Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 6 Februari 2009/Tabligh 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

Dari antara nama-nama Allah itu, satu nama adalah “ الهادي– – Al-Hâdî – “. Di dalam kitab kamus Bahasa Arab, Lisânul Arab arti ini juga tertulis bahwa: Dia merupakan Dzat yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya makrifat-Nya dan pengenalan-Nya sehingga hamba-hamba-Nya mengakui akan rabbubiyat/pemeliharaan-Nya. Cara ini bagaimana Allah Ta’ala perlihatkan, apa keadaan-keadaan atau kondisi itu manakala Dia memperlihatkan itu? Ini Dia perlihatkan manakala hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang mengingkari akan rabbubiyat atau pemeliharaan-Nya. Cara-cara ingkar itu juga bermacam-macam. Terkadang hamba-hamba itu dijadikan Tuhan, sebagaiamana orang-orang Kristen menjadikan Hadhrat Isa(a.s.) sebagai Tuhan. Terkadang karena dorongan atau faktor kekuatan, mereka sendiri menjadi Tuhan. Sebagaimana terus terjadi di zaman para nabi terdahulu dan inilah juga yang Firaun telah perbuat. Atau di zaman ini juga ada yang mengatakan dirinya Tuhan atau dia menyatakan Tuhan memiliki mazhar jasmani/lahiriah di dunia ini lalu dia memerintahkan pada orang-orang untuk bersujud di depan kuburannya. Dan kemudian dalam urusan keduniawian, kekuatan-kekuatan besar menganggap diri mereka memiliki kekuatan-kekuatan yang tidak akan berakhir dan dari segi itu mereka memerankan diri sebagai Rabb/Tuhan. Pendek kata, di dunia terjadi kondisi kacau-balau yang di dalamnya tampak jelas kekacauan-kakacauan merupakan hal yang tidak pernah berakhir dan merupakan mata-rantai yang tidak ada habis-habisnya. Pada saat ini, Allah kembali menzahirkan kekuasaan-Nya dan memberitahukan kepada dunia bahwa Dia adalah Tuhan Robbul ‘âlamîn. Dalam menjelaskan hal ini, Hadhrat Masih Mau’udas bersabda: “Allah, di dalam firman Rabbul ‘âlamîn – Nya, mengisyaratkan kepada hal itu bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu dan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah dari-Nya. Dan di dunia ini, Jama’at-Jama’at yang telah memperoleh petunjuk atau kelompok-kelompok yang didapatkan sesat dan bersalah, semuanya termasuk di dalam ‘âlamîn. Terkadang kondisi meninggalkan kesesatan, kekufuran, kefasikan dan menempuh jalan pertengahan menjadi meningkat, sehingga bumi ini menjadi penuh dengan kezaliman dan dosa; orang-orang meninggalkan jalan Tuhan Yang Maha Perkasa dan tidak memahami akan hakikat pengabdian dan tidak pula menunaikan hak “Rabbubiyat” dan tidak pula mereka memahami apa status sebagai hamba. Dan tidak tersisa lagi pemahaman apa kedudukan Tuhannya.” Beliau bersabda: “Zaman menjadi seperti malam yang gelap gulita dan agama terinjak-injak di bawah musibah itu.” Bersabda bahwa: “Baru dari Tuhan yang Maha Rahman turun seorang imam supaya dia menghadapi lasykar-lasykar/prajurit-prajurit syaitan dan keduanya (lasykar Tuhan yang Rahman dan lasykar syaitan ini) akan terus bertempur dan yang melihat itu adalah dia yang dianugerahi dua mata, sehingga belenggu akan dipakaikan di leher kebatilan dan dalil-dalil fatamorgana kebatilan akan menjadi sirna sia-sia. Jadi imam itu akan senantiasa unggul dan akan sesantiasa menjadi penolong kelompok yang mendapat petunjuk.”[1]

Jadi inilah Tuhan yang memberi petunjuk, yang untuk membawa pada jalan petunjuk Dia juga menggerakkan sifat Rabbubiyat-Nya. Tetapi sebagaimana beliau bersabda bahwa tanda-tanda atau dampak-dampak kemenangan pada musuh zahir dengan cara Allah menolong kelompok yang telah mendapat petunjuk dan Dia menahan laju kekuatan orang-orang yang menciptakan kekacauan, bahkan Dia memaksa kekuatan itu mundur ke belakang.

Kalian perhatikanlah pada zaman Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Kemana serangan Kristen? Kristen di dunia, di setiap tempat terus menguasai medan laga dengan kemenangan–kemenangan. Sehingga orang-orang Islam di Hindustan terjebak arus itu, lalu beramai-ramai masuk ke dalam pangkuan Kristen. Para pendeta Kristen terus bermimpi melihat kemenangan Kristen di Hindustan.

Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.) tidak hanya sekedar menahan langkah mereka di Hindustan tetapi memaksa mereka memilih untuk mundur ke belakang. Bahkan Afrika yang pada hari itu, menurut para pendeta Kristen berada di genggaman mereka, berkenaan dengan itu mereka pun terpaksa harus mengatakan bahwa “Jama’at bukan hanya menahan akan kemajuan kami, tetapi mereka membuat kami mati langkah.” Nah, seperti itulah untuk memberikan bimbingan pada jalan-jalan hidayah, dengan menzahirkan sifat Rabbubiyat-Nya, Dia mengirim imam-Nya. Tetapi sebagaimana Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda bahwa hanya yang diberikan dua mata itulah yang dapat melihat. Yang tidak hanya memiliki mata dunia itulah yang menerima imam itu, yang pandangannya tidak hanya tertuju pada benda-benda dunia semata bahkan juga memiliki rasa empati pada agama dan juga memiliki mata agama/ruhani. Para ulama besar Islam yang mendakwakan diri mereka memiliki ilmu agama, mereka melakukan perlawanan kepada Masih Mau’udas dengan cara yang buta. Ilmu yang telah mereka peroleh telah membawanya kepada jalan yang salah dan kemudian dengan ilmu itu juga, mereka tengah membuat sesat umat Islam. Padahal di lain pihak para ulama zaman ini juga meyakininya ‑yang perinciannya saya telah terangkan dalam khutbah-khutbah yang lama‑ bahwa di dalam Islam, di dalam agama, kerusakan itu telah sampai pada puncaknya. Di kalangan umat, Islam hanya tinggal namanya saja dan mereka menekankan akan pentingnnya khilafat. Tetapi pegangan rantai pertama khilafat, berkenaan dengan itu, mereka tinggalkan untuk memikirkannya dan itu adalah kedatangan Masih dan Mahdi. Sesudah itulah, baru khilafat bisa berdiri. Tetapi untuk itu sampai kini mereka tegak dalam pendirian atau keyakinan bahwa Hadhrat Isa(a.s.) sampai kini masih hidup di langit dan akan datang, lalu setelah bergabung bersama Mahdi, agama akan berkembang. Dengan memahami hadits itu secara tidak benar, mereka telah membuat paradigma tersendiri. Apa pun yang terjadi selama mereka tidak mengimani kenabian, khilafat tidak akan bisa datang dan kemudian sebagai dampaknya itulah kondisi yang akan terus terjadi, yang kebanyakan mereka terus keluhkan. Secara sporadis terus-menerus dimuat di media-media massa. Para kolumnis juga terus memuat tulisan-tulisan mereka di media massa. Para ulama juga terus mengatakan dalam ceramah mereka bahwa di dalam umat ini juga, Allah akan mengirim Masih dan Mahdi dan untuk itu pun Allah sendiri yang mengajarkan doanya kepada kita. Namun jika tetap saja tidak mengimani dan doa-doapun terus-menerus dipanjatkan, maka apa yang bisa dikerjakan. Allah Ta’ala telah mengajarkan satu jalan bahwa berdo’alah seperti ini dan lakukanlah dengan tekun, maka Aku akan mengabulkan do’a-do’a kalian.

