Khotbah Jumat

 

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 20 Juli 2018 (Wafa 1397 HQ/07 Dzulqa’idah 1439 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

( آمين)

Seorang sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Hadhrat Khallad Bin Rafi az-Zurqi (خَلَّادُ بن رَافِع بن مَالِك بن العَجْلان الزرقي الخزرجي الأنصاري) radhiyAllahu ‘anhu, berasal dari kaum Anshar. Beliau termasuk beruntung karena telah ikut serta pada perang Badr dan Uhud. Allah Ta’ala menganugerahkan putra-putri yang banyak kepada beliau.[1]

Dalam satu riwayat, Mu’adz Bin Rifa’ah meriwayatkan dari ayahnya (Rifa’ah bin Rafi’) yang mengatakan, “Saya bersama dengan saudara saya, Khallad bin Rafi’ dengan menunggangi unta pernah menyertai Rasulullah (saw) menuju Badr. Unta itu sangat lemah sehingga ketika kami sampai di daerah Barid yang terletak di belakang daerah Rauha (الروحاء), unta kami terduduk.

Saya berdoa, اللهم لك علينا لئن أتينا المدينة لننحرن البعير ‘Ya Tuhan! Kami bernazar kepada Engkau, jika Engkau dapat mengembalikan kami lagi ke Madinah nanti, kami akan mengurbankan unta ini.’

Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Hadhrat Rasulullah (saw) lewat di depan kami. Beliau (saw) bertanya kepada kami, مالكما؟  ‘Apa yang terjadi dengan kalian berdua?’

Kami menjelaskan kepada beliau semuanya. Rasulullah (saw) berhenti lalu berwudhu. Selanjutnya, beliau masukan air liur ke dalam air sisa wudhu itu. Kemudian, atas perintah beliau (saw), kami membuka mulut unta. Beliau masukkan sedikit air tadi ke dalam mulut unta lalu beliau juga siramkan air tersebut sedikit ke kepala unta, leher, bahu, punggung dan ekor unta.

Lalu Rasulullah (saw) berdoa, اللهم احمل رافعا وخلادا ‘Ya Allah! berikanlah kekuatan pada unta ini supaya Rifa’ah bin Rafi dan Khallad bin Rafi’ dapat menungganginya lagi.’ Kemudian, beliau (saw) pergi.

Kami pun berdiri lalu berangkat. Pada akhirnya kami berjumpa dengan Rasulullah (saw) di permulaan daerah Manshaf (المنصف). Unta kami yang terdepan diantara kafilah. Ketika Rasulullah (saw) melihat kami, beliau tersenyum. Berkat doa beliau, kelemahan yang dialami unta kami menjadi hilang.

Kami terus berjalan dan akhirnya sampailah di Badr. حتى إذا كنا بالمصلى راجعين من بدر بَرَكَ علينا، فنحره أخي، فقسَّم لحمه، وتصدَّق به Ketika dekat dengan lembah Badr, ketika kami sampai di daerah Mushala sekembalinya kami dari Badr, unta itu duduk lagi lalu saudara saya menyembelihnya, membagi-bagi dagingnya dan membagi-baikannya sebagai sedekah.”[2]

Di awal khotbah tadi telah saya sampaikan nazar yakni jika unta tersebut dapat mengantarkan sampai tujuan, maka kami akan menyembelihnya, lalu mereka memenuhi nazar tersebut.

Seorang sahabat yang bernama Hadhrat Haritsah bin Suraqah (حَارِثَةُ بْنُ سُرَاقَةَ الْكِنْدِيُّ) radhiyAllahu ‘anhu wafat pada perang Badr di tahun ke-2 Hijriyah. Ibunda beliau Ummu Rubai’ binti Al-Barra yang merupakan bibi Hadhrat Anas bin Malik.[3]

Beliau dan ibunda mendapatkan karunia untuk masuk Islam sebelum hijrah. Saat itu ayah beliau telah wafat.[4]

Rasulullah (saw) menjalinkan ikatan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Saib Bin Usman Bin Mazh’un yakni mengikatkan perjanjian persaudaraan.[5]

Abu Naim meriwayatkan bahwa Hadhrat Haritsah Bin Suraqah selalu memperlakukan ibunda dengan sangat baik, sehingga Rasulullah (saw) bersabda, دَخَلَتْ الجَنَّةُ فَرَأَيْتُ حَارِثَةَ، كَذَلِكُمُ البِرُّ ‘dakhaltul jannata, fara-aitu Haritsah.’ – ‘Ketika saya masuk ke surga saya melihat Haritsah di sana.’[6]

Hibban Bin Arqah (pihak kuffar Quraisy Makkah) telah mensyahidkan beliau pada perang Badr. Dia memanahnya ketika beliau meminum air di Haudh. Anak panah itu mengenai leher beliau dan mengakibatkan beliau syahid.

Hadhrat Anas (ra) meriwayatkan Rasul Karim (saw) tengah berjalan, lalu ada seorang pemuda Anshar yang datang menghampiri beliau Saw. Hadhrat Rasulullah (saw) bertanya padanya, كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا حَارِثَةُ ؟ “Wahai Haritsah! Bagaimana Anda melewati pagi ini?”

Beliau menjawab, أَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ تَعَالَى حَقًّا “Saya melewati pagi ini dengan keyakinan bahwa saya beriman pada Allah dengan keimanan sejati.”

Beliau (saw) bersabda, انْظُرْ إِلَى مَا تَقُولُ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْلٍ حَقِيقَةً “Coba lihat apa yang sedang Anda katakan karena setiap sesuatu memiliki hakikat.”

Pemuda itu mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، عَزَفَتْ نَفْسِي عَنِ الدُّنْيَا ، فَأَسْهَرْتُ لَيْلِي ، وَأَظْمَأْتُ نَهَارِي ، فَكَأَنِّي بِعَرْشِ رَبِّي بَارِزًا ، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ فِيهَا ، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ النَّارِ يَتَعَاوُونَ فِيهَا “Ya Rasulullah (saw)! Hati saya sudah tidak cinta lagi kepada dunia. Saya terjaga semalaman dan kehausan sepanjang siang yakni beribadah malam dan berpuasa. Saya seolah-olah dapat melihat Arasy Tuhanku Yang Maha Kuasa dengan mata lahiriah. Seolah saya melihat penduduk surga seperti tengah saling bertemu satu sama lain. Seolah tengah melihat penduduk neraka yang tengah ribut di dalamnya.”

