Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

05 Mei 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Terjemahan ayat ini ialah sebagai berikut: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang [turun lalu airnya menyuburkan tanah dan menumbuhkan tanaman.] tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Surah al-Hadid, 57:21)

Allah menarik perhatian kita dalam berbagai ayat dalam Al Quran, malahan Dia telah memperingatkan kita, bahwa kehidupan jasmani kita di dunia beserta segala kenyamanannya, kesenangan, kenikmatan dan segala perlengkapannya adalah sementara, dan hal-hal itu nilainya tidak lebih dari permainan dan pengisi waktu. Mereka yang tidak peduli kepada Allah Ta’ala dan tidak mengindahkan tujuan kehidupannya di dunia dapat cenderung terpancing dan terpikat terhadap hal-hal duniawi yang demikian.

Namun, seorang mukmin, yang memiliki tujuan mulia dan luhur (dan memang seharusnya demikian) bebas dari hal-hal demikian dan juga berpikir baik jauh melampaui hal-hal ini dan berusaha keras untuk mendapatkan tujuan-tujuan mulia dan kedekatan dengan Allah Ta’ala dan kecintaan-Nya. Kita yang menyatakan diri termasuk Jemaat Imam zaman ini, yang merupakan Al-Masih yang dijanjikan dan Al-Mahdi yang dtunggu sesuai Nubuatan Nabi Muhammad saw dan berbaiat kepada beliau as, harus menjadikan pemikiran kita itu sangat luhur. Kita yang menamakan diri Ahmadi dapat menjadi Ahmadi hakiki tatkala kita takkan menjadikan keinginan jasmani yang sementara saja dan kelezatannya sebagai tujuan kita. Melainkan, kita harus menjauhkan diri – dengan sekuat tenaga – dari setan yang bekerja di tiap tempat di dunia kontemporer ini yang penuh dengan kelezatan-kelezatan ini di tiap pemberhentiannya dan berusaha menarik tiap penduduk dunia ke arahnya.

Tujuan kita harus bukan untuk mendapatkan kekayaan materi dan manfaat dari kesenangan duniawi. Itu karena konsekuensi dari hal-hal ini pasti tidak baik. Allah memfirmankan hal itu dengan mengajukan contoh hal-hal materi seperti tanaman yang tumbuh dan berkembang, tetapi pada akhirnya menjadi puing-puing karena sapuan angin topan. Ini adalah yang menjadi konsekuensi orang-orang duniawi, yaitu suatu waktu ketika uang banyak, kekayaan mereka atau anak-anak mereka tidak menguntungkan mereka sedikit pun. Beberapa dari uang mereka dan anak-anak mereka hilang di dunia ini. Jika konsekuensi beberapa dari mereka tampak baik secara lahiriah, maka perhitungan mereka di akhirat akan mendorong mereka ke siksaan neraka disebabkan kesibukan mereka yang sangat asyik dalam hal-hal menyenangkan dan permainan saat di dunia, dan keterlibatan bebas dan penuh di dalamnya serta kelalaian mereka dengan Allah. Namun, beberapa dari mereka mungkin telah melakukan beberapa perbuatan baik yang karena itu maka Allah mencurahkan rahmat pada mereka dan memaafkan mereka.

Kasih sayang Allah Ta’ala sangatlah luas dan karena itu, beberapa orang bisa mendapatkan ridha-Nya lewat berbagai amal dan perbuatan yang bajik dan mulia. Namun, patut untuk diingat, Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kalian menganggap hidup di dunia ini sebagai segalanya sebab kehidupan yang sebenarnya bermula setelah meninggal. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk menempa hubungan erat dengan Allah Ta’ala dan menaati perintah-perintah-Nya. Ketika seseorang berupaya mencari ridha-Nya dan berjalan di jalan yang Dia tunjukkan maka bukan hanya akhir hidupnya sejahtera saja bahkan ia juga memperoleh hal-hal duniawi juga. “

Allah Ta’ala tidak pernah berfirman, “Janganlah kalian memanfaatkan nikmat-nikmat lahiriah yang Aku adakan.” Melainkan, Dia berfirman, “Janganlah kalian terlibat mendalam dalam pancapaian nikmat-nikmat lahiriah sampai-sampai itu mengalihkan perhatian kalian dari kewajiban-kewajiban agama dan penunaian kewajiban kepada-Ku.”

Sebuah kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutkan: “Mereka yang datang dari Tuhan, akan meninggalkan keduniawian.” Itu artinya mereka tidak menganggap dunia ini tujuan dan harapan utama mereka. Mereka tidak hanya fokus pada kehidupan mereka di dunia ini. Ketika hal ini menjadi kondisi mereka, maka dunia menjadi tunduk (menjadi khadim) pada mereka. Namun mereka yang membuat hidup di dunia ini sebagai tujuan mereka, maka bahkan jika mereka bisa mendapatkan dunia ini, namun pada akhirnya mereka akan menghadapi dipermalukan.”

Kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as tidak hanya untuk masa itu. Malah sebenarnya, bahkan sekarang ini ketika sistem keuangan dunia diklaim telah berdiri dengan tegak dan kuat dan ada banyak bank-bank yang sangat kuat, namun bisnis-bisnis dan perdagangan-perdagangan yang mengandalkan bank-bank itu lumpuh dan jadi bankrut dan kita menemukan bahkan bank-bank mulai merugi lalu merumahkan karyawannya dan di cabang kota-kota tertentu ditutup. Perusahaan-perusahaan besar juga mengurangi jumlah karyawan yang mereka miliki. Tuntutan-tuntutan diangkat di pengadilan pada banyak perusahaan oleh para karyawan atau bank-bank yang telah menyediakan utang bagi mereka maka mereka dipaksa untuk menutupi kebangkrutannya. Dan kemudian propertinya dijual sehingga menjadi membutuhkan pinjaman.

Krisis ekonomi yang muncul pada tahun 2008 masih berdampak, perdagangan besar bangkrut bahkan mempengaruhi oleh pemerintah-pemerintah juga. Negara-negara minyak yang mengklaim kekayaan dari minyak ini tidak akan pernah habis, tapi habis juga, apa yang terjadi padanya, karena pemerintah mereka juga harus mengurangi pengeluaran dan melakukan pemutusan hubukan kerja bagi para karyawannya.

Suatu hal yang termasuk kemalangan negara-negara Muslim ialah meskipun fakta bahwa Allah Ta’ala telah mengaruniai mereka begitu banyak kekayaan; namun para penguasa, para pemimpin dan politisi mereka telah dan terus menghabiskan kekayaan tersebut untuk kemewahan bukannya membelanjakan demi menaati perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjadikan kekayaan tersebut sebagai sarana untuk mendapatkan ridha-Nya serta memenuhi perintah-perintah-Nya.

Mereka seharusnya mempergunakan kekayaan dari minyak dan jenis-jenis lainnya untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran dan membantu menaikkan tingkat penghidupan orang-orang Muslim yang miskin di negara-negara mereka dan di negara-negara lain, dan juga untuk menangani kelaparan dan memberi pakaian kepada kaum miskin dan kekurangan di negara-negara mereka sendiri. Namun, mereka tidak memperhatikan hal ini dan malahan sibuk mengisi kantong uang mereka sendiri dan keadaan yang demikian ini terus menerus terjadi. Sebagai konsekuensi hal itu, mereka dipermalukan di hadapan dunia dan mereka gagal untuk menyadari hal ini, dan juga gagal untuk menyadari hukuman di akhirat yang mana telah diperingatkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang sungguh merupakan hukuman yang memalukan.

Pendek kata, penyalahgunaan kekayaan di dunia, sama saja, apakah mereka terkait dengan individu atau pebisnis besar, atau perusahaan komersial besar atau pemerintah yang mana itu mengarah ke cengkeraman hukuman Allah. Apakah disiksa di dunia dan akhirat keduanya, atau kenikmatan sementara di dunia ini dan Allah menyiksa mereka di akhirat.

Situasi ini penyebab ketakutan besar, dan harus selalu diperhitungkan oleh setiap orang cerdas dan semua Muslim yang benar-benar percaya pada Allah, dan tidak cukup secara lahiriah itu saja, tetapi harus memiliki gejolak semangat dan berusaha untuk menyembah Allah dan menanggapi perintah-Nya.

Dalam hal ini mungkin orang-orang sering berkata, “Kami melaksanakan sholat, beribadah dan tetap berpuasa, karena itu apa salahnya jika kami juga berusaha memperoleh kemewahan-kemewahan yang telah Allah Ta’ala sediakan?”

Hal yang pertama, seseorang harus menerapkan ketulusan dan ketaatan dalam ibadah-ibadah mereka karena Allah Ta’ala telah berfirman bahwa ibadah-ibadah seseorang harus ditunaikan dengan ketulusan dan ketaatan. Yang kedua, seseorang harus menggunakan bekal perlengkapan keduniaan yang ia dapat untuk menunaikan hak-hak makhluk Allah juga.

Namun, bagaimana keadaan yang terjadi di negara-negara Muslim? Para penguasa suatu negara mereka ketika pergi berkunjung, mereka akan membawa seluruh armada pesawat dan membawa berbagai macam perbekalan dan fasilitas kesenangan bersama dengan mereka. Dan lebih dari itu, mereka menghabiskan jutaan dollar. Sementara itu, ada warga warga miskin di negara-negara mereka yang untuk mendapatkan satu kali makan di hari itu harus berjuang dengan kepayahan. Mereka sesungguhnya menjauhkan diri dari perintah-perintah Allah Ta’ala. Pada satu segi, menyebut-nyebut nama Allah dan di lain segi menolak mematuhi pelaksanaan perintah-perintah-Nya. Hal itu menjadikan seseorang sasaran empuk murka Allah. Itu ialah kesia-siaan, permainan, perhiasan, saling berbangga dan memamerkan kekayaan secara tidak patut. Permisalan mengenai orang-orang itu dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam sabda beliau, “Shalat dan puasa secara lahiriah bukan hal yang bernilai tanpa mengiringinya dengan kebenaran dan ketulusan. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai shalat yang demikian tidak bernilai itu, فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ‘Celakalah bagi orang-orang yang shalat secara demikian’ (Surah Al-Ma’un, : 5).”