Dalam menerangkan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.) bersabda: “Kenabian Muhammad saw tidak lemah dalam menyampaikan atau mendatangkan berkat-berkatnya sendiri, bahkan di dalamnya terdapat berkat yang melebihi semua kenabian. Mengikuti kenabian ini akan menyampaikan atau membawa dengan cara yang mudah untuk sampai kepada Tuhan. Dan dengan mengikutinya, berkat kecintaan Tuhan, berwawancakap dan ber-mukalamah-mukhatabah atau lebih dari itu bisa diperoleh orang pilihan Tuhan. Dan ketika mukalamah dan mukhatabah dari segi status kwalitas sampai pada tingkat kesempurnaan dan di dalamnya tidak terdapat kekurangan dan rasa beban. Kwalitas kalam yang turun kepada seorang hamba menjadi sedemikian tinggi standarnya, sehingga di dalamnya tidak ada sama sekali kekotoran dan kekejian. Dan secara terang dan jelas terdiri dari hal-hal yang bersifat gaib dan benar-benar secara zahir Allah memberi-tahukan hal-hal yang gaib kepada hamba-Nya yang dicintainya. Dan inilah, dalam arti yang lain, yang dinamakan dengan kenabian. (Yakni) ketika Allah melakukan pembicaraan dengan hamba-Nya, ber-mukalâmah-mukhâtabah dengan hamba-hamba-Nya, memperdengarkan hal-hal yang gaib pada hamba-Nya, manakala ini sampai pada tingkat yang paling tinggi, maka inilah yang namanya kenabian — yang disepakati oleh para nabi semuanya. Jadi tidak terdapat suatu kemungkinan bahwa kaum yang berkenaan dengannya difirmankan dalam Surah Ali Imran ayat 111:

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9

— Kuntum khoyro –ummatin –ukhrijat lin-nâs —  Kalian adalah umat yang dinyatakan sebagai umat  terbaik, yang untuknya doa ini diajarkan:

Al-Fatihah:5-7:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim — Lalu semua individunya jauh dari kedudukan yang tinggi itu dan satu pun tidak ada yang memperoleh kedudukan tinggi itu dan dalam kondisi seperti itu tidak hanya ini saja kerusakan itu bahwa umat Muhammadiyah (pengikut Muhammad) senantiasa kurang dan tidak sempurna dan kesemuanya seperti orang-orang buta, bahkan terdapat juga sebuah kekurangan/cacat yang akan menodai daya potensi penyampaian keberkatan Rasulullah saw. Dan daya pensucian beliau akan dinyatakan lemah dan cacat. Dan bersama itu pula, do’a yang diajarkan untuk dibaca dalam lima waktu dalam shalat, mengajarkannya pun akan dinyatakan sia-sia.” [2]

Di satu sisi, Allah berfirman bahwa kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manfaat umat manusia. Di sisi lain doa ini yang diajarkan, yaitu bacalah doa:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$#

— Ihdinash-shirôthol-mustaqîm.– Supaya Allah senantiasa jalankan pada jalan yang lurus, dan juga pada jalan-jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Nikmat-nikmat atau hadiah-hadiah itu apa? Itu adalah kenabian, kesiddikan, menjadi syahid/dapat meraih tingkat syahid dan menjadi saleh, yakni orang/umat beliau dapat menjadi orang yang saleh seperti yang diraih oleh para imam rabbani: Ibnu Arabi r.h., Abdul Qadir Jailani rh,Imam Syafi’irh dll.). Beliau bersabda, di satu sisi do’a ini yang diajarkan. Di satu sisi dikatakan bahwa kalian adalah umat yang terbaik. Namun kendati demikian di dalam umat Rasulullah saw ini, satu orang pun tidak ada yang layak untuk dapat meraih martabat/kedudukan kenabian ini. Allah memberikan padanya khabar-khabar ghaib dan berbicara dengannya. Seolah-olah do’a:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$#

— Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. — tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yang kita baca beberapa kali dalam shalat-shalat lima waktu, dan di setiap penjuru di dunia, di manapun orang-orang Muslim tinggal dan menunaikan shalat dan membaca do’a ini namun tetap saja Tuhan tidak mengabulkannya.

      Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menerangkan bahwa ‘saya telah mengatakan kepada banyak orang bahwa bacalah doa ini.’

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$#

— Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. — Tunjukilah kami pada jalan yang lurus. Dan kepada mereka yang karena mengatakan ini, jelas masalah bagi Allah dan kemudian sebagai dampaknya Allah memberikan bimbingan yang benar kepadanya. Jadi terlepas dari urusan pribadi, terlepas dari pemikiran sendiri dan terlepas dari penutup/tirai yang dibentangkan di atasnya sendiri, dan dengan membersihkan pikiran kebencian kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lalu dimohonkan do’a, maka baru Tuhan juga sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Mu’min:61

tA$s%ur ãNà6š/u‘ þ’ÎTqãã÷Š$# ó=ÉftGó™r& ö/ä3s9

Wa qôla Robbukum –ud’ûnî –astajib lakum — Tuhan kalian berfirman atau Rabb kalian berkata “panggillah Aku maka Aku akan mendengar do’a-do’a kalian.” (Dia yang menyuruh) Lalu kemudian do’a tidak Dia kabulkan?

