بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم

Khotbah Jumat

Hadhrat Khalifatul Masih Va.t.b.a.

Tanggal 22 Syahadat 1390 HS/April 2011

Di Masjid Baitul Futuh, London.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه،

وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ

[ آمين ]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s.[1] dalam satu tempat pernah bersabda : “ Aku telah diutus kedunia agar zaman kebenaran dan keimanan nampak kembali. Dan, agar takwa timbul kembali dalam hati manusia.”[2]

Seorang Ahmadi yang menyatakan diri telah baiat masuk kedalam Jemaat beliau harus memperhatikan dan merenungkan sabda beliau a.s. itu setiap waktu, dan harus berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ia berhasil dalam melakukan demikian berarti telah berhasil menyempurnakan perjanjian baiatnya. Jika tidak, hanya menyatakan baiat saja tidak ada gunanya. Kebenaran dan iman yang ingin Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bangkitkan atau Allah ta’ala telah mengutus beliau ke dunia dengan tujuan takwa dapat timbul kembali dalam hati manusia bukanlah perkara baru sebagaimana beliau bersabda, ”Zaman kebenaran dan keimanan muncul kembali”. Yakni zaman kebenaran dan keimanan serta ketakwaan yang sudah hilang lenyap, kemudian membawanya kembali adalah tugas Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Sebagaimana kita semua tahu bahwa zaman berdirinya kebenaran, iman dan takwa dengan semaraknya yang sangat hebat telah terjadi diwaktu Allah ta’ala mengutus Hadhrat Nabi Muhammad Mustafa saw ke dunia sambil menyempurnakan syariat dengan firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

Terjemahannya: Pada hari ini bagi faedah kamu telah Aku sempurnakan agama-mu dan telah Aku penuhi semua ihsan-Ku atas kamu dan Aku ridhoi bagi kamu  Islam sebagai agama. (Al Maidah, 4 : 4) Ketika pengumuman ini dikumandangkan oleh Allah ta’ala, pada waktu itu semua perkara sudah ditegakkan dengan sempurna. Jadi bagi setiap orang Ahmadi tidak boleh mempunyai suatu pikiran sekecil apapun bahwa Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. telah membawa suatu amanat baru. Dan tidak boleh seorang Ahmadi berpikir serupa itu. Beliau yang dijanjikan akan datang sesuai dengan kabar gaib Alquran dan nubuatan Hadhrat Rasulullah saw, sekarang sudah datang untuk menegakkan kembali kebenaran, menegakkan kembali iman dan takwa itu yang Hadhrat Rasulullah saw sendiri telah menegakkannya dimasa permulaan. Dan semuanya telah lenyap kembali karena kelemahan dan perbuatan buruk orang-orang Muslim sendiri.

Maka kita orang-orang Ahmadi yang menyatakan diri telah beriman kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. berkewajiban untuk memeriksa apakah kita sudah menanamkan kebenaran, iman dan takwa itu dalam diri masing-masing? Apakah ajaran yang telah diberikan oleh Alquran ul Karim, yang telah dicontohkan pengamalannya oleh para sahabat r.a. dalam kehidupan mereka, kita telah berusaha menanamkannya dalam diri kita masing-masing ataukah sekarang sedang melakukannya demikian? Dengan amalan-amalan itu dizaman Hadhrat Rasulullah saw banyak sekali orang-orang beriman telah menciptakan perubahan besar dalam diri mereka. Apakah kita telah berusaha menanamkan takwa dalam lubuk hati kita seperti yang telah kita baca dalam riwayat hidup para sahabat r.a. ? Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dizaman beliau sendiri telah menciptakan perobahan besar dalam kehidupan para sahabat beliau a.s., yang diantaranya akan saya jelaskan dalam khutbah pada hari ini.

Sebuah kalimat yang telah diucapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s, ”Aku telah diutus oleh Allah ta’ala agar zaman kebenaran dan keimanan serta takwa dalam kalbu-kalbu manusia nampak kembali.” Maka, demi munculnya kembali semua amalan itulah tujuan diutusnya aku ke dunia. [3]

