Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

3 September 2004 di Mesjid Zurih, Switzarland

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

            يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.An-Nur 28-29

Di dalam setiap masyarakat terdapat tatakrama pergaulan, orang yang berjumpa dengan tatacara yang baik dianggap memiliki akhlak yang baik, orang-orang yang berakhlak baik manakala mereka berjumpa maka mereka menatap satu dengan yang lain dengan senyum dan muka manis yang ceria. Satu dengan yang lain tidak saling mengenal sekalipun tetap di wajah terdapat kelembutan. Dan orang yang tidak berjumpa dengan baik umumnya dinyatakan sikap antipati atau kemarahan padanya bahwa orangnya berakhlak sangat buruk, dalam urusan suatu pekerjaan saat dijumpai, dia menampilkan akhlak yang sangat buruk, dia merupakan pemilik akhlak yang sia-sia tak berguna, tadinya andaikata tidak ingin mengerjakan pekerjaan tidak apa-apa dia tidak lakukan tetapi sekurang-kurangnya dia berjumpa dengan sopan santun dll, terjadi hal-hal seperti itu terhadap orang seperti itu. Jadi, hal-hal seperti itu senantiasa timbul di dalam hati terkait dengan orang yang tidak menampilkan akhlak yang baik, sebagaimana sebelumnya saya telah katakan.

Kemudian saat perjumpaan /pergaulan berbagai masyarakat satu dengan yang lain terdapat berbagai cara penzahiran ungkapan dengan berbagai gerakan –gerakan. Ada yang dengan cara menundukkan kepala mengungkapkan perasaan gejolak hatinya , ada yang dengan menggunakan posisi rukuk menzahirkan gejolak rasa hormatnya, ada yang dengan menyatukan dua telapak tangan lalu mengangkatnya sampai ke mukanya untuk menzahirkan rasa gembira saat berjumpa. Kemudian sambil menanyakan kabar berita orang-orang berjabatan tangan juga. Tetapi cara yang Islam ajarkan pada kita,halmana Jemaat orang-orang mu’min,setiap warga masyarakat Islam seyogianya menanamkan kebiasaan itu dalam diri mereka adalah mengucapkan salam. Yakni kirimlah doa keselamatan kepada yang satu dengan yang lainnya dan kemudian inipun dia beritahukan dengan rinci bahwa bagaimana mengirim doa keselamatan dan kemudian pihak kedua pun kepada siapa diucapkan salam, seperti itulah sekurang-kurangnya, jawablah sekurang-kurangnya dengan kata-kata itu. Bahkan jika ada peluang memberikan jawaban dengan kata-kata yang lebih baik maka jawablah dengan jawaban yang lebih baik. Apabila serupa itu kamu mengucapkan salam kepada satu dengan yang lain maka untuk satu dengan yang lain dikarenakan mungkin kalian melakukan itu dengan gejolak yang baik karena itu akan lahir juga nuansa cinta dan kasih sayang di dalam diri kalian.

Kemudian memberitahukan juga bahwa oleh karena masyarakat Islam merupakan masyarakat yang menyebarkan keselamatan dan rasa aman, maka ingatlah pula bahwa apabila kamu pergi berjumpa di rumah seseorang,maka di dalam waktu yang berbeda manusia memiliki kondisi-kondisi yang beragam, kondisi tabeat manusia berbeda karena itu apabila kamu pergi untuk berjumpa di rumah seseorang dan tuan rumah akibat sejumlah keterpaksaan- keterpaksaan tidak dapat menjawab salam kamu atau sesuai dengan harapan-harapan kamu tidak memperlakukan dengan baik kepada kamu, maka janganlah biasa marah. Janganlah cepat-cepat menzahirkan kemarahan,tetapi dengan menunjukkan rasa besar hati dengan diam-diam kembalilah kamu. Dan jika kamu melakukan amal seperti itu, maka kamu akan menjadi orang yang menyebarkan keselamatan ke segala penjuru dan kalian akan menjadi orang yang menegakkan masyarakat yang penuh rasa aman.

Dua ayat yang telah saya tilawatkan kalian telah mendengarkan terjemahannya juga. Di dalamnya disampaikan beberapa nasehat-nasehat yang begitu cantiknya untuk menegakkan masyarakat Islam yang cantik dan untuk menjadikan hubungan antara sesama senantiasa menjadi yang terbaik.Hal pertama yang beliau terangkan adalah ruang lingkup daerah amalmu hanya rumah kamu sendiri. Kamu andaikata dapat masuk dengan bebas, maka itu adalah masuk ke rumah-rumah kamu sendiri. Janganlah ke rumah seseorang asal mau masuk, kamu masuk. Dari itu kamu akan selamat dari banyak keburukan-keburukan dan dari hal-hal yang sia-sia.

Jika untuk berjumpa dengan seseorang atau untuk pekerjaan kamu pergi,maka pertama mintalah izin pada tuan rumah dan karena dalam meminta izin itu banyak sekali faedah-faedahnya. Hadhrat Muslih Mauud r.a jelas menulis : Dengan tampa izin masuk ke rumah seseorang bisa jadi kamu akan dituduh melanggar batas –batas norma-norma akhlak dan kamu dituduh mencuri. Oleh karena itu izin itu tidak perlu membuat masaalah datang.(menjadi masaalah untuk datang) Di dalam itu pun merupakan penghematan untuk dirimu sendiri dan hubungan-hubungan kamu dengan tuan rumah , dalam kamu meminta izin , akan terdapat faedah di dalamnya.

