Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 07 November 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Sekali kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai; dan apapun yang kamu belanjakan, maka sesungguhnya tentang itu Allah Maha Mengetahui.” (3:93)

Dalam penjelasan ayat diatas Hadhrat Masih Mau’ud as berkata: “Manusia memiliki cinta yang besar pada kekayaan. Inilah sebabnya mengapa dituliskan dalam ta’wil mimpi, yaitu ketika seseorang bermimpi bahwa dia mengeluarkan hatinya dari badannya sendiri dan memberikan kepada seseorang, itu menandakan pemberian kekayaan. Inilah sebabnya mengapa untuk mencapai ketaatan dan iman yang sejati, telah dinyatakan: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ‘Sekali kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai. . . karena sebagian besar simpati dan belas kasih bagi ciptaan Allah memerlukan pembelanjaan kekayaan. Belas kasih bagi umat manusia dan ciptaan Tuhan adalah bagian dari iman yang tanpanya iman tidaklah lengkap. Bagaimana manusia bisa bermanfaat bagi orang lain kecuali dia membuat pengorbanan! Benarlah bahwa pengorbanan sangat penting untuk kepentingan orang lain dan untuk bersimpati dengan mereka. Ayat yang berbunyi: “Sekali kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai. . . ” mengajarkan dan membimbing ke pengorbanan ini. Membelanjakan kekayaan di jalan Allah Ta’ala adalah tolok ukur dan batu ujian atas ketaatan dan kebenaran manusia. Tolak ukur dan batu ujian akan ketakwaan pada Ilahi dalam hidup Hadhrat Abu Bakar adalah ketika Rasulullah saw membuat satu permohonan – dimana dalam memenuhi permintaan tersebut Hadhrat Abu Bakar kemudian menyerahkan seluruh isi rumahnya.”[2]

Adalah ihsan Allah kepada kita bahwa Dia telah memungkinkan kita untuk menerima Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah mengajarkan kita cara dan sarana kemajuan ruhani, menarikperhatian kita untuk menunaikan hak hak Allah maupun hak-hak manusia, menanamkan dalam diri kita semangat pengorbanan terhadap kehidupan, kekayaan, waktu dan anak-anak, dan mengatakan kepada Jemaat untuk membentuk dirisepenuhnya sesuai dengan ajaran Allah. Hal ini telah dinyatakan dalam ayat Alquran yang telah disebut sebelumnya. Di dalam ayat tersebut, Allah menarik perhatian kita ke
salah satu tanggung jawab kita berkenaan dengan pengembangan ruhani, yaitu pemberian atau pengorbanan harta. Pemberian atau pengorbanan harta merupakan sumber yang besar untuk menunaikan hak-hak manusia dan hak-hak Allah. Inti dari petikan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah bahwa pemberian atau pengorbanan harta diperlukan untuk menunaikan hak-hak manusia serta untuk syiar agama.

Kita para Ahmadi beruntung untuk ikut serta dalam pemenuhan tugas yang telah dimulai oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Sementara dunia mabuk dalam cinta kepada harta, mayoritas Ahmadi demi meraih ridha Allah menafkahkan harta mereka yang berharga untuk menyebarkan dan menyiarkan agama, berkat pendidikan dan pelatihan dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka cemas jika karena alasan-alasan tertentu tidak bisa mengorbankan harta seperti yang mereka inginkan dan beberapa dari mereka bersedih dan menangis karena hal ini. Kondisi hati yang demikian dan pengorbanan harta bahkan juga jiwa adalah bukti Allah mengutus Hadhrat Mau’ud as pada zaman ini untuk menyiarkan dan menyebarkan ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah saw dan kini kemajuan Islam ditakdirkan terjadi melalui Hadhrat Mau’ud as. Inilah mengapa Allah telah menanamkan di dalam hati orang yang beriman semangat jihad dalam pengorbanan harta dan begitu pula dalam pengorbanan jenis lainnya.

Berikut adalah beberapa kisah tentang bagaimana di zaman dan waktu ini Allah terus membangkitkan semangat dalam mengorbankan harta. Dan ini tidak terbatas pada strata atau kelas sosial tertentu atau negara tertentu. Bahkan semangat ini ditemukan di mana pun ada orang yang terkait dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, baik itu Afrika, Eropa atau Oseania!

Tn. Amir Burkina Faso menulis bahwa Sadr Jemaat setempat mengatakan, pada saat Idul Adha tahun ini ia tidak memiliki cukup dana untuk memasak makanan di rumah apalagi uang yang cukup untuk hewan kurban. Dia lantas mendengar daras dari Bapak Muballigh tentang pengorbanan harta melalui Tahrik Jadid; dimana kemudian ia memberikan 2000 Franc dengan suka rela dan berharap Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sebuah keajaiban kemudian terjadi. Adiknya tiba-tiba mengirimkan sejumlah besar uang dari Pantai Gading. Akhirnya ia mampu mempersembahkan kurban binatang dan kebutuhan-kebutuhan rumah tangganya juga terpenuhi.

Murrabi Sahib dari Burkina Faso menulis, ada seorang Khadim yang telah membeli benih kapas tapi tidak bisa menemukan pembeli untuk hasil panennya. Dia merasa sangat gelisah dan khawatir. Dia kemudian berbicara kepada Murrabi Sahib yang menasihatinya bahwa membelanjakan harta di jalan Allah dapat meringankan kesulitan, sehingga ia kemudian membayar candah dan meningkatkan perjanjian Tahrik Jadid dan mengatakan bahwa jika Tuhan memberkati dia, dia akan membayar tambahan 10. 000. Tidak lama setelah ia menerima tanda terima untuk pembayaran candahnya, ternyata ada begitu banyak pembeli sehingga seluruh hasil panennya laris hanya dalam beberapa hari saja. Penghasilannya melebihi harapan dan ia membayar sejumlah besar candah sebagai tambahan dari apa-apa yang telah dia janjikan sebelumnya.

