Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 22 Ihsan 1391 HS/Juni 2012

Di Masjid Bait-ur-Rahman, Maryland, USA.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Inilah kebaikan Allah Ta’ala kepada kita; yaitu di zaman ini kita telah menerima orang yang telah diutus-Nya ke dunia untuk perbaikan ‘itikad dan amal perbuatan. Namun, meskipun mengimani hal ini, masih banyak diantara kita yang perkataan dan perbuatannya saling bertentangan. Ada sejumlah besar (eik bahut bari ta’daad) anggota Jemaat yang demikian, yaitu perkataan dan perbuatannya tidak sama sebagaimana seharusnya [mengamalkan perkataan mereka]. Tidak diragukan lagi selama perbincangan umum, yakni kalau ditanyakan kepada mereka, “Apakah kalian Ahmadi?” Maka mereka dengan cepat akan menjawab, “Masya Allah kakek-kakek kami adalah Ahmadi sahabat-sahabat dari Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam (salam sejahtera untuk beliau, as).” dan menceritakan kisah-kisah hidup mereka tertulis dalam Tarikh Ahmadiyah dan Tarikh Sahabat; bahkan sebagian mengatakan kepada saya, “Fulan Sahabat yang peristiwanya telah Hudhur terangkan (didalam beberapa khotbah yang lalu saya telah menceritakan peristiwa para sahabat), itu adalah kakek saya atau buyut saya.”

Keimanan mereka terhadap Ahmadiyah adalah seperti ini yaitu begitu kuatnya sehingga tidak akan ada hambatan atau siksaan yang dapat melepaskan mereka dari keimanan mereka. Para leluhur kebanyakan dari kita telah melakukan pengorbanan-pengorbanan; atau pribadi mereka telah banyak melakukan pengorbanan-pengorbanan, baik berkorban jiwa maupun materi. Diantara mereka banyak mungkin adalah saudara-saudara yang duduk di sini. Namun demikian, kita tidak dapat menyangkal bahwa bangsa-bangsa tidak bisa maju dan berkembang selama kita tidak membuka mata kita; selama kita tidak waspada dan melakukan penilaian terhadap diri sendiri.

Pendek kata, kita tidak menyangkal bahwa ada diantara orang-orang yang ikut serta dalam Ahmadiyah yang juga memiliki sebagian kelemahan di dalam amal perbuatan mereka. Ada kelemahan-kelemahan dalam pemenuhan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala, maupun terhadap hak-hak sesama hamba-Nya. Tujuan dari kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah untuk menanamkan revolusi dalam hidup seseorang sedemikian rupa sehingga kegelapan yang telah terakumulasi dalam hati-hati [manusia] dalam waktu selama 1400 tahun akan berganti menjadi cahaya yang memancar. Habis gelap terbitlah terang. Mereka menciptakan perubahan revolusioner dalam diri mereka.

Kemudian, para pendahulu kita telah membawa revolusi tersebut ke dalam hidup kita dan membawa transformasi ke dalam diri mereka sendiri sedemikian rupa sehingga apa yang mereka katakan memang didukung oleh amal perbuatan mereka. Namun generasi selanjutnya tidak menerapkan standar yang sama pada diri mereka (seperti para pendahulunya). Karenanya, kita harus melakukan instrospeksi terhadap diri kita sendiri apakah kita telah berusaha keras dalam usaha-usaha kita meninggikan standar perilaku dan tindakan kita? Apakah kita sedang berusaha untuk mencapai standar-standar itu? Yang telah dilakukan oleh pra sesepuh kita baik beliau-beliau para sahabat atau orang-orang Ahmadi setelah mereka.

Di sini di Amerika, ada banyak orang Ahmadi Afrika-Amerika yang leluhurnya sudah melakukan banyak pengorbanan besar ketika mereka menerima Ahmadiyah dan telah melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupannya. Namun ke depannya, ada kebutuhan untuk mengevaluasi apakah sekarang transformasi yang sama masih terjadi? Kita harus menganalisa apakah ada kontradiksi antara perbuatan-perbuatan yang kita lakukan dengan apa-apa yang kita yakini? Apakah janji baiat dan semboyan tentang “mengutamakan agama diatas dunia” hanyalah berupa kata-kata saja yang diucapkan secara spontan pada saat itu saja? Apakah kita benar-benar berusaha mewujudkan agar syarat-syarat baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari atau tidak?

 Analisa korektif ini akan mengantarkan kita menuju kemajuan keimanan kita, dan menumbuhkan dalam diri kita kesamaan antara perilaku dengan keyakinan kita. Pada waktu ini dalam rangka mengarahkan perhatian pada instrospeksi-instrospeksi tersebut, saya ingin mengingatkan akan salah satu perintah yang sangat penting yang termasuk dalam syarat-syarat baiat yang juga adalah salah satu pilar (rukun) dalam Islam yaitu rukun yang kedua. Dalam Al-Qur’an pun juga berkali-kali ditekankan. Hadhrat saw juga berulang kali memberikan perhatian akan pentingnya akan hal itu dan hal yang penting itu adalah “shalat”.

Di dalam persyaratan ketiga dari baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as terdapat penekanan dalam perintah yang mendasar ini  di dalam kata-kata berikut,  yaitu orang yang baiat kepadaku berjanji bahwa, “Ia akan secara teratur melakukan shalat lima waktu sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah saw”.[2]

Di sini tidak hanya beliau as bersabda [meminta janji], “Berjanjilah bahwa kamu akan mengerjakan shalat!” akan tetapi, “[Berjanji] akan mendirikan shalat lima waktu dan pelaksanaannya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.”

