Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

7 Januari 2011/Sulh 1390 HS di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari ridha Allah dan memperkuat jiwa mereka layaknya keadaan sebuah kebun di atas dataran tinggi. Hujan lebat jatuh di atasnya sehingga kebunnya berbuah dua kali lipat. Dan jika hujan lebat tidak jatuh di atasnya, maka hujan gerimis pun mencukupi. Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan”. (2:266) Pengorbanan harta merupakan sebuah perintah bagi orang yang bertakwa. Dia yang beriman kepada yang ghaib dan mendirikan shalat serta membelanjakan apa yang Kami rezekikan kepada mereka. (2:4)

Setiap Ahmadi yang tinggal di dunia ini saat ini paham dan kokoh kuat dalam keyakinan bahwa Ahmadiyah dan setiap Ahmadi meyakini atas Kitab Syariat yang terakhir (akhiri syar’i kitaab) dalam bentuk Al-Qur’an yang diterima oleh Hadhrat Muhammad Mushthafa shallAllahu ‘alaihi wa sallam, dan meyakini pula bahwa setiap hukumnya adalah patut dilaksanakan. Seorang mu-min biasa akan menjadi mu-min hakiki dengan mengamalkannya. Telah diketahui bahwa diantara hukum atau perintah-Nya dalam Al-Qur’an ialah termasuk infaq (pengorbanan harta) di jalan Allah. Hal ini difirmankan-Nya di bagian awal Al-Qur’an, yaitu bagian awal Surah al-Baqarah perihal Al-Qur’an adalah sumber petunjuk bagi orang bertakwa.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ () الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ()

“Inilah Kitab yang sempurna; tiada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, dan tetap mendirikan shalat dan dari apa-apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka belanjakan.” (Surah al-Baqarah; 2 : 3-4) Orang bertakwa mempunyai 3 ciri: pertama; يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ ‘yu-minuuna bil Ghaib’ (beriman kepada Yang Gaib); kedua يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ ‘yuqiimuunash shalaah’ (menegakkan shalat) dan ketiga وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ‘wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun’ (mereka belanjakan apa-apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka). Oleh karena itu ketiga hal ini diperlukan untuk menjadi orang yang memperoleh hidayah dan bertakwa. Selanjutnya, di dalam Surah al-Baqarah juga hingga bagian akhir disebutkan mengenai pengorbanan harta dalam berbagai corak dan bahasan. Begitu pula Al-Quran juga seringkali menyebutkan tentang membelanjakan harta di jalan Allah.

Ketika seseorang memperoleh karunia-karunia Allah, sebagai hasil dari pengorbanan-pengorbanannya, keimanannya semakin kuat.

Ayat yang telah saya tilawatkan itu sehubungan dengan membelanjakan di jalan Allah. Dia berfirman, “Orang-orang yang membelanjakan harta di jalan-Ku itu bukan dalam rangka menyatakan jumlah harta kekayaannya, bukan sedang menganggap berbuat kebaikan dan memberi hadiah bagi seseorang, melainkan murni demi meraih ridha Allah. Demi untuk membantu yang lemah di kalangan mereka, memperkuat Jemaat dan memperkuat keimanan sendiri.

Orang kaya dan miskin keduanya tampil ke depan dalam pengorbanan. Umumnya orang-orang miskin mencari ridha Allah melebihi orang kaya. Ketika terbentuk Jemaat para Nabi umumnya kebanyakan anggotanya ialah orang-orang miskin. Kita menyaksikan contoh terbaik secara perorangan dalam saling memperkuat satu sama lain dalam diri para Sahabat Nabi saw setelah hijrah ke Medinah. Para sahabat Anshar menyokong para Sahabat dari Makkah (Muhajirin) agar mandiri. Para sahabat menampilkan teladan yang tiada bandingannya. Juga dalam hal secara Jemaat. Kapanpun ada seruan, mereka mengorbankan kepunyaannya yang terbaik.

Ayat menerangkan pahala dua kali lipat, “Hujan deras jatuh di atasnya, sehingga berbuah dua kali lipat”. Allah dapat melipatgandakan 700 kali lipat atau lebih. Tidak dikatakan bahwa hanya pengorbanan besar saja yang akan diterima. Allah menerima semangat dan niat di balik pengorbanan tersebut.

