Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis–ayyadahul-Laahu Ta’aalaa binashrihil-‘Aziiz pada 15 Januari 2016 di Baitul Futuh Morden, London

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ
الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ
نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ
آمين

Allah Ta’ala senantiasa memberikan pengamanan dan perlindungan terhadap para Wali-Nya dan mereka yang tetap teguh dalam kebaikan begitu pula anak-cucu mereka dan keturunan mereka dari generasi ke generasi dan menganugerahi banyak karunia kepada mereka dengan syarat selama anak-anak mereka dan keturunan mereka juga tetap pada jalur kebajikan dan kejujuran. Hadhrat Mushlih Mau’ud [Pembaharu yang dijanjikan, Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud, Khalifatul Masih II radhiyAllahu ta’ala ‘anhu] saat memberikan contoh ini, menyatakan, dengan menyebutkan tentang Hadhrat Ali radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Baginda Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam, di awal kenabiannya, mengundang kerabat dekat dalam suatu perjamuan makan untuk memberikan kepada mereka Pesan Kebenaran. Setelah itu, ketika beliau baru saja mulai mengatakan sesuatu, pamannya, Abu Lahab membuat semua orang berpaling dari Nabi saw dan membuat mereka semua pergi tanpa mendengarkan beliau saw.

Nabi saw cukup terkejut dan heran melihat perilaku pamannya ini tetapi beliau saw tidak kehilangan harapan. Oleh karena itu, Nabi saw lalu mengarahkan Hadhrat Ali untuk mengatur pertemuan lain dan mengundang orang-orang tersayang mereka, yaitu keluarga dekat untuk makan-minum lagi. Dalam pertemuan kedua ini Nabi saw menyampaikan pesan Islam, dan ketika beliau melakukannya, seluruh pertemuan disusul oleh keheningan. Semua orang diam. Tidak ada yang berbicara. Pada akhirnya, Hadhrat Ali ra berdiri dan menyampaikan,

 “Meski dari segi usia, saya yang termuda dari antara semua yang berkumpul di sini, namun saya bersedia untuk berdiri karena Anda, wahai Rasul Allah dan berjanji bahwa saya akan berdiri bersama Anda selamanya dalam semua hal yang Anda telah bicarakan.”

Setelah itu, penentangan di kota Mekkah mencapai puncaknya dan Nabi saw harus bermigrasi (berpindah tempat, hijrah) ke kota Madinah. Pada peristiwa ini Hadhrat Ali ra diberikan kesempatan untuk mempersembahkan pengorbanan ketika Nabi saw menyuruhnya untuk berbaring di tempat tidur beliau pada malam hijrah sehingga bila musuh melihat ke dalam rumah mereka akan berpikir Nabi saw masih di tempat tidur dan belum keluar rumah. Hadhrat Ali ra tidak mengatakan kepada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah! Musuh berada di luar dan telah mengepung rumah ini. Pada pagi hari nanti ketika mereka akan tahu dan menyadari Anda telah pergi dari sini, bukan hal yang tidak mungkin mereka akan membunuh saya.’ Sebaliknya, Hadhrat Ali pergi tidur di tempat tidur itu dengan perasaan puas dan bahagia tanpa rasa takut. Dan ketika orang-orang kafir mengetahui hal yang sebenarnya di pagi hari, Hadhrat Ali secara fisik dipukuli sampai parah tapi saat itu Nabi saw telah bermigrasi.

Hadhrat Ali ra pada waktu itu tidak mengetahui dan menyadari perihal berapa banyak ganjaran dan karunia yang akan Allah Ta’ala tetapkan untuk Dia berikan kepadanya atas pengorbanannya ini. Hadhrat Ali ra tidak membuat pengorbanan untuk mendapatkan imbalan apapun. Dia bahkan tidak mengetahui dan mempedulikan perihal karunia-karunia Ilahi atas perbuatannya. Pengorbanannya itu semata-mata untuk kecintaaanya pada Nabi dan guna meraih ridha Allah. Pada saat itu hanya Allah yang tahu perihal kehormatan dan kemuliaan apa yang akan diterima oleh Hadhrat Ali ra atas pengorbanannya itu yang dia lakukan demi kecintaan kepada Nabi saw dan guna meraih ridha Ilahi. Kemuliaan dan kehormatan tersebut tidak hanya baginya tetapi juga para anak keturunannya yang bertekun dan membiasakan diri dalam kebaikan dan kesalehan. Nikmat pertama yang Allah Ta’ala karuniakan atas Hadhrat Ali ra adalah bahwa ia diberkati dengan menjadi anak menantu Nabi saw.[1] Kemudian, karunia kedua, Nabi saw sangat memujinya di berbagai kesempatan untuk berbagai tindakan dan perbuatannya.

