Khotbah Idul Adh-ha

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 7 Nubuwwah 1390 HS/November 2011

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan Idul Adhha yang paling akhir dalam hidup kita. Id ini dinamakan juga Idul Qurban, yang maksudnya adalah Id yang mengajarkan kepada manusia bentuk-bentuk dan corak baru untuk mempersembahkan berbagai macam pengorbanan, pengorbanan-pengorbanan tersebut adalah untuk keberhasilan meraih ridha Allah Ta’ala dan untuk menegakkan Tauhid Allah Ta’ala.

Tujuan kita berkumpul merayakan Id pada hari ini bukan untuk kesenangan semata-mata. Tak pelak lagi kita merayakan kegembiraan pada hari ini adalah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya dan kegembiraan yang sejalan dengan dengan Id ini adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala, tetapi kita harus memperhatikan dengan sebaik-baiknya tujuan-tujuan agung di balik Id-Id ini, kita berupaya dengan penuh kesungguhan untuk melahirkan jiwa atau ruh [pengorbanan] ini pada keturunan-keturunan kita juga dengan memohon pertolongan melalui doa. Sebagaimana sudah saya katakan sebelum ini, bahwa Pengorbanan ini telah mengajarkan kepada kita jalan-jalan atau standar-standar baru dan cakrawala-cakrawala baru pengorbanan telah terbuka pada kita, yaitu pengorbanan yang telah dipersembahkan Hadhrat Ibrahim dan Ismail as dan itu merupakan contoh terbaik ketaatan kepada Allah Ta’ala yang dilaksanakan dengan penuh kerelaan hati. Mereka berdua telah menampilkan contoh paling sempurna dalam pengorbanan yang berkesinambungan demi mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan untuk menegakkan Tauhid Ilahi.

Pengorbanan ini bukan pengorbanan satu orang saja tetapi seluruh keluarga turut ambil peran di dalamnya. Maka pada hari ini kita berdoa dengan penuh kesungguhan hati supaya keturunan-keturunan dan generasi-generasi kita juga dapat mencapai standar pengorbanan itu sekiranya Dzat Allah Ta’ala menjadi fokus perhatian kita yang paling utama. Kita telah beriman kepada utusan Allah Ta’ala, sang pecinta sejati Nabi saw pada masa ini, yang Allah Ta’ala bermukhaatabah dengannya dengan nama ‘Ibrahim’; maka supaya kita dapat menunaikan sempurnanya penisbatan [nama] itu kepada Ibrahim pada zaman ini, kita harus menciptakan di hadapan mata kita tujuan inti yang Hadhrat Ibrahim dan keluarganya telah upayakan untuk mewujudkannya. Tujuan yang sebenarnya adalah mempersembahkan segala macam pengorbanan dengan ketaatan yang sempurna pada jalan penegakan Tauhid Ilahi di dunia.

Al-Quran memberitahukan kepada kita bahwa Hadhrat Ibrahim as sesuai dengan rukya yang didapatnya telah meminta pendapat putra beliau, Hadhrat Ismail as mengenai pengorbanan atau penyembelihan dirinya tersebut, maka sang putra siap sedia untuk mempersembahkan pengorbanan dirinya dengan penuh kerelaan hati; tetapi Allah Ta’ala melarang Hadhrat Ibrahim as melaksanakan itu, tepat pada waktunya difirmankan, ‘Sesungguhnya penyembelihan Hadhrat Ibrahim terhadap putranya dengan pisau atau mengorbankannya dengan menghilangkan ruhnya itu sekali-kali tidak akan bisa mewujudkan maksud utama dari pengorbanan.’

