Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 26 Juni 2009/Ihsan 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Pada akhir khutbah yang lalu, mengacu pada ayat suci Al-Quran bahwa Allah Ta’ala menganugerahkan ketinggian pada rumah orang-orang  yang memperoleh bagian dari nur Rasulullahsaw dan mereka pun mengagungkan nama Allah Ta’ala dengan memperoleh bagian dari nur itu sesuai dengan ajaran Allah Ta’ala.  Mereka menaruh perhatian pada ibadah-ibadah dan amal-amal salehnya. Hari ini saya akan sampaikan sedikit berkenaan dengan nasihat-nasihat Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah diberikan kepada Jemaat beliau itu.

Allah Ta’ala telah menetapkan tujuan hidup manusia, yakni ibadah. Akan tetapi bagaimana cara beribadah itu? Bagaimana ibadah itu dilakukan? Imam pada zaman ini yang merupakan wujud yang paling banyak memperoleh bagian dari nur Rasulullah saw dan yang paling memahami perintah-perintah Allah Ta’ala dan yang memiliki kecerdasan penangkapan yang lebih tajam dalam memahami hukum-hukum Allah Ta’ala, dalam kaitan itu memberikan bimbingan kepada kita sesuai dengan bimbingan ajaran Al-Quran yang pemahamannya dianugerahkan kepada beliau. Hari ini saya juga akan terangkan sesuai dengan pemahaman  itu.

Kita sebagai Ahmadi, hari ini merupakan karunia Allah Ta’ala yang sangat besar karena dengan menerima Imam Zaman, setiap saat dan dalam setiap urusan, kita memperoleh bimbingan. Dan sesudah Hadhrat Masih Mau’ud as karena berjalannya Nizam Khilafat dan dengan adanya pusat (kepemimpinan Jamaat), kita selalu diingatkan terus-menerus; serta akibat adanya ikatan dan jalinan khusus antara Khilafat dan Jemaat serta akibat adanya janji bai’at, semua itu menjadikan keimanan kita terus-menerus bertambah teguh dan kuat. Dan karena tidak adanya rasa malas untuk menarik perhatian pada perbaikan, akhirnya akan timbul perhatian. Sedangkan orang-orang Islam lainnya mahrum dari nikmat ini.

Beberapa hari yang lalu, saya bersama pengurus Majlis Khuddamul-Ahmadiyah Inggris dan dengan para  nazimnya mengadakan rapat. Berawal dari suatu perkara yang saya katakan pada mereka bahwa ‘kalian tidak mengamalkan kata-kata saya’. Sesudah itu Sadr Khuddamul-Ahmadiyah datang menemui saya dengan diliputi perasaan sedih dan emosional yang menguasai dirinya. Secara tertulis dia juga meminta maaf bahwa di masa yang akan datang akan berusaha untuk mengamalkan setiap perintah sepenuhnya. Dan begitu juga para pengurus, mereka menulis surat permohonan maaf secara terpisah. Jadi, ini merupakan hubungan antara Khalifah dan Jemaat. Melihat itu hati menjadi penuh dengan pujian dan rasa syukur kepada Allah Ta’ala karena di zaman yang materialistik, di negara yang serba materialis, Allah Ta’ala meletakkan orang-orang dengan ilmu dunia dan sibuk dalam pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi untuk agama dan untuk hubungan dengan Khilafat, mereka merupakan orang-orang yang memperlihatkan kesetiaan dan keikhlasan yang sempurna. Semua ini karena Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengajarkan kepada kita cara berhubungan dengan Allah Ta’ala. Ibadah-ibadah kita pun murni hanya semata-mata untuk Allah Ta’ala dan hendaknya memang harus seperti itu, yang juga menarik perhatian kita pada tanggungjawab-tangungjawab atau tugas-tugas kita serta juga menarik perhatian kita kepada bagaimana menunaian hak-hak hamba-hamba-Nya. Tetapi orang-orang Islam lain mahrum dari semua itu.

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman ghair Ahmadi datang untuk berjumpa. Beliau dari kalangan para cendekiawan besar dan di kalangan media massa beliau juga memiliki posisi yang dikenal. Beliau mulai membuka pembicaraan bahwa apa sebabnya di Pakistan khususnya mesjid-mesjid sedemikian ramainya dewasa ini yang mana pemandangan seperti itu tidak terlihat pada 62 tahun yang lalu. Kita melihat banyak orang yang pergi haji, sedemikian banyak jumlahnya sehingga sebelumnya tidak pernah terlihat. Kemudian banyak lagi kebaikan yang dia hitung. Kemudian beliau mengatakan lebih lanjut bahwa apa sebabnya dampak-dampak positif dan hasil-hasil yang baik tidak tampak sebagaimana semestinya.

Kemudian dia sendiri yang mengatakan bahwa pada dasarnya urusan-urusan di luar mesjid tidak bersih dan hal ini terjadi karena hati tidak bersih. Begitu keluar dari mesjid, mulai timbul rasa adanya debu yang menutupi hati dalam urusan-urusan sehari-hari. Saya katakan kepadanya bahwa ada satu hal yang hendaknya kita harus ingat bahwa ibadah-ibadah kita, shalat-shalat kita dan kebaikan-kebaikan kita yang lainnya itu baru akan bermanfaat manakala di dalamnya kita sendiri juga melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri. Hanya sekedar gembira bahwa kita beribadah atau kita menzahirkan nuansa corak Islami pada diri kita atau dengan tampilan kita, dengan wajah dan dengan kondisi kita zahir warna Islami, maka ini jelas bukan merupakan sebuah kebaikan.

Saya teringat pada sebuah kalimat dari sabda Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang saya beritahukan padanya bahwa: ”Sesungguhnya merupakan pekerjaan  orang-orang untuk melihat amal-amal  kalian. Tetapi merupakan pekerjaan kalian  senantiasa memeriksa hati kalian”.

Jadi kalau orang-orang mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat rajin shalat, sangat rajin berpuasa, seorang haji yang benar-benar haji, maka dengan perkara-perkara itu saja tidak menimbulkan kebaikan-kebaikan. Ruh kebaikan yang sejati baru akan terlahir manakala timbul perasaan bahwa apakah semua pekerjaan ini saya lakukan demi untuk Tuhan? Dan untuk itu diperlukan upaya introspeksi terhadap hati sendiri. Dan tatkala introspeksi ini ada, maka dampak-dampak hakiki kebaikan-kebaikan itu akan menjadi zahir.

