(Iyyaa Kana’budu Wa Iyyaa Kanasta’iin)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba

19  Augustus 2011 di Masjid Agung Baitul Futuh, London

[Setelah mengucapkan  tasyahud, taawudz, bismillah dan   tilawat Surah Al Fatihah], Hudhur (Atba) bersabda: ‘Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Doa [‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin] itu sangat diperlukan untuk dapat memanjatkan doa yang haqiqi dan ikhlas.

Salat merupakan ungkapan keimanan dan penyampaian berbagai kebutuhan duniawi, yang sekaligus juga untuk melindungi diri dari berbagai perbuatan maupun akhlak yang buruk.

Namun, untuk dapat melaksanakan Salat [yang makbuliyat] seperti itu bukanlah semata-mata atas usaha diri sendiri.

Sebab, kiat tersebut tak dapat dicapai jika tanpa ada pertolongan Allah Swt.

Maka hal tersebut menimbulkan  pertanyaan: Bila demikian, harus bagaimana, atau harus seperti apa Salat kita ini ?

Cara yang bagaimana yang harus kita ikuti ? Dampak positif doa dan Salat yang bagaimana yang hendaknya terjadi pada diri kita ? Dan, doa serta Salat yang bagaimana yang makbul itu ?

Jika kita sungguh-sungguh memahami bahwa ibadah kepada Allah adalah tujuan utama diciptakan-Nya manusia, tentulah kita pun akan mena’fikan segala sesuatu yang lain agar dapat memusatkan pikiran kepada tujuan hidup yang paling utama ini.

Namun, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Hanya doa-lah yang diperlukan agar mampu melaksanakan Salat yang khusyu.  Yakni, hanya mengandalkan usaha diri sendiri tak akan mampu membawa kita kepada tujuan utama hidup tersebut.

Allah Taala itu adalah Ar Rahman atau Maha Pemurah.

Oleh karena itu, di awal pertama sekali Surah di dalam Al Qur’an Karim tersebut, Dia mengajari kita doa:

yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’ (Q.S. 1 / Al Fatihah : 5); lalu, mewajibkan untuk membaca doa ini pada setiap rakaat  Salat fardhu lima waktu setiap hari.

Bila doa ini dipanjatkan dengan sepenuh ikhlas, maka Allah Taala pun niscaya akan memberi taufik kepada orang yang memanjatkannya, untuk mencapai tujuan hidupnya yang haqiqi tersebut.

Adalah juga suatu karunia Allah Taala, ia memberi rahmat bulan Ramadan kepada kita, yang di dalamnya Dia menyatakan, bahwa, fainnii qariib…, yakni, Sesungguhnya Aku ini dekat.

Ujiibu da’wata daa’i, yakni, Aku mengabulkan doa setiap hamba-Ku yang sejati, apabila ia berdoa kepada-Ku, dan melaksanakan berbagai perintah-Ku.

Maka apabila ada berbagai kekurangan, kesalahannya ada pada diri kita.

Untuk di Zaman Akhir ini, Allah Taala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk mereformasi keadaan diri kita.

Beliau a.s. datang selaku hamba yang sejati dari insan kamil Saw, demi untuk sekali lagi mentarbiyati kita dengan ajaran Islam yang haqiqi.

Jika kita berusaha untuk memahami dan menjadikan dasar pemikiran tersebut sebagai bagian hidup kita sehari-hari; serta berdasarkan penjelasan yang mendalam dan terperinci dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengenai hakekat doa, ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, maka niscaya kita pun akan berusaha memenuhi kewajiban ibadiyyat (beribadah) kita kepada Allah.

Yakni, kita dapat memperteguh keimanan kita sebagaimana yang diperintahkan Allah Taala, yang merupakan suatu hal yang sangat diharapkan dari seorang mukmin haqiqi.

Selanjutnya saya sampaikan beberapa mutiara kata dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., berikut ini: ‘Allah n, Lord of Honour and Majesty, telah menempatkan kalimat ‘iyyaa kana’budu’, yakni, hanya Engkau yang kami sembah; sebelum kalimat ‘wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’; hal ini dimaksudkan sebagai pengingat terhadap sifat Rahmaniyyat-Nya sebelum kita memohon sesuatu.

