بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba [1]

Tanggal 18 Nubuwwah 1390 HS/November 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Dalam khotbah Jum’at sebelumnya, saya menyampaikan satu riwayat dari Hadits, bahwa selama perang Ahzab, ada hari tertentu ketika Nabi Suci saw dan para sahabatnya, karena adanya serangan gencar dari musuh secara terus-menerus dan berulang-ulang terpaksa untuk menjamak (menggabungkan) lima shalat. Setelah itu, tuan [Muhammad Ahmad] Na’im dari ‘Arabic Desk’ “Meja Arab”[2] kita mengirimkan rujukan kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang meniadakan (menolak) riwayat (narasi, cerita) yang terkait tersebut. Setelah petunjuk dari Hadhrat Masih Mau’ud as, tidak ada perlu lagi untuk membahas lebih lanjut sesuatu apapun. Beliau as adalah Imam zaman ini. Bahkan, mengenai riwayat-riwayat, beliau as telah menyatakan, “Aku sendiri melalui mimpi yang benar atau dalam keadaan kasyaf (vision), telah mendengar dari Nabi Suci saw atau beliau membenarkannya.” [3]

            Jadi oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa riwayat yang saya telah sampaikan itu, juga disebutkan dalam beberapa kitab Hadits. Peristiwa yang sebenarnya tidak terjadi dengan cara seperti itu dan semua buku Hadits tidak sepakat (sama penceritaannya) atas hal ini. Riwayat itu tidak berbicara tentang shalat lima waktu [dijamak sekaligus]. Dalam Hadits mana pun riwayat ini disebutkan, tidak berbicara tentang shalat lima waktu, namun empat shalat. Akan tetapi bahkan pada masalah [empat shalat dijamak] ini ada perbedaan pendapat. Pendapat yang mu’tabar (dapat dipercaya atau diandalkan) adalah bahwa hanya shalat Ashar yang dikerjakan pada bersama-sama dengan (pada waktu) shalat Maghrib. Atau, shalat itu dikerjakan saat sempitnya waktu.

            Sehubungan dengan hal ini, demi ilmu pengetahuan, saya akan menyajikan narasi tertentu  karena beberapa orang memiliki minat dalam hal ini. Dalam hal pertanyaan dari empat shalat yang dijamak, ini adalah narasi (riwayat) Sunan Tirmidzi.

عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ، قَالَ: عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّ الْمُشْرِكِينَ شَغَلُوا رَسُولَ اللهِ عَنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِن اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ فَأَمَرَ بِلالا فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ. (سنن الترمذي، كتاب الصلاة)

Dari Abu Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud (ra) berkata bahwa Abdullah Bin Masu’d berkata, “Pada hari [perang] Ahzab[4], kaum Musyrikin (penyembah-penyembah berhala) membuat sibuk Nabi saw [karena serangan mereka sehingga membuat Nabi saw kesulitan] melakukan empat shalat, sampai memasuki sebagian malam. Masya Allah. Kemudian Nabi Suci saw memerintahkan Hadhrat Bilal (ra), agar menyerukan Adzan [azan]. Lalu ia menyerukan Iqamah,  dan Nabi Suci saw memimpin shalat Zhuhur. Kemudian Iqamah dan Nabi Suci saw memimpin shalat Ashar, lalu Iqamah lagi, dan Nabi Suci saw memimpin shalat Maghrib, maka Iqamah itu dilakukan sekali lagi, dan Nabi Suci saw memimpin shalat Isya.’” [5]

Baihaqi juga menulis riwayat ini dalam kitabnya. Di Arab Saudi ada Maktabah (Penerbitan dan Percetakan buku-buku) yang menerbitkannya yaitu Maktabah ar-Rushd. Pada tahun 2004 mereka menerbitkannya dan riwayat ini dapat ditemukan. [6]

Namun [berbeda dengan hadits diatas], riwayat yang ditemukan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Abi Daud, dengan mengacu pada Hadhrat Ali (ra), penjabarannya adalah demikian,

 عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ الأَحْزَابِ قَالَ رَسُولُ اللهِ مَلأَ اللهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا شَغَلُونَا عَن الصَّلاةِ الْوُسْطَى حَتَّى غَابَت الشَّمْسُ” (البخاري، كتاب الجهاد والسير).

Dari Ali (ra) mengatakan, “Pada hari perang Ahzab, Nabi Suci saw mengatakan, ‘Semoga Allah memenuhi rumah mereka dan kuburan mereka dengan api, karena mereka mencegah kita  dari melakukan ‘shalat al-wustha’ [shalat tengah-tengah] sehingga matahari telah tenggelam.’” [7]

Dari rujukan ini dapat disimpulkan bahwa shalat tersebut adalah shalat Ashar. Dalam konteks peristiwa ini, apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Nabi Suci saw dikarenakan begitu merasa kesulitan [terluka  hatinya] sehingga ia mengutuk (berdoa buruk) kepada musuh. Di sini, pentingnya subyek (bahasan) yang dimunculkan lebih jauh adalah, bahwa untuk satu shalat yang tertunda, beliau saw tidak merasa senang. Dan Nabi Suci saw  menggunakan kata-kata yang keras mengecam musuh.

Dalam hal ini, Shahih Bukhari menyebutkan narasi lain di mana Hadhrat Jabir bin Abdullah ra telah menyatakan,

عن عبد الله بن عمر أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَت الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ. قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حَتَّى كَادَت الشَّمْسُ تَغْرُبُ. قَالَ النَّبِيُّ r وَاللهِ مَا صَلَّيْتُهَا، فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأَ لِلصَّلاةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا فَصَلَّى الْعَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَت الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا الْمَغْرِبَ.

[Berita] dari Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Khattab (ra) pada hari Khandaq (perang Parit), setelah matahari berada di ufuk barat, ia mulai berbicara buruk (memaki-maki) orang kafir dari Quraish. Dia mengatakan ‘Ya Rasul Allah! Saya tidak bisa melakukan shalat Ashar, sehingga matahari mulai hampir terbenam.’ Nabi Suci saw menjawab,  ‘Demi Allah, saya juga tidak melakukan shalat.’ Setelah ini, kami pergi menuju ‘Buthhaan’ dan Nabi Suci saw melakukan wudhu untuk shalat. Kami juga melakukan wudhu dan setelah matahari telah terbenam, Nabi Suci melakukan shalat Ashar. Setelah itu, ia kemudian juga dilaksanakan shalat Maghrib. [8]

‘Allamah Ibnu Hajar Asqalani dalam ‘Fath ul-Bari’ [sebuah buku berisi] komentar terhadap kitab hadits Shahih al-Bukhari, bahwa Ibnu Arabi telah menjelaskan hal ini,

“وَصَرَّحَ بِذَلِكَ اِبْن الْعَرَبِيّ فَقَالَ: إِنَّ الصَّحِيح أَنَّ الصَّلاة الَّتِي شُغِلَ عَنْهَا وَاحِدَة وَهِيَ الْعَصْر”.

            Ibnu Arabi menjelaskan mengenai (hadits) itu, “Sesungguhnya yang benar adalah bahwa shalat yang Nabi Suci saw tercegah (terhalang) melakukannya hanyalah satu saja, yaitu shalat Ashar. Shalat Ashar dilaksanakan di akhir waktu shalat Maghrib atau itu dilakukan pada titik terakhir terbenam matahari. [9]

Sekarang saya tambahkan penjelasan rinci dari Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai masalah ini. Aku akan membacakan apa yang telah dikatakan. Seorang pendeta Kristen, bernama Fateh Masih (artinya Kemenangan Almasih/Kristus), mengangkat keberatan dan tuduhan yang banyak dan bermacam-macam mengenai Nabi Suci saw dan ia mengirimkan surat berisi kata-kata kotor kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as (seperti) memberikan tanggapan atas hal ini di dalam karya tulis beliau as, Nurul Quran, bagian 2. Ada berbagai tuduhan yang dijawab dalam buku itu. Diantaranya adalah juga tuduhan bahwa pada suatu hari Nabi Suci saw tidak menunaikan empat shalat. Mengenai hal itu, Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab sebagai berikut. Ditujukan kepada Fateh Masih, beliau as bersabda,

“Dan waswas setani tuan (yaitu waswas setani kedalam diri Fateh Masih) bahwa selama masa penggalian parit, empat shalat telah diqadha [diartikannya tidak dilaksanakan]. Pertama-tama, beginilah keadaan tingkat pengetahuan Anda perihal Anda telah menggunakan adalah kata qadha. Hai orang yang tidak tahu! Begitulah kalian membicarakan mengenai mengqadha shalat. Adalah benar-benar tidak benar untuk menyebut tark namaaz (meninggalkan shalat) dengan kata ‘qadha’. Kata qadha benar-benar bukan kata [yang dipakai] untuk menamai ‘tidak melaksanakan (menunaikan) shalat’. Jika shalat seseorang hilang atau terlewat (tidak dilaksanakan), maka itu disebut Faut. Untuk alasan ini kami membuat tantangan sejumlah 5000 Rupee bahwa ada lagi seorang yang sedemikian lugunya yang mengangkat tuduhan terhadap Islam yang bahkan masih tidak tahu arti kata ‘qadha’.” Mengenai hal ini, ya, bahkan sebagian orang-orang kita ada yang tidak tahu. Mereka juga menganggap bahwa qadha berarti bahwa shalat telah disia-siakan (hilang atau terlewat) sedangkan qadha sebenarnya berarti shalat dilaksanakan, meskipun terlambat, setelah waktu pelaksanaan shalat itu.

