Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

4 Januari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

اَلَّذيْنَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (البقرة 263)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Surah Al-Baqarah : 263)

Pemahaman yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam mengenai kandungan ayat ini, hal itu tidak ada pada orang lain. Orang-orang ini mengorbankan hartanya secara murni, tanpa memikirkan diri sendiri. Mereka ingin mengorbankan harta. Bila mereka tidak mampu memberikan sesuai yang diinginkannya maka mereka menjadi gelisah. Demikianlah keadaan para Ahmadi lama, demikian pula para Ahmadi baru.

Sebuah Keluarga Ahmadi Arab: Kondisi Ekonomi Susah, Gelisah Karena tidak Membayar Candah Sepenuhnya

Baru kemarin saya bertemu dengan sebuah keluarga Arab. Keduanya, suami istri sangat terpelajar. Bergelar PHD (Doktor) Anak-anak mereka juga -masya Allah- sangat baik, dan condong pada agama. Walaupun mereka masih sangat muda, Ahmadi baru (Mubayi’in baru), mereka memiliki hubungan yang kuat dengan Jemaat dan dalam diri mereka ada gejolak perasaan juga.

Salah satu anaknya baru saja menginjak usia muda tapi sangat memperhatikan masalah agama. Usianya 12-13 tahun. Keluarga tersebut baru baiat beberapa bulan sebelumnya. Karena kondisi perekonomian dunia sekarang ini, mereka tidak punya pekerjaan. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan. Baru lulus dari menuntut ilmu.

Mereka menjalani kehidupannya dengan sangat sulit. Bahkan mereka meminjam dari kerabat untuk hidup. Perempuan itu  yang merupakan ibu anak-anak keluarga tersebut, berkata kepada saya dengan penuh kepedihan, “Hati saya selalu gelisah, sebab karena tidak punya pekerjaan kami tidak bisa memberikan candah dengan sepenuhnya.”

Saya menasehatinya, berdasarkan kondisi anda, apa yang bisa anda berikan, atau yang anda berikan, itu sudah cukup. Tapi dia berulang-ulang mengatakan, “Sekarang saya tidak ingin tertinggal dari para Ahmadi lainnya dalam pengorbanan apapun.” Padahal baru beberapa bulan sebelumnya dia baiat. Berulang-ulang terus menyatakan, “Saya sangat gelisah.”

Jadi, revolusi ini, yang timbul setelah baiat pada diri orang-orang yang beriman pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., setelah merasakannya, maka masalah menonjol-nonjolkan kebaikan (pamer) pun tidak akan timbul. Bahkan yang ada adalah kegelisahan bahwa “Kami tidak memberikan pengorbanan, atau tidak mencapai standar pengorbanan yang kami inginkan.”

Goncangan Perasaan Ahmadi yang Terkena Sanksi Khalifah: “Kami Mohon Jatuhkan Hukuman Lain. Tetapi Jangan Luputkan Kami dari Membayar Candah”

Kadang-kadang beberapa orang karena sebab tertentu diberi hukuman. Dalam hukuman tersebut dikatakan bahwa “jangan mengambil candah dari si fulan.” Atas hal itu orang tersebut menjadi gelisah dan menulis kepada saya, “Mohon berikan hukuman yang lain, tapi jangan berikan hukuman ini.

Pertama kami mohon maaf. kesalahan yang menyebabkan kami diberi hukuman, kami akan berusaha memperbaikinya. Kami akan berusaha memperbaiki diri kami. Tapi kalau harus memberi hukuman, maka demi Tuhan, jangan mahrumkan (luputkan) kami dari membayar candah sebab ini adalah sarana ketenteraman kami.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menciptakan Jemaat yang luar biasa, yang mereka mendapatkan ketenangan dan ketenteraman yang luar biasa dalam memberikan pengorbanan harta. Dan ketika dihalangi hati mereka menjadi gelisah.

Jadi hari ini di muka bumi ini tidak ada Jemaat lain yang memiliki semangat ini. Para penentang Jemaat sangat banyak memberikan pernyataan pengakuan. Tapi yang nampak dari pidato-pidato mereka kepada orang-orang mereka, yang sering kita dengar adalah, “Lihat Qadiani atau Mirzai (sebutan mereka kepada kita) betapa banyak mereka memberikan pengorbanan untuk tujuan-tujuan mereka, sedangkan kalian, iuran infaq untuk membangun satu mesjid atau suatu pekerjaan pun tidak ada perhatian.”

Pernyataan pengakuan para ulama ghair Ahmadi, maulwi, pengurus [organisasi] atau orang-orang [biasa], bukan hanya kita lihat di Pakistan dan Hindustan. Bahkan kita juga mendengar hal ini dari negara-negara Muslim di Afrika.

Kemudian jika mereka sedikit membelanjakan sesuatu, maka mereka menyatakan bahwa, “Lihat untuk mesjid anu, atau untuk pekerjaan anu demi kemajuan dan kemaslahatan masyarakat kami telah memberikan uang sebesar ini.” Kemudian, komite yang diberi, panitia-panita yang diberi, kadang-kadang mereka bertengkar karena hal ini, yakni, “Kami telah memberikan uang sebanyak ini, berikan bagiannya. Perhitungkanlah itu.” Atau, “Pembelanjaannya tidak seperti ini, uang itu tidak dibelanjakan dengan baik.”

Jemaat Tidak Meminta Bantuan Dana dari Pihak Lain

Ini juga adalah karunia Allah Ta’ala atas Jemaat, yakni berkat yang Allah berikan kedalam uang Jemaat Ahmadiyah, hal ini tidak nampak kepada mereka. Baru beberapa hari yang lalu, ketika saya meresmikan Jamiah Ahmadiyah Jerman, di sana seorang perwakilan surat kabar yang merupakan seorang Muslim, bahkan perwakilan surat kabar Pakistan, bertanya kepada saya bahwa, “Apakah anda meminta juga bantuan dari pemerintah atau yang lain untuk proyek ini?”

Maka saya berkata kepadanya, “Semua pekerjaan kami, dengan karunia Allah Ta’ala, berjalan dengan candah [iuran pengorbanan] orang-orang Jemaat, dan gedung ini juga berdiri dengan candah warga Jemaat.”

 Tetapi pengeluaran untuk gedung ini, jika ada departemen pemerintah membangun gedung sebesar ini, atau ada departemen lain yang membelanjakan uang untuk gedung ini, maka pengeluarannya akan jauh lebih banyak dari pengeluaran kita.

Allah Ta’ala juga memberikan berkat dalam uang Jemaat, dan dengan uang sedikit menghasilkan pekerjaan yang besar. Jadi candah yang warga Jemaat berikan dengan niat baik, sebegitu pula Allah Ta’ala memberikan berkat di dalamnya.

Dalam Pembelanjaan Uang Jemaat Harus Cermat dan Ekstra Hati-Hati

Di sini saya juga mengisyaratkan atau memberitahukan bahwa meskipun setelah memberikan candah tetapi warga Jemaat tidak bertanya, tidak pula menonjol-nonjolkan kebaikan, tapi orang-orang pengurus Jemaat yang membelanjakan uang harus sangat bijaksana. Mereka harus membelanjakannya dengan sangat hati-hati. Kita melihat kelapangan (keluasan) ini berkat syafaat doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Insya Allah pemandangan kelonggaran dan berkat dalam uang kita akan terus kita lihat.

Tetapi kita juga hendaknya memperhatikan kekhawatiran beliau bahwa beliau tidak khawatir sejauh berkaitan dengan darimana datangnya uang (yang jadi kekhawatiran adalah) jangan sampai hati orang yang membelanjakan uang terkena pengaruh buruk dunia dan merugikan harta Jemaat.

Ini adalah karunia Allah Ta’ala bahwa pembelanjaan uang Jemaat mengikuti selalu satu metode. Ada pengecekan di berbagai tempat. Tapi tetap saja orang yang membelanjakan, dimana dia harus memberikan perhatian, di sana hendaknya dia terus meminta pertolongan Allah Ta’ala dengan doa dan istighfar.

Ketika Jemaat maju, keuangan Jemaat menjadi mudah. Maka dimana para penentang meningkatkan usahanya, di sana mereka juga berusaha meletakkan rintangan di Jemaat melalui orang-orang munafik. Meskipun usaha-usaha mereka tidak berpengaruh, tapi kita harus selalu berhati-hati, dan hendaknya memberikan perhatian pada istighfar dan doa.

Karunia Allah pada Jemaat, pemandangan dukungan dan pertolongan setiap saat, itu akan terus kita lihat selama kita berusaha sekuat-kuatnya menjaga hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Saya tidak pernah khawatir bagaimana hendaknya menyelesaikan pekerjaan anu? Rancangan yang sudah disiapkan, selalu Allah Ta’ala sendiri yang mengaturnya.

Semata-mata Ihsan (Kebaikan) Allah Ta’ala

Ini juga poin penting yang menakjubkan bahwa bagaimana Allah Ta’ala menanamkan di dalam  hati para Ahmadi sehingga mereka sangat banyak memberikan pengorbanan. Ketika datang waktu untuk memberikan pengorbanan harta demi Allah Ta’ala maka orang Ahmadi juga memberikan pengorbanan dengan mengurangi makannya. Mereka tahan menanggung lapar, tapi tidak tahan jika mengingkari membayar candah atau menguranginya.

Inilah tanda Jemaat para nabi, yakni mereka selalu siap untuk segala macam pengorbanan dan melakukan pengorbanan, lalu berkata “Kami tidak melakukan apapun.” Mereka menganggapnya sebagai ihsan (kebaikan) Jemaat, ihsan Allah Ta’ala karena menerima candah dari mereka.

 Sebagaimana telah saya katakan bahwa ketika dilarang untuk menerima candah dari mereka, maka kebanyakan menjadi gelisah dan memohon supaya hukuman tersebut dicabut. Mereka berkata bahwa, “Jika menerima candah kami, maka ini adalah ihsan Jemaat atas kami.”

 Orang-orang yang baru bergabung, yang memahami nizam Jemaat, yang tarbiyatnya berjalan dengan baik, mereka juga berusaha maju dalam pengorbanan Jemaat. Kadang-kadang jika target [jumlah pengorbanan] yang telah ditetapkan oleh Jemaat-Jemaat, jika itu tidak terpenuhi, maka sebagian orang yang punya kemampuan berkata, “Kami akan memenuhi kekurangannya.”

Suara itu muncul dari diri mereka, mereka tidak terpaksa, mereka tidak ditekan, bahkan ada suara dari dalam diri mereka bahwa “Kami harus memenuhi kekurangan tersebut.”

Kabar Suka dari Allah Ta’ala

Kenapa bisa begini? Karena datang kepada mereka pernyataan dari AllahTa’ala bahwa ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون “wa laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yakhzanuun — dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih”  (Al Baqarah: 263)

Mereka beriman pada kehidupan Akhirat,  meyakininya, dan mereka memikirkannya, yang untuk itu mereka memberikan pengorbanan. Jadi ketika amal mereka seperti ini, maka mereka mendapat kabar suka dari Allah Ta’ala berupa surga. Mereka sedang membuat masa depan diri yang gilang-gemilang, yang penyempurnaannya adalah setelah mereka pergi dari dunia ini.

Tetapi Allah Ta’ala bukan hanya berfirman mengenai setelah mati, mengenai masa mendatang, tapi juga, di dunia ini pun Dia tidak mau berutang, dan disini juga memberikan ganjaran yang besar.

Dalam sebuah hadist Qudsi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Hai anak cucu Adam! Senantiasalah memberikan infaq, niscaya Aku akan memberikan belanja kepada kamu [sebagai gantinya].”[2]

Memang benar bahaw karunia Allah Ta’ala adalah untuk semuanya. Tapi bagi orang yang membelanjakan harta untuk agama-Nya, baginya ada karunia yang tidak terhitung. Jadi Allah Ta’ala tidak pernah berutang, dengan syarat kita memberikan pengorbanan dengan niat baik untuk memperoleh keridhaan-Nya.

Pengorbanan Harta Oleh Jemaat Di Berbagai Negara

[1] Jemaat Pedesaan Nigeria: ‘Labbaik’ atas Seruan Khalifah

Saat ini saya akan menyampaikan beberapa peristiwa yang darinya diketahui bahwa di setiap bagian dunia, di setiap negara, Allah Ta’ala telah menciptakan satu semangat pengorbanan yang khas dalam diri para Ahmadi, baik kaya maupun miskin. Kemudian setelah memberi pengorbanan, Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada setiap orang dari mereka untuk menambah keimanan  dan keyakinan mereka.

Nigeria adalah sebuah negara di daerah yang jauh di Afrika. Mubaligh Jemaat di sana menulis, “Tahun ini di rapat mubalighin pada kesempatan Jalsah Salanah, dalam kesempatan itu saya (khalifah-e-waqt) berkata kepada para mubaligh Afrika, ‘Di Afrika masih banyak ruang untuk jumlah orang yang ikut serta membayar candah. Hendaknya meningkatkannya.”

Beliau (mubaligh) berkata mengenai hal itu, “Ketika mereka pergi dan berbicara serta menyampaikan pesan ini kepada Jemaat Birni Koni di daerah mereka bahwa Khalifah-e-waqt telah bersabda begini dan begitu [peningkatan jumlah pengorbanan], maka mereka langsung mengatakan labbaik pada seruan tersebut dan meningkatkan pengorbanannya.”

  “Ketika dikatakan kepada mereka bahwa yang sebelumnya tidak ikut mereka hendaknya juga ikut serta, maka hal itu langsung berpengaruh pada mereka. Warga Jemaat di sana adalah pemilik tanah, orang-orang desa. Mereka tidak punya uang, tapi mereka memberikan dalam bentuk hasil panen.”

Beliau berkata “Warga Jemaat di wilayah Birni Koni mengatakan labbaik pada seruan anda.”

Sebuah desa yang sangat kecil, penduduknya hanya sekitar  150-an yang tahun lalu mereka memberikan 16 karung, sekarang memberikan 52 karung. Selain itu mereka juga memberikan candah uang tunai dua kali lipat dari tahun lalu.

Kemudian Amir Sahib Nigeria menulis, “Datang pesan dari Jemaat desa Gidan Barawoo, ‘Mohon mengambil candah karung-karung padi,’”

Beliau berkata, “Kami sedang pulang membawa candah itu dengan mobil. Waktu itu pukul 10 malam. Ketika kami melewati sebuah kampung Ahmadi Dabgawa kami melihat beberapa khuddam berdiri menunggu kami. Pukul 10 malam, dan mereka memberi isyarat dengan tangan untuk berhenti. Kami menghentikan mobil. Maka mereka memberitahukan, ‘Atas perintah Sadr Lajnah kami berdiri di sini dari sore menunggu anda lewat di jalan ini.’

 Sadr Lajnah desa tersebut, beliau berkata kepada Lajnah bahwa  hasil panen  yang mereka kumpulkan untuk candah, mereka hendaknya memberikannya secara terpisah untuk candah Lajnah. Maka para lajnah bekerja keras dengan keinginannya sendiri dan mengumpulkan padi mereka secara terpisah, dan khuddam tersebut berdiri di sana untuk memberikannya.

Itu adalah sebuah Jemaat miskin yang kecil, yang keadaannya sangat biasa, mereka juga memperlihatkan kerja keras, hubungan, dan kesetiaan yang sedemikian rupa.

Pengorbanan Harta  Seorang Ahmadi – Mantan  “Orang Musyrik”  — dari Benin

Kemudian dari Benin, mubaligh daerah Alada  menulis, “Ketua Jemaat desa Soyo setahun sebelumnya adalah termasuk dari kalangan orang-orang musyrik lalu menjadi Ahmadi. Sebelumnya seorang musyrik, penyembah berhala, lalu menjadi Ahmadi. Menjadi seorang yang tunduk kepada Tuhan nan Esa.

Ketika beliau dimintai candah Waqfi Jadid, beliau menyerahkan 450 frank CFA yang ada di rumah, dan tidak memikirkan hari ini apa yang akan dimakan waktu siang, karena sekarang tidak ada uang di rumah.

Beliau mengendarai  sepeda motor Ricksaw [mirip bajaj]. Setelah memberikan candah beliau membawa sepeda motornya keluar, ‘Tuhan pasti akan memberi sesuatu, kalau tidak siang, sorenya kita akan makan, apa bedanya. Untuk mengisi bensin sepeda motor pun beliau mesti meminjam.

Keesokan harinya beliau datang membawa tambahan 1000 Frank CFA dan memberitahu, ‘Murabbi Sahib, lihatlah bagaimana perlakuan Tuhan. Makan siang pun saya tidak pikirkan dan saya mengisi bensin sepeda motor Ricksaw dengan meminjam.

Tuhan telah memberikan begitu banyak penumpang kepada saya sehingga ketika saya keluar rumah dengan tangan kosong, bahkan berutang, saya pulang ke rumah membawa 2000 Frank CFA. Dan sekarang saya memberikan setengahnya sebagai tambahan candah. Setelah membayar utang masih tersisa uang sebanyak ini.’”

Pengalaman Buruk Tidak Membayar Candah

Amir Sahib Burkina Faso menerangkan seorang mubayi’ baru di daerah Bobo, Compore Said sahib berkata bahwa beliau, karena kesulitan uang, tidak membayar candah selama tiga bulan. Selama itu beliau kecurian, dan anak beliau yang masih remaja juga sakit keras. Beliau melakukan berbagai macam pengobatan tapi tidak sembuh.

Beliau berkata, “Suatu malam dalam mimpi saya melihat Hadhrat Khalifatul Masih (Khalifah ke V) datang dan mulai berkata kepada saya, ‘Anda telah beberapa bulan tidak membayar candah anda.’ Saya menjawab dalam mimpi, ‘Insya Allah dalam 20 hari akan saya bayar. Kemudian setelah berusaha saya membayar candah saya dalam 20 hari.’”

Beliau berkata, “Sejak hari itu anak sulung saya sembuh total dan bukan hanya sembuh bahkan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya kemudian dengan berkat-Nya Allah Ta’ala telah memberi taufik kepada saya untuk membeli sepeda motor baru. Dan semua ini adalah berkat dari pengorbanan harta yang, sebagai hasil dari peringatan khalifah-e-waqt saya berikan di jalan Allah.”

Sekarang (lihatlah) bagaimana Allah Ta’ala memperkuat keimanan para Ahmadi yang baru.

Keberkatan Membayar  Candah di Burkina Faso

Mubaligh Widgu, sebuah daerah di Burkina Faso menulis, “Ketua Jemaat desa Noki Badala di daerah tersebut, Diallo Sita Sahib berkata, ‘Beliau adalah petani, dan sebelum masuk Ahmadiyah pun beliau sudah bertani. Tapi tidak pernah mendapatkan panen seperti yang didapatkan setelah masuk Ahmadiyah.’

Dan lagi, beliau berkata, ‘Hanya satu sebabnya, dan itu adalah candah. Sejak kami masuk Ahmadiyah dan mulai membayar candah maka keadaan kami juga berubah. Dan sejak mulai membayar candah begitu banyak berkat dalam panen kami yang belum pernah kami lihat sebelumnya.’

Maksud beliau adalah begitu banyak berkat dalam candah bahwa awalnya, pertama beliau biasa memberi candah satu atau paling banyak dua karung padi. Dan tahun ini (bisa) memberi tujuh karung padi.”

Para maulwi mengatakan bahwa Jemaat ini menjadikan orang-orang miskin di Afrika dan di negara-negara miskin dengan memberikan uang kepada mereka. Jemaat memberikan uang apa? Lihatlah keadaan mereka ini, bagaimana mereka meningkatkan candah dengan mengorbankan diri sendiri.

Para anggota Lajnah Tidak Mau Kalah dalam Membayar Candah dengan Hasil Panen di Mali

Amir Sahib Mali menulis “Salah seorang muallim kami, Abdul Qadir Sahib memberitahukan bahwa di Jemaat Sonitigla para perempuan dan laki-laki Ahmadi menggarap ladang mereka secara terpisah..” — yakni selain tanah pertanian, ladang mereka, untuk membayar candah, para laki-laki dan perempuan menetapkan satu bidang tanah terpisah masing-masing, bahwa seberapapun hasil yang diperoleh kami akan memberikan semuanya sebagai candah kepada Jemaat  — beliau berkata, “Pada tahun 2011 ketika kami pergi ke sana setelah panen untuk mengambil candah, maka kaum laki-laki dan kaum perempuan mengumpulkan candah mereka secara terpisah. Ketika karung-karung tersebut dihitung, maka jumlah candah laki-laki sedikit lebih banyak.”

  Beliau berkata, “Ketika karung atau hasil panen ini dimasukkan ke mobil, maka para perempuan berkata, ‘Tunggu dulu, jangan pergi dulu!’ mereka pulang ke rumah dan mengumpulkan 2 karung lagi sebab karung laki-laki lebih banyak 1½ karung atau ½ karung dan mereka tidak ingin tertinggal dari laki-laki dalam bentuk apapun. Demikianlan mereka mengumpulkan candah 1½ karung lebih banyak dari kaum laki-laki.”

 Amir Mali menulis, “Ada seorang Mubayi’ baru Sa’id Watraware yang baiat 6 bulan sebelumnya dan bersamaan dengan itu memberikan candah 10.000 Frank CFA. Ketika muallim kami pergi lagi ke sana, beliau memberitahukan, ‘Sebelum baiat dan membayar candah saya dan anak istri sering sakit dan kami banyak sekali mengeluarkan uang untuk pengobatan. Tapi sejak saya mulai membayar candah, sejak saat itu saya beserta anak istri selalu sehat, dan jarang sakit dan biaya untuk pengobatan sangat berkurang. Ini semua berkat candah.’”

Membangun Mesjid dan Sekolah di Uganda

Amir Uganda menulis bahwa di Uganda para anggota Jemaat maju secara luar biasa dalam medan pengorbanan harta. Seorang teman kami yang berkelimpahan, Sulaiman Maghabi Sahib, penduduk Ambalah, sangat giat dalam pengorbanan harta dan candah.

 Beliau membangun dua mesjid yang indah di wilayah mubayyi’in baru, dan di satu wilayah beliau memberikan pengorbanan yang sangat besar, 50 juta shilling, untuk membangun satu blok sekolah yang lengkap. Awalnya beliau diminta untuk membangun sebuah mesjid.

Beliau menjelaskan sendiri “Sejak saya mulai memberikan pengorbanan harta, saya tidak tahu bagaimana dan dari mana Allah memberi kepada saya.”

Dari Jemaat Gambia: Merasa  Selalu “Kurang Banyak”

Amir Sahib Gambia menulis, “Seorang teman, Al-hajj Abdullah Balajo Sahib yang sejak sebelumnya telah membayar candah Waqfi Jadid, ketika beliau diminta lagi (pengorbanan) gerakan (Waqfi Jadid) beliau memberikan candah lebih besar daripada sebelumnya. Setelah itu, ketika ingat bahwa beliau telah membayar dua kali, atas hal itu beliau dengan sangat gembira berkata, “Ini adalah gerakan Khalifah-e-Waqt yang penuh keberkatan, seberapa pun yang saya berikan di dalamnya tetap saja kurang.”

Ghair Ahmadi Pendengar Setia Siaran Radio Ahmadiyah di Burkina Faso memiliki Kesan Baik  Atas Sistem Candah  di Ahmadiyah; Ikut Menyumbang untuk Radio

Mubaligh Burkina Faso, tepatnya di wilayah Leo menulis, “Pada 10 Agustus 2012 seorang kakek bernama Baacoungou Adama datang ke rumah misi pagi-pagi dan memberitahukan, ‘Setiap hari saya mendengarkan radio Ahmadiyah secara rutin, dan di rumah hanya stasiun ini yang selalu hidup. Seberapa besar radio ini mengkhidmati Islam, tidak mungkin menggambarkannya dengan kata-kata. Saya tidak bisa melakukan apapun sebagai ungkapan rasa syukur saya. Saya hanya ingin mempersembahkan uang yang sangat sedikit ini kepada radio.

Orang tua tersebut mengeluarkan 100.000 Franc CFA dan memberikannya sebagai candah, yang — khususnya untuk orang-orang petani — sangat berat. Kepada orang tua tersebut dijelaskan sistem candah Jemaat kemudian diberi kwitansi candah. (beliau sampai saat itu belum Ahmadi, beliau mendapat kesan itu ketika masih ghair Ahmadi) beliau berkata, ‘Karena kalian menyampaikan tabligh Islam, maka saya memberikannya.’

   Setelah itu ketika kami menjelaskan sistem candah kepadanya dan memberikan kwitansinya juga maka beliau berkata, ‘Kebenaran Ahmadiyah telah masuk ke dalam hatiku. Karena saya sangat banyak memberikan candah di jalan Allah, tapi saya tidak melihat sistem candah yang sangat transparan seperti ini di manapun kecuali di Ahmadiyah.’”

 

Jemaat Benin: Berkat Candah, Berdamai dengan Mertua 

Dari Benin, seorang muallim lokal, Zakaria Raimi Sahib menerangkan, “Karena pertengkaran dengan mertua, mertua membawa istri Garba Ibrahim Sahib yang sedang hamil. Hingga melahirkan pun di sana (di rumah mertua Garba Ibrahim). Dan Allah Ta’ala menganugerahkan anak laki-laki. Garba Ibrahim Sahib melakukan segala usaha untuk membawa anaknya pulang. Kasus terus berjalan sampai bertahun-tahun. Tetapi beliau tidak mendapatkan apapun kecuali kegagalan. Beliau telah menjadi Ahmadi 5 tahun sebelumnya, tetapi tidak memberitahukan keadaannya tersebut kepada seorangpun.”

Tahun ini ketika kasusnya juga kalah, kemudian beliau datang kepada Muallim Sahib dan menceritakan semua kisahnya, serta memohon doa. Hari-hari itu adalah masa candah Waqfi Jadid. Muallim Sahib berkata, “Kami yakin bahwa masalah-masalah akan selesai dengan membelanjakan harta di jalan Allah. Engkau sudah Ahmadi sejak dulu tapi tidak memberikan perhatian kepada candah. Biasakanlah membayar candah. Dengan itu Tuhan akan menjauhkan kesulitan-kesulitan.”

Maka Garba Sahib membayarkan candah 2000 Frank CFA pada kolom Waqfi Jadid.

  Kemudian tiga hari yang lalu datang telepon dari beliau, “Allah Ta’ala telah memperlihatkan berkah candah kepada saya. Allah Ta’ala telah mengembalikan anak saya. Mertua saya sendiri membawanya kepada saya dan berkata, ‘Rawatlah sendiri keturunan engkau,’ dan beliau juga tidak meminta ganti rugi apapun. Padahal sebelumnya saya siap untuk membayar segala biaya, tapi beliau tidak memberikan anak ini.”

Keberkatan-Keberkatan   Membayar Candah di Berbagai  Tempat Lainnya (Tanzania dan India)

Dari Tanzania, tuan Hasan Taufik menjelaskan bahwa sebelumnya beliau memberikan candah yang sangat kecil. Mubaligh Ahmadiyah mengingatkan beliau. Mubaligh mengundang makan di rumah, menerangkan dengan panjang lebar mengenai pentingnya dan berkat-berkat candah.

Allah Ta’ala memberikan karunia. Beliau berkata, “Sekarang saya membayar candah secara teratur dan pelan-pelan juga mulai meningkatkan candahnya.”

Beliau berkata lagi, “Sebelumnya saya tidak punya rumah. Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala saya sudah ikut nizam Al-Wasiyat, dan dengan berkat candah dalam beberapa tahun ini saya menjalankan perusahaan kecil Sunflower Oil, membangun rumah saya, membeli tiga buah flat di kota Dodomah, terus membantu anak-anak dari kerabat saya yang tidak mampu, dan mengambil PhD dengan biaya sendiri. Semua ini semata-mata karunia istimewa Allah dan berkat candah.”

Berkaitan dengan seseorang dari Kalikut, India, candah   Waqfi Jadid beliau, dengan karunia Allah Ta’ala adalah 201.000 rupee. Beliau menuliskan semua candah ini melebihi kemampuan beliau, dan dengan yakin sepenuhnya pada Allah Ta’ala beliau berkata, “Saya ikut serta dalam pos-pos candah (iuran, infaq) dengan jumlah yang sangat besar, maka Allah Ta’ala akan memberikan berkat dalam perdagangan saya dan perdagangan akan maju.”

 Pada akhir tahun keuangan beliau berkata pada inspektor Waqfi Jadid yang datang kepada beliau untuk menarik candah, “Berdoalah secara khusus, sebab dalam rekening saya sama sekali tidak ada uang. Sementara akhir tahun buku (keuangan) tinggal beberapa hari lagi.”

Beliau menulis cek dan menyerahkannya, dan pendeknya Allah Ta’ala memberikan karunia dan di akhir tahun beliau mendapat pemasukan, dan dengan karunia Allah Ta’ala semua uang tersebut terbayar.

Demikian juga ada seorang bernama Rahman Sahib yang berasal dari Kerwalai, daerah Kerala, India. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah Mushi.

Inspektur [bagian Wasiat] berkata, “Saya melihat, dalam setiap pos candah terdapat setiap kotak candah yang terpisah. Beliau membuka satu kotak di depan saya. Setelah itu berkata pada istrinya, ‘Keluarkanlah simpanan engkau!’ kemudian beliau mengeluarkan dari simpanan istrinya, selain memenuhi perjanjian, beliau memberikan tambahan candah sejumlah 175.000 rupee.

 Dengan karunia Allah Ta’ala sampai sekarang beliau telah membayar candah Waqfi Jadid sejumlah 779.000,- Rupee. Di India sebelumnya tidak ada perhatian, tapi dengan karunia Allah Ta’ala sekarang timbul perhatian yang besar.”

Andhra Pradesh, India: Tidak Mau Meminta “Keringanan” dari Markaz

Mukaram Iqbal Sahib Kandori, Inspektur Waqfi Jadid Andhra Pradhesh menulis, “Ada seorang anggota Jemaat Jhat Carlah. Umurnya baru 25 tahun. Tapi dengan karunia Allah Ta’ala dalam pengorbanan harta, di daerah Andhra beliau adalah yang terdepan. Beliau telah menulis perjanjian sejumlah 66.000 untuk tahun 2011, tetapi karena kondisi bisnis, walaupun telah berusaha keras, beliau tidak mampu membayarnya, sehingga beliau merasa agak malu.

Sudah menulis perjanjian tapi tidak mampu membayarnya karena tidak ada pemasukan, jadi ini karena terpaksa. Beberapa teman sampai memberikan saran, ‘Tulislah permohonan maaf ke Markaz.’ Tapi semangat beliau dalam bidang pengorbanan harta sedemikian rupa, sehingga beliau berkata kepada mereka, ‘Saya telah berjanji demi Allah Ta’ala kepada Jemaat, dan Allah pasti akan memenuhi janji saya.’”

 Kemudian Inspektur berkata, “Pada 2012, ketika saya  sampai untuk mengambil perjanjian, beliau menambahkan perjanjiannya dibandingkan tahun lalu menjadi 77.000, padahal waktu itu juga beliau masih dalam kesulitan keuangan.” Sekretaris berkata, “Pada bulan Mei ketika saya datang untuk menarik candah, selain perjanjian tahun sebelumnya dan tahun 2012, beliau juga membayar tambahan 24.000 rupee. Dan beliau berkata, “Ini adalah berkat candah. Berkat doa-doa Khalifah-e-Waqt sehingga saya selamat dari masalah keuangan ini, dan saya membayar perjanjian dua tahun itu sekaligus.”

Kemudian dari India, Inspektur Waqfi Jadid Ai Arnssar menulis, “Dalam kunjungan keuangan Waqfi Jadid, saya pergi ke Jemaat Ahmadiyah Kombitor wilayah Tamil Nadu untuk meminta perjanjian. Nazim Mal Waqfi Jadid juga menemani saya. Makan siang disiapkan di rumah Sulaiman Sahib, seorang Ahmadi yang mukhlis.

Perjanjian candah Waqfi Jadid beliau untuk tahun 2011 adalah 160.000 ribu, dan pada akhir tahun beliau menanggung cukup banyak kesusahan untuk menyempurnakan, dan bisa dengan sangat sulit membayarnya. Beliau untuk tahun ini dengan keinginan sendiri menulis perjanjian sebesar 550.000.”

Beliau berkata, “Atas hal itu timbul rasa khawatir dalam diri saya bahwa beliau membayar perjanjian sebesar 150.000 dengan sangat kesulitan di hari-hari akhir. Bagaimana beliau akan memenuhi perjanjian dengan tambahan sebesar tiga kali lipat? Tetapi, Mukaram Nazim Mal Sahib beserta saya. Jadi saya tidak bisa lain selain menulisnya.”

   Beliau berkata, “Setelah makan dan berdoa kami keluar dari sana. Kami pergi ke rumah lainnya bersama ketua untuk berdoa. Setengah jam kemudian, ketika kami sampai ke mesjid bersama Mukaram Nazim Mal Sahib dengan mobil ketua, beliau berdiri di depan mesjid. Mukaram Nazim mal Sahib dan saya masih duduk di dalam mobil ketika Sulaiman Sahib datang dan memberikan sebuah kantong plastik, dan mulai berkata, ‘Setelah makan hendaknya juga makan manisan.’

 Inspektur Sahib berkata, “Saya berkata, ‘Maulwi Sahib, yakni Nazim Sahib Mal, beliau diabetes. Beliau tidak boleh makan manisan, saya akan makan.’ Ketika Nazim Sahib akan memberikan kantong tersebut kepada saya, maka orang ini yang telah melakukan perjanjian candah, yang memberikan kantong manisan untuk dimakan, berkata, ‘Maulwi Sahib, setelah melihat kantong itu berdoalah lagi.’Ketika Maulwi Sahib membuka kantong beliau terdiam. Beliau tidak bisa berkata-kata.”

Ai Arnsar berkata, “Dua kali saya bertanya kepada beliau, tapi beliau tidak bisa berkata-kata.”

Setelah itu Nazim Sahib, yakni Maulwi Sahib memberikan kantong kepada beliau (Ai Arnsar). Beliau berkata, “Ketika saya melihat, di dalamnya ada uang 550.000 rupee.  Air mata saya mengalir dan keluar doa-doa untuk beliau, bahwa bagaimana Allah Ta’ala telah mengatur untuk beliau, dan beliau telah membayar candah ini.”

Kemudahan Pengurusan Suaka di Kanada Berkat  Candah dan Pembangunan  Mesjid  Norwegia

Sadr Brompton, Kanada menulis, “Seorang teman yang datang dari USA ke sini, ke Kanada, meminta suaka di Kanada. Masalah permintaan suaka beliau menjadi cukup rumit. Beliau telah mengumpulkan uang sebesar 5.000 dolar untuk biaya perjalanan ibu beliau ke Jerman. Ketika beliau dihubungi untuk masalah candah, beliau bukan hanya membayarkan uang 5.000 dolar yang telah beliau kumpulkan, bahkan beliau juga memberikan semua yang beliau punya. Sebagai balasannya Allah Ta’ala memberikan karunia-karunia kepada beliau. Masalah suaka beliau  selesai tanpa ada kesulitan lagi. Bahkan ibu beliau juga seminggu kemudian berangkat ke Jerman.”

Amir Norwegia menjelaskan, “Suatu hari di sebuah Jemaat lokal diminta perhatiannya untuk pembangunan masjid Baitul Nashr. Beberapa lama kemudian. Pada musim salju yang sangat dingin Abdul Rahim Ahmadi Sahib (almarhum) tiba di rumah misi dan menyampaikan bahwa beliau mempunyai uang 77.000 Crown, beliau ingin menyerahkan semuanya untuk pembangunan mesjid.”

Jadi demikianlah, sebagian orang benar-benar tidak peduli, tanpa memikirkan hal lain membelanjakan demi Allah Ta’ala. Sebab mereka tahu bahwa yang diberikan dengan niat baik akan mendapatkan derajat pengabulan disisi Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala pasti akan memberikan balasannya.

Saya telah menjelaskan peristiwa-peristiwa candah ini. Ini adalah rangkaian cerita-cerita pengorbanan yang tidak akan pernah berakhir. Inilah orang-orang yang, setelah berjanji memberikan pengorbanan harta, mereka mengerahkan segala usaha untuk memenuhinya.

Pengumuman Tahun Baru “Perjanjian Waqfi Jadid” dan Peringkat Pembayaran Tahun Sebelumnya

Setelah itu, sebagaimana pada Januari diumumkan awal tahun baru Waqfi Jadid, saya juga akan mengumumkan Waqfi Jadid untuk tahun ke-56. Dan menyampaikan laporan tahun lalu. Dengan karunia Allah Ta’ala pada tahun ke-55, yang merupakan tahun 2012 yang lalu, yang berakhir pada 31 Desember, Jemaat telah memberikan pengorbanan 5.010.000 Pound. Lebih banyak 317.000 dari tahun sebelumnya.

Pakistan tetap mempertahankan posisinya. Kemudian di luar Pakistan, nomor 2, atau jika hanya membandingkan negara-negara di luar Pakistan, kita (Inggris) mulai jadi nomor satu. Maka kali ini ada kabar gembira bagi kalian karena kali ini dalam Waqfi Jadid Inggris ada di urutan pertama. Amerika nomor 2, Jerman nomor 3, Kanada 4, India 5, Australia 6, Indonesia 7, Belgia 8, sebuah negara Timur Tengah nomor 9, dan Switzerland nomor 10.

Indonesia Nomor 3 Dalam Hal Persentase Penambahan

Dalam hal jumlah uang, dibandingkan tahun lalu, tiga negara berikut ini memiliki penambahan yang signifikan dalam sumbangan : Australia 42,5%, India 31,5%, dan Indonesia nomor tiga, 25,19%. Selain itu, Perancis, Norwegia, dan Turki juga membuat penambahan yang signifikan dibandingkan tahun lalu.

Dalam hal persentase yang dibayarkan oleh masing-masing pembayar secara perorangan di berbagai Jemaat, yang menonjol adalah: Amerika nomor 1, walaupun pemasukan secara keseluruhan adalah nomor 2. Yakni jika dihitung setelah Pakistan, adalah nomor 2 atau nomor 3.

Tapi dari segi persentase pembayaran, Amerika nomor 1. Secara rata-rata, mereka membayar sekitar 88 Pound [per orang]. Switzerland membayar lebih dari 55 Pound. Inggris sekitar 40 Pound, Belgia sekitar 39 Pound dan Kanada sekitar 32 Pound.

  Pada tahun ini juga ditarik perhatian kepada jumlah pejanji. Dengan karunia Allah Ta’ala, negara-negara Afrika memberikan perhatian yang istimewa terhadap hal ini. Jumlah keseluruhan pejanji Waqfi Jadid adalah 1.013.112 orang. Tahun lalu ada 690.000 orang, yakni ada 323.000 peserta baru pembayar candah Waqfi Jadid. Masya Allah. Hal yang paling utama adalah peningkatan jumlah partisipan sehingga keimanan dan keyakinan setiap orang bertambah. Sebab pengorbanan harta adalah bagian keimanan yang sangat penting.

Peringkat  Jemaat-Jemaat di Afrika dan Peringkat Kelompok Athfal

Dari segi peningkatan jumlah peserta, diantara Jemaat-Jemaat Afrika Nigeria nomor 1, nomor 2 Ghana,lalu Sierra Leone, Benin,Nigeria, Burkina Faso, Ivory Coast Kemudian, di negara-negara kecil, Kamerun, Mali, Senegal, Togo, Gini Konakari juga meningkat.

Kemudian negara-negara lainnya di luar Afrika, Jerman dan Inggris yang paling banyak peningkatannya. Tahun ini untuk pertama kalinya di Jemaat Kababir (Haifa) juga ada sedikit pergerakan, ia juga maju secara mencolok.

Di Afrika, lima Jemaat pertama dari segi penerimaan total; nomor pertama Ghana, semoga mereka selalu menegakkan kemuliaan ini. Lalu nomor 2 Nigeria. Nomor 3 Mauritius. Keempat Burkina Faso, dan Ivory Coast (Pantai Gading).

Tiga Jemaat pertama di Pakistan, nomor pertama Lahore. Kedua Rabwah. Ketiga Karachi. Untuk kelompok dewasa, urutan wilayah adalah, Rawalpindi nomor pertama, lalu Islam Abad, Faishal Abad, Syaikhupura Gujranwala, Umarkot, Gujrat, Narowal, Haidarabad, dan Sangghar.

Kelompok Athfal tiga Jemaat besar urutannya adalah; Lahore nomor 1. Karachi nomor 2, dan Rabwah nomor 3. dari perhitungan, posisi distrik kelompok Athfal, nomor pertama Rawalpindi, lalu Islam Abad, Faisalabad, lalu Umarkot.

Umarkot secara perbandingan adalah distrik yang miskin, tapi dengan karunia Allah Ta’ala dalam pengorbanan mereka ada di depan. Lalu Gujarat, Haidarabad, Okara, Bawalpur, dan Derah Ghazi Khan.

Dari segi penerimaan total, sepuluh Jemaat di Inggris adalah sebagai berikut; Raynes Park nomor 1, Birmingham Barat nomor 2, lalu Worcester Park, New Malden, West Croydon, Birmingham Tengah, Baitul Futuh, Gillingham, Earlsfield, dan Wimbledon.

Dari segi penerimaan, lima daerah pertama di Inggris adalah: nomor 1 Midlands, SouthRegion, London, Middlesex, lalu North East.

Dari segi penerimaan, lima Jemaat pertama di Amerika adalah: Los Angeles Inland Empire. Silicon Valley nomor 2. lalu Detroit, Seattle, dan Chicago Barat.

Dari segi penerimaan, wilayah di Jerman adalah: Hamburg nomor 1. Hamburg juga, Masya Allah, mengalami banyak kemajuan. Frankurt nomor 2. Grosgrow,  Darmstadt, Wesbodend, Main Frankfrut, Heizen West, Nodrain, Heizen Wete, Button.

Dari segi penerimaan, sepuluh Jemaat pertama di Jerman adalah Roadher Mark, Nowest, Hannover, Fredburg, Orghinzam, Hidelburg, Fulda, Francehaim, Winegarden, dan Moerfildan.

Kelompok Atfhal, dari segi penerimaan, lima Jemaat pertama di Kanada adalah Calgary, Peace Village South, Edmonton, Durham and Surrey East.

Dari segi penerimaan, wilayah India adalah, Kerala nomor 1, Tamil Nadu nomor 2, Jammu Kashmir, Andhra Pradesh, West Bengal, Karnataka, Orissa, Qadian juga masuk wilayah Punjab, Utter Pradesh Maharashtra dan Dehli.

Jemaat-Jemaat India dari segi penerimaan, Kombitor nomor 1,Calicut nomor 2, Keralai, Kannur Town, Qadian, Haidarabad, Calcutta, Pyangari, Chinnai, Bangalore, dan Risyinagar.

 

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Semoga Allah Ta’ala memberikan berkat yang tidak terhingga pada harta dan jiwa orang-orang yang memberikan pengorbanan. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Allah Ta’ala menyayangi dan mengasihi hamba-hamba-Nya yang mengutamakan agama di atas dunia. Sebab Dia sendiri berfirman والله رؤوف بالعباد ‘wallaahu ra’uufun bil-‘ibaad’ – “Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah, 2: 208). Mereka adalah orang-orang yang telah mewaqafkan kehidupan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka di jalan Allah Ta’ala, dan mereka menganggap bahwa mengorbankan jiwa mereka di jalan Tuhan dan membelanjakan harta di jalan-Nya sebagai karunia dan keberuntungannya.

Akan tetapi orang-orang yang menjadikan harta benda dunia sebagai tujuan utamanya, mereka melihat agama dengan pandangan malas. Tetapi hal itu bukanlah pekerjaan mukmin hakiki dan Muslim yang benar. Islam sejati adalah mewaqafkan seluruh kemampuan dan kekuatannya di jalan Allah Ta’ala selama hidup, sehingga menjadi pewaris kehidupan yang baik.” [3]

Semoga kita selalu menjadi orang yang terus maju dalam segala jenis pengorbanan di jalan Allah Ta’ala.

Keadaan Kritis di Libya

Selain itu saya juga ingin menggerakkan Jemaat untuk berdoa. Di Libia sekarang ini keadaan sangat kritis untuk para Ahmadi. Di sana tidak ada pemerintahan. Nampaknya setiap daerah ada di bawah kekuasaan organisasi atau kabilah tertentu, dan para Ahmadi kita ditangkap. Dan di beberapa tempat ada kabar bahwa mereka sedang dianiaya juga.

Pendeknya, polisi, atas perintah para ulama, atas perintah organisasi-organisasi, menangkap dan memenjarakan mereka (para Ahmadi itu), dan di sana para Ahmadi dalam keadaan yang cukup sulit. Khususnya orang-orang non-Libya. Semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana untuk kebebasan dan kemudahan mereka.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih Muslim, Kitab az-Zakaat, Bab al-Hatstsi ‘alan nafaqati wa tabsyiril munfiqi bil khalaf  (Dorongan membelanjakan harta dan pemberian kabar gembira kepada orang yang membelanjakan harta dengan gantinya), ‘Yaa bna Aadam! Anfiq! Unfiq ‘alaik’ Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Hai anak cucu Adam, berinfaklah kalian, maka Aku akan memberi ganti kepadamu. Rasulullah saw. bersabda: Anugerah Allah itu penuh dan deras. Ibnu Numair berkata: (Maksud dari) mal’aan adalah pemberian yang banyak dan mendatangkan keberkahan, tidak mungkin terkurangi oleh apapun di waktu malam dan siang.

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالاَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ». وَقَالَ: «يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى- وَقَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ مَلآنُ- سَحَّاءُ لاَ يَغِيضُهَا شيء اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ».

[3] Malfuzhat jilid 1 hal 364, edisi 2003, cetakan Rabwah