Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 24 Juli 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Khotbah Jumat pada hari ini tentang beberapa riwayat yang disampaikan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu mengenai Hadhrat Masih Mau’ud alaihis salaam dan para sahabat beliau as. Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah wahyu berbahasa Arab yang tertulis dalam Tadhkirah tanggal 9 Februari 1908. Wahyu tersebut adalah “لا تقتلوا زينب” ‘Laa taqtuluu Zainab!’ ‘Janganlah kalian membunuh Zainab’[1]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis bahwa pada awal tahun 1908, Tn. Hafiz Ahmad Allah Khan mengusulkan pernikahan bagi dua putrinya, Zainab dan Kulsum. Datang dua lamaran untuk Zainab. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menyukai/tidak setuju lamaran dari Tn. Mishri. Tetapi, kebiasaan beliau as, tidak terlalu mendesakkan hal tersebut. Pada saat-saat itulah beliau as menerima wahyu: “لا تقتلوا زينب” ‘Jangan bunuh Zainab’. Tn. Hafizh memahami wahyu tersebut hendaknya ia menikahkan putrinya dengan Tn. Mishri dan beranggapan justru wahyu tersebut menentang nasehat Hadhrat Masih Mau’ud as itu yang ia anggap salah. Kemudian ia pun menikahkan putrinya dengan Tn. Mishri. Wahyu tersebut tertanggal 9 Februari 1908 sedangkan pernikahan tersebut terjadi pada tanggal 17 Februari 1908. Tanggal pernikahan tersebut tercatat dalam sejarah karena berlangsung bersamaan dengan beberapa pernikahan lainnya termasuk pernikahan Hadhrat Nawab Mubaraka Begum Sahiba. Allah Ta’ala secara jelas telah memberi peringatan sebelumnya melalui wahyu tentang pernikahan Zainab supaya tidak timbul kehancuran di kemudian hari. Namun sang ayah malah mengambil kesimpulan sebaliknya.

Terdapat bukti bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan nasehat kepada Tn. Hafizh, orang tua Zainab supaya tidak menikahkan dengan Tn. Mishri karena akan muncul fitnah darinya. Ketika Tn. Mishri di kemudian hari memisahkan diri dari Jemaat, seorang sahabat, Tn. Pir Manzhur Ahmad berkata bahwa sungguh di hadapannya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati Tn. Hafizh agar tidak menikahkan putrinya dengan orang tersebut. Tn. Pir Manzhur tidak suka melihat pernikahan tersebut tetap dilangsungkan lalu ia mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, “Hudhur diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang mendengar perkataan Hudhur. Namun Tn. Hafizh tidak berbuat demikian.” Hadhrat Masih Mau’ud as membenarkannya tapi beliau menambahkan tidak mencampuri urusan itu.

Ketika riwayat ini sampai kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, beliau ra sedikit pun tidak meragukannya. Namun karena riwayat itu hanya satu saja sehingga beliau ra merasa khawatir. Memang seharusnya ada saksi dalam hal ini yang dapat menjelaskan latar belakang keluarnya Tn. Mishri dari Jemaat dan sebagainya. Oleh sebab itu beliau ra berpikir untuk mencari bukti yang kongkrit. Keesokan harinya, beliau ra menerima surat dari Tn. Munsyi Qudratullah Sanauri yang menulis bahwa ketika ia berada di Qadian pada 1915, ia mempelajari Al-Quran dari Tn. Hafiz. Orang tersebut pernah menceritakan padanya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memintanya untuk menikahkan putrinya dengan seorang selain Tn. Mishri tapi ia menolaknya. Karena terdapat wahyu “Jangan bunuh Zainab”, ia mengambil kesimpulan nasehat beliau as sebelumnya adalah tidak benar. Ia pun kemudian menikahkan putrinya dengan Tn. Mishri.

