Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih Ar-Rabbi ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

11 Oktober 2002

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada khutbah Jumaah yang lalu setelah menilawatkan ayat-ayat 11-12 dalam rangkaian menerangkan sifat An-nur saya sedikit telah mengupas bahasan/topiknya. Dalam khutbah hari ini dalam rangkaian itu akan diterangkan bahasan yang tersisa.

Allamah Fakhruddin Razi dalam menafsirkan ayat لِيُخْرِجَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ – (supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya) (At-talaq ayat 12)Arti مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ-(dari kegelapan kepada cahaya) ialah: Membawa dari kegelapan kekufuran kapada nur iman dan dari kegelapan kebimbangan/keragu-raguan kepada nur hujjat/dalil dan dari kegelapan kejahilan kepada nur ilmu.(Razi).

(Allamah Az-zamakhsyari),pengarang Kasyaf menulis bahwa maksud رسولاا-rasuwlan ialah Jibril ‘alaihissalam.

Maksud zikir dipakai juga untuk kata kemuliaan sebagaimana firman Tuhan وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَDan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu.Dan ysng dimaksud dengan zikir digunakan juga untuk Al-Quran sebagaimana dalam firman Tuhan وَأَنْزَلْنَا الذِّكْرَ– disini maksud zikir ialah Al-Quran.0

Allamah Alusi dalam menafsirkan ayat suci قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا-At-talaq 11.bahwa maksud ذكرا-dzikran adalah Rasulullah saw dan sebab banyaknya membaca Al-Quran dan banyaknya menablighkan Al-Quran maka beliau disebut dzikir dan rasuwlan adalah badel/kata ganti dzikr.dan secara permisalan kata irsal/mengirim diterangkan dengan kata inzal-menurunkan.

Allamah Abu Hayyan berkata: Jelas bahwa maksudذكراdzikran adalah Al-Qur’an dan maksud الرسول-arrasuwl adalah Muhammad saw. (Ruhulma’ani)

Hadhrat Khalifatul-Masih awwal bersabda:ذكرا-dzikran Allah telah menurunkan kitab yang dengan mengamalkannya namamu akan menjadi menyebar/cemerlang. Itu akan menjadi faktor kemuliaan dan kemegahan/keterannmu.

(رسولا -rasuwlan)Jika kamu ingin menyaksikan bahwa apa faedah jalinan/ikatan itu.maka lihatlah contoh rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat-Nya . Kehormatan apa yang telah Allah anugerahkan padanya.

مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ-Keitaatan kepada rasul itu dan hasil dari pengamalan kalamnya ialah bahwa kamu akan keluar dari kegelapan kepada cahaya.

(Haqaiqul-quran jilid jilid 4 hal.143-144)

Nur datang dari Tuhan untuk menjauhkan kegelapan zaman. Dan nur-Nya itu ialah rasul-Nya dan kitab-Nya. Allah dengan nur itu memperlihatkan jalan-Nya kepada orang-orang yang ingin mencari redha-Nya. Maka Tuhan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.”.

(Ruhani Hazain jilid I Hal. 648-649)

Bersabda:

Aku senantiasa memandang dengan kekagum-kaguman bahwa betapa luhur kedudukannya nabi dari Arab yang namanya Muhammad ini.(beribu-ribu selawat dan salam padanya). Batas ketinggian kedudukannya tidak dapat diketahui dan memperkirakan pengaruh daya pensuciannya bukanlah pekerjaan manusia…..Segenap hazanah makrifat dianugerahkan padanya. Barangsiapa yang tidak memperoleh dengan perantaraannya dia menjadi mahrum untuk selama-lamanya. Kita ini apa dan apa hakekat kita. Kita akan menjadi orang yang ingkar akan nikmat jika kita tidak mengakui bahwa tauhid hakiki kita peroleh dengan perantaraan nabi ini. Kami memperoleh pengenalan terhadap Tuhan yang Hidup dengan perantaraan nabi yang sempurna ini dan dengan perntaraan nurnya; dan kemuliaan berwawancakap dengan Tuhan yang kami telah melihat wajah-Nya kami telah dengan perantaraan nabi ini juga itu tersedia untuk kami. Sinar petunjuk itu menerpa kami seperti panas matahari dan kita baru bisa tersinari jika kita berhadap hadapan dengannya.”

(Haqiqatulwahyi hal 115-116)

Hadhrat Masih Mauud as selanjutnya bersabda:

Wahai Rabb-ku,wahai Rabb-ku ! berkenaan dengan kaumku dan saudara-saudaraku dengarlah doa-doaku. Dan dengan mengatas namakan Nabi Engkau Khatamunnabiyyin, wujud pemberi syefaat orang-orang berdosa dan yang diberikan wewenang untuk memberikan syafaat saya memohon padamu. Wahai Rabb-ku, keluarkanlah mereka dari kegelapan kepada cahaya Engkau dan janganlah mahrumkan mereka untuk hadir di hadapan-Mu”.

(Dafiul wasaawis Ruhani Ha azain Jilid 5 hal 11-12)

Kemudian dalam Ilham-ilham:

Wahai Allah perlihatkanlah padaku nur-Mu yang melingkupi segala sesuatu. Saya telah menyinari engkau dan telah memilih engkau dan saya akan menurunkan suatu perkara yang akan meyenangkan engkau.

Tazkirah hal. 313 Cetakan 1959

 Qamaruddin Shahid