Beliau as bersabda, “Seseorang yang tidak dapat menggunakan kata-kata secara tepat dan di tempat yang tepat, kapankah orang yang ‘naadaan’ (lugu, tuna ilmu, bodoh) itu dapat mempunyai kemampuan untuk membicarakan pokok-pokok filosofi yang mendalam (yaitu dalam masalah yang jelas ini, bagaimana mereka dapat meningkatkan tuduhan dan keberatan dari jenis apa pun terhadap ini?) Masalah lainnya adalah tuduhan bahwa pada saat menggali selokan lebar berparit [sebelum penyerbuan gabungan golongan Yahudi dan  Khandaq/Perang Parit, Red.], empat shalat digabungkan (dijamak). Jawaban untuk tuduhan ini adalah Allah Ta’ala berfirman bahwa ‘diin me harj nehi’ – “tidak ada kesusahan dalam agama.” (Dengan kata lain, dalam iman tidak ada semacam  kesukaran atau kesulitan), yaitu kesulitan sedemikian rupa yang menjadikan bencana kehancuran bagi seseorang. Untuk alasan ini pada saat zharurat (mengharuskan, dibutuhkan, diperlukan) dan dalam keadaan bala-bencana, Allah Yang Mahakuasa telah memerintahkan agar shalat harus digabungkan dan qashar bisa dilakukan. Namun, pada tempat ini pada pandangan kita, tidak ada Hadits yang mu’tabar (handal, terpercaya) yang menyebutkan bahwa empat shalat digabungkan. (Tidak ada yang menyebutkan empat shalat dijamak). Bahkan, dalam Fath ul-Bari, Syarh (komentar) dari Shahih Bukhari, tertulis bahwa peristiwanya adalah hanya ini saja yaitu satu shalat, shalat Ashar yang  disingkat dan dilaksanakan pada waktu yang sempit yang bukan waktu biasa [dilaksanakan]. Jika Anda ada di depan kami maka kami akan meminta Anda untuk membuktikan dengan menyampaikan bukti yang otentik, benarkah semua hadits yang menyebutkan empat shalat dalam satu waktu terlewatkan semua (tidak dilaksanakan semua shalat itu) apakah muttafaq (disepakati banyak kitab hadits, terutama Bukhari dan Muslim, Red.)? Menurut sudut pandang syariat, empat shalat dapat dijamak [dengan cara] shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dapat dijamak sedangkan Maghrib dengan Isya dapat dijamak. Memang, ada sebuah riwayat yang lemah menyebutkan bahwa shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya semua digabungkan bersama-sama. Namun, Hadits Shahih lainnya meniadakannya (menolak riwayat ini) dan hanya ini yang kuat bahwa shalat Ashar dilaksanakan pada ‘tank waqt me’ (waktu yang sempit, tertekan, terpaksa, terlambat).” [10]

Oleh karena itu, setelah keputusan Hadhrat Masih Mau’ud as, setelah pengesahan otoritas ini, Hadits yang menyebutkan empat shalat yang digabung adalah tidak benar. Faktanya adalah, itu hanya berkaitan dengan shalat Ashar. Tapi, seperti yang telah saya katakan, “Nabi Suci saw pun begitu sedihnya sehingga beliau saw berbicara buruk tentang musuh dan mengatakan, ‘Mereka menyebabkan shalat-shalat kita terlewat.’” Dalam kasus apapun, berkaitan dengan Hadits yang telah saya sebut dalam khotbah sebelumnya, manfaat yang muncul dari [kesalahan] ini adalah bahwa di mana hal ini disebutkan dalam literatur kita akan kita perbaiki (dikoreksi). Sebenarnya ada satu buku karya Hadhrat Sahibzada Mirza Bashir Ahmad ‘Sirat Khatamun Nabiyyin saw’ – “Kehidupan dan Karakter Sang Khatamun Nabiyyin saw” yang di dalamnya terdapat penjelasan. Akan tetapi, masalah ini telah disebutkan di dalamnya dengan cara (penjelasan) yang benar seperti disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menjelaskannya. Dalam buku itu, ia mengutip William Muir yang menyebutkan tentang empat shalat yang digabungkan. Namun, Hadhrat Mia Sahib (Mirza Bashir Ahmad) telah mengingkari (menolak) penegasan William Muir, dalam konteks keputusan Hadhrat Masih Mau’ud as, hanya shalat Ashar yang dikerjakan bukan pada waktunya (waktu Maghrib akhir), yang juga disebutkan dalam hadits-hadits, dalam hadits Bukhari pun ada. Sesuai dengan ini, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib telah menulis dan menjelaskan secara rinci bahwa hanya shalat Ashar yang dilaksanakan di luar waktu normal (biasa). [11]

Namun, di tempat lain dalam satu khotbahnya pada tanggal 23 Mei 1986, Hadhrat Khalifatul Masih IV rahimahullahu ta’ala ‘anhu berbicara mengenai lima shalat yang digabungkan. Beliau rha mengambil rujukan dari hadits Musnad Ahmad bin Hanbal dan juga hadits Bukhari disebutkan. Akan tetapi, Tahir Foundation (Yayasan Tahir), yang menerbitkan khotbah-khotbah beliau rha juga menyebut referensi dari Bukhari, Kitab al-Maghazi, sedangkan dalam al-Bukhari kitab al-Maghazi, tidak ada penjelasan seperti itu. [12]

Biasanya, saya sendiri berusaha untuk melihat rujukan-rujukan Hadits yang asli [langsung dari kitabnya, Red.]. Tetapi karena saya melihat Hadits ini disebutkan dalam khotbah Hadhrat Masih Khalifatul IV rha, dan juga karena referensi (sumber rujukan) dikutip, maka saya tidak mengecek (memeriksa) Hadits. Inilah sebabnya mengapa kesalahan itu dibuat. Tapi bagaimanapun seperti yang saya katakan sebelumnya, manfaat telah muncul keluar dari kesalahan ini. Pertama-tama di mana ini telah disebutkan di mana saja dalam literatur (buku-buku) kita, ini akan diperbaiki. [13] Kedua, saya sendiri juga menyadari, bahwa kadang-kadang di mana pun saya mengambil kutipan referensi maka guna memastikannya, saya harus berupaya untuk memeriksa mereka lebih lanjut [memeriksa langsung dari buku-buku aslinya dan meneliti isinya, Red.].

Ketiga, berbagai departemen dan lembaga kita harus berhati-hati bahwa setiap kali mereka sedang (akan) mempublikasikan (menerbitkan) salah satu dari khotbah-khotbah atau tulisan-tulisan, bahkan dari Khulafa (Khalifah-Khalifah) sebelumnya, harus merujuk (memeriksa dengan melihat) referensi yang asli (sumber langsung). Jika Hadhrat Masih Mau’ud as  telah memberi arahan tentang bahasan yang disebut dalam buku itu, mereka harus melihatnya langsung (dari tulisan asilnya). Ini adalah benar bahwa kata-kata Khalifa-e-Waqt tidak dapat diperbaiki oleh siapapun akan tetapi hendaknya bertanya (memintanya) kepada Khalifa-e-Waqt. Apabila di mana pun ada penjelasan Khulafa (para Khalifah) sebelumnya maka rujukannya ialah riwayat hadits-hadits shahih atau di mana saja ditemukan [bahasannya] yang tercantum dalam buku Hadhrat Masih Mau’ud as, yang perbaikannya harus sesuai dengan itu. Namun harus ditanyakan kepada Khalifa-e-Waqt dan kemudian perbaikan harus dilakukan. Oleh karena itu, para pengurus Tahir Foundation (Yayasan Tahir) juga, hendaknya memperbaiki (mengoreksi) khotbah beliau (Hudhur IV rha) pada tanggal  23 Mei 1986 yang menyebutkan contoh tentang adanya lima shalat dijamak dalam satu waktu. Dalam edisi mendatang mereka harus memperbaiki ini. Bagaimana mereka harus memperbaiki ini? Hendaknya mereka menulis [teks koreksi] dan mengirimkannya kepada saya kemudian saya akan memberikan arahan harus bagaimana memperbaikinya. Untuk ke depannya demikian juga inilah prinsipnya. Siapa pun Khalifa-e-Waqtnya, jika ada Khulafa (para khalifah) sebelumnya telah memberikan referensi (rujukan kitab atau buku) yang salah, maka bimbingan akan diberikan menurut arahan Khalifa-e-Waqt [guna memperbaikinya]. Namun, adalah cara salah bila menerbitkannya tanpa penelitian mengenai siapa dan tentang apa sedangkan ada riwayat-riwayat yang lain yang berbeda, atau ada riwayat yang meragukan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan keputusan mengenainya sehingga harus melakukan penelitian yang menyeluruh. Sesungguhnya, saya menganggap klarifikasi ini diperlukan. Seperti yang telah saya katakan ada manfaat yang telah diberikan kepada semuanya, dari perspektif faktual dan intelektual ini telah disampaikan. Hal itu telah diperbaiki dan hal intelektual (ilmiah) lain juga muncul. Juga bimbingan secara kelembagaan (intizamiyah, kepengurusan Jemaat) telah diberikan.

