Intisari Khutbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 24 Desember 2010

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Artinya : Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doá orang yang memohon apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaknya mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al Baqarah: 187)

Sambil mengumumkan Jalsah Salanah Qadian yang akan dimulai pada tanggal 26 December 2010, Huzur atba mengenang kembali suasana Jalsah-jalsah Salanah yang terakhir diselenggarakan di Rabwah yang sangat menggembirakan sekali pada tahun 1983 atau 27 tahun yang lalu. Selama tiga hari Jalsah Salanah di Rabwah digunakan demi menggugah dan menyegarkan iman. Anak-anak sekolah dengan sangat antusias dan semangat sekali mengisi borang (formulir) sebelum menjalankan tugas-tugas mereka, tugas apa saja yang mereka pilih atau tugas apa saja yang telah ditetapkan bagi mereka. Generasi yang dilahirkan dalam tempoh 27 tahun terakhir ini tentu tidak memiliki pengalaman dalam menjalankan tugas ini. Tentu banyak keluarga yang tidak dapat mengingat saat-saat menggembirakan tersebut, bahkan barangkali tidak mempunyai wawasan tentang pekerjaan yang dilakukan seperti itu. Huzur atba menyatakan harapan agar keluarga-keluarga yang menetap di Rabwah selalu mengenang memory suasana Jalsah-jalsah tersebut agar tetap hidup didalam pikiran mereka. Beliau bersabda bahwa memberi harapan demikian tujuannya bukanlah untuk menggugah rasa rindu kepada generasi baru, melainkan untuk menciptakan suatu keteguhan hati bahwa larangan yang dilancarkan pemerintah untuk tidak mengadakan Jalsah ini sifatnya sementara dan hal itu tidak akan melemahkan semangat kita. Kita selalu memohon segala sesuatu yang kita perlukan hendaknya diridhoi Tuhan dan apakah hari-hari seperti itu akan datang kembali ataukah tidak sama sekali tidak akan dapat menggoyahkan iman atau pendirian kita selama Tuhan belum mengizinkan. Generasi baru harus dapat membayangkan hari-hari berbahagia itu di mana semua orang-orang muda dan orang-orang tua selalu merasa puas atau kenyang dengan limpahan berbagai macam santapan ruhani dan diwaktu itu Rabwah dihiasi dengan warna-warni keindahan laksana seorang pengantin, toko-toko ampak indah dihiasi, pasar-pasar sementara didirikan untuk memenuhi segala keperluan para tamu, bus-bus dan kereta-kereta api khusus dioperasikan dan dengan penuh gairah di setiap rumah tangga dipersiapkan akomodasi untuk para tetamu. Beberapa keluarga menyiapkan seluruh fasilitas rumah mereka untuk para tamu sedangkan untuk mereka sendiri mendirikan tenda dihalaman bagian depan atau bagian belakang rumah mereka. Orang-orang Rabwah memperlihatkan semangat pengorbanan yang menakjubkan semata-mata demi mengkhidmati para tamu dengan penuh rasa gembira. Huzur atba bersabda bahwa, hal ini bukanlah perkara khayalan atau hanya dibuat-buat belaka, namun suasana kegembiraan seperti itu pasti akan tiba masanya untuk dihidupkan kembali. Kita bukan manusia berputus asa terhadap rahmat Tuhan, akan tapi kita akan terus memohon kepada-Nya sebab, kita selalu berpegang teguh pada keyakinan terhadap  firman-Nya:

“Dan siapakah yang berputus asa akan rahmat dari Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat?” (Al Hijr, 15:57). Jadi, kita tidak akan berputus asa bahwa hari-hari seperti itu pasti akan kembali lagi, atau bagaimanakah gerangan bisa kembali lagi? Hari-hari seperti itu pasti akan kembali lagi karena kita percaya dan yakin sekali akan Kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. menulis bahwa apabila penganiayaan dan penindasan sudah sampai pada puncaknya, maka Tuhan datang untuk menolong hamba-hamba-Nya yang lemah ini; sementara segala rencana atau usaha musuh itu sudah berakhir, rencana Tuhan tidak berhenti dan akan tetap berjalan. Tuhan berfirman:

‘Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Maha Pelindung, Maha Terpuji’. (Asy Syuuraa, 42:29). Huzur atba bersabda bahwa, apabila Tuhan datang untuk memberikan pertolongan dengan rahmat-Nya kepada orang-orang yang sedang teraniaya dan hampir berputus asa, maka anugerah pertolongan-Nya terhadap orang-orang beriman akan lebih besar lagi, sebagaimana firman-Nya tentang mereka itu: ‘Allah itu sahabat orang-orang beriman; ..…’ (2:258). Tuhan tidak akan membuat mereka putus-asa dan sungguh telah dipastikan akan datangnya pertolongan terhadap orang-orang mukmin di antara mereka yang unggul dalam upaya merendahkan dirinya, yaitu orang-orang yang dinyatakan dengan firman-Nya:

‘Dan Dia mengabulkan doa-doa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan Dia menambahkan kepada mereka sebagian karunia-Nya .…’ (42:27). Turunnya anugerah Tuhan itu selalu di luar pemikiran manusia.

Bagi orang-orang yang akan hadir pada Jalsah Salanah Qadian, terutama yang datang dari Pakistan, Huzur bersabda bahwa, hanyalah orang yang sesat yang berputus asa akan rahmat Tuhan, sedangkan kita adalah para pengikut Imam Mahdi diakhir zaman ini, yang sudah diajari untuk melangkahkan kaki diatas jalan yang lurus. Tuhan telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada noor atau cahaya terang benderang. Orang-orang Ahmadi tahu dan sadar akan hal ini, dan itulah sebabnya mereka dapat bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesukaran dan rintangan yang dilancarkan oleh para penentang atau musuh-musuh Jema’at dan orang-orang Ahmady menghadapinya dengan tabah dan sabar dan dengan cara yang sangat terpuji, mereka menangis sambil mencucurkan air mata hanya dihadapan Tuhan mereka. Akan tetapi, Huzur atba bersabda bahwa, ada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan ada juga orang-orang melakukan pengkhidmatan terhadap Jema’at juga merasa gelisah menghadapi kesulitan-kesulitan itu dan diantara mereka ada yang menulis surat surat juga kepada Huzur bahwa mengapa masa kesulitan itu terus berlangsung secara berkepanjangan dan memohon agar kesulitan itu berakhir dalam waktu yang singkat, kemudian setelah itu situasi akan menjadi lebih baik. Huzur atba menjelaskan bahwa waktu yang singkat itu tidak ada artinya dalam kehidupan suatu bangsa. Orang-orang yang progressive mempunyai pandangan jauh kedepan tentang kemajuan yang dapat dicapai secara global. Gerak-cepat kemajuan kita sudah meningkat berlipat kali ganda, bahkan Jema’at di Pakistan sendiri yang sedang dihimpit oleh berbagai macam kesulitan dan tantangan sangat keras banyak kemajuan-kemajuan yang telah mereka peroleh. Memang, di sana ada beberapa larangan dan pembatasan kepada Jema’at kita, kita juga telah kehilangan beberapa nyawa yang sangat berharga di sana ; orang-orang Jemaat disana dan Khalifah Waqt sama-sama ingin berjumpa satu sama lain, namun, Tuhan telah menurunkan karunia-Nya kepada kita, walaupun ada pembatasan atau larangan mengadakan Ijtima dan Jalsah di Pakistan namun berkat adanya siaran-siaran langsung MTA, orang-orang Ahmadi disana dapat mengikuti dan menyaksikan banyak Jalsah-jalsah dan Ijtima-ijtima di seluruh dunia melalui siaran MTA ini. Jadi, Tuhan tidak berhenti menurunkan hidangan ruhani kepada kita, jangan sampai kita terpengaruh oleh perasaan putus-asa, melainkan kita harus menempa kegelisahan itu dengan Shalat dan doa-doa.

