Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

pada 08 Juli 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

 

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Saat ini saya akan menyebutkan beberapa hal dalam keterangan kutipan-kutipan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu dan setiap poin rujukan ini adalah penting dan berbeda satu dengan yang lain. Seluruh poin rujukan mengandung pedoman, bimbingan dan nasihat di dalamnya. Sebagaimana diketahui, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan di dalam rujukan-rujukan ini, beberapa hal yang juga mengutip dari Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.

Hal pertama adalah tentang Da’wah dan Tabligh. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra setelah adanya pemisahan (antara India dan Pakistan pada 1947), mengirim pesan melalui surat kepada Jemaat kita di Qadian dalam sebuah kesempatan Jalsah Salanah – beliau menarik perhatian Jemaat tentang Tabligh. Beliau berkata, “Tugas kalian untuk bertabligh. Maka dari itu, ada satu keharusan untuk berusaha keras dalam hal ini. Tidak diragukan lagi, meskipun Allah Ta’ala telah memberitahu Hadhrat Masih Mau’ud as dalam wahyu-Nya, ‘Akan Aku sampaikan pesanmu ke seluruh penjuru bumi.’[1]

Dia juga berfirman, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menegakkan nama engkau dengan kehormatan sampai Dia mewarisi bumi dan siapa saja yang ada diatasnya (dunia berakhir), dan Dia akan sampaikan pesanmu ke seluruh penjuru dunia.’[2]

Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala telah menjanjikan untuk melakukan penyampaian seruan, pesan dan nama Hadhrat Masih Mau’ud as ke seluruh penjuru bumi. Memang benar itu adalah sebuah janji Allah dan Ia telah memenuhi janji-Nya dan akan tetap memenuhi janji-Nya. إن شاء الله insya Allah. Namun bersamaan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud as mengarahkan perhatian Jemaat pada tanggungjawab untuk bertabligh sebagaimana Tabligh yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw dengan bersabda, ‘Kalian harus meningkatkan pengetahuan kalian dengan mengutip dan mempelajari tulisan-tulisan saya dan kemudian bertablighlah ke penjuru dunia sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah saw.’” Maka dari itu, agar dapat memperoleh manfaat yang maksimal dan mendapat rahmat dari janji-janji Allah Ta’ala tersebut maka kita harus melakukan usaha semaksimal mungkin pula.

Tak syak lagi, meskipun janji-janji Allah memang ada, namun Allah Ta’ala meletakkan tanggung jawab di atas bahu mereka yang membuat perjanjian saat berbai’at dengan Nabi-Nya; sehingga mereka dapat ambil bagian secara luas dan berlomba untuk dapat memenuhi janji-janji itu dan mendapatkan karunia-karunia-Nya dengan berlimpah. Ketika ini mereka lakukan, maka Allah Ta’ala sesuai dengan janji-janji-Nya menambahkan berkat-Nya kepada segenap perbuatan mereka tanpa batas dan juga menyediakan bagi mereka sarana-sarana baru untuk bertabligh dan juga penyebaran agama. Kita lihat bahwa Allah Ta’ala telah membuka banyak cara, kesempatan dan jalan yang baru dalam bertabligh bagi kita.

Sekarang saya akan menyebutkan bagian pesan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengenai Tabligh yang melalui surat beliau kirimkan ke Qadian. Dalam pesan itu beliau menarik perhatian para Ahmadi yang ditinggalkan di Qadian akan kewajiban Tabligh yang sangat penting meskipun Jemaat di sana hanya sedikit dan sumber daya manusia Jemaatnya lemah dengan menegaskan kepada para Darwisy di Qadian keadaan mula-mula Tabligh oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, “Meskipun kalian hanya ada 313 orang, namun kalian tentu ingat ketika dengan perintah Allah, Hadhrat Masih Mau’ud as memulai pekerjaannya di Qadian ini, hanya ada 2 atau 3 orang di Qadian. Tidak ragu lagi, 300 orang pasti jauh lebih banyak dari 3 orang. Jumlah total penduduk Qadian pada saat Hadhrat Masih Mau’ud as memproklamirkan diri sebagai Masih Mau’ud, adalah sebanyak 1.100 orang. Rasio (perbandingan) populasi 1100 dan 3 orang adalah 366 banding 1. Jika pada saat ini (1947) total populasi di Qadian taruhlah 12.000, maka rasio jumlah Jemaat di Qadian dengan seluruh populasi adalah 36 banding 1 (atau 12000:313).