Sekarang setelah ini, subyek yang ingin saya arahkan ialah mengenai ‘dzikr khair’ – “penyebutan kenangan baik” kewafatan beberapa orang-orang kudus dan suci tertentu yang baru saja meninggal. Pertama dari semuanya yang akan saya sebutkan adalah pada minggu sebelumnya, Hadhrat Sahibzadi Amatun Nashir Sahibah putri Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani (II) radhiyallahu ta’ala ‘anhu yang juga beliau itu khaalah atau bibi saya (Hudhur ayyadahullahu ta’ala binasrihil aziz) telah wafat. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’ – “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya”. Pada saat kewafatannya berumur 82 tahun, dan Masya Allah sampai akhir waktu beliau masih aktif. Tiga atau empat hari sebelumnya beliau mengalami sakit jantung dan masuk ke rumah sakit. Tuan Dokter Noori merawatnya. Setelah itu kesehatan beliau membaik, namun dua tiga hari kemudian tiba-tiba mendapat heart attack (serangan jantung) sehingga akhirnya beliau pergi berjumpa Sang Khaliqnya. Saat itu sedang ada di rumah sakit. Almarhumah adalah orang yang selalu bermuka ceria, murah senyum dan sangat ramah sekali. Beliau sangat memperhatikan keperluan orang lain, terutama terhadap orang-orang yang tidak mampu dan miskin yang memerlukan bantuan keuangan. Dan ciri khas beliau adalah sangat menjaga perasaan orang lain. Surat-surat ta’ziyah (ungkapan duka-cita) yang datang dan masih datang kepada saya dari orang-orang yang mengenal beliau, di dalamnya mereka menulis kira-kira seperti ini, “Kami melihat sekurang-kurangnya beliau adalah orang yang ’be nafs’ tidak egois, memikirkan orang lain dan menjaga perasaan orang lain.” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat khaalah kami dan menempatkan beliau bersama orang-orang yang dicintai dan dikasihi-Nya. [Aamiin]

            Beliau lahir pada bulan April 1929 dari kandungan Hadhrat Sarah Begum Sahibah, istri ke-3 dari Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Ketika ibunda beliau itu wafat, Sahibzadi Amatun Nashir baru berumur 3 ½ tahun. Gambaran perasaan dan pikiran masa kanak-kanak beliau telah disebut-sebut oleh Hadhrat Khalifatul Masih II ra dalam satu bahasan. Gambaran tersebut yang dengan membacanya, tidak akan terjadi pada seseorang kecuali tertunduk haru perasaannya. Saya sangat mengontrol diri saya sendiri. Sedikit banyak saat membacanya sulit untuk mengontrol diri. Sesungguhnya di dalamnya ada beberapa bagian mengenai masa kanak-kanak beliau yang telah melakukan karya besar yang saya akan menjelaskannya. Dan di dalamnya ada pelajaran besar bagi tiap orang.

            Sebagaimana telah saya katakan, umur beliau masih tiga setengah tahun saat ibundanya wafat. Namun, meskipun masih dalam masa kanak-kanak itu, beliau telah menegakkan sebuah keteladanan. Dan bahasan yang ditulis oleh Hadhrat Khalifatul Masih II ra adalah bahasan yang ditulis dengan terperinci. Sesungguhnya, saya menjelaskan sebagian daripadanya, satu dua hal saja. Saat seseorang membaca bahasan ini satu keadaan penuh keharuan akan terjadi dan kemudian penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih II ra berpengaruh demikian mengherankan. Sebagaimana telah saya katakan saya akan menjelaskan sebagian daripadanya saja. Ringkasnya, sebelumnya berbagai macam orang telah mengirim tulisan mengenai riwayat hidup beliau yang akan saya jelaskan. Bahkan, ibunda saya dulu biasa mengatakan, “Hadhrat Mushlih Mau’ud ra (ayahanda) telah mempercayakan bibi engkau setelah kewafatan ibundanya kepada Hadhrat Ummi Nashir ra dan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga pernah menyebutkannya.” Dan kemudian Hadhrat Khalifatul Masih II ra pada waktu itu memberi petunjuk kepada ibunda saya, “Perhatikanlah ia!” Saat itu ibu saya berumur 19 tahun dan suka bergaul dengan anak-anak. Pada waktu ibunda saya menikah, bibi saya ini berumur 8 tahun atau 9 tahun. Beberapa waktu kemudian ia tinggal bersama Hadhrat Amma Jaan Ummul Mu’miniin.

            Di Rabwah, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra membuatkan rumah untuk anak-anak beliau dan bibi tinggal di rumah ibunda kami. Pada waktu rumah masih belum direnovasi dan belum ada bangunan tambahan, beberapa waktu kemudian tambahan bengunan adalah adanya pintu di bagian tengah, satu rumah dengan yang lain dapat keluar masuk dan menjadi tidak kesulitan. Saya senantiasa berjumpa dengan bibi yang selalu tersenyum ceria dan penuh kegembiraan dan menyaksikan ada orang besar dan kecil di dalam rumah beliau. Sifat mehmaan nawaazi (keramahan kepada tamu) dalam diri beliau begitu besar. Orang kaya, orang miskin, orang berumur, orang yang masih anak-anak datang ke rumah beliau untuk suatu keperluan. Suami beliau, paman kami yang terhormat tuan Pir Mu’inuddin putra Pir Akbar Ali yang kebanyakan keluarganya bukan orang-orang Jemaat. Bibi tetap menyambut mereka dengan hormat dan penuh perhatian. Beliau juga menjalin hubungan keluarga dengan mereka. Keponakan perempuan tuan Pir Mu’inuddin menulis, “Keluarga kami dari jalur ayah banyak yang ghair Jemaat namun bibi kami memperlakukan mereka dengan penuh cinta kasih dan penghormatan dan menghargai mereka serta menyebut-nyebut mereka dengan kecintaan.” Dengan perlakuan yang penuh kecintaan ini semoga Allah Ta’ala  menjadikan sebab kedekatan dan mendoakan mereka agar Allah Ta’ala memberi taufik kepada mereka untuk mengenal dan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hubungan antara almarhumah dengan para keponakan beliau bersifat tidak canggung (terus terang) dan penuh kecintaan; beliau saling percaya dengan mereka semua dan karena ketidakcanggungannya ini sehingga nasehat-nasehat beliau pun didengar dan tidak banyak dibantah oleh mereka. Saat menegur pun dengan penuh kecintaan sembari tersenyum. Dalam memberikan nasehat biasanya sambil menyebut-nyebut kejadian-kejadian saat  Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Ammaa Jaan (istri Hadhrat Masih Mau’ud as) dan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan nasehat-nasehatnya. Salah seorang bhanji (putri saudari, keponakan jalur saudara perempuan) beliau menyampaikan kepada saya,  “Suatu kali tanpa sengaja saya dan saudari sepupu melakukan kesalahan yang dalam kesalahan tersebut ada semacam kelucuan.” Keduanya merasa tidak enak dan ingin menyampaikan kepada orang yang dituakan dalam keluarga mengenainya. Namun, merasa khawatir mendapat teguran sehingga membuat mereka berlari-lari kecil tatkala melihat siapa saja anggota keluarga yang dituakan. Akhirnya keduanya datang kepada beliau (almarhumah). Beliau dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata keduanya. Hal-hal yang lucu dari kejadian itu juga sedemikian rupa membuat beliau tertawa dan kemudian dengan penuh kecintaan, beliau memberikan masukan atas peristiwa itu bagaimana corak ajaran Islam mengenainya. Maka bila ada satu peristiwa atau kejadian tentang suatu hal, beliau tidak melewatkannya tanpa menjelaskan dari sisi ajaran Islam dan riwayat-riwayat Ahmadiyah. Apabila berjumpa beliau berupaya memberikan pengertian dari segi-segi itu. Dan seluruh pembicaraannya tidak jauh dari hal ini. Bersamaan dengan itu beliau juga memberi pengertian soal ini kepada para putri dari keluarga beliau, “Dalam diri kalian terdapat suatu kewajiban (tanggungjawab). Hendaknya selalu menetap (mengingat) dalam diri kalian mengenai hal itu.” Apabila saya pergi berjumpa ke rumah beliau, saya disambut dengan sangat gembira lebih-lebih setelah saya menjadi Khalifah beliau menyambut saya dengan hangat dan hormat sekali. Ketaatan dan penghormatan beliau semakin menonjol sekali. Sering menulis surat kepada saya meminta doa dan meminta amanat dan pesan-pesan. Beliau menunjukkan perilaku hormat yang luar biasa terhadap Khilafat yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang Ahmadi. Beliau begitu hormat terhadap Khilafat sehingga membuat hati saya sungguh merasa malu terhadap beliau. Beliau datang ke Jalsa di London dua kali, sangat hormat dan sangat mencintai Khilafat dan beliau menjalin hubungan dengan Khilafat sangat erat sekali. Setiap kali datang ke Jalsa di London selalu beliau berkata, ingin datang setiap tahun datang ke London untuk Jalsa akan tetapi disebabkan umur sudah lanjut tidak dapat datang.

