بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba) pada 26 Juli 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ *

 وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ *

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (الأنعام: 152-154)

                                                                                         

“Katakanlah, ‘Marilah aku akan bacakan kepada kamu apa yang Tuhan kamu telah haramkan untukmu: yakni jangan menjadikan sesuatupun sebagai sekutu bagi-Nya, dan kamu harus memperlakukan kedua orangtua dengan penuh ihsan, dan janganlah membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan – Kamilah yang memberikan rezeki kepada kamu dan juga kepada mereka – dan jangan mendekati perbuatan tak bermalu, baik terbuka maupun tersembunyi; dan jangan membunuh suatu jiwa yang Allah telah haramkan, kecuali dengan hak. Inilah yang Dia telah perintahkan kepadamu, supaya kamu menggunakan akal.

Dan janganlah mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik, sampai ia mencapai kedewasaannya. Dan berikanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebankan suatu jiwa melebihi kemampuannya. Dan ketika kamu berbicara, maka berbicaralah dengan adil, meskipun jika orang yang bersangkutan adalah kerabat, dan penuhilah perjanjian dengan Allah. Itulah yang Dia perintahkan kepadamu, supaya kamu mengambil nasehat.’

Dan (Dia) juga memerintahkan, ‘Ini adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah itu, dan jangan mengikuti jalan-jalan lain, karena itu menjauhkanmu dari jalan-Nya. Itulah yang Dia perintahkan kepada kamu, supaya kamu mungkin bertakwa.’” (QS Al-An’am, ayat 152-154).

Sebagaimana dijelaskan dalam khotbah Jumat lalu, bulan Ramadhan dan Al-Qur’an memiliki pertalian khusus karena pewahyuan Al-Qur’an dimulai pada bulan ini. Namun hubungan ini hanya dapat memberi manfaat jika kita membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan dengan merenungkan perintah-perintahnya kemudian menjadikan perintah-perintah ini bagian dari kehidupan kita. Jika tidak, kita tidak akan memenuhi tujuan diturunkannya Al-Qur’an di bulan Ramadhan.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tujuan Al-Qur’an adalah untuk mengubah manusia dari kondisi liar menjadi kondisi manusiawi dan kemudian melalui adab yang baik (sopan santun, tata krama) menjadikan orang beradab, sehingga bersama dengan pengamalan batas-batas dan hukum-hukum syar’i (agama) yang telah ditentukan kemudian menjadikan mereka manusia bertuhan.”

Beliau juga bersabda: “Hal ini juga hendaknya diingat bahwa Al-Qur’an membawa petunjuk untuk kesempurnaan ilmu dan amal. demikianlah, ”tunjukilah kami ke jalan yang benar” mengisyaratkan mencari pengetahuan, sementara “jalan orang-orang yang Engkau Engkau telah beri nikmat atas mereka …” mengacu pada kesempurnaan amal, sehingga hasil yang terbaik dan sempurna dapat dicapai. Kecuali tunas itu tumbuh dan berkembang dengan baik, ia tidak akan dapat berbunga atau berbuah. Demikian pula, suatu petunjuk yang tidak memiliki hasil yang paling baik adalah petunjuk yang mati.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Al-Qur’an adalah petunjuk yang melaluinya pengikutnya mencapai keunggulan dan ia menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala. Perbuatan baiknya, yang sesuai dengan perintah Al-Qur’an akan tumbuh seperti pohon yang beberkat (syajarah thayyibah), sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Mereka menghasilkan buah yang memberikan rasa manis dan rasa yang khas.”

Sebuah perubahan yang khas terjadi pada orang yang membaca Al-Qur’an sebagaimana seharusnya dibaca dan mengamalkan perintah-perintahnya. Nilai-nilai akhlak tinggi tercipta, dan seseorang menjadi orang yang beradab dan bertuhan, dan Allah telah memisalkan kondisi ini dengan pohon yang beberkat اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً کَشَجَرَۃٍ طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی السَّمَآءِ ‘… ini seperti pohon yang baik, yang akarnya kuat dan yang cabang-cabangnya sampai ke langit. (Ibrahim, 14:25)

