhrat Rasulullah saw di dalam kehidupan kalian dan hasilkanlah kondisi yang serupa seperti beliau saw.Perhatikanlah, jika kalian tidak memiliki kondisi yang sama seperti itu maka kalian adalah pengikut setan.

Pendek kata, hal ini dapat dipahami dengan baik bahwa menjadi kekasih Allah Ta’ala hendaknya merupakan tujuan hidup manusia karena jika ia bukanlah kekasih-Nya serta tidak meraih kecintaan-Nya, maka ia tidak dapat memperoleh kehidupan yang sukses. Dan hal ini tidak dapat dicapai sebelum benar-benar menaati dan mengikuti Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw yang telah memperlihatkan apa Islam itu melalui teladan penuh berkat beliau saw. Tanamkanlah Islam semacam ini di dalam diri kalian sehingga kalian menjadi kekasih Tuhan.” (Malfuzat jilid 2, hal. 187-188, Edisi 1985, Terbitan UK)

Islam tidak melarang kenikmatan-kenikmatan jasmani, melainkan menasehati agar mendahulukan agama diatas duniawi meski hidup didunia. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda tentang itu: “Islam tidak mengizinkan cara hidup biarawan karena yang demikian perbuatan pengecut. Tidak peduli seberapa jauh seorang mukmin terlibat di dalamurusan duniawi, namun hal tersebut senantiasa menjadi sumber untuk memperoleh kedudukan rohaniah yang lebih tinggi karena tujuan sejatinya adalah agama. Sedangkan dunia dengan segala kekayaan dan kemegahannya merupakan sarana untuk mengkhidmati agama.

Perkara utamanya adalah dunia hendaknya tidak menjadi tujuan akhir baginya namun maksud sebenarnya meraih tujuan-tujuan duniawi adalah demi mengkhidmati agama. Seperti halnya berpergian, seseorang menggunakan sarana transportasi dan perbekalan dengan maksud agar sampai di suatu tempat tujuan. Transportasi dan perbekalan merupakan hal yang bersifat insidentil. Jadi, hendaknya ia mencari dunia dengan cara yang sama yakni sebagai sarana untuk mengkhidmati agama.

Allah telah mengejarkan kita doa, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَة ‘Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yangbaik di akhirat…’ [Al-Baqarah, 2:202] Ayat ini juga mendahulukan urusan dunia. Tetapi, urusan dunia yang mana? Yakni فيِ الدُّنْيَا حَسَنةَ‘ segala kebaikan dunia’ yang merupakan penyebab kebaikan di Akhirat.Ajaran yang terkandung di dalam doa ini secara jelas seorang mukmin hendaknya memperhatikan kebaikan akhirat ketika mencari tujuan-tujuan duniawi.

Istilah فيِ الدُّنْيَا حَسَنةَ mencakup segala sarana terbaik untuk mencari dunia yang hendaknya dijalankan/dipilih oleh seorang mukmin demi meraih tujuan-tujuan duniawi. Carilah tujuan-tujuan duniawi dengan segala sarana tersebut yang hanya menghasilkan kebaikan dan bukansarana-sarana yang menyebabkan timbulnya penderitaan atau rasa malu bagi manusia lain. Meraih dunia yang seperti ini tidak diragukan lagiakan menjadi sumber untuk mencapai kebaikan di akhirat.”[1]

Maka dari itu, carilah dunia dengan tidak menyakiti seorang pun, dan tidak menyebabkan rasa malu bagi orang lain. Maka, dunia yangseperti ini akan membawa kalian pada kebaikan-kebaikan di akhirat, dan Allah telah menyintai dunia yang semacam ini.

“Hendaknya dipahami apa yang dimaksud dengan jahannam (neraka)? Pertama adalah sesuatu yang telah Allah Ta’ala janjikan setelahkematian. Kedua adalah yang ada di kehidupan ini; yakni kehidupan iniadalah sebuah neraka jika bukan untuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidakakan menolong untuk menghilangkan rasa sakit orang-orang seperti itu atau memberikannya kenyamanan. Jangan bayangkan kekayaan atau kekuatan, harta dan kehormatan atau memiliki banyak anak yang lahir pada hari ini senantiasa menjadi sumber kesenangan, kepuasan atau ketenangan baginya kemudian ia akan berada di surga dengan jalan seperti ini. Pasti tidak.

Kepuasan, kesenangan dan ketenangan yang merupakan ganjaran surga tidak dapat ditemukan dalam hal-hal tersebut. Mereka hanya dapat diperoleh dengan jalan hidup dan mati demi Allah Ta’ala. Untuk hal ini, para Nabi Allah Ta’ala ‘alaihimu salam khususnya Ibrahim dan Yakub memberikan nasehat : () فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ‘…maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan menyerahkan diri.’ [Al-Baqarah, 2:133]

Kesenangan di dunia ini menciptakan ketamakan yang meningkatkan kecanduan serta kehausan dan dahaga ini tidak terpuaskan sebagaimana halnya seseorang yang menderita suatu penyakit sebelum tiba saatnya ia binasa. Api hawa nafsu dan keinginan yang tidak adagunanya tersebut adalah seperti api neraka yang tidak membiarkan hati seseorang memperoleh kenyamanan.

