Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

1 Agustus 2003 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Wa idz tadzdzana… lasyadid  Ibrahim 8

Kita panjatkan syukur nikmat sebanyak-banyaknya   pada Allah atas ihsan –Nya  dan   seberapapun syukur kita panjatkan   adalah masih kurang karena  hanya dengan karunia-Nya sematalah   Dia telah menyampaikan Jalsah salanah Inggris ini sampai pada akhir acaranya  dengan baikdan istimewa   dan kita juga telah menyaksikan dan merasakan turun-Nya karunia –karunia Allah yang seperti hujan.;  dan setiap  orang  siapapun yang dengan  perantaraan MTA,  di negara-negara di seluruh dunia dimanapun mereka melihat jalannya serangkaian acara Jalsah atau mendengarnya  mereka mengutarakan   bahwa mereka  melihat karunia-karunia  Tuhan yang itu turun seperti hujan.الحمد لله الحمد للهAlhamdulillah Alhamdulillah.

Ini semua merupakan bagian  ajaran Islam yang hakiki ini dan  karena inilah yang di zaman ini kini kita  telah dapatkan  karena (mengikuti)   Hadhrat Masih Mauud a.s. Kini, diseluruh dunia, kecuali Jemaat Ahmdiyah , siapapun  tidak ada  yang mengetahui,atau sama sekali tidak mengetahui bahwa bagaimana cara pengungkapan  rasa syukur atau rasa terima  kasih pada Tuhan. Dan kemudian sesuai dengan janji-janji-Nya bagaimana Tuhan memperbanyak dan terus memperbanyak karunia-Nya.  Jemaat telah  memanjatkan doa-doa dengan khusyuk di hadapan nya; memohon karunia-Nya, memohon kasih sayang –Nya; tunduk di hadapan-Nya; telah menyatakan keluh kesah yang tidak  terhitung dengan cucuran  air mata demi untuk ditegakkannya nikmat  khilafat di dalam diri mereka. Sebagai hasilnya,  Dia Tuhan Yang tidak terhitung belas kasih  terhadap hamba-hamba-Nya, yang mana jika  hambanya melangkahkan selangkah kaki menuju pada-Nya   Dia maju melangkah beberapa langkah kepadannya. Tuhan Sang Pemilik janji yang benar  telah menggantikan kondisi takut hamba-hambanya menjadi  kemanan.. Dia Tuhan Yang merupakan pemilik segenap kekuatan, Dia Tuhan  Sang  Pemilik kekuatan yang mampu bekerja dengan sebiji zarrah tanah sekalipun, Dia Tuhan Yang di dalam ranting kecil pun mampu  menciptakan  kekuatan yang lebih kuat dari   atap baja telah mengasihi kita dan kemudian   membimbing  terus laju kafilah Ahmadiyah pada tujuannya. Maka atas hal itu segenap Ahmadi pun dengan penuh  gejolak  syukur dan pujian telah bersyujud  di hadapan-Nya; telah menyampaikan tingkat kesetiaan –kesetiaan mereka sampai pada puncaknya dan demi untuk tegaknya nizam khilafat  telah memenuhi janji-janji  mereka.

 Tuhan  pun  dengan menghargai rasa syukur warga Jemaat tambah lebih memperderas  lagi    curahan  hujan karunia-Nya. Hujan ini bukanlah hujan yang akan  berhenti dan hujan ini- insyaallah- akan turun dan akan terus turun karena ini merupakan pengumuman Tuhan kita,”Jika kamu bersyukur maka  Saya pasti akan lebih memperbanyak anugerah-anugarah-Ku padamu”. Maka dengan kesetiaaan –kesetiaan kalian, dengan doa-doa kalian dan dengan ungkapan  gejolak –gejolak rasa syukur di hadapan Tuhan jangan pernah  membiarkan terhenti derasnya curahan hujan karunia-karunia-Nya itu. Semoga Allah menganugaerahi kita taufik untuk dapat mengamalkan contoh junjungan kita Muhammad Rasulullah saw.

  Tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari  Hadhrat Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bangun tengah malam untuk melakukan shalat sehingga kaki beliau bengkak dan  pecah-pecah. Pernah  pada suatu ketika saya  bertanya  pada beliau,” Ya Rasulullah ! kenapa  Tuan bersusah payah sedemikian  rupa padahal Allah telah memaafkan semua dosa-dosa  Tuan yang dahulu dan yang akan datang,yakni Dia telah bertanggung jawab untuk senantiasa menjaga dari setiap kesalahan dan ketersandungan   Maka Hudhur saw bersabda,” Apakah saya tidak menginginkan   untuk menjadi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur pada-Nya.Bukhari Kitabuttafsir Suratul-fatah

Gejolak ungkapan rasa  syukur atas  kebaikan-Nya, memanjatkan doa-doa  dihadapan-Nya dan senantiasa membasahi lidah dengan berzikir dan memuji-Nya bukan hanya untuk turunnya  karunia-karunia dan rahmat-rahmat-Nya secara berjemaah semata, bahkan perlakuan Tuhan ini terkait  dengan setiap orang,  baik dalam  kehidupan secara individu maupun  dalam kehidupan secara berkeluarga, akibat  bersyukur itu  Dia menurunkan hujan rahmat-Nya dan menjadikan setiap orang mu’min  sebagai waris dari karunia-Nya. Jadi, setiap orang untuk kebaikannya juga seyogiannya bersyukur atas ni’mat-ni’mat itu.

Tertera dalam sebuah hadis yang  bersumber dari Abdullah bin Gannam r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa  yang mengatakan ini pada waktu subuh, “Hai Tuhan, apapun yang saya peroleh  itu adalah dari Engkau. Tidak ada sekutu bagi Engkau dan segenap pujian dan syukur adalah untuk Engkau. Maka seolah-olah dia telah  bersyukur atas  harinya (yang  dia lalui ). Dan  barangsiapa yang berdoa seperti ini pada malam  harinya maka seolah-olah dia  telah melewatkan malamnya dengan bersyukur. Sunan Abu Dauud Kitabul adab.

 Bersumber dari  Abu Hurairah r.a. bahwa saya telah belajar dari   Rasulullah saw  doa ini.

اللهم اجعلنى اعظم شكرك واكثر ذكرك واتبع نصيحتك و احفظ وصيتك

 Allahummaj’alni u’azhzhimu syukraka wa uktsiru dzikraka wa attabi’u nasyiihataka wa ahfadzu wasiyyataka-.Wahai Tuhan-ku  anugerahilah taufik padaku untuk  dapat bersyukur  pada Engkau atau dapat membayar hak syukur pada Engkau  dan dapat banyak  berdzikir pada-Mu dan supaya saya dapat mengamalkan firman-firman-Mu dan   dapat mentaati hukum-hukum Engkau dan  Hadhrat Abu Hurairah berkata bahwa  beliau banyak sekali membaca doa ini. Tirmidzi Kitabudda’wat

 Bersumber dari Abdulah bin Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Pujian adalah  sumber syukur. Barangsiapa yang tidak memuji  Allah swt  maka  dia tidak bersyukur pada Tuhan. Misykaatul mashaabiyh  Kitabud-da’wat

Terjemahan beberapa syair dari Hadhrat Masih Mauud a.s dalam bahasa Arab: Beliau bersabda, “ Wahai Zat Yang  melingkupi segenap makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya, kami memuji Engkau sementara  tidak ada  kekuatan  untuk pujian /memuji.   Curahkanlah rahmat serta pandangan belas kasih-Mu pada diriku ,wahai Pelindung-ku ! Wahai Wujud Yang menjauhkan  kesedihan  dan keresahan ! Saya akan mati, tetapi kecintaanku tidak akan meengalami kematian. Di  tanah  kuburku  pun suaraku akan dikenal lewat zikir  pada-Mu. Mataku  tidak pernah menyaksikan  Wujud  yang berbuat baik seperti   Engkau. Hai wujud yang senantiasa menciptakan keluasan  dalan kebaikan-kebaikan-Nya/Maha berbuat baik  dan hai wujud yang memiliki segenap nikmat ! Tatkala aku  telah melihat sempurnanya kelembutan dan kesempurnaan pengampunan-Mu, maka musibah/kesulitanku  menjadi hilang  dan kini aku  sama sekali tidak merasakan musibah/kesulitankulagi.Minanurrahman

 Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Seorang hamba apabila     menjadi terpisah dengan segenap keinginannya, kosong dari  segenap gejolak hawa nafsunya,  fana pada zat Tuhan, fana dalam jalan dan ibadah pada-Nya,  dan mengenal Rabb-Nya     yang telah memelihanya dengan anugerah-anugerah-Nya,   terus membimbingnya setiap saat  lalu  dia dengan sepenuh hati,bahkan dengan segenap zarrahnya   mencintai-Nya, maka dia  akan menjadi alam dari antara  alam yang ada /lahir kehidupan baru dalam hidupnya. Oleh karena itulah  nama Hadhrat Ibrahim dalam kitab ‘alamu’ aalamiin disebut ummat.”  I’jazul-Masih hal    134 Tafsir Hadhrat Masih Mauud  a.s. jilid 3 hal 34-35

Apabila manusia, yakni seorang manusia yang beriman  bersyukur pada Tuhan maka secara spontanitas perhatiannya akan  tertuju pada pujian,sebab ungkapan rasa syukur sama sekali  tidak dapat melingkupi karunia-karunia Allah yang  tak  terbatas  dan tak terhitung.  Beryukur atas segenap anugerah itu sama sekali tidak mungkin. Nah, inipun merupakan kebaikan/dan ihsan-Nya bahwa Dia telah mengajarkan pada kita cara untuk memuji-Nya.

 Hadhrat Muslih Mauud  r.a. bersabda:  Arti hamd adalah  pujian. Di dalam bahasa Arab untuk  pujian.terdapat beberapa kata-kata sbb: حمد

Hamd ,مده – madah ,شكر  – syukur dan  ثناءtsana’.  Allah telah memilih kata hamd yang bukanlah tampa sebab. Arti syukur adalah pengakuan  ihsan/kebaikan dan pernyataan penghargaan atas hal itu. Jelas bahwa hamd lebih sempurna   dari kata itu, sebab hamd bukanlah nama pengakuan  kebaikan bahkan merupakan nama dari terasakannya keindahan segala  sesuatu/barang yang  indah dan adanya penzahiran rasa senang atas hal itu  dan juga merupakan nama dari rasa menghargai. Jadi, kata ini artinya lebih luas. Tafsir Kabir dari Hadhrat Muslih Mauud r.a. .

Hadhrat Khalifatul-Masih I  r.a. bersabda:  Al-Hamd – Al-Fatihah merupakan sebuah  doa yang lengkap dan tidak ada doa yang dapat menandinginya. Tidak pula doa-doa dalam agama lain dan tidak pula doa-doa dari hadis-hadis . Tasyhiidzul-Adzhan jilid 8 no. 1 hal 434

Kemudian beliau menambahkan: Doa yang bagus  adalah الحمدalhamdu – Al-Fatihah. Di dalam kalimat    اياك نعبد و ايا ك نستعينiyyakanakbudu wa iyyaaka nasta’iin-hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada   Engkau  kami meminta  pertolongan  terdapat dua  kalimah-kalimah  kemajuan (doa untuk meraih kemajuan). Badar 31 Oktober 2912 hal 3

