Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

5 Maret 2004 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah adalah Penjaga Yang terbaik. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau menjadi enggan , maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. An-Nisa’ 136

Di dalam Al-Quran,salah satu dari antara akhlak-akhlak mulia dan nilai –nilai luhur yang untuk memilikinya Allah menarik perhatian orang-orang mu’min adalah sifat adil, yang untuk pengamalannya,senantiasa berpegang teguh padanya dan menjalankannya merupakan kewajiban orang-orang mu’min. Seolah-olah di dalam ayat ini Dia berfirman bahwa apapun situasi dan kondisi yang terjadi kamu tidak akan melepaskan sikap adil dan cinta damai dan akan senantiasa mendukung yang benar.

Pada suatu saat di zaman Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s seorang penganut Kristen mengajukan keberatannya bahwa- nauzubillah- di sujumlah tempat Rasulullah saw telah mengijinkan untuk berbohong. Selain ayat-ayat lainnya ayat inipun Hadhrat Masih Mauud a.s kemukakan bahwa sesudah adanya (ayat diatas) dengan muka apa anda dapat mendakwakan bahwa Rasulullah saw mungkin telah memerintahkan ini. Dan beliau juga menawarkan hadiah dan mengumumkan tantangan pada orang-orang Kristen bahwa seberapa banyak penekanan untuk senantiasa berkata jujur dan berpegang teguh pada keadilan yang terdapat dalam Al-Quran, orang-orang Kristen jika dapat menunjukkan dari Injil maka –sabda beliau -saya akan memberikan sejumlah uang yang besar sebagai hadiah”. Tetapi siapapun tidak ada yang berani datang untuk berhadapan. Jadi ini merupakan kebaikan Allah pada kita bahwa pada zaman ini Dia telah menganugerahkan taufik pada kita untuk mengimani Hadhrat Masih Mauud a.s yang telah memberikan hal-hal yang berisikan hikmah dari Al-Quran yang terselubung dan menganugerahkan senjata argumentasi-argumentasi kepada kita. Tetapi senjata ini bukan untuk menutup mulut orang lain bahkan ini merupakan ajaran cantik yang kita akan aplikasikan pada diri kita. Jika kita tidak menegakkan keadilan yang Allah telah anugerahkan pada kita di lingkungan rumah tangga kita, di lingkungan RT kita dan lingkungan masyarakat kita maka semua pendakawaan untuk melakukan bimbingan terhadap dunia akan menjadi kosong melompong.

Hal pertama yang harus senantiasa diperhatikan ialah mengenai kesaksian apapun yang akan diberikan. Sesuai dengan adanya perintah untuk memenuhi tuntutan keadilan, itu hanya dapat terpenuhi apabila di dalam hati sanubari terdapat rasa takut pada Tuhan. Baru akan terpenuhi apabila yakin sepenuhnya bahwa ada satu Tuhan yang mengetahui keadaan lahir kalian , mengetahui keadaan yang tersembunyi, terselubung kalian dan kalian yakin bahwa Dia mengetahui apa yang kalian lakukan sekarang dan yang akan datang. Apabila dengan pemikiran ini kalian berupaya mencari penyelesaian dalam urusan kalian kalian maka dengan karunia Allah baru akan dapat mencapai kemajuan dalam hal ketakwaan. Dan jika kemajuan dalam ketakwaan telah diraih maka untuk menegakkan keadilan sebagaimana yang telah Dia firmankan dalam ayat ini bahwa terkadang apabila terpaksa memberikan kesaksian terhadap keluarga sendiri, atau terhadap kerabat yang dicintai maka akan lahir keberanian untuk memberikan kesaksian dan akan mendapatkan taufik untuk melakukan itu.

Pada permulaan zaman Hadhrat Masih Mauud a.s juga terjadi pula satu peristiwa yang serupa. Tatkala beliau memberikan kesaksian dalam hak orang lain pada sidang yang digelar dari pihak bapak beliau. Sengketa dengan bapak beliau adalah mengenai kasus pohon para petani, kasus sengketa tanah. Para petani dengan melihat kebenaran, kejujuran dan keadilan Hadhrat Masih Mauud a.s mereka memberikan keterangan di pengadilan bahwa jika Hadhrat Mirza Gulam Ahmad memberikan kesaksian bahwa pohon-pohon itu merupakan hak bapaknya maka kami akan meninggalkan hak kami; kami akan menarik kembali kasus ini. Pengadilan memanggil beliau, pengacara berupaya memberikan pengertian pada beliau, tetapi beliau bersabda, saya akan mengatakan mana yang benar, sebab saya -bagaimanapun juga -akan melakukan yang seadil-adilnya . Maka setelah mendengar jawaban beliau pengadilan memenangkan para petani dan setelah keputusan itu Hadhrat Masih Mauud a.s kembali dengan penuh ceria sedemikian rupa sehingga orang-orang menduga bahwa beliau kembali dengan kemenangan. Inilah contoh nyata yang Hadhrat Masih Mauud .a.s telah perlihatkan pada kita untuk menegakkan standar adil itu. Dan inilah yang beliau juga harapkan dari Jemaat beliau,inilah yang beliau ajarkan bahwa kalianpun standar inilah yang harus kalian tegakkan.

