Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Esensi Waqf-e-Nau

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

28 Oktober 2016 di Masjid Baitul Salam, Toronto, Kanada

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, kecenderungan (tren) mendedikasikan (mewakafkan) anak-anak dalam Jemaat terus meningkat. Saya menerima surat-surat dari orang tua tiap hari. Pada hari-hari tertentu, hitungan mencapai 20-25 buah surat. Dalam surat-surat itu, para orang tua meminta anak-anak mereka yang belum lahir untuk dimasukkan dalam daftar Waqf-e-Nau [وقف نو menazarkan anak-anak yang belum lahir untuk mengkhidmati agama]. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih IV (semoga Allah merahmatinya) memulai gerakan ini, gerakan itu awalnya terbatas bukan permanen, tetapi kemudian, beliau rha membuatnya permanen. Dan Jemaat, terutama kaum ibu di setiap negara, berkata, ‘Labbaik!’ – “Kami siap dan menyambutnya!”

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu, karena perhatian Jemaat untuk ini, jumlah Waqifiin Nau (الواقفين نو) adalah lebih dari 28 ribu. Dengan karunia Allah jumlah ini sekarang telah mencapai 61 ribu. Dari jumlah itu, anak laki-laki berjumlah lebih dari 36 ribu dan selebihnya anak perempuan. Jadi, dengan berlalunya waktu, tren bahwa mereka harus mendedikasikan anak-anak mereka sebelum kelahiran, terus meningkat.

Namun, saya ingin menegaskan dalam hal ini bahwa tanggung jawab orang tua tidak berakhir dengan menghadirkan anak-anak mereka untuk Wakaf sebelum kelahiran mereka. Tanggungjawab mereka malahan menjadi lebih banyak lagi dari sebelumnya. Tidak diragukan lagi, Tarbiyat setiap anak Ahmadi merupakan tanggungjawab para orang tuanya dan tentunya orang tua ingin hal yang baik untuk anak mereka.

Para orang tua menginginkan pendidikan sekuler (duniawi) dan tarbiyat juga bagi anak-anaknya dan jika mereka menyintai agama dan perhatian terhadapnya maka mereka pun menjaga pendidikan agamanya juga. Tapi ini harus diingat bahwa setiap anak, khususnya anak peserta Waqf-e-Nau adalah sebuah amanat (kepercayaan, titipan) dari Jemaat yang ada pada mereka (para orang tua). Tarbiyat dan menjadikan anak-anak sebagai bagian terbaik dari Jemaat dan masyarakatnya, adalah tanggungjawab para orang tua. Tapi, tarbiyat anak-anak Waqf-e-Nau, pendidikan sekuler dan agama mereka dengan perhatian khusus dan menyerahkan mereka ke Jemaat setelah mempersiapkan mereka, menjadi tanggung jawab istimewa para orang tua juga.

Hal itu karena sebelum kelahiran, orang tua telah berjanji bahwa apa pun jenis kelamin bayi yang akan lahir, laki-laki atau perempuan, mereka akan persembahkan untuk agama Allah, demi penyempurnaan misi pelayan sejati dari Nabi Muhammad saw yaitu penyempurnaan penyebarluasan hidayah, menyebarkan ajaran Islam di dunia, menarik perhatian dunia ke arah pemenuhan hak-hak Allah, menyebarkan pendidikan Islam khususnya penunaian hak-hak sesame, setiap orang di dunia. tanggung jawab yang ditanggung oleh para orang tua terutama kaum ibu, dengan berjanji kepada Allah sebelum kelahiran anaknya bukanlah perkara yang biasa-biasa saja yang sangat ringan.

Mereka menulis surat kepada Khalifah-e-Waqt yang menyebutkan bahwa mereka mempersembahkan anak mereka ke dalam skema Waqf-e-Nau dengan janji kepada Allah seperti ibunda dari Hadhrat Maryam, رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي

مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku ini yang hamba tidak ketahui apakah ia laki-laki atau perempuan. Hamba berharap dan berdoa agar ia menjadi pengkhidmat agama. Karena itu, terimalah cita-cita dan doa-doa hamba ini untuk janin hamba ini. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dengarlah rintihan terdalam doa hamba ini. Engkau Maha Mengetahui doa hamba ini lahir dari sudut terdalam hati hamba.” (Surah Ali Imran, 03:36)

Ini adalah kerinduan para ibu Ahmadi – hendaknya itu menjadi harapan mereka – untuk anak-anak mereka ketika mereka mempersembahkan anak-anak mereka dalam Waqf-e-Nau dan para suami mereka juga ikut serta di dalamnya. Jadi, ketika seorang ibu yang mempersembahkan calon bayinya ke Waqf-e-Nau, berdoa dengan doa ini, harus selalu menyadari tanggung jawab yang ada pada mereka dan suaminya juga secara khusus setia dalam pemenuhan janji dan pengabulan doa ini. Anak diajukan dengan Waqf-e-Nau dengan kesepakatan kedua orang tua (ibu dan ayahnya). Harap diketahui bahwa Allah Ta’ala tidak melestarikan doa ini dalam Al-Qur’an dengan tujuan menceritakan kisah zaman dahulu semata. Tidak demikian. Melainkan, doa ini telah mencapai pengabulan dari Allah sehingga Dia mengawetkan doa itu [dengan Dia firmankan dalam Al-Qur’an] untuk para calon ibu juga di masa setelahnya, sehingga dengan doa ini membuat anak-anak melakukan pengorbanan yang luar biasa demi agama. Telah diketahui, setiap orang beriman berjanji setia untuk memilih agama diatas urusan duniawi tetapi para Waqifin harus terkemuka sehingga sampai pada batas puncak dari standar tersebut.