Sedangkan sebelumnya, rasionya 366 banding 1. Itu berarti kekuatan kalian meningkat 10 kali lipat semenjak didirikannya Jemaat ketika Hadhrat Masih Mau’ud as memulai Jemaat. Pada masa awal itu juga tidak ada Jemaat lain di luar Qadian. Sementara sekarang ada puluhan Jemaat lain di luar Qadian. Sekarang tanggung jawab kalian untuk membangunkan mereka, mengorganisasi mereka, menegakkan mereka dengan semangat baru, dan menghimpun kekuatan mereka dengan niat agar mereka dapat menyebarkan pesan Islam dan Ahmadiyah ke seluruh penjuru India.”[3]

Jika para Ahmadi ada ribuan di Qadian, maka akan sangat mungkin rasio penduduk Qadian dengan warga Ahmadinya akan sama seperti sebelumnya. Sebab, jika populasi Ahmadi meningkat maka populasi yang lainnya juga meningkat dengan rasio yang sama di Qadian. Namun sumber daya-sumber daya kita telah membaik dari sebelumnya dan kita memiliki kontak yang lebih baik sekarang, dengan karunia Allah Ta’ala.

Sekarang nama Jemaat tersebar ke penjuru India melalui berbagai sarana dan saluran dengan karunia Allah. Namun mereka yang membaktikan hidupnya, para muballigh dan juga yang lainnya yang merupakan bagian dari penyebaran pesan Jemaat harus secara individu meningkatkan usahanya untuk menyebarkan pesan Jemaat. Dalam menyebarkan pesan ini, ada anggota Jemaat yang mungkin akan dipukuli dan ditentang dan kesulitan serta penderitaan, terlepas dari semuanya itu, kita harus menyebarkan pesan ini dengan kebijaksanaan dan kesabaran, Insya Allah.

Jemaat di negara-negara lain di dunia juga harus mengedepankan hal bahwa Allah Ta’ala telah menginstruksikan kita untuk menyebarkan dakwah dan meluaskan batas-batas jangkauannya. Ini juga perintah yang ada di dalam Al Quran. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda hal ini. Ini pulalah perintah yang Allah telah berikan kepada Hadhrat Rasulullah saw. Namun untuk melakukan hal ini, kita harus merencanakannya dengan baik di seluruh negara dan dimana saja sehingga dapat memperluas pekerjaan ini.

Dan yang merupakan tugas terbesar adalah menangani para mubayyin baru yang memasuki Jemaat. Pada beberapa tempat, pesan Tabligh tersampaikan dengan baik, dan ada juga orang-orang yang masuk ke dalam Jemaat. Namun kemudian mereka tidak diurus dan dirawat dengan baik sehingga kita kehilangan mereka.

Di India, kebanyakan yang menerima Ahmadiyah adalah orang-orang desa dan miskin. Ketika para penentang menyerang mereka, orang-orang yang iman lemah ketakutan dan menampakkan kelemahan. Para pengurus harus membuat perencanaan mengunjungi para Mubayyi’ baru dan menyemangati mereka. Dengan karunia Allah, bagian tabligh telah melakukan kerja yang baik. Selain itu, ada bagian lain pada Nazharat Islah-o-Irshad dan itu ialah departemen Nurul Islam yang bekerja dalam corak aktif dalam Tabligh dengan berbagai cara dan sarana, yaitu lewat telepon, surat kabar, dan juga sarana-sarana lain. Begitu juga lewat Waqfi Jadid yang perhatian pada Tabligh, banyak pekerjaan sempurna melaluinya. Semua departemen ini dan juga para pengurus lain harus menjangkau pada semua daerah tempat para mubayyin baru diusik, diganggu dan menderita penganiayaan; dan menjalin kontak dengan mereka. Meskipun daerah tersebut adalah desa yang sangat kecil, para pengurus harus menjangkau ke sana.