Allah swt juga berfirman bahwa janganlah mengatakan sesuatu yang mempunyai banyak maksud dan kata-kata sedemikian rupa menjadi campur aduk sehingga dengan memetik faedah dari keraguan itu kalian mengambil keputusan yang memihak diri kalian sendiri. Jika kalian melakukan serupa ini maka inipun merupakan hal yang menyimpang jauh dari keadilan, merupakan hal yang berjalan bertentangan dengan keadilan. Oleh karena selalulah berkata jujur, katakanlah yang lurus dan terus terang yang dari mana semua tuntutan keadilan dan insaf menjadi sempurna. Kemudian tegakkan pula standar adil ini di rumah sendiri, dalam perlakuan kalian terhadap anak dan istri kalian, dalam urusan jual beli sehari-hari; tegakkanlah pula standar ini adil ini dalam memamfaatkan tenaga para karyawan kalian dan dalam membayar hak-hak mereka pun, dalam perlakuan terhadap tetangga sehingga di tempat lain bersabda bahkan dengan musuh sekalipun tegakkanlah standar ini. Allah Yang Maha mengetahui keadaan kamu ,Yang Maha mengetahui kondisi hatimu akibat niat baikmu dan Dia juga akan menganugerahkan padamu hadiah-hadiah yang mulia. Jadi lihatlah betapa indahnya ajaran ini untuk menegakkan keadilan dan keamanan di dunias.

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda :Berpegang teguhlah pada kebenaran dan keadilan, dan seyogianya setiap kesaksian adalah demi untuk Tuhan-mu, janganlah berdusta kendati dengan berkata benar jiwamu sendiri yang terancam atau ibu bapakmu atau keluargamu yang akan mengalami kerugian .Filsafat Ajaran Islam hal 53 . Tafsir Kabir Hadhrat Masih mauud a.s jilid 2:274

(Yakni, seandainya anak-anak,istri-istri dan keluargamu yang akan mengalami kerugian, kamu tetap jangan memberikan kesaksian yang palsu )

Kemudian beliau bersabda (Al-Quran ) Apabila kamu berkata maka katakanlah apa yang memang benar,yang memang merupakan hal yang benar dan adil kendati kamu memberikan kesaksian terhadap keluarga dekatmu.

Yakni untuk menegakkan keadilan kamu jangan melihat keuntungan pribadimu atau kamu melihat keuntungan keluargamu dan keluarga dekatmu, bahkan harus mengatakan hal yang hak dan yang benar.

Kemudian Allah dalam Al-Quran surah Al-Maidah lebih memperjelas

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi saksi-saksi dalam mendukung keadilan sambil mengawasi dengan tangguh demi karena Allah. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu adalah yang paling dekat dengan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Al-Maidah 9

Kini simaklah, standar apa yang bisa dipakai lebih dari itu untuk dapat menegakkan keadilan bahwa dengan musuh sekalipun kamu jangan sampai tidak berlaku adil. Jika kamu tidak berlaku adil terhadap musuhmu dan kamu tidak memenuhi tuntutan keadilan maka artinya di dalam hatimu tidak ada rasa takut pada Allah. Dengan ucapan memang kamu lakukan bahwa kami adalah hamba Allah dan kami takut padanya tetapi amal memberikan kesaksian yang bertolak belakang. Nah, terkadang terjadi perselisihan kecil-kecilan diantara kita, jangankan dengan musuh perlakuan adil dapat diterapkan, terkadang yang terjadi adalah sebaliknya dengan orang-orang sendiri pun dalam perkelahian yang kecil-kecil,dalam pertikaian-pertikaaian kecil dan dalam amarah-amarah kecil, dalam keluaga atau di lingkungan sendiri segera terjadi kasus saling menuntut ke pengadilan. Dan terkadang sampai terjadi dalam bentuk yang sangat menyakitkan sehingga dalam hal-hal yang sederhana mulai berujung ke kantor polisi atau ke pengadilan. Mulai saling menuntut ke sidang pengadilan dan terkadang saling memberikan kesaksian palsu diantara satu dengan yang lain. Sama sekali tidak ada rasa takut pada Allah,sepenuhnya orang-orang seperti itu telah lari ke cengkeraman syaitan dan kendati demikian untuk menguatkan kasusnya dapat juga dimaklumi bahwa terkadang mereka dengan sengaja melakukan hal-hal yang salah,mereka melakukan kebohongan dan syaitan sedemikian rupa membesarkan nyali mereka sehinggga mereka berani mengatakan lihatlah mereka ini (pengurus) tidak berlaku adil terhadap kami. Mereka ini lupa bahwa di atas kita ada juga Tuhan.