Pelaksanaannya hendaknya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Apakah perintah Allah Ta’ala mengenai shalat? Berfirman: وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ  (al Baqarah 44) “Dirikanlah shalat”. Perintah mendirikan shalat banyak sekali terdapat didalam Qur’an Karim. Bahkan didalam ayat awal surah Baqarah shalat ditekankan setelah beriman kepada yang ghaib. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Manusia tidak akan mampu meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala kecuali ia melakukan iqamatush shalaah (menegakkan, mendirikan shalat).”[3]

Dalam konteks di zaman kita hidup sekarang, shalat menjadi lebih penting karena terkait dengan janji adanya Khilafat, yang merupakan karunia bagi mereka yang melakukan shalat. Apakah mendirikan shalat itu? Shalat harus dilakukan berjamaah, dilakukan secara teratur, dan dilakukan tepat pada waktunya. Allah Ta’ala berfirman: وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dirikanlah shalat dan berikanlah zakat dan ruku’lah bersama mereka yang ruku’ kepada Allah.” (Surah Al-Baqarah, 2:44). Yakni, “Bersatu-padulah di hadapan Allah dan tunduklah bersama orang-orang yang tunduk!”

Dia menjelaskan mengenai keistimewaan orang-orang yang menegakan shalat dan melakukan pengorbanan finansial (harta), “Keistimewaan-keistimewaan ini hendaknya ada di dalamnya yaitu mereka menerapkan dalam diri mereka corak berjamaah; dan inilah yang diperintahkan pada mereka, beribadahlah secara berjamaah!”

Disebutkan pula tentang berjamaah dalam berkorban harta; “Kerjakanlah hal itu supaya didalam pekerjaannya dan dalam pengamalan itu menjadi penuh keberkatan disebabkan terciptanya satu Jamaah.”

Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai pahala shalat berjamaah; “صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً” bahwa melakukan shalat berjamaah meningkatkan pahala sebesar 27 kali lipat.[4]

Kita mendengar hal ini dalam daras-daras dan ceramah-ceramah dalam menyiapkan ceramah-ceramah bagi anak-anak, di sana dijelaskan topik mengenai shalat berjamaah. Akan tetapi pada waktu pengamalannya tidak diperhatikan dengan sempurna. Karenanya selain dikarenakan ada keterpaksaan (uzur, halangan) hendaknya kita harus mendirikan shalat kita dengan berjamaah. Akan tetapi, seperti saya telah katakan apabila dilakukan instrospeksi sungguh-sungguh maka akan terbukalah di depan mata kita bahwa tidak ada perhatian kepada shalat secara berjamaah sebagaimana seharusnya.

Hanya karena karunia Allah Ta’ala semata, ada fokus perhatian yang besar di Amerika ini untuk membangun masjid-masjid, namun manfaatnya hanya akan didapatkan ketika menunaikan hak masjid-masjid. Menunaikan haknya ialah mengisi masjid-masjid tersebut [dengan shalat secara berjamaah]. Dan bagi orang-orang yang memakmurkannya, Allah Ta’ala telah menetapkan derajat-derajat, mereka adalah yang mendirikan shalat lima waktunya di masjid. Tak diragukan lagi bahwa banyak orang dikarenakan kesibukan dengan pekerjaan mereka di waktu-waktu kerja membuat mereka sulit untuk datang di lima waktu shalat ke masjid. Namun ketika waktu Subuh, Maghrib dan Isya, tidak ada alasan, mereka dapat hadir [untuk shalat berjamaah] di Masjid. Saya tahu di dunia ini banyak Ahmadi seperti ini, mereka hidup di negara-negara Barat yang jarak tinggalnya 15 – 20 mil (24 – 32 km) dari Masjid. Tapi, mereka tetap berusaha pergi ke Masjid untuk melakukan shalat secara berjamaah. Kalau tidak dapat melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar maka seperti saya telah katakan maka orang ini harus berusaha bergabung dalam shalat Fajr (Shubuh), Magrib dan Isya.

Di sini pada umumnya setiap orang memiliki mobil yang digunakannya untuk pekerjaan duniawi. Jika mereka menggunakannya untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan untuk beribadah kepada-Nya, maka tujuan dari kendaraan kendaraan ini akan menjadi alat dalam mengkhidmati agama, dan pribadi-pribadinya akan memperindah kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Dalam kesempatan-kesempatan dimana terpaksa tidak mungkin  untuk pergi ke Masjid, di sana para Ahmadi yang tinggal berdekatan harus mengatur untuk berkumpul di satu rumah dan melakukan shalat secara berjamaah. Para Ahmadi yang tinggal di satu rumah sendiri di tempat-tempat terpencil harus mengatur agar shalat harus berusaha dilakukan secara berjamaah di dalam rumah dengan anak istri para anggota keluarga supaya anak-anak juga mengetahui pentingnya shalat berjamaah.

Ibu bapak kalau membangunkan anak-anaknya untuk shalat Fajr (Subuh) maka mereka akan merasakan pentingnya shalat, dan dengan begitu mereka akan terselamatkan dari banyak sekali hal-hal yang sia-sia. Mereka yang memiliki kegemaran menonton TV hingga larut malam atau adat kebiasaan terus menerus duduk di depan internet khususnya saat weekend (sabtu, malam minggu) disebabkan sudah menjadi kebiasaan melaksanakan shalat Fajr maka terpaksa akan cepat tidur lalu cepat bangun untuk shalat, dan tidak ada waktu yang sia-sia tanpa sebab. Khususnya bagi anak-anak yang sedang melangkahkan kakinya menjadi remaja, disebabkan mereka bangun di waktu subuh maka tercipta perhatian pada keseimbangan terhadap kesibukan duniawinya. Sebagian dikarenakan keharusan/keperluan [lalu surfing di internet untuk tugas/pekerjaan], melihat hal-hal yang demikian positif, ada juga ilmu pengetahuan, saya tidak melarangnya, akan tetapi dalam segala hal hendaknya ada i’tidaal (keseimbangan, kewajaran).