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Dengan menguraikan hal ini Allah Ta’ala di sini mengibaratkan keimanan dengan benih dan pohon, sedangkan amalan dengan pengairan. Al-Qur’an memberikan perumpamaan seorang petani yang menabur benih dan menyebut menabur benih ini sebagai iman. Pengairannya berjalan, dan disini (maksudnya) amal. Karena itu hendaknya diingat bahwa iman tanpa amal adalah seperti sebuah taman tanpa air. Sebuah pohon akan kering jika setelah menanamnya pemiliknya tidak memperhatikan pengairannya. Demikian pula dengan iman. وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا (العنكبوت 70) “Dan adapun orang-orang yang berjihad di jalan kami … ‘(QS. 29:70), yaitu, tidak cukup dengan upaya kecil, jalan ini membutuhkan perjuangan keras.”[1]

Memang, Ramadhan menarik perhatian kita ke arah perjuangan [rohaniah]. Sementara merenungkan Al-Qur’an dan berusaha memahaminya, kita juga harus mengamalkan ajaran-ajarannya sehingga kita menjadi cabang-cabang segar dan hijau yang sampai (menjangkau) ke langit dan yang terhubung dengan Tuhan.

Dalam ayat-ayat yang dibacakan di awal khotbah, Allah telah menarik perhatian pada beberapa perintah. Perintah ini membimbing kita menuju ketakwaan dan memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak umat manusia. Meskipun terjemahan ayat-ayat menjadikan perintah ini sangat jelas, tetapi Hudhur menyebutkannya sekali lagi sebagai pengingat:

Pertama, suatu keharusan bagi kalian untuk tidak menyekutukan seseorang atau sesuatu dengan Allah.

[Kedua], dikarenakan memperlakukan orang tua dengan ihsan (baik) adalah suatu hal yang sangat penting, maka selama-lamanya janganlah melupakan hal ini, diharamkan atas kalian memperlakukan mereka dengan buruk (menyakiti mereka).

Perintah ketiga, janganlah membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan dan takut berkurangnya rezeki.

Perintah keempat, hindari setiap fawaahisy (ketidaksenonohan, hal-hal menyangkut perzinaan) yang tersembunyi dan nyata, bahkan jangan mendekatinya.

Perintah kelima, jangan membunuh jiwa, kecuali yang telah Allah tetapkan sebagai jaiz (boleh). Penjelasan kebolehannya akan dirinci kemudian.

Perintah keenam, jangan mendekati harta anak yatim.

Perintah ketujuh, ketika anak yatim itu telah dewasa, serahkan harta mereka kepada mereka.

Perintah kedelapan, berikanlah takaran secara penuh dan timbanglah dengan adil

Perintah kesembilan, berlakulah jujur ​​dan adil dalam segala situasi dan kondisi, kekerabatan, kedekatan hendaknya tidak menjadi penghalang dalam hal menegakkan keadilan ini.

Perintah kesepuluh, penuhi janji kamu.

Kemudian, dalam segala kondisi berusahalah untuk tetap terus-menerus berada di jalan yang lurus (shiratal mustaqim).

Perintah pertama melarang menyekutukan sesuatu dengan Allah. Orang berakal mana yang akan menyekutukan Tuhan Yang telah menciptakan kita dan Yang memelihara kemampuan mental, fisik dan keruhanian kita dan memberi kita semua nikmat?

 Namun, orang tidak mengerti juga, dan mereka menyekutukan Allah. Mereka tidak berusaha memahami makna syirik secara mendalam. Setiap era dan zaman terdapat orang yang memiliki kecenderungan ini dan inilah mengapa pesan pertama dari nabi Allah mengajarkan melawan syirik; memang syirik adalah dosa tak terampunkan.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Setiap dosa bisa dimaafkan tetapi menyekutukan Allah merupakan dosa yang tidak terampuni. اِنَّ الشِّرۡکَ لَظُلۡمٌ عَظِیۡمٌ “… Sesungguhnya, menyekutukan Allah adalah kedzaliman besar.” (QS.31:14). Dan لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ ‘… ‘Dia tidak akan mengampuni bahwa sesuatu disekutukan dengan-Nya …’ (QS.4:48). Di sini, syirik tidak hanya berarti menyembah berhala yang terbuat dari batu. Bahkan memuja pada sarana duniawi dan sedemikian mendalam dalam hal menyintai dunia (yaitu manusia memusatkan perhatian pada benda-benda duniawi yang menurutnya bermanfaat) juga adalah syirik. Sungguh ini adalah termasuk syirik. Perumpamaan dosa adalah seperti menghisap huqqah (merokok), meninggalkannya tidaklah terlalu sulit dan berat sedangkan perumpamaan syirik adalah seperti menggunakan candu, yang merupakan kebiasaan tidak mungkin dihentikan”. [2]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Syirik ada tiga macam. Jenis yang pertama adalah penyembahan berhala yang umum dan menyembah pohon. Ini adalah syirik yang jelas dan umum. Syirik jenis kedua adalah ketika terlalu bergantung pada sarana, yaitu, mengatakan ‘kalau ini dan itu tidak terjadi, aku pasti sudah mati’, ini adalah syirik. Jenis ketiga adalah syirik dimana seseorang menganggap dirinya sesuatu yang sebanding dengan Tuhan. Tidak ada yang terlibat dalam jenis syirik yang jelas (nyata) di era pencerahan, namun di masa kemajuan material ini, syirik sarana telah sangat meningkat.”[3]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan ibadah sebagai: “Wahai manusia, sembahlah Tuhan yang telah menciptakan kamu, yaitu, pahamilah bahwa semua pekerjaan kamu terjadi melalui-Nya, dan bertawakallah pada-Nya.”

