Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Jalsah Salanah Jerman 2016

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

2 September 2016 di Jerman

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Jerman yang diselenggarakan selama tiga hari akan dimulai pada hari ini. Jalsah akan dimulai dengan melaksanakan shalat Jumat. Sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as telah meletakkan pondasi acara tahunan ini yang bertujuan untuk perubahan akhlak dan ruhani para Ahmadi. Tahun ini, genap 125 tahun dari sejak Jalsah Salanah pertama diadakan.

Jalsah ini awalnya diadakan di satu bagian masjid yang terletak di dusun kecil di Qadian. Sejumlah 75 orang hadir di pertemuan tersebut, yang datang dengan membawa semangat perubahan suci untuk menjadi seseorang yang lebih baik di masa yang akan datang dengan menjadi penolong Hadhrat Masih Mau’ud as.[1] Sebagai hasilnya, saat ini kita melihat buah dari janji yang telah mereka ikrarkan pada saat itu demi perubahan dunia ke arah yang lebih baik dan untuk penyebaran agama Islam ke seluruh pelosok dunia. Allah Ta’ala menganugerahi karunia dan keberkatan kepada pekerjaan mereka dan juga niat mereka sehingga pada hari ini, Jemaat Jerman mengadakan Jalsah mereka di sebuah hall yang sangat luas ini, di seluruh area komplek yang merupakan lahan yang sangat luas. Selain hall (ruangan) yang sangat luas ini, tenda-tenda juga telah didirikan di luar, di lahan terbuka, untuk berbagai macam kebutuhan. Jika kita lihat sarana-sarana duniawi, sangat tidak mungkin bagi kita untuk menyediakan biaya sangat besar untuk ini semua, namun Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang luar biasa kepada Jemaat sehingga kita dapat menyelenggarakan Jalsah di tempat ini. (Mohon panitia Jalsah mengkonfirmasi mengapa suara gema memantul, dan juga hendaknya menjelaskan apakah suara sampai ke ujung ruangan atau tidak.)

Sebagaimana yang telah saya katakan, Hadhrat Masih Mau’ud as mengadakan pertemuan semacam ini setelah mendapat izin dari Allah Ta’ala.[2] Tujuan utama pertemuan ini adalah semata-mata untuk perubahan akhlak dan ruhani para anggota Jemaat. Tujuan Jalsah ini adalah untuk menjadi satu sarana guna mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menambah keilmuan dan pemahaman kita, membawa perubahan positif dan menjadikannya bagian dari dalam diri kita, melindungi diri kita dari segala hasrat duniawi, berjanji akan senantiasa menyebarkan ajaran Islam di dunia ini dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memenuhi janjinya tersebut, serta untuk meningkatkan kasih sayang dan persaudaraan satu sama lain.[3]

Para pendahulu kita telah memenuhi tujuan-tujuan dari Jalsah tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang sedemikan rupa kepada Jalsah di sebuah desa kecil pada masa itu, sehingga pada hari ini, Jalsah serupa diadakan di seluruh Negara di dunia ini dimana Jemaat kita telah berdiri di sana. Tujuan Jalsah yang diadakan hari ini sama persis dengan apa yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as ketika Jalsah Qadian pada masa itu dan saya pun telah sampaikan ringkasannya.

Maka dari itu, apabila kita berkumpul pada hari ini untuk meraih tujuan-tujuan tersebut, kita akan termasuk orang-orang yang beruntung karena kita akan menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala. Namun sebaliknya, amat merugi apabila kita atau siapa saja dari kita yang datang ke Jalsah ini menganggap Jalsah ini sama saja seperti pameran atau pertemuan biasa. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang-orang shaleh dan inilah yang sedang kita lakukan, yaitu berkumpul dan bergaul dengan orang-orang shaleh. Oleh karena itu, setiap Ahmadi yang datang ke sini hendaknya harus senantiasa berusaha untuk memutuskan segala macam hubungan duniawi selama tiga hari ini. Dan bahkan setelah Jalsah ini berakhir pun, alih-alih terbenam dan larut dalam urusan-urusan duniwi, walaupun memang ada pekerjaan, bisnis, mencari nafkah dan kedua-kedua-nya perlu, tapi meski demikian, ia hendaknya berjanji untuk tetap melanjutkan amal-amal shaleh yang dilakukan selama Jalsah ini sehingga dapat terus mendapatkan karunia Allah Ta’ala.

