بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH Vatba,

MIRZA MASROOR AHMAD

Tanggal 10 Agustus  2007 dari  Mesjid Baitul Futuh, London UK

 

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ

عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

 

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ امَنُوْا وَعَمِلُوا الصّلِحتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّتٍ تَجْرِىْ مِنْ تَحْتِهَااْلاَنْهرُ كُلَّمَارُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْبِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيْهَا اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

 

Artinya : Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh, sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rizki, berkata mereka ;”Inilah rezki yang telah pernah diberikan kepada kami dahulu”. Dan akan diberikan kepada mereka yang serupa. Dan bagi mereka didalamnya ada jodoh-jodoh yang suci dan mereka akan tinggal kekal didalamnya.( Al Baqarah ayat 26)

Didalam Khutbah sebelum Jalsah Salanah saya sedang menjelaskan salah satu sifat Allahswt yaitu Al Mu’min. Sangat kurang jumlahnya orang yang mendapatkan barkat yang sejati dari sifat ini, yakni sifat-sifat apakah yang harus diraih oleh orang-orang mu’min setelah beriman yang sebenarnya supaya dapat manjadi orang-orang yang mampu meraih banyak ni’mat dari pada-Nya. Pada hari ini juga saya mau meneruskan khutbah tentang itu. Allahswt telah memberi tahukan tanda-tandanya yaitu mereka yang melakukan amal-amal soleh, yakni yang beriman kepada Allahswt, beriman kepada malaikat-malaikt-Nya, beriman kepada Rasul-Rasul-Nya, dan beriman kepada hari akhirat dan apabila nama Allah disebut dihadapannya maka imannya akan meningkat dan hatinya akan merasa takut jangan-jangan saya berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan kemarahan Allahswt. Maka pastilah setiap waktu akan timbul perasaan didalam hatinya, saya akan berbuat amal yang dapat menyenangkan Allahswt sesuai dengan yang telah diperintahkan-Nya. Maka seorang mu’min harus beramal yang dapat memenuhi hak-hak Allahswt dan juga hak-hak sesama manusia. Jika didalam diri seorang mu’min terdapat sifat-sifat seperti itu, maka ia akan dapat disebut orang mu’min yang sejati.

            Hazrat Masih Mau’uda.s. sambil mengemukakan ciri-ciri orang mu’min sejati dan mengingatkan kepada orang-orang Ahmadi, telah bersabda,

‘‘Untuk menyebar luaskan tauhid-Nya diatas permukaan bumi ini berusahalah dengan sekuat tenaga dan berbuatlah kasih sayang terhadap hamba-hamba-Nya dan jangan berbuat zalim kepada siapapun melalui tangan ataupun melalui lidah. Dan berbuat baiklah selalu kepada makhluk-makhluk-Nya. Janganlah berbuat takabbur kepada sesiapapun sekalipun kepada bawahan kalian sendiri. Jangan memaki siapapun sekalipun orang memaki engkau. Berlakulah seperti orang miskin, lemah lembut  dan merendahkan diri, selalu  berniyat baikdidalam hati  dan jadilah hamba Allah yang bersimpati supaya diterima disisi Allahswt. Banyak sekali yang nampak zahirnya lemah lembut namun dari dalam ia seekor serigala. Banyak sekali yang Nampak zahirnya  bersih namun didalamnya ular berbisa. Maka selama keadaan zahir dan batin kalian tidak serupa, kalian tidak akan diterima disisi Tuhan. Jika kalian menjadi orang besar berbelas-kasihlah kepada yang kecil, jangan berlaku keras kepada mereka. Jika kalian menjadi orang alim (ilmu wan) berilah nasihat yang baik kepada orang-orang jahil, jangan membesarkan diri dihadapan mereka. Jika kalian menjadi orang kaya khidmatilah orang-orang miskin, jangan berlaku sombong dan tidak acuh terhadap mereka. Takutilah perkara  yang membawa kehancuran. Takutlah selalu kepada Tuhan dan berusahalah selalu menjadi orang yang bertaqwa.”