Tujuan utama yang agung hanya dapat terwujud apabila tarbiyat anak-anak dan keturunan-keturunannya untuk mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan secara berkesinambungan itu senantiasa tegak. Mustahil bagi seseorang dapat mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan secara berkelanjutan selama tidak ada kesediaan untuk mematuhi Allah Ta’ala secara sempurna dengan mengamalkan semua hukum-hukum-Nya, sebaliknya boleh jadi dengan hanya memiliki kesiapan untuk mempersembahkan pengorbanan, upaya untuk meletakkan pondasi Tauhid Ilahi yang murni akan menjadi mungkin. Inilah yang dimaksud dengan pengorbanan agung yang telah diwasiatkan oleh Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as kepada anak cucunya yang saleh supaya dapat melaksanakan itu tanpa putus, yang didapat dari kedua figur mulia itu dalam mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan.

Oleh karena itu, pengorbanan agung tidak akan terwujud dengan penyembelihan seorang manusia, apa sisi kemanusian yang bisa diambil manfaatnya dari ‘Korban manusia’ semacam ini? Sisi kemanusiaan [dari pengorbanan] hanyalah akan memberikan faedah ketika pengorbanan itu dipersembahkan demi mencari ridha Allah Ta’ala dan menegakkan Tauhid di dunia, segala daya dan kekuatan dicurahkan untuk meletakkan pondasi Tauhid Ilahi di dunia, menjalin ikatan manusia dengan Tuhan yang Maha Esa serta mengajarkan kepada mereka jalan-jalan ibadah. Setelah membicarakan mengenai pengorbanan, Allah Ta’ala berfirman, وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ Artinya sesungguhnya Kami meninggalkan nama baiknya pada generasi mendatang dan Kami katakan kepada mereka “Bapak-bapak Anda sekalian dan kakek-kakek Anda sekalian inilah yang telah yang menciptakan kejayaan dengan meraih ridha Allah Ta’ala di hadapan mata mereka dan mereka tidak akan mengurangi persembahan pengorbanan apa pun untuk dapat mewarisi kecintaan Allah Ta’ala, bahkan mereka telah menunaikan kewajiban menegakkan Tauhid Ilahi di dunia lebih baik dari apa yang direncanakan.”

Setiap manusia akan terkena kematian akan tetapi kematian yang sukses adalah manusia yang matinya berada pada jalan keberhasilan mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan menegakkan Tauhid Ilahi di dunia. Ini adalah nama atau sebutan yang baik bagi mereka ini yang berkorban pada jalan Allah Ta’ala yang telah mencapai puncaknya pada pribadi Nabi saw dan pada masa Nabi saw, yang mana pengorbanan-pengorbanan Hadhrat Ibrahim dan Ismail as telah memberikan buahnya pada wujud Nabi saw sebagai penggenapan terhadap doa Hadhrat Ibrahim as: رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ Dia telah mengutus Nabi itu pada pribadi Muhammad saw., yang karena perjuangan beliau saw-lah dunia melihat contoh-contoh terbaik pengorbanan agung, bahkan di tangan orang-orang yang berbaiat kepada beliau-lah dunia juga melihat contoh-contoh pengorbanan dan ketaatan yang sempurna serta peletakkan dasar Tauhid yang tidak akan ada tara bandingannya.

Hadhrat Ismail as putra seorang Nabi dan memperoleh tarbiyat pada baitun nubuwwah dan kedua orang tuanya yang sempurna iman, ketawakalan dan keTauhidannya itu telah menjalankan tarbiyat kepadanya, itu merupakan tolok ukur untuknya bahwa ia akan mendapatkan maqam nubuwwah. Beliau telah mempertegas Firman bahwa Allah Ta’ala, Dialah yang telah memberikan bimbingan tarbiyat-Nya, karena itulah beliau bersedia untuk mengorbankan dirinya dengan taat dan penuh kerelaan hati.