Selama tiga hari ini, sibukkanlah diri dalam berdzikir kepada Allah Ta’ala, selain ibadah-ibadah wajib dan nafal lainnya. Sucikanlah pikiran dengan senantiasa mengingat Allah Ta’ala dan perhatian kita hendaknya selalu tertuju kepada Allah Ta’ala, sehingga dengan begitu ia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk. Inilah tujuan ibadah. Dengan selalu mengingat Allah Ta’ala, maka hal itu akan menarik perhatian kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib. Jika seseorang larut dan sibuk dalam beribadah dengan sebaik-baiknya, maka sebagai akibatnya, ibadahnya itu akan menarik perhatiannya untuk senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala. Setiap orang hendaknya harus memperhatikan perkara ini.

Allah Ta’ala telah meletakkan dalam agama Islam satu rukun (pokok mendasar) untuk beribadah kepada-Nya dan walaupun rukun ini tidak wajib untuk setiap umat Muslim di setiap keadaan dan situasi, tetapi setiap tahun, ratusan ribu umat Muslim menjalankan kewajiban ini. Rukun ini adalah kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji yang akan dilaksanakan beberapa hari mendatang. Dengan menarik perhatian kita kepada ibadah haji, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada umat Muslim agar selama hari-hari haji ini, mereka memusatkan segenap perhatian mereka kepada Allah Ta’ala karena tujuan dari ibadah Haji tidak akan dapat terpenuhi tanpa hal tersebut.

Walaupun, dikarenakan nuansa ibadah Haji yang begitu kental, dan suasana selama Ibadah haji yang begitu suci, sehingga membuat orang-orang yang menunaikan Haji tidak dapat memikirkan hal-hal lain selain mengingat Allah Ta’ala, menyebut-nyebut sifat-sifat-Nya dan memuji-Nya, tetapi Allah juga menarik perhatian kita bahwa dikarenakan begitu padat dan sesaknya jamaah haji, dikarenakan banyaknya orang yang berkumpul di satu tempat secara bersamaan, maka perbuatan-perbuatan jahat pun bermunculan. Allah Ta’ala Maha Mengetahui fitrat manusia. Dia telah menarik perhatian kita kepada tiga keburukan di masa-masa Haji ini yang harus dihindari oleh setiap orang. Kita harus berdoa sepanjang waktu agar Allah Ta’ala menyelamatkan diri kita dari berbagai macam godaan setan dan senantiasa memberikan perhatian khusus kepada perkara ini.

Allah Ta’ala telah menarik perhatian para jamaah haji perihal tiga buah keburukan[4], yang pertama, رَفَثَ rafatsa, yang diterjemahkan sebagai percakapan buruk atau tidak senonoh. Maksud Rafatsa adalah pembicaraan yang laghaw (sia-sia, bertele-tele, perkataan kotor, membicarakan seseorang, cerita-cerita kotor, duduk bercengkrama yang membuang-buang waktu). Semuanya termasuk kategori ini. Oleh karena itu, dengan jelas dalam kalimat ini telah melarang semua pembicaraan yang sia-sia dan tidak berguna seperti itu. Jangan sampai ada yang beranggapan siapa saja yang melakukan hal-hal tersebut ketika sedang menunaikan Ibadah Haji?

Siapa saja yang menunaikan ibadah Haji dengan niat yang suci dan tulus, maka diharapkan agar ia mengorbankan segala sesuatunya demi Allah Ta’ala. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda: “Ketika saya menunaikan ibadah Haji, seorang pemuda tawaf bersama dengan saya. Selama tawaf, ia terus saja bernyanyi lagu dari film-film sebagai pengganti dari doa-doa. Dia berasal dari India.”

