Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

06 Februari 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (United Kingdom of Britain).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Kesan dan pengaruh baik yang bersifat buruk maupun bersifat baik dengan membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam yang timbul berdasarkan pemikiran pembaca. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu menjelaskan suatu peristiwa, “Saya ingat suatu peristiwa yang membuat saya mengetahui sesuatu. Beliau as menjelaskan bahwa debating societies (perkumpulan debat) biasa berdebat dengan cara di satu pihak ada yang menyetujui sesuatu dan di pihak lain ada penentangnya. Hal ini banyak memberikan pengaruh buruk terhdap pemikiran. Sebab, pendebat menyampaikan hal-hal yang tidak berasal dari dalam hati mereka sendiri, melainkan mereka berbicara dalam corak diadu satu dengan yang lain. Hal ini membuat para pendebat itu cenderung retoris [besar mulut dan bersilat lidah demi memenangkan perdebatan]. Hal ini bisa menimbulkan kerusakan dalam keimanan.

Maulwi Muhammad Ahsan Amrohi mengisahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Dulunya, Maulwi Basyir Ahmad adalah pendukung setia Hadhrat Masih Mau’ud as. Sementara saya, adalah penentang keras. Maulwi Basyir Ahmad biasa menyarankan orang-orang agar membaca buku ‘Barahin Ahmadiyah’ seraya berkata bahwa penulis buku itu adalah seorang Mujaddid. Akhirnya saya berkata kepadanya, “Ayo mari kita berdebat mengenai apakah beliau itu seorang Mujaddid atau bukan. Tetapi, corak perdebatannya ialah, karena engkau itu pendukung setia beliau, maka ajukanlah kritik dan keberatan dalam pembacaan buku beliau, sementara saya yang seorang penentang beliau itu mengajukan pembelaan terhadapnya.”

Penelaahan buku dan perdebatannya berlangsung selama 7 atau 8 hari. Akibatnya atau hasilnya adalah, saya yang tadinya seorang penentang malah menjadi Ahmadi, sementara Maulwi Basyir Ahmad yang tadinya dekat dengan Hudhur as malahan menjadi orang yang menjauh dari Hudhur as.’ Dari sudut pandang ilmu jiwa, perdebatan-perdebatan itu sangat berbahaya, dan di banyak kesempatan menjadi penyebab kerugian. Tidak semua guru dapat mampu memahami masalah yang serius ini.”[2]

Bahkan, jika seseorang dengan niat dan sikap yang sangat buruk melihat hal-hal yang sangat bagus sekalipun, maka hasilnya dia bisa tersesat ke jalan yang salah. Banyak orang mengkritik buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as – bahwa itu tertulis seperti ini dan seperti ini dan mereka melakukan hal demikian karena mereka membaca buku-buku beliau as dengan tujuan hanya untuk membuat kritikan. Mereka tidak melihat apa latar belakang penulisan buku tersebut.

Dan orang-orang yang berbuat demikian, bahkan juga dapat menyampaikan keberatan-keberatannya terhadap kalaam (firman) Allah Ta’ala. Inilah mengapa Allah sendiri berfirman di dalam Al-Quran bahwa Al-Quran ini adalah شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ – Syifa (penyembuh) dan Rahmat bagi mu-min in (orang-orang beriman).[3] Namun bagi mereka yang mencari-cari keberatan atau mereka yang melampaui batas, maka Al-Quran bisa menyebabkan bertambahnya kerugian kepada diri mereka sendiri. Mereka terus menjadi semakin jauh dan jauh dari Allah Ta’ala dan keimanan. Bahkan meskipun Al-Quran itu adalah firman-firman Allah Ta’ala, namun tidak akan memberikan faedah sedikit pun sebelum Al-Quran dibaca dengan hati yang suci.

Selanjutnya, sehubungan dengan pentingnya shalat, Hadhrat Khalifatul Masih II, Mushlih Mau’ud ra menyebutkan sebuah peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as . Hadhrat Masih Mau’ud as pergi menghadiri sebuah kasus di pengadilan namun tertunda sedangkan waktu shalat pun datang. Meskipun orang-orang menyarankan untuk jangan pergi, namun beliau as tetap pergi shalat. Tak lama kemudian, beliau dipanggil ke persidangan, namun karena sedang melaksanakan shalat, beliau datang setelah benar-benar menyelesaikan shalat beliau as. Sesuai peraturan, jika ada yang tidak hadir, sang hakim dapat memutuskan untuk mendukung pihak penentang. Tetapi Allah Ta’ala sangat mencintai kesetiaan Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga Dia menggerakkan hati sang hakim untuk mengabaikan ketidak-hadiran beliau karena sedang melaksanakan shalat saat itu serta memutuskan kasus tersebut mendukung beliau as dan ayah beliau.[4]

Kemudian, pada tempat yang lain, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda mengenai pentingnya melaksanakan shalat secara berjamaah, “Ada suatu cara bagi seseorang untuk melaksanakan shalat secara berjamaah, yaitu seorang laki-laki melaksanakan shalat secara berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Dan karena hal ini tidak menjadi kebiasaan orang-orang maka nilai shalat berjamaah pun menjadi tidak penting dalam pandangan mereka. Tinggalkan kebiasaan shalat sendiri-sendiri.

Tegakkanlah kebiasaan shalat secara berjamaah. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as tidak dapat pergi melaksanakan shalat di masjid, beliau biasa melaksanakan secara berjamaah sebagai imam di rumah dan teramat jarang sekali beliau melaksanakan shalat sendiri. Pada situasi seperti ini, beliau seringkali mengajak ibu kami melaksanakan shalat berjamaah. Beliau as menjadi imamnya dan dengan demikian para perempuan yang lain pun juga akan ikut ibu kami. Hal yang pertama, Saudara-saudara harus melaksanakan shalat secara berjamaah. Namun, jika seseorang tidak dapat melakukannya maka hendaknya dia melaksanakan shalat berjamaah di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Hendaknya setiap orang mengatur dimanapun ia berada agar bisa melaksanakan shalat secara berjamaah. Jika ada orang-orang yang tinggal di sebuah kota yang besar dan tinggal saling berjauhan, mereka harus mengatur untuk melaksanakan shalat berjamaah di lingkungannya masing-masing. Jika di suatu tempat tidak ada masjid, mereka berusaha untuk mendirikan masjid.”[5]

Dengan demikian, dalam hal apapun, pentingnya mendirikan shalat secara berjamaah merupakan sesuatu hal yang sedemikian rupa sehingga meskipun terpaksa melaksanakan shalat di rumah maka harus diupayakan untuk mendirikannya secara berjamaah dengan mengikutsertakan istri dan anak-anak sehingga anak-anak menjadi terbiasa melaksanakan shalat secara berjamaah.