Adapun para Sahabat Nabi saw., mereka yang sebelumnya dalam keadaan mati ruhani akan tetapi dengan quwwat qudsiah Nabi saw, mereka telah menjadi orang-orang yang bersedia untuk berkorban demi untuk tegaknya Tauhid dengan perantaraan jiwa mereka, harta benda, waktu serta kedudukan mereka; atau sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda bahwa Nabi saw telah menjadikan mereka yang ummiy serta jahil ini menjadi manusia, lalu menjadikan mereka manusia-manusia yang siap sedia, kemudian menjadikan mereka orang-orang yang bertuhan, lalu orang-orang yang bertuhan ini bergegas akan mencapai standar-standar ketaatan, pengorbanan dan ibadah yang luhur yang mana mereka telah menjadikan dunia tercengang.

Mereka mengorbankan dirinya untuk menegakkan Tauhid dan menyandarkan diri kepada pengorbanan-pengorbanan ini, mereka telah menghiasi diri mereka dengan gagah berani. Mereka berlomba-lomba mati berhadapan muka tanpa memperhatikan dirinya. Demikianlah mereka telah menorehkan dan mencatat untuk generasi yang akan datang contoh-contoh luhur yang meniupkan semangat yang luar biasa bagi umat muslim untuk rentang waktu yang panjang. Mereka senantiasa berusaha mengedepankan tujuan mereka itu diciptakan dan selalu berupaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Tetapi manakala mereka telah condong kepada dunia setelah beberapa generasi serta melupakan semangat [pengorbanan] itu yang seharusnya dikenakan dan diterapkan oleh muslim yang hakiki; mereka melupakan doa Hadhrat Ibrahim as yang beliau panjatkan sehubungan dengan diutusnya Nabi yang dijanjikan saw yang datang demi untuk menegakkan contoh terbaik dari pengorbanan agung dan mereka melupakan tujuan dari diutusnya Nabi saw.; mereka menolak dan mengabaikan untuk menundukkan kepala mereka terhadap hukum-hukum Allah Ta’ala sebagaimana seekor binatang sembelihan yang menyerahkan lehernya di hadapan tukang potong hewan; mereka melupakan bahwa Islam itu menjauhkan diri dari segala macam hawa nafsu, Islam adalah ridha yang sejalan dengan ridha Allah Ta’ala dalam bentuk yang sempurna; mereka melupakan bahwa Islam itu adalah fana fillah dan menerima kematian pada jalan-Nya; dan hawa-hawa nafsu menempati ridha Allah Ta’ala; pada saat itulah datangnya keunggulan-keunggulan yang Allah Ta’ala telah janjikan menjadi terhenti karenanya. Mereka yang dahulunya menjadi orang-orang yang menguasai seluruh dunia, terbalik keadaannya mereka yang dikuasai orang lain di negeri mereka sendiri.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda : “Maka perhatikanlah hari [Id] ini dan camkanlah dengan seksama. Apakah masih ada tersisa sedikit saja unsur ruhani pada hari ini selain kegembiraan, sukaria, canda tawa dan gurauan? Sesungguhnya Hari raya Idul Adhha ini lebih besar dari Idul Fitri. Orang-orang kebanyakan juga menamakannya ‘Idul Kabir’ atau Id besar, akan tetapi beritahukanlah oleh Anda sekalian kepadaku setelahnya mengadakan introspeksi: berapa banyak dari antara mereka yang memperhatikan Id ini dengan tazkiyatin nafs [mensucikan jiwa] dan menjernihkan hati, lalu mereka mendapatkan satu bagian saja masalah ruhani serta berusaha untuk mengambil faedah dari Nur yang terlahir dalam Idul Adhha ini?

Id RamAdhhan itu pada hakikatnya adalah mujaahadah atau jihad, bahkan merupakan jihad hakiki, dinamakan juga pengorbanan ruh. Adapun Idul Adhha ini yang disebut pula Id Kabir akan terhimpun di atas hakikat pengorbanan agung yang tidak akan terhenti hanya karena kesedihan atau duka yang terpancar dan terpusat padanya. Allah Ta’alaDzat yang akan menyatakan rahmat-Nya dengan banyak ragam cara – telah menurunkan kepada umat Muhammad rahmat yang agung ketika Dia membukakan bagi umat yang dirahmatinya ini hakikat dan intisari perkara-perkara itu yang merupakan peringatan pada umat-umat yang lain, yang hanya kulit saja tanpa isi.