Saya berkata kepadanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Dia berkata, “Saya tidak mengetahui doa-doa yang harus dipanjatkan selama haji. Kami adalah pebisnis. Kami memiliki sebuah toko pakaian yang besar di Kalkutta. Kami bersaing dengan toko pakaian lainnya. Mereka semua pebisnis yang baik. Salah satu diantara mereka pulang dari menunaikan ibadah Haji. Lalu, dia menambahkan gelar ‘Haji’ (sebutan untuk seseorang yang sudah menunaikan ibadah Haji) di depan namanya dan ditulis di papan nama tokonya itu. Hal itu membuat orang-orang semakin tertarik kepada mereka karena toko ini adalah toko milik seorang Haji. Jadi, ayah saya berkata kepada saya bahwa karena ia tidak dapat menunaikan ibadah Haji dikarenakan sakit dan usia yang sudah tua serta alasan-alasan lainnya, oleh karena itu, saya harus pergi menunaikan ibadah Haji sehingga kami bisa mempunyai papan nama dengan gelar ‘Haji’ di depannya. Inilah sebabnya mengapa saya di sini. Saya menunaikan ibadah Haji untuk meningkatkan bisnis kami”

Demikianlah, apabila orang-orang pergi menunaikan ibadah Haji dengan niat dan tujuan seperti itu, maka pikiran apa lagi yang tidak mungkin muncul ketika beribadah atau ketika menghadiri pertemuan-pertemuan seperti ini?

Selanjutnya, Allah Ta’ala memberitahukan supaya tidak melakukan فُسُوقَ Fusuuq (2:198) selama hari-hari Haji. Janganlah lalai dalam hal ketaatan kepada Allah Ta’ala. Patuhilah semua perintah Allah Ta’ala. Tetaplah berjalan di atas jalan ketakwaan yang telah kalian jalani. Janganlah condong kepada perbuatan-perbuatan yang buruk.

Kemudian, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menghindari جِدَالَ Jidaal selama ibadah haji (2: 198), yaitu segala bentuk pertikaian dan perselisihan. Hadhrat Muslih Mau’ud ra suatu kali menceritakan, “Jika orang-orang datang ke Jalsah kita dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk mencegah keburukan selama menunaikan ibadah haji itu, maka ishlaah (revolusi ruhani) yang sangat luar biasa akan terjadi.”[5]

Tentu, beliau juga meletakkan sebuah prinsip yang fundamental (amat penting) untuk terjadinya suatu reformasi. Kita tidak mengatakan, Naudzubillah, kedudukan Jalsah ini sama derajatnya dengan Haji, karena sebagian penentang kita mengatakan bahwa kita pergi ke Qadian untuk menunaikan ibadah Haji. Itu tidak benar. Tetapi, Jalsah ini adalah satu pondasi yang didirikan sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala demi kemajuan dan perubahan ruhani seseorang. Oleh karena itu, ingatlah hal tersebut.

Jika kita senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip ini di dalam setiap Jalsah, yaitu semata-mata demi meraih kemajuan ruhani dan juga ishlaah (perbaikan) diri, maka tingkat reformasi dalam diri kita pun akan semakin meningkat. Jalsah bukanlah sebuah ibadah, tapi ini adalah seperti sebuah Training Camp (Kamp Pelatihan) yang diadakan untuk kemajuan ruhani. Jika di dalamnya, kita tidak dapat mencegah diri kita dari pembicaraan-pembicaraan yang laghaw, caci makian, kata-kata kotor, dan obrolan-obrolan serta cerita yang sia-sia, maka kita tidak akan dapat meraih tujuan dari Jalsah itu. Kita harus menghindari semua hal itu. Jika kita bisa terhindar dari pembicaraan yang sia-sia dan dari juga obrolan-obrolan yang sia-sia, maka suasana yang penuh dengan ketenangan, kedamaian dan juga ketakwaan, akan tercipta dan dengan begitu, maka tujuan dari Jalsah pun akan dapat diraih.

Seseorang harus menghindari Fusuq, yaitu dosa karena kita keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan perkara yang sangat penting. Jika kita datang ke sini untuk tujuan ruhani, maka kita harus berupaya sekuat tenaga untuk senantiasa taat kepada Allah Ta’ala. Ringkasnya, bersamaan dengan mengamalkan ajaran-ajaran Al Quran di dalam diri kita masing-masing, kita juga harus melaksanakan kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah dan mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala lainnya.