Begitu juga para Muballigh di Afrika dan para anggota Jemaat lainnya juga harus memperelok dan mengeratkan hubungan mereka dengan para mubayyin baru. Lakukanlah perencanaan yang lebih baik untuk mengetahui dan mengenali para Ahmadi setempat di tiap daerah. Sebab, seperti yang telah saya sebutkan di dalam Daras atau Khotbah saya, para penentang kita dengan segera menjangkau wilayah-wilayah tempat para mubayyin baru berada untuk menciptakan kebencian terhadap Ahmadiyah di hati orang-orang. Namun demikian, inilah yang harus dilakukan di tiap tempat dan juga di daerah-daerah miskin dimana lebih banyak orang bai’at dan menjadi mubayyin baru Ahmadiyah

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan peristiwa lain yaitu tentang Tn. Khawaja Kamaluddin. Beliau termasuk yang berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun ketika pada masa proses menuju pemilihan Khalifah kedua, dia berada di bawah ujian dan menjadi pemimpin yang menolak Khilafat. Bagaimanapun, ia berkeinginan meraih kepemimpinan yang ia dapatkan dengan melepaskan diri dari Khilafat [dengan menjadi salah satu pendiri Anjuman Isyaat Islam Ahmadiyah di Lahore].

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menggambarkan bagaimana Tn. Khawaja Kamaluddin meningkatkan pengetahuannya dan apa rahasia ceramah-ceramah yang dipelajarinya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Penyebab utama keberhasilan Tn. Khawaja Kamaluddin adalah ia mempersiapkan ceramah-ceramahnya dengan mempelajari dan mengutip dari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian, ia akan datang ke Qadian dan berkonsultasi dengan Hadhrat Khalifatul Masih I ra. Juga berkonsultasi dengan orang-orang yang lain kemudian ia pun menyelesaikan ceramahnya. Lantas ia akan pergi ke kota-kota yang berbeda di India dan memberikan ceramahnya dengan sukses.”

“Tn. Khawaja Kamaluddin pernah berkata, ‘Jika seseorang menyiapkan 12 pidato secara baik maka orang tersebut akan bisa memiliki kemahsyuran yang tak tertandingi.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata, “Tn. Khawajah Kamaluddin hanya mempersiapkan tujuh buah ceramah ketika beliau pergi ke Inggris. Dan dengan tujuh ceramah tersebut saja beliau telah mendapatkan kemahsyuran yang cukup.”

“Saya percaya jika satu pidato saja dipersiapkan secara sungguh-sungguh dan baik, maka akan diingat dengan baik dan memiliki kesan indah di hati orang-orang. Tapi yang pertama adalah buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as yang wajib untuk dipelajari, kemudian memahaminya dan menyiapkan ceramah dengan mengutip dari buku-buku beliau tersebut.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan lebih jauh, “Demikianlah, pada masa-masa dahulu, ada guru berbeda untuk bagian-bagian Bahasa yang berbeda. Ada guru untuk urusan Sharf dan juga ada untuk bagian Nahwu. Ada pengajar khusus ‘Kachi Roti’ (roti setengah matang), dan ada juga ‘Paki Roti’ (roti matang).”

Dan sekarang, zaman itu berlanjut kembali. Dunia telah semakin maju dalam ilmu pengetahuan. Ada spesialisasi-spesialisasi (pengkhususan bidang) yang dilakukan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata, “Memang seharusnya seperti itu bahwa para pemberi ceramah mempersiapkan ceramah mereka dengan baik dan matang. Mereka menyampaikan ceramah-ceramah mereka di berbagai tempat yang berbeda. Hasilnya, ceramah tersebut akan sesuai berdasarkan tujuan dan pelajaran Jemaat. Dan, ketika kami sedang duduk di Markas ini pun kami akan tahu apa saja yang tengah disampaikan oleh para penceramah kepada orang-orang di berbagai tempat. Pidato-pidato itu akan menjadi yang pokoknya. Namun jika penceramah ingin berbicara dalam tema yang diperlukan di tingkat lokal, bisa saja dia sampaikan pidato seputar beberapa tema lainnya.”[4]

Prinsip-prinsip panduan yang berharga ini berlaku pula bagi para muballigh dan para penceramah, dan juga bagi mereka yang biasa menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah (yang berdasarkan pengetahuan). Hal ini akan dapat mengesankan para profesor, para sarjana agama, dan juga mereka yang berkeberatan pada agama – jika ceramah-ceramah dipersiapkan dengan cara seperti ini.