Apabila para ibu dan para bapak menanamkan di benak anak-anak mereka dari awal, “Kalian adalah anak-anak Waqf-e-Nau. Kami [orang tua] telah menazarkan kalian [anak-anak] murni untuk melayani agama. Hendaknya ini menjadi tujuan hidup kalian!” Jika para orang tua berdoa kea rah itu, maka anak-anak akan tumbuh dengan pola pikir bahwa mereka harus mengkhidmati agama. Mereka tidak akan tumbuh berpikir untuk menjadi seorang pengusaha atau pemain [olahraga dan lain-lain] atau untuk menekuni ke dalam bidang tertentu lainnya.

Sebaliknya, mereka akan mengajukan pertanyaan, “Saya adalah Waqif Nau maka Jemaat hendaknya memberitahukan kepadaku atau Khalifatul Masih memberiku petunjuk- petunjuk bidang-bidang apa yang kami harus pilih secara khusus. Janganlah kini membuatku menganggap penting dunia. Janji yang ibuku lakukan sebelum kelahiranku, doa-doa yang ia panjatkan sebelum aku lahir, dan tarbiyat yang ia latih bagiku sedemikian rupa membuatku harus mengejar agama bukan dunia materi. Merupakan keberuntunganku bahwa Allah mendengarkan doa-doa ibuku dan membawa usaha ibuku untuk tarbiyatku membuahkan hasil. Sekarang, tanpa keserakahan dan keinginan duniawi, aku berjanji pada diri sendiri untuk hanya mengkhidmati agama.”

Suatu keharusan untuk menjelaskan pemikiran ini kepada para anak Waqf-e-Nau bersamaan dengan mereka memperbaharui janji mereka pada usia lima belas. Dalam hal ini, secara khusus saya telah mengeluarkan instruksi kepada administrasi terkait dalam Jemaat untuk mendapatkan secara tertulis dari mereka pada usia lima belas bahwa mereka akan mengikuti atau ingin melanjutkan Waqf mereka.

Pada usia lima belas atau dua puluh satu, yaitu yang telah menyelesaikan pendidikan mereka, semua Waqifin yang belum bergabung dengan Jamiah, harus memperbaharui secara tertulis janji mereka. Dan jika, diantara mereka diminta untuk mendapatkan pelatihan dan kemahiran di beberapa bidang tertentu, setelah selesai, mereka juga harus memperbaharui janji mereka lagi. Artinya, semua Waqifin, sesuai dengan keinginan tulus, harus menyatakan jelas untuk melanjutkan Waqfnya. Dalam hal ini, seperti yang saya katakan secara rinci, seharusnya tidak ada anak Waqf-e-Nau yang berpikiran bahwa jika mereka berjanji waqf, kemudian, bagaimana mereka akan bertahan hidup secara materi, atau kekhawatiran ini harus mengganggu mereka bagaimana mereka akan mendukung orang tua mereka secara keuangan atau sebaliknya yaitu merawat secara fisik.

Beberapa hari yang lalu saya punya kelas dengan para Waqifin Nau. Seorang anak bertanya, “Jika, dengan mendedikasikan diri, mereka menyajikan layanan penuh waktu mereka untuk Jemaat, maka bagaimana kami akan mampu merawat orang tua kami secara finansial, fisik atau secara umum?”

Munculnya pertanyaan ini adalah ekspresi dari fakta bahwa orang tua tidak menempatkan kedalam hati anak-anak Waqf-e-Nau sejak kecil, “Kami telah mendedikasikan kalian (anak-anak] dan kalian hanya kepercayaan (titipan) dari Jemaat pada kami [orang tua]. Saudara kalian lainnya yang akan merawat kami. Adapun kalian hanya untuk menampilkan diri kalian kepada Khalifatul Masih saja dan berjalan sesuai arahannya.”

Dalam doa ibunda Hadhrat Maryam, kata yang digunakan  محرَّرا berarti, “Saya telah memisahkan anak ini dari tanggung jawab duniawi dan berdoa bahwa tanggung jawab agama harus menjadi prioritas satu-satunya sebagai keutamaan padanya dan menjadi kemuliaan baginya.”