Jadi, apabila beliau bersabda kepada para pengikut beliau a.s.  begini : ” Hai cabang-cabang wujudku yang subur menghijau !”[4] Maka orang-orang yang melaksanakan semua amalan yang telah dijelaskan beliau itulah yang dapat menjadi ”cabang-cabang wujud beliau yang subur dan menghijau” itu. Sebab, itulah asas yang telah dimaksudkan bagi kedatangan wujud beliau. Tidak mungkin dahan-dahan sebatang pokok (pohon) yang berbuah manis dan lezat memberi buah yang jelek dan busuk. Atau dahan-dahan kering menjadi bagian dari batang pokok itu. Pemilik sebuah pokok (pohon) tidak akan membiarkan batang-batang yang kering diatas pokoknya, pasti ia akan memotong dan membuangnya. Keadaan seperti itu sungguh menakutkan! Kita harus ingat setiap waktu bahwa setelah baiat kewajiban-kewajiban apa yang harus kita lakukan. Apabila saya mendengar keadaan dan kisah orang-orang yang baru baiat masuk Jemaat Ahmadiyah, atau saya membacanya dalam surat-surat mereka, iman saya semakin meningkat. Akan tetapi sebaliknya, apabila saya mengetahui keadaan dan kisah kehidupan banyak orang-orang Ahmadi yang orang tua dan sesepuh mereka itu, sudah dicemari oleh kelemahan dan keburukan-keburukan maka timbul rasa duka dan prihatin dalam hati saya. Mereka tidak menaruh perhatian untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang diinginkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Sebagai Ahmadi keturunan seringkali mereka menunjukkan kemalasan. Jadi, setiap orang Ahmadi sambil menilai keadaan hati masing-masing harus selalu menjaga dan memeriksa, apakah ia tidak terlibat dalam suatu kehidupan yang mengakibatkan, na’uzubillah, na’uzubillah, sudah tertutup jalan untuk kembali? Apakah kita tidak menjadi orang-orang Ahmadi hanya nama saja? Dalam nasihat-nasihat Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan dalam tulisan-tulisan beliau telah mengingatkan berulang kali bahwa ruh atau spirit sejati Ahmadiyyat akan tetap berdiri apabila kita selalu memeriksa keadaan pribadi masing-masing. Jangan sampai terjadi perbuatan kita bertentangan dengan perkataan yang kita ucapkan. Beliau a.s. ingin menyaksikan perbedaan yang jelas antara kita dengan orang-orang diluar Jemaat.

Di satu tempat beliau a.s. bersabda, ”Saya berulang kali dan sering sekali berkata bahwa secara penampakannya kita dengan orang-orang Muslim lain sama saja. Kalian juga Muslim dan mereka juga menamakan diri mereka Muslim. Kalian membaca kalimah syahadat dan mereka juga membaca dua kalimah syahadat. Kalian menyatakan diri patuh terhadap ajaran Alquran dan mereka juga menyatakan diri mengikuti ajaran Alquran. Pendeknya, antara kalian dengan mereka mempunyai pengakuan yang sama. Akan tetapi Allah ta’ala tidak merasa senang hanya dengan pengakuan semata, jika tidak disertai dengan amal-perbuatan nyata. Dan jika pengakuan kalian tidak dibuktikan dengan suatu amal perbuatan nyata dan dengan bukti adanya perubahan dalam diri pribadi kalian.” Oleh sebab itu sering sekali beliau a.s. bersabda, ”Pengakuan harus disertai bukti adanya perubahan dalam diri pribadi.” Beliau a.s. bersabda lagi, ”Oleh sebab itu seringkali hati saya merasa sangat duka dan tersiksa sekali disebabkan kesedihan seperti itu.”[5]

Sabda beliau a.s., ”Allah ta’ala tidak merasa senang hanya dengan pengakuan semata, jika tidak disertai dengan amal-perbuatan nyata. Dan jika pengakuan kalian tidak dibuktikan dengan suatu amal perbuatan nyata dan dengan bukti adanya perubahan dalam diri pribadi kalian. Oleh sebab itu, seringkali hati saya merasa sangat duka dan tersiksa sekali disebabkan kesedihan seperti itu.”

Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menginginkan bukti secara amaliah dari kita. Jika kita selalu memeriksa keadaan diri kita sendiri, pasti kita dapat menilai keadaan ruhani kita yang lebih baik lagi. Jika ada orang lain yang menilai kita, kadangkala kita merasa tersinggung dan marah. Atau dengan adanya penilaian orang lain akan menimbulkan egoisme dan kesombongan terhadap diri kita. Untuk mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri, harus diingat dalam hati, ”Tuhan setiap waktu sedang memperhatikan saya. Dan saya sudah ikrar janji baiat. Menyempurnakan janji itu adalah kewajiban saya.” Dengan cara demikian manusia akan dapat menghisab dirinya dengan baik sekali. Seorang Ahmadi bagaimanapun lemahnya iman dia, masih memiliki semangat dalam hatinya. Dan bila saja timbul kesadaran maka ia mulai melakukan suatu amal kebaikan. Jadi, setiap orang Ahmadi perlu sekali menghidupkan imannya itu dengan siraman air amal perbuatannya. Hal itu perlu dipelihara supaya iman tetap segar setiap waktu. Perasaan duka dan sengsara hati Hadhrat Masih Mau’ud a.s. harus dapat dirasakan oleh kita. Orang yang mempunyai perasaan demikian maka lambat-laun dahan keringnya akan berubah menjadi subur menghijau. Banyak orang Ahmadi yang menulis surat kepada saya dan dalam surat itu mereka mencurahkan perasaan hati dengan kesan berat; Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ingin menyaksikan adanya perubahan pada diri kami. Maka, siapapun yang mencurahkan perasan dirinya dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, maka Allah ta’ala yang mencintai hamba-Nya lebih dari seorang ibu mencintai anaknya, Dia berlari menyambut orang yang datang kepada-Nya dan merangkulnya dengan penuh kecintaan. Maka, keadaan orang seperti itu akan cepat sekali berubah. Jadi, Allah ta’ala telah menganugerahkan peluang emas kepada kita semua, jika kita tidak mengambil faedah dari kesempatan itu, tentu kita akan menjadi orang yang bernasib sangat malang sekali.

