Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

25 Juni 2004 di Mississauga, Kanada

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Manusia di dunia melakukan perjalanan untuk maksud-maksud yang beragam. Pada zaman ini, tatkala fasilitas- fasilitas perjalanan juga sangat banyak tersedia dan dampak dari tersedianya fasilitas- fasilitas perjalanan itu jarak tempuh pun menjadi menyusut dan akibat fasilitas- fasilitas /kemudahan-kemudahan itu serta akibat menyusutnya jarak tempuh itu kebanyakan orang-orang kerap berada dalam perjalanan-perjalanan untuk pekerjaan-pekerjaannya. Jarak 20-25 mil yang di masa lalu dikatakan perjalanan, itu kini tidak disebut/dikatagorikan perjalanan. Namun betapapun juga dari satu sisi termasuk juga perjalanan. Nah, perjalanan yang dilakukan untuk berbagai tujuan yang berbeda ini, baik itu berupa bisnis, kunjungan atau untuk kunjungan pertemuan keluarga , baik untuk menuntut ilmu, untuk merenungkan kelahiran (ciptaan) Allah yang ditujukan untuk sebuah penelitian atau baik untuk maksud-maksud agama- apapun maksudnya- orang mu’min seyogianya senantiasa ingat bahwa dalam perjalanan-perjalanan itu jangan sampai pernah terjadi – keterpaksaan apapun coraknya – kalbunya kosong dari takwa dan kosong dari pengamalan hukum-hukum Allah.

Saudara-saudara yang kini duduk pada saat ini disini, kebanyakan merupakan orang-orang yang akibat situasi dan kondisi memaksa telah berhijrah dari Pakistan dan dengan membelanjakan banyak uang /dana, dengan mengeluarkan banyak biaya-biaya yang dari satu segi artinya telah mengerahkan segenap sarana-sarana duniawi saudara-saudara datang bermukim di negeri ini. Banyak juga yang pada saat permulaan datang kemari harus menghadapi kesulitan-kesulitan berat, tetapi kemudian Allah dengan karunia-Nya telah menjadikan kondisinya menjadi baik. Kemudian ada pula yang akibat dari kebijakan pemerintah disini, akibat kebaikan pemerintah, mereka mendapat kewarganegaraan dan izin untuk bekerja. Singkatnya, perjalanan ini menjadi faktor kesuksesan bagi banyak orang. Jadi, sebagaimana sebelum ada titik terang dalam pelesaian kasus ( keimigrasian) kalian memusatkan perhatian pada Allah ,berdoa pada Allah, terus memohon pertolongan-Nya, kalian sendiri juga memanjatkan doa-doa dan kepada orang lain pun terus meminta untuk didoakan, timbul rasa pilu dan rasa resah di hati kalian, tertanam rasa takut dalam hati terhadap Allah,serupa itu pulalah rasa takut dan ketakwaan ini seyogianya terus tetap berada dalam kalbu saudara-saudara sejalan dengan sedemikian banyaknya fasilitas- fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang Allah anugerahkan kepada saudara- saudara. Kini setelah datang kemaripun saudara-saudara kerap senantiasa menemui kepentingan untuk melakukan berbagai macam perjalanan untuk urusan bisnis saudara-saudara. Maka seyogianya senantiasa diingat dan harus menjadi renungan khusus bahwa fasilitas—fasilitas dunia dan kemudahan –kemudahan yang tersedia jangan –jangan sampai menjauhkan dari takwa. Jika dengan renungan ini dan kesadaran itu saudara-saudara terus menjalani kehidupan ini,maka sejalan dengan meraih kemajuan dalam takwa,sejalan dengan meraih kedekatan dengan Allah saudara-saudara akan terus meraih kemajuan-kemajuan dalam medan agama dan dunia. Insyaallah. Oleh karena itu, senantiasa tegaklah dalam takwa,kalau tidak ingatlah, bahwa Tuhan yang telah menganugerahkan nikmat-nikmat ini Dia juga kuasa untuk menarik nikmat-nikmat itu kembali.

