Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

09 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada khotbah Jumat sebelumnya, saya telah menyebutkan tujuan berpuasa dan Ramadhan sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala adalah untuk menciptakan Takwa dalam hati manusia dan dalam hal ini saya juga telah menyajikan kutipan-kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjelaskan tentang cara-cara meraih takwa dan bagaimana berjalan diatasnya. Beliau as secara rinci menambahkan penjelasan tema ini di berbagai kesempatan supaya pentingnya tema ini merasuk ke hati kita dan supaya ketakwaan itu memancar cemerlang dalam semua amal perbuatan dan akhlak kita. Sebab, tanpa ketakwaan, kita takkan dapat meraih jenis kebaikan apa pun yang menjadi penyebab ridha Allah. Seseorang mungkin dapat melakukan beberapa kebaikan sementara yang didorong oleh semangat dalam waktu terbatas namun kontinyuitas dalam melakukan kebaikan itu memerlukan adanya ketakwaan hakiki.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa untuk menjadi seorang Muttaqi, tidaklah cukup dengan hanya saja beribadah kepada Tuhan atau memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap-Nya. Malahan, seorang yang bertakwa adalah yang juga menerapkan akhlak-akhlak yang mulia dan mempunyai pengaruh positif pada orang lain lewat kesalehan dan ketakwaannya. Beliau as menjelaskan di suatu kesempatan, “Akhlak adalah tanda keadaan seseorang yang saleh.” Lalu beliau bersabda, “Sudah seharusnya menjadi tujuan kehidupan orang beriman untuk menampakkan keindahan ajaran Islam. Hal ini tidak mungkin tanpa menapaki jalan ketakwaan dan memperlihatkan keteladanan akhlak luhur.”

Kemudian, beliau as menjelaskan bagian-bagian dari Taqwa, “Ketakwaan mempunyai banyak bagian, contohnya menahan diri dari kesombongan, egoisme, menonjolkan diri sendiri dan perilaku buruk serta menahan diri dalam meraih harta lewat cara-cara terlarang adalah juga bentuk ketakwaan dan kesalehan. Seseorang yang menampilkan perilaku dan tindakan baik pada akhirnya menarik lawan-lawannya menjadi teman-temannya.

Diserukan oleh Allah Ta’ala, ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ‘Tolaklah dengan cara yang sebaik-baiknya’. (Artinya, hal pertama dalam ketakwaan ialah menjauhi keburukan-keburukan. Lalu, memperlihatkan akhlak-akhlak baik yang dapat merubah musuh menjadi bersahabat) Kini renungkanlah! Apa yang diajarkan oleh petunjuk ini? Allah bertujuan dengan petunjuk ini jika ada penentang yang melontarkan caci-maki supaya kita tidak membalas. Kita bersabar sehingga dampaknya si pencaci akan memandang keistimewaan kalian, memikirkan kembali tindakan buruknya, merasa malu, menyesal dan bersalah karenanya. Hukuman ini jauh lebih menyakitkan daripada tindak balas dendam yang dilakukan pada saat yang sama. Sebuah hal yang memungkinkan bahwa orang yang memusuhi orang lainnya dapat mengarah untuk melakukan sebuah dosa penumpahan darah (pembunuhan). Namun hal ini bukanlah perintah (tuntutan) kemanusiaan dan ketakwaan. Melainkan, perbuatan baik mempunyai kualitas yang sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah mengesankan orang lain yang bahkan amat sangat menyakiti (merugikan) sekalipun. Iya, alangkah halusnya sebuah bait syair bahasa Persia yang menyebutkan, “Berlaku baiklah. Dengan perlakuan yang baik seorang asing pun akan berubah menjadi teman nan setia.”[1]

Inilah hal mendasar yang harus kita pedomani senantiasa yaitu menjadikan semua amal perbuatan kita tunduk pada ketakwaan dan memperlihatkan akhlak yang baik. Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan makna akhlak, sasarannya, manifestasinya dan tujuannya serta siapa teladan akhlak tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hal pertama, seseorang hendaknya tidak berpemahaman bahwa makna akhlak – yang menjadikan manusia sebagai manusia – adalah hanya dengan memperlakukan orang lain secara santun. Tidak demikian! Melainkan ada dua kata, yaitu al-khalq (bentuk jasmani) dan al-khulq (corak akhlak). Keduanya punya arti yang berlawanan. Al-khalq artinya bentuk jasmani. Telinga, hidung, rambut, dan anggota tubuh yang lain termasuk al-khalq. Sementara al-khulq adalah yang berhubungan dengan batin dan mencakup semua kekuatan batiniah berupa akal, pemikiran dan selainnya yang membedakan antara manusia dan hewan. Dengan al-khulq, seorang insane (manusia) memperbaiki dirinya kemanusiaannya. Tanpa adanya kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh manusia tentu akan muncul pertanyaan mengenai apakah mereka itu manusia ataukah keledai atau yang lainnya. (artinya, jika manusia tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya yang dibebankan atasnya maka pasti pandangan itu muncul) Jika al-khulq seorang insane itu rusak dia tidak pantas disebut insan karena ia hanya sebatas corak wujud lahiriah saja.