Seperti telah saya sampaikan bahwa beliau pernah tinggal bersama Hadhrat Amma Jaan (Hadhrat Ummul Mu’minin, Nushrat Jahan Begum ra, istri Hadhrat Masih Mau’ud as, neneknya almarhumah) dalam waktu yang cukup lama. Tatkala ibu saya telah menikah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Hadhrat Amma Jan ra. Beliau ingat dan mengenal banyak sekali riwayat dan kisah-kisah tentang Hadhrat Amma Jan. Ketika beliau datang ke London, Sadr Lajnah Imaillah UK mengundang beliau dan merekam banyak sekali peristiwa-peristiwa yang diceritakan tentang Hadhrat Amma Jaan oleh beliau. Jika hasil rekaman itu Lajnah UK belum menerbitkannya maka haruslah ia diterbitkan menjadi sebuah buku. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II ra meminta dua orang istri beliau bergantian untuk menjaga Hadhrat Amma Jaan setiap malam apabila kesehatan beliau terganggu, maka Hadhrat Amma Jaan berkata, “Cukuplah anak perempuan muda (Hadhrat Sahibzadi Amatun Nashir) ini untuk menjaga saya tidak perlu orang lain. Dia ini sudah biasa dengan saya.” Hadhrat Amma Jaan ra memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap beliau ini, dan Hadhrat Amma Jaan sering merasakan sangat kehilangan sekali setelah beliau menikah dan berpisah dengan beliau ini. Ketika beberapa hari kemudian berjumpa kembali, Hadhrat Khalifatul Masih II ra membawanya kepada Hadhrat Ammaa Jaan sambil memegang lengannya bersabda, “Ini putri engkau ingin berjumpa.” Hadhrat Ammaa Jaan ra memperlakukannya dengan penuh cinta.

            Mengenai hubungan dengan Khilafat, saya telah membicarakannya tadi. Beliau sangat mencintai dan menghormati Khilafat hingga sampai mengatakan bahwa penghargaan dan nilai kecintaan atau kesetiaan kepada Khilafat harus sedemikian senantiasa bertambah hingga beliau tidak memberi kesempatan kepada keluarga terdekat beliau untuk menjadi penghalang antara beliau dengan Khilafat. Beliau sekalipun harus menghadapi beberapa kesulitan namun perhatian beliau terhadap Khilafat sangat diutamakan. Beliau menjadi seperti perisai bagi Khilafat. Seorang anak muda yang pernah tinggal dan belajar di rumah beliau telah menulis sepucuk surat kepada saya (Hudhur) mengatakan, “Dengan wafatnya Muhtaramah Bibi Jaan (nama panggilan penghormatan untuk almarhumah), hati kami sangat sedih sekali, sebab kami kehilangan seorang wujud yang sangat saleh, banyak memanjatkan doa, sangat takut kepada Tuhan yang selalu memberi nasehat kepada kami untuk selalu menjalin hubungan seerat mungkin dengan Khilafat. Beliau sangat baik terhadap setiap orang, banyak menolong orang yang tidak mampu. Beliau sangat giat berkhidmat untuk “لجنة إماء الله”  – Lajnah Imaillah.”

            Kemudian ia menulis, “Di Mahallah, beliau mengerjakan tugas-tugas Lajnah, beliau biasa menyuruh saya untuk mengumpulkan uang iuran untuk Majalah Lajnah, ‘Al-Mishbaah’. Apa bila ada orang yang lambat belum membayar atau tidak dapat membayar, maka beliau sendiri yang membayar untuk anggota pelanggan itu. Dan beliau selalu berfikir jangan sampai lambat mengumpulkan uang iuran langganan Majalah itu.”

            Kemudian ia menulis, “Kadang-kadang beliau menyuruh saya untuk membeli beberapa keperluan di pasar, dan jika uang yang saya bawa kurang, maka saya ambil dari  saku saya untuk membayarnya. Namun, beliau selalu mengatakan, ‘Engkau harus mengambil uang dari saya segera karena saya tidak ingin mempunyai hutang dari siapa pun.’” Demikian pula pengirim surat ini (namanya Mumtaaz) mengatakan dalam tulisannya, “Kemudian jika memasuki bulan tertentu yang banyak terjadi pernikahan, begitu banyak kartu-kartu undangan pernikahan sampai ke rumah. Beliau berkata kepada saya, ‘Tolong disiapkan sebuah list (daftar) dari semua kartu undangan tersebut guna mengingatkan saya dan mohon sampaikan kepada saya undangan dari para pelayan keluarga atau para pembantu pemuka Jemaat karena saya harus pergi menghadirinya.’ Dan beliau menyuruh saya menyebutkan tanggal pernikahan gadis miskin yang mengundang beliau, dua kali atau tiga kali sehari menjelang pernikahan tersebut sambil berkata, ‘Saya harus menghadiri  pernikahan gadis miskin itu, bersiap-siaplah dan saya ingin memastikan membawa hadiah dan siap untuk pergi pada waktunya.’” Demikianlah beliau memberi nasehat lainnya. Menantu beliau, Sayyid Qasim Ahmad menulis, “Khaalah, yang merupakan Sadr (ketua) LI di mahalah (komplek) kami demikian berkesan luar biasa dalam memunculkan kecintaan dan ketaatan kepada kepada Khalifah-e-Waqt (Khalifah periode ini, yang sedang berjalan, yang masih hidup). Berkaitan dengan hal ini, tidak perlu untuk setiap bukti karena ini adalah semacam fitrat dalam diri beliau. Pada hari beliau akan meninggal, beberapa kali mengatakan di pagi hari, ‘Saya ingin meminta khalifah berdoa untuk saya.’ Tampaknya beliau telah menyadari telah dekat dengan kewafatannya, beliau berkata kepada salah satu cucu dari istri saudaranya yang telah meninggal dunia sebelumnya, “Saya akan datang menjumpainya.” Setelah memanggil putri-putrinya dengan penuh cinta beliau berkata, ‘Maafkanlah saya (bunda), ijinkanlah bunda pergi!’” Keindahan dan kebaikan yang demikian tidak terhingga. Beliau menegakkan keteladanan sebagai ibu, saudari dan istri. Selalu berfokus memikirkan suaminya dan tidak pernah sekali pun dalam kesempatan apa pun untuk mengeluh.

            Inilah purana buzurg (orang-orang suci zaman awal Jemaat) yang mengenai keteladanannya saya sampaikan kepada saudara-saudara sehingga bagi para pasangan suami-istri yang baru menikah, untuk keluarga-keluarga seperti itu, yang sedang muncul permasalahan dalam hubungan suami-istri dapat menaruh perhatian kepadanya. Khususnya untuk para gadis dan kaum ibu-ibu supaya senantiasa mengingatnya bahwa dzimmah (kewajiban, kehormatan) pertama bagi mereka adalah fokus kepada urusan di dalam rumah.

            Lalu ia menulis, “Beliau sangat menaruh hormat serta patuh taat dengan sempurna kepada suami beliau, dan selalu menasehati putri-putri beliau untuk berlaku seperti beliau terhadap suami. Beliau tidak pernah berkata keras atau bertengkar dengan suami beliau. Beliau berlaku lemah lembut dan sangat hormat terhadap suami beliau. Dalam memberikan nasehat biasanya sambil menyebut-nyebut [sumber nasehat dari] Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan Hadhrat Ammaa Jaan (istri Hadhrat Masih Mau’ud as). Apabila terjadi kemarahan juga hanya untuk sebentar saja kemudian perasan dan perangai beliau cepat sekali berubah kembali seperti biasa seolah-olah tidak pernah marah. Semoga nasehat saya ini juga berfaedah bagi pasangan keluarga Ahmadi lainnya, sebab kadangkala timbul masalah di dalam keluarga. Kaum perempuan mempunyai tanggung jawab sangat besar untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan rumah tangga. Semoga Allah Ta’ala menjadikan nasehat-nasehat dan doa-doa beliau berpengaruh dan diamalkan oleh putri-putri beliau dan putri-putri dari keluarga-keluarga lainnya.

