Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

17 Oktober 2003 di Masjid Fadhl, London, UK.

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Jemaat kita dalam berbagai himbauan demikian menekankan pengkhidmatan sosial dan khidmat khalq (pengkhidmatan terhadap umat manusia). Setiap warga Jemaat, baik yang kaya maupun miskin sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan segera berupaya agar dapat meraih peluang melaksanakan pekerjaan khidmat khalq demi mencari ridha Ilahi. Sebab kenapa hati setiap Ahmadi demikian tulus dalam pekerjaan-pekerjaan mulia semacam itu ialah karena manusia telah melupakan ajaran indah Islam yaitu jika ingin meraih kecintaan Allah maka bersikap-baiklah kepada makhluk-Nya dan perhatikanlah pula keperluan-keperluan mereka. Ini juga yang merupakan sarana sangat besar guna meraih kedekatan dengan Allah Swt.. Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan ajaran indah itu sebagai salah satu syarat pokok diantara 10 syarat-syarat baiat beliau, “Setelah bergabung dengan saya, kalian tidak hanya sekedar bersikap simpati, bahkan datangkanlah faedah kepada makhlukNya dengan segenap potensi dan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah”.[1]

Oleh karena itu, tatkala para korban gempa bumi perlu bantuan maka orang-orang Ahmadi tampil ke depan. Kapan saja para korban banjir perlu bantuan, orang-orang Ahmadi tampil di depan. Dalam beberapa kesempatan sebagian pemuda Ahmadi rela mengorbankan jiwanya menolong orang yang hanyut terbawa arus banjir yang deras, namun mereka berhasil membawa orang-orang yang tenggelam hingga ke pinggir dengan selamat.

Kemudian tatkala Khalifah mengumumkan: “Saya perlu uang sekian bagi keperluan mendirikan sekolah untuk pendidikan anak-anak miskin dan membangun rumah-rumah sakit di Afrika menyediakan fasilitas pengobatan bagi orang-orang yang menderita”, maka warga Jemaat atas dasar gejolak rasa simpat terhadap penderitaan umat manusia, yang memang seyogianya ada di dalam hati seorang Ahmadi, menyambut seruan itu dan menyiapkan uang dan mempersembahkannya di hadapan Khalifah melebihi jumlah yang diserukan itu.

Selanjutnya, tatkala Khalifah mengatakan: “Kini uang telah tersedia, maka untuk menjalankan sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit itu saya juga perlu sumber daya manusia”, maka para dokter dan para guru dengan sangat tulus mendaftarkan diri mereka. Kini kondisi di Afrika tambah lebih baik. Pada tahun 1970-an tatkala Yayasan Nusrat Jahan dimulai, saat itu sangat memprihatinkan. Orang-orang itu (para waqifin bidang kedokteran) telah melewati kondisi yang tidak menyenangkan itu. Sejumlah dokter dan guru-guru merupakan orang-orang yang sudah mapan dalam profesi mereka. Tetapi setelah mewakafkan diri, mereka siap pergi ke kampung-kampung dan tinggal di sana. Sebabnya, kebanyakan sekolah dan rumah sakit tersebut berada di kampung-kampung yang tidak ada fasilitas air dan listrik memadai. Namun, pengkhidmatan terhadap umat manusia yang tengah dalam penderitaan merupakan janji baiat yang sedang mereka tunaikan sehingga mereka sama sekali tidak menghiraukan hambatan dan fasilitas yang tidak mendukung.

Pada masa awal, kondisi rumah sakit Jemaat ialah tempat pasien dioperasi hanya dengan dibaringkan beralaskan meja kayu, alat penerang cukup dengan lampu-lampu tempel atau lampu-lampu gas, dan apa pun peralatan yang tersedia seperti belati, pisau-pisau kecil, gunting-gunting itu yang mereka gunakan untuk mengoperasi para pasien lalu selebihnya mereka sibuk berdoa, “Ya Allah! Apa yang tersedia pada kami itu yang digunakan untuk menjalankan tugas kami. Khalifah kami mengatakan pada kami obatilah dengan doa, Allah akan memberikan kesembuhan yang banyak di tanganmu. Engkaulah yang memberikan kesembuhan, sembuhkanlah, Ya Allah!”, maka Allah-pun menghargai para dokter yang melakukan pengorbanan itu dan terbukti terjadi penyembuhan para pasien sehingga dunia tercengang. Lalu, keperluan-keperluan materi pun Allah penuhi dengan cara para pejabat penting meninggalkan kota-kota besar lalu memilih berobat di rumah sakit-rumah sakit Jemaat yang kecil-kecil.

Demikian pula para guru dengan semangat penuh antusias membentuk pribadi anak-anak dengan dunia pendidikan mereka. Pengkhidmatan para dokter dan guru-guru sampai kini pun terus berjalan. Semoga rangkaian pengkhidmatan ini tetap berjalan dengan baik dan Dia terus menganugerahkan ganjaran yang agung kepada para pengkhidmat.

Pada saat Jalsah saya telah menghimbau kepada para dokter untuk mewakafkan diri, baik secara permanen ataupun sementara untuk rumah-rumah sakit kita di Afrika. Kini dengan karunia Allah kondisinya sangat baik. Kendala-kendala dan kesulitan-kesulitan yang dialami para pewakaf di masa perrnulaan itu tidak lagi ada dan kini di kebanyakan tempat kondisi itu sangat baik dan fasilitas-fasilitas pun tersedia. Jika sedikit banyak ada juga kesulitan-kesulitan maka jadikanlah janji baiat ini senantiasa sebagai pedoman, “hanya karena Allah semata segenap potensi-potensi yang dimiliki akan digunakan untuk mendatangkan faedah kepada ummat manusia.” Tampillah dan penuhilah janji yang telah dijalin dengan Masih Zaman ini dan jadilah sebagai pewaris doa-doanya. Demikian pula di Rumah sakit Fadhli Umar Rabwah juga memerlukan dokter. Di sanapun para dokter seyogianya juga mengajukan diri mereka.

Kemudian, di Pakistan dan di negara-negara lain juga para warga Jemaat di bawah pengawasan nizam Jemaat memberikan bantuan pengorbanan harta secara permanen untuk pendidikan anak-anak dan pengobatan orang-orang yang sakit, yang dengan dampak pengkhidmatan itu mereka tengah mendapatkan doa-doa orang yang sakit. Jadi pekerjaan yang mulia itupun Jemaat seyogianya terus melestarikannya dan lebih dari sebelumnya mereka harus tambah lebih giat lagi, sebab para pasien terus bertambah pesat penambahannya.