 

            Itulah beberapa macam amal soleh yang secara khas telah dianjurkan untuk mengamalkannya. Dan orang-orang yang beramal seperti itu dapat disebut orang-orang soleh. Orang-orang semacam itulah yang telah dijadikan syarat oleh Hazrat Masih Mau’uda.s. untuk menjadi pengikut dari Jema’at beliau. Dan jika sesuai dengan hukum Allahswt kita beriman dengan keyakinan sepenuhnya kepada seorang yang telah dibangkitkan didalam kaum Akhirin yaitu Ghulam Shadiq Hazrat Rasulullahsaw yang kita semua telah bai’at ditangannya dan telah menggabungkan diri didalam Jema’at beliau. Dan  beliau selalu mengingatkan kita untuk menjadi orang-orang bertaqwa dan mengharapkan supaya kita melakukan amal sholeh, maka demi memperkuat iman setiap orang Ahmadi harus memberi perhatian sepenuhnya kepada perkara itu semua. Supaya kita semua menjadi para pewaris nikmat-nikmat Allahswt.

Perkara pertama yang Hazrat Masih Mau’uda.s. mengingatkan kita adalah, berusaha untuk menyebar luaskan ajaran tauhid Ilahi diatas muka bumi.  Beriman kepada Allahswt tidak cukup hanya dengan mengatakan dengan mulut kit: Aku beriman kepada Allah Yang Maha Esa atau hanya timbul rasa takut didalam hati.Akan tetapi kita harus menzahirkannya berupa amal perbuatan. Dan apa itu? Yaitu berusaha keras untuk menegakkan ajaran Tauhid Ilahi. Dan tauhid Ilahi akan dapat ditegakkan apabila kita telah mengeluarkan dan membersihkan hati kita sendiri dari patung-patung berhala. Mngeluarkan dan melemparkan keluar patung-patung kecil dari dalam hati berupa keinginan harta dan kesenangan duniawi. Didalam urusan dunia tidak akan menggunakan cara-cara yang licik atau dengan cara berdusta. Tidak akan mendahulukan urusan duniawi dan urusan perniagaaan dari pada urusan menunaikan shalat, akan memberi tarbiyyat kepada anak-anak dengan lisan maupun praktek dengan amal perbuatan dengan contoh-contoh yang baik dihadapan mereka. Akan menyebarkan ajaran tauhid Ilahi dilingkungan sendiri. Jika hal itu telah diamalkan semuanya sesuai kemampuan sambil berusaha penuh terhadap perbaikan diri masing-masing, barulah tauhid Ilahi akan dapat ditegakkan. Sehingga kita akan mampu memperkuat mutu iman kita sendiri.

Sesudah itu dalam mengingatkan untuk beramal soleh Hazrat Masih mau’uda.s. bersabda,

 

Berbuat kasihlah terhadap sesama manusia. Seorang mu’min dengan cara bagaimanapun janganlah berbuat zalim bukan hanya terhadap sesama mu’min lain bahkan kepada sesama manusia secara umum baik dengan lidahnya ataupun dengan tangannya.

Sedangkan Nabi Muhammadsaw memberitahukan ciri-ciri khas orang mu’min itu adalah,

 

apabila semua orang merasa aman dan  terlindung daripadanya.

Jadi ciri orang mu’min adalah memiliki sifat kasih sayang, tidak mungkin perbuatan zalim timbul dari pihak orang mu’min. Apabila setiap waktu perasaan kasih sayang tersimpan didalam hati orang mu’min, barulah ia akan dapat dikatakan orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah Yang Rahman. Dan hubungan orang mu’min dengan  orang mu’min lainnya seperti keadaan anggota badan manusia. Jadi, jika keadaan hubungan setiap Ahmadi dengan Ahmadi lainnya seperti itu maka tidak akan timbul sedikitpun kezaliman diantara mereka, melainkan akan tercipta saling kasih sayang satu sama lain. Dan apabila sekecil apapun kesusahan menimpa seorang mu’min maka mu’min yang lain akan merasakannya sebagai kesusahannya sendiri. Dan seperti itulah hendaknya pikiran dan perasaan setiap orang Ahmadi.