Beberapa hari lalu di sini ada sebuah program di bawah departemen Tabligh dalam Jemaat. Seorang sarjana Yahudi menghadirinya. Ia juga telah menuliskan banyak buku. Salah satu mubaligh kita yang masih muda menyampaikan ceramah yang dipersiapkan dengan sangat baik. Profesor Yahudi tersebut sangat terkesan dengan ceramah mubaligh kita tersebut. Si professor Yahudi ini [secara licik] seperti berbicara mendukung Islam, namun sebenarnya juga berargumen melawan Islam. Mubaligh kita dengan sangat baik membantah argumen-argumennya. Nantinya si profesor Yahudi ini kemudian mendatangi saya dan memuji serta mengatakan, “Muballigh muda Anda sangat teguh dan cerdas.”

Sebenarnya orang-orang yang menyerang Islam mampu membantah dalil-dalil para ulama non Ahmadi, atau para ulama itu yang tidak punya dalil yang tepat. Sementara itu, Jemaat Ahmadiyah, dengan karunia Allah, mempunyai ilmu kalam yang Dia persiapkan dan sediakan itu semua bagi Hadhrat Masih Mau’ud as dan dengan perantaraan beliau as, Jemaat bisa menutup mulut para sarjana non Ahmadi ini. Artinya, jika para Ahmadi mempersiapkan diri dengan baik, maka tidak seorang pun yang punya argumen untuk membantah argumen mereka. Karena itu, kita harus mempelajari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as yang hasilnya kita dapat meningkatkan pengetahuan kita dan memperbaiki keruhanian kita juga.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa di masa dulu orang-orang Jemaat sangat giat dan tekun dalam bertabligh. Beliau ra berkata: “Ketika saya masih muda, saya memulai sebuah majalah Tasyhidzul Adzhaan dengan bantuan beberapa teman. Salah satu dari temanku itu adalah Tn. Chaudry Fateh Muhammad Sayyal (pernah bertugas di Britania). Putra beliau menikah dengan Chaudry Abdullah Khan (Tn. Chaudry Abdullah Khan adalah adik Tn. Chaudry Zafrullah Khan).

Istri Tn. Abdullah Khan pernah berkata kepadaku, ‘Ketika Hudhur menjadikan ayah saya (Chaudry Fateh Muhammad Sayyal) sebagai Nazir Ala dalam lembaga Sadr Anjuman Ahmadiyah, di rumah beliau menunjukkan penyesalannya karena beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk bertabligh dan menyebarkan agama, namun Hudhur membuat beliau duduk di belakang meja di kantor.’ Di lain pihak beberapa anggota menulis kepada saya bahwa mereka harus menghargai para Waqif-e-Zindegi (orang-orang yang telah menazarkan hidupnya untuk mengkhidmati agam).”[5]

Dari peristiwa ini kita bisa mendapat pesan bahwa dalam diri para sesepuh awalin terdapat kegemaran bertabligh yang dapat menjadi pelajaran bagi yang lebih mengutamakan tugas-tugas di kantor. Kecenderungan ini juga ada saat ini ketika beberapa orang ingin ditempatkan untuk berkhidmat di kantor pusat sini.

Pada segi lainnya, di sebagian tempat, para Muballigh tidak dihormati seperti seharusnya. Artinya, para anggota tidak memandang para Muballigh dan Mubasysyir sebagaimana seharusnya. Keluhan-keluhan (pengaduan) dalam hal ini juga datang kepada saya. Tetapi, saya katakan terkait hal ini merupakan tanggung jawab para mubaligh untuk menjaga wiqaar (kewibawaan, rasa hormat) pada mereka dan berupaya keras mencapai martabat lebih tinggi dalam keilmuan dan keruhanian sehingga tidak ada seorang pun dalam Jemaat yang memberanikan diri berbicara melawan mereka. Contohnya, kata-kata para anggota tentang mereka. Terkadang orang-orang berbicara tentang status para mubaligh secara tidak benar. Ketika seorang muballigh ingin mengoreksi orang-orang ini, mereka mulai berbicara menentangnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Apa rahasia dikabulkannya doa? Hadhrat Masih Mau’ud as datang untuk menunjukkan keajaiban-keajaiban seperti demikian dan untuk membuat orang-orang yang lewat doa-doa mereka, Allah timbulkan terjadinya revolusi-revolusi besar dalam diri mereka. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam sebuah sajak (Persia) yang maknanya,  ‘Sebuah doa dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seluruh dunia’.

