بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

 TERJEMAH KHUTBAH  HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba

Tgl 06 April 2007 di Baitul Futuh London, UK

Sekarang saya akan menjelaskan beberapa hadis yang berhubungan Sifat Maalikiyyat. Didalam satu Riwayat, Hazrat Abdullah Bin Umar r.a. berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabada : Kamu adalah penjaga bagi anak buah kamu dan kamu akan bertanggung atas perlakuan kamu terhadap anak buah kamu itu. Seorang Imam pemimpin bagi anak buahnya. Ia bertanggung jawab atas anak buahnya itu. Seorang laki2 pemimpin bagi keluarganya. Ia bertanggung atas keluarganya itu. Dia akan ditanya tentang pertanggungjawaban terhadap keluarganya. Perempuan adalah pemimpin keluarganya atas nama suaminya. Ia akan ditanya tentang tanggung jawab atas anak-anaknya. Seorang sahaya pengawas bagi harta majikannya. Dia akan ditanya tentang pertanggung jawabannya itu.

Di dalam hadis tersebut empat golongan manusia telah diperingatkan. Pertama seorang. Imam harus memperhatikan rakyatnya. Kedua seorang pimpinan(kepala) keluarga, dia pemimpin bagi anak-anak isterinya. Dia harus memperhatikan mereka. Ketiga, seorang isteri pengawas anak-anak dan harta suaminya didalam rumah tangganya. Ia harus meperhatikannya. Keempat seorang khadim (sahaya), pengawas bagi harta Majikannya. Pada akhirnya beliau saw bersabda : Orang2 ini smua telah diserahi pertanggungjawaban masing-masing.

Ingatlah bahwa Tuhan Yang Maalikul Kull  مَالِكُ الْكُلِّ Maalik bagi semua bumi dan langit yang telah menyerahi tanggungajwab terhadap mereka. Dia akan menuntut pertanggungjawaban mereka terhadap kewajiban2 mereka itu. Apakah betul2 diamalkan atau tidak diamalkan. Dihari Pembalasan nanti dimana Dia akan memberi keputusan pada hari itu mereka akan mempertanggungjawabkan dihadapan Tuhan Maaliki Yaumiddin. Hal itu semua bukanlah  perkara kecil.Orang yang merasa yaqin betul akan adanya Hari Pembalasan ini hati mereka selalu gemetar.

          Rasulullah saw bersabda, Pertama-tama Imam akan ditanya. Hal ini demikian menakutkannya sehingga membuat bulu roma sayapun berdiri. Allah swt yang telah memikulkan tanggungjawab, jangan-jangan terdapat kemalasan dalam pelaksanaan kewajiban itu. Tanggungjawab ini tidak dapat dilaksanakan hanya dengan kepandaian atau hanya dengan ilmu atau dengan akal. Jika tidak disertai dengan karunia Allah swt  maka satu langkahpun kita tidak dapat bergerak maju. Dan karunia Allah swt dapat diraih melalui do’a. Maka pertama-tama saya memohon kapada anda semua. Tolonglah saya dengan do’a. Dan saya setiap sa’at sanantiasa mendoa’kan anda semua. Karena Jema’at dan Khilafat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mudah2an Allah swt memberi taufiq kepada saya untuk melaksanakan tanggung jawab sesuai yang Dia kehendaki. Jika semua bersatu dan bersama-sama berdo’a untuk Khilafat Ahmadiyah dan Khalifa-e-waqt maka hal itu akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa untuk menarik karunia Allah swt. Sebab Imam dan Jema’at (semua warga Jema’at) dalam satu saf bersama-sama sedang memanjatkan do’a kepada Allah swt. Maka apabila do’a sedang dipanjatkan dalam satu barisan maka semangat do’apun akan tertujuju pada satu arah. Mereka juga akan berpikir, apabila kita sedang memanjatkan do’a mestilah amal perbuatan kitapun harus sejalan dan sesuai dengan hukum-hukum Tuhan. Kita harus berjalan searah dengan Khalifa-e-waqt yang sedang berkhidmat sesuai dengan hukum-hukum Allah dan RasulullaNya saw. Jika berdo’a disertai perasaan demikian maka kita akan selalu mendapat taufiq dari Allah swt untuk memperbaiki diri sendiri. Dan bagi Imampun akan mudah memberikan bimbingan dan pengawasan.

          Jadi setiap anggauta Jema’at harus memahami benar kepada point ini, dimana kewajiban Imam untuk mendirikan keadilan, memberi perhatian kearah Tarbiyyat sesuai dengan perintah Allah swt dan RasulNya, berusaha menjauhkan kesusahan mereka, memanjatkan do’a-do’a untuk mereka, maka timbal baliknya para anggauta Jema’atpun harus menegakkan perasaan demikian pada diri mereka masing-masing, bahwa jika kita mencintai Khilafat, kitapun harus meninjau keadan diri sendiri dan sambil memperhatikan nasihat-nasihat beliau kita harus berusaha menjalani kehidupan sesuai yang dikehendaki oleh Khalifa-e-wakt. Tengoklah perhatian orang tua apabila mereka melakukan Tarbiyyat anak-anaknya, kadang kala mereka menanamkan perasaan didalam pikiran anak2 mereka itu untuk membangkitkan keinginan agar mereka meninggalkan perbuatan2 buruk demi menjaga nama baik dan kehormatan orang tua mereka dan mereka mulai melakukan perbuatan2 yang baik. Untuk membangkitkan perasaan itupun pengawasan terhadap mereka merupakan satu bagian dari pekerjaan perbaikan. Maka setiap orang Jema’atpun yang terikat dengan Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. harus ingat dengan menamakan diri sebagai murid beliau as.sekali-kali jangan menodai nama beliau a.s. Tentang ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. sendiri telah menyatakan seperti apa yang telah saya katakan diatas, walaupun susunan perkataannya sedikit berbeda namun maksudnya sama.