Suatu kali Rasulullah saw bersabda, satu dirham melampaui 100.000 dirham. Yaitu saat seseorang yang memiliki dua dirham dan dia berikan satu dirham di jalan Allah, sementara orang lain yang berharta melimpah ruah memberikan 100.000 dirham, tetapi 100.000 dirhamnya adalah bagian terendah dari seluruh hartanya.[1]

“Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan”. Allah mengetahui hati, semangat dan spirit di balik pengorbanan-pengorbanan. Ganjaran diberikan menurut niatnya. Allah mengetahui kondisi pengorbanan setiap orang. Pahala-pahala tersebut akan diberikan sesuai dengan itu.

Selama masa Hadhrat Masih Mau’ud as, para anggota mempersembahkan pengorbanan sesuai kemampuannya masing-masing. Kebanyakan sahabat beliau miskin dan mempersembahkan pengorbanan sesuai dengan itu. Pengorbanan-pengorbanan mereka menghasilkan buah begitu banyak, sehingga sekarang generasi-generasi mereka sedang menikmatinya. Generasi-generasi mereka saat ini menampilkan contoh ‘hujan lebat’. Hadhrat Masih Mau’ud as bahkan menyebutkan memberi satu rupe membuat beliau tertarik untuk memberikannya satu rupe tiap bulan. Allah tidak membutuhkan uang. Dia menunjukkan pengorbanan-pengorbanan harta dengan memberikan pahala-pahala-Nya kepada sang pemberi.

Para Khalifah menyeru, tetapi Allah Yang berjanji untuk mengabulkan permohonan-permohonan. Janganlah mengeluarkan uang untuk yang tidak perlu ketika dalam kondisi makmur. Lindungilah harta kalian dan belanjakanlah dengan hati-hati.

Hendaknya senantiasa ingat bahwa Allah Ta’ala tidak pernah memerlukan uang sehingga ia memerlukannya dari pemberian para hamba-Nya. Dia memfirmankan perihal pengorbanan adalah demi ganjaran bagi hamba itu sendiri. Dan, demikianlah pula keadaan para Nabi Allah. Semangat pengorbanan-pengorbanan yang diciptakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as terus nampak tumbuh. Orang-orang yang berasal dari kejauhan mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dan contoh-contoh hujan gerimis dan lebat telah diperhatikan. Hujan karunia terus meningkatkan sumber daya mereka.

Nazhim Waqf-e-Jadid dari India pergi ke Gujarat, suatu wilayah di sana, pada 2010. Dia berjumpa dengan seorang kawan Jemaat yang dia ketahui kondisi keuangannya dan menginginkannya agar meningkatkan janjinya dari 13.000 rupis. Dia segera memberinya cek sebesar 55.000 rupis. Dia dianugerahi dengan keuntungan simpanannya yang terblokir sejumlah 210.000 rupis.

Inspektur Waqf-e-Jadid kita menyarankan seorang anggota yang telah 10 tahun baiat di Koimbator, Tamil Nadu berjanji sebesar 30.000 rupis. Dia menjawab dengan janji 50.000 rupis. Dia akhirnya membayar 100.000 rupis untuk perjanjian Tahrik Jadid dan Waqf-e-Jadid keduanya pada bulan Ramadhan tahun itu.

Syaikh Mahmud Daud, Inspektur Waqf-e-Jadid Wilayah Bengal menulis laporan mengenai seorang Ahmadi baru. Dia pengajar di sebuah madrasah. Selanjutnya, ia mengikuti pelatihan muallimin dan membayar candah 500 rupis. Allah memberinya karunia. Candahnya menjadi 5.000 rupis. Ia berkata, “Dulu sebelum baiat saya makan dari pintu rumah orang lain. Sekarang orang lain makan dari meja makan saya. Sebelumnya tidak berharta. Sekarang berharta.”

Lebih dari setengah anggota di Jemaat Koimbator, Tamil Nadu, yang kebanyakan para Ahmadi baru baiat antara 10 dan 15 tahun lalu, telah ikut andil dalam gerakan Al-Wasiat.