Pernyataan rasa duka dan tersiksa dalam hati Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beliau nyatakan diwaktu para sahabat berada bersama-sama beliau dan secara langsung mereka sedang meraih banyak berkat dari beliau a.s. yang apabila kita mendengar atau membaca tentang nilai luhur teladan mereka itu menimbulkan rasa kagum dalam hati kita, bagaimana beliau-beliau itu telah berhasil mengadakan perubahan besar dalam diri mereka. Akan tetapi tengoklah bagaimana duka dan tersiksa perasaan hati Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan tengoklah pula bagaimana standar takwa yang beliau a.s. inginkan dari para pengikut beliau a.s. justru pada waktu itulah beliau a.s. cetuskan ketika beliau telah banyak menyaksikan keadaan para sahabat beliau a.s. itu, Beliau bersabda, ”Saya merasa sangat duka dan tersiksa sekali disebabkan kesedihan itu.” Sedangkan keadaan kita sekarang akan menimbulkan lebih banyak lagi kesedihan dan kedukaan hati beliau a.s., sekalipun sekarang beliau a.s. sudah tidak ada lagi bersama kita. Namun keadaan-keadaan kita, bagaimana keadaan-keadaan diantara para sahabat beliau a.s., atau keadaan dari antara anak keturunan mereka r.a. dapat saja diperlihatkan oleh Allah ta’ala dihadapan beliau a.s. Orang-orang pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang selamat dari lingkungan yang kotor, rela meninggalkan kehidupan duniawi mereka demi meraih keridhaan Allah ta’ala, menggabungkan diri dengan Hadhrat Al Masih Akhir Zaman, menjalani kehidupan dengan janji akan selalu mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan duniawi. Namun keadaan anak istri kebanyakan diantara mereka sangat lemah. Jadi, untuk memelihara kehormatan para orang tua leluhur kita, harus selalu mengingat keadaan mereka dengan niyat untuk mengikuti jejak langkah mereka. Kita harus merenungkan bagaimana bersihnya kehidupan beliau-beliau itu, harus mengetahui mengapa beliau-beliau itu baiat masuk Jemaat. Maka barulah kita akan bergerak kearah suatu tujuan yang dimaksud. Dan kita akan menjadi wujud yang mampu menyempurnakan keinginan-keinginan beliau-beliau itu.

Beberapa hari yang lalu seorang anak tokoh Ahmadi senior bernama Abdul Mughni Khan Sahib menceritakan tentang ayah beliau kepada saya. Abdul Mughni Khan Sahib belajar di Universitas Aligarh dan memperoleh gelar B.Sc. bidang kimia. Pada zaman lampau sangat sedikit sekali pelajar-pelajar muslim yang mengambil pelajaran kimia. Wakil rektor Universitas berkata kepadanya, ”Kamu pelajar yang baik dan telah memperoleh hasil yang baik pula. Kami akan memberi kamu pekerjaan di Universitas sambil meneruskan pelajaran kamu.” Seorang Inggeris juga telah menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya dan menyarankan supaya ia mengikuti Indian civil service (pegawai negeri India masa jajahan Inggris). Pada waktu itu Khan Sahib berada di Qadian diwaktu Khilafat Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. Semua perkara itu beliau ceritakan kepada Hudhur r.a. dan berkata, ”Hudhur, saya tidak menghendaki terlibat dalam kehidupan duniawi. Saya tinggal di Qadian jika saya mendapat pekerjaan sebagai tukang sapu membersihkan lorong-lorong di Qadian maka saya akan pilih pekerjaan ini dibanding dengan pekerjaan yang lebih tinggi di tempat lain.” Demikianlah anggota Jemaat senior pada masa itu khususnya para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang telah mendapat martabat ketakwaan yang sangat tinggi. Kemudian beliau dipekerjakan di sekolah sebagai guru sains. Dan beliau dipilih menjadi Nazir Baitul Mal Qadian, kiranya beliau adalah Nazir Baitul Mal pertama di Qadian. Jadi para tokoh Ahmadi khususnya para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memperoleh martabat yang tinggi dalam keikhlasan dan ketakwaan. Akan tetapi ada juga beberapa sahabat yang memiliki kelemahan yang telah diketahui oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sehingga beliau bersabda, “Kami merasa sangat sedih sampai dasar lubuk hati.”