Sebaliknya, ia terus merasakan keraguan dan kecemasan. Oleh karena itu, hendaknya aspek ini sedikit pun tidak tersembunyi di dalam diri para sahabatku sehingga ia tidak menjadi begitu tergila-gila dan terbenam di dalam hasrat dan racun kecintaan terhadap kekayaan dan harta benda atau keluarga yang menyebabkan terciptanya jarak antara dirinya dengan Allah Ta’ala.”[2]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Aku menyadari الحْمَدْ لله ربَِّالْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Pemilik Hari Pembalasan.’ [Al-Fatihah, 1:2-4] Ayat di atas membuktikan bahwa hendaknya manusia menanamkan sifat-sifat ini, yang mana Allah Ta’ala merupakan pemilik segala sifat itu yaitu Rabbul ‘aalamiin yang merupakan Rabb atas dunia nutfah, embrio dan lain-lain, ar-Rahmaan, ar-Rahiim dan Maaliki yaumiddin. Ketika seseorang berkata, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَنسَ تْعَِين () ‘Hanya Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.’ maka hendaknya ia menjadikan dirinya sendiri dalam beribadah sebagai mazhhar (perwujudan) sifat Rabbubiyat,Rahmaniyat, Rahimiyyat serta Malikiyat Allah Ta’ala.

Tingkat keunggulan insan yang beribadah adalah mewarnai diri dalam corak warna sifat Allah Ta’ala, ” تخلقوا بأخلاق الله ” – ‘Berakhlaklah dengan akhlak Allah!’ dan tidak letih sebelum ia mencapai derajat tersebut. Setelah itu, tertanam suatu daya tarik di dalam diri manusia yang membuatnya cenderung untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan ia berada di dalam kondisi: () وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ‘… mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.’” [An-Nahl, 16:51][3]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Siapa yang tahu bahwa ia akan tetap hidup setelah waktu Zhuhur hingga Ashar? Seringkali terjadi seseorang tiba-tiba meninggal dunia. Terkadang seseorang yang tampak sehat tiba-tiba meninggal. Tn. Menteri Muhammad Hasan Khan baru saja pulang dari jalan-jalan dan naik ke lantai atas rumahnya dengan perasaan bahagia. Ia naik satu-dua langkah kemudian merasa pusing. Iapun duduk. Pelayannya mencoba membantu namun ia menolak. Ia naik beberapa langkah lagi dan kembali merasa pusing kemudian meninggal.

Demikian pula seorang anggota dewan Kashmir, Tn. Ghulam Muhyiddin yang tiba-tiba meninggal dunia. Memang, kita tidak tahu kapan kematian akan menghampiri kita. Itulah sebabnya penting untuk tidak merasa puas diri atas hal ini. Rasa empati terhadap agama merupakan hal penting yang memberikan seseorang kemuliaan saat ajal menjelang. Difirmankan di dalam Al-Quran: () …‘ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ sesungguhnya kegoncangan Saat itu sesuatu yang sangat dahsyat.’ [Al-Hajj, 22:2] Kita tidak menyangkal kata السَّاعَةِ ‘as-Saat’ artinya Hari Kiamat. Namun, dalam kalimat itu berarti menjelang ajal karena saat tersebut ialah ketika seseorang terputus secara sempurna dan terpisah dari segala hal yang ia cintai dan kagumi dan suatu jenis guncangan menguasai dirinya seolah-olah dirinya sedang terjerat jauh di tempat yang dalam. Oleh karena itu, merupakan suatu hal yang bermanfaat bagi seseorang agar memperhatikan kematian dan hendaknya ia tidak begitu mencintai dunia dan segala isinya yang membuatnya merasa menderita/sulit ketika terpisahkan (meninggal).”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda berkenaan dengan menciptakan perubahan suci: ‘Janganlah kalian hidup tanpa rasa takut terhadap AllahTa’ala. Sibuklah berdoa dan beristighfar (mencari ampunan-Nya) ciptakanlah perubahan suci. Kini bukan saatnya untuk berlalai. Manusia dibodohi dengan pikiran akan memiliki kehidupan yang panjang.Anggaplah kematian kalian sudah dekat. Wujud Allah Ta’ala merupakan suatu kepastian dan siapapun yang memberikan hak-haknya karena AllahTa’ala bagi orang lain melalui keburukan akan mengalami kematian yang hina. Surah Al-Fatihah menyebutkan tiga kelompok orang. [Yaitu an’amta ‘alaihim-mereka yang diberi nikmat, maghdhuub-yang dimurkai dan dhaalliin-yang sesat.]

Kalian akan lihat ketiga golongan tersebut. Yang terakhir telah menjadi yang pertama, yaitu dhaalliin. (golongan dhaalliin disebutterakhi di dalam Surah al-Fatihah, tapi beliau as sebut telah menjadi pertama.) Di masa-masa awal Islam, jika seseorang menjadi murtad, maka reaksi yang timbul seperti sebuah bencana besar. Saat ini, 2 juta orang telah menjadi Kristen dan ketika mereka mengotori jiwa mereka sendiri (dengan meninggalkan Islam), bukannya sadar diri malah mereka senantiasa mencaci-maki Insan Suci (Hadhrat Rasulullah saw.