Selain itu, Hadhrat Masih Mau’ud as sangat menekankan bahwa shalat didirikan dengan memenuhi segala persyaratannya.[6] Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Mendirikan shalat dengan memenuhi segala kewajiban dan persyaratannya merupakan hal yang sangat indah namun jika kita lalai dan tidak melaksanakannya dengan penuh perhatian terhadap kepentingan serta persyaratannya maka hal itu menjadi sia-sia dan tidak bernilai yang tidak memberikan manfaat apapun.

Keindahan shalat ada di dalam shalat yang didirikan dengan segala kehati-hatian dan penuh perhatian. Tetapi jika tidak dilaksanakan dengan cara demikian maka shalat itu akan menjadi hal yang tak bernilai dan shalat yang seperti itu tidak akan memberikan keberkatan. Hadhrat Masih Mau’ud as senantiasa bersabda bahwa orang-orang melaksanakan shalat mereka seperti ayam sedang mematuk biji-bijian di tanah. Shalat seperti itu tentunya tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun. Sungguh, seringkali shalat yang demikian akan menjadi penyebab turunnya laknat Tuhan kepada seseorang.”[7]

Suatu kali seseorang mengadu kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, “Bawahan kami (orang yang bekerja di bawah kami atau urusan yang kami pimpin) tidak mengucapkan salam kepada kami, atau orang kecil tidak mengucapkan salam kepada orang besar.” Mengenai hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Perintah untuk mengucapkan salam berlaku bagi kedua belah pihak, baik atasan maupun bawahan (pimpinan maupun yang dipimpin, pengurus maupun anggota). Saya ingat bait syair Hadhrat Masih Mau’ud as yang selalu beliau baca:  woh nah ae to tu chal ae mir, teri kiya is me shaan ghatti haiy  “Jika ia tidak datang kepada engkau, wahai Tuan Mir! Engkaulah yang maju pergi mendatanginya Dalam hal ini, adakah sesuatu yang berkurang dari diri engkau dengan pergi kepadanya?” (Kehormatanmu takkan terpengaruh dengan bersikap demikian).

Jika ada saudara kita yang tidak menaati satu perintah Rasulullah saw, lalu mengapa kita tidak menjadi yang mematuhi perintah beliau saw ini dan menjadi penerima berkat-berkat dari Allah Ta’ala? Dengan demikian, jika pengaduan ini benar maka sikap [mengadukan] ini bertentangan dengan hikmah dan merupakan contoh akhlak yang rendah. Tidak ada perintah yang mengatakan hanya pihak bawahan saja yang hendaknya mengucapkan salam. Jika bawahan tidak mengucapkan salam, hendaknya sang atasan memulai mengucapkan salam itu sendiri.”

Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda, “Kebiasaan saya bahwa jika saya ingat, saya sendiri yang terlebih dahulu mengucapkan salam pertama kali. Dan daripada membuat pengaduan [keluhan], sang atasan hendaknya menjalankan cara seperti ini dan mereka sendiri menjadi teladan dengan mengucapkan salam pertama kali.”[8]

Jadi, para pemegang jabatan dalam Jemaat harus berusaha menunjukan suri teladan dalam hal ini tanpa memandang tingginya kedudukan mereka dalam Jemaat. Mereka harus menjadi yang pertama dalam mengucapkan salam. Janganlah terbiasa menunggu bawahan atau yang lebih muda mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka. Ada juga beberapa atasan terkadang tidak menjawab salam seseorang atau menjawabnya dengan penuh kesulitan – saya juga menerima pengaduan seseorang yang mengatakan atasannya tidak menjawab salam atau menjawabnya sangat pelan atau dengan suatu cara yang kaku seolah-olah menjawab salam menjadi kesulitan besar yang telah dibebankan kepadanya.” Ringkasnya, setiap tingkatan dan setiap bidang di dalam Jemaat harus memberikan kebiasaan mengucapkan salam dengan penuh perhatian karena ini adalah sabda Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits.[9]

Kemudian, seraya menyebutkan suatu peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menunjukan betapa orang-orang menentang beliau as., “Pada bulan Oktober 1897 beliau as pergi ke Multan sebagai saksi dalam sebuah perkara. Ketika kembali beliau singgah dulu di Lahore untuk beberapa hari lamanya. Di setiap jalan dan gang yang beliau lalui, orang-orang berkumpul mencaci-maki dan menghina beliau as. dengan kata-kata yang sangat kotor.

Pada waktu itu saya (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad -pen) baru berumur 8 tahun, dan saya pun ikut serta dalam perjalanan itu. Saya belum dapat mengerti ketika itu, mengapa orang-orang memusuhi dan menghina beliau as.. Hal itu sangat mengherankan saya. Saya masih ingat, saat itu di tangga Masjid Wazir Khan ada seseorang yang tangannya buntung sebelah. Bahkan bekas potongan atau lukanya masih baru dan dibalut kain perca. Ia pun ikut dengan orang-orang ramai serta bersuit dan bertepuk tangan dengan menepuk tangan yang buntung itu ke tangan yang lain sambil berteriak-teriak mengatakan, ‘Mirza sudah lari… Mirza sudah lari!’ Pemandangan tersebut sangat mengherankan hati saya, dan agak lama saya mengeluarkan kepala (dari kendaraan) untuk melihat orang itu. Dari Lahore kemudian beliau as terus kembali ke Qadian.”[10]

Kemudian ada suatu persidangan dimana sang hakim bersumpah untuk pasti akan menghukum Hadhrat Masih Mau’ud as. Seraya menceritakan perkara ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda di suatu tempat, “Pada suatu kali Rasulullah saw bertanya jumlah umat Islam pada saat itu dan mengetahui bahwa umat Islam berjumlah 700 orang. Para sahabat berpikir bahwa Rasulullah saw telah menghitungnya karena khawatir para musuh akan datang dan menghancurkan mereka. Maka mereka berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, kita sekarang berjumlah 700, apakah sekarang dapat terlintas kekhawatiran bahwa seseorang atau sekelompok orang mungkin dapat menghancurkan kita?’ Betapa luar biasanya keimanan yang mereka pegang ini! Hanya dengan berjumlah 700, mereka bahkan tidak dapat berpikir musuh mereka dapat menghancurkan mereka.”[11]

Setelah menceritakan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra selanjutnya bersabda, “Kekuatan iman adalah hal yang sangat luar biasa. Sebuah peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa suatu kali beliau as berada di Gurdaspur. Meskipun saya berada di Gurdaspur juga namun saya tidak menyertai beliau as pada majelis tersebut, perkumpulan tempat terjadinya peristiwa ini. Seorang teman yang hadir pada majelis itu menceritakannya kepada saya bahwa Khawaja Kamaluddin dan beberapa orang lainnya tiba di sana dalam keadaan sangat khawatir dan berkata, ‘Hakim yang ini dan yang itu pergi ke Lahore dan orang-orang (Hindu) Arya menghasutnya dengan mengatakan, “Mirza Sahib merupakan musuh besar agama kita dan kamu harus menghukumnya meskipun hanya dipenjara satu hari dan jika kamu melakukannya maka hal tersebut akan menjadi pengkhidmatan kamu terhadap bangsa.” Kemudian hakim tersebut kembali seraya berjanji, “Saya pasti akan menghadiahkannya sebuah hukuman.”