Oleh karenanya, mengoreksi atau memeriksa keadaan diri pribadi kita sangat diperlukan sekali. Jika kita sadar, anak-keturunan siapakah kita ini? Bagaimana para sesepuh kita telah mengadakan perobahan suci dalam diri pribadi mereka setelah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Jika kita merenungkan hal itu semua dan kita berjanji tidak akan membiarkan nama sesepuh-sesepuh kita tercemar. Maka cara perbaikan seperti ini akan meningkatkan standar takwa kita yang tinggi dalam bentuk yang sangat baik sekali. Kita akan mendapat kekuatan dan semangat untuk melakukan amal saleh. Dan itulah tanda bagi sebuah kaum yang hidup. Mereka tidak membiarkan hilang kehormatan sesepuh mereka. Dan mereka selalu mencari kedudukan yang lebih unggul. Dan terus berusaha meningkatkan standar kedudukan mereka. Dan mereka menjadi para pendatang baru menggabungkan diri dalam Jemaat dengan semangat baru. Dan apabila mereka menyaksikan mutu sesepuh mereka sangat tinggi maka timbul semangat untuk berlomba menandingi mereka. Sehingga mutu kebaikan mereka ditingkat nasional pun terus meningkat. Jadi, ketika kita menyatakan diri telah beriman kepada Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. kita berkewajiban untuk merubah keadaan pribadi kita dan menciptakan perubahan  besar diatas dunia, maka untuk itu diperlukan mengadakan peninjauan secara dawam terhadap diri pribadi kita. Bukan hanya mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri saja melainkan terhadap anak istri kita juga. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis, ”Istri lebih cermat mengawasi rahasia perbuatan dan perkataan suaminya. Jika suami baik maka istri pun pasti baik. Jika tidak ia akan memperlihatkan cermin kepada suaminya sambil berkata, ’Mengapa ingin melakukan perbaikan pada diriku? Ubahlah dulu keadaan dirimu sendiri!” Jadi, untuk mengadakan perbaikan terhadap perempuan, pertama-pertama laki-laki harus mengadakan perbaikan terhadap dirinya sendiri. Kita harus selalu ingat  untuk mengadakan perbaikan terhadap kaum perempuan agar mendapat jaminan bagi kebaikan anak keturunan kita dimasa mendatang. Jadi, untuk mengadakan perubahan suci bagi generasi yang akan datang, untuk memelihara mereka agar tetap berdiri diatas agama, diperlukan bagi kaum lelaki untuk mengadakan paling banyak perubahan pada diri mereka. Maka, contoh teladan laki-perempuan, contoh teladan ibu-bapak, contoh teladan suami-istri, terhadap anak-anak juga harus diberi perhatian untuk dipertahankan, bahwa tujuan utama kita bukan terlibat hanya dalam urusan duniawi saja melainkan harus terlibat  dalam usaha mencari keridhaan Allah ta’ala juga.

Saya ingin menjelaskan suatu perkara, yaitu jangan timbul pikiran bahwa para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memiliki banyak sekali kelemahan-kelemahan, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. karena terpaksa telah bersabda demikian. Sesungguhnya sangat sedikit sekali para sahabat yang tidak memenuhi standar yang dikehendaki oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tetapi beliau a.s. tidak ingin melihat suatu kelemahan mereka walupun hanya sedikit. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan rasa sedih dalam suatu pertemuan setelah melihat keadaan beberapa orang, namun beliau a.s. juga telah menyatakan bahwa, ”Kami menyaksikan dalam Jemaat kita ini telah nampak keikhlasan dan kecintaan yang sangat istimewa. Kadangkala setelah melihat semangat keikhlasan dan kecintaan yang bergelora kami sendiri merasa heran dan kagum sekali.”[6]