Allah berfirman jika kamu ingin menjadi hamba-hamba Yang Rahman maka bersihkanlah sepenuhnya fikiranmu dan seyogianya tujuanmu hanya ingin menegakkan keadilan dan kesamaan hak.Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Bentuk pengamalan perintah itu nampak pada kita dalam sebuah keputusan Rasulullah saw yang corak riwayatnya demikian.Hadhrat Muslih Mauud r.a mengutip bahwa pada suatu saat ada beberapa sahabah dikirim untuk menyampaikan berita, sebab pada saat itu merupakan situasi perang yang tengah dialami orang-orang Islam, situasi menuntut harus senantiasa dalam pantauan.Maka ada beberapa orang musuh mereka dapatkan di perbatasan tanah suci dan mereka, yakni orang-orang Islam menduga bahwa jika kita membiarkan mereka ini hidup maka mereka akan pergi memberitahukan orang-orang Mekah dan kita akan dibunuh oleh mereka. Atas dasar pemikiran itu mereka menyerangnya dan seorang dari orang-orang kafir terbunuh. Tatkala orang-orang yang mencari dan menanyakan berita-berita ini kembali ke Madinah, maka dari belakang mereka juga orang-orang Mekah pun mengikuti mereka lalu menadu bahwa seperti inilah orang-orang ini datang kemari setelah membunuh dua orang kami dan mereka membunuh di lingkungan tanah haram/tanah suci. Nah, orang-orang yang sebelumnya berada di tanah haram/suci terus menganiaya Rasulullah saw, kepada mereka seyogianya (dibalikkan harus )menerima jawaban bahwa kamu pun ini yang terus kamu lakukan,tetapi apa yang segera tindakan yang beliau ambil ? Beliau bersabda bahwa telah terjadi ketidak adilan dengan kalian. (Padahal) mungkin saja orang itu (quraisy)pergi ke tanah haram/suci dengan dugaan bahwa itu merupakan tempat aman terlindungi dan mereka tidak berupaya semaksimal mungkin untuk perlindungan mereka ,mereka telah menunjukkan sedikit kekurangan dalam peperangan. Atas hal itu maka beliau menyerahkan diyat / tebusan kepada kedua famili yang terbunuh (yang merupakan sebuah tradisi di Arab). Pengantar Untuk mempelajari Al-Quran :249-250

Hadhrat Khalifah awal r.a bersabda:

 كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ – kemudian kesaksian – kesaksianmu harus dengan adil demi untuk Tuhan, kemudian penjelasannya adalah

 وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا- Janganlah kebencian terhadap suatu kaum menjadi perintang bagimu untuk tidak berlaku adil. Sambil memberikan contoh ,misalnya, sejumlah orang Arya pada zaman ini terus berupaya mengeluarkan kamu dari kantor-kantor/ tempat kerja. Bukanlah ajaran (Al-Quran) bahwa kalian melakukan upaya seperti itu dalam menghadapi mereka, dimana kamu memiliki wewenang kamu mengambil tindakan dalam upaya untuk melawan mereka, janganlah seyogianya kalian melakukan hal seperti itu.

Bersabda: Allah membertahukan akan penawar takwa bahwa yakinilah bahwa ada yang melihat pekerjaan-pekerjaanmu dan ada wujud Yang mengetahuinya. Lampiran surat Kabar Badar Qadian 15 Agustus1909 dengan rujukan Haqaaiqulfurqan jilid 2:75 Derngan demikian kalian akan tegak dalam ketakwaan. Kalian akan menjadi yakin bahwa ada yang melihat kalian dan ada yang mengetahui akan pekerjaan-pekerjaan kalian, baru kemudian akan dapat tegak standar adil yang tinggi.