Suatu kali ketika Nabi saw akan berangkat untuk suatu pertempuran.[2] Sementara beliau saw dan pasukan pergi berangkat, beliau saw memerintahkan Hadhrat Ali ra untuk tetap tinggal di Madinah. Hadhrat Ali ra [biasa bertempur di garis depan] mengatakan, أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ ‘A tukhallifunii fish shibyaani wan nisaa-i?’ “Wahai Rasulullah, Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita? Nabi saw menjawab, أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى ‘A ma tardha an takuuna minnii bi manzilati Haaruuna mim Muusaa?’ – “Wahai Ali! Tidakkah engkau rela menjadi orang yang menempati status di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa?[3] Kedudukan Hadhrat Harun as tidak berkurang sedikit pun saat ditinggalkan oleh Hadhrat Musa as. Sama halnya dengan Hadhrat Ali ra. Demikianlah Allah memuliakan Hadhrat Ali ra dan memberikan kehormatan kepadanya.

[Karunia ketiga untuk Hadhrat Ali ra] Tapi tidak hanya itu, juga banyak Wali (orang suci) Islam dan para Sufi (orang-orang saleh) yang berasal dari anak keturunan Hadhrat Ali ra; dan Allah menunjukkan banyak tanda mukjizat, bantuan dan dukungan-Nya melalui tangan para Wali tersebut.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu bersabda, “Saya mendengar Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam meriwayatkan bahwa pada masa seorang raja, mungkin Harun Rasyid, ada seorang Wali/suci, bernama Musa al-Ridha rahimahuLlah dari kalangan Ahli Bait (keturunan Nabi Muhammad saw) dipenjara dengan sesuatu alasan karena suatu sebab tertentu. Tangan dan kaki orang terpenjara itu diborgol (terikat).

Pada waktu itu tidak ada kasur nyaman dengan pegas atau spiral, tapi kasur biasa diisi dengan kapas. Raja Harun ar-Rasyid suatu malam ketika sedang tidur dengan nyaman di atas kasur lalu di dalam mimpi didatangi dan bangunkan oleh Hadhrat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang dari wajah beliau nan mulia menyiratkan kemarahan. Beliau saw bertanya kepadanya, “Wahai Harun Rasyid! Engkau mengaku menyintai kami (mengaku menyintai Nabi saw dan para Ahli Bait). Bagaimanakah engkau ini, bisa tidak peduli dengan anakku yang sedang dipenjara dalam kondisi sangat panas dan terikat tangan dan kakinya sementara engkau tidur dengan tenang!”

Harun segera bangun tidur dan terkejut mendapat mimpi seperti itu. Ia segera malam itu juga datang bersama para panglimanya ke tempat penjara. Dengan tangannya sendiri ia melepaskan ikatan sang Imam Musa rahimahuLlah. Imam bertanya, “Bagaimanakah keadaan Anda karena saat ini Anda datang kepada saya sementara sebelumnya telah biasa memusuhi kami dengan sengit?” Harun menceritakan mimpinya. Ia meminta maaf karena tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya.[4]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Perhatikanlah! Ada jarak rentang waktu yang lama memisahkan masa hidup Nabi saw dan Hadhrat Ali dengan masa hidup kita? Kami telah melihat anak keturunan para raja yang mengaku tunawisma (tidak punya rumah) datang ke pintu-pintu rumah penduduk sembari memanggil-manggil untuk mengemis. Di Delhi saya sendiri melihat pembawa air yang adalah keturunan dari raja-raja Mughal yang pernah menguasai Hindustan (Pakistan, sebagian besar India, Bangladesh dan sekitarnya). Pekerjaannya berkeliling di sekitar lingkungannya menawarkan orang minum air. Tapi dia masih punya sedikitnya rasa malu sehingga ia tidak pergi mengemis dari orang-orang. Ia berusaha bersusah payah. Meski ia keturunan raja terpaksa ia bekerja sebagai orang biasa layaknya masyarakat umum.