Kini saya akan menampilkan peristiwa-peristiwa para sesepuh Jemaat yang jiwanya penuh dengan gejolak pengorbanan. Terkait dengan contoh Hadhrat Tn. Mirza Ya’qub Beg ra, penutur menulis, “Almarhum merupakan contoh hidup, sesuai dengan hadits Nabi saw, sosok yang menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya, dan kemudian dia tidak pernah menyukai sikap/perlakuan kepada saudaranya yang untuk dirinya sendiri dia tidak sukai. Beliau senantiasa dalam upaya supaya tersedia peluang pengkhidmatan atau ada kesempatan dapat memberikan bantuan pada siapapun baik saudaranya atau temannya. [2]

Berkenaan dengan beliau ada sebuah peristiwa tatkala beliau sedang mengajar di SMA lalu ada ceramah dalam Jemaat, maka beliau datang dan di sana beliau bertemu dengan orang-orang Ahmadi. Dan jika ada orang yang sakit maka dia pergi ke rumah yang sakit untuk menjenguk dan menanyakan mengenai penyakitnya dan terkadang setiap hari beliau pergi menjenguk orang yang sakit. Pada suatu saat tatkala Maulwi Muhammad Sadiq sedang sakit keras maka Al-Marhum sampai beberapa hari tinggal di rumah beliau dan siang malam mengkhidmati beliau dan dalam kondisi sakit tatkala harus mengangkat membuang kotoran maka itupun beliau lakukan.[3]

Kemudian Hadhrat Tn. Chaudri Zafrullah menulis mengenai ibunya bahwa beliau (ibunya) sering berkata, “Kalau Tuhan tidak menjadi musuh [malah menjadi Sahabat], maka apa yang para penentang dapat lakukan untuk merugikan kita? Dari segi itu saya tidak menganggap siapapun sebagai musuh dan senantiasa sangat bersikap baik terhadap para penentang. Jika hati gembira dan positif terhadap seseorang, secara otomatis, hati akan tergerak untuk berbuat baik kepadanya. Di dalam hal serupa itu pahala jenis apa? Demi meraih ridha Allah, manusia seyogianya bersikap baik juga kepada orang-orang yang hatinya sendiri tidak menyukainya.”

Beliau (ibunya) tinggal di Daskah. Di sana sikap beliau sangat penuh dermawan dengan orang-orang dan orang-orang pun memandang beliau dengan penuh hormat. Tatkala mulai permusuhan dari kelompok Ahrar, kawasan/kampung beliau pun terpengaruh dan di situlah orang-orang yang biasa meminta bantuan dari beliau mulai memusuhi beliau. Tetapi permusuhan itupun tidak ada pengaruhnya pada ibu beliau, dan jika dari antara keluarga beliau ada sekiranya yang mengatakan kepada beliau “Kenapa Anda membantu fulan sementara dia menentang kita, dia ikut kelompok Ahrar?”, maka beliau sangat tidak senang, “Kenapa Anda mencegah saya melakukan pengkhidmatan?” Pada suatu saat seorang yang mengisahkan menulis, ketika beliau tengah menyiapkan baju, pakaian dan lain-lain, maka dia berkata kepada beliau, “Kenapa Anda menyiapkan ini”, maka ibu Tn. Choudri berkata, “‘saya tengah menyiapkan ini untuk anak-anak si fulan.”

Dia berkata, “Anda ini aneh, dia kan orang Ahrar dan penentang keras Jemaat lalu mengapa Anda menyiapkan pakaian ini untuknya?” Beliau berkata, “Jika dia jahat maka Allah akan melindungi saya, dan selama Tuhan bersama kita, maka tidak ada keburukan para penentang yang dapat merugikan kita. Dia ini adalah seorang yang sangat miskin, dia tidak ada sarana untuk menyediakan pakaian bagi anak-anak dan cucu-cucunya. Jadi karena saya menganggapnya sebagai seorang yang memerlukan, maka saya menyediakan pakaian ini. Sementara engkau menyatakan keberatan engkau, karena itu hukuman untuk engkau sekarang adalah apabila saya selesai menyiapkan pakaian ini maka kamulah yang pergi membawa ini ke rumahnya.”

Tetapi sejalan dengan itu beliau juga mengatakan bahwa “Oleh karena ini adalah orang Ahrar, maka pasti orang-orang Ahrar lainnya akan menyorotinya. Oleh karena itu, pergilah pada malam hari supaya jangan ada yang mengganggunya karena telah menerima pakaian dari orang Ahmadi”.[4]

Memelihara anak-anak yatim dan para janda merupakan kesibukan yang juga sangat beliau gemari. Apabila beliau tengah menyiapkan jahiz (pakaian yang dibawa pengantin perempuan ke tempat suaminya) untuk pengantin perempuan yang miskin, maka dengan tekun sekali semua persiapan beliau lakukan dengan tangannya sendiri dan juga menyiapkan pakaian untuknya.[5]

Kemudian, Hadhrat Mir Muhammad Ishaq ra juga sangat menaruh perhatian pada pemeliharaan anak-anak yatim. Di sebuah Orphan House (panti asuhan) yang dinamai Darusy Syuyukh banyak sekali anak-anak yatim. Berkenaan dengan beliau tertera sebuah riwayat bahwa pada saat tengah istirahat karena sedang terserang demam yang sangat keras, dalam kondisi kurus dan sangat lemah, seorang karyawan datang lalu memberitahukan kepada beliau bahwa gandum kurang, tidak cukup untuk makan; dari manapun itu tidak dapat dan dari sejak subuh anak-anak belum sarapan. Beliau berkata “Bawalah delman dengan segera”.

Setelah itu, beliau pergi berkeliling dengan delman ke rumah-rumah para penyumbang demi mengumpulkan gandum dan bahan makanan yang disiapkan untuk anak-anak. Jadi inilah semangat para sesepuh kita bahwa dalam keadaan sakit pun mereka mengorbankan ketenteraman mereka dan demi untuk anak-anak yatim mereka dapat berdiri [dari sakit kerasnya] keluar dari rumah mereka. Dan seperti ini kenapa tidak. Bagi beliau kabar suka majikan beliau [saw] senantiasa menjadi pegangan beliau, “‏ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ‏” ‘Ana wa kaafilul yatiimi fil jannati hakadzaa’ – ‘Saya dan pemelihara anak yatim akan bersama-sama di surga seperti ini’, sambil merapatkan telunjuk dan jari tengah beliau saw.[6] Jadi inilah contoh para sesepuh kita.