Namun, itu tidak berarti Allah Ta’ala harus mengabulkan seluruh doa. Putra Hadhrat Masih Mau’ud as, Sahibzada Mubarak Ahmad wafat, Tn. Maulvi Abdul Karim juga wafat meski menjelang itu beliau as berdoa untuk kehidupan mereka, namun mereka akhirnya tetap wafat. Di lain segi, kewafatan Mirza Mubarak Ahmad juga sebuah pertanda karena beliau telah diberitahukan sebelumnya tentang hal itu. Ketika sesuatu diumumkan sebelumnya maka sesuatu tersebut menjadi sebuah pertanda. Karena itu tidak semua doa harus Allah Ta’ala kabulkan namun tidak semua doa juga Dia tolak. Ya! Ketika Allah Ta’ala memutuskan untuk menerima dan mengabulkan doa, maka tidak ada yang akan dapat menghentikan pengabulan doa tersebut.”

Kemudian, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berbicara mengenai pengabulan doa dalam rangka menjawab keberatan-keberatan orang-orang Paighami (ghair Mubayyi’/tidak baiat kepada Khilafat II dan seterusnya. Dikenal juga Ahmadiyah Lahore), “Diantara keberatan mereka ialah apakah tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as yang sempurna melalui diri saya dan apa saja keberatan-keberatan terhadapnya? Karunia-karunia Allah Ta’ala yang turun kepada Hadhrat Masih Mau’ud as – senantiasa berlanjut. Para Paighami berhak untuk mengatakan, ‘Karunia-karunia Allah Ta’ala tidak mungkin dapat berlanjut melalui engkau (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra)’ namun, perlu bagi mereka untuk mengajukan pemimpin mereka melawanku dan kemudian menyatakan bahwa lewat dialah karunia Allah terwujud. Dan jika Allah Ta’ala menyingkap tabir kabar tentang masa depan kepadanya dan mengabulkan doa-doanya dengan melimpah dan luar biasa, maka kita akan menerima bahwa kebenaran tentang Hadhrat Masih Mau’ud as telah ditegakkan dan kita salah. Namun meski demikian, janganlah kalian (kaum Paighami) membuat tuduhan-tuduhan yang menampakkan lemah kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Di satu sisi kalian menerima bahwa Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as, bahkan jika kalian hanya menerima beliau sebagai Mujadid saja, toh kalian mengakui beliau adalah orang benar, doa-doa beliau as dikabulkan dan beliau as telah mengumumkan nubuatan-nubuatan.”

Hal pertama, jika kalian tidak ingin menerimaku dan perkataanku (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra), itu tak masalah. Tetapi, sekurang-kurangnya ajukanlah seorang Imam atau pemimpin dari kalian. Buktikanlah doa-doanya dikabulkan oleh Allah Ta’ala dan jika memang itu terbukti maka kami tidak akan menentang malah akan menerima bahwa kami telah salah. Namun jika kalian mengatakan bahwa pertanda-pertandanya (Nubuatan Mushlih Mau’ud dan sebagainya) tidak terpenuhi, maka kalian memunculkan keberatan terhadap kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as.”[6]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata: “Namun orang-orang ini tidak ingin mendengarkan hal apapun yang benar. Mereka telah menutup pintu hati mereka.”

Ada beberapa hal sederhana dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang dibicarakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Salah satunya ialah cerita mengenai perumpamaan para wanita yang berpunggung bungkuk. Diceritakan bahwa seseorang dari mereka bertanya kepada wanita tersebut, “Apakah engkau ingin punggungmu menjadi lurus atau orang lain yang jadi berpunggung bungkuk.”

Ia menjawab, “Waktu telah lama berlalu dan saya tetaplah bungkuk dan orang-orang terus menertawakan dan mengejekku. Sekarang saya sudah tua, apa yang harus saya lakukan dengan punggungku yang lurus? Akan jadi momen yang menyenangkan bagiku jika semua orang yang telah mengejekku menjadi berpunggung bungkuk dan saya juga akan menertawakan kesulitan mereka dan menikmatinya.”[7]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa ada orang-orang yang iri dan dengki seperti demikian yang tidak tertarik untuk menghilangkan rasa pedih pada diri mereka – namun mereka lebih tertarik melihat orang lain juga dalam kesakitan. Karena itu, kita harus berdoa agar selamat dari rasa iri dan dengki yang demikian dan juga dari orang-orang yang mendengki. Kita juga harus berdoa kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadi golongan orang pendengki seperti yang demikian.