Kenyataan sebenarnya, sekarang ini orang-orang Muslim sudah melupakan ta’lim-ta’lim (ajaran) secara keseluruhan. Hanya sebatas ta’lim sehubungan dengan Id saja. Pada Id yang dirayakan oleh Arab Saudi pada kemarin lalu, Imam Masjidil Haram menyampaikan khotbahnya kepada Jama’ah Haji, beliau memperingatkan Negara Islam dan Kaum muslimin kepada hal ini, memberitahukan kewajiban-kewajiban mereka, dan mendorong mereka untuk menjadi satu barisan. Merupakan khotbah yang panjang dan ini adalah intinya.

Kenyataannya melaksanakan keinginan mereka untuk bersatu untuk saat ini adalah sesuatu yang mustahil dengan mengamalkan prinsip-prinsip mereka. Itu, pertama: karena mereka telah melupakan setiap hal yang telah saya utarakan tadi. Pada mereka tidak terdapat ghairat dan juga tidak ada agama, oleh karena itu mereka telah kehilangan dunia dan akhirat. Demi maksud untuk persatuan umat, mereka semestinya sekarang mengikuti jalan yang Allah Ta’ala telah gariskan kepada mereka. Jalan atau langkah lain apapun yang dibuat yang disuarakan oleh beberapa orang pemimpin mereka tidak akan memberikan manfaat kepada mereka.

Langkah yang akan memberikan manfaat kepada mereka adalah yang telah diterangkan oleh Insan yang telah diutus oleh Allah Ta’ala sebagai Imam pada Abad ini. Tidak ada jalan lain bagi mereka selain menjalin ikatan dengan orang yang telah diwahyukan kepadanya: “Setiap orang-orang Muslim yang ada di atas permukaan bumi bergabunglah di atas satu agama.” Maka orang-orang yang berpegang teguh kepada pohon-pohon Imam Zaman ini, merekalah yang akan mewujudkan tujuan ini dan menjadi ahli waris doa-doa Hadhrat Ibrahim dan Ismail as yang mereka panjatkan ketika meletakkan pondasi Baitul Haram. Itu dikarenakan Allah Ta’ala telah memberitahukan dalam Al-Quranul Karim bahwasanya Allah Ta’ala sebagaimana Dia telah membangkitkan Nabi saw untuk membacakan Ayat-ayat Allah Ta’ala kepada manusia, mensucikan mereka serta mengajarkan Kitab dan Hikmah sebagai suatu Tanda untuk pengabulan atau jawaban dari Allah Ta’ala terhadap doa-doa Hadhrat Ibrahim as yang pada kenyatannya merupakan Takdir Tuhan yang genap dengan segala keagungannya. Demikianlah Allah Ta’ala telah menakdirkan bahwa Dia akan mengutus kepada ‘aakhariina minhum’ seorang pecinta sejati Nabi saw sebagai satu Tanda terjawabnya doa-doa Nabi saw.

Demi menggenapi tujuan agung tersebut yang telah dikorbankan Hadhrat Ibrahim as dan seluruh keluarganya untuk maksud itu, dan yang senantiasa Hadhrat Ibrahim as anjurkan kepada anak keturunannya atas dasar pengorbanan untuk maksud itu, serta yang merupakan maksud sebenarnya dibangunnya Kabah, tiada lain yaitu untuk meletakkan pondasi Tauhid Ilahi di dunia. Itulah maksud diutusnya Nabi saw sebagai penggenapannya. Beliau telah tampil sebagai model terbaik dalam pengorbanan agung yang membuat bingung orang yang berakal serta membuat lidah-lidah menjadi lancar melafalkan subhanallah dan Alhamdulillah dengan sendirinya.