Setelah itu beliau bersabda lagi, berusahalah senantiasa untuk kebaikan makhluk Allahswt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa apabila kesusahan menimpa seorang mu’min, maka mu’min lainnya menganggap kesusahannya itu sebagai kesusahan dirinya sendiri. Hazrat Masih Mau’uda.s. ingin menyaksikan mutu iman kita sangat tinggi. Beliau bersabda, kesusahan orang mu’min lain jangan hanya dirasakan didalam hati, melainkan harus ditingkatkan dan harus dizahirkan dengan usaha untuk berbuat suatu kebaikan terhadapnya. Demi kebaikan orang yang sedang ditimpa kesusahan itu jika harus mengorbankan sesuatu, maka korbankanlah kepadanya. Dan perlihatkanlah kedudukan iman yang istimewa seperti yang telah diperlihatkan oleh orang-orang mu’min sebelumnya.

Tentang orang-orang itu Allahswt berfirman :

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ

 

mereka mengutamakan orang lain dari pada diri mereka sendiri. (Al Hasyr ayat 9)

Sebelum Nabi Muhammadsaw menda’wakan diri sebagai Rasulpun, beliau selalu menunjukkan contoh teladan yang suci. Apabila ada orang dalam kesusahan dan memerlukan pertolongan beliau selalu berusaha keras mencari jalan demi kebaikan dan kemudahan orang itu. Setelah beliau menda’wakan diri sebagai Nabi, nampak sekali semangat dan gerak cepat usaha-usaha beliau untuk memenuhi keperluan orang-orang yang ditimpa kesusahan dan sangat memerlukan pertolongan laksana hujan lebat menyirami bumi, dan beliau selalu mendambakan orang-orang lain mendapat kehidupan yang baik dan sejahtera. Demikianlah contoh teladan dan quwat qudsiyah ( قُوَّتُ قُدْسِيَّة ) beliau (daya ruh qudus beliau) yang sangat luhur sehingga keinginan beliau untuk kebaikan orang-orang lain semakin meningkat. Dan pada zaman sekarang ini kita dapat menyaksikan bagaimana Hazrat Masih Mau’uda.s. pun berusaha keras untuk menciptakan sarana kebaikan dan kesejahteraan manusia tanpa menghiraukan agama dan kepercayaan mereka. Semua usaha dan upaya beliau itu menjadi contoh teladan bagi kita semua. Tidak sedikit orang lelaki maupun perempuan dan anak-anak datang dari kampung-kampung untuk meminta obat-obatan dari beliau. Dan tanpa merasa berat dan susah beliau melayani mereka dengan sabar yang kadang-kadang memakan waktu sampai berjam-jam lamanya. Beliau sering bersabda, kasihan mereka ini orang-orang miskin!! Didaerah kita ini tidak ada dokter, mereka tidak mempunyai uang untuk membayar obat-obatan. Maka untuk menunjukkan rasa simpati dan belas kasih kepada mereka, kita harus berusaha untuk memenuhi apa yang mereka perlukan.

Sekalipun beliau sangat sibuk mempunyai banyak sekali pekerjaan, pada waktu itu menghadapi medan perang dengan semua agama-agama yang ada disana, akan tetapi perasaan belas kasih beliau terhadap makhluk Allahswt, beliau menyisihkan waktu sampai berjam-jam untuk mengkhidmati makhluk Allahswt itu. Sesudah itu beliau mengingatkan supaya kita jangan berlaku takabbur kepada siapapun sekalipun terhadap anak buah sendiri. Jika Allahswt menjadikan seseorang sebagai bawahan kalian, menjadikan dia sebagai pengkhidmat kalian, maka hendaknya kalian merasa syukur bahwa Allahswt telah menyediakan sarana untuk menolong kalian. Allahswt telah menetapkan beberapa orang untuk mengkhidmati kalian. Adalah ciri khas dan kelebihan seorang mu’min berapapun besarnya kekuasaan yang ia miliki, maka perangainya akan semakin merendahkan diri dan semakin banyak bersyukur kepada Allahswt.