Jadi, banyak sekali para sahabat yang menunjukkan semangat iman dan kecintaan yang tinggi, bahkan sebagian besar dari para sahabat itu sudah demikian keadaannya. Bahkan kita harus mengatakan bahwa keadaan semua para sahabat sudah demikian tinggi dibandingkan dengan keadaan kita. Akan tetapi, Nabi ingin melihat Jemaatnya mempunyai standar yang sangat tinggi pada zamannya. Zaman dimana kita sekarang berada, adalah zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s.., masih banyak sekali kabar-kabar gaib Allah ta’ala yang masih menunggu kesempurnaannya. Janji Allah ta’ala yang diberikan kepada beliau a.s. masih banyak yang sedang menunggu kesempurnaannya. Jika kita ingin menyaksikan sempurnanya janji-janji itu dalam kehidupan kita, maka kita harus memelihara kebenaran, iman dan standar takwa kita. Jika kita menginginkan dari Allah ta’ala agar Dia memperlihatkan kemenangan Jemaat kepada kita, maka kita harus berusaha untuk meraih keridhaan-Nya.   Saya (Hudhur V atba) juga ingin menyampaikan kepada anda sekalian bahwa dengan karunia Allah pada zaman ini sudah banyak sekali orang-orang yang ikhlas dan patuh dalam Jemaat ini dan dalam diri anak-keturunan kita juga ruh ini sedang berkembang maju. Pada suatu ketika saya menyatakan rasa khawatir terhadap para Anggota Jemaat di Pakistan. Setelah peristiwa penyerangan terhadap mesjid-mesjid kita di Lahore, Khuddam dan Ansar shaff dom melakukan penjagaan terhadap mesjid-mesjid kita disana. Namun telah diterima laporan tentang beberapa orang diantara petugas keamanan disana bahwa, disebabkan telah melakukan tugas yang cukup lama, mereka sudah menyatakan lelah. Atau mereka menyatakan tidak tertarik lagi oleh tugas itu. Oleh kerana itu saya menganggap perlu sekali memberi perhatian khas terhadap hal itu. Atau Nizam disana perlu diingatkan terhadap hal itu. Ketika perkara ini disampaikan oleh Sadr Khuddamul Ahmadiyah Pakistan kepada para khuddam disana, maka banyak sekali surat saya terima dari para Khuddam di Pakistan. Banyak sekali pernyataan-pernyataan ikhlas dan setia dalam surat itu dan mereka menyatakan telah memperbaharui lagi janji setia mereka. Mereka berkata, ”Kami tidak merasa lelah dan tidak pula akan menyatakan lelah dimasa mendatang bahkan tidak akan pernah berpikir bahwa tugas-tugas Jemaat menjadi beban bagi kami. Kami harap Hudhur jangan khawatir tentang kami.” Dari kaum perempuan (Ahmadi) juga banyak sekali surat-surat telah diterima. Katanya, ”Saudara-saudara kami atau suami-suami kami atau anak-anak kami apabila pulang dari pekerjaan, mereka segera pergi ke tempat melaksanakan tugas-tugas Jemaat. Dan kami dengan senang hati melepas mereka. Dan kami dengan karunia Allah ta’ala sekalipun harus tinggal sendirian di rumah sama-sekali tidak merasa takut sedikitpun.”  Demikianlah keikhlasan dan kesetiaan seperti yang telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebelumnya, telah timbul disebabkan iman yang bergelora dalam hati mereka. Sehubungan dengan itu perlu juga diingat bahwa ditengah-tengah kesibukan menjalankan tugas jangan sekali-kali lupa kepada Allah ta’ala. Salat-salat hendaknya dilaksanakan tepat pada waktunya, sibukkan mulut kita membaca zikir ilahi diwaktu menjalankan tugas-tugas Jemaat. Kekuatan yang paling tangguh adalah Zat Tuhan kita. Pertolongan yang akan  kita terima akan diterima hanya dari Allah ta’ala. Usaha-usaha kita sedikit sekali dan tidak mengandung arti apa-apa. Apapun yang harus dikerkan, Tuhanlah yang mengerjakannya. Jadi, apabila kita berpegang erat kepada Allah ta’ala maka Dia sendiri Yang menghadapi musuh-musuh kita. Dia akan menghalangi tangan-tangan mereka. Jadi, jangan sekali-kali malas memanjatkan do’a. Kesan-kesan semua ibadah itu secara amaliah dalam keadaan biasa pun nampak sesuai dengan keadaan pribadi masing-masing. Barulah kita akan dapat mencapai standar yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda, ”Allah ta’ala berfirman; إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُون yang terjemahannya, ’orang-orang yang berusaha untuk bertakwa, suci dan bersih selalu mendapat naungan pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa dan mereka setiap waktu merasa takut dan gemetar dari melakukan perbuatan pelanggaran (Surah An-Nahl, 16: 129)[7].                Maka, setiap waktu takwa dan takut kepada Allah ta’ala selalu melindunginya dan ia terhindar dari ketakutan dunia juga. Jadi, setiap Ahmadi harus merasa takut kepada Allah ta’ala jangan sampai Dia murka kepada kita.”

Ditempat lain Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi, ”Allah ta’ala secara langsung berfirman kepadaku agar aku memberitahu kepada Jemaatku, bahwa orang beriman yang imannya tidak dicampuri kepentingan duniawi, yang imannya tidak dicampuri kemunafikan dan rasa pengecut, yang imannya tidak kosong sedikitpun dari kepatuhan, orang demikianlah yang disenangi oleh Allah ta’ala. Dan Allah ta’ala berfirman, ’Langkah orang demikianlah yang benar.’”[8]                                                                                                 Jadi, standar iman seperti itulah yang dikehendaki dari kita oleh Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq kepada kita agar kita mampu memperoleh standar iman seperti itu.