Adalah kebodohan yang sangat bagi seseorang untuk memilih mendapatkan hal-hal duniawi itu dengan mengorbankan nilai pelaksanaan shalat. Kemudian ada pula hal ini bahwa, di hari-hari libur banyak terjadi kesibukan, banyak diadakan rencana kegiatan sekeluarga [mengisi liburan], pada hari libur itu juga ada yang mempunyai rencana pergi ke luar bersama-sama keluarga. Namun seandainya mereka tidak ada rencana untuk pergi ke luar atau [melakukan] hal lainnya, maka sebaiknya mereka banyak-banyak berada di Masjid bersama-sama, sebagai sebuah keluarga untuk mengerjakan shalat-shalat, dan hendaknya membawa anak-anak.

Banyak sekali orang berkata, “Anak-anak tidak memiliki kebiasaan datang ke masjid. Sebagian anak-anak malah memberontak.” Obatnya dapat seperti ini yaitu sejak kecil tanamkanlah kebiasaan seperti ini, yaitu mereka menunaikan hak Allah dan hak itu adalah mendirikan shalat. Pada anak-anak apabila sejak kecil mereka merasakan bahwa shalat adalah satu dasar yang tanpanya seorang Muslim tidak dapat dikatakan Muslim maka ketika remaja adat kebiasaan ini sudah matang, kemudian tidak ada akan keluhan bahwa anak-anak memberontak.

Kemudian pada saat mereka berekreasi juga, kalau ada program seperti ini maka dimana terdapat hal-hal duniawi yang menarik hati, untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala, dimanapun berada, seluruh keluarga hendaknya mengerjakan shalat berjamaah. Ini adalah pengalaman saya dan ini juga adalah pengalaman banyak orang yang mengatakan pada saya di tempat-tempat istirahat (rest area) ketika dikerjakan seperti ini ketika suami, istri juga anak-anak mengerjakan shalat berjamaah pada waktu shalat maka akan menimbulkan ketertarikan hati orang-orang yang berada disekitarnya, dan mereka akan memperhatikan. Kemudian terbukalah jalan pertablighan, juga didapati perkenalan.

Inilah gambaran orang-orang duniawi (materialis) umumnya kepada orang-orang Muslim dewasa ini yaitu diantara orang-orang Muslim, yang rajin shalat adalah mereka yang sangat menyukai kekerasan [golongan ekstrim atau teroris], dan ketika mereka melihat bahwa anak-anak yang tengah berekreasi (berlibur) dan orang-orang dewasanya semua mengerjakan shalat, dan mereka memakai pakaian sesuai dengan pakaian orang-orang di sini, mereka tekun dalam ibadah maka hal ini akan menimbulkan perhatian mereka. Maka, anggapan-anggapan yang salah ini dapat dijauhkan. Seperti telah saya katakan yaitu ada beberapa peristiwa seperti ini, sesuai dengan pengalamannya masing-masing yaitu bagaimana disebabkan oleh shalat sebagian orang non Muslim perhatiannya tertuju pada hal ini maka terbukalah jalan untuk pertablighan.

Maka hendaknya jangan kita terjerumus dalam berbagai perasaan rendah diri, tidak pada anak-anak, tidak pula pada orang dewasa. Penda’waan kita adalah kita akan menciptakan revolusi agama dan rohani di dunia maka revolusi agama dan rohani di dunia ini dapat tercipta oleh orang-orang itu yang merdeka dari segala macam perasaan rendah diri, dan mereka inilah yang pertama menciptakan revolusi agama dan rohani bagi dirinya sendiri. Revolusi agama dan rohani itu tidak akan tercipta tanpa menegakkan hak ibadah, dan hak untuk beribadah hal yang paling penting dan utama adalah shalat. Maka, jagalah shalat-shalat saudara-saudara.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Karimحافِظوا على الصلوات  ‘haafizhuu ‘alash shalawaat’ (Al-Baqarah, 2:239), “Jagalah shalat-shalat kalian.” Arti dari perkataan حفظ (hafazha) adalah terus menerus berusaha secara teratur dan kemudian menjaganya. Kemudian Dia berfirman, “Awasilah dan jagalah secara khusus setiap shalat-shalat itu terutama shalat-ul wustha yaitu shalat yang tidak dapat dilakukan dengan fokus perhatian yang sepenuhnya, dan tidak dapat pada waktunya karena dilakukan pada saat-saat kesibukan atau disebabkan oleh sesuatu hal, disebabkan oleh kesibukan duniawi, pendek kata shalat itu hendaknya dijaga dengan khusus.” Sebab, kemalasan dalam mengerjakan shalat itu membuat anda sekalian dikeluarkan dari daftar orang-orang yang telah menyerahkan dirinya pada Allah Ta’ala.

Untuk itu, Allah Ta’ala telah mengarahkan perhatian supaya menjaga shalat dan kemudian khususnya menjaga shalat-shalat itu, dan mengarahkan perhatian dalam hal pelaksanaan shalat-shalat yang disebabkan oleh kemalasan dari dirimu sendiri dan karena kesibukan duniawimu sendiri, tidak dapat dilaksanakan saat itu juga atau dalam menunaikan hak-hak shalatnya tidak dipenuhi.