Selanjutnya berkaitan dengan Hadhrat Hafiz Mu’inuddin tertera sebuah riwayat bahwa beliau seorang yang tidak melihat karena beliau seorang tunanetra. Beliau mengatakan bahwa pada saat malam yang dingin tatkala di lorong-lorong Qadian di jalan tanah yang penuh lumpur, beliau dengan susah payah jatuh bangun pergi entah ke mana. Seorang teman bertanya kepada beliau, maka beliau menjawab, “Di sini ada seekor anjing betina yang baru melahirkan anaknya. Saya mempunyai sepotong roti. Saya pikir bahwa ini musim dingin dan juga sedang turun hujan, karena itu saya berikan roti itu kepadanya”. Dan ini pun merupakan upaya mengikuti sunnah Nabi saw yang Tn. Hafiz  lakukan yakni harus berbelas kasih terhadap binatang-binatang. Ingatlah sebuah peristiwa [yang diceritakan dalam sebuah Hadits] tentang seseorang yang turun ke sebuah sumur lalu memenuhi sepatunya dengan air dan memberikan minum kepada seekor anjing, maka Rasulullah saw bersabda, “Sebagai imbalan kebaikannya itu Allah telah memaafkannya.” Para sahabat dengan sangat keheranan bertanya, apakah karena hewan-hewan seorang dapat memperoleh ganjaran? Maka beliau saw bersabda, “‏ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ ‏” fii kulli dzaati kabidin rathbati ajrun.“Ya, pada tiap kebaikan kepada yang bernyawa akan mendapatkan pahala.”[7]

Kemudian ada sebuah riwayat seorang Ahmadi bernama Nur Muhammad. Pada saat itu musim sedang sangat dinginnya. Beliau naik kereta api tidak memiliki baju dingin dan tidak pula selimut atau, hanya memakai dua lapis baju kemeja. Tiba-tiba nampak seorang tua cacat, telanjang badan tengah menggigil kedinginan. Pada saat itu juga beliau membuka baju beliau selapis lalu memakaikannya kepada orang itu.

Begitu seorang Sikh yang sama-sama dalam perjalanan bersama beliau melihatnya berkata, “Saudaraku! Anda jelas sudah pasti akan meraih keselamatan, sementara saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya.” Nah, inilah contoh. Beberapa hari setelah peristiwa itu terjadi pula atas Nur Muhammad ini. Beliau sedang menggunakan selimut wolnya yang baru datang ke masjid Mughalpura untuk shalat subuh. Terlihat oleh beliau seorang bernama Fatahdin – yang tadinya seorang yang sangat kaya namun kemudian menderita kemiskinan, tengah menggigil kedinginan. Segera Nur Muhammad membuka selimut beliau lalu memakaikannya pada Fatahdin.[8]

Selanjutnya pada 1947 saat Pakistan berdiri, ratusan ribu muhajir (orang yang berhijrah, pengungsi) yang dalam kondisi tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena menderita perampokan dan penganiayaan di tengah perjalanan sedang menuju ke arah Qadian berupa kafilah-kafilah. Pada saat itu mereka dalam kondisi yang sangat buruk. Tidak ada jaminan keselamatan, kemuliaan dan kehormatan perempuan-perempuan Islam dan semua orang Islam yakin bahwa “Setelah sampai di Qadian kita, kata mereka, akan terlindungi.” Pada saat itu sebagai pimpinan penanggung jawab pengungsi ialah Mirza Nasir Ahmad (Hadhrat Khalifatul Masih III) yang ditetapkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Para muhajir semuanya datang ke sana dalam kondisi terpaksa (tidak berdaya) sama sekali, sehingga ada sejumlah orang yang datang tanpa selembar pakaian. Hudhur II ra pertama-tama mengeluarkan pakaian-pakaian dari peti-peti keluarga beliau lalu memberikannya kepada mereka. Kemudian dari situ di bawah pengawasan, mereka berangkat berdatangan ke Pakistan (negara baru umat Islam) dan dengan karunia Tuhan mereka terus berdatangan dengan aman dan orang-orang Ahmadi dengan mengorbankan jiwa mereka telah menunaikan tanggung jawab untuk keselamatan orang-orang itu.

Kemudian dalam syarat baiat Hadhrat Masih Mau’ud as terdapat pula sebuah syarat bahwa “Kini bersama janji baiat ini kami bergabung dalam Jemaat ini, yakni setelah baiat tidak lagi tersisa milik pribadi kami.[9] Kini semua hubungan dan semua ikatan hanya ada sampai pada waktu selama mereka ada pertalian dengan nizam Jemaat dan pertalian dengan zat pribadi Hadhrat Aqdas as. Tidak ada ikatan kekerabatan dan hubungan yang membawa kita jauh dari Hadhrat Masih Mau’ud as Kita merupakan faqir (pengemis) di rumah itu dan inilah yang utama bagi kita. Kemudian janji itu dipenuhi dan telah mereka penuhi dengan sebaik-baiknya. Itupun sejumlah contohnya juga saya akan paparkan, yang kebanyakan merupakan apa yang imam zaman telah berikan komentar dalam uraian beliau sendiri.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Demikian pula sahabat kami tercinta, Maulwi Muhammad Ahsan Amruhi yang demi sebagai dukungan terhadap Jemaat ini aktif dan rajin dalam tulis-menulis karya tulis yang bagus-bagus. Kemudian, terkait dengan Sahibzadah Pir Ji Sirajul Haq yang mengucapkan selamat tinggal pada murid-muridnya lalu memilih kehidupan Darwisy (sederhana) di tempat ini. Lalu, Tn. Mia Abdullah Sanauri, Maulwi Burhanuddin dari Jehlum, Maulwi Mubarak Ali dari Sialkot, Qadhi Dhiyauddin Qadhi koti, Munsyi Qadhi Bakhs dari Batala kabupaten Gudaspur, Munsyi Jalaluddin Yalani dan lain-lain sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing sibuk dalam pengkhidmatan. Saya merasa heran atas keikhlasan dan kecintaan Jemaatku yang dari antara mereka penghasilannya sangat sedikit sebagaimana halnya Mian Jamaluddin, Khairuddin dan Imamuddin dari Kasymir tinggal di dekat kampung saya. Sebagai buruh, saudara bertiga orang ini mungkin berpenghasilan antara 12 sen dan 16 sen, namun mereka ikut ambil bagian dalam candah bulanan dengan penuh antusias.

Saya juga salut pada keikhlasan rekan mereka, Mia Abdul ‘Aziz, seorang pegawai tanah desa. Saya heran meskipun kurangnya penghasilan, suatu hari beliau memberikan 100 rupees dengan pesan agar dibelanjakan di jalan Allah. Seratus rupees ini mungkin sudah beberapa tahun beliau yang miskin ini telah kumpulkan, tetapi gejolak untuk Tuhan mendorongnya pada gejolak  meraih ridha Tuhan.”[10]

Kemudian berkenaan dengan Hadhrat Khalifatul-Masih I ra, beliau as bersabda: “Dalam kondisi kelimpahan harta lalu menyisihkan sedikit harta di jalan Allah, banyak yang telah saya lihat, namun apabila dia sendiri lapar lalu memberikan harta di jalan Allah dan tidak berbuat sesuatu untuk dirinya dari dunia, sifat ini secara sempurna nampak pada Tn. Maulwi… Seberapa banyak saya mendapat bantuan dari hartanya sampai kini tidak ada contoh seperti itu pada saya”.[11]

Selanjutnya, Hadhrat Khalifatul-Masih Awwal (I), Maulana Nuruddin, menulis kepada Hadhrat Masih Mau’ud as: “Saya berkorban di jalan Tuan. Apapun milik saya, itu bukanlah milik saya, tetapi milik Tuan. Guru yang terhormat, dengan sejujurnya saya katakan segenap harta saya semuanya jika dibelanjakan di jalan Allah maka artinya saya telah mencapai tujuan saya.”[12]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai Hadhrat Tn. Munsyi Zafar Ahmad: “Sahabatku di dalam [mencari ridha] Allah, Munsyi Zafar Ahmad, adalah merupakan seorang pemuda yang saleh, sedikit bicara, penuh ketulusan, sangat cerdas dan tajam analisa; tanda-tanda istiqamah dan nur nampak dalam dirinya. Beliau merupakan sosok yang bernasib mujur dalam hal mengenal tanda-tanda kesetiaan dan lain-lain, dan memahami betul kebenaran-kebenaran yang telah teruji.