Hal kedua yang saya katakan padanya bahwa kalian tidak akan percaya. Akan tetapi pada kenyataannya bahwa tanpa mengimani Imam Zaman pada zaman ini, kebaikan-kebaikan yang kalian hitung itu tidak akan bisa menetapkan arahnya yang  benar. Tidak akan menuju pada arah yang benar. Pengaruh syaithan juga menjadikan kebaikan-kebaikan berakhir dengan hasil-hasil yang tidak baik. Saya juga telah memberitahukan kepadanya bahwa jika urusan itu tidak bersih, hati tidak bersih atau akibat fitnah dan kekacauan, tanpa mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan tanpa mengimani Khilafat sesudah beliau, kiblat (arah) tidak akan bisa benar. Pada hakikatnya adalah bahwa cara-cara ibadah pun, Hadhrat Masih Mau’ud as lah yang telah mengajarkan kepada kita. Quran itu dan syariat pun sama juga, tetapi Allah Ta’ala telah berikan pemahaman hakiki kepada pencinta sejati Rasulullahsaw. Rasa takut yang hakiki kepada Tuhan dan rasa cinta hakiki kepada Rasulullah saw,  Hadhrat Masih Mau’ud as lah yang telah menciptakan itu di dalam diri kita dan beliau telah menerangi hal itu. Jadi, sejauh kita bisa menghargainya dan sebagai dampaknya kita terus mengintrospeksi diri kita maka ibadah-ibadah kita akan terus memberikan faedah kepada kita. Jadi ini merupakan tanggungjawab setiap Ahmadi bahwa mereka harus terus-menerus membaca berulang kali ilmu kalam Hadhrat Masih Mau’udas. Barang siapa yang dapat membaca, mereka hendaknya harus baca dan barang siapa yang bisa mendengar maka mereka hendaknya mendengar dan seyogianya berusahalah menjalani kehidupannya sesuai dengan itu.

Di puluhan tempat Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan bimbingan kepada kita bahwa apa hakikat ibadah itu? Dan dalam Al-Quran di awal sekali, dalam surah Al-Fatihah, Dia telah mengajarkan doa:

x‚$­ƒÎ) ߉ç7÷ètR y‚$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ

— Iyyâ-Ka na’budu wa iyyâ-Ka nasta’în —

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Al-Fatihah:5)

Apa maksud hakiki dari itu? Kita setiap hari membaca itu dalam shalat dan selesai dengan membaca itu. Tetapi jika kita melihat dengan pandangan Hadhrat Masih Mau’ud as, maka hakikat dari itu akan menjadi jelas.

Beliau di satu tempat bersabda bahwa:  Di dalam firman Allah Ta’ala:

‚$­ƒÎ) ߉ç7÷ètR

Iyyâ-Ka na’budu — Ada sebuah isyarat lain dan itu adalah bahwa Allah Ta’ala dalam ayat itu mendorong hamba-hamba-Nya supaya di dalam ketaatan kepada-Nya, hendaknya harus mengerahkan tekad dan upaya hingga semaksimal mungkin dan seperti para hamba pilihan Allah Ta’ala yang setiap saat dengan mengucapkan ‘labbaik-labbaik’ hendaknya senantiasa berdiri di hadapan-Nya. Seolah-olah hamba-hamba ini tengah mengatakan bahwa, “Wahai Tuhan kami! Kami dalam melakukan mujahadah, menjalankan hukum-hukum Engkau, dalam mencari keridhaan Engkau kami tidak melakukan kekurangan. Tetapi hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan dan kami berlindung kepada Engkau dari sifat riya serta takabbur”. (Jangan ada amal kami yang hanya ingin mempertontonkan kepada orang). “Dan hanya kepada Engkaulah, kami memohon taufik yang sedemikian rupa yang membawa kepada petunjuk dan keridhaan Engkau; dan kami tetap teguh dalam beribadah dan taat kepada Engkau. Oleh karena itu tulislah kami masuk kedalam golongan hamba-hamba Engkau yang setia.”

Bersabda “Di sini ada lagi satu isyarat lain dan itu adalah bahwa hamba mengatakan, ‘wahai Tuhan kami! Kami telah mengkhususkan Engkau sebagai Wujud yang hanya Engkaulah yang layak disembah. Dan siapa pun yang selain Engkau, kami telah mengutamakan Engkau di atas semuanya. Jadi bagi kami, selain Dzat Engkau, kami tidak menyembah siapapun selain Engkau dan kami dari antara orang-orang yang mengimani ke-Esa-an Engkau’.”

Beliau a.s. bersabda:  “…doa ini adalah untuk semua orang, tidak hanya untuk pribadi orang yang memanjatkan doa dan di dalamnya Allah Ta’ala menekankan atau mendorong orang-orang Islam untuk berdamai di antara sesama, selalu bersatu dan memegang tali persaudaraan. Dan orang yang berdoa sendiri hendaknya siap memasukkan diri dalam kesulitan demi karena merasa simpati pada saudaranya, sebagaimana dia bersusah payah untuk dirinya sendiri dan juga untuk memenuhi keperluan saudara-saudaranya, sedemikian rupa dia memberikan perhatian dan sedemikian rupa dia merasa gelisah dan resah, sebagaimana dia gelisah dan resah untuk dirinya dan dia tidak membedakan antara dirinya dan saudara-saudaranya. Dan dengan sepenuh hati dia menjadi orang yang simpati dengannya. Seolah-olah Allah Ta’ala menegaskan dan berfirman bahwa ‘wahai hamba-hamba-Ku, saling mendoakanlah di antara kalian sebagaimana kalian memberikan hadiah di antara saudara dan orang-orang yang mencintai kalian. [Dan untuk mengikut sertakan mereka] perluaslah ruang lingkup doa kalian dan perluaslah ruang lingkup  niat-niat kalian. Di dalam niat-niat baik kalian [untuk saudara kalian pun], perluaslah jangkauan niat-niat itu dan dalam ihwal saling mencintai, jadilah kalian layaknya seperti saudara  mencintai saudara dan bapak mencintai anak’.[1]