Beliau (saw) bersabda, أَصَبْتَ فَالْزَمْ ، عَبْدٌ نَوَّرَ اللَّهُ تَعَالَى الإِيمَانَ فِي قَلْبِه “Anda teguhlah akan hal itu. Anda adalah seorang hamba yang keimanannya telah disinari Allah.”

Lalu dia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ادْعُ اللَّهَ تَعَالَى لِي بِالشَّهَادَةِ “Ya Rasulullah (saw)! Mohon doakan saya supaya mendapat kesyahidan!”

Selanjutnya, Rasulullah (saw) mendoakan beliau. Ketika para pengendara kuda dipanggil pada saat hari Badr, beliau (ra) adalah yang paling pertama tampil dan merupakan penunggang kuda yang paling dahulu syahid.[7]

Diriwayatkan (أخبرنا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ) bahwa beliau (Hadhrat Haritsah) adalah sahabat Anshar yang paling dulu syahid pada perang Badr. Ketika ibunda beliau, Hadhrat Rabiah mendapatkan kabar syahidnya Hadhrat Haritsah, ia datang menjumpai Rasulullah (saw) dan berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي، فَإِنْ يَكُ فِي الْجَنَّةِ أَصْبِرُ وَأَحْتَسِبُ، وَإِنْ تَكُنِ الأُخْرَى تَرَ مَا أَصْنَعُ “Hudhur (yang mulia) mengetahui betapa kecintaan saya kepada Haritsah, dia selalu mengkhidmati saya. Jika dia termasuk ahli surga, saya akan bersabar dan menginstrospeksi diri. Namun jika tidak, Tuhan-lah yang Maha tahu apa yang akan saya lakukan.”

Rasulullah (saw) bersabda, ويحك أو جنة وَاحِدَةٌ، إِنَّمَا هِيَ جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي جنة الفردوس “Wahai Ummu Haritsah! Surga tidaklah satu, melainkan banyak. Haritsah berada dalam Surga Firdaus, yakni surga yang tertinggi.”[8]

Lalu ibu beliau mengatakan, “Saya pasti akan bersabar.”

Berdasarkan riwayat lainnya ketika Rasulullah (saw) bersabda bahwa Haritsah berada dalam Firdaus tertinggi, lalu ibu beliau pulang dalam keadaan tersenyum dan mengatakan, بخ بخ لك يا حارثة “Betapa hebatnya kamu Haritsah.”[9]

Pada kesempatan perang Badr, Allah Ta’ala telah membuat terbunuh para pembesar Quraisy dan menghinakan kaum kuffar serta menganugerahkan kehormatan bagi para umat Muslim yang ikut dalam perang tersebut. Berkenaan dengan para pengikut Badr, Allah Ta’ala mengabarkan, “Apapun yang kalian lakukan setelahnya, telah diwajibkan surga atas kalian.”

Allah Ta’ala mengatakan kepada para sahabat Badr, “Apapun yang kalian lakukan, telah diwajibkan surga atas kalian.” Maksudnya bukanlah, “Dosa apapun yang kalian lakukan, kalian pasti tetap akan mendapatkan surga”, melainkan maksudnya, “Sejak saat ini para ahli Badr tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Allah Ta’ala, Allah Ta’ala sendiri akan selalu membimbing para ahli Badr.”

Rasulullah (saw) bersabda berkenaan dengan Hadhrat Haritsah Bin Suraqah Ra, “Siapa yang syahid pada saat perang Badr, mereka berada di surga Firdaus.”[10]

Berikutnya seorang Sahabat yang bernama Hadhrat Abbad bin Bisyr radhiyAllahu ‘anhu. Beliau wafat pada perang Yamamah di tahun 11 Hijriyah. Hadhrat Abbad bin Bisyr mendapat panggilan Abu Basyar atau Abu Rabi’. Beliau berasal dari Kabilah Banu Asy’al. Beliau hanya memiliki seorang putri yang kemudian wafat. Beliau baiat masuk Islam di Madinah di tangan Hadhrat Mus’ab Bin Umair (ra) sebelum Hadhrat Sa’ad Bin Mu’adz (ra) dan Hadhrat Usaid Bin Hudhair (ra).

Pada saat menjalinkan persaudaraan di Madinah, Hadhrat Rasulullah (saw) menjadikan beliau saudara Hadhrat Abu Huzaifah bin Uqbah. Hadhrat Abbad bin Bisyr ikut perang Badr, Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan menyertai Rasulullah (saw). Beliau termasuk sahabat yang diutus oleh Rasulullah (saw) untuk membunuh Ka’ab Bin Asyraf.[11]

Berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Ka’ab Bin Asyraf, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis dalam Sirat Khataman Nabiyyin yang mengutip dari berbagai sumber kitab (buku) sejarah, sebagai berikut: Demikianlah, perang Badr telah membangkitkan kebencian orang Yahudi Madinah.” (Orang-orang Yahudi Madinah beranggapan pada perang Badr kaum kuffar akan menghabisi umat Muslim. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, umat Muslim-lah yang menang dan hal itu menimbulkan kebencian orang Yahudi kepada umat Muslim.)

“Sangat disayangkan, pengusiran Banu Qainuqa (cabang kaum Yahudi Madinah yang melanggar perjanjian dengan melakukan makar) pun tidak dapat menarik perhatian orang-orang Yahudi lainnya kepada ishlaah (perdamaian, perbaikan) dan justru semakin meningkat dalam kejahatan dan menimbulkan kekacauan. Dalam hal ini, kisah pembunuhan Ka’ab merupakan satu dari mata rantai ini.

Meskipun Ka’ab adalah seorang Yahudi dari sisi agama, sebetulnya bukanlah keturunan Yahudi, melainkan orang Arab. Ayahnya adalah seorang licik dan cerdik bernama Asyraf dari Banu Nibhan yang datang ke Madinah dan menjalin hubungan dengan Banu Nadhir dan menjadi kawannya. Pada akhirnya, sedemikian rupa dia menebarkan pengaruhnya sehingga pemimpin tertinggi Banu Nadhir, Abu Rafi Bin Abul Haqiq bersedia memberikan putrinya untuk dinikahi olehnya. Dari perut perempuan itulah terlahir Ka’ab yang setelah dewasa mendapatkan kedudukan lebih tinggi dari ayahnya sehingga pada akhirnya dia mendapatkan kedudukan seolah-olah seluruh Yahudi Arab mulai menganggapnya sebagai pemimpin.