Pada saat itu Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berbaring dan karena mendengar hal ini, beliau membalikkan badan dan bersandar pada salah satu siku, kemudian bersabda, ‘Khawaja Sahib, hal macam apa yang sedang engkau bicarakan? Apakah ada seseorang yang dapat meletakan tangannya di atas Singa Allah Ta’ala?’ Maka Allah menghukum sang hakim ini. Pertama, dia dimutasikan dari Gurdaspur dan kemudian dilengserkan dari jabatannya dan hakim yang lain pun dikirimkan untuk mengadili dan memutuskan perkara tersebut.

Jadi, kekuatan keimanan itu sangat luar biasa dan tidak ada yang dapat menandinginya. Oleh sebab itu bergabungnya beberapa mubayi’in baru ke dalam Jemaat ini baru akan dapat menjadi sumber kegembiraan dan kemajuan hanya jika yang terjadi bukan hanya pada segi jumlah saja namun juga pada kualitas keimanan dan keyakinan mereka. Jika seseorang mempunyai 10 kg susu di rumah lalu menambahkan ke dalamnya lagi 10 kg air, dia tidak akan menjadi gembira dengan berpikir, ‘Kini saya memiliki 20 kg susu!’ Apa yang akan dapat menjadi sumber kegembiraan hanyalah pada sejumlah susu yang bertambah, dan hal ini hanya terjadi dengan menambahkan lagi sejumlah susu ke dalam susu yang sudah ada.’”[12]

Dengan demikian, apa yang harus dilakukan, baik bagi Ahmadi yang lama maupun yang baru adalah meningkatkan keimanan. Tujuh ratus (700) orang yang merupakan sahabat awalin Hadhrat Rasulullah saw memiliki keimanan sedemikian rupa sehingga tidak ada satupun orang yang dapat mengalahkan mereka dan dunia menyaksikan bahwa sungguh tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka.

Lebih lanjut, di tempat lain Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa kebiasaan Khawaja Kamaludin Sahib untuk mengatakan sesuatu secara berlebihan.[13] Ia berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, “Hudhur, sang hakim sungguh akan memenjarakan serta menghukum Hudhur. Jadi cara terbaik adalah berdamai saja dengan pihak lain yang terlibat dalam perkara ini.”

Hadhrat Masih Mau’ud as yang sedang bersandar pada siku beliau berkata pada Khawaja Kamaluddin Sahib, “Bukanlah perkara yang mudah untuk meletakkan tangan di atas singa Allah Ta’ala. Aku adalah singa Allah Ta’ala. Biarkan saja mereka mencobanya dan lihatlah apakah dia dapat menyentuhku.” Jadi berikut inilah yang terjadi. Seorang anak laki-laki dari antara dua hakim yang telah diprovokasi untuk memutuskan perkara ini menjadi gila, dan istrinya – yang meskipun tidak menerima Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai utusan Allah Ta’ala – menulis surat kepadanya, ‘Engkau telah menghina orang suci umat Islam dan sebagai hasilnya anak laki-laki engkau ini menjadi gila. Sekarang berhati-hatilah untuk yang kedua kalinya.’

Hakim tersebut merupakan seorang yang terpelajar. Dia berkata, ‘Perkataan bodoh apa pula yang sedang engkau utarakan.’ Sang hakim pun tidak peduli terhadap perkataan istrinya. Alhasil, anak laki-lakinya yang kedua pun mati tenggelam di sungai. Anaknya ini pergi mandi ke sungai Ravi. Seekor buaya menggigit kakinya dan dia pun mati. Namun, hakim tersebut semakin hebat menentang Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga membiarkan beliau as berdiri sepanjang proses persidangan. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as meminta air minum karena haus, dia tidak mengizinkannya. Pada saat yang sama, Khawaja Kamaluddin meminta izin untuk minum, tapi dia tidak mengizinkannya.[14]

Perkara ini berlanjut ke hakim yang lain dan dia, sebagai mana yang dikatakan tadi, ia juga dibebaskan dari tugasnya. Dalam hal apapun, kedua hakim ini bertekad untuk melakukan perbuatan yang sangat melampaui batas terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan mereka menyaksikan akibatnya. Masih terkait dengan perkara yang sama, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa suatu kali beliau sedang pergi ke Delhi ketika beliau bertemu dengan hakim ini di stasiun kereta api di Ludhiana. Dia berkata dengan penuh perasaan dan kesakitan, “Doakanlah semoga Allah Ta’ala memberikan saya kekuatan untuk tetap teguh. Saya telah membuat kesalahan besar. Saya khawatir jangan sampai saya menjadi gila.” Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa ini adalah tanda-tanda nyata yang melaluinya Allah Ta’ala memanifestasikan kebenaran para Nabi-Nya di muka bumi ini.[15]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan suatu peristiwa berikut ini, suatu kali ada seorang pencuri yang masuk ke rumah Rustam (seorang tokoh terkenal yang masyhur akan keberaniannya). Meskipun tidak diragukan lagi Rustam merupakan orang yang sangat pemberani, sangat ahli dalam peperangan dan sangat mengetahui cara menggunakan pedang, namun tidak mesti dia dapat menghadapi lawan dalam bergulat. Pada peristiwa tersebut, ketika seorang pencuri memasuki rumahnya, Rustam mencoba untuk menangkapnya. Namun si pencuri ahli dalam bergulat dan dia membuat Rustam terjatuh ke tanah. Pada saat itu, Rustam berpikir bahwa dirinya akan dibunuh, lalu dia berteriak, ‘Rustam telah datang!’ Ketika mendengar nama Rustam, si pencuri langsung kabur dan melarikan diri. Dengan kata lain, si pencuri itu bergulat dengan Rustam dan pada kenyataanya telah menjatuhkannya, namun melarikan diri karena takut akan nama Rustam.”