Kemudian ada cerita dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra tentang seorang yang buta, “Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan kepada kami sebuah kisah seorang buta yang berbicara kepada seseorang di waktu malam. Dan karena pembicaraan ini maka orang lain ada yang terganggu. Ia berkara kepada si orang buta itu, ‘Tolong tidurlah!’ Orang buta menjawab, ‘Bagiku tidur adalah hanya jadi diam. Karena mataku sudah tertutup.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Kesulitan dan kesempitan yang dihadapi orang beriman tidaklah menyakiti baginya karena ia berkata, ‘Saya sudah terbiasa dengan kondisi-kondisi seperti itu.’ Ketika orang dunia hendak membunuh orang beriman, ia berkata, ‘Mengapa kalian ingin membunuhku? Saya sudah mati di jalan Allah.’ Dunia ingin membunuh orang beriman, namun ia tidak takut mati karena ia berkata, ‘Saya telah mati di hari saya menerima Islam. Perbedaannya adalah sejak sebelum ini saya mayat hidup dan kini jika kalian menguburku, itu tidak akan membuat perbedaan besar bagiku.’ Inilah keadaan seorang yang benar-benar beriman.”[8]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata mengemukaan permisalan lain, “Hadhrat Masih Mau’ud as pernah menceritakan sebuah kisah lain tentang seorang wanita bersama saudari iparnya yang menghadiri sebuah pesta pernikahan. Wanita itu seorang kikir namun saudari iparnya cukup baik dalam membelanjakan uang untuk hadiah pernikahan tersebut. Si wanita kikir hanya memberi 1 Rupee sedangkan saudara iparnya memberikan 20 Rupee.

Nantinya ketika seseorang bertanya kepadanya (kepada yang memberi hadiah seharga 1 Rupee), apakah hadiah yang diberikannya, dia menjawab, ‘Saya dan saudari iparku menghabiskan uang sebesar 21 Rupee sebagai hadiah.’”[9]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kisah ini untuk menjelaskan mengenai kondisi sebagian cabang mengenai pembayaran candah mereka. Di beberapa cabang ada beberapa orang yang pembayaran candahnya besar. Sebagian anggota cabang atau pengurusnya menghubungkan pembayaran sejumlah candah besar tersebut kepada cabangnya. [padahal jumlah besar tersebut hanya dari beberapa anggota saja] Hal ini sama sama seperti cerita si wanita kikir tersebut. Lebih jauh lagi, di setiap cabang, ada orang-orang kaya yang juga membelanjakan uang mereka dengan kikir dan tidak membayar candah mereka sendiri dengan jumlah besar – namun dengan dasar pembayaran jumlah besar dari orang lain dalam total jumlah pengorbanan di Jemaat lokalnya, mereka mengklaim seperti layaknya si wanita kikir untuk menunjukkan bahwa mereka juga membuat pengorbanan-pengorbanan besar.

Suatu kali ada peristiwa, tata krama dan sopan santun Jemaat tidak diperhatikan ketika bercanda. Mengenai hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menegur mereka dan berkata: “Perhatikanlah! Tertawa dan menikmati candaan itu dibolehkan. Tidak dilarang. Telah diketahui bahwa Hadhrat Rasulullah saw juga bercanda. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bercanda.

Saya juga membuat lelucon. Saya tidak bilang bahwa saya tidak bercanda atau tidak membuat lelucon. Kami bercanda dan membuat lelucon ratusan kali. Saya bercanda dengan anak-anak saya. Saya bercanda dengan istri-istri saya. Saya juga bercanda dengan kerabat saya. Namun, candaan kami tidak sampai menghina seseorang. Jika seseorang tersakiti atau merasa terhina kehormatannya dengan candaan tersebut, maka itu bukanlah candaan atau lelucon yang benar. Itu dilarang.