Tn. Laji, seorang teman dari Burkina Faso yang berbaiat tahun lalu mengetahui Hadhrat Khalifatul Masih telah mengeluarkan himbauan khusus untuk melibatkan Mubayyin baru dalam satu atau lebih program pengorbanan harta untuk menanamkan jiwa pengorbanan dan semangat memberi sehingga setiap Ahmadi berpartisipasi dalam pengorbanan harta. Hal ini menarik perhatian Mubayyin baru tersebut. Kebiasaan yang berlangsung diantara Ahmadi yang berprofesi sebagai petani di daerah-daerah tersebut adalah untuk memberikan harta dalam bentuk gandum. Dan untuk tujuan ini, para petani tersebut meminta Jemaat untuk menyediakan mereka karung-karung yang dapat diisi dengan gandum. Jemaat memberi Mubayyinbaru tersebut dua karung untuk tujuan ini. Dia merasa karena dia adalah seorang Mubayyin baru, dia belum pernah membayar candah sebelumnya; dan sekarang setelah mendengar Hadhrat Khalifatul Masih telah mendesak bahwa setiap Ahmadi harus berpartisipasi, maka dia kemudian memberikan gandum senilai 22.000 franc. Di tahun berikutnya, hasil panennya dua kali lipat dan ia meminta karung untuk diisi gandum (dalam rangka membayar candah) dua kali jumlahnya dari tahun sebelumnya!

Tn. Amir dari Liberia menulis, ada seorang Murrabi Sahib yang pergi untuk mengunjungi desa-desa. Dia mengirim pesan kepada salah satu Jemaat (Nagbina, yang anggotanya sedikit) bahwa ia akan tiba pada waktu Maghrib. Jemaat yang ia kunjungi sebelum itu, Vilor adalah Jemaat yang besar dan sangat aktif; karena itu ia menghabiskan lebih banyak waktu di sana dari yang sudah direncanakan. Awalnya dia berpikir bahwa Jemaat (yang anggotanya sedikit ini) akan lemah dalam hal pengorbanan dan akhirnya ia tiba di sana pada waktu Isya. Dia mengatakan bahwa ketika itu adalah untuk pertama kalinya ia melihat ada 170 orang duduk menunggunya sejak Hadhrat Khalifatul Masih meminta semua orang untuk berpartisipasi dalam pengorbanan harta. Itulah semangat orang-orang Jemaat yang dikira lemah dalam pengorbanan mereka. Jika mereka diberitahu dan dijelaskan dengan cara yang benar, mereka siap untuk memberi dan berkorban. Kelemahan dan kekurangan tidak terletak pada pengorbanan mereka; tapi terletak pada kelemahan pelaksana Nizham (sistem administrasi).

Tn. Amir dari Liberia menulis, Mubayyin-Mubayyin baru di desa Blavor yang hanya dapat diakses melalui jalur yang sangat rusak dan kasar diberitahu oleh Muallim lokal tentang program Tahrik Jadid, dan kemudian diberitahu kunjungan berulang akan dibuat minggu berikutnya untuk mengumpulkan pengorbanan tersebut. Mendengar hal ini, mereka begitu bersemangat dan bergairah sehingga mengatakan agar tidak usah repot untuk datang lagi melewati jalan yang rusak dan sulit tersebut minggu depannya. Mereka sudah paham pesan yang disampaikan dan pengorbanan harta mereka sudah dapat diambil pada kunjungan pertama. Demikianlah Allah membangkitkan hati orang-orang di daerah jauh yang merupakan Jemaat yang baru.

Tn. Amir dari Benin menulis bahwa seorang Ahmadi terkenal dari Portonovo, Tn. Masyhudi mengorbankan hartanya senilai £ 1. 000 untuk Tahrik Jadid. Murrabi Sahib mengatakan kepadanya bahwa candah-candah lain juga memerlukan kontribusi pengorbanan – jadi kenapa dia memberi jumlah yang besar untuk satu program? Namun Ahmadi tersebut tidak mengubah jumlah kontribusi pengorbanannya. Murrabi Sahib tersebut sudah benar karena sudah memberitahukan Ahmadi tersebut, karena tujuan sesungguhnya adalah untuk menanamkan semangat pengorbanan dan meraih penyucian jiwa; dan bukan hanya sekedar mengumpulkan uang.

Baru-baru ini seperti biasa Konferensi Khatm-e-Nabwat diadakan di Rabwah, dimana pidato berapi-api disampaikan oleh para Maulawi yang menyatakan bahwa Jemaat menerima dana dari pihak-pihak yang mempunyai kekuasaan besar, dsb. Tapi mereka juga kelepasan bicara dan mengatakan bahwa Jamaat maju begitu pesat karena bahkan yang miskinpun rela berkorban harta. Padahal kita sama sekali tidak meminta bantuan dari pemerintahan manapun. Jemaat diberkati oleh Allah Ta’ala karena ketulusan para anggota Jemaat dan ruh pengorbanan mereka.

Muballigh Sahib dari wilayah Sawe, Benin menulis bahwa para Mubayyin baru di Jemaat Peulh diberitahu tentang latar belakang Tahrik Jadid dalam sebuah pertemuan dan mereka langsung memberikan kontribusi pengorbanan harta pada akhir pertemuan tersebut. Seorang dari mereka sebenarnya sangat miskin dan mengatakan dia tidak punya uang tunai, tetapi ingin memberikan pengorbanan juga. Ia diberitahu oleh maqami muballigh (muballigh setempat) yang ada di sana bahwa berikanlah apa yang ada sesuai kemampuan. Ia kemudian pulang dan membawa dua telur ayam sebagai bentuk pengorbanannya. Mengingat kondisi dan situasi yang ia alami ketika itu, hal tersebut adalah pengorbanan yang besar. Kisah dari daerah yang jauh ini mengingatkan kita akan kenangan di masa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra – ketika para perempuan miskin membawa telur-telur ayam sebagai bentuk pengorbanan mereka.

Sebuah laporan dari Mali. Tn. Abu Bakr Jarah, Ahmadi yang sudah menjadi anggota untuk waktu yang lama tiba-tiba berhenti membayar candah karena alasan tertentu dan juga berhenti datang ke acara-acara dan program yang diadakan Jemaat. Ia kembali setelah jangka waktu yang cukup lama dan akhirnya membayarkan candahnya. Ia mengatakan bahwa ia bermimpi tenggelam di perairan yang sangat dalam dan tidak ada seorangpun yang menyelamatkannya. Ia kemudian melihat sebuah perahu yang di dalamnya ada Hadhrat Masih Mau’ud as yang mengulurkan tangan beliau dan menyelamatkan Ahmadi tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian mengatakan kepadanya agar tidak pernah lagi lalai membayar candah. Ini sudah pasti memang merupakan tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as yang mana beliau membimbing seorang Ahmadi dari tempat yang jauh kembali ke jalan yang benar melalui mimpi.