Do’a-do’a urusan duniawi, kita setiap hari terus kita katakan bahwa Allah telah mendengarnya, telah terkabul. Kita telah mendapatkan ini. Kita telah mendapatkan itu. Tetapi, do’a-do’a yang dipanjatkan manusia untuk kebaikan ruhaninya, yang Allah sendiri telah ajarkan itu tidak Dia dengar? Di satu sisi ada perintah bahwa untuk petunjuk kalian mintalah kepada Aku. Dan dalam keadaan ketika agama memerlukan seorang pembimbing, maka pada diri manusia terjadi kondisi resah dan gelisah secara khusus dalam memanjatkan do’a-do’a. (Sebagaimana saya telah beritahukan dalam kutipan Hadhrat Masih Mau’ud as.). Maka dengan mengingat Allah akan janji-Nya, panjatkanlah do’a ini bahwa Engkau dalam kondisi seperti itu mengirim petunjuk. Dan kemudian Dia Sendiri yang mengatakan bahwa do’a-do’a yang lain telah dikabulkan tetapi doa ini tidak akan dikabulkan. Maka ini merupakan tuduhan alias fitnah terhadap Allah. Fitnah terhadap Dzat Allah. Kondisi umat Islam yang terus-menerus merana dan terus menjadi, tambah meningkat. Tidak ada keraguan terkait apa yang difirmankan Allah bahwa “Baiklah. Ini adalah ummat-Ku yang merupakan ¨$¨Y=Ï9 ôMy_̍÷zé& Ä – ukhrijat lin-nâs – umat terbaik.” Tetapi kondisinya yang memprihatinkan pun menjadi sangat parah. (Lalu Tuhan mengatakan) maka sungguh pun terus bertambah rusak, terus terjadi hiruk-pikuk sehingga tidak lagi tersisa ada agama dan tidak lagi iman terisisa. Tetapi do’a kalian ini saya tidak akan kabulkan, yaitu tidak mengirimkan seorang pemberi petunjuk untuk membimbing agama kalian. Ini merupakan hal yang sama sekali tidak mungkin bahwa Allah akan mengatakan bahwa ‘sungguh pun kalian terus bersujud hingga hidung kalian menjadi pesek, Aku kini bukan Wujud yang menyiapkan sarana petunjuk bagi kalian. Apa yang ingin Aku kerjakan itu telah Aku kerjakan. Kini jalan-jalan petunjuk semuanya telah habis.’ Ya, ini merupakan keniscayaan yang pengumumannya berkali-kali Hadhrat Masih Mau’udas telah umumkan bahwa walaupun kalian berdo’a dan bersujud sambil menekan hidung kalian dalam sujud hingga kalian binasa. Kehidupan-kehidupan dari anak-anak kalian menjadi habis, kehidupan-kehidupan generasi demi generasi kalian menjadi habis, untuk menunggu datangnya seorang pemberi petunjuk dan Al-Masih selain saya, tetap saja kini Masih Mau’ud tidak akan datang, tidak ada Mahdi yang akan datang. Yang tadinya akan datang itu, kini telah datang. Kini tanpa mengimaninya tidak ada lagi cara lain.

Jadi, orang-orang Islam perlu merenungkan akan keadaan–keadaan mereka. Dari pada melakukan tindak kezaliman terhadap orang-orang Ahmadi, perlu memohon petunjuk kepada Allah dengan niat yang baik. Setiap hari di berbagai tempat pasti ada tindak kezaliman baru yang terjadi terhadap orang-orang Ahmadi. Ada saja cara-cara baru yang terus-menerus mereka cari. Dengan cara apa saja, dengan menimpakan penderitaan, ada suatu upaya supaya dengan cara itu orang-orang mungkin meninggalkan Ahmadiyah. Ahmadiyah sama sekali tidak bisa habis, ini nyatanya mereka telah lihat.

Kini beberapa hari yang lalu senjata baru yang mereka gunakan adalah membuat anak-anak menjadi ketakutan. Anak-anak dari umur 14-16 tahun yang adalah anak-anak sekolah, itu merupakan sasaran mereka. Tuduhan dilontarkan kepada mereka, na’udzubillah, bahwa mereka anak-anak tersebut telah menghina Rasulullah saw dengan menulis nama Muhammad saw di toilet dan di tempat-tempat yang kotor. Mereka sendiri, orang-orang ini, buta mata ruhaninya tetapi mereka melontarkan tuduhan kepada orang-orang Ahmadi. Gerakan-gerakan seperti ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang mati ruhaninya atau tidak memiliki keruhanian. Yakni mereka yang tidak mengetahui akan kedudukan Rasululahsaw. Ini merupakan anak-anak Ahmadi berusia 14-15 tahun. Orang-orang Ahmadi yang masih anak kecil sekalipun, tidak akan bisa melakukan gerakan yang seperti itu.

Kami ini merupakan orang-orang yang mana Masih dan Mahdi yang telah datang itu telah memperlihatkan kepada kami jalan-jalan kecintaan kepada Rasul Arabi saw, telah memberikan pelajaran kepada kami, yang mana pikiran-pikiran orang-orang itu pun tidak bisa sampai ke sana. Pendek kata, semoga Allah memberikan akal kepada orang-orang Islam yang tinggal di negara mana pun, supaya mereka berhenti menjadikan orang-orang Ahmadi sebagai sasaran penganiayaan dan kezaliman dan untuk mencari jalan petunjuk. Sujudlah dengan rendah hati di hadapan Tuhan.

Di sini saya ingin menjelaskan sebuah penjelasan lain lagi. Beberapa hari yang lalu diadakan pelatihan refresher course Lajnah Imaillah, di sana, di tempat pelatihan seorang menyampaikan pertanyaan bahwa orang bukan Ahmadi mengatakan bahwa jika tidak mengatakan Mirza Sahib, tidak disebut sebagai nabi maka kami akan mengimani. Pertama-tama adalah bahwa ini merupakan kesalahpahaman orang Ahmadi lugu, yang terbawa dengan perkataan mereka bahwa mereka itu akan mengimani; mungkin perlawanan mereka akan kurang tetapi mereka yang tidak akan mau mengimani di dalam diri mereka tidak akan pernah timbul keberanian untuk mengimani. Tetapi pada dasarnya definisi nabi yang Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah definisikan dalam sebuah kutipan beliau –sesuai dengan itu– beliau adalah nabi dan beliau di berbagai tempat yang lainnya juga mengatakan diri beliau nabi. Manakala Allah banyak kali berwawancakap dengan hamba-Nya, berbicara dengannya, memberitahukan kepadanya perkara-perkara yang gaib, maka nama itulah yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyebutnya kenabian dan inilah hal-hal yang para nabi sebelumnya telah beritahukan. Jika ini mereka mulai tolak, maka langkah selanjutnya adalah bahwa ini pun jangan katakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerima ilham. Maka perkataan mereka itu pun terpaksa harus diterima. Maka seterusnya akan datang tuntutan mereka untuk menolak hal-hal yang lain. Karena kalau satu kali kalian mengelak dari hal yang inti atau mendasar dan kalian mulai memperlihatkan kelemahan, maka kalian pun akan terus-menerus melemahkan iman kalian. Maka apakah untuk memperbanyak jumlah anggota, apa yang bertentangan dengan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan bertentangan dengan nubuwatan-nubuwatan Allah dan Rasulullah saw kita akan berusaha mengemukakan Mahdi baru dan Masih baru? Sebagaimana halnya dilakukan tuntutan dan tuntutan ini di berbagai tempat lain juga, di sini juga, dan di Pakistan juga sedang terjadi tuntutan seperti itu. Jika pendakwaan kenabian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. habis, tidak ada, maka pendakwaan menjadi Masih dan Mahdi pun akan menjadi habis. Rasulullah saw di dalam sebuah hadits bersabda bahwa senantiasa waspadalah bahwa Isa Ibnu Maryam yakni Masih Mau’ud/Masih yang dijanjikan dan di antara saya tidak ada nabi.