Apabila kita hendak menyelami hakikat Idul Adhha ini, seyogianya setiap Muslim Ahmadi pada hari ini mengenakan jubah fana fillah Ta’ala termasuk fana dalam cinta terhadap Muhammad Rasulullah saw dan taat kepadanya. Karena inilah yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita mengenainya, ketika Dia berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ Maknanya, “Jika Anda sekalian menginginkan Allah Ta’ala mencintai kalian, maka berperilakulah sebagaimana Hadhrat Muhammad saw berperilaku, dan laksanakanlah sunnah sebagaimana sunnah-nya, patuhilah perintah-perintahnya, ikutilah Syariatnya dengan segenap ketundukan serta tampillah Anda sekalian menjadi contoh-contoh terbaik dalam mengamalkan sabda beliau saw: أَطِيْعُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ raihlah standar tertinggi dalam ibadah-ibadah, sekiranya segala gerak dan diamnya Anda sekalian itu akan mengisyaratkan dan mencerminkan atas Tauhid Allah Ta’ala. Apabila seseorang sampai kepada kedudukan ini, Allah Ta’ala akan menjadi sahabatnya, Dia akan memuliakannya dengan kemuliaan yang agung. Nabi saw telah memberitahukan bahwa seseorang akan sampai kepada maqam dekat dengan Allah Ta’ala selama ia senantiasa ingin menunaikan nafal-nafal dan fardhu-fardhunya. Siapa saja yang mengerjakan itu, Allah Ta’ala akan menjadi sahabatnya maka jadilah sebagaimana Firman Allah swt, “Aku menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar; menjadi matanya yang dengan itu ia melihat, menjadi tangannya yang dengan itu ia memegang serta menjadi kakinya yang dengan itu ia dapat berjalan.”

Hari ini kita sangat diperlukan untuk mengorbankan diri kita tanpa putus untuk mencapai level ini dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala, karena segala kekuatan dan daya yang kita kerahkan dan kita korbankan secara terus-menerus itulah yang melahirkan satu pemahaman pada kita mengenai Tauhid Allah Ta’ala dan itu yang akan menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan untuk memberikan kita taufik supaya bisa mencapai level ini supaya rintangan-rintangan yang disusun oleh musuh di hadapan mata kita untuk merintangi kemajuan Ahmadiyah sebagaimana anggapannya, dapat disingkirkan.

Tidak diragukan lagi, di sana terdapat halangan-halangan serta rintangan-rintangan, tetapi Kafilah Ahmadiyah terus bergerak maju dengan perantaraan karunia Allah Ta’ala. Adapun rintangan-rintangan yang waktu ke waktu diletakkan pada jalan Ahmadiyah oleh orang-orang yang anti dan tentunya menimbulkan kegelisahan serta kekhawatiran, maka Allah Ta’ala akan menyingkirkannya juga, hanya saja di sana ada kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan tingkat ibadah-ibadah kita dengan hilangnya rintangan-rintangan ini. Sudah pasti bahwa kebanyakan orang-orang Muslim Ahmadiyah pada hari ini akan mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan baik jiwa, harta kekayaan yang banyak, waktu dan kehormatan. Sebagian dari antaranya telah sampai kepada level yang tinggi dalam medan ini, akan tetapi sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya, lebih ditekankan lagi untuk meningkatkan standar-standar ibadah kita.

Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan supaya kita diberikan Taufik untuk meningkatkan standar-standar ibadah-ibadah kita dan menolong kita untuk menciptakan ruh ini pada keturunan kita. Karena sesungguhnya selamanya kita tidak akan dapat berkembang dan meningkat tanpa menciptakan hubungan yang kuat dengan Allah Ta’ala. Kita harus menciptakan pemahaman ini juga pada keturunan kita yang berikutnya. Tidak diragukan lagi Islam akan dominan. Sudah pasti kemenangan Ahmadiyah pada zaman ini adalah keniscayaan. Tetapi untuk dapat menyaksikan kemenangan ini pada masa hidup kita hanya ada satu jalan, tiada lain itu adalah berpegang teguh pada pohon-pohon Allah Ta’ala dengan berdoa sepenuh hati sambil menangis sehingga kita mendengar suara-Nya yang penuh kegagahan: (إِنِّيْ قَرِيْبٌ)’inni qariib’ – “Aku dekat” dan ( أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ) ‘Alaa inna nashrAllahi qariib’ – “Ketahuilah, pertolongan Allah itu dekat.”

Kita senantiasa harus merenung bahwa Jemaat Masih Mau’ud as pada saat ini merupakan satu satunya yang dapat mencapainya atau bisa mencapai Tauhid Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Pencipta, itu adalah pengorbanan pada jalan-Nya juga. Sesungguhnya kebanyakan dari antara anggota-anggota Jemaat mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan ini secara sendiri-sendiri, sebagaimana bahwa Jemaat ini adalah satu-satunya yang mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan ini secara berjama’ah. Karenanya apabila pada hari ini ada seseorang yang mampu mendengar seruan Allah, ألا إن نصر الله قريب ‘Ketahuilah bahwa pertolongan Allah itu dekat’ maka dia itu adalah Muslim Ahmadi saja, bukan yang lain. Karena itu sebagaimana sudah saya sampaikan sebelumnya, kita perlu lebih kuat lagi dari sebelum-sebelumnya untuk memperkokoh hubungan kita dengan Allah Ta’ala supaya lebih banyak lagi mendapatkan pandangan kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita, dan untuk menghimpun dunia di atas satu tangan serta menyampaikan pesan Tauhid Allah Ta’ala di dunia. Semoga Allah memberikan kita taufik untuk itu.

Sekarang kita akan berdoa bersama-sama. Maka ingatlah dalam doa-doa Anda sekalian keluarga-keluarga syuhada Ahmadiyah, semoga Allah Ta’ala menjaga mereka dalam naungan Rahmat-Nya. Semoga Allah Ta’ala segera mendatangkan buah-buah pengorbanan-pengorbanan orang-orang kesayangan mereka serta memberikan taufik kepada kita supaya dapat melihat Ahmadiyah berkembang lebih pesat lagi.

Kemudian jangan Anda sekalian lupakan السجناء في سبيل الله (as-sujana fi sabiiLlah, Asiran-e-rah-e-Maula, orang-orang yang dipenjara di jalan Allah) dari kalangan Jemaat, berdoalah kepada Allah Ta’ala supaya dari pihak-Nya segera akan ada langkah-langkah untuk membebaskan mereka. Sebagaimana kita tahu sekarang-sekarang ini anggota Jemaat selain di Pakistan juga menghadapi penderitaan penjara. Saudara-saudara kita di Mesir pada permulaan tahun ini dipenjara untuk disangkutpautkan kepada Ahmadiyah. Tetapi mereka telah dibebaskan sebelum terjadinya revolusi Mesir baru-baru ini. Sebagaimana pada saat-saat ini juga telah dipenjarakan saudara kita orang Arab yang sangat mukhlish di bagian Timur. Beliau sekarang merayakan Id di dalam penjara. Beliau satu-satunya Ahmadi yang ada di daerahnya, tetapi beliau mukhlish, imannya kuat sekali, dengan karunia Allah Ta’ala. Kita memohon kepada Allah Ta’ala supaya Allah Ta’ala mempersiapkan sebab-sebab untuk membebaskannya dengan segera.