Kemudian keistimewaan dan keutamaan orang Ahmadi senantiasa nampak bahwa dia melakukan perjalanan demi untuk agama juga. Pada umumnya di saat ijtima-ijtima dan jalsah-jalsah orang Ahmadi datang dengan perhatian khusus dan dengan rasa senang dan bahagia. Dan hari ini, dari saudara-saudara banyak datang kemari setelah melakukan perjalanan dengan maksud- ada sejumlah orang tengah datang dari berbagai kota Kanada dan dari Amerika – supaya mereka dapat hadir pada Jumaah depan pada Jalsah yang akan digelar disini. Perjalanan saudara-saudara ini seyogianya murni hanya demi untuk Al lah. Takwa pada-Nya senantiasa yang menjadi prioritas utama. Sesampai disini bersihkanlah hati dari antara sesama , menghindar dari segenap pertengkaran dan perselisihan. Pada hari-hari ini sejalan dengan tegak pada ketakwaan demi untuk Jalsah baru akan dapat dihitung perjalanan apabila kalian menghindar dari segenap macam ucapan kotor, jangan sampai terjadi tamu dan penerima tamu karena hal-hal kecil mereka tidak mampu mengendalikan emosionalnya. Jangan mereka menjadi orang-orang yang mengejek dan menjadi orang –orang yang melecehkan orang lain dan jangan mereka menjadi orang-orang yang duduk dalam majlis-majlis dimana orang-orang ditertawakan dan tidak pula menjadi orang-orang yang duduk dalam pertemuan-pertemuan dimana diperdengarkan cerita-cerita dan kisah-kisah yang sia-sia dan kata-kata yang sia-sia dan tidak pula termasuk ke dalam orang-orang itu. Atau tidak pula menjadi orang-orang yang sampai larut malam berbicara sia-sia sehingga pada saat sembahyang subuh mata sama sekali tidak dapat terbuka. Adalah merupakan kenyataan pula bahwa pertemuan- pertemuan yang sia-sia seperti itu akan menjadikan hati menjadi karatan. Jadi jangan hanya sekedar tidak ikut dalam pertemuan-pertemuan sepeti itu, bahkan dengan memberikan pengertian terhadap orang-orang Ahmadi yang menggelar pertemuan serupa itu harus hendaknya berupaya memberantas majlis atau pertemuan seperti itu. Sebab semua hal-hal ini adalah akan menjauhkan orang-orang melakukan ibadah pada Allah dan kemudian kalbu akan kosong dari ketakwaan. Jadi untuk seorang ahmadi majlis/pertemuan semacam ini dalam corak apapun tidak dapat ditolerir ,yakni majlis yang mengakibatkan hatinya menjadi kosong dari rasa takut pada Tuhan. Ingtlah, apabila manusia kosong dari ketakwaan dan pergi jauh dari Tuhan, maka janganlah menyangka bahwa ikatan duniawi kalian dan ikatan kekeluargaan akan tetap utuh. Apabila kosong dari takwa maka ikatan-ikatan dan jalinan duniawi dan ikata-ikatan lainnyapun akan mulai rapuh. Inipun juga akan mulai putus dan akan tercipta sebuah bentuk ketidak stabilan. Oleh karena itu perjalanan yang dilakukan demi untuk Allah perhatikanlah ketakwaan sebanyak-banyaknya di dalamnya. Karenanya dimana Allah memerintahkan untuk melaksanakan haji disana Dia menegaskan bahwa bekal yang paling baik adalah takwa. Sebagaimana bersabda فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى- dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa Al-Baqarah 198. Maksudnya bukanlah bahwa hanya yang pergi haji yang mengumpulkan bekal dan menjadi tegak dalam ketakwaan atau hanya untuk dia bekal terbaik adalah takwa. Bahkan berfirman bahwa perjalanan kamu yang khususnya adalah perjalanan untuk Allah, untuk agama, didalamnya perhatikanlah sebanyak-banyaknya mengenai ketakwaan. Jika di atasnya kalian tegak maka kalianpun akan meraih peluang untuk melakukan perbaikan terhadap diri klian sendiri dan akan dapat meraih kedekatan Allah. Hubungan keikhlasan kalian dengan Allah akan bertambah erat , dan kalian akan sebanyak banyaknya meraih makrifat-Nya. Kemudian kecintaan terhadap makhluk Allah dan terhadap ummat manusiapun akan bertambah. Dan jika perkara-perkara ini akan tercipta maka sesungguhnya lingkungan kalian pasti akan berhak dikatakan lingkungan seperti lingkungan surga.

Ingatlah pula, bahwa tambah lebih maraknya perkelahian, pertengkaran dan kekacauan atau ketidak stabilan di dunia adalah pada saat manusia bersandar pada manusia lainnya atau berupaya menyandarkan diri padanya.Lebih banyak mengharap pada manusia-manusia. Harapan-harapan lebih digantungkan pada manusia bukannya pada Allah. Harapan-harapan lebih banyak digantungkan pada mereka . Maka apabila bersama pemikiran ini seorang yang datang atau pergi sebagai tamu di rumah seseorang maka di kalangan para tamu dan para penerima tamu akan senantiasa lahir buruk sangka dan timbul rasa tidak suka. Dan di dalam masyarakat kita terdapat sejumlah karakterristik yang lebih sensitif merasakannya dan di dalam hati terus tumbuh subur rasa tidak senang. Semua ini akibat kurangnya ketakwaan, selain itu tidak ada apa-apa. Sejumlah orang yang bijak bertindak sangat baik, dengan memasang tenda kecil mereka mengatur persiapan untuk mereka sendiri. Saya tidak mengetahui apakah disini ada persiapan seperti ini atau tidak . Kemudian bagi yang berkemampuan mereka membawa sendiri karavan (semacam gerbong) mereka. Dan ini merupakan hal yang sangat baik. Mereka dapat tinggal dengan bebas. Nah, dari pihak panitia pelaksana hendaknya ada persiapkan untuk menyiapkan tempat untuk karavan dan untuk tempat tenda-tenda. Maka ini merupakan tugasnya juga bahwa jika orang-orang seperti itu menginginkan maka siapkanlah untuk mereka. Di Inggris ini kini sudah merupakan tradisi yang sangat umum. Dan sementara makanan dapat diperoleh dari Langgar Hadhrat Masih Mauud a.s yang pada hari-hari itu terus buka. Itu tidak ada masaalahnya, itu tetap tersedia. Dan merupakan tugas panitia pelaksana juga memberikan perhatian kepada para tamu pada hari-hari itu. Mereka ini datang kemari sebagai tamu Hadhrat Masih Mauud a.s.