Selain gagah dan rupawan, Ka’ab juga seorang penyair yang hebat dan sangat kaya raya. Melalui hartanya itu sehingga para ulama dan orang-orang berpengaruh lainnya berada dalam genggamannya. Namun dari sisi akhlak dia adalah seorang yang sangat buruk. Dia sangat mahir dalam menciptakan kekacauan secara diam-diam dan mengatur rencana jahatnya.

Ketika Rasulullah (saw) hijrah ke Madinah, Ka’ab Bin Asyraf bersama dengan Yahudi lainnya ikut serta dalam perjanjian yang merupakan perjanjian tertulis antara Rasulullah (saw) dengan Yahudi berkenaan dengan hubungan persahabatan, perdamaian dan pertahanan bersama. Secara lahiriah memang telah berjanji, namun dalam kedalaman hati Ka’ab mulai menyala api kebencian dan permusuhan dan dia mulai melakukan pnentangan terhadap Islam dan pendiri Islam (saw) dengan rencana jahat dan liciknya secara diam-diam.

Setiap tahun Ka’ab selalu memberikan sumbangan kepada para ulama dan tokoh Yahudi, namun paska hijrah Rasulullah (saw) ketika para tokoh ini datang kepadanya untuk mengambil jatah hadiah tahunannya, dalam obrolan, Ka’ab menyinggung perihal Rasulullah (saw) kepada para ulama dan menanyakan kepada para ulama mengenai Rasulullah (saw) berdasarkan kitab-kitab suci, lalu para ulama menjawab, ‘tampaknya beliau ini (Rasulullah) adalah nabi yang telah dijanjikan kepada kita.’

Mendengar jawaban tersebut Ka’ab sangat kecewa dan marah kepada mereka. Ia lalu mengusir mereka dan tidak memberikan lagi jatah hadiahnya kepada mereka.

Ketika mata pencaharian para Ulama Yahudi hilang, lalu mereka datang lagi kepada Ka’ab dan mengatakan, ‘Kami telah keliru dalam memahami tanda-tanda lalu kami renungkan lagi ternyata Rasulullah itu bukanlah Nabi yang dijanjikan oleh kitab-kitab suci kita itu.’

Mendengar jawaban tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan Ka’ab, Ka’ab pun bahagia dan membagikan jatah tahunannya. Dengan demikian, kalau hal ini sifatnya merupakan penentangan secara keagamaan, yang mana meskipun ditempuh dalam corak yang tidak disukai, namun tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk dibunuh. Sebab, penentangannya dalam corak itu bukanlah sesuatu yang mengharuskannya untuk dibunuh.

Namun, yang menjadi alasan pembunuhannya ialah setelah itu corak penentangan Ka’ab semakin lebih berbahaya lagi, sehingga paska perang Badr, dia menempuh cara-cara yang sangat jahat dan menebar kekacauan yang sebagai akibatnya menimbulkan kondisi yang sangat membahayakan bagi umat Muslim.

Sebenarnya sebelum perang Badr, Ka’ab beranggapan gejolak keimanan umat Muslim sifatnya hanya sementara saja dan secara perlahan-lahan umat Muslim akan dengan sendirinya bercerai-berai dan kembali kepada agama moyangnya. Namun ketika pada perang Badr umat Muslim mendapatkan kemenangan yang mana di luar dugaan mereka dan banyak pembesar Quraisy terbunuh, maka dia paham sekarang agama baru ini (Islam) tampak tidak akan hilang begitu saja. Untuk itu paska perang Badr dia kerahkan segenap kekuatan untuk menghapuskan dan menghancurkan Islam.

Pelampiasan pertama kali kebencian dan kedengkiannya itu terjadi pada saat kabar kemenangan perang Badr sampai ke Madinah. Setelah mendengar kabar tersebut, Ka’ab mengatakan bahwa kabar tersebut nampaknya palsu, karena tidaklah mungkin Muhammad (saw) dapat mengalahkan lasykar Quraisy yang sangat tangguh itu dan mustahil para pemuka Quraisy yang terkenal itu hancur. Seandainya kabar ini benar, maka kematian lebih baik dari kehidupan.

Ketika mendapatkan info kebenaran kabar tersebut dan Ka’ab sudah yakin memang benar perang Badr ini telah membuat Islam semakin tangguh, yang tidak terbayangkan olehnya sedikit pun maka ia diliputi kemarahan besar. Ia segera mempersiapkan perjalanan untuk pergi ke Makkah.

Dengan perantaraan kemahiran mulut dan syairnya, ia taburkan bahan bakar ke atas api gejolak yang meliputi hati orang Quraisy di Makkah. Dia timbulkan rasa haus yang tidak terobati di dalam hati orang Quraisy akan darah umat Muslim. Dia penuhi dada mereka dengan gejolak balas dendam dan api permusuhan.[12] Dan ketika disebabkan provokasi Ka’ab, emosi bangsa Quraisy sudah sangat memuncak, maka Ka’ab memanggil mereka ke Ka’bah lalu mengambil sumpah janji dari mereka sambil memegangkan kain tirai Kabah dengan mengatakan, “Sebelum kami dapat membinasakan Islam dan pendirinya dari bumi ini, kami tidak akan bisa tenang.”[13]

Setelah membangkitkan gejolak api dendam di Makkah, lalu orang jahat itu (Ka’ab) menuju ke kabilah-kabilah lainnya untuk memprovokasi kaum demi kaum demi memusuhi Islam.[14] Kemudian, ketika dia telah kembali ke Madinah, dia ungkapkan syair provokatif yang sangat kotor dan dengan cara yang jahat berkenaan dengan wanita Muslim, sampai-sampai dia tidak segan-segan menjadikan para wanita keluarga Rasul sebagai sasaran dalam syairnya yang kotor itu.[15] Hal ini membuat syair-syair itu terkenal di seluruh negeri. Pada akhirnya, dia (Ka’ab tokoh Yahudi itu) membuat rencana untuk membunuh Rasulullah (saw). Dia membuat taktik membunuh Rasulullah (saw) melalui beberapa pemuda dengan cara mengundang Rasulullah (saw) ke rumahnya beralasan undangan dan lain sebagainya. Namun dengan karunia Allah ta’ala, rencana jahatnya itu diketahui sehingga tidak berhasil.[16]