Jadi, manakala kita mengatakan bahwa Nabi Isa(a.s.) itu telah wafat dan kini dia tidak bisa datang ke dunia dan semisal atau perumpamaan Masih itu harus lahir dari umat Rasulullah saw, maka jelas dari segi hadits itu bahwa dia pasti adalah nabi Allah. Atau kita mengatakan bahwa Nabi Isa (a.s.) hidup duduk di langit dan belakangan akan datang. Maka manakala kita satu kali mengingkari nabi, maka perkara atau hal selanjutnya yang akan terjadi, adalah bahwa kemudian Isa akan datang pada waktunya dan dia akan menjadi nabi. Maksudnya adalah bahwa kalian akan mengakui bahwa Nabi Isa as juga adalah hidup. Sebagaimana saya telah katakan bahwa dari satu hal kalian akan terus menolak hal-hal yang lainnya. Pendek kata orang-orang Ahmadi yang tidak sepenuhnya mengetahui, hendaknya menjadi jelas bagi mereka bahwa jika mengingkari satu pendakwaan maka pendakwaan yang lainnya pun terpaksa harus diingkari. Maka terpaksa pula akan mengatakan Masih Mau’ud as sebagai bukan Masih Mau’ud sebagaimana saya telah katakan. Kemudian seperti orang-orang ghair Ahmadi kita terpaksa harus meyakini bahwa Nabi Isa masih hidup di langit dan akan turun ke bumi. Kendati dari segi hadits waktu yang sudah ditetapkan itu kini telah berlalu. Karena itu tanpa ada rasa takut, tanpa ada perasaan rendah diri beritahukanlah apa yang merupakan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as dan yang Hazrat Rasulullah saw telah umumkan. Rasulullah saw bersabda bahwa Isa ibnu Maryam, nabi yang akan datang itu adalah nabi, karena ini merupakan khabar suka bagi orang Ahmadi bahwa mereka akan menutup mulut orang-orang dengan nur kebenaran, maka di dalam itu apa yang harus dicemaskan.

Hadhrat Masih Mau’udas kemudian di satu tempat dalam menjelaskan surat Fatihah bersabda:

Ayat  ke enam surat ini adalah

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$#

— Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. — Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus. Seolah-olah ini mengisyaratkan bahwa kegelapan ribuan yang ketujuh menghendaki petunjuk langit dan orang yang berfitrah baik akan memohon satu petunjuk dari Tuhan, yakni Masih Mau’ud as [3]

Kini ribuan yang ke enam ini merupakan zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka juga memohon untuk turunnya seorang penyuluh jalan, tetapi sosok yang sepenuhnya langit dan bumi telah memberikan dukungan dengan penuh keagungan, mereka tidak ingin menerimanya. Dari segi kutipan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa “Fitrat-fitrat suci akan menuntut dan memohon seorang pemberi petunjuk dari sisi Tuhan” jelas bahwa banyak dari mereka itu yang memiliki fitrah yang baik atau tidak berfitrat yang baik. Manakala mereka ini bukan merupakan orang yang berfitrah baik, mereka tidak ingin mengimani, maka apakah untuk menyenangkan mereka, demi untuk mereka, kita juga yang Allah telah anugerahkan taufik untuk mengimani Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lalu kita mengingkari pendakwaan itu?

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di dalam Khutbah Ilhamiyah, dalam menjelaskan itu bersabda:

“Demi Allah, di dalam Al-Qur’an, kitab yang mulia, yang merupakan kitab yang memberikan solusi untuk semua perselisihan, tidak pernah disebutkan di mana-mana bahwa seorang yang bergelar khâtamul-khulafâ- (khalifah ter-afdhal/terbaik) silsilah/rangkaian Muhammad akan datang dari kaum Nabi Musa as. Janganlah kalian mengikutinya karena tidak ada dalil pada kalian, bahkan sebaliknya bertentangan dengan itu; kalian yang diberikan dalil dan keluarkanlah dari mulut kalian kalimat-kalimat yang kacau-balau itu karena kalimat-kalimat itu adalah seperti panah yang dibidikkan di tempat yang gelap; dan janji yang telah disebutkan ini adalah merupakan janji yang benar dan jangan ada yang menipu kalian. Dan di dalam surat Fatihah untuk kedua kalinya mengisyaratkan pada janji itu dan ayat ayat ini adalah ayat surah Fatihah:

xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

— Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim — (Jalan orang orang yang telah Engkau beri nikmat)

Kalian membaca itu di dalam shalat-shalat kalian, lalu kalian membuat alasan-alasan dan untuk menjauhkan hujjah Tuhan, kalian melakukan musyawarah. Apa yang telah terjadi dengan diri kalian sehingga kalian menginjak-injak kalam Ilahi di bawah telapak kaki kalian sendiri. Apakah pada satu hari kelak kalian tidak akan mati dan kalian tidak akan ditanya?”[4].