Tn. Syafiyo, seorang dai’ ilaLlah (penyeru kepada Allah) dari wilayah Kotono, Benin mengatakan bahwa ia pergi untuk mengumpulkan Fitrana dari sebuah keluarga, dan diberitahu oleh kepala keluarga tersebut bahwa ia hanya memiliki uang dengan jumlah terbatas yang juga dibutuhkan untuk kelahiran calon bayinya yang sudah dekat, yang mana biayanya sudah melebihi uang yang ia miliki. Ia juga mengatakan, pemilik rumah yang mereka sewa telah datang untuk menagih uang sewa, dan pergi dengan perasaan tidak puas karena tidak mendapatkan uang pembayaran sewa tersebut dari mereka. Sekretaris keuangan menasihati orang tersebut bahwa Tuhan akan memberkati dan membantu jika harta diberikan dan dikorbankan di jalan Allah ketika seseorang berada dalam kesulitan (meskipun mereka seharusnya tidak meminta orang ini untuk mengorbankan hartanya, bahkan seharusnya membantunya). Orang tersebut akhirnya kemudian memberikan pengorbanan dan juga membayar Tahrik Jadid. Tiga hari kemudian, dengan gembira orang itu memberitahu mereka bahwa setelah mereka pergi dengan membawa pengorbanan candah dan Tahrik Jadid dari orang tersebut, seorang pria datang membawa uang dengan jumlah besar. Orang tersebut memang berutang kepadanya sudah sejak lama, dan ia sama sekali tidak menyangka atau mengharapkan bahwa utang tersebut pada akhirnya akan dilunasi. Dengan uang tersebut, orang ini akhirnya dapat membayar sewa rumah, dan juga dikaruniai seorang anak.

Tn. Isa, seorang Ahmadi dari Dar-es-salam, Tanzania yang sebelumnya seorang Kristen dan berbai’at di tahun 1990-an membuat kemajuan pesat dan sekarang sudah menjadi seorang Musi. Dia membayar candah lebih dari yang ia janjikan dan mengatakan bahwa sejak ia mulai membayar pengorbanan harta, rupanya dengan cara ini ia telah mengalami karunia besar dari Allah. Sebagai contoh, tadinya ia hanya memiliki satu rumah saja, tapi sekarang memiliki tiga rumah. Dan anak-anaknya pun bersekolah di tempat tempat terbaik. Seorang Muballigh dari daerah Alada menulis bahwa saat berkunjung ke Jemaat Soyo, ia melihat Nn. Rasyidah, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang membayar candah setiap bulan membawa tomat, paprika dan jeruk untuk membayar Tahrik Jadid. Demikianlah ruh pengorbanan yang Allah tanamkan dalam diri seorang anak.

Ketua Jemaat Okene dari Nigeria menulis, ia menghadapi masalah keuangan untuk beberapa waktu yang membuatnya merasa sangat cemas. Dia sadar tidak membayar candah selama tiga bulan dan mungkin ini adalah alasan ia menghadapi masalah keuangan. Dia kemudian membayar candah. Setelah itu, pada bulan yang sama ia mampu menjual sebidang tanah dengan harga yang sangat menguntungkan. Dia yakin memang janji Allah adalah benar adanya, yang mana Allah mengembalikan pengorbanan dengan berlipat ganda. Kemudian, dia membeli sebidang tanah yang luas untuk Jemaat untuk membangun rumah misi dan masjid di Lokoja, ibukota Kogi.

Tn. Maronda, Ahmadi dari Tanzania menulis bahwa ia hanya memiliki pendidikan setaraf SMA dan sudah menganggur untuk jangka waktu yang lama. Ketika ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan gas sebagai penjaga keamanan, ia berjanji saat itu bahwa ia akan membayar candah sesuai dengan jumlah yang ditetapkan, dan ia kemudian memenuhi janjinya tersebut. Karena pengorbanan hartanya, ia sekarang bekerja di posisi yang sangat tinggi, senior field gas operator di perusahaan gas yang sama dan mendapatkan penghasilan yang tinggi. Dari segi pendidikan dan AD/ART perusahaan, ia sebenarnya tidak layak untuk jabatan itu. Namun, dengan karunia Allah, ada berkat besar dalam membayar candah sesuai dengan ketetapan. Pendek kata, orang-orang ikhlas dan setia semacam beliau ini memahami betul ayat, “Maka bertakwalah kepada Allah sejauh kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah, dan belanjakanlah hartamu, hal itu baik bagi dirimu. Dan barangsiapa diperlihara dari kebakhilan dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berhasil.” (Surah at-Taghabun; 64:17)

Tn. Syihabuddin, Inspektur Tahrik Jadid dari India menulis ada seorang Ahmadi, pengusaha Real Estate yang biasa membayar pengorbanan besar untuk Tahrik Jadid mengalami kerugian bisnis dan telah khawatir selama berbulan-bulan. Ia sering menelpon dan meminta doa agar mampu membayar candahnya dan juga menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih berkaitan dengan hal ini. Dia pernah menelpon dan membicarakan tentang kekhawatirannya. Petugas tersebut menyuruhnya untuk berdoa dan tidur. Tak lama kemudian, orang tersebut menelepon kembali dan mengatakan ia akan datang ke tempat inspektur tersebut saat itu juga. Ketika ia datang, ia memiliki sejumlah besar uang di tangannya dan mengatakan, ketika ia sedang berdoa, seorang pengusaha besar yang berhutang uang kepadanya mengirimnya pesan untuk datang dan mengambil uang pelunasan hutang tersebut. Dia memiliki niat untuk membayar candah, dan dengan demikian Allah memfasilitasi dirinya untuk memiliki uang agar dapat melaksanakan niatnya tersebut.

Tn. Basyiruddin, Naib Wakilul Maal, Qadian menulis, ada seorang Ahmadi tulus yang membuat perjanjian pengorbanan 2,5 kali lebih banyak dari pengorbanan Tahrik Jadidnya di tahun sebelumnya. Tak lama setelah membuat perjanjian itu, ia menelepon dan mengatakan ia baru saja mendengar keuntungan lebih lanjut dalam bisnisnya, dan menganggap itu karena berkah dari Tahrik Jadid. Ia kemudian meminta untuk menggandakan jumlah perjanjian pengorbanannya yang telah dibuat 2,5 kali lebih banyak dari perjanjiannya di tahun sebelumnya.