Jadi, saya ingin menyampaikan kepada semua ibu dan bapak bahwa gelar Waqf-e-Nau saja tidak cukup. Sebaliknya, Waqf-e-Nau adalah tanggung jawab penting bagi para orangtua sampai anak Waqf-e-Nau menjadi dewasa dan setelah itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Beberapa anak laki-laki dan perempuan, yang sudah mendapat pendidikan sekuler, ternyata menunjukkan antusiasme yang besar dan menyajikan pengkhidmatan mereka. Kemudian, tampak contoh-contoh mereka yang meninggalkan janji Waqf beralasan tidak dapat bertahan hidup dengan tunjangan yang Jemaat bayarkan pada mereka. Ketika tujuan itu agung maka pasti diperlukan pengorbanan dan menanggung kesulitan. Jika sejak masa kanak-kanak, ditanamkan pemikiran dalam hati para Waqifin bahwa tidak ada yang lebih besar dari kehidupan Waqf dan ia berpikiran bahwa kehormatan yang Allah berikan lebih utama dari harta dunawi, bukannya memandang orang lain dengan corak materi dan berpikiran, “Si Fulan temanku sekelas dulu telah berpenghasilan ratusan ribu Rupees (puluhan juta Rupiah). Tunjangan yang kudapat sebulanan ini tidak sebanding dengan penghasilan dia selama satu hari.”

Para Waqifin wajib menempatkan dalam pikiran mereka sabda Nabi Muhammad saw,

انْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَكَ وَلا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكَ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لا تَزْدَرِي نِعْمَةَ اللَّهِ عِنْدَكَ

‘unzhur ila man huwa duunaka wa laa tanzhur ila man huwa fauqaka fa-innahu ajdaru al laa tazdari ni’mataLlahi ‘indaka’ – ‘Amatilah orang yang di bawahmu! Jangan mengamati orang yang di atasmu! Sebagai upaya agar tidak meremehkan nikmat Allah yang di sisimu’.” [1]

Artinya, kita harus melihat orang yang secara keuangan lebih rendah dari kita dan melihat orang yang rohaninya lebih tinggi dari kita sehingga kita berusaha untuk melangkah lebih jauh dalam kemajuan spiritual daripada dalam kemajuan materi. Oleh karena itu, anak-anak Waqf-e-Nau, khususnya yang telah menyelesaikan pendidikan mereka, harus berupaya untuk meninggikan kondisi derajat kerohanian mereka bukannya memikirkan bagaimana meningkatkan standar materinya. Hadhrat Masih Mau’ud as mengharapkan dari setiap Ahmadi untuk memiliki derajat kerohanian yang sangat tinggi. Orang yang telah didedikasikan oleh orangtuanya untuk agama sebelum kelahiran dan orangtuanya teguh berdoa untuk dirinya juga, berapa banyak ia harus berusaha untuk mencapai standar tersebut!

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan,

“Saya menganggap itu tugas saya untuk mewasiatkan bagi Jemaat saya dan mengirim pesan ini, berpulang pada mereka apakah mengamalkan atau tidak, bahwa jika seseorang ingin meraih najat (pembebasan, keselamatan) dan ingin hidup saleh dan kekal, maka, ia harus mendedikasikan hidupnya untuk mengkhidmati agama. Semua orang harus terlibat dalam usaha ini untuk mencapai status dan pangkat tersebut sehingga ia dapat mengatakan, قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ‘Kehidupanku, kematianku, pengorbananku, dan ibadahku untuk Allah Ta’ala saja’ sampai-sampai ruhnya berseru seperti Hadhrat Ibrahim, أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ‘Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam’ (2: 132)

Seseorang tidak dapat meraih kehidupan baru tanpa menjadi fana dalam Allah, dan mati dalam Allah. (Inilah tujuan dan hal pokok) Oleh karena itu, Anda yang memiliki hubungan dengan saya, harus memikirkan dalam benak Anda supaya melihat sejauh mana kecintaan terhadap apa-apa yang saya cintai bagi diriku sendiri [mewakafkan diri] dan berkeinginan untuk mewakafkan kehidupan mereka untuk Allah.” Oleh karena itulah, mereka yang mengikuti Waqf-e-Nau harus berusaha untuk mencapai status rohani tertinggi melebihi yang diraih oleh para Ahmadi umumnya.

Diantara mereka yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama terdapat yang bekerja di bidang-bidang selain Tabligh. Memang, tidak mungkin semuanya bertugas di bidang ini saja, Allah Ta’ala pun telah mengatakan ini juga bahwa harus ada sebuah kelompok di antara kamu, yang mencapai kedalaman pengetahuan agama dan kemudian pergi kepada orang-orangnya, mengingatkan dan mengajarkan mereka soal agama. Tapi, para Waqifin yang tidak bertugas di bidang Tabligh dan sibuk melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi ini juga diberitahu oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa seseorang hendaknya takut akan Tuhan, mengutamakan agama dan ia tetap melanjutkan pekerjaan dunia juga. para Waqifin tersebut harus meningkatkan derajat qana’ah (merasa cukup) dan pengorbanan mereka. Mereka seharusnya tidak berpikiran bahwa jika mereka lemah secara finansial, maka, mungkin saudara mereka akan menganggap mereka lebih rendah atau orang tua tidak akan memperhatikan mereka seperti yang mereka lakukan kepada saudara-saudarinya yang lain.