(Artinya, secara lahiriah disebut manusia namun kosong dari akal sehat yang membedakannya sebagai manusia) Karena itu, tujuan akhlak adalah mencari ridha Allah. Dan apa yang dimaksud dengan ‘mencari ridha Allah?’ Itu ialah apa yang dipersonifikasikan dalam amalan kehidupan oleh Hadhrat Rasulullah saw.” (Apa itu akhlak? Yaitu apa yang dikehendaki oleh Allah. Dan apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala? Yaitu kita menegakkan keteladanan Rasulullah saw dalam setiap aspek.) Untuk itu, suatu keharusan bagi seseorang agar berusaha membentuk hidupnya sesuai dengan teladan Rasulullah saw. Akhlak-akhlak ini adalah seperti fondasi (dasar bangunan). Jika fondasinya tidak stabil, maka sebuah bangunan tidak dapat dibangun di atasnya. Akhlak adalah seperti menyusun batu batu di atas batu bata lainnya. Jika sebuah batu batu disusun tidak dalam satu garis susunan [tidak lurus], maka keseluruhan dinding menjadi tidak tersusun rapi [miring]. Jika tukang bangunan meletakkan batu bata pertama di bagian terbawah secara miring maka itu akan tetap miring meski andai itu sampai ke bintang Tsurayya tingginya.”[2]

Lalu, beliau as bersabda, “Kita harus mendengarkan hal-hal ini dengan perhatian. Saya telah mempelajari situasi banyak orang dengan studi yang cermat, beberapa dari mereka bermurah hati (yaitu orang-orang memberikan uang dengan murah hati), tapi terinfeksi mudah gugup dan mudah tersinggung, (yaitu marah) dan beberapa dari mereka yang rendah hati santun tapi juga kikir; beberapa dari mereka mudah marah bahkan melukai terhadap lawannya dengan pukulan keras memakai tongkatnya, tetapi tidak ada sedikitpun kesopanan dan merendah-rendahkan diri, dan beberapa dari mereka sangat rendah hati tetapi tidak ada jejak keberanian dalam dirinya .”

Artinya, sebagian mereka gemar dalam kemarahan dan tetap tidak rendah hati. Sebagian orang lainnya memperlihatkan kerendahan hati tapi tidak menunjukkan keberanian di kesempatan yang harus memperlihatkan keberanian. Lebih lanjut lagi, berkaitan dengan kualitas kualitas moral dan akhlak Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Berkaitan dengan keagungan Rasulullah saw, Allah Ta’ala telah berfirman: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ‘Dan engkau sesungguhnya memiliki akhlak-akhlak yang utama.’ (Surah al-Qalam; 5) (Artinya, Allah Ta’ala mengajukan contoh Rasulullah saw sebagai tidak ada tandingannya di tiap bidang kehidupan yang setiap orang beriman wajib mengamalkannya sesuai kemampuannya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang Nabi Muhammad saw)

Saat beliau berpidato, itu membuat para pendengar seperti ada burung di kepala mereka karena terpesona kefasihan dan gaya bahasa beliau, dan di lain waktu beliau memperlihatkan keberanian beliau di medan perang di bawah dentingan pedang dan lontaran anak panah. Kemurahan hati beliau bagaikan memberikan gunung-gunung emas kepada manusia. Kebaikan hati beliau memaafkan mereka yang sewajarnya sudah pantas dihukum mati. Pendeknya, Rasulullah saw tidak ada tandingannya dan sebuah contoh sempurna moral-moral yang baik yang telah Allah Ta’ala persembahkan bagi kita.

Beliau bagaikan sebuah pohon besar yang di bawahnya umat manusia duduk menikmati keteduhannya dan sekaligus memenuhi bermacam-macam keperluan mereka. Mereka mengambil manfaat dari buahnya, bunga dan kulit semuanya.

Orang yang paling berani di medan perang adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw., sebab beliau biasa berada di titik paling berbahaya. [3] Maha Suci Tuhan, betapa agungnya beliau saw.

Pada waktu yang lain beliau memiliki begitu banyak kambing dan domba sehingga melebihi jumlah yang dimiliki Kaisar (raja Romawi) dan Kisra (raja Persia). Rasulullah saw memberikan semua kambing dan domba itu kepada beberapa orang yang memintanya. (Inilah akhlak agung beliau) Pikirkanlah! Jika beliau saw bukan pemilik sesuatu, bagaimana mungkin beliau memberinya?

Jika beliau tidak dianugerahi kekuasaan dan pemerintahan, dimanakah dalil [keagungan beliau saw] bahwa beliau saw [saat penaklukan kota Makkah] memaafkan sebagian orang Makkah yang sewajarnya dihukum mati sementara beliau saw berkuasa atas mereka? Mereka itulah orang-orang yang dahulunya telah menyakiti dengan siksaan keras terhadap Rasulullah saw dan pengikut-pengikut beliau, laki-laki dan perempuan. Namun, ketika beliau bertemu mereka saat Fatah Mekkah, beliau berkata kepada mereka: لا تثريب عليكم اليوم ‘Lā tatsriba ‗alaikumul yawma’ (hari ini tidak ada celaan atas kalian), yakni ‘Aku memaafkan kalian.’ Jika kesempatan itu tidak muncul, bagaimana mungkin Rasulullah saw memperlihatkan tingkat moral yang sempurna seperti ini.

Silakan sebut satu saja sifat moral yang tidak ada pada Hadhrat Rasulullah saw. Bukan hanya itu, terhimpun dalam diri beliau setiap akhlak baik dalam corak paling sempurna dan paripurna. Inilah keteladanan sempurna yang Allah Ta’ala perintahkan untuk mendirikannya dengan segenap usaha dan kemampuan kita. Namun, suatu kepastian untuk bermujahadah dan berusaha tanpa henti untuk mendirikan keteladanan beliau tersebut dan tidak cukup hanya berkata-kata bagaimana kita dapat memunculkan keteladanan ini? Maka dari itu, ketahuilah bahwa keteladanan Nabi Muhammad saw telah mencapai puncak keelokan dan kesempurnaan dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mendirikan itu dan menjelaskannya. Selama Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk itu maka ini menuntut kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam hal ini, “Kabut yang menutupi hati manusia takkan terhapus selama ia tidak berjuang dengan sungguh-sungguh dan berdoa (Artinya, kekerasan dan kegelapan yang timbul di hati takkan dapat dihilangkan selama seseorang tidak berjuang dengan sungguh-sungguh dan berdoa yang berjalan beriringan. Maka dari itu, berjuang dengan sungguh-sungguh dan berdoa keduanya amat penting.) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’ (Ar-Ra‘d, 12). Itu artinya, Allah tidak akan menjauhkan segala macam musibah dan bencana dari suatu kaum, selama kaum itu sendiri tidak berusaha untuk menjauhkannya. Jangan putus asa. Jika kalian tidak meninggikan tekad dan berupaya dengan gigih (sungguh-sungguh) untuk itu maka bagaimana mungkin dapat terjadi perubahan? Ini adalah Sunnah (kebiasaan) Allah Ta‟ala yang tidak pernah berubah, sebagaimana difirmankan, فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ  (“kamu sekali-kali tidak akan pernah akan menemukan perubahan dalam sunnatullah” – AlFath, 24). . Jadi, sama saja baik itu Jemaat saya maupun pihak lain, mereka dapat melakukan perubahan akhlak apabila melakukan mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) dan memanfaatkan doa. Jika tidak, maka tidak akan mungkin.”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Sampai seseorang berjuang dan berusaha serta berdoa, maka kesulitan dan penderitaan yang menimpa hatinya tidak dapat disingkirkan.”…