Kenyataannya, Allah Ta’ala menginginkan dari kita agar kita melakukan amal dan ibadah guna memperelok keadaan ruhani kita, menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap sesama makhluk dengan perasaan yang muncul dalam diri kita keperihan dan bukan beranggapan telah berbuat jasa baik bagi orang-orang lain. Tatkala kita telah tegak dalam perbuatan ini maka ibadah-ibadah dan amal-amal ini menjadi penarik karunia-karunia Allah Ta’ala. Sebagaimana telah saya katakan, Allah Ta’ala tidak pernah melarang usaha-usaha duniawi dan harta benda kekayaan, bahkan, apa saja kenikmatan-kenikmatan yang Dia ciptakan ialah hadiah bagi orang-orang beriman dengan syarat memperolehnya dengan jalan-jalan syar’i dan tidak menghalangi jalan agama, dengan memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap sesama makhluk Allah dan ibadah-ibadah. Nabi Muhammad saw juga mencemaskan umat beliau saw, perubahan baik yang terjadi dalam diri para Sahabat beliau sehingga mereka mengutamakan agama dibanding dunia tidak terjadi di kalangan umat Muslim yang datang setelah itu. Beliau saw bersabda, “ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اثْنَتَيْنِ طُولُ الأَمَلِ وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ، فَأَمَّا طُولُ الأَمَلِ فَيُنْسِي الآخِرَةَ وَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ“Ada dua hal yang paling saya takuti (cemaskan) menimpa kalian, yaitu: banyak angan-angan dan menuruti hawa nafsu. Sesungguhnya banyak angan-angan itu membuat seseorang lupa akhirat (mencintai dunia) dan menuruti hawa nafsu itu dapat menghalangi dari kebenaran.”[1]

Amal-amal perbuatan yang akan diberi pahala ialah yang dilakukan di dunia ini. Oleh karena itu, perbaikilah amal-amal kalian. Dunia ini ialah tempat untuk beramal dan amal-amal perbuatan di dunia ini akan menjadi penyebab ganjaran dan hukuman di akhirat. Maka, betapa berbahagianya orang yang diantara kita ingat firman Allah Ta’ala ini: أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ “…sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak..” Apa nilainya dunia itu? Tiada lebih dari rumput kering kekuningan lalu menjadi reruntuhan oleh sapuan angin. Hal yang pokok ialah usaha menggapai ridha Allah Ta’ala. Inilah apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa kerjakanlah kebaikan-kebaikan untuk memperoleh ridha-ridha Allah.

Selanjutnya beliau saw bersabda, “Wahai manusia! Padahal dunia ini hanyalah tempat (jalan) yang akan ditinggalkan dan akhirat adalah tempat yang akan didiami selamanya.” (Perjalanan terus berlanjut di tiap kedua segi. Dunia akan mencapai akhir, kiamat datang dan di akhirat juga terjadi perhitungan amal.) “Kedua tempat itu akan memiliki anak-anaknya (bani; keturunan). Jika kamu mampu untuk tidak menjadi anak-anak dunia, lakukanlah. Karena kamu hari ini (di dunia) adalah perkampungan untuk beramal, tidak ada hisab. Sedang besok (di akhirat) kamu akan berada di kampung perhitungan, tidak ada amal di sana.”[2]

Para sahabat Rasulullah saw, secara terus menerus mencari cara dan jalan bagaimana mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan membuat mereka dapat melakukan amal perbuatan baik. Mereka secara teratur bertanya kepada Rasulullah saw tentang hal ini. Demikianlah, suatu kali seseorang mendekati Rasulullah saw berkaitan dengan hal ini dan berkata: يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ؟ ‘Ya Rasulullah, katakan padaku tentang amalan yang jika saya lakukan, Allah akan mengasihi saya dan begitu juga orang-orang.” Hadhrat Rasulullah saw bersabda: «ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ» “Berzuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah akan mengasihi engkau dan berzuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mengasihimu.”[3] Artinya, janganlah menggemari harta kekayaan dunia beserta kenikmatannya dan janganlah memandang apa-apa yang menjadi milik orang lain dengan tatapan mengingini, niscaya umat manusia akan menyayangi engkau.

Zuhd bukanlah seseorang memutuskan diri dari pergaulan kemasyarakatan secara mutlak atau tidak memenuhi kewajiban terhadap anak-anak dan istri, meninggalkan pekerjaan yang menyibukkannya, duduk-duduk menganggur, tidak berjuang dalam pekerjaan duniawi dan menjadi seperti Rahib (biarawan). Zuhd yang demikian ini bukanlah Zuhd dan itu bukan yang Islam inginkan. Pada kita ada teladan Nabi Muhammad saw yang menikah dan juga memenuhi tanggungjawab terhadap istri beliau sebagaimana beliau juga memenuhi tanggungjawab terhadap hak-hak anak-anak beliau saw. Ada suatu masa ketika harta kekayaan dalam jumlah besar datang kepada beliau saw dan beliau saw mempunyai sekawanan ternak domba yang diberikan oleh seorang kafir. Keadaan beliau saw ialah tanpa kegelisahan sebab beliau saw tidak memandang itu semua dengan pandangan keserakahan. Hal ini membuat orang kafir tadi masuk Islam. Maka, Nabi saw meski dengan semua harta ini, tetap menunaikan kewajiban terhadap Allah Ta’ala dan memenuhi hak-hak umat manusia juga. Beliau saw tidak pernah menjadikan harta kekayaan beliau saw sebagai bagian dari pandangan mata beliau saw.