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s. bersabda:   حمدHamd digunakan  sebagai kata   pujian atas pekerjaan-pekerjaan  baik  seorang yang saleh lagi  memiliki wewenang yang dilakukan dengan tujuan  untuk memuliakan dan mengagungkannya;  dan pujian yang tersempurna hanyalah dikhususkan    untuk Rabbijaliyl-  Rabb Yang Mahaagung . Dan tempat kembali/sandaran  segenap pujian, baik itu sedikit ataupun  banyak adalah  Dia Rabb kita Yang memberi petunjuk  pada orang-orang yang sesat.dan memberikan kehormatan pada orang-orang yang hina. Dan  Dia merupakan   yang terpuji dari antara  yang   terpuji ( yakni makhluk –makhluk pilihan   yang   memang layak dipuji,  semua  makhluk-makhluk itu sibuk dalam menyanjung pujian terhadap -Nya)  Menurut kebanyakan para  ulama kata syukur dari segi itu berbeda dengan kata  hamd bahwa Dia dikhususkan  dengan sifat-sifat yang memberikan  faedah pada orang lain; dan kata madah dari kata hamd dalam hal itu berbeda sebab pengacuan kata madah tertuju   pada keistimewaan –keistimewaan  yang (bersifat) sepontanitas  dan ini  tidaklah tersembunyi pada  kalangan para ulama yang  fasih dan yang mahir  dan para sastrawan.

Allah swt  memulai kitab-Nya dengan hamd pujian dan tidak dengan syukur dan   madah. Karena , kata hamd meliputi  sepenuhnya mafhum kedua kata itu; dan  itu merupakan wakil keduanya, tetapi di dalamnya terdapat   mafhum perbaikan , dekorasi dan hiasan yang  melebihi mafhum   keduanya. Sebab, orang-orang kafir tampa sebab memuji berhala-berhala mereka dan   untuk memujinya mereka memilih kata hamd dan mereka yakin  bahwa sembahan mereka merupakan sumber segenap anugerah dan nikmat dan termasuk dari antara orang-orang yang dermawan. Demikian pula  pada saat penyebutan kebanggaan –kebanggan (kelebihan-kelebihan orang  yang meninggal)  pleh  perempuan-perempuan yang berduka atas    kematian laki-laki   mereka, bahkan  di medan-medan (pertempuran) juga, dan pada saat penyambutan para tamu dan pada saat pesta-pesta juga seperti itulah dilakukan  pujian  sebagaimana  seyogiannya dilakukan pujian pada Allah swt  Yang Maha Pemberi rezeki, Maha Pemelihara dan  Mahapemberi jaminan .” Karamatushshadiqiin hal. 64-65

Beliau melanjutkan …bahwa di dalam kata hamd ada sebuah isyarah lain lagi sebagaimana  Allah swt  Yang Mahabeberkah  berfirman: Hai hamba-hamba -Ku, kenalilah Aku  dari sifat-sifat-Ku   dan  dari kesempurnan-kesempurnaan-Ku.  Saya bukanlah seperti makhluk-makhluk yang serba  kekurangan, bahkan martabat pujian-Ku jauh melebihi  pujian orang yang berlebihan dalam memuji   sekalipun  dan  di seluruh langit dan  bumi kamu tidak akan mendapatkan sifat-sifat yang layak dipuji  yang kamu tidak bisa  dapatkan dalam Zat-Ku. Dan jika kamu ingin menghitung sifat-sifat-Ku yang patut  dipuji maka  sama sekali  tidak akan dapat menghitungnnya  dan meski betapapun kalian mengerahkan segenap fikiran  dan bersusah payah terkait dengan sifat-sifat-Nya   seperti orang-orang  tenggelam larut  dalam pekerjaannya .   Cermatilah dengan benar,  apakah nampak bagi kalian  hamd-pujian  sedemikian rupa  yang  tidak dapatkan dalam Zat-Ku. Apakah kalian  mendapatkan jejak Wujud Yang sedemikian  sempurna yang jauh dari-Ku dan jauh dari singgasana-Ku ? Dan jika kamu menyangka  demikian, maka kalian sama sekali tidak mengenal Saya dan kalian termasuk  dari antara orang-orang yang tidak dapat melihat.Karamatushshadiqiyn hal.65-66