Huzur atba membayangkan kembali suasana Jalsah yang penuh kegembiraan dan suasana yang suci-bersih meliputi Rabwah dan merenungkan akan  taqdir Tuhan untuk kemenangan bagi Ahmadiyyah, yang sudah ditakdirkan demi agama Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang akan mendominasi dunia, yang sudah ditakdirkan untuk memasukkan mayoritas penduduk dunia ini ke dalam Jemaat Hazrat Al-Masih Muhammadiyah, yang sudah ditakdirkan untuk membuat kebenaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjadi jelas dan terbukti dengan nyata bagi orang-orang dunia termasuk orang-orang yang berada di Pakistan. Kita harus terus bersujud dan berdoa dengan khusyuk didalam Shalat-shalat kita untuk segera turunnya taqdir Ilahi ini. Huzur atba membayangkan kembali kegembiraan Jalsah Salanah di Rabwah yang penuh sesak dengan orang-orang ramai tetapi tidak pernah terjadi keributan. Orang-orang laki-laki dan perempuan berjalan ditepi jalan masing-masing yang terpisah dari jalan-jalan umum. Setiap orang laki-laki harus ingat akan kesucian kaum wanita dan setiap wanita harus selalu ingat akan kesederhanaan mereka. Tidak akan pernah ada pertanyaan dari orang-orang yang berseberangan jalan. Pemandangan ini menggugah ingatan orang kepada jalan-jalan di Medinah, di mana dalam salah satu Hadits, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. menyukai kaum wanita berjalan di sebelah pinggiran tembok jalan, di mana mereka sangat mematuhinya.

Huzur atba memberi nasihat kepada mereka yang akan hadir pada Jalsah Qadian ini, terutama bagi mereka yang akan datang untuk pertama kalinya, mereka harus berhati-hati dengan jalan-jalan yang sempit dan supaya ingat untuk berjalan di jalur yang terpisah bagi pria dan wanitanya. Huzur atba juga mengharapkan mereka untuk tetap dawwam dalam mengerjakan Shalat selama Jalsah. Ada sekitar 7000 orang tamu yang sudah tiba di Qadian dan masih banyak lagi yang akan datang. Mereka yang datang dari Pakistan akan memperoleh pengalaman langsung hadir mengikuti acara-acara Jalsah. Huzur atba mengingatkan kepada setiap orang jangan sampai membuat keributan di sekitar tempat Jalsah, baik ditempat akomodasi, di ruangan tempat makan atau-pun di Jalsah Gah. Huzur atba bersabda, keributan bisa timbul disebabkan sifat egoisme, jika setiap orang dapat menunjukkan sifat pengorbanan satu sama lain maka tidak akan pernah terjadi keributan. Huzur bersabda bahwa, kadang-kadang ada tukang fitnah yang berusaha menciptakan kebingungan, namun sama sekali jangan memberi kesempatan kepada mereka itu. Orang-orang  Hindu, Sikh dan Kristiani juga terdapat diantara penduduk Qadian dan orang-orang Ahmadi harus memperlihatkan rasa hormat kepada mereka semuanya. Bahkan jika ada orang di antara mereka yang berkata sesuatu yang salah, kita harus tetap berusaha mengendalikan emosi kita.

Huzur atba menasihatkan kepada semua peserta Jalsah untuk memusatkan  perhatian masing-masing terhadap Shalat dan berdoa, karena tidak ada tujuan lain dari menghadiri Jalsah ini kecuali untuk meningkatkan martabat ruhani kita. Alangkah baiknya Tuhan kita bahwa Dia telah memberi keyakinan kepada kita melalui ayat-ayat seperti ini:

‘‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah “Sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka bisa mengikut jalan yang benar.”  