Dia merasakan kelezatan dari itu. Dia mencintai setulusnya Allah dan Rasul-Nya serta akhlak yang merupakan poros segenap pencapaian karunia dan prasangka baik yang merupakan kendaraan jalan itu, kedua sifat-sifat itu terdapat di dalamnya, yakni mengambil berkah (memanfaatkan karunia) dan berprasangka baik. Siapa yang mengumpulkan ini maka kedua sifat-sifat ini terdapat di dalamnya. JazakumuLlah ahsanal jaza. (Semoga Allah mengganjarnya dengan ganjaran terbaik)

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as berkenaan dengan Hadhrat Mia Abdullah Sanauri ra bersabda: “Sahabatku karena Allah, Mia Abdullah Sanauri ra adalah seorang pemuda saleh yang karena keselarasan fitratnya dia ditarik kepada saya. Saya yakin dia termasuk sahabat-sahabat saya yang setia, yang tidak ada ujian yang dapat menggoyahkannya” -Yakni tidak ada ujian yang dapat menggelincirkannya- “Dia dalam waktu yang berbeda-beda selama dua-tiga bulan tinggal bersama saya, bahkan lebih dari itu, dan saya dengan firasat iman telah melihat keadaan isi hatinya, yakni saya terus mencermatinya dengan baik, maka firasat saya sampai pada kedalamannya yang telah saya ketahui adalah pemuda ini pada dasarnya memiliki gejolak kecintaan yang khas terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan terkait dengan kecintaannya sedemikian rupa dengan diri saya tidak lain karena dalam dirinya telah yakin orang ini (hamba yang lemah ini) adalah dari antara para pecinta Allah dan Rasul-Nya”.[13]

Kemudian berkenaan dengan Hadhrat Tn. Munsyi Muhammad Arura, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Sahabahku di dalam Allah, Hadhrat Munsyi Arura, juru tulis pemerintah, dalam hal kecintaan, ketulusan dan keyakinan merupakan sosok yang periang. Seorang yang fana pada kebenaran, sangat cepat memahami kebenaran, giat dalam melakukan pengkhidmatan. Melakukan dengan sangat gembira. Bahkan dia siang-malam senantiasa dalam pemikiran “kalau ada pengkhidmatan yang diperintahkan kepada saya”.

Saudara tercinta ini merupakan sosok yang sangat setia dan lapang dada. – sosok yang menerima dengan lapang dada dan sosok yang siap melakukan segenap pengorbanan — saya yakin beliau ini memiliki suatu jalinan kecintaan dengan yang lemah ini. Mungkin kebahagiaannya dalam hal apapun lebih besar dari itu tidak ada lagi apabila dia dapat melakukan pengkhidmatan dengan segenap kekuatannya, harta-bendanya, wujudnya dan dengan segenap taufik yang ada padanya. Dia merupakan sosok yang setia dengan jiwa dan raganya, sosok yang senantiasa bersahaja dan pemberani”, yakni setia dalam setiap kondisi, teguh iman dan seorang sosok yang pemberani – “Semoga Allah menganugerahi ganjaran pada beliau”.

Kemudian beliau bersabda: “Saudara ruhaniku demi semata-mata karena Allah, Tn. Mia Muhammad Khan adalah seorang pegawai di kabupaten Kapurtala. Beliau sosok yang berkepribadian sangat sederhana, tulus, cerdas (tajam pemahaman) dan mencintai kebenaran, yakni seorang yang tajam dalam menganalisa suatu permasalahan sampai ke akar-akarnya dan sosok yang mengenal kebenaran dan mencintai kebenaran. Dan seberapa itikad, keyakinan, cinta kasih dan prasangka/niat baik terhadap diri saya, saya tidak dapat memperkirakannya.

Berkenaan dengan dirinya saya tidak ragu perihal pengkhidmatannya terhadap saya. Bahkan, saya mengkhawatirkan jangan-jangan pengkhidmatannya itu sampai terlalu berlebihan. Dia adalah seorang yang benar-benar setia, penuh jiwa pengorbanan serta sosok yang lurus kepribadian. Semoga Allah beserta beliau. Saudaranya, Sardar Ali Khan, yang masih muda pun ikut baiat di tangan saya. Anak laki-laki inipun seperti saudaranya sangat berbahagia dan tulus” – yakni seorang yang sangat saleh dan senantiasa berjalan pada jalan yang lurus -“Semoga Allah senantiasa menjadi pelindungnya.”[14]

Kemudian beliau bersabda: “Saudara kita, Almarhum wa maghfur yang tercinta, Mirza Azhim Beg, adalah seorang pemuda di daerah Samanah, negeri Patiala, yang meninggal pada 2 Rabiuts Tsaani tahun 1308 Hijriah. Kepergiannya meninggalkan rasa duka yang sangat dalam di hati kami. Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uwn ‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.’ ‏‏‏”‏ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ ، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ لَمَحْزُونُونَ ‏” al ‘ainu tadma’u wal qalbu yahzunu wa innaa bifiraaqihi lamahzuwnuwn – mata berlinang dengan air mata, hati pun sedih sedih dan kami sedih dengan kepergiannya.[15]

Tn. Mirza almarhum mencintai saya hanya semata-mata karena Allah dan begitu dia fana terhadap saya. Dari manakah saya harus mengambil kata-kata untuk mengungkapkannya supaya dapat menerangkan martabatnya. Perpisahannya yang tak terduga mendatangkan kesedihan dan rasa duka pada diri saya, di zaman saya yang lampau sangat jarang saya merasakan contoh rasa sedih seperti ini. Dia merupakan bagian dari diri saya dan pada pandangan kami memiliki kedudukan yang khas. Merupakan sosok yang senantiasa ingin tampil di depan dalam kebaikan, sosok yang memiliki kemampuan dalam hal kepemimpinan, yang secara tiba-tiba saja pergi dari hadapan kami.