Ada banyak contoh pengorbanan harta juga yang disampaikan dari Afrika. Laporan dari Tn. Amir Jemaat Gambia tentang seorang Ahmadi miskin bernama Tn. Fodayba Colley. Tn. Amir Jemaat Benin menulis laporan mengenai Jemaat Avrakame. Muballigh dari Nigeria mengisahkan perihal Ny. Aswat Habib, seorang perempuan Ahmadi dari Jemaat Lokojah dan juga dari wilayah Wedgo, Tn. Diallo Seko, seorang Ahmadi baru.

Tn. Amir Burkana Faso menulis laporan perihal Tn. Hema Yusuf, seorang anggota dari wilayah Gava, Burkina Faso. Beliau hanya memiliki 3.000 francs dalam sakunya dan berada dalam kesukaran. Dia pergi ke rumah misi. Dia teringat dengan janji Waqf-e-Jadid-nya. Dia memberikan 3.000 francs atas janjinya. Hari yang sama, seseorang memberinya 300.000 francs yang menjadikannya meningkat dalam keimanan kepada Allah dan mengakhiri kesulitan-kesulitan hartanya. Kemudian, mengenai laporang Muballigh wilayah Banfora tentang pengorbanan harta Tn. Sawadogo.

Niger adalah sebuah negara miskin dan penduduknya sering konflik. Mereka tidak membiasakan diri memberikan sesuatu milik mereka. Tetapi, suatu karunia khas Tuhan bahwa segera setelah tabligh Ahmadiyah sampai ke sana dan sistem pengorbanan harta diperkenalkan, hasilnya, orang-orang perhatian dalam hal pengorbanan harta. Orang-orang desa yang telah ditablighi serta menjadi Jemaat, mulai membayar candah. Muballigh di sana melaporkan bahwa seratus persen cabang-cabang di Niger berpartisipasi dalam Waqf-e-Jadid. Tahun lalu, pejanji sejumlah 1.478 anggota telah berpartisipasi. Tahun ini, anggota Jemaat di sana meningkat menjadi 17.608 orang yang berpartisipasi dalam Waqf-e-Jadid. Artinya, peningkatan jumlah pejanji ialah 16.228 orang.

Seorang anggota Ahmadiyah di Lagos, Tn. Al-Haaji Ibrahim al-Hasan membangun sebuah masjid dan rumah. Dia melihat dalam mimpi bahwa para Khalifah Hadhrat Masih Mau’ud as datang mengunjungi konstruksi baru satu persatu yang disokong sendiri oleh Hadhrat Masih Mau’ud as pada akhirnya. Beliau menganjurkannya untuk memberikan sebuah rumah tingkat kepada Jemaat. Dia memutuskan untuk memberikan seluruhnya kepada Jemaat dan sejumlah besar uangnya juga.

Muballigh di wilayah Noce, Togo menulis laporan bahwa para penentang datang ke sebuah Jemaat sembari membawa dana yang banyak. Mereka memberitahu Jemaat, “Orang-orang Ahmadiyah meminta kontribusi-kontribusi (iuran) dari kalian, sedangkan kami membawa perbekalan-perbekalan buat kalian.” Para Ahmadi menjawab, “Kalian menyelewengkan kami dari keimanan, sedangkan orang-orang Ahmadiyah memperkuat keimanan kami. Kami miskin, tapi seberapa kecilnya yang kami punya, kami sumbangkan.”

Pendek kata, inilah orang-orang yang demi ridha Allah Ta’ala, mereka melakukan berbagai jenis pengorbanan baik kecil maupun besar. Allah Ta’ala lipatgandakan ganjaran bagi mereka sebagaimana janji-Nya. Semangat pengorbanan bukan hanya tetap ada dalam Jemaat, bahkan semakin maju dan bertambah. Bukan hanya para Ahmadi lama, melainkan juga para Ahmadi baru pun berperan serta.