Sebagian orang melakukan shalatnya dengan cepat-cepat, dengan begini, ia tidak menunaikan hak shalat. Sebab, selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, وقوموا لله قانتين ‘waquumuu lillahi qaanitiin’, (al Baqoroh ayat 239) “Dan berdirilah di hadapan Allah dengan patuh.” Yakni kerjakanlah shalat dengan penuh perhatian. Kemudian janganlah khayalan-hayalan dunia dan keinginannya mencengkeram pikiranmu. Hendaknya yang ada dalam pikiran adalah, “Aku berdiri di hadapan Tuhanku, aku harus menaati semua perintah-Nya dengan sempurna.” Ketika keadaan ini tercapai, maka Allah Ta’ala berfirman, “Shalat-shalat seperti inilah yang akan melindungi dirimu dan mencegahmu dari melakukan hal-hal yang salah dan yang buruk, dan yang mengisi rumah-rumah kamu dengan berkat-berkat.”

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda, “Inilah nasihatku kepada jemaatku, bahwa pengikut setiaku harus menjauhkan diri dari melakukan doa-doa (shalat) dengan perhatian yang hampa (kosong). Bukannya demikian, bahkan shalat harus dilakukan dengan kepuasan dan kesenangan hati.” [5]

Allah Ta’ala berfirman, اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡکَرِ ‘innash shalaata tanhaa `anil fahshaa-i wal munkar’ – “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar.” (Surah Al-Ankabut, 29:46).[6] Oleh karena itu, hendaknya selalu diingat bahwa sesungguhnya shalat mencegah dari pekerjaan yang sia-sia dan hal-hal yang buruk, tetapi, tidak setiap shalat dan tidak pula setiap orang yang shalat. Setiap orang yang shalat tidak dapat menghentikan keburukan-keburukan, hanya orang yang shalat yang [juga] dapat memperbaiki dirinya atau shalat yang dapat memperbaiki orang yang shalat, [yaitu] yang dikerjakan dengan penyerahan diri yang sempurna.

Hendaknya memahamkan dalam diri akan hal ini, “Bahwa Allah Ta’ala melihat segala gerak-gerik dan diamku dan aku berdiri di hadapan Tuhan itu, Yang Maha Melihat segala macam keadaanku ini.” Shalat-shalat yang dikerjakan dengan sepenuh ketaatan inilah yang menjaga manusia, melindungi manusia dari berbagai kemungkaran, dan rumah-rumah yang di dalamnya dilaksanakan shalat-shalat yang demikian, suasana di rumah-rumah itu akan berubah dengan corak (warna) yang lain [istimewa] daripada [rumah-rumah] lainnya.

Jadi, hendaknya kita mencari shalat-shalat seperti ini, maka segera [setelah mendapatkannya], saat itulah kita telah memenuhi janji baiat kita secara hakiki. Bukannya seperti ini yaitu ketika berdiri untuk shalat, perhatiannya tertuju pada pekerjaan-pekerjaan duniawi dan keinginan-keinginan pribadi. Atau, kadang kala shalat, kadang tidak.

Maka saya katakan, setiap orang dari kita adalah penting untuk memeriksa dirinya sendiri. Mereka yang tinggal di negara-negara di sini yang disebabkan kesibukan duniawinya tidak memberikan perhatian kepada shalat. Demikian juga keadaan mereka yang tinggal di kota-kota di negara-negara dunia ketiga. Akan tetapi, sebenarnya ada juga sedikit jumlah orang yang pergi ke masjid-masjid. Walaupun Islam berkali-kali memberikan perhatian pada kewajiban penting agama ini. Khalifah-khalifah sebelum saya pun telah memberikan perhatiannya.

Sekarang di zaman ini Allah Ta’ala telah menganugerahkan nikmat MTA (Muslim Television Ahmadiyya) pada kita. Sebelumnya apabila suara khotbah Khalifah-e-Waqt (Khalifah pada masanya) tidak sampai secara langsung maka sekarang suara ini (Khalifah) dan pesan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menjangkau secara langsung di setiap tempat. Kalau ada sebagian diantara kita yang tidak mendengar khotbah-khotbah dan ceramah-ceramah ini, atau mendengar dan mendengar tanpa dimasukkan didalam hati, mereka mendengar dari satu telinga dan keluar dari telinga yang lainnya maka mereka tidak menyempurnakan janji baiatnya yaitu, “Aku akan mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia. Apapun keputusan ma`ruf yang disabdakannya (Khalifah) akan ditaati dengan sungguh-sungguh.”

Ini adalah amal perbuatan yang keluar dari ketaatan, yaitu mendengar dari satu telinga dan keluar dari telinga yang lainnya. Ini adalah amal perbuatan yang jauh dari ketaatan yang sempurna. Mengenai orang-orang seperti ini Allah Ta’ala menekankan dengan  firman-Nya, Dia berfirman,

فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿۴﴾

الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿۵﴾

‘Fawailul lil mushalliin.  Alladziinahum `an shalaatihim saahuun.’ (al Maa`uun, 107:5) Artinya, Maka kehancuranlah bagi orang-orang yang shalat itu, orang-orang yang dari shalatnya mereka lalai. Kelalaian ini juga disebabkan tidak memberikan perhatian kepada shalat berjamaah atau disebabkan ketidakdisiplinan dalam hal shalat, juga bisa disebabnya tidak berusaha mengerjakan shalat dengan penuh perhatian. Tidak diragukan lagi dalam hal ini bahwa sebagian waktu shalat tidak dapat dikerjakan dengan penuh perhatian akan tetapi adalah penting untuk memberikan perhatian pada shalat dan inipun juga adalah satu makna dari iqamatush shalah, mendirikan shalat, maka ini adalah kedudukan yang sangat menakutkan.