Tapi, berbeda dengan hal itu, perhatikanlah anak keturunan Hadhrat Ali ra. Allah Ta’ala masih memperingatkan seorang Raja dan mengarahkannya melalui ru-ya untuk memperlakukan dengan baik terhadap keturunan Hadhrat Ali meskipun itu terjadi setelah banyak generasi keturunan sudah berlalu. Jikalau Hadhrat Ali ra sebelumnya waktu itu sudah memiliki pengetahuan tentang yang gaib sehingga mengetahui kehormatan dan kemuliaan yang akan beliau terima atas pengorbanan yang telah beliau lakukan, dan demi semua itu beliau menerima kehormatan tersebut dengan dan penuh harap serakah maka iman beliau ra akan tidak lebih dari sebuah jual-beli benda materi; dan hal itu menjadikan beliau tidak akan layak menerima karunia dan pahala apapun.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutkan peristiwa seorang wali Allah – seseorang suci – bahwa ia berada di sebuah geladak kapal. Seisi kapal menghadapi sebuah badai besar di laut dan kapal itu sangat dekat dengan kehancuran total. Tetapi doa orang suci itu menjadi penyebab keamanannya. Tatkala ia berdoa ia menerima wahyu yang mengatakan kepadanya, “Semata-mata untuk kepentingan engkau saja maka semua penumpang telah diselamatkan.” Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Lihatlah, hal ini tidak dapat dicapai dengan kata-kata belaka tetapi perlu tiap orang melakukan usaha keras untuk mencapai itu dan jalinan dengan Allah Ta’ala harus dia tetapkan dan pelihara seerat dan sekuat mungkin. Juga kita harus mempertahankan keberlanjutan kebaikan dan budi luhur yang telah dimulai dan dijalankan oleh para orang tua kita. Jadi, seseorang hanya bisa mendapatkan keuntungan dari menjadi keturunan orang baik, para wali dan para saleh hanya bila ia sendiri juga berbudi luhur, mempertahankan dan menegakkan kebajikan-kebajikan serta menjalin hubungan dengan Allah.”

Saya hendak menyebutkan hal-hal lain yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah sampaikan berasal dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan tentang ketatnya Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menjalankan Shalat berjamaah. Beliau as begitu merasa sayang setiap kali tidak bisa datang untuk menjalankan shalat berjamaah karena sakit dan karena hal lain serta terpaksa harus melaksanakan shalat di rumah. Tolok ukur rasa sayang beliau as terhadap shalat berjamaah ialah beliau as [dalam kondisi sakit dan tidak bisa ke masjid] akan menawarkan kepada istri beliau as dan anak-anak untuk bergabung dan shalat berjamaah di rumah. (Beliau tidak hanya shalat saja melainkan melaksanakan shalat berjamaah.)

Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri mengingatkan tentang pentingnya shalat berjamaah, “Hal ini merupakan keinginan Allah Ta’ala, bahwa Dia menjadikan semua orang seluruhnya seperti satu jiwa – ini adalah apa yang disebut kesatuan masyarakat (demokratic unity, kesatuan demokratis atau wahdatul jumhuur). Ini adalah juga tujuan agama bahwa semua orang menjadi bersatu seperti manik-manik yang terangkai pada seutas tali tunggal. Shalat-shalat yang dilakukan berjamaah bertujuan untuk membangun kesatuan sehingga semua jamaah dapat dianggap seolah-olah satu wujud. Dan perintah untuk berdiri berdampingan dalam shalat bertujuan untuk mengalirkan cahaya dari orang yang kuat dan banyak Nur(cahaya)nya kepada yang lemah. (yaitu saling memperkuat antara satu terhadap yang lain) Dalam rangka membangun kesatuan yang demokratis ini, Allah menetapkan bahwa orang-orang yang tinggal di satu lingkungan harus berkumpul bersama-sama di masjid lingkungan tersebut untuk mendirikan shalat lima waktu secara berjamaah sehingga kualitas moral (mutu atau nilai tinggi akhlaq) terbentuk dan tertukar antara satu sama lain, nur-nur (cahaya-cahaya) berkumpul, kelemahan-kelemahan dihapuskan. Dan cinta kasih bisa tumbuh antara satu sama lain dikarenakan adanya saling mengenal antara satu dengan yang lain. Saling mengenal satu sama lain adalah hal yang sangat baik karena melalui itu cinta kasih tumbuh yang mana itu merupakan pondasi/dasar dari kesatuan.

Jadi, dalam shalat berjamaah terdapat keuntungan secara pribadi dan juga bagi jamaah shalatnya. Maka dari itu, shalat-shalat mereka tidak bermanfaat bagi mereka yang tidak datang untuk shalat berjamaah di masjid atau datang ke masjid dan berjamaah tapi tidak mau mengenal satu sama lain, tidak meningkatkan cinta kasih satu dengan yang lain dan menghapus rasa permusuhan dan dendam satu sama lain. Hal demikian adanya karena tujuan shalat selain itu untuk beribadah, tetapi adalah juga guna membentuk manusia menjadi satu kesatuan, dan menyebabkan cinta dan kasih sayang untuk tumbuh antara satu sama lain, dan itu tidak tercapai jika orang-orang tidak mengenal satu sama lain dan tidak menghilangkan saling permusuhan dan sebagainya. Kita harus menjaga shalat-shalat kita dengan membentuk pemikiran bahwa kita harus menghilangkan segala bentuk perasaan negatif. Dan kita harus datang ke masjid dengan pemikiran ini. Sehingga kita dapat menjadi satu kesatuan dan dengan demikian mampu menjadi orang-orang yang shalatnya diterima oleh Allah dan menjadi orang-orang yang mendapatkan ridha-Nya.