Dengan meriwayatkan kisah ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa terkadang orang-orang menyebarkan cerita-cerita yang merusak keteguhan hati orang-orang lainnya. Terkadang ketika rumah seseorang itu terbakar sedangkan dia ada di dalamnya, ia tidak akan begitu merasa sedemikian ketakutannya karena ia tengah berusaha memadamkannya dibandingkan dengan mendengar bahwa rumahnya terbakar namun dia tidak sedang berada di rumah.”[16]

Kemudian beliau (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) bersabda, “Pada saat sedang terjadi peperangan, jatuhnya banyak bom di beberapa tempat tidaklah sebegitu berbahaya dibanding rumor-rumor dan berita-berita [tidak benar] yang tersebar di berbagai tempat yang mengatakan bahwa banyak bom sedang berjatuhan. Hal demikian karena rumor yang salah yang tersebar kemana-mana terkadang dapat menciptakan kegentaran dan merusak pendirian orang-orang. Oleh sebab itu, untuk menjaga keberanian dan pendirian seseorang adalah sangat penting untuk berusaha menghentikan berbagai rumor yang salah agar tidak menyebar kemana-mana dan hendaknya ada pembatasan atau pelarangan dan perlawanan terhadap rumor-rumor semacam itu.[17]

Seperti telah disebutkan sebelumnya perihal kisah antara si pencuri dan Rustam, hal mana si pencuri yang telah menjatuhkan Rustam, ternyata menjadi panik setelah mendengar nama ‘Rustam telah datang!’ diteriakkan. Demikian pula, penyebaran rumor-rumor yang menyebabkan masyarakat panik harus dijauhkan begitu juga untuk menjaga keberanian dan semangat masyarakat.

Mengenai perkara Karam Din, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa pada tahun akhir 1902, seorang laki-laki bernama Karam Din mengajukan kasus pencemaran nama baik menggugat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as dipanggil agar hadir pada persidangan di Jhelum. Hadhrat Masih Mau’ud as berangkat ke sana pada bulan Januari 1902. Perjalanan ke sana pun sudah menjadi tanda pertama kemenangan beliau as karena meskipun beliau sedang terkait pada suatu kasus yang sangat serius, namun banyak orang yang datang kemana pun beliau pergi.

Ketika beliau as sampai di Jhelum, jumlah orang begitu banyak sehingga tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk berdiri di platform stasiun (tempat naik dan turun para penumpang ke kereta api). Bahkan sebenarnya di luar stasiun pun ada begitu banyak orang sehingga kendaraan pun susah melewati kerumunan itu. Oleh karena itu, bupati setempat harus membuat pengaturan khusus dan Ghulam Haider Sahib, ditunjuk untuk menjalankan tugas ini dan dia menemani Hadhrat Masih Mau’ud as di sepanjang jalan. Tidak hanya dari kota namun orang-orang dari berbagai desa pun datang untuk berjumpa dengan beliau as. Hampir 1000 orang mengambil baiat di tempat itu. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke pengadilan untuk memberikan kesaksian, maka begitu banyak orang yang ada di sana untuk mendengarkan persidangan sehingga pengadilan pun kesulitan membuat pengaturan mengadili kasus tersebut. Dalam berbagai kasus pengadilan apa saja, Hadhrat Masih Mau’ud as dibebaskan pada kehadiran beliau yang pertama kali dan pulang dengan selamat.[18]

Dan sebagaimana yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sebutkan, setelah itu jumlah Ahmadi mulai bertambah. Dari tahun 1903 kemajuan Jemaat menjadi luar biasa dan terkadang 500 surat datang menyatakan ingin baiat kepada beliau setiap hari dan jumlah pengikut beliau mencapai ribuan bahkan ratusan ribu. Segala jenis orang baiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan Jemaat ini mulai tersebar dan tumbuh dengan sangat cepat serta menjangkau dari Punjab hingga ke daerah-daerah lainnya dan bahkan sampai ke negara-negara lainnya di dunia semasa hidup Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri.[19]

Bagaimana Allah Ta’ala menghukum orang-orang yang membuat kenakalan terhadap wujud-wujud yang dicintai-Nya? Saudara-saudara telah mendengar kasus hakim tersebut. Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan peristiwa lainnya. Beliau bersabda, “Suatu kali kami pergi ke Lucknow. Di sana ada seorang Maulwi bernama Abdul Karim dari daerah perbatasan yang merupakan seorang penentang luar biasa terhadap Jemaat. Setelah kedatangan kami di sana, dia membuat pidato menyebutkan suatu peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan cara melontarkan hinaan yang sangat buruk dan kasar. Peristiwa tersebut terjadi sedemikian rupa sehingga suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke Delhi dimana ada seorang kerabat kami yang karena dirinya dikuasai oleh setan kemudian memutuskan untuk berpakaian seperti seorang polisi dan berniat menakuti-nakuti Hadhrat Masih Mau’ud as, kemudian berkata, ‘Saya adalah seorang inspektur kepolisisan dan saya telah dikirim oleh pemerintah untuk memberikan peringatan kepada anda agar sebaiknya anda segera meninggalkan tempat ini atau anda akan mengalami kerugian.’

Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menghiraukannya tetapi beberapa teman mencari tahu siapa orang ini, namun dia malah pergi. Maulwi Abdul Karim mengambil peristiwa ini dan menceritakan dengan sedemikian rupa, ‘Lihatlah orang yang berpura-pura sebagai Nabi Tuhan itu. Dia pergi ke Delhi. Mirza Hairat berpakaian seperti seorang polisi datang menghampirinya. Dia pada saat itu sedang duduk di atap — (ini adalah bohong, karena sebenarnya Hadhrat Masih Mau’ud sedang duduk di halaman rumah). Ketika mendengar seorang inspektur kepolisian datang, dia menjadi ketakutan dan segera berusaha turun melalui tangga. Namun dia tergelincir dan terjatuh pada mukanya.’ Mendengar cerita ini, mereka yang hadir pun tertawa.

Namun apa yang terjadi sesudah ini adalah bagaimana Allah Ta’ala mencengkeram mereka yang bersenang-senang dengan menghina kekasih-Nya. Pada malam yang sama, Allah Ta’ala menghukum Maulwi Abdul Karim. Pada saat itu dia sedang tidur di atap rumahnya. Dia terbangun malam itu karena sesuatu hal. Karena atap tersebut tidak dibatasi dengan tembok sedangkan dia sedang dalam keadaan setengah tidur, kemudian salah satu kakinya terpeleset ke luar atap dan dia terjatuh dan mati. Seandainya dia tahu bahwa dia akan dihukum oleh Allah Ta’ala atas perkataan kotornya terhadap seorang kekasih Allah Ta’ala, maka dia tidak akan pernah melakukan perbuatan itu. Bahkan dia akan menyatakan beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun keimanan macam apa yang seseorang peroleh ketika tidak ada lagi hal gaib yang tersisa. Keimanan tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun karena ketika tidak ada lagi hal gaib yang perlu diyakini, maka keimanan seperti itu menjadi sia-sia saja.”[20]

Jadi keimanan terhadap hal-hal yang gaib adalah penting sehingga mereka yang melihat apa yang terjadi pada beliau as juga melihat apa yang terjadi ketika mereka bersenang-senang di atas seorang kekasih-Nya serta melontarkan fitnah kepadanya. Pada hari ini, mereka yang melakukan hal-hal yang menentang Rasulullah saw hendaknya mengetahui beliau saw merupakan Nabi Allah Ta’ala yang paling dicintai-Nya. Apakah mereka membayangkan Allah Ta’ala akan membiarkan mereka begitu saja setelah melontarkan fitnah yang kejam terhadap sosok beliau saw? Tidak pernah! Sungguh Allah Ta’ala akan menjadikan orang-orang ini sebagai sasaran murka-Nya sehingga mereka akan menjadi peringatan bagi yang lain yang memiliki mata untuk melihat.