Kita diperintahkan secara keras oleh Allah Ta’ala untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak hubungan persaudaraan yang membuat tali persaudaraan tersebut terus terputus selama bertahun-tahun lalu terkadang timbul pertikaian dan perselisihan diantara mereka.

Tujuan Jalsah yang telah disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as pada dasarnya meliputi tiga hal tadi, yaitu kita mendapatkan kesempatan bagi reformasi akhlak kita, reformasi diri kita dan mencegah segala perilaku-perilaku buruk serta memberikan perhatian kepada Allah Ta’ala dan memberikan satu perhatian khusus untuk bertingkah laku sesuai dengan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh ketaatan, menciptakan satu hubungan persaudaraan yang dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang dengan saudara-saudara ruhani dan kita harus menghilangkan segala bentuk keegoisan dan juga ketidakharmonisan.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menyaksikan suatu waktu, orang-orang tidak menaruh perhatian sebagaimana mestinya untuk memenuhi hak-hak orang lain dan egoisme telah meliputi beberapa orang anggota sedemikian rupa sehingga perkara kecil bisa berakibat adu pendapat dan perdebatan, maka beliau as menyatakan rasa ketidaksukaan beliau dengan tidak mengadakan Jalsah pada tahun itu.[6]

Oleh karena itu, setiap orang yang ikut serta berpartisipasi dalam Jalsah hendaknya selalu ingat bahwa dia harus memberikan perhatian kepada perubahan dalam dirinya, daripada menghabiskan waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia. Dia harus mendengarkan seluruh acara di Jalsah guna memenuhi tujuan kehadirannya di Jalsah tersebut. Topik-topik perihal perubahan akhlak dan ketakwaan dapat ditemukan di semua pidato-pidato yang disampaikan di Jalsah ini. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa mereka tidak mendapatkan apa-apa sama sekali karena, para ulama Jemaat senantiasa menyampaikan atau paling tidak, mengingatkan kembali hal-hal yang berkenaan dengan Islah tersebut. Oleh karena itu, orang yang hadir di Jalsah harus mendengarkannya dengan penuh antusias.

Untuk meningkatkan keruhanian seseorang, maka sangat perlu untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Selain itu, perlu juga ada perhatian khusus untuk memenuhi hak-hak orang lain. Jangan sampai ada perdebatan atau pertikaian yang terjadi di dalam Jalsah. Untuk meraih karunia yang hakiki dari Jalsah ini, pertanyaannya bukanlah apakah telah terjadi pertikaian atau tidak. Tapi, demi meraih karunia yang sesungguhnya serta untuk mendapatkan manfaat dari doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as, jika memang ada pertikaian yang terjadi sejak sebelum Jalsah, maka bukannya bertikai di Jalsah ini, tapi justru mereka harus berdamai satu sama lain dan mengakhiri perselisihan diantara mereka itu. Hilangkanlah ego kalian.

Saya tahu setiap tahun di Jalsah, terkadang ada rasa ketidaksenangan diantara orang-orang terhadap beberapa keluarga dan beberapa orang karena perselisihan-perselisihan yang sudah lama terjadi sehingga mereka menjauh satu sama lain. Setiap orang datang ke Jalsah ini dan apabila dua orang yang sebelumnya telah bermusuhan lalu mereka bertemu di Jalsah, maka mereka pun mulai bertikai.