Pengertian zuhd ini juga bukan berarti menghancurkan kekayaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala. Malahan, menahan nafsu dan ketakwaan artinya adalah ahwa kalian harus memiliki kepercayaan dan menggantungkan pada ganjaran dan ampunan Allah Ta’ala lebih besar daripada kekeyaan pribadi (jangan mengandalkan hanya pada kekayaan dan kepunyaan kalian). Nabi saw bersabda, “Beramal berdasarkan sunnah saya juga diperlukan, dan janganlah menjadi petapa (rahib), tetapi Anda harus berkarya karena saya juga melakukannya.”

Jika demikian, Anda harus memahami asketisme (zuhd) artinya dunia tidak mencegah ibadah-ibadah kita dan menghalangi kita dari mengerjakan perintah-perintah Allah, dan keduniaan tidak membuat kita sibuk mencari uang tanpa menyadari kewajiban-kewajiban terhadap Allah, dan juga tidak boleh melihat uang orang lain secara rakus, karena keserakahan membuat orang berpikiran untuk berbuat jahat kepada orang lain. Apa yang kita lihat di dunia ini ialah korupsi karena keserakahan, kekuatan-kekuatan besar dunia (Negara dan golongan ekonomi kuat) berusaha untuk mendominasi negara miskin karena mereka ingin mengambil keuntungan dari kekayaan negara miskin ini dan sumber dayanya. Demikianlah, kerusakan ini merajalela di dunia, baik diantara individu atau pun di kalangan pemerintahan. Sesungguhnya itu disebabkan melihat uang orang lain dengan serakah. Karena hal itu, sehingga Allah Ta’ala memerintahkan agar menghiasi diri dengan sifat qana’ah (tidak rakus) dan jangan melihat orang lain dengan rakus. Ya Allah, kecuali Anda menggunakan kemampuan Anda dan berjuang dengan rajin, bahkan melakukan upaya memperoleh nafkah itu tidak ada yang salah. Tapi seharusnya harta kekayaan tidak menjadi kendala di jalan penunaian hak-hak Allah dan para hamba-Nya.

Hadhrat Rasulullah saw menjelaskan makna zuhd (melepaskan diri dari keduniawian) sebagai berikut: «لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ، وَلَا فِي إِضَاعَةِ الْمَالِ، وَلَكِنِ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ، وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ، إِذَا أُصِبْتَ بِهَا، أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا، لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ» “Pengertian zuhd bukan berarti mengharamkan yang halal, tidak pula menyia-nyiakan harta. Zuhd pada dunia adalah menjadikan apa yang di tangan Allah lebih penting darimu dengan apa yang di tanganmu.” (artinya kalian harus memiliki kepercayaan dan menggantungkan pada ganjaran dan ampunan Allah Ta’ala yang mana itu lebih besar daripada kekayaan pribadi (jangan mengandalkan hanya pada kekayaan dan kepunyaan kalian). “Engkau menjadikan pahala musibah yang menimpamu lebih kamu cintai andaikan tetap berada padamu.”[4]

Tidak diragukan lagi, musibah-musibah dan kerugian-kerugian datang. Namun, janganlah menampakkan tangisan dan keluhan atas kehilangan harta; melainkan seyogyanya menganggap itu sebagai ujian dari Allah dan Dia akan mengganjar atas itu. Hal yang pokok ialah seseorang hendaknya jangan berduka atas kerugian harta duniawi sampai-sampai ke tingkat syirk. Banyak mereka yang aktif berkarir yang kehilangan pikiran mereka karena kerugian finansial dan beberapa dari mereka melakukan bunuh diri. Andai saja mereka bertawakkal kepada Allah dan merasa qana’ah (puas dan tentram atas apa yg sudah dimiliki) niscaya mereka takkan melakukan hal itu.

Nabi Muhammad saw mengharapkan dari kita yang telah beriman kepada beliau saw yaitu dari semua anggota umat beliau saw agar menghiasi diri dengan derajat luhur sifat zuhd dan dalam hal mengingini dunia. Hal yang sebenarnya, mayoritas Ahmadi di zaman ini dengan karunia Allah paham akan konsekuensi iman mereka terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kerugian duniawi tidak mereka anggap penting. Mereka juga memahami supaya harus memfokuskan diri kepada Allah secara lebih banyak dibandingkan sebelumnya dalam kondisi terkini.

Kita mengamati di Pakistan dan di tempat-tempat lainnya, para penentang menyebabkan kehilangan dan kerugian sebesar ribuan dan jutaan (dollar) pada bisnis dan perdagangan para Ahmadi dengan menghancurkan dan membakarnya. Malahan, salah satu Perdana Menteri di Pakistan suatu kali pernah berkata, “Saya akan memberikan para Ahmadi mangkuk untuk mengemis dan mereka akan harus berkeliling mengemis.”

Namun para Ahmadi itu memiliki keimanan dan kepercayaan kepada Allah Ta’ala dan tidak satu pun dari mereka yang meminta kepada pemerintah atau berkeliling dengan mangkuk pengemis meminta-minta pada orang lain. Malahan, dikarenakan iman dan kepercayaan mereka kepada Allah Ta’ala, kerugian mereka yang ribuan (dollar) tersebut berubah dan bertransformasi menjadi keuntungan jutaan (dollar).