Gerakan Waqf-e-Jadid awalnya hanya untuk Pakistan. Artinya, hanya para Ahmadi Pakistan yang berperan serta. Pada masa Khalifatul Masih IV rh, itu menjadi gerakan seluruh dunia. Maksud utama pemungutan gerakan keuangan Waqf-e-Jadid dari negara-negara kaya atau negara-negara Barat dan negara maju lainnya ialah guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan Jemaat di India dan Afrika yang senantiasa meningkat. Juga untuk banyak Jemaat yang terdapat para Mubayyi’ baru yang belum memenuhi nizham keuangan secara baik. Gerakan ini memenuhi keperluan dan pengeluaran mereka contonya pembangunan masjid-masjid dan lain sebagainya. Sekarang, para anggota dari negara-negara tersebut juga sedang maju dalam pengorbanan-pengorbanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan lokal. Namun, dari segi lainnya, kebutuhan meluas karena misi-misi baru sedang dibuka, masjid-masjid sedang dibangun dan literatur sedang diterbitkan. Kontribusi-kontribusi dari Jemaat-Jemaat di negara Barat sedang menyokong bukan hanya lokal, tetapi juga negara-negara miskin. Jemaat seluruhnya sedang mempresentasikan gambaran hujan lebat dalam hal pengorbanan.

Waqf-e-Jadid tahun ke-53 telah berakhir pada 31 Desember 2010. Kontribusi-kontribusi selama tahun ke-53 sebanyak 4.183.000 British pound, meningkat 664.000 (Enam ratus enam puluh empat ribu) dari tahun sebelumnya. Sepuluh penyumbang tertinggi adalah Pakistan, United States (Amerika Serikat), United Kingdom, Jerman, Kanada, India, Australia, Indonesia, Belgia dan Switzerland. United Kingdom meningkat 100.000 pound, sedangkan Jerman meningkat lebih dari 200.000 euro. Amerika Serikat unggul dalam kontribusi perseorangan dengan 81 pound per orang, diikuti oleh Switzerland dengan 48 pound per orang. Ireland, United Kingdom dan Jepang posisi selanjutnya dalam rangking per orang. Ghana unggul di Afrika, diikuti oleh Nigeria dan lain-lain. Lahore, Karachi dan Rabwah unggul di Pakistan. Los Angeles East, Inland Empire, Silicon Valley, Chicago West dan Boston unggul di United States. Laporan-laporan harus dipisahkan antara dewasa dengan anak-anak.

Tn. Hidayatullah Hubsch meninggal dunia hari Minggu pada 4 Januari 2011. Beliau lahir pada 1946. Beliau seorang anggota Ahmadiyah Jerman yang terkemuka. Beliau menikah pada 1974 dengan seorang wanita Mauritius dan mempunyai seorang putri dari pernikahan itu. Istri beliau wafat pada 1989. Kemudian, beliau menikah untuk yang kedua kalinya dengan putri seorang Darweisy, Tn. Said Ahmad Mahaar dan memperoleh 3 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Beliau seorang Ahmadi yang setia dan tulus. Saat sedang berada di rumah mertuanya, beliau melihat percikan cahaya datang dari belakang dan jatuh di atas sebuah buku diantara banyak buku yang berada di depan beliau. Itu adalah terjemahan Al-Quran Suci. Beliau pergi mencari sebuah masjid dan beliau tiba di masjid Nur milik Ahmadiyah Frankfurt. Di sana, beliau bertemu dengan muballigh kita yang telah almarhum, Tn. Masood Jhelumi.

Beliau menjadi seorang Muslim Ahmadi pada tahun 1969. Hadhrat Khalifatul Masih III rha menamai beliau Hidayatullah. Almarhum mulaqat dengan beliau rha pada 1970 saat beliau rha berkunjung ke Frankfurt, Jerman. Amir Jemaat Muslim Ahmadiyah Jerman menjadi seorang Muslim Ahmadi melalui tabligh almarhum. Beliau telah menterjemahkan pidato-pidato para Khalifah Hadhrat Masih Mau’ud as ke dalam bahasa Jerman. Beliau adalah pribadi yang sederhana dan mukhlis. Beliau memperoleh keyakinan kepada Allah, keimanan, kepercayaan, kesetiaan, cinta dan ketulusan. Beliau mencintai Khilafat dan tidak membeda-bedakan orang. Beliau rajin shalat Tahajjud. Beliau mengundang saya ke rumahnya dan menunjukkan perpustakaannya. Beliau sangat gembira, karena saya berkunjung kepadanya.