Jadi, seolah kita memulainya dengan ucapan: Ya Allah, kami berterimakasih atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau berikan kepada kami, jauh sebelum kami sadar memerlukannya; sebelum kami memohon untuk itu; sebelum kami berusaha untuk mendapatkannya; dan sebelum kami memohon pertolongan melalui sifat Rububiyyat dan Rahmaniyyat Engkau; yang semuanya mendahului permohonan seorang pemohon.

Oleh karena itu, kini aku memohon kepada Engkau agar dikaruniai keteguhan iman, kemuliaan akhlak, kesejahteraan, keberhasilan, dan berbagai macam tujuan, yang hanya akan Engkau berikan kepada orang yang memohon, berdoa, dan meminta pertolongan kepada Engkau Yang Maha Pemberi rahmat dan karunia.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 191].

Jadi, manakala kita berdoa kepada Allah, ingatlah dan bersyukurlah kepada segala macam karunia-Nya yang telah diberikan kepada kita berkat sifat Rahmaniyyat-Nya itu.

Inilah langkah pertama menuju ibadat yang ikhlas, dan kiat menjadi seorang ibadur-Rahman yang sejati.

Yakni, sekali pemahaman ini dicapai, maka berbagai upaya lebih lanjut pun dilakukan dalam ibadat mereka dalam usaha untuk mencapai maqom ibadur-Rahman haqiqi sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Taala.

Setiap orang berkeinginan  memiliki kemajuan materi maupun rohani. Namun, sadarilah, bahwa hal tersebut tak akan dapat diperoleh jika tanpa adanya pertolongan Ilahi.

Hal ini justru lebih membukakan berbagai pintu maupun tahapan kemajuan yang telah dicapai.

Inilah dasar pijakan dan intisari pemikiran ketika mengucapkan doa: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerangkan hikmah mengapa kita perlu memanjatkan doa ini, ialah: ‘Ayat ini mengarahkan insan kepada sikap tasyakur terhadap berbagai macam karunia Ilahi yang telah diberikan; sikap istiqamah dalam memohon sesuatu yang diperlukan; sikap ghairah terhadap apapun yang sempurna dan istimewa; sehingga si pemohon pun dapat tetap beristiqamah dalam bersyukur kepada Allah.

Doa ini pun mengarahkan kepada sikap tak mengandalkan  kepada kehandalan dan kesanggupan diri sendiri; melainkan menjatuhkan diri di hadapan Allah Swt dalam harapan dan keinginannya itu.

Gigih dalam memohon; dan berdoa dengan penuh kerendahan hati yang disertai puja-puji kepada Ilahi di antara rasa takut dan harapan, laksana bayi yang sedang menyusu inang-penyusunya. Sama sekali tak mempedulikan makhluk lain atau pun hal lainnya di bumi ini.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 191].

Seandainya orang dapat memahami, bahwa hanya Allah-lah pemilik segala kekuasaan, sedangkan dirinya tiada arti, maka orang itu pun akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Taala. Menjaga jarak dengani segala hubungan dan sarana duniawi.

Tidak mengandalkan diri kepada kekuatan fisik sendiri maupun berbagai kekuatan duniawi.

Hanya dengan sikap itulah, ucapan doanya: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, sungguh-sungguh ikhlas.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis: ‘Doa ini pun mengarahkan kepada penyadaran dan pengakuan, bahwa kami ini dhoif, yang tak akan dapat melaksanakan kewajiban beribadat kepada Engkau jika tanpa ada pertolongan Engkau. Tak akan dapat menemukan berbagai jalan yang menuju kepada keridhaan Engkau jika tanpa ada bantuan Engkau. Dapat beraksi hanya apabila ada pertolongan Engkau. Dapat bergerak hanya apabila ada karunia Engkau. Karena Engkau adalah laksana ibu yang mengurus jasad anaknya. Atau laksana pecinta yang tengah terbakar oleh api kecintaannya.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 191].