Dalam hal ini, tidak akan ada waktu yang lebih baik dan tepat untuk Shalat dan berdoa kepada Tuhan daripada pada saat kita sedang menghadiri Jalsah. Dewasa ini, orang-orang Ahmadi Pakistan adalah orang-orang yang paling susah dan menderita di dunia di mana mereka harus mengalihkan kesedihan dan kesusahan mereka itu kepada doa-doa sambil mencucurkan air mata dihadapan Tuhan, sebagaimana firman-Nya:

Atau, siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah Tuhan lain selain Allah? Kamu sangat  sedikit sekali memikirkannya.’ (An Naml, 27:63).  

Mereka yang sudah diberi kesempatan untuk hadir pada Jalsah Qadian ini harus dapat menggoyangkan Langit dan Bumi melalui rintihan dan tangisan doa-doa mereka sehingga membuat kehidupan material dan kehidupan spiritual berjalan dengan baik. Huzur menasihatkan kepada para petugas Jalsah juga untuk sibuk dalam mengingat Allah selama mereka menjalankan tugas dan orang-orang mukmin sejati tidak hanya berdoa bagi diri mereka sendiri yang sedang dalam kesulitan, tetapi mereka juga berdoa bagi seluruh Jemaat dan bagi tegaknya agama Nabi Suci s.a.w., dan juga berdo’a untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Doa orang-orang yang sedang dihimpit oleh kesusahan yang sangat keras pasti akan dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan bukan saja akan menghilangkan kesulitan-kesulitan sebagai suatu ganjaran dan Dia juga menahan tangan orang-orang zalim yang menindas dan menganiaya mereka, sebagaimana Dia berfirman: ‘… dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi …’ (27:63). Huzur menjelaskan bahwa hal ini adalah taqdir Ilahi dan tidak ada so’al keputus-asaan di dalamnya. Tidak perlu mengeluh karena keputus-asaan dan terus bertanya-tanya tentang datangnya waktu yang singkat dan cepat yang akan menjadi lebih baik. Jika kerendahan hati dapat dipertahankan, maka ‘waktu yang singkat’ menjadi waktu yang lebih baik itu akan datang, dengan menghilangkan semua kesulitan dan menundukkan orang-orang tukang fitnah. Apa yang kita perlukan ialah kita harus menghormati kewajiban beribadah menyembah Sang Pencipta Hakiki, menjaga dan menjauhi semua jenis perbuatan syirik yaitu menyekutukan Tuhan   dan memelihara generasi mendatang terhadap hal tersebut. Inilah perkara yang akan membawa banyak keberkahan dan akan mendatangkan banyak karunia turun dari Tuhan.

Huzur atba bersabda bahwa, Tuhan kita Tercinta mengatakan bahwa ganjaran-ganjaran-Nya akan diberikan lebih besar lagi kepada orang-orang yang menundukkan kepala sambil memanjatkan do’a-do’a kepada-Nya dengan penuh ke-khusyuan. Kita tidak boleh merasa ragu apakah permintaan doa dalam kesedihan kita ini akan sampai kepada Dia ataukah tidak. Namun Tuhan berfirman: ‘…. Aku dekat …..’ tetapi syaratnya adalah manusia harus tetap yakin dengan teguh diwaktu menghadap kepada-Nya dan siap mendengar serta mentaati perintah-perintah-Nya.

Hazrat Masih Mau’ud a.s.bersabda : “Dalam jangka waktu sejak mulai memanjatkan doa sampai sa’at pengabulannya,  manusia seringkali ditimpa banyak sekali ujian berupa musibah yang sangat berat sehingga kadang-kadang punggung terasa akan patah. Seorang yang berdoa dengan tekun dan  sabar dapat mencium aroma kemurahan dan kebaikan Tuhan-nya di sa’at sedang menghadapi ujian dan kesulitan itu dan akal pikiran mereka memahami bahwa mereka akan segera dianugerahi pertolongan. Satu aspek dari pada ujian-ujian ini adalah mereka itu dibantu dengan keinginan untuk memanjatkan do’a kepada Tuhan. Semakin besar kesulitan yang dihadapi oleh seorang yang berdoa, maka jiwanya akan semakin mencair dihadapan Allah swt. Itulah salah  satu factor terkabulnya doa seorang hamba. Jadi manusia jangan sampai patah hati dan jangan sampai punya pikiran buruk tentang Tuhan dengan menunjukkan kegelisahan sebagai tanda orang yang tidak sabar. Manusia janganlah mengira, apakah doanya itu tidak diterima atau tidak akan dikabulkan. Dugaan semacam itu merupakan penolakan terhadap sifat Tuhan bahwa Dia mengabulkan doa-doa hamba-hamba-Nya.’ (Malfuzat, Jilid. IV, hal. 434)