Para Hukama (orang-orang bijak, ahli filsafat) mempunyai dua aliran pemikiran berkaitan dengan kemungkinan reformasi (perbaikan) akhlak. Ada mereka yang percaya manusia dapat mengalami reformasi akhlak dan ada juga yang percaya manusia tidak berkemampuan mengubah akhlaknya. Pada kenyataannya, akhlak dapat diubah dengan syarat seseorang menghapuskan kemalasan dan keterlenaan, dan memang berusaha dan berjuang untuk melakukannya.” Jangan menunjukkan keterlenaan, malah, berjuang dan berusahalah, dan sebagai hasilnya, akhlak dan moral dapat dirubah dan direformasi.

Hadhrat Masih Mau;ud as bersabda: “Pada poin ini, saya diingatkan sebuah cerita sebagai berikut: Konon, suatu ketika ada orang yang datang menemui Filsuf Yunani yang terkenal yaitu Plato [bahasa Arabnya, Aflatun] dan meminta izin memasuki pintu (rumahnya). Kebiasaan Plato ialah tidak mengizinkan para tamu untuk masuk sampai ia mempelajari penampilan dan bentuk wajah tamunya. Ia tidak mengizinkan mereka memasuki rumahnya sampai ia mempelajari wajah dan penampilan mereka. Ia akan membentuk sebuah opini berkaitan dengan orang yang digambarkan berdasarkan penampilannya.

Seperti biasanya, pelayannya datang kepada Plato dan menggambarkan penampilan tamunya. Plato berujar, ‘Katakan pada tamu tersebut bahwa karena ia adalah orang dengan banyak akhlak dan morak yang buruk, maka saya tidak ingin bertemu dengannya.’

Ketika tamu ini mendengar respon ini dari Plato, ia mengatakan pada pelayan tersebut, ‘Temui dan katakan pada Plato bahwa yang Plato katakan itu adalah benar. Namun saya telah menghapus kebiasaan-kebiasaan buruk dari diri saya dan telah membuat perubahan baik.’ Berkaitan dengan ini, Plato berkata bahwa sesungguhnya hal ini memang mungkin terjadi. Kemudian, ia mengundang tamunya masuk dan bertemu dengannya dengan rasa hormat yang tertinggi. Para filsuf yang percaya bahwa akhlak dan moral tidak dapat dirubah atau direformasi adalah salah. Kami melihat para karyawan melakukan penyuapan namun mereka bertobat secara tulus yang jika dipamerkan segunung emas di hadapan mereka, tentu mereka takkan tertarik.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengarahkan perhatian pada perbaikan diri akhlak dan menyampaikan perumpamaan dalam hal ini, “Sebagaimana pada diri manusia ada masa kelemahan jasmaninya (Yaitu mengarah perlahan-lahan kearah kelemahan dalam jasmaninya yang dinamai dengan penuaan) sehingga matanya tidak berfungsi baik dan begitu juga telinganya. Semua bagian tubuhnya mulai tidak bekerja dengan baik. Ketahuilah! Penuaan itu ada dua jenis, alami dan tidak alami. Penuaan alami ialah yang telah disebut tadi. Sementara itu penuaan jenis kedua ialah jika seseorang tidak menaruh perhatian pada penyakit-penyakit yang menimpanya lalu ia menderita kelemahan dan menjadikannya tua segera sebelum waktunya.”

Beliau as melanjutkan, “Nizham (sistem) batin secara ruhaniah mempunyai persamaan dengan sistem jasmani secara lahiriah (yaitu ada dua jenis penuaan dalam system lahiriah begitu pula ada dua jenis penuaan dalam system batin dan keruhanian pula) jika seseorang tidak mengusahakan mengubah akhlak buruknya menjadi akhlak terpuji dan sifat baik maka ia tengah merusak khulqnya secara keseluruhan. Telah terbukti dari sabda Nabi Muhammad saw dan juga ajaran-ajaran Al-Qur’an secara jelas bahwa tiap penyakit itu ada obatnya. Namun, jika kemalasan dan kelalaian lebih dominan maka tidak ada jalan keluar dari kehancuran. Jika ia hidup acuh tak acuh sebagai hidup orang lanjut usia, bagaimana takut akan konsekuensi dari perilakunya?”