Selama masih hidup kesedihan akan kewafatannya kami tidak akan pernah lupakan. Kenangan terhadap perpisahannya menimbulkan rasa rindu, rasa resah, sedih dan rasa duka yang mendalam dalam dada yang menjadikan air mata tak terasa mengalir dengan sendirinya. Segenap wujudnya penuh dengan cinta. Tn. Mirza almarhum merupakan sosok yang sangat pemberani dalam menyatakan gejolak kecintaannya”.[16]

Hadhrat Qadhi Dhiyauddin menulis: “Doa” — bahkan di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as beliau memberikan keterangan — ” Hai majikanku! Saya mendapatkan dua pandangan kontradiksi yang berkecamuk dalam diri. saya. Di satu sisi saya dengan penuh ikhlas menginginkan supaya kebenaran Hudhur dan nur ruhani Hudhur dengan cepat dapat diketahui dunia luar dan semua bangsa serta semua orang dari beragam akidah datang dan dapat menghilangkan hausnya dengan sumber mata air yang Allah telah alirkan di sini.

Tetapi di sisi lain, sejalan dengan pikiran itu timbul rasa sedih yang sangat dalam di hati saya bahwa apabila orang-orang lain mulai mengenal Hudhur dan dalam jumlah besar orang-orang mulai berdatangan kemari maka pada saat itu sebagaimana tersedianya pergaulan dan kedekatan dengan Hudhur sebelumnya, itu saya akan menjadi kehilangan dalam menikmati hal itu. Dalam kondisi seperti itu Hudhur akan pergi ke rumah orang-orang lain.

Hudhur yang mulia, [sehingga dengan demikian] kebahagiaan yang diraih oleh diri saya duduk dan berbincang-bincang dalam pergaulan dengan majikan saya Hudhur, itu akan menjadi jauh dari saya. Keinginan-keinginan kontradiksi seperti ini lahir satu persatu di dalam pikiran saya.” Kemudian Tn. Qadhi berkata (menulis): “Setelah Hadhrat Masih Mau’ud as mendengar kata-kata ini beliau lalu melontarkan senyum”[17]

Selanjutnya, tertera sebuah contoh teladan Tn. Qadhi Dhiyauddin. Qadhi Abdurrahim, putranya mengisahkan, “Pada suatu saat ayah menceritakan dengan senang hati, ‘Tatkala saya tengah berwudhu tiba-tiba pelayan beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as), Hafiz Hamid Ali menanyakan kepada beliau as mengenai saya, ‘Ini siapa?’ Maka Hudhur as seraya memberitahukannya nama dan alamat saya bersabda, ‘Orang itu sangat fana (cinta) kepada kami.’ Tn. Qadhi sangat bangga akan hal itu dan berkata dengan sangat heran, ‘Bagaimana Hudhur mengetahui keadaan hati saya?’”

Oleh karena itu, ini hanya merupakan akibat dari kecintaan itulah sehingga Tn. Qadhi pada saat wafatnya mewasiatkan kepada anak-anaknya, “Saya dengan susah payah membawa kalian pada pintu Hadhrat Masih Mau’ud as. Kini setelah saya wafat kalian jangan pernah meninggalkan pintu itu”. Maka anak-anak keturunan beliau mengamalkan itu dengan sempurna.[18]

Hadhrat Maulwi Nikmatullah pada 1924 disyahidkan di Kabul. Sebelum kesyahidan, beliau menulis sepucuk surat kepada seorang teman Ahmadi dari dalam penjara dan di dalam itu beliau menulis: “Saya setiap saat di dalam penjara berdoa kepada Allah, ‘Ya Ilahi, sukseskanlah hamba yang tidak pantas ini dalam pengkhidmatan agama. Saya tidak ingin dianugerahi kebebasan dari penjara, bahkan saya memohon, hai Tuhan, zarrah-zarrah wujud yang tidak layak ini korbankanlah untuk Ahmadiyah.’”[19]

Kemudian, sesuai syarat [baiat] kesepuluh ini yaitu: “akan terlahir sebuah ikatan yang tidak ada tandingannya dengan Hadhrat Masih Mau’ud as“. Kejadian berikut ini terkait dengan Sayyid Abdus Sattar Syah. Pada tahun 1907 putra Hadhrat Masih Mau’ud as yang kecil, Hadhrat Sahibzadah Mubarak sakit typhus (tipes) dan terserang panas yang tinggi. Pada saat Mubarak Ahmad tengah sakit itu, seseorang melihat dalam mimpi bahwa Mubarak Ahmad sedang menikah. Para pena’bir mimpi mengatakan jika pernikahan itu dilakukan dengan perempuan yang tidak dikenal maka artinya adalah kematian. Tetapi sejumlah pena’bir lainnya berpendapat jika mimpi seperti itu disempurnakan secara lahiriah, maka ta’bir ini pun akan terhindari. Maka tatkala orang yang melihat mimpi itu memperdengarkan mimpi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka inilah yang beliau sabdakan, “Ta’bimya adalah maut, tetapi terkadang dalam corak disempurnakan secara lahiriah bisa jadi itu akan terelakkan. Oleh karena itu marilah kita nikahkan Mubarak Ahmad.” Seolah-olah terhadap anak yang tidak tahu menahu tentang nikah itu Hadhrat Masih Mau’ud as khawatir bagaimana menikahkannya.

Pada saat Hudhur tengah memperbincangkan hal ini, secara kebetulan istri Hadhrat Tn. Dokter Abdus-Sattar Shah, Sayyidah Sa’idatunnisa Begum, yang datang di sini sebagai tamu terlihat di teras rumah. Hadhrat Masih Mau’ud as memanggil beliau lalu bersabda: “Kami berkeinginan menikahkan Mubarak Ahmad. Anda mempunyai anak bernama Maryam. Jika Tuan menyukainya maka dia dinikahkan dengan Mubarak Ahmad”. Beliau berkata, “Hudhur saya tidak ada keberatan, tetapi jika Hudhur memberikan tempo pada saya, maka saya juga akan menanyakan kepada Tn. Dokter.” Pada hari-hari itu Tn. Dokter dan keluarganya tinggal di kamar bundar. Istri Hadhrat Tn. Dokter turun. Tn. Dokter mungkin tidak ada di sana pada waktu itu, dia sedang pergi keluar entah ke mana. Beliau sedikit lama menunggu lalu Tn. Dokter pun tiba.

Tatkala beliau datang maka dalam corak sedemikian rupa istri beliau ini berbicara dengannya dalam corak bahwa,”Di dalam agama Allah apabila seorang telah masuk maka terkadang imannya dicoba. Jika Allah mencobai iman Tuan maka apakah tuan akan tetap teguh? “Pada saat itu ada dua hal yang dikhawatirkan oleh istri beliau ini bahwa jangan-jangan karena beliau inilah maka Tn. Dokter menjadi ragu terhadap jodoh ini.