Jadi, saya tengah berbicara menyangkut perjalanan bahwa perjalanan bagaiamanapun coraknya itu tetap merupakan perjalanan. Karena itu persiapan apapun dan seberapapun baiknya persiapan pasti ada saja di dalamnya terjadi hal-hal yang terkadang menjadi faktor kesulitan. Oleh karena itu para musafir seyogianya senantiasa memohon kebaikan pada Allah untuk memperoleh kemudahan dalam perjalanan apapun corak perjalanan itu- supaya perjalanan berjalan dengan tenang.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang hadir di hadapan Rasulullah saw dan bertanya Ya Rasulullah saw ! Saya ingin melakukan perjalanan bekalilah saya. Maka Rasululah saw bersabda: Semoga Allah menganugerahkan kepada Engkau bekal ketakwaan. Dia berkata , ya Rasulullah ! doakalah lagi untuk saya. Maka Rasulullah saw bersabda: Semoga Allah memaafkan dosa-dosamu. Saat itupun dia belum merasa puas lalu dia berkata: Ibu bapakku berkurban untukmu,doakanlah lagi untuk saya. Maka Rasulullah saw bersabda bahwa dimanapun kamu berada semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu.tirmidzi kitabuddakwat bab majaa a maa yaquulu idza wadda’a insaanan

Perhatikanlah betapa sahabah itu memohonkan doa yang lengkap supaya di dalam perjalanan kondisi seperti itu yang senantiasa terjadi bahwa, saya terus memperoleh kebaikan dan karunia,dan jika terus mendapatkan ini maka akan tetap mudah bagi saya untuk berjalan pada ketakwaan, di dalam kalbu saya rasa takut dan khusyu’ pun akan senantisa ada. Dan apabila ini tetap ada maka manusiapun akan senantiasa menghindar dari dosa. Oleh karena itu dalam perjalanan seyogianya berdoa secara khusus bahwa, “ya Allah ! takwapun hanya dengan karunia Engkau-lah dapat diraih, karena itu senantiasa curahkanlah karunia-Mu. Jangan sampai terjadi kondisi dimana saya bergntung pada orang lain lalu menimbulkan keluhan di dalam kalbu orang-orang dan saya menjadi jauh dari takwa. Karena itu senantiasa anugerahkanlah segenap kebaikan dari sisi-Mu”. Doa seperti inipun Hadhrat Musa telah panjatkan dalam perjalanan(رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Al-Qashash 25 Ya Allah saya adalah seorang musafir kelana, Engakau curahkanlah karunia /kebaikan Engkau kepadaku,saya hanya perlu Engkau dan ingin senantiasa bergantung pada-Mu dan tampa Engkau selangkahpun saya tidak dapat melangkah.

Kemudian tertera sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa seorang datang pada Hudhur saw lalu berkata,ya Rasul Allah ! Saya akan melakukan perjalanan, berikanlah nasehat pada saya. Beliau bersabda: Bertakwalah pada Allah. Kapan saja kamu mendaki maka ucapkanlah takbir, orang itu kembali maka beliau memanjatkan doa, hai Allah ! dekatkanlah jaraknya yang jauh, yakni mudahkanlah perjalanannya dan jadikanlah itu dapat dilalui ( Tirmidzi kitabudda’waat bab yaquulu idza ma wada’a insaana) Di dalam itu terdapat suatu pelajaran bahwa kapan saja melakukan perjalanan,pertama panjatkanlah doa lalu berangkat, semoga Allah melindungi dari kesulitan dan kedukaan serta penderitaan perjalanan dan melidungi dari kesusahan.

Cara yang Rasulullah saw ajarkan terkait dengan perjalanan itu sedikit saya akan terangkan. Sebagaimana dalam hadis bahwa berdoa dulu lalu berangkat. Kemudian panjatkanlah doa dalam perjalan, doa itupun Dia telah ajarkan pada kita bahwa sebelum berangkat memulai perjalanan tatkala duduk di atas kendaraan maka sambil membaca takbir tiga kali mohonlah doa ini

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ(13)وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ- “Maha Suci Zat yang telah menundukkan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” Az-zukhruf 14. Dan kemudian ada lagi doa-doa,yaitu:” Hai Tuhan kami ! Kami menginginkan didalam perjalanan kami kebaikan dan ketakwaan. Anugerahilah kepada kami taufik untuk melakukan amal baik yang Engkau sukai. Hai Tuhan kami ! hanya Engkau-lah yang dapat memudahkan perjalanan kami dan mendekatkan jaraknya yang jauh. Hai Tuhan kami! Engkaulah yang menyertai kami dalam perjalanan ini dan Engkau-lah juga yang menjadi pemelihara yang kami tingglkan di rumah. Hai Tuhan kami, saya berlindung kepada Engkau dari kesulitan-kesulitan perjalanan dan dari pemandangan – pemandangan yang meresahkan, dari akibat-akibat buruk dalam harta dan keluarga dan dari perubahan yang tidak disukai. Kemudian apabila kembali dari perjalanan maka inilah yang beliau panjatkan. Di dalam ini beliau menambahkan sedikit bahwa, kami kembali sambil bertobat, sebagai seorang yang beribadah dan menjadi orang yang basah lidahnya dalam memuji Tuhannya, yakni kami senantiasa memuji-Nya.