Kemudian barang yang sangat penting,hal yang sangat perlu adalah bagaimana cara untuk meminta izin. Bersabda , bagaimana meminta izin. Cara meminta izin ialah mintalah izin dengan mengucapkan salam, katakanlah salam dengan suara tinggi/keras. Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw berada di rumah. Seseorang datang mengetuk pintu lalu meminta izin untuk masuk ke dalam. Beliau bersabda pada pelayan beliau, pergilah padanya dan ajarkan cara padanya untuk meminta izin. Yaitu pertama ,ucapkanlah salam, kemudian baru kamu meminta izin masuk ke dalam. Sebab, inilah merupakan sebuah cara yang dari itu kamu juga tengah mensucikan dirimu dan kepada tuan rumah juga kamu menyampaikan keselamatan. Dengan menyampaikan amanat perdamaian ini akan senantiasa timbul rasa kesadaran bahwa saya telah menyampaikan amanat keselamatan dan kini untuk keluarga tuan rumah itu saya akan senantiasa menjadi duta kedamaian dan akan tetap menjalin hubungan yang baik dengan mereka; dan kemudian tuan rumah juga yang dalam jawaban hanya menjawab keselamatan, maka tentu kemudian dengan cara seperti itu akan lahir nuansa gejolak –gejolak cinta dari kedua belah pihak.

Terkait dengan izin masuk ke rumah setelah mengucapkan salam tertera dalam sebuah riwayat lain yang diriwayatkan Hadhrat Jabir r.a bahwa saya/beliau hadir di hadapan Rasulullah saw dalam urusan hutang ayah saya. Saya mengetuk pintu Rasulullah saw maka beliau bersabda, siapa ? Saya menjawab ,saya. Beliau bersabda, apa ini saya, saya yang kamu katakan. Seolah-olah beliau tidak menyukai dilakukan perkenalan diri tampa mengucapkan salam Bukhari kitabul isti’dzaan bab idz qaala man dza

Hal ini merupakah perkara yang sangat beliau tidak sukai bahwa seorang muslim tidak membiasakan salam dan begitu saja berupaya masuk ke rumah seperti orang-orang kampung.

Dalam kaitan ini juga terdapat perintah Allah yang sedemikian jelas sebagaimana Dia berfirman

فاذا دخلتم بيوتا فسلموا على انفسكم تحية من عند الله مباركة طيبة faiza dakhaltum buyuutan fasallimu ‘alaa anfusikum tahiyyatan min ‘indillahi mubaarakatan thayyibatan An-nur 62 -Maka apabila kamu memasuki di rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada kepada dirimu sendiri.Berkaitan dengan itu Hadhrat Muslih Mauud r.a bersabda: Yakni kepada keluarga kamu dan kawan-kawanmu yang tinggal di rumah-rumah itu dan ingatlah bahwa salam ini bukanlah merupakan ucapan secara lisan kamu belaka.tetapi ini merupakan hadiah yang sangat besar dari Tuhan. Yakni kata salam kendati itu nampak secara lahiriah sangat sederhana tetapi benar-benar menciptakan dampak-dampak positif yang sangat luhur, sebab di balik kata “salam” terdapat janji keselamatan dari Allah swt. Jadi apabila kamu mengucapkan salam pada salah seorang saudaramu maka bukan kamu yang mengatakan tetapi doa Tuhan-lah yang kamu sampaikan padanya. Bersabda,tetapi saya melihat bahwa pada umumnya di negara kita orang-orang pada saat masuk di rumah-rumahnya mereka tidak mengucapkan assalaamu ‘alaikum . Seolah-olah menurut mereka ini hanya merupakan doa untuk satu dengan yang lain, tetapi bukan untuk anak istri dan ibu bapak kami/mereka. Kendati Allah telah memerintahkan kepada semua orang-orang islam bahwa apabila masuk ke rumah-rumah kamu ucapkanlah salam.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepada saya wahai anakku ! apabila kamu masuk di rumah keluargamu /rumahmu maka ucapkanlah salam.Ini adalah untukmu dan keluargamu akan menjadi faktor keberkatan dan kebaikan.

Disini hal ini tambah lebih jelas bahwa masuk di rumah sendiri pun ucapkanlah salam, sebab amanat keselamatan itu setiap saat seyogianya senantiasa kalian sebarkan. Allah jelas berfirman bahwa apabila kamu pergi ke surga maka oleh karena disana pengacuan kalimah keselamatan itu akan dalam arti yang sebenarnya, dan akan dapat diketahui arti sesungguhnya, karena itu setelah menerangkan kesucian Allah hal kedua lagi penting yang kalian akan kerjakan adalah mengirim salam keselamatan pada satu dengan yang lain.Oleh karena itu jika ingin mendirikan lingkungan masyarakat yang bagaikan ahli-ahli surga maka kirimlah / ucapkanlah salam pada satu dengan yang lain.