Ia berkata bahwa Tn. Mishri sangat keras terhadapnya dan menyakitinya. Ia menganggap itu sebagai akibat tidak mengindahkan apa yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as katakan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis bahwa beliau pun ingat pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih I ra, Tn. Mishri pernah memukul ayah mertuanya di tengah kota. Hal itu membuat Hadhrat Khalifatul Masih I ra sangat marah terhadap Tn. Mishri dan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah meminta beliau ra untuk memaafkan Tn. Mishri. Pendek kata arti ilham itu ialah, “Janganlah engkau menikahkan Tn. Mishri dengan Zainab supaya imannya tidak rusak.” Demikianlah, pernikahan itu membuktikan keimanannya menjadi telah sia-sia.[2]

Tn. Sheikh Abdul Rahman Mishri merupakan bagian dari sejarah Jemaat oleh karena itu perlu dijelaskan. Ia seorang terpelajar yang berbaiat pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as dan Hadhrat Zafrullah Khan Sahib membiayainya untuk pergi ke Mesir. Karena perjalanannya ke Mesir itulah maka ia diberi gelar ‘Mishri’.[3]

Ringkasnya, tiba suatu saat ketika ia sangat menentang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan melontarkan perkataan yang sangat menentang beliau ra serta berupaya untuk menciptakan perselisihan di dalam Jemaat. Tapi, Allah Ta’ala senantiasa melindungi Jemaat ini dari rencananya dan beberapa orang diperlihatkan mimpi tentang rencananya tersebut. Dahulunya, Ia begitu dihargai dan dihormati di dalam Jemaat sehingga ketika ia keluar dari Jemaat, seseorang dari Afrika menulis kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bahwa keluarnya Tn. Mishri dari Jemaat sungguh sangat mengkhawatirkan karena jika seseorang yang begitu penting dan berarti seperti ini kehilangan keimanan mereka, lalu bagaimana dengan keimanan orang-orang biasa seperti penulis surat ini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjawab surat tersebut, “Allah Ta’ala-lah yang memutuskan siapa yang penting dan berarti bagi Jemaat dan bukan Anda (penulis surat). Tatkala Allah Ta’ala telah menjadikan Tn. Mishri disebabkan perbuatannya sendiri, kehilangan arah. Hal tersebut membuktikan yang penting dan yang berarti bagi Jemaat adalah Anda, bukan Tn. Mishri, yang Anda anggap besar itu.”[4]

Ringkasnya, saat masih di Jemaat, Tn. Mishri menggolongkan diri sebagai orang penting sementara kita lihat setelahnya tidak ada pentingnya. Selama penentangannya atau saat meninggalkan Jemaat, Tn. Mishri mencoba untuk menunjukan betapa pentingnya dia dengan menghubung-hubungkan dirinya dengan wahyu tersebut. Namun setelah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan kenyataan di balik semua itu, ia mengeluh kenapa istrinya diseret kedalam ini semua. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan pada nubuatan ‘Jangan bunuh Zainab’ tersebut, Tn. Mishri sendiri menekankan hal tersebut pada tahapan selanjutnya.

Beliau ra bersabda bahwa peristiwa ini adalah seperti kisah orang-orang Arab tentang seorang pria yang mengambil sebilah pisau hendak menyembelih seekor kambing namun kemudian menyimpan pisau tersebut dan ia pun lupa. Lalu ada seorang anak yang menyembunyikan pisau tersebut di tanah. Ketika orang tersebut mencari pisau yang hilang tersebut, kambing itu menyeret-nyeret kakinya di tanah. Akibatnya, terkikislah tanah tersebut. Pisau yang disembunyikannya pun ditemukan.[5]