Jadi perhatikanlah, betapa lengkapnya doa-doa ini. Pada zaman itu jika tunggangan itu adalah tunggangan unta dan kuda, itu terlebih dahulu dilatih, maka penunggang pun mempelajari bagaimana mengendalikan tunggangan. Barangsiapa yang memahami tunggangan maka dia lah yang dapat duduk di atas tunggangan- tunggangan itu. Kalau tidak, penunggang yang tidak berpengalaman,maka tunggangan- tunggangan itu akan segera melemparkan orang yang menunggangnya ke bawah. Jadi ( untuk mengendalikan ) kedaraan- kedaraan dewasa ini juga Allah swt telah memberikan akal sedemikian rupa kepada manusia untuk membuat kendaraan- kendaraan dan kemudian untuk penggunaannya pun Allah telah memberikan akal dan Dia telah menciptakan kendaraan-kendaraan yang lengkap dengan fasilitas atau kemudahan; maka Allah berfirman, sambil bersyukur pada Allah duduklah di atas kedaraan itu, kemudian dalam perjalanan pun daripada membicarakan orang-orang diantara kalian dan menggunjingkan orang lain senantiasa berdoalah kepada Allah, mohonlah kebaikan pada-Nya dan senantiasa takutlah pada-Nya dan teruslah memohon pada Allah supaya perjalanan dengan mudahnya dapat dilalui. Berdoalah supaya di dalam perjalananpun Allah senantiasa melindungi kita; senantiasa melindungi kita dari segenap kecelakaan, sebab apabila ada karunia Allah-lah manusia dapat selamat dari segenap keburukan. Betapapun seorang yakin betul bahwa, kendaraan kami baru, itu merupakan mobil yang sangat canggih,atau mobil yang sangat kuat dan kami mengandalkan itu, janganlah pernah mengandalkan atau mempercayai kendaraan. Jika sebuah sekerup saja yang longgar, yang terkadang baru keluar dari pabrik pun sekerupanya longgar atau sang sopir sedetik saja terserang kantuk atau kedaraan lain yang ada di jalan melakukan kesalahan maka bisa saja terjadi suatu kecelakaan. Oleh karena itu selangkahpun orang mu’min tidak melangkah tampa pertolongan Allah. Tidak ada sesaat pun yang lewat/berlalu tampa karunia-Nya. Kemudian jika ada beberapa keluarga datang atau dia datang sendiri maka pada saat perjalanan itupun senantiasalah berdoa,hai Tuhan tinggalkan pulalah kebaikan di belakang kami atau jika semua keluarga ada dalam perjalanan maka tentu harta benda dan sarana keperluan lainnya berada di rumah. Maka karena itu seyogianyalah terus memanjatkan doa untuk kebaikan yang di belakang. Disini di negara-negara ini penggunaan kayu di rumah-rumah sangat banyak sekali. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang orang-orang rumah entah pergi kemana lalu terjadi koslet arus pendek dan takala kembali maka rumah sudah menjadi tumpukan abu. Oleh karena itu seyogiannya terus memanjatkan doa-doa di dalam perjalanan. Seorang mu’min sedetikpun tidak dapat berlalu sedetikpun tanpa memohon perlindungan pada Allah.

Kemudian dalam perjalanan juga kita juga menemukan pemandanga-pemandangan yang memberikan pengaruh pada tabeat-tabeat manusia, dengan melihat exident /kecelakaan yang menimbulkan beban dalam fikiran. Karena itu, Rasulullah saw sendiri juga berdoa dan inilah pula perintahnya kepada kita bahwa kapan saja dalam perjalanan maka teruslah memanjatkan doa dan kapan kembali dari perjalanan maka bersyukurlah pada Tuhan. Seyogianya masuk ke rumah sambil bertobah, berilah perhatian pada beribadah pada Tuhan supaya karunia-Nya senantiasa ikut serta menyertai.

Tertera dalam sebuah hadis Hadhrat Abu Sa’id r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa,” Apabila tiga orang melakukan perjalanan maka diantara sesama mereka tetapkanlah seorang sebagai amir perjalanan ”. Sunan Abi Daud kitabuljihad bab fil qaumi yusaafiruun yu’marun

Sejumlah orang-orang keluar dari rumah mereka secara rombongan – rombongan, maka pilihlah amir kalian. Hal ini harus mendapat perhatian bahwa amir perlu ditetapkan; dan apabila kalian telah menetapkan amir maka perlu sekali memberikan musyawarah padanya, kalian berhak memberi musyawarah,tetapi jika dia tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syareat maka segenap perkataannya harus diitaati. Dan untuk menciptakan ruh ini di kalangan anak-anak ini merupakan perintah Rasul Allah bahwa harus menetapkan amir dalam perjalanan,apabla melakukan perjalanan dengan anak-anak maka bapak atau siapapun yang besar dalam perjalanan itu, siapapun yang kalian jadikan sebagai amir,bertahukanlah, ini adalah amir kalian dan perkataannya /perintahnya harus ditaati. Rasul Allah telah memberitahukan bahwa seharusnya ada amir/ketua kafilah dalam perjalanan-perjalanan kalian. Jadi apabila kalian mentraining pada anak-anak seperti itu maka di dalam diri anak-anak dari sejak kecil akan lahir kebiasaan mengitaati nizam Jemaat dan terkait dengan sebuah perjanan di dalam perjalananlah anak-anak memperoleh pendidikan.