Menerangkan lebih lanjut mengenai ayat ini, beliau a.s. bersabda: ‘Doa ini pun mengarahkan kita untuk mena’fikan sikap sombong dan takabbur. Juga agar berpegang teguh kepada Kekuatan dan Kekuasaan Allah ketika berbagai macam persoalan dan kesusahan menggunung.

Berjamaah dengan suatu kaum yang telah memiliki kerendahan hati, yang kepada mereka Allah Taala seolah telah berfirman: ‘Wahai hamba-hamba-Ku, anggaplah diri kalian tak lebih sebagai jasad belaka. Lalu, kalian pun memohon berbagai kekuatan kepada-Ku.’

Pendek kata, kaum muda jangan takabbur atas kebugaran mereka. Kaum tua jangan hanya mengandalkan kehandalan staff, orang-orang dekat mereka. Orang bijak jangan merasa puas dengan kecerdasan mereka. Alim ulama jangan hanya mengandalkan katajaman ilmu, pemahaman, dan merasa mumpuni. Jangan pula penerima ilham Ilahi mengandalkan dukungan ilham, wahyu maupun kemustajaban doa mereka.

Allah melaksanakan apa yang Dia ridhoi; dan menolak apa yang Dia kehendaki. Dan mengakui di antara insan-insan pilihan-Nya yang Dia ridhoi.’

Doa ‘iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, ini pun mengingatkan kita kepada bahaya besar keburukan mengumbar egoisme pribadi, yang akan melenyapkan amal shalih, seumpama unta betina binal yang lari dari penunggangnya. Atau seperti ular yang memakan habis hingga membersihkan tulang-belulang mangsanya; yang terus menerus memuntahkan racun-bisanya setiap saat. Atau bagaikan seekor singa yang tak akan melepaskan lagi mangsanya sekali ia menerkamnya.    Pendek kata, tak ada kekuasaan, tak ada kekuatan, tak ada hasil dan tak ada hikmah yang dapat diperoleh, terkecuali dengan pertolongan Allah yang akan menaklukkan semua godaan syaitan.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 192].

Oleh karena itu, sadarilah sepenuhnya, bahwa Nafs-Ammarah, atau mengumbar egoisme pribadi itu membawa kepada keburukan yang harus kita hindari.

Namun, kita tak akan sanggup berlindung dari keburukan tersebut jika hanya dengan kekuatan diri sendiri.

Melainkan, hanya Allah Taala-lah yang sanggup melindungi kita dari pengaruh buruk Syaitan.

Oleh karena itu perlu berdoa (A’udzubillahim minasy-syaithanir rajim) untuk itu,  dengan penuh kerendahan hati.

Jika mereka yang dekat dengan Allah Taala saja terus menerus memohon pertolongan-Nya, apalagi kita orang yang awam ?

Contohnya adalah doa Hadhrat Yusuf a.s. sebagaimana yang tercantum di dalam Al Qur’an Karim:

yakni, ‘Dan aku tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya, nafsu itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali yang dikasihani oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya, Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ (Q.S. 12 / Yusuf : 54).

Begitulah dasar pemikiran yang akan sungguh-sungguh memperoleh faedah dari doa: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerangkan lebih lanjut: ‘Ada berbagai hikmah lainnya dalam penempatan ‘iyyaa kana’budu’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah’, yang mendahului iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, ialah, yang kami sarankan di sini, yaitu, demi untuk faedah mereka yang mencintai ayat-ayat Surah Al Fatihah ini, alih-alih kepada nada-nada music gitar duniawi. Mereka hendaknya berlari menghampiri [ayat-ayat] ini laksana para ibadi yang berghairah.

Di sini, Allah Taala mengajari para hamba-Nya suatu doa yang dapat menjadi sumber kebahagiaan haqiqi, yang kemudian seumpama Dia itu berkata: Wahai hamba-hamba-Ku, memohonlah kepada-Ku dengan penuh kerendahan hati dan kenestapaan: Ya Allah, kami hanya menyembah Engkau. Namun, kami pun harus bekerja keras, dan berhubungan erat dengan-Mu, sekaligus menjauhi pengaruh syaitani yang mengacaukan pikiran; menjauhi dunia takhayul, dan pikiran gelap semisal lumpur yang kotor, atau seumpama orang yang mengumpulkan bahan bakar di kegelapan yang hanya mengikuti jalan keraguan; tak tertambat kepada iman yang teguh.