Dengan demikian, orang tersebut dapat menyembelih kambing itu. Jadi ketika seseorang menyebabkan kehancurannya sendiri, orang-orang Arab berkata, “الباحث عن حتفه بظلفه” ia sendiri telah menemukan pisau tersebut seperti kambing dalam kisah itu. Jika ia telah melaksanakan apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan, keimanannya tidak akan menjadi sia-sia. Orang-orang Mu-min wajib mengamalkan perkataan mereka yang diutus oleh Allah Ta’ala. Pahamilah itu dan bukannya membuat penafsiran lain atasnya tapi amalkanlah sesuai isi dan maksud utusan Allah tersebut agar iman tidak menjadi sia-sia.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan, Tn. Maulwi Muhammad Ahsan memiliki sifat tergesa-gesa. Suatu kali ketika pergi berjalan keluar dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau salah mendengar perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika berkata ada perbedaan antara firman Tuhan dengan perkataan hamba-Nya. Kemudian beliau as menyampaikan sebuah wahyu dari Allah Ta’ala dan membandingkannya dengan perkataan Hariri (seorang penulis syair). Karena tergesa-gesa, Tn. Ahsan tidak mendengarkan bagian akhir perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata itu merupakan ucapan Hariri. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as segera menjelaskan bahwa ini bukan kalam Hariri melainkan wahyu Allah Ta’ala. Segera setelah menyadari kesalahannya, ia langsung berkata betapa indahnya perkataan tersebut.[6] Hendaknya seseorang tidak tergesa-gesa mengeluarkan isi pikirannya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan seorang Sikh mengunjungi beliau ra dan berkata, “Kakak ayah Tn, yaitu Tn. Mirza Ghulam Qadir lebih dikenal dan menduduki jabatan penting. Tetapi ayah Tn, yaitu Tn. Mirza Ghulam Ahmad tidak terkenal dan tidak ada yang mengenalnya. Ayah saya telah bertanya kepada kakek Tn, yaitu Tn. Mirza Ghulam Murtada, ‘Saya dengar Tuan memiliki anak selain Mirza Ghulam Qadir. Dimana anak itu?’ Tn. Mirza Ghulam Murtada menjawab, ‘Ia telah menghabiskan hari-harinya di masjid untuk membaca Al-Quran. Saya khawatir dari mana ia dapat memperoleh penghasilan. Katakanlah kepadanya, agar ia mau bekerja. Saya ingin ia bekerja. Ketika saya telah mengatur segala sesuatunya agar ia dapat bekerja, namun ia selalu menolaknya.’

“Ketika saya (orang Sikh tersebut) berbicara kepada Tn. Mirza Ghulam Ahmad, beliau menjawab agar ayahnya tidak perlu khawatir. Beliau meminta saya untuk menyampaikan kepada ayah beliau bahwa beliau telah bekerja kepada Wujud Yang beliau inginkan dan tidak tertarik untuk bekerja kepada manusia. Hal ini sangat memberikan kesan pada saya sehingga saya membuncah setiap kali menceritakannya. Suatu kali saya menangis getir karena telah pergi ke kuburan Tn. Mirza Ghulam Ahmad dan ingin bersujud di depannya karena kecintaan terhadap beliau. Namun para Ahmadi menghentikannya. Hal tersebut membuat saya tersinggung dan berkata, ‘Baiklah, bersujud di depan kuburan memang dilarang oleh kayakinan kalian (Muslim Ahmadi) tapi itu bukanlah sesuatu yang dilarang dalam keyakinan saya, yaitu agama Sikh.’”.[7]

Maulwi Muhammad Husain Batalwi dahulu teman Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah pendakwaan beliau as, ia berkata bahwa ia-lah yang membawa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi terkemuka namun sekarang ia akan membuat beliau as jatuh. Namun demikian, Allah Ta’ala menghapuskan namanya dan sebaliknya menyebarkan nama Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa seorang anak Maulwi Muhammad Husain Batalwi telah menganut agama Hindu Arya. Hadhrat Mushlih Mau’ud telah menghubunginya dan membuatnya kembali kepada Islam. Maulwi Muhammad Husain menulis surat yang berisi ucapan terima kasih kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra.