Ini merupakan sedikit bagian dari terjemahan buku bahasa Arab karya Hadhrat Masih Mau’udas yang bernama Karamatrus-shâdiqîn. Jadi ini merupakan cara untuk menciptakan pengaruh-pengaruh dan dampak baik dari ibadah-ibadah. Diperlukan keluasan dalam niat-niat kita. Jika hanya memperhatikan keuntungan-keuntungan diri sendiri, maka ibadah-ibadah tidak akan dapat mencapai standar atau mutu itu. Hasil yang baik tidak akan dapat dicapai. Jika sesudah melakukan ibadah-ibadah tidak terlahir jalinan kecintaan di antara satu dengan yang lain, maka ibadah seperti itu perlu menjadi bahan renungan. Jika pergi ke mesjid-mesjid orang-orang Islam, maka dari kebanyakan tempat-tempat itu akan terdengar kata-kata keji dan kotor terhadap Masih Mau’udas dan Jemaat beliau. Manakala di mesjid-mesjid seperti itu kata-kata kotor dan ucapan tidak mengenal rasa malu yang keluar, maka apa pengaruh ibadah-ibadah itu pada para makmun yang melakukan shalat di belakang orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang sia-sia seperti itu. Dan kemudian setelah keluar dari tempat seperti itu, apa yang orang-orang ini akan lakukan. Dan sejauh berkaitan dengan orang-orang Ahmadi, apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah ajarkan kepada kita? Setelah mendengarkan perkataan seperti itu beliau bersabda: “Sabar merupakan sebuah mutiara yang besar. Jemaat hendaknya bersabar”.

Terkadang dengan mendengarkan hal seperti itu dalam satu pertemuan atau setelah mendengar caci makian, terkadang orang-orang memperlihatkan ketidaksabaran. Beberapa hari yang lalu, peristiwa-peristiwa seperti itu terjadi juga di Hindustan. Di sana pun orang-orang menulis surat yang mempelihatkan ciri ketidaksabaran. Atau ada satu dua orang Ahmadi yang memperlihatkan ketidaksabaran. Maka beliau as. bersabda: “Warga Jemaat hendaknya bersabar dan jangan menjawab kekerasan dengan kekerasan dan sebagai jawaban atas caci makian, dan jangan pula menjawab dengan caci makian. Allah Ta’ala menolong orang-orang yang bersabar. Saya tidak menyukai anggota Jemaat menyerang siapa pun atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akhlak atau sopan santun”. Selain itu beliau a.s. Bersabda: “Pemahaman yang didapat dari wahyu-wahyu Ilahi pun adalah seseorang harus berlaku lemah lembut.”[2]

Kemudian beliau a.s. bersabda: “agama kita mengajarkan untuk berlaku baik kepada orang-orang yang melakukan keburukan”. Dan beliau a.s. juga bersabda: “Kita memperlakukan mereka dengan baik dan kita bersabar atas kekasaran mereka. Kalian serahkan pada Tuhan perlakuan buruk mereka”[3]

Manakala kalian menyerahkan itu kepada Tuhan, maka akan timbul perhatian kepada Tuhan. Kalian akan melakukan ibadah kepada Tuhan, maka Insya Allah Ta’ala, Dia akan datang untuk memberikan pertolongan.

Kemudian beliau juga memerintahkan kepada kita supaya berdoa untuk musuh dan membersihkan hati. Inilah perkara-perkara yang menegakkan standar atau mutu ibadah-ibadah, lalu menciptakan dampak-dampak dan hasil–hasilnya yang baik. Dan itu memberikan bimbingan terhadap ketentuan atau langkah-langkah masyarakat yang sesuai benar dengan ajaran Islam. Jadi inilah perkara yang setiap orang Ahmadi hendaknya berusaha menciptakannya di dalam dirinya. Kalau tidak, hanya menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengimani beliau sebagai Masih Mau’ud as, maka itu tidak akan membawa manfaat. Peraihan ketinggian-ketinggian itu akan dapat dicapai dengan berusaha mengamalkan ajaran yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah berikan kepada kita. Di dalamnya tidak ada keraguan dan setiap orang yang menyebut dirinya Islam, dia yakin akan hal itu dan menganggap shalat itu sebagai rukun yang mendasar. Allah Ta’ala pun berkali-kali menekankan hal itu dan Hadhrat Rasulullah saw juga. Bahkan suatu kali ada satu kaum yang masuk Islam dan akibat kesibukan-kesibukan bisnisnya, dengan menyatakan alasan pekerjaan. Dia memohon kiranya mereka boleh meninggalkan shalat. Maka beliau saw. bersabda “ingatlah di dalam agama yang tidak ada ibadah kepada Tuhan, maka itu bukanlah agama.”

Inilah pentingnya shalat. Seorang yang mengaku dirinya Islam pun mengetahui, baik dia melakukan shalat atau tidak melakukan shalat. Tetapi orang-orang Islam dan setiap orang yang menyebut dirinya sebagai orang Islam, dia hendaknya setiap saat harus ingat bagaimana melakukan shalat. Sebagaimana saya memberikan rujukan dari seorang teman ghair Ahmadi bahwa mereka pun melakukan shalat-shalat, tetapi kendati demikian, kita tidak mengetahui kenapa urusan jual beli mereka tidak bersih? Terdapat satu kalangan besar diantara mereka sedemikian rupa, yang kendati mereka menganggap ibadah itu sebagai kewajiban agama yang sangat besar, tetapi banyak dari antara mereka yang melakukan itu hanya untuk pamer. Oleh karena itu merupakan nasib buruk bahwa pengaruh ibadah itu tidak ada lagi ada pada diri mereka. Hal ini disebabkan ibadah mereka tidak dilakukan dalam bentuk yang benar. Sebagian ada yang berusaha ingin melakukan shalat dengan penuh perhatian, tetapi ruh dari shalat-shalat dan kedalamannya tidak mereka pahami. Karena mata air ruhani yang Allah Ta’ala alirkan pada zaman ini untuk menganugerahkan pemahaman dan pengertian, para ulama yang hanya sekedar nama itu dengan menakut-nakuti secara luar biasa, ulama-ulama itu menjauhkan mereka dari berkat-berkatnya. Dan hari ini kita sebagai orang Ahmadi bernasib baik, karena kita tengah mengambil faedah dari sumber mata air ruhani yang sumbernya adalah majikan beliau, Hadhrat Muhammad saw, dan kini untuk perubahan keruhanian seluruh dunia  dan untuk penegakan syariat yang terakhir, Allah Ta’ala telah memilih beliau saw semata.

Bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as meraih standar dan mutu ibadah ini dan memberikan bimbingan dan apa yang beliau inginkan dari kita? Beberapa perkara saya akan sampaikan kepada kalian.