Keterangan ini adalah untuk orang-orang lain. Hadhrat Masih Mau’ud as di dalam Bahtera Nuh dalam menjelaskan ayat:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim —  Dengan sedemikian indah beliau membuktikan bahwa di dalam ayat ini terbukti nubuwatan kedatangan Masih dan Mahdi adalah datang dari rangkaian Muhammad saw/ dari umat Muhammad saw sendiri. Beliau bersabda bahwa: “Siapakah yang memperoleh najat atau keselamatan? Orang yang memperoleh najat itu adalah yang meyakini bahwa Tuhan itu adalah benar adanya dan Muhammad saw di dalam itu dan semua makhluk-Nya adalah sebagai perantara yang memberikan syafaat dan di bawah kolong langit ini, tidak ada rasul lain dan nabi yang semartabat dengannya dan tidak ada kitab lain yang semartabat dengannya dan untuk siapa pun Tuhan tidak menghendaki bahwa dia hidup untuk selama-lamanya; tetapi nabi pilihan ini adalah akan hidup untuk selama-lamanya dan untuk tetap hidup selama-lamanya, Tuhan telah meletakkan asas pondasinya bahwa Dia telah menjadikan penyampaian berkah syariatnya langgeng, untuk selama-lamanya dan keruhaniannya mendatangkan keberkatan hingga hari kiamat dan akhirnya kemampuannya mendatangkan/menyampaikan berkat ruhaninya itu Dia telah mengirim Masih Mau’ud ke dunia ini yang mana kedatangannya perlu untuk menyempurnakan bangunan ruhani ini. Sebab, dunia ini jangan berakhir selama untuk silsilah Muhammad ini belum diberikan pada seseorang; sewarna keruhanian dengan Masih dalam umat ini. Sebagaimana telah diberikan di dalam rangkaian silsilah/agama Musa as. Ke arah inilah ayat:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim – [5]

     Jadi, inilah keafdhalan (kelebihan) Islam dari semua agama dan keafdhalan Rasulullah saw dari semua nabi bahwa kini sampai kiamat hanya syariat Rasulullah saw dan berkat ruhani beliau saw yang akan berjalan. Dan Masih Mau’ud pun akan datang dari umat beliau juga dan wujud itu telah datang. Dan Mahdi pun akan datang dari umat ini juga. Keduanya ini bukanlah merupakan dua pribadi yang terpisah. Dari sebuah hadits, keduanya ini adalah satu jua sebagaimana saya telah katakan. Jadi tanpa mengimani beliau as sebagai nabi dan tanpa menerima beliau tidak ada jalan lain.

Sambil menarik perhatian ke arah ini, Hadhrat Masih Mau’ud as dari:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim —      Ke arah ini mengisyaratkan bahwa kalian imanilah Imam yang datang itu. Sesuai dengan itu, beliau dalam buku “Perlunya Imam Zaman” bersabda :Sebagaimana Al-Quran Yang mulia telah menekankan untuk sosial kemasyarakatan lahiriah bahwa harus mengikuti perintah seorang raja, inilah juga penegasan untuk peradaban atau sosial kemasyarakatan ruhani. Isyarah ke arah inilah doa yang Allah telah ajarkan.

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm. Shirôthol-ladzîna –an’amTa ‘alayhim — Bahwa sebagaimana nizam duniawi menghendaki seorang pemimpin, menghendaki seorang raja, menghendaki pemerintahan, begitu juga ada nizam/organisasi ruhani. Itu juga memiliki sebuah mekanisme. Untuk menjalankan nizam itu diajarkan do’a ini. Dia berfirman:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã

Bahwa: ”Jadi hendaknya direnungkan bahwa tidak ada seorang mukmin, seorang manusia, bahkan tidak ada seekor hewan sekalipun yang kosong dari nikmat Allah. Tetapi tidak bisa kita mengatakan bahwa untuk ikut itu Tuhan memerintahkan ini. Oleh karena itu arti ayat ini adalah bahwa kepada orang mana hujan ruhani itu turun secara sempurna, berilah taufik pada kami untuk mengikutinya.”[6].

(Doa ini bukanlah untuk hewan-hewan dan tidak untuk makhluk lain mana pun. Bersabda bahwa arti ayat ini adalah bahwa kepada siapa hujan rahmat itu turun sampai pada kesempurnaannya, sampai pada puncaknya, berilah taufik pada kami untuk berjalan di atas itu. Doa ini mengajarkan kepada kita supaya kita mengikutinya). Jadi, di dalam ayat inilah isyarat itu bahwa bergabunglah kalian dengan Jama’at Imam Zaman itu. Ingatlah bahwa di dalam kata Imam Zaman itu, nabi, rasul, muhaddits, mujaddid kesemuanya termasuk di dalamnya, tetapi orang-orang yang tidak dikirim untuk menyampaikan dan untuk memberikan petunjuk atau bimbingan untuk ciptaan Allah (yakni kepadanya yang untuk menjalankannya pada jalan yang benar, untuk petunjuk bagi makhluk, dia sendiri tidak diperintah atau tidak dikirim). Dan kesempurnaan kesempurnaan itu tidak diberikan pada mereka. Kendati mereka adalah wali dan abdal (baik dia sebagai wali atau orang saleh, tetap saja) mereka tidak bisa dikatakan sebagai Imam Zaman [7] . Imam Zaman adalah yang diberikan gelar sebagai Imam Zaman oleh Allah.

Di dalam kutipan ini juga, hal ini pun diperjelas bahwa menjadi wali dan tergabung di dalam kelompok para abdal, seorang tidak memperoleh kedudukan atau tingkatan derajat keimaman. Dapat mencapai tingkatan kebaikan tertinggi dan dengan sampai sangat dekat dengan Tuhan pun, seseorang tidak memperoleh derajat ke-imam-an selama Allah Swt Sendiri tidak menganugerahkan derajat itu. Imam Zaman adalah yang Allah Sendiri menganugerahkannya dengan derajat ke-imam-an. Dan Imam pada zaman ini adalah yang Allah telah kirim sebagai Masih Mau’ud dan Mahdi yang dijanjikan.

Dan kemudian bersama itu tidak pula bahwa (seseorang) telah mengucapkan apa yang hendak diucapkan dan seorang yang mendakwakan telah mendakwakan, tetapi sebagaimana dalam beberapa khutbah yang lalu, saya telah katakan bahwa sejalan dengan itu juga termasuk juga di dalamnya dukungan langit dan bumi. Jadi doa:

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm.– tidak hanya petunjuk bagi orang Islam tetapi untuk setiap pemeluk setiap agama, baik dia sebagai pemeluk Kristen, Yahudi, Hindu, jika dengan niat yang baik dia berdo’a sebagaimana yang saya telah beritahukan bahwa Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menulis bahwa saya juga telah memberitahukan kepada banyak orang yang bukan penganut Islam untuk merenungkan doa ini bahwa tidak ada salahnya untuk merenungkan doa ini. Ini bukanlah merupakan doa yang dikatakan bahwa ini hanya orang Islam yang bisa melakukannya. Ini merupakan sebuah doa yang dari ini setiap orang bisa menjadi redha/puas, baik dia sebagai penganut agama mana pun. Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda bahwa ‘saya telah mengatakan ini dan banyak sekali orang yang bukan Islam yang telah memanjatkan doa ini dan Allah telah memberikan bimbingan kepada mereka.’ Mereka melihat dalam mimpi, lalu mereka menerima Ahmadiyah. Jadi jika Allah bisa memberi petunjuk kepada orang bukan Islam dengan perantaraaan doa ini, maka kenapa Dia tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang beragama Islam. Nyata sekali, sebabnya hanya karena bersih/baik. Terdapat banyak ulama besar. Kendati mereka teratur shalat, namun mereka jauh dari petunjuk. Jadi untuk memperoleh petujuk dari Tuhan, perlu juga maju melangkah pada-Nya dengan hati yang bersih. Sebagaimana Allah berfirman:

z`ƒÏ%©!$#ur (#r߉yg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏ‰öks]s9 $uZn=ç7ߙ

Alladzîna jâhadû fî-Nâ lanahdiyannahum subulaNâ — Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan memberikan taufik padanya untuk datang di jalan Kami (Al-Ankabut:70).

