Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

16 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada khotbah Jumat sebelumnya, saya berbicara mengenai hubungan antara akhlak dan ketakwaan yang artinya ketakwaan itu menuntut adanya akhlak; dan dalam hal ini terdapat sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa seseorang hanya dapat tergolong bertakwa ketika ia memiliki semua kualitas akhlak yang baik, menanggapi dengan baik semua perintah yang Allah Ta’ala perintahkan dan menghalangi diri dari semua larangan-Nya. Dalam hal itu menjadi mungkin untuk memperoleh akhlak luhur yang mau tak mau harus ada pada orang bertakwa. Namun, ada beberapa aspek akhlak, yang mana jika tidak ada pada seorang mukmin, maka level keimanannya menjadi dipertanyakan (diragukan). Artinya, penegasan menjadi wajib apakah ia menikmati keimanan ataukah tidak?

Sebelum ketakwaan, yang pertama harus seorang manusia peroleh adalah keimanan mereka. Diantara aspek-aspek akhlak yang diperlukan bagi seorang mukmin, yang paling penting adalah untuk selalu jujur dan menjauhkan diri dari kebohongan. Itu adalah syarat asasi bagi keimanan. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran: فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ “Untuk itu hindarilah kekejian dari (penyembahan) berhala, dan jauhilah semua perkataan yang tidak benar (kebohongan)” (Surah al-Hajj, 22:31)

Karena itu, dengan menempatkan penyembahan berhala dan kebohongan bersama-sama, Allah telah secara jelas menunjukkan bahwa jika seseorang tidak menerapkan kejujuran dan membiasakan diri berlaku berkata benar maka itu adalah dosa besar seperti penyembahan berhala. Hal yang mustahil bahwa seorang yang beriman pada keesaan Allah dan pada waktu yang sama ia terlihat dalam dosa penyembahan berhala secara materi atau tersembunyi. Jadi, ini adalah sangat jelas dan merupakan peringatan terbuka bagi manusia yang mengaku beriman, “Jika kalian adalah orang yang beriman, maka kalian harus memiliki standar tertinggi kebenaran. Jika tidak, maka itu bertentangan dengan imannya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as dengan jelas telah mengarahkan perhatian kita juga secara rinci dan menjelaskannya terang-benderang apa itu berhala? Apa itu dosa penyembahan berhala yang wajib kita menyelamatkan diri darinya dan kita hindari. Maksudnya jalan apa yang harus kita ambil. Beliau as telah memberikan ceramah dan dalam tulisan-tulisan beliau berkali-kali menyebutkan dan secara rinci menjelaskan tentang pentingnya kejujuran dan kebenaran dalam iman kita. Beliau as juga menyatakan keprihatinan beliau as khusus mengenai hal ini yang mana itu wajib tiap Ahmadi tempatkan dalam pikirannya setiap waktu supaya iman kita menguat dan ketakwaan kita mengalami kemajuan.

Saya hari ini ingin menyajikan beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as dan itu tampak mirip namun di tiap kalimat mengandung pelajaran dan perenungan terpisah.

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis di buku Nurul Qur’an: “Al-Quran asy-Syarif telah menganggap berbohong adalah setara dengan penyembahan berhala sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ   yang artinya, hindarilah kekotoran penyembahan berhala dan berbohong.” (Kedua hal itu (penyembahan berhala dan berdusta) adalah najis dan hina, karena itu orang harus menjauhi kedua hal ini.)

Kemudian, beliau as menjelaskan bahwa seseorang menjauh dari Allah disebabkan kebohongan yang dilakukannya. Dalam kata lain, dapat dikatakan bahwa Dia berlepas diri dari pembohong. Sabda beliau as, “Jauhilah penyembahan berhala dan berkata dusta! Dengan kata lain, berbohong juga adalah merupakan berhala yang jika seseorang mempercayakan padanya, berarti ia meninggalkan kepercayaannya (ketawakkalannya) pada Allah Ta’ala. Jadi, dalam kebohongan, seseorang juga meninggalkan Allah.” Ketika seseorang meninggalkan kepercayaannya terhadap Allah, akhirnya Dia juga tidak dekat pada orang semacam ini. Beliau as bersabda seperti itu dalam buku Filsafat Ajaran Islam.

Selanjutnya, beliau as bersabda dalam Pidato Lahore: “Suatu keharusan bagi manusia untuk menjauhkan diri dari kedustaan dan tiap jenis syirk demi penyucian diri.”

Selanjutnya, beliau as bersabda di sebuah majlis, “Al-Quran yang mulia telah menganggap berbohong sebagai kotor dan dosa sebagaimana difirmankan,فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ  Perhatikanlah bagaimana di ayat ini Allah Ta’ala menyebut kebohongan setara dengan berhala-berhala. Kebohongan ialah berhala yang sesungguhnya. Jika tidak demikian, tentu seseorang takkan meninggalkan kejujuran dan cenderung ke selainnya. sebagaimana berhala itu tidak ada hakikatnya, begitu pula perkataan dusta tidak merefleksi kecuali kedustaan dan dibuat-buat. Orang-orang yang biasa berbuat dusta kehilangan kredibilitas (kejujuran) hingga sampai batas jika mereka membenarkan persangkaan seseorang yang ada sesuatu kedustaan dalam perkataan mereka. Upaya sungguh-sungguh amat diperlukan bagi orang yang ingin menghentikan kebiasaannya berbohong. Itu bukan hal yang mudah, melainkan untuk waktu yang lama, seseorang harus membuat usaha yang keras. Hanya dengan begitu maka seseorang dapat menanamkan pada dirinya kebiasaan untuk berbicara yang benar dan jujur.”

Sebagian kalangan biasa berkata bohong di tiap hal. Beliau as bersabda bahwa upaya sungguh-sungguh dalam waktu lama amat diperlukan bagi orang yang ingin menghentikan kebiasaannya berbohong.

Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan penolakan terhadap pemikiran yang menganggap kesuksesan-kesuksesan materi pasti tidak akan diperoleh kecuali dengan ketiadaan kejujuran dan sedikit kedustaan. Hal demikian menuntut perlunya kebohongan dan tanpa kebohongan itu tidak akan dapat diraih: “Dikatakan bahwa kedustaan ialah teman seiring penyembahan terhadap berhala. Sebagaimana seorang tuna ilmu membungkukkan kepalanya di depan batu dengan meninggalkan ibadah kepada Allah demikian pula orang yang berbohong mengambil kebohongan sebagai berhalanya sendiri demi meraih tujuannya sendiri dengan meninggalkan kebenaran dan kejujuran.

Demikian pula, Allah Ta’ala menganggap kebohongan semisal penyembahan berhala dan menyebut keterkaitan antara keduanya. Sebagaimana penyembah berhala berpandangan sarana keselamatan mereka bersumber dari berhalanya demikian pula pendusta juga memandang kebohongan sebagai berhalanya dan beranggapan akan mendapat keberhasilan melalui berhala [kebohongan] ini.

Berapa banyak kejadian berikut ini terjadi tatkala dikatakan, ‘Mengapa anda menyembah berhala? Tinggalkanlah ketidaksucian ini!’ Jawaban mereka ialah, ‘Bagaimana kami meninggalkannya? Kami tidak ada tanpa adanya itu.’ Kemalangan lebih besar apa dari mereka yang menganggap kedustaan sebagai orbit kehidupan mereka. Namun, saya katakan dan tegaskan kepada kalian bahwa kejujuran itulah yang menolong pada akhirnya. Di dalamnya ada kebaikan dan kemenangan.

Ketahuilah dengan yakin! Tidak ada kesialan yang seperti kedustaan. Biasanya orang-orang duniawi (materialis) mengatakan, ‘Mereka yang berbicara kebenaran akan ditangkap [dihukum].’ Namun bagaimana bisa saya menerima hal ini? Tujuh tuntutan hukum yang diajukan kepada saya, dengan karunia Allah, saya tidak pernah memerlukan kebohongan bahkan satu ucapan dusta sekalipun, dan tidak pernah kalah dalam kasus-kasus tersebut. Beritahukanlah pada saya apakah saya menderita dengan hebat karena satu saja dari kasus itu? Allah Ta’ala Sendiri yang akan mendukung orang benar dan menolongnya dari pihak-Nya. Apakah mungkin orang jujur akan dihukum? Jika terjadi bahwa kejujuran telah dilakukan oleh seseorang tapi ia mendapatkan hukuman, maka tidak ada seorang pun yang akan berkata jujur. Guna meninggikan iman kepada Allah ketika orang-orang benar wafat, mereka pun hidup.”

“Sebenarnya, sebagian orang yang dihukum meski sudah berbicara benar, maka itu bukan disebabkan karena kejujurannya secara langsung, melainkan akibat sebagian perbuatan buruk mereka lainnya yang tersembunyi yang tengah dilakukannya atau kedustaannya yang lain. (Artinya, jika seseorang diantara kalian terlibat dalam kejahatan dan timbul dalam dirinya semangat untuk kebajikan dan kebaikan sementara waktu serta juga kejujuran lalu kemudian ia dihukum maka janganlah berpikiran ia dihukum karena kejujurannya.

Tidak demikian. Melainkan hukuman tersebut ialah dampak dari kesalahan-kesalahannya sendiri yang lain dan keburukan-keburukan masa lalunya) Sebab, Allah Ta’ala tahu betul mata rantai keburukan dan kejahatan mereka, yaitu mereka telah biasa melakukan kesalahan lain yang banyak sehingga dihukum atas dasar itu.”

Semua catatan perbuatan kita disimpan dengan aman oleh Allah Ta’ala. Para hacker (perusak program) yang mampu membajak (hack) akun komputer orang-orang lain dapat melakukan serangan siber (cyber attack) yang membuat kehilangan semua data mereka yang diserang, tapi satu orang pun tidak dapat membantu menghapus satu akun di sisi Allah, bahkan tetap Dia pertahankan. Manusia mungkin bisa lolos dari hukuman duniawi lewat alasan-alasan [helah-helah], namun tidak ada seorang pun yang dapat menipu Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalian harus membiasakan diri dalam kesalehan dan dawam dalam hal itu. Jika seseorang tengah beristighfar dan bertekad menghindari keburukan-keburukan maka hendaknya ia berusaha menjaga itu senantiasa.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud yang mengatakan “Manusia duniawi berpikiran tidak dapat meninggalkan kebohongan karena mereka tidak dapat bertahan tanpa kebohongan tersebut” tidak hanya berkaitan dengan perkara-perkara yang lebih besar guna meraih keuntungan-keuntungan besar saja, namun keadaan dari manusia manusia duniawi adalah sedemikian rupa sehingga mereka berbohong tentang segala sesuatunya, bahkan perkara yang paling kecil dan sepele sekali pun.

Beberapa hari yang lalu National Geographic menerbitkan edisi majalahnya yang terbaru. Di dalamnya berisi banyak esei dan studi utamanya ialah mengenai kebohongan. Riset dan studi yang dilakukan dengan topic [Why we lie?] ‘Kenapa kita berbohong?’ di dalamnya [penulisnya] mengemukakan sukses-sukses lahiriah dicapai lewat kebohongan-kebohongan. Seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah katakan bahwa orang-orang berpikiran keberhasilan takkan dicapai tanpa berbohong. [Si Penulis] telah menulis hal yang sama dan juga berusaha justify (mencari pembenaran) dalam studi tersebut bahwa sudah tertanam dalam tabiat manusia untuk berbohong. Padahal, kebohongan bukan sudah tertanam pada fitrat manusia, melainkan, lingkunganlah yang membuat manusia menjadi pembohong. Jika bagi mereka ada keuntungan-keuntungan duniawi dengan demikian mereka membawakan bahasan ini dengan menyebarkan kebohongan dan kebaikan-kebaikan berbohong dengan mengatakan manusia berbohong sejak kecil meski itu bukan sifatnya melainkan ia belajar sejak kecil dari lingkungan.