Di satu tempat Beliau bersabda: “Sebagian orang pergi juga ke mesjid-mesjid. Mereka melakukan shalat-shalat dan mereka melakukan rukun-rukun Islam yang  lain juga. Tetapi dukungan dan pertolongan Tuhan tidak menyertai mereka. Dan di dalam adat istiadat dan karakteristik mereka tidak tampak ada semacam perubahan yang menonjol, yang dari itu dapat diketahui bahwa ibadah mereka pun hanya sekadar ibadah formalitas belaka. Karena menjalankan perintah-perintah Tuhan itu adalah seperti  sebuah benih yang pengaruh-pengaruhnya menyentuh ruh dan jiwa  kedua-duanya. Seseorang yang mengairi sawah dan dengan tekun dan kerja keras dia  menanam benih di dalamnya, lalu jika di dalam satu dan dua  bulan tidak keluar tunas sayurnya (tampak suburnya), maka harus diakui bahwa benih yang ditanamnya itu adalah sudah rusak. Inilah juga kondisi ibadah. Jika seseorang menganggap bahwa Tuhan itu adalah Esa tidak ada sekutu baginya, dia melakukan shalat, menunaikan puasa dan kendati secara lahiriah dia mengamalkan sedapat mungkin perintah-perintah Tuhan, tetapi pertolongan secara khusus tidak turun kepadanya dari Tuhan, maka harus diyakini bahwa benih yang ditanam itu adalah rusak.”[4]

Jadi inilah standar yang Hadhrat Masih Mau’ud as  telah tetapkan bahwa dengan ibadah-ibadah harus terjadi peningkatan hubungan dengan Allah Ta’ala. Sehingga tanda-tanda atau ciri-ciri dari ibadah tampak pula di dalam hubungan-hubungan sosial  kemasyarakatan.

Sebagian orang berdoa hanya untuk tujuan-tujuan pribadi, lalu mengatakan bahwa banyak doa-doa yang telah dipanjatkan tetapi tidak terkabul. Mereka hanya menetapkan pengabulan doa-doa pribadinya sendiri sebagai standar hubungannya dengan Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala tatkala berfirman bahwa manakala kalian berdoa, maka ‘Aku akan mengabulkan doa-doa kalian’. Namun Dia juga berfirman  bahwa ‘Aku akan menguji kalian dengan kerugian jiwa, harta dan anak-anak keturunan’. Jadi hendaknya ibadah-ibadah kita adalah untuk memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk meraih ketenteraman hati. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sembahlah Aku, ingatlah Aku maka Aku akan memberikan ketenteraman kepada kalian’;  dan jika di dalamnya  terdapat  langkah bangun menuju  ke arah  kemajuan, jika kita demi untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala dan kita terus berusaha untuk keselamatan dan keamanan masyarakat, maka ini pun merupakan pengaruh-pengaruh positif atau pengaruh baik dari ibadah-ibadah. Baik doa-doa kita secara pribadi diterima dan terkabul atau tidak terkabul. Tetapi satu hubungan dengan Allah Ta’ala menjadi meningkat  dan untuk menciptakan inilah Hadhrat Masih Mau’ud as dibangkitkan, supaya timbul  kecintaan kepada Tuhan dan rasa solidaritas kepada makhluk-Nya dan inilah maksud [dari] ibadah-ibadah. Jadi untuk meraih itu, hendaknya setiap Ahmadi berusaha dan hendaknya meningkatkan mutu ibadah-ibadahnya.

Bagaimana hendaknya kondisi shalat-shalat itu menurut Hadhrat Masih Mau’ud as, dengan memberikan bimbingan beliau bersabda di satu tempat: ”Maksud shalat bukanlah [seperti] yang orang-orang umumnya lakukan sebagai tradisi belaka, tetapi maksudnya adalah shalat yang dengannya hati manusia menjadi luluh, khusyuk dan manusia bisa jatuh sujud di hadapan singgasana Ilahi, lalu sedemikian rupa menjadi tenggelam di dalamnya, hingga seolah-olah menjadi mencair dan mengalir”. Kemudian beliau bersabda: “Ingatlah, shalat merupakan sesuatu barang yang [dengannya] kehidupan dunia pun akan menjadi tertata baik dan juga agama”.[5]

Jadi, dari khazanah nasihat-nasihat yang tidak terhitung itu, ini merupakan beberapa perkara yang Hadhrat Masih sabdakan kepada kita, supaya kita menjadi orang yang dapat menata atau memperindah agama dan dunia kita. Kini ketika menyuguhkan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as. kepada dunia dan  mengumumkan di hadapan masyarakat bahwa ‘tanyakanlah kepada kami bahwa kenapa kendati mesjid-mesjid ramai dengan orang-orang yang shalat, di kalangan masyarakat di setiap arah timbul rasa tidak aman dan situasi yang kacau’, maka bersama itu hendaknya kita mengintrospeksi diri kita sendiri dan meneliti diri kita sendiri. Kita hendaknya khawatir terhadap diri kita sendiri bahwa jangan kita melupakan maksud yang Allah Ta’ala telah terangkan terkait dengan tujuan hidup kita yang untuk meraihnya kita telah bai’at di tangan imam pada zaman ini dan telah berjanji bahwa kita akan menepati janji itu.

Jadi secara umum saya menarik perhatian Jemaat ke arah ini, di sana secara khusus para karyawan, anggota amilah dan mereka semuanya yang mewakafkan hidupnya, hendaknya menjadi orang-orang yang paling banyak memberikan perhatian untuk meraih itu. Jika para karyawan, amilah dan  orang-orang yang mewakafkan hidupnya menaruh perhatian secara khusus ke arah ini, maka sejauh itu keramaian mesjid-mesjid kita menjadi meningkat, di sana standar atau mutu dalam keruhanian Jemaat secara umum pun akan menjadi  tinggi. Dalam masyarakat Ahmadi, secara khusus yang terkait dengan keamanan dan belas kasih sayang serta akan terlahir suatu warna khusus penunaian hak-hak sesama. Dengan contoh-contoh para pengurus, warga Jama’at juga akan berusaha menciptakan perubahan suci di dalam dirinya. Dari satu [orang] menjadikan yang lainnya pun menjadi tergugah. Dan jika dengan contoh-contoh seseorang timbul  perubahan suci di dalam diri seseorang, maka kepada orang itu pun, Allah Ta’ala memberikan ganjaran sebanyak itu. Allah Ta’ala akan memberikan seberapa banyak yang didapatkan oleh orang yang menciptakan perubahan suci di dalam dirinya. Karena itu hendaknya  menaruh perhatian khusus ke arah itu. Bagi Ahmadi ilmu seseorang, adanya seseorang sebagai ahli [dalam] memberikan pendapat, seseorang yang memperoleh keahlian hingga tingkat tinggi dalam urusan pengaturan, tidak bisa memberikan faedah. Tidak pula dari ilmu orang seperti itu, tidak pula dari akal dan keahlian-keahlian lainnya dapat sampai pada faedah secara langgeng bagi Jemaat. Jika tidak ada rasa takut pada Tuhan dan tidak ada perhatian terhadap beribadah kepada-Nya dengan tulus,  maka semua ini akan menjadi sia-sia. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita taufik untuk dapat meraih kedudukan itu. Yang berkenaan dengannya Hadhrat Masih Mau’ud as memiliki harapkan-harapan dari kita.