Contoh-contoh ini seharusnya meningkatkan keimanan kita para Ahmadi. Tapi, di waktu yang sama contoh-contoh ini seharusnya membuat para Ahmadi menyadari bahwa murni dengan karunia Allah Ta’ala sehingga mereka sekarang mengalami perbaikan dan kemajuan keadaan keuangan setelah meninggalkan Pakistan dan datang ke negara-negara maju. Oleh karena itu, seiring mereka memperbaiki keadaan keuangan mereka dengan karunia Allah dan keberkatan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka keadaan-keadaan kemudahan itu jangan sampai menyebabkan suatu kebanggaan diri dan janganlah menyombongkan diri selamanya karena itu. Jangan merasa gemetaran takjub karena mempunyai kekayaan banyak dan kemakmuran. Janganlah menggemari bergaul dengan orang-orang materialis. Janganlah memandang harta orang lain dengan tamak dan mengingini melainkan jika ingin merasa iri terhadap seseorang maka sesuaikanlah dengan sabda Rasulullah saw, yaitu harus iri terhadap orang yang lebih baik dan lebih utama dari kita dalam segi agama dan kita berusaha menjadi sepertinya atau lebih baik darinya.

Pada suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda secara rinci mengenai tema ini dalam terang penjelasan Al-Qur’an dan dalam sinar pemahaman akan sabda Nabi Muhammad saw karena beliau saw yang paling memahami cara mencari harta kekayaan duniawi dan nilai sejauh mana kebolehan dalam kesibukan di dalamnya. Beliau as bersabda di satu kesempatan : “Allah Ta’ala telah mengizinkan keterlibatan dalam kesibukan duniawi karena dengan menghadapi hal ini manusia mengalami ujian.” (Maksudnya, jika seseorang tidak melakukan pekerjaan duniawi dan keadaan keuangannya buruk maka ia menghadapi ujian dalam keadaan ini juga dan ia menjadi mangsa musibah.) “Karena ujian inilah yang membuat manusia menjadi pencuri, penjarah, penjudi dan penipu bahkan terlibat dalam banyak pekerjaan buruk lainnya.” (Artinya, kekurangan dalma hal harta juga menyebabkan seseorang terlibat dalam perilaku buruk.)

Beliau as lebih lanjut bersabda: “Tiap-tiap sesuatu ada batasnya. Berjuanglah dalam mencari penghidupan dunia hingga kadar yang dapat membuat kalian membantu di jalan agama. Jadikanlah agama itu sebagai tujuan yang sebenarnya.” (artinya, jadikanlah agama itu sebagai tujuan dalam kesibukan duniawi. Janganlah itu sebagai kepentingan kedua.) “Berusahalah mencari nafkah duniawi dan mengambil manfaat dari itu. Namun, takutlah kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya dan perhatikanlah selalu pembelajaraan soal agama.”

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda: “Ini bukanlah maksud saya untuk melarang kalian dalam kesibukan duniawi. Saya juga tidak mengatakan agar kalian sibuk bekerja siang dan malam sepenuhnya dalam keduniaan sampai-sampai dunia dan keramaiannya menggantikan tempat bagi Allah.” (Artinya, janganlah keterlibatan dalam kesibukan duniawi kalian sampai membuat kalian melupakan Allah termasuk waktu beribadah, yang diantaranya ialah menonton film-film atau program-program lain di internet saat shalat tiba)

Jika seseorang melakukan hal itu, maka ia akan menciptakan dalam dirinya sarana-sarana kerugian. Tidak tersisa dari lidahnya kecuali pernyataan-pernyataan kosong. (artinya, dakwanya tidak punya kebenaran. Imannya juga.) “Ringkasnya, kalian harus hidup dalam lingkungan orang-orang hidup demi melihat penampakan Tuhan nan Hidup.”

Hadhrat Masih Mau’ud as di kesempatan lain bersabda: “Janganlah seseorang berpemahaman untuk tidak berhubungan dengan dunia. Saya tidak bermaksud berkata demikian. Allah Ta’ala juga tidak pernah melarang pemanfaatan hal-hal duniawi. Bahkan, Islam melarang hidup dalam kerahiban (mengasingkan diri dari dunia, menjadi rahib). Sebab, ini adalah praktek kepengecutan.” (menjauhkan diri dari duniawi adalah perbuatan orang pengecut). “Hubungan yang luas antara seorang mukmin dengan orang-orang di dunia malahan merupakan sarana-sarana baginya untuk meningkatkan derajatnya setinggi mungkin karena tujuan seseorang ialah agama.” (tak masalah seseorang memiliki tautan dengan dunia, namun di waktu yang sama itu bukanlah tujuan utama dan pokoknya) “Melainkan, dunia, harta dan kemewahannya harus menjadi khadim bagi agama. (Tujuan yang utama adalah janganlah menjadikan dunia an sich sebagai tujuan melainkan jadikanlah agama sebagai tujuan hakiki di belakang pencapaian duniawi. Suatu keharusan bahwa seluruh pencapaian duniawi menjadi tunduk pada iman). Perumpamaannya, ketika seseorang mempersiapkan perbekalan dan memilih sarana transportasi dalam rangka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tujuan aktualnya adalah untuk mencapai tempat yang lain, dan bukan sarana transportasi atau perbekalannya. Dalam cara yang sama, seseorang harus mencari materi duniawi namun harus melihat dan menganggapnya hanya sebagai sarana mengkhidmati agama.”