Menyinggung perihal penentangan internal dan eksternal, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa penentangan terhadap Jemaat telah terjadi sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as namun Jemaat tetap saja mengalami kemajuan. Jemaat telah melewati jalan penuh onak duri untuk mencapai kesuksesan dan hal ini menyatakan kepada kita bahwa karunia Allah Ta’ala telah menyertainya. Agar karunia ini bertahan lama, Jemaat hendaknya senantiasa sibuk dalam berdoa.[8] Jika kita senantiasa menunaikan haq-haq berdoa maka insya Allah sekarang dan masa nanti semua penentangan akan menemui kematiannya sendiri.

Pada satu kesempatan ketika sedang membicarakan pengorbanan Tn. Maulwi Abdul Karim Sialkoti ra, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Allah Ta’ala memberkati Hadhrat Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ra dengan pekerjaan yang sangat mulia. Beliau telah sukses menjalankan praktek di kota kelahirannya sehingga banyak orang yang mencintainya. Suatu kali, beliau datang ke Qadian untuk mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as dan ketika hendak pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tuan telah melihat dunia dan sekarang tinggallah di Qadian.” Beliau mengamalkannya dan tidak jadi pulang. Beliau meminta seseorang agar barang-barangnya dikirimkan dari kampungnya ke Qadian. Melihat kondisi Qadian saat itu, beliau tidak mungkin menjalankan praktek [ketabiban/kedokteran] di Qadian namun beliau tidak peduli akan hal itu.

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Tn. Maulwi Abdul Karim. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang hanya bisa dinilai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya pada saat itu. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Tn. Maulwi meninggal dunia ketika saya sedang berumur 16 atau 17 tahun namun saya mengenal besarnya kecintaan beliau Hadhrat Masih Mau’ud as sejak saya masih berumur 12 tahun. Namun demikian, kecintaannya tersebut memberikan kesan di dalam hati saya.”

Ada aspek kepribadiannya yang tidak terlupakan; cara beliau minum seraya bersyukur pada Allah Ta’ala dan kecintaannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra sangat menyukai air bening sejuk dan sangat gemar meminumnya. Saat meminumnya terdengar suara, gath gath! Seolah-olah Allah telah mengumpulkan kenikmatan surga dan mengirimkannya kepada beliau ra.[9] Setiap beberapa teguk, beliau ra akan berucap, Alhamdu lillah! Alhamdu lillah!.[10] Pada saat itu, air sumur masjid Aqsa sangat terkenal dan beliau akan berkata kepada orang-orang untuk mengambilkannya air. Ketika ia berada di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, terlihat seolah-olah mata beliau sedang memakan fisik Hadhrat Masih Mau’ud as. Seluruh wujud Tn. Maulwi akan menjadi gambaran kegembiraan yang tidak terhingga karena melihat wujud Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau sangat bersemangat terhadap segala sesuatu yang beliau as katakan. Kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mengadakan pertemuan setelah shalat Maghrib. Beliau as menghentikan rutinitas ini setelah kewafatan Tn. Maulwi. Ketika seseorang menanyakan hal ini, beliau as menjelaskan bahwa hal tersebut membuat beliau sakit karena kehilangan Tn. Maulwi.