“Hai manusia, sembahlah Tuhan yang telah menciptakan kamu … hanya Dialah yang layak disembah dan Dia Maha Hidup dan kamu hendaknya hanya menyintai-Nya.

Kesetiaan adalah dalam menjaga hubungan khusus dengan Allah, dan segala sesuatu yang lain dianggap tidak bernilai dibandingkan dengan-Nya. Seseorang yang begitu menyayangi anak-anaknya atau orangtuanya sehingga ia terus khawatir tentang mereka sepanjang waktu, juga melakukan semacam penyembahan berhala. Penyembahan berhala tidak hanya berarti menyembah berhala seperti Hindu, terlalu menyintai (sesuatu) juga merupakan satu jenis penyembahan.”

‘Wahai manusia, sembahlah Tuhan, Yang Esa dan tanpa sekutu, yang menciptakan kamu dan nenek moyangmu. Kamu hendaknya takut pada Tuhan Maha Kuasa, Yang menjadikan bumi tempat beristirahat bagi kamu dan langit (sebagai) atap. Yang menurunkan air dari langit untuk membuat berbagai macam rezeki bagi kamu dari buah-buahan. Jangan secara sengaja menyekutukan hal-hal tersebut dengan-Nya yang telah diciptakan-Nya untuk kamu.’”[4]

Menjelaskan lebih lanjut hakikat ibadah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Alasan sebenarnya penciptaan manusia adalah ibadah. Sama seperti yang dinyatakan di tempat lain: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.51:57). Ibadah sejati adalah ketika manusia menghapus semua kekerasan dan kebengkokan hatinya, dan menjadikan ladang hatinya sebersih petani membersihkan ladangnya … seperti celak yang digerus (ditumbuk) dengan sangat halus sehingga dapat dipakai di mata.

Demikian pula, keadaan ibadah adalah ketika ladang hati bebas dari batu, kerikil serta ketidakrataan dan begitu bersih sehingga mewujudkan jiwa yang murni. Jika cermin dibersihkan dengan cara ini maka kita dapat melihat wajah seseorang di dalamnya, dan jika tanah diperlakukan demikian maka semua jenis buah-buahan tumbuh di dalamnya.

Oleh karena itu, jika seseorang, yang telah diciptakan untuk menyembah Tuhan, membersihkan hati dan tidak membiarkan batu, kerikil atau ketidakrataan apapun tetap tinggal di situ, Allah akan terlihat di dalamnya. Aku katakan sekali lagi bahwa kecintaan Tuhan akan tumbuh dan berkembang di dalamnya serta memberikan buah yang manis dan sehat yang akan abadi.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga bersabda, bahwa hanya mungkin berdiri di hadapan Allah dalam keadaan kerendahan hati yang khas ketika ada hubungan yang luar biasa dengan-Nya. Dan cinta ini harus dua arah, antara Pencipta dan manusia. Kecintaan Tuhan harus begitu kuat dan begitu benar sehingga itu membakar kelemahan diri manusia, seperti petir membakar habis apapun yang disambarnya, dan kerohanian mengambil alih.

Ini adalah alasan penciptaan kita dan ini adalah alasan merasakan Ramadhan, dan ini adalah standar ibadah yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah ajarkan kepada kita. Ketika standar ini dicapai, manusia bebas dari segala macam syirik. Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita untuk beribadah dengan cara ini di Ramadan ini.