Beberapa hari yang lalu di MTA, Imam Sahib, Mu’min Sahib, Ashaf Basith Sahib dll sedang membuat program terkait dengan penganiayaan terhadap orang-orang Ahmadi. Ada seorang ulama ghair Ahmadi yang tinggal di Amerika juga pada hari-hari ini datang kemari. Dia menelpon ke MTA bahwa saya, katanya, telah mendengar program ini. Dia mengatakan bahwa dalam tayangan itu tuan salah membaca beberapa hadits. Dan ada beberapa hal yang ingin saya beritahukan kepada Tuan, katanya. Maka untuk menemuinya, orang kita pergi dari sini ke sana. Semua perkataan yang ingin dia katakan direkam lalu dibawa ke sini. Walhasil, dalam permusuhannya terhadap Jama’at, ini semua merupakan pembicaraan-pembicaraan yang jawaban rincinya itu ada di dalam program ini sesuai dengan pertanyaan-pertanyaannya, jawabannya akan dikemukakan. Tapi satu hal yang dia katakan adalah pendapat yang pada umumnya orang-orang ghair Ahmadi senantiasa katakan bahwa kata رفعrafa’a – yang orang Ahmadi artikan bahwa Hadhrat Isa (as.) diangkat dalam arti ruhani, itu bukan artinya, tetapi artinya di situ adalah pengangkatan secara jasmani. Baiklah, ini merupakan hal yang umum. Semua orang bukan Ahmadi mengatakan ini. Tetapi satu hal yang bagaimanapun juga bagi saya merupakan hal yang baru. Dia/ulama tadi mengatakan bahwa kalian ingin mematikan Hadhrat Isa as karena kehidupan Ahmadiyah terletak di dalamnya. Beliau cukup banyak menzahirkan niatnya/uneg-unegnya dan sedikit banyak literatur Jemaat juga yang telah ada dalam telaahnya dan inipun merupakan pengakuannya juga bahwa sudah cukup banyak literatur Jemaat yang telah dia telaah. Tetapi jika melihat dengan merenungkannya, maka bukanlah kehidupan Ahmadiyah tetapi Hadhrat Masih as telah bersabda bahwa dalam kematian Isa adalah kehidupan Islam. ”Biarkanlah Isa itu wafat karena dari itulah Islam itu hidup”.

Karena bagi orang-orang Kristen inilah senjata mereka, yang dengan itu mereka mengemukakan keunggulan Hadhrat Isa kepada orang-orang Islam yang lemah dalil. Kendati kini banyak ulama yang menghindar untuk mengutak-atik topik ini. Tetapi kini pun banyak ulama Islam dan para ulama cendekiawan yang tinggal di barat juga mengakui akan keberadaan Isa yang masih hidup di langit dan pada suatu waktu akan turun ke bumi sebagaimana yang saya telah beritahukan. Jadi kita membuktikan kewafatan Hadhrat Isa(a.s.) dengan dalil lalu menyuguhkan Islam sebagai agama yang hidup dan Masih Muhammadi kita suguhkan sebagai perumpamaan Masihnya Musa supaya hidupnya Islam menjadi terbukti. Sementara mereka ini mengatakan bahwa kehidupan Ahmadiyah terletak pada kewafatan Isa. Walhasil, telah menjadi terbukti bahwa sebagaimana kita telah mendakwakan atau mengakui bahwa kita mematikan Hadhrat Isa itu atau kita membuktikan akan kewafatannya bahwa beliau telah wafat karena dari itu Islam hidup. Jadi mereka pun juga telah membuktikan bahwa mereka ini memahami bahwa dengan kewafatan Hadhrat Isa, Ahmadiyah menjadi hidup dan  hidupnya Ahmadiyah dari segi itu kemudian merupakan kehidupan Islam juga. Karena pendakwaan atau pengakuan kita adalah bahwa apa pun yang kita lakukan itu kita lakukan hanya untuk Islam dan apa Ahmadiyah itu, Ahmadiyah adalah Islam yang hakiki. Orang-orang Kristen yang karena tabligh Ahmadiyah mereka menerima Islam, mereka itu menerima Islam manakala kewafatan Isa menjadi terbukti, tanpa mengimaninya mereka tidak ada cara lain dan kemudian terbuka pada mereka kehidupan Islam dan kelemahan-kelemahan agama mereka menjadi jelas dan nyata bagi mereka. Walhasil, sebagaimana saya telah katakan bahwa jika orang-orang ini juga dengan pikiran yang jernih berdo’a kepada Allah dan dengan meratap memohon dengan khusyuk kepada Tuhan dan untuk berjalan pada jalan

$tRÏd$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$#

Ihdinash-shirôthol-mustaqîm.– mereka menciptakan keperihan, maka tidak jauh dari kemungkinan, jika hatinya bersih maka Allah akan membimbingnya. Karena, jika orang-orang yang mencintai Islam tertarik pada kemenangan Islam maka ingatlah bahwa dengan Masih dan Mahdi-lah kemajuan-kemajuan ini memiliki korelasi, yang mana beliau kini telah datang. Kini selain itu, tidak akan pernah ada usaha lain yang bisa sukses. Hadhrat Masih Mau’ud as dengan menisbahkan diri beliau dari Tuhan, beliau telah mengumumkan akan hal itu dan dengan karunia Allah dari sejak 120 tahun kita menyaksikan kebenarannya.

Beliau bersabda: “Kurang lebih telah berlalu 20 tahun, kepada saya turun ayat Quran ini dan ayat itu adalah:

uqèd ü“Ï%©!$# Ÿ@y™ö‘r& ¼ã&s!qߙu‘ 3“y‰çlù;$$Î/ Èûïϊur Èd,ptø:$# ¼çntÎgôàã‹Ï9 ’n?tã ÈûïÏd‰9$# ¾Ï&Íj#ä.