Murrabi Sahib Kerala, India, menulis bahwa tahun lalu, seorang Ahmadi yang tulus telah membayar Tahrik Jadid dua kali lipat dari kontribusi pengorbanannya di tahun sebelumnya, dan telah meningkatkan kontribusinya pada tingkat yang luar biasa juga di tahun ini. Dia mengatakan ia memulai usaha kecil tujuh tahun lalu dengan sumber daya terbatas, modal 7.000 rupees dan 3 pekerja tapi kini memiliki delapan pabrik Ruber Wood Factories di India, Dubai dan Indonesia; dengan mempekerjakan lebih dari 500 pekerja. Dia berpendapat, kemajuan ini hanya karena membayar candah sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan. Ia juga mengatakan setiap kali ia membayar candah, Allah memberinya lebih banyak lagi berkah di malam yang sama juga.

Naib Wakilul Maal di Rabwah menulis bahwa suatu kali ia melakukan kunjungan ke Karachi, seorang Khadim dari Clifton memintanya untuk meningkatkan dan menetapkan jumlah perjanjian pengorbanan sang Khudam tersebut karena sepertinya ia mampu. Namun sang Naib Wakilul Maal menjawab ia tidak tahu seperti apa situasi individual dari sang Khudam tersebut, karena itu yang terbaik adalah jika sang khudam menetapkan jumlah perjanjian pengorbanan yang lebih tinggi sendiri. Ia menyebutkan tentang sebuah peristiwa yang terjadi, dimana seorang Naib Wakilul Maal mengadakan kunjungan ke daerah Sind. Di sana, seseorang meminta Naib Wakilul Maal tersebut untuk meningkatkan dan menetapkan jumlah perjanjian pengorbanan untuknya, karena tampaknya ia mampu. Namun sang Wakilul Maal menjawab bahwa orang tersebut harus membuat perjanjian pengorbanan sesuai dengan situasinya. Dia bertanya kepada orang tersebut: “Bagaimana jika ia ditarik sejumlah 5 lakh Rupee (atau lebih dari Rp 60 juta)? Apakah ia akan membayar 5 lakh?!” Mendengar cerita ini, sang Khudam tadi mengatakan, karena Naib Wakilul Maal telah menyebutkan sebuah angka yaitu 5 lakh Rupee, ia akan membayar pengorbanan sejumlah tersebut. Kemudian setelah itu, ia pun membayar pengorbanan sejumlah 1 lakh Rupee (100.000 rupees atau sekitar Rp 12 juta) atas nama anaknya yang belum lahir.

Tn. Amir Lahore menulis bahwa seorang wanita memberikan anting-antingnya sebagai bentuk kontribusi pengorbanan hartanya untuk Tahrik Jadid. Karena kendala keuangan, ia telah menjual semua perhiasan itu. Anting-anting tersebut diberikan kepadanya oleh kakaknya yang memintanya untuk berjanji agar tidak akan menjual anting-anting tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Wanita tersebut mengatakan dia tidak memberi atau menjual anting-anting itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, tapi ia memberikannya di jalan Allah (dalam bentuk pengorbanan harta), dan Allah-lah yang akan memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Semoga Allah menerima pengorbanan wanita tersebut dan dan memberkati keadaan keuangannya. Pengurus jemaat harus bijaksana dengan orang-orang seperti itu dan seharusnya tidak memaksakan orang untuk membayar pengorbanan (jika situasi mereka tidak memungkinkan). Kadang-kadang sekretaris keuangan dan orang-orang yang bertugas di Tahrik Jadid bisa cenderung “mengejar” orang (untuk membayar perjanjian pengorbanan ini). Padahal kontribusi pengorbanan harta harus diambil sesuai dengan situasi dan keadaan orang-orang yang bersangkutan masing-masing.

Sekretaris Nasional Tahrik Jadid Jerman menulis bahwa ada seorang Ahmadi membuat perjanjian pengorbanan khusus. Dengan karunia Allah, penghasilannya meningkat dan ia bisa melunasi hutangnya dan juga dapat membeli sebuah rumah baru yang sebelumnya tampak mustahil. Dia mengatakan ia telah tinggal di Jerman selama 35 tahun tapi tidak pernah mendapatkan penghasilan sebesar itu. Penghasilannya meningkat sebesar € 40.000 (lebih dari Rp 600 juta) dalam waktu dua setengah bulan.

Seorang Sekretaris Tahrik Jadid menuliskan mengenai seorang wanita Ahmadi yang mengungkapkan bagaimana ia mendapatkan karunia Allah berkat pembayaran candahnya. Ia tidak menyebutkan namanya karena kerendahan hatinya. Ia berdoa semoga Allah menyempurnakan harapan baik putra-putrinya.

Tn. Betim Redzepi, Mubayyi’in baru di Swiss yang berbai’at Oktober tahun lalu membayar pengorbanan sebesar 1000 untuk Tahrik Jadid segera setelah masuk Jemaat, dan juga berjanji untuk membayar pengorbanan dengan jumlah yang sama untuk tahun depan. Kemudian, ketika ia diberi informasi lebih lanjut mengenai pentingnya pengorbanan harta, ia menggandakan perjanjiannya dua kali lipat, dan juga berjanji sebesar 2000 untuk Waqfi Jadid. Dia mengatakan, setelah mengadakan perjanjian tersebut, perusahaan tempatnya bekerja menominasikannya untuk mengikuti training yang sangat diidam-idamkan dan sangat mahal, yang biasanya hanya diberikan kepada mereka yang usianya di atas 35 tahun. Meskipun baru berusia 33 tahun dan bahkan tidak pernah berpikir tentang training itu, perusahaannya menawarkan untuknya. Dia mengatakan, hal ini semata-mata hanya berkat Tuhan atas pengorbanan harta yang telah dibuat. Jadi demikianlah, Allah menjamin orang-orang yang percaya kepada-Nya di sini di Eropa atas keberadaan-Nya.

Tn. Bekim, seorang Ahmadi dari Swiss lainnya menulis bahwa pemilik perusahaan tempat dia bekerja sangatlah kikir dan sulit sekali untuk membayar siapa pun. Dia membayar gaji dengan rendah dan jika ada yang meminta kenaikan gaji, entah mereka akan diabaikan, atau ia akan mencari alasan ataupun cara untuk mengelak. Suatu saat, Ahmadi tersebut dipanggil ke kantor si pemilik perusahaan dan mengatakan bahwa ia ingin memberikan sang Ahmadi tersebut kenaikan gaji. Ahmadi itu kemudian mengatakan kepada si pemilik perusahaan bahwa ia terkejut mengingat sikap keras pemilik yang berkaitan dengan kenaikan gaji. Si pemilik mengatakan, ia tidak tahu mengapa ia sangat merasa sudah waktunya bagi Ahmadi itu untuk naik gaji. Hal ini terjadi tanpa alasan jelas dan Ahmadi tersebut percaya bahwa hal ini bisa terjadi hanya karena berkat pengorbanan.