Kini saya ingin menyampaikan kenangan baik [mengenai] Hadhrat Sahibzadi Ammatul Qayyum(r.h.),  yang wafat dua atau tiga hari yang lalu.

þ$¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘

Innâ lilLâhi wa innâ –ilayHi rôjiûn —

Beliau adalah anak nomor 2 dari putri-putri Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan merupakan istri dari  Sahibzadah Mirza Muzaffar Ahmad(r.h.). Beliau adalah putri Hadhrat Amatul Hayyi(r.a.), putri Hadhrat Khalifatul Masih Awwal(r.a.). Beliau lahir pada 19 September 1916 di Qadian, di kamar Hadhrat Ammajan(r.a.) yang berada di dekat Baitul Fikir dan Masjid Mubarak. Beliau memperoleh pendidikan HA (Bahasa Arab) dan menamatkan pendidikan SMU. Dan pengkhidmatan-pengkhidmatan beliau di dalam Lajnah dilakukan dalam dua priode yang berbeda yakni selama 4 tahun beliau menjadi Sadr Lajnah Washington. Hadhrat Khalifatul Masih III(r.h.) telah menetapkan beliau sebagai wakil khusus Komite Syura  Lajnah Amerika dan selama hidup beliau menjabat dalam tugas itu. Dengan karunia Allah Ta’ala, sampai akhir hayat ingatan beliau tetap baik. Beliau mencapai usia 92 tahun, tetapi ingatan beliau masih aktif. Beliau biasa memperdengarkan kisah-kisah/riwayat-riwayat lama Hadhrat Mushlih Mau’udra. Beliau merupakan sosok yang sangat memperhatikan orang-orang miskin dan biasa membantu orang-orang miskin, secara diam-diam dan juga secara terang-terangan. Banyak para janda dan anak-anak yatim yang beliau bantu secara permanen. Dan kemudian sumbangan-sumbangan di luar Jama’at juga, baik skala  nasional maupun internasional, di situ beliau biasa memberikan sumbangan-sumbangan sedekah. Di dalam shalat-shalat, beliau sangat khusyuk dan tawaddu’ yakni di dalam shalat-shalat yang tampak terlihat. Shalat nafal, tentu seseorang lakukan dengan diam-diam, tetapi shalat-shalat yang lain itu tampak, beberapa kali saya juga memperoleh kesempatan untuk menyaksikan  beliau sedang melakukan shalat, beliau melakukan shalat dengan sangat khusyuk dan tawaddu’. Beliau memiliki jalinan yang khusus dengan Allah Ta’ala. Beliau merupakan contoh sesuai  ayat:

tûïÏ%©!$# öNèd ’Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ

Alladzîna hum fî sholâti-him khôsyi’ûn —

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya,

tûïÏ%©!$#ur öNèd Ç`tã Èqøó¯=9$# šcqàÊ̍÷èãB ÇÌÈ

Walladzîna hum ‘anil-laghwi mu’ridhûn —

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna/sia-sia.

Di dalam diri beliau terdapat sangat banyak sifat merendahkan diri. Kendati Mirza Muzaffar Ahmad Sahib(r.h.) di Pakistan memiliki  jabatan-jabatan yang sangat penting. Pernah juga bekerja di Bank Dunia, tetapi orang-orang  yang berkunjung ke rumah beliau, yang berjumpa dengan beliau, sebagaimana beliau (Amatul Qayyum) sendiri yang berjumpa dengan mereka, Mirza Muzaffar Sahib juga dan beliau juga dengan penuh kerendahan hati biasa berjumpa dengan orang-orang. Banyak juga dari para wanita yang menyinggung hal itu di hadapan saya dan bahwa surat-surat yang datang juga di dalamnya banyak  yang menyatakan bahwa beliau biasa menjumpai orang-orang dengan penuh rasa rendah hati dan beliau memiliki gairat yang sangat besar pada agama. Beliau memiliki gairat yang sangat besar pada Jama’at dan Khilafat. Beliau juga sangat konsekuen dalam berpardah. Di dalam hal berpardah, sedemikian rupa beliau memperhatikan pardah/berhati-hatinya sehingga siapa pun hingga anggota kerabat yang kecil sekalipun dari kalangan kerabat – yang sebenarnya tidak perlu berpardah, namun jika beliau tidak mengenalnya dan dia datang di rumah, maka selama beliau belum mengenalnya maka beliau mengenakan pardah di hapadapannya. Keturunan beliau sendiri tidak ada. Saudara perempuan beliau yang merupakan menantu dari Choudry Fatah Mahammad Sayyal(r.a.), putranya yang beliau asuh dan pelihara sebagai anak angkat.  Beliau sangat menyayanginya dan senantiasa berusaha memberikan pendidikan. Beliau senantiasa menasihatinya untuk memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala. Anak angkatnya menulis kepada saya bahwa dari sejak kecil, dengan rujukan Rasulullah saw dan dengan mengacu pada Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau biasa memperdengarkan cerita-cerita pendek kepada kami dan kepada anak-anaknya pun beliau biasa memperdengarkan kepada mereka. Satu hal yang Mirza Zahir Ahmad – yang merupakan keponakan dan anak angkat beliau – menulis  kepada saya bahwa beliau membaca Al-Quran dengan sangat tekun dan di  setiap lembaran Al-Quran beliau, terdapat note-note/catatan-catatan.