Pada situasi demikian, kami hanya memohon pertolongan Engkau. Kami mohon karunia keinginan, ghairah dan kesigapan qalbu bagi iman yang meluap-luap. Rohani yang menyambut terhadap karunia dan nur hidayah Engkau yang menyinari qalbu dengan hiasan kebenaran, dan busana [taqwa] yang menyejukkan.

Sehingga, dengan karunia-Mu, kami pun memperoleh jalan keimanan yang haqiqi, mencapai tujuan utama hidup kami, tiba di samudera Kebenaran yang sejati.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, pp. 192 – 193]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memohon perhatian kita terhadap titik puncak ibadiyyat ini, sebagai berikut: ‘Di dalam kalimat ‘iyyaa kana’budu‘ ini, Allah Swt telah memerintahkan para hamba-Nya untuk senantiasa itaat dengan penuh semangat, istiqamah, dan senantiasa menyambut seruan-Nya dengan ucapan: ‘Wahai Allah, kami tak akan pernah merasa lelah dan nyeri dalam perjuangan pengkhidmatan kami; dalam mengamati berbagai perintah-Mu, maupun dalam usaha mendapatkan keridhaan-Mu.

Namun, kami mohon pertolongan dan perlindungan Engkau dari sikap takabbur maupun percaya diri.

Kami mohon karunia diberi kekuatan yang menuju kepada petunjuk hidayah Engkau, dan memperoleh keridhaan Engkau.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 193].

Jadi, seandainya doa ini dipanjatkan untuk kebaikan generasi mendatang kita, untuk keluarga, dan juga untuk Jamaat, tentulah aliran pikiran tiap-tiap anggota pun tertuju kepada arah yang sama. Akan menyerap berbagai karunia Allah, maupun sama-sama memenuhi kewajiban haququl-ibad.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lebih lanjut menulis: ‘Masih ada hikmah lainnya dalam kaitan ini, ialah: Ibadur-Rahman itu menyatakan: Wahai Allah, kami telah menempuh ‘iyyaa kana’budu, yakni, ‘hanya kepada Engkau-lah kami menyembah.   Kami mengutamakan Engkau di atas segala sesuatu. Kami tidak mendambakan sesuatu selain daripada Engkau. Dan kami beriman kepada Keesaan Engkau.’

Di dalam ayat ini pun Allah, Al Majid dan Mutakabbir, telah menggunakan kata pengganti orang pertama tunggal menjadi jamak.

Hal ini menunjukkan bahwa khasiat doa ini pun untuk faedah sesama ikhwan secara keseluruhan. Tidak hanya untuk si pendoa saja.        Jadi, Allah telah menyeru kaum Muslimin kepada persatuan, kesatuan dan slih asih; yang untuk itu si pendoa hendaknya mau bersusah payah demi untuk kebaikan sesama ikhwannya, maupun sesama umat manusia.

Juga mau berprihatin dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan sesama saudaranya sebagaimana ia prihatin dan berjuang untuk dirinya sendiri.

Tak membeda-bedakan antara untuk diri sendiri dengan sesama saudaranya, malahan senantiasa bersimpati kepada mereka dengan sepenuh hati, sebagaimana Allah Taala telah memerintahkan:: ‘Wahai para hamba-Ku, saling mendoa’lah engkau satu sama lain sebagaimana terhadap sesama saudara; seperti halnya saling tukar-menukar hadiah. Dan perluaslah doa serta niat dan tujuan engkau.             Perbesarlah qalbu untuk sanak saudaramu hingga bagai sesama saudara, atau ayah dengan anaknya yang silih asih.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, pp. 193 – 194].

Hudhur bersabda: ‘Di dalam doa ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, ini, sesungguhnya berbagai aspek perencanaan dan doa telah digabungkan.

Hal ini sesuai dengan keterangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bahwa: ‘Menyatu-padukan antara perencanaan dan doa adalah [sifat ajaran] Islam.