Perintah kedua adalah tentang berbuat baik kepada orangtua. Urutan perintah ini wajar karena setelah Tuhan, sebab orangtualah yang menjaga kita dan memelihara kita. Tuhan telah menyatakan: وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ‘Tuhan kamu telah memerintahkan: Jangan menyembah selain Dia, dan berbuat baiklah kepada orang tua. Jika salah satu dari mereka atau keduanya mencapai usia tua dengan engkau, jangan pernah mengatakan kepada mereka kata yang mengisyaratkan jijik atau mencela mereka, tapi beribacaralah kepada mereka dengan kata-kata yang sangat baik. “(QS. 17:24)

Kadang-kadang diterima keluhan orangtua dari orang yang berpendidikan dan maju, bahwa tidak hanya mereka (anak-anak mereka yang berpendidikan tinggi) tidak memenuhi hak-hak orangtua mereka tetapi bahkan berbuat zalim kepada mereka (orang tua mereka). Saudara perempuan mereka menulis bahwa saudara laki-laki bahkan mengangkat tangannya kepada orang tua terutama dalam hal pengaturan harta (warisan). Jika orang tua mengelola pengaturan harta (warisan) di masa hidup mereka, keturunan mereka berbuat jahat. Contoh-contoh ini juga ditemukan di antara kita dan orang tua ditinggalkan tanpa apapun.

Di negara ini (Inggris atau Barat) remaja melakukan kekasaran atas nama kebebasan. Secara umum di sini setelah usia tertentu anak-anak dianggap mandiri, tetapi kebebasan di sini tidak memperhatikan tingkat senioritas (penghormatan kepada yang lebih tua), sebenarnya merupakan kebodohan. Ajaran indah Islam adalah tidak mengungkapkan perasaan jijik apapun kepada orangtua, melainkan harus membalas kebaikan mereka dengan kebaikan meskipun mungkin mustahil membalas jasa kebaikan orang tua.

Ajaran indah Islam mengajarkan doa: رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا “Ya Tuhanku, kasihanilah mereka seperti saat mereka memeliharaku ketika aku kecil.” (QS.17:25). Ini memang harus menjadi standar kita. Doa ini dapat dipanjatkan untuk orangtua bahkan setelah mereka telah meninggalkan dunia ini untuk meninggikan kedudukan mereka di akhirat.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Allah telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah siapa pun kecuali Dia dan berbuat baiklah kepada orangtua kamu. Rabbubiyyat (sifat Allah merawat dan memelihara) adalah sebuah keajaiban!

Seorang bayi tidak memiliki kekuatan apapun dan ibunya merawatnya dalam kondisi itu, dan ayah memberikan dukungan kepada ibu dalam usahanya. Semata-mata dari rahmat-Nya Allah Ta’ala telah menjadikan dua sumber untuk merawat makhluk yang rapuh dan telah menanamkan nur kecintaan di dalam diri mereka dari Nur kecintaan-Nya. Namun, hendaknya diingat bahwa kecintaan orangtua itu terbatas sedangkan kecintaan Allah itu hakiki. Kecuali hati diilhami oleh Allah Ta’ala, tidak ada seorangpun — entah dia seorang teman, pir (guru spiritual) atau penguasa — bisa menyintai orang lain. Ini adalah rahasia dari Rabbubiyyat Allah yang sempurna, sehingga orangtua begitu menyintai anak-anak mereka sampai-sampai mereka menanggung segala macam rasa sakit dengan tulus ketika merawat mereka, sedemikian rupa, sehingga mereka bahkan tidak ragu untuk mati demi kehidupan anak mereka.” فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا – “Jangan berbicara yang menyakitkan hati orangtua kamu dan jangan mengatakan sesuatu kepada mereka yang tidak menghormati kedudukan mereka.”

Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah s.a.w. tetapi dalam kenyataannya pesan ini ditujukan kepada umat, karena orangtua dari Rasulullah s.a.w. telah meninggal pada masa kecil beliau. Perintah ini mengandung pesan tersembunyi dan itu adalah orang yang bijak dapat menguraikan, bahwa di sini Rasulullah s.a.w. diberitahu dan diminta untuk menghormati orang tua beliau dan memperhatikan kemuliaan mereka dalam segala tutur kata beliau kepada mereka, jadi berapa banyak (lebih-lebih) lagi orang lain harus menghormati dan memuliakan orang tua mereka!