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

       Segenap pujian yang terdapat di dalam alam/dunia   dan terdapat  dalam ciptaan-ciptaan (Nya), itu    pada hakekatnya  merupakan pujian-pujian  terhadap Tuhan dan semua itu merujuk kepada-Nya; sebab, keindahan yang terdapat dalam  ciptaan  itu pada intinya merupakan keindahan  dari Sang Mahapencipta; yakni matahari tidak menyinari dunia namun  pada hakekatnya Tuhan-lah yang menyinari; dan bulan tidak menghilangkan kegelapan malam namun   pada hakekatnya Tuhan-lah yang menghilangkan kegelapan malam itu;  dan awan tidak menurunkan hujan,tetapi  pada hakekatnya Tuhan-lah yang menurunkan hujan.  Demikian pula mata kita yang melihat, pada hakekatnya dari Tuhan-lah penglihatan itu; dan  telinga yang mendengar,  pada hakekatnya dari Tuhan-lah pendengaran itu; dan akal yang dapat menangkap/menemukan  sesuatu pada hakekatnya dari Tuhan-lah penemuan  itu;  dan apa saja anasir-anasir/unsur-unsur  yang menampilkan  sifat-sifat yang indah /cantik  dan sesuatu keindahan/kecantikan  dan kesegaran yang tengah masyhur/sedang  tenarnya pada hakekatnya  merupakan sifat dari Sang Mahapencipta itu, yang dengan sedemikian indah  menyematkan  sifat sempurna-Nya  pada  benda-benda itu;  dan kemudian tidak hanya cukup dengan menciptakan   benda-benda itu semata, bahkan  Dia  telah menetapkan untuk selamannya sifat rahmat yang sempurna dengan benda-benda itu, yang  dengan rahmat mana  (terkait erat) keabadian  dan wujud benda-benda itu. Dan tidak hanya  cukup   pada  itu semata, bahkan suatu benda Dia  sampaikan pada titik kesempurnaannya yang tertinggi ,yang dengan  itu nilai suatu benda tersebut  menjadi   terbuka. Jadi pada hakekatnya yang berbuat baik dan Pemberi nikmat pun juga adalah Dia. Ke arah itulah Dia mengisyarahkan ربالعالمين الحمد لله alhamdulillah hirabbilalamin.  Al-Hakam Juni 24 Juni 1904

     Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Ini merupakan hal yang benar-benar  penting bahwa seyogianya setiap orang  dengan penuh kerendahan hati  senantiasa memanjatkan doa-doa pada Tuhan supaya Dia menganugerahkan padanya makrifat yang benar, akal yang  hakiki dan  menganugerahkannya penglihatan /firasat yang suci  dan melindungi mereka  dari was-was syaitan.” Laporan Jalsah Salanah 1897hal 63

 Beliau bersabda; Singkat kata  adalah dengan doa, tempuhlah  itu dengan upaya-upaya melakukn  taubah dan senantiasalah melakukan sedekah  supaya Allah memperlakukan  dengan karunia dan kasih  sayang-Nya”.Malfuzhat jilid Ihal. 134-135 Cetakan baru

Tertera dalam  sebuah hadis yang bersumber dari  Hadhrat Asy’as r.a.   Rasulullah saw bersabda bahwa  orang-orang yang paling banyak bersyukur pada Allah ialah orang-orang  yang paling banyak bersyukur/mengucapkan terima kasih pada  orang-orang. Al-Mu’jam Al-kabir littabrani.