Amir wilayah London, Tn. Nashir Din menulis, ada seorang temannya mengatakan bahwa ia banyak berdoa untuk bisa mendapatkan pertolongan dalam pembayaran candah Tahrik Jadidnya. Tuhan membisikkan ke dalam hatinya bahwa daripada naik kereta, ia lebih baik melakukan perjalanan dengan bus. Meskipun dengan cara ini perjalanannya memakan waktu 30 menit lebih lama, tapi ia bisa menabung £ 2 (sekitar Rp 30.000) setiap hari. Dia dapat menabung sebesar £ 400 (sekitar Rp 6 juta) dalam satu tahun yang dia berikan untuk program Tahrik Jadid. Rumah seorang Ahmadi di London dirampok, tapi uang pengorbanan yang ditujukan untuk Tahrik Jadid sebesar £ 1000 (atau sekitar Rp 15 juta) tidak diambil. Orang tersebut pun bisa memberikan uang pengorbanan seperti yang telah diniatkannya. Penting untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap pencuri. Akhir-akhir ini polisi memperingatkan tentang hal ini. Terutama orang orang keturunan Asia [yang tinggal di Eropa – red] diminta agar tidak menyimpan perhiasan di rumah. Namun, berkaitan dengan hal ini, ada beberapa orang yang sedikit terlalu berhati-hati dan waspada sehingga setelah mereka mengunci jendela-jendela dan pintu-pintu kemudian menyembunyikan kuncinya. Sebegitu khawatirnya mereka sehingga kadang-kadang keluarga mereka sendiri mengalami kesulitan saat ingin pergi meninggalkan rumahnya. Meskipun memang penting bagi kita untuk berhati-hati, namun hal ini juga harus dilakukan sewajarnya.

Missionary Incharge di Australia menulis bahwa beliau mengarahkan perhatian para Khuddam dan Athfal kearah pengorbanan Tahrik Jadid. Di Ijtima Khuddamul Ahmadiyah yang dilaksanakan baru-baru ini, beberapa Atfal diberikan hadiah dalam bentuk voucher. Tiga orang anak Atfal yang patut disebut yaitu Arsalan, Atif dan Kamran diberikan voucher masing-masing senilai $ 89 (89 dolar Australia atau sekitar Rp 900 ribu). Ketiganya menambahkan $ 11 (sekitar Rp 112 ribu lebih) dari kantong mereka sendiri dan memberikan $ 100 (Rp 1 juta 22 ribu lebih) masing-masing untuk kontribusi pengorbanan Tahrik Jadid.

Kisah-kisah tadi hanyalah beberapa kisah dari begitu banyak kisah mengenai pengorbanan harta. Pengorbanan-pengorbanan ini ini tidak hanya dilakukan oleh Ahmadi yang sudah menjadi anggota sejak lama, namun mereka yang baru masuk menjadi anggota Jemaat pun juga membuat pengorbanan yang luarbiasa. Seorang Murrabi Sahib menulis ada beberapa orang yang mengeluh dan menanyakan dengan telah diterapkannya candah yang sudah bersifat wajib, untuk apa lagi membayar pengorbanan Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid? Jawaban untuk hal ini pun ada dalam kelanjutan surat Murrabi Sahib tersebut, yang menyebutkan bahwa keluhan itu disampaikan oleh seseorang yang tidak terlalu sering mengikuti program-program Jemaat, dan juga tidak membayar candah secara teratur. Candah wajib tentu saja merupakan prioritas pertama untuk semua anggota yang berpenghasilan. Namun, seseorang dapat membayar Tahrik Jadid, Waqfi Jadid, maupun program-program lainnya sesuai dengan kemampuan dan caranya masing-masing. Program-program ini adalah untuk menanamkan semangat dan pengamalan pengorbanan kepada para anggota baru, anak-anak, maupun mereka yang tidak memiliki penghasilan.

Biarlah menjadi jelas bagi kita semua bahwa tugas penyebaran dan syiar agama saat ini meningkat dan meluas. Untuk keperluan ini, perhatian harus diberikan kepada pengorbanan harta. Para penentang akan mencoba untuk meracuni pikiran-pikiran para anggota Jemaat lainnya. Sebagai informasi untuk seluruh anggota Jemaat, berkat karunia Allah, saat ini MTA disiarkan di seluruh dunia melalui sepuluh satelit. Biaya satelit ini saja, terlepas dari semua biaya MTA lain, begitu tingginya sehingga ketika disebutkan kepada orang lain bahwa MTA bisa beroperasi karena pengorbanan harta para anggota jemaatnya dan tanpa pendapatan dari iklan, mereka menjadi tercengang, takjub dan heran. Meskipun ada beberapa Jemaat maupun beberapa individu yang berkontribusi langsung terhadap jalannya MTA, namun pendapatan dari mereka ini tidaklah signifikan dibandingkan dengan biaya-biaya operasinya; yang dipenuhi dengan sarana dan sumber pendapatan dari pengorbanan harta yang lain. MTA juga membangun studio-studio (baru) di berbagai negara.

Biaya untuk semua masjid, sekolah dan rumah sakit yang dibangun tahun ini di tingkat pusat, hampir sama dengan total kontribusi pengorbanan Tahrik Jadid tahun lalu. Ini adalah gambaran umum biayanya, dsb. Jemaat membelanjakan pada skala besar-besaran dan dalam waktu yang sama juga berusaha untuk berhemat. Upaya lebih lanjut harus dilakukan untuk menghemat uang sehingga dengan upaya pemaksimalan penghematan ini, pekerjaan-pekerjaan dan tugas-tugas dari Tuhan dapat dilakukan dengan lebih jauh lagi. Tuhan sendirilah yang menempatkan dalam hati orang-orang beriman untuk memberi lebih banyak – karena Dia tahu apa kebutuhan dan persyaratan (untuk keberlangsungan penyebaran dan syiar) agama. Dia membuat kita bisa untuk ikut serta dalam tujuan yang baik.