Sekarang saya ingin menjelaskan mengenai ketaatan dalam khutbah ini, yang telah saya singgung sebelumnya diatas. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa janganlah meninggalkan ketaatan sekecil pun. Ketaatan mempunyai berbagai macam bentuk dan ketaatan mempunyai bermacam standar. Misalnya ketaatan kepada Nizam (administrasi) Jemaat dan ketaatan kepada hukum-hukum Allah ta’ala untuk dilaksanakan. Itulah dua macam ketaatan. Selain itu banyak lagi ketaatan yang dapat dipikirkan oleh manusia. Setiap jenis perkara sudah terdapat dalam Nizam, untuk mengatur dan untuk mengamalkan peraturan itu secara sempurna dan untuk menjadi orang yang patuh kepada Allah ta’ala, hanya ketaatanlah yang harus selalu diperhatikan setiap sa’at.   Mengenai mutu ketaatan, salah satu contoh tingkatan pertama yang terdapat dalam sejarah Ahmadiyah adalah mengenai ketaatan Hadhrat Khalifatul Masih awal r.a. Ketika beliau menerima telegram dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang berbunyi ’Datanglah segera!’. Pada waktu itu Hadhrat Khalifatul Masih awal r.a. sedang duduk dalam perpustakaan pribadi beliau. Tanpa pikir apa-apa lagi beliau r.a. langsung berangkat ke stasiun kereta api. Orang yang sedang memanggil beliau itu bukan tinggal dikota yang sama, melainkan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berada dikota Delhi dan Hadhrat Khalifatul Masih awal di Qadian, puluhan bahkan ratusan mil jauhnya. Beliau hanya mengirimkan pesan kepada keluarga bahwa beliau sedang pergi, tanpa membawa perlengkapan berupa pakaian dan keperluan-keperluan lainnya bahkan tanpa membawa ongkos perjalanan. Beliau mengira semua itu tidak perlu, yang penting segera menyambut panggilan junjungan beliau. Beliau langsung pergi ke stasiun kereta api dan kereta api pun terlambat untuk beberapa waktu lamanya. Di stasiun, beliau berjumpa sahabat, seorang kaya raya. Orang kaya itu ingin memeriksakan orang sakit yang dibawanya kepada Hadhrat Khalifah awal r.a. dan ia memohon agar beliau r.a. dapat memeriksa orang sakit itu selama kereta api belum tiba karena terlambat. Setelah orang sakit itu diperiksa, orang kaya itu dengan senang hati memberi sejumlah uang sebagai biaya pemeriksaan kepada beliau r.a. Uang hasil pemeriksaan itulah yang menjadi biaya perjalanan beliau dari Qadian kekota Dheli. Begitulah Allah ta’ala telah mengatur segala keperluan beliau r.a. dan beliau akhirnya sampailah ke Dheli dan hadir dihadapan Junjungan beliau tercinta, Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Ketika telah sampai ditempat tujuan baru diketahui bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak meminta beliau datang segera. Penulis telegram itulah yang telah menulis ’Datang segera!’. Walaupun demikian beliau r.a. sedikitpun tidak mengeluh atau tidak menyesali siapapun, mengapa beliau telah disusahkan dengan cara demikian, beliau duduk disana dengan gembira dan senang hati. Itulah sebuah contoh ketaatan yang bernilai sangat tinggi. Setiap pikiran dan pemahaman tidak ada artinya dibanding dengan perintah. Perintah mendapat prioritas utama untuk diamalkan. Dan tengoklah juga bagaimana Allah ta’ala telah mengatur bagi beliau. Terhadap orang semacam itulah Allah ta’ala menyatakan rasa senang dan cinta. Jadi, hal itu telah menjadi teladan bagi kita. Kemudian  kepada para ahli jawatan kuasa (anggota pengurus) dari kedudukan yang paling bawah sampai kepada kedudukan yang paling atas sampai kepada Khalifa-e-waqt (khalifah yang masa itu), diwajibkan ketaatan. Dan itulah mata rantai ketaatan sampai kepada Rasul dan kepada Allah ta’ala sebagaimana Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda, “من أطاع أميري فقد أطاعني ومن أطاعني فقد أطاع الله”

’man athaa’a amiirii faqad atha’ani wa man atha’ani faqad atha’allah’ terjemahannya ”Barangsiapa yang ketaatan kepada amirku ia ketaatan kepada-ku dan barangsiapa ketaatan kepadaku ia ketaatan kepada Allah ta’ala”. Jadi, ketaatan kepada Nizam Jemaat sangat diperlukan sekali bagi asas semua ketaatan. Jika kita perhatikan, untuk menjalankan semua organisasi baik ruhani maupun duniawi diperlukan sebuah Nizam atau sistim administrasi. Tanpa hal itu suatu organisasi tidak dapat dijalankan. Dalam organisasi duniawi, atau pemerintahan juga memiliki Nizam yang sangat diperlukan, tanpa hal itu semua tidak akan dapat berjalan. Dalam pemerintahan duniawi juga untuk menjalankan Nizamnya disetiap level mempunyai undang-undang dan peraturan tertentu. Dan menaati peraturan-peraturan itu sangat diperlukan sekali. Oleh karena Pemerintah mempunyai kekuasaan penuh, maka ketaatan terhadap Nizamnya diimplimentasikan sesuai dengan undang-undang yang telah ditentukan. Akan tetapi dalam sebuah Nizam Ruhani, ikhlas dan setia serta ridha Allah ta’ala adalah asas bagi ketaatan. Oleh sebab itulah disini Allah ta’ala berfirman kepada Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. : ”Orang yang ketaatan pada setiap tingkatan sangat Aku sukai,” Jadi, orang yang ketaatan kepada pengurus Jemaat dari tingkatan yang paling rendah sampai kepada tingkatan yang paling tinggi ia lakukan demi meraih keridhaan Allah ta’ala.