 Di dalam  topik lain, dalam kaitan ini, saya ingin menerangkan  mengenai ungkapan  rasa terima kasih   hamba-hamba Allah. Dan demikian pula terdapat  sebuah hadis  bahwa barangsiapa yang tidak bersyukur/ tidak mengungkapkan rasa terima kasih  pada manusia diapun merupakan orang yang tidak berterima kasih pada Tuhan. Jadi, dari sisi itu kini seusainya Jalsah saya ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih pada  segenap  petugas, saya berterima kasih pada mereka  yang sebagian besar mereka adalah para pemuda atau para  khuddam,yang mana siang malam, non stop tanpa mengenal lelah  mereka melaksanakan semua tugas-tugasnya dengan  cara yang  sangat baik. Akibat  kedatangan tamu yang lebih dari perkiraan panitia, timbul kekhawatiran akan terjadi  pengaturan  yang tidak disiplin/berantakan, khususnya dalam kondisi-kondisi    dimana musim juga tidak dapat dipastikan. Pada  hari pertama sebagaimana semua  telah melihat bahwa akibat angin kencang sejumlah tenda-tenda  kecil tumbang /rebah. Akomodasi secara keseluruhan memang telah menjadi  sempit; distribusi  makanan tadinya dapat   terpengaruh,bahkan pada hari  terakhir  pun mesin  roti tiba-tiba  rusak;  tetapi Tuhan  menurunkan fadhalnya,yakni  tidak berapa mesin yang  rusak pun menjadi betul. Jadi, menjadi panik dalam kondisi-kondisi  seperti itu atau timbul rasa panik dalam kondisi-kondisi seperti itu bukanlah  merupakan  suatu hal yang tidak mungkin akan terjadi.  Akan tetapi, dengan gejolak pujian dan rasa syukur yang  tidak  terhingga kepala kita tunduk di hadapan  Tuhan, yang mana dalam kondisi seperti itu Dia tidak membiarkan timbul perasaan terjadi pengaturan yang tidak terurus  /berantakan. Kemudian  secara spontanitas  gejolak rasa syukur/terima kasih  kita juga pada petugas-petugas  Jemaat Hadhrat Masih Mauud  a.s. yang sedemikian indah   yangmana  meskipun mereka tumbuh besar  di Eropa.,tetapi mereka tetap  dalam semangat pengorbanan  yang tak terhingga,tampa  menganal lelah dalam menerima tamu-tamu Hadhrat Masih Mauud a.s.  Kemudian urusan kebersihanpun mereka lakukan dengan cara yang sangat baik. dan saya mengharapkan bahwa lapangan Islamabad  pun  kini mungkin  telah bersih.Semoga Allah menganugerahi  ganjaran yang baik ,menganugerahkan karunia-karunia-Nya  yang tak terhingga. Saya sangat khawatir dan secara alami saya juga seyogiannya  tentu sangat khawatir karena ini merupakan jalsah pertama namun meskipun demikian T uhan memperlihatkan kasih sayang  dan penampakan  karunia-Nya dan Dia terus nampak tengah memperlihatkannya,   tetapi kekhawatiran itu ialah  jangan-jangan nanti terjadi pengaturan jalsah yang tidak rapi /brantakan.  Akan  tetapi benar-benar merupakan kebaikan/ihsan dari Allah  bahwa banyak para peserta jalsah yang mengutarakan  bahwa dengan karnia Tuhan  dibandingkan  tahun yang lalu penanganan  jauh lebih baik. Al-Hamdulillah  Al-Hamdulillah  Al-Hamdulillah  .Dan sejalan dengan itu pula sebagaimana saya  telah ungkapkan  rasa terima kassih  pada para petugas,kini untuk kedua kali saya mengucapkan rasa terima kasih .bahwa kalian telah menjauhkan kekhawatiran saya. Saya merasakan bahwa untuk ungkapan rasa terima kasih itu tidak ada kata-kata dalam diri saya,tetapi dalam mengamalkan hadis ini dimana Rasulullah saw bersabda:  Kepada siapa dilakukan suatu kebaikan lalu dikatakan pada  yang melakukan kebaikan itu , semoga Tuhan memberikan ganjaran yang baik padamu dan  menganugerahkan ganjaran  yang terbaik maka  dia  telah melunasi hak pujian. Yakni pada suatu batas tertentu Dia  telah memenuhi kewajiban untuk berterima kasih.