Tahun baru perjanjian pengorbanan Tahrik Jadid [yaitu tahun ke-81] dimulai pada 1 November 2014. Penutupan tahun lalu pada 31 Oktober 2014. November 2013-Oktober 2014 adalah tahun ke-80 sejak program ini dijalankan pertama kali, dan jumlah keseluruhan kontribusi pengorbanan ini di seluruh dunia adalah sebesar £ 8.470.800,00 (delapan juta empat ratus tujuh puluh ribu delapan ratus pound sterling atau sekitar lebih dari Rp 160 milyar). Jumlah ini meningkat sejumlah lebih dari £ 601.000 (enam ratus satu ribu poundsterling atau sekitar lebih dari Rp 11 milyar 500 juta)  dari tahun sebelumnya. Terlepas dari kondisi yang sulit dan merugikan Jemaat di Pakistan, mereka masih tetap berkontribusi dalam pengorbanan ini. Ahmadi Pakistan berada di garis depan dalam hal pengorbanan harta dan juga dalam mengorbankan hidup mereka. Semoga Allah segera mempermudah mereka dan memberi mereka ketenangan dan kedamaian dan semoga situasi di sana bisa membuka jalan bagi Tabligh untuk Jemaat.

Urutan kontribusi pengorbanan harta di luar Pakistan sebagai berikut: Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, India, Australia, Indonesia, dua negara Timur Tengah, Swiss, Ghana dan Nigeria. Tahun sebelumnya Inggris berada di nomor 3, sekarang nomor 2. Australia naik tingkat dan mengalahkan Indonesia di belakangnya.

Dalam hal peningkatan kontribusi pengorbanan mereka, Ghana berada di urutan pertama dengan kenaikan 50% dalam mata uang lokal mereka. Australia berada di urutan kedua dengan kenaikan 44%, diikuti oleh negara-negara Timur Tengah yang meningkat sebesar 17%. Swiss meningkat sebesar 15%, Pakistan sebesar 14%, dan Inggris sebesar 13%. Selebihnya, urutan negara-negara dalam kategori ini adalah: Indonesia, India, Jerman dan Kanada.

Dalam hal kontribusi jumlah pengorbanan per kapita/per orang, USA berada di urutan pertama, diikuti oleh Swiss dan Australia. Dua tiga tahun lalu, saya (Hudhur) telah menyebutkan, perhatian dipusatkan untuk meningkatkan jumlah kontributor (jumlah pelaku pengorbanan) daripada jumlah kontribusi pengorbanan harta – yang akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan karunia Allah tahun lalu jumlah orang yang berpartisipasi dalam Tahrik Jadid adalah 1. 211.700 orang. Dalam empat tahun terakhir, sekitar 600.000 lebih orang telah bergabung dalam program Tahrik Jadid.

Di Afrika, negara-negara berikut membuat kontribusi terbesar. Ghana adalah yang pertama, diikuti oleh Nigeria, Mauritius, Burkina Faso, Tanzania, Benin, Gambia, Kenya, Sierra Leone dan Uganda. Untuk Mujahidin Daftar Awal, sudah ada 5.927 nama, 105 kontributor diantaranya adalah orang-orang yang masih hidup dan selebihnya dikelola oleh keluarga atas nama keluarga almarhum mereka. Tiga kota pertama di Pakistan adalah: Lahore, Rabwah dan Karachi. Sedangkan secara wilayah, berikut berada di garis depan: Sialkot, Faisalabad, Sargodha, Gujranwala, Umerkot, Gujarat, Badin, Narowal, Toba Tek Singh, Kasur dan Nankana Sahib.

Sepuluh Jemaat pertama di Jerman: Rodermark, Nouwes, Forzhaim, Mahdiabad, Drae Esh, Worsburg, Neda, Brochszal, Markburg, Nawedt . Local imarat pertama di Jerman: Hamburg, Frankfurt, Grossgrow, Darmstadt, Wesbaden, Mannheim, Ofenbach, Desenbach, Moerfolden, Waldrof, Radstadt. Sepuluh Jemaat pertama di Inggris: Masjid Fazl, Worcester Park, New Malden, West Hill, Masjid Barat, Birmingham Central, Cheam, Raynes Park, Gillingham dan Baitul Futuh. Diantara Jemaat dengan jumlah anggota yang lebih kecil, yang pertama ialah: Leamington Spa, Bournemouth, Wolverhampton, Spen Valley dan Coventry. Lima wilayah pertama Inggris: London, Midlands, North East, South dan Middlesex.

Sedangkan Jemaat-Jemaat pertama di USA adalah: Silicon Valley, Los Angeles Timur, Detroit, Seattle dan Harriburg. Di Kanada local imarat pertama adalah: Calgary, Peace Village, Vaughan dan Vancouver. Beberapa daerah pertama mereka adalah: Edmonton, Ottawa, Durham, Saskatoon Selatan, Milton George Town dan Lloydminster. Sepuluh Wilayah pertama di India ialah Kerala, Tamil Nadu, Karnataka, Andhrapradesh, Jammu Kasymir, Orissa, Bengal, Punjab, Delhi dan Laksdep. Jemaat pertama di India adalah: Kerala, Calicut, Hyderabad, Qadian, Kananor Town, Bengadi, Sulur, Kolkata, Chennai dan Bangalore. Sepuluh Jemaat pertama dari Australia adalah: Blacktown, Melbourne, Adelaide, Marsden Park, Canberra, Druitt Mountain, Brisbane, Tasmania, Perth dan Darwin.

Semoga Allah menerima pengorbanan harta yang dibuat oleh semua dan memberkati mereka. Dan semoga Dia memungkinkan administrasi Jemaat untuk membelanjakan dana pengorbanan harta tersebut dengan sebaik-baiknya!

Sholat jenazah gaib kemudian akan dilaksanakan setelah Jumat. Mu’allim dan Muballigh Ghana, Al-Haaj Yusuf Edusei Sahib, meninggal dunia di Kumasi, Ghana pada 2 November 2014. Pagi hari tanggal 2 November, beliau sudah bepergian sejauh 400-500 KM untuk mengawasi pembangunan sebuah masjid daerah. Beliau seharusnya menginap Tamale tapi beliau bersikeras untuk kembali pulang ke rumahnya di Kumasi. Setelah mencapai kota tersebut, beliau merasa tidak enak badan dan berbaring di beranda rumahnya. Keluarganya segera membawanya ke rumah sakit. Begitu dokter mulai memeriksa keadaannya, Tn. Yusuf meninggal. Dokter tersebut mengatakan bahwa meskipun ia tidak mengenal Tn. Yusuf, namun melihat cara beliau meninggal dia tahu bahwadia adalah orang besar.