Janji Allah ta’ala tentang Khilafat yang diberikan kepada Jemaat Ahmadiyah dan dalam Alquran janji Khilafat yang telah diberikan terhadap orang-orang mukmin, contoh tunggal pada waktu sekarang ini hanya terdapat dalam Jemaat Ahmadiyah. Akan tetapi dalam ayat sebelum ayat istikhlaf (ayat tentang khilafat) Allah ta’ala telah berfirman :

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ قُلْ لَا تُقْسِمُوا طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Terjemahannya: Dan mereka telah bersumpah dengan teguh atas nama Allah, bahwa jika engkau perintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan keluar segera. Katakanlah! Janganlah bersumpah; apa yang dituntut dari kamu adalah ”taat kepada yang benar”. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. (An Nur, 24 : 54)                                                          Dalam ayat ini Allah ta’ala telah mengingatkan terhadap ketaatan yang dilakukan orang-orang mukmin. Bagaimana orang-orang mukmin melakukan ketaatan. Apabila mereka menerima perintah, mereka berkata, ’sami’na wa atha’na’ yakni kami dengar dan kami taat. Demikianlah pernyataan orang-orang mukmin. Apakah perintah itu sesuai dengan keinginan kami atau sebaliknya bertentangan dengan keinginan kami, kami tetap melakukannya dengan penuh taat. Kewajiban kami adalah ketaatan. Demikianlah standar tinggi ketaatan yang harus dimiliki oleh orang-orang mukmin. Itulah yang dimaksud oleh Allah ta’ala : Jika kamu betul-betul orang mukmin, tidak perlu mengucapkan sumpah-sumpah besar. Cukup hanya ketaatan sesuai dengan peraturan yang ma’ruf. Bukankah sambil berdiri selalu mengucapkan janji ”Aku berjanji akan mematuhi segala keputusan apapun yang ma’ruf?” Akan tetapi apabila sudah ada keputusan malah berpaling dari padanya. Maka, Allah ta’ala berfirman, ’Mukmin sejati adalah mereka yang tidak hanya melakukan sumpah, melainkan menyatakan ketaatan sepenuhnya dalam setiap keadaan’.

Saya ingin menjelaskan lagi hal yang sebelumnya juga sudah saya jelaskan yaitu, mengenai keputusan yang ma’ruf atau ketaatan kepada keputusan yang ma’ruf. Khilafat Ahmadiyah tidak pernah mengeluarkan suatu keputusan yang bertentangan dengan Syariat atau undang-undang Allah ta’ala. Keputusan ma’ruf adalah keputusan apapun juga yang sesuai dengan syariat harus dipatuhinya. Jika setiap orang Ahmadi tetap yakin bahwa Silsilah (rangkaian) khilafat ini adalah khilafat ’ala minhajjin nubuwwah, maka ia juga harus yakin bahwa Khalifah tidak akan mengeluarkan suatu hukum atau perintah yang bertentangan dengan syariat. Demikian juga berkenaan dengan Nizam Jemaat, apabila Jemaat ini bekerja dibawah Nizam Khilafat maka ia tidak akan mengeluarkan suatu perintah bertentangan dengan undang-undang syari’ah. Jika ia mengeluarkan juga undang-undang itu karena alasan tertentu, atau telah melakukan kesalahan dengan mengeluarkan suatu perintah, maka Khalifa-e-waqt (khalifah yang masa itu) akan membetulkan kekeliruan atau kesalahannya itu. Jadi, apabila seorang Ahmadi berdo’a demi teguhnya Khilafat, maka ia juga hendaknya berdo’a untuk dirinya sendiri, agar ia menjadi seorang penegak ketaatan yang bermutu tinggi. Supaya ia menjadi orang yang disukai oleh Allah ta’ala, dan supaya ia selalu mendapat limpahan ni’mat Khilafat. Diatas hidayat mana ia telah berdiri mudah-mudahan ia tidak luput dari berkat-berkatnya.

Kadangkala, kebanyakan manusia demi kepentingan pribadi mereka sendiri telah menaruh kecurigaan terhadap Nizam Jemaat, bahkan telah menyatakan tidak percaya terhadap Nizam Jemaat. Dan mereka menjadi luput dari ni’mat-ni’mat yang Allah ta’ala telah menganugerahkannya lagi setelah 14 abad lamanya. Misalnya dalam perkara legal reasons (perundang-undangan). Disebabkan tekanan undang-undang yang berlaku dalam Nizam terpaksa Nizam Qadha meminta sebuah pernyataan tertulis kepada orang yang telah dikenakan sangsi bahwa apa pun yang telah diputuskan oleh Nizam diterima dengan lapang dada. Namun orang-orang yang dimaksud itu menolak tidak mau memberi pernyataan itu. Mereka telah berbuat buruk sangka sambil berkata, ”Keputusan itu telah sengaja dibuat menentang kami. Oleh sebab itu kami tidak akan memberi pernyataan yang diminta.” Sebenarnya niat orang demikian sejak permulaan sudah tidak baik. Mereka ingin supaya perkara itu menjadi panjang sambil berkata; Biarlah jika disini tidak selesai, perkara ini akan diajukan ke Pengadilan Negeri. Namun ketika mereka itu telah menolak keputusan Nizam Qadha lalu pergi kepada pengadilan Negeri, disana-pun keputusannya semakin bertentangan dengan kehendak mereka, maka akhirnya mereka berusaha kembali lagi kepada Nizam Qadha. Namun Jemaat tidak menangani perkara orang yang demikian itu. Sebab sejak permulaan orang-orang itu telah keluar dari ketaatan terhadap Nizam yang didirikan oleh Jemaat. Mereka tidak percaya kepada Nizam Jemaat. Maka nyatalah akibatnya sebagaimana Allah ta’ala berfirman, ”Orang yang keluar dari ketaatan tidak Aku sukai.” Apabila manusia sudah menjadi sasaran kemarahan Allah ta’ala, sekalipun secara lahiriah ia mengaku sebagai anggota Jemaat-Nya, sesungguhnya orang seperti itu sudah terlepas dari berkat-berkat yang Allah ta’ala turunkan kepada hamba-hamba Jemaat-Nya karena Jemaat-Nya. Jadi, sekalipun nampaknya perkara-perkara ini kecil akan tetapi disebabkan buruknya egotisme dan buruk sangka pribadi seseorang akhirnya membuat dia luput dari berkat-berkat Allah ta’ala. Maka, setiap orang Ahmadi harus berusaha untuk menjadi hamba-hamba pilihan Allah ta’ala yang disukai. Dan dalam keadaan demikianlah terletak keselamatan dan kekalnya anak-keturunan kita.