Sambil membawa perhatian kita ke sana Hadhrat Masih Mau`ud as bersabda, “Kalau ada orang yang tidak beriman kepadaku berbuat kesalahan memang benar ia berdosa. Akan tetapi bagi orang yang telah beriman kepadaku, yang telah mengambil janji baiat kemudian tidak mengamalkannya, mereka akan banyak dimintai pertanggungjawabannya.” [7]

Oleh karena itu, setiap Ahmadi mempunyai tanggung jawab yang sangat besar, dan tanggung jawab ini tidak dapat dilaksanakan kalau tidak selalu berpikir, “Aku telah dan akan menjadikan Allah Ta’ala sebagai saksi dalam ikatan janji baiatku. Apa yang akan aku jawab di hadapan Allah Ta’ala kalau aku tidak menyempurnakannya.” Maka dengan memikirkan hal ini kewajiban akan dapat dilaksanakan. Jadi, orang-orang dewasa hendaknya memahami tanggung jawabnya demikian juga anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Di sini banyak sekali penghuni rumah-rumah yang keadaannya ada semacam ketidaktenangan dan ketidakpuasan hati, dan alasan dari ketidaktenangan dan ketidakpuasan hati ini adalah karena tidak memfokuskan diri pada beribadah kepada Allah Ta’ala, yang hendaknya mereka perhatikan.

Sebagian orang yang mengadakan mulaqat dengan saya, dan ketika orang-orang itu meminta didoakan, umumnya sebagai tanggapannya saya berkata kepada mereka, “Berdoa bagi diri kalian sendiri, dan fokuskanlah kepada shalat!” Dan ketika ditanyakan kepada mereka, “Apakah anda shalatnya dawam (teratur dan disiplin)?” Sebagian menjawab tidak. Menghadapi orang-orang semacam ini pada umumnya saya menjawab, “Janganlah bergurau (bermain-main) dengan agama! Janganlah beranggapan agama adalah senda gurau yaitu ia sendiri tidak memiliki adat kebiasaan untuk shalat dan berdoa, ia tidak menaruh perhatian baik kepadanya, dan ia berkata, ‘Saya memohon doa untuk masalah-masalah pribadi dan pekerjaan duniawi saya.’ Pertama-tama berikanlah perhatian oleh dirinya sendiri untuk berdoa pada Allah Ta’ala kemudian mohonlah didoakan oleh saya. Sebelum ia mengadakan perubahan bagi diri sendiri, doa-doa orang yang lainnya tidak akan dapat ada pengaruhnya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as yang datang untuk mendirikan Jemaat, yaitu Jemaat orang-orang yang menciptakan ikatan dengan Allah Ta’ala, dan menjaga peribadatan mereka masing-masing, yang untuk itulah beliau as bersabda, “Aku datang untuk mengakhiri penyembahan terhadap para pir (orang-orang suci, wali-wali) Allah.” Bersabda, ‘Tum pir bano, pir prast nah bano,’ – “Jadilah kalian para Pir, janganlah menjadi penyembah Pir.” [8]

Akan tetapi jenis Pir yang Hadhrat Masih Mau’ud as ingin jadikan pada orang-orang yang telah beriman kepada beliau as bukanlah Pir yang hanya dalam hal nama saja seperti ada di masa kini; mereka duduk-duduk sambil memegang tasbih dan beranggapan, “Kami telah melaksanakan ibadah-ibadah kami dan kewajiban melaksanakan hak-hak orang lain.” Tidak menganggap penting shalat, mengerjakan ibadah-ibadah lainnya. Orang-otang itu menjauhkan orang-orang dari shalat dan ia sendiri tidak shalat. Dan lagi, mereka sendiri berkata kepada murid-muridnya mengenai shalat, “Itu adalah suatu pekerjaan yang tidak penting, tidak perlu.”

Banyak sekali orang seperti ini; wali seperti ini dan orang-orang yang dimuliakan seperti ini yang tidak membawa kepada petunjuk, bahkan membawa manusia kepada kesesatan. Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani (II) menceritakan satu peristiwa yang berasal dari Hadhrat Khalifatul Masih al-Awwal (I) ra bahwa ada seorang saudara perempuan beliau (keluarga Hudhur I ra) yang adalah murid seorang Pir. Tuan Pir telah menanamkan didalam pikiran murid-muridnya, “Shalat dan ibadah tidak penting bagi murid-muridku. Berusahalah untuk menjadi muridku. Amalkanlah sedikit wazhaif (wazhifah, wirid) yang telah kuberikan! Itu sudah cukup bagi kalian, dan kalian akan diampuni.”

Maka pada suatu hari Hadhrat Khalifatul Masih Awwal berkata kepadanya, “Tanyakanlah kepada Tn. Pir, ‘Pada Yaumul Hisaab (Hari Perhitungan) ketika Allah Ta’ala bertanya kepadamu mengenai kebaikan dan amal ibadah, apa yang kamu akan berikan jawabannya? Ketika malaikat menghentikan jalanku ke surga, ketika malaikat bertanya kepadaku mengenai amal kebaikanku, apa jawabanku?’”

Begitulah, akhirnya ia bertanya kepada Pirnya, maka Pir itu berkata, “Kalau malaikat menghalangi jalan kamu, maka katakanlah, ‘Aku adalah pengikut Tn. Pir dan Sayyidzada Pulan [yang adalah keturunan Nabi saw] maka malaikat itu akan membersihkan (membuka) jalan bagi kamu.’ Adapun bilamana pertanyaan yang sama ditujukan pada saya (pada tn. Pir) maka saya akan menjawab [kepada malaikat], ‘Sudah lupakah engkau [wahai malaikat] pengorbanan-pengorbanan yang telah dipersembahkan oleh leluhur saya di medan Karbala? Sudah lupakah engkau [wahai malaikat] akan pengorbanan cucu Rasul saw, yang mana saya adalah salah seorang keturunannya?’ Maka Malaikat-malaikat akan [merasa bersalah] malu karenanya dan akan meninggalkan jalan itu, dan saya akan pergi ke surga dengan perasaan senang dan bangga.”[9]

Inilah keadaan Pir mereka itu. Kita atau orang-orang yang telah beriman kepada Hadhrat Maih Mau’ud as tidak menjadi Pir semacam ini. Kita harus melakukan perubahan-perubahan revolusioner di dalam diri kita masing-masing, yang membawa perubahan cepat pada diri kita masing-masing, yang membawa perubahan cepat pada keadaan anak-anak dan keturunan kita dan perubahan cepat dalam hal kerohanian di dalam masyarakat kita.

Maka hendaknya selalu diingat, bahwa i’tiqad (kepercayaan, keimanan) kita sendiri saja tidak akan menyelamatkan kita, pun iman kita saja tidaklah cukup bagi terjadinya perubahan revolusioner dalam diri kita, melainkan, amal perbuatan kita-lah yang akan membawa perubahan cepat dalam diri kita. Insya Allah. Di atas semuanya, doa-doa kita yang ketika Allah Ta’ala akan kabulkan, maka di dunia akan terjadi revolusi, dan shalatlah sebagai sarana terbaik untuk berdoa. Maka adalah kewajiban setiap Ahmadi menjaga shalat-shalatnya, dan ketika fokus orang-orang Ahmadi di seluruh dunia secara berjamaah kepada satu arah maka gelombang doa-doa ini akan menjadi penyebab pembawa revolusi kerohanian.

Maka menjadi kewajiban setiap Ahmadi untuk menguatkan tangan Khilafat yaitu berikanlah perhatian kepada shalat supaya revolusi yang bertalian erat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as itu, yang hasilnya sebagian besar orang di dunia berkumpul dibawah bendera Hadhrat Muhammad Rasulullah saw, hal itu yang akan terjadi dengan perantaraan doa-doa, itu akan terjadi. Oleh karena itu, setiap Ahmadi hendaknya selalu ingat akan hal ini, jagalah shalat-shalat saudara-saudara, dan juga arahkanlah perhatian anak keturunan saudara-saudara kepada shalat supaya kita cepat melihat bendera Hadhrat Muhammad Rasulullah saw berkibar di seluruh dunia, supaya kasih sayang Allah Ta’ala melingkupi kita dan juga keturunan kita.

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa rahmat Allah Ta’ala turun sesuai dengan janji-Nya atas orang-orang yang memberikan hak-hak shalat dalam pelaksanaan shalat mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ‘wa aqiimushalaata wa aatuz zakaata wa athii’ur rasuula la`allakum turhamuun.’ (Surah An-Nuur,  57 ). “Dirikanlah shalat, bayarlah Zakat dan taatilah Rasul supaya kamu sekalian dirahmati.”

Pendek kata, kalau kita ingin menjadi orang-orang yang meraih kasih-sayang Allah Ta’ala maka kita akan berusaha menjaga shalat-shalat kita dan juga menjaga berdiri tegaknya. Berulang-ulang Hadhrat Masih Mau’ud as mengarahkan perhatian dalam berbagai corak perihal shalat kepada para pengikut beliau as supaya dengan itulah kita menjadi orang-orang yang memenuhi hak baiat, menjadi orang-orang yang mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala, yang dengan itu semua setelah kita mendapatkan bagian kasih-sayang Allah Ta’ala, kita juga menjadi orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.. Beliau as bersabda,

“Oleh karena itu, wahai sekalian orang yang merasa dirinya tergolong sebagai warga Jemaatku, di langit kamu sekalian akan dianggap sebagai warga Jemaatku, apabila kamu sekalian benar-benar melangkahkan kaki kamu pada jalan ketakwaan. Oleh karena itu dirikanlah shalat 5 waktu dengan penuh rasa ketakutan dan pemusatan pikiran, seakan-akan kamu sekalian melihat Wajah Ilahi (Wajah Allah) di hadapan kamu… Ingatlah dengan seyakin-yakinnya, bahwa tidak ada sesuatu amal bisa sampai ke hadirat Allah apabila amal itu kosong dari takwa. Setiap amal yang baik berakar dari  takwa. Sesuatu amal yang tidak kehilangan akar ini sekali-kali amal itu tidak akan sia-sia.”[10]

Kemudian beliau bersabda, “Apakah shalat itu?  Shalat adalah doa yang dimohonkan dengan kerendahan hati, dan dengan penuh kesadaran mengenai kepujian-Nya, kesucian-Nya, dan kekudusan-Nya, dan dengan istighfar dan mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw. Maka apabila kamu mendirikan shalat, janganlah hendaknya kamu seperti orang-orang yang tuna pengertian, membatasi doa-doa kamu pada penggunaan kata-kata bahasa Arab saja, sebab, dengan demikian shalat dan istighfarnya tidak lebih dari hanya sekedar basa-basi belaka yang tidak ada hakikat didalamnya. Apabila kamu mendirikan shalat maka selain mengucapkan ayat-ayat Quran Syarif yang merupakan firman Ilahi, dan selain mengucapkan beberapa doa yang merupakan sabda Rasulullah saw., hendaklah senantiasa memanjatkan juga doa yang  bersifat umum di dalam bahasa sendiri dengan kata-kata yang merendah-rendah, hingga terjelmalah suatu kesan di dalam kalbu kamu perasaan ketidak-berdayaan dan kepapaan.” [11]

Maka kaifiyat (kualitas, keadaan) inilah yang hendaknya kita usahakan mendapatkannya dalam shalat-shalat kita.  Hal ini yang harus kita perjuangkan sehingga kita dapat menjadi penyebab penerima kasih sayang dan rahmat Allah Ta’ala.  Kemudian orang-orang seperti ini akan menjadi orang-orang yang mendapatkan karunia dari Allah Ta’ala. Hanya shalat-shalat  seperti inilah yang ingin dilihat Hadhrat Masih Mau’ud as

Di satu tempat beliau as bersabda,”Shalat adalah sarana yang dengan perantaraannya manusia tertuju ke Langit (yakni Allah Ta’ala memperlihatkan pengabulan doa). Bersabda, ”Orang yang menunaikan hak shalat berpikir seperti ini, ‘Saya telah mengalami maut.’ dan jiwanya telah naik ke dalam pangkuan istana Ilahi… Rumah dimana shalat-shalat (doa-doa) yang demikian dipanjatkan, rumah tersebut tidak akan pernah mendapatkan bencana. Tercantum dalam Hadits Syarif bahwa jika shalat ini sudah ada di masa Nabi Nuh, kaum itu kapanpun tidak akan akan binasa.”

Bersabda, “Haji bagi manusia memiliki persyaratan-persyaratan, zakat juga ada persyaratannya akan tetapi shalat tidak memiliki persyaratan.” (yakni ibadah-ibadah yang lainnya memiliki persyaratan, kalau syarat itu dipenuhi maka dapat dilaksanalan, kalau tidak, tidak wajib akan tetapi mengenai shalat, dalam keadaan apapun juga adalah laazimi (harus). Ketika manusia ada dalam perjalanan, sakit, apapun keadaannya kalau ia dalam keadaan siuman (sadar) maka shalat itu adalah fardhu.)

Bersabda, “[Jenis ibadah] yang lain semua [yang disebut diatas] satu tahunnya satu kali.” (ini juga adalah bersyarat dan satu tahun hanya satu kali). “Akan tetapi perintahnya (shalat) setiap hari dikerjakan 5 kali.”[12]

Oleh karenanya kapanpun ada kekurangan dalam shalat kita, maka akan ada kekurangan pula dalam karunia-Nya, dan juga tidak ada faedahnya  dalam janji baiat kita.

Maka tentang mendirikan shalat dan menjaganya yang adalah berdasarkan perintah Allah yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang beliau as tekankan pada setiap Ahmadi. Bersabda, “Kalau tidak, baiatnya tidak berfaedah.” Maka seperti telah saya katakan, setiap Ahmadi diharapkan untuk memahami pentingnya hal itu supaya dengan amal perbuatannya ia membuktikan dan mengatakan kepada dunia, “Setelah berbaiat Hadhrat Masih Mau’ud as, kami telah mengalami transformasi murni yang telah membimbing kami kepada perubahan suci, yang dengan perantaraannya kami telah menjumpai Tuhan.”

Sekarang saya melihat banyak sekali mubayyin baru, surat-surat mereka datang, Allah Ta’ala telah menciptakan suatu revolusi kerohanian di dalam diri mereka melalui sarana shalat. Maka, pada setiap Ahmadi khususnya anak-anak keturunan orang-orang Ahmadi yang telah lama hendaknya mengingat akan hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Kualitas ketertarikan hati dan kerendahan diri dalam shalat didapatkan melalui karunia Tuhan, oleh karena itulah, pertama, panjatkanlah oleh kalian doa, ‘Ya Allah, Ciptakanlah dalam diriku keadaan yang dekat dengan Engkau.’”

Untuk itulah beliau as mengajarkan kita satu doa ini. Beliau as bersabda, “Bacalah terus doa ini, ‘Wahai Allah! Engkau melihat aku, bagaimana aku ini demikian buta dan tuli dan aku pada saat ini dalam keadaan mati. Aku tahu, bahwa tidak lama lagi ada datang sebuah suara. Dan bahwa aku akan datang kepada-Mu” (yakni setelah beristirahat akan dipanggil dari dunia ini tanpa bisa menyampaikan alasan). Di waktu itu tidak akan ada yang dapat menghentikan aku. Akan tetapi hatiku buta dan gelap. Turunkanlah oleh Engkau seberkas nur padanya sedemikian hingga tercipta di dalamnya kecintaan dan kesenangan pada-Mu. Karuniakanlah padaku keadaan seperti ini yaitu aku dibangkitkan tidak dalam keadaan buta dan jangan dipertemukan dengan mereka yang ada di dalam kegelapan.’“

Beliau as bersabda,”Kalau doa semacam ini diusahan dipanjatkan dan dikerjakan dengan dawam” (akan diusahakan dikerjakan terus-menerus) maka ia akan melihat, bahwa pada suatu masa akan datang kepadanya, akan turun dari langit sesuatu kedalam shalatnya yang tanpa kenikmatan itu, keadaan yang akan menimbulkan kelembutan hati.” [13]

Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk mendapatkan shalat-shalat semacam ini.

Setelah shalat Jumat saya akan menshalatkan 2 jenazah ghaib. Pertama seorang Muballigh kita yang adalah orang Indonesia.  Yang namanya Tn. Amar Maruf Aziz. Pada tanggal 16 Juni wafat menghadap Ilahi. Innalillahi wa inna ilaihi Rooji`uun. Beliau lahir pada tanggal 6 Desember 1962,kelahiran Ahmadi. Tahun 1979 masuk Jamiah dan pada tahun 1987 selesai dari Jamia rabwah setelah menjalani Kursus Mubasysyir dan kembali ke Indonesia. Dengan karunia Allah Ta’ala  beliau berkhidmat diberbagai tempat.

Hingga tahun 2011 berada di Jamiah Indonesia. Setelah itu menjadi Muballigh Wilayah di Kalimantan Timur. Seorang alim. Masyaa Allah. Beliau mendapat taufik menterjemaahkan buku Hadhrat Masih Mau’ud as “Taudhih Maraam” (Penjelasan Maksud dan Tujuan) dalam bahasa Indonesia. Selain itu beliau dengan teratur menerjemahkan khotbah-khotbah saya.[14] Almarhum juga seorang Musi. Semoga Allah meninggikan derajatnya  dan keluarga yang ditinggalkan diberikan taufik bersabar dan tabah.  Beliau meninggalkan seorang anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Jenazah yang kedua adalah seorang wanita sesepuh Jemaat kita di London. Ny. Thahirah Wandermann, istri dari Almarhum Tn. Nawab Mahmud Wandermann. Beliau juga wafat pada tanggal 18 Juni 2012 dalam usia 84 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rooji`uun.

Beliau adalah putri Tn. Ghulam Yaasiin. Kakek beliau, Hadhrat Ghulam Dastgir dan saudaranya adalah sahabat Hadhrat masih Mau’ud as Ayah beliau adalah seorang pegawai pemerintah India. Pemberi tarbiyyat yang baik pada anak-anaknya. Almarhumah mendapatkan pendidikan di Qadian.  Kemudian pada tahun 1947 pindah ke Karachi.  Pada tahun 1949 beliau menikah dengan Tn. Mahmud Wandermann, setelah itu tinggal di Inggris.

Setelah Hadhrat Khalifatul Masih IV ra hijrah ke London (1984) beliau berkhidmat di kantor Sekretaris Pribadi Hudhur dan cukup lama mendapat tanggung jawab berkhidmat di English Post Team (Tim Surat-Menyurat bahasa Inggris). Dan dalam Jalsah Salanah Khalifah Rabi ra setelah memuji pekerjaannya menyebut nama beliau. Bersungguh-sungguh dalam berkhidmat. Tidak pernah menganggap bahwa pekerjaan itu adalah beban. Apapun [tugas] yang diberikan beliau ambil dan laksanakan. Beberapa hari sebelum wafat beliau mengirim keluarganya ke kantor dengan pesan supaya dikirimi tugas untuk beliau.

Ini adalah tuntutan yang selalu ia ajukan yaitu supaya pekerjaannya ditambah. Walaupun dalam keadaan sakit dan lemah selalu bekerja sangat keras dan kalau dikarenakan sesuatu sebab apabila sedikit diberikan pekerjaan maka beliau menjadi susah. Cukup lama juga beliau bekerja di bagian post (surat menyurat) saya. Yakni pekerjaan ini beliau kerjakan terus-menerus 20 – 22 tahun sebelumnya. Sembilan tahun saya melihat beliau membuat ringkasan surat-surat dengan sangat bagus. Poin-poin penting, beliau berikan tanda. Tidak ada waktu untuk membaca inti suratnya dan beliau dapat menyingkat hingga sampai pada pemahaman topik inti ringkasan isi surat penulis surat  ini.  Kelebihan kebaikan yang layak dipuji darinya adalah ketika membuat inti isi surat dimana dianggap penting, disana perlu dilihat maka pasti di tempat itu diberikan tanda. Dari segi ini saya beranggapan inti ringkasan suratnya adalah paling bagus dan dalam menjawab surat-surat itu juga menjadi mudah.

Demikian juga beliau mendapat taufik dari Allah Ta’ala mengajar Qur`an Karim kepada anak-anak selama 20 tahun. Menerjemahkan Suratkabar-suratkabar Ahmadi dari bahasa Urdu kedalam bahasa Inggris.

Beliau meninggalkan 3 orang anak perempuan, 2 orang anak laki-laki, cucu-cucu dan buyut. Allah Ta’ala memberikan taufik pada beliau ikatan dengan khilafat dan Jemaat dan taufik terus menerus untuk mengkhidmatinya. Putranya Tn. Nadeem Wandermann bekerja sebagai editor English Section (seksi bahasa Inggris) dalam Akhbar Ahmadiyya (Berita Ahmadiyah).

Semoga Allah Ta’ala memberikan derajat yang tinggi pada almarhumah. Seperti telah saya katakan, Shalat Jenazah Ghaib keduanya akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at ini.

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Izalah Auhaam, Rohani Khazain Jilid 3 halaman 564

[3] Malfuuzhaat Jilid 2 halaman 346 Edisi 2003 Cetakan Rabwah

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shalah, bab fadhl shalatil jamaa’ah

[5] Malfuuzhaat Jilid 2, halaman 345-346 Edisi 2003, cetakan Rabwah

[6] Innash shalaata, dengan adanya kata al dalam ash-shalaah maka berarti, “Sungguh! Shalat yang itulah yang mencegah dari hal keji dan mungkar.” Editor

[7] Malfuuzhaat Jilid 4 halaman 182 Edisi 2003 Cetakan Rabwah

[8] Malfuuzhaat, Jilid 2 halaman 139 Edisi 2003 cetakan Rabwah

[9] Tafsir Kabir Jilid Haftam halaman 208.

Tuan Pir merasa sebagai seorang guru sufi penjamin masuk surga. Ia yg merasa sebagai keturunan Rasulullah saw, yang cucu beliau saw, Hadhrat Husain ra telah memberikan pengorbanan besar mempertahankan kebenaran di Karbala; menganggap diri berhak menerima pahala pengorbanan leluhurnya itu.

[10] Bahtera Nuh, Rohani Khazain Jilid 19 halaman 15

[11] Bahtera Nuh Rohani Khazain Jilid 19 halaman 68-69

[12] Malfuuzhaat, Jilid 3, halaman 627 Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[13] Malfuuzhaat,  Jiiid 2 halaman 616 Edisi 2003 cetakan Rabwah

[14] Penerjemahan khotbah secara langsung dan lisan dari MTA di Jemaat lokal tempat tugas