Jika kata-kata kita mengandung hinaan terhadap seseorang yang mana itu telah terucapkan tanpa sengaja, maka kita harus menyesal dan beristighfar. Hal yang sama harus dilakukan oleh setiap lainnya juga. Jika tanpa sengaja kata yang menghinakan atau merendahkan terucapkan, atau seseorang tidak menyukai candaan tersebut dan tersinggung karena kehormatannya terlukai, maka kita harus menyesal, bertobat dan beristighfar.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan secara lebih terang mengenai hal itu, “Saya tidak membenci permainan candaan. Bahkan, permainan dan hiburan itu dibolehkan. Saya tidak berkata itu tidak boleh, melainkan saya katakan kalian boleh ambil bagian dalam permainan, tertawa dan menikmatinya sebagaimana kalian inginkan. Namun jika kalian mempermainkan jenggot ayah kalian, itu artinya kalian tidak peduli dengan kehormatan dan penghargaan kepada ayah kalian – maka hal itu tidaklah benar.

Tetap tempatkan status Allah pada tempat-Nya (hargailah Dia sebagaimana seharusnya), tempatkan permainan sepak bola pada tempatnya, tempatkan pertemuan pembacaan syair pada tempatnya, dan berikan status yang layak dan benar pada nubuatan-nubuatan (kabar-kabar masa depan yang diterima para Nabi dari Allah). Beberapa orang mengatakan sesuatu dan menyebut nubuatan dalam pembicaraan mereka yang mengolok-olok status nubuatan-nubuatan ini yang mana sangat tidak layak.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Jika kalian suka melakukan permainan dan mengejek, maka pergilah ke pertemuan-pertemuan pembacaan syair yang melakukan sindiran dan ejekan satu sama lain. Kalian di sana bisa meluapkan kegemaran mengejek sebagaimana kalian suka. Jika ingin tenggelam dalam kesia-siaan dan permainan, pergilah ke kota-kota lain. Ikutlah di sana dalam hal itu.”

 Selanjutnya, beliau ra memberikan nasehat orang-orang di Qadian secara khusus, (itu artinya, di Markas Jemaat sebagaimana di kota Rabwah juga Markas Jemaat, atau di kota mana saja yang diselenggarakan permainan dibawah naungan kepengurusan Jemaat), “Karena jika kalian pergi ke Lahore dan ambil bagian dalam hal-hal seperti ini maka orang-orang akan mengatakan orang Lahore-lah yang melakukannya. Namun jika kalian melakukan sepersepuluh dari hal tadi di Qadian atau di Rabwah, maka orang akan berkata bahwa para Ahmadi-lah yang melakukan hal ini dan hal itu. Ringkasnya, saya tidak melarang kalian dari permainan dan hiburan, tapi saya peringatkan kalian agar tidak kelewatan sehingga membawa nama buruk pada Jemaat.”[10]

Saat ini tidak hanya terbatas di Qadian atau di Rabwah saja bahkan permainan diselenggerakan di banyak berbagai tempat dibawah naungan Jemaat. Sekarang jika terjadi peristiwa adanya candaan atau lelucon yang kelewatan di Jemaat Lokal mana saja, maka hal itu akan membawa nama buruk pada reputasi Jemaat. Karena itu kita harus berhati-hati dalam bersikap dan bertindak di semua acara kita, sama saja apakah itu di bidang permainan, perayaan kegembiraan atau pertemuan pembacaan syair-syair, supaya kita tidak akan menyebabkan celaan terhadap reputasi (nama baik, kehormatan) Jemaat, melainkan wajib bagi kita memperhatikan selalu untuk mempertahankan kehormatan dan wibawa Jemaat.

Semua yang telah saya katakan mengandung pelajaran di dalamnya dan setiap orang harus ingat dan menaatinya.

[1] Al-Hakam, 27 Maret – 6 April 1898, jilid 2, no. 5-6, 13.

[2] Aina Kamalat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 648

[3] Sawanih Fadhl-e-Umar jilid 4, h. 388-389.

[4] Al-Fadhl, 7 November 1945, jilid 33 nomor 261, h. 3.

[5] Al-Fadhl, 22 Oktober 1955, jilid 9/44 nomor 247, h. 6.

[6] Al-Fadhl, 12 Juli 1940/12 Wafa 1319, jilid 28 nomor 157, h. 6

[7] Al-Fadhl, 2 Agustus 1961, jilid 15/5 nomor 177, h. 5

[8] Al-Fadhl, 23 Mei 1943, jilid 31 nomor 122, h. 6

[9] Al-Fadhl, 15 Juni 1944, jilid 32 nomor 138, h. 4

[10] Al-Fadhl, 12 Maret 1952, jilid 6/40 nomor 62, h. 4