 [Hudhur bersabda:] Hubungan beliau dengan Khilafat juga merupakan satu cinta yang khusus/istimewa. Zaman Hadhrat Khalifatul Masih III(r.h.) saya telah melihat dengan jelasnya. [Hudhur III(r.h.)] juga merupakan kakak beliau, tetapi hubungan dengan beliau dan hubungan dengan Khilafat  yang   merupakan satu hubungan khusus, itu sangat banyak (hubungannya). Kemudian Hadhrat Khalifatul Masih IV rh adalah adik beliau tetapi setelah [adik  beliau terpilih sebagai pimpinan nizam] Khilafat, hubungan itu menjadi hubungan yang penuh dengan sopan santun dan penuh rasa hormat yang luar biasa. Seorang penulis menulis kepada saya bahwa ketika diadakan Jalsah pertama di Islamabad dan beliau sedang duduk rapi di Jalsah, maka ketika itu, di situlah sesudah Jalsah, amanat/pesan Hudhur sampai kepada  wanita yang sedang tugas bersama beliau, yaitu secepatnya bawa beliau, Hadhrat Khalifatul Masih  tengah memanggil. Maka perempuan itu mengatakan bahwa beliau (Amatul Qayyum) telah mendengar dan sebelum siap beliau lebih dahulu berdiri, lalu berangkat. Dan sedemikian rupa cepatnya beliau berjalan, sehingga perempuan yang bertugas bersamanya itu terpaksa harus berlari-lari bersama beliau. Dan beliau terus mengatakan cepat, amanat Hudhur telah datang, Hudhur memanggil saya. Jadi ini merupakan satu didikan dari ayah beliau, Hadhrat Khalifatul Masih II(r.a.), dan contoh kakek beliau  (Hadhrat Khalifatul Masih I(r.a.)) pun jelas di hadapan beliau, yang mana tanpa membawa sesuatu  ketika Hadhrat Khalifatul Masih memanggil-manggil, maka beliau segera hadir sambil berlari-lari.

 Kemudian beliau juga terdapat satu ikatan dengan saya. Beliau adalah bibi saya. Hubungan ini lebih banyak dari hanya sekedar sebagai keponakan, mulai dari saat ketika Hadhrat Khalifatul Masih IV(r.h.)  menetapkan saya sebagai Nazhir A’la dan Amir setempat di  Rabwah dan di Pakistan. Maka untuk pertama kali ketika beliau ini datang dari Amerika, lalu setelah melihat hubungan beliau dengan Khilafat, saya menjadi heran dan juga menjadi merasa malu. Penghormatan kepada seorang pengurus Jama’at dan sikap rasa memuliakan sedemikian rupa yang sama sekali berbeda/lebih utama dari segala macam ikatan–ikatan [yang lain]. Sikap beliau sama sekali berbeda dan sisi riwayat hidup beliau ini terbuka bagi saya pada saat itu bahwa bagaimana beliau ini menghormati para pengurus. Sesudah [terpilih sebagai Khalifah dalam lembaga nizam] khilafat, hubungan ini menjadi tambah lebih meningkat lagi. Pada zaman Khalifatul Masih III(r.h.) dan pada zaman Khalifatul Masih IV(r.h.), dengan mereka juga saya melihat ikatan beliau ini dan ketika saya melihat ikatan beliau itu dengan saya [setelah saya terpilih sebagai Khalifah]  dan ketika saya merenungkannya, maka saya tidak melihat adanya perbedaan. Itulah sikap memuliakan dan itulah penghormatan [yang beliau tampilkan]. Sedikit pun tidak tampak adanya perbedaan. Sedemikian rupa sopan santun dan  rasa hormat yang beliau  tampilkan yang terkadang saya merasa malu   karenanya. Saya pergi ke Amerika maka akibat program Jama’at terdapat juga hal-hal yang merupakan bagian dari keterpaksaan-keterpaksaan, karena itu saya harus tinggal di rumah misi yang berdampingan dekat dengan mesjid.  Sebelum pergi beliau memohon dengan sangat supaya saya tinggal di rumah beliau. Tetapi karena bagaimana pun juga itu merupakan keadaan terpaksa, karenanya  harus terpaksa minta maaf kepada beliau. Dan ketika pergi untuk berjumpa di rumahnya, maka kegembiraannya tidak  ada batasnya. Dan akibat ikatan beliau inilah anak angkat beliau, keponakan dan mantu (istri anak angkat beliau) beliau dan anak-anak beliau memiliki ikatan yang khusus dengan Khilafat. Beliau juga memiliki penelaahan yang luas pada buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Seseorang memberitahukan kepada saya bahwa beliau telah membaca setiap buku itu sebanyak tujuh kali. Tetapi Zahir Ahmad memberitahukan kepada saya bahwa ‘beliau  telah memberitahukan saya (Zahir Ahmad) bahwa beliau telah membaca setiap buku-buku sebanyak  sembilan kali.

Dari sejak satu bulan yang lalu beliau sakit. Pada hari-hari beliau sakit juga, satu atau dua kali saya berbicara dengan beliau melalui telpon, maka Zahir memberitahukan kepada saya bahwa satu kali sebelum berbicara melalui telpon, beliau berusaha untuk makan sedikit tetapi tidak [dapat] makan.  Sesudah berbicara melalui telpon, dia (Zahir) menyebut nama saya bahwa Tuan kini telah berbicara dengan beliau/Hudhur,  maka makanlah.  Baiklah, kata Zahir, saya sibuk dalam pekerjaan yang lain. Ternyata sesudah beberapa lama, saya melihat makanan yang ada terletak di piring telah habis. Dan itu hanya karena dia telah menyebut nama saya bahwa kini tuan telah berbicara dengan Hudhur. Tetapi menurut saya bahwa mungkin dia telah mengatakan bahwa beliau telah mengatakan. Beliau kurang pendengaran, karena itu mungkin melalui telpon beliau tidak memahami sepenuhnya dengan benar. Dari perkataan Zahir inilah yang beliau fahami bahwa beliau (Khalifah) mengatakan, makanlah. Oleh karena beliau merupakan sosok yang senantiasa taat dengan segera, maka kendati tabiat beliau juga tidak  ingin makan, pada akhir sakit beliau pun beliau makan dengan segera. Jadi sampai sedemikian rupa halusnya  ketaatan yang terdapat dalam diri beliau.