Jadi, untuk membiasakan salam sebagaimana dalam riwayat ini Rasulullah saw bersabda kitapun harus membiasakan anak-anak kita untuk menyampaaikan/mengucapkan salam. Ini merupakan satu bagian utuh pelatihan,berilah pengertian pada anak-anak untuk membiasakan mengucapkan salam,dari rumah kapan saja pergi keluar maka harus mengucapkan salam dahulu baru pergi dan apabila masuk di dalam rumah maka salam dahulu baru masuk ke dalam rumah. Kemudian kepada anak-anak diberitahukan juga apa maksudnya bahwa kenapa disampaikan salam. Jadi singkatnya seyogianya anak-anak dan orang dewasa memiliki kebiasaan untuk mengucapkan salam.

Terkadang orang-orang tampa basa basi atau tampa sungkan-sungkan masuk ke rumah-rumah rekan –rekan dan ke rumah kerabat-kerabat dekat mereka. Disini di Eropa karena kebanyakan di rumah-rumah karena pintu-pintu (bagian) luar biasa terkonci atau sedemikian rupa bentuk gembok yang dengan sendirinya menjadi terkunci atau tidak dapat terbuka dari luar karena itu tidak dapat pergi seperti itu dan di rumah-rumah yang tidak ada persiapan /peraturan seperti itu atau jika ini tidak ada dan rumah terbuka maka mungkin di rumah-rumah itu tidak ada merasakan sungkan untuk masuk ke dalam rumah;tetapi, di Pakistan, Hindustan dll bahkan yang dikatakan dunia ketiga di negara-negara itu inilah cara atau tradisi yang ada dan apabila kalian cegah bahwa hendaknya jangan seperti itu maka mereka menganggap itu buruk. Perintah ini adalah untuk perempuan juga, seperti itu pulalah sebagaimana ini berlaku untuk laki-laki. Di kalangan perempuan -perempuan juga inilah kekejian-kekejian dapat terjadi sebagaimana dapat terjadi di kalangan laki-laki, bahkan dalam beberapa kondisi atau kejadian biasa lebih banyak terjadi kekejian-kekejian di kalangan perempuan-perempuan. Oleh karena itu setelah mengucapkan salam,setelah mengumumkan/pemberitahuan,setelah meminta izin pada siapaun dia datang, pergilah kesana, supaya semua keluarga tuan rumah mengetahui bahwa si fulan pada saat itu berada di rumah kita. Kemudian untuk perempuan yang biasa menggunakan pardah tambah lebih menjadi mudah lagi bahwa akibat pengumuman (salam) itu dimana dia berada di rumah, disana laki-laki tidak dengan mudah bisa datang atau laki-laki akan berhati-hati untuk datang.Mereka akan datang dengan terlebih dahulu menyuruh (perempuan yang biasa menggunakan pardah) untuk berpardah. Jadi seperti itu ada juga yang kendati secara lahiriah merupakan hal-hal kecil yang di dalamnya hanya dengan mengucapkan salam baru ada faedah. Kemudian bersabda pula bahwa jika di rumah tidak ada orang ,maka jangan sampai terjadi bahwa karena melihat rumah atau kamar terbuka lalu disana masuk duduk,tetapi jika di rumah tidak ada orang maka ucapkanlah salam tiga kali dan apabila kamu telah mengucapkan itu tiga kali dan tidak ada yang mendengar maka kembalilah. Dan apabila mendapat izin di rumah maka baru masuk.Jika kamu telah menyampaikan salam tiga kali dan kamu tidak mendapatkan izin atau tidak ada orang di rumah atau tuan rumah tidak suka bahwa kamu datang pada waktu itu ke rumahnya maka kembalilah. Jika ada tuan rumah dan secara terus terang dia mengatakan bahwa karena terpaksa saya pada waktu itu tidak dapat berjumpa maka janganlah menganggapnya buruk, tetapi apa yang dikatakan, lakukanlah itu. Dan itulah yang dia katakan bahwa kembalilah, karena di dalam kembalimu itu terdapat kebaikan. Karena kamu menyebarkan salam supaya keselamatan tersebar, tersebar pesan kedamaian ,cinta dan persaudaraan dapat tegak di antara kalian, di dalam diri kamu dapat tegak kesucian, maka jika ada tuan rumah yang meminta maaf dan tidak mau bertemu maka kendati demikian orang yang ingin berjumpa janganlah menganggap itu buruk. Dan dia mengiyakan kata-kata tuan rumah. Jadi inilah masyarakat Islam yang akan tegak dengan membiasakan nengucapkan salam.