Hadhrat Masih Mau’ud as sangat menyayangi para Sahabat beliau. Suatu kali di Qadian, ada seseorang yang melontarkan kata-kata kasar berkenaan dengan Tn. Maulwi Abdul Karim dan orang-orang pun mulai memukulinya. Namun, ia tetap keras kepala dan terus mengulangi kata-kata kasarnya. Pertengkaran pun terjadi. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra masih kecil pada saat itu dan bagi anak-anak dan tentu hal ini menjadi tontonan. Seorang pegulat non-Ahmadi biasa mendatangi Hadhrat Khalifatul Masih I ra untuk mendapatkan pengobatan. Ketika mendengar tersebut, ia berpikir untuk ikut ambil bagian dalam keributan tersebut dan kemudian memukuli orang tersebut. Tetapi, tetap saja orang tersebut mengatakan apa yang ia ingin katakan. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mengetahui kejadian tersebut, beliau sangat tidak senang dan bersabda, “Beginikah ajaran kita? Ini bertentangan dengan ajaran kita. Lihat! Orang-orang mencaci-maki kita namun hal itu tidak merugikan kita sedikit pun, lalu apa masalahnya jika ada seseorang yang berbuat demikian kepada kita! Jika mereka menggunakan kata-kata kasar itu terhadap Tn. Maulwi Abdul Karim, apa dampaknya?”[11] Pendeknya, kita harus mengendalikan emosi kita.

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Tn. Munshi Aroora Khan. Beliau sangat mencintai Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau berasal dari Kapoorthala. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat memuji para Ahmadi Kapoorthala atas ketulusan mereka dan bersabda bahwa mereka menunjukan ketulusan yang sedemikian rupa sehingga mereka akan bersama beliau di surga. Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as tiba di Kapoorthala tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

Seorang penentang melihat beliau as ketika turun di stasiun. Terkejut akan kehadiran beliau as, ia berlari ke tempat Tn. Aroora dan mengatakan padanya, “Tn. Mirza telah datang.” Mendengar hal tersebut, Tn. Aroora juga bergegas ke stasiun tanpa mengenakan tutup kepala yang merupakan suatu hal yang wajib pada saat itu. Di pertengahan jalan, beliau berhenti dan bertanya-tanya apakah ini benar. Apakah penentang tersebut telah mempermainkannya. Apakah mereka begitu beruntung mendapatkan karunia atas kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau mengutuk penentang tersebut karena telah mengatakan kebohongan. Namun kemudian beliau mengubah pikirannya lagi dan mulai berjalan ke stasiun. Beliau berhenti dan mulai melihat dengan rasa tak percaya hingga beliau melihat Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berjalan ke arahnya. Demikianlah gelora kecintaannya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.

Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, Tn. Aroora datang ke Qadian dan memberikan beberapa koin emas kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra serta meminta beliau untuk memberikannya kepada ibunda tercintanya. Beliau kemudian mulai menangis getir. Awalnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berpikir bahwa beliau menangis karena kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menangis hampir setengah jam dan selama itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra terus bertanya padanya apa yang menyebabkan beliau menangis. Namun karena sedang dikuasai emosi, beliau tidak dapat menjawabnya.

Pada akhirnya, beliau menjelaskan bagaimana beliau telah berhemat dan menyimpan uang sejak pertama kali baiat untuk dapat memberikan sesuatu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as serta menjelaskan pula bagaimana ketika telah memiliki simpanan yang cukup, beliau berkeinginan memberi sesuatu yang lebih kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan pada saat itu beliau berharap dapat memberikan emas kepada beliau as. Namun, setiap kali beliau menabung, beliau merasa gelisah melihat Hadhrat Masih Mau’ud as dan memberikannya apapun yang ia telah simpan. Dengan demikian beliau tidak pernah memiliki cukup simpanan untuk memberikan emas. Pada saat beliau telah cukup menyimpan 2 keping emas, Hadhrat Masih Mau’ud as wafat. Dengan demikian, beliau telah menghabiskan 30 tahun merindukan untuk memberikan emas kepada Hadhrat Masih Mau’ud as namun tak dapat terlaksana karena beliau as telah meninggal dunia.[12]

Inilah ketulusan dan kesetiaan para Sahabat itu.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa ada beberapa huruf Arab yang secara khusus hanya dapat diucapkan dengan benar oleh orang-orang Arab. Orang-orang bukan Arab tidak mampu talaffuzh (melafalkan) huruf-huruf tersebut secara tepat. Suatu kali, ada seseorang menghadiri majelis Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as menablighinya dan mengutip dari Al-Quran seraya mengucapkan kata “القرآن” ‘Quran’ dalam aksen bukan seperti seorang Qari (pembaca mahir Al-Qur’an) dan bukan dalam loghat Arab, yaitu aksen Punjabi hal mana huruf “ق” diucapkan dan terdengar seperti antara huruf “ق”  dan huruf “ك”.