Hal-hal yang harus umat Islam lakukan sebagai respon terhadap fitnah yang dilontarkan dari orang-orang semacam itu bukanlah dengan tangan kalian sendiri ataupun dengan senjata, namun dengan perantaraan doa kepada Allah Ta’ala. Tetapi, pemahaman dan pengetahuan yang hakiki mengenai kebenaran ini juga hanya dimiliki oleh para Ahmadi. Jadi, sebagaimana yang saya katakan, kita perlu untuk mengubah rasa sakit kita menjadi doa-doa dan hendaknya secara khusus menyibukkan diri kita dalam berdoa pada hari-hari ini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra lebih lanjut bersabda sesuatu yang telah dijelaskan sebelumnya, “Banyak orang biasa berkata, Tn. Mirza akan terserang oleh suatu penyakit’, namun Tuhan menjadikan mereka sendiri yang terserang penyakit yang sama dengan penyakit yang mereka bayangkan akan menyerang Hadhrat Masih Mau’ud as. Banyak orang biasa mengatakan, ‘Tuan Mirza akan terserang wabah pes!’ Namun, Allah Ta’ala menghancurkan mereka yang biasa berkata demikian dengan wabah penyakit yang sama. Ketika ribuan contoh seperti ini terjadi agar dapat disaksikan oleh semua orang, lalu bagaimana mungkin kita dapat mengatakan bahwa kejadian-kejadian ini hanyalah kebetulan belaka. Jadi, ciptakanlah perubahan yang sedemikian rupa di dalam diri kalian sehingga dunia akan merasakannya atau melihatnya dan menjadi terpengaruh olehnya.

Kondisi kalian hendaknya sedemikian rupa sehingga dengan melihat ketakwaan serta kesucian kalian, pengabulan doa-doa kalian dan hubungan kalian dengan Allah Ta’ala maka orang-orang akan menjadi tertarik ke arah kalian. Ingatlah! Jemaat Ahmadiyah hanya akan mengalami kemajuan melalui orang-orang seperti ini. Pada saat kalian mencapai atau mendekati tingkatan demikian, maka meskipun kalian tidak akan berkecimpung ke dalam urusan dunia atau kalian sedang duduk di tempat-tempat yang tersembunyi, bahkan di sana pun orang-orang akan datang dan berkumpul di mengelilingi kalian.”[21] Dan, insya Allah mereka akan masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Peristiwa lainnya yang diceritakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra adalah bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke Sialkot. Para Mullah memberikan fatwa bahwa siapapun menghadiri pidato beliau as maka pernikahannya akan batal. Tetapi bagaimana daya tarik dan pengaruh Hadhrat Masih Mau’ud as yang sedemikian rupa, sehingga orang-orang tidak menghiraukan fatwa tersebut. Orang-orang ditempatkan di jalan-jalan untuk mencegah mereka yang ingin pergi mendengar pidato beliau as. Kemudian bebatuan juga dikumpulkan untuk dilemparkan kepada mereka yang masih tetap ingin pergi ke sana. Kemudian orang-orang yang hadir pada Jalsah gah (tempat berkumpul) ditangkap dan ditarik secara paksa agar tidak mengikuti dan mendengarkan beliau as.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa, “Di sana ada inspektur (Pejabat kepolisian) kota Sialkot yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dan telah mendengar pidato beliau as namun terkejut melihat para Mullah sedang menciptakan kerusuhan sementara pidato tentang keunggulan Islam sedang disampaikan kepada orang-orang Arya dan Kristen.

Oleh karena itu, dia menjadi bingung mengapa umat Islam melakukan hal demikian. Meskipun inspektur ini merupakan pejabat pemerintahan namun dia berdiri di atas kumpulan orang-orang itu seraya berkata dengan keras, “Wahai umat Islam, beliau sedang menyampaikan bahwa Tuhan umat Kristen telah mati, lalu mengapa kalian menunjukan kemarahan terhadap hal ini?”[22]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan mengenai diri Hadhrat Maulwi Burhanuddin Sahib, seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang sangat mukhlis, “Sebelum berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as , beliau ra merupakan seorang ‘Alim (cendekiawan) besar dan terkenal golongan Salafi Wahabi. Oleh karena itu beliau menduduki posisi yang sangat terhormat di kalangan mereka. Ketika beliau menjadi Ahmadi, kekayaan beliau menjadi berkurang namun beliau tidak peduli dan menghabiskan hari-hari beliau dengan qana’ah. Beliau merupakan orang yang sangat rendah hati. Dengan melihat sosok beliau, tidak ada yang akan berpikir bahwa beliau merupakan seorang ‘Alim besar namun akan beranggapan bahwa beliau tampak seperti seorang pelayan atau seorang buruh biasa.

Saya selalu ingat suatu kisah yang jenaka lagi indah mengenai beliau. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke Sialkot, maka di sana terjadi penentangan yang besar. Kemudian ketika beliau kembali dari Sialkot, maka para penentang mencari-cari siapa saja yang telah menjadi Ahmadi dan mulai memberikan penderitaan dan kesulitan kepada mereka. Maulwi Burhanuddin Sahib juga sedang pulang dari stasiun kereta setelah mengantarkan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika orang-orang mulai menghujani beliau dengan kotoran sapi dan salah seorang diantara mereka bahkan meletakannya ke mulut beliau ra. Tetapi beliau terus menerima perlakuan seperti ini dengan senang hati dan setiap kali kotoran sapi itu dilemparkan kepada beliau, maka beliau akan berkata dengan sangat senang hati, ‘Oh, dari manakah datangnya hari-hari serta kebahagiaan seperti ini.’ Ada berbagai riwayat yang berbeda tentang apa yang beliau ucapkan saat menerima lemparan kotoran tersebut, namun mereka sepakat bahwa beliau menampakkan kegembiraan saat itu. Perawi (orang yang menceritakan peristiwa ini) melaporkan bahwa beliau ra menganggap itu sebagai karunia Ilahi bahkan tidak ada sedikit pun kerutan yang tampak pada wajah beliau menampakkan rasa muak.