Keadaan mereka sekarang ialah hingga ke tingkat menerbitkan dengan bangga foto-foto mereka yang ikut serta dalam perlombaan berbohong, menjadikan mereka juara dan memberi hadiah atas hal itu. Salah seorang juara tersebut berkata, ‘Sebagian cerita saya ialah kisah nyata. Namun, jika saya tidak membubuhinya dengan bagian-bagian bohong maka itu menjadi terlihat boring (membosankan) dan orang-orang tidak mau memperhatikan. Oleh karena itu, demi menarik perhatian orang-orang, saya berbohong.” Hal ini juga menegaskan kebenaran sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.

Dalam artikel tersebut, dikatakan, kata-kata berbagai macam orang, dari anak-anak sampai politisi, dari profesional biasa sampai ilmuwan, mengandung kebohongan. Dijelaskan di artikel itu bahwa di dalam masyarakat, ada begitu banyak kebohongan hingga ke tingkat itu dapat kita saksikan dimana-mana di berbagai bidang. Dalam pandangan mereka, tidak ada jalan keluar dari hal ini. [Mereka berkata] ‘kita dipaksa untuk berbohong.’

Kita [masyarakat dunia ketiga, Timur) yang biasa mengatakan tingkat kejujuran di masyarakat Barat sangat tinggi namun setelah membaca artikel ini, sepertinya setiap perkara mereka didasarkan oleh kebohongan. Survey awal yang mereka lakukan mengungkap bahwa setiap orang mengatakan kebohongan 3 – 4 kali setiap harinya. Setiap kebohongan ada alasannya. Beberapa dari kebohongan itu bertujuan supaya orang tidak dipandu kearah yang tepat, jika seseorang perlu untuk dibimbing (minta saran atau musyawarah) maka tidak mereka sarankan musyawarah dengan jalan yang tepat, artinya mereka berbohong untuk menipu orang-orang, dan kemudian berbohong untuk menyembunyikan kelemahan-kelemahan mereka dan ada berbagai alasan lain yang untuk itu mereka berbohong. Selanjutnya, penelitian dalam artikel ini mengatakan bahwa orang-orang berbohong demi memberikan kesan tidak benar tentang diri mereka sendiri sedangkan beberapa dari mereka berbohong demi menunjukkan kebanggaan diri sendiri. Kebohongan-kebohongan ini berskala kecil.

Diantara kebohongan-kebohongan yang ‘lebih besar’, – menurut penulis artikel tersebut – adalah kebohongan diantara suami istri terkait hubungan tidak syar’i mereka dengan orang lain (perselingkuhan). Tiap pihak diantara keduanya terpaksa berbohong demi menutupi hal-hal yang terkait hubungan tersebut. Salah satu aib besar di kalangan masyarakat bebas yang disebabkan keleluasaan pertemuan bebas ialah terjadinya hubungan-hubungan yang keliru dan jika salah satu atau kedua pasangan terungkap telah berbohong, maka mulailah terjadi pertengkaran. Selanjutnya, terjadilah perpisahan hingga sampai ke perceraian.

Jika Anda menganalisa situasi kita, maka pertengkaran dan perselisihan dalam keluarga, tuntutan istri untuk bercerai dan jatuhnya thalaq (perceraian dari suami) terjadi karena orang-orang mengandalkan kebohongan. Oleh karena itulah, setelah memahami elemen fundamental dari psikologi manusia ini, ayat-ayat yang telah diperintahkan untuk dibacakan saat aqad pernikahan, ayat berikut ini termasuk di dalamnya, yaitu, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًاسَدِيدًا “Wahai orang orang yang beriman, upayakanlah ketakwaan kepada Allah, dan katakanlah perkataan-perkataan yang jelas dan benar.” Ayat tersebut lebih lanjut menyatakan: يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا “Jika kalian melakukan hal itu, Allah akan memperbaiki amal perbuatan engkau dan memaafkan dosa-dosa engkau. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya akan mendapatkan kesuksesan yang besar.” (Surah al-Ahzab, :72-73)

Pada masa sekarang, inilah satu bentuk ketaatan di zaman yang penuh kebebasan dan terdapat gerakan lepas hijab (pardah) atas nama kebebasan, dan ketika hijab mulai lepas keraguan muncul dan demikianlah hilangnya rasa percaya sehingga salah satu terpaksa berbohong, mulailah mata rantai berbohong yang tak berakhir.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala telah berfirman tentang kebenaran dan kejujuran sebagai pondasi terkait hubungan antara suami dan istri dengan cakupan yang sangat luas sehingga seharusnya tidak ada pembengkokan kebenaran, dan harus ada standar yang tinggi akan kebenaran dan kejujuran. Dengan cara ini, tidak hanya hubungan kalian menjadi menyenangkan, anak-anak kalian juga akan terselamatkan dari banyak isu dan persoalan. Demikianlah, Allah juga akan memaafkan dosa-dosa kalian dan menganugerahi kalian kesuksesan yang besar. Inilah ajaran indah Islam dan setelah petunjuk yang demikian, jika masih saja terdapat orang yang membiasakan diri tidak mengamalkan qaul sadid (kejujuran), merusak hubungan pernikahannya dan menghilangkan saling percaya dikarenakan kebohongan maka siapa lagi yang lebih buruk dari dia? Jatuhnya talaq (cerai) dan tuntutan khula’ (pengajuan cerai) di kalangan kita juga karena orang-orang telah menjauh dari perintah-perintah Allah.