Berkaitan dengan Allah Ta’ala telah menyediakan bulan ini sebagai sarana menghilangkan kemalasan. Maka dari itu, setiap dari kita harus perhatian pada perbaikan akhlak kita sebagaimana harus berusaha sungguh-sungguh untuk menjauhi kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa juga. Jika hal itu tidak dilakukan meskipun terdapat dalam situasi-situasi yang tepat. Atas hal itu, tetap saja ia akan menjadi tua yang mana akan menghabiskan kehidupannya sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud. Dalam keadaan ini jika seseorang merasa di hadapan Allah maka ia akan merendahkan ketakwaannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengarahkan perhatian pada perbaikan diri dengan akhlak fadhilah, “Pada dasarnya taubat adalah sesuatu yang sangat efektif dan memotivasi untuk dapat meraih akhlak utama.” (Artinya, jika Anda ingin memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta ingin mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala, maka hanya taubatlah yang akan berguna untuk meraihnya. Maksud taubat bukan hanya dimaafkan dari dosa-dosa melainkan jika Anda ingin jalan-jalan pada perjalanan takwa nan luhur maka mau tak mau harus taubat yang murni. Beliau as bersabda) “Dan taubat ini membuat insan menjadi sempurna. Artinya, siapa yang ingin merubah akhlak buruknya, penting baginya untuk bertaubat dengan kesungguhan hati dan tekad yang kuat. Ingatlah juga bahwa taubat memiliki tiga syarat. Tanpa menyempurnakan syarat-syarat itu, taubat yang hakiki – yang disebut taubat al-nasuuha – tidak bisa diraih.

Dari ketiga syarat itu yang pertama disebut dengan istilah iqlaa’ dalam bahasa Arab. Artinya, menjauhkan pikiran-pikiran dan khayalan-khayalan kotor yang mendorong untuk melakukan sifat-sifat buruk. (yaitu kebiasaan-kebiasaan buruk, pikiran-pikiran kotor dan akhlak buruk). Pada dasarnya khayalan-khayalan memberikan pengaruh kuat, karena sebelum terwujud dalam bentuk perbuatan, setiap perbuatan didahului oleh bentuk khayalan terlebih dahulu. (Artinya, tiap kali seseorang memikirkan sesuatu, pemikirannya itu berpengaruh terhadap tabiatnya secara kuat) Karena itu, syarat pertama untuk melakukan taubat adalah hendaknya meninggalkan pikiran-pikiran buruk dan khayalan-khayalan kotor tersebut.

Misalnya, jika seseorang menjalin hubungan tidak syar’i (terlarang) dengan seorang wanita, maka, untuk bertaubat, hal pertama yang harus ia lakukan ialah menganggap buruk rupa fisik wanita itu dan mengingat di benaknya sifat-sifatnya yang buruk dan keji. Karena sebagaimana yang baru saja saya jelaskan, khayalan-khayalan dan pemikiran-pemikiran itu amat kuat pengaruhnya. Saya telah membaca kisah-kisah para sufi yang mana mereka telah sampai pada suatu keadaan melihat manusia itu dalam bentuk monyet atau babi. Singkatnya, apa yang digambarkan seseorang dalam pikirannya, maka seperti itu pulalah corak yang akan muncul dalam bentuk amal perbuatan. Jadi, seserorang hendaknya menghapuskan khayalan-khayalan buruk dari pikirannya yang mana menyebabkan kelezatan-kelezatan terlarang dan hal itu akan merusak dirinya. Ini adalah syarat yang pertama. (Yaitu, menghapuskan pikiran keji dan kotor)

Syarat yang kedua adalah penyesalan, yakni merasa malu dan menyesal. Setiap manusia di dalam dirinya memiliki suatu potensi yang memperingatkan dia akan setiap keburukan, namun orang-orang yang malang malah meninggalkan potensi ini sebagai hal yang sia-sia dan tidak berguna. (Artinya, ia tidak menggunakan kekuatan yang telah Allah Ta’ala tempatkan itu) Jadi nyatakanlah penyesalan atas perbuatan dosa dan keburukan yang dilakukan, serta pahamilah itu hanya sebagai kelezatan sementara (maksudnya, itu tiada lain kecuali kenikmatan duniawi fana yang hanya bertahan beberapa hari saja) Kemudian juga renungkanlah, memang kelezatan dan kesenangan itu berkurang setiap saat perlahan-lahan hingga di usia yang sudah renta ketika kekuatan dan tenaga telah menjadi lemah dan berkurang, ia tinggalkan semua itu. Ketika pada akhirnya semua kelezatan itu sirna di masa kehidupannya ini juga, lalu apa faedah yang dia dapat dengan melakukan semua keburukan itu? Sungguh sangat beruntung manusia yang kembali menuju taubat dan di dalam dirinya timbul iqlaa’, yakni menghapuskan pikiran-pikiran kotor dan khayalan-khayalan sia-sia. Ketika kotoran dan kenajisan ini telah ia bersihkan, maka akan timbul penyesalan dan rasa malu terhadap apa yang telah ia lakukan di masa sebelumnya.

Syarat yang ketiga adalah tekad, yakni seseorang membulatkan tekad di masa yang akan datang tidak akan kembali melakukan keburukan-keburukan. Ketika hal ini dia lakukan secara berkesinambungan, Allah Ta’ala akan menganugerahkannya taufik untuk bertaubat hakiki sehingga semua keburukan itu benar-benar hilang dari dalam dirinya, lalu akhlak baik nan terpuji akan menggantikannya, inilah kemenangan akhlak. Menganugerahkan taufiq (kesempatan, kemampuan dan kekuatan) adalah wewenang Allah Ta’ala, karena Dia-lah Pemilik segala kekuatan dan kemampuan sebagaimana Dia berfirman, اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا ۙ “…seluruh kekuatan hanyalah milik Allah.” (Al-Baqarah, 2 : 166) dan manusia adalah makhluk yang lemah dan akikatnya ialah (خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا) ‘Khuliqal insaanu dha’iifaa.’ “manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (Al-Nisa: 29) Walhasil, ketiga syarat tadi harus disempurnakan oleh setiap orang yang ia gunakan demi mendapatkan pertolongan kekuatan dari Allah Ta’ala dan membersihkan diri dari kemalasan dan kelalaian, disertai dengan berdoa kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan mengadakan perubahan pada akhlaknya.[5]

(Lalu, beliau as menyerupakan mereka yang berusaha keras untuk meninggalkan moral yang buruk dan yang benar-benar meninggalkannya dengan pahlawan berani 🙂

Sesungguhnya Jemaat kita tidak memerlukan pahlawan gagah berani, tetapi memerlukan orang-orang yang berusaha untuk meningkatkan moral mereka. (Kami tidak perlu pahlawan, tapi kita ingin mereka berusaha keras demi perubahan akhlak) pahlawan yang kuat bukanlah yang mampu memindahkan gunung dari tempatnya, (yaitu, orang kuat bukanlah yang menghapus gunung dari tempatnya), tapi orang kuat dan berani ialah yang mampu meningkatkan moralnya. Kalian harus mengerahkan tekad dan semua kekuatan kalian untuk mempertinggi akhlak, ini adalah kekuatan dan keberanian sejati.”