Maulwi Burhanuddin Jhelumi Sahib seorang yang sangat mukhlis. Beliau ra juga biasa menceritakan suatu peristiwa yang sangat mengherankan yang membuat beliau menjadi seorang Ahmadi. Beliau telah mengenal Hadhrat Masih Mau’ud as jauh sebelum pendakwaan beliau as. Pada awal ketika beliau mendengar tentang Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau datang ke Qadian. Sesampainya di Qadian, beliau mendapati bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah pergi ke Gurdaspur. Maka beliau segera berangkat ke Gurdaspur. Di sana beliau berjumpa dengan Hadhrat Hafiz Hamid Ali Sahib. Beliau juga merupakan salah seorang khadim awalin yang selalu menemani Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berada di sebuah rumah dan ada tirai pada pintu masuk pada ruangan yang beliau tempati. Menanggapi permintaan Hadhrat Burhanuddin Sahib, Hafiz Hamid Ali Sahib mengatakan padanya, ‘Hadhrat Masih Mau’ud as sedang bekerja di ruangan beliau as.’ Hadhrat Burhanuddin Sahib berkata, ‘Saya ingin bertemu dengan beliau as.’

Hafiz Sahib mengatakan padanya Hadhrat Masih Mau’ud as telah melarangnya karena beliau sedang sibuk dan telah memerintahkannya agar beliau as tidak diganggu. Maulwi Burhanuddin Sahib memohon dengan sangat supaya dicarikan jalan agar dapat bertemu dengan beliau as. Tetapi Hafiz Sahib tetap berkata bahwa dirinya tidak dapat berbuat demikian sebagaimana perintah Hadhrat Masih Mau’ud as. Tetapi karena permintaan yang berulang kali, Hadhrat Burhanuddin akhirnya diizinkan hanya untuk melihat di balik tirai saja dan melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika beliau pergi ke sana dan melihat ke dalam, beliau melihat punggung beliau as dan sedang berjalan ke arah dinding yang lain. Ini kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika  sedang menulis sesuatu – baik suatu pengumuman, buku atau beberapa artikel – beliau sering melakukannya seraya berjalan dan pada saat yang sama, beliau juga membacanya dengan suara yang pelan. Pada saat itu, beliau as juga berbuat demikian.

Ketika beliau sampai pada dinding yang lain, beliau as kemudian berbalik. Maulwi Burhanuddin berkata bahwa ’Saya lari supaya beliau as tidak melihat saya’. Hafiz Hamid Ali Sahib atau seseorang bertanya, ‘Apa yang terjadi? Apakah engkau sudah melihat Hadhrat Masih Mau’ud as?’ Beliau ra menjawab, ‘Sekarang saya tahu bahwa seseorang yang berjalan begitu cepat di dalam ruangan, berarti dia mempunyai tempat tujuan yang sangat jauh untuk dijangkau.’ Dan menjadi tertanam begitu kuat di dalam hatinya bahwa beliau as akan menciptakan perubahan atau melakukan pekerjaan yang sangat besar di dunia.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ini merupakan sebuah poin yang sangat agung dari sebuah ma’rifat (pengetahuan) namun hanya dapat dilihat oleh orang yang telah dikaruniai penglihatan ruhani. Pada saat itu beliau ra (Maulwi Burhanuddin Jhelumi Sahib) pulang tanpa dapat bercakap-cakap dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, namun peristiwa itu melahirkan pendirian yang sangat kuat dalam hati beliau, sehingga di kemudian hari ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan pendakwaannya, beliau diberikan taufik untuk baiat kepada beliau as dan kemudian beliau juga diberkati dengan ketulusan yang amat luar biasa sehingga tidak mempedulikan penentangan apapun.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Bekerja dengan gesit dapat membuat perubahan yang luar biasa dalam diri seseorang. Anak-anak hendaknya diajarkan untuk berpikir dan bekerja cepat dan cekatan. Tetapi, melakukan sesuatu dengan cepat bukan berarti melakukannya dengan tergesa-gesa dan tanpa perhatian, namun melakukan sesuatu secara cepat dengan menggunakan pertimbangan akal. Seseorang yang tergesa-gesa tanpa pertimbangan adalah setan. Namun orang yang bekerja dengan cepat setelah memikirkannya terlebih dahulu dan penuh perhatian merupakan tentara Allah Ta’ala.

Rasa malas tumbuh dalam diri banyak orang tatkala mereka menunda-nunda pekerjaan dan berkata, ‘Kini kami akan beristirahat dan melakukan beberapa pekerjaan lagi nanti.’ Pekerjaan ditunda dan ditunda lagi. Hal ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak dan para muda-mudi, melainkan, orang dewasa dan para pengurus juga, mereka harus meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan mereka. Hal ini karena kita adalah pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as yang menggunakan waktu beliau dengan luar biasa. Allah juga menyampaikan ilham kepada beliau as, أنت الشيخ المسيح الذي لا يضاع وقتُه. ‘anta asy-Syaikhul Masih alladzii laa yudhaa’a waqtuhu.’ – ‘Engkaulah asy-Syaikh al-Masih yang tidak menyia-nyiakan waktunya.’ Jadi kita harus tetap perhatian pada hal ini.”

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda mengenai Hadhrat Masih Mau’ud as, “Saya menyaksikan beliau as bekerja sepanjang hari di dalam rumah namun setiap hari beliau juga pasti akan pergi keluar untuk berjalan kaki paling tidak satu kali. Dan beliau sangat ketat dalam hal ini terlepas dari umur dan pekerjaan beliau. Umur beliau yang sekitar 74 atau 75 atau 76 tahun.” Saya (Hudhur V atba) katakan, bahwa di sini Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sedang menyebutkan umur beliau as dalam corak aspek apresiasi. Hendaknya tidak masuk ke dalam perdebatan apakah umur beliau as itu 74, 75 atau 76 tahun.