Demikian pula mereka menculik seorang muallim kita di India sebelum Jalsah Salanah yang baru lalu di Qadian, ia datang disertai beberapa orang mubayi’in baru ke Jalsah, nasib akhirnya belum diketahui sampai sekarang. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala supaya mengembalikannya kepada kita dengan selamat sesegera mungkin. Juga ada beberapa orang Ahmadi yang diculik di berbagai tempat yang berbeda di Pakistan. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki yang usianya antara 10-12 tahun dan telah diculik bersama-sama dengan bapaknya. Kita doakan semoga Allah Ta’ala membebaskan mereka dan mengembalikannya kepada keluarga mereka dengan selamat.

Kita berdoa sebanyak-banyaknya bagi mereka yang berkorban harta di jalan Jemaat. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada mereka semua dan memberkati harta benda mereka dan jiwa mereka dengan berkat-berkat yang tiada akhirnya. Begitu pun kita berdoa kepada Allah Ta’ala bagi orang-orang yang melalaikan pengorbanan harta, semoga Allah Ta’ala membebaskan mereka dari kemalasan mereka dan menambahkan taufik kepada mereka untuk berinfak di jalan-Nya.

Kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk mereka yang mewaqafkan hidupnya untuk mengkhidmati Jemaat, karena sesungguhnya sebagian dari antara mereka mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan yang sangat besar pada sisi-sisi yang sangat sulit karena memelihara ruh waqaf dengan sempurna. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan balasan kepada mereka semua dan memelihara mereka dengan penjagaan yang khas, memberikan buah kepada jihad-jihad mereka dan usaha-usaha mereka dengan buah-buah yang lebih baik.

Lalu kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk setiap orang yang sakit semoga Allah Ta’ala memberikan kesembuhan kepada mereka dengan kesembuhan yang sempurna, segera dan tidak meninggalkan rasa sakit. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk para mubtali (orang-orang yang sedang mendapat cobaan) dengan beragam kesusahannya, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kesulitan-kesulitannya. Jangan lupakan orang-orang yang mempunyai hajat (keperluan-keperluan) dan orang-orang yang dalam musibah dan berbagai macam kesempitan; semoga Allah Ta’ala membebaskan mereka dari hal tersebut. Doakanlah putra-putri Jemaat di berbagai tempat di pelosok dunia, semoga Allah Ta’ala memelihara mereka dari segala kesukaran dan kesempitan.

Jangan Anda sekalian lupakan dalam doa-doa Anda sekalian untuk berdoa bagi seluruh umat Islam, semoga Allah Ta’ala mengilhamkan kepada mereka kebenaran supaya dapat mengenal Imam Zamannya dan mereka akan mendapatkan kembali kemuliaannya yang ada pada masa silam.

Lalu berdoalah untuk umat manusia secara umum, semoga Allah Ta’ala memelihara mereka dari kejatuhan serta kebinasaan yang diakibatkan mereka tergesa-gesa melakukannya karena melupakan Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada mereka untuk dapat mengenal Sang Maha Pencipta. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita juga untuk menyiarkan risalah ini, yaitu pesan Tauhid kepada dunia dengan cara yang sebaik-baiknya. [Aamiin].  (Mln. Abdul Karim Munwana)

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Hudhur V atba bersabda, ‘Doa kar le!’ – “Mari berdoa!” Berdoa bersama lalu diakhiri dengan ucapan ‘Aamiin!’ dari Hudhur Vatba. Kemudian Hudhur Vatba mengucapkan, السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ‘Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatu’ lalu mengucapkan ‘Sab ko Id Mubarak bhi ho’ – “Selamat Hari raya Id untuk semuanya yang di sini dan Id Mubarak juga untuk seluruh Ahmadi di setiap tempat di seluruh dunia. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan keberkatan dalam setiap seginya.”

Setelah mengucapkan, السلام عليكم ورحمة الله ‘Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah’ sekali lagi barulah beliau atba meninggalkan masjid diikuti para pengawal beliau.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

(Visited 61 times, 1 visits today)