Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-Khaamis,

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziiz, aba) tanggal 26 April 2013

أ َشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا  (النساء: 136)

“Hai orang-orang yang beriman! Teguhlah dalam menjalankan keadilan, dan jadilah saksi demi Allah, meskipun itu bertentangan dengan dirimu sendiri atau bertentangan dengan orangtua dan keluarga. Baik mereka kaya atau miskin, Allah lebih memperhatikan mereka daripada kamu. Karena itu jangan mengikuti nafsu rendah supaya kalian bisa berlaku adil. Dan jika kamu menyembunyikan kebenaran atau menghindarinya, maka ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An Nisa: 136)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (المائدة: 9-10)

“Hai orang-orang yang beriman! teguhlah demi Allah, memberikan kesaksian dengan adil; dan jangan sampai kebencian pada seseorang mendorong kalian bertindak yang lain selain dengan adil. Selalulah berlaku adil, itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan takutlah kepada Allah. Sungguh, Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa mereka akan mendapatkan ampunan dan ganjaran yang besar.” (Al Maidah: 9-10)

Berkali-kali para penentang Islam menuduh Islam sebagai agama ekstrimis dan dengan demikian menciptakan kebencian kepada Islam. Setiap tindakan terorisme yang terjadi di dunia, entah itu dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sebagai Muslim, atau orang lain, atau kelompok Islam (organisasi jihad) yang hanya namanya, maka itu dikait-kaitkan kepada Al-Qur’an al-Karim dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keduanya (Kitab Suci Al-Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w.) dijadikan sasaran penyerangan dengan kata-kata yang menyakitkan dan kotor.

Dewasa ini, hanya Jemaat pecinta sejati Rasulullah s.a.w. lah yang menangkis setiap tuduhan para pemfitnah berdasarkan Al-Qur’an al-Karim, dan dan menjawab setiap serangan. Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang kita sampaikan untuk menangkis tuduhan Islam sebagai agama eksrimisme adalah ayat-ayat yang dibaca di awal. Ini memberikan contoh ketinggian moral ajaran Islam. Setiap orang non-Muslim yang berpikiran adil tidak bisa berbuat lain kecuali memuji ajaran yang luarbiasa ini, tapi kemudian juga terdorong untuk bertanya, dimana praktek ajaran ini bisa ditemukan? Orang-orang non-Muslim yang mengenal para anggota Jemaat berkomentar bahwa meskipun mereka melihat praktek ajaran ini dalam diri anggota Jemaat kita, tapi Jemaat kita hanya Jemaat minoritas dan mereka ingin melihat gambaran ajaran ini dalam firkah-firkah Islam lainnya. Para Ahmadi menjawab hal ini sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan pribadi mereka, dan biasanya meninggalkan kesan yang baik.

Tapi kita perlu realistis dan mengintrospeksi diri. Memang, kita berusaha untuk memuaskan para penanya, dan juga sangat berhasil. Terlihat  bahwa sekarang kolumnis kadang-kadang menunjuk kepada kita  dengan menyebut nama, dan kadang-kadang tanpa menyebut nama, dan mengakui bahwa sebuah Jemaat minoritas menentang kecenderungan ekstrimis, dan ingin menciptakan keadilan, sambil menyatakan bahwa Jemaat ini mengamalkan Islam sejati.

Ketika Hadhrat Khalifatul Masih mendengar penyampaian semacam ini dari orang lain, atau ketika beliau menyampaikan ajaran Islam di hadapan orang lain, beliau merasa prihatin, dan perhatian beliau ditarik kepada kenyataan bahwa kita perlu mengintrospeksi diri dan meneliti seberapa banyak kita mengamalkan ajaran Ini. Apakah kita menganggap cukup dengan membuat diam sebentar orang-orang yang mengajukan keberatan, tapi ketika kita diperiksa oleh dunia, kita didapati tidak mencapai standar tinggi yang kita bicarakan? Kejujuran suatu Jemaat terbukti ketika Jemaat itu dihadapkan pada suatu situasi sulit, dan setiap orang di Jemaat tersebut mengamalkan ajaran Tuhan untuk meraih keridhaan Tuhan dengan menanggung kesulitan. Amalan tersebut harus berstandar sangat tinggi sehingga itu akan membawa mereka keluar dari situasi tersebut dengan sukses. Jika tidak, hanya menyampaikan keindahan ajaran tidak membuat suatu Jemaat menonjol. Pasti banyak orang-orang Muslim ghair Ahmadi yang menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang non-Muslim. Penyampaian mereka tentang ajaran yang indah sebagai bukti keindahan Islam mungkin membuat mereka tampak bagus bagi orang-orang non-Muslim, dan karena sopan-santun dan persahabatan mereka, mungkin orang-orang non-Muslim berhenti mengajukan kritikan tentang Islam. Tetapi para Muslim Ahmadi harus ingat bahwa ketika mereka menyampaikan keindahan ajaran Islam ke hadapan dunia, mereka juga memperkenalkan diri mereka sebagai Muslim Ahmadi dan pengikut seseorang yang mendakwakan mempropagandakan masa kedua Islam. Penjelasan tentang ajaran Islam yang indah oleh seorang Ahmadi tidak hanya membuat dirinya patut dipuji tapi juga meningkatkan imaji (kesan) sebuah Jemaat yang memproklamirkan kejujuran dan perdamaian.