Selanjutnya, Dia perlihatkan contoh maghdhuubi ‘alaihim (mereka yang mendatangkan kemurkaan-Nya) melalui wabah tha’uun (pes).

Kemudian, datanglah golongan an’amta ‘alaihim (mereka yang dikaruniai nikmat-nikmat oleh Allah Ta’ala). Merupakan prinsip dan sunnah Allah Ta’ala sejak zaman dahulu bahwa ketika Dia berfirman kepada orang-orang untuk tidak melakukan sesuatu, hal tersebut berarti ada sekelompok dari orang-orang itu yang senantiasa melanggar petunjuk Allah Ta’ala tersebut. Tidak pernah terjadi bahwa orang-orang dilarang berbuat sesuatu dan tidak seorangpun di antara mereka yang melakukannya.

Allah Ta’ala berkata kepada umat Yahudi untuk tidak mengubah ubahTaurat namun mereka malah mengubah-ubahnya. Allah Ta’ala tidak menyatakan hal serupa berkenaan dengan Al-Quran, namun Diaberfirman: () إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ‘Sesungguhnya, Kami Yangtelah menurunkan Peringatan Al-Quran ini, dan sesungguhnya Kami baginya adalah Pemelihara.’ [Al-Hijr, 15:10] Oleh karena itu, senantiasalah sibuk berdoa sehingga Allah Ta’ala akan memasukan kalian ke dalam golongan أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ an’amta ‘alaihim (orang-orang yangkepada mereka Allah Ta’ala senantiasa turunkan ni’mat-ni’mat-Nya).”[5]

Masuk kedalam golongan an’amta ‘alaihim memerlukan doa yang terus menerus bukan hanya sehari atau dua hari. Perlu diketahui bahwa perubahan baik dan pemikiran tentang akhirat menciptakan hasil ketakwaan. Ketakwaan membuat manusia berhasil di akhirat. Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai tema ini, “Allah Ta’ala bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) kepada para muttaqi (orang bertakwa) dan mereka berada di bawah perlindungan-Nya. Tetapi apa yang dibutuhkan adalah ia hendaknya senantiasa bertakwa dengan setulusnya tanpa ada pengaruh dari setan. Allah Ta’ala tidak menyukai syirik (menyekutukanAllah) dan jika ia terpengaruh langkah-langkah setan, maka Allah Ta’alamenganggap segalanya berasal dari setan.

Penderitaan yang dialami para kekasih Allah Ta’ala terjadi sesuai kehendak Ilahi. Sekalipun seluruh dunia bersatu, namun tidak ada yang dapat memberikan sedikit pun penderitaan bagi mereka. Karena orang-orang ini merupakan teladan bagi dunia, maka penting mereka juga memperlihatkan teladan bagaimana cara menghadapi berbagai kesulitan. Sebaliknya, Allah Ta’ala senantiasa berfirman bahwa Dia tidak begitu mengkhawatirkan suatu hal seperti Dia mengkhawatirkan kehidupan orang yang merupakan sahabat-Nya.

Allah Ta’ala tidak ingin sahabat-Nya mengalami penderitaan.Tetapi, mereka diberikan penderitaan tersebut karena adanya suatu kebutuhan dan terdapat suatu manfaat di dalamnya. Di dalamnya terbentang kebaikan mereka karena penampakan akhlak luhur mereka selama menghadapi penderitaan.

Para Nabi serta sahabat Allah Ta’ala tidak mengalami penderitaan seperti orang-orang Yahudi yang dibuat malu dengan lahirnya kemurkaan dan azab Allah Ta’ala. Namun, para Nabi Allah Ta’ala senantiasa menunjukan model keteguhan hati.

Allah Ta’ala tidak memiliki kebencian terhadap Islam namun Hadhrat Rasulullah saw tertinggal sendirian pada perang Uhud. Maksud dibalik ini adalah untuk menunjukan keberanian Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw berdiri sendiri menghadapi 10.000 pasukan musuh sembari mengumumkan, ! أنا رسول الله ‘Aku Rasul Allah’. Tidak ada seorang Nabi yang memperoleh kesempatan menunjukan teladan seperti ini. Kami senantiasa berkata kepada anggota Jemaat untuk tidak merasa bangga hanya karena melaksanakan shalat, puasa atau menghindari dosa-dosa besar seperti zina, mencuri dan lain-lain. Kebanyakan orang luar Jemaat, para penyembah berhala dan lain-lain, pun seperti kalian dalam hal ini.

Ketakwaan merupakan suatu perkata yang sangat halus. Oleh sebabitu, raihlah ketakwaan. Tanamkan keagungan Allah Ta’ala di dalam hati. Allah Ta’ala menolak segala amal perbuatan yang mengandung kemunafikan, meskipun hanya sedikit. Sulit untuk menjadi orang yang bertakwa. Sebagai contoh, jika seseorang menuduh kalian mencuri sebuah pena, lalu kenapa kalian marah? Kemarahan kalian hendaknya hanya karena Allah Ta’ala. Kemarahan dalam kasus ini adalah disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai kebenaran.