          Demikian juga kewajiban sebagai Imam dalam menjalankan pengawasan akan terus menasihatkan demikian, sebaliknya dimanapun Jema’at sudah berdiri, para pengurus sudah dibentuk, sebagai wakil dari Imam mereka berkewajiban menjalankan tugas dengan sesungguhnya, sambil menegakkan keadilan dalam arti yang sebenarnya. Jika pada suatu waktu terjadi kesusahan atas diri mereka, maka tanpa menghiraukannya, mereka harus berusaha menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya yang telah ditetapkan kepada mereka. Supaya dapat menolong Khalifa-e-wakt dalam melaksanakan pengawasan dalam arti yang sebenarnya. Supaya nanti di Hari Pembalasan dapat membantu untuk memperoleh sukses. Amal perbuatan setiap petugas akan dipertanggung jawabkan secara langsung, dan setiap petugas dalam masing-masing ruang lingkup pekerjaannya akan ditanya pertanggungjawabannya. Ingatlah ! Dalam mewakili Khalifa-e-wakt mereka bertanggungjawab dalam segi itu. Oleh karena itu janganlah sekali-kali saudara2 berfikir bahwa sesuatu masalah dapat disembunyikan dari pandangan Khalifa-e-wakt. Baiklah, umpama kalian dapat menyembunyikannya ! Akan tetapi pandangan Allah Yang Maalik atas Hari Pembalasan dapat menembus terhadap apa yang kalian sembunyikan itu !! Harus selalu diingat ! Karena setiap petugas mempunyai pertanggungjawaban dua kali lipat, untuk itu hanyalah do’a yang dapat membawa kita kejalan yang  benar dan lurus. Dan berdo’alah supaya Allah swt menolong dalam melaksanakan kewajiban2 itu.

          Sebagai Khalifah-e-wakt selain berdo’a untuk diri sendiri saya juga berdo’a untuk semua para tugas didalam Jema’at supaya Allah swt membimbing mereka kepada jalan yang lurus dalam menegakkan keadilan,jangan sekali-kali mereka terperosok kedalam suatu perbuatan yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu kesulitan.

          Saya ingin mengingatkan Jemaat juga. Jika anda tidak melaksanakan tugas kewajiban dengan sesungguhnya, sesuai bunyi hadis seorang sahaya untuk menjaga harta majikannya, jika anda tidak menjalankan kewajiban yang diserahkan oleh Khalifa-e-wakt dengan sebaik-baiknya, maka keadaannya akan seperti orang yang tidak menjaga harta majikannya dengan sebaik-baiknya. Apabila Khalifa-e-wakt meminta musyawarah dari anda dan anda tidak memberikan pendapat yang benar, maka anda telah melakukan pengkhianatan. Jika sedang menjalankan tugas dengan penuh keadilan dan tidak memilih orang yang memiliki keahlian untuk satu tugas yang sedang dipilih namun memilih orang lain kerana teman atau kerana mempunyai hubungan keluarga atau kaum kerabat dengan dia, maka sama dengan melanggar perintah Allah swt ini

           اَنْ تُؤَدُّوا اْلاَمنتِ اِلى اَهْلِهَا (سورة النسـاء اية 59 )

Artinya : Supaya kamu menyerahkan amanat-amanat itu kepada yang berhak menerimanya ( yang selalu berlaku adil).

Siapapun harus berpegang kepada peraturan ini yaitu bila saja membuat suatu keputusan ia harus berlaku adil. Kewajiban2 yang diserahkan kepadanya harus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan keadilan. Jika tidak, maka jangan mengira apa yang sedang berlaku disini akan berlaku terus sepanjangnya. Rasulullah saw bersabda, nanti di Hari Pembalasan kamu akan ditanyai pertanggungjawabannya.

Maka tugas Jema’atlah untuk memilih para petugas (pengurus) yang mempunyai keahlian (kemampuan). Jangan memandangkan kerana adanya hubungan pribadi, hubungan persahabatan, persaudaraan atau kekeluargaan. Demikian juga para petugas (pengurus) Jemaat mempunyai tanggung jawab sangat besar dalam menjalankan tugas mewakili Khalifa-e-wakt. Para anggauta Jema’atpun  mempunyai tanggungjawab yang sangat besar yang dibebankan diatas pundak mereka untuk memilih para petugas Jema’at yang terbaik sesuai dengan keahliannya. Menjaga harta Malik (Imam) maksudnya tiada lain ialah setiap anggauta Jema’at yang telah diberi hak untuk memberi suara ia harus melaksanakannya dengan adil.

Tahun ini tahun pemilihan pengurus baru. Sudah banyak diterima complain dari banyak tempat (negara) tentang proses pemilihan ini. Oleh karena itu dimana terdapat kejadian seperti itu, dengan ini saya mengingatkan supaya mereka harus menitik beratkan kepada do’a. Dan pilihlah para petugus (anggauta pengurus)sambil memanjatkan do’a banyak2, dan setiap pekerjaan harus disertai dengan do’a. Dimasa depan dan seterusnyapun dalam memilih para petugas Jema’at (anggauta pengurus) selalunya harus disertai dengan doa. Bantulah anggauta Pengurus dengan do’a dan bantulah saya juga dengan do’a itu.

Semoga Allah selalu memberi taufiq kepada saudara-saudara dan juga kepada saya untuk memanjatkan do’a banyak-banyak. Dan tanggung jawab yang diserahkan kepada saya semoga Dia memberi taufiq untuk melaksanakannya dengan cara yang sebaik-baiknya.