Ada sebuah peristiwa pada diri Muawiyah yang ada hubungannya dengan doa tidak menjadi sia-sia. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan dari Hadhrat Masih Mau’ud as, “Pada suatu kali Hadhrat Muawiyah tidak bisa bangun untuk sholat subuh dan ketika bangun tidur, beliau menyadari telah melewatkan waktu shalat Shubuh. Beliau menangis sepanjang hari karena merindukan shalat shubuh. Hari berikutnya beliau melihat seseorang datang dalam mimpi membangunkannya untuk shalat Shubuh dan beliau bertanya, ‘Siapa engkau?’ Individu itu mengatakan kepadanya, ‘Saya adalah setan. Saya yang mencegah Anda bangun tidur pada Shubuh hari sebelumnya. Saya datang untuk membangunkan Anda agar shalat.’

Muawiyah bertanya, ‘Apa urusannya dengan Anda? Apa hubungannya dengan Anda membangunkan orang agar shalat?’ Setan menjawab, ‘Doa-doa Anda kemarin karena Anda tetap tidur saat waktu Shubuh membuatku merasa kepanasan dan membuatku merasa terpanggil karena ketika Anda tidak teguh dalam mendirikan shalat maka Anda menangis sepanjang hari dengan sedih. Allah berfirman, “Berilah ia pahala berlipat ganda dari shalat berjamaah.” Allah memerintahkan para malaikat agar memberikan pahala berlipat ganda kepada Anda disebabkan tangisan Anda itu.’

Setan mengatakan, ‘Saya merasa sangat terguncang dan kecewa saat melihat Anda menerima begitu banyak tambahan pahala setelah saya berhasil membuat anda terhalang bangun tidur untuk shalat Shubuh. Jadi, hari ini saya datang untuk membangunkan Anda supaya Anda tidak mendapatkan pahala yang lebih besar.’

Pendeknya, setan tidak akan meninggalkan kalian selama usahanya tidak gagal [manusia menemukan cara untuk menggagalkan usahanya] sampai ia putus asa dengan itu dan dia melarikan diri. Jadi, kita semua juga harus berusaha untuk membuat Setan putus asa di setiap kesempatan, memperoleh kesenangan Allah sejauh mungkin sesuai kemampuan kita, berupaya untuk mengikuti semua perintah-Nya dan menjaga shalat-shalat kita dan untuk melaksanakannya tepat waktu.”

Kadang-kadang beberapa orang bersikap tergesa-gesa dan merumuskan suatu pendapat tanpa mengerti poin-poin penting dan tanpa menggali secara mendalam dan sebenarnya dari sesuatu hal. Dan kemudian, sebagai dampaknya iman beberapa orang yang lemah juga menjadi terpengaruh [menjadi berprasangka buruk]. Hadhrat Mushlih Mau’ud menyebutkan sebuah peristiwa, “Setelah pada suatu pertemuan jamuan makan-minum Walimah, saya lihat seseorang sedang minum air dengan tangan kiri dan saya mengatakan kepadanya untuk tidak melakukannya. Saya katakan, ‘Minumlah dengan tangan kanan kecuali ada beberapa alasan yang bisa dibenarkan.’ Dia mengatakan, ‘Hadhrat Masih Mau’ud as juga biasa minum air dengan tangan kiri.”

Padahal ada alasan bagi beliau as untuk melakukan hal ini yaitu bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah jatuh di masa mudanya dan tangan kanan beliau as terluka begitu parah sehingga menjadi lemah. Kelemahannya ialah sedemikiran rupa sampai-sampai meskipun beliau as mampu membawa gelas dengan tangan kanannya itu tapi tidak mampu mendekatkan gelas itu ke mulut beliau untuk minum. Namun demikian untuk memenuhi tuntutan sunnah [praktek Nabi saw], beliau as akan minum dengan cara tangan kiri memegang gelas tapi sembari tangan kanannya akan memberikan dukungan [menempelkan pada tangan kiri tersebut].

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebutkan kelemahan tangannya kanan sendiri juga. Beliau bersabda, “Sekali waktu, di depan beberapa orang penentang, yang datang untuk beberapa diskusi, saya memegang segelas atau secangkir teh dengan tangan kiri dan setelah melihat ini mereka membuat kritik, ‘Anda tidak melaksanakan sunnah Nabi saw dan Anda minum dengan memegang cangkir dengan tangan kiri.”

Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri mengatakan, “Sikap tergesa-gesa dan berpikir buruk memaksa orang untuk mengkritik saya sedangkan tangan saya lemah karena telah menderita cedera itu dan saya tidak bisa mengambil cangkir ke mulut saya untuk minum dari itu dengan tangan kanan saya. Namun demikian saya pasti selalu menempatkan tangan kanan saya di bawah tangan yang memegang gelas/cangkir tempat saya minum darinya.”