Manusia tidak menjadi bertakwa jika ia tidak melewati berbagai tahapan yang menyerupai kematian. Berbagai mukjizat dan wahyu timbul karena ketakwaan dan aspek mendasarnya ialah ketakwaan. Oleh karena itu, janganlah terlalu terkait wahyu dan kasyaf melainkan raihlah ketakwaan. Hanya orang-orang yang bertakwa yang memperoleh wahyu benar dan wahyu yang diterima tanpa ketakwaan tidak dapat dipercaya.Mereka sudah terkena pengaruh setan.

Janganlah mengukur ketakwaan seseorang dengan cara melihat ilham yang telah diterima, namun telitilah wahyunya berdasarkanketakwaannya. Tutuplah mata kalian terhadap berbagai hal lain danpertama-tama ukurlah dengan ketakwaannya. Tegakkanlah teladan para Nabi Allah Ta’ala. Mereka semua datang dengan tujuan untuk mengajarkan jalan-jalan ketakwaan. إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلا الْمُتَّقُونَ ‘… Para Wali hakiki itu tidak ada selain para muttaqi …’ [Al-Anfal, 8:35] Tetapi, Al-Quran mengajarkan jalan-jalan halus/rinci dari ketakwaan .Kesempurnaan (keunggulan dan keutamaan) seorang nabi mensyaratkan kesempurnaan kaumnya juga. Dan, karena Rasulullah saw adalah Khataman Nabiyyin (Stempel para Nabi), maka kesempurnaan kenabian telah tercap/terhimpun pada beliau. Dan, stempel kenabian beliau lahir dari himpunan keunggulan dan keutamaan kenabian. Bagi mereka yang ingin mendapatkan ridho Allah Ta’ala dan menyaksikan mu’jizat (keajaiban) dan hal-hal yang luar biasa, maka mereka harus membuat hidup mereka menjadi hidup yang luar biasa.

Lihatlah, mereka yang akan menghadapi ujian senantiasa bekerja sangat luar biasa keras hingga jatuh sakit (seperti seorang penderitaTBC) dan menjadi lemah dalam menjalani proses yang begitu melelahkan tersebut. Demikian pula, hendaknya kalian juga bersiap untuk menanggung segala penderitaan untuk melewati ujian ketakwaan. Ketika manusia berada di jalan ini, setan senantiasa menyerangnya dengan sangat kuat. Namun, akan datang suatu tahapan ketika setan pada akhirnya berhenti. Inilah tahapan ketika kehidupan dasar manusia mengalami kematian dan ia berada di bawah perlindungan Allah Ta’ala. Ia menjadi penzahiran Allah Ta’ala dan menjadi khalifah-Nya. Pendek kata, ajaran kita adalah bahwa hendaknya manusia mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaganya di jalan Allah Ta’ala.”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Syarat bagi ahli taqwa (orangorangbertakwa) ialah agar mereka senantiasa menjalani kehidupannya dalam ghurbat (tidak menonjolkan diri) dan miskiini (sederhana danpenuh kerendahan hati). Ini adalah ranting cabang dari ketakwaan yangdengan melaluinya kita dapat menahan na jaa-iz ghadhab (gejolak kemarahan yang tidak diperbolehkan). Tahap akhir dan berat bagi orang-orang besar dari kalangan arif dan shiddiq adalah menyelamatkan diri dari ghadhab (gejolak kemarahan).” (Adalah penting untuk menghindari kemarahan) “Sikap ‘ujub (memandang diri sendiri dengan bangga) dan kesombongan timbul dari ghadhab. Adakalanya ghadhab tersebut pundampak dari sikap ‘ujub dan keangkuhan. (Kadangkala kemarahan timbul karena takabbur dan bangga diri; dan terkadang kemarahan menimbulkan takabbur dan bangga diri) Kemarahan timbul di dalam diri orang yang memandang tinggi dirinya sendiri diatas orang lain.

Saya tidak menghendaki orang-orang di dalam Jemaat saya satu dengan yang lain memandang kecil (rendah), atau satu dengan yang lain memandang lebih besar (mulia), atau satu dengan yang lain saling membanggakan diri, ataupun memandang yang lain dengan menghina (mengecilkan). Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui siapa yang besar siapa pula yang kecil. Hal itu adalah satu macam dari perendahan (penghinaan). Dikhawatirkan semua hal itu dapat menimbulkan ketidakharmonisan dan menjadi tambahan cikal-bakal kehancuran.”

Bersabda, “Sebagian orang demikian hormatnya manakala berjumpa dengan orang besar  (orang mulia, berpangkat dan lain-lain). Namun,seorang yang besar (mulia) adalah dia yang dengan cara miskiini (dengan merendah, kerendahan hati) mau mendengarkan perkataan orang miskin. Ia mengupayakan dirinya merasa senang hati (tidak sempit pikiran berbincang-bincang dengan orang miskin tersebut). Ia menghormati kata-katanya. Ia tidak akan menimpalinya dengan sesuatu perkataan yang akan menyinggung perasaan orang tersebut.

Allah Ta’ala menyatakan, وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِوَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ () yakni, ‘‘…..begitu pula janganlah panggilmemanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruknya nama adalah fasiq sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.’ (Surah Al-Hujuraat, 49 : 12) “ (yakni, setelahseseorang beriman, inilah perbuatan dosa yang sangat besar. Pertama ولَاتَنَابزَُوا بِالأَلْقَابِ “Janganlah satu dengan yang lain memanggil dengan julukan buruk dan seburuk-buruk dosa setelah dalam keimanan adalah demikian itu dan siapa yang tidak bertaubat mereka itu orang-orang yang zalim.”)