Faktor pertama, menurut beliau di dalam keluarga beliau tidak ada anak perempuan yang dinikahkan dengan yang bukan Sayyid (keturunan Nabi saw). Faktor kedua, Mubarak Ahmad menderita penyakit yang membahayakan, dan Tn. Dokter Marhum sendiri yang tengah menangani pengobatannya, dan oleh sebab itu tentu beliau sendiri akan berpikir, “Pernikahan ini 99 persen penuh dengan bahaya”, dan dari itu dikhawatirkan sebutan janda akan cepat melekat pada diri sang anak perempuan itu.”

Dengan adanya hal-hal seperti itu terpikir oleh istri Tn. Dokter bahwa jangan sampai terjadi Dr Sahib memperlihatkan kelemahan sehingga iman beliau menjadi sia-sia. Oleh karena itu beliau bertanya bahwa, “Jika Tuhan mencoba iman Tuan, apakah Tuan akan tetap teguh?” Tn. Dokter menjawab, “Saya mengharapkan Tuhan menganugerahkan keteguhan kepada saya.” Almarhum Ibu Maryam Begum memperdengarkan kata-kata beliau dan memberitahukan bahwa, “Seperti itulah saya pergi naik ke atas [menghadap Hadhrat Masih Mau’ud as]”. Maka Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Nikahkanlah Maryam dengan Mubarak Ahmad”.

Mendengar ini Tn. Dokter menjawab: “Bagus sekali jika Hadhrat Masih Mau’ud as menyukai itu, apa yang harus diberatkan.” Mendengar kata-kata ini ibu Almarhum Maryam Begum – semoga Allah terus meninggikan derajatnya – menangis dan tanpa disadari air mata beliau bercucuran. Maka Tn. Dokter Marhum bertanya kepadanya, “Apa yang telah terjadi? Apakah engkau tidak menyukai jodoh ini?” [Istrinya menjawab], “Saya menyukai jodoh ini. Duduk permasalahannya ialah sejak Hadhrat Masih Mau’ud menginstruksikan untuk menikah, hati saya sudah mulai berdebar-debar khawatir jangan-jangan iman Tuan menjadi sia-sia. Dan kini dengan mendengar jawaban Tuan saya tidak dapat membendung air mata karena gembira”. Maka karena itu pernikahan pun berlangsung dan sesudah beberapa hari [sebagaimana penyakit beliau menjadi sangat keras] anak perempuan itu pun menjadi janda. Kini, lihatlah betapa Allah tidak menyia-nyiakan keikhlasan Tn. Dokter, dan beliau (Maryam) pun menikah dengan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang namanya adalah Hadhrat Ummi Tahir, Maryam Siddiqah ra[20]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis tentang Hadhrat Sahibzadah Abdul-Latif: “Pada hari-hari itu dengan tak henti-hentinya turun wahyu Tuhan kepada saya, tanda yang sangat dahsyat dan sangat kuat diperlihatkan kepada saya dan pendakwaan saya sebagai Masih Mau’ud as dengan dalil-dalil yang mendukung sedang tersebar di dunia. Di daerah Khost, perbatasan Kabul tinggal seorang waliullah bernama Akhund Zadah Maulwi Abdul Latif ra

Secara kebetulan kitab-kitab saya sampai kepada beliau dan beliau menelaah semua dalil yang saya tulis dalam kitab-kitab saya baik yang aqli (secara akal) maupun naqli (teks nash ayat dan hadits) dan juga berbagai peristiwa dukungan samawi hal mana telah saya tulis itu dalam kitab-kitab saya. Dikarenakan beliau merupakan pribadi sesepuh yang sangat berhati suci, berilmu, berfirasat tajam dan bertakwa kepada Allah sehingga itu semua berpengaruh besar pada jiwanya. Beliau tidak menemui kesulitan dalam membenarkan pendakwaan ini. Dan firasatnya yang suci tanpa ragu telah mengimani, ‘Orang yang menulis kitab ini datang dari Allah dan pendakwaannya benar.’

Beliau mulai melihat buku-buku saya dengan penuh kecintaan yang mendalam. Ruhnya yang sangat suci dan siap menerima ditarik ke arah saya sedemikian rupa sehingga baginya terasa sulit bila tanpa pertemuan dengan saya dan tetap duduk di tempat yang jauh dari saya. Pada akhirnya, sebagai akibat daya-tarik yang luar biasa, ketulusan dan kecintaanlah yang membuat beliau bertekad bulat untuk menunaikan ibadah haji. Beliau mengajukan izin dari pemerintah Kabul untuk perjalanan ini. Maka, beliau datang kepada sang Amir (pimpinan negeri) guna meminta izin itu.

Karena pada pandangan Amir Kabul beliau seorang `alim terkemuka dan dianggap sebagai pimpinan para ulama, maka beliau tidak hanya mendapat izin bahkan dianugerahi juga sejumlah uang sebagai bantuan. Setelah mendapat izin beliau sampai ke Qadian. Ketika saya berjumpa dengannya, demi Tuhan yang di tangan-Nya terletak jiwa saya, saya mendapatinya sedemikian rupa fananya dalam mengikuti saya dan membenarkan pendakwaan saya sehingga lebih dari itu bagi manusia tidaklah mungkin. Sebagaimana sebuah botol yang telah penuh dengan minyak kesturi, seperti itulah saya mendapatkannya sepenuh hati dalam mencintai saya. Dan sebagaimana wajahnya penuh dengan cahaya demikian pula hatinya juga oleh saya nampak bercahaya”[21]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as terkait dengan Hadhrat Khalifatul Masih Awwal bersabda: “Pada kesempatan ini saya tidak mungkin tanpa rasa syukur dan terima kasih bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dengan karunia dan kasih sayang-Nya tidak pernah meninggalkan saya sendirian. Orang-orang yang menjalin tali persaudaraan dengan saya dan bergabung masuk kedalam Jemaat yang Allah telah dirikan dengan tangan-Nya, mereka terwarnai dengan kecintaan dan ketulusan dalam suatu corak yang aneh. Ini semua bukan karena jerih-payah saya, melainkan Tuhan dengan ihsan-Nya yang khas telah menganugerahkan kepada saya ruh-ruh yang penuh dengan ketulusan.

Hal pertama, timbul gejolak dalam hati saya ingin menyebut saudara ruhani saya yang namanya seperti nur keikhlasan dan pengabdiannya adalah Nuruddin. Saya melihat dengan penuh hasrat dan iri terhadap sejumlah pengkhidmatan agama yang ia lakukan dengan membelanjakan hartanya yang halal guna  meninggikan nama Islam. Saya senantiasa melihatnya dengan pandangan hormat. Hai kiranya pengkhidmatan-pengkhidmatan itu dapat dilakukan oleh diri saya sendiri.