Kemudian, ada sejumlah orang memiliki adat kebiasaan,yakni sejumlah mereka yang bergerak di bidang bisnis mereka menjadi sangat lihai, licik dan cerdik menjalankan bisnisnya dengan mengikutsertakan bersama mereka orang yang kurang pengalaman dalam bisnis. Kepada sebagian mereka -yang kasihan itu – uang memang datang , sedemikian rupa lugunya mereka sehingga mereka tertipu dengan ungkapan-ungkapan orang-orang cerdik dan lihai itu dan dengan mereka sedemikian rupa mereka mengadakan perjanjian yang pada akhirnya berujung pada timbulnya kerugian. Dan semua modalpun adalah milik orang-orang itu dan semua tanggung pekerjaan pun berada di pundak mereka ini dan orang yang kedua /mitranya itu hanya sambil duduk di rumah memetik mamfaat. Orang-orang yang cerdik semacam itupun seyogianya takut pada Tuhan dan jangan membodohkan orang-orang seperti itu; jika ada orang yang karena terpedaya dengan ucapan-ucapan lalu dia menjadi bodoh, maka seyogianya diingat bahwa ada Zat Tuhan yang tengah melihat anda. Dia adalah Maha mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati anda. Jadi janganlah seyogianya mengadakan perjanjian yang kosong dari takwa semacam itu, sebab kapan saja anda mengadakan perjanjian semacam itu, maka orang yang mengadakan perjanjian semacam itu,mengadakan perjanjian dengan orang yang tidak mempunyai pengalaman.lalu uang dia dapat ambil dari orang itu kemudian menyia-nyiakan uang itu maka dia bagaimanapun telah menghancur luluhkan keadilan. Dan kadang terjadi bahwa uang orang seperti inipun mereka rampas dan sesudahnya apabila orang-orang semacam itu diberikan pengertian bahwa ini kamu telah melakukan kesalahan, seyogianya jangan seperti itu, janganlah hendaknya seperti itu perjanjiannya ,adakanlah perjanjian dengan memperhatikan nilai-nilai ketakwaan maka jawabannya adalah bahwa lihatlah Tuan, dia telah menandatanganinya dengan senang hati, kami kapan pernah meletakkan pistol di depannya untuk menyuruhnya menandatangani. Ini jelas merupakan tindakan yang sungguh memalukan,peristiwa seperti itupun ada di hadapan kita. Tetapi orang lain yang menyia-nyiakan uang dalam kebodohan seperti itu mereka seharusnya menanamkan modalnya dengan merenungkan matang-matang. Setelah bermusyawarah,sambil berdoa, setelah dengan benar –benar memahami maka apakah akan sedikit banyak ada faedsahnya atau tidak , tampa sebab jangan hendaknya menjadi orang yang bodoh, orang mukmin seyogianya sedikit banyak menunujukkan firasatnya.

Sejumlah orang-orang meminjam hutang piutang lalu pada saat pengembalian mereka membuat alasan-alasan. Merekapun hendaknya takut pada Tuhan. Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Hadhru wala salma meriwayatkan bahwa seorang Yahudi meminjamkan hutang empat dirham padanya yang batasnya telah habis. Orang Yahudi itu datang mengadu kepada Rasulullah saw bahwa orang itu berhutang empat dirham yang harus dibayar kepada saya (kata orang Yahudi itu) dan dia ini tidak mau membayar kepada saya. Rasulullah saw berkata kepada Abdullah, berilah kepada Yahudi ini haknya,Abdullah berkata bahwa demi Zat yang telah mengirim Tuan dengan benar saya tidak mempunyai kemampuan untuk membayar hutang. Beliau untuk kedua kali bersabda ,kembalikanlah haknya kepadanya, Abdullah kemudian kembali memberikan alasan seperti itu dan berkata bahwa saya telah mengatakan padanya bahwa Tuan (Rasul) akan mengirim kami ke Khaibar dan akan memberikan kami bagian dari ganimah dan sekembalinya saya akan mengembalikan hutang padanya,beliau bersabda, kini bayarlah haknya kepadanya.Nabi saw apabila mengulangi suatu perkataan sampai tiga kali maka itu dianggap sebagai keputusan final /terakhir,maka sesuai dengan itu pada waktu itu juga Hadhrat Abdullah pergi ke pasar. beliau pada waku itu menggunakan slembar kain sebagai kain. Beliau membuka tutup kepala lalu beliau gunakan sebagai kain dan setelah menjualnya seharga empat dirham dia membayar hutangnnya. Dalam keadaan ini datang seorang tua lewat disana lalu berkata bahwa hai sahabah Rasulullah saw , apa yang terjadi dengan Tuan, Abdullah memperdengarkan semua kisahnya maka pada waktu itulah dia yang tengah menggunakan selimutnya membuka selimutnya lalu memberikan pada Abdullah . Dan seperti itulah hutangnnyapun lunas juga dan selimutnyapun dia dapatkan. Musnad Ahmad bin hanbal jilid 3: 422 Terbitan Beirut