Masalah sangat penting lainnya yang perlu mendapat perhatian ialah para pemimpin rumah tangga atau kepala keluarga. Mereka harus ingat kewajiban terhadap isteri dan anak-anak mereka. Amal perbuatan mereka sendiri harus baik. Perhatian mereka lebih banyak harus diprioritaskan kearah agama dan hubungan dengan Nizam Jema’at serta hubungan dengan Nizam Khilafat harus lebih dipererat. Harus diperhatikan dan diusahakan sepenuhnya untuk menta’ati hukum-hukum Allah swt. Jika semua itu dilakukan dengan sebaik-baiknya maka barulah tarbiyyat yang sebenarnya dapat berhasil dilaksanakan. Jika mereka sendiri menepati sembahyang lima waktu dengan teratur, baru dapat mengajak isteri dan anak-anak mereka untuk mematuhi sembahyang lima waktu itu. Jika mereka sendiri menghormati Nizam Jema’at, maka mereka akan dapat mengajar isteri dan anak-anak mereka serta seluruh keluarga untuk menghormati Nizam Jema’at ini. Jika mereka sendiri dengan ta’at menyambut seruan Khalifa-e-wakt dan mendoakannya setiap sa’at, tentu merekapun dapat mengajak isteri dan anak-anak mereka untuk berbuat demikian.

Jadi tanggung jawab seorang Kepala Keluarga atau Pemimpin Rumah Tangga sangat besar dan berat sekali dan harus dilaksanakan dengan sabar. Kalau tidak, ingatlah !! Hari Pembalasan sedang menunggu dihadapan kita !!

Setelah itu Ibu Rumah Tangga (isteri) pun perlu diingatkan. Dia harus menjaga anak-anak, menjaga harta suami, dan menjaga nama baik suami dengan sebaik-baiknya. Ia harus menjaga kerapihan rumah tangga sehingga tidak ada orang yang berani mengangkat jari telunjuk kearahnya. Harta suami harus dibelanjakan dengan cara yang benar. Kadangkala perempuan membelanjakan hartanya berlebihan, atau untuk keperluan fashion membelanjakan wang melebihi batas keperluan. Hal demikian harus dihindari. Tarbiyyat anak-anak harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mereka mempunyai hubungan erat dengan Jema’at dan mempunyai rasa cinta terhadap Khilafat serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban dalam Jema’at. Disamping itu mereka harus menyadari kewajiban belajar, mempunyai perasaan untuk menunjukkan akhlaq yang tinggi, supaya suami tidak menaruh keraguan (kadangkala suami tidak ada dirumah karena menjalankan tugasnya diluar) bahwa sang isteri tidak menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya dirumah. Bukan hanya itu, Rasulullah saw bersabda, kecurigaan suami terhadap isterinya atau sekalipun menghukumnya karena kesalahannya, bukanlah perkara besar. Hal itu semua biasa terjadi kemudian berakhir didunia ini juga. Namun yang harus diingat betul adalah, isteri akan berhadapan dengan  pengadilan Allah swt di Hari Pembalasan !! Dan Allah swt lebih mengetahui apa yang akan Dia lakukan terhadapnya disana. Semoga Allah swt mengasihani setiap orang.

FirmanNya, pada hari itu akan ditanya tentang penjagaan terhadap harta Malik (Majikan), seperti sudah saya jelaskan sebelumnya. Pertama kewajiban seseorang secara zahiriah. Jika ia tidak melakukannya maka berarti ia tidak menjaga harta Majikannya. Setiap pegawai yang tidak berlaku jujur dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, baik didalam pemerintahan ataupun didalam Jema’at atau didalam perkumpulan masyarakat, berarti dia tidak melaksanakan kewajibannya. Maka sesuai dengan peraturan dan undang-undang dunia, dia akan mempertanggungjawabkan dihadapan pengadilan dunia. Maka di Hari Pembalasanpun ia akan mempertanggungjabkannya dihadapan Tuhan.

Didalam Nizam ruhani seperti didalam Jema’at ini para petugas dalam jumlah yang sangat besar perkaranya telah sampai kepada pengetahuan Imam. Para anggauta Jema’at adalah harta Allah swt, jika tarbiyyat mereka tidak diberi perhatian, mereka tidak diawasi dengan sebaik-baiknya, maka dipandang dari sudut pemerintahan duniawi karena duniapun menyaksikan mereka, tentu mereka harus diberi peringatan bahwa harta Allah swt yang tanggunggjawabnya telah diserahkan kepada kalian untuk membelanjakannya, harus dilaksanakan dengan jujur dan dengan cara yang sebaik-baiknya. Jika pelaksanaannya tidak dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan ta’lim dan tarbiyyat rakyat dan  tidak memberi perhatian kepada masalah keperluan2 rakyat lainnya, maka tanggung jawab yang telah dipercayakan oleh Allah Yang مَالِكُ الْكُلِّ itu tidak kalian laksanakan dengan cara yang baik. Akibatnya kalian akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan kelak di Hari Pembalasan.

Untuk meraih karunia-karunia Allah swt, maka do’apun harus banyak-banyak dipanjatkan kepadaNya sambil menyadari pentingnya tanggung jawab itu. Supaya Allah swt memberi taufiq kepada setiap orang, kepada semua petugas untuk menjalankan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Didalam uraian itu beberapa hal saja telah disebutkan, akan tetapi peringatan telah diberikan mencakup tanggungjawab setiap orang dari peringkat dasar, peringkat orang awam  sampai kepada peringkat Imam. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada setiap orang untuk menunaikan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Untuk menyelamatkan diri dalam perhitungan Allah swt sebuah hadis tentang seorang yang ketakutan telah menjelaskan sebagai missal. Dalam sebuah riwayat Hazrat Abu Sa’id r.a. menceritakan, katanya Rasulullah saw bersabda : “ Dizaman dahulu sebelum kalian ada seorang yang telah diberi oleh Allah swt banyak harta kekayaan dan juga banyak anak. Ketika sudah hampir meninggal ia berkata kepada anak-anaknya : Hai anak-anakku ! Bagaimana penilaian kalian terhadap Ayah? Anak-anaknya serempak menjawab : Ayah ! Seorang ayah yang paling baik ! Dia berkata lagi : Namun ayah tidak pernah melakukan suatu kebaikan apapun. Nanti apabila ayah menghadap Tuhan, tentu Dia akan menjatuhkan azab sebagai hukuman. Oleh sebab itu dengarlah baik-baik !! Nanti apabila ayah sudah meninggal, bakarlah mayat ayah ! Apabila mayat ayah sudah menjadi arang, gilinglah sampai halus betul seperti debu supaya bisa terbang ditiup angin ! Apabila datang angin bertiup kencang, terbangkanlah dia sampai habis! Orang itu sudah bertekad demikian. Nabi saw bersabda : Demi Allah dia sudah berbuat demikian. Kemudian Allah berfirman kepada debu-debu yang sudah beterbangan itu : Jadilah wujud kembali !! Maka tiba-tiba wujud orang itu sudah berdiri dihadapan Allah. Kemudian Allah swt bertanya kepada orang itu : Hai hambaKu ! Apa yang menyebabkan kamu telah berbuat demikian ? Orang itu menjawab dengan rasa takut: Ya Allah! Karena saya takut betul kepada Engkau!! Maka Tuhan mema’afkannya dengan kasih-sayang.” Itulah penampakan dari ayat 285 Surah Albaqarah ayat 285 ini :