Jika ada pertentangan antara kata-kata dan perbuatan seorang Ahmadi, orang akan berkata bahwa fulan dan fulan mengatakan sesuatu dan melakukan hal yang berbeda, atau tidak memenuhi tuntutan keadilan. Bahkan dengan segera dikatakan bahwa fulan dan fulan adalah seorang Ahmadi, dan mereka membuat banyak pendakwaan dan mengatakan bahwa mereka ada di barisan terdepan dalam hal kejujuran dan keadilan, tapi diantara mereka ada orang-orang yang terlibat dalam kezaliman besar. Beberapa orang yang berbisnis dengan para Ahmadi menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih mengenai pelanggaran janji dan ketidakjujuran para Ahmadi. Dengan begini Ahmadi tersebut merusak imaji Jemaat dan menjadi sumber citra buruk bagi Jemaat. Karena alasan ini dia lebih berdosa, sebab pernyatan dan tindakannya bertentangan. Memang, ini juga keprihatinan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan beliau bersabda bahwa orang-orang hendaknya tidak mempermalukan beliau setelah menghubungkan diri mereka dengan beliau.

Masalah yang disebutkan dalam ayat-ayat yang dibaca di awal harus diamalkan di setiap level, barulah itu akan menjadi bagian dari kebiasaan seseorang dan menghentikannya dari melakukan dosa. Hal tersebut tidak hanya mengarahkan seseorang untuk bahkan membayangkan apapun yang salah, apapun yang tidak adil, apapun yang jauh dari kebenaran atau sesuatu yang akan merugikan orang lain. [jangankan melakukan dosa, membayangkan pun tidak] Gambaran sejati ajaran Tuhan dan imaji indah Islam akan terjadi ketika para Ahmadi memperlihatkannya di setiap level dengan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Usaha untuk mencapai standar-standar yang disebutkan dalam ayat-ayat yang disebutkan diatas harus dilakukan di setiap level; di rumah, di masyarakat, dengan teman-teman, dengan orang lain dan juga dengan musuh. Barulah seseorang akan menjadi mu’min sejati dan dianggap sebagai pengikut Imam Zaman. Jika tidak; pernyataan itu hanya palsu (kosong) dan akan memperhebat keprihatinan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam terkait dengan diri kita. Tujuan kita hendaknya mengurangi keprihatinan tersebut, bahkan menghilangkannya.

Masalah pertama yang diperintahkan dalam ayat-ayat yang dibaca tersebut adalah bahwa kita harus memberikan kesaksian sesuai perintah Tuhan. Hendaknya tidak ada unsur mencari keuntungan pribadi dari memberikan kesaksian. Bahkan, itu hendaknya dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Tuhan. Kemudian dinyatakan bahwa ini dicapai dengan menegakkan standar yang tinggi dan ini tidak mungkin tanpa kejujuran. Ini juga tidak mungkin tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seseorang harus menyukai untuk orang lain apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri. Hendaknya jangan seseorang mengharapkan dan menginginkan keadilan untuk dirinya dan menjerit jika tidak diberikan, tetapi ketika memberikan hak orang lain dia mulai membuat-buat alasan. Untuk meminta keadilan bagi dirinya sendiri, ayat-ayat Al-Qur’an, hadist, dan kutipan-kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as dicari, untuk menanamkan rasa takut kepada Tuhan pada diri siapapun yang merampas haknya begitu serta orang yang menjadi penengah dalam masalah tersebut. Tetapi, ketika seseorang diminta untuk memberikan kesaksian yang benar, bukannya memberikan kesaksian dengan benar, dia mengatakan hal-hal yang berbelit-belit dan membingungkan untuk merusak masalah tersebut, atau menguntungkan seseorang, atau orang yang dekat dan dikasihinya. Dia tidak menjadi mu’min sejati, karena apapun yang dilakukan seorang mu’min sejati bergantung pada mencari keridhaan Tuhan dan hal ini menjadi mungkin, ketika seseorang membangkitkan keberanian untuk bersaksi, bahkan melawan dirinya sendiri.