Orang-orang duniawi tersebut yang pada mereka tidak ada hidayah (petunjuk) pun telah menamai kebohongan diantara suami-istri sebagai serious lie (kebohongan serius), jenis terbesar kebohongan dan yang menimbulkan banyak kekhawatiran. Lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang pada mereka terdapat petunjuk? Jika mereka melakukan hal yang sama maka kedustaan mereka akan lebih mencemaskan. Itu adalah hal yang paling fatal dan mengkhawatirkan karena mereka akan tidak menaati perintah-perintah Allah. Mereka yang lakukan hal itu berarti me-mahrum-kan (menghalangi diri) mereka sendiri dari pengampunan dosa-dosa dan dari kesuksesan-kesuksesan yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Mereka yang melakukan itu keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Penulis artikel itu juga menulis, “Orang-orang berbohong untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan mereka, dan persentase terbesar kebohongan adalah bagi mereka yang tidak ingin menghadapi orang-orang lalu mengatakan kepada istri-istri mereka atau anak-anak mereka bahwa mereka tidak sedang di rumah, dan beberapa dari mereka meminta anak-anaknya untuk mengatakan kepada orang-orang yang mengetuk pintu atau berbicara lewat telepon, ‘Ibu atau ayah tidak sedang di rumah.’ Beginilah cara mereka mengajari anak-anak mereka berbohong. Berbohong ini bukan bawaan, tetapi beberapa tindakan orang dewasa yang mengajarkan anak-anak berbohong.”

Kemudian penulis artikel menulis sebagian orang biasa berbohong tanpa ada apa-apa. Ini umumnya merupakan kebiasaan sejak kecil di lingkungannya. Kemudian pemilik artikel ini mengatakan bahwa orang berbohong untuk menghindari dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan supaya ia tidak terpaksa untuk mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya.

Demikian pula mereka mengatakan hal-hal yang bohong demi menyakiti (merugikan) orang lain, dan untuk meningkatkan reputasi sendiri di mata orang-orang, seperti berbohong demi orang-orang tertawa. (Sebagai contoh, membacakan lathifah (lelucon) atau bercanda yang terdapat kebohongan padahal orang bisa bercanda yang baik juga)

Selanjutnya, demi kesenangan pribadi, mereka berbohong. Selain keuntungan (kepentingan) pribadi, kebohongan pun dilakukan untuk keuntungan keuangan. Demi keuntungan keuangan, kebohongan dilakukan.

Demikianlah, dalam survey ini [dalam artikel National Geographic tersebut] ada rincian persentase terbesar jenis-jenis kebohongan. Empat kategori terbesar tersebut adalah orang-orang yang berbohong untuk menutupi kesalahan, agar mendapatkan keuntungan-keuntungan finansial/keuangan, berbagai keuntungan di luar urusan uang, dan agar dapat lolos dari orang lain atau menghindari bertemu orang. Survey tersebut menyebutkan inilah empat persentase terbesar kebohongan. Menutupi kesalahan, keuntungan keuangan, kepentingan lain dan menghindari orang.

Inilah keadaan orang-orang (Barat) yang kebanyakan dari kita beranggapan tingkat kejujuran mereka lebih tinggi dibanding kita. Jika orang-orang ini menjadi tolok ukur bagi kita maka bagi seorang beriman ini adalah situasi yang menakutkan dan berbahaya. Orang-orang ini pada dasarnya tidak percaya pada Tuhan atau menyekutukannya. Adapun kita ialah orang-orang yang mengaku beriman dan mengklaim mengamalkan ajaran Islam. Jika kita meninggalkan kejujuran, itu berarti kita tidak hanya menjauh dari agama saja, tetapi juga melakukan syirk. Karena itu, kita harus menganalisa standar-standar kebenaran dan kejujuran kita dan selalu menyadari hal ini.

Dalam kaitannya dengan memberikan kesaksian, Allah Ta’ala melarang untuk memberikan kesaksian palsu. Allah telah melarang kita dari sumpah palsu dengan firman-Nya tatkala menjelaskan sifat-sifat para hamba ar-Rahman, وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا “Mereka yang tidak bersaksi palsu.” (Surah Al-Furqaan, 25:73) Karena itu, kita tidak boleh memberikan pernyataan-pernyataan palsu untuk keuntungan finansial apapun atau untuk mendapatkan sumber daya apapun, ataupun untuk mendapatkan keuntungan lain. Jika kita ingin diperhitungkan diantara para hamba Allah Yang Maha Pengasih dan maju dalam keimanan kita, maka kita harus menghindari kepalsuan-kepalsuan dan menyelamatkan diri dari serangan-serangan setan.

Telah diketahui bahwa kebohongan ialah menjadikan terputusnya hubungan dengan Allah Yang Maha Pengasih. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Pemutusan hubungan antara seseorang dengan Allah Yang Maha Pengasih berakibat pada penguatan hubungan orang itu dengan setan sehingga seorang insan pun akan berada dalam cengkraman setan.”

Bagaimana seharusnya standar kejujuran kita dan bagaimana kita harus menjauhi kedustaan? Mengenai hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan, “Saya tidak memandang perlu menasehatkan pada kalian dalam hal ini supaya jangan menumpahkan darah (melakukan pembunuhan) sebab tidak ada yang mengangkat tangannya untuk menumpahkan darah dengan lalim kecuali bagi orang yang amat jahat. Namun, saya katakan janganlah membunuh kebenaran dengan menuntut ketidakadilan.

Terimalah kebenaran meski seorang anak kecil yang mengatakan itu. Janganlah keras kepala. Andai kalian menemukan kebenaran dari sisi lawanmu, tinggalkan logika kering kalian dan terimalah kebenaran tersebut. (Artinya, jika kamu menemui anak kecil juga yang mengatakan kebenaran dan kejujuran maka ambillah itu darinya tanpa sedikit pun penentangan) Teguhlah dan bersaksilah dengan kebenaran sebagaimana firman-Nya, فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ. Artinya, ‘Jauhilah kedustaan. Sebab, ia tidak lebih kecil dibanding dosa penyembahan berhala.’