Jadi sementara tergesa-gesa dan berpikir buruk membuat para penentang mengkritik kita begitu pula mereka yang menjadi anggota Jemaat kita tapi kurang dalam pemahaman dan bersikap tergesa-gesa telah membuat mereka berpikir Hadhrat Masih Mau’ud as melakukan ini dengan sengaja. Padahal mereka seharusnya berupaya untuk menemukan alasan di balik hal ini dan ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah melarang mereka [minum dengan tangan kiri] maka mereka harus berhenti. Keputusan tergesa-gesa tersebut itulah yang menyebabkan bid’ah dan komentar yang salah.

Sekarang sehubungan dengan tawakkal, (percaya dan menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah), saya ingin menyebutkan peristiwa lain. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya telah mendengar ini dari Hadhrat Masih Mau’ud as berkali-kali. Ada satu hal yang Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan sangat kagum tentang sebuah ucapan Sultan Abdul Hamid Khan dari Turki. Ketika Sultan Abdul Hamid meminta saran dan musyawarah kepada para menterinya perihal perang dengan Yunani, mereka menyampaikan banyak keberatan dan alasan. Pada kenyataannya itu adalah keinginan Sultan bahwa perang harus dilakukan tetapi para menterinya itu tidak ingin hal itu terjadi. Jadi mereka mengatakan kepadanya, ‘Meskipun ini dan itu dan hal-hal lain siap-sedia ada hal yang sangat penting tidak tepat sehingga kita tidak bisa pergi berperang.’

Kemungkinan besar apa yang mereka katakan adalah bahwa semua kekuatan Eropa siap untuk harus membantu Yunani [jika berperang dengan Turki] dan kita tidak mampu untuk melakukan sesuatu guna menghadapinya. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa mengatakan bahwa ketika para menteri menyampaikan saran mereka dan menyebutkan kesulitan-kesulitan dan mengatakan, ‘hal seperti itu dan hal seperti ini tidak tersedia atau tidak bisa diatur’, Sultan Abdul Hamid menjawab, ‘Kita harus meninggalkan beberapa ruangan, sedikitnya satu ruangan untuk Tuhan juga.’ Hadhrat Masih Mau’ud as sangat menyenangi kalimat dari Sultan Abdul Hamid ini dan biasa untuk mengatakan, ‘Saya benar-benar sangat menyukai pernyataannya itu.’

Jadi, itu satu keharusan bagi seorang beriman bahwa dalam rencana dan usahanya ia harus meninggalkan suatu ruangan untuk Tuhan juga. Pada kenyataannya suatu kebenaran bahwa seorang beriman atau setiap individu siapa saja tidak pernah sampai pada tahap yang mana dia bisa mengatakan sepenuhnya siap dan sempurna serta tidak ada ruang kelemahan yang tersisa. Jika seseorang berpikir bahwa ia telah membuat rencana yang sempurna sehingga tidak ada kelemahan atau ruang yang tersisa itu akan menjadi tanda kebodohan. [kebodohan pertama]

Demikian pula Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa merupakan suatu kebodohan juga untuk benar-benar meninggalkan segala cara dan sarana yang diperlukan untuk tercapainya berbagai hal [meninggalkan rencana, ikhtiar, usaha dan upaya untuk meraih sesuatu]. Ini juga akan menjadi suatu kerusakan jika seseorang meninggalkan semua karunia Allah dan semua kemampuan. [kebodohan kedua]

Negara-negara Barat, terlibat dalam kebodohan yang disebutkan pertama dengan telah melupakan Allah dan hanya mengandalkan teknologi mereka saja. Di sisi lain, sementara itu, umat Muslim jatuh dalam kebodohan yang kedua dan telah menerapkan suatu konsep yang benar-benar salah dalam hal tawakkal (mengandalkan Tuhan) dan telah meninggalkan penggunaan tangan dan kaki mereka untuk ikhtiar/bekerja. Secara umum negara-negara Barat telah melupakan Allah; sementara umat Muslim umumnya telah berhenti berusaha untuk melakukan sesuatu dan berhenti mengerahkan segala upaya dalam nama konsep palsu mereka mengenai tawakkal.