Huzur atba bersabda bahwa, disamping betapa hebatnya perlawanan atau oposisi musuh terhadap kita, bukan saja kita dapat mencium aroma yang manis, tetapi dengan karunia Tuhan, kita justru sedang menikmati buah kejayaan dan sukses yang berlimpah. Tanpa diragukan lagi, setiap orang yang menjadi syahid didalam Jemaat kita menimbulkan kesedihan dan kepedihan, akan tetapi oleh karena pengorbanan-pengorbanan para syuhada ini diterima oleh Tuhan sehingga dampaknya membawa buah-buah kesuksesan kepada kita.

Dewasa ini orang-orang Ahmadi   di Pakistan dan orang-orang Ahmadi di beberapa tempat di India dan di beberapa Negara lainnya sedang benar-benar merasakan kesukaran yang menyedihkan. Apabila kesedihan seperti itu telah timbul, maka saatnya untuk pengabulan doa-pun sudah menjadi dekat. Huzur menasihatkan agar kesedihan ini dapat dialihkan secara ekstrim kepada permohonan doa sambil mencucurkan air mata kehadhirat Tuhan selama Jalsah ini kemudian membuatnya sebagai bagian dari amalan yang permanent didalam kehidupan kita. Huzur atba berdoa semoga Tuhan memberi taufik dan kemampuan kepada kita semua untuk menunaikan Shalat dan berdoa dengan cara yang akan mengubah kesedihan kita yang mendalam itu menjadi sebuah kegembiraan yang kekal dan semoga kita dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang mendapat anugerah kemurahan dan kasih-sayang Tuhan.

Selanjutnya Huzur atba mengumumkan sbuah berita duka tentang disyahidkannya Sheikh Umer Javed sahib dari Mardan , Pakistan. Ketika beliau sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama keluarganya dalam sebuah kendaraan tiba-tiba penyerang yang mengendarai sepeda motor menembaki kendaraan beliau. Umer Javed sahib disyahidkan sedangkan anggota keluarga lainnya terluka. Ada 18 lubang bekas tembakan ditemukan pada mobil beliau. Huzur atba bersabda bahwa, keluarga dari Umer Javed sahib sudah ada beberapa orang yang disyahidkan dimasa lampau, tetapi mereka ini tetap menghadapi kesulitan ini dengan penuh keberanian.  Beliau ikut di dalam semua kegiatan Jama’at Lokal dan menikah dua tahun yang lalu. Janda beliau sedang menunggu kelahiran bayinya. Huzur atba mendoakan untuk kesehatannya yang sempurna dan semoga Tuhan melindunginya dari kesulitan lainnya. Huzur menjelaskan bahwa, keadaan orang-orang di Daerah Perbatasan Provinsi Pakistan ini lebih baik sehingga Chief Minister dari Provinsi ini pergi menjenguk keluarga yang terluka dan memerintahkan kepada Staff Rumah Sakit untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya; beliau juga berkunjung ke rumah Syahid itu untuk menyampaikan ucapan bela-sungkawa.

Huzur atba mengumumkan bahwa beliau akan memimpin Shalat Jenazah Ghaib bagi almarhum setelah Shalat Jum’at selesai.

(Visited 20 times, 1 visits today)