                                                                                            فَيَغْـفِرُ لِمَنْ يَّشَـاءُ وَ يُعَذِّبُ مَنْ يَّشَـاءُ

Artinya : Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menjatuhkan siksaan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Terhadap orang yang takut kepada Tuhan diwaktu akan meninggalpun Allah swt memberikan pengampunan. Sebab Allah swt melalui Sifat MaalikiyyatNya berfirman :

وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا (النسـاء اية 100 )

 

Artinya : Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang

Orang itu merasa sangat takut kepada Allah swt sehingga ia terpaksa mencari jalan untuk menghindariNya. Namun Sifat Maalik telah menyediakan pengampunan dan kasih sayang untuknya. Akan tetapi hamba-hamba Allah yang mu’min harus ingat bahwa adanya kasih sayang Tuhan seperti ini hendaknya jangan menambah orang-orang mu’min berani untuk berbuat keburukan karena Dia akan mengampuninya juga berdasarkan kehendakNya sendiri. Melainkan harus semakin merudukkan hati mereka dihadapan Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang itu. Membaca istighfar harus ditingkatkan sambil mengingat dosa-dosa mereka. Harus meningkatkan kegiatan ibadah mereka kepada Allah swt. Sekalipun Allah swt demikian Pemurahnya namun banyak juga dosa-dosa yang tidak akan Dia ampuni khususnya dosa syirik (menyekutukan Dia dengan sesuatu) tidak tidak akan diampuni.

Didalam hadis terdapat sebuah riwayat, Hazrat Abu Zar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw meriwayatkan Firmman Tuhan kepada beliau saw, Allah swt berfirman : “ Hai anak Adam ! Engkau tidak berdo’a kepadaKu tapi engkau mengharapkan sesuatu dari padaKu. Sekalipun engkau telah banyak melakukan keburukan, tapi Aku akan mengampuni dosa-dosa engkau itu. Jika seandainya engkau datang membawa keburukan sepenuh bumi, Aku akan datang membawa maghfiratKu sama sepenuh bumi itu juga untuk mengampuni keburukan engkau. Jika keburukan engkau sampai memenuhi langitpun, jika engkau memohon pengampunan kepadaKu, akan Aku ampuni juga semua dosa engkau itu dengan syarat engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain.”

Jadi, menjauhi syirik sangat penting sekali. Syirik mempunyai sangat banyak macamnya. Selain itu Dia berfirman :  Mintalah pengampunan dari padaKu !  Memperbanyak do’a juga sangat diperlukan sekali. Allah swt Maalik (Pemilik) Hari Pembalasan, sifat MalikiyyatNya ini harus selalu disimpan didalam ingatan. Orang berani berbuat dosa karena menganggap Allah swt akan mengampuni dosa-dosanya itu, Tuhan sama sekali tidak suka kepada anggapan ini.

Itulah sebabnya Rasulullah saw untuk meminta ampunan dari Maalik itu, Yang Dia kehendaki Dia ampuni, Yang Dia kehendaki Dia berikan siksaan, telah mengajarkan sebuah do’a seperti berikut ini yang diriwayatkan oleh Hazrat Ibnu Umar r.a. bahwa apabila Rasulullah saw berbaring untuk tidur beliau saw selalu membaca do’a ini :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَفَّانِيْ وَاَعْوَانِيْ وَاَطْعَمَنِيْ وَسَقَانِيْ وَالَّذِيْ وَنَّ عَلَيَّ وَاَفْضَلَ وَالَّذِيْ اَعْطَانِيْ

وَاَجْدَلَ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ الَّهُمَّ رَبَّ كُللِّ شَيْءٍ وَمَالِكَ كُلِّ شَيْءٍ وَاِلـَهَ كُلِّ شَيْءٍ

وَلَكَ كُلُّ شَيْءٍ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Artinya : “  Semua pujian hanyalah untuk Engkau Yang Cukup bagiku, dan Yang telah memberi perlindungan kepadaku dan Yang telah memberi makan kepadaku memberi minum kepadaku dan Dialah Yang telah berbuat baik kepadaku.Dan dengan karuniaNya telah menganugerahkan semua itu padaku. Dan Dialah Yang telah memberinya banyak sekali padaku. Dan dalam segala keadaan semua puja-puji diucapkan hanyalah untukNya. Wahai Tuhan ! Tuhan segala sesuatu, Raja segala sesuatu, Tuhan segala sesuatu, Kepunyaan Engkaulah segala sesuatu ! Aku memohon perlindungan kepada Engkau dari Api (Neraka).