Bersabda, “Janganlah memanggil dengan sesuatu nama julukan buruk. Itu perbuatan fussaaq (sangat fasik) dan fujjaar (sangat berdosa). (Orang yang tidak menaati Allah Ta’ala, mereka yang berjalan dibelakang setan, inilah dia pekerjaan mereka) “Barangsiapa yang memanggil dengan nama buruk, tidak akan mati sebelum ia sendiri seperti keburukan yang ia panggilkan kepada orang lain itu. Janganlah merendahkan sesama saudaramu. Jika tuan-tuan sekalian meminum dari sumber mata air yang sama, siapa pula yang dapat mengetahui ada yang beruntung dapat mereguknya lebih banyak? Seseorang tidak dapat dimuliakan ataupun dihormati berdasarkan pertimbangan duniawinya. Sebab, dalam pandangan Allah Ta’ala, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, () إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  ‘Sesungguhnya,yang paling mulia di antara kamu pada pandangan Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui. Maha Waspada.’” (Surah Al-Hujuraat, 49 : 14)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Segala kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala bukanlah untuk disia-siakan, mereka dikembangkan melalui penggunaan yang benar dan tepat. قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ() ‘Sesungguhnya telah berhasil orang-orang yang beriman.’ [Al-Mukminun, 23:2] Dan setelah menggambarkan kehidupan para muttaqi (orang bertakwa), difirmankan sebagai kesimpulan: () وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“… Dan mereka itulah orang-orang berjaya.” [Ali Imran, 3:105] Yakni mereka yang mengamalkan ketakwaan senantiasa beriman kepada yangghaib. Mereka terkadang kehilangan konsentrasi di dalam shalat namun kemudian memperolehnya kembali dan mereka membelanjakan apa yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka.

Meskipun terdapat bahaya yang akan menimpa diri mereka, namun mereka senantiasa percaya kepada kitab-kitab Allah Ta’ala di masa lalu dan sekarang sesuai dengan dorongan hati mereka dan pada akhirnya mencapai tahapan keyakinan yang pasti. Inilah orang-orang yang berada di jalan petunjuk. Mereka berada di atas jalan yang terbentang ke depan dan membawa manusia kepada kesuksesan.

Inilah orang-orang yang berjaya yang akan mencapai tujuan mereka dan telah dilepaskan dari bahaya perjalanan tersebut. Inilah mengapa Allah Ta’ala telah memberikan kita ajaran ketakwaan pada permulaan dan menganugerahkan kita sebuah kitab yang mengandung petunjuk-petunjukberkenaan dengan ketakwaan. Dengan demikian, hendaknya Jemaat kita senantiasa sungguh merasa khawatir dan lebih khawatir daripada terhadap persoalan dunia lainnya yakni apakah mereka memiliki ketakwaan atau tidak! (Malfuzat jilid 1, hal. 35, Edisi 1985, Terbitan UK)

Jika kalian ingin meraih kesuksesan di dunia ini dan di akhirat kelaks erta ingin memenangkan hati orang-orang, maka ciptakanlah kesuciandi dalam diri kalian. Gunakanlah akal sehat kalian. Ikuti segala petunjuk firman Allah Ta’ala. Adakanlah perbaikan di dalam diri kalian. Ciptakanlah perubahan yang semakin baik dan jadilah teladan bagi oranglain. Barulah kalian akan berhasil. Maka kuatkanlah hati kalian.

Kemudian di satu tempat beliau as bersabda, “Bila engkau menginginkan falaah (kesuksesan, kesejahteraan) di dua tempat (duniadan akhirat) dan memenangkan hati orang lain, berusahalah menempuh kesucian. Gunakanlah akal dan jalankanlah petunjuk-petunjuk Kalam Ilahi. Perbaikilah diri sendiri dan perlihatkanlah teladan akhlak fadillah kepada orang lain. Hanya dengan cara itulah engkau akan berhasil.Orang bijak berucap (bahasa Farsi), “سخن كز دل برون آيد نشيند لا جرم بردل” ‘Sakhn kaz dil barong aaid nasyind laa jarm bar dil’ _ “Apa saja perkataan yang keluar dari hati itulah yang akan turun (mempengaruhi) ke hati orang lain’. Jadi, pertama-tama ciptakanlah hati (teguhkanlah qalbu). Jika engkau ingin memberi kesan (pengaruh) pada qalbu oranglain, ciptakanlah kekuatan amal perbuatan di dalam diri kalian sendiri .Sebab, tanpa amalan, kekuatan perkataan dan kekuatan lisan tidak akan bermanfaat apa-apa.  Ada ratusan ribu penceramah ulung. Banyak sekali maulwi dan ulama yang sering tampil di mimbar-mimbar. Mereka menyatakan diri naib ar-rasul (pembantu Rasul) dan waratsatul anbiyaa (pewaris para nabi) dan banyak memberi nasehat. Kata mereka,‘Jauhilah takabbur, menipu dan penyakit akhlak lainnya!’ Namun, justruitulah perbuatan mereka. Engkau dapat mengenali mereka yang sebenarnya dengan tolok ukur seberapa jauh segala ucapan mereka itu mampu menyentuh qalbu orang-orang?”[7]