            Kemudian ia menulis, “Beliau biasa bersikap kasih sayang. Anak-anak perempuan yang tinggal dan belajar di rumah beliau semenjak dini dipersiapkan untuk perlengkapan dan perbelanjaan perkawinan mereka juga. Satu kali, wanita yang bekerja di rumah beliau beserta anak perempuannya ketahuan melakukan perbuatan yang sangat buruk secara kesopanan. Sebagian orang memberikan saran agar ia dipecat. Namun beliau selalu mengatakan, ‘Saya yang membantu pernikahannya. Setelah menikah harus menyertai kedukaan dan kesukaannya.’ Sekarang ini masalah problem yang muncul di rumah tangga nasehat ini demikian besar (penting) bagi pasangan suami istri. Beliau sering kali memberi nasehat, ‘Jika seorang mertua hendaknya tahu bahwa jika ingin menasehati menantu perempuannya maka hendaknya menasehati anak lelaki sendiri dahulu. Dan jika ingin menasehati menantu lelaki maka nasehati anak perempuan sendiri. Hendaknya berupaya dengan sebaik mungkin dengan cara dan waktu yang setepat mungkin agar di masa datang tidak menjadi bahan pemikiran (masalah).’ Beliau sangat teratur sekali dalam beribadah kepada Tuhan banyak berdoa dan sangat patuh dalam membayar candah dan pengorbanan lainnya. “

            Pada tahun 1944 ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud (Khalifatul Masih II) ra menganjurkan untuk mengorbankan harta kekayaan, beliau menyerahkan semua perhiasan beliau. Semenjak umur 13 tahun beliau menyelesaikan keperluan-keperluan pengaturan tempat tinggal Darul Masih di Qadian. Beliau menjadi Sekretaris Nashirat Qadian juga. Setelah hijrah di Rattan Bagh lalu di Rabwah beliau menyelesaikan banyak pengkhidmatan. Beliau banyak sekali berkhidmat kepada Jemaat namun beliau tidak pernah menginginkan kedudukan dalam kepengurusan. Saat memegang suatu posisi di kepengurusan apabila disampaikan ada pekerjaan biasa maka segera beliau siap-sedia. Dilihat dari segi keilmuan, pengorganisasian (kepengurusan) dan pengetahuan agama, beliau mempunyai banyak kepandaian. Dalam suatu perbincangan dengan beliau, waktu beliau tinggal di Rattan Bagh di Lahore setelah Hijrah dari Qadian sering beliau bersama mamaani (istri saudara ibu) Shalihah Begum Sahibah, istri Hadhrat Mir Muhammad Ishaq mengadakan kunjungan di malam hari ke rumah-rumah anggota Jemaat. Jika ada anggota Jemaat yang tidak memiliki selimut atau perlengkapan tidur lainnya, beliau sendiri menyediakan dan memberinya kepada yang memerlukan.

            Sebuah peristiwa yang bersejarah bagi beliau adalah pada tahun 1949 beliau mempunyai pengalaman pergi ke Rabwah bersama Hadhrat Amma Jaan dan Hadhrat Khalifatul Masih II ra dengan kendaraan pribadi (mobil) Hudhur ra. Beliau biasa mengatakan, “Ini merupakan suatu kenangan yang tidak dapat dilupakan dalam hidup saya.” Di dekat batu pondasi bangunan masjid Mubarak Rabwah diatas batu bata merah kaum wanita dari khandan (keluarga) Hadhrat Masih Mau’ud as turut serta berdoa dalam peletakan batu pondasi tersebut. Saat Rabwah sudah berpenduduk dan masih dalam pembangunan. Pada hari-hari permulaan kota Rabwah beliau mendapat taufik melakukan pengkhidmatan di bagian Lajnah di dalam rumah yang terbuat dari tanah. Setelah itu beliau untuk waktu yang cukup lama mendapat taufik menjadi Sadr Lajnah Immaillah Halqah (blok) Daarush Shadr bagian Utara. Dari tahun 1973 hingga 1982 beliau menjadi Naib Sadr Lajnah untuk Rabwah. Ketika itu ibunda saya (Hudhur) menjadi Sadr Lajna Immaillah Rabwah maka beliau mendapat taufik bahu-membahu berkhidmat. Setelah tahun 1982 selama satu atau dua tahun beliau menjadi Sekretaris Khidmat Khalq Lajnah. Juga menjadi Sekretaris Zhiafat juga. Selain itu, beliau juga melaksanakan berbagai tugas di lokasi beliau tinggal. Tugas apapun yang beliau terima dilaksanakan dengan sangat merendahkan diri. Salah satu putri beliau menulis, “Ummi (ibunda) akan merasa sangat sedih bilamana dikarenakan beliau dalam keadaan sakit maka ada orang yang tidak bisa berjumpa dengan beliau atau pulang lagi setelah mengetahui hal itu. Beberapa kali beliau menyampaikan, ‘Siapa saja yang ingin bertemu lalu datang kemari hendaknya jangan dihalangi (dihentikan). Jangan melarangnya. Ambang pintu Hadhrat Mushlih Mau’ud as harus senantiasa terbuka bagi semuanya. Setiap orang yang ingin berjumpa denganku bagaimana mungkin aku menolaknya.’” Kemudian salah satu putri beliau menulis, “Ummi sangat mencintai semua saudara-saudarinya. Sesuatu hal yang terlarang untuk dibicarakan dengan sangat adalah soal saudara-saudari kandung atau saudara-saudari tiri atau menanyakan si fulan saudara kandung atau saudara tiri engkau? Segera beliau berkomentar bila ada yang mempertanyakannya, ‘Jangan membicarakan soal itu dan ini saudara kandung atau saudari tiri, saudara-saudari se-ibu atau lain ibu karena Abba Jaan (ayahanda) sangat tidak menyukainya.’” (Hadhrat Mushlih Mau’ud Khalifatul Masih II ra mempunyai beberapa orang istri dan dari istri itu lahir banyak putra-putri juga.)

Ia (putri almarhumah) menulis, “Salah satu paman kami yang ghair Ahmadi berkata, Bhaabhii (saudari ipar) selalu dalam keadaan sederhana namun terhormat.” Kemudian sambil menyebut-nyebut ibunya ia menulis, “Khaalah (bibi) sangat mencintai Ummi dan seringkali menyebut-nyebut, ‘Baji Jan’ (saudari lebih tua, panggilan kepada ibunda kami oleh saudara-saudarinya yang lebih muda) telah banyak berbuat baik kepada saya. Satu kali ayahanda mempercayakan kepada saya sebuah tugas dan ‘Baji Jaan’ selalu mendampingi saya sampai berhasil.” Pada suatu ketika Hadhrat Khalifatul Masih II ra menceritakan sebuah mimpi. Mimpi ini panjang sekali yang di dalam mimpi itu Hadhrat Sarah Begum Sahibah (Ibunda Sahibzadi Amatun Nashir Sahiba yang wafat saat Amatun Nashir berumur 3 setengah tahun) datang kepada Hudhur dan setelah berbincang-bincang diantara obrolannya beliau (Hadhrat Sarah) berkata kepada Hadhrat Khalifatul Masih II ra, “Apakah Hudhur telah marah kepada saya?” Hadhrat Khalifatul Masih II ra menjawab di dalam mimpi itu, “Bagaimana saya marah kepada engkau, engkau telah memberi seorang putri yang sangat baik sekali kepada saya, seperti ‘Cheero’.” (Cheero itu panggilan kesayangan kepada Sahibzadi Amatun Nashir Sahiba di rumah) [14]

Satu hal yang senantiasa beliau pegang teguh, beliau adalah sebagai seorang putri Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang membuat beliau harus selalu menjaga dan menjunjung tinggi nama baik Hudhur ra sehingga tidak ada yang menunjukkan jarinya (menyebut-nyebut kesalahannya). Satu peristiwa yang pernah beliau perdengarkan dalam suatu pertemuan adalah sebagai berikut, pada suatu hari beliau pergi ke rumah abang beliau yang tinggal di seberang jalan depan rumah. Karena merasa rumah itu dekat saja beliau tidak memakai burqah yang lengkap (baju wanita Muslim yang kainnya menutupi dari kepala hingga kaki yang terbuka sekitar mata saja), bagian kepala ditutupkan dengan kain kerudung sementara wajah bagian bawah ditinggalkan (hidung dan mulut tidak tertutupi kain cadar). Burqah yang biasa dipakai ditinggalkan di rumah. Baru saja beberapa langkah berjalan di tengah-tengah jalan antara dua rumah tersebut, beliau melihat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sedang berjalan juga di jalan itu juga. Berbicara mengenai zaman lama (zaman Rabwah baru dihuni, didirikan). Hadhrat Khalifatul Masih ra sedang berjalan dari Qasri Khilaafat (kantor Khilafat) ke arah itu. Kata beliau (Amatun Nashir almarhumah), “Di sekeliling saya tidak ada jalan lain. Karenanya, saya langsung masuk ke rumah. Dalam pikiran saya, Hudhur tidak melihat ke arah saya. Pada hari berikutnya ketika saya sedang sarapan pagi, bertemu dengan Hudhur ra maka Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda, ‘Perhatikanlah, jika engkau mengambil jalan satu langkah, orang lain akan mengambil jalan sepuluh langkah. Perhatikanlah pardah, senantiasalah menjaganya.’ Begitulah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyampaikan tarbiyyat.” Semoga Allah Ta’ala menghidupkan pemikiran dan kesadaran memakai pardah di kalangan anak-anak muda keluarga beliau (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) dan juga di kalangan anak-anak muda semua keluarga Jemaat.