Allah swt  telah memberi kemudahan begitu banyak untuk memohon. Jika manusia menghafalnya tidak ada celah kemungkinan untuk menyekutukan sesuatu dengan Tuhan. Kemudian do’a ini, Ya Allah ! Sebagai hamba yang bersyukur aku bersujud dihadapan Engkau. Dan aku berlindung dibawah naungan Engkau supaya aku diselamatkan dari pada Api.

          Maka sekalipun banyaknya missal-misal anugrah pengampunan Allah swt yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw, yang sudah diuraikan sebelumnya, beliau saw berdo’a selalu untuk diri beliau sendiri, padahal beliau menjadi sebab diciptakannya langit dan bumi ini, beliau saw yang paling banyak menerima perlakuan istimewa dari Allah swt, yang telah dicintai dan disayangi Tuhan lebih dari pada yang lain, tapi beliau masih meminta dari Tuhan supaya diselamatkan dari Api. Hal itu semua menunjukkan bahwa orang-orang mu’min sejati sambil berusaha menjadi orang2 yang banyak bersyukur kepada Allah swt harus memberi perhatian penuh kepada do’a. Dan didalam hadis yang menjelaskan tentang pengampunan, Allah swt berfirman : “ Mintalah pengampunan dariKu !!” Hal ini menzahirkan bahwa langkah usaha menuju Tuhan sangat diperlukan. Barulah keadaan sbenarnya akan timbul. Dalam kisah seorang yang telah membunuh 100 orang, langkah orang itu sudah mengarah kepada Tuhan sehingga bumi ditempat ia menggeletak waktu meninggal bergerak maju mendekat kearah kampung orang2 suci dan bumi orang-orang jahat itu bergerak mundur semakin jauh dari kampung itu. Karena ia sudah berusaha untuk memohon ampunan dari Allah swt.

          Jadi dengan mengakui dan menyesali dosa-dosa, memohon ampunan, memuji dan menyanjung Allah swt, dan beribadah kepadaNya, menjadi sarana untuk keselamatan bagi orang mu’min. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk banyak memanjatkan do’a dan semoga Dia menempatkan kita semua dibawah perlindunganNya. Amin !!

          Dalam riwayat lain Hazrat Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Allah Tabarak Wa Ta’ala setiap malam turun kelangit yang paling bawah. Apabila malam sudah sampai pada akhirnya, maka Dia berfirman : Siapa yang berdo’a kepadaKu ? Akan Aku kabulkan do’anya! Siapa yang memohon padaKu ? Akan Aku penuhi permohonannya. Siapa yang memohon ampun kepadaKu ? Akan Aku ma’afkan ! (Riwayat Hadis Buhari). Didalam Hadis Muslim juga ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Hazrat Abu Hurairah r.a. Katanya setiap malam apabila sepertiga bagian malam sudah lewat maka Allah swt turun kelangit  dunia (langit paling dekat). Dia berseru  اَنَا الْمالِكُ- اَنَا الْمَا لِكُ  Aku Al Maalik ! Aku Al Maalik ! Yakni Akulah Maalik Yang Sejati dan Aku Raja. Siapa yang berdo’a kepadaKu, akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepadaKu, akan Aku penuhi permohonannya. Siapa yang memohon ampunan darai padaKu, akan Aku ampuninya. Peristiwa ini terus berjalan sampai terbit fajar.

          Lihatlah bagaimana baiknya Pemilik bumi dan langit ini. Dia sendiri berseru: Mintalah daripadaKu dan ambillah apa yang kamu mau dari padaKu !!  Aku punya Khazanah ! Hasilkanlah apa-apa dari KhazanahKu !.Jika kamu semua selalu Aku beri, khazanahKu tidak akan berkurang. Seorang Raja akan merasa takut kekurangan didalam khazanahnya. Tapi Aku sedikitpun tidak takut kekurangan. KhazanahKu tidak akan berkurang sedikitpun walaupun sebesar tetesan air  sebuah jarum yang dicelupkan kedalam air, air yang melekat pada jarum itu, seperti itupun khazanahKu tidak akan berkurang.

          Didalam sebuah hadis qudsi Allah swt memberitahukan beberapa hukum-hukumNya dan memberitahukan tentang khazanahNya. Hazrat Abu Zar meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa Tuhan berfirman : Wahai hamba-hambaKu ! Aku telah mengharamkan berbuat zalim atas diriKu. Dan hal itu telah diharamkan pula diatas kamu. Maka janganlah kamu berbuat zalim kepada yang lain. Hai hambaKu ! Semua orang telah sesat kecuali orang yang Aku beri hidayat kepadanya. Maka mintalah hidayah dari padaKu, tentu Aku beri hidayah kepadamu.

          Pertama akhlaq dan memenuhi hak-hak satu sama lain kemudian mengenai permintaan do’a, mengenai permohonan ampunan dan mengenai permohonan hidayah(petunhuk) Selanjutnya Tuhan berfirman : Hai hamba-hambaKu ! Kamu semua kelaparan ! Kecuali Aku memberi kamu makan.Tuhanlah pemberi segala sesuatu. Manusia makhluk tak berdaya. Janganlah manusia membanggakan diri karena kelebihan yang ada pada dirinya. Banyak pemilik kilang (pabrik) besar-besar dalam sekejap saja menjadi bankrupt (bangkrut). Banyak petani kaya raya pun dalam beberapa waktu saja menjadi hancur dan bankrupt pula. Allah swt berfirman, Akulah yang memberi makanan kepada kamu. Allah swt berfirman, kamu semua telanjang. Kacuali Aku memberi pakaian kepada kamu. Maka mintalah pakaian kepadaKu. Aku akan memberi kamu pakaian. Hai hamba-hambaKu ! Kamu siang malam melakukan perbuatan dosa. Dan Aku mema’afkan semua dosa-dosa kamu. Maka mintalah ampun kepadaKu, tentu Aku mema’afkan kamu. Hai hamba-hambaKu ! Jika kamu mau merugikan Aku  kamu tidak dapat merugikan Aku ! Dan jika kamu mau memberi keuntunganpun kepadaKu, kamu tidak dapat memberi keuntungan itu kepadaKu. Allah Ta’ala Paling Tinggi diatas segala-galanya.