Oleh karena itulah mengapa sebabnya aku senantiasa menghimbau agar membuat perencanaan dengan sebaik-baiknya,  namun juga berdoa sebanyak-banyaknya sebagai kiat untuk menjauhi dosa dan perbuatan buruk lainnya.

Jadi, kedua aspek ini telah ditekankan di dalam Surah awal pertama Al Quran Karim, yakni Al Fatihah, yang di dalamnya kita diperintahkan untuk berdoa: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.’

Adapun doa ‘iyyaa kana’budu’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, merujuk kepada berbagai daya upaya yang diperlukan.

Kalimat ini ditempatkan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hendaknya melakukan segala sesuatu yang cocok untuk itu dan dibantu dengan sarana dan prasarana yang diperlukan, ditambah dengan perencanaan yang matang, lalu tidak mengabaikan doa. Malahan harus terus menerus berdoa seiring dengan pelaksanaannya.

Jadi, manakala seorang mukmin berdoa: ‘iyyaa kana’budu’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah’, hal ini langsung menyadarkannya, bahwa sesungguhnya dirinya itu tidak berkemampuan untuk menyembah Allah dengan sebaik-baiknya, terkecuali ada keridhaan dan karunia-Ilahi.

Oleh karena itu kemudian, ia pun berdoa lagi: ‘wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.’

Ini adalah aspek yang sangat afdhol, yang hanya agama Islam saja – di antara semua agama – yang menekankan hal ini. [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, pp. 194 – 195]

Beliau a.s. menulis: ‘Maka kaum mukminin sejati terbiasa melakukan keduanya, yakni, usaha dan doa.

Membuat perencanaan dengan matang. Kemudian melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Lalu mempercayakan selanjutnya kepada tangan pertolongan Allah Taala, yakni berdoa.

Inilah ajaran yang tak terpisahkan di dalam Surah awal pertama Al Quran Karim, yaitu: ‘Iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin.’

Maka orang [muslim] yang tidak menggunakan nilai kebaikan ini, bukan hanya akan merusak dan membinasakan dirinya sendiri, tetapi juga berdosa.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, pp. 204 – 205].

‘Fitrat manusia sangat cenderung kepada kebaikan, oleh karena itu memerlukan pertolongan petunjuk Ilahi.

Inilah mengapa sebabnya Allah Taala mewajibkan tilawat Surah Fatihah pada tiap-tiap rakaat Salat Fardhu Lima Waktu.

Sebab di dalamnya kita teguh mengucapkan: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.’

Hal ini membawa pesan, bahwa dalam setiap pelaksanaan tugas yang muttaqi, gunakanlah berbagai kekuatan dan kemampuan diri. Membuat rencana yang baik, kemudian bekerja keras untuk melaksanakannya. Inilah maksud dari memanjatkan doa: ‘iyyaa kana’budu, atau ‘kami hanya menyembah Engkau.’

Maka, orang yang hanya mengandalkan doa saja, atau tanpa ada usaha, tidak akan memperoleh tujuan faedahnya [doa ini].

Bila seorang petani, setelah menanam benih lalu tidak berbuat apa-apa lagi, bagaimana mungkin ia dapat mengharapkan hasil panen yang baik ?

Ini adalah sunatullah.

Semisal mereka yang menanam benih, namun selanjutnya tidak berbuat apa-apa; yakni, hanya berdoa saja, tentulah tak akan memperoleh sesuatu hasil.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 205].

Doa hendaknya dipanjatkan dengan penuh keyakinan; sebab kita tak tahu pasti kapan saat dikabulkannya.

Dikarenakan pengabulan doa terjadi pada suatu saat khas tertentu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Allah Taala senantiasa menjadi Penonong bagi mereka yang tetap istiqamah dalam berdoa dengan penuh kerendahan hati memanjatkan: ‘Iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, disertai pemikiran, boleh jadi Allah akan mengabulkannya disebabkan sebagian dari kerendahan hatinya itu.’

Hendaknya pun diingat mengenai memohon hanya kepada Allah ini; ialah disebabkan Dia berhaq untuk itu.

Oleh karena itu, doa: ‘Iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, diajarkan di dalam Al Qur’an Karim. Inilah perkara penting yang hendaknya sungguh-sungguh dapat difahami.