Lalu, beliau as bersabda, ”Tetapi kondisi akhlak merupakan suatu keramat, yang tidak dapat diprotes oleh siapa pun. Itulah sebabnya kepada Nabi kita Rasulullah saw, mukjizat terbesar dan terkuat yang telah diberikan adalah akhlak. Sebagaimana difirmankan: إِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ‘Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak/berbudi pekerti yang agung’ (Al-Qalām, 5). Dalam segi kekuatan serta bukti, segala mukjizat Rasulullah saw melampaui seluruh mukjizat para nabi lainnya. Akan tetapi mukjizat akhlaki beliau adalah yang paling unggul, dan sejarah dunia tidak dapat mengungkapkan serta memaparkan tandingannya.”[6]

 Dalam pandangan saya, orang yang menyingkirkan perilaku buruk, meninggalkan kebiasaannya tercela dan bukannya memoles dengan itu malahan memiliki kualitas yang baik, (yaitu, meninggalkan perbuatan jahat dan mengerjakan perbuatan baik) maka itu ialah karamah untuknya. Misalnya, jika seseorang meninggalkan kekasaran dan keras hati dan menerapkan kesantunan dan pengampunan, atau meninggalkan sifat kikir dan melatih kemurahan hati, atau menyingkirkan kecemburuan dan menciptakan akhlak simpati, atau menahan diri dari sifat keakuan yang bangga dengan kemegahan dan kesombongan lalu menerapkan kerendahan hati dan merendahkan diri, tidak ada keraguan bahwa ini ialah karamah dari setiap orang dari mereka. Siapakah dari antara kalian yang tidak ingin menjadi orang-orang yang memiliki karamah-karamah? Saya tahu bahwa kalian masing-masing menginginkannya. Mereformasi moral seseorang merupakan martabat yang hidup dan kekal yang dampaknya tidak akan pernah pergi, tapi tetap langgeng manfaatnya.

Orang beriman harus menjadi pemilik martabat khalq dan khulq. (yaitu, menjadi orang-orang yang ahli karamah (bermartabat) di hadapan Allah dan di hadapan para makhluk-Nya, melalui perubahan suci dalam dirinya, dan melalui penerapan rendah hati, kemurahan hati dan simpati, dan meninggalkan kebanggaan dan iri hati. Hendaknya ia menciptakan dalam dirinya keindahan ini dan meninggalkan keburukan maka tidak ada keraguan bahwa perbuatan yang dilakukan ini akan beralih ke martabat karamah di hadapan Tuhan dan makhluk-Nya)

Beliau as bersabda, “Berapa banyak mereka terlibat dalam kesenangan duniawi dan kenikmatannya, kami melihat mereka tidak yakin atas setiap tanda ajaib, tapi ia menjadi tunduk menerima pada saat melihat keadaan moralitas yang membuatnya tidak menemukan pilihan selain mengakui kebenaran. Anda akan membaca di banyak Sawaneh (biografi) banyak orang yang tidak percaya pada agama yang benar, tetapi dengan melihat martabat moralitas, mereka menjadi percaya.”

Sementara Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan pidato ini di salah satu majelis di masjid seperti biasa, datang beberapa orang Sikh dalam pakaian pertapa sambil mabuk. Penukil kisah ini menulis bahwa mereka berbicara kata-kata yang bermasalah dan mengganggu majelis ini yang mirip majlis-majlis surge itu. Tapi Imam kita  ‘alaihis salaam saya lihat mengamalkan karamah al-khulqiyah (martabat moral agung) yang ia baru bicarakan. Hal itu meninggalkan tanda agung sehingga sebagian besar mereka bahkan menangis secara menyolok karena antusiasme yang berlebihan. Sementara itu, para pemabuk yang bandel itu akhirnya diikat oleh polisi yang memukuli mereka. Itu dilakukan agar kemabukan mereka hilang.”

Lantas, beliau as menjelaskan mengenai sebab-sebab keimanan, “Orang-orang fasik yang sejak awalnya memusuhi para Nabi, dan mereka yang terus saja berkeberatan dengan Nabi kita, Muhammad saw, takkan beriman karena mukjizat-mukjizat. Bahkan, mukjizat-mukjizat dan hal-hal aneh takkan membuat mereka merasa cukup. Sesungguhnya mereka merasa cukup tentram dengan kebenaran beliau saw dengan menyaksikan akhlak-akhlak mulia beliau saw. Mukjizat bersifat akhlak bekerja jika mukjizat iqtidaariyah (bersifat kekuasaan, kekuatan) tidak dijalankan. Inilah makna perkataan terkenal الاستقامة فوق الكرامة. Al-istiqaamatu fauqal karaamah (keteguhan dalam akhlak itu lebih tinggi dari pada karamah). Kalian bisa membuktikan dalam pengalaman kalian bagaimana keteguhan hati itu memperlihatkan keajaiban-keajaiban. Ada pun karamah tidak dipedulikan dalam tingkat ini terutama di masa sekarang ini. Jika seseorang berakhlak mulia maka orang-orang berjumlah banyak akan berkumpul di sekelilingnya.