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai perlunya amal perbuatan sebelum menasehati orang lain, “Jika orang-orang demikian memiliki kekuatan dalam beramal dan mereka senantiasa mengamalkan sesuatu terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, lalu apa yang perlunya lagi difirmankan di dalam Al-Quran yakni: لِمَ تَقُولُونَ مَالا تَ فْعَلوُنَ () ‘… untuk apa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?’ [Ash-Shaff, 61:3] Ayat ini menjelaskan bahwa ada orang-orangdi dunia ini yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, sebagaimana memang orang-orang demikian itu ada dan akan terus ada di masa mendatang.”[8]

Jika kita ingin bertindak berdasarkan ajaran-ajaran Al-Qur’an, kita harus merenungkan hal-hal ini. Khususnya sabda beliau as bahwa hal pertama ialah kita harus menghitung-hitung diri kita sendiri. Tiap dari kita harus melakukannya. Inilah nasehat mendasar yang harus diingatoleh para pengurus yang mengharap-harap hal demikian dari orang lain dan menasehati mereka dengan hal itu tetapi amal perbuatan mereka bertentangan dengan hal itu sepenuhnya, atau mencari helah dan alasan dan mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Saya telah memberitahukan perihal seperti ini di banyak kesempatan.

Kemudian, beliau as bersabda perihal satunya kata dan perbuatan, “Dengarkanlah apa yang saya katakan dan ingatlah hal ini dengan baik bahwa jika ucapan seseorang tidak berasal dari hati dan ia sendiri tidak memiliki kekuatan dalam beramal, maka ucapannya tidakakan memiliki pengaruh apapun. Inilah yang membuktikan kebenaran yang luar biasa dari Hadhrat Rasulullah saw karena jalan kesuksesan yang beliau raih di atas hati manusia tidak ada bandingannya di dalam sejarah manusia. Dan semua ini terjadi karena adanya persesuaian yang sempurna antara ucapan dan perbuatan beliau saw.[9]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Masalah besar lainnyayang menimpa orang-orang terpelajar pada hari-hari iniadalah mereka tidak memiliki pengetahuan agama. Ketika mereka membaca berbagai kritik oleh seorang ilmuwan atau filsuf, mereka kemudian merasa ragu dan khawatir terhadap Islam. Hal ini membawa mereka kepada agama Kristen atau Atheis. Dalam hal itu,peran orang tua mereka juga merupakan suatu kejahatan yang luar biasa karena mereka (para orang tua) tidak memberikan anak-anak mereka waktu sedikitpun untuk menuntut ilmu agama dan membiarkan mereka sibuk dalam setiap kegiatan mereka sejak awal yang membuat mereka berkekurangan dari keimanan murni/agama nan suci.”[10]

Aku telah berbicara berulang kali sebelumnya berkenaan dengan kecintaan dan keserasian antara satu sama lain di dalam Jemaat ini. Ciptakanlah kesepakatan, keserasian dan tetaplah bersatu. Allah Ta’ala memberikan ajaran-Nya kepada umat Islam untuk tetap bersatu. Jika tidak, mereka akan dihinakan. Perintah untuk berdiri dengan rapat antara bahu dengan bahu sewaktu shalat adalah untuk mendorong terciptanya persatuan sehingga niat baik akan mengalir seperti aliran listrik dari satu ke yang lainnya. Jika kalian berselisih dan kurang bersatu, kalian akan tidak akan memperoleh kesuksesan.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa hendaklah kalian mencintai satu sama lain dan panjatkanlah doa satu sama lain secara diam-diam. Jika seseorang berdoa bagi yang lain secara diam-diam maka para malaikat senantiasa menginginkan hal yang sama bagi orang tersebut. Betapa luar biasanya hal ini. Jika doanya tidak diterima, tetapi doa para malaikat pasti diterima. saya menasehati kalian untuk tidak menciptakan perselisihan satu sama lain.

Aku hanya membawa dua perkara. Pertama, berjalanlah di atas ketauhidan Ilahi dan kedua, perlihatkanlah kecintaan dan empati satu sama lain. Jadilah teladan yang sedemikian rupa sehingga menjadi keajaiban bahkan terhadap orang-orang lain. Inilah keyakinan yang diciptakan di dalam diri para sahabat. Ingatlah: إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ“… ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain…” [Ali Imran, 3:104] Ingatlah, kebersamaan merupakan suatu keajaiban. Sebelum setiap orangdi antara kalian suka memberikan kepada saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya, maka ia bukanlah dari Jemaatku. Ia berada dalam kekacauandan bencana besar.[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Insya Allah, suatu Jemaat yang bertakwa akan tumbuh dari diriku. Apa alasan timbulnya perselisihan satu sama lain? Yaitu kedengkian, kesombongan, kecintaan terhadap diri sendiri dan emosi. Telah saya katakan, saya akan segera menulis sebuah buku dan akan mengucilkan mereka yang tidak dapat mengendalikan emosi dan tidak dapat hidup dalam keserasian dan persatuan.