Sebagai akibatnya, keraguan-keraguan seperti ini terus timbul di benak para muda-mudi, “Mungkin bangsa-bangsa yang maju memperoleh kemajuan karena mereka telah menjauhkan diri dari Allah sedangkan orang-orang Muslim mengalami penurunan karena agama mereka.” Faktanya adalah bahwa umat Islam telah menjadi malas dan menerapkan konsep yang salah perihal tawakkal (ketergantungan pada Allah). Mereka telah kehilangan reputasi dan posisi mereka dan telah menjadi korban dari kelemahan. Dan bahkan tatkala mereka mencoba untuk melakukan sesuatu tapi pendekatan yang mereka lakukan benar-benar salah.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa sebuah ayat Al-Qur’an menyebutkan: وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ ‘Rezeki kalian ada di langit, dan juga apa-apa yang dijanjikan kepada kalian.’ (Surah Adz-Dzariyaat, 51:23). Orang yang jahil [tuna ilmu, bodoh, karena kebodohannya] tersesatkan/terkelabui dalam memahami firman ini lalu ia meninggalkan setiap mata rantai sarana (usaha dan rencana) guna mencapai sesuatu hal. Orang-orang Muslim beranggapan ayat ini berarti, ‘Rezeki kalian telah Allah takdirkan ketentuannya di langit dan karena itu tidak perlu melakukan apa-apa. Allah Ta’ala Sendiri, yang akan membuat semua pengaturan dan mengirim segala sesuatunya kepada kalian.’ Padahal Allah menyatakan dalam Surah al-Jumu’ah, (62:11): فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ ‘Bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah’, … Apa arti dari ‘Bertebaranlah di muka bumi guna mencari karunia Allah’ jika bukan pergi keluar dan mengerahkan upaya serta memanfaatkan kekuatan, kemampuan dan segala potensi kalian? Ini adalah titik pandangan yang sangat halus bahwa di satu sisi bagi seseorang ada izin untuk menggunakan kemampuan, panca indera, rencana dan usaha sementara di sisi lain tuntutan tawakkal (ketergantungan pada Allah), juga harus dipenuhi. Inilah ciri khas sejati seorang beriman yaitu menaruh perhatian pada melakukan rencana dan usaha serta menggunakan sarana-sarana lahiriah secara sempurna, lalu bertawakkal kepada Allah. Dan dalam semua hal ini [antara usaha/ikhtiar dan tawakkal], Setan menemukan banyak celah dan ruang untuk memunculkan keraguan. Hal ini penting untuk membedakan antara obyek-obyek (sarana-sarana) duniawi dan Tuhan. Setan mencoba untuk melemahkan iman dengan masuk di antara itu.

Beberapa orang menjadi mangsa ujian dan percobaan dengan menjadi begitu terpengaruh dan tergantung pada (penyembah) sarana-sarana dan kemampuan diri sementara itu sebagian yang lain berpikir kekuasaan dan kekuatan yang Allah berikan kepada mereka itu tidak ada pengaruh dan tidak ada gunanya. Padahal, Nabi saw biasa pergi untuk pertempuran dengan segala persiapan dan peralatan serta perlengkapan. Senjata, kuda, perisai, akan beliau saw bawa semua bersama beliau. Bahkan, kadang-kadang beliau saw memakai dua lapis baju besi pelindung tubuh untuk melindungi tubuh beliau. Beliau juga akan membawa pedang di punggungnya padahal Allah telah berjanji untuk menjaganya, “وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ” (5:68) ‘Dan Allah akan melindungi engkau dari manusia.’ Jadi, perintahnya ialah pertama, melakukan upaya terbaik menggunakan kapasitas dan kemampuan serta kecakapan yang Allah telah anugerahkan; kedua bertawakkal-lah setelah itu. Demikianlah, perintahnya ialah bertawakkal dalam segala hal yang telah dilakukan upaya dan usaha yang bersungguh-sungguh dan keras, dan bantuan dan pertolongan Allah tidak datang kecuali setelah melakukan ini.

Ada salah satu wahyu yang diterima oleh Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan,

‘Raja-raja akan mencari berkah dari pakaian engkau.’

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah memberikan penjelasan yang sangat indah mengenai ini yang sekarang saya hendak jelaskan. Beliau ra mengatakan, “Allah sendiri telah mengungkapkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Para Raja akan mencari berkah dari pakaian engkau.’ Dan ketika saat itu tiba bahwa Para Raja akan mencari berkah dari pakaian Hadhrat Masih Mau’ud as, kebodohan jenis apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak berusaha untuk menerima dan memperoleh berkat dari kalian [hadirin Jemaat yang duduk di depan Hudhur II ra]? Pakaian adalah benda tidak bernyawa belaka tetapi kalian adalah orang-orang yang hidup. Para Raja akan mencari berkah dari orang-orang benar dalam Jemaat ini.

Tidakkah kalian lihat bagaimana Imam Abu Hanifah yang hidup jauh dari masa Nabi saw [lebih dari 100 tahun] … tapi raja-raja di Baghdad biasa untuk mencari berkah dari beliau. Bahkan, mereka tidak hanya mencari berkah dari beliau rha saja tetapi mereka juga mencari berkah bahkan dari murid-murid beliau. Maka dari itu, kalian harus tetap memohon kepada Tuhan agar setelah Dia anugerahi kalian kekuatan (menjadi penguasa/pemegang pemerintahan), kalian tidak mulai menjadi tiran (zalim, kejam, penindas) dan mulai melakukan perbuatan yang melampaui batas.