Kemudian tertera sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ka’ab bin Malik r.a bahwa apabila Rasulullah saw kembali dari perjalanan maka pertama beliau datang ke mesjid dan disana beliau melakukan shalat nafal dua rekaat. Bukhari kitaabulmagaazi bab hadis ka’ab bin malik

Jadi, sebagaimana sebelumnya saya telah kemukakan bahwa inilah ajaran yang beliau telah ajarkan pada kita bahwa sekembali dari perjalanan agar memasuki rumah-rumah sambil bertobah, memuji Tuhan, bersyukur pada Tuhan dan berdoa pada Tuhan. Nah, hadis itu telah memberikan contoh bahwa setelah kembali dari perjalanan beliau melakukan shalat nafal di mesjid. Kini simaklah apa (kenyataan) yang ada. Setiap orang dapat mengintrospeksi dirinya sendiri, jangankan melakukan shalat nafal, bahkan banyak sekali yang setelah kembali dari perjalanan, orang-orang sedemikian hanyut dalam kerumunan anak-anaknya, dalam urusan rumah tangga atau dalam majlis-majlis mereka, sedemikian rupa mereka sangat hanyutnya dalam urusan- urusan dunia kendatipun perjalanan dewasa ini sangat menyenangkan dibandingkan perjalanan zaman lampau, jelas-jelas tidak ada perbandingan dibandingkan dengan perjalanan masa itu, tetapi tetap saja shalat-shalat wajib mereka qodha atau sama sekali mereka tidak lakukan dan lalu membuat alasan lelah dan panat. Jika setiap orang mengintrospeksi dirinya sendiri maka akan tampak jelas di hadapan kalian gambaran diri kalian. Semoga Allah menganugerahkan pada kita taufik untuk menjauhkan semua kemalasan- kemalasan.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rassulullah saw bersabda: Perjalanan adalah sebagian dari azab. Sebab, itu menjadi penghalang untuk makanan,minuman dan untuk waktu tidurmu. Oleh karena itu, apabila seorang musafir telah menyempurnakan pekerjaannya maka cepatlah untuk kembali pada keluarganya. Muslim kitabul imaarah baab assafaru qith’atun minam azab wa istihbaabi ta’jiili musaafiri fi ahlihi ba’da qadhaai masygalatin

Dewasa ini pun kalian perhatikanlah bahwa kendatipun terjadi banyak sekali fasilitas-fasalitas/ kemudahan-kemudahan dalam perjalanan. Kita dapat melakukan perjalanan ribuan mil jauhnya dengan pesawat udara ,mobil, kreta api dll dalam hanya beberapa jam, tetapi dalam perjalanan (karena keluar) dari rumah orang menjadi tidak punya rumah, pasti seorang menjadi terganggu,rutinitas manusia tidak lagi sama seperti yang biasa di rumahnya, baik di saat makan atau terjadi perubahan dalam kegemarannya,terutama sejumlah orang-orang yang sakit dan orang-orang yang memilki kebiasaan sendiri dalam pola makan, dalam perjalanan mereka banyak menemui kesulitan. Kemudian akibat tidak tepatnya peraturan waktu tidak dapat dawam dalam pelaksanaan shalat, tidak lagi teratur untuk waktu-waktu tidur dan bangun. Mereka yang biasa melakukan shalat fajar tepat pada waktu pun terkadang akibat perjalanan menjadi terpengruh dan akhirnya shalatpun menjadi tertinggal. Dan sejumlah orang- sebagaimana sebelumnya saya telah katakan- akibat bincang-bincang sampai larut malam shalat-shalat mereka menjadi diqadha.Nah, selama hak-hak Allah tidak ditunaikan maka perjalanan jelas merupakan bagian dari azab.

Kemudian tertera sebuah riwayat dari Hadhrat Haulah binti Hakim r.a bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa barangsiapa tinggal menginap di suatu rumah atau saat berhenti di suatu tempat maka bacalah doa ini, saya berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dan dari keburukan /kejahatan yang Allah ciptakan. Bahasa Arabnya adalah

اعوذبكلمات الله التامات من شرما خلق – a’uudzu bikalimaatit-taammaati min syarri maa khalaq maka beliau bersabda bahwa apabila kamu memanjatkan doa ini maka mulai dari berupaya tinggal disana atau sampai meninggalkan tempat itu tidak akan ada sesuatu yang dapat mendatangkan kerugian pada orang itu. Muslim Kitsabudzzikir bab atta’awwuz min suui lqadhaa wa darkissiqaa wa syarrihi

Jadi, sambil dengan niat yang tulus dan teguh pada ketakwaan serta sambil menunaikan hak-hak kewajiban terhadap Allah pabila seorang mukmin dengan niat yang tulus memohon doa pada Allah maka Rasul Allah tegas memberikan jaminan bahwa kamu akan dilindungi dari segenap keburukan. Maka dalam perjalanan ini juga yang merupakan perjalanan murni karena Allah dan untuk yang akan datang dalam setiap macam perjalanan senantiasa seyogianya harus mengingat doa itu. Semoga Allah memberikan perlindungan kepada setiap orang pada perlindungan-Nya.Tekankanlah pada doa dan terus menerus tekankanlah pada doa sebab doa orang dalam perjalanpun sangat makbul.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa beliau bersabda: Ada tiga macam doa yang meraih pengabulan disisi-Nya: Doa orang yang teraniaya,doa orang musafir dan doa ibu bapak untuk anak-anaknya.Tirmidzi Kitabuddakwat bab ma dzukira fi dakwatilmusaafir

Jadi, beliau bersabda bahwa panjatkanlah doa-doa dalam perjalanan , dan memberitahukan pula pada kita bahwa apa doa-doa yang kalian harus panjatkan itu sedikit telah saya beritahukan. Berkaitan dengan doa-doa itu terdapat juga sebuah riwayat bahwa doa apa yang harus dimohon.