Orang tersebut memberikan komentar, “Anda (Hadhrat Masih Mau’ud as) menyatakan diri sebagai seorang nabi namun tidak tahu bagaimana cara mengucapkan kata ‘Quran’ dengan benar. Lalu bagaimana Anda dapat memberikan tafsirannya!” Seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu Maulwi Abdul Latif mengangkat tangannya hendak memukul orang tersebut namun Hadhrat Masih Mau’ud as meraih tangannya dan menghentikannya.

Beliau as menjelaskan pada Tn. Sahibzadah bahwa orang-orang ini hanya memiliki senjata berupa melontarkan cacian ini. Jika mereka tidak menggunakannya, lalu apa lagi yang akan mereka gunakan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa hendaklah kita tidak mengharapkan kebenaran dan dalil-dalil yang benar yang akan keluar dari mulut mereka. Jika demikian, apa pula perlunya kedatangan beliau as. Dengan kedatangan beliau as ini membuktikan bahwa mereka tidak lagi memiliki kebenaran. Jadi yang dapat mereka lakukan adalah menghina beliau as dan tidak mungkin bagi kita untuk menghalangi mereka untuk tidak menggunakan satu-satunya senjata yang mereka miliki tersebut.[13]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ketika orang-orang Arab sendiri mengatakan tidak ada seorang pun yang dapat mengucapkan huruf ‘qaf’ dan ض dhaad seperti mereka, lalu mengapa pula mereka begitu kritis ketika seseorang selain mereka salah mengucapkannya? Saya pikir dari antara penduduk Punjab, saya yang paling dekat pengucapan huruf ض ini, tapi itu pun masih belum tepat.”[14]

Saya (Hudhur V atba) menjelaskan dua peristiwa yaitu tentang huruf “ق”  ‘qaf’ dan huruf  ض . Dua peristiwa ini memang ada terjadi. Umumnya orang Jemaat kebanyakan mengetahuinya peristiwa tentang huruf ض saja. Karena hal ini, banyak surat yang telah saya terima [mempertanyakan kejadian mana yang terjadi]. Tim yang berurusan dengan surat menyurat tersebut merasa khawatir tumpukan surat yang diterima!

Berkenaan dengan kesabaran, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa para penentang menulis surat yang sangat kotor kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Membaca surat-surat tersebut dapat membuat darah seseorang mendidih karena marahnya. Namun, Hadhrat Masih Mau’ud as begitu sabar dalam memberikan jawaban. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa surat-surat yang seperti ini sering datang, mungkin 2 atau 3 kali seminggu sementara beliau ra sendiri menerima surat-surat seperti ini 4 atau 5 kali setahun. Surat-surat ini sangat bodoh dan penuh caci makian.

Suatu kali Hadhrat Mushlih Mau’ud ra tidak sengaja membaca beberapa surat tersebut yang membuat darah beliau mendidih. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat beliau ra sedang membaca surat-surat tersebut, beliau membawa tas yang berisikan surat-surat tersebut dan berkata bahwa beliau ra hendaknya tidak membaca surat-surat ini. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyimpan surat-surat tersebut di dalam tas-tas dan kemudian disimpan di dalam peti kayu. Beliau as sering membakar surat-surat tersebut namun surat-surat semacam itu terus saja berdatangan. Inilah tas-tas yang Hadhrat Masih Mau’ud as tulis, “Aku mempunyai tas-tas yang penuh caci-maki para penentang.”