Seseorang hendaknya tidak khawatir tentang masalah apapun yang muncul dari memberikan kesaksian yang benar; ini bisa jadi masalah yang dihadapi keluarga, anak-anak, teman-teman atau orangtuanya, atau seseorang bisa bermasalah dengan teman-teman dan keluarga dengan memberikan kesaksian yang benar. Kesaksian yang benar harus diberikan meskipun dengan resiko dibenci oleh orang dekat, yang dikasihi, dan orangtuanya. Tuhan menyatakan bahwa manfaat dan keuntungan seseorang tidak muncul dari memberikan kesaksian licik atau palsu tapi karena karunia Tuhan. Bila Tuhan memutuskan demikian, Dia bisa memberi keuntungan pada seseorang. Kesaksian palsu juga memberikan keuntungan sementara, tetapi kerugian akhirnya sangat besar. Karena seseorang harus menjadikan Tuhan sebagai Sahabatnya dan hanya mencari kedekatan-Nya, dan mengatakan apa yang benar dan lurus untuk menegakkan kejujuran. Seseorang hendaknya jujur dalam kehidupan rumah tangganya, dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan duniawi lainnya. Daripada mengikuti keinginan pribadinya dan menyimpang dari kejujuran, dan mengatakan sesuatu yang dusta dan membingungkan dan menyembunyikan kesaksian yang benar, dan dengan demikian menimbulkan kemurkaan Tuhan, seseorang hendaknya tetap menjaga keridhaan Tuhan sebagai pusat perhatiannya.

Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud a.s. harus memberikan kesaksian mengenai masalah pertanian. Ada sengketa dengan para penggarap tanah mengenai kepemilikan beberapa pohon. Para penggarap tanah tahu bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. selalu memberikan kesaksian benar, dan memang beliau mengatakan di hadapan hakim bahwa menurut pendapat beliau para penggarap tanah punya hak atas pohon-pohon tersebut. Ayah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan keluarga beliau marah kepada beliau, meskipun demikian beliau memberikan kesaksian yang benar. Demikianlah standar yang dicontohkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud yang harus kita ikuti. Ini adalah standar yang Rasulullah s.a.w. perintahkan untuk kita ikuti.

Tuhan menyatakan bahwa orang yang memberikan kesaksian palsu mungkin bisa menipu dunia tapi ‘…Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan…’. Jadi, jika di satu sisi kita mendakwakan bahwa kita menyebarkan perdamaian di masyarakat dan menunjukkan kepada dunia jalan petunjuk, tapi di sisi lain menyangkal perkataan kita dengan perbuatan kita untuk mendapatkan keuntungan sepele, maka bukannya penganjur perdamaian dan keamanan, kita akan menjadi diantara orang-orang yang menimbulkan pergolakan dalam masyarakat. Pendakwaan seorang mu’min sejati untuk mengangkat suara melawan ketidakadilan hanya benar ketika dia menjaga standar kejujuran dan keadilan yang tinggi, dan membuat kesaksiannya bergantung pada perintah Tuhan. Ayat dari surat Al-Maidah (seperti yang dicantumkan diatas) menjelaskan standar tinggi yang Tuhan harapkan dari kita dalam masalah keadilan. Keadilan kita hendaknya tidak terbatas pada lingkungan kita saja, bahkan jika musuh kita menginginkan keadilan dari kita, dia hendaknya dijamin bahwa dia akan mendapati kita jujur dan adil, atau bahwa keadilan akan dijalankan. Hendaknya diperlihatkan kepada musuh bahwa apapun yang dilakukan seorang mu’min sejati didasarkan pada ketakwaan dan tidak ada permusuhan seorang pun yang bisa menyimpangkannya dari kebenaran dan keadilan. Hati kita bebas dari permusuhan dan kita menyatakan bahwa kita tidak punya kebencian atau permusuhan terhadap siapapun. Bahkan, permusuhan, kebencian, dan kedengkian musuh kita sekalipun hendaknya tidak membuat kita condong untuk menyimpang dari keadilan untuk merugikannya. Inilah ajaran indah yang kita jelaskan kepada orang lain dan ini mengilhami mereka untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam.

Meskipun perkataan kita menarik dunia kepada kita, tetapi, perkataan kita tentang keadilan dan perkataan kita tentang perdamaian dan keamanan akan memberikan pengaruh sejati hanya ketika kita juga mengamalkannya. Dengan menyatakan, ‘teguhlah dalam urusan Allah..’ Tuhan telah meletakkan tanggung jawab yang besar kepada kita. Di sini teguh berarti menjalankan keadilan dengan pertimbangan yang mendalam, kemudian mempertahankannya dengan tekad kuat yang terus-menerus. Ini adalah usaha yang mendalam, tak kenal lelah, dan terus-menerus yang berakibat pada tegaknya perdamaian, keadilan, dan keamanan di dunia. Sekarang, menjadi tugas mu’min sejati, para Muslim Ahmadi untuk terus bekerja bagi keadilan, kebenaran, perdamaian dan keamanan dengan memperhatikan poin halus dan lembut yang dimintanya. Ini karena kita telah diberikan pemahaman tentang ajaran sejati Islam oleh Imam Zaman dan kita juga berusaha dan memperlihatkan contoh praktek dengan mengamalkan perintah-perintah tersebut. Kita perlu mengintrospeksi diri seberapa banyak keadilan dan kejujuran yang kita praktekkan, kita perlu memeriksa hati kita dengan teliti untuk melihat apakah kita berusaha mencapai derajat yang ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan bersaksi bertentangan dengan ayah beliau?