Setiap hal yang memalingkan fokus perhatianmu dari kiblat kebenaran itu sesungguhnya berhala di jalanmu. Bersaksilah dengan kesaksian kebenaran meski itu terhadap ayah kalian atau saudara/i kalian atau kawan-kawan kalian. Janganlah sebuah permusuhan menghalangi kalian dari berlaku adil dan obyektif. (Artinya, pencegahan diri dari berlaku adil juga termasuk kedustaan)

Ada orang Kristen yang menyampaikan kritik bahwa Nabi Muhammad saw mengijinkan berbohong di tiga kesempatan dan Al-Qur’an memerintahkan berbohong demi menyembunyikan agama. Sementara itu, Injil tidak mengandung ijin yang seperti itu. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai hal itu, “Ketahuilah! Al-Qur’an menekankan berpegang teguh pada kejujuran ratusan kali lebih banyak. Saya tidak menerima bahwa Injil menekankan hal itu meski itu hanya 1/10 (sepersepuluh) saja dari apa yang Al-Qur’an tekankan. Al-Qur’an menggolongkan kebohongan serupa dengan penyembahan berhala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ. Artinya, ‘Jauhilah kedustaan. Sebab, ia tidak lebih kecil dibanding dosa penyembahan berhala’ dan di tempat lain dalam Al-Quran, Allah berfirman: ۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚHai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan dengan menjadi saksi karena Allah…’ (Surah An-Nisa, 4:136) Itu artinya, berilah kesaksian yang benar meski itu berakibat merugikan atasmu atau atas orangtuamu atau keluargamu.”

Jadi, inilah tingkat kejujuran sebagaimana itu juga standar keadilan juga. Telah diketahui bahwa keadilan takkan dapat dijalankan tanpa melakukan kejujuran. Maka merupakan suatu keharusan bagi seorang beriman untuk meraih level-level kejujuran dan kebenaran.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan lebih lanjut tema ini, “Allah Ta’ala telah berfirman mengenai keadilan yang tidak akan dapat dilakukan tanpa berpegang teguh pada jalan-jalan kejujuran secara baik dalam firman-Nya, وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى ‘Dan janganlah sekali-kali permusuhan sesuatu kaum yang memusuhimu mencegah kamu untuk berlaku adil. Berlaku adillah, karena ketakwaan itu terdapat di dalam berlaku adil.’ (Surah Al-Maidah, 5:9) Sekarang, kalian telah mengetahui betapa sulitnya berlaku adil dalam urusan-urusan dengan kaum yang terus saja menyakiti tanpa hak, bertindak kejam dan menumpahkan darah, membunuh terhadap anak-anak dan kaum wanita dan tidak berhenti dari cara-cara peperangan; sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang kafir Makkah. Namun, Al-Qur’an tidak pernah menyia-nyiakan hak-hak para musuh yang haus darah juga. Al-Qur’an pun menasehati untuk berpegang teguh pada keadilan dan kebenaran.

Saya katakan dengan sebenar-benarnya bahwa memperlakukan musuh dengan penuh hormat adalah hal yang mudah. Namun, melindungi hak-hak para musuh dan tidak melepaskan keadilan dan persamaan hak dalam tuntutan hukum melawan mereka adalah sangat sulit. Itu hanya pantas dan mampu dilakukan oleh orang-orang yang paling pemberani saja.

Sebagian besar orang menampakan rasa belas kasih terhadap musuh mereka dan memperlakukan mereka dengan kata-kata manis, namun sembari merampasi hak-hak mereka. (Yaitu, tidak segan berbohong demi merampas hak-hak mereka dan memperlakukannya dengan tidak adil) Seorang saudara mengasihi saudaranya namun juga menipunya dan merampas hak-haknya dalam bungkus kasih sayang. Contohnya, ada seorang petani penggarap yang tidak menuliskan nama pemilik tanahnya di sertifikat resmi namun di segi lainnya ia menampakkan kecintaan padanya seolah-olah telah berkorban demi dia.”

Terkadang datang surat-surat yang penulisnya mengatakan orang-orang mengubah nama-nama dalam dokumen resmi properti kerabat mereka dan nama mereka memalsukan dengan nama mereka dan mendaftarkannya di kalangan resmi atau tidak memberikan kesaksian hak milik sehingga keluarga mereka menghadapi kerugian keuangan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala di ayat ini tidak menyebut kalimat hubb (kecintaan) melainkan Dia menjelaskan perihal tingkat tinggi kecintaan yaitu seseorang yang berbuat adil dan tidak menjauh dari kejujuran dan keadilan kepada orang lain yang haus akan darahnya sehingga ingin membunuhnya berarti orang tersebut pengasih sejati.”

Jadi, inilah level (tingkatan) yang harus diusahakan untuk diraih dan itu ialah janganlah karena demi manfaat sementara dan tidak juga demi sebagian urusan kemasyarakatan sehari-hari lalu seseorang berlaku tidak jujur melainkan seorang beriman harus tinggi levelnya sedemikian rupa sehingga takkan berbohong meski itu bertujuan untuk merugikan pihak lawannya. Jika ini adalah tingkat-tingkat perlakuan orang beriman dengan pihak yang memusuhinya, maka mereka harus menaikkan tingkat ini dalam berurusan dengan satu sama lain, yang mengarah ke tingkat yang lebih tinggi dalam kasih sayang di antara mereka sendiri juga. Ketahuilah bahwa kecintaan sejati itu kosong dari kebohongan, tidak ada yang bisa mengklaim mencintai seseorang dan kemudian membohonginya, karena cinta adalah perasaan spontan. Ini adalah tingkat yang harus orang-orang upayakan untuk mencapainya. Jika kita tiba di tingkat-tingkat ini maka ia tidak akan menipu seorang saudara sama sekali.