Perhatikanlah sahabah itu kondisinya sama sekali tidak layak untuk membayar hutang. Kepadanyapun Rasulullah saw bersabda bahwa kendati dengan menjual selimut yang ada di tubuhpun bayarlah hutang. Walhasil,hutang harus dibayar. Baru hak dan keadilan dapat tegak.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s bersabda bahwa kondisi adil ialah keadaan orang muttaki dalam bentuk nafsu ammarah.Untuk memperbaiki kondisi itu terdapat perintah adil. Di dalamnya manusia harus melawan bisikan jiwa sendiri. Misalnya, hutang seseorang harus dibayar, tetapi kata hati membisikkan bahwa dengan cara apapun saya harus tahan itu uang dan secara kebetulan pula waktu pembayarannyapun berlalu,di dalam itu jiwa manusia akan menjadi bertambah berani dan tidak terkendali bahwa kini pun dari segi undang-undang mungkin tidak akan bisa ada tuntutan,tetapi ini tidaklah benar. Tuntutan keadilan adalah hutangnnya wajib dibayar, yakni hutangnya dikembalikan dan itu jangan ditekan dengan bebagai alasan-alasan. Bersabda bahwa saya dengan menyesal mengatakan bahwa sejumlah orang tidak menghiraukan hal itu dan di dalam Jemaat kita pun terdapat orang yang seperti itu yang sangat sedikit memberikan perhatian pada pembayaran hutang piutangnya,ini adalah bertentangan dengan sifat adil. Rasulullah saw tidak menyalatkan jenazah orang yang seperti itu, yakni beliau tidak menyalatkan jenazah orang-orang seperti itu. Jadi, setiap diantara kalian ingatlah hal itu dengan baik bahwa janganlah hendaknya malas untuk membayar hutang dan seyogianya lari jauh-jauh dari segala jenis khianat dan ketidak jujuran sebab ini bertentangan dengan perintah Ilahi.Malfuzhat jilid 4 :607 Terbitan Rabwah

Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hadhrat Zuhair bahwa Rasulullah saw bersabda: Orang yang adil akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Rahman ( kedua tangan Tuhan adalah terhitung tangan kanan) Jadi orang-orang ini dalam keputusannya dan di dalam keluarga dan kerabatnya, untuk siapapun mereka dijadikan sebagai pengawas/pemimpin mereka berbuat adil. Muslim Kitabul imarah

Kini saya akan memberikan contoh rumah, setiap laki-laki yang telah menikah/ berkeluarga adalah pengawas, merupakan kewajibannya untuk memperhatikan keperluan-keperluannya. Pria dijadikan pengawas, memenuhi biaya –biaya rumah tangga,memperhatikan pendidikan anak-anak,memenuhi keperluan-kepeluan dan pengeluaran-pengaeluaran pendidikannya,semua ini merupakan tanggung jawab laki-laki. Tetapi dengan sangat menyesal harus mengatakan bahwa di dalam Jemaat pun terdapat sejumlah pria yang jangankan memenuhi pengeluaran- pengeluaran rumah tangga,malah sebaliknya mereka meminta dari istri-istri mereka untuk dirinya sendiri dan mereka mengatakan bahwa cukupilah pengeluaran-pengeluaran kita , padahal tidak ada haknya pada pendapatan istrinya. Jika istri memenuhi sebagian pengeluaran maka ini merupakan kebaikannya pada suami. Jadi para suami seyogianya ingat sesuai dengan hadis ini bahwa jika ingin mengambil bagian dari rahmat Tuhan, ingin berhak pada nur Allah, maka sambil memenuhi tuntutran keadilan/berbuatr seadil-adilnya harus memenuhi tanggung jawab- tanggung jawab –nya, harus membayar hak tarbiat anak-anak , harus menaruh perhatian pada mereka , harus menjadikan mereka bagian dari warga masyarakat yang dihargai. Jika tidak melakukan itu maka artinya kalian tengah melakukan kezaliman. Jelas tidak ada suatu keadilan di dalam diri anda.