Setiap Ahmadi datang ke Jalsah ini. Kita tidak bisa mengatakan kenapa dia datang ke Jalsah ini, kenapa dia tidak datang. Diantara orang-orang yang saling bertikai itu, ada laki-laki dan juga perempuan, dan ketika saling berpapasan, mereka menunjukkan rasa ketidaksenangan dan permusuhan. Terkadang, sambil berjalan, seseorang dengan sengaja melontarkan perkataan menyinggung dan ditujukan kepada lawannya itu. Dan lawannya, yang memang sebelumnya juga memendam rasa permusuhan kepada orang itu, membalas perkataannya itu, hingga timbul perkelahian diantara mereka. Dengan perbuatan mereka tersebut, mereka telah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Jika seseorang tidak bisa mengontrol emosinya, maka lebih baik mereka keluar dari arena Jalsah dan tidak ikut serta dalam Jalsah ini. Hanya ada segelintir orang saja yang berbuat semacam itu, yang pada akhirnya telah mencemarkan nama baik Jemaat. Dengan perilaku mereka tersebut, bukannya mendapatkan keberkatan-keberkatan dari Jalsah ini, mereka justru akan mendapatkan murka Allah Ta’ala. Apakah Allah Ta’ala akan menyukai orang-orang mukmin seperti itu, yang datang dan berkumpul di Jalsah ini, bukannya untuk meraih kemajuan ruhani tapi justru menciptakan kekacauan dan keburukan?

Ketika Allah Ta’ala berfirman perihal orang-orang yang meraih kesuksesan, setelah menyebutkan mereka yang merendahkan diri dalam shalat mereka, Dia menyebutkan juga orang-orang yang berusaha mencegah perbuatan-perbuatan yang laghaw. Allah Ta’ala berfirman, قَدْأَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ*الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ*وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِمُعْرِضُونَ “Kesuksesan pasti datang kepada orang-orang beriman, yang khusyu’ dalam shalat mereka dan yang menghindarkan dari dari hal yang sia-sia…”(23: 2-4)

Hendaknya kita datang ke sini semata-mata dengan tujuan keruhanian. Hampir semua orang ikut serta dalam shalat dan doa, akan tetapi Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mendirikan shalat dengan penuh kerendahan hati, kekhusuan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, bukan untuk tujuan ingin dilihat oleh orang lain.

Menciptakan persatuan merupakan salah satu tujuan shalat berjamaah. Hadir di depan Allah Ta’ala sebagai satu kesatuan sehingga keruhanian dan keimanan dari satu orang dapat menular dan diserap oleh orang lain. Mereka yang mendirikan shalat dengan penuh kerendahan hati dan tunduk sujud di hadapan Allah Ta’ala, maka dampaknya juga akan berpengaruh kepada mereka yang imannya lemah, yang berada di dekatnya. Tapi hal itu baru dapat terjadi apabila shalat mereka dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Beberapa orang menulis kepada saya bahwa mereka merasakan satu kenikmatan khas ketika shalat di Jalsah ini. Setiap orang harus berusaha untuk meraih kenikmatan tersebut sehingga mereka termasuk ke dalam orang-orang beriman yang akan mendapatkan kesuksesan dan kejayaan. Allah Ta’ala telah menciptakan berbagai macam sarana untuk dapat meraih kesuksesan. Kesuksesan yang sejati hanya akan dapat diraih dengan menggunakan sarana-sarana tersebut.

Dari ayat yang saya tilawatkan, jelaslah bahwa sarana kedua yang telah Allah Ta’ala sebutkan adalah menghindari hal-hal yang laghaw (sia-sia). Setiap Ahmadi harus memberikan perhatian yang khusus kepada hal ini, baik selama berlangsungnya Jalsah dan juga setelah berakhirnya Jalsah ini. Ketika menjelaskan mengenai al-laghw, Hadhrat Khalifatul Masih I ra bersabda, “Semua hal ini dapat dikategorikan termasuk ke dalam perbuatan laghw, yaitu segala bentuk kebohongan, setiap jenis dosa, bermain kartu, judi, gosip dan mencari-cari kesalahan orang. Semua itu termasuk ke dalam perbuatan yang laghw.”[7]

Beliau ra memberi contoh permainan kartu dan judi; yang mengingatkan saya pada sebuah gambar yang dikirim di WhatsApp, dimana lingkungan ruhani dan tempat-tempat yang suci tidak memiliki pengaruh apapun bagi sebagian orang. Saya telah menyebutkan contoh tentang orang-orang yang menunaikan ibadah Haji. Gambar yang saya maksud tadi ialah gambar mereka yang sedang melaksanakan I’tikaf. Beberapa orang di gambar itu sedang membaca Al Quran dan buku-buku lainnya, sedangkan sebagian lainnya bermain kartu di sebuah tempat di mesjid itu yang dapat dilihat oleh orang-orang.