Ketika sudah sekian banyak pelanggaran yang dilakukan Ka’ab yakni melanggar perjanjian, pemberontakan, menyulut peperangan, menimbulkan kekacauan, kejahatan dan pembunuhan berencana serta buktinya sudah sangat jelas, maka dari sisi perjanjian umum itu yang mana Rasulullah (saw) sebagai kepala pemerintahan Madinah dan ketua tertinggi yaitu dalam perjanjian yang dibuat antara Rasulullah (saw) dengan penduduk Madinah paska hijrah maka beliau (saw) memutuskan Ka’ab wajib dibunuh disebabkan ulahnya ini. Lalu, Rasulullah (saw) memerintahkan beberapa Sahabat untuk membunuhnya.[17]

Namun, kekacauan yang ditimbulkan Ka’ab menjadikan suasana Madinah – jika sanksi terhadapnya diumumkan secara terang-terangan lalu dibunuh – dapat menimbulkan peperangan yang mengerikan di Madinah. Berapa banyak darah yang akan mengalir karena itu. Dalam hal ini Rasulullah (saw) ingin menghentikan peperangan global dengan menempuh segala kemungkinan dan pengorbanan yang patut. Lalu Rasulullah (saw) memberikan petunjuk untuk tidak membunuh Ka’ab secara terang-terangan melainkan dibunuh secara diam-diam.

Beberapa orang mencari kesempatan yang pas dan Rasulullah (saw) menunjuk sahabat setia dari kabilah Aus bernama Muhammad Bin Maslamah dan memerintahkan beliau supaya apapun cara yang akan ditempuh nanti, mintalah terlebih dahulu pendapat dari kepala kabilah Aus, Sa’ad Bin Mu’adz.

Muhammad Bin Maslamah bertanya, “Wahai Rasulullah! Untuk melakukan pembunuhan secara diam-diam perlu ada yang dikatakan, perlu ada alasan yang diungkapkan yang dapat membuat Ka’ab keluar dari rumahnya lalu membunuhnya di suatu tempat yang aman.”

Dengan memperhatikan dampak luar biasa yang dapat timbul jika tidak menempuh hukuman secara yang diam diam, beliau (saw) bersabda, “Baiklah.”

Selanjutnya, atas saran Sa’ad Bin Mu’adz, Muhammad Bin Maslamah membawa serta Abu Nailah dan beberapa sahabat lainnya lalu berangkat ke rumah Ka’ab. Mereka memanggil Ka’ab keluar dan mengatakan, “Ketua kami – Rasulullah (saw) – meminta sedekah dari kami. Kami sedang kesempitan, apakah kamu dapat menolong kami untuk memberikan pinjaman?”

Mendengar hal ini Ka’ab kegirangan dan berkata, “Demi Tuhan, tidak lama lagi kalian akan merasa bosan dengan orang itu (Rasulullah) lalu meninggalkannya.”

Lalu Muhammad bin Maslamah menjawab, “Kami telah memilih untuk mengikuti Muhammad Saw. Ssekarang kami tengah melihat bagaimana akhir dari gerakan ini. Namun kamu jawab dulu maukah kamu pinjamkan hutang?”

Ka’ab mengatakan, “Baik, namun harus ada jaminannya.”

Muhammad bertanya, “Apa itu?”

Si licik itu mengatakan, “Jaminkanlah para wanita kalian.”

Sambil menahan emosi Muhammad mengatakan, “Bagaimana bisa, kami menjaminkan kepada pria seperti kamu, kamu tidak bisa dipercaya.”

Ka’ab berkata, “Kalau begitu anak laki-laki.”

Muhammad mengatakan, “Tidak mungkin juga kami jaminkan anak kami padamu, kami tidak dapat menanggung celaan dan kecaman semua orang Arab nantinya. Kalau kamu mau kami bisa menjaminkan senjata kami padamu.”

Ka’ab setuju.

Muhammad Bin Maslamah dan kawannya pulang setelah sebelumnya berjanji untuk datang malam hari.

Ketika malam, grup tersebut membawa persenjataan karena saat itu dapat membawa senjata secara terbuka, lalu sampai di rumah Ka’ab. Lalu membuat Ka’ab keluar dan sambil berbicara mengajaknya terus ke satu tempat sambil berjalan, Ka’ab dikuasai dan seorang sahabat mencabut pedang lalu membunuhnya. Ka’ab terjatuh. Kemudian, Muhammad bin Maslamah dan kawannya kembali dan menghadap Rasulullah (saw) serta mengabarkan telah dibunuhnya Ka’ab.[18]

Ketika kabar terbunuhnya Ka’ab menyebar ke seluruh kota, orang-orang Yahudi sangat marah lalu pada keesokan harinya perwakilan Yahudi datang menjumpai Rasulullah (saw) pada pagi hari untuk menyampaikan protes, “Pemimpin kami Ka’ab bin Asyraf telah dibunuh seperti itu.”

Setelah mendengarkan mereka, Rasulullah (saw) bersabda, “Tahukah kalian, pelanggaran apa saja yang telah dilakukan oleh Ka’ab?”

Lalu beliau menyebutkan secara singkat pelanggaran Ka’ab diantaranya pelanggaran perjanjian, menyulut perang, menebar kekacauan, kejahatan, pembunuhan berencana dan lain-lain.[19]

Mendengar itu mereka ketakutan dan bungkam.

Setelah itu Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada mereka, “Hendaknya kalian sekurang-kurangnya untuk yang akan datang hiduplah dengan penuh kedamaian dan kerjasama dan janganlah menebar benih permusuhan dan kekacauan.”