     Pada hari-hari beliau sakit, beliau memanggil keponakan dan anak-anak keponakan serta mantu/istri keponakan beliau dan dia menulis bahwa sampai tiga jam beliau menyampaikan berbagai nasehat kepada mereka. Dan, lanjutnya, kemudian beliau mengucapkan terima kasih kepada kami bahwa kalian, kata beliau, telah banyak mengkhidmati saya. Padahal pengkhidmatan yang mungkin beliau telah lakukan untuk anak-anak itu dibandingkan dengan pengkhidmatan itu tidak ada artinya apa-apa, yang beliau telah lakukan untuk anak-anak  itu.  Singkat kata, ini merupakan kebesaran hati beliau dan perasaan ucapan rasa terima kasih beliau. Sampai yang sehalus-halusnya dan sekecil-kecilnya, beliau memperhatikannya. Semoga anak itu (Zahir), anak-anaknya dan juga istrinya dianugerahi taufik oleh Allah Ta’ala untuk meneruskan kebaikan–kebaikan Hadhrat Sahibzada  Muzaffar Ahmad(r.h.) dan Hadhrat Amatul Qayyum(r.h.), pengaruh dari tarbiyat beliau dan semoga orang-orang ini senantiasa terus  memperoleh  bagian dari doa-doa beliau. Dan kerendahan hati dan kelembutan, sopan santun yang ada di dalam diri beliau itu tertanam di dalam diri anak-anak beliau.

     Ada beberapa peristiwa yang pada suatu kali beliau sendiri yang menulisnya. Hadhrat Khalifatul Masih II(r.a.) memiliki ikatan yang sangat besar/kuat dengan beliau. Memang ikatan seperti itu ada dengan setiap anak. Tetapi dengan setiap orang, pengungkapan masing-masing berbeda. Beliau mengatakan bahwa ‘ketika saya menikah, maka Hadhrat Khalifatul Masih II(ra.) menulis surat kepada Hadhrat Mirza Muzaffar Ahmad(r.h.) bahwa saya telah mengasuh anak saya ini dengan penuh perhatian hingga usia 14 tahun. Jika ada yang berani melihatnya atau mengganggunya, maka pandangan saya akan serta merta menjadi naik atau akan marah, yaitu apakah di dalam pandangan yang memandangnya itu ada pandangan lain selain cinta. Kini saya menyerahkan dia kepada kamu. Ingatlah, jika dia sedikit saja susah, maka saya tidak hanya di dalam kehidupan ini saja, bahkan sesudahnya pun saya tidak akan bisa sabar’ (Maksudnya bukan berarti saya akan berkelahi. Maksudnya adalah bahwa saya akan terkejut). (Sirat dan riwayat hidup Hadhrat Sayyidah  Ammatul Hayyi Begum Sahibah, hal. 110-111, Lajnah Imaillah Lahore).

     Maka inilah contoh-contoh yang di dalam setiap rumah kita, di mana terdapat kisruh yang seperti itu mereka juga hendaknya memperhatikan bahwa manakala orang yang menikah, mertua, anak laki-laki dan mertua anak perempuan; membawa anak siapa pun hendaknya memperhatikan perasaan-perasaan  dan gejolak-gejolak emosionalnya bahwa anak perempuan itu merupakan anak-anak perempuan  seseorang dan merupakan anak-anak perempuan yang manja. Seperti itu pula beliau (Ammatul Qayyum)  mengatakan bahwa ketika saya pergi ke Multan, maka setiap hari telegram dan surat Hadhrat Khalifatul Masih II ra datang. (Sirat dan riwayat hidup Hadhrat Sayyidah  Ammatul Hayyi Begum Sahibah, hal. 111, Lajnah Imaillah Lahore).

     Beliau telah menceriterakan akan sebuah mimpi beliau bahwa sekali peristiwa ada seseorang  yang mengatakan kepada saya, yakni Hadhrat Sayyidah Ammatul Hayyi Begum Sahibah(r.a.) menceriterakan tentang mimpinya bahwa ada seseorang yang mengatakan kepada beliau bahwa saya datang untuk mengambil ibumu. Saya meminta dengan menangis-nangis kepada orang itu bahwa anda jangan membawa ibu saya. Dia mengatakan bahwa jika ini tidak,  maka saya akan membawa ayahmu. Maka dengan ketakutan saya mengatakan padanya tidak, sama sekali tidak. Dia mengatakan bahwa satu perkataan kamu yang bisa diterima. Biarkan saya mengambil ibumu atau bapakmu. Ketika dia dengan keras memaksa saya bahwa di antara keduanya, satu yang bisa saya tinggal bersama saya. Karena tidak mungkin untuk memiliki dua-duanya, maka saya menjadi rela untuk memberikan ibu. Dan kemudian beliau mengatakan bahwa ‘akibat mimpi itu maka saya memeluk erat-erat ibu saya’. Ini pada saat beliau berusia 10 tahun, ketika ibu beliau meninggal dunia. Hadhrat Amma Jan/Ummul Mukminin(r.a.) tidak mengetahui akan hal ini. Beliau (Hadhrat Ammajaan) biasa mengatakan kepada beliau bahwa kamu selalu memeluk ibumu, dengan bapakmu pun peluklah juga. Maka pada suatu hari, Hadhrat Ammajan mengatakan dengan keras kepada beliau. Hadhrat Amma Jaan sendiri yang menerangkan itu bahwa ketika saya mengatakan ini maka kamu menjadi takut dan kamu menjawabnya. Saya akan memeluk, saya akan memeluk, dan sepanjang umur saya akan terus memeluk (ayah).  Sambil menceriterakan akan cerita ini mata Hadhrat Amma meneteskan air mata.[6]

Kunjungan perjalanan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ke Delhi dan jauh sesudahnya beliau memulai rangkaian ceramah-ceramah yang berjudul “Perjalanan Ruhani”. Di sana pemandangan yang beliau  saksikan dan pada waktu itu dengan suara lantang beliau mengatakan, “Saya telah mendapatkannya, saya telah mendapatkannya”. Maka Hadhrat Mushlih Mau’ud(r.a.) menulis, “Pada saat itu di belakang saya, anak saya, Ammatul Qayyum Begum sedang berjalan. Dia bertanya, bapak, apa yang bapak telah dapatkan? Maka saya menjawabnya bahwa saya banyak mendapatkan sesuatu. Tapi sekarang saya tidak bisa memberitahukan kepada kamu. Jika Allah Ta’ala menghendaki maka pada Jalsah Salanah saya akan beritahukan apa yang saya telah dapatkan. Pada saat itu pun kamu juga akan mendengar.” [7].