Sejumlah orang orang mukim di Inggris,jerman dan di sejumlah negara Eropa, mereka pada pandangan masayarakat, pada pandangan teman-teman mereka bahkan pada pandangan pengurus Jemaat pun terlihat sangat mukhlis dan mereka sangat baik saleh tetapi anak istri mereka tinggalkan di Pakistan dan sama sekali tidak mengetahui bagaimana mereka -yang tidak berdaya itu – melewatkan hidup mereka,atau sejumlah mereka meninggalkan keluarga-keluarga mereka disini,sedikitpun mereka tidak mengetahui bagaimana keluarga mereka disana menjalani hari-hari mereka. Apabila ditanyakan maka jawabannya, istri mulutnya lancang atau terjerumus dalam keburukan fulan atau keburukan fulan maka jika ini dipercaya juga bahwa perkataan orang sepertti ini adalah benar,maka merupakan tuntutan adil adalah selama dia ada hubungannya dengan kamu maka merupakan kewajiban kamu untuk memenuhi keperluan- keperluannya. Keperluan anak-anak memang dalam bentuk apapun merupakan pekerjaan laki-laki untuk memenuhinya. Kalian tengah memberikan hukuman kepada istri anda maka yang menimpa anak-anak itu hukuman macam apa itu, mereka pun kesana kemari menahan derita. Para pria seperti itu seyogianya merasa takut pada Tuhan. Sesudah menjadi Ahmadi hal-hal ini tidak layak ada dan tidak pula sesudah nizam Jemaat mengetahui tindakan-tindakan seperti ini dapat ditolerir, ini yang ingin saya terangkan. Kini bagaimanapun juga kita harus mengamalkan ajaran yang Al-Quran telah ajarkan kepada kita dan pada zaman ini dengan jelas Hadhrat telah sedemikian jelasnya telah sajikan di hadapan kita.

Kemudian sebuah hadis yang bersumber dari Hadhrat abu Hurairah r.a bahwa Rasululah saw bersabda : Diantara orang yang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang baik akhlaknya dari antara mereka dan dari antara kalian yang terbaik adalah mereka yang terbaik memperlakukan istri-istrinya. Tirmidzi Kitaburridha’ baab maa jaa a fi haqqilmarati ala zaujiha

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat lain Sulaiman bin Amru bin Ahwas dengan perantaraan bapaknya Umar bin Ahwas r.a meriwayatkan satu riwayat yang panjang yang Rasulullah saw sampaikan pada hujjatul wida’, di dalam itu ada bagian yang berkait dengan perempuan-perempuan itu adalah,” Ingatlah ! kamu memiliki hak pada istrimu, demikian pula istrimu pun ada hak padamu,hak kamu pada istri-istrimu adalah bahwa mereka tidak mendudukan orang yang kamu tidak sukai di atas kasur kamu dan tidak memberikan izin pada orang yang tidak kamu sukai untuk datang ke rumahmu dan hak istri-istri kamu padamu adalah bahwa kamu memperlakukan dengan baik berkait dengan makanan dan pakaian mereka ”. Tirmidzi Kitaburidha’bab maa jaa a fi haqqilmarati ’ala zaujiha

Di dalam riwayat ini diterangkan bahwa jika ingin menjalankan lingkungan rumah sesuai dengan konsep adil dan sejahtera, maka suami dan istri harus memperhatikan satu dengan yang lainnya, harus saling melindungi hak-hak mereka. Perempuan- perempuan apa yang harus mereka perhatikan karena perempuan-perempuan yang datang di rumah adalah teman-teman perempuan-perempuan mereka, jangan sampai terjadi orang –orang yang datang itu adalah orang yang tidak disukai oleh suaminya dan persahabatan mereka dengannya jangan mereka jadikan yang tadinya tidak boleh menjadi boleh.Jika suami tidak menyukai orang-orang seperti itu datang di rumah maka jangan mereka datang Bisa jadi dalam urusan di sejumlah rumah suami mengetahui oleh sebab itu mereka menjadi tidak menyukai orang-orang seperti itu datang ke rumah. Hal-hal ini seperti itulah coraknya sehingga perempuan-perempuan janganlah menganggap itu buruk demi untuk kesenangan suami dan keredhaannya dan apa yang suami katakan hendaknya mengitaatinya. Di dalam hadis ini hal kedua yang telah diterangkan ini adalah merupakan kewajiban suami bahwa yanmg menyangkut hak anak istri itu harus dipenuhi, penggeluaran/biaya keperluan rumah tangga dan pakaian mereka dll hendaknya diperhatikan. Penjelasannya sebelumnya saya telah jelaskan.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s (untuk para pria) bersabda: Menyakiti hati merupakan dosa besar dan hubungan – hubungan anak-anak perempuan adalah sangat sensitif. Tatkala kedua orang tua memisahkan mereka dengan dirinya dan menyerahkannya pada orang lain maka renungkanlah apa harapan-harapan yang timbul dalam fikiran mereka yang perkirannya manusia dapat perkirakan dari perintah ayat

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ- Dan bergaullah dengan mereka secara patut.Al-Badar jilid 3:26 18 juli 1904 rujukan tafsir Hadhrat Massih mauud a.s jilid 2:216

Kemudian kepada anak-anak juga terkadang orang-orang tidak berlaku adil. Sejumlah orang terkadang menghancurkan anak-anak mereka akibat sangat memanjakan mereka merusak anak-anak itu dan terkadang mereka merusak anak-anak itu akibat karena berlaku keras lebih dari yang diperlukan, maka anak-anak seperti itu setelah besar mereka menjadi benci kepada para orang tua mereka.