Walhasil, dengan persetujuan pihak Yahudi, ditulislah perjanjian baru untuk masa yang akan datang. Pihak Yahudi pun membuat perjanjian kepada umat Muslim untuk memulai kehidupan damai dari awal lagi dan menghindari perbuatan fasad (merusak).[20]

Mendengarkan perkataan mereka, Rasul tidak lantas bersabda, “Umat Muslim tidak membunuhnya”, melainkan beliau menyebutkan beberapa pelanggarannya dan memberitahukan konsekuensi yang harus diterima yakni karena perbuatannya itu ia harus dibunuh. Orang-orang Yahudi pun terpaksa mengakui apa yang Rasulullah (saw) katakan adalah benar, untuk itu ditulis perjanjian baru, supaya kejadian seperti itu tidak terulang lagi nantinya dan tercipta suasana kondusif untuk yang akan datang. Untuk itu jangan sampai sekarang Yahudi balas dendam lalu menghukum umat Muslim.

Seandainya pihak Yahudi menganggap terbunuhnya orang Yahudi itu salah, maka mereka tidak akan diam bahkan akan menuntut untuk membalas. Saat itu perwakilan Yahudi tersebut tidak menuntut itu dan diam saja. Ini semua memberitahukan bahwa pembunuhan (Ka’ab) tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku saat itu. Fitnah dan kekacauan yang disebarkan Ka’ab pada saat hidupnya lebih berbahaya dari pembunuhan, dan itulah hukuman bagi pelanggar seperti itu dan memang sudah sepantasnya.

Seperti yang saya katakan bahwa itu sesuai dengan kebiasaan saat itu. Ketika Ka’ab dihukum dan memang layak sesuai dengan kebiasaan saat itu. Seperti yang kita saksikan dan tampak juga dari sikap orang Yahudi, maka tidak ada lagi celah untuk melontarkan keberatan. Jika memang Ka’ab tidak layak dihukum seperti itu, pasti mereka protes untuk disidangkan dengan mengatakan kenapa tidak diberikan hukuman secara terang-terangan. Walhasil, semua ini membuktikan hukuman untuk Ka’ab itu adalah sesuai.

Namun perlu juga adanya penegasan dalam hal ini bahwa grup-grup radikal yang ada saat ini keliru menafsirkan riwayat seperti ini. Itu artinya, pemerintahan yang totaliter dan kalangan radikalis beranggapan memberikan hukuman mati seperti itu (secara membabi buta-Pent) adalah diperbolehkan. Pertama, pada saat ini terdapat orang-orang yang dibunuh padahal tidak menyebarkan kekacauan. Kedua, yang dihukum hanyalah orang yang bersalah, bukan lantas keluarganya juga atau orang lain terkena dampaknya. Pada saat ini ketika memberikan hukuman, orang-orang tidak bersalah pun dibunuh, seperti para wanita dan anak-anak sehingga melumpuhkan banyak orang.

Bagaimanapun hal tersebut, berdasarkan hukum masa ini, semua ini adalah tidak dibenarkan. Sedangkan bersadarkan hukum pada zaman itu, hukuman itu adalah benar dan wajib diberikan, yang mana pemerintah melakukannya.

Hadhrat (saw) mengutus Hadhrat Abbad bin Bisyr kepada Banu Sulaim dan Muzainah untuk memungut sedekah. Hadhrat Abbad bin Bisyr tinggal di tempat mereka selama 10 hari dan sepulangnya dari sana pergi untuk menerima sedekah dari Banu Mustaliq. Di sana pun beliau tinggal 10 hari kemudian kembali ke Madinah. Demikian pula diriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) menetapkan Hadhrat Abbad bin Bisyr sebagai pembagi harta ghanimah perang Hunain. Pada perang tabuk Rasulullah (saw) menunjuk beliau sebagai pengawas untuk menjaga harta beliau (saw).[21]

Beliau termasuk sebagai sahabat yang cerdas lagi terpelajar. Hadhrat Aisyah meriwayatkan bahwa tiga orang sahabat Anshar yang tidak ada yang melebihi dalam hal kecerdasan di kalangan sahabat Anshar dan kesemuanya berasal dari Kabilah Banu Abdul Asy’ar yakni Hadhrat Sa’ad Bin Mu’adz, Hadhrat Usaid bin Hudhair dan Hadhrat Abbad bin Bisyr.

Hadhrat Abbad bin Bisyr (عَبَّادِ بْنِ بِشْرٍ الأَنْصَارِيِّ) meriwayatkan Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada kaum Anshar, يَا مَعْشَرَ الأَنْصَارِ ، أَنْتُمُ الشِّعَارُ ، وَالنَّاسُ الدِّثَارُ ، فَلا أُوتَيَنَّ مِنْ قِبَلِكُمْ “Wahai kaum Anshar! kalian semua merupakan Syi’ar saya.” (Pakaian yang paling bawah dari semua pakaian dan selalu menempel dengan tubuh atau semacam pakaian bagian dalam) Sedangkan orang lain bagaikan kain yang menutupi bagian atas.”[22]

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, “Saya merasa tentram karena kalian tidak akan menimpakan kesulitan kepada saya.”

Hadhrat Abbad bin Bisyr syahid pada perang Yamamah di usia 45 tahun.

Hadhrat Aisyah (ra) meriwayatkan Hadits yang menjelaskan ibadah beliau dan tilawat Qur’an oleh beliau, “Suatu kali Nabi (saw) bertahajjud di rumah saya.” Nabi (saw) mendengar Abbad tengah membaca Al-Quran di dalam masjid. Beliau (saw) bertanya, ‘Wahai Aisyah ra, apakah ini suara Abbad?’ Saya menjawab: ‘Iya.’ Rasulullah (saw) berdoa, اللَّهُمَّ ارْحَمْ عَبَّادًا ‘Semoga Allah Ta’ala menyayangi Abbad.’[23]

Hadhrat Anas juga meriwayatkan, أَنَّ رَجُلَيْنِ، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، وَمَعَهُمَا مِثْلُ الْمِصْبَاحَيْنِ يُضِيآنِ بَيْنَ أَيْدِيهِمَا، فَلَمَّا افْتَرَقَا صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أَتَى أَهْلَهُ “Ada dua orang sahabat Nabi karim (saw) yang keluar dari rumah beliau (saw) di kegelapan malam.” (Pertama adalah Hadhrat Abbad bin Bisyr dan kedua adalah Hadhrat Usaid bin Hudhair.)