Hendaklah mereka ingat, bahwa jika ada orang yang melakukan kekerasan terhadap mereka maka sebisa mungkin berikanlah jawaban dengan kelembutan dan kehalusan. Tidak perlu melakukan kekerasan dan pemaksaan untuk membalas dendam. Sesungguhnya akhlak terpuji itu bahkan mempengaruhi mereka yang tidak menemukan, tidak puas dan tidak yakin akan melihat jenis-jenis mukjizat. Faktanya, beberapa orang percaya dapat melihat keajaiban dan mukjizat, dan beberapa dari mereka percaya dapat melihat berbagai jenis fakta dan pengetahuan, tetapi kebanyakan orang dibimbing dan diyakinkan dengan menyaksikan  moralitas yang luhur dan perhatian kepada mereka.”

(Banyak orang yang masuk Ahmadiyah saat ini juga dipengaruhi oleh akhlak mulia banyak Ahmadi. Semua Ahmadi harus memperhitungkan hal ini. Memperelok diri dengan moralitas tidak hanya menambah ketakwaan, bahkan itu adalah kewajiban agama dan juga sarana untuk reformasi bagi orang-orang lain. Atas hal itu, setiap Ahmadi harus melihat moralnya sendiri dan peduli tentang itu)

Apa itu jalan keimanan? Beliau as menjelaskan: “Mengharapkan ishlah (perbaikan) dari Allah Ta’ala dan mempergunakan kemampuan [untuk perbaikan itu] merupakan jalan keimanan. (Artinya, seseorang hendaknya berusaha bersungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah demi perbaikan dirinya. Inilah jalan yang tepat sasaran untuk meraih iman.)

Tertera dalam hadits syarif bahwa orang yang mengangkat tangannya untuk berdoa dengan penuh keyakinan, Allah Ta’ala tidak akan menolak doanya.[7] Karena itu memohonlah kepada Allah Ta’ala, mohonlah dengan keyakinan dan niat yang benar.

Selanjutnya, sabda beliau as, “Tunjukanlah akhlak yang baik dan tunjukanlah karamah (keajaiban) kalian. Jika ada yang mengatakan tidak ingin menjadi ahli karamah (keramat/mulia) maka ingatlah bahwa syaithan telah menipunya. Karamah bukanlah maksudnya seseorang ditimpa perasaan membanggakan diri dan sombong. Melainkan, dengan karamah, orang-orang terbantu untuk mengetahui kebenaran dan hakikat agama Islam dan mendapatkan hidayah (petunjuk).

Saya katakan sekali lagi, membanggakan diri dan sombong tidaklah termasuk ke dalam karamah akhlak. Ini adalah keragu-raguan yang dibisikkan oleh syaithan. Lihatlah, jutaan umat Islam yang tinggal di berbagai bagian dunia, apakah mereka menjadi Islam karena tajamnya pedang dan pemaksaan? Tidak, ini sangat keliru. Pengaruh dari karamah Islam itulah yang telah menarik mereka. Karamah terdiri dari berbagai macam dan jenis. Salah satu di antaranya adalah karamah akhlak, yang berhasil di setiap bidang. Mereka yang telah Islam adalah semata-mata karena menyaksikan karamah orang-orang saleh dan mendapat pengaruh takjub dari itu. Mereka melihat Islam dengan pandangan agung, bukan karena melihat pedang. Para peneliti besar Inggris telah mengakui hal ini, bahwa ruh Islam yang kuatlah yang membuat orang-orang dari berbagai bangsa tidak punya pilihan lain kecuali masuk Islam.”[8]

Lantas, sembari menjelaskan konsep bahwa akhlak juga termasuk rezeki. Perilaku berakhlak termasuk membelanjakan rezeki yang diberikan Allah Ta’ala. Itu termasuk bagian amal perbuatan ketakwaan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Biasanya orang-orang menganggap rezeki sebagai hal-hal yang dapat dimakan dan diminum. Ini tidaklah benar. Sebab, apa-apa yang dianugerahkan kepada manusia demi pembangunan potensinya juga ialah rezeki. Ilmu-ilmu, ketrampilan (teknik, teknologi), ma’rifat dan haqiqat yang dianugerahkan kepada manusia; juga sarana-sarana penghidupan, harta kekayaan dan kemakmuran semuanya ialah rezeki. Kedaulatan (kekuasaan, pemerintahan) juga ialah rezeki. Demikian pula, memiliki akhlak baik semuanya juga terhitung sebagai rezeki. Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini, ومما رزقناهم ينفقون ‘Dan mereka menginfakkan sebagian yang direzekikan atas mereka.’ Hal ini berarti mereka menginfakkan makanan jika punya makanan, ilmu jika berilmu, dan akhlak. Membelanjakan ilmu artinya menasehati hal-hal baik. Pelit (kedekut, bakhil) artinya bukan hanya tidak memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang memerlukan melainkan orang yang menolak mengajari orang-orang dengan ilmu yang dikaruniakan Allah kepadanya juga termasuk pelit. (Sifat dan perilaku pelit (kikir) terdiri dari banyak macam. Setiap orang yang tidak memberikan manfaat kepada umat manusia dengan apa-apa yang ada padanya berupa kemampuan dan harta maka itu termasuk kikir.)

Tidak menyampaikan ilmu pengetahuan kepada orang lain dengan alasan jika ia melakukannya, maka ia akan dianggap sepele [kewibawaannya berkurang]; atau ia mungkin tidak akan mendapat bayaran sebesar kalau hanya ia yang mengetahui pengetahuan tersebut – merupakan suatu perbuatan syirk (penyembahan berhala). Sebab, dalam keadaan demikian, ia memandang ilmunya atau ketrampilannya itulah yang memberikan rezeki kepadanya dan ia menganggap itu sebagai sesembahannya.”