Rasulullah saw untuk menjauhkan hal itu dan untuk menegakkan keadilan sambil memperhatikan secara sangat halus beliau memberikan pelajaran pada kita.

Hadhrat Nu’man bin Basyir meriwayatkan bahwa bapak beliau membawa beliau di hadapan Rasulullah saw lalu berkata bahwa saya telah memberikan anak ini seorang sahaya.Hudhur bersabda apakah engkau telah memberikan sahaya kepada setiap anakmu. Bapak saya menjawab tidak hudhur, beliau bersabda kembalikanlah hadiah ini. Di dalam riwayat lain Hudhur bersabda takutlah pada Tuhan dan perlakukanlah anak-anak mu dengan adil dan sama rata. Mendengar itu bapak saya mengembalikan hadiah itu. Di dalam sebuah riwayat lain Rasulullah saw bersabda bahwa janganlah kamu menjadikan saya sebagai saksi untuk hibbah itu sebab saya tidak bisa menjadi saksi kezaliman.bukhari kitabulhibbah bab alhibbatu lilwaalid wa idza a‘thaa ba’dha waladihi syaia

Kemudian ada nizam Jemaat. Di dalam Jemaat juga dalam banyak kasus para pengurus memberikan keputusan. Merekapun seyogianya memperhatikan supaya sempurna tuntutan segenap keadilan. Kemudian terdapat sistim Dewan Qadha. Banyak kasus-kasus yang datang untuk mencari jalan penyelasaian. Merekapun seyogianya selalu menaruh perhatian pada perintah Allah bahwa sejalan dengan berdoa dengan tegak pada ketakwaan, setelah merenungkan matang-matang sambil meneliti ke kedalaman suatu masaalah baru mengambi keputusan supaya siapapun jangan ada yang mengeluh bahwa keputusan tidak diberikan dengan adil . Terkadang di dewan qadha untuk mendamaikan kasus lama waktunya menjadi panjang yang dari mana satu pihak menjadi mengeluh bahwa qadha tidak tengah memberikan keputusan. Kedua belah pihak seyogianya sabar dan tetap mempertahankan semangat. Pendek kata para pengurus dan Dewan Qadha hendaknya memberikan keputusan dengan seadil-adilnya dari seegala segi.

Tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda: Sampai hari matahari terbit seyogianya memberikan sedekah untuk segenap organ tubuh dan barangsiapa yang memberikan keputusan yang adil di antara orang-orang maka ini adalah merupakan sedekah(bagi anggota tubuhnya).Bukhari kitabussulah babul fadhlil islahi baainannaasi wal’adli bainahum.

Yakni orang-orang yang ditugaskan untuk pekerjaan itu,jika mereka memberikan keputusan dengan memperhatikan keadilan dan kesamaan hak maka inipun merupakan sedekah dari dirinya. Jadi, sejauh berkait dengan merupakan suatu hiburan bahwa itu akan terhitung merupakan sedekah dari pihaknya, disana juga terdapat hal yang sangat merisaukan dan merupakan hal yang memeras fikiran bahwa jangan jatu hukuman keputusan- keputusan yang salah dan akan ada pertanyaan yang akan dipertanggung jawabkan.

Tertera sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah bin Muhib bahwa Hadhrat Usman r.a pada saat mengirim Hadhrat Ibnu Umar sebagai hakim berkata,pergilah kepada orang-orang dan ambillah keputusan dalam urusan-urusan/ kasus-kasus mereka. Beliau berkata hai amirulmu’minin, apakah Tuan dapat memaafkan saya dalam memikul tanggung jawab ini ? Maka Hadhrat Usman berkata bahwa apakah anda tidak suka menjadi hakim, sedangkan bapak Tuan senantiasa memberikan keputusan yang adil ? Hadhrat Ibni Umar berkata bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda

 من كانا قاضيا فقضا بالعدل -man kaana qaadhiyan fa qadhaa bil ‘adli-barangsiapa yang menjadi qadhi/hakim maka hendaknya dia mengambil keputusan dengan adil dan seyogianya dia keluar dari jabatan itu dalam keadaan tidak ada tuduhan padanya. Setelah mendengar sabda itu saya tidak pernah mengingikan untuk menjadi itu. Tirmidzi kitabul ahkam baabu majaa a ‘an Rasulillah saw fil qaadhi.