“Bersama mereka masing-masing ada cahaya semacam lentera di depan mereka yang menerangi jalan. Setelah mereka berpisah jalan, setiap mereka diterangi oleh satu cahaya semacam lentera itu. Akhirnya sampai di rumah masing masing.”[24]

Beliau pun ikut serta dalam perjalanan perjanjian Hudaibiyyah. Berkenaan dengan perjalanan ini, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) berangkat dari Madinah pada bulan Dzul Qa’dah, permulaan 6 Hijriyah, hari Senin pada pagi hari bersama dengan lebih dari 1400 sahabat. Istri beliau Hadhrat Ummu Salamah menyertai beliau dalam perjalanan tersebut. Beliau menetapkan Numailah Bin Abdillah sebagai pejabat Amir Madinah dan Abdullah Ummi Maktum yang tuna netra sebagai Imam Shalat.

 Ketika Rasulullah (saw) sampai di Dzul Halifah yang berjarak sekitar 6 mil dari Madinah ke arah Makkah, Rasulullah (saw) memerintahkan untuk berhenti. Setelah shalat Zhuhur, beliau memerintahkan untuk menandai unta-unta yang akan dikurbankan yang berjumlah 70 ekor. Rasulullah (saw) juga memerintahkan untuk memakai pakaian Ihram, pakaian khusus untuk ritual ibadah haji. Beliau sendiri pun memakainya.

Selanjutnya, beliau mengutus sahabat bernama Busr Bin Sufyan dari Kabilah Khuza’ah yang tinggal tidak jauh dari Makkah untuk mencari informasi keadaan Quraisy apakah mereka berencana untuk menyikapi dengan buruk atau tidak [terhadap umat Muslim]. Busr lalu berangkat ke Makkah secara sembunyi-sembunyi. Sebagai bentuk kehati-hatian yang lebih, Rasululullah (saw) menetapkan pasukan berjumlah 20 pengendara dibawah komando Abbad bin Bisyr untuk lebih dulu berjalan di bagian depan kumpulan besar umat Muslim. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, mereka sampai di dekat Usfaan yang terletak sekitar dua manzil (dua hari perjalanan) menuju Makkah.

Informan yang diutus tadi (Busr bin Sufyan) kembali dan mengabarkan kepada Nabi (saw) bahwa Quraisy Makkah tengah emosi dan bertekad kuat untuk menghentikan beliau (saw). Dalam menampilkan kemarahannya itu sampai-sampai diantara mereka sebagian mengenakan kulit Cheetah (harimau) dan bertekad kuat untuk berperang. Dalam cara apapun mereka ingin menghadang umat Muslim. Diketahui pula Quraisy telah mengutus satu pasukan berkuda dibawah komando Khalid Bin Walid – saat itu belum baiat – dan lasykar tersebut saat itu sudah mendekati umat Muslim. Ikrimah Bin Abu Jahal juga ikut dalam lasykar tersebut.

Setelah Rasulullah (saw) mendapatkan kabar tersebut, beliau (saw) memerintahkan para sahabat supaya untuk menghindari konflik dengan cara menjauh dari menggunakan jalan utama yang biasa dilalui dan berada di sebelah kanan. Disebabkan hal itu, pasukan Muslim melewati jalan yang sukar dan melalui jalur di dekat pantai.[25]

Setelah itu terjadilah peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Dalam hal ini Hadhrat Abbad bin Bisyr pun ikut serta dalam pasukan berkuda yang diutus untuk mencari tahu keadaan (informan). Beliau adalah sahabat yang terpercaya yang sangat dipercaya oleh Hadhrat Rasulullah (saw).

Hadhrat Abbad bin Bisyr termasuk dalam sahabat yang ikut dalam baiat yang terjadi di Hudaibiyah yakni Baiat Ridwan. Ketika terjadi perang Dzatur Riqa’, Hadhrat Rasulullah (saw) pada suatu malam bermalam di suatu tempat. Pada saat itu angin berhembus kencang dan beliau bermalam di suatu lembah.

Beliau bertanya kepada para sahabat, مَنْ رَجُلٌ يَكْلَؤُنَا لَيْلَتَنَا هَذِهِ ؟ ‘Siapa yang akan berjaga malam ini?’

Mendengar hal itu Hadhrat Abbad bin Bisyr dan Hadhrat Ammar Bin Yasir mengatakan, ‘Kami siap untuk berjaga.’

Setelah itu keduanya duduk di puncak bukit. Kemudian, Hadhrat Abbad bin Bisyr mengatakan kepada Hadhrat Ammar Bin Yasir, ‘Saya akan berjaga pada bagian pertama malam. Anda tidur dulu. Nanti giliran Anda pada bagian setengah malam akhir. Saat itu gantian saya yang tidur.’

Hadhrat Ammar bin Yasir pun tidur dan Hadhrat Abbad bin Bisyr berdiri untuk shalat.

Pada waktu itu, Hadhrat Rasulullah (saw) telah memerintahkan untuk menawan para wanita di daerah Najd dikarenakan kejahatan para warganya. Seorang suami dari seorang wanita diantara para wanita yang ditawan itu tidak ada saat penawanan karena jika dia ada tentu akan menyertai wanita tersebut.

Ketika pria tersebut kembali ke rumahnya, dia diberitahu bahwa umat Muslim telah memenjarakan istrinya. Saat itu dia bersumpah, “Saya tidak akan duduk dengan tenang sebelum membunuh Muhammad (saw) atau sahabatnya.”

Lalu dia mendekati lembah tempat Rasulullah (saw) tengah beristirahat. Ketika dia melihat bayangan Hadhrat Abbad Bin Bisyr di puncak bukit, ia berpikir, ‘Inilah penjaga musuh.’

Kemudian, dia memanahnya. Anak panahnya menancap di tubuh Hadhrat Abbad bin Bisyr. Hadhrat Abbad bin Bisyr saat itu tengah shalat. Beliau lalu mencabut anak panah itu dan melanjutkan shalat. Kemudian, pihak musuh itu melontarkan panah kedua dan mengenai beliau yang lalu beliau cabut dan buang.