Hatinya penuh dengan gejolak dan gairah untuk mendukung agama Allah, yang dengan melihatnya terbayang oleh saya gambaran akan kekuasaan dan kemuliaan Allah. Saya kagum bagaimana Dia menarik hati para hamba-Nya kepada-Nya, dan mereka dengan segenap harta, kekuatan, sarana dan fasilitas yang ada pada mereka, setiap saat senantiasa siap sedia menaati Allah dan Rasul-Nya. Saya mengetahui hal ini dengan pengalaman dan bukan hanya sekedar berprasangka baik bahkan dengan pengetahuan yang sebenarnya bahwa siap sedia akan berkorban di jalan saya ini jangankan harta, bahkan jiwa dan kehormatan sekalipun akan dia korbankan.

Jika saya mengizinkan, dengan mengorbankan segala sesuatu di jalan ini maka seperti persaudaraan ruhaninya, dia akan menunaikan tuntutan persaudaraan jasmani dan akan siap tinggal bersama saya setiap saat. Beberapa baris dari surat-suratnya akan saya sampaikan kepada para pemerhati supaya mereka memaklumi saudara saya, Maulwi Hakim Nuruddin dari Bhera, tabib dari Negara Jammu, telah meraih kemajuan apa dalam martabat-martabat cinta dan ketulusan. Catatan suratnya adalah: “Assalamu ‘alaikum wr. wb. Maulana, guru kami dan Imam kami!

Yang mulia, doa saya semoga saya setiap saat dapat menyertai Hudhur sehingga saya dapat meraih dari Imam Zaman semua tujuan yang untuk mana Hudhur dipilih sebagai Pembaharu. Jika Hudhur mengizinkan, saya akan meninggalkan pekerjaan saya dan siang malam tinggal untuk melakukan pengkhidmatan kepada Tuan. Atau jika ada perintah maka dengan meninggalkan semua perhubungan, saya berkeliling dunia menyeru manusia kepada agama Allah dan menyerahkan jiwa saya di jalan Allah. Saya berkorban di jalan Tuan. Apapun milik saya bukanlah milik saya, tetapi milik Tuan.

Hudhur guruku dan pemanduku! Saya dengan sejujurnya memohon kepada Tuan bahwa semua harta benda saya jika dibelanjakan di jalan Allah maka saya telah mencapai maksud saya….Jalinan erat antara saya dengan Tuan ialah jalinan Faruqiyyat.[22] Segala sesuatunya siap dikorbankan di jalan ini. Doakanlah semoga kewafatan saya adalah kewafatan orang-orang yang saleh”.

Ketulusan Tn. Maulwi, komitmen, rasa solidaritas dan kejujurannya sebagaimana terlihat dari ucapannya, lebih dari itu lebih jelas dari kondisi sikapnya dan nampak pula dari ketulusan pengkhidmatannya dan dia dengan gejolak sempurna ketulusan dan cinta menginginkan bahwa segala sesuatunya sehingga barang-barang keperluan rumah tangganya yang diperlukan keluarganya pun dia dapat korbankan di jalan ini. Ruhnya, gejolak cintanya dan dengan wujudnya memberikan pendidikan untuk mengayunkan langkah lebih dari kemampuannya.”[23]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis menanggapi seorang pengeritik: “Tuan berkata hanya satu Hakim Nuruddin dalam Jemaat ini yang benar-benar melakukan secara amaliah. Yang lain, seperti ini dan seperti ini. Saya tidak mengetahui bagaimana menanggapi pengada-adaan Tuan ini. Saya dengan sumpah mengatakan sekurang-kurangnya 100.000 orang di dalam Jemaat saya yang beriman kepada saya dengan hati yang tulus dan mereka menjalankan amal saleh. Saat mendengarkan kata-kata saya sedemikian rupa mereka menangis sehingga lehernya menjadi basah. Saya melihat perubahan pada ribuan orang yang baiat di tangan saya yang mana saya menganggap mereka ribuan kali lebih baik daripada orang-orang yang beriman pada Nabi Musa as pada masa hidupnya. Di wajah mereka saya mendapatkan nur keyakinan dan kemampuan para sahabat. Ya, jika terdapat kekurangan dalam hal kualitas mereka dikarenakan kelemahan dalam diri sebagian dari mereka, itu saya anggap termasuk dalam kategori bersifat pengecualian.”

“Saya melihat bahwa Jemaat saya seberapa dalam kebaikan dan dalam kemampuan mereka memperoleh kemajuan, inipun merupakan sebuah mukjizat. Ribuan orang berkorban dengan tulus. Jika hari ini dikatakan kepadanya bahwa berlepas dirilah dari segenap harta benda kalian, maka mereka akan siap untuk melepaskan semuanya. Tetapi saya senantiasa mendorong mereka untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang lebih. Dan kebaikan-kebaikan mereka saya tidak memperdengarkan kepada mereka, tetapi di dalam hati saya merasa gembira.”[24]

Inilah beberapa contoh yang saya sajikan, di dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud yang tercinta ini ribuan sampai ratusan ribu contoh seperti itu berserakan dimana-mana. Hadhrat Masih Mau’ud as pada zamannya beliau menyebutkan angka ratusan ribu sementara kini tentu menjadi tambah lebih banyak lagi yang telah meningkatkan standar keikhlasannya.

Banyak sekali peristiwa kesetiaan, keikhlasan, hubungan, kecintaan dan ketaatannya yang tidak kita ketahui. Orang-orang ini datang dengan diam-diam dan setelah menorehkan teladan kecintaan, kesetiaan dan ketulusannya mereka pergi dari dunia ini dengan diam-diam. Keturunan orang-orang mukhlis yang seperti itu seyogianya mencatat peristiwa-peristiwa sesepuh mereka dan serahkanlah pada Jemaat sebagai sebuah dokumen data. Mereka juga harus melanjutkan tradisi-tradisi seperti itu di keluarga mereka dan kisahkanlah juga kepada generasi muda, “Sesepuh kita telah menegakkan tradisi ini dan kita harus meneruskan itu.”

Sejauh kita iri terhadap para sesepuh kita yang seperti itu, bagaimana pengorbanan mereka menjadikan mereka pewaris doa-doa Imam Zaman maka seyogianya kita pun harus ingat bahwa sekarang peluang masih ada untuk menjadi pewaris doa-doa itu. Marilah kita terus tegakkan contoh-contoh kesetiaan, keikhlasan, ketaatan, jalinan dan kecintaan dan kita terus menjadi pewaris karunia-karunia Allah. Ingatlah! Selama contoh-contoh teladan ini senantiasa tegak maka permusuhan dunia sedikit pun tidak akan bisa merugikan kita. Senantiasa ingatlah sabda Hadhrat Masih Mau’ud ini, “Bumi sedikitpun tidak akan dapat merugikan kalian selama tetap ada ikatan yang kuat dengan langit.”