Jika nanti kalian menjadi penindas setelah mendapatkan kekuatan dan kekuasaan, maka perbuatan baik dan lemah lembut kalian pada hari ini juga akan menjadi tidak bernilai. Tuhan akan mengatakan kepada kalian, ‘Pada masa sebelumnya kalian tidak menjadi penguasa dan tidak memiliki kekuatan karena kalian mengalami kesulitan; sementara sekarang Aku telah memberikan kekuatan kepada kalian tapi sekarang kepala kalian sudah mulai gatal dan kalian ingin menggaruk-garuknya (terpancing untuk bertindak tidak adil dan menimbulkan kesulitan kepada orang lain). Maka dari itu, pada saat mencapai kekuatan, bersamaan dengan merayakan kegembiraan, kalian harus terus-menerus beristighfar (mencari pengampunan dari Tuhan) juga dan kalian harus berdoa kepada Allah untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

Ini adalah hal yang sangat penting. Hari ini kita berbicara tentang keamanan dan perdamaian tetapi ketika segala sesuatu tersedia bagi kita dan para raja menjadi Muslim Ahmadi [masuk Jemaat] dan mengusahakan tabarruk maka pada waktu itu akan menjadi penting bahwa kita menyebarkan perdamaian, keamanan dan cinta kasih karena jika tidak demikian maka segala sesuatu yang kita bicarakan sekarang [tentang perdamaian, toleransi dan sebagainya] akan dianggap sebagai ucapan terpaksa karena keadaan dan lingkungan semata.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Jarak masa tidak jauh ketika ilham yang diterima oleh beliau as ini, ‘Raja-raja akan mencari berkah dari pakaian engkau’ dengan telah berhentinya sistem kerajaan [monarki, kingdom banyak dihapus dan diganti dengan Republik] secara setahap demi setahap. Tetapi, tetapi presiden sebuah Republik dan Pemimpin para menteri (Perdana Menteri) adalah juga Raja. Jika Presiden dan Perdana Menteri Rusia menjadi Muslim maka statusnya tidak kurang dari seorang raja dan mereka akan mencari berkah dari pakaian Hadhrat Masih Mau’ud as. Tapi mereka, para Raja itu hanya akan mencari berkah dari pakaian Hadhrat Masih Mau’ud as ketika Anda, para Ahmadi mulai mencari berkah dari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as.”

Ini adalah titik pandangan penting. Baca buku Hadhrat Masih Mau’ud as, peningkatan pengetahuan. Memahami prinsip-prinsip Islam yang benar. Beliau ra mengatakan, “Ketika Anda mulai untuk mencari berkah dari buku-buku dari Hadhrat Masih Mau’ud as Allah sendiri akan membuat pengaturan sehingga Para Raja akan mulai untuk mencari berkah dari pakaian beliau as.”

Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengarahkan Anjuman untuk membuat pengaturan yang tepat guna menjaga barang-barang tabarruk seperti pakaian dan barang-barang lain dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Sekarang, Alhamdulillah banyak pekerjaan yang terjadi di Rabwah dan Qadian. Beliau ra mengarahkan bahwa beberapa ulama harus dipanggil untuk memahami bagaimana untuk menjaga pakaian dari Hadhrat Masih Mau’ud selama berabad-abad. Atau Beliau ra mengatakan bahwa benda-benda tabarruk peninggalan Hadhrat Masih Mau’ud as bisa jadi dapat dikirim ke negara-negara di mana pakaian tidak diserang oleh bakteri misalnya mereka dapat dikirim ke Amerika sehingga generasi mendatang dapat mengambil manfaat dari berkah terkait dengan barang-barang tersebut.

Penerjemah: Bahasan selanjutnya ialah mengenai tiga cincin.

Khotbah Jumat ini cukup panjang. Namun, bagian yang membahas Indonesia perlu diangkat di sini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, “Saya menemukan sebuah tulisan lama Hadhrat Masih Mau’ud (sebagai) baru-baru ini dan saya mengirimnya ke Indonesia sehingga dapat disimpan aman di sana dan agar Jamaat di sana semoga mendapatkan berkah dari itu.”

Sekarang hanya mereka yang ada di Indonesia [Jemaat Indonesia] dapat memberitahu kami [Hudhur V atba] apakah mereka menjaga dengan aman dan melindungi tulisan tersebut atau tidak. Tapi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa kata-kata wahyu yang menyebutkan soal pakaian, yaitu Allah telah mengatakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Raja-raja akan mencari berkah dari pakaian engkau’ membuat kita harus menjaga pakaian Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengirimnya ke tempat yang tidak menurunkan kualitas pakaian tersebut sehingga dapat tetap aman untuk jangka waktu yang lebih lama [berabad-abad, dan seterusnya].