 Beliau takut kepada Allah, jangan jangan sampai ada keputusan yang mengundang kritikan.Kemudian tertera sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Hasan bahwa Ubaidillah bin Ziyad pergi untuk menjenguk Mu’qal bin Yasar pada saat sakit yang menyebabkan kewafatannya. Beliau bersabda apakah saya memperdengarkan hadis kepada kamu yang saya dengar dari Rasulullah saw dan jika saya yakin bahwa kini saya akan hidup, maka saya tidak akan memperdengarkan hadis ini kepada kamu. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda seorang hamba yang Allah telah serahi kewajiban untuk memelihara orang-orang jika dia mati dalam keadaan dia tidak adil dalam mengawasi rakyatnya maka surga akan diharamkan padanya. Sunan addarami Kitaburraqaaiq bab fi adli bainariyyah

Jadi pada zaman ini kita orang Ahmadi sangat besar sekali tanggung jawab kita untuk menegakkan keadilan. Sebab kita merupakan sosok yang mendakwakan bahwa kita telah mengenal imam zaman dan kita telah ikut dlam baiatnya.

Bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda Ibnu Maryam pasti akan turun menjadi hakim adil Musnad Ahmad bin hanbal jilid 2 hal 494 Beirut

Kemudian tercantum sebuah riwayat. Hadhrat Ali berkenaan dengan Rasulullah saw meriwayatkan bahwa beliau bersabda:Jika sekiranya kehidupan dunia hanya tinggal sehari saja, maka Allah pasti akan membangkitkan seorang dari keluargaku yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman. Abu Daud kitabulfitan awwalu kitabil mahdi

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s bersabda : Kini telah tiba saatnya zaman Masih Mauud a.s.Kini Allah akan menciptakan fasilitas- fasilitas dari langit sebagaimana sebelumnya bumi telah penuh dengan kezaliman dan penumpahan darah yang tidak benar, kini tiba saatnya akan penuh dengan adil ,damai dan sejatera dan selamatlah sejahtera bagi para amir /pimpinan dan raja yang berpartisipasi dalam hal itu. Pemerintah Inggris dan jihad ruhani Hazain jilid 17:19

Kemudian beliau bersabda: Ini merupakan perintah Tuhan bahwa kamu berbuat adillah pada-Nya dan pada ciptaan-Nya. Yakni jalankanlah haquuqullah dan haquuqulibaad- hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya dan jika bisa lebih dari itu maka tidak hanya berbuat adil, tetapi berbuat ihsanlah, yakni lebih dari kewajiban- kewajiban dan beribadahlah pada Allah dengan akhlak sedemikian rupa seolah-olah kamu tengah melihatnya dan perlakukanlah orang-orang lebih dari hak-haknya dan jika bisa lebih dari itu maka lakukanlah peribadahan pada Allah dan pengkhidmatan sedemikian rupa tampa ada rasa egois atau mengharapkan sesuatu sebagaimana seorang lakukan dengan semangat kekeluargaan. Syahnahi hak ruhani Hazain jilid 2:36i-362

Kemudian di satu tempat lain bersabda: Sebagaimana seorang berlaku kasih sayang pada anak-anaknya lakukanlah seperti itu.

Kemudian beliau bersabda: Singkat kata, bersimpati dengan kasih sayang pada ummat manusia merupakan ibadat dan untuk meraih keredhaan Allah ini merupakan sarana yang sangat luar biasa. Tetapi saya melihat bahwa di sisi ini sangat banyak diperlihatkan kelemahan. Orang-orang lain dianggap hina, mereka ditertawakan,merawat mereka dan menolong mereka dalam musibah dan kesulitan merupakan hal yang besar. Barangsiapa yang tidakmemperlakukan orang yang miskin dengan baik bahkan mereka menganggap mereka hina saya khawatir bahwa jangan-jangan mereka sendiri terperangkap dalam musibah itu. Kepada siapa Allah telah anugerahkan fadhalnya, mensyukurinya adalah harus memperlakukan makhluknya dengan baik dan janganlah takabbur pada karunia Allah dan jangalah menginjak-injak orang-orang yang miskin seperti orang-orang yang buas. Malfuzhat jilid 4:439-438 Terbitan Baru

Semoga Allah menganugerahkan taufik pada kita bahwa kita seesuai dengan keinginan Hadhrat Masih Mauud a.s kita menjadi orang yang menciptakan cakrawala yang aman damai dan adil di dunia ini dan dapat menegakkan itu dan dari segi itu kita dapat mentarbiati keturunan kita sebab kondisi dunia yang akan datang peran orang ahmadi adalah merupakan peran yang sangat besar yang harus kita kerjakan. Semoga Allah menganugerahkan taufik kepada kita untuk melakukannya.Amin.

Qamaruddin, Syahid