            Saya telah menyebutkan sebelumnya sebagian bahasan yang ditulis Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang di dalamnya beliau ra menulis, “Amatun Nashir ketika ditinggal wafat oleh ibundanya masih anak-anak baru berumur tiga setengah tahun dan dikarenakan ia tiap waktu selalu bersama ibundanya (sangat dekat sekali) maka hal itu membuat keadaannya sangat berubah, menjadi pendiam sekali. Sekalipun dihibur oleh abang-abangnya, ia diam dan nampak heran dan kebingungan. Ia belum menyadari apa arti kematian itu. Ia menjadi tahu soal kematian hanya dengan mendengar dari orang lain. Tidak tahu, nasehat apa yang telah diberikan oleh abang-abangnya, sehingga ia tidak nampak sedih, tidak menangis atau tidak merengek kesedihan, ia tenang bahkan menjadi diam. Ketika jenazah Sarah Begum diletakkan diatas carpay (katil, tempat tidur), anak kecil Amatun Nashir ini melihat perempuan-perempuan Jemaat di sekeliling carpay menangis di samping jenazah ibundanya dan ia berkata keheranan, “Mengapa mereka ini menangis, ibu saya sedang tidur? Kalau ibu saya sudah bangun, nanti akan saya sampaikan kepada ibu, saat ibu sedang tidur perempuan-perempuan ini duduk di samping ibu dan semua menangis!”

            Ketika ibunda beliau wafat, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra tidak hadir karena beliau tengah dalam perjalanan keluar daerah dan pemakaman jenazah dilaksanakan ketika beliau masih dalam perjalanan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis, “Ketika saya telah kembali ke rumah dan menunjukkan kasih sayang kepada putri saya Amatun Nashir ini, berlinanglah air matanya namun ia tidak menangis. Lalu saya peluk sambil melekatkan leher dengan lehernya namun ia tetap tabah tidak menangis, sehingga saya yakin bahwa anak ini belum menyadari apa artinya kematian itu. Namun sebetulnya bukan demikian, hal itu merupakan kesalahan saya. Anak kecil ini telah memberi sebuah pelajaran lain kepada saya. Sarah Begum wafat di rumah baru bernama Darul Anwar. Ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing dan kami pun kembali ke rumah utama, Darul Masih baru kami ketahui ternyata kaki anak ini tidak memakai sepatu. Lalu seseorang disuruh untuk mengambil beberapa pasang sepatu. Ketika sepatu-sepatu itu sudah dibawa kepada saya, maka saya berkata kepada Amatun Nashir, ‘Pilihlah kasut (sepatu) yang mana yang engkau sukai, ambillah!’ Ketika berjalan dua tiga langkah menghadap saya tiba-tiba ia berhenti, dengan wajah keheranan ia memandangi muka saya, kemudian memandangi wajah ibu besar (yakni Ummi Nashir), yang maksudnya mungkin begini, ‘Saya sekarang disuruh memilih kasut yang mana yang saya sukai, namun ibunda saya sudah wafat, siapa yang akan memberi kasut kepada saya?’” Hadhrat Mushlih Mau’ud ra selanjutnya menulis, “Atas keadaan ini, saya yakin bahwa bila saya tetap di tempat itu saya tidak akan dapat menahan air mata bercucuran. Oleh karena itu, maka sambil memalingkan muka dari padanya cepat saya bangkit dari tempat itu dan berkata, “Bawalah kasut ini kepada Ummi Jaan.” Hadhrat Khalifatul Masih II ra menjelaskan, “Semua anak saya memanggil ibu mereka masing-masing Ummi, sedangkan kepada Ummi Nashir (ibu Hadhrat Mirza Nashir Ahmad, Khalifatul Masih III rha) mereka memanggil ‘Ummi Jaan’ – “Ibu Besar”. Ketika saya kembali melihat anak ini, nampak Amatun Nashir ini sudah dapat menguasai keadaan dan dengan sabar sekali membawa kasut pilihannya kepada Ummi Jan. Dari semua peristiswa yang terjadi kemudian ini dapat diketahui bahwa sekalipun anak ini masih kecil namun ia telah memahami kewafatan ibunya.” [15]

            Selanjutnya Hadhrat Khalifah Tsaani ra mendoakan bagi putri beliau ini dalam tulisan, “Wahai Allah! Jagalah sekuntum bunga kecil ini jangan biarkan ia menjadi layu! Dan sejak kecil siramilah hatinya ini dengan air rahmat Engkau, dan jadikanlah ladang pikirannya, pendapatnya, pandangannya serta perasannya yang subur membawa buah yang baik dan berkat serta memberi kehidupan kepada dunia. Wahai Tuhan Yang Arhamar Rahimin! Engkau Yang mengetahui keadaan hati-hati umat manusia, Engkau Maha tahu bagaimana anak kecil ini sabar dan tabahnya menahan perasaan dan kesedihannya. Ia tahu atau tidak tahu Sifat-sifat Engkau, akan tetapi dengan berani dan tabah lebih dari kami ia melaksanakan hukum-hukum Engkau. Wahai Tuhan Pelindung! Di hadapan Engkau aku memohon agar kalbunya dilindungi dari bermacam taufan keburukan, sebagaimana secara zahir ia memperlihatkan kesabaran, maka bathinnya juga mohon diberi kesabaran sebagaimana ia telah menunjukkannya dengan gagah sekali maka anugerahkanlah kepadanya kekuatan hakiki. Wahai Rabb (Tuhan Pencipta Pemelihara)! Sesuai hikmat Engkau sekarang ia telah terlepas dari kecintaan dan kasih sayang ibunya ketika ia masih sedang belajar untuk mencintainya. Wahai Tuhan, Sumber Segala kecintaan! Angkatlah dia keatas pangkuan kasih sayang Engkau dan tanamkanlah didalam hatinya kecintaan terhadap Engkau. Waqafkanlah dia untuk Engkau sendiri! Pilihlah dia untuk pengkhidmatan Engkau sendiri. Semoga ia menjadi orang yang selalu mencari kecintaan Engkau, semoga ia menjadi pengemis mencari kasih sayang Engkau sambil mengetuk pintu Singgasana Engkau. Anugerahkanlah nikmat-nikmat duniawi juga kepadanya, agar ia tidak menjadi orang hina di pandangan manusia. Sekalipun ia memperoleh bermacam kedudukan terhormat semoga ia mempunyai hubungan dengan duniawi seperti orang yang di waktu hujan berjalan dari satu rumah menuju rumah lain sambil berlari.” [16]

            Dengan karunia Allah Ta’ala doa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra itu telah terkabul dengan sempurna di sepanjang kehidupan beliau (almarhumah). Semoga putra-putri beliau juga mendapat bagian dari pada doa-doa itu. Bahkan, semoga semua anggota keluarga beliau dan semua keluarga Jemaat di manapun juga mereka berada mendapat bagian dari doa-doa beliau tersebut.  [aamiin]

            Kemudian untuk semua putra-putri beliau ra, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis sebuah doa yang dalam pandangan saya sangat perlu menyampaikannya. Saya membacakannya. Semoga Allah Ta’ala menjadikan seluruh anggota Jemaat juga memperoleh bagian secara sempurna dari doa beliau ini. Sebab, zaman ini adalah zaman kemenangan yang insya Allah akan kita masuki bersama. Jika keadaan kita tetap seperti yang diharapkan oleh doa beliau ini maka kemenangan itu akan bersama kita.