Jika kita melakukannya, lalu kenapa ada hawa kekurangpercayaan di rumah kita? Kenapa tidak ada cinta dan kasih sayang dalam hubungan suami istri? Dan ini mempengaruhi anak-anak. Kenapa ada keretakan dalam hubungan antar saudara? Kenapa ada gangguan dalam hubungan yang timbul dari berprasangka buruk kepada orang lain dan tidak adanya kejujuran? Kenapa bisnis yang dibentuk dari persahabatan berakhir dengan permusuhan sengit? Kenapa terjadi peningkatan kasus-kasus yang dibawa ke dewan Qadha? Jelas, ini karena kondisi hati dan pertentangan antara perkataan dan perbuatan. Ada satu standar untuk diri sendiri dan standar lainnya untuk orang lain. Setiap Ahmadi harusnya punya alasan untuk khawatir, para pengurus begitu juga anggota Jemaat, mengenai bagaimana mereka akan mengerjakan tugas sangat besar menjalankan keadilan dan kebenaran untuk meraih keridhaan Tuhan. Tentu, kita harus sadar (selalu perhatian) terhadap perintah Tuhan dan berusaha mengamalkannya.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tidak ada tempat aman lainnya seperti benteng dan lingkaran perlindungan Allah Ta’ala. Tetapi, manfaatnya tidak dapat diperoleh dengan sarana yang tidak sempurna. Dapatkah seseorang mengatakan bahwa ketika dia haus, hanya minum satu tetes saja sudah cukup? Atau ketika sangat lapar remah-remah atau satu suap saja akan mengenyangkan? Dia pasti tidak puas kecuali dia makan dan minum sampai kenyang. Begitu juga, kecuali kesempurnaan dicapai dalam perbuatan, buah dan hasil yang diinginkan tidak akan timbul. Perbuatan yang cacat tidak membuat senang Allah Ta’ala dan itu tidak diberkati. Memang sudah janji Allah Ta’ala bahwa jika amalan yang dilakukan membuat-Nya senang, Dia akan menganugerahkan berkat.”

Tuhan telah memberi kita tanggungjawab menyampaikan pesan perdamaian dan keamanan ke dunia. Untuk itu, kita harus teguh pada keadilan dan kebenaran. Keadilan bisa ditegakkan ketika seseorang merenungkan perintah Tuhan secara mendalam. Untuk itu kita dituntut untuk merenungkan secara mendalam mengenai memberikan hak-hak Tuhan dan hamba. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk melakukannya dan kita membuat rumah serta masyarakat kita seperti surga, dan berdasarkan ajaran indah Islam kita juga memenuhi tanggungjawab tabligh. Mari kita jelaskan ajaran keadilan sejati kepada dunia dan menyelamatkannya dari kehancuran!

Dunia jelas sedang bergerak cepat kearah kehancuran yang paling mengerikan. Keadilan tidak ada lagi diantara umat Muslim maupun non-Muslim. Bukan hanya tidak ada keadilan tapi mereka juga melampaui batas dalam kekejian. Pada saat semacam ini hanya Jemaat Ahmadiyah yang bisa berperan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Untuk itu setiap orang harus berusaha secara amalan di lingkungan mereka, dan tentu saja berpaling kepada doa dengan penuh kekhusyu’an. Ketidakadilan di negara-negara Muslim telah melibatkan mereka dalam perjuangan internal begitu juga bahaya eksternal yang akan segera terjadi. Nampak seakan-akan sebuah perang besar sedang nampak mengancam. Dunia mungkin tidak menyadari bahayanya, bahkan jelas-jelas tidak peduli tentang itu. Dalam kondisi semacam ini, ghulam-ghulam Masih Muhammadi perlu memainkan peran mereka dan berdoa sebanyak-banyaknya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk memenuhi tanggungjawab-tanggungjawab kita dan menyelamatkan dunia dari kehancuran!

Penerjemah: Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin; Editor: Mln. Dildaar Ahmad Dartono

Diterjemahkan dari Summary (Ikhtisar) Khotbah Jumat terjemahan dalam bahasa Inggris yang ada di website Jemaat Internasional.

Sumber: http://www.alislam.org/friday-sermon/2013-04-26.html#summary-tab