Harus selalu diingat bahwa setiap perbuatan kalian dan perilaku kalian harus mendatangkan kesenangan dan keridhoan Allah swt. Dan untuk menjaga diri dari takabbur Allah swt telah berfirman didalam Surah Luqman ayat 9 sebagai berikut:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى اْلاَرْضِ مَرَحًا اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

 

Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari orang-orang dengan angkuh, dan jangan pula berjalan diatas bumi ini dengan takabbur; sesungguhnya, Allah tidak mencintai setiap pembual yang sombong.

Allahswt tidak suka kepada orang yang takabbur dan sombong. Maka kewajiban kita adalah berusaha keras untuk meraih kecintaan Allahswt. Jika seseorang menda’wakan bahwa hatinya merasa takut kepada Allah, maka dia harus membersihkan dirinya dari takabbur dan sombong. Seorang mu’min yang sejati jika memiliki kekuasaan atau mempunyai kedudukan terhormat, sikapnya selalu semakin merendahkan diri dihadapan orang lain. Rasulullahsaw sangat memperhatikan kedudukan para hamba sahaya, sehingga beliau bersabda : Jangan sekali-kali seseorang mengatakan tentang sahayanya : Ini hamba sahaya saya! Ini hamba sahaya perempuan saya!  demi menjaga perasaan mereka. Katakanlah : Ini anak lelaki saya dan ini anak perempuan saya!

Hazrat Masih Mau’uda.s. telah mengingatkan kita, beliau bersabda: Janganlah memaki orang sekalipun dia memaki engkau. Itulah cara untuk orang mu’min  memelihara lidah supaya mereka tetap bersih. Seorang mu’min harus selalu menggunakan lidahnya dengan baik dan bersih, sehingga orang mu’min tidak diharapkan untuk mencaci orang lain. Menerima caci-maki orang dan menahan diri dari padanya, bukan hanya dapat membersihkan lidah bahkan ianya dapat mencegah pikiran dari pekerjaan-pekerjaan yang salah. Sebab reaksi dari mendengar caci-maki itu orang menjadi marah. Atau sebagai reaksinya orang menjawab caci-maki itu atau mengeluarkan kata-kata buruk terhadapnya, dan dengan melempar balik kata-kata caci-maki itu kepada orang yang pertama mencaci-makinya. Ada orang yang tidak mau menjawab terhadap kata-kata caci-maki yang digunakan orang karena ia ingat kepada firman Allahswt bahwa hal itu merupakan kebaikan yang sangat besar. Sedangkan kebaikan itu diperoleh dengan usaha keras dan susah bukan pekerjaan mudah. Dan usaha keras akan dapat dilakukan apabila keadaan iman terhadap Allahswt sudah mencapai titik kesempurnaannya. Dan dari segala segi amal yang dilakukan harus disertai harapan untuk meraih keridhoan Allahswt. Dan hal itulah yang dapat meningkatkan mutu kesabaran. Bagi seorang mu’min diberi suatu jaminan jika ia bersabar menerima setiap makian orang, dan bersabar menghadapi serangan orang, Malaikat sambil menjaga dia akan memberi jawaban terhadap mereka itu. Jadi apabila Allahswt telah menetapkan Malaikat sebagai penjaga kita dan telah menetapkan untuk menjawab setiap perlakuan buruk yang dilakukan lawan terhadap kita, maka sikap apa lagi yang lebih baik dari pada sabar? Dan lebih dari itu bagi orang-orang yang sabar, Allahswt telah memberi khabar suka dalam firman-Nya seperti ini:   وَبَشِّرِ الصَّابِريْنَ berilah khabar suka kepada orang-orang yang bersabar!  Dan Allahswt akan menurunkan banyak berkat diatas orang mu’min disebabkan kesabarannya itu. Dan dengan tidak menjawab makian orang bukan hanya mencegah tercemarnya otak dari kekotoran pikiran bahkan ia akan mendapat bantuan do’a dari para Malaikat juga. Dan ia juga akan memperoleh rahmat dan barkat-berkat dari Allahswt. Akhirnya ia akan menjadi seorang penegak kedamaian dan keamanan dilingkungan masyarakatnya. Ia akan mampu menjaga masyarakat dari perkelahian dan pertengkaran. Kadangkala jika caci-maki dijawab dengan caci-maki lagi seringkali akibatnya menimbulkan kemarahan yang tidak terkontrol oleh kedua-dua belah pihak. Sehingga terjadilah perkelahian yang diikuti dengan saling bunuh satu sama lain yang sangat mengerikan.