Kemudian, beliau as menekankan perihal pentingnya kejujuran dalam sabdanya, “Memakan makanan haram itu bahayanya tidak seperti berkata dusta. Namun, seseorang dari kalangan kita hendaknya tidak beranggapan bahwa memakan makanan haram itu hal yang terpuji. Jika ia beranggapan demikian maka itu salah. Bukanlah maksud saya seseorang memakan daging babi secara terpaksa. Itu hal yang berbeda. Tapi, jika seseorang berfatwa dengan ucpapannya menyetujui memakan daging babi maka itu keluar jauh dari Islam.” (Membolehkan memakan daging babi dalam keadaan terpaksa yang jika seseorang yang kelaparan akan mati dan kemungkinan ia selamat dengan makan daging bagi, ini ialah hal yang berbeda. Namun, jika seseorang berfatwa perihal kebolehan memakan daging babi maka itu membuatnya jauh dari Islam) “Sebabnya, orang itu menghalalkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan.”

“Jelas dari hal itu bahwa asal mula kesalahan dikarenakan lidah (ucapan) ialah hal yang berbahaya (mengkhawatirkan). Maka dari itu, seorang yang bertakwa harus mengendalikan lidahnya dan jangan sampai keluar dari lidahnya hal-hal yang bertentangan dengan ketakwaan. Kendalikanlah lidah anda dan janganlah sampai lidah itu yang mengendalikan diri anda sehingga membuatnya keluar pembicaraan-pembicaraan provokatif dan kasar.”

Setiap orang harus mengontrol (mengendalikan) lidahnya, supaya ia mengelola dan mengendalikan lidahnya, dan tidak segera ia bicarakan apa pun yang terbesit di dalam benaknya. Sebab, dengan cara ini akan keluar dari lidahnya baik itu kebenaran dan juga kebohongan dan itu mengarah ke terjadinya penghasutan dan kerusuhan. Ini harus diperhitungkan dan diperhatikan untuk membuat lidah-lidah kita mencapai tingkat-tingkat luhur kejujuran selalu, dijaga dari syirik dan berupaya untuk mendapatkan standar tertinggi ketakwaan.

Suatu keharusan bagi setiap orang dari kita untuk mengambil pelajaran dari kondisi mereka yang terlibat dalam kebohongan – yaitu dalam artikel yang telah saya sebutkan tadi – dan kemudian sama-sama memeriksa diri sendiri untuk melihat apakah dia terlibat dalam setiap jenis kebohongan itu atau tidak. Jika ia terlibat dalam salah satu jenis kebohongan yang telah disebutkan tadi, ia harus berpikir tentang bagaimana untuk menyingkirkan hal itu dari dirinya. Allah telah menjelaskan sarana-sarana untuk keselamatan dan pembebasan, dan kita berdoa kepada Allah untuk membantu kita menyerap hal ini, bahkan membantu kita untuk meningkat dalam kejujuran sehingga kita berpegang teguh selalu untuk mengatakan hal yang benar.

Lantas, sifat dan ciri lain yang harus merupakan bagian etiket seorang mukmin dan sesuatu yang menarik kedekatan Allah Ta’ala adalah sifat rendah hati dan kebencian terhadap kesombongan. Berkaitan dengan mereka yang sombong, Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍDan jangan berpaling dari orang lain dalam kesombongan atau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai para pembual yang menyombongkan diri.” (Surah Luqman, 31:18)

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebutkan hal ini dalam tulisan-tulisan beliau di banyak kesempatan dengan sabdanya, “Iya, terdapat orang-orang yang derajatnya ratusan ribu kali di bawah para Nabi ‘alaihimus salam, yang baru beberapa hari mengerjakan shalat kemudian mulai takabbur. Demikian pula puasa dan haji yang dikerjakannya bukan menimbulkan tazkiyah (penyucian diri) malah timbul takabbur.”

Di hari-hari Ramadhan ini juga orang-orang berusaha untuk beribadah kepada Allah. Jika mereka mendapat taufik untuk itu atau melihat mimpi-mimpi yang benar, mereka ditimpa rasa amat bangga. Hendaknya meninggalkan keadaan ini dan fokus pada istighfar yang banyak. Beliau as bersabda, “Ingatlah, takabbur itu datang dari setan dan menjadikan pelakunya sebagai setan. Selama manusia tidak mengosongkan diri dari kesombongan maka itu akan membuatnya tidak mampu menerima kebenaran atau meraih karunia Ilahi sebab kesombongan tersebut menjadi perintang di jalan-Nya. Janganlah bertakabbur dalam bentuk apapun. Jangan [takabbur] dari segi ilmu, jangan pula dari segi kesejahteraan, jabatan dan kehormatan, jangan pula karena perkauman (kebangsaan), kelompok dan nasab (garis keturunan). Sebab, kebanyakan takabbur timbul dari hal-hal itu dan disebabkan anggapan-anggapan seputar itu.

Selama manusia tidak menyucikan dirinya dari kesombongan, selama itu pula ia tidak dapat terpilih sebagai orang saleh dalam pandangan Allah Ta’ala, dan ma’rifat yang membakar unsur-unsur hasrat yang tidak baik tidak akan dianugerahkan kepadanya (selama seseorang tidak menjauhkan diri dari keangkuhan dan menerapkan kerendahan hati, selama itu pula ia tidak memperolah ma’rifat yang mengakhiri keinginan-keinginan buruk dan semangat-semangat nafsu buruk) karena bangga diri tersebut ialah bagian dari setan, dan Allah membencinya. Setan telah menyombongkan diri juga dan memandang dirinya lebih tinggi dari Adam dengan mengatakan, أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ‘aku lebih baik dari dia karena Engkau telah ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ (Surah Al-A’raf, 7:13) Sebagai dampaknya, ia diusir dari hadapan Allah…Namun, Adam dengan ma’rifatnya akan Tuhan telah mengakui kelemahannya dan Tuhan menganugerahinya karunia. Adam mengetahui bahwa ia tidak mungkin dapat menyelesaikan sesuatu hal tanpa karunia Tuhan. Demi hal itu, ia berdoa, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ‘Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, tentu kami akan menjadi orang-orang yang merugi.’” (Surah Al-A’raf, 7:24)