Dan ini juga yang diisyaratkan oleh ayat kedua, وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا – “Tuhan kamu telah memerintahkan agar kamu menyembah-Nya saja dan berbuat baik kepada orangtua kamu.”

Ayat ini memerintahkan orang-orang yang menyembah berhala bahwa berhala itu bukan apa-apa dan berhala tidak melakukan ihsan (kebaikan) apapun kepada mereka, berhala tidak menciptakan mereka dan tidak merawat mereka ketika bayi.

Jika Allah berkehendak mengizinkan untuk menyembah yang lain selain Dia, tentu Dia akan memerintahkan orang tua untuk disembah karena mereka merawat dan memelihara secara lahiriah, dan setiap orang, bahkan burung dan binatang, melindungi anak-anak mereka ketika bayi. Oleh karena itu, setelah Rabbubiyyat Allah, mereka [orang tua] juga memiliki Rabbubiyyat dan kekuatan Rabbubiyyat ini juga dari Allah Ta’ala.”[5]

Demikianlah kedudukan orang tua yang harus diperhatikan. Hadis menceritakan bahwa Nabi s.a.w. mengatakan bahwa celakalah orang yang mendapati orangtuanya di masa tua dan tidak masuk surga karena tidak merawat mereka. [6]

Perintah berikutnya adalah: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ wa laa taqtuluu aulaadakum min imlaak “… janganlah membunuh anak-anak kamu karena takut miskin.“ Ini memiliki banyak pengertian. Keindahan dari ajaran Islam adalah bahwa anak diperintahkan untuk memperlakukan orangtua dengan baik dan tidak mengatakan sesuatu yang kasar kepada mereka, meskipun jika dia tidak menyukai apa yang mereka (orangtua) katakan, dia hendaknya bersikap baik dan patuh.

Selanjutnya, orang tua diperintahkan untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka dan tidak membiarkan kemiskinan menghalangi. Perhatikan pendidikan dan pelatihan anak-anak sehingga mereka tidak berakhir mati secara ruhani. Ketika Tuhan memberikan orang tua kedudukan Rabbubiyyat, Dia mewajibkan mereka untuk merawat anak-anak mereka dan tidak membunuh mereka. Tentu saja, tidak ada orang berakal akan membunuh anak-anaknya, kecuali orang yang kurang akal atau orang yang telah melupakan Tuhan.

Di sini (Inggris), orang terus mendengar mengenai ibu yang membunuh anak-anak mereka dengan bantuan pacar mereka, dan di negara-negara terbelakang orang mendengar orang tua membakar diri sampai mati bersama dengan anak-anak mereka karena putus asa dan pikiran yang tidak stabil.

Salah satu arti ‘… jangan membunuh anak-anakmu…’ adalah tidak memberi mereka pendidikan yang baik. Sebagian orangtua tidak memberikan cukup waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka karena urusan bisnis, dan ibu mengeluh bahwa karena ayah tidak di rumah anak-anak telah keluar jalur.

Ketika anak-anak mencapai remaja, mereka sangat membutuhkan kehadiran dan persahabatan ayah, ketika mereka mempelajari hal-hal yang salah dari pengaruh luar. Ini adalah pembunuhan akhlak anak-anak sendiri. Ayah mungkin mengatakan bahwa waktu mereka habis dengan bekerja keras untuk mencari nafkah bagi anak-anak mereka, tetapi apa gunanya kekayaan yang menyebabkan anak-anak tersesat dari jalan mereka?

Contoh lain dari ini [contoh lain dari makna membunuh anak-anak] yang lazim di dunia Barat dan juga dapat ditemukan dalam Jemaat kita adalah bahwa para ibu pergi bekerja atau tidak memperhatikan keluarga di rumah dan menghabiskan waktu mereka di tempat lain. Ketika anak-anak pulang ke rumah tidak ada orang untuk merawat mereka. Para wanita mengatakan bahwa mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan ketika mereka kembali ke rumah dalam kondisi lelah, mereka tidak memperhatikan keluarga dan mengabaikannya, yang sangat berpengaruh buruk pada anak-anak. Ada beberapa perempuan bekerja hanya untuk mendapatkan uang untuk diri mereka sendiri.

Beberapa perempuan dan kaum ibu yang bekerja mengatakan bahwa mereka terpaksa pergi keluar untuk bekerja karena suami mereka menganggur (karena malas berusaha). Para suami semacam itu hendaknya takut kepada Tuhan karena menjadi sumber penyebab ‘membunuh anak-anak mereka.”