Tertera sebuah hadis. Hadhrat Abu Musa Asy’ari r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa apabila diantara kalian ada yang tiga kali meminta izin dan dia tidak diberikan izin maka hendaknya dia kembali.bukhari kitabul isti’dzan babuttasliimwal isti’dzaan tsalaatsan

Disini tidak dikatakan bahwa kalian datang dari jauh jauh begitu rupa lalu tuan rumah mengembalikan kamu/menolak kamu masuk.maka dia telah melakukan kesalahan,sekuraang-kurangnya satu dua menit dia dudukkan lalu menanyakan untuk sekedar (minum ) air. Tetapi disini kepada orang yang datang itu dikatakan bahwa jika tuan rumah tidak mengizinkan maka kembalilah. Memang benar, di di tempat-tempat lain terdapat juga perintah untuk penerimaan tamu. Akan tetapi, disini kepada kamu terdapat perintah bahwa tuan rumah adalah merupakan pemilik rumah. Jika kamu tidak dia izinkan untuk masuk maka kembalilah. Tetapi kesucian itu adalah bahwa kamu jangan kembali dalam keadaan marah, jangan menganggap buruk, tetapi kamu harus mengamalkannya tampa adanya rasa tidak senang ,sebab itu juga merupakan perintah Allah dan dari itu akan timbul kecintaan dan persaudaraan di dalam diri kita. Di dalam hati jangan terfikir untuk menuntut balas bahwa sayapun apabila mendapat peluang akan melakukan seperti itu. Fikiran seperti itu bukannya menciptakan rasa aman malah kalian akan menjadi orang yang menciptakan kekacauan /keonaran. Kemudian dewasa ini berhubung di rumah-rumah digunakan lonceng, ada kebiasaan memasang lonceng karena itu orang-orang menganggap bahwa tidak perlu salam. Padahal kendati dengan lonceng pun salam dapat diucapkan. Di dalam itulah keberkatan dan dari itulah lahir kecintaan.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda: “Demi zat yang ditangan kuasa-Nya terletak jiwaku. Bahwa kamu tidak akan masuk ke dalam surga selama kamu tidak beriman. Dan kamu sampai pada waktu itu tidak dapat dikatagorikan menjadi orang yang beriman selama kamu tidak saling mencintai. Apakah saya jangan sampaikan kepada kamu suatu amal, yang jika kamu menjalankannya maka kamu akan saling mencintai. Kemudian Rasulullah saw bersabda bahwa

افشوا السلام بينكم afsyussalaam bainakum -biasakanlah menyampaikan salam diantara kalian. Muslim Kitabul iman bab bayaanu la yadkhulul jannta illal mu’minun

Maka disini beliau bersabda bahwa untuk masuk ke dalam surga perlu beriman. Ini setiap orang mengetahui dan siapa orang yang beri’man dan orang yang tidak beriman itu siapa. Bersabda,orang yang beriman adalah yang tinggal dengan saling mencintai di antara mereka. Memperhatikan hak-hak satu dengan yang lain. Janganlah menganggap bahwa kita telah baiat, kita telah mengulangi kata-kata baiat, maka kita telah menjadi orang yang beriman. Bersabda bahwa jika di dalam diri kalian tidak terlahir perubahan-perubahan ruhani. Jika kalian tidak memperhatikan gejolak perasaan satu dengan yang lain, jika kamu tidak mengamalkan sepenuhnya segenap bagian pendidikan/ajaran maka di dalam iman kalian sangat banyak terdapat ruang kosong. Memang kalian telah masuk ke dalam jemaat tetapi revolusi yang Hadhrat Masih Mauud a.s ingin ciptakan di dalam diri kita itu tidak tercipta di dalam diri kalian. Tanda-tanda orang –orang mu’min yang Allah dan Rasul-Nya telah beritahukan pada kita itu tidak diraih. Dan stndar tinggi yang ingin kita capai itupun masih belum kita capai.

Allah berfirman bahwa dengan kelemahan-kelemahan itu kalian memang dapat mengatakan bahwa أَسْلَمْنَا “Kami telah beriman/kami telah masuk Islam/berserah diri” Bersabda,sesudah mengatakan ini kamu tidak dapat mengatakan bahwa kami beriman. Selanjutnya Dia berfirman bahwa وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ – Sejauh berkait dengan iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Iman baru akan dianggap telah masuk apabila standar tinggi ini dapat tegak atau terpenuhi. Yakni, kalian akan menjadi orang yang setia melakukan ibadah pada Allah, tidak ada satupun salat yang kalian akan tinggalkan dan kalian pun akan menjadi orang yang menjalankan hak-hak Allah dan kalianpun menjadi orang-orang yang menciptakan kecintaan yang luar biasa diantara sesama. Beliau saw bersabda bahwa cara terbaik untuk menciptakan kecintaan diantara sesama adalah biasakanlah mengucapkan salam dan maksud membiasakan mengucapkan salam adalah bahwa apabila kamu mengucapkan salam dengan lisan maka pada saat itu seyogianya dari hati kamu pun keluar doa yang baik untuk saudaramu.

Kemudian dalam kaitan itu ada lagi sebuah riwayat lain yang dari itu dapat diketahui bahwa di kalangan ummat Islam akan timbul penyakit dengki dan iri yang dari itu keberkatan agama pun akan menjadi hilang dan dari dalam diri kalian pun agama sama sekali akan keluar. Oleh karena itu perhatikanlah dewasa ini inilah kondisi orang-orang Islam. Jadi kita orang-orang Islam Ahmadi merupakan orang-orang yang sangat mujur bahwa setelah masuk dalam baiat imam zaman kita berupaya untuk tetap selamat dari penyakit-penyakit itu. Tetapi jika kita tidak memperbaiki maka kita akan dipotong dari baiat. Semoga Allah melindungi setiap orang diantara kita.