Hai hamba-hambaKu ! Jika orang-orang sebelum kamu dan orang-orang sesudah kamu,  semua jin dan semua insan, jika seluruhnya menjadi seperti orang-orang yang paling suci dari antara kamu, maka hal itu sedikitpun tidak akan menambah sesuatu kelebihan didalam KerajaanKu. Jika seluruhnya menjadi orang-orang baik, maka faedah kebaikannya bukan untuk Aku, melainkan semata-mata untuk kamu semua.  Kemudian Tuhan berfirman lagi, Wahai hamba-hambaKu ! Jika orang-orang sebelum kamu dan orang-orang sesudah kamu, semua jin dan semua insan, jika seluruhnya menjadi seperti orang-orang yang paling jahat diantara kamu. Maka hal itu sedikitpun tidak dapat mengurangi sesuatu didalam KerajaanKu. Jika keburukan-keburukan menyebar merajalela, atau hukum-hukumKu tidak diamalkan, tidak berjalan diatas jalan yang lurus yang sudah Aku perintahkan sebelumnya untuk brerjalan diatasnya, maka hal itu semua sedikitpun tidak mempengaruhi KerajaanKu. Tuhan berfirman lagi, Hai hamba-hambaKu ! Jika manusia sebelum kamu dan manusia sesudah kamu, semua jin dan semua insan, semua serempak berdiri disebuah lapangan lalu semuanya meminta sesuatu dari padaKu, dan Aku memberi kepada kamu seluruhnya berapa saja banyaknya yang kamu minta itu, maka kekayaan khazanahKu sedikitpun tidak akan berkurang walaupun sebesar tetesan air yang menetes dari sebuah jarum ketika dicelupkan kedalam air. Khazanah Allah swt tidak terbatas banyaknya. FirmanNya lagi Hai hamba-hambaKu ! Kamu beramal, Aku akan menghitungnya untuk kamu. Lalu Aku akan membalas kebaikan kamu itu secara penuh. Maka siapa yang menerima pembalasan paling baik, dia memuji Allah. Dan siapa yang menerima pembalasan yang buruk dia akan menyesal. Siapa yang berbuat baik tentu Allah swt memberi ganjaran yang baik pula kepadanya. Jika tidak berbuat baik dia akan menerima hukuman. Apabila menerima hukuman ia akan menyesali dirinya.

Tengoklah bagaimana Allah swt dengan kasih sayangNya memberi ma’af kepada hamba-hambaNya. Namun kepada orang-orang yang menerima hukuman Dia berfirman: “ Sesalilah dirimu, karena perbuatan kamu itu ! Kamu tidak memperoleh faedah apapun dari PengadilanKu dan tidak memperoleh barkat dari padanya, padahal Aku adalah Ghafurur Rahim (Maha Pengampun Maha Penyayang) dan Maaliki Yaumiddin (Pemilik Hari Pembalasan)

          Sekarang saya akan menguraikan beberapa hadis yang berkenaan perilaku Rasulullah saw bagaimana beliau saw memberi contoh dalam menzahirkan sifat Malikiyyat Allah saw dengan pancaran nur Ilahi. Pada suatu ketika seorang telah dihadirkan dihadapan Rasulullah saw dan dikatakan, Ya Rasulullah orang ini telah bertekad untuk membunuh engkau. Badan orang itu gemetar sangat ketakutan, dia pikir akan menerima hukuman. Maka Rasulullah saw bersabda langsung kepada orang itu : “  Janganlah engkau takut ! Jika engkau berniyat jahat untuk membinasakan aku, sama sekali engkau tidak akan berhasil melakukannya.” Lalu orang itu dima’afkan oleh beliau. Sekalipun beliau mempunyai kekuasaan mutlaq, namaun dengan pancaran nur Malikiyyat dan Rahimiyyat Ilahi beliau telah mema’afkan orang itu yang sudah jelas bertekad dengan sungguh-sungguh utnuk membunuh beliau saw. Dari segi lainnya memang benar Allah swt telah menjamin beliau saw dengan firmanNya :

   وَ اللهُ يَـعْـصِمُكَ مِنَ النَّـاسِ 

 

yakni : Dan Allah akan melindungi engkau dari tangan jahat manusia. ( Al Maidah ayat 68)  Rasulullah saw memberitahu orang itu lagi : “ Engkau telah bertekad membinasakan aku. Aku ini seorang Rasul Allah yang benar, dan yang paling dikasihi dan dicintai  olehNya. Dia telah memberi jaminan keselamatan kepadaku. Dan aku milikNya. Dia sendiri Yang melindungi aku. Dia tidak akan membiarkan kamu atau orang seperti kamu berhasil membinasakan aku.”

          Hazrat Masih Mau’ud as bersabda : “ Dengan selamatnya Rasulullah saw dari usaha pembunuhan oleh pihak musuh, adalah sebuah mu’jizat yang sangat besar dan merupakan bukti kebenaran Alquran. Karena didalam Alquran Allah Ta’ala berfirman :

   وَ اللهُ يَـعْـصِمُكَ مِنَ النَّـاسِ 

 

dan didalam Kitab-kitab sebelumnyapun telah dinubuwatkan bahwa Nab Akhir Zaman tidak akan terbunuh oleh tangan manusia.”