            Jadi apabila mu’min artinya orang yang memberi keamanan kepada yang lain dan sebagai penyebar keamanan, maka apabila terjadi peristiwa seperti itu apa yang dapat diharapkan lagi dari padanya? Yang akhirnya membawa akibat kerusuhan dan kehancuran? Maka jika ingin menghindarkan diri dari akibat yang sangat mengerikan itu, maka penawarnya adalah seperti yang telah disabdakan Hazrat Masih mau’ud a.s. ini yaitu, Janganlah caci-maki dijawab dengan caci-maki lagi. Berlakulah lemah-lembut, sopan santun dan tanamkanlah niat baik didalam hati. Dan jika ingin mengharapkan ridho Allahswt tentu harus berbuat sabar, sambil menahan diri menggunakan akal pada setiap menerima caci-maki orang dan harus merendahkan diri dalam setiap perlakuan, barulah kalian layak dipanggil orang mu’min Ilahi yang sejati.

            Jadi dengan memiliki akhlak semacam itu dan dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral dapat membuat manusia menjadi mu’min sejati. Dan selama seorang mu’min terus berusaha untuk berbuat amal soleh dan dengan menunaikan ibadah-ibadah secara dawam dan terus berusaha melakukan amal soleh maka ia akan dapat dikatakan mu’min yang sejati. Kalau tidak demikian, maka Allahswt telah berfirman, jika seorang beriman tidak menaruh perhatian terhadap amal-amal soleh seperti yang telah Tuhan perintahkan maka tidak berhak termasuk orang yang mengatakan  امَنَّاkami telah beriman, melainkan keadaan kalian seperti yang difirmankan اَسْلَمْنَا   artinya kami sudah bai’at masuk Islam akan tetapi iman belum mencapai taraf sempurna. Sebab jika sesungguhnya iman sudah menjadi sempurna, maka tentu sudah nampak usaha-usaha untuk mengamalkan perintah-perintah Allahswt. Dan kita baru dapat dikatakan orang-orang yang sungguh-sungguh mengadakan revolusi ruhani haqiqi didunia ini apabila mutu iman kita sendiri sudah mencapai taraf yang tertinggi dan kitapun setiap sa’at sedang terus berusaha meningkatkan iman kita, dan rasa takut kepada Tuhanpun semakin meningkat, dan setiap sa’at terus berusaha meningkatkan rasa takut kepada-Nya, dan setiap sa’at timbul keinginan untuk meningkatkan amal soleh. Dan kita akan menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Rasulullahsaw yang memiliki maqaam (martabat) yang paling luhur dan paling mulia, yang sembahyangnya, pengurbanannya dan semua hidup dan matinya semata-mata untuk Allahswt. Dan apabila Allahswt telah memerintahkan kita untuk mengikuti contoh dan teladan yang telah beliau tunjukkan, maka kita harus berusaha untuk mengikuti dan melakukannya.