Tn. Yusuf lahir dari keluarga Kristen dan sangat tertarik pada agama sejak kecil. Suatu hari ketika beliau tinggal dengan pamannya dan masih mahasiswa, beliau berpikir apa yang akan beliau dapatkan jika beliau mengumpulkan semua kemewahan dunia, tetapi Tuhan tidak senang dengan beliau. Pamannya bergerak di dalam bisnis bioskop dan meskipun beliau tumbuh dewasa dengan terbiasa menonton film, Tn. Yusuf merasa jijik mengenai hal-hal yang berbau hal itu dan kemudian pergi. Beliau pergi ke sebuah gereja Katolik dan berdoa: “Ya Tuhan, jika hidupku tidak menyenangkan Engkau, matikanlah aku saat Engkau senang dan ridho kepadaku”. Doa beliau ini diterima langsung. Saat beliau keluar dari gereja tersebut, beliau bertemu dengan seorang teman yang mengatakan kepadanya bahwa ia telah mendengar mengenai ajaran sebuah agama yang disukainya, dan bertanya kepada beliau apakah beliau ingin ikut. Tn. Yusuf setuju dan mereka berdua kemudian datang ke rumah misi Kumasi. Mereka bertemu Muballigh Ahmadi di sana, yang kemudian membacakan syarat-syarat bai’at kepada mereka berdua, tanpa bertanya siapakah diantara mereka yang datang untuk bai’at. Muballigh tersebut baru menanyakan siapa yang akan bai’at setelahnya. Yusuf Edusei Sahib mengatakan mereka berdua datang untuk berbai’at, dan berbai’atlah mereka. Dengan demikian beliau masuk Ahmadi pada usia 16 tahum.

Beliau banyak menghadapi permusuhan dan kebencian dari orang tuanya, terutama ayahnya, namun tetap teguh pada imannya. Kemudian, beliau melakukan tabligh kepada ayahnya dan ayah beliau pun akhirnya juga menerima Ahmadiyah. Pada usia 20 tahun, Tn. Yusuf menyelesaikan pendidikannya di Jamiah Ghana. Beliau menikah dan terus melintasi berbagai tahapan ruhani.

Tn. Yusuf menderita sakit parah pada usia 40 tahun dan dokter menyarankan agar kaki beliau diamputasi. Beberapa dokter mengatakan bahwa tidak ada obat untuk penyakit beliau dan beliau tidak akan hidup lama. Jika dokter tidak mengawasi beliau, beliau sendiri akan menyuntik kakinya dengan obat penghilang rasa sakit dan berkata kepada kaki beliau: “Wahai kakiku, aku seorang hamba Allah dan pelayan Masih Mau’ud. Aku harus pergi ke tempat-tempat yang berbeda untuk melakukan Tabligh dan kau tidak bisa menjadi hambatan dalam hal ini. ”

Hadhrat Khalifatul Masih V secara pribadi mengamati semangat dan gairah Tabligh beliau yang membara. Hadhrat Khalifatul Masih IV atba mengirim Tn. Yusuf ke Amerika Serikat untuk diobati dan menulis kepada dokter yang merawat beliau bahwa dokter tersebut beruntung bisa ambil bagian dalam pengobatan Yusuf. Hadhrat Khalifatul Masih IV atba mengatakan: ”Jangan menganggap Yusuf yang datang kepada Anda, namun anggaplah saya sendiri yang langsung datang kepada Anda (untuk dirawat), karena Yusuf adalah orang yang sangat saya sayangi. Jaga dan rawatlah ia sebagaimana Anda menjaga dan merawat saya.” (Untuk mengobati penyakit beliau), diusulkan empat kali operasi. Namun setelah operasi yang ketiga kali, Tn. Yusuf menolak untuk untuk menjalani operasi lagi. Dokter menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV atba untuk memberitahu beliau akan hal ini. Tn. Yusuf juga menulis surat kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV atba dan menyebutkan tentang mimpi yang beliau alami; dan berdasarkan mimpi tersebut, jika beliau tidak ingin dioperasi yang keempat kalinya, tidak apa-apa, dan beliau akan tetap sembuh. Allah memang memberikan kepadanya kesembuhan.

Suatu ketika Tn. Yusuf mendapatkan sebuahilham di kamar beliau. Beliau melihat ayat Alquran (إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا) “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. . . “(41:31) ditulis pada dinding kamarnya dan beliau jugamendengar ayat tersebut dibacakan. Setelah ayat tersebut selesai dibacakan, seorang pria aneh datang dan duduk di samping beliau dan membelai kaki beliau dengan tangannya, dan berkata “Jangan khawatir Yusuf, penyakitmu akan pergi dan kamu akan segera sembuh”. Beliau telah menderita penyakit tersebut selama 9 tahun, namun ajaibnya, sampai akhir hayat beliau, tidak ada sisa-sisa dari penyakit tersebut. Muballigh Kausar Sahib mengatakan, Tn. Yusuf menunjukkan kaki beliau kepadanya pada tahun 2005 di Qadian dan kaki beliau dalam keadaan sehat.

Telah ditunjukkan kepada Tn. Yusuf bahwa beliau akan wafat pada usia 63 tahun. Ketika usia beliau menjelang 63 tahun, beliau mengumpulkan anak-anaknya dan membacakan ayat Alquran: أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي “Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (2: 134) Tn. Yusuf berkata kepada anak-anaknya, “Aku bertanya kepada kalian selayaknya Nabi Yakub bertanya kepada anak keturunannya: siapakah yang akan kalian sembah?” Anak-anak beliau menjawab bahwa mereka akan menyembah Allah Yang Maha Agung. Beliau mengatakan kepada mereka, hidup beliau adalah kehidupan sebelum mereka. Beliau telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk Jemaat. Beliau berkata, karena saat ini ajal beliau sudah dekat, maka pewaris sejati beliau adalah anak yang paling adil dan berbudi luhur. Beberapa hari kemudian beliau mengatakan kepada saudara beliau bahwa sebenarnya di hari beliau menginjak usia 63 tahun, malaikat maut telah muncul. Namun Tn. Yusuf meminta waktu penangguhan dan malaikat maut pun menyepakatinya. Meskipun malaikat tersebut tidak mengatakan sesuatu yang spesifik, tetapi Tn. Yusuf merasa waktu penangguhan itu berlangsung sampai sekitar usia 70 tahun.