Pertama, para bapak dan para ibu hendaknya tidak merusak pemikirannya sendiri dengan menganggap putra-puteri mereka yang mewakafkan kehidupan mereka untuk mengkhidmati agama, statusnya itu lebih rendah daripada orang-orang selainnya. Tapi, Para Waqifin harus selalu menganggap diri mereka sebagai أحقر (yang terendah) diantara para hamba Allah. Mereka harus meningkatkan standar pengorbanan, ibadah dan kesetiaan. Mereka harus menggunakan semua kemampuan dan kapasitas mereka untuk memenuhi janji mereka, janji orang tua mereka sendiri, bekerja untuk mengkhidmati agama dan meninggikan panji agama. Dalam hal-hal itu, kemudian Allah Ta’ala akan memberkati mereka dan tidak meninggalkan mereka tanpa pahala.

Mengenai pemenuhan janji, pada satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud as  bersabda bahwa Allah Ta’ala telah memuji Hadhrat Ibrahim as  dalam Alquran dengan berfirman, وإبراهيمَ الذي وفّى “Dan Ibrahim yang memenuhi janjinya.” (53:38), yaitu memenuhi janji yang ia sampaikan kepada Allah.

Oleh karena itu, pemenuhan janji bukanlah hal yang kecil. Adapun janji untuk mendedikasikan hidup demi Allah Ta’ala, alangkah agungnya janji itu! Anda telah mendengar kata-kata tulus penuh keperihan dari Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai hal itu. Jika setiap peserta Waqf-e-Nau, baik yang laki-laki maupun perempuan memenuhi janji ini dengan setia dalam corak ini, kita dapat menegakkan sebuah revolusi dalam dunia ini. Beberapa pasangan muda datang kepada saya dan mengatakan, “Saya seorang Waqif Nau, istri saya juga Waqifah Nau dan anak saya juga.” atau seorang ibu mengatakan, “Saya juga seorang Waqifah Nau. Suami dan anak saya juga.” Memang, hal ini patut dipuji; tetapi itu tidak akan bermanfaat bagi Jemaat sama sekali kecuali jika mereka memenuhi janji mereka dengan setia.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan lebih lanjut topik kesetiaan di tempat lain, mengacu pada Hadhrat Ibrahim as,

“Cara untuk mencapai kedekatan kepada Allah adalah dengan menunjukkan kejujuran kepada-Nya, dan berpegang teguh pada kebenaran dan mutlak setia. Inilah penyebab Hadhrat Ibrahim as semakin dekat dengan Tuhan-nya. Sebagaimana Dia berfirman, وإبراهيمَ الذي وفّى ‘Dan Ibrahim yang memenuhi janjinya.’ (53:38),  Yang berarti bahwa Hadhrat Ibrahim as ialah orang yang menghiasi diri dengan kesetiaan. Loyalitas, kejujuran dan keikhlasan kepada Allah membutuhkan ‘kematian’. Kebajikan ini tidak dapat diraih seseorang sampai ia siap untuk mengorbankan semua kesenangan dan kemegahan dunia ini, dan siap untuk menanggung segala macam aib, kesulitan dan kekurangannya di jalan Allah.”

Penyembahan berhala tidak hanya artinya seseorang memuja pohon atau batu. Segala sesuatu yang mencegah seseorang dalam pencapaian kedekatan dengan Allah dan lebih disukai oleh-Nya adalah patung berhala. Umat manusia memiliki begitu banyak berhala dalam dirinya sehingga tidak menyadari tengah menyembah berhala itu.”

(Dalam masa ini, di beberapa tempat, drama-drama berseri telah menjadi berhala, tempat internet menjadi idola, tempat mendapatkan materi telah menjadi idola dan kadang-kadang keinginan pribadi telah menjadi berhala. Demikianlah, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa orang tidak tahu bahwa ia tengah terlibat dalam penyembahan berhala dan melakukannya tanpa ia sadari.)

Oleh karena itu, beliau as berkata,

“Selama seseorang tidak menjadi semata-mata untuk Allah dan siap menghadapi semua kesulitan di jalan-Nya, rona kesetiaan dan kebenaran sulit untuk diciptakan. Hadhrat Ibrahim as tidak mendapatkan namanya bukan tanpa sebab apa-apa. Tidak demikian! Melainkan seruan وإبراهيمَ الذي وفّى itu datang setelah beliau as siap sedia mengorbankan anaknya.”

Allah menuntut amal perbuatan dan hanya ridha dengan perbuatan. Amal perbuatan tidak akan datang kecuali dengan rasa perih. Ketika seseorang siap menanggung kesedihan, maka Allah tidak akan menempatkan dia di dalamnya. Karena mematuhi perintah Allah, ketika Hadhrat Ibrahim as sampai benar-benar siap untuk mengorbankan anaknya, Allah pun menyelamatkan anaknya. Hadhrat Ibrahim as telah dilemparkan ke dalam api, tetapi api tidak bisa melakukan apapun yang membahayakan dirinya. Jika seseorang siap untuk menanggung kesulitan di jalan Allah, maka Allah akan menyelamatkannya dari penderitaan.”