Dilihat dari komentar orang-orang tentang gambar tersebut, tampaknya kejadian itu terjadi di masjid Nabawi. Begitulah keadaan beberapa orang yang tidak dapat menahan diri untuk berbuat laghw, meskipun sedang berada di tempat ibadah yang suci, padahal mereka sendiri menyatakan diri sebagai orang-orang Muslim yang sesungguhnya, sedangkan orang Ahmadi adalah kafir. Sebenarnya, orang-orang ini sedang mengolok-olok Allah Ta’ala. Tidak ada yang lebih dzalim dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan itu. Jika kita melihat contoh tersebut dari orang lain (ghair Ahmadi), kita harus mengambil pelajaran dari mereka agar hal yang sama tidak terjadi di antara kita. Pada saat bersamaan, kita juga harus memusatkan perhatian kita untuk menghindari segala bentuk perbuatan laghw.

Pada satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, mengenai perbuatan laghw, “Orang yang merdeka ialah yang terbebas dari perbuatan dan perkara-perkara sia-sia, obrolan sia-sia, majelis-majelis yang sia-sia, hubungan yang sia-sia dan pergaulan yang sia-sia.”[8]

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan semua bentuk laghw tersebut. Segala hal yang telah disebutkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as tadi saling berkaitan satu sama lain. Satu perbuatan laghw akan membawa kita melakukan perbuatan laghw lainnya. Dan jika kita merenungkan hal itu, semua perbuatan-perbuatan yang laghw, majelis-majelis yang laghw, semua itu timbul dikarenakan kita bergaul dengan orang-orang yang laghw juga dan ikut duduk dalam majelis-majelis mereka. Terkadang, emosi mereka timbul hanya karena hal-hal sepele.

Saya telah berikan contoh mengenai orang-orang yang bermain kartu ketika i’tikaf. Mereka duduk-duduk di mesjid untuk I’tikaf tapi bukannya memenuhi kewajiban-kewajiban untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, mereka justru terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang sia-sia. Orang yang duduk bersama mereka akan sama seperti orang-orang yang berbuat laghw itu. Majelis-majelis yang terdapat orang-orang semacam itu akan merusak orang lain juga, bahkan ketika mereka sedang duduk di mesjid sekalipun. Harus timbul perubahan positif di dalam diri orang-orang yang datang ke Jalsah ini, bukan hanya pada hari-hari berlangsungnya Jalsah saja, tetapi juga setelah Jalsah, agar orang-orang yang berkumpul bersama kita adalah orang-orang yang terhindar dari segala perbuatan laghw. Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan tersebut tidak akan pernah ditolak. Mereka adalah orang-orang yang diterima oleh Allah Ta’ala. Akhlak kita harus luhur dan standar kejujuran kita seyogyanya meningkat sedemikian rupa sehingga membawa dampak perubahan yang positif kepada orang-orang yang melihat amalan kita.

Pada satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati kita, “Ada satu hal penting lainnya yang perlu disampaikan yaitu Jemaat kita hendaknya seantiasa menaruh perhatian untuk menjaga mulut kita dari mengucapkan perkataan-perkataan yang laghw. Mulut merupakan beranda tubuh kita. Dengan menyucikan mulut kita, seolah-olah Allah Ta’ala telah hadir di beranda rumah (tubuh) kita. Ketika Allah Ta’ala telah berada di beranda rumah kita, maka tidak mungkin Dia tidak masuk ke dalam rumah kita kita.”[9]

Apa itu beranda? Itu ada di pintu utama atau main gate (gerbang utama) sebuah rumah. Ketika Allah Ta’ala sampai di depan pintu rumah kita, pasti Dia akan masuk ke dalam rumah kita itu. Tidak ada yang meragukan hal itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan semakin mendekat kepada orang-orang yang menghindarkan diri mereka dari segala perbuatan laghw, orang-orang yang memperlihatkan akhlak yang luhur dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika hal itu dilakukan dengan dawam, maka Allah Ta’ala akan memperlihatkan karunia-nya kepada orang-orang seperti itu dan menjadikan mereka sebagai milik-Nya. Inilah maksud dari kedatangan Allah Ta’ala di rumah, yaitu Dia menjadikan hambanya itu sebagai milik-Nya. Ketika Allah Ta’ala menjadikan seseorang milik-Nya, maka ia akan mendapatkan taufik untuk semakin meningkat dalam hal ibadah dan kebaikan. Jadi, kebaikan akan menghasilkan kebaikan juga dan pintu kedekatan kepada Allah Ta’ala akan senantiasa terbuka.