Bersumber dari Hadhrat Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah saw apabila beliau melakukan perjalanan dan malam tiba, maka beliau memanjatkan doa,hai bumi ! Tuhan-ku dan Tuhan-mu adalah Allah. Saya berlindung pada Allah dari kamu dan dari keburukan apa yang di dalam dirimu, dari keburukan apa yang diciptakan di dalam perutmu dan dari kejahatan yang berjalan di permukanmu. Dan saya berlindung pada Allah dari kejahatan singa, ular naga, ular biasa, kejahatan kalajengking, dari kejahatan penduduk kota, dari kejahatan orang yang memulai keburukan dan dari keburukan yang dia telah mulai. Sunan Abi Daud kitabuljihad bab maa yaquulurrajulu idzaa nazalal manzal

Jadi, lihatlah apabila seorang pergi ke beberapa tempat, maka terjadi banyak peristiwa-peristiwa yang tidak disukai. Beliau memohon perlindungan dari semuanya. Di negara-negra ini dimana saudara-saudara datang dari Pakistan atau disini juga kalian kerap melakukan perjalanan atau di dunia dimanapun orang ahmdi melakukan perjalanan dari satu tempat pergi ke tempat lain, maka sejumlah keburukan melakukan penyerangan, dari itu hendaknya terus menerus berupaya menghindar.

Sangat perlu banyak melakukan istigfar. Khususnya, kebebasan lingkungan disini dan sejumlah hal-hal yang salah serupa itu yang senantiasa seyogiannya menghindar darinya. Tradisi-tradisi kalian dan ajaran agama kalian adalah yang menuntut kalian harus menghindar dari itu dan pertahankan nilai-nilai luhur tradisi-tradisi kalian dan janganlah mengambil banyak pengaruh/terpengaruh dengan keburukan-keburukan mayarakat ini. Tapi kebanyakan orang-orang terpengaruh dan kemudian mereka mengatakan,kan! kawwa cala hans ki caal apni bhi bhul gai – milik sendiripun lupa. Kemudian tidak lagi tradisi baiknya yang tersisa dan tidak pula cara senyumnya. Jadi mengadopsi kebaikan-kebaikan suatu masyarakat adalah merupakan hal yang baik. Bahkan ini merupakan barang hilang atau harta berharga yang hilang seorang mu’min. Tetapi seyogianya harus menghindar dari segenap keburukan suatu masyarakat. Dan membedakan kebaikan dan keburukan secara benar baru akan dapat kalian lakukan apabila kalian memahami agama secara benar. Oleh karena itu untuk mempelajari agama sendiripun harus benar-benar dengan penuh perhatian.

Kemudian tertera sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw bersadba: Janganlah melepaskan hewan-hewan kalian untuk berangkat dengan maksud perjalanan dari terbenam matahari sampai hilangnya kemerah-merahan malam, sebab syaitan-syaitan melakukan gangguannya pada kegelapan malam. Sunan Abi Daud kitabuljihad baab maa fi karaahiyatilssair aula finnahaar

Jadi maksudnya adalah hindarilah melakukan perjalanan malam hari. Disini pun, di Eropa pun dan di negara-negara lain pun untuk menghemat waktu diupayakan melakukan perjalanan di malam hari. Dan khususnya apabila setelah selesai dari pekerjaan-pekerjaan/tugas-tugas, baik itu merupakan tugas-tugas duniawi atau perjalanan untuk maksud-maksud dunia, untuk datang dan pergi pada pertemuan-pertemuan, jalsah-jalsah dll seyogiannya melakukan perjalanan seperti itu bahwa andaikata sangat terpaksa sekalipun maka sekurang-kurangnya tidurnya harus cukup. Dan betul-betul yakin bahwa jalan aman. Banyak sekali kecelakaan-kecelakaan terjadi adalah akibat karena tidak istirehat dan akibat lelah yang akhirnya kemudian menjadi penyebab kesusahan kita semua. Oleh karena itu nasehat-nasehat yang secara lahiriah nampak kecil yang Rasulullah saw nasehatkan pada kita harus betul-betul menjadi bahan renungan /perhatian kita dan kita harus berusaha mengamalkan sesuai dengan itu.

Kemudian tertera sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw memanjatkan doa: Hai Allah ! berkatilah perjalanan-perjalanan ummatku yang dilakukan pada pagi-pagi hari benar/pagi-pagi buta. Ini adalah riwayat Hadhrat Sahar Ghamidi. Kemudian beliau berkata bahwa apabila beliau memberangkatkan peleton/detasmen atau lasykar maka beliau memberangkatkannya pada bagian permulaan hari dan Sakhar adalah seorang pedagang. Beliau berkata bahwa beliau memberangkatkan barang-barang dagangan beliau pada permulaan hari/pagi hari. Dan oleh karena itulah dia menjadi kaya raya dan hartanya menjadi sangat banyak. Sunan Abi Daud Kitabuljihad bab filibtikaari fissafar