Surat-surat ini tidak hanya berisi caci-maki saja namun juga tuduhan palsu dan fitnahan. Bodoh sekali jika harus marah karena hal-hal ini. Surat-surat tersebut malah menjadi pupuk untuk menegakan ketakwaan kita. Tidak perlu merasa marah dan terbawa emosi. Pada akhirnya, sebuah bejana hanya akan menumpahkan apa yang ada di dalamnya dan hanya kebodohanlah yang akan menjadi bukti dari hati para penentang. Hendaklah kita menjaga dan mengintrospeksi akhlak dan tingkah laku kita…[15]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa tercantum di dalam surat kabar Badr dan beliau juga ingat dengan baik bahwa pada salah satu kunjungan beliau ke Delhi, Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke tempat-tempat ibadah para orang suci untuk berdoa. Orang-orang suci tersebut adalah Khawaja Baqi Billa Sahib, Hazrat Qutb Sahib, Khawaja Nizamud Din Sahib Aulia, Shah Wali Ullah Sahib, Hazrat Khawaja Mir Dard Sahib dan Naseer ud Din Sahib Chiragh. Meski tidak tercatat di dalam buku harian beliau ra pada saat itu, namun apa yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ingat dengan baik adalah Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa: “Hati orang-orang Delhi ini telah mati. Kami ingin pergi ke kuburan para suci yang telah wafat untuk memanjatkan doa bagi mereka, bagi anak keturunan mereka dan juga bagi orang-orang Delhi sehingga ruh-ruh para orang suci itu tertarik untuk memanjatkan doa bagi para penduduk Delhi tersebut supaya memperoleh petunjuk.” Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa kisah yang tercatat di diari beliau as hanya sebatas di tempat-tempat ibadah para orang suci, Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa bagi mereka, bagi diri beliau dan untuk beberapa perkara lainnya.[16]

Dalam buku beliau yang berjudul Tadkiratush Shahadatain, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ketika saya mulai menulis buku ini, saya berniat untuk segera menyelesaikannya dan membawanya ke Gurdaspur. Namun yang terjadi adalah saya menderita rasa sakit di ginjal. Saya paham rencana saya tidak akan terpenuhi karena waktu sangat singkat. Allah Ta’ala kemudian menarik perhatian saya untuk berdoa. Saat itu pukul 3 dini hari dan saya berkata kepada istri saya, ‘Saya akan berdoa kepada Allah Ta’ala’, dan ia pun mengaminkannya. Dalam situasi demikian dan seraya mengingat Sahibzada Abdul Latif, saya mulai memohon kepada Allah Ta’ala serta berdoa bahwa saya telah berkehendak untuk menulis buku ini untuk mengenangnya. Saya sungguh telah sembuh sebelum pukul 6 pagi dan selesai menulis setengah buku pada hari tersebut.”[17]

Beliau menulis kisah ini dengan judul ‘Eik Jadid Karamat Maulwi Abdul Latif Shahib ki’ (Suatu mukjizat yang baru dari Almarhum Tn. Maulwi Abdul Latif). Terbukti dari cara atqiya (para orang bertakwa) dan shulaha (para saleh) bahwa Hadhrat Rasulullah saw sendiri seringkali berdoa dengan corak seperti ini. Hal yang dilarang adalah menganggap seseorang yang telah meninggal dapat memberikan sesuatu atau faedah bagi kita. Hal ini adalah salah dan haram di dalam Islam. Selain dari hal itu, pergi ke tempat-tempat demikian seraya memanjatkan doa senantiasa membangkitkan kelembutan dan kerendahan hati atau berdoa dengan mengingat janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Rasulullah saw dan dengan memohon agar semua janji tersebut terpenuhi di dalam diri kita merupakan sebuah realitas kerohanian dan wajib bagi setiap Mu-min mencari keberkatan dari tempat-tempat semacam itu. Sebagai contoh, kita dapat berdoa di makam Hadhrat Masih Mau’ud as, “Ini merupakan seorang wujud yang bersama dengannya terdapat janji Engkau untuk menghidupkan kembali agama Islam. Adalah janji Engkau untuk membawa nama beliau as ke ujung dunia. Buatlah diri kita menjadi bagian dari janji tersebut dan penuhilah tanggung jawab kita untuk menyempurnakan misi beliau as.”[18]

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk merasakan gambaran sejati agama Islam bagi diri kita dan juga menunjukannya kepada dunia!