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis sebuah nazm untuk anak-anak pada acara “Amin” – menamatkan Al-Quran. Dan beliau juga menulis pada saat Hadhrat Ammatul Qayyum menikah. Ada dua syairnya yang saya beritahukan pada kalian:

Jangan hendaknya kecintaan padanya berkurang.

Ikatan jodohnya jangan hendaknya sampai terputus.

Apapun boleh saja terputus

Tapi yang menyangkut dengan dirinya jangan terputus[8]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menarik satu perhatian pada hubungan dengan Allah Ta’ala, dan hubungan itu sesudah pernikahan pun beliau tetap tegakkan. Sebagaimana saya telah katakan bahwa beliau merupakan sosok pendoa dan merupakan perempuan yang terus melanjutkan atau mengalirkan  kebaikan-kebaikan. Bahkan dari Amerika, Masyud Khursyid memberitahukan kepada saya bahwa istrinya  melihat dalam sebuah mimpi 25 tahun sebelumnya. Kepadanya terdengar suara yang tengah mengatakan,  “Bibi Ammatul Qayyum adalah waliullah.” Jadi hubungan dengan Allah Ta’ala dan kebaikan-kebaikan beliau  sesungguhnya sedemikian rupa, yang merupakan kebaikan-kebaikan untuk orang-orang Tuhan dan ini hanya karena bahwa beliau senantiasa mengamalkan nasihat-nasihat bapak beliau yang agung. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat  beliau.

Kini setelah shalat Jum’at, saya juga akan menyalatkan jenazah gaib bagi beliau dan bersama beliau ada dua lagi jenazah lainnya. Satu adalah jenazah Mayor Afdhal, putra Iqbal Ahmad marhum, yang pada tanggal 19 Juni – di Waziristan utara yang merupakan basis camp pelatihan Taliban dimana terdapat operasi permerintah terhadap mereka – di situ beliau syahid dalam  usia 32 tahun.

þ$¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘

Innâ lilLâhi wa innâ –ilayHi rôjiûn —

Kolonel beliau (kepala batalion) memberitahukan bahwa beliau ikut dalam operasi [menumpas Taliban] itu  dan kaki beliau tertembus  peluru. Beliau dilarang untuk meneruskan perang supaya mula-mula harus mengobati luka itu dulu, tetapi kendati demikian beliau mengatakan tidak. Beliau terus  berperang tanpa ada rasa takut hingga syahid.

Buyut beliau, Hadhrat Choudry Abdul-Aziz ra  adalah seorang  sahabat. Buyut perempuan beliau juga, Hadhrat Dokter Ghulam Dastgir ra juga merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau merupakan anggota mukhlis Jama’at Rawalpindi. Beliau adalah juga seorang mushi. Beliau meninggalkan seorang istri,  seorang anak laki dan seorang anak perempuan. Putri beliau Daniah Afdhal berusia 4 tahun dan anak lelaki beliau Muhammad Asaf  berusia 1 tahun. Beliau dimakamkan di Rabwah dengan penghormatan acara militer. Dan di sana para pemuka militer juga datang  dan satu regu militer juga datang,  yang ikut dalam acara pemakaman beliau di sana.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang Ahmadi adalah musuh negara. Di manapun pengorbanan-pengorbanan diberikan maka di sana orang-orang Ahmadi selalu menjadi yang terdepan. Dari perdana menteri dan dari presiden juga dikirim karangan bunga ke makam beliau. Jadi kalau ini adalah musuh Negara, maka pertama tangkaplah perdana menteri dan presiden kalian dan kemudian tangkaplah juga prajurit yang datang ke sana dan memakamkan beliau dengan acara penghormatan yang sempurna.

     Kemudian jenazah seorang lagi, Azizam Ahmad Jamal yang merupakan anak dari Muhammad Muhsin. Beliau ini pada 19 Mei pergi piknik di pinggir sungai di Rabwah. Di sana perampok merampok beliau dan melepaskan tembakan di kepala beliau, dua peluru menembus kepala beliau dan di situlah beliau syahid. Umur almarhum  adalah 19 tahun  dan beliau ikut dalam gerakan Waqfi Now dan seorang mushi juga. Beliau juga merupakan anggota Khuddamul-Ahmadiyah yang sangat aktif. Semoga Allah Ta’ala  meninggikan derajat beliau juga.

Demikian pula, kemarin diperoleh  informasi yang rinciannya tidak ada tetapi pendek kata  mereka keduanya adalah  syahid. Yang syahid di Quetta adalah Khalid Rasyid, putra Rasyid Ahmad dan Zafar Iqbal, putra la’ldin Sahib.

Zafar Iqbal memiliki seorang karyawan. Pada malam hari, beliau pulang ke rumah setelah  mengantarkan karyawan beliau; maka begitu keluar dari mobil beliau segera ditembak dan keduanya  syahid di tempat. Saudara beliau  yang keluar dari pintu rumah, ke arah beliau pun tembakan  dilepaskan tetapi beliau tidak kena [tembakan]. Sesudah itu beliau ini pergi. Kemungkinan besar adalah bahwa apakah beliau merupakan target tembakan karena Ahmadiyah; atau dewasa ini akibat dari perkelahian  yang sedang berlangsung antara orang-orang Panjab dan orang-orang Balucistan karena hal itu juga bisa terjadi. Dan akibat Ahmadiyah juga, memang sudah ada ancaman.  Walhasil kemarin ini ada dua orang yang syahid. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat semuanya, mengampuni mereka semuanya. Saya akan menshalatkan jenazah semuanya.

Penerjemah: Mln. Qamaruddin Syahid

[1] Terjemah Urdu dari buku Karamatus-shadiqin, Ruhani Khazain, jilid 7, hal. 121-122;  Referensi buku Hadhrat Masih Mau’udas, Jilid pertama, hal. 192-193

[2] Malfuzhat, jilid 4,  hal. 517

[3] Malfuzhat, jilid 5,  hal. 130

[4] Malfuzhat, jilid 5,  hal. 386-387

[5] Malfuzhat, jilid 5,  hal. 402-403

[6] Sirat dan riwayat hidup Hadhrat Sayyidah  Ammatul Hayyi Begum Sahibah,  hal. 112,  Lajnah Imaillah Lahore

[7] Diringkas  dari Sejarah Ahmadiyah,  jilid 7,  hal 635-638

[8] Kalam Mahmud beserta Kamus,  hal. No. 224,  nazam nomor 99,  Bidang Isyaat Lajnah Imaillah Karachi