“Demikian pula, tidak menginfakkan kebaikan akhlaknya juga termasuk kekikiran. Arti seseorang menginfakkan akhlaknya ialah memperlakukan makhluk Allah dengan akhlak mulia yang mana Allah Ta’ala telah karuniakan kepadanya dengan karunia-Nya semata.” (Artinya, seseorang harus menyediakan dalam dirinya akhlak yang baik terlebih dahulu lalu memperlakukan orang-orang dengan akhlak tersebut. Inilah dia menginfakkan rezeki akhlak yang telah Allah Ta’ala karuniakan atasnya.) “Dengan melihat keteladanannya, orang-orang tertarik untuk berlaku dengan akhlak tersebut.” (artinya, jika seseorang menyajikan keteladanan akhlaknya yang baik maka orang-orang akan berusaha berakhlak dengan akhlak baiknya itu.)

“Akhlak baik tidak hanya berarti berujar dengan nada lembut dan berbahasa yang sopan. Melainkan, semua potensi (kemampuan) sifat-sifat yang Allah Ta’ala anugerahkan seperti keberanian, kehormatan, kesucian dan kekuatan-kekuatan akhlak lainnya serta menggunakan kekuatan-kekuatan akhlak ini pada waktu yang tepat membuatnya bagian dari akhlak baik seseorang.

Seraya menasihati anggota-anggota Jemaat untuk menerapkan akhlak luhur dan menciptakan perubahan suci, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda sebagai berikut: “Sesungguhnya orang yang memperlihatkan pada tetangganya perubahan pada akhlaknya dan menjadi manusia yang berbeda sepenuhnya, seolah-olah ia memperlihatkan Karamah (kekeramatan). Mereka akan meninggalkan kesan mendalam (berpengaruh baik) selamanya di benak tetangganya.

Ada kritikan kepada Jemaat saya bahwa para anggota Jemaat selama ini masih terlibat dalam kebohongan, mengada-ada, berprasangka buruk dan amarah. Apakah perkataan mereka itu tidak menimbulkan rasa malu bagi anggota Jemaat saya hal mana mereka bergabung dengan Jemaat ini seraya berpikiran Jemaat ini adalah Jemaat orang-orang saleh.

Permisalannya, seorang putra yang baik, saleh dan bertakwa akan mengharumkan nama ayahnya dengan semua kebaikannya. Sebab, seorang yang berbaiat laksana seorang putra. Sebagaimana para istri nan suci Hadhrat Rasulullah saw dikenal sebagai أمهات المؤمنين ummahaatul Mu’miniin (Para ibu orang-orang beriman, bentuk tunggalnya Ummul Mu’miniin). Itu artinya Hadhrat Rasulullah juga sebagai Ayah (bapak) bagi umumnya orang-orang beriman. Seorang ayah jasmani memang secara fisik menyebabkan seorang anak lahir ke dunia, namun Ayah ruhani menyebabkan seseorang terangkat menuju surga dan membimbingnya kepada maqam (kedudukan) yang hakiki.”

Beliau as melanjutkan, “Apakah ada orang yang menginginkan seorang putra yang menyebabkan ayahnya terkenal dengan nama buruk? Yaitu yang mana putra tersebut biasa mengunjungi para wanita yang berperilaku buruk dan tak bermoral. Ia bermain judi. Ia juga meminum minuman keras atau melakukan tindakan-tindakan memalukan yang menyebabkan aib bagi ayahnya?

Saya tahu tidak ada seorangpun yang menginginkan hal ini. Namun, ketika sang putra yang buruk melakukan keburukan-keburukan ini, maka pasti gunjingan orang tidak dapat dihentikan. (Telunjuk mereka pasti diarahkan kepadanya) Mereka akan mengaitkan sang putra yang demikian dengan ayahnya dengan mengatakan, ‘Anak si Fulan telah berlaku begini dan begitu.’ Pada hakikatnya, si anak yang buruk tersebut menyebabkan nama buruk bagi ayahnya. Demikian juga ketika seseorang bergabung ke dalam Jemaat ini dan tidak memikirkan keagungan dan kehormatan Jemaat ini dan bertindak sebaliknya, maka ia akan ditindak dengan cengkeraman hukuman Tuhan. Sebab, ia tidak hanya menyebabkan keruntuhan dirinya sendiri, namun dengan memberikan contoh salah kepada orang-orang selain Jemaat, ia juga menjadikan mereka luput dari jalan dan bimbingan yang benar.”

Lantas, beliau as bersabda, “Maka dari itu, carilah pertolongan dari Tuhan Yang Maha Perkasa dengan segala kekuatan yang kalian miliki dan lenyapkanlah kelemahan kalian dengan segala kekuatan dan keberanian yang dikaruniakan kepada kalian. Ketika kalian merasa tidak berdaya, angkatlah tangan kalian untuk berdoa dengan ketulusan dan keyakinan. Sebab, tangan yang terangkat berdoa dengan kerendahan hati, merendahkan diri, penuh kejujuran dan keyakinan tidak akan kembali dengan hampa. Saya katakan berdasarkan pengalaman, ribuan doa saya telah dikabulkan dan terus dikabulkan.”

Beliau as bersabda, “Termasuk sebuah kepastian bahwa orang yang tidak menemukan dalam dirinya kasih sayang bagi sesama manusia maka ia berjiwa kikir. Dan, jika saya telah menemukan sebuah jalan kebaikan dan perbaikan, maka tugas saya untuk menyampaikannya lagi dan lagi kepada orang-orang. Saya tidak peduli apakah mereka akan mengamalkan seruan saya atau tidak.” [9]

Oleh sebab itu, setiap tindakan kita harus membuktikan bahwa dengan berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita telah membuat perubahan-perubahan akhlak bajik dalam diri kita hal mana itu dibuktikan dengan kesaksian orang-orang juga. Sebab, perubahan suci ini merupakan jalan untuk melakukan Tabligh.