Saya akan melaksanakan shalat jenazah ghaib bagi Tn. Maulwi Muhammad Yusuf, seorang Darwaisy, Qadian yang wafat pada tanggal 22 Juli 2015 pada umur 94 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau Ahmadi satu-satunya di keluarganya. Biasa mengajar al-Qur’an dan Hadits di madrasah Ahmadiyah selama waktu yang panjang. Pribadi sederhana, rendah hati dan teguh menunaikan pengkhidmatan, mukhlis dan setia. Berasal dari desa Mokal, di wilayah Lahore dulu, sekarang Qushur. Belajar Hadits di Madrasah Ahli Hadits di Lahore. Di sana mengantarkan beliau berkenalan dengan orang Ahmadi dan Ahmadiyah. Setelah itu datang ke Qadian beberapa kali dan mempelajari buku Jemaat. Beliau baiat di tangan Hudhur II ra pada 1944. Datang ke Qadian guna mendapat pendidikan agama dan pada 1947 masuk ke barisan Muballigh. Lalu menjadi Darweisy. Pada 1949 ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memilih beberapa mahasiswa dari kalangan Muballigh agar meraih pendidikan lebih tinggi beliau menamatkan pilihannya selama 4 tahun. Lalu dipekerjakan sebagai guru Madrasah Ahmadiyah pada 1955. Beliau meraih gelar Maulwi Fadhil dari Universitas Punjab pada 1958.

Nomor Darwisy beliau tercantum di buku Tarikh Ahmadiyah jilid 11, yaitu 153. Melewati waktu panjang sebagai Darwisy dengan sabar dan penuh syukur meski mengalami kesulitan. Beliau Mushi. Meninggalkan 3 putri kandung, anak tiri (anak istri dari suami sebelumnya) dan putra. Putra beliau, Tn. Jamil Ahmad Nashir berkhidmat di bidang Wasiyat. Tn. Badruddin, putra tiri beliau bekerja sebagai naib ketua penerbitan Fadhl Umar. Putri beliau, Ny. Aisyah Begum, istri Tn. Dokter Nasim Ahmad Hafizabadi, berkhidmat sebagai dekan perguruan tinggi. Semoga Allah meninggikan derajatnya dan mengaruniai keturunan beliau mengikuti jejak kebaikan almarhum. آمين

[1] Tadhkirah, hal 635, edisi 2004

[2] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum j. 14, 579-581

[3] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum jilid 14, 579

[4] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum jilid 14, 564

[5] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum jilid 14, 581

[6] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum jilid 14, 579

[7] Mishri Shahib ke khilaafat se inhiraaf ke muta’alliq taqrir, Anwarul Ulum jilid 14, 579

[8] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 14, h. 122.

[9] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 14, h. 121-122.

[10] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 24, h. 158.

[11] Al-Fadhl 05 Juni 1948 h. 6 jilid 2 nomor 127

[12] Khuthubaat-e-Mahmud jilid 14, h. 178-180.

[13] Al-Fadhl 09 Maret 1938 h. 7 jilid 55 nomor 26

[14] Al-Fadhl 11 Oktober 1961 h. 3 nomor 235 jilid 15/50

[15] Al-Fadhl 09 Maret 1938 h. 7 jilid 55 nomor 26

[16] Badr 8 November 1905

[17] Tadzkiratusy Syahadatain, Ruhani Khazain jilid 20 h. 74-75.

[18] Al-Fadhl 14 Maret 1944 h. 7 jilid 32 nomor 61