Ketika terkena panah yang ketiga, mengalir darah yang cukup banyak dari tubuh beliau. Beliau menyelesaikan shalatnya lalu membangunkan Ammar Bin Yasir. Ketika Ammar Bin Yasir melihat Hadhrat Abbad terluka, bertanya, سُبْحَانَ اللَّهِ ، أَفَلا أَهَبْتَنْيِ أَوَّلَ مَا رَمَاكَ ؟ “Kenapa Anda tidak membangunkan saya dari tadi?”

Beliau menjawab, “Saya tengah membaca sebuah surat (Al-Kahfi dalam shalat), saya tidak ingin memutuskan shalat.”[26] Inilah kualitas ibadah mereka.

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Abbad bin Bisyr mengatakan kepada saya: ‘Hai Abu Sa’id! Saya bermimpi langit terbelah dan saya masuk kedalamnya, setelah itu langit tersebut tertutup lagi dan kembali seperti semula. Insya Allah. Saya yakin penjelasan mimpi ini Allah Ta’ala akan menganugerahi saya kedudukan syahid!’ Saya (Abu Sa’id) katakan, ‘Demi Tuhan! Anda telah melihat kebaikan.’”

Hadhrat Abu Said al-Khudri meriwayatkan, “Pada perang Yamamah saya melihat Hadhrat Abbad bin Bisyr tengah menyeru orang-orang Anshar, ‘Patahkanlah sarung pedang kalian lalu pisahkan diri dari orang-orang [selain orang Anshar]!’

Beliau memilih 400 orang diantara kaum Anshar yang tidak membaur dengan yang lainnya lagi. Hadhrat Abbad bin Bisyr, Hadhrat Abu Dujanah dan Hadhrat Bara bin Malik berada di depan 400 orang itu. Sesampainya mereka di Babul Hadiqah (pintu kebun tempat kubu musuh), mereka berperang dengan dahsyat. Hadhrat Abbad bin Bisyr syahid pada saat itu. Wajahnya tidak bisa dikenali karena begitu banyaknya bekas goresan pedang di wajahnya. Tubuhnya hanya dikenali karena ada tanda tertentu di badannya.[27]

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Sawad bin Ghaziyyah al-Anshari (سواد بن غَزِيّة الأنصاريّ) radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Anshar. Diriwayatkan beliau berasal dari kabilah Banu Adi bin Najar. Beliau ikut pada perang Badr, Uhud, Khandaq dan peperangan lainnya. Pada perang Badr beliau menawan Khalid Bin Hisyam Makhzumi. Diriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) mengutus beliau sebagai Amil di Khaibar, beliau membawa kurma yang berkualitas baik dari sana. Rasulullah (saw) membeli kurma dengan menukarkan dua sha’ kurma biasa milik beliau (saw) dan mendapatkan satu sha’ kurma milik Sawad tersebut.[28]

Hadhrat Rasulullah (saw) menyukai kurma dan beliau (saw) membeli dengan menukarkan kurma dengan kurma lagi berdasarkan harga pada saat itu.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Shahib menjelaskan dalam buku Sirat Khataman nabiyyin bahwa pada peristiwa perang Badr dikisahkan perihal keberuntungan dan kecintaan Hadhrat Sawad kepada Hadhrat Rasulullah (saw). Suatu hari pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah tanggal 17 pada hari Jumat bertepatan dengan 14 Maret 623 Masehi, umat Muslim bangun tidur lalu para pecinta Tauhid ini mendirikan shalat subuh di suatu lapangan luas. Para hamba Tuhan yang Esa ini sujud ke hadirat Tuhan. Setelah itu Hadhrat Rasulullah (saw) menyampaikan khotbah perihal Jihad.

Ketika muncul terang cahaya, beliau mulai meluruskan barisan (shaf) umat Muslim dengan menggunakan anak panah. Saat itu ada seorang sahabat bernama Sawad yang sedikit menonjol tubuhnya dari shaf. Rasulullah (saw) memerintahkan padanya untuk mundur dengan isyarah anak panah. Namun kebetulan, kayu panah itu mengenai dadanya.

Dia memberanikan diri mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَوْجَعْتَنِي وَقَدْ بَعَثَكَ اللَّهُ بِالْحَقِّ فَأَقِدْنِي “Ya Rasulullah! Allah Ta’ala telah mengutus Anda dengan kebenaran dan keadilan. Namun Hudhur (yang mulia) telah mengenakan anak panah ini kepada saya dengan cara tidak haq. Demi Allah saya ingin menuntut balas.”

Saat itu para sahabat lainnya gelisah dan bingung memikirkan apa yang terjadi dengan Sawad?

Namun dengan penuh kasih sayang Rasulullah bersabda, اسْتَقِدْ “Baiklah! Sawad, silahkan Anda juga pukulkan anak panah pada saya juga.”

Lalu Rasulullah (saw) menyingsingkan pakaian dari dada beliau lalu Sawaad maju dan mencium dada Rasulullah dengan penuh kecintaan. Rasulullah (saw) tersenyum dan bertanya, مَا حَمَلَكَ عَلَى هَذَا يَا سَوَادُ؟ “Apa yang Anda lakukan ini Sawad?”

Dengan suara penuh haru dia mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، حَضَرَ مَا تَرَى ، فَلَمْ آمَنِ الْقَتْلَ ، فَأَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ الْعَهْدِ بِكَ أَنْ يَمَسَّ جِلْدِي جِلْدَكَ “Ya Rasulullah (saw)! Di depan ada musuh, entahlah apakah saya akan selamat nantinya atau tidak. Saya berkeinginan, sebelum saya syahid terlebih dahulu menyentuhkan tubuh saya dengan tubuh penuh berkat Hudhur dengan penuh kecintaan.”

فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، بِخَيْرٍ ، وَقَالَ لَهُ خَيْرًا Lalu, Rasulullah (saw) mendoakan kebaikan untuknya.[29]

Sungguh menakjubkan cara-cara para sahabat dalam menampilkan bentuk kecintaan kepada Rasulullah (saw). Ada juga riwayat Hadhrat Ukkasyah, yang terjadi setelah berusia tua dan terjadi jauh di kemudian hari. Sedangkan riwayat ini adalah permulaan. Setiap saat mereka berusaha untuk mendapatkan kesempatan tidak hanya menampilkan kecintaan kepada Muhammad saw, bahkan bagaimana supaya meraih banyak keberkatan dari kedekatan dengan Rasulullah (saw).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat bintang-bintang yang bercahaya terang itu dan menganugerahi kita taufik untuk memahami hakikat kecintaan kepada sang Rasul dari Arab tersebut. [Aamiin]

[1] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 447, Subai’ ibn Qais, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[2] Kitab al-Maghazi (كتاب المغازي) karya Muhammad ibn Umar Al-Waqidi (مُحَمّدُ بْنُ عُمَرَ الْوَاقِدِيّ); ج1/ ص25. المصلى: موضع الصلاة، وهو هنا موضع بعينه فى عقيق المدينة; juga dalam Imta’ul Imta karya al-Maqrizi (إمتاع الأسماع – المقريزي).