Kita datang ke sini, sebagaimana yang telah saya sampaikan, untuk meraih ridha Allah Ta’ala dengan membawa perubahan positif dalam diri kita. Jika ini yang menjadi tujuan kita, tujuan tersebut tidak akan dapat diraih hanya dengan mendengarkan ceramah-ceramah keilmuan saja, tapi tujuan itu baru akan diraih apabila kita menciptakan perubahan dalam diri kita. Demi terjadinya perubahan hakiki dalam diri kita itu, maka sambil berusaha memenuhi hak-hak Allah Ta’ala, kita juga harus memenuhi hak-hak orang lain dengan cara yang sebaik-baiknya serta senantiasa berusaha agar terhindar dari hal-hal yang laghw. Perlu ada perhatian khusus terhadap nasehat ini.

Ini merupakan sebuah karunia Allah Ta’ala sehingga Dia telah melindungi kita dan menutupi segala kelemahan dan kekurangan kita dari orang-orang luar (ghair Ahmadi). Jika setiap orang dari antara kita menginstrospeksi diri kita masing-masing, maka kita akan mendapati banyak sekali kelemahan-kelemahan dalam diri kita. Berapa banyak kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri kita jika dibandingkan dengan standar yang dikehendaki oleh Hadhrat Masih Mau’ud as? Kelemahan-kelemahan ini dapat mencemarkan nama baik Jemaat ini dan juga Hadhrat Masih Mau’ud as. Oleh karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan nasehat kepada Jemaat beliau berikut ini, “Dengan menghubungkan diri kalian dengan kami, janganlah kalian cemarkan nama baik kami.”[10]

Jika standar akhlak kita tidak baik, maka kita dapat mencoreng nama baik Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika kita terperangkap dalam hal-hal yang laghw, maka kita bisa merusak nama baik Hadhrat Masih Mau’ud as. Oleh karena itu, tanggung jawab yang sangat berat kini berada di pundak kita, para Ahmadi. Kita harus menginstrospeksi diri kita masing-masing. Sebagai contoh, Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati, “Orang-orang yang menginginkan keteguhan dalam keimanan mereka, maka mereka harus meningkatkan amalan-amalan shaleh mereka. Ini semua adalah perkara-perkara ruhani dan sebuah perbuatan yang nyata akan berdampak kepada aqidah mereka.” [11]

Jadi, tidaklah cukup dengan hanya mengatakan, “Dari segi aqidah, saya seorang Ahmadi.” Jika ada perbuatan yang tidak baik, jika ada perbuatan yang tidak mencerminkan akhlak luhur, maka perlahan demi perlahan, kelemahan-kelemahan dalam mengerjakan amal shaleh akan berdampak kepada kelemahan ruhani. Kemudian, berkenaan kepada shalat, beliau bersabda, “Dirikanlah shalat dengan penuh kekhusyuan dan berdoalah.”[12] Oleh karena itu, ciptakanlah kekhusyuan dalam shalat-shalat kita, khususnya dalam 3 hari ini, sehingga hubungan kita dengan Allah Ta’ala menjadi semakin kuat. Tujuan utama dari hadir di Jalsah ini adalah agar keruhanian kita semakin meningkat.