Beliau as lebih lanjut bersabda: “Allah telah mengajarkan kita doa, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ‘Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat…’ [Al-Baqarah, 2:202] Dalam doa ini, Allah Ta’ala juga mendahulukan urusan dunia dalam penyebutannya. Tetapi, urusan dunia yang mana? Yakni فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًsegala kebaikan dunia’ yang merupakan penyebab kebaikan di Akhirat. Secara jelas ajaran yang terkandung dalam doa ini menunjukan seorang mukmin hendaknya memperhatikan kebaikan akhirat ketika mencari tujuan-tujuan duniawi.

Istilah فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً mencakup segala sarana terbaik untuk mencari dunia yang hendaknya dijalankan/dipilih oleh seorang mukmin demi meraih tujuan-tujuan duniawi. Carilah hal-hal duniawi dengan segala sarana tersebut dengan cara yang hanya menghasilkan kebaikan dan bukan dengan jalan yang menyebabkan timbulnya penderitaan atau rasa malu bagi manusia lain. [tidak menyakiti seorang pun, dan tidak menyebabkan rasa malu bagi orang lain.] Meraih dunia yang seperti ini tidak diragukan lagi akan menjadi penyebab pencapaian kebaikan di akhirat.” [5]

Selanjutnya, beliau as bersabda tentang siksaan jahannam, “Terdapat siksaan jahannam yang Allah Ta’ala janjikan setelah mati. Ada juga jahannam (neraka) lainnya, yaitu di kehidupan dunia ini juga, jika seseorang tidak menghabiskan hidup di dunia ini demi Allah Ta’ala, maka itu juga adalah neraka. Allah Ta’ala tidak bertanggungjawab untuk perlindungan dan keamanan dari kesakitan dan menyediakan ketentraman bagi seseorang yang demikian. Jangan menganggap bahwa negara, pemerintahan, kekayaan, kehormatan dan atau banyaknya anak keturunan akan jadi sumber ketenangan, ketentraman, kedamaian dan harmoni yang yang akan membimbing seseorang ke surga.” (artinya, semua yang disebutkan tadi bukanlah penyebab ketentraman dan kedamaian serta surga tidak diperoleh dengan itu semua)

Tidak demikian! Ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan yang merupakan nikmat-nikmat surga tidak diperoleh dengan hal-hal ini, tetapi difasilitasi dengan cara tetap di dalam Allah dan kematian di dalam Allah.” (Artinya, hal-hal ini akan diperoleh jika manusia tetap dalam fokus mengarahkan diri kepada Allah senantiasa, dan mengusahakan kebaikan-kebaikan di dunia dengan mengamalkan perintah-perintah Allah. Saat itulah ia akan menerima kebaikan-kebaikan di akhirat, juga. Tanpa manusia dalam benaknya selalu fokus mengarahkan diri kepada Allah bahwa Allah melihatnya maka ia tidak mungkin berbuat seperti sebelumnya).

Hadhrat Masih Mau’ud as meneruskan dengan bersabda: “Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mewasiyatkan kepada para Nabi ‘alaihimus salaam seperti Ibrahim as dan Yaqub as agar menginstruksikan dalam wasiat mereka: لا تموتن إلا وأنتم مسلمون ‘Janganlah kematian menjemput kalian kecuali jika kalian dalam keadaan menyerahkan diri.’” (Maknanya, manusia tidak menyadari kenyataan bilakah dia akan meninggalkan dunia ini – karena kehidupan dan kematian bukan di tangannya. Pernyataan ini berarti bahwa manusia harus selalu sadar akan perintah-perintah Allah Ta’ala dan merenungkan tentang akhirat.)

Beliau as melanjutkan, “Kesenangan dan kenikmatan duniawi memunculkan pada diri seseorang sejenis ketamakan beracun yang meningkatkan lebih tinggi hasrat dan keinginan mereka. Ibarat terkena penyakit polydipsia (kehausan yang amat sangat) yang tak terputus ketamakannya masih saja minum dan minum hingga binasa. (Demikian pula keadaan orang yang menuntut kesenangan dan kenikmatan dunia, yaitu yang mencari-cari terus tanpa putus selamanya)

Api angan-angan palsu dan kepedihan hati juga termasuk neraka yang merampas kedamaian pikiran dan kebahagiaan manusia, dan ia menderita dalam kecemasan dan tekanan perasaan permanen. Maka dari itu, orang-orang yang saya sayangi tidak boleh melupakan untuk tidak menjadikan kecintaan yang berlebihan terhadap uang, kemewahan, orang tua dan anak-anaknya seperti orang gila sehingga antara dia dan Tuhan terdapat hijab (batas penghalang) (yaitu, hal-hal itu menjadikannya jauh dari Tuhan). Dikarenakan hal ini, harta kekayaan dan anak-anak dinamai fitnah, itu juga merupakan jenis neraka bagi manusia, ketika Anda menderita kecemasan dan kesusahan yang sangat saat berpisah dengan mereka, dan dalam hal itu firman Tuhan: نَارُ اللهِ الْمُوقَدَةُ * الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ ‘Yaitu api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati’ bukan hanya dalam teori, tetapi menjadi terbukti, disaksikan dan wajar (masuk akal). Ini adalah api neraka yang dipanaskan sendiri oleh hati manusia dan membuatnya berubah lebih hitam dan lebih gelap. Bagai batubara yang dibakar. Itulah api cinta kepada selain Allah.”