Huwal-Ladzî –arsala rosûlaHû bil-hudâ wa dînil-haqqi liyuzh-hirohû ‘alâd-dîni kullih —  Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan agamanya di atas segala agama-agama. (Ash-shaf:10) Dan akan ilham ini diberikan pemahaman kepada saya bahwa saya dikirim dari Tuhan adalah supaya dengan tangan saya, Allah memenangkan Islam di atas semua agama-agama. Di tempat ini hendaknya diingat bahwa di dalam Al-Quran Suci terdapat nubuwatan yang sangat agung, yang berkenaan dengan itu semua ulama peneliti sepakat bahwa ini akan sempurna di tangan Hadhrat Masih Mau’ud. Jadi seberapa banyak para wali dan orang-orang suci berlalu sebelum saya; satu pun di antara mereka, tidak ada yang menyatakan diri mereka merupakan penyempurnaan dari nubuwatan itu dan tidak pula mendakwakan bahwa ‘ayat yang di atas itu telah diilhamkan pada saya sebagai dukungan terhadap diri saya’. Tetapi ketika waktu saya tiba, maka ayat ini turun kepada saya sebagai ilham dan kepada saya diberitahukan bahwa ‘engkaulah merupakan penyempurnaan dari ayat ini dan dengan tangan kamu dan di zaman kamu keunggulan di atas semua agama akan terwujud’.” [8]

Kemudian beliau bersabda bahwa: ”Dialah Tuhan yang telah mengirim pilihan-Nya, yakni Dia telah mengirimnya dengan dua perkara. Satu adalah Dia telah memuliakannya dengan nikmat petunjuk.” (Yakni memuliakannya dengan nikmat memberi petunjuk). Untuk mengenal jalan-Nya, Dia telah menganugerahkan mata ruhani”. (Untuk meraih petunjuk itu, supaya seterusnya dia bisa memberi petunjuk, Allah telah memberikan mata ruhani.) Dan telah memuliakannya dengan ilmu laduni (yakni kepadanya diberikan juga ilmu yang sedemikian rupa, yang diperoleh tanpa usaha. Allah telah menganugerahkannya dari sisi-Nya) dan hatinya telah disinari dengan kasyaf dan ilham dan dengan demikian makrifat Ilahi, cinta dan ibadat yang merupakan haknya, untuk melaksanakan hak itu Dia Sendiri yang memberikan dukungan, karena itulah namanya dinamakan Mahdi (Allah yang telah mendefinisikan semua ini di dalam taat di atas, karena itulah namanya disebut Mahdi)”.

“Perkara kedua yang dengannya dia dikirim adalah dengan agama yang benar untuk mengobati penyakit ruhani. Yakni, dengan memecahkan atau menjauhkan beratus-ratus kesulitan-kesulitan syariat dan kekotoran-kekotoran; akan menjauhkan keraguan-keraguan dari kalbu manusia. Maka dari segi itulah namanya disebut Isa. Yakni yang menyembuhkan penyakit-penyakit. Singkatnya di dalam ayat Al-Quran Yang mulia ini, keberadaan dua kalimat yang pertama بالهديbil-hudâ – dengan petunjuk dan yang kedua دين الحقdînil-haqq – agama yang benar, dari itu kalimat pertama menzahirkan bahwa wujud pilihan itu adalah Mahdi dan dia bersih dan suci dengan tangan Tuhan dan hanya Tuhan yang menjadi Gurunya.

Dan kalimat kedua دين الحقdînil-haqq – menzahirkan bahwa wujud pilihan Tuhan itu adalah Isa. Dan untuk membersihkan penyakit-penyakit dan untuk memperingatkan akan penyakit-penyakit itu, diberikan ilmu padanya dan diberikan دين الحق  – dînil-haqq – agama yang benar, supaya dia dapat menarik orang yang sakit dari setiap agama dan kemudian dapat menyembuhkannya dan dapat mendorongnya atau menariknya pada rumah sakit atau klinik agama Islam. Sebab, manakala pengkhidmatan ini diserahkan padanya bahwa dia/Al-Masihil-Mau’ud harus membuktikan setiap keindahan dan keunggulan Islam dari segala segi kepada semua agama, maka penting baginya bahwa dia dianugerahi dengan keindahan ilmu dan mengetahui aib setiap agama”. (Yakni dia diberikan ilmu sedemikian rupa, yang di dalamnya keindahan-keindahan agama-agama lain dan kekurangan-kekurangannya sepenuhnya dia ketahui atau kuasai dan pahami). Dan dalam menegakkan dalil-dalil, dan dalam memberikan pemahaman kepada para penentang, dia diberikan kemampuan yang luar biasa.” (yakni dalil-dalil yang sedemikian rupa, yang senantiasa tegak atau akurat untuk selama-lamanya dan hendaknya dalam memberikan pemahaman kepada para penentang dia diberikan kemampuan yang luar biasa. Yakni pertanyaan-pertanyaan para penentang, keberatan-keberatan mereka; jawabannya diberikan dengan dalil-dalil. Kemampuan ini sebagai tanda diberikan kepada yang datang itu. Inilah yang disebut sebagai hal yang luar biasa atau mukjizat, jadi beri-tahukanlah) ”setiap agama yang dipanuti, dia dapat memberitahukan akan kesalahan-kesalahannya”. (yakni dia memberitahukan akan keburukan-keburukan setiap agama dan menginformasikan kepada mereka)” dan dari segala segi, dia dapat membuktikan keindahan Islam dan dengan segala macam cara dia dapat mengobati segala macam penyakit ruhani. Pendek kata, untuk mushlih/pembaharu yang datang itu yang merupakan  خاتم المصلحينkhôtamul-mushlihîn – dia diberikan dua kemampuan. Satu adalah علم الهدي‘ilmul-hudâ – ilmu petunjuk yang merupakan isyarat kepada nama atau isim Mahdi yang merupakan mazhar/refleksi atau pantulan sifat Muhammad, yakni kendati ummi/buta huruf kepadanya diberikan ilmu (yakni kendati tidak mengetahui ilmu, ilmu diberikan padanya, Allah Sendiri yang mengajarkan. Inilah merupakan tanda seorang menjadi Mahdi)”. Dan kedua تعليم دين الحقta’lîmu dînil-haqq – mengajarkan agama yang benar, yang merupakan isyarat kepada Masih yang nafasnya dapat memberikan kesembuhan“ (yang merupakan isyarat kepada yang memberikan kesembuhan ruhani). “Yakni untuk menjauhkan penyakit-penyakit ruhani dan untuk menyempurnakan hujjah dianugerahi kekuatan dari segala segi dan sifat علم الهدي‘ilmul-hudâ –ilmu petunjuk mengisyaratkan kepada karunia yang didapat dari Tuhan tanpa perantaaraan manusia dan sifat ilmu دين الحقdînil-haqq – mengisyaratkan pada sifat mendatangkan faedah, pemberian ketenteraman kepada orang-orang dan pengobatan ruhani”.[9]

Yakni, pertama memberikan ilmu. Kemudian berusaha sepenuhnya. Mengajarkannya dan kemudian menyebarkannya, untuk seterusnya supaya menjadi terobati atau sembuh/sembuh dari penyakit ruhani.