“Kendati pun umur beliau telah mencapai usia tua, beliau rajin untuk berjalan di udara segar serajin yang mungkin kita tidak mampu. Kendati di suatu waktu beliau as karena suatu hal beliau tidak bisa berjalan-jalan di luar selama beberapa hari, pasti beliau as keluar dari rumah di setiap harinya. Bernafas dan berjalan di udara segar yang terbuka akan sangat bermanfaat bagi otak. Para Pengurus Tahrik-e-Jadid harus keluar mencari udara segar dan berolahraga, sebab itu akan menyehatkan mereka, menyegarkan dan menghidupkan otak mereka, yang dengannya kesehatan dan juga otak yang bagus kita akan menjadi bermanfaat bagi dunia.”[23]

Sekarang ini juga, suatu keharusan bagi anak-anak dan muda-mudi khususnya untuk memberikan perhatian pada berolahraga di udara segar yang terbuka. Wajib bagi para mahasiswa Jamiah untuk paling tidak menyediakan waktu satu setengah jam bagi kegiatan ini setiap hari. Pada masa sekarang ini, dikarenakan adanya komputer dan games membuat permainan dengan sarana itu yang dilakukan di dalam rumah, bukannya olahraga di luar rumah, di ruang terbuka, hal mana itu semakin dibutuhkan. Jika tidak ada hal yang mendesak, hendaknya setiap hari berjalan-jalan dan berolahraga yang dilakukan di udara terbuka.

Berbicara tentang setan yang membuat manusia menjadi takut akan kematian, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra kemudian menceritakan sebuah kejadian di Sialkot. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ketika Hadhrat Masih Mau’ud pergi ke Sialkot, para mullah memberikan fatwa, “Siapapun yang pergi untuk mendengarkan pidato beliau as, maka pernikahannya akan batal. Mereka adalah orang-orang kafir dan dajjal. Berbicara dengan mereka atau mendengarkan mereka atau membaca buku-buku mereka benar-benar dilarang. Sedangkan memukuli mereka dan membunuh mereka adalah suatu amal perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Tuhan.” Tidak ada sesuatu yang baru dari apa yang dikatakan oleh para mullah. Semua ini telah menjadi sikap mereka sejak awal. Namun demikian, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as hadir, mereka tidak dapat menciptakan suatu kekacauan pun karena polisi dan aparat pemerintah juga hadir serta juga ada banyak orang sehingga mereka tidak berani untuk membuat keributan pada saat itu. Juga karena para Ahmadi berada di keempat penjuru tempat tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan kerusuhan yang telah ada dalam benak mereka setelah Hadhrat Masih Mau’ud as pergi.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya juga ada bersama Hadhrat Masih Mau’ud as pada saat itu dan ketika beliau pergi, orang-orang mulai melempari batu dari jarak yang jauh namun menjadikan kendaraan yang sedang berjalan sebagai sasaran lemparan bukanlah hal mudah dan jarang sekali tepat sasaran. Mereka sedang mencoba melempari batu namun batu tersebut meleset dan mengenai salah satu dari mereka, sehingga usaha mereka menjadi gagal. Para Ahmadi yang hadir demi melihat Hadhrat Masih Mau’ud as juga berasal dari desa-desa tetangga. Mereka telah bubar seiring dengan kepulangan beliau as.. Namun mereka yang penduduk lokal atau telah datang dari luar kota mulai diserang di stasiun.

Salah seorang dari mereka yang diserang adalah Tn. Maulwi Burhanuddin. Perihal beliau juga telah diceritakan sebelumnya. Para penentang mengikuti beliau, memukuli beliau, melempari beliau dengan batu dan memaki beliau. Kemudian beliau dibawa ke sebuah toko dan kotoran hewan dimasukan ke mulut beliau. Mereka yang melihat peristiwa itu meriwayatkan bahwa alih-alih membalas dengan kata-kata kotor, beliau ra mengucapkan Subhanallaah – Maha suci Allah. Betapa luar biasanya hari-hari yang dikaruniakan kepada orang-orang yang terpilih. Dan hari-hari tersebut dikaruniakan kepada orang-orang hanya setelah kedatangan para nabi Tuhan. Ini merupakan rahmat Allah Ta’ala yang telah Dia perlihatkan hari ini kepada saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa sebagai hasilnya, mereka yang awalnya menyerang, mulai menyalahi diri mereka sendiri dan seraya merasa hina dan malu meninggalkan beliau sendiri. Jadi, inilah kenyataannya, maksud saya, ketika para musuh melihat orang-orang takut kematian, mereka itu akan berkata, “Lihatlah, mereka takut mati, mari kita menakut-nakuti mereka.”[24]

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran bahwa setan membuat teman-temannya sendiri merasa takut.[25] Jadi ketika seseorang menunjukkan ketakutan, para musuh menganggapnya sebagai teman setan (ia adalah seseorang yang dipengaruhi setan). Tetapi jika seseorang tidak takut ancaman, bahkan menganggap segala serangan dan kesakitan itu sebagai rahmat dari Allah Ta’ala dan berkata, “Allah Ta’ala telah mengaruniakan kehormatan kepadaku dan memuliakanku sehingga aku dipukuli demi karena-Nya”. Kemudian mengetahuinya, para musuh pun menjadi gentar takut, merasa kagum dan akhirnya merasa malu serta menyesal.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan peristiwa lainnya sehubungan dengan Maulwi Burhanuddin Sahib. Beliau merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang sangat mukhlis. Beliau mempunyai kepribadian yang ramah dan sangat menyenangkan. Karena kewafatan beliau dan Maulwi Abdul Karim Sahib sehingga muncul pemikiran pada Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mendirikan Madrasah Ahmadiyah yang kemudian dikenal dengan Jami’ah Ahmadiyah. Suatu kali beliau datang kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, “Dalam sebuah mimpi saya melihat almarhumah kakak perempuan saya. Dia berjumpa dengan saya. saya bertanya padanya, ‘Kakak, katakan bagaimana keadaan engkau di sana?’ Dia menjawab, ‘Allah telah demikian memuliakan saya dengan kebaikan yang besar. Dia mengampuni saya dan sekarang saya tinggal dengan segala kenyamanan dan ketenangan di surga.’ Saya bertanya, ‘Kakak, apa yang kaulakukan di sana?’ Dia menjawab, ‘Saya menjual buah beri.’”[26]

Maulwi Burhanuddin Sahib berkata, “Saya berkata padanya dalam mimpi, ‘Saudariku, nasib kita aneh sekali, meskipun sudah berada di surga tapi masih saja tidak berhenti bekerja menjual beri?’ Karena diantara keluarga beliau ada yang miskin, maka di dalam mimpi pun beliau berpikir ke sana. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mendengar hal ini, beliau berkata kepada maulwi sahib, “Tuan Maulwi yang terhormat! Tabirnya bukan seperti itu. Ada tabir lain dari mimpi itu. Namun, Tuan cenderung bersifat ramah karena meskipun di dalam mimpi Tuan tidak lupa bercanda.”