Kecintaan kepada selain Allah itu menjadikan bagi manusia neraka di kehidupan dunia ini. Karena itu, kemewahan dan kenyamanan yang tersedia bagi kita di negara-negara ini seharusnya tidak membuat kita lalai akan ibadah kita kepada Allah Ta’ala, dan seharusnya tidak mengurangi kita dalam memenuhi hak-hak Allah Ta’ala. Kemakmuran dan kekayaan kita tidak akan menghalangi kita dari memenuhi hak-hak saudara-saudara kita yang kurang beruntung dibandingkan kita dari segi ekonomi. Lebih jauh lagi, kemakmuran tersebut tidak membuat kita lalai dalam memenuhi peran kita menyebarkan Islam dan menyebarluaskan pesannya, bahkan kita harus memainkan peran penting soal itu. Ada satu tujuan baiat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as yaitu agar seseorang tidak hanya memenuhi hak-hak Allah Ta’ala, namun juga hak-hak umat manusia dan juga memenuhi hak-hak dalam menyebarkan pesan Islam. Hanya dengan ini kemudian kita dapat memenuhi tujuan kita dalam memberikan prioritas (pengutamaan) pada keimanan di atas semua pencapaian duniawi.

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk selalu mencari ridha-Nya dan semoga kita tidak pernah menyerah pada kehidupan dunia yang sombong dan mengilusi ini. Semoga kita dapat menyelamatkan diri kita dari neraka dunia ini dan juga neraka di akhirat. Semoga karunia dan ridha Allah Ta’ala membuat dunia ini menjadi surga bagi kita dan juga membuat kita dapat memasuki surga di akhirat. [Aamiin.]

Setelah sholat Jumat saya akan memimpin Sholat jenazah atas dua orang. Yang pertama adalah Almarhum Tn. Basharat Ahmad, putra Tn. Muhammad Abdullah. Beliau dulu warga Khanpur, distrik Rahim Yar Khan, namun syahid pada tanggal 3 Mei 2017. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Menurut detilnya, Almarhum Tn. Basharat Ahmad tinggal di Green Town dan menjalankan sebuah POM bensin yang terletak sekitar 4 – 5 km. Pada tanggal 3 Mei, beliau meninggalkan POM bensin pada jam 8 malam dan seperti rutinitas beliau sebelumnya, beliau pergi dari tumah beliau dengan sepeda motor. Setelah kira-kira 1 km, beberapa penyerang yang tidak dikenal memberhentikan beliau dan menembak beliau dari jarak dekat, yang kena pada beliau di sebelah kanan pelipis beliau dan tembus ke sisi satunya, membunuh beliau seketika. إنا لله وإنا إليه راجعون

Setelah sekitar sepuluh menit, ipar Almarhum kembali dari stasiun menuju ke rumah, dan menemukan orang-orang di jalan ramai. Beliau berhenti untuk melihat, siapa yang tergeletak di tanah. Beliau memanggil ambulans, tapi Almarhum meninggal sebelum kedatangan ambulans. Pada awalnya mereka mengira Almarhum telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas, tetapi ketika diperiksa oleh dokter Ahmadi, ia mengatakan Almarhum telah menderita luka tembak di pelipis. Polisi diberitahu lagi, dan mereka melakukan pemeriksaan jenazah Almarhum, polisi mengatakan bahwa dia telah dibunuh, disebutkan Almarhum disyahidkan karena ‘sebuah kejahatan’ yaitu ia orang Ahmadi. Kemudian polisi juga menemukan selongsong peluru kosong di tempat pembunuhan itu.

Ahmadiyah memasuki keluarga Almarhum lewat ayah beliau yaitu Tn. Muhammad Abdullah yang baiat di tangan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) sebelum berdirinya Pakistan. Pada tahun 1947 keluarga Almarhum bermigrasi dari Qadian ke Mianwali di Pakistan. Beliau lahir pada tahun 1955 di Bikhar. Beliau menerima pendidikan awal beliau di desa beliau dan setelah itu beliau bersekolah di Ahmad Nagar di Chiniot, Rabwah. Setelah ini beliau bekerja untuk beberapa lama di Tarbela Dam dan setelah itu pergi ke Dubai. Setelah kembali dari sana, beliau mendapatkan pekerjaan di Karachi dan memiliki usaha yang berkaitan dengan mobil. Pada tahun 1985 karena situasi genting di Karachi, beliau pindah ke Khanpur dan membuka sebuah POM bensin.

Dengan karunia Allah, beliau adalah seorang Musi dan berusia 62 tahun ketika Syahid. Beliau mempunyai kesempatan untuk bekerja di Jemaat dalam berbagai kapasitas. Beliau berkhidmat sebagai Sadr (Ketua) di Jemaat Khanpur selama 3 tahun. Beliau melayani untuk waktu yang lama sebagai Sekretaris Ummuri Aama. Beliau memiliki banyak kualitas. Beliau sangat tulus, selalu tersenyum dan selalu membuat orang lain bahagia. Tanggungjawab yang manapun yang digugaskan pada beliau, beliau memenuhinya dengan semangat dan upaya yang luar biasa. Beliau bekerja dalam pengawasan masjid di Khanpur.