Orang-orang selain Ahmadiyah pun melihat dan juga mengakui perubahan-perubahan itu. Perubahan-perubahan itu demikian rupa jelasnya sehingga mereka terpaksa mengakuinya bahwa dengan beriman kepada Imam Zaman di dalam diri warga Jemaat Ahmadiyah banyak lahir perubahan-perubahan positif, meski sikap mereka bersikeras menentang Jemaat. Walhasil saya hendak menyampaikan contoh pengakuan itu. Allamah Muhammad Iqbal menulis, “Di Punjab umat Muslim dalam karakternya yang murni muncul dengan corak yang kuat dalam diri sebuah Jemaat yang disebut Qadiyani (Ahmadiyah).”[25]

Allamah Niyaz Fatahpuri menulis mengenai Masih Mau’ud as, “Kita tidak bisa mengingkarinya  bahwa dia telah menghidupkan kembali akhlak Islam dan mendirikan sebuah Jemaat yang kehidupannya merupakan pantulan sejati dari akhlak mulia Baginda Nabi saw.”[26]

Kemudian redaktur surat kabar Statesment menulis: “Di kota suci Qadian lahir seorang utusan (rasul) berkebangsaan India yang telah memenuhi masyarakat lingkungannya dengan kebaikan dan akhlak mulia. Sifat mulia ini tercermin dalam kehidupan ratusan ribu para penganutnya.”[27]

Abdurrahim Asyraf Azad dalam mengomentari perubahan revolusioner yang lahir dalam Jemaat Ahmadiyah menulis: “Ribuan orang memilih berpisah dengan keluarganya untuk mazhab yang baru ini. Mereka rela dan bersabar menghadapi kerugian-kerugian dan mempersembahkan pengorbanan harta dan jiwa mereka. Kami mengakui dengan lapang dada bahwa orang-orang Qadiani (Ahmadi) dalam jumlah yang cukup banyak merupakan orang-orang yang tulus meyakini keyakinannya itu sebagai sebuah kebenaran yang demi itu mereka seiap-sedia mengorbankan harta, jiwa, sarana-sarana dan fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Inilah orang-orang yang sejumlah warganya menyambut dengan ucapan labbaik atas hukuman mati di Kabul. Di daerah-daerah yang jauh di luar negeri mereka menerima kehidupan miskin dan kehidupan yang tidak memiliki apa-apa.”[28]

Kendatipun demikian merupakan nasib malang mereka yang tidak mendapat taufik untuk beriman, namun, Alhamdulillah, pengakuan mereka telah mempertebal keimanan kita. Semoga Allah senantiasa terus menerus memperteguh iman kita dan semoga kita termasuk orang yang setiap saat memenuhi janji syarat baiat dengan senang hati, dan menganggap itu sebagai kewajiban sehingga kita dapat menjadi waris keridhaan Allah.

[1] Syarat kesembilan: ”Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya dan sedapat mungkin akan mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan ni’mat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.”

[2] Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Anshar r.’anhum, hadits Muadz ibn Jabal ra, menjawab pertanyaan perihal iman yang terbaik, Nabi saw menjawab, (أَفْضَلُ الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ للِه وَتُبْغِضَ فِي اللهِ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللهِ “Iman paling utama ialah engkau menyukai dan membenci karena Allah dan menjalankan pembicaraan dalam dzikir kepada Allah.” Ditanya, apakah itu? Maka, Nabi saw menjawab, ((وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْراً أَوْ تَصْمُتَ)) “Engkau menyukai sikap/perlakuan terhadap sesama manusia yang engkau juga menyukai sikap/perlakuan itu terjadi atas diri engkau. Dan engkau benci sesuatu yang terjadi atas mereka yang mana itu juga kaubenci terjadi atas diri engkau, kamu berkata-kata yang baik atau diam.”

[3] AshhaabiAhmad jilid I hal. 199-200

[4] Ashhabi Ahmad jilid 11 hal.175-176

[5] Ashhab Ahmad jilid 11 hal. 186.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang perceraian, bab li’an, no. 5304.

[7] Al-Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Nabi-Nabi, bab , no. 3467

dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah ra berkata; Nabi saw bersabda: “Ada seekor anjing yang sedang berputar-putar dekat sebuah sumur dan hampir mati karena kehausan lalu dilihat oleh seorang wanita pezina dari para pezina Bani Isra’il lalu wanita itu melepas sepatunya (dan mengambil air dengan sepatu itu) kemudian memberi minum anjing tersebut sehingga dia diampuni karena perbuatannya itu”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ، فَغُفِرَ لَهَا بِهِ ‏”‏‏.‏

[8] Ruh pruryaade hal. 287

[9] Syarat Baiat kesepuluh: ”Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba Allah Ta’ala ini semata-mata karena Allah dengan pengakuan ketaatan dalam hal ma’ruf (segala yang baik) dan akan tetap berdiri diatas perjanjian ini hingga mautnya. Jalinan tali persaudaraan ini begitu tinggi derajatnya (mulianya) sehingga tidak akan diperoleh bandingannya baik dalam ikatan persaudaraan dunia, maupun dalam kekeluargaan atau dalam segala macam hubungan antara hamba dengan tuannya.”

[10] Anjami Atham; Ruhani Khazain, jilid nomor 11 hal. 313-314).

[11] Nisyani Asmani; Ruhani Khazain, jilid 4hal.407

[12] Fatah Islam; Ruhani Khazain, jilid 3 hal 36

[13] Izalah Auham; Ruhani Khazain, jilid nomor 3 hal.531

[14] Izalah Auham; Ruhani Khazain, jilid nomor 3 hal. 532

[15] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jenazah, no. 1303. Ucapan sabda Nabi saw atas kehilangan orang yang beliau cintai. ‏‏‏”‏ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ ‏”

[16] Fatah Islam; Ruhani Khazain, jilid no. 3 hal. 39

[17] Ashhabi Ahmad, jilid 6 hal. 10

[18] Ashhabi Ahmad, jiIid 6 hal. 98

[19] Tarikh Ahmadiyah, jilid 5

[20] Harian Al-Fadhaal, Qadian 1Agustus 1944 hal. 1-2, Referensi Sayyid Abdus-Sattar Syah Sahib hal. 122-124

[21] Tadzkiratusy-Syahadatain; Ruhani Khazain, jilid 20 hal. 109

[22] Yaitu sebagaimana Hadhrat Umar ra mempunyai jalinan erat dengan Nabi saw dan keislaman beliau ra menjadi sarana kemuliaan Islam dan Nabi saw, demikian pula saya ingin berperan serupa dengan itu terhadap Tuan. (penerjemah)

[23] Fatah Islam; Ruhani Khazain, jilid 3 hal. 35-37

[24] Siratul-Mahdi bagian I hal. 165.

[25] Qaumi Zindegi our Millat baedha par iek umrani nazhal. 84; The Muslim Community, A Sociological Study by Allamah Dr. Mohammad Iqbal

[26] Mulahazhaat Niyaz Fatahpuri hal. 39, compiled by Muhammad Ajmal Shahid, M.A.

[27] Statesment Dehli 12 Februari 1949, Dr. Shanker Das Mehra

[28] Harian Al-Member Lailpur 2 Maret 1952 hal. 10.