            Doa beliau itu sebagai berikut,

“Wahai Tuhanku! Aku serahkan kepada Engkau semua anak-anakku yang lainnya juga. Semoga mereka tidak menjadi anjing-anjing dunia! Semoga mereka menjadi burung-burung Surga Engkau, semoga mereka menjadi pilar-pilar Agama, menjadi penjaga Baitullah, menjadi bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk jalan bagi orang-orang tersesat dalam kegelapan, menjadi matahari yang bersinar terang yang mengusir kegelapan dan membuka jalan kemajuan bagi orang-orang yang giat dan semangat bekerja. Engkau membangunkan orang-orang yang tidur lelap dan menghimpun orang-orang yang bercerai berai. Semoga mereka menjadi pohon-pohon kecintaan yang secara keseluruhan buah-buahnya betul-betul suci-bersih dari kebencian dan hasad (kedengkian) yang sangat pahit. Jadikanlah mereka perigi-perigi di tepi jalan yang dinaungi oleh pokok-pokok kayu yang rimbun dan menjadi tempat istirahat bagi orang-orang musafir yang kenal maupun tak dikenal, yang airnya jernih dan sejuk dapat diminum untuk menghilangkan dahaga. Dan dibawah naungan dahan dan rantingnya yang panjang dan rimbun menjadi tempat istirahat orang-orang yang lelah tak berdaya. Semoga mereka menjadi pencegah kezaliman orang-orang zalim, menjadi sahabat orang-orang mazhlum (orang-orang yang dizalimi), menjadi orang-orang yang siap mati demi menghidupkan dunia, menjadi penanggung berbagai kesulitan demi memberi ketenangan dan ketenteraman kepada orang lain. Semoga mereka menjadi pemberani yang lapang dada, menjadi orang-orang berakhlaq mulia, dan menjadi penolong orang lain, yang hidangan meja maknannya terbuka bagi setiap orang, berdiri dibarisan terdepan dalam kebaikan-kebaikan, tidak kikir (kedekut) dan tidak pula terlalu berlebihan sehingga akhirnya menimbulkan rasa malu. Wahai Tuhan Pemberi Petunjuk ! Semoga mereka menjadi para muballigh Agama, penyebar ajaran Islam, pemberi kehidupan bagi orang-orang yang sudah mati akhlaq dan penunuk jalan bagi orang-orang yang sudah kehilangan jalan taqwa, jadi para pendekar Hadhrat Rasulullah saw sesuai dengan firman Tuhan, “لمَّا يلحقوا بهم” ‘lamma yalhaquu bihim’ penegak sunnah orang-orang (keturunan) Farsi, menjadi orang-orang yang berghairat terhadap Engkau, siap menjadi para pembela Agama Engkau, para pencinta Rasul-rasul Engkau, menjadi putra-putra hakiki Hadhrat Rasulullah, penghulu semua Nabi saw, menjadi asyiq shadiq beliau saw yang api keasyikannya tidak pernah mengalami kepudaran. Wahai Tuhan-ku Pemilik segala makhluk! Semoga mereka menjadi hamba-hamba hakiki Engkau, hanyalah menjadi hamba-hamba Engkau! Jangan mereka menundukkan leher mereka di hadapan Raja-raja duniawi, melainkan menjadi orang-orang yang sangat merendahkan diri di hadapan Singgasana Engkau. Semoga mereka meninggalkan anak keturunan yang suci, memberi bimbingan kepada dunia kearah jalan pengetahuan ruhani, penanam benih kebaikan yang tidak akan pernah mengalami kemusnahan, pelopor bagi orang-orang baik untuk memperoleh peringkat yang lebih tinggi, pembangkit reformasi bagi orang-orang yang bertabiat buruk, membenci hati yang mati, dan semoga menjadi tauladan bagi rohani yang hidup. Ya Allah Ya Hayyu ya Qoyyum ! Semoga mereka, anak-anak mereka dan keturunan cucu-cucu mereka, sampai sekarang menjadi amanat Engkau, yang tidak dapat dikhianati oleh Setan, semoga mereka menjadi harta Engkau, yang tidak dapat dicuri oleh siapa-pun. Semoga mereka menjadi batu asas bagi sudut gedung agama Engkau yang tidak dapat ditolak oleh siapapun architect pembangun gedung itu. Semoga mereka menjadi pedang-pedang terhunus yang selalu siap memotong kejahatan dari akar-akarnya. Semoga mereka menjadi tangan pengampunan Engkau yang diulurkan untuk memaafkan para pendurhaka. Semoga mereka menjadi dahan-dahan pohon Zaitun yang memberi isyarah berakhirnya taufan. Wahai Tuhan Yang Hayyu Qayyum! Semoga mereka menjadi terompet Engkau yang Engkau bunyikan untuk mengumpulkan manusia; pendeknya mereka menjadi kepunyaan Engkau dan Engkau menjadi kepunyaan mereka, sehingga setiap orang dari mereka berkata,

Man tu syudem tu man syudi, man tan syudem tu jan syudi

Taakas nagwed ba’d azi, man digarm tu digari

 

[terjemah Arab dan Indonesianya sebagai berikut:

 

“لقد أصبحتُ لشدة الحب والاتحاد “أنت” كما قد صِرتَ “أنا” وأصبحتُ جسما أنت روحه. حتى لا يقول أحد فيما بعد أنا غيرك أو أنت غيري”

 

Aku telah menjadi engkau dan engkau menjadi aku

Aku sebagai badan dan engkau sebagai ruh                   

Supaya tak ada orang berkata sesudah itu

                        Bahwa engkau orang lain dan aku lain orang]

     آمين ثم آمين وبرحمتك أستغيث يا رب العالمين.

Aamiin. Tsumma Aamiin. Wa birahmatika astaghitsu yaa Rabbal ‘aalamiin (aamiin, kemudian aamiin. Dan dengan rahmat Engkau, hamba mohon pertolongan wahai Rabb, Tuhan Pencipta Pemelihara Alam).  [17]

            Inilah doa yang semoga Allah Ta’ala mengabulkannya dengan sempurna bagi setiap orang Ahmadi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhumah didalam Surga-Nya dan semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada semua putra-putri beliau untuk mengamalkan semua nasehat-nasehat itu. Amin !!

Penyebutan jenazah yang kedua adalah salah seorang buzurg (orang tua dan suci) silsilah Jemaat kita, Mukarram (yang terhormat) tuan Maulana Abdul Wahab Ahmad Shahid, Murabbi Silsilah, putra Mukarram tuan Abdul Rahman almarhum. Tuan Abdul Wahab Ahmad Shahid meninggal pada tanggal 11 September 2011 setelah sangat sakit selama satu setengah bulan. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’ – “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya”. Tuan Abdul Wahab Ahmad Shahid, Murabbi Silsila, lahir di sekitar Kotli, Azad Kashmir pada 5 September 1943. Di sana ia juga menempuh pendidikan. Pada tahun 1967, ia lulus dengan gelar Shahid dari Jamiah Ahmadiyah. Dia bertugas di 10 lokasi yang berbeda di Pakistan. Setelah itu pada tahun 1991 hingga tahun 1999 ia berkhidmat di Nazarat Da’wah Ilallah, di mana ia bekerja di berbagai wilayah berbeda mengawasi berbagai tugas penting dalam departemen ini. Dia juga mendapat taufik bekerja di luar negeri pada 1976-1979 di Tanzania. Untuk kedua kalinya ia mendapat taufik untuk berkhidmat di Tanzania sampai Juli 1986 ketika ia bekerja sebagai Amir dan Missionary in Charge (Raisut Tabligh). Dari tahun 1999 sampai Desember 2006 ia masih sebagai murabbi (mubaligh) mendapat taufik berkhidmat di Daruzh Zhiafat (bagian tamu), Rabwah. Setelah itu sampai kewafatannya ia berkhidmat di kantor Ishlah-o-Irshad di Markaz tersebut. Dia seorang yang bertabiat sangat ceria, familiar (supel, ramah, pandai bergaul) dan penggembira. Dia luar biasa cinta, kasih sayang dan pengabdian dalam hubungannya dengan Khilafat. Dia seorang yang sangat ramah dalam menghormati tamu dan sangat berbelas kasih kepada orang-orang miskin. Seorang yang berkepribadian yang sangat populer. Dia sangat berpengetahuan. Ia biasa menulis artikel di surat kabar Al-Fazl dan juga majalah lainnya. Ia menulis empat buah buku. Kakek moyang dalam keluarganya adalah gaddinasyin (orang yang sangat suci dan dihormati sebagai wali) pada masa dahulu di Delhi, yang menyebarkan Islam di India. Hadhrat Maulana Mahbub Alam Sahib berasal dari keturunan mereka itu yang bermigrasi dari Delhi ke Gujarat lalu ke Chakmiyana. Dari sana ia pergi ke Kashmir untuk mempelajari dan mengajar berbagai kewajiban agama. Ketika dia sedang belajar di Gohi, ia mendengar (mengetahui) tentang kedatangan Hadhrat Imam Mahdi ‘alaihissalam. Dia biasa mengatakan, “Ini adalah waktu kedatangan seorang Mushlih Rabbani (pembaharu atau pemandu rohani dari Tuhan). Seharusnya Imam Mahdi sudah datang.” Dia berada di pikiran-pikiran dan menunggu ketika ia melihat dalam mimpi bahwa Masih dan Mahdi yang dijanjikan telah datang. Kemudian dalam rangka meneliti lalu ia pergi untuk menemui gurunya, Hadhrat Maulana Burhanuddin Jehlumi. Dia menyebutkan mimpinya kepada gurunya yang menjawab, “Kami sudah menerima Ahmadiyah, engkau juga dapat menyelidiki menurut tanda-tanda dan wahyu.” Pada hari-hari itu, Hadhrat Masih Mau’ud as berada di Lahore. Dia segera mencapai Lahore dan mendapat kehormatan melakukan baiat di tangan beliau as. Setelah baiat saat kembali ke rumah, ia menghadapi penentangan keras namun orang-orang yang tulus dan benar banyak menerima Hadhrat Masih Mau’ud as melaluinya.