[3] Al-Ishabah fi tamyizish shahabah (الإصابة في تمييز الصحابة), jilid 4, h. 132, Rabi’ah ibn Amru, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2005.

[4] Siyarush Shahaabah karya Syah Mu’inuddin (Moinuddeen) Ahmad an-Nadvi, bagian 3 halaman 299, terbitan Dar Isya’at, Karachi, 2004.

[5] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 307, Saib ibn Utsman, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[6] Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah (أسد الغابة في معرفة الصحابة), jilid 1, h. 650-651, Haritsah bin Suraqah, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2003

[7] Bahrul Fawaid atau Ma’anil Akhyaar (بَحْرُ الْفَوَائِدِ الْمُسَمَّى بِمَعَانِي الْأَخْيَارِ) karya Abu Bakar Muhammad ibn Abu Ishaq ibn Ibrahim ibn Ya’qub Al-Kalabazi dalam (أبو بكر محمد بن أبي إسحاق بن إبراهيم بن يعقوب الكلاباذي البخاري الحنفي) w. 380 Hijriyah.

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, bab sifat surga dan neraka (باب صِفَةِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ)

[9] Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah (أسد الغابة في معرفة الصحابة), jilid 1, h. 650-651, Haritsah bin Suraqah, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2003; As-Sirah al-Halabiyyah atau Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun (إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) artinya Laporan Pandangan Mata atas Sejarah Hidup dia yang Tepercaya lagi Dipercayai, yaitu Nabi saw, bab perang Badr kubra (باب غزوة بدر الكبرى) karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi (علي بن إبراهيم بن أحمد الحلبي، أبو الفرج، نور الدين ابن برهان الدين). Beliau seorang Sejarawan dan Adib (Sastrawan). Asal dari Halb, wafat di Mesir. Beliau wafat pada 1044 Hijriyah.

[10] Syarh az-Zurqani jilid dom (II), h. 257, bab ghazwah Badr al-Kubra, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[11] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 336, Abbad ibn Bisyr, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[12] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Khirāji Wal-Imārati Wal-Fai’i, Bābu Kaifa Kāna Ikhrājul-Yahūdi Minal-Madīnah, Ḥadīth No. 3000

[13] Fatḥul-Bārī Sharḥu Ṣaḥīḥil-Bukhārī, By Al-Imām Aḥmad bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 7, p 428, Kitābul-Maghāzī, Bābu Qatli Ka‘b bin Al-Ashraf, Ḥadīth No. 4037, Qadīmī Kutub Khānah, Ārām Bāgh, Karachi

[14] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, p. 369, Qatlu Ka‘b bin Al-Ashraf….., Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[15] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 518, Maqtalu Ka‘b ibnil-Ashraf, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Ar-Rauḍul-Unufi Fī Tafsīris-Sīratin-Nabawiyyati libni Hishām, By Abul-Qāsim ‘Abdur-Raḥmān bin ‘Abdillah bin Aḥmad, Volume 3, p. 230, Maqtalu Ka‘bibnil-Ashraf, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition

[16] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 413, Sariyyatu Muḥammad bin Maslamah Li-Qatli Ka‘b bin Al-Ashraf, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut

[17] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Qatli Ka‘b bin Al-Ashraf, Ḥadīth No. 4037

[18] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Qatli Ka‘b bin Al-Ashraf, Ḥadīth No. 4037

[19] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Khirāji Wal-Imārati Wal-Fai’i, Bābu Kaifa Kāna Ikhrājul-Yahūdi Minal-Madīnah, Ḥadīth No. 3000; Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 266, Sariyyatu Qatli Ka‘b bin Al-Ashraf, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[20] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 466-470

[21] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 338, Abbad ibn Bisyr, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[22] Tarikh ibn Khaitsamah (السفر الثاني من تاريخ ابن أبي خيثمة), (تَسْمِيَةُ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ)

[23] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang kesyahidan, 2655

[24] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Shalat, 465

[25] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 749-750

[26] Sirah al-Halabiyyah, jilid dom (II), h. 368-369, ghazwah dzatur Riqa’, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002. Tarikh ibn Katsir.

[27] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad terj. Urdu, jilid 4, h. 41, Nafis Academy, Karachi-Pakistan. Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 336-337, Abbad ibn Bisyr, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[28] Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah (أسد الغابة), jilid 2, h. 590, Sawad ibn Ghaziyah, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996 (كان عامل رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم على خَيْبَر، فأتاه بتمر جَنِيب قد أخذ منه صاعًا بصاعين من الجمع)

[29] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 518-519; dinukil dari Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah (أسد الغابة في معرفة الصحابة), karya Ibn al-Atsir (علي بن محمد بن عبد الكريم بن عبد الواحد الشيباني الجزري، ابن الأثير، عز الدين، أبو الحسن). Ibnu al-Atsir juga pengarang al-Kamil fit Tarikh. Beliau wafat pada 630 H/1232 M. Beliau keturunan bangsa Kurdi yang pada masa pra Islam amat terpengaruh budaya dan bahasa Pahlavi, Iran (Persia) kuno. Tercantum juga dalam Tarikh al-Umam wal Muluuk atau Tarikh ar-Rusul wal Muluuk (تاريخ الأمم والملوك أو تاريخ الرسل والملوك). Buku ini karya seorang keturunan Persia yang hidup pada 838-932 (w. 310 H), Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn ibn Yazid ibn Katsir ath-Thabari (الإمام أبو جعفر محمد بن جرير بن يزيد الطبري). Buku ini sering dikenal dengan nama Tarikh ath-Thabari (تَارِيخ الطَّبَرِي).