Jadi apabila kita melangkah untuk meningkatkan mutu iman kita maka Allah swt memberi khabar suka kepada kita seperti tersebut didalam ayat yang telah saya bacakan pada permulaan khutbah ini, yaitu :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ امَنُوْا وَعَمِلُوا الصّلِحتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّتٍ تَجْرِىْ مِنْ تَحْتِهَااْلاَنْهرُ

Dan berilah khabar suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh, sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun  yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.

 

كُلَّمَارُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْبِهِ مُتَشَابِهًا

 

Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rizki, berkata mereka:”Inilah rezki yang telah pernah diberikan kepada kami dahulu”

 

وَلَهُمْ فِيْهَا اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

 

Dan bagi mereka didalamnya ada jodoh-jodoh yang suci dan mereka akan tinggal kekal didalamnya.

 

Hazrat Masih Mau’uda.s. dalam menjelaskan Tafsir ayat ini bersabda : Hai orang-orang yang beriman dan beramal soleh, sampaikanlah berita gembira kepada mereka, bahwa mereka menjadi pewaris taman-taman yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Didalam ayat ini Allahswt telah memberi contoh iman dengan taman-taman dan amal soleh dimisalkan dengan sungai-sungai. Hubungan yang dilukiskan dengan sungai mengalir dan pepohonan, itulah hubungan amal soleh dengan iman. Jadi sebagaimana sebuah kebun atau taman tidak dapat tumbuh menjadi hijau tanpa adanya siraman air dan tanpa siraman air pepohonan tidak akan dapat memberi sedikitpun buah-buahan. Demikian juga keadaan iman manusia tanpa adanya amal soleh, kedudukan iman tidak dapat membawa faedah apapun. Jadi hakikat Surga itu apa? Tiada lain adalah pemandangan iman dan amal soleh yang berwujud. Dan wujud surga itu bukan datang dari luar melainkan keluar dari dalam dirinya sendiri. Ingatlah, apabila seseorang merasakan kesenangan disana, maka sesungguhnya jiwa yang suci itulah yang dirasakan didalam kehidupannya didunia ini. Amal-amal yang baik dan akhlaq fadillah (akhlaq yang luhur) adalah sungai-sungai yang mengairi pohon-pohon iman itu, yang menimbulkan kesuburan sehingga tanaman menjadi hijau. Didalam dunia ini keadaannya seperti yang kita lihat didalam mimpi namun ruang lingkupnya khas dan terbatas.

Beliau bersabda, itulah sebabnya ahli surga yang menerima ganjaran ni’mat yang sangat melimpah mereka berkata:

هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْبِهِ مُتَشَابِهًا

 

”Inilah rezki yang telah pernah diberikan kepada kami dahulu”. Dan akan diberikan kepada mereka yang serupa.

Ini bukanlah berarti bahwa apa yang didapat didunia seperti madu, susu, buah-buahan delima, anggur dan sebagainya yang kita makan didunia ini, disanapun makanan seperti itu pula akan diperoleh lagi. Tidaklah demikian! Barang-barang apapun yang ada disana dari segi jenisnya dan bentuknya tentu sangat berlainan dengan yang ada didunia ini. Hanya nama boleh jadi mempunyai persamaan. Dan walaupun bentuk semua ni’mat-ni’mat ini diperlihatkan secara jasmani, namun diberitahukan juga bahwa barang-barang itu menerangi ruh manusia dan menimbulkan kekuatan untuk mendapatkan ma’rifat Tuhan.

Sumbernya adalah ruh suci dan kebenaran.   رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ; ”Inilah rezki yang telah pernah diberikan kepada kami dahulu” jika nikmat diambil arti secara duniawi, sama sekali tidak benar. Bahkan maksud Allah swt didalam ayat ini adalah, orang-orang mu’min yang berbuat amal soleh, mereka telah menciptakan sebuah surga bagi diri mereka sendiri. Yang buahnya atau hasilnya akan mereka ni’mati dihari akhirat. Oleh karena buah itu di dunia ini juga secara ruhani sudah mereka ni’mati, maka dialam akhirat sana juga mereka akan mengenalnya. Dan mereka akan berkata, nampaknya inilah buah itu atau inilah buah kemajuan-kemajuan ruhani yang pernah kami ni’mati dialam dunia. Oleh sebab itu Abid dan Arif (hamba yang rajin ibadah dan hamba yang telah mengenal Tuhannya) akan mengenal hal itu semuanya dengan baik.