Jadi, inilah kedudukan sosok Mahdi kiriman Allah, yang Allah telah kirim pada zaman ini untuk petunjuk dunia dan kehidupan baru Islam. Supaya ajaran Islam yang bersinar menjadi jelas dan nyata pada dunia. Semoga Allah menganugerahi taufik pada dunia untuk dapat menerima Masih dan Mahdi; dan kepada kita pun Allah anugerahi taufik supaya dengan mengamalkan ajaran Mahdi yang dikirim Allah yang Maha memberi petunjuk, di jalan mana pun kita berjalan, kita tetap tegak dengan penuh istiqamah, jangan pernah tersandung dan kita terus berjalan ke arah tujuan yang membimbing kita kepada keridhaan Allah.

Pada saat ini saya akan menyalatkan beberapa jenazah. Pertama adalah jenazah Khatamunnisa Dard Sahibah yang merupakan istri Muhammad Syafi’ Asyraf. Beliau wafat pada usia 78 tahun.

$¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘

Innâ lilLâhi wa innâ ‘ilayHi rôji’ûn — Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. (Al-Baqarah:156). Beliau juga senantiasa mengerjakan pekerjaan Lajnah. Beliau meyertai suami beliau yang merupakan seorang murabbi/muballigh di lapangan dengan penuh kesederhanaan dan rasa puas dan rasa syukur. Beliau merupakan sosok yang tidak banyak bicara/pendiam dan suka bergaul. Banyak berdoa. Beliau memiliki dua anak laki-laki dan keduanya mewakafkan diri. Muhammad Asyraf Sahib sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Fazli Umar dan Mahmud Ahmad adalah guru di Jamiah Ahmadiyah, Rabwah. Begitu juga beliau meninggalkan dua orang putri. Semoga Allah meninggikan derajat almarhumah.

Kemudian satu lagi jenazah Salimah Begum, istri dari (Al-Marhum) Dr Abdurahman Sadiqi. Umur beliau 88 tahun. Beberapa bulan sebelumnya, putra beliau yang masih muda, Yth. Dr. Abdulmanan Sadiqi disyahidkan dan beliau dengan penuh ketabahan menjalani ujian itu. Beliau wafat tanggal 2 Februari.

$¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘

Innâ lilLâhi wa innâ ‘ilayHi rôji’ûn — Beliau adalah putri Dr. Asymatullah Khan yang merupakan dokter pribadi  Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Dan pada akhir sakitnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra selama 24 jam (siang-malam) adalah bersama beliau. Beliau merupakan sosok yang mengetahui/memahami agama dengan baik. Beliau memberikan pendidikan/tarbiyat kepada anak-anak beliau. Beliau cukup lama menjadi Ketua Lajnah Imaillah di Mirpukhas. Dan ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memerintahkan kepada suaminya untuk tinggal di Mirpurkhas, maka dengan dukungan sepenuhnya beliau ini tinggal bersama suami beliau. Dan beliau ini mengorganisir Jemaat. Beliau mempunyai seorang anak. Dr Abdulmanan Sadiqi yang syahid. Dan tidak mempunyai anak. Semoga Allah meninggikan derajat almarhumah.

Jenazah ketiga adalah Afifah Sahibah, istri Sayuti Aziz Syahid yang merupakan Raisuttabligh Indonesia. Beliau wafat dalam usia 65 tahun.

$¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘

Innâ lilLâhi wa innâ ‘ilayHi rôji’ûn —  Beliau menderita penyakit paru-paru. Beliau ini adalah putri Maulana Abdulwahid Sahib Sumatri, dari Sumatera dan dengan karunia Allah beliau juga seorang mushiah. Sepanjang umur beliau melewatkan kehidupannya di sana (Indonesia). Beliau merupakan sosok yang pendoa/banyak berdoa, memiliki empati dan peduli pada orang-orang miskin. Dan beliau merupakan saudara perempuan Maulana Abdulbasith, Amir Jama’at Indonesia kita. Beliau meninggalkan dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Semoga Allah menegakkan semuanya pada kebaikan-kebaikan dan meninggikan derajatnya.

Jenazah ke empat adalah Mirza Muhammad Akram, putra Mirza Muhammad Aslam. Beliau ini wafat di sebuah kampung atau sebuah kecamatan di Naroal. Beliau tidak muda sekali, kini beliau baru saja menginjak di usia Ansharulllah. Di toko beliau terjadi perampokan dan beliau terkena tembakan sebanyak 23 kali, yang ditembakkan para perampok. Walhasil, dari segi itu inipun juga syahid. Beliau adalah seorang yang aktif dalam tugas-tugas Jama’at. Beliau merupakan da’i yang handal, pemberani dan berakhlak luhur. Beliau senantiasa berada di barisan terdepan dalam bidang pengorbanan harta. Banyak memperoleh taufik melakukan berbagai pengkhidmatan dalam Jama’at. Pada waktu sebelum syahid, beliau ini merupakan Sekretaris Tahrik Jadid dan Sekretaris Risyta Nathah di cabang. Di Ansharullah, beliau sebagai pengawas Ansharullah setempat. Beliau lama menjadi Qaid Khuddamul Ahmadiyah. Allah telah menganugrahkan taufik kepada beliau untuk melakukan pengkhidmatan. Anak beliau ini kecil-kecil, mulai dari 7 tahun hingga 15 tahun. Semoga Allah menganugerahi kesabaran dan semangat kepada anak-anak beliau. Meninggikan derajat-derajat mereka. Sebagaimana saya telah katakana, kini Insya Allah, setelah shalat, saya akan mengimami shalat jenazah gaib.

Penerjemah: Mln. Qamaruddin Syahid

[1] Terjemah I’jazul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, hal 131-133, Tafsir Hazrat Masih Mau’udas, jilid 1, hal. 92-93

[2] Al-wasiat, Ruhani Khazain jilid 20, hal 311-312

[3] Tuhfah Golorwyiah, hal 112, catatan kaki Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as surat Al-Fatihah, jilid 1, hal 263

[4] Khutbah Ilhamiyah, hal 63-64, Ruhani Khazain jilid 16, hal. 109-110

[5] Bahtera Nuh, Ruhani Khazain, jilid 19, hal. 14

[6] Perlunya Imam Zaman, Ruhani Khazain, jilid 13, hal. 494

[7] Perlunya Imam Zaman, Ruhani Khazain, jilid 13, hal. 495-495

[8] Taryaqul qulub, Ruhani Khazain, jilid 15, hal 231-232, Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as, jilid 4, hal. 358

[9] Arba’in no. 2, Ruhani Khazain, jilid 17, hal. 356-357, Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as, jilid 4, hal. 357