Tertera dalam sebuah riwayat lain yang bersumber dari Abdullah bin Zuber r.a. Rasulullah saw bersabda bahwa penyakit benci dan iri ummat-ummat terdahulu pun akan merasuk di dalam diri kalian. Permusuhan merupakann benda yang mematahkan sesuatu dari akarnya. Ini tidak memutuskan rambut, tetapi ini mematahkan agama. Demi zat yang di genggaman kuasaan-Nya terletak jiwaku kamu tidak akan masuk surga selama kamu tidak menjadi mu’min dan kamu tidak akan menjadi mukmin jika kamu tidak tinggal dengan saling mencintai dan saling kasihi. Apakah saya jangan memberitahukan padamu bahwa saling mencintai ini bagaimana dapat lahir di antara kalian, caranya adalah biasakanlah mengucapkan salam diantara sesama kalian. Attargiib wattarhiib bahawalah bazar

Kemudian Rasulullah saw di berbagai kesempatan juga memberitahukan bahwa bagaimana menciptakan peluang-peluang untuk mengucapkan /mengrimkan salam. Dan kemudian dengan cara bagaimana menyampaikan salam sehingga kecintaan dapat bertambah sebanyak-banyaknya.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Umar Ibni Husain r.a meriwayatkan bahwa seorang hadir di hadapan Rasulullah saw lalu dia mengucapkan السلام عليكم – assalaam’alaikum. Beliau menjawab salamnya. Tatkala dia duduk maka Rasulullah saw bersabda bahwa orang itu mendapatkan sepuluh lipat pahala. Kemudian seorang datang dan dia mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله – assalaamu’alaikum warahmatullah. Hudhur menjawab salamnya. Ketika dia duduk maka beliau bersabda bahwa dia telah mendapatkan ganjaran dua puluh kali lipat. Kemudian seorang yang lain datang lalu dia mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته- assalaamu’alaikum warahmatullah hiwabarakaatuhu. Beliau menjawab persis dengan kalimah itu. Tatkala dia duduk maka beliau bersabda bahwa orang itu telah mandapat pahala tiga puluh. Tirmidzi Kitabul isti’dzaan fi fadhlissalaam

            Jadi, lihatlah nabi kita yang mulia, untuk menciptakan kecintaan di kalangan ummat Islam betapa beliau memberikan pengertian sampai pada cara-cara yang sedemikian halus. Setiap doa yang beliau ikut sertakan dengan السلام عليكم – assalaamu alaikum menjadi faktor/sebab sepuluh lipat ganjaran untuk orang yang mengucapkan salam, menjadi faktor penyebab (meraih) pahala penambahan sepuluh lipat. Dan apabila doa ini menambah dalam ganjaran, maka Allah tidak membuat catatan/daftar pada sisi-Nya tatkala hanya begitu sampai di akherat Dia akan memperlihatkan pada hamba-Nya, tetapi di dunia ini juga orang-orang yang berdoa seperti itu yang mendoakan orang-orang lain dari hati yang tulus, Dia akan anugerahkan taufik untuk tambah lagi dapat menegakkan kebaikan-kebaikan. Dan saudaranya itu pun Dia akan anugerahkan keberkatan dari doa-doa, yang orang yang berdoa doakan untuknya. Dan kemudian sebagai jawaban satu dengan yang lain saling mendoakan. Dan kemudian apabila yang lain menjawab doanya lebih banyak lagi maka tambah lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan lain yang diperoleh. Sebab jelas terdapat juga sebuah perintah bahwa pabila kamu mengembalikan kebaikan kepada seseorang maka kembalikanlah yang lebih. Jika kepada siapapun ada suatu barang dari kebaikan- kebaikan kamu kembalikan maka kembalikanlah yang lebih banyak.Jika seorang mengucapkan السلام عليكم assalamu alaikum maka orang yang menjawab mengikutsertakan dalam jawabannya ورحمة الله -warahmarullah atau menyertakan وبركاته wabarakaatuhu juga yang dia baca, maka sebanyak itulah dia berhak mendapatkan ganjaran dan yang memberi (salam/doa) juga dan siapa yang mendapatkan pun dia mandapatkan doa-doa yang lebih.

Disini dalam kaitan ini saya secara sepintas ingin menyebut Hadhrat Khalifatul masih IV r.h. Saya pun terkadang secara sengaja melakukan hal serupa itu. Kepada beliau seorang menanyakan bahwa dalam mengatakan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته- assalaamu ‘alaikum warahmatullah wabarakaatuh lebih banyak ganjaran yang diperoleh dan Tuan hanya mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله assalaamu alaikum warahmatullah. Maka beliau memberikan jawaban bahwa saya sengaja melakukan itu supaya kalian dapat mengembalikan dengan lebih baik.Sebab terdapat juga perintah untuk mengembalikan/menjawab dengan yang lebih baik.