Mereka yang cenderung pada hal ini hendaknya memahami bahwa mereka tidak akan bertahan lama di dalam Jemaatku jika mereka tidak menunjukan teladan yang baik. saya tidak ingin memperoleh kritikan berkenaan dengan pribadi seseorang. Seseorang yang tidak sesuai dengan keinginanku namun ada di dalam Jemaatku adalah seperti sebuah ranting yang kering. Apalagi yang dapat dilakukan seorang tukang kebun kecuali mematahkan dan membuangnya?

Sekalipun sebuah ranting hidup berdampingan bersama ranting yang subur dan dapat menyerap air, tetapi tidak dapat membuatnyasubur melainkan malah membuat ranting lainnya ikut patah. Dengan  demikian, takutlah bahwa seseorang yang tidak memperbaiki dirinya tidak akan tinggal bersamaku.” [12] Sama saja apakah seseorang mengetahuinya secara jelas atau tidak, tetapi tiap orang yang lemah tidak mampu menjangkau masalah ini atau doa-doa yang dipanjatkan olehHadhrat Masih Mau’ud as bagi para anggota Jemaat. Maka dari itu, tiaporang harus mengoreksi diri sendiri dari segi ini.“

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran: وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ “… dan akan menjadikan orang-orang yangmengikut engkau di atas orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat…”[Ali Imran, 3:56] Janji yang menentramkan hati ini dibuat bagi putra Maryam di Nazareth. Tetapi, saya akan memberikan kabar suka kepada kalian bahwa Allah Ta’ala juga telah memberikan kabar suka dalam kata-kata ini yang menunjuk kepada putra Maryam yang akan datang dengan nama Al-Masih. Bayangkanlah sekarang, dapatkah mereka yang ingin masuk ke dalam kabar suka yang agung ini dengan menjalin hubungan denganku, namun malah menjadi orang-orang yang cenderung terhadapk eburukan dan berbuat kejahatan? Tentu tidak.

Mereka yang benar-benar menghargai janji sejati Allah Ta’ala inidan tidak menganggap ucapanku hanya sebagai kebohongan belaka, ingatlah dan dengarkanlah dengan penuh ketulusan bahwa saya sekali lagi berbicara kepada mereka yang menjalin hubungan dengan diri saya dan ini bukanlah suatu ikatan biasa namun merupakan ikatan yang luar biasa. Pengaruh ikatan ini tidak terbatas hanya pada pribadiku saja namun senantiasa mencapai Dzat Maha Agung Yang membawaku kepada seorang manusia sempurna al-Mushthafa (yang terpilih, yaitu Nabi saw) yang membawa ruh kebenaran dan kejujuran ini kepada dunia. Jika hal ini hanya berpengaruh terhadap diriku, maka saya tidak akan peduli dan khawatir. Tetapi hal tersebut bukanlah demikian. Bahkan, pengaruhnya mencapai Nabi kita saw. Bahkan, hingga Allah Ta’ala sendiri!

Jadi dalam situasi demikian, jika kalian ingin menjadi bagian dari kabar suka ini, ingin menjadi bukti-bukti kebenarannya dan merasakan dahaga sejati terhadap suatu kesuksesan luar biasa dimana kalian memperoleh kemenangan di atas orang-orang yang ingkar hingga hari kiamat, maka dengarkanlah dengan penuh perhatian. Saya katakan hanya sebatas ini bahwa kesuksesan tidak akan dicapai sebelum kalian hijrah dari kondisi yang suka mencela ke kondisi yang penuh kedamaian.

Saya tidak akan berkata lebih dari ini bahwa kalian sudah menjalin hubungan dengan orang yang telah diutus oleh Allah. Dengarkanlah perkataannya dengan hati kalian dan bersiaplah untuk mengamalkannya.Sehingga kalian bukanlah dari kalangan mereka yang setelah menerima diriku malah terjatuh mengadakan penolakan terhadap diriku dan tertimpa hukuman yang abadi.” [13]

“Hendaknya juga didengarkan dengan penuh ketulusan hati bahwaada beberapa syarat pengabulan doa. Beberapa diantaranya berkenaan dengan orang yang memanjatkan doa sementara yang lainnya berkenaan dengan seseorang yang meminta permohonan doa. Adalah penting bagi seseorang yang meminta permohonan doa agar senantiasa takut terhadapAllah Ta’ala dan menjadikan perdamaian dan rasa takut kepada AllahTa’ala sebagai jalan hidupnya.

Hendaknya ia mencari ridha Allah Ta’ala dengan ketakwaan dankejujuran. Dalam hal tersebut, pintu pengabulan doa senantiasa terbukabagi dirinya. Jika seseorang membuat Allah Ta’ala murka dan berselisih dengan-Nya, maka kejahatan dan kesalahannya menjadi penghalang untuk terkabulnya doa dan pintu pengabuan doa tertutup bagi dirinya.Adalah penting bagi para sahabat kami untuk tidak membiarkan doa-doanya menjadi sia-sia dan tidak menciptakan rintangan di jalan mereka yang mungkin timbul karena sikap kasarnya.”[14]

Apa yang kita perlukan adalah untuk berjalan di atas ketakwaan karena ketakwaan sendiri merupakan sesuatu yang dapat disebut sebagai intisari Syariat. Jika Syariat dijelaskan secara singkat maka inti dari syariat adalah ketakwaan. Ada banyak tahapan dan derajat ketakwaan.Namun, jika seorang pencari kebenaran melewati tahapan dan derajat awal dengan penuh sungguh-sungguh dan dengan tekad dan ketulusan, sesuai dengan kejujuran serta keinginannya yang tulus untuk mencari, maka ia akan memperoleh derajat yang tinggi.