          Tengoklah juga bagaimana perilaku Rasulullah saw tatkala beliau pergi bertabligh ke Taif. Badan beliau saw bersimbah darah karena perlakuan kejam pemuda-pemuda berandal disana. Tatkala beliau sedang duduk termenung diatas bukit sambil memandang kearah lembah Thaip, mengapa kaum ini telah menolak amanat kebenaran yang datang dari Tuhan beliau. Kemarahan Tuhan mulai begerak. Dan datanglah Malaikat Jibril membawa pesan Ilahi dan berkata kepada beliau : “ Hai Muhammad, Allah sawt telah mendengar jawaban kaum engkau terhadap amanat Tuhan engkau yang telah disampaikan  kepada mereka. Dan Allah swt telah berfirman kepada Malakul Jibal (Malaikat yang menguasai Bukit ini) “ Engkau lakukanlah apa yang engkau kehendaki terhadap kaum engkau itu ! Maka Malakul Jibalpun mendatangi Muhammad (saw) dan berkata, hai Muhammad perintahkanlah kepadaku apa yang engkau ingin lakukan terhadap kaum engkau itu ! Jika engkau suka, akan aku gilas mereka itu dengan kedua buah bukit ini !! Muhammad saw menjawab : “ Tidak ! Aku tidak mau berbuat demikian ! Aku mengharapkan semoga Allah swt menciptakan dari mereka keturunan yang akan menyembah Tuhan Yang Tunggal dan tidak akan menyekutukan sesuatu denganNya.”

          Demikianlah tauladan beliau saw ! Sekalipun telah dilimpahi wewenang penuh, namun kasih sayang beliau saw telah menyelamatkan para penentang itu dari cengkeraman azab Tuhan. Beliau tahu bahwa Malikiyyat Yaumiddin Allah Ta’ala, sekarang juga dapat menzahirkan azab atau hukuman untuk orang-orang itu diatas dunia ini juga. Akan tetapi sifat dan wujud beliau saw itu telah penuh disimbahi nur sifat Maaliki Yaumiddin Allah swt, sehingga manifestasi sifat malikiyyat beliaupun telah zahir cemerlang diatas bukit itu. Beliau juga yaqin terhadap janji Allah swt. Ketika baliau dilantik sebagai Rasul kemenangan akahir telah ditentukan akan dianugrahkan kepada beliau saw. Oleh sebab itu dengan yaqin dan “afuw (pema’af) beliau saw telah bersabda kepada Malaakul Jibal itu  : “ Hai malakal Jibal Allah swt telah menetapkan Hari Pembalasan melalui engkau dengan kedua bukit ini untuk ditimpakan diatas orang-orang itu. Memang atas perintah Allah Ta’ala dimasa lampau tidak sedikit desa dan kota yang telah dibinasakan. Karena penduduknya menentang, mereka dikubur dibawah bukit-bukit yang telah ditmpakan diatas mereka. Akan tetapi bukankah Allah swt telah menjadikan bukit-bukit ini untuk memberi kehidupan kepada makhluk-makhlukNya ? Oleh karea itu aku berharap semoga hujan ruhaniyat yang Allah swt sedang menurunkannya melalui aku dan sumber mata air rahmat yang akan dan sedang memancar melalui aku, akan membangkitkan reformasi mukhlis bagi kehidupan ruhani mereka. Dan orang-orang ini atau anak keturunan mereka akan menjadi panenan-panenan ruhani yang baik laksana panenan yang subur melambai-lambai.”

 Dunia menjadi saksi terhadap tutur sabda hamba mulia kekasih Allah Ta’ala ini yang telah terbukti dengan jelasnya dihadapan mata dunia. Setelah beberapa tahun saja berlalu seluruh penduduk kota Thaif itu telah menggabungkan diri kedalam pangkuan Islam. Sebelumnya mereka menjadi musush-musuh yang haus akan darah beliau saw, akhirnya mereka menjadi hamba-hamba saleh yang setiap sa’at rela menumpahkan darah mereka sendiri demi memperthankan darah suci Rasulullah saw.

Itulah perlakuan Maalik yang zahir melalui wujud beliau saw. Pada zaman ini Allah swtpun telah berjanji kepada Asyiq Sadiq beliau saw (pencinta sejati beliau saw yakni Hazrat Masih mau’ud a.s. pent.) Yang sudah kita saksikan kesempurnaannya, bahkan sering sekali kita saksikan kesempurnaannya. Dan sepanjangnya akan terus kita saksikn. Insya Allah swt. Karena Tuhan kita adalah  مَالِكُ الْكُلِّ  (Maalikul Kull).  Dia sedang menyebarkan barkat-barkat Muhammad saw keseluruh dunia melalui Hazrat Masih Mau’ud a.s. Dan barkat-barkat itu sudah banyak tersebar dan akan terus menyebar kepelosok-pelosok dunia, Insya Allah swt. Dan Allah swt juga akan menganugerahkan kemenangan kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. Allah swt telah  menurunkan Ilham kepada beliau a.s.

 دنيا مين ايك نذير آيا پر دنيثا نے قبول نھ کیا لیکن خدا اسے قبول

 کرے گا اور بڑۓ زور آور حملوں سے اسکي سچائ ظاھر کردےگا اور عن قریب اسے ایک ملک عظيم دیاجاۓ اور خزائين اسے کھولے جائينگے                                                                               

Artinya :  Telah datang seorang Nazir (Nabi) kedunia. Namun dunia tidak menerimanya. Akan tetapi Tuhan akan menerimanya. Dia akan menzahirkan kebenaran da’wanya dengan timbulnya searangan-serangan yang dahsyat. Dan sudah dekat sekali waktunya kepadanya akan diberikan sebuah negara (kerajaan) yang sangat besar. Dan khazanah-khazanah akan digelar untuknya secara terbuka.

Ini adalah janji Tuhan. Tuhan menjanjikan akan memberi Negara yang Besar. Ini maksudnya bukan negara atau pemerintahan dunia. Hazrat Masih Mau’ud a.s tidak memerlukan pemerintahan  dunia. Melainkan pemerintahan atau kerajaan  ruhani yang akan diberikan kepada beliau a.s. Untuk tempat kerajaan ruhani itu dunia seluruhnya akan diberikan kepada Hazrat Masih Ma’ud a.s. Kerajaan ruhani beliau tidak terbatas disebuah tempat atau negara akan tetapi akan melebar luas sampai jauh kseluruh dunia. Khazanah yang dijanjikanpun yang telah diberikan kepada beliau a.s. sekarang sedang dibagi-bagikan diseluruh dunia. Sudah sampai disetiap tempat diseluruh dunia.