Ini adalah tolok ukur yang diberitahukan kepada kita oleh Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menyerap rahmat Allah dan menerima karunia-karunia-Nya serta beliau as mengharapkan kita untuk mencapainya. Ini adalah standar yang setiap Waqf-e-Nau seharusnya tidak hanya mencoba untuk mencapainya melainkan juga mengingat senantiasa bahwa pernyataan kita soal Waqf-e-Zindegi (dedikasi hidup) akan kosong melompong belaka jika derajat-derajat pengorbanan kita tidak naik lebih tinggi.

Beberapa ibu berkata tanpa berpikir lebih dulu, “Kami telah datang ke Kanada. Anak kami adalah Murabbi atau Waqf-e-Zindegi di Pakistan, tolong kirimkanlah dia untuk saya di sini atau tugaskanlah dia di sini. Dia bergabung dengan kami di sini.”

Saya katakan, “Ketika kalian telah mewakafkan hidup kalian, maka apa artinya tuntutan tersebut, mengapa ada keinginan seperti itu? Kalian harus menghentikan keinginan-keinginan (harapan-harapan) yang bersifat pribadi. Semuanya.”

Seperti yang saya katakan, tren untuk bergabung Waqf-e-Nau meningkat. Ini sangat menggembirakan. Selanjutnya tren ini, menjadikannya semata-mata demi Allah dan tidak menjadi orang-orang yang melanggar atau melemahkan janji mereka karena perubahan keadaan. Hadhrat Masih Mau’ud as, mengatakan bahwa pengorbanan tidak dapat dilakukan tanpa adanya kesedihan dan penderitaan. Jika keadaan telah berubah, kita harus menanggungnya, terutama mereka yang telah mempersembahkan diri untuk dedikasi: atau orang tua mempersembahkan anak-anak mereka dan mereka (anak-anak) memperbaharui untuk melanjutkan janji Waqf mereka. Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengatakan bahwa ketika seseorang siap untuk membuat segala macam pengorbanan demi Allah, maka Allah akan memberkatinya. Allah tidak meninggalkannya malahan memberkatinya sangat banyak. Semoga Allah membuat semua Waqifin Nau dan orang tua mereka memahami realitas Wakaf dan memenuhi janji mereka dan terus meningkatkan standar kesetiaannya.

Secara singkat dan jelas, saya ingin menarik perhatian ke arah hal-hal kepengurusan dan dustuurul ‘amal (garis aksi, panduan perbuatan) mereka yang mengikuti Waqf-e-Nau juga. Beberapa orang mengajukan pertanyaan dan beberapa Waqifin Nau memiliki kesalahpahaman tertentu dalam pikiran mereka bahwa dengan bergabung Waqf-e-Nau mereka punya identitas baru. Saya katakan, tidak diragukan lagi identitas dibuat, tapi dengan identitas bahwa mereka tidak akan menerima perlakuan yang luar biasa istimewa. Bahkan, mereka harus meningkatkan percepatan dan keluhuran pengorbanan mereka dengan identitas [waqf-e-nou] itu.

Beberapa orang menanamkan ke dalam pikiran anak-anak mereka yang Waqifin Nau bahwa mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa. Hasilnya, bahkan ketika mereka telah dewasa, pikiran ‘menjadi istimewa’ ini menempel pada mereka. Pertanyaan-pertanyaan dan hal-hal seperti ini telah sampai ke saya di sini juga. Mereka membuat mundur kembali esensi Waqf dan membuat gelar Waqf-e-Nau sebagai tujuan hidup mereka yaitu menjadi ‘spesial’ (istimewa).

Beberapa dari mereka telah mengembangkan ide dalam hati mereka bahwa karena mereka berada di Waqf-e-Nau maka mereka tidak perlu menghadiri program Nasirat dan Lajna jika mereka adalah anak perempuan, dan mereka tidak perlu menghadiri program dari Atfal dan Khuddam jika mereka adalah laki-laki. Mereka merasa memiliki organisasi yang terpisah. Jika seseorang memiliki pemikiran itu maka itu adalah gagasan yang salah. Setiap pengurus, bahkan Amir Jemaat sekalipun, adalah anggota dari sebuah organisasi badan dalam Jemaat terkait sesuai dengan umurnya. Oleh karena itu, setiap Waqif Nau, laki-laki and perempuan harus ingat bahwa mereka adalah anggota organisasi mereka sesuai dengan usia mereka dan tugas mereka untuk menghadiri program organisasi badan tersebut.

Jika seseorang tidak hadir, maka, ketua organisasi  [badan-badan] yang relevan harus melaporkan tentang dia. Jika anak Waqf-e-Nau itu tidak membaik, maka anak seperti itu, anak laki-laki atau pemuda akan dihapus dari skema Waqf-e-Nau. Ya, jika ada beberapa program dari Jemaat, Program Waqf-e-Nau, atau program dari organisasi badan [sama waktunya], kemudian, dengan saling pengertian, pemilihan waktu program mereka dapat diatur supaya organisasi pelengkap dan Waqf-e-Nau melakukan program-program mereka secara terpisah dan tidak ada benturan. Mereka harus menempatkan hal-hal ini dalam pikiran mereka.