Allah Ta’ala berfirman: () إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “… Sesunguhnya Allah swt. hanya mengabulkan dari orang-orang yang bertakwa.” [Al-Maidah, 5:28] Bahwa, Allah Ta’ala mendengarkan doa para muttaqi (orang bertakwa). Itu merupakan janji-Nya. Dan janjinya tidak akan diingkari, sebagaimana Dia berfirman: () …“ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [Ar-Rad, 13:32]

Dengan demikian, karena kondisi ketakwaan merupakan kondisiyang kuat untuk pengabulan doa, lalu tidakkah seseorang akan tampak kurang akal jika ingin terkabul doanya namun tetap lalai dan kehilangan jalannya? Oleh karena itu, penting bagi Jemaat kita agar setiap mereka senantiasa berusaha sedemikian rupa untuk berjalan di atas ketakwaan sehingga dapat merasakan kegembiraan terkabulnya doa dan keimanan mereka pun semakin kuat.”[15]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Jangan berpikiran bahwaAllah Ta’ala ridha hanya dengan mengambil baiat saja. Itu hanya kulitnya saja sedangkan intinya ada di dalamnya. Sebagaimana kebanyakan hukum alam, ada sebuah kulit yang mengandung sebuah inti. Kulit tersebut tidak ada artinya namun intinya-lah yang bermanfaat. Demikian pula, orang yang menyatakan diri telah berbaiat dan memiliki keimanan namun tidak memiliki intisari kedua aspek tersebut di dalam dirinya, hendaknya merasa khawatir. Akan tiba saatnya ketika suatu pukulan kecil membuatnya pecah berkeping-keping dan kemudian dicampakan.

Demikian pula, seseorang yang berbaiat dan beriman hendaknya berjuang dan melihat apakah dirinya hanyalah sebuah kerang saja atau memiliki intinya. Sebelum keimanan, kecintaan, ketaatan, baiat, itikad dan menjadi seorang murid tidak memiliki intinya maka seorang pengikut Islam bukanlah merupakan seorang pengikut sejati.

Ingatlah, ini merupakan suatu perkara yang benar bahwa di hadapanAllah Ta’ala, kulit tanpa suatu inti tidak bernilai sama sekali. Ingatlah dengan baik! Kematian dapat datang kapan pun namun yang pasti kematian tentu akan datang. Oleh karena itu, janganlah merasa cukup hanya dengan pendakwaan dan kemudian merasa berbahagia. Tentu bukan suatu perkara bermanfaat jika manusia tidak menjalani kondisi seperti kematian dan tidak melewati berbagai perubahan dan perbaikan, maka ia tidak dapat memperoleh tujuan sejati penciptaannya.”[16]

Semoga kita senantiasa membentuk kehidupan yang sesuai dengan harapan Hadhrat Masih Mau’ud as dan senantiasa bergerak maju ke arah kebaikan. Semoga kita tidak membiarkan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi sia-sia, melainkan semoga kita senantiasa menjadi penerima doa-doa tersebut yang beliau panjatkan bagi Jemaat ini. Saya (Hudhur V atba) mengucapkan selamat tahun baru dan berdoa semogaAllah Ta’ala menjadikan tahun baru ini menjadi sumber keberkatan yang melimpah baik secara pribadi maupun bagi Jemaat.


[1] Malfuzat jilid 2, hal. 91-92, Edisi 1985, Terbitan UK

[2] [Malfuzhat, vol. II hal 101-102]

[3] Malfuzat jilid 2, hal. 132-133, Edisi 1985, Terbitan UK

[4] Malfuzat jilid 2, hal. 146-147, Edisi 1985, Terbitan UK

[5] Malfuzat jilid 2, hal. 265-266, Edisi 1985, Terbitan UK

[6] Malfuzat jilid 2, hal. 301-302, Edisi 1985, Terbitan UK

[7] Malfuzat jilid 1, hal. 67, Edisi 1985, Terbitan UK

[8] Malfuzat jilid 1, hal. 67, Edisi 1985, Terbitan UK

[9] Malfuzat jilid 1, hal. 67-68, Edisi 1985, Terbitan UK

[10] Malfuzat jilid 1, hal. 70, Edisi 1985, Terbitan UK

[11] [Malfuzhat, vol II hal 48]

[12] Malfuzat jilid 2, hal. 48-49, Edisi 1985, Terbitan UK

[13] [Malfuzhat, vol. I hal 103-105]

[14] [Malfuzhat, vol. I hal 108]

[15] Malfuzhat, vol. I hal 108-109

[16] Malfuzhat, vol. II hal 167

Penerjemah: Hafizhurrahman;
Editor: Dildaar Ahmad