Jadi, pebisnispun/pedagang pun seyogiannya berangkat pada pagi pagi betul. Perjalanan apapun seyogiannya keluar dengan cepat sebab memulai perjalanan waktu subuh penuh dengan berkat. Seorang akan menjadi berhak pada doa yang Rasulullah saw panjatkan untuk ummat beliau. Tetapi hal ini seyogiannya harus diingat bahwa berkat-berkat hanya diperoleh karena karunia Ilahi. Karena itu, ini senantiasa harus menjadi bahan perhatian bahwa pada saat memulai perjalanan dan pada saat perjalanan tengah berlangsung pun dan pada saat sekembali juga rasa takut pada Allah dan beribadah pada-Nya adalah merupakan hal paling utama. Apabila dengan pemikiran itu kalian memulai perjalanan usaha niaga kalian, maka lebih dari sebelumnya akan terdapat keberkatan besar di dalamnya. Banyak orang-orang yang berjumpa dan mereka melakukan bisnis atau mereka pergi untuk bekerja secara rutin, mereka juga merupakan orang-orang yang bangun pada waktu subuh juga , tetapi sudah menjadi kebiasaan mereka bahwa dari rumah mereka keluar beberapa menit sebelum waktu shalat dan di jalan, di mobil mereka melakukan shalat seperti ayam yang mematuk atau ada juga sebagian orang yang tidak pernah juga melakukan itu. Jadi ini banar-benar merupakan cara yang salah. Mulalilah perjalanan dsari rumah setelah shalat atau setelah berdoa atau berhenti di jalan lalu menunaikan shalat. Tetapi seharusnya melakukan shalat dengan menganggap shalat itu sendiri sebagai shalat, bukan untuk melepaskan jiwa atau karena terpaksa bahwa ini harus dilakukan, agar ikatan/belenggu itu terbuka dari leher.Janganlah seyogianya shalat yang mematuk-matuk seperti itu. Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda, janganlah melakukan shalat seperti ayam yang tengah memakan biji-bijian, hanya dengan patuk-patukan.

Kini kita melihat bahwa bagaimana Hadhrat Masih Mauud a.s mengatur atau mengawasi perjalanan beliau. Hadhrat Syekh Yakub Ali Irfani menulis bahwa dalam perjalanan- perjalanan pada zaman sebelum kebangkitan untuk menampilkan contoh/ tauladan keitaatan dan kesetiaan beliau kepada Hadhrat Mirza Gulam Murtadha, Almarhum, kebiasaan beliau sangat sederhana sekali. Beliau sama sekali tidak membawa barang/sarana macam apapun. Hanya itulah pakaian yang ada yang beliau biasa pakai dan ada kasur tipis sebagai alas untuk tidur, satu ceret dan sebuah gelas. Dan perjalanan setelah kebangkitan coraknya kemudian berubah. Sebab dalam perjalanan- perjalanan banyak sekali orang-orang bersama beliau. Ada sebuah kafilah dan senantiasa ada serombongan sahabah menyertai beliau.Karena itu kebiasaan beliau biasanya membawa banyak lilin-lilin,obat-obatan penting dan sampai alat/kawat untuk menyalakan lampu dll supaya andaikata perlu sesuatu jangan sampai mencari. Beliau menulis bahwa oleh sebab pada saat itu tidak ada kebiasaan membawa pen-pen yang sudah terisi penuh maka beliau membawa serta pena, kertas dan tinta juga. Dan dalam perjalanan- perjalanan yang panjang yang merupakan perjalanan / safari tabligh pada umumnya beliau menyertakan Hadhrat Ummulmu’miniin dan anak-anak beliau dan di kendaraan pedati /bendi biasanya beliau mendudukkan ummulmu’minin di dalam bendi. Dan dalam perjalanan kreta api pada awal-awal biasa di kelas dua dan kemudian kelas tiga dan kelas pertengahan yang beliau selalu pilih. Tetapi tidak mengkhususkan atau membedakan kelas III, kelas sedang atau kelas II ,bahkan hanya karena di kelas -kelas itu tersedia fasilitas kamar untuk buang air kecil, karena itu beliau menyukai itu dan itu senantiasa diperlukan dan pada umumnya cara beliau adalah beliau memulai perjalanan pada pagi-pagi benar (sesuai dengan hadis ini) Tatkala ada perjalanan/jadwal kreta api maka dengan memperhatikan dengan jadwal kreta api, sesudah shalat zuhur juga beliau berangkat. Beliau tidak menyukai perjalanan pada bagian awal malam yakni dilakukan perjalanan pada permulaan malam. Bahkan beliau senantiasa bersabdsa bahwa setelah istirehat secukupnya baru dilakukan perjalanan – itulah hal yang sebelumnya saya telah katakan- bahwa dengan sedikit banyak istirehat menghilangkan kantuk baru kemudian diadakan perjalanan dan inilah hal yang sebelumnya telah katakan pada saudara-saudara bahwa dengan sedikit menghilangkan kantuk lalu baru memulai melakukan perjalanan. Dan tidak terbukti bahwa beliau pernah melakukan perjalanan pada awal malam. Beliau menulis bahwa dari itu pun maksud saya adalah beliau tidak pernah terjadi bahwa beliau memulai perjalanan pada bagian awal malam. Pada perjalanan dengan kreta api pun beliau memperhatikan itu.