Untuk menarik perhatian kita ke arah hubungan yang baik dengan sesama dan menjaga perasaan orang lain, beliau bersabda, “Sebagaimana kalian memperlakukan anak-anak kalian dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, perlakukanlah juga saudara-saudara ruhani kita dengan cara seperti itu. Seseorang yang tidak memiliki akhlak yang baik, saya khawatir akan keimanannya karena dalam dirinya telah timbul benih-benih kesombongan.”[13]

Seseorang yang sombong tidak akan dapat menjadi seorang yang tulus orang lain dalam arti yang sebenarnya. Janganlah membatasi kebaikan kalian hanya kepada umat Muslim saja, tetapi jadilah seseorang yang bermanfaat bagi setiap orang, apakah dia seorang Muslim ataukah non Muslim…” Jadilah orang yang bermanfaat bagi setiap orang. Allah Ta’ala adalah Tuhan bagi setiap orang. Dia bukan hanya Tuhan bagi umat Muslim saja. Allah Ta’ala adalah Tuhan bagi setiap orang, siapapun dia dan agama manapun dia.”

“Iya, secara khusus bersikaplah simpati bagi umat Muslim.” (Secara umum bersimpatilah terhadap sesama manusia. Secara khusus, bersimpatilah terhadap umat Muslim.) Secara lebih khusus lagi, tingkatkanlah hubungan dengan orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang shaleh.” [14]

Inilah nasehat yang dapat membuat diri kita menjadi seseorang yang membawa perubahan ruhani dalam diri. Dalam diri kita akan timbul hasrat memberikan manfaat kepada orang lain. Kita akan menjadi orang-orang yang akan menghilangkan kesombongan dari dalam hati kita. Kita akan menjadi orang-orang yang berbicara dengan orang lain dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, seperti yang kita lakukan kepada anak-anak kita. Jika kita memiliki semua itu dalam diri kita maka kita akan dapat terhindar dari segala masalah-masalah yang terkadang menempatkan diri kita dalam ujian dan juga cobaan.

Sebagaimana yang saya katakan, hal-hal seperti itu pun terjadi di Jalsah ini. Saya akan katakan sekali lagi bahwa tujuan kita berkumpul di sini ialah untuk meningkatkan ruhani dan akhlak kita. Kita akan dapat memenuhi tujuan tersebut apabila kita menaruh perhatian pada usaha-usaha tidak kenal putus untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan manusia. Oleh karena itu, di dalam hari-hari ini, ingatlah selalu hal tersebut. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap orang untuk dapat mengamalkannya.

Bekerja samalah dengan panitia dalam Jalsah ini. Jika dikarenakan suatu hal, terjadi keterlambatan di pintu masuk karena proses pemeriksaan, hendaknya kita bersabar. Bekerja samalah dengan para sukarelawan, baik laki-laki atau perempuan, pemuda-pemudi, yang jumlahnya sangat banyak ini dan bantulah mereka. Janganlah melihat berapa umur mereka, tapi hendaknya melihat pada tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan kepada mereka.Dengarkanlah apa yang mereka katakan agar pekerjaannya dapat cepat selesai, dan kalian pun harus menuruti apa yang mereka perintahkan. Berdoalah untuk mereka agar Allah Ta’ala memberikan taufik kepada mereka untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan sebagaimana mestinya.

Semoga kita mendapatkan karunia yang hakiki dari pertemuan ini dan menjadi pewaris dari doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as. Aamiin.

[1] Ainah Kamalaat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 629

[2] Ainah Kamalaat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 611

[3] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain jilid 6, h. 399

[4] Surah al-Baqarah; 2:198) الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ “(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

[5] Khuthbaaat-e-Mahmud, jilid 23, h. 566-567

[6] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain jilid 6, h. 394

[7] Haqaiqul Furqan, jilid 3, h. 171

[8] Zhamimah Barahin Ahmadiyah, hishshah pancjam, Ruhani Khazain jilid 21, h. 198

[9] Malfuzhat, jilid 3, h. 245-246, edisi 1985, UK

[10] Malfuzhat, jilid 1, h. 146, edisi 1985, UK

[11] Malfuzhat, jilid 6, h. 366, edisi 1985, UK

[12] Malfuzhat, jilid 6, h. 367, edisi 1985, UK

[13] Malfuzhat, jilid 6, h. 369, edisi 1985, UK

[14] Malfuzhat, jilid 6, h. 371, edisi 1985, UK

 

(Visited 28 times, 1 visits today)