Waqifin Nau, seperti yang saya katakan, mereka sangat istimewa. Tapi mereka harus membuktikan bahwa mereka lebih beruntung dari orang lain dalam hal hubungan mereka dengan Allah; hanya dengan demikian kemudian mereka akan [pantas] disebut ‘istimewa’. Mereka akan disebut istimewa jika memiliki rasa takut akan Tuhan lebih dari yang lain. Mereka akan disebut istimewa jika tingkat ibadah mereka jauh lebih tinggi daripada yang lain. Mereka akan disebut istimewa jika mereka mengerjakan nawafil bersama dengan ibadah yang wajib.

Ini sebuah tanda yang istimewa jika tingkat akhlak mereka secara umum sangat tinggi. Ada perbedaan yang nyata antara bahasa dan sopan santun berbicara mereka dengan orang-orang selain mereka. Hal itu menjelaskan bahwa mereka benar-benar terlatih dalam tarbiyat baik dan lebih mengutamakan keimanan dibanding hal-hal duniawi dalam segala urusan. Kemudian, barulah mereka akan disebut sebagai orang-orang yang ‘khusus’.

Jika mereka adalah anak perempuan, kemudian, pakaian dan pardah mereka adalah simbol dari pendidikan Islam yang benar sampai-sampai ketika orang lain melihatnya, mereka akan iri dan mengatakan bahwa meskipun hidup di lingkungan ini, gaun dan pardah mereka teladan yang luar biasa. Kemudian dengan demikian mereka akan menjadi istimewa. Jika mereka anak laki-laki, maka mata mereka akan melihat ke bawah karena sifat malu dan tidak berkeliaran ke arah tindakan salah. Kemudian, barulah dengan demikian, mereka akan menjadi istimewa. Mereka akan menjadi istimewa jika menghabiskan waktu mereka untuk mencapai pengetahuan agama daripada melihat hal-hal yang tidak berguna di internet. Jika penampilan anak laki-laki berbeda dari orang lain maka mereka akan istimewa. Anak laki-laki dan perempuan dari Waqf-e-Nau bisa disebut istimewa jika mereka membiasakan diri membaca Al-Qur’an, mencari perintah-perintah di dalamnya, dan setelah menemukannya, mereka mengamalkannya.

Jika mereka secara teratur mengambil bagian dalam program-program organisasi badan dan Jemaat lebih dari yang lain, maka, mereka akan menjadi istimewa. Ini adalah status istimewa mereka jika mereka unggul daripada saudara-saudara mereka dalam hal merawat orang tua mereka dengan baik dan berdoa untuk mereka.

Pada saat perjodohan, jika mereka mengutamakan sisi agama bukan materi duniawi, dan kemudian memenuhi kewajiban bersuami-istri secara kontinyu, dan dapat kita katakan saat itu bahwa mereka memenuhi kewajiban bersuami-istri dengan mengamalkan hukum-hukum agama secara murni; kemudian, barulah mereka akan dipanggil istimewa.

Mereka istimwa jika berperilaku lebih sabar daripada yang lain dan dalam kasus perkelahian dan pertengkaran, mereka tidak hanya menahan diri dari itu semua, bahkan menjadi pembawa damai. Jika, di bidang propagasi (tabligh), mereka mengambil posisi memimpin untuk memenuhi kewajiban ini, maka mereka ialah orang-orang istimewa. Jika mereka berada di barisan depan dalam mematuhi Khilafat dan bertindak atas keputusannya, maka barulah mereka istimewa. Mereka pasti digelari orang-orang khusus (elit) jika mampu menanggung kesulitan yang lebih berat (kesusahan yang lebih keras) dibanding orang-orang selain mereka. Mereka sangat istimewa jika mereka unggul dalam hal kerendahan hati, tidak mementingkan diri sendiri [tidak mengedepankan keakuan], membenci kesombongan dan berjuang dalam hal itu. Mereka barulah sangat istimewa jika menjadi orang yang menyimak khotbah-khotbah saya dan menonton program saya lainnya di MTA dengan maksud untuk terus mendapatkan bimbingan.

Jika mereka melakukan hal ini dan semua hal yang disukai oleh Allah dan menjauhkan diri dari semua hal yang Allah telah larang, maka mereka jelas sangat istimewa tanpa diragukan lagi. Jika tidak demikian, maka apa bedanya antara mereka dan orang lain. Ini harus diingat oleh para orang tua juga bahwa mereka melatih anak-anak mereka pada panduan ini: jika hal ini ada, maka, Allah telah membuat Anda sarana pembawa revolusi di dunia. Jika tidak begitu dan dunia tidak melihat ke arah Anda sebagai panutan, kemudian, apa yang dibicarakan tentang menjadi istimewa, maka di sisi Allah, mereka akan dihitung sebagai tidak setia dan pemutus janji. Jadi, bersamaan dengan mereka melalui melalui proses pelatihan, orang tua bertanggung jawab untuk membuat mereka menjadi istimewa dalam pengertian tersebut, dan, ketika mereka tumbuh dewasa, para Waqifin-e-Nau itu sendiri yang mencapai status menjadi istimewa.