Bersaman dengan hal itu saya ingin berkata kepada para anggota pengurus Jemaat bahwa mereka akan patut dikatakan sebagai para wakil Khilafat apabila mereka menjadi orang-orang yang memenuhi tuntutan keadilan disertai rasa takut kepada Allah ta’ala. Jika seseorang tergelincir disebabkan seorang anggota pengurus maka anggota pengurus itu telah berbuat salah. Sebab ia tidak melaksakan kewajiban sesuai dengan amanat yang diberikan Allah ta’ala kepadanya. Jika ia tersandung disebabkan kesalahannya sendiri, dan sengaja telah terjadi demikian maka sesungguhnya ia telah berbuat salah. Dan ia bukan orang yang menunaikan amanat sebagaimana mestinya. Setiap orang Ahmadi ditingkat mana pun ia berada harus selalu paham bahwa demi berpegang teguh kepada janji baiat, demi menegakkan iman, dalam situasi bagaimanapun ia tetap harus menunjukkan kebenaran dan takwa, supaya menjadi orang yang betul-betul menyempurnakan maksud dan tujuan kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Di satu tempat Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. bersabda, ”Aku tidak pernah merasa gembira disebabkan banyaknya jumlah anggota Jemaat. (Hudhur atba bersabda : Yakni hanya banyaknya jumlah anggota Jemaat bukan suatu hal yang menggembirakan beliau a.s.) Arti Jemaat hakiki bukanlah hanya baiat sambil mengulurkan tangan, melainkan Jemaat baru berhak dikatakan Jemaat hakiki apabila mereka mematuhi sepenuhnya hakikat baiat. Dan timbul perobahan yang sesungguhnya dalam diri mereka dan kehidupan mereka betul-betul bersih dari dosa dan dari setiap keburukan. Bebas dari dorongan-dorongan hawa nafsu dan terlepas dari cengkeraman setani kemudian tenggelam dalam samudera kecintaan Allah ta’ala, dan memenuhi hak-hak Allah ta’ala dan hak-hak sesama manusia secara kamil. Timbul kegandrungan dalam hati mereka terhadap agama dan terhadap penyebaran Agama. Menjadi hamba milik Tuhan dengan melenyapkan keinginan-keinginan serta harapan-harapan yang timbul dari dalam kalbu. Orang bertakwa adalah orang yang karena takut kepada Allah ta’ala meninggalkan perkara-perkara yang bertentangan dengan kehendak Allah ta’ala. Menganggap nafsu dan keinginan-keinginan nafsani dan dunia dengan segala isinya tidak mempunyai hakikat apa-apa dibanding dengan Dzat Allah Ta’ala.”

Semoga Allah ta’ala memberi taufiq kepada kita semua untuk menjalani kehidupan kita sesuai dengan keinginan-keinginan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Amin !!

Penerjemah : Mln. Hasan Basri, Shd.

     (Dari Audio Bahasa Urdu).

 

[1] ‘alaihish shalaatu was salaam dan ‘alaihis salaam merupakan kepanjangan dari a.s. seperti tercantum dalam teks asli Urdu dari khutbah ini yang terjemahannya semoga keberkatan dan salam tercurah kepadanya.

[2] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  ‘alaihissalam, ‘Kitabul Bariyyah’, Ruhani Khazain, (Qadian-India, percetakan Zhia ul Islam, Januari 1898),  jilid 13, h. 293 edisi yang dikomputerisasi.

[3] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, halaman 293 hasyiyyah

[4] Fatah Islam, Ruhani Khazain jilid 3 halaman 34

[5] Malfuzhat, jilid V, halaman 604, edisi baru

[6] Malfuzhat

[7] Malfuzhat jilid V halaman 606 edisi baru.

[8] Risalah Al-Wasiyat, Ruhani Khazain jilid 20 halaman 309