          Tuhan kita Tuhan Yang Maha Setia. Dia selalu menepati janjiNya. Dia setiap hari sedang membawa kerajaan agung ini menuju medan jaya. Dan jalur-jalur kejayaan itu sedang Dia tunjukkan dengan jelas kepada kita.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. menerima ilham lain lagi, beliau bersabda :  “ Allah Ta’ala Yang Maha Gagah Perkasa telah memberi khabar suka kepadaku bahwa Dia akan memsukkan banyak Kepala-kepala negara dan Raja-raja kedalam Jema’at ini dan Dia berfirman kepadakua : “ Engkau akan diberi berbagai macam barkat sehingga Raja-raja akan mencari barkat dari pakaian engkau.”

Beliau jelaskan bahwa raja-raja yang mencari barkat itu akan bai’at masuk kedalam Jema’at ini. Dengan masuknya mereka itu kedalam Jema’at seolah-olah kerajaannya juga akan manjadi satu padu dengan Jema’at ini. Sesudah itu dalam alam kasyaf telah diperlihatkan raja-raja kepadaku. Mereka itu datang menaiki kuda. Banyaknya kurang lebih 6 atau 7 orang raja.

Allah swt memberi khabar suka kepada Hazrat Masih Mau,ud a.s. dengan melalui ilham-ilham, melalui kasyaf-kasyaf dan melalui ru’ya saleh (yang benar). Salah satu diantara ksayaf-kasyaf beliau akan saya terangkan disini. Kasyaf itu begitu hebatnya sehingga orang yang sedang duduk disamping beliaupun ikut merasakannya.

          Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: Pada suatu ketika aku melihat dalam kasyaf bahwa beberapa keputusan hukum sedang ditulis oleh tanganku sendiri. Bahwa bagi masa depan harus begini atau begitu. Setelah itu untuk menanda tangani hukum-hukum itu diserahkan kehadapan Tuhan Yang Maha Gagah Perkasa itu.

          Ingatlah bahwa kebanyakan didalam kasyaf atau didalam ru’ya yang saleh Sifat jamaliyah atau sifat jalaliyah Tuhan diperlihatkan kepada orang yang menerima kasyaf itu dalam rupa manusia. Dan secara illusive atau majazi dianggapnya sebagi wujud Tuhan Qadir Mutlaq. dst.dst

          Selanjutnya beliau a.s. jelaskan bahwa kitab keputusan hukum-hukum itu dipersembahkan dihadapan Tuhan untuk ditandatangani. Tuhanpun menjelma seperti wujud seorang Hakim. Ketika mau menandatangani  kitab hukum-hukum itu Hakim mencelupkan penaNya kedalam tempat tinta merah. Ketika mau dituliskan tinta diujung mata pena itu terlalau banyak. Supaya tintanya berkurang lalu dikipas-kipaskannya kalam itu sampai tintanya itu banyak mercik . Sesudah itu kitab hukum itu ditandatanganinya. Saya sadar dari alam kasyaf, apa yang terjadi ? Pada bajuku nampak banyak sekali percikan tinta merah itu yang masih basah .  Bahkan percikan merah itupun dua atau tiga tetes terkena peci (songkok) sahabat bernama Abdullah Sanauri yang sedang duduk disampingku. Jadi, tinta merah itu telah keluar menjelma dalam bentuk zahir yang telah Tuhan perlihatkan dialam kasyaf tadi. Jadi, percikan tinta merah dari pena yang digunakan Tuhan yang menjelma sebagai seorang hakim didalam kasyaf Hazrat Masih Mau’ud a.s. itu nampak jelas secara zahir juga, dan banyak sekali terkena pada dinding dan lantai serta baju Hazrat Masih Maud a.s  bahkan pada peci (songkok) Hazrat Maulvi Abdullah Sanauri juga. Masih banyak lagi pemandangan kasyaf serupa yang telah diperlihatlkan Tuhan kepadaku, namun aku tidak punya waktu banyak untuk menulisnya.

          Hazrat Maulvi Abdullah Sanauri menceritakan, katanya ketika saya sedang memijit-mijt kaki Hazrat Masih Mau’ud as tiba-tiba ada percikan merah pada kaki beliau. Waktu itu hari Jum’at sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Pada waktu itu saya berpikir peristiwa mubarak itu terjadi pada hari Jum’at mubarak, dalam bulan suci Ramadhan mubarak, terjadi pada wujud suci mubarak juga. Ketika saya sedang memijit kaki Hazrat Masih Mau’ud a.s. terasa badan beliau gemetar, nampak mata beliau berlinang air mata. Saya letakkan jari saya pada percikan merah yang terdapat pada kaki beliau lalu saya cium barangkali percikan ini datang dari Allah swt tentu  harum. Tapi tidak harum dan tidak pula bau. Kemudian Hazrat Masih Mau’ud a.s. bangun terus masuk kedalam mesjid dan duduk disana. Saya berkata kepada beliau a.s., Huzur, berikanlah kepada saya baju yang terkena percikan tinta merah ini. Saya anggap baju itu sangat bersejarah. Mula-mula Hazrat Masih Mau’ud a.s. sama sekali tidak mau memberikannya kepada saya. Tapi tak lama kemudian beliau berikan juga dengan syarat baju ini harus dikubur bersama saya kalau saya meninggal dunia untuk mencegah timbulnya perlakuan bid’ah atau syirik dikemudian hari terhadap baju itu ataupun terhadaap beliau a.s. sendiri.

Demikianlah peristiwa yang sangat unik dan tanda yang berberkat yang telah Tuhan anugerahkan kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s.itu.

Alih Bahasa : Hasan Basri

Dipublikasikan oleh www.ahmadiyya.or.id