Bila suami tidak memperhatikan istrinya dengan cara yang tepat maka itu juga termasuk ‘membunuh anak-anak mereka’. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu pernah bersabda menyampaikan contoh, jika seorang suami tidak memperhatikan secara sempurna dengan memberikan makanan yang cukup kepada istrinya yang sedang hamil sehingga melemahkan janin yang ada di dalamnya juga semacam ‘membunuh anak-anak’.

Makna lain dari ‘membunuh anak-anak’ ialah sengaja melakukan penghentian kehamilan karena takut kemiskinan. Penghentian kehamilan hanya diperbolehkan dengan dasar bila kesehatan sang ibu berada dalam bahaya (terancam oleh kematian), atau di beberapa keadaan berdasarkan nasehat dokter dengan menggugurkan janin atas dasar pandangan bahwa keberadaan janin tersebut menjadikan si ibu terancam jiwanya (bisa menimbulkan kematian si ibu). Adapun menggugurkan janin karena takut miskin tidak diperbolehkan. Allah menyatakan: نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ‘… Kamilah memberikan rezeki kepada kamu dan kepada mereka …’ dan إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا ‘… sungguh, pembunuhan mereka adalah dosa besar.’ (17:32) Muslim sejati tidak mungkin dapat mengambil langkah-langkah seperti itu. Jangankan dosa besar, mereka bahkan menghindari dosa terkecil. Anak harus diberi waktu dan perhatian. Pendidikan mereka pertalian dengan Jemaat, karena itu pendidikan yang baik dan saleh harus diutamakan. Lingkungan rumah harus dibuat kondusif untuk pendidikan yang saleh, sehingga anak bisa tumbuh menjadi anggota masyarakat yang berguna.

Hal ini tentu menjadi tanggung jawab orang tua untuk membesarkan mereka dengan cara yang baik dan mendidik mereka dengan baik. Daripada mengutamakan diri mereka sendiri, orang tua hendaknya memberikan waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka. Ayah tidak bisa mengatakan itu adalah tugas seorang ibu untuk merawat anak-anak, dan ibu-ibu tidak bisa mengatakan itu adalah tugas seorang ayah. Hal ini tentu saja tugas mereka berdua untuk merawat anak-anak mereka bersama-sama. Anak-anak menerima asuhan terbaik jika itu dilakukan berdua, dimana ibu dan ayah memainkan peran masing-masing.

Di sini [di Barat] ada banyak keluarga orang tua tunggal (anak-anak hanya bersama ibunya atau ayahnya) dan anak-anak menjadi rusak. Sekolah lelah dengan keluarga seperti ini demikian juga polisi. Anak-anak yang menempuh jalan yang salah di awal kehidupan sering pergi bergabung dengan kelompok kriminal.

Ini menjadi penyebab keprihatinan di sini bahwa tingkat perceraian juga meningkat di antara kita, dan ketika perceraian terjadi dalam sebuah keluarga dengan anak-anak itu merusak anak-anak. Orang tua harus mengorbankan ego dan kepentingan mereka demi anak-anak mereka.

Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita semua untuk mengamalkan perintah-perintah Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Tiga perintah [dari ayat-ayat yang dibacakan di awal] dijelaskan dalam khotbah hari ini, sisanya akan dijelaskan lain waktu.

[1] Dikutip dari buku Tafsir Alquran karya Hadhrat Masih Mau’ud as [buku tafsir yang disusun setelah wafat beliau as berisi kutipan-kutipan dari tafsir beliau as yang ada dalam buku-buku beliau as], vol. 2 hal. 757-758

[2] Malfuzhat, vol. 6, hal. 18-19

[3] Tafsir Alquran, vol. 3, hal. 657

[4] Tafsir Alquran, vol. .. hal. 454-455

[5] Haqiqatul Wahyi dan Dikutip dalam buku Tafsir Alquran karya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. (buku tafsir yang disusun setelah wafat beliau a.s. berisi kutipan-kutipan dari tafsir beliau a.s. yang ada dalam buku-buku beliau a.s.), vol. 3, hal. 59-60.

[6] Hadits dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhainya, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam ditanya: Siapa wahai Rasulullah? Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga (karena tidak menjaganya)”.(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.

عَن النَّبِيِّ r قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُل الْجَنَّةَ.