Kemudian ada satu riwayat yang merupakan riwayat akhir . Hadhrat Abu Umamah meriwayatkan bahwa seorang berkata pada Rasulullah saw, ya Rasulullah saw ! Izinkanlah saya untuk mengadakan perjaalanan rekreasi /pesiar/melancong-lancong. Beliau bersabda bahwa perjalanan rekreasi bagi ummatku adalah jihad di jalan Allah. Sunan Abu Daud Kitasbuljihad baab finnahyi anissiyaahah.

 Jadi, di dalam hadis ini kepada kita beliau menganjurkan bahwa apapun perjalanan kamu, ingatlah satu hal bahwa perjalanan ini seyogianya dilakukan adalah untuk mencari redha Ilahi . Apabila kamu keluar untuk melakukan jalan-jalan /melancong maka renungkanlah akan makhluk-makhluk Allah, lihatlah berbagai pemandangan , renungkanlah itu dalam-dalam. Dan kemudian perjalanan kamu ini supaya untuk mengamalkan perintah-perinrtah Allah dan membawa kepada-Nya. Jihad tidak hanya berjihad dengan pedang. Bahkan sampaikanlah amanat Allah kepada orang-orang. Di dalam perjalan kamu adalah merupakan jihad dalam melawan hawa nafsu. Jika lahir peluang seperti itu maka tegakkanlah diri kalian pada ketakwaan dan janganlah biarkan diri anda terlibat dalam suatu prilaku /pekerjaan yang membawa kamu jauh dari Tuhan. Bahkan di dalam perjalan kamu dan setiap langkah yang kamu angkat dalam perjalananmu dapat menciptakan perubahan suci di dalam diri kalian. Kemudian pada zaman ini jihad yang besar jihad orang-orang yang beriman pada Hadhrat Masih Mauud a.s adalah da’wati ilallah. Menyebarkan ajaran Islam ke dunia. Untuk itu di dalam perjalan –perjalan, setiap orang diantara saudara-saudara seyogiannyamenciptakan peluang-peluang tabligh. Andaikata itu merupakan perjalanan/safari bisnis maka kemanapun kalian pergi untuk melakukan bisnis, disana dengan melihat contoh dan sepak terjang kalian perhatian orang-orang dapat tertarik pada kalian. Ciptakan perubahan suci sedemikian rupa di dalam diri kalian yang dapat nampak pada orang-orang dan bagi mereka yang melihatnya akan dengan sendirinya lahir daya tarik pada agama kalian, tercipta daya tarik pada Islam. Jika mengadakan perjalanan untuk pertemuan-pertemuan- pertemuan agama maka di dalam perjanlanan –perjalan itu pun sesudah pertemuan-pertemuan itu hendaknya lahir revolusi ruhani di dalam diri segenap Ahmadi. Tegak standar ketakwaan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Di dalam ijtima’ keruhanian seperti itu di dalam kalbu setiap ahmadi lahir suatu gejolak kecintaan terhadap Tuhan,inilah jihad. Semoga segenap ahmadi yang hadir di Jalsah ini ikut dengan semangat/gejolak itu dan jalsah ini untuk setiap Ahmadi dapat membawa berkah,rahmat dan karunia-karunia yang tidak terhingga untuk setiap ahmadi dan di dalam diri setiap Ahmdi nampak lahir suatu perubahan yang bersifat revolusioner semoga demikian hendaknya.

Akhirnya diterima berita yang mengejutkan dan terkait dengan itu saya akan sampaikan. Hadhrat Mirza Mubarak Ahmad wafat pada tanggal 21 Juli dalam usia 90 tahun. إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali Al-Baqarah 156.) Beliau sudah sujak lama sakit. Beliau lahir tahun 1914. Beliau adalah putra kedua Hadhrat Khalifatul-Masih II. Beliau banyak menyertai Hadhrat Muslih Mauud r.a dalam perjalanan-perjalanan atau kunjungan-kunjungan. Beliau lulus dalam ujian HA, meraih gelar kelulusan dari universitas dan sesudahnya beliau mewakafkan diri. Hadhrat Muslih Mauud r.a menugaskan beliau di kantor Tahrik Jadid. Beliau mendapat taufik melakukan pengkhidmatan yang panjang dalam Jemaat. Beliau pernah memegang jabatan sebagai kepala /sekr, san’at , Zira’at dan sebagai wakiluttabsyir dalam masa yang panjang, sebagai wakiluddiwan kemudian sebagai wakilula’la (pimpinan tertinggi lembaga Tahrik jadid /yang mengelola semua urusan luar Pakistan kecuali India). Kemudian beliau menjabat sadr Majlis Ansharullah. Pada zaman khalifah IV kedudukan beliau sebagai sadr Tahrik Jadid. Kini setelah melakukan shalat-shalat, saya akan mengimami shalat Jenazah beliau. Berdoalah untuk magfirah dan ketinggian derajat beliau. Beliau meninggalkan dua anak laki dan seorang perempuan yang kini tinggal di Kanada,yakni Ammatul Baqi Aisayah dengan suaminya Zhafatr Nazir sahib. Dan putra beliau adalah Zafar Mujib sahib dan Dr Mirza Taslim Sahib juga sekarang ada di Rabwah dan dengan karunia Allah beliau banyak mengkhidmati penduduk Rabwah. Semoga Allah pun menganugrahi pahala pada mereka dan menganugerahi kesabaran pada semuanya juga. Mia Mubarak Ahmad adalah paman saya juga.

Qamaruddin Shahid