Semoga Allah membuat kita bisa membuat perubahan perubahan bajik dalam diri kita sendiri dan menjadikan suri tauladan kesalehan Hadhrat Rasulullah saw sebagai pedoman kita seterusnya. Semoga kita terbentuk dalam akhlak yang luhur tiap saat. Semoga kita menghabiskan hidup kita dalam cara yang dikehendaki oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Setelah Sholat Jumat, saya akan memimpin dua shalat jenazah. Yang pertama adalah untuk Almarhum Tn. Lutf-ur-Rahman dari USA. Beliau adalah putra Tn. Mian Ata-ur-Rahman. Beliau wafat pada tanggal 27 Mei 2017. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau mengajar sains di Sekolah Taklimul Islam untuk waktu yang lama.

….

Kakek beliau adalah sahabat Hz. Masih Mau’ud as. Pada tahun 1894 nenek beliau awalnya tidak begitu yakin dengan Hz. Masih Mau’ud as. Berkenaan dengan nenek beliau Hz. Masih Mau’ud as melihat dalam mimpi bahwa perempuan itu tidak yakin sepenuhnya kepada beliau as. Beliau as bersabda: jika dia meyakini saya secara sempurna maka dia akan mendapat anak laki-laki. Hingga akhirnya beliau memiliki anak laki-laki dan Hz. Masih Mau’ud as menamainya Ataur Rahman. Yang mengajar cukup lama di Ta’limul Islam High School. Almarhum adalah orang yang rajin dalam shalat, sangat dawam dalam candah. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau. Aamiin

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi beliau ampunan dan menunjukkan pada beliau belas kasih sayang-Nya dengan meningkatkan derajat beliau. Semoga anak cucu keturunan beliau melanjutkan perbuatan-perbuatan bajik beliau.

Shalat jenazah kedua adalah untuk Almarhum Tn. Mirza Umar, putra Tn. Sahibzada Dr. Mirza Munawar Ahmad yang wafat pada tanggal 5 Juni pukul 2 siang di Tahir Heart Institure, Rabwah. Beliau wafat pada usia 67 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau berusia sama seperti saya dan merupakan teman masa kecil saya. Sebagai anak anak, kami biasa bermain bersama. Beliau memiliki kualitas dan sifat-sifat yang hebat. Semoga Allah meningkatkan derajat beliau, dan menganugerahi anak anak beliau kemampuan untuk meneruskan perbuatan baik beliau sambil tetap terlekat pada Khilafat. Aamiin.

Almarhum cicit Hz. Masih Mau’ud as. Beliau seumuran dengan saya, juga sepermainan dengan saya. Dari kecil saya melihat beliau memiliki akhlak yang sangat mulia. Begitu menghormati setiap orang. Beliau cucu dari Hz. Khalifah ke-2. Beliau dari awal senantiasa ingin mewakafkan diri. Ketika saya sudah menjadi Khalifah, saya mengabulkan waqafnya dan karena saya tahu kemampuan beliau maka saya tunjuk beliau menjadi Naib Sadr Umumi Rabwah (Wakil Ketua Jemaat). Alhamdulillah beliau mengemban tugas dengan sangat baik. Masalah-masalah yang sulit beliau selesaikan dengan sangat baik. Beliau sangat lembut dan penuh kasih sayang. Hubungan beliau dengan Khilafat adalah sebagai contoh. Beliau wafat karena penyakit kanker. Meskipun dalam keadaan lemah beliau terus masuk kantor. Tidak pernah perdulikan penyakitnya. Ketika dokter bilang bahwa penyakit beliau sangat berbahaya. Beliau katakan: tidak apa-apa, jika Allah berkehendak memberi umur maka akan diberi kalau tidakpun saya juga tidak terlalu perduli. Dokterpun heran, karena begitu luar biasa orang ini memiliki semangat. Sadr Umumi menulis: Beliau memiliki akhlak yang sangat baik. Apapun pekerjaan yang diberikan, selama belum dilaporkan beliau tidak pernah tenang. Tak terhingga banyaknya orang menulis surat tentang kebaikan beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Aamiin

[1] Pidato Jalsah Salanah 1897, h. 83. Malfuzat jilid 1, hal. 81, Edisi 1985, Terbitan UK

[2] Pidato Jalsah Salanah 1897, h. 151. Malfuzat jilid 1, hal. 151, Edisi 1985, Terbitan UK

[3] Shahih Muslim kitab jihad bab perang Hunain. Hadhrat Bara’ berkata, ‘Simaklah bagaimana keberanian Nabi saw ketika perang merebak. Pada waktu itu beliau saw berada di paling depan dan berperang dengan paling berani. Kami menjadikan beliau sebagai tameng dan perlindungan. Yang dianggap paling berani diantara kami adalah yang berperang di samping beliau saw.” [Dalam peperangan, panglima perang ialah tokoh terpenting sebuah pasukan. Pasukan lawan akan fokus untuk membuatnya terbunuh demi kehancuran formasi dan mental pasukannya. Nabi Muhammad saw sebagai panglima perang di sejumlah peperangan juga mengalami hal yang sama, yaitu membanjirnya serangan pasukan musuh.]

[4] (Malfuzat, jld. I, hlm. 137).

[5] Malfuzat, Jilid I, hal. 138-140, Edisi 1984, Cetakan London

[6] Malfuzat, jld. I, hlm. 141

[7] Sunan Ibni Majah, Kitab tentang doa. Dari Salman al Farisiy dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda, إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا – أَوْ قَالَ خَائِبَتَيْنِ ’Sesungguhnya Allah memiliki sifat Maha Pemalu Mahamulia, Ia akan teramat merasa malu apabila seseorang (berdoa) dengan mengangkat kedua tanganya lalu dikembalikan keduanya dalam keadaan hampa”.

[8] Malfuzat jilid awal, hal. 92, edisi 2003, terbitan Rabwah

[9] Malfuzhat, Vol. 1, hal 146 – 147, edisi 1985, UK. Lalu beliau as mengutip salah satu bait syair Persia

‘Ku ‘kan tetap menyeru dan memberi nasehat

Sama saja apakah mereka mendengarku ataukah tidak

(Visited 114 times, 4 visits today)