Doa ini pun Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan kepada para Jemaat beliau as agar dibiasakan untuk dibaca. Senantiasalah membaca doa ini. Hari-hari ini merupakan 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan suatu keharusan untuk membaca doa ini demi menghindarkan diri dari api dan meraih rahmat Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ini adalah rahasia dibalik peristiwa ketika Nabi Isa as disapa oleh seseorang yang mengatakan: ‘O, guru yang baik’, yang mana Nabi Isa as menjawab: ‘Mengapa engkau memanggilku baik?’ Orang-orang Nasrani yang tuna ilmu di masa ini berkata bahwa arti sesungguhnya pernyataan ini adalah: ‘Kenapa engkau tidak memanggilku Tuhan?’ meskipun Nabi Isa as menjawab dalam cara yang paling halus, yang mana itu memang merupakan sifat istimewa para Nabi. Beliau menyadari penuh bahwa kebaikan hakiki hanya dapat dating dari Allah Ta’ala Sendiri saja. Dia-lah sumbernya dan dari-Nyalah turun sehingga Dia karuniakan itu kepada yang Dia kehendaki dan Dia hapus itu dari siapa yang Dia kehendaki. Namun, orang-orang yang bodoh itu menjadikan pandangan yang elok dan sesuai dengan takdir ini sebagai hal yang bercacat dan mereka beralih dengan menetapkan Isa sebagai orang yang sombong padahal beliau seorang yang amat rendah hati.”

Selanjutnya, beliau menyebutkan mengenai jalan untuk penyucian diri: “Inilah jalan yang terbaik untuk penyucian diri, dalam pandangan saya. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari seseorang mengosongkan dari dari keangkuhan dan kebanggaan diri di setiap jenisnya, (jika ia ingin menyucikan diri, wajib baginya untuk memfanakan diri dari keangkuhan) baik itu jenis keangkuhan karena ilmunya, keluarganya atau hartanya. Tatkala Allah Ta’ala mengaruniakan pada seseorang mata cemerlang maka itu yang membuatnya paham bahwa setiap cahaya yang menyelamatkan dari kegelapan-kegelapan itu datang dari Langit. Hal yang sebenarnya, manusia memerlukan cahaya samawi di tiap waktu sebagaimana juga mata jasmani tidak mampu melihat tanpa turunnya cahaya matahari yang turun dari langit. Serupa dengan itu, cahaya ruhani yang menghapuskan seluruh kegelapan dan menciptakan dengan itu cahaya ketakwaan dan kesucian sesungguhnya datang dari Langit saja.

Sebenarnya, dan dengan haq (kebenaran) saya katakan bahwa ketakwaan, iman, ibadah dan kesucian manusia seluruhnya datang dari Langit. Semua itu dapat diraih tergantung kepada karunia Allah Ta’ala. Jika Dia menghendaki Dia tetap memeliharanya dan jika tidak, Dia melenyapkannya.

Beliau as bersabda, “Pada kenyataannya, ma’rifat sejati adalah apabila seseorang menganggap dirinya tidak berharga dan kosong sepenuhnya seraya merebahkan diri di ambang pintu Ilahi dan dengan sangat merendah selalu memohon karunia Allah Ta’ala, dan meminta nur ma’rifat yang membakar hangus gairah nafsu, menciptakan sebuah nur dalam jiwanya dan menciptakan kekuatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Jika setelah itu ia memperoleh bagian dari karunia Allah Ta’ala, diberi kesempatan untuk memperoleh keluasan rezeki dan kelapangan hati maka pada waktu itu janganlah ia bersikap angkuh dan bangga diri melainkan harus lebih merendahkan diri dan lemah lembut. (Artinya, ia harus tambah rendah hati disebabkan turunnya karunia Ilahi ini) Sebab, setiap kali seseorang lebih banyak menganggap diri tidak berharga dan sangat rendah maka lebih banyak pula Allah Ta’ala menganugerahi aliran-aliran karunia dan nur kepadanya, yang akan memberi kekuatan dan cahaya kepadanya.

Jika manusia berpegang teguh kepada akidah itu maka mudah-mudahan dengan karunia Allah Ta’ala keadaan akhlaqnya akan menjadi sangat indah. Di dunia ini menganggap diri sebagai seseorang (sesuatu) pun adalah takabbur dan hal inilah yang membuatnya merasa besar kepala. Kemudian, keadaan manusia demikian rupa buruknya sehingga saling melaknat dan menganggap hina satu terhadap yang lain.”

Maka, menjadi satu hal yang pasti bahwa diantara cara menghentikan keangkuhan dan jalannya ialah manusia mengkaitkan semua hal kebaikan (kelebihan) yang ada padanya kepada Allah Ta’ala. Lebih lanjut beliau as menjelaskan, “Faktanya, kekotoran ini, yang mana kekotoran hawa nafsu tampak melalui keburukan akhlak, kesombongan, pamer dan sebagainya tersebut tidak mungkin dihentikan tanpa karunia Ilahi. Bahan-bahan buruk ini tidak dapat dibakar kecuali dengan api ma’rifatuLlah (pengetahuan tentang Allah).

“Siapapun yang memiliki pengetahuan tentang api ini akan mulai menyingkirkan kekurangan-kekurangan moral mereka, menganggap diri sendiri kecil padahal kedudukannya besar, dan tidak menganggap diri sebagai sesuatu apa-apa. (artinya, ia melihat nur (terang) yang diterimanya melalui nur-nur pengetahuan itu bukanlah hasil dari kemampuan atau fitur di dalam dirinya dan ia tidak menghubungkan itu kepada dirinya sendiri), tapi ia meyakini pasti itu murni anugerah dan belas kasihan dari Allah. Keadaannya seperti dinding yang diatasnya terdapat cahaya matahari dan menyinari sekelilingnya. Dinding tersebut tidak berhak untuk mengatakan itu semua karena kemampuan yang ada di dirinya. Ada sesuatu yang lain yaitu setiap kali dinding itu bersih maka cahaya yang ada padanya lebih bersih dan lebih terang (yaitu, setiap kali dinding lebih jelas dan halus maka pantulan dari cahanyanya akan lebih jelas) tetapi dinding tidak pernah bisa menjadi terang yang dikaitkan dengan kemampuan di dalamnya, tetapi seluruh kebanggaan itu merujuk kepada matahari. Juga tidak dapat dinding memerintahkan matahari mencabut cahaya darinya.”