Seperti yang saya katakan bahwa setelah melalui fase yang berbeda dari pendidikan agama dan sekuler, [para Waqifin Nau] mintalah pada Jemaat tentang apa panduan yang harus Anda ikuti bukannya memutuskan sendiri. Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa anak laki-laki Waqf-e-Nau, harus memberikan prioritas pertama untuk pergi studi ke Jamiah guna menjadi Murabbi atau Muballigh. Ini adalah kebutuhan jaman. Jemaat terus berkembang. Jamaat baru terbentuk tidak hanya di negara-negara tempat Jemaat lama telah didirikan, bahkan Allah menganugerahkan Jemaat dengan negara-negara yang baru juga, dan Jamaat sedang didirikan di sana. Dan, di setiap negara, kita membutuhkan sejumlah besar Murabbi dan Muballigh.

Kemudian, kita memerlukan dokter-dokter untuk rumah sakit kita. Di Rabwah, Pakistan, kita perlu banyak dokter yang memiliki spesialisasi di bidang yang berbeda. Dokter-dokter diperlukan untuk rumah sakit di Qadian. Jika mereka sulit untuk pergi dari sini (Kanada), maka orang-orang yang mendengarkan khotbah saya di seluruh dunia di negara-negara mereka, para Waqifin Nau harus memperhatikan ini.

Kita perlu dokter-dokter spesialis. Ada kesenjangan besar, kita memiliki sangat sedikit spesialis. Dokter-dokter yang diperlukan di Afrika di segala bidang. Seperti kita sedang membangun sebuah rumah sakit besar di Guatemala, para dokter dibutuhkan di sana dan mereka bisa pergi ke sana dari Kanada. Di masa depan, kita membutuhkan mereka di Indonesia. Kebutuhan tumbuh berbarengan dengan perluasan Jemaat. Anak-anak Waqf-e-Nau yang menjadi dokter, harus maju ke depan, mendapatkan spesialisasi, pendidikan tinggi dan pengalaman dari negara-negara ini, dan pergi ke negara-negara di mana lebih mudah untuk pergi. Persembahkanlah diri kalian sendiri dan Jemaat akan mengirimkan kalian.

Demikian pula, guru-guru diperlukan untuk mengajar di sekolah-sekolah. Kedua anak laki-laki dan perempuan dapat bekerja sebagai dokter dan guru. Oleh karena itu, perhatikan hal itu. Kita juga perlu beberapa arsitek dan insinyur yang ahli dalam konstruksi, sehingga mereka dapat menghemat uang Jamaat karena perencanaan yang lebih baik dan mengawasi pekerjaan pembangunan masjid, rumah misi, sekolah, rumah sakit dan lain-lain. Fasilitas yang lebih baik dapat disediakan dengan pengeluaran yang sedikit. Kemudian, kita perlu staf paramedis juga. Para Waqifin Nau juga harus bergabung dalam bidang ini. Ini adalah beberapa departemen penting yang Jemaat perlukan sekarang. Kebutuhan masa depan juga akan berubah sesuai dengan keadaan.

Sebagian kalangan Waqifiin Nau lebih tertarik di bidang tertentu, dan ketika mereka menanyakan kepada saya, saya mengizinkan mereka untuk mempelajari bidang tersebut setelah memperhatikan ketertarikan mereka. Tapi, di sini, saya menyarankan para pelajar dan mahasiswa yang waqf-e-nau dan selainnya, bahwa mereka harus memasuki bidang-bidang ilmiah dan penelitian di berbagai disiplin ilmu sains juga. Dan dalam hal ini, secara umum, baik mahasiswa yang Waqifin Nau maupun yang lainnya termasuk di dalam lingkup saran saya ini.

Jika, di berbagai departemen ilmu pengetahuan, para ilmuwan terbaik kita dihasilkan, kemudian, di masa depan, Anda sekalian (para Ahmadi) tidak hanya membuat dunia memerlukan kalian sebagai guru agama saja melainkan menanamkan pengetahuan sekuler juga. Sebagaimana dunia akan bergantung pada kita untuk belajar tentang agama begitu pula mereka akan belajar ilmu-ilmu duniawi dari kita juga. Dalam hal ini, tidak diragukan lagi, para Waqifin Nau akan melakukan pekerjaan di dunia, tetapi tujuan mereka ialah membuktikan keesaan Allah kepada dunia melalui pengetahuan dan untuk menyebarkan agama-Nya.

Demikian pula, para Waqifin Nau dapat pergi ke departemen lain, tetapi tujuan dasar mereka, dan itu harus diketahui oleh semua bahwa Anda adalah Waqf-e-Zindegi (bakti diri seumur hidup) dan, jika, setiap saat [kapan saja], Anda diminta untuk meninggalkan pekerjaan duniawi dan menampilkan diri untuk bekerja demi agama, maka Anda harus datang tanpa membuat alasan apapun.