 Demikian pula para tamu dengan  penuh kesabaran  dan  antusiasme yang tinggi  telah bersabar atas  kekurangan-kekurangan  dalam pengaturan –pengaturan , semoga Tuhan juga menganugerahkan   ganjaran pada mereka . Sebagaimana dalam Jalsah ini para tamu dan para petugas jalsah  telah memberikan  sarana ketenteraman pada saya, telah menegakkan  standar cinta dan kesetiaan,maka semoga generasi kalianpun terus dianugerahi rahmat dan karunia -Nya  dan kecintannya tetap tegak dengan  khilafat dan Jemaat.

Akhirnya, saya  juga ingin menyampaikan ucapan  terima kasih  pada  M TA.  Dari luar banyak surat-surat yang diterima yang mengungkapkan bahwa program sangat bagus dan   perogram sampai pada mereka dengan  cara yang terbaik. Kini saya akan menyampaikan satu kutipan Hadhrat Masih Mauud a.s:

Saya mengharapkan bahwa sebelum saya  pergi dari dunia ini saya memerlukan bahwa saya tidak akan memerlukan siapapun selain majikan saya  yang hakiki itu dan Dia akan senantiasa menjaga saya dari segenap musuh.

فالحمد لله اولا واخرا وظاهرا وباطنا هو ولى فى الدنيا والاخرة وهوا نعم المولى ونعم النصير

falhamdulillah awwalan wa zhaahiran wa baathinan hua waliyyun fiddunya wal aakhirah wa hua ni’mal maula wani’mannashir. Dan saya yakin bahwa Dia akan menolong saya dan Dia sama sekali tidak akan menyia-nyiakan saya. Jika seluruh dunia dalam menentang saya  lebih buruk  dari binatang buas sekalipun  Dia tetap akan mendukung saya . Saya sama sekali tidak akan masuk  dalam liang kubur  saya  dengan kegagalan,sebab Tuhan saya senantiasa bersama saya dalam segenap langkah saya   dan saya  bersama Dia. Apa yang Dia ketahui tentang apa yang di dalam diri saya, siapapun tidak ada yang mengetahuinya. Jika setiap orang meninggalkan saya maka Tuhan akan menciptakan satu kaum lain yang akan menjadi sahabah  saya.”

Semoga Allah memasukkan kita dalam kelompok orang-orang  yang itaat dan setia pada Hadhrat Masih Mauud a.s.

Kemudian beliau bersabda:

“ Penentang yang dungu menyangka bahwa Jemaat ini akan binasa dengan makar dan upaya perlawanan mereka dan Jemaat ini akan hancur binasa. Tetapi orang dungu ini  tidak mengetahui bahwa sesuatu yang telah ditetapkan  di langit tidak akan ada kekuatan bumi yang dapat menghapuskannya. Di hadapan Tuhan saya gemetar langit dan bumi; dialah  Tuhan  yang menurunkan  wahyu-Nya yang suci kepada saya dan memberitahukan pada saya rahasia-rahasia yang  gaib dan   selain Dia tidak ada Tuhan. Dan   pasti Dia menjalankan  Jemaat ini, menumbuhkan dan memajukannya selama  belum memperlihatkan perbedaan antara yang suci  dan  yang kotor/ yang hak dan yang batil. Setiap  penentang   sedapat mungkin   untuk mengancurkan Jemaat ini seyogianya berupayalah dan kerahkanlah    segenap kemampuan mereka, kemudian lihatlah, apakah Dia yang akan unggul  atau Tuhan ? Sebelum mereka Abu Lahab dan Abu Jahal dan teman-temannya apa-apa yang mereka telah kerahkan, tetapi kini  kemana mereka ?  Firaun yang ingin menhacurkan Musa apakah kamu tahu kemana dia ?  Jadi  ketahuilah bahwa orang yang benar/jujur tidak akan pernah  sia-sia; dia berjalan  mondar mandir diantara prajurit  para malaikat. Alangkah  sialnya mereka yang tidak mengenalnya.” Barahin  Ahmadiyah jiklid 5 hal 295-296

Qamaruddin Syahid