Penyebutan kewafatan yang ketiga adalah tuan yang terhormat Abdul Qadir Fayaz Chandi yang juga Murabbi Silsila (muballigh, misionaris). Tuan Abdul Qadir Fayaz adalah putra Master (Guru) Ghulam Chandia almarhum. Dia meninggal pada 8 September. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’ – “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya”. Dia akan menurunkan anaknya [dari kendaraan] ke sekolah ketika dia mengalami serangan jantung. Ketika telah sampai ke rumah sakit namun takdir keputusan Allah lebih unggul dan ia pun wafat. Pada tanggal 1 Mei 1974, ia lulus dengan gelar Shahid dan memasuki medan amal pengkhidmatan. Di Pakistan, ia mendapat taufik berkhidmat di bidang Ishlah o Irshad di bawah Markaziyah dan Waqf-e-Jadid, berkhidmat agama di 14 tempat yang berbeda. Pada dua kesempatan, ia pergi ke luar negeri [Pakistan] dan mendapat taufik berkhidmat di Tanzania. Di Mittinapakar, ia berkhidmat sebagai Naib Nazim Waqfe Jadid dan pada saat ini ia bertempat tinggal di Karachi. Dia orang yang penggembira dan ceria, berperikehidupan baik, murah senyum dan bermoral tinggi. Di mana pun ia pergi ke suatu Jemaat, ia akan dapat memenangkan hati mereka. Dia sangat ramah kepada tamu, sangat berbelas kasih kepada orang-orang miskin dan selalu berhubungan dekat dengan mereka. Kualitasnya yang menonjol adalah dia sangat setia dan selalu bersyukur. Dia memiliki kesabaran yang besar. Jika seseorang menimpakan kesusahan dan kesakitan kepada almarhum, ia akan menanggapi mereka dengan kemurahan hati dan cinta. Dia tidak akan pernah membalas dendam. Dia memiliki cinta yang besar kepada Khilafat. Ia akan menyerahkan diri sepenuh hati dan taat pada setiap perintah Khalifa, dan ia selalu berupaya untuk membuat Jemaat juga taat. Almarhum memiliki berbagai macam kontak dan teman-teman yang luas dari berbagai kalangan. Dia seorang yang sangat populer di sekitar wilayah tempat tinggalnya itu. Di semua Jemaat dimana ia pernah memiliki kesempatan untuk mengkhidmati mereka, mereka mengingatnya dalam kata-kata yang sangat bagus dan baik. Ia adalah orang pertama dari suku bangsa Chandia yang terkenal dari Sindhi yang menjadi Waqif Zindegi, dan di antara murabbi (muballigh) asal Sindhi, dia adalah muballigh yang ketiga. Semoga Allah Yang Mahakuasa menaikkan derajat-derajat almarhum.

Penyebutan kewafatan selanjutnya yaitu yang keempat adalah Mukarram tuan Insinyur Munir Ahmad Khan, putra dari tuan Abdul Karim Khan asal Karachi yang meninggal pada 7 November di usia 74 tahun.  إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’ – “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya”. Dari jalur ayah adalah cucu dari Hadhrat Hakeem Maulwi Anwaar Hussain Khan dan juga dari jalur ibu adalah cucu Hadhrat Abdul Rahim Nayyar dan juga keponakan Mukarram Yahya Khan Sahib, private secretary (sekretaris pribadi) Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Dia seorang yang sangat cerdas dan insinyur yang berkemampuan (kapabel). Pada saat Jalsah masih ada (dapat dilakukan, sudah lebih dari 25 tahun dilarang pemerintah, Red.) di Rabwah, ia melakukan berbagai tugas pengkhidmatan saat Jalsah Salanah. Di Rabwah waktu pabrik roti pertama diresmikan (mulai dioperasikan secara resmi), ia mendapat taufik (memiliki kesempatan) untuk memberikan pengkhidmatan yang menonjol. Dia juga mempersembahkan pengkhidmatan di bagian set up translation and communication (pengaturan penerjemahan dan komunikasi) pada saat Jalsah Salanah Inggris. Ia meneliti mengenai isi buku Bahtera Nuh dalam cahaya penjelasan Alqur’an, Bibel dan juga buku-buku modern lainnya. Dia mendapat taufik menulis buku tentang hal ini namun belum bisa diterbitkan. Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabii’ (IV) rahimahullahu ta’ala ‘anhu pernah menjelaskan tentang riset atau penelitian almarhum mengenai Bahtera Nuh dalam kesempatan Darsul Qur’an dan juga dalam pertemuan sesi tanya jawab. Ia seorang yang sangat tulus, penuh kesetiaan dan seorang yang dermawan dalam membantu orang lain. Dia orang yang sangat saleh. Seorang musi. Istrinya adalah saudari sepupu Hadhrat Khalifatul Masih IV rha. Dengan kata lain ia adalah menantu Sayyid Abdul Razzaq Shah. Semoga Allah Yang Mahakuasa meningkatkan pangkat demi pangkat rohani dari almarhum. Semoga Allah Yang Mahakuasa memperlakukannya dengan penuh ampunan.

Shalat jenazah untuk semua almarhum yang telah saya sebutkan akan dilakukan, Insya Allah, setelah shalat Jum’at.

Penerjemahan oleh   Mln. Hasan Bashri, Shd (sebagian dari bahasan mengenai Hadhrat Amatun Nashir Begum Sahibah)

Dildaar Ahmad (bagian tentang koreksi shalat-shalat dijamak, sebagian tentang Hadhrat Amatun Nashir Begum Shahibah dan 3 almarhum di akhir khotbah)

[1]Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz (semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan yang agung)

[2] Arabic Desk berisi orang-orang Jemaat tertentu yang mendapat tugas berkaitan dengan Arab; seperti penerjemahan, hubungan dengan tokoh Arab dan lain-lain.

[3] Ash-shaab Ahmad jilid 10 hishshah awwal halaman nomor 262 riwayat Hadhrat Maulwi ‘Abdul Wahhab Khan Shahib, Dhiaul Islam Press, Rabwah. [tentang sesuatu hadits tertentu, beliau as mendengar langsung lewat ru-ya dari Nabi saw atau menyaksikan lewat kasyaf berbicara dengan Nabi saw-Redaksi]

[4] Sekitar 10.000 orang dari berbagai golongan (ahzaab) musyrikin dan Yahudi anti Islam bersatu bersama-sama menyerbu Madinah. Kaum penyerang kesulitan memasuki kota Madinah karena dihalangi oleh parit-parit penuh lumpur yang dibuat oleh kaum Muslimin sebelumnya. Perang terjadi tatkala kaum Musyrikin berupaya melewati parit dan menyerbu kaum Muslimin sementara kaum Muslimin menghalangi mereka dengan menghujani anak-anak panah. Karenanya, perang ini juga disebut perang Parit (Khandaq). Lalu kaum penyerbu mengepung Madinah selama sekitar satu bulan. Dikarenakan perselisihan diantara mereka dan badai, akhirnya mereka bubar dan pulang.

[5] Sunan at-Tirmidzi Kitab ash Shalat. Bab maa jaa-a fir rajuli tafawatuhush shalawaat bi ayatihinna yabda-u

[6] Sunan al-Kubra karya Imam al-Baihaqi dalam Kitab ash-Shalah, dikri jimaa’i abwaabil adzaan wal iqamah bab shihatish shalati ma’a tarkil adzaani wal iqaamah au tark ahadihimaa, Maktabah ar-Rusyd, Arab Saudi, 2004

[7] al-Bukhari Kitab al-Jihad was Sair bab ad-Du’a ‘alal musyrikiina bil haziimah waz zilzalah dan Shahih Muslim Kitab al-Masaajid wa mawaadhi’ish Shalaah bab at-Taghlizh fii Tafwiiti Shalaatil ‘Ashr

[8]al-Bukhari, Kitab Mawaaqiitush Shalaah, Bab Man Shalla bin Naasi jamaa’atan ba’da dzihaabil Waqt (bab barangsiapa shalat berjamaah setelah waktunya lewat)

[9] Fath ul-Bari, Syarh (komentar) Shahih al-Bukhari, karya al-‘Allamah Ibnu Hajar ‘Asqalani jilid 2, halaman 88-89, kitab mawaaqiitush Shalah (waktu-waktu shalat) bab shalla bin Naas jama’atan ba’da dzihaabil waqt (bab tentang shalat berjamaah dengan orang-orang setelah waktunya lewat), Qadimi Kutub Khanah, Karachi-Pakistan.

[10] Nuurul Qur’aan number 2, Ruhani Khazain jilid 9, halaman 389-390

[11] Siirat Khatamun Nabiyyiin shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Shahib, MA, halaman 588, edisi 2003

[12] Khuthubaat Thahir, jilid 5, halaman 377-379, Khotbah Jum’at 23 Mei 1986

[13] Buku-buku atau terbitan jemaat apa saja yang menyebut Nabi saw pernah menjamak shalat-shalat seluruhnya menjadi satu harus segera dikoreksi.

[14] Ru-ya o Kusyuf Sayyidina Mahmud (Mimpi-Mimpi dan Kasyaf-Kasyaf Hadhrat Khalifatul Masih II ra), halaman 568, ru-ya nomor 598, zer ihtimaam Fadhl Umar Foundation, Rabwah

[15] Meri Sarah (Sarahku, My Sarah), Anwaarul ‘Uluum (kumpulan karya tulis dan pidato Hadhrat Khalifatul Masih II ra), jilid 13, halaman 186-187

[16] Meri Sarah (Sarahku, My Sarah), Anwaarul ‘Uluum, jilid 13, h. 187-188

[17] Meri Sarah (Sarahku, My Sarah), Anwaarul ‘Uluum, jilid 13, h. 188-189