 Maka sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa Surga dan Neraka Jahannam adalah sebuah falsafah seperti yang telah saya jelaskan kepada anda semua. Jadi amal-amal itu akan memberi kesuburan terhadap iman selama kita akan terus berusaha beramal sesuai hukum-hukum Allahswt untuk meraih keridhoan-Nya. Jadi kabar suka ini bukan hanya untuk kehidupan orang-orang mu’min dialam akhirat saja, akan tetapi untuk memperkuat iman orang-orang mu’min dan untuk orang-orang yang beramal soleh dan untuk yang giat berusaha meraih keridhoan-Nya kepada mereka akan diberi kesempatan untuk mencicipi buahnya itu didunia ini juga yang kadangkala ditunjukkan dalam bentuk makbulnya do’a-do’a mereka. Kalbu seorang mu’min merasa sangat tenteram disebabkan kemajuan imannya, dan itulah salah satu dari pada buah amal solehnya. Seorang mu’min memperoleh keni’matan duniawi dan keni’matan ruhani kedua-duanya didalam dunia ini juga. Dan ni’mat-ni’mat duniawi yang mereka peroleh ini bukan tujuan asal mereka melainkan pemberian dari Allahswt sebagai ganjaran dari amal-amal baik yang mereka lakukan dengan sesungguhnya demi meraih keridhoan-Nya.

Setiap amal akan mendapat kedudukan soleh apabila hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mencari keridhoan Allahswt. Jika tidak, Allahswt berfirman, sebagian orang menunaikan sembahyang namun tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya terhadap-Ku bahkan dikerjakan untuk tujuan riya (show), demikian juga ada sebagian orang yang membelanjakan harta mereka bukan untuk mendapatkan keridhoan-Ku tetapi hanya untuk riya (show) kepada manusia. Shalat mereka dan pengurbanan mereka seperti itu tidak memberikan faedah apapun bagi kemajuan ruhani mereka. Sedangkan seorang Yahudi sekalipun sekedar menanam biji-bijian diwaktu musim hujan supaya nanti apabila berbuah burung-burung dapat memakannya. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk meraih ridho Allahswt sehingga Dia memberinya pembalasan dan memberinya karunia untuk mendapatkan iman yang hakiki. Karena amal perbuatannya itu semata-mata untuk meraih keridhoan Allahswt sehingga keimanannya kian meningkat dan ia selalu berpijak diatas jalan yang lurus. Dan ia menjadi pewaris ni’mat-ni’mat dari Allahswt didunia ini juga dan dihari akhirat juga.

Sebagaimana Hazrat Masih Mau’uda.s. telah bersabda bahwa untuk membuat tanaman menjadi subur, diperlukan adanya air. Demikian juga untuk meningkatkan kekuatan dan kesuburan iman, juga diperlukan amal-amal soleh. Kita semua diharuskan untuk melakukan amal-amal soleh yang telah diajarkan oleh Allahswt kepada kita supaya dapat meraih keridhoan-Nya, dan dapat meningkatkan mutu iman kita. Maka setiap orang Ahmadi sambil memikirkan hal itu, harus menunaikan ibadah-ibadah dan juga membelanjakan harta mereka dijalan Allahswt. Supaya mutu iman semakin tinggi dan semakin bertambah kuat. Supaya kita selamanya menjadi para pewaris ni’mat-ni’mat Allahswt. Semoga Allahswt memberi taufik kepada setiap orang Ahmadi untuk menjalani kehidupan seperti itu. Amin !!