Ketika Maulana Wahab Adam wafat pada awal tahun ini, Tn. Yusuf mengatakan waktu beliau sudah dekat. Orang-orang Ghana yang tulus dan ikhlas sekarang sudah banyak yang wafat. Semoga Allah mengaruniai Jemaat lebih banyak lagi orang yang tulus ikhlas. Tn. Yusuf datang ke Jalsah di Inggris tahun ini. Beliau sebenarnya kurang sehat dan Hadhrat Khalifatul Masih V telah merujuk beliau kepada beberapa dokter. Namun beliau ingin cepat pulang ke rumah beliau. Para dokter pun setuju perawatan sakit beliau dapat dilanjutkan di Ghana. Suatu kali, dalam salah satu pidato beliau, Hadhrat Khalifatul Masih IV atba meminta Tn. Yusuf untuk bergabung bersama beliau di atas panggung dan meletakkan tangan beliau di bahu Tn. Yusuf. Beliau berkata: “Yusuf, saya tahu Anda tidak suka perbuatan baik Anda disebutkan di depan orang-orang, namun, perbuatan perbuatan baik Anda sudah menjelma dan mewujudkan diri mereka sendiri. Dan saya ingin memberitahukan kepada Jemaat, Anda adalah orang yang saleh dan benar.” Tn. Yusuf mendengarkan semua ini dengan berlinangan air mata.

Selama kunjungan Hadhrat Khalifatul Masih V pada tahun 2004, beliau melihat bagaimana Tn. Yusuf berada di garis depan dalam pengorbanan harta. Hadhrat Khalifatul Masih V mengatakan bahwa sejauh yang beliau ingat, Tn. Yusuf telah mengembangkan sebuah pengobatan yang dipasarkan secara luas dan mengumpulkan banyak keuntungan. Tn. Yusuf kemudian menggunakan hasil dari keuntungan tersebut untuk membangun sekitar 40 sampai 45 masjid di Ghana, dimana beberapa adalah masjid yang sangat bagus dan besar. Beliau juga membangun sebuah pusat Tabligh yang beliau tunjukkan kepada Hudhur, yang kemudian mengatakan kepada beliau, beliau seharusnya juga membiarkan orang-orang lain yang melakukan pengkhidmatan (seperti yang beliau lakukan). Beliau menjawab dengan sangat rendah hati, selama Tuhan memungkinkan beliau, beliau akan tetap melanjutkan usaha-usaha yang beliau lakukan.

Beliau seorang yang sangat sederhana, murah hati, dan berbudi luhur. Beliau mendapat ilham-ilham dan selalu melaksanakan sholat Tahajud. Beliau orang yang lembut dengan akhlak luhur yang memiliki kecintaan yang sangat besar untuk Khilafat. Beliau sangat berhati-hati untuk tidak membuang-buang makanan di rumah. Pernah beliau melihat pemborosan makanan di rumah beliau dan kemudian menangis selama menunaikan shalat. Ketika beliau ditanya alasan kenapa beliau menangis, beliau menjawab: “Allah memberikan kita begitu banyak nikmat tapi malah kita sia-siakan,”

Salah satu putra Tn. Yusuf, Hafiz Ishamil Edusei adalah mahasiswa program Shahid selama tujuh tahun di Jamiah Intenasional. Dia mengatakan ketika ia kembali ke rumah setelah menyelesaikan hafiz (menghafal) Quran, ayahnya memberinya penghormatan yang luar biasa. Pernah sekali ia melakukan hal yang tidak disukai ayahnya, dan beliau berkata: “Saya tidak bisa marah dan mencacimu atas dasar hormat saya kepada Al-Quran yang telah kamu hafal. Tetapi kamu juga harus berusaha dan tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, sebagai rasa hormat kamu terhadap Al Quran” Anak beliau tersebut berkata, seandainya ayahnya saat itu marah dan mencacinya, dampaknya tidak akan sedalam yang dirasakan olehnya saat itu – disebabkan perkataan beliau tersebut. Dia mengatakan, orang tuanya membesarkannya sebagai calon Muballigh. Ketika ia meminta uang dari orang tuanya, mereka akan memberinya sedikit uang sambil menjelaskan, ia akan menjadi seorang Muballigh, dan setiap Muballigh harus dapat hidup cukup dengan sedikit uang menghindari pemborosan dan hidup berlebih-lebihan. Dia mengatakan ayahnya banyak sekali mengajarkan hal-hal yang baik. Suatu hari dia berwudhu bersamaan dengan ayahnya. Saat itu, ayahnya selesai lebih dulu daripada dia. Yusuf Sahid kemudian berkata kepadanya, suatu saat ia akan menjadi seorang Muballigh. Muballigh memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan banyak dan hanya punya waktu yang sangat sedikit. Karena itu ia harus belajar untuk melakukan pekerjaan sebanyak mungkin dalam waktu sesedikit mungkin.

Tn. Yusuf adalah panutan bagi para Muballigh. Beliau melakukan banyak Tabligh dengan penuh semangat dan gairah yang membara – beliau adalah orang yang sangat sederhana. Allah memberikan beliau karunia yang banyak, dan beliau membelanjakannya untuk membangun mesjid mesjid Jemaat. Perjalanan terakhir beliau juga dalam rangka untuk pembangunan sebuah mesjid. Beliau telah berhasil menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Ghana. Anak dari Wahab Adam menuliskan bahwa Tn. Yusuf adalah orang yang terdepan dalam hal pengorbanan harta.

Beliau adalah orang yang luar biasa, yang memiliki rasa empati luar biasa terhadap misi Jemaat dan mempunyai semangat dan kemauan besar untuk melayani. Beliau meninggalkan istri beliau, tiga anak lelaki dan lima anak perempuan. Dengan karunia Allah, semuanya mempunyai hubungan yang sangat erat serta ketulusan dan kesetiaan terhadap Khilafat dan Jemaat. Salah seorang anak perempuan beliau, Fatiha Sahiba, adalah guru kepala dari International Taleemul Islam School di Accra. Seperti telah disebutkan sebelumnya, putra bungsu beliau saat ini bersekolah di tahun ketiga di Jamiah Internasional. Semoga Allah mengangkat harkat dan derajat Almarhum dan terus meningkatkan ketulusan anak anak beliau. آمين.

[penerjemah     : Ratu Gumelar]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tafsir Hadhrat Masih-e-Maud, Vol. II, hlm. 131