Beliau menulis banyak buku tema Islam dalam bahasa Jerman. Beliau adalah sekretaris pers Jemaat Jerman dalam waktu lama. Beliau adalah seorang ‘alim (cendekia). Beliau meninggalkan harta benda berupa literatur di Jerman yang berkaitan dengan materi-materi pendidikan. Beliau menulis nazm dalam bahasa Jerman. Beliau mengajar bahasa Jerman di Jamiah sebelum beliau meninggal dunia. Dua belas buku beliau telah diterbitkan di luar Jemaat termasuk nazm beliau. Beliau menulis kira-kira 120 selebaran. Beliau mempunyai kontak dengan para jurnalis. Beliau ikut ambil bagian dalam talk show dan program-program televisi.

Enam belas surat kabar Jerman memberitakan kewafatan beliau termasuk satu buah suratkabar nasional berjaringan luas. Artikel-artikel berita banyak menyebut beliau sebagai pribadi Muslim paling terkenal di Jerman. Menteri urusan-urusan agama di provinsi Hessen mengomentari kewafatan beliau, “Almarhum adalah seorang pribadi paling terkenal dalam urusan mengenai agama Islam.” Frankfurt Neu Presse menulis, “Beliau (almarhum) adalah seorang penyair dan Muballigh Islam.” Peraih Nobel bidang Sastra, Tn. Gunter Grass memasukkan almarhum kedalam kelompok penulis besar.

Dalam nazm terakhir yang beliau susun, beliau mengungkapkan syukur dengan sangat santun dan hormat kepada Nabi Muhammad saw dengan mengatakan, “Aku dipermuliakan oleh Allah berkat diri engkau dengan menerima agama yang benar dan mengikuti jalan yang lurus.” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhum.

Orang-orang Ahmadiyah Jerman harus mengikuti jejak langkah beliau dan menguraikan secara rinci keunggulan Islam.

Matahari gerhana pada hari yang sama. Kewafatan beliau tidak bisa direlasikan dengan gerhana. Ada gerhana matahari pada waktu Ibrahim, putra Rasulullah saw Beberapa orang Islam mencoba untuk mengkaitkannya. Rasulullah saw bersabda, ‏ “‏ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا‏”‏‏.‏ ‘innasy syamsa wal qamara laa yakhsifaani li-mauti ahadin wa laa li hayaatihi, walakinnahumaa ayaataani min ayaatiLlaahi, fa-idza raitumuuha fashalluu.’ – “Matahari dan bulan tidak bergerhana karena hidup atau matinya seseorang. Gerhana adalah salah satu dari sekian banyak tanda-tanda Allah. Jika kalian menyaksikannya, hendaklah bangun dan berdoa (shalat gerhana).”[2] Oleh karena itu, tiap kali menyaksikan gerhana, tugas kita adalah melaksanakan cara yang telah disebutkan oleh Hadhrat Rasulullah saw ini yaitu shalat gerhana baik gerhana bulan maupun matahari. Selain itu, saya hendak menggerakkan Jemaat untuk memanjatkan doa. Kemarin para penentang Jemaat menembaki para Ahmadi di Mardan. Akibatnya, seorang pemuda Ahmadi berusia 25 tahun, Wajih Ahmad Nu’man, terluka dalam upaya pensyahidan (percobaan pembunuhan) itu.

[1] Sunan an-Nasai, Kitab zakat, bab jahdil muqill (upaya orang yang berkekurangan)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ ‏”‏ ‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ قَالَ ‏”‏ رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ فَأَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ وَرَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ فَأَخَذَ مِنْ عُرْضِ مَالِهِ مِائَةَ أَلْفٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا ‏”‏

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Satu Dirham -pahalanya- bisa memenangkan seratus ribu Dirham.” Mereka bertanya; “Bagaimana hal itu?” Beliau bersabda: “Seorang memiliki uang dua Dirham, lalu mengambil satu Dirham dan bersedekah dengannya; dan seseorang memiliki harta yang banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dari harta yang melimpah, kemudian ia bersedekah dengannya.”

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Kusuuf (gerhana), bab ash-shalaat fi kusuufisy syams (shalat ketika gerhana matahari), riwayt ibn Umar.