Penerjemah: Bahasan selanjutnya ialah mengenai nasehat dan petunjuk kepada kaum muda Jemaat.

Kemudian beliau ra mengarahkan para pemuda dan mengatakan, “Para pemuda harus maju dan memahami tanggung jawab mereka karena mereka mampu merancang inovasi modern terbaik dan dikarenakan mereka berpendidikan dan pada mereka ada ilmu-ilmu terbaru (update/modern). Mereka harus menggunakan pengetahuan, pendidikan dan pemahaman mereka itu untuk melayani/mengkhidmati Islam sehingga mereka dapat melihat Islam ketika penduduk berbagai negara yang banyak secara cepat beriman kepada Nabi Muhammad saw dengan usaha mereka.”

Penerjemah: Bahasan selanjutnya ialah mengenai penyusunan buku, editing, percetakan buku dan sebagainya.

Hadhrat Khalifatul-Masih (aba) mengumumkan di akhir khotbah akan mengimami beberapa shalat Jenazah. Dua jenazah yang hadir dan satu gaib/tidak di tempat itu. Salah satunya adalah dari Ch Abdul Aziz Dogar Sahib yang tinggal di sini di Coventry sejak beberapa waktu. Beliau meninggal pada 11 Januari 2016 pada usia 87 tahun. Inna lil-lahay wa inna elaihay rajayoon. Beliau putra dari Hadhrat Master Charagh Din Sahib ra, Sahabat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Charagh Din Sahib ra, memiliki kehormatan menjadi teman sekelas Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib ra. Ch Abdul Aziz Dogar Sahib diberkati untuk melayani Jama’at sepanjang hidupnya. Semoga Allah melimpahkan kasih dan Pengampunan-Nya kepadanya.

Kedua, Ny. Iqbal Naseem Azmat Butt Sahiba yang meninggal pada 13 Januari 2016. Dia adalah seorang Moosi. Semoga Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya pada dirinya.

Ketiga, shalat jenazah gaib untuk : Mukarrama Ny. Siddiqa Sahiba istri dari Dervesh dari Qadian yang meninggal pada tanggal 6 Januari 2016. Inna lil-lahay wa inna elaihay rajayoon. Semoga Allah mengangkat derajatnya di surga.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono


[1] Hadhrat Ali (nama asli Haydar, Singa) ibn Abu Thalib ibn Syaiba (Abdul Muthalib) ibn Hasyim, menikah dengan Siti Fathimah binti Nabi Muhammad saw ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim pada tahun ke-2 Hijrah. Abdullah, ayahanda Nabi saw adalah bungsu/putra terakhir dari 10 anak laki-laki Abdul Muthallib. Jadi, Abdullah adik dari Abu Thalib. Abu Thalib berputra empat yaitu Thalib, Aqil, Jafar dan Ali; yang lainnya 3 perempuan. Beliau nama aslinya Abdu Manaf (riwayat lain menyebut Imran). Dipanggil Abu Thalib (ayah si Thalib), sesuai nama putra sulungnya.

[2] Perang Tabuk, 778 KM dari kota Madinah, waktu perjalanan sebulan.

[3] Shahih al-Bukhari, Sunan At-Tirmidzi, Musnad Ahmad

[4] Untuk diketahui bahwa menurut catatan sejarah, dua raja dinasti Abbasiyah, yaitu Mahdi (ayah Harun ar-Rasyid) dan anaknya, Harun ar-Rasyid pada saat memerintah di masa yang berlainan, memang pernah memenjarakan Musa al-Kazhim, putra Ja’far ash-Shadiq, putra Muhammad al-Baqir, putra Ali Zainul Abidin, putra Husain, putra Ali ibn Abi Thalib. Hadhrat Musa al-Kazhim keturunan Siti Fatimah, istri Ali ibn Abi Talib. Jadi, Musa al-Kazhim dipenjara oleh rajayang berlainan. Riwayat yang menyebutkan Musa al-Kazhim dipenjara oleh raja Abbasiyah lalu dibebaskan karena sang raja didatangi oleh Nabi saw atau Hadhrat Ali ra melalui mimpi, insya Allah akan dicarikan referensi teks Arabnya. Beberapa tahun kemudian putra Harun ar-Rasyid, yaitu Ma’mun ar-Rasyid saat memerintah juga menjadikan Ali ar-Ridha putra Musa al-Kazhim agar dibawa dari Madinah untuk tinggal di istana (di Merv, Iran Utara) tapi dengan pengawasan dan pembatasan.

(Visited 23 times, 1 visits today)