Hadhrat Masih Mau’ud bersabda, “Buah beri merupakan buah surgawi. Makna dari buah beri itu adalah kecintaan sempurna yang abadi (tidak akan pernah luntur). Adapun السدرة Sidrah merupakan maqam (martabat) kecintaan Ilahi yang sempurna lagi abadi. Jadi, tabir mimpi ini adalah bahwa saudari Tuan telah membagi-bagikan kecintaan Ilahi yang sempurna dan yang tak pernah luntur kepada orang-orang.” Kemudian penjelasan lebih lanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ringkasnya, dimana pun orang mu-min (beriman) berada, dia harus bekerja. Masuk surga bukanlah berarti bahwa setelah kematian dan setelah mencapai surga, di sana hanya untuk tenang-tenang dan beristirahat saja. Tidak demikian! Kita akan mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan sebagaimana yang saudari maulwi katakan padanya perihal apa yang dia kerjakan di sana. Dan jika terbesit di dalam pikiran seseorang bahwa telah datang waktunya untuk tenang-tenang (bersantai-santai) saja, maka artinya dia telah kehilangan keimanannya. Karena yang dimaksud Islam dengan iman dan kenyamanan (kenikmatan) itu adalah kesibukan bekerja.

Allah Ta’ala dengan jelas telah berfirman,فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ * وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ‘fa-idza faraghta fanshab. Wa ilaa Rabbika farghab.’ – ‘Maka apabila engkau telah selesai tugas, maka berusaha keraslah mencari ridha Allah. Dan kepada Tuhan engkaulah hendaknya engkau mengarahkan perhatian’ (QS.94:8-9). Ini perkara halus yang harus selalu diingat. Tidak ada kenyamanan bagi kalian dalam pengertian yang dipahami orang-orang duniawi. Kenyamanan dalam makna yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada kita dapat kita peroleh dengan mudah. Makna kenyamanan yang diutarakan dalam pandangan duniawi pasti salah dan orang yang mencari-cari celah untuk bersantai-santai saja dalam pengertian tersebut akan menjadi buta di dunia dan juga di akhirat.” [27]

Merupakan kewajiban mu-min, dia harus senantiasa menyibukkan diri mereka dalam bekerja. Setelah mencapai suatu target, hendaknya bersiap-siap untuk mencapai target selanjutnya. Dan ini adalah rahasia kesuksesan bagi seseorang, dan juga bagi kemajuan dan kesuksesan suatu bangsa. Semoga Allah Ta’ala memberkati kita untuk dapat menjalankan segala kewajiban ini sebagai mana yang diharapkan. Aamiin.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Al-Fadhl, 11 Maret 1939, h. 8, nomor 58, jilid 27.

[3] Surah al-Isra, 17:83; وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami berangsur-angsur turunkan Alquran yang merupakan penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; tetapi tidaklah itu menambah kepada orang-orang yang aniaya melainkan kerugian.”

[4] Da’watul Amir, Anwarul ‘Ulum jilid 7 h. 575.

[5] Ba’dh ehem aur zharuri umur, Anwarul ‘Ulum jilid 16, h. 493.

[6] Malfuzhat, jilid awwal, h. 433, edisi 1985, Terbitan Inggris.

[7] Al-Fadhl, 11 Mei 1939, h. 4, nomor 115, jilid 27.

[8] Khuthutbaat-e-Mahmud, jilid 22, h. 173

[9] Shahih Muslim, Kitab tentang keimanan, bab tidak masuk surga kecuali orang beriman, no. 54; Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “Kamu tidak akan memasuki surga, sehingga kamu beriman, kamu tidak akan beriman (dengan sempurna) sehingga kamu saling berkasih sayang. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu, apabila kamu melakukannya, kamu saling berkasih sayang? Sebarkan salam diantara kamu.”

[10] Sirat Masih Mau’ud, Anwarul ‘Ulum, jilid 3, h. 360.

[11] [HR Muslim, Kitab 2 : Iman, Bab 69 : Menyembunyikan keimanan bagi orang yang takut, No 394], Dari Hudzifah, ia berkata: Kami bersama Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda: “Lakukanlah ihshâ’ (perhitungan) untukku berapa orang yang telah menyatakan Islam”. Hudzaifah berkata: ‘maka kami berkata: ‘Wahai Rasulullâh, adakah engkau mengkhawatirkan kami? Sementara jumlah kami antara 600 sampai tujuh ratus!’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Kalian tidak tahu, mungkin suatu saat nanti kalian mendapat cobaan. عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏”‏ أَحْصُوا لِي كَمْ يَلْفِظُ الإِسْلاَمَ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَخَافُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ مَا بَيْنَ السِّتِّمِائَةِ إِلَى السَّبْعِمِائَةِ قَالَ ‏”‏ إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ لَعَلَّكُمْ أَنْ تُبْتَلَوْا ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَابْتُلِينَا حَتَّى جَعَلَ الرَّجُلُ مِنَّا لاَ يُصَلِّي إِلاَّ سِرًّا ‏

[12] Ba’dh ehem aur zharuri umur, Anwarul ‘Ulum jilid 16, h. 493.

[13] Khawajah Kamaluddin Sahib adalah sahabat dekat Maulwi Muhammad Ali, yang nantinya bersama grupnya tidak berbaiat kepada Hadhrat Khalifatul Masih II dan mendirikan Anjuman (organisasi) di Lahore pada 1914 terpisah dari Khilafat.

[14] Khuthutbaat-e-Mahmud, jilid awwal, h. 428-429

[15] Tafsir Kabir jilid 6, h. 359-360.

[16] Ba’dh ehem aur zharuri umur, Anwarul ‘Ulum jilid 16, h. 277

[17] Ba’dh ehem aur zharuri umur, Anwarul ‘Ulum jilid 16, h. 276.

[18] Sirat Hadhrat Masih Mau’ud as, Anwarul ‘Ulum jilid 3, h. 366.

[19] Ba’dh ehem aur zharuri umur, Anwarul ‘Ulum jilid 16, h. 276.

[20] Tafsir Kabir, jilid 7, h. 23

[21] Jawaban atas Jemaat Ahmadiyah Delhi, Anwarul ‘Ulum jilid 12, h. 86.

[22] Tahrik Syudhi Malkanah, Anwarul ‘ulum jilid 7, h. 192.

[23] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 16, h. 836. Hudhur II ra di khotbah ini menyebutkan para pengurus Tahrik-e-Jadid yang ada di hadapan beliau sehingga disebut secara khusus. Adapun maksudnya bukan khusus untuk mereka saja tapi untuk semua.

[24] Tafsir Kabir, jilid 7, h. 582-583.

[25] Surah Ali Imran; 3:176, إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya sendiri, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

[26] Terjemahan bahasa Arab khotbah ini oleh media resmi Jemaat http://islamahmadiyya.net/ ialah العليق blackberry, buah beri hitam, rubus villosus.

[27] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 16, h. 612-613.