Beliau as bersabda: “Demikian juga jiwa para Nabi ‘alaihimus salaam itu suci bersih, terletak dalam diri mereka cahaya-cahaya ma’rifat (pengetahuan) dengan karunia dan aliran keberkahan dari Allah, dan itu menyinari mereka sehingga mereka tidak pernah melakukan klaim (pendakwaan) apapun dari diri mereka sendiri, tetapi menganggap semua aliran keberkahan dan karunia itu berasal dari Allah, dan ini hal yang benar. [Namun, walaupun demikian, ketika suatu waktu beliau saw bersabda: ‘Tidak akan ada seorangpun yang dimasukkan kedalam surga karena amal salehnya.’] Untuk itu ketika seseorang (sahabat Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah tuan juga akan masuk surga dengan amal perbuatan tuan?’ Beliau saw bersabda: “Tidak! Sekalipun saya sendiri tidak akan masuk Surga karena amal-amal saya, hanya karunia dan kasih sayang Tuhanlah yang memungkinkan saya masuk ke Surga.’”

Beliau bersabda : “Para Nabi ‘alaihimus salaam tidak menganggap setiap kekuatan dan energi apa pun itu dari diri mereka sendiri. Melainkan mereka mendapatkan segala sesuatu dari Allah dan tidak mereka sebut selain nama-Nya.” (Selama beginilah keadaan para hamba istimewa Allah, maka berapa banyak lagi sifat-sifat manusia biasa untuk memiliki kerendahan hati, tidak hilang kerendahan hatinya seraya bersyukur atas karunia-karunia Allah)

Arogansi menghancurkan keruhanian seseorang dan membuat dia menjauh dari Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai hal ini, “Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Mulia. Dia mendidik manusia dalam segala hal dan merahmatinya, dan karena rahmat ini Dia mengirimkan para Nabi dan para Rasul untuk menyelamatkan orang-orang dari kehidupan yang terkontaminasi pelanggaran-pelanggaran. Namun, takabbur adalah penyakit yang sangat berbahaya. Jika timbul hal ini dalam diri seseorang, maka baginya kematian ruhani. Saya tahu dengan yakin bahwa penyakit ini lebih buruk dari pembunuhan. Seorang yang takabbur menjadikan dirinya saudara setan karena takabbur-lah yang menjadikan kehancuran bagi setan dan menghinakannya. Alhasil, syarat seorang mu-min adalah jangan hendaknya ia takabbur, justru di dalam dirinya hendaknya dijumpai sikap rendah hati, dan ini merupakan ciri khas para utusan Allah. Dalam diri para Nabi terdapat kerendahan hati, dan sifat ini paling banyak ada pada diri Rasulullah saw. Seorang pelayan beliau ditanya, ‘Bagaimana perlakuan Rasulullah saw terhadap engkau?’ dia berkata, ‘Sejatinya, beliau justru yang lebih banyak mengkhidmati saya. اللهم صلّ على محمد وعلى آل محمد وبارك وسلّم Allohumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin wa baarik wa sallim.

Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati Jemaat beliau as secara khusus dalam hal ini: “Keangkuhan adalah umum secara luas di dunia. Para Ulama (orang-orang berilmu) terinfeksi kebanggaan diri dan keangkuhan karena adanya ilmu pengetahuan mereka. Tetapi pelaku Tasawuf pun kondisi mereka tidak baik-baik saja. Hal demikian karena ketidakpedulian pada perbaikan jiwa. Minat mereka hanya terbatas pada segi-segi jasmani saja. Demi hal itu kalian dapati pada mereka melakukan mujahadah (usaha yang bersungguh-sungguh), riyadhah (pelatihan-pelatihan keras) dan perbuatan-perbuatan dalam corak dzikr, pemikiran, perenungan keras dan lain-lain yang mana itu tidak ada jejaknya dalam sumber mata air kenabian (yaitu kita tidak menemukan jenis dzikr dan usaha keras mereka dalam praktek kehidupan Nabi saw)

Saya melihat mereka tidak peduli sama sekali perihal membersihkan hati mereka. Mereka semata-mata jasad-jasad yang tidak memiliki tanda-tanda spiritualitas. Usaha bersungguh-sungguh mereka itu tidak mampu menyucikan hati dan tidak dapat membuat mereka meraih cahaya pengetahuan sejati. Zaman ini benar-benar hampa sepenuhnya. Sunnah Nabi saw ditinggalkan dan benar-benar dilupakan.”

Demikianlah, Tuhan sekarang ingin mengembalikan masa Nubuwwah sekali lagi dan menetapkan ketakwaan dan kesucian dalam hati orang-orang; dan dia telah menginginkan itu melalui Jemaat ini.

“Menjadi tugas Anda untuk ishlaah secara nyata dengan jalan yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad saw. Artinya, Tuhan sekarang ingin menempatkan semua perbuatan baik ini, penciptaan ketakwaan dan memperkuat iman melalui Jemaat ini sehingga menjadi tugas Anda sekalian untuk minat dalam reformasi secara nyata sebagaimana jalan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.”

Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik supaya kita dapat meninggalkan semua keburukan dan menerapkan semua moralitas yang tinggi dengan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad saw dan menapaki di jalan yang beliau tuntun kita untuk menapakinya sampai kita mencapai kebenaran yang membawa kita dekat dengan Tuhan, dan kita mencapai kerendahan hati yang membuat kita meraih ridha Allah, dan kita berada dalam prasangka baik Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap para anggota Jemaat beliau as. Aamiin.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar

(Visited 202 times, 1 visits today)