Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 23 Nubuwwah 1391 HS/November 2012

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Apakah Arti Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah bila di bulan awal, Muharram pun Berdarah-Darah?

Baru-baru ini, kita sedang melewati bulan pertama dalam kalender Islam, yaitu bulan Muharram-ul-Haram. Setiap awal tahun baru, umumnya kita saling menyampaikan ‘Mubarak’ (atau Selamat!). Jumat lalu, ketika memasuki bulan Muharram, seseorang menyampaikan selamat kepada saya; tetapi apakah makna dari ‘Mubarak’ itu? Karena pada hari itu juga yang sama, terjadi sebuah ledakan bom di Irak, orang-orang Syiah diserang dimana puluhan orang pun syahid.

Memang, kita biasanya menyampaikan selamat terhadap satu sama lain di awal tahun baru, akan tetapi ketika mulai bulan [Muharram] di tahun lunar (qamariyah) ini, sebagian besar orang mulia di kalangan umat Islam yang memiliki perhatian terhadap umat, mengungkapkan keprihatinan dan kekhawatirannya terhadap bulan ini. Mengapa demikian? Seperti telah saya katakan, ini dikarenakan oleh terjadinya ledakan, pembunuhan dan penganiayaan selama bulan ini.

Semua orang pun mengetahui, meskipun di hari-hari ini pengumuman pemerintah dan pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh para pemimpin agama dari berbagai golongan, baik Sunni maupun Syiah, namun tetap saja, kerusuhan antar kaum Sunni dan Syiah timbul di berbagai tempat. Terjadi penyerangan terhadap kelompok Syiah oleh kelompok lain yang jahat.

Kini orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi dan kecenderungan berbuat ekstrim sudah mulai belajar memainkan peranan mereka melalui tangan pihak lain dalam mengambil lusinan nyawa kaum Syiah.

Diantara kejadian itu termasuk juga bukan karena tujuan agama ataupun pertentangan agama; sebaliknya tujuannya adalah politik saja sementara pemerintah tidak hendak melakukan apa-apa.

Asyura, Sepuluh Muharram nan Hitam Kelam

Biasanya hari kesepuluh pada bulan Muharram adalah hari yang paling berbahaya, yang di Negara-negara Barat mulai pada hari besok. Di sini tidak terdapat suatu bahaya sedikit pun [di Negara-negara Barat tidak ada bahaya terkait Muharram, red.], akan tetapi  di negara-negara Timur tanggal tersebut (10 Muharram) jatuh pada hari ini, mungkin di Pakistan juga, demikian pula di beberapa Negara-negara lainnya.

Sering kali terjadi kebiadaban yang melampaui batas pada hari ini, bahkan telah mulai terjadi penyerangan terhadap berbagai pertemuan orang-orang Syiah seperti telah saya sampaikan di tanggal pertama (1 Muharram) saja kaum Syiah telah diserang Irak. Mereka ini di Pakistan telah diserang, yaitu di Rawalpindi, Quetta, Karachi dan Swat. Di dalam suratkabar-suratkabar kemarin juga memuat soal tembakan-tembakan dan jiwa-jiwa melayang. Bahkan, di Rawalpindi, penyerangan terjadi kemarin dan sehari sebelumnya. Dua puluh tiga orang meninggal dunia saat penyerangan kemarin. Ketika memperoleh kesempatan, orang-orang Syiah pun melakukan pembalasan. Umat Muslim kini berada dalam kondisi yang sangat mengherankan dan patut dikasihani.

Adalah beberapa pertentangan pendapat berkaitan dengan agama dan juga suatu pertentangan jenis lainnya yang juga menciptakan jurang pemisah diantara orang-orang Islam atau diantara negara-negara Islam. Di beberapa negara dimana kelompok minoritas menjadi penguasa, keadaannya adalah demikian bahwa reaksi ekstrim justru datang dari kelompok mayoritas sampai-sampai mereka menggunakan bom-bom penghancur.

Ketika kelompok minoritas memperoleh kesempatan, mereka menyerang kelompok mayoritas dan atas nama perang melawan terorisme atau atas nama menghukum para pemberontak, pemerintah juga telah merenggut nyawa orang-orang yang tak berdosa sehingga menjadi korban sia-sia. Tanpa pikir panjang, mereka tengah membombardir, sedang menembaki, sehingga rumah-rumah pun dihancurkan, ribuan penduduknya baik laki-laki maupun perempuan masuk ke dalam mulut kematian di negerinya sendiri. Dewasa ini, demikianlah yang tengah terjadi di Syam (Suriah).

Hal inilah juga menjadi sebab kenapa kekuatan-kekuatan anti Islam begitu leluasanya melakukan rancangan-rancangan mereka. Serangan Israel terhadap Palestina adalah karena pertentangan internal umat Islam dan tidak adanya persatuan diantara umat Islam. Tidak ada negara Islam yang nilai-nilai moralnya tidak diinjak-injak atas dasar perbedaan agama atau pertentangan politik. Tidak diperhitungkan (dianggap) bagaimana kisah-kisah menakutkan keaniayaan satu sama lain. Sebagai akibatnya, sedikit banyak dalam gambarannya perbuatan aniaya dengan menyerang satu sama lain, kita melihat dalam hal ini, kekuatan luar juga masuk ke dalam wilayah negeri-negeri Muslim menjalankan upaya-upaya kritis berbahaya.

Para Sahabat Nabi s.a.w. Satu Front Menghadapi Ancaman Luar

Harapan kita, semoga Tuhan menjadikan kaum Muslimin itu sadar dan bersatu. Mereka harus mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka bagaimana sejarah berkata berkaitan dengan hal itu. Tatkala satu kekuatan anti Islam yang adalah sebuah kekuatan besar, yakni kerajaan Romawi setelah memandang kekuatan Islam telah melemah karena adanya pertentangan antara Hadhrat Ali radhiyallahu ‘anhu[2] dan Hadhrat Muawiyah r.a., kemudian mereka pun berencana untuk menyerang.

Ketika Hadhrat Muawiyah mengetahuinya, ia segera mengirimkan pesan kepada Raja itu, “Sebaiknya anda [Kaisar Romawi] tidak mengambil keuntungan dari perbedaan yang terjadi diantara kami dan juga seharusnya anda tidak berusaha menyerang orang-orang Islam. Misalkan terjadi  suatu penyerangan, maka saya akan menjadi Jenderal pertama yang akan berperang melawan anda di pihak Hadhrat Ali r.a..” [3]

Itulah reaksi tanggapan dari para sahabat kala itu yang kita harus merujuk padanya [menjadikannya rujukan]. Dan kini mereka (segolongan umat Islam) menggabungkan kekuatan dengan yang lain (non Muslim) dan merencanakan penyerangan terhadap pemerintahan Islam yang padahal sama-sama Muslim.

Ya, benar, ulama atau orang-orang yang menamai diri ulama atau golongan yang suka menyebarluaskan kerusuhan memiliki kesepakatan dalam satu hal, dan mereka berencana menentang Jemaat Masih Muhammadi (Jemaat Ahmadiyah) dan untuk menyatakan para Ahmadi yang tulus ikhlas sepenuh hati dan jiwanya meyakini dan mengimani Kalimah “لا إله إلا الله محمد رسول الله”  dengan keras mengeluarkan mereka dari lingkungan Islam. Orang-orang itu sedikit pun tiada takut akan sabda dan petunjuk Nabi s.a.w. mengenai orang yang membaca kalimah tersebut atau menyatakannya demikian, dan yang menyatakan bersedia berkorban jiwa raga untuk itu. Mereka tidak peduli terhadap apa yang Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.

Ini adalah perintah beliau s.a.w. yang mendasar lagi umum, tidak untuk seorang sahabat tertentu, “Apakah kamu telah membelah dadanya (melihat hatinya) sehingga tahu bahwa orang itu membaca kalimah karena sepenuhnya atau karena takut?” Semoga saja mereka diberikan pengertian. Mereka yang disebut sebagai ulama, yang menyatakan diri berilmu harus keluar dari kungkungan [membuka pikiran].

Daripada mereka menggiring masyarakat awam kepada kesesatan lebih baik mereka berupaya memberitahukan kebenaran dan keadilan, dan hanya jika mereka menghubungkan diri mereka dengan Jariyullah (orang yang telah diutus oleh Allah), maka sektarianisme (perpecahan dan pertentangan antar golongan) dan semua penindasan yang terjadi bisa dihentikan. Oleh karena itu, setelah sudut pandang tentang perang agama telah dihentikan kemudian ajaran indah Islam sebagaimana telah diberikan oleh Al-Masih zaman ini telah disebarluaskan, dan kekuatan-kekuatan musuh akan tumpul dan orang-orang bersatu di bawah bendera Hadhrat Muhammad s.a.w.

Saya telah memulai membicarakan mengenai Muharram dan saat ini akan menyajikan rujukan-rujukan dari tulisan-tulisan Masihuz Zamaan dan Mahdi itu supaya dapat sampai kepada para Ahmadi dalam jumlah ratusan ribu, mereka yang baru baiat pun dapat menyimaknya dan anak-anak muda Jemaat yang tidak mengetahuinya pun dapat memahami bagaimana Hadhrat Mau’ud a.s. menegakkan kehormatan wujud-wujud suci, mengenalkan kedudukan para sahabat, bagaimana melenyapkan perbedaan antara Sunni dan Syiah, dan sesuai perintah dari Allah Ta’ala, beliau a.s. mengajarkan cara menjadikan seluruh kaum Muslimin yang tinggal di muka bumi ini agar dapat bersatu menjadi satu umat.

Kepada Non-Ahmadi Pemerhati Khotbah Hudhur

Demikian pula, mereka yang berada di luar Jemaat yang menyimak khotbah-khotbah kami, menyimak kata-kata kami, akan mengetahui bagaimana ajaran yang benar untuk menjadikan gambaran sejati dari “رحماء بينهم” ‘ruhamaa-u bainahum’ – “..berlaku lemah lembut diantara mereka…” (QS.48:30).

Renungkanlah! Sampai berapa lamakah, kalian menangisi keadaan lemah kaum Muslimin sembari menganggap diri telah menunaikan hak dan kewajiban pengkhidmatan kepada Islam hanya dengan berkumpul untuk unjuk rasa [demonstrasi-demonstrasi] atau kemudian melalui sikap ekstrimisme (kekerasan)? Sampai kapankah para musuh menghentikan kezaliman yang tiada akhirnya dalam serangan-serangan terhadap Islam di berbagai tempat dan keadaan?

Oleh karena itu, tiadanya kedamaian dan adanya kegelisahan yang terjadi di negara-negara Islam disebabkan oleh terjadinya saling aniaya satu sama lain atau keaniayaan dari kekuatan anti Islam terhadap kaum Muslimin, hal mana obat penangkal bagi penegakan keamanan dan dari hal ini dan juga sebagai kekuatan untuk menegakkan kewibawaan Islam untuk yang kedua kalinya adalah hanya dan hanya terletak di tangan seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala, yang adalah seorang Asyiq Shadiq (pecinta sejati) Hadhrat Rasulullah s.a.w., dan yang ditetapkan untuk menyebarkan ajaran beliau ke dunia.[4]

Sebagaimana telah saya katakan, saya tengah menyajikan di hadapan saudara-saudara keterangan mengenai kedudukan seluruh sahabat berdasarkan rujukan kutipan-kutipan tulisan beliau a.s.. Saat ini jika orang-orang Islam ingin memperoleh kembali persatuan diantara mereka, jika mereka ingin menegakkan kekuatan mereka, jika mereka ingin menyelamatkan diri mereka dari serangan pihak lain, jika mereka ingin mengenalkan kepada dunia pesan amanat Islam sambil membawa bendera Hadhrat Rasulullah s.a.w. maka mereka harus menghapuskan perbedaan antara Sunni dan Syiah. Maka, berbagai kelompok, golongan dan firqah akan lenyap. Mereka akan mengamalkan ajaran Islam yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang tidak terdapat pembagian-pembagian (perpecahan-perpecahan) di dalamnya.

Sebagaimana setiap sahabat telah memberikan contoh pengorbanan dalam hal tersebut [kesatuan umat]. Menjadi teladan kebaikan dan ketakwaan. Bagaikan bintang-bintang yang dari mereka kita dapatkan cahaya dan penunjuk.

Akan tetapi, dalam pandangan Hadhrat Rasulullah s.a.w. kedudukan sebagian dari mereka melampaui yang lain. Dalam pandangan Allah Ta’ala dan Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang memberikan ketinggian, kedudukan Hadhrat Abu Bakr r.a. mengungguli para sahabat lainnya, yang tiada tara bandingannya dibanding yang lainnya. Demikian pula kedudukan Hadhrat Umar r.a.. Kedudukan Hadhrat Usman dan Hadhrat Ali r.a.. Kedudukan Hadhrat Imam Husain r.a. dan Hasan r.a.. Demikianlah, menempati derajat tingkat demi tingkat.

Kunci Penghentian Kekerasan Antar Sunni-Syiah: Mengetahui dan Menempatkan Kedudukan Sahabat menurut Tempatnya Masing-Masing

Adalah penting melihat kedudukan para sahabat dilihat dari tingkatannya masing-masing. Apabila ini yang dilakukan maka segala macam kerusuhan akan berhenti dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. diutus untuk menyatukan semua golongan-golongan tersebut di zaman akhir, dan setelah beliau a.s. menyampaikan kepada kita kedudukan masing-masing dari setiap sahabat dan setiap kerabat Hadhrat Rasulullah s.a.w. maka kita harus menegakkan penghormatan dan pemuliaan kepada mereka.

Mengenai Hadhrat Abu Bakr radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis di satu tempat di dalam bukunya, ‘Sirrul Khilafah’. Buku ini dalam bahasa Arab. Terjemahan bahasa Urdunya adalah sebagai berikut:

“Saya telah diberikan pengetahuan bahwa Hadhrat Abu Bakr Shiddiq r.a. memiliki kemuliaan yang paling tinggi diantara semua Sahabat lainnya. Tidak ragu lagi beliaulah Khalifah pertama, dan ayat-ayat Khilafat pun telah turun berkaitan dengan beliau.”[5]

Selanjutnya merujuk dari buku ‘Sirrul Khilaafah’ yang terjemahan Urdunya sebagai berikut:

”Demi Allah, beliau (Hadhrat Abu Bakr r.a.) adalah Adam kedua dalam Islam dan manifestasi pertama dari insan mulia (s.a.w.). Meskipun beliau bukanlah seorang nabi, namun dalam diri beliau terdapat daya kekuatan para nabi dan para rasul.”[6]

Dan lagi, di dalam ‘Sirrul Khilaafah’ Beliau a.s. bersabda: ”Allah mengetahui bahwa Hadhrat Abu Bakr Shiddiq r.a. adalah yang paling berani dan paling bertakwa dari antara semua sahabat, dan beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah s.a.w. Beliau adalah seorang jendral yang menang, yang larut dalam kecintaan terhadap sayyidul kaa-inaat (Pemimpin Para Makhluk, Nabi Muhammad s.a.w.), dan sejak awal, beliau adalah orang yang dapat dipercaya dan yang senantiasa membantu tugas-tugas Rasulullah s.a.w. Itulah sebabnya, Allah Ta’ala telah memberikan ketenangan kepada Nabi-Nya pada saat genting melalui beliau (r.a.) sehingga gelar Shiddiq (Orang benar) pun secara spesifik tertuju kepada beliau. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah s.a.w. di dua dunia [dunia dan akhirat] dan Allah telah menganugerahkan beliau dengan jubah kehormatan {ثَانِيَ اثْنَيْنِ} ‘Tsaaniya tsnaini’ “…ia salah seorang dari dua orang…” (QS.9:40) dan memasukkan beliau kedalam para hamba-Nya yang istimewa.”[7]

Dalam Malfuzhat, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Dengan menjadi seorang Muslim di masa Rasulullah s.a.w., Khalifah pertama (Hadhrat Abu Bakr r.a.), yang juga adalah seorang “مَلِكَ التُّجّارِ” malik at-Tujjar (saudagar) besar, beliau telah memberikan pertolongan yang tak ada bandingannya (kepada Rasulullah s.a.w.). Beliau dianugerahi kedudukan Shiddiq, sahabat pendamping pertama serta Khalifah pertama.

Ada tertulis [dalam riwayat] bahwa ketika beliau kembali dari perjalanan dagangnya dan belum sampai ke Mekah, dalam perjalanan tersebut beliau bertemu dengan seorang laki-laki dan bertanya kepadanya tentang kabar terbaru. Laki-laki tadi berkata bahwa tidak ada kabar terbaru melainkan temannya telah menyatakan diri sebagai nabi. Abu Bakr r.a. berkata bahwa jika ia menyatakan demikian, itu adalah benar.”[8]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga menyatakan, “Hadhrat Abu Bakr r.a. mengorbankan segala harta dan semua yang dimilikinya di jalan Allah dan membiarkan dirinya hidup dalam kekurangan. Tetapi, apakah yang telah Allah anugerahkan kepada beliau dalam hal ini? Dia menjadikannya raja di tanah Arab dan memberikan Islam sebuah kehidupan baru melalui tangannya dan menunjukkan kemenangan terhadap orang Arab yang murtad dan diberikan pula kepadanya sesuatu di luar batas perkiraan siapa pun.”[9]

Mengenai Hadhrat Umar radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan tentang Hadhrat Umar ra, ”Apakah anda menyadari betapa tingginya kedudukan Hadhrat Umar r.a. diantara para Sahabat? Ialah hingga demikian bahwa beberapa kali (ayat) Al-Quran telah turun sesuai dengan sudut pandangan beliau. Sebuah hadits menyatakan tentang kebenaran beliau r.a., ‘Setan lari disebabkan oleh bayangan Umar.’ Hadits yang lain menyebutkan, ‘Seandainya terdapat seorang nabi setelahku, maka ia adalah Umar.’ Hadits ketiga, ‘Sesungguhnya di dalam kaum terdahulu terdapat para Muhaddats (penerima kalam Ilahi), bila ada Muhaddats diantara umatku ini, tentulah Umar r.a.’”[10]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga menyampaikan: “Umar r.a. pun menerima ilham, namun beliau tidak beranggapan menjadi sesuatu mengenai dirinya dan tidak berkeinginan menjadi tokoh saingan Imaamah Haqqah (Keimaman yang Sebenarnya, Nabi saw) yang Tuhan Samawi telah menegakkannya di permukaan bumi ini, bahkan menganggap dirinya lebih rendah lagi dari seorang sahaya. Oleh karena itu karunia Allah menjadikan beliau naib (wakil, khalifah) Imāmah Haqqah.”[11]

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis dalam buku ‘HujjatuLlah’ yang terjemahan dari bahasa Arabnya ialah demikian: “Dua orang (Hadhrat Abu Bakr r.a. dan Hadhrat Umar r.a.) yang dikuburkan berdekatan dengan Rasulullah s.a.w. adalah orang yang saleh, disucikan, didekatkan dan thayyib (bagus serta banyak bermanfaat), dan Tuhan menjadikan sebagai sahabat-sahabat Rasul pada masa hidup beliau maupun setelah wafatnya. Memang, inilah persahabatan yang akan bertahan hingga akhir dan sangat jarang ditemukan contoh yang seperti itu.

Selamat sejahteralah terhadap mereka berdua yang telah melewatkan kehidupannya bersama Rasulullah s.a.w., dan juga mereka telah dipilih sebagai Khalifah di kota beliau s.a.w. dan di tempat beliau s.a.w., dan juga telah dikuburkan berdekatan dengan beliau, keduanya telah dibawa dekat kepada surga dari tempat sucinya, serta pada Hari Kebangkitan nanti mereka akan dibangkitkan bersama beliau.”[12]

Mengenai Hadhrat Utsman radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Selanjutnya lagi satu rujukan buku ‘Sirrul Khilafah’, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menulis yang terjemahannya sebagai berikut: “Tuhan-ku telah membuat hal ini jelas kepadaku bahwa Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar Faruq dan Hadhrat Usman r.a. adalah orang-orang yang shaleh dan beriman serta berasal dari orang-orang yang telah dipilih Allah serta telah dikhususkan untuk karunia-Nya.” [13]

Beliau menulis, “Demi Allah, sesungguhnya Dia Yang Maha Tinggi telah menjadikan ‘Syaikhain’ (dua sesepuh itu, Hadhrat Abu Bakr r.a. dan Hadhrat Umar r.a.) dan yang ketiga, yaitu ‘Pemilik Dua Cahaya’ (Hadhrat Utsman r.a.) seperti pintu gerbang bagi Islam dan juga berada di barisan depan para tentara Sang Makhluk Terbaik [Nabi Muhammad s.a.w.].”[14]

Mengenai Hadhrat Ali radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan tentang Hadhrat Ali ra, ”Beliau adalah seorang taqiyy (yang sangat bertakwa) dan naqiyy (suci) serta termasuk dari antara orang-orang yang sangat dicintai Allah.

Beliau berasal dari keluarga terhormat dan dari antara para pembesar pada waktu itu. Beliau adalah singa Tuhan Yang Maha Tinggi dan seorang pemuda dari Tuhan Yang Maha Baik.

Beliau sangat dermawan dan memiliki hati yang bersih. Beliau adalah seorang yang gagah berani yang tidak pernah lari dari medan peperangan bahkan jika balatentara musuh menyerang beliau.

Beliau menjalani hidup dalam keadaan zuhd (hidup sangat sederhana dalam fasilitas sehari-hari seperti pakaian, makanan dan tempat tinggal) dan mencapai kedudukan yang tinggi dalam hal kesederhanaan. Beliau membagi-bagikan harta, meringankan kesusahan dan kesedihan, dan beliau sangat perhatian dalam hal mengurus anak yatim, orang miskin dan para tetangga.

Beliau menampilkan keberanian yang besar pada saat berbagai ekspedisi (gerakan militer), dan terampil memakai pedang serta tombak di peperangan. (Tidak demikian maksudnya bahwa hanya beliau yang ahli, melainkan, keahlian beliau sangat baik dalam hal itu) Tambahan pula (disamping itu), kata-kata beliau pun demikian indah [berirama] lagi fasih dalam pembicaraan (yakni, dalam berpidato tata bahasa dan irama kata-kata beliau demikian rupa indahnya hingga tak ada bandingannya di kalangan manusia awam).

Ucapan beliau memiliki pengaruh yang mendalam, dengan kata-katanya beliau menghilangkan karat-karat kalbu serta menerangi hati-hati dengan cahaya pertimbangan [argumentatif, berakal sehat].

Beliau menguasai berbagai kecakapan (ketrampilan) dan orang-orang yang ahli dalam berbagai hal yang datang kepada beliau pun seperti orang kalah yang berhelah [pembelaan diri mencari alasan atas kekalahan kemampuannya]. Beliau ahli dalam berbagai bidang kebaikan dan pandai dalam fashaahat dan balaaghat (berbahasa), dan penolakan terhadap keunggulannya sama dengan menampilkan rasa tidak tahu malu.

Beliau gemar menganjurkan berbuat simpati kepada yang membutuhkan pertolongan dan juga menginstruksikan untuk memberi makan kepada mereka yang patut untuk diberi namun berdiam diri maupun kepada mereka yang meminta dengan mendesak-desak. Beliau termasuk hamba-hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala.

Dan disamping itu, beliau termasuk yang unggul dalam hal meminum ‘susu dari gelas’ al-Furqaan (pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran). Beliau meraih pemahaman yang ajaib dalam pemahaman mengenai subyek bahasan mendalam dalam Al-Quran.” [15]

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga menjelaskan tentang Hadhrat Ali ra ketika Hadhrat Rasulullah s.a.w. hijrah dari Makkah ke Madinah:

“Seorang kerabat dekat yang dirinya telah digerakkan dengan kecintaan dan keimanan, sesuai dengan petunjuk (isyarat) dari Nabi, dengan berani berselimut berbaring di tempat tidur Rasulullah s.a.w. sembari menutupi mulutnya (menutupi sebagian wajahnya untuk mengelabui), sehingga para pengintai musuh Rasulullah tidak akan menyelidiki kepergian Rasulullah, mereka tetap tinggal di situ dengan niat untuk membunuh beliau karena mengiranya (Hadhrat Ali) sebagai Rasulullah s.a.w..”[16]

Dalam bahasa Farsi (Persia, Iran), beliau a.s. bersabda:

‘Kis behre kise sarand jaan fasyanand

Isyq ast keh ii kar bashad shidq kinand

Yakni, tiada satu pun orang yang mempersembahkan kepalanya untuk dipenggal dan mengorbankan nyawanya untuk kepentingan orang lain seperti itu, sesungguhnya kecintaan dan getaran hati-lah yang membuat seseorang memberikan dirinya sendiri kepada maut dengan tulus ikhlas. [17]

Persamaan dengan Hadhrat Ali r.a. dan Hadhrat Husain r.a. & Kedudukan Hadhrat Imam Hasan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan persamaan beliau dengan Hadhrat Ali r.a. dan Hadhrat Husain, Dan saya memiliki hubungan yang halus (cocok, compatible) dengan Ali dan al-Husain dan tidak ada yang mengetahui rahasia ini kecuali Allah, Rabb (Tuhan Pemilik) dua arah di timur dan dua arah di barat.

Dan sesungguhnya saya mencintai Ali dan kedua putranya (al-Hasan ra dan al-Husain ra). Oleh karena itu, barangsiapa yang memusuhi beliau, saya pun memusuhinya.” [18]

Beliau juga bersabda mengenai kedudukan, jasa-jasa dan keistimewaan masing-masing dari Hadhrat Hasan ra dan Hadhrat Husain ra, ”Dalam pandangan saya, Hadhrat Hasan r.a. telah sangat baik dengan mundur dari kekhalifahan. Sebelumnya, ribuan orang tewas. Beliau pun tidak ingin ada lagi korban yang terbunuh, dan beliau menerima tunjangan hidup dari Muawiyah.[19]

Dikarenakan sikap Hadhrat Hasan r.a. ini, orang-orang Syiah [para pengikut Ali] pun tergoncang [syok berat], sehingga mereka itu tidak sepenuhnya menerima Imam Hasan r.a.. (Bila orang Syiah menyebut-nyebut soal anak-anak Hadhrat Ali r.a., mereka tidak memuji-muji berlebihan kepada Hadhrat Hasan r.a., tidak seperti kepada Hadhrat Husain r.a..

Hal demikian karena mereka tidak menyukai beliau r.a.. Akan tetapi kami menyanjung mereka berdua. (Kami memuji mereka berdua) Kenyataannya adalah bahwa setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Hadhrat Imam Hasan r.a. tidak ingin terjadi permusuhan internal antara umat Islam yang bisa mendorong kepada terjadinya saling membunuh lebih lanjut. Beliau lebih menyukai perdamaian.

Hadhrat Imam Husain r.a. Menolak Baiat di Tangan seorang Fasik

Sementara Hadhrat Imam Husain r.a. tidak suka untuk mengambil baiat di tangan orang yang faasiq faajir (fasik pendosa) karena bisa merusak keimanan. Mereka berdua memiliki tujuan yang baik. Dan perbuatan-perbuatan itu dinilai dari niatnya. ’Innamal a’maalu bin niyaat’ – “Sesungguhnya amal-amal ditentukan dari niat-niatnya.” Ini merupakan hal yang terpisah (hal lain), bahwa melalui tangan Yazid pun terdapat kemajuan Islam. Hal ini merupakan karunia Allah Ta’ala saja, jika Dia kehendaki, bahkan melalui seorang yang fasik sekalipun bisa membawa kemajuan. Putra Yazid [yang menolak estafet kepemimpinannya] adalah orang yang baik.”[20]

Di satu tempat, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Hendaklah ingat selalu akan hal ini, bahwa para nabi ‘alaihimus salaam dan juga para insan yang lurus dan benar pilihan Ilahi datang ke dunia ini untuk menjadi panutan. Orang yang tidak berusaha mengikuti contoh suri tauladan beliau-beliau itu, yakni malah siap-sedia bersujud kepada mereka, dan menganggap merekadapat memenuhi segala kebutuhan hidup manusia (“قاضي الحاجات” qadhi al-hajaat), (mereka memperlakukan beliau-beliau berlebihan.

Bukannya mengikuti keteladanan beliau-beliau, tetapi, sedemikian rupa berlebihannya sampai-sampai bersedia bersujud kepada mereka dan menganggap dapat memenuhi keperluan-keperluan mereka), mereka tidak layak diakui dalam pandangan Ilahi, bahkan, setelah mati, mereka akan menyaksikan Imam tersebut akan menyesalinya [menyesalkan perbuatan orang yang memujanya].

Begitupula mereka yang melebih-lebihkan dalam memuliakan Hadhrat Ali ataupun Hadhrat Imam Husain r.anhuma atau memuja mereka, mereka tidak termasuk dari antara muttabi’iin (pengikut) Hadhrat Imam Husain r.a.. Hal itu tidak akan membuat beliau r.a. senang. Para nabi ‘alaihimus salaam senantiasa datang untuk menjadi teladan yang patut diikuti, dan yang sebenarnya adalah jika tidak mengikuti mereka, maka tiada arti apa-apa.”[21]

Kedudukan Hadhrat Imam Husain radhiyallahu Ta’ala ‘anhu

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pernah memberikan nasihat kepada para Ahmadi disebabkan ada orang Ahmadi yang menyebut-nyebut tentang Hadhrat Imam Husain yang lalu diketahui oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., atas hal itu beliau a.s. demikian sangat marah (sakhat naaraazh) dan bersabda,

“Telah disampaikan kepada saya bahwa sebagian orang tuna ilmu (naadaan admi) yang menganggap diri mereka anggota Jemaat saya dengan mulut mereka sendiri menyebut-nyebut na’udzubillah, ‘Hadhrat Imam Husain ra adalah pemberontak disebabkan tidak mau baiat kepada Khalifah-e-Waqt yakni Yazid, sedangkan Yazid ada di pihak yang benar.’ لعنة الله على الكاذبين La’natullahi ‘alal kaadzibiin – ‘Laknat Allah atas para pendusta’ Saya tidak mengharapkan, kata-kata buruk seperti itu keluar dari mulut orang-orang lurus dari Jemaat saya.

Akan tetap, bersamaan dengan itu terlintas pula hal ini di dalam hati saya, yakni, karena kebanyakan orang Syiah juga terus-menerus menyertakan saya dalam kebencian dan laknat mereka, (yakni, terus-menerus mencaci-maki saya), maka tidaklah mengherankan jika seorang yang bodoh lagi tidak bijaksana mengucapkan kebodohan untuk menjawab perkataan-perkataan yang penuh kebodohan, seperti halnya dilakukan oleh beberapa orang Islam yang jahil untuk melawan celaan orang Kristen terhadap kemuliaan Hadhrat s.a.w., mereka mengucapkan perkataan yang keras mengenai Hadhrat Isa a.s.[22]

Yazid di Mata Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam

Namun, melalui isytihar (selebaran) ini saya memberitahukan kepada para anggota Jemaat bahwa kita beritikad Yazid adalah seorang bertabiat kotor, ulat dunia, zalim dan pada dirinya tidak ada tanda-tanda bagi seseorang yang dapat dikatakan mu’min (beriman).

Untuk menjadi orang mu’min bukanlah perkara mudah. Mengenai orang seperti itu Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang Arab gurun berkata, ‘Kami telah beriman’ Katakanlah, kamu belum sungguh-sungguh beriman; akan tetapi hendaknya kamu berkata, ‘Kami telah tunduk patuh’; karena iman sejati belum masuk kedalam kalbu kamu (Al-Hujarat 49:15)

Siapa itu Orang Beriman?

Orang mu’min adalah yang amal perbuatan mereka memberi kesaksian bahwa di dalam hatinya ada tertulis iman, dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya, dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa kendati pun susah dan sempit demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya, dan dia singkirkan sejauh-jauhnya setiap benda seperti patung berhala yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak, ataupun perbuatan fasik, atau kemalasan dan kelalaian. Akan tetapi Yazid yang malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap dunia telah membutakannya.

Akan tetapi Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hilangnya iman.

Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk orang mashum (suci lagi terjaga dari dosa) ini, yang dari padanya kita dapatkan [hidayah, petunjuk].

Rusaklah hati orang yang menjadi musuhnya, dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana bayangan seseorang yang tampan atau cantik terlihat di sebuah cermin yang bersih dan jernih.

Orang ini tersembunyi dari mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat orang ini, selain mereka yang daripadanya. Mata orang dunia tidak akan dapat mengenalnya sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain ra sebab beliau tidak dikenal. Orang suci dan terpilih yang dicintai oleh penduduk dunia pada zamannya niscaya mencintai Husain.

Jangan sekali-kali Merendahkan Husain dan orang-orang suci lainnya walau dengan kata-kata halus sindiran

Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk kedalam tingkat yang sangat dari kemalangan dan ketiadaan iman, dan barangsiapa yang menghina Husain ra atau siapa pun wali yang termasuk dari a-immah (para imam) yang muthahhirin (tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-nyiakan imannya. Sebab, Allah Yang Gagah Perkasa menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya.

Barangsiapa yang mengatakan hal-hal buruk kepada saya atau melaknat dan mengutuk, malahan sesungguhnya penggunaan kata-kata buruk kepada siapa saja dari antara orang suci dan yang dicintai Tuhan adalah maksiat yang besar. Memaafkan dan berdoa adalah lebih baik dalam menanggapi musuh yang bodoh seperti itu karena bila orang itu mengetahui saya itu dari Siapa maka ia tidak akan mengatakan kata-kata buruk.”[23]

Kemudian, beliau a.s. bersabda, ”Istilah keturunan rohaniah [ruhani aal] adalah sangat tepat sekali ditujukan bagi para kekasih Allah dan orang-orang maqbul-Nya (yang diaku-Nya, pilihan).” (Ketika membaca salawat terdapat kata  آلِ مُحَمَّدٍ Beliau a.s. bersabda, keturunan rohaniah adalah untuk orang-orang yang dicintai-Nya dan itu adalah untuk keturunan rohaniah beliau s.a.w. atau ahli bait yakni, beliau menyebutkan mengenai Hadhrat Imam Husain r.a. dan Hasan r.a. bahwa)

“Mereka adalah keturunan rohaniah dari kakek rohaniah mereka, mereka memperolah warisan rohaniah yang tidak ada seorang ghaashib (perampas) pun yang bisa melakukan ghashab (perampasan) atasnya, dan mereka tetaplah para pewaris kebun-kebun yang tak ada orang lain yang bisa memilikinya tanpa ijin.

Dengan demikian, pikiran-pikiran dangkal yang telah bersarang dalam beberapa golongan Islam adalah karena hati mereka telah mati dan mereka tidak berkeinginan berlomba-lomba menjadi keturunan rohaniah [Nabi s.a.w.]. Oleh karena itu, disebabkan tidak mewarisi kekayaan rohaniah, akal mereka telah menjadi tumpul dan jiwa mereka menjadi keruh lagi berpikir pendek.

Siapakah orang beriman yang akan mendebat (membantah) bahwa Hadhrat Imam Husain dan Imam Hasan radhiyallahu ‘anhuma adalah orang-orang pilihan Allah, shahibi kamaal (pemilik keunggulan-keunggulan), shahibi ‘iffat (pemilik kesucian), ‘ishmat (menjaga diri dari dosa) serta a-immatul huda (yakni para imam penuntun, pembimbing). “..dan tanpa ada keraguan, mereka adalah keturunan Rasulullah s.a.w. dalam dua segi…[rohaniah dan jasmaniah]

Madzhab Ahli Ma’rifat dan Haqiqat Mengenai Aali Muhammad

Oleh karena itu, merupakan madzhab (keyakinan, pendirian) dari ahli ma’rifat dan haqiqat [orang-orang yang memiliki, mengamalkan dan mendalami pengetahuan tentang keimanan dan kebenaran] bahwa, ‘Bahkan, jika pun seandainya Hadhrat Imam Husain dan Imam Hasan radhiyallahu ‘anhuma bukan keturunan jasmani Rasulullah s.a.w., namun karena hubungan rohaniah mereka, di Langit mereka digolongkan termasuk aal (keturunan) beliau (s.a.w.), tidak diragukan lagi mereka akan menjadi pewaris dari kekayaan rohaniah beliau s.a.w.. Tatkala tubuh yang fana memiliki hubungan, tidakkah ruh pun memiliki hubungan?’

Bahkan, hal ini terbukti dari Hadits Syarif dan juga Al-Quran Suci sendiri bahwa ruh pun memiliki hubungan, yakni persahabatan dan permusuhan dari sejak awal. Seorang yang berakal sehat dapat berpikir, manakah yang merupakan suatu sumber kebanggaan, menjadi aal Rasul (keturunan Rasulullah s.a.w.) secara abadi dan tak berkurang, ataukah menjadi aal Rasul s.a.w. secara fisik, yang itu tidak akan berarti apa-apa, jika tanpa dengan kesalehan, kesucian dan keimanan.

Bukan Menghantam Kedudukan Mulia Ahli Bait

Janganlah menyimpulkan dari pernyataan ini bahwa kami telah menghantam kedudukan mulia ahli bait (keluarga) Rasulullah s.a.w. (yakni, beliau a.s. senantiasa bersabda bahwa keturunan rohaniah itu lebih tinggi dibanding keturunan jasmani atau anak-cucu).

Bersabda: “Sebaliknya, tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyampaikan bahwa kedudukan agung yang layak bagi Imam Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma itu tidak hanya menjadi keturunan Rasulullah s.a.w. secara fisik saja, karena tanpa adanya hubungan secara rohaniah adalah tidak berarti apa-apa.

(Yakni, martabat keagungan beliau r.a. bukanlah menjadi aal Rasul secara jasmaniah. Hal yang terpenting ialah ikatan rohaniah). “Dan, sesungguhnya orang-orang yang memiliki hubungan yang benar dengan Rasulullah s.a.w. dari antara keluarga keturunan beliau s.a.w., itulah mereka yang termasuk ke dalam aalihi (keturunan beliau s.aw.) atas dasar rohaniah.

Nur-nur dan ma’rifat-ma’rifat (cahaya dan pengetahuan rohani) para rasul berkedudukan sebagai anak-cucu (keturunan) para rasul itu yang lahir (muncul) dari wujud beliau-beliau nan suci.” (Yakni, hal yang pokok ialah ajaran-ajaran, ma’rifat-ma’rifat dan nur-nur rohaniah beliau-beliau yang menyebarluas, dan itu menjadi hal pokok penting bagi para pengikut beliau-beliau)

“Dan, orang-orang yang memperoleh kehidupan baru dari nur-nur dan ma’rifat-ma’rifat itu, dan meraih kelahiran yang baru melalui nur-nur tersebut, mereka itulah yang disebut sebagai آلِ مُحَمَّدٍ aal Muhammad – (keturunan Muhammad Rasulullah s.a.w.) secara segi rohaniah.”[24]

Oleh karena itu, setiap Muslim Ahmadi yang mengamalkan ajaran Hadhrat Rasulullah s.a.w., meraih manfaat dari nur beliau s.a.w., mengamalkan ajaran yang sebenarnya dari beliau s.a.w., akan termasuk sebagai keturunan beliau s.a.w..

Peranan Sementara Pihak Non-Islam, Mengail di Air Keruh

Inilah jalan hakiki yang harus ditapaki oleh setiap Muslim bahwa kedudukan setiap orang suci hendaknya diakui dan dihormati. Saling bermusuhan, membunuh dan menganiaya haruslah dihentikan. Adalah bukan sesuatu hal yang tidak masuk akal (tidak jauh-jauh bahwa) kekuatan anti Islam ikut campur tangan dalam berbagai kekacauan, pembunuhan dan pertikaian yang tengah terjadi ini dengan cara memecah belah kaum Muslimin, ataupun dengan cara membayar mereka.

Laporan resmi pemerintah perihal penyerangan terhadap golongan Syiah dan perusakan terhadap masjid-masjid mereka, dilakukan oleh golongan yang pemerintah menyebutnya kelompok teroris, pun diberitakan tentang kelompok teroris dan juga di Pakistan bahwa di tengah-tengah mereka ikut berperan juga orang-orang bukan Islam, bahkan datang dari luar untuk menimbulkan kekacauan. Semoga Allah melimpahkan kasih-Nya kepada umat ini dan memberikan taufik kepada mereka supaya bersatu.

Saya ingin menyampaikan kepada para Ahmadi bahwa ketika golongan-golongan umat Islam yang lain melakukan upaya balas dendam satu sama lain, sehingga bilamana satu pihak menyerang maka pihak yang lain pun membalas melakukan hal yang sama. Akan tetapi setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan meskipun semua penganiayaan yang dilakukan oleh semua golongan ini ditimpakan kepada kita, janganlah kita pernah berpikir untuk melakukan pembalasan.

Ya, bila ada hal yang diperlukan ialah setelah setiap jenis penganiayaan terhadap kita adalah hendaknya kita mempertinggi nilai kebaikan dan keshalehan kita dibanding sebelumnya serta berdoa kepada Allah lebih banyak dan intens dan juga menjalin hubungan yang lebih baik dengan-Nya.

Hadhrat Imam Husain r.a. telah menegakkan contoh tauladan secara amalan dan ini menjadi sebuah tuntunan bagi kita. Berkaitan dengan hal ini Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. memberikan nasihat kepada anggota Jemaat dalam sebuah gubahan nazm syair,

‘Woh tum ko Husain banate heei’ aor aap Yazidi bante heei’

Yeh kiya hii sastah sauda he, Dushman ko teer chalaney do’.

“Mereka menjadikanmu Husain, dan mereka menjadikan diri mereka seperti Yazid. Betapa bagusnya [betapa murahnya] jual-beli ini; biarlah musuh melemparkan anak panahnya.”[25]

Pendek kata, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda tentang Hadhrat Imam Husain r.a. bahwa beliau adalah termasuk dari antara para pemimpin di surga, dengan mengajarkan kepada kita ketabahan dan keteguhan hati beliau ra telah menunjukkan pada kita jalan menuju surga.

Doa-doa harus dipanjatkan oleh masing-masing khususnya di hari-hari ini, yakni selama bulan Muharram, untuk ketabahan dan keteguhan hati kita dan setiap Ahmadi pun hendaknya mencurahkan limpahan doanya supaya diselamatkan dari kejahatan para musuh yaitu, “رب كل شيء خادمك ربّ فاحفظني وانصرني وارحمني” Rabbi kullu syai’in khadimuka, rabbi fahfazhni wanshurni warhamni – “Ya Tuhanku, segala sesuatu adalah khadim Engkau, Ya Tuhanku, jagalah aku, tolonglah aku, dan sayangilah aku.”[26]

Hal ini telah dinyatakan sebelumnya bahwa doa tersebut sangat penting untuk perlindungan. Doa berikut: “اللهم إنا نجعلك في نحورهم ونعوذ بك من شرورهم” Allahumma inna najaluka fii nuuhurihim wa na’uudzubika min syuruu-rihim’ “Wahai Allah, kami menjadikan-Mu sebagai tameng kami menghadapi musuh-musuh dan kami juga memohon perlindungan Engkau melawan perilaku dan rancangan jahat mereka.” Juga harus dipanjatkan terus-menerus.[27]

Pada khotbah Jumat yang lalu juga telah saya katakan untuk harus membaca duruud syarif (bershalawat), sebelumnya pun telah senantiasa saya sampaikan berkali-kali untuk menaruh perhatian ke arah itu.

Semoga Allah menempatkan setiap Ahmadi dalam perlindungan-Nya. Semoga Allah Ta’ala menolong dan meneguhkan kita secara istimewa dari dalam menghadapi serangan beruntun musuh-musuh kita, dan Dia mengasiharni kita sehingga setiap pribadi Jemaat dan Jemaat dilindungi-Nya dari setiap jenis kejahatan orang-orang yang memusuhi Ahmadiyah. Semoga Allah Ta’ala menjadikan setiap kejahatan mereka dan apa-apa yang mereka rencanakan untuk menyerang kita, kembali berbalik menimpa kepada mereka sendiri.

Semoga Dia memasukkan kita kedalam haqiqi aal (keturunan sejati) Rasulullah s.a.w. sebagaimana telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., ‘Ashl maqaam ruhani aal ka he.’ – “Kedudukan atau martabat tertinggi (pokok, mendasar, terpenting) ialah keturunan rohaniah.” Apabila kita memiliki hubungan secara jasmani (keturunan jasmani), maka itu adalah sebuah karunia.

Namun demikian, kendatipun ada keturunan jasmani tetapi bilamana anak-keturunan secara jasmani itu tidak berusaha meraih kedudukan keturunan secara rohaniah, selamanya ia tidak dapat meraih manfaat dari keberkatan-keberkatan dari pribadi Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang Allah Ta’ala janjikan kepada barangsiapa yang mengikuti beliau s.a.w.

 Kita harus terus mawas diri setiap waktu. Ketika menyampaikan shalawat, kita harus merenungkan, sudah seberapa banyak keberkatan yang diperoleh dari shalawat ini dengan menjadikan diri kita orang-orang yang berupaya mengamalkan ajaran yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w.? Setelah baiat kita kepada Imam Zaman, sudah seberapa jauhkah kita hidup sesuai dengan segala perkataan yang ada dalam Al-Quran Karim?

Kita berdoa semoga Allah Ta’ala menjadikan demikian bahwa penyebutan mengenai kedudukan orang-orang saleh, kekerasan dan kelaliman penentang Ahmadiyah terhadap kita, peranan para pemerintah terhadap kita dalam kelaliman tersebut, menjadi sarana isyarat bagi kita untuk mengarahkan diri kita dekat kepada Allah Ta’ala. Semoga pengorbanan kita menjadikan jiwa-jiwa berfitrat suci masuk kedalam pangkuan Ahmadiyah,  dan semoga kita juga bisa menyaksikan kemenangan Ahmadiyah, yakni Islam sejati.

Doa untuk Warga Palestina Tak Berdosa

Sebagaimana telah saya sebutkan tadi, mengenai penyerangan Israel ke Palestina, berlimpah-limpah doa hendaknya dipanjatkan supaya Allah menyelamatkan jiwa-jiwa tak berdosa dari segala jenis kezaliman.

Israel mengeluarkan pernyataan, “Kami melakukan serangan adalah dikarenakan kami tidak dapat hidup dalam ketakutan sehingga kami menyerang orang-orang Palestina.” Memang, mereka adalah yang pertama-tama yang menyerang, dan ketika orang-orang Palestina ini memberikan respon, mereka (Israel) mengatakan, “Mereka (orang-orang Palestina) ini telah menimbulkan rasa takut.

Ini adalah kasus penggertakan yang aneh, sebuah cara yang aneh memang, yang orang-orang di dunia ini sedang mengadopsinya, dan hal ini – seperti telah sebelumnya saya katakan – terjadi karena tidak adanya persatuan diantara umat Islam. Semoga Allah juga merahmati dan mengasihani orang-orang Palestina yang tak berdosa dan menyelamatkan mereka dari setiap jenis kekejaman.

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Semoga Allah meridhainya. Selanjutnya disingkat r.a.

[3]Al-Bidayah wan Nihaayah oleh Hafizh Ibnu Katsir jilid atau juz ke-8 tahun 60 Hijriyah mengenai Muawiyah dan apa-apa yang terjadi saat periodenya dan saat penguasaannya dan riwayat tentang keistimewaan dan keutamaannya, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), 2001 halaman 126

[4] Orang yang diutus oleh Allah Ta’ala dan beliau adalah pecinta sejati Rasulullah s.a.w. adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud.

[5] Dalam buku Sirrul Khilaafah disebutkan:

“وعُلّمتُ أن الصدِّيق أعظمُ شأنًا وأرفعُ مكانًا مِن جميع الصحابة، وهو الخليفةُ الأوّل بغير الاسترابة، وفيه نزلتْ آياتُ الخلافة” (سِرُّ الخلافة)

‘Wa ‘ullimtu an ash-Shiddiiqa a’zhamu sya-nan wa arfa’u makaanan min jamii’ish shahaabah, wa huwal Khaliifatul Awwal bi ghairil istiraabah, wa fiihi nazalat aayaatul Khilaafah.’

[6] Dalam buku Sirrul Khilaafah disebutkan:

“وواللهِ، إنه كان آدمَ الثاني للإسلام، والمظهرَ الأولَ لأنوار خيرِ الأَنام، وما كان نبيًا ولكن كانت فيه قُوى المرسلين.” (سِرُّ الخلافة)

‘Wa wallahi, innahu kaana Aadamuts Tsaani lil Islaam, wal mazh-haral awwalal li anwaari Khairil Anaam, wa maa kaana nabiyyan wa laakin kaanat fiihi quwal mursaliin.’

[7] Dalam Buku Sirrul Khilafah disebutkan:

“إنّ الله كان يعلَم بأن الصدّيق أشجعُ الصحابة ومِن التُقات وأحبُّهم إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ومن الكُماة، وكان فانيًا في حُبِّ سيّدِ الكائنات، وكان اعتادَ من القديم أن يمونَه ويراعيَ شؤونَه، فأسلى به اللهُ نبيَّه في وقتٍ عبوس وعيش بوسٍ، وخُصَّ باسم الصدّيق وقُرْبِ نبيِّ الثَّقَلَينِ، وأفاض الله عليه خلعةَ {ثَانِيَ اثْنَيْنِ}، وجعله من المخصوصين.” (سِرُّ الخلافة)

[8] Malfuuzhaat, jilid 1, halaman 365, edisi 2003, Terbitan Rabwah.

[9] Malfuuzhaat, jilid 3, halaman 286, edisi 2003, Terbitan Rabwah.

[10] Izaalah Auham, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 219.

Hadits ini, إن الشيطان يهرب من ظل عمر ‘innasy syaithaana yahrubu min zhilli ‘Umar’ – “Bahkan setan pun lari dari bayangan Hadhrat Umar.” Hadits, لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ Lau kaana ba’dii nabiyyun lakaana ‘Umara bn al-Khaththaab’ – “Jika ada lagi nabi sesudahku, itulah Umar, putra al-Khaththaab.” Hadits ketiga meriwayatkan,إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ‘innahu qad kaana fiimaa madha qablakum minal umami muhaddatsuuna wa innahu in kaana fii umatii haadzihi minhum fa innahu ‘Umar ubnul Khaththaabi’

Hadits pertama tercantum dalam karya al-Haitsami yaitu Majma az-Zawaid, 9/51 dan Fadhail Shahabah karya al-Imam Ahmad;

hadits ke-2 terdapat dalam Tirmidzi dalam Sunan-nya 5/619 no 3686, Ahmad dalam Fadhail Shahabah no 519 dan no 694;

hadits ke-3 diriwayatkan dalam Muslim dan juga Bukhari.

[11] Zharuuratul Imaam (Perlunya Imam), Ruhani Khazaain jilid 13, h. 473-474

[12] Dalam buku ‘Hujjatullah’ disebutkan:

“دُفن بجوار رسول الله رجلانِ كانا صالحَين مطهَّرَين مقرَّبَين طيِّبَين، وجعَلهما الله رفقاءَ رسوله في الحياة وبعد الحَيْنِ، فالرفاقةُ هذه الرفاقةُ، وقَلَّ نظيره في الثقَلَينِ. فطوبى لهما أنهما معه عاشا، وفي مدينته وفي مأواه استُخلِفا، وفي حُجرِ روضتِه دُفِنا، ومِن جنّةِ مَزاره أُدْنِيَا، ومعه يُبعَثان في يوم الدين.”

‘Dufina bi jawaari RasuliLlah rajulaani kaanaa shaalihaini muthahharaini muqarrabaini thayyibain, wa ja’alahumaaLlahu rufaqaa-a Rasuulihi fil hayaati wa ba’dal hain, far rafaqatu haadzihir rafaqah, wa qalla nazhiiruhu fits tsaqalain, fa thuuba lahuma annahuma ma’ahu ‘aasyaa, wa fii madinatihi wa fii ma-waahu istukhlifa, wa fii hujuri raudhatihi dufina, wa min jannati mazaarihi adniyaa, wa ma’ahu yub’atsaani fii yaumid diin.’

[13] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 326

“وأظهرَ عليّ ربي أن الصِدّيق والفاروقَ وعثمانَ كانوا من أهل الصلاح والإيمان، وكانوا من الذين آثرهم الله وخُصُّوا بمواهب الرحمن.” (سر الخلافة)

‘Wa azh-hara ‘alayya Rabbii anash-Shiddiiqa wal Faruuqa wa ‘Utsmaana, kaanuu min ahlish shilaahi wal iimaan, wa kaanuu minal ladziina aatsarahumulloohu wa khushshuu bi mawaahibir Rahmaan,’

[14] Dalam buku Sirrul Khilaafah, Ruhani Khazaain jilid 8 disebutkan:

“وأَيمُ اللهِ، إنه تعالى قد جعَل الشيخَينِ، والثالثَ الذي هو ذو النُّورَين، كأبوابٍ للإسلام وطلائعَ فوج ِخيرِ الأنام.” (سر الخلافة)

‘Wa aymullahi, innahu Ta’ala ja’alasy Syaikhain, wats Tsaalits alladzi huwa Dzun Nuurain, ka abwaabi lil Islaami wa thalaai’a fauji Khairil Anaam.’

[15] Sirrul Khilaafah, Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 358

كان – رضي الله عنه – تقيًّا نقيًّا مِن الذين هُمْ أحبُّ الناسِ إلى الرحمن، ومِن نُخَبِ الجِيْلِ وساداتِ الزمان. أسدُ اللهِ الغالب وفَتَى اللهِ الحنّان، نَدِيُّ الكَفِّ طيّبُ الجَنانِ. وكان شجاعًا وحيدًا لا يُزايل مركزَه في الميدان، ولو قابَلَه فوجٌ من أهل العدوان. أنفدَ العمرَ بعيشٍ أَنْكَدَ، وبلَغ النهايةَ في زهادةِ نوعِ الإنسان. وكان أوّلَ الرجالِ في إعطاءِ النَّشْبِ وإماطةِ الشَّجْبِ، وتفقُّدِ اليتامى والمساكينِ والجيران. وكان يجلّي أنواعَ بَسالةٍ في معاركَ وكان مَظْهَرَ العجائبِ في هَيجاءِ السيفِ والسِّنان. ومع ذلك كان عَذْبَ البيانِ فصيحَ اللسان. وكان يُدخِل بيانَه في جَذْرِ القلوب ويجلو به صدأَ الأذهان، ويُجْلي مَطْلَعَه بنور البرهان. وكان قادرًا على أنواع الأسلوب، ومَن ناضَلَه فيها فاعتذرَ إليه اعتذارَ المغلوب. وكان كاملاً في كل خير وفي طُرَقِ البلاغة والفصاحة، ومَن أنكر كمالَه فقد سلَك مسلَكَ الوقاحة. وكان يندُبُ إلى مُواساةِ المضطَرِّ، ويأمُر بإطعامِ القانعِ والمـُعْترِّ، وكان من عباد الله المقرَّبين. ومع ذلك كان من السابقين في ارتضاعِ كأسِ الفرقان، وأُعطِيَ له فَهْمٌ عجيبٌ لإدراكِ دقائقِ القرآن.” (سر الخلافة)

‘Kaana – radhiyallahu ‘anhu – taqiyyan naqiyyan minal ladziina hum ahabbun naasi ilar Rahmaan, wa min nakhabil jaili wa saadaatiz zamaan. Asadulloohil ghaalibu wa fatalloohil Hannaan, nudiyyul kaffi thayibul jinaan. Wa kaana syujaa’an wahiidan laa yuzaayilu markazuhu fil maidaani walau qaabalahu faujun min ahlil ‘udwaan. Anfadal ‘umru bi’aisyin ankada wa balaghan nihaayatu fii zahaadati nau’il insaan. Wa kaana awwalur rijaali fii i’thaa’in nasyabi wa imaathatisy syajabi wa tafaqqudil yataama wal masaakiini wal jiiraan. Wa kaana yujalli anwaa’u bisaalatin fii ma’aarika wa kaana mazh-harul ‘ajaaibi fii hijaa-is saifi was sinaan. Wa ma’a dzaalika kaana ‘adzbul bayaani fashiihul lisaan. Wa kaana yudkhilu bayaanahu fii jadzril quluubi wa yajluubiha shad-ul adzhaan, wa yajli mathla’uhu bi nuuril burhaan. Wa kaana qaadiran ‘alaa anwaa’il usluub, wa man naadhalahu fiihaa fa’tadzir ilaihi i’tidzaaral maghluub. Wa kaana kaamilan fii kulli khairin wa fii thuruqil balaaghati wal fashaahah, wa man ankara kamaalahu faqad salaka maslakal wiqaahah. Wa kaana yandubu ilaa muwaaasaatil madhthurra, wa ya’muru bi ith’aamil qaani’i wal mu’tarr, wa kaana min ‘ibaadallahil muqarrabiin. Wa ma’a dzaalika minas saabiqiina fii irtidhaa’i ka-sil Furqaan, wa u’thiya lahu fahmun ‘ajiibun li idraaki daqaa-iqul Qur’aan.’

[16] Detik-detik di malam hari sekitar kepergian Nabi s.a.w. keluar dari rumah beliau s.a.w. yang terkepung musuh di Makkah dan hendak menuju Madinah.

[17]Surmah Casyam Ariyah, Ruhani Khazain, jilid 2, halaman 65, baqiyah hasyiyah terjemahan bahasa Arab dari syair Farsi diatas adalah sbb:

لا أحد يقدّم رأسه للقطع ولا يضحي بنفسه في سبيل أحد هكذا، وإنما العشق والحب هو الذي يدفع المرء للموت بكل شوق وإخلاص.

[18] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 359

” وَلِي مُناسبةٌ لطيفةٌ بِعَلِيٍّ والحسينِ، ولا يَعْلمُ سرُّهَا إلا رَبُّ المشرقينِ والمغربينِ. وإني أُحِبُّ عليًا وابناه، وأُعَادِي مَنْ عَاداهُ، “

‘Wa lii munaasibatun lathiifatun bi ‘Aliyyin wal Husain, wa laa ya’lamu sirruhaa illa Rabbul masyriqaini wal maghribain. Wa inni uhibbu ‘Aliyyan wa bnaahu, wa u’aadii man ‘aadaahu.’

[19] Penerimaan tunjangan hidup dan berbagai syarat lainnya dalam penyerahan kekuasaan kepada Muawiyah adalah juga dalam rangka maslahat umat. Hadhrat Imam Hasan ra bukanlah seorang egois. Beberapa tahun itu telah terjadi perang sipil diantara kaum Muslimin dengan jumlah korban yang banyak. Dana yang beliau terima tidaklah jauh dari dalam rangka menyantuni para yatim dan janda-janda yang ditinggal oleh ayah-ayah atau suami-suami mereka korban perang.

[20] Putra Yazid yang dimaksud ialah Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan

[21] Malfuuzhaat, jilid 3, halaman 535, edisi 2003, terbitan Rabwah

[22] Kendati pun ada orang-orang Syiah yang mengucapkan kata-kata keras lagi penuh penghinaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s., beliau a.s. tetap melarang orang Ahmadi bereaksi secara emosional dengan menyebut-nyebut mengenai Imam Husain (yang dianggap sebagai Imam yang kesekian oleh orang Syiah) dengan kata-kata buruk. Hal demikian, adalah karena Hadhrat Imam Husain adalah pribadi yang benar lagi pantas sebagai Imam (panutan).

[23] Majmu’ah Isytihaarat jilid III halaman 544-546, selebaran 270, Rabwah

[24] Dikutip dari buku Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain, jilid 15, halaman 364-366, hasyiyah

[25] (Kalaam-e-Mahmud, Majmu’ah Manzhuum Kalaam Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani r.a., nazm ke-94, halaman 218)

[26] Doa ini adalah amalan Nabi Muhammad s.a.w. seperti tercantum dalam kitab hadits Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shalah, bab maa yaquulur rajulu idza khaufa qauman (apa yang sebaiknya diucapkan bila seseorang takut akan suatu kaum)

[27] Tadzkirah halaman 363, edisi ceharam (IV), terbitan Rabwah.