Hal penting yang setiap Waqif Nau harus ingat ialah jika izin untuk melakukan pekerjaan sekuler diberikan kepada mereka, maka seharusnya pekerjaan tersebut bukan yang akan menjauhkan mereka dari ibadah kepada Allah, juga dari ilmu pengetahuan dan pelayanan agama; melainkan pekerjaan tersebut seharusnya yang mempertinggi usaha mereka dalam memperoleh standar tinggi dalam hal-hal tersebut. Studi tentang komentar (Tafsir) atas Al-Qur’an dan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as, menjadi suatu keharusan bagi setiap peserta Waqf-e-Nau. Silabus yang telah dibuat hingga mereka berumur 21 tahun, oleh departemen Waqf-e-Nau telah tersedia. Setelah itu, suatu keharusan bagi mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan tradisi keagamaan mereka.

Saya ingin memberitahu orang tua bahwa tidak peduli berapa banyak tarbiyat yang mereka sampaikan secara lisan, itu akan berpengaruh sampai kata-kata dan tindakan mereka sesuai dengan yang mereka nasehatkan itu. Para orang tua harus menjadi model (teladan) dalam kedisiplinan shalat-shalat dan akhlak luhur mereka. Mereka harus membangun pola kebiasaan membaca Al-Qur’an dan pengajarannya. Mereka harus perhatian pada memperoleh pengetahuan agama. Mereka harus mendirikan standar tinggi membenci kepalsuan. Meskipun sebuah kesalahan dilakukan oleh beberapa pengurus Jemaat, mereka harus menahan diri dari membicarakan hal yang menentang Nizham Jemaat atau pengurus di rumah mereka. Di MTA, sekurang-kurangnya khotbah-khotbah saya harus disimak secara teratur.

Hal-hal ini tidak hanya penting untuk orang tua para Waqifin Nau. Tetapi, setiap Ahmadi, yang ingin generasi mendatangnya terikat pada Jemaat, harus membuat rumahnya sebagai Rumah Ahmadi dan bukan rumah agen duniawi. Jika tidak begitu, generasi berikutnya, diserap dalam dunia materialistik, tidak hanya akan pergi dari Ahmadiyah, tetapi juga akan berpaling dari Allah dan menghancurkan duniawi dan ukhrawinya.

Insya Allah, tidak hanya anak-anak Waqf-e-Nau yang harus menjadi orang-orang yang mencapai kedekatan Allah dan menapaki di jalan taqwa bahkan perbuatan orang yang mereka sayang juga harus seperti yang demikian untuk menyelamatkan mereka dari mendapatkan nama buruk. Setiap Ahmadi harus menjadi Ahmadi asli sebagaimana diwasiyatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, lagi dan lagi. Hal demikian supaya dengan segera kita melihat bendera Ahmadiyah dan Islam sejati berkibar di dunia.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan sebuah hal:

“Seseorang, dengan telah melakukan satu atau dua perbuatan, berpikir bahwa ia telah menyenangkan Allah padahal itu tidak demikian. Ketaatan merupakan hal yang sangat sulit. Ketaatan para sahabat (Semoga Allah meridhai mereka) adalah ketaatan. Itu adalah ketaatan sebenarnya. Apakah ketaatan hal yang mudah? Orang yang tidak taat sepenuhnya, membawa nama buruk untuk Jemaat ini. Tidak hanya ada satu perintah. Ada banyak perintah. Sebagaimana ada banyak pintu ke surge. Seseorang masuk dari pintu tertentu dan orang lain masuk dari pintu lainnya. Demikian pula, neraka pun memiliki banyak pintu. Hal ini tidak boleh terjadi bahwa Anda menutup salah satu pintu neraka dan membuka satu yang lainnya lagi.”[2]

Lebih lanjut beliau as bersabda,

“Setelah melakukan bai’at, seseorang tidak bisa hanya merasa cukup dengan kepercayaan bahwa silsilah ini adalah benar dan dengan hanya percaya saja, ia akan diberkati. Allah tidak senang dengan hanya percaya saja, hingga amal perbuatan pun juga baik (saleh). Karena Anda telah bergabung dengan Jemaat ini, berusahalah untuk menjadi saleh, menjadi bertakwa, menahan diri dari setiap perbuatan buruk, menjaga lidah Anda agar tetap santun dan lembut, membiasakan diri beristighfar (meminta pengampunan kepada Allah), dan memohon dalam doa-doa Anda.”[3]

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kemampuan untuk bertindak berdasarkan potongan-potongan nasehat ini. Semoga kita dan keturunan kita sedemikian berpegang pada perbuatan baik dan taqwa dan memenuhi misi Hadhrat Masih Mau’ud as. (آمين)  Aamiin!

Penerjemah : Dildaar Ahmad Dartono dari sumber referensi: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab) dan www.alIslam.org (bahasa Inggris)


[1] Mu’jam al-Kabir oleh Imam ath-Thabrani.

[2] Malfuzhat

[3] Malfuzhat