Beliau mengurus kebersihan masjid, terutama bagian taman dan tanam tanamannya dan beliau melakukannya dari kantongnya sendiri. Beliau sangat teratur dalam membayar Candah beliau dan dari seluruh keluarganya, beliaulah yang paling teratur. Pengoranan harta beliau transparan. Beliau selalu teratur dalam melaksanakan sholat 5 waktu. Beliau memiliki ikatan yang kuat dengan Khilafat dan selalu menasihati anak anak beliau untuk tetap terikat dengan Khilafat. Almarhum meninggalkan istri, dua putra dan seorang putri. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat sang Syahid dan membuat anak cucu keturunan beliau tetap terikat pada Khilafat.

Sholat Jenazah kedua adalah untuk Almarhumah Profesor Tahira Parveen Malik yang merupakan putri Almarhum Malik Muhammad Abdullah. Beliau profesor di Universitas Punjab. Beliau syahid pada 17 April setelah ditikam oleh seorang karyawan Universitas tersebut. Meskipun orang itu datang dengan niat merampok, namun ketika ia sadar tepergok, ia melakukan hal ini. Namun di Pakistan menjadi seorang Ahmadi membuat siapapun memiliki izin untuk menyakiti para Ahmadi ini karena tidak ada tindakan apapun yang akan dilakukan atas mereka. Inilah alasan mengapa karyawan ini memiliki keberanian tersebut; dimana ketika ia terpergok, ia menikam dan membunuh beliau – karena ia tahu beliau hidup sendiri. Suami dan keluarga suami beliau menjauh dari Ahmadiyah dan sejak hari itu beliau berpisah dari suami beliau dan hidup sendiri. Beliau sangat berpendidikan dan berkompeten dalam bidang beliau. Meskipun sudah meminta pensiun tahun lalu, universitas itu mempekerjakan beliau kembali karena kompetensi beliau.

Ahmadiyah tegak di keluarga beliau lewat kakek dari sisi Ayah beliau yaitu Hadhrat Malik Hasan Muhammad, yang merupakan Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Ayah beliau, Tn. Malik Abdullah juga seorang Waqif Zindagi dan melayani dalam berbagai posisi di kepengurusan. Tn. Malik Abdullah juga berkesempatan mengajar Studi Agama-Agama di Talimul Islam College. Beliau berkesempatan untuk melayani Jemaat dalam berbagai kapasitas. Selama berdirinya negara Pakistan, ayah beliau bertugas di departemen keamanan Markas (di Qadian). Pada tahun 1953 Ayah beliau dipenjara di jalan Allah.

Beliau adalah wanita yang cerdas dan berkompeten tinggi. Beliau menerima pendidikan dasar di Rabwah dan setelah itu beliau meraih gelar BSc di Lahore, di sebuah College untuk Wanita. Kemudian beliau meraih gelar MSc bidang Pertanian di Universitas Punjab yang mana setelah itu beliau menyelesaikan gelar MPhil beliau dari Universitas California (Amerika Serikat) di jurusan Ilmu Pertanian dan Tumbuhan.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni beliau, memandikan beliau dengan rahmat-Nya dan meningkatkan derajat beliau. Satu penderitaan beliau yang terus dirasakan adalah putri beliau meninggalkan Jemaat bersama ayahnya saat Almarhumah berpisah dengan suaminya itu. Semoga Allah mengaruniai putri beliau kesemparan untuk bergabung dengan Jemaat kembali dan mengabulkan doa-doa Ibunya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya juga akan memimpin Sholat Jenazah untuk Almarhuman setelah Sholat Jumat. (آمين) Aamiin

Penerjemah  : Dildaar Ahmad Dartono, sumber referensi teks bahasa Arab dari islamahmadiyya.net dan bantuan teks terjemahan dr bahasa Inggris oleh Ratu Gumelar

[1] Kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad ibn Hanbal, bab kezuhudan Amirul Mu-minin Ali bin Abi Thalib ra. Selanjutnya kata beliau Saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai maupun yang dibenci-Nya. Jika mencintai seorang hamba, Allah memberinya iman. Ingat, sesungguhya agama itu mempunyai anak. Jadilah kamu termasuk anak-anak agama, dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Ingat, sesungguhnya dunia itu bergerak pergi. Ingat, sesungguhnya akhirat itu bergerak maju (datang). Ingat, sesungguhnya kalian berada pada zaman untuk beramal, bukan zaman untuk dihisab. Dan ingat, sesungguhnya kalian hampir tiba pada zaman untuk dihisab yang sudah tidak berlaku amal.” [HR. Ibnu Abi-d Dunya]

[2] Al-Baihaqi.

[3] Sunan ibni Majah.

[4] Sunan al-Tirmidzi, no.2262. dari Abu Dzar al-Ghifari

[5] Malfuzat jilid 2, hal. 91-92, Edisi 1985, Terbitan UK

(Visited 148 times, 1 visits today)