Ada seorang anak perempuan kecil bertanya kepada saya bahwa pada saat perjalanan inipun semua meminta Tuan untuk berdoa, sementara Tuan tidak mengatakan kepada siapapun. Maka saya menjawabnya bahwa mulai dari hari pertama sampai hari ini terus saya menyuruh untuk doa. Ya, kepada setiap orang yang bertemu saya tidak katakan secara pribadi. Kepada sebagian saya terkadang juga suruh dan di dalam surat juga saya suruh untuk berdoa, tetapi secara keseluruhan saya terus suruh untuk memanjatkan doa dan saya berupaya untuk mengambil/meminta doa-doa secara keseluruhan/berjamaah. Di mesjid juga pada saat mengucapkan salam di ijtimak-ijtimak dll nya juga. Dari itu satu sebagaimana yang telah saya katakan bahwa ini merupakan cara Hadhrat Khalifatul Masih IV r h dan terkadang saya juga lakukan sebagaimana beliau memberikan jawaban bahwa beliau menyingkatkan supaya orang yang menjawab salam lebih banyak pahala. Satu adalah dia mendapat ganjaran,yaitu dia menjawab lebih banyak. Karena itu, dia yang tengah menjawab lebih banyak, dari itupun jelas dia tengah mendapat bagian doa-doa. Sebab, saya adalah yang paling banyak perlu doa-doa. Seberapa banyak kalian memberikan pertolongan kepada saya dengan bantuan doa-doa sebanyak itu juga akan timbul keteguhan dalam Jemaat dan sebanyak itu pulalah kecintaan antara sesama akan terus berkembang. Walhasil, ini merupakan hal secara sepintas, bukan merupakan hal mendasar /rujukan bahwa orang yang mengucapkan salam mengucapkan salam setengah atau mengucapkan salam yang singkat dan orang yang menjawab salam harus menjawab salam sepenuhnya. Dari kedua belah pihak seberapa banyak doa-doa disampaikan sebanyak itulah menjadi tambah lebih baik. Saya terkadang mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته – assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu dengan penuh juga. Dan sebagaimana yang ada di dalam hadis itu yang seyogianya dibiasakan. Oleh sebab setiap orang tidak sambil berfikir seperti itu dia mengucapkan salam dan tidak pula orang yang menjawab salam menjawab sambil berfikir, karena baik secara individu ataupun secara umum seperti itu barangsiapa mereka ingin berjumpa maka lebih banyak pahala adalah di dalam mana seberapa banyak kita terus mengulangi doa-doa keselamatan. Perincian ini saya berikan dengan terinci karena sebagian orang-orang dalam kondisi tidak memahami mereka menjadi matang dalam beberapa perkara. Jika ada seseorang yang telah mendengar sabda Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h maka bisa jadi dia menjadi teguh secara sengaja dalam hal bahwa salam yang wajib hanya itu, yaitu yang disingkat dan orang yang memberikan jawaban memberikan jawaban lebih banyak. Sebab sejumlah perkara ada yang bersifat kondisional dan itu terjadi sesuai dengan kedudukan dan martabah sejumlah orang, itu tidak dapat dijadikan sebagai peraturan rujukan. Pegangan atau peraturan adalah yang Panutan kita ,nabi kita Muhammad saw telah beritahukan kepada kita dan seberapa banyak kita dapat meraih ganjaran seyogianya kita melakukannya. Dan orang yang menjawab ini merupakan kewajibannya juga bahwa dia pun harus menjawab dengan lebih banyak supaya dia juga mendapat pahala dan kepada siapa dia tengah menjawab salam diapun mendapat pahala.

Kemudian terkait dengan mengerjakan hal-hal yang orang mu’min dapat masuk ke dalam surga. Sambil menjelaskan lebih banyak lagi Rasulullah saw bersabda. Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Abdullah bin salam r.a meriwayatkan bahwa saya mendengar Rasulullah saw bersadba: Hai orang-orang ! biasakanlah mengucapkan salam, berilah makan kepada orang yang perlu diberi makan,jalinlah ikatan tali silaturrami dan salatlah pada saat orang-orang sedang tidur. Jika kamu melakukan itu maka maka kamu akan masuk surga dengan selamat. Tirmidzi bab sifatul qaliilati

Di dalam hadis ke arah mana diberikan penekanan dari antara itu tiga adalah yang berkaitan dengan haquwqul ibaad/hak-hak hamba-hamba yang sebelumnya saya telah membaca hadisnya. Ini merupakan tambahan penjelasannya. Yakni dengan kebiasaan mengucapkan salam akan timbul gejolak-gejolak halus dan lembut dan dengan lahirnya gejolak-gejolak halus ini, maka akan timbul perhatian melunasi hak-hak satu dengan yang lain. Yang kedua beliau bersabda, berilah makan pada orang yang memerlukan. Perhatikanlah keperluan-keperluan orang-orang. Dan jika tidak mendapatkan orang yang memerlukan,disini di negeri ini tidak didapatkan orang-orang yang memerlukan. Maka di dalam Jemaat terdapat nizam sedekah. Dari sini pun negara lainpun dapat diberikan bantuan. Tidak terhitung orang –orang miskin yang dapat dibantu, kalianpun masuklah juga disana,maka secara langsung kalian memang tidak menyampaikan/mengucapkan salam tetapi kalian menciptakan sarana keselamatan untuk orang-orang miskin itu. Kalian dapat memperhatikan keperluan-keperluan mereka, dan dari itu kalianpun juga tengah mengambil doa-doa dari mereka secara gaib. Ini hanya kalian lakukan atas dasar rasa gejolak simpati bahwa saudara kami tertutup/tak berdaya dan memerlukan bantuan. Kemudian bersabda jalinlah ikatan tali silaturrahmi atau berbuat baikalah kepada sanak keluarga ,kepada kerabat dekat dan kepada orang dekat kalian dengan keluarga mertua yang dekat dari kedua belah pihak dan perhatikanlah keluarga dekat kalian,sebab siapapun keluarga dekat mertua itupun juga merupakan keluarga. Jangalah menimpakan pesakitan pada mereka. Pesakitan bukanlah hanya menimpakan kesakitan secara fisik atau secara terus terang tidak mencaci maki tetapi jika suami tidak memperhatikan dan istri tidak memperhatikan gejolak perasaan keluarga dekat sang istri maka merekapun bukanlah orang yang menyebarkan keselamatan.