Sebagaimana dikisahkan pada suatu peristiwa yang terjadi pada seorang sahabah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di Masjid Aqsa, Qadian. Beliau r.a tengah mengerjakan suatu Salat Nafal yang lama sekali.

Penasaran kepada apa yang sesungguhnya terjadi, seorang sahabah lainnya mendekati beliau secara diam-diam, untuk mengetahui doa apa saja yang dibaca oleh sahabah ini ?

Ternyata, ia mendapati sahabah [yang shalih] itu berulang-ulang membaca secara perlahan-lahan doa: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, hingga mencapai waktu 15 (lima belas) menit lamanya.

Begitulah tingkatan maqom rohani mereka yang berhasil bergaul erat dengan Hadhrat Imam Mahdi a.s..

Maka setiap mukmin hendaknya berusaha untuk mendalami, memahami dan menjiwai  perkara ini. Sebab, hanya dengan cara itulah seorang insan dapat memenuhi kewajibannya sebagai ibadiyyat yang haqiqi.

Beliau a.s. bersabda: ‘Di dalam ayat ‘ihdina shiratal mustakim’, yakni, tunjukilah kami jalan yang lurus; ada seruan kepada doa agar diberi pemahaman yang haqiqi. Seolah-olah Allah Taala mengajari kita untuk menyeru kepada-Nya, sehingga Dia pun berkenan untuk menunjukkan Sifat-sifat-Nya.

Agar kemudian, Dia pun berkenan memasukkan diri kita ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 281].

Oleh karena itu, kita hendaknya berdoa kepada Allah dengan mengacu kepada Sifat-sifat-Nya.

Jika tidak, maka doa kita itu tak ubahnya seperti ocehan burung beo yang mengulang-ulang.

Para Sahabah Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw telah berhasil memperoleh derajat maqom pemahaman ini. Dan begitu pula para sahabah setia Hadhrat Masih Mau’ud.

Kini pun demikian; banyak kalangan di dalam Jama’at kita ini yang berdoa [dengan pemahaman yang mendalam] seperti itu.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Adapun rintangan besar untuk mencapai kemuliaan maqom rohani tersebut adalah sifat munafik, yang merusak akhlak.

Dan juga sikap takabbur yang merupakan sifat terburuk.

Lalu sikap menyendiri, atau menyempal yang akan membuat dirinya terlempar dari jalan lurus dan nasib baik.

Oleh karena itulah, jika Allah telah menarik kembali karunia-Nya atas kaum-Nya yang dhoif, hingga mereka pun berkubang dalam kekeliruan.

Atau, berkat sifat Rahmaniyyat dan Rahimiyyat-Nya terhadap mereka yang berjihad fii sabilillah, maka Allah Taala pun menunjukkan obat mujarab bagi berbagai macam penyakit [rohani] mereka yang mematikan tersebut.

Oleh karena itulah Allah Taala memerintahkan manusia untuk mengucapkan doa: ‘iyyaa kana’budu’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah’; agar dapat meninggalkan penyakit munafik mereka.

Lalu Allah Taala memerintahkan untuk mengucapkan: ‘wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ’dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’; sehingga mereka pun dapat menyelamatkan diri dari sifat riya dan takabbur.

Kemudian, Allah Taala pun memerintahkan untuk mengucapkan doa:

yakni, ‘Tunjukilah kami…[pada jalan yang lurus]’; sehingga mereka pun dapat menjauhi diri dari [penyakit] merajuk, memisahkan diri atau menyempal, dan juga berbagai hasrat mementingkan diri pribadi.

Beliau a.s. menambahkan: ‘Allah Taala tak akan bersifat menyelamatkan sebelum insan tersebut bersikap sungguh-sungguh rendah hati, berusaha keras untuk memperoleh dan memahami nur hidayah petunjuk Ilahi.’

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Doa dan Salat yang makbuliyat adalah disebabkan beberapa aspek.

Yakni, (1) Sungguh-sungguh merendahkan diri dihadapan Ilahi merujuk kepada Keagungan-Nya; (2) memuji dan menyanjungnya, merujuk kepada berbagai karunia dan rahmat-Nya.

(3) Membuktikan cinta kepada Allah dengan mendahulukan kepentingan Ilahi atas segala sesuatu; dan (4) Mendambakan surga al-Jannah-Nya, dengan cara berusaha membebaskan diri dari pengaruh Syaitan.

Dengan menanamkan hal ini di dalam segenap pikiran, maka diperoleh pemahaman haqiqi ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, sehingga dimudahkan untuk menjadi ibadur-Rahman yang sejati.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerangkan, bahwa doa ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, ini merujuk kepada ibadat secara ragawi, maupun kepada senantiasa mencari ilmu rohani.

Manusia menyatakan diri mereka beribadah kepada Tuhan.   Namun apakah itu berarti banyak bersujud atau gerakan Salat lainnya; atau banyak menghitung-hitung biji tasbeh ?

Padahal, yang dimaksud dengan ibadah yang haqiqi, ialah cintanya kepada Ilahi telah membuat jati-dirinya hilang sedemikian rupa disebabkan proses [habluminallah]-nya tersebut.

Yakni, yang pertama dan utama adalah harus ada keyakinan sempurna kepada keberadaan Wujud Allah Swt sebagai tambahan atas kesadarannya yang sempurna kepada berbagai rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga.

Dan cintanya kepada Allah tersebut harus sedemikian rupa kentalnya sehingga kecintaan Allah kepadanya pun tampak di dalam qalbunya, dan juga senantiasa terlihat di dalam sinar wajahnya.

Kemudian memahami sedemikian rupa Keagungan Allah Taala, sehingga dunia ini tampak mati baginya.

Lalu, hanya takut kepada Allah; dan hanya tenteram di dalam Keberadaan-Nya, dan qalbunya menemui kedamaian hanya apabila mendapati Allah.

Itulah suatu kondisi yang disebut ibadah yang haqiqi.

Namun, kondisi tersebut tak akan dapat dicapai jika tidak ada karunia khusus dari Allah Taala; oleh karena itulah Dia pun mengajari kita doa: ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’.

Menerangkan ikhtisar hikmah Salat, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Hakekat memperoleh Salat yang haqiqi adalah, hendaknya merasa bahwa seolah-olah Allah Taala mengawasi dirinya. Atau, ia melihat Allah. Dan harus suci dari segala perbuatan korup dan syirik.

Kemudian menyadari sifat Rububiyyat dan Kebesaran-Nya. Banyak berdoa dan Salat, beristighfar serta mengakui berbagai kelemahan dirinya, sehingga boleh jadi ia dapat membersihkan dirinya, lalu ber-habluminallah dan terserap ke dalam kecintaan-Nya.

Inilah hakekat Salat, yang semuanya itu sudah dimasukkan di dalam Surah Fatihah. Yakni, mengakui berbagai kelemahan diri dengan mengikrarkan, ‘iyyaa kana’budu….., yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah….

Yakni, pertama-tama memohon pertolongan-Nya, kemudian doa dan Salat dilaksanakan dalam usaha menapaki jalan para nabiyullah dan rasul-Nya.

Permohonannya itu pun merujuk kepada berbagai rahmat dan karunia sebagaimana yang telah Allah berikan kepada para nabiyullah. Sekaligus berlindung dari pengaruh golongan mereka yang menolak nabiyullah dan menyempal dari jalan kebenaran.

Menerangkan tentang pentingnya membenci perbuatan dosa, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Tak ada karunia yang lebih besar selain memiliki rasa benci terhadap segala perbuatan dosa; yang hanya dapat diperoleh dengan perencanaan yang matang dan doa.

Adapun doa ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’, ini menekankan bahwa, manusia hendaknya memanfaatkan semua kemampuan dan kekuatan yang Allah Taala telah amanatkan kepadanya Setelah itu, berserah dirilah kepada-Nya.

Maka dungu-lah orang yang tidak mengerahkan segala kemampuannya, yakni, hanya mengandalkan pertolongan Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Padahal, bila orang berusaha keras, kemudian ia banyak berdoa, niscaya Allah Taala pun akan menyelamatkan dirinya seandainya ternyata kemudian ia keliru.’

Menjelaskan mengenai dua sifat Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Al Quran Karim menyebutkan dua [di antara] Sifat-sifat Allah Taala, ialah Al-Hayy, yakni, Yang Maha Hidup, dan Al-Qayyum, Yang Berdiri Sendiri, atau Yang Memelihara Kehidupan.

Al-Hayy artinya Yang Maha Hidup dan Pemeberi Kehidupan. Sedangkan Al-Qayyum artinya Yang Maha Berdiri Sendiri. the Self-subsisting and All-sustaining.

Kehidupan luar maupun dalam segala sesuatu disebabkan dua sifat Ilahi ini.

Adapun dikarenakan sifat Al Hayy (Yang Maha Hidup) ini maka menuntut kita untuk memuja-Nya sebagaimana yang diperintahkan di dalam Surah Fatihah: ‘iyyaa kana’budu’, yakni, ‘kami hanya menyembah Engkau.’

Sedangkan sifat Al-Qayyum menunjukkan bahwa dukungan Ilahi perlu kita mohonkan, sebagaimana doa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 208].

Kita dapat memenuhi segala kebutuhan kita – baik duniawi maupun rohani – hanya dengan cara menjadi ibadur-Rahman yang sejati. Dan Salat adalah jantung dari ibadat.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Maqom tertinggi peribadatan adalah terus menerus mengawasi pelaksanaan Salat Lima Waktu. Utamanya, di bagian awal waktunya yang dini (dinihari). Kemudian memperhatikan berbagai keberkatan di dalamnya. Lalu, menjaga kedisiplinan Salat yang fardhu maupun yang sunat.

Ibadah Salat adalah seumpama sebuah gunung yang mampu membawa para ibad-nya kepada Allah Taala. Yakni, mengangkat mereka ke tingkatan suatu maqom yang tidak akan dapat dicapai dengan cara menunggang kuda yang larinya cepat.

Tujuan Salat tidak akan dapat dicapai dengan lesatan anak panah. Dan rahasia yang dikandungnya tak dapat dibukakan oleh pena.

Barangsiapa yang menjalankan metoda ini dengan khusyu bagi dirinya, akan sampai kepada kebenaran haqiqi, dan menemukan realitas serta bertemu dengan Wali-nya yang tersembunyi di balik layar yang maya; yang membebaskannya dari keraguan dan ketidak-pastian.         Hari-hari selanjutnya menjadi cerah bagi dirinya. Perkataannya bersinar laksana mutiara. Wajahnya bercahaya bagai bulan purnama. Dan maqom rohaninya pun terangkat.

Barangsiapa menjadikan dirinya rendah di hadapan Allah Swt, maka ia pun akan menyadari, bahwa Allah membuat raja-raja merendah kepadanya. Membuat seorang budak menjadi majikan.’ [Commentary of the Holy Qur’an Vol I, p. 202].

Tak diragukan lagi, Salat adalah bentuk termulia dari segala peribadatan, yang mampu mendekatkan manusia kepada Tuhannya.

Namun, ada setengah orang yang mengeluh, bahwa dirinya tak memperoleh kepuasan dalam melaksanakan Salat.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: Dalam kaitan ini, ada setengah orang yang mengatakan bahwa diri mereka tak memperoleh kebahagiaan dari Salatnya.

Maka mereka itu hendaknya banyak mengucapkan, ‘iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin’, yakni, ‘Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’; lalu memohon perlindungan Allah dari segala godaan Syaitan yang terkutuk.

Mereka yang melaksanakan hal ini dengan tiada lelah, akan mencapai tujuannya. Namun, harus ada kelembutan dan kelurusan dalam doa-doanya itu.

Semoga Allah Taala memberi taufik kepada kita semua untuk melaksanakan mutiara kata nasehat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini, dan semoga pula kita dimasukkan ke dalam golongan mereka yang tetap beristiqamah dan senantiasa berada di dalam perlindungan Ilahi.

Semoga kita memperoleh segala faedah dari Ramadan yang berberkat. Perbanyaklah doa dan Salat di hari-hari yang masih tersisa di bulan Ramadan ini.