Keselamatan merupakan sebuah doa dan doa-doa tidak disampaikan dengan menyinggung perasaan. Bersabda bahwa semua ini berkaitan dengan keselamatan. Oleh karena itu kalianpun dengan mengerjakan hal-hal itu baru akan dapat masuk surga dengan selamat. Kemudian pada akhirnya beliau menarik perhatian pada hak-hak Allah. Yaitu apa hak-hak Allah itu ? Itu pun merupakan keperluan hamba-hamba juga,yaitu lakukan salat, beribadahlah kepada Tuhan bahkan biasakanlah melakukan salat tahajjud. Dan jika pada saat itu dengan menyusahkan diri kalian bangun untuk melakukan salat tahajjud, maka hatipun akan menjadi bersih. Akan timbul juga rasa takut pada Allah dan apabila timbul rasa takut pada Allah, maka akan timbul perhatian pada sikap perlakuan baik pada hamba-hamba Allah dan tidak hanya di akherat kelak bahkan di dunia inipun juga akan timbul pemahaman pada diri kalian untuk mengirim keselamatan. Sejumlah orang-orang menganggap bahwa kepada siapa kita kenal hanya kepadanyalah harus mengucapkan salam. Dalam masyarakat Islam seyogianya mengucapkan salam kepada setiap orang yang berjalan di jalan. Sebagaimana tertera dalam sebuah riwayat bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah saw ,pekerjaan/amal Islam yang mana yang lebih baik ? Beliau bersabda memberikan makan pada orang-orang miskin dan orang yang tidak berdaya dan mengucapkan salam pada orang-orang Islam, baik kamu mengenalnya atau kamu tidak mengenalnya. Jadi sebagaimana saya telah katakan seyogianya membiasakan mengucapkan salam dalam masyarakat Islam.

Di Pakistan diberlakukan peratauran untuk jangan mengucapkan salam untuk orang-orang Ahmadi yang benar –benar merupakan kezaliman yang sangat besar. Singkat kata,doa-doa yang dari kalbu orang-orang Ahmadi jika orang-orang tidak ingin mengambilnya maka tidak apa-apa andaikata tidak mereka ambil, karena inilah maka seperti itu situasi dan kondisi mereka. Tetapi dimana orang-orang ahmadi berkumpul maka disana biasakanlah /sebarkanlah salam Khususnya, di Rabwah dan di Qadian. Dan di sejumlah kota-kota pun ada terdapat penduduk –penduduk Ahmadi yang berkumpul, satu dengan yang lain seyogianya membiasakan salam diantara mereka. Saya juga pernah satu kali mengatakan kepada seorang anak kecil di Rabwah bahwa jika anak-anak dengan penuh pengertian membiasakan itu maka orang-orang yang besarpun akan menjadi terbiasa. Kemudian demikian pula anak-anak wakafnow. Jamiah kita ada baru yang tengah dibuka,ada para mahasiswanya, jika mereka mulai membisakan ini dan ini menjadi ciri khas mereka bahwa mereka ini adalah orang-orang yang biasa mengucapkan salam.maka kebiasaan mengucapkan salam di setiap tempat akan dengan mudah dapat tersebar dan tidak perlu ada rasa takut. Sebagian lagi di kota-kota lain memberikan salam pada siapapun – di Pakistan ada undang-undang -bahwa mereka tidak menjadi bersalah . Orang Ahmadi dapat dikenal dari wajahnya bahwa dia seorang Ahmadi. Oleh karena itu tidak pelu khawatir atau takut. Dan para mulla di kalangan kita memang dapat dikenal.

Di Pakistan juga orang-orang itu pada umumnya adalah orang saleh sebagaimana Hadhrat Khalifatulmasih III bersabda bahwa mereka ini orang saleh /mulia yang bisu. Sedikitpun tidak dapat mengatakan apa-apa. Dari dalam diri mereka sendiri mereka itu menyesali keberadaan Maulvi. Sebagaimana apa yang dilihat pada diri seorang kepala polisi bahwa tatkala dilakukan persidangan pada seorang ahmadi. Seorang mulla menuntut ke pengadilan karena dia/orang Ahmadi mengucapkan salam. Ketika kepala polisi memeriksa berkas kesalahannya maka dia bertanya padanya, apakah dia mengucapkan salam padamu ? Jawab mulla” Ya,ini merupakan kesalahan,kenapa dia mengucapkan salam pada saya. Kepala polisi berkata,baiklah, jika ini merupakan kesalahan maka dia /orang ahmadi itu akan senantiasa mengirimkan laknat untuk kamu. Hudhur bersabda: Seorang ahmadi tidak akan mengirikan laknat. Baik kepada kawan maupun kepada lawan, orang Ahmadi senantiasa akan terus mengumadangkan salam keselamatan.

Tertera dalam sebuah riwayat. Hadhrat Ayyub bin Basyir dengan refrensi salah seorang dari suku Khanzah meriwayatkan. Orang itu bertanya kepada Abu Dzar gaffari bahwa apakah Rasulullah saw pada saat berjumpa beliau berjabatan tangan dengan tuan-tuan ? Atas pertanyaan itu Hadhrat abu Dzar r.a menjawab bahwa kapan saja saya berjumpa dengan Rasulullah saw maka saya berjabatan tangan dengan beliau. Bahkan pada suatu saat Hudhur mengirim orang untuk memanggil saya,pada saat itu saya tidak ada di rumah. Tatkala saya datang ke rumah dan kepada saya diberitahukan maka saya hadir di hadapan Hudhur; Hudhur pada saat itu berada di tempat tidur. Hudzur memeluk saya dan mendekap saya (sebagai ungkapan salam/berjabatan tangan). Betapa mujurnya nasib beliau itu. Abu Daud kitabul adab bab fil mushafahah

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat Hadhrat Anas bin malik meriwayatkan bahwa apabila ada orang berjumpa dengan Hudhur saw dan berbicara dengan Hudhur saw , maka beliau tidak menggeser wajah beliau dari orang itu sehingga orang itu sendiri yang pergi ; dan apabila ada yang berjabatan tangan dengan beliau maka beliau tidak menarik tangan beliau dari tangan mereka sehingga orang itu sendiri yang melepaskan tangannya; dan beliau tidak pernah dilihat duduk dengan mengedepankan lutut melelebihi orang yang duduk dengan beliau. Ibni Majah kitabul adab bab ikraamurrajuli jaliisihi.

Dari itu sejauh untuk kita semua ini merupakan nasehat,khususnya, kepada para pengurus jemaat juga saya ingin menyampaikan,mereka pun juga harus mengambil pelajaran bahwa kepada orang yang datang untuk berjumpa mereka harus menyambut dengan ucapkan selamat datang. Ucapkanlah selamat datang kepada mereka,berjumpalah dengan mereka,berjabatan tanganlah dengan mereka,dengarlah kata-kata orang yang datang. Sejumlah orang menulis surat mengeluhkan kepada saya bahwa kami mempunyai banyak masaalah yang kalau berjumpa dengan Tuan/Hudhur mungkin mudah, tetapi berjumpa dengan fulan pengurus sangat sulit sekali. Jadi para pengurus yang seperti itu seyogianya mengingat contoh Rasulullah saw , berjumpalah dengan orang-orang yang ingin berjumpa dengan tanang sehingga mereka menjadi puas dan setelah dia sendiri merasa puas lalu pisah dengan kalian. Kemudian di kantor – kantor kalian duduk. Kepada setiap orang yang datang ingin berjumpa seyogianya kalian bangun dari kursi lalu berjumpa dengan mereka , hendaknya bersalaman, dari itu akan tercermin rasa rendah hati kalian. Dan inilah rasa rendah hati yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita. Lihatlah pada saat duduk pun betapa beliau saw begitu hati-hati.

Terkait dengan berjabatan tangan disini saya ingin menjelaskan.Disini di Eropa ini para wanita kita yang datang ke Eropa ini akibat perintah dari laki-laki /suami atau dia sendiri akibat rendah diri mereka menjadi terbiasa berjabatan tangan dengan laki-laki dan dengan sangat tenang para wanita berjabatan tangan dengan laki-laki. Laki-laki dan perempuan seyogianya menghindar dari itu. Jika memberikan pengertian dengan tenang pada mereka bahwa agama kita tidak mengizinkan seperti ini maka orang-orang akan dapat memahami. Jika perempuan tidak menyalami/berjabatan tangan dengan laki-laki, maka kemudian laki-laki juga tidak akan berjabatan tangan dengan perempuan. Di sejumlah masyarakat lainnya pun terdapat kebiasaan tidak bersalaman/berjabatan tangan,mereka juga memang tidak melakukan Orang-orang Hindu juga sambil menyatukan tangan mereka berdiri seperti ini. Ini merupakan kebiasaan salam mereka disana. Dan di dalam masyarakat-masyarakat lainnya juga terdapat berbagai cara seperti itu oleh karena itu tidak perlu malu. Tidak perlu ada rasa minder seyogianya agama itu yang utama dan bagaimanapun juga harus berupaya untuk menjalankan sebanyak-banyaknya perintah-perintah Tuhan.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang merupakan sebuah riwayat dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda: Seorang yang ada di atas kendaran hendaknya memberikan salam pada orang yang pejalan kaki dan orang yang sedikit memberikan salam pada orang yang lebih banyak

Jadi cara inipun diajarkan untuk menciptakan rasa rendah hati dan untuk menjauhkan ketakabburan. Tertera dalam sebuah riwayat beliau bersabda bahwa apabila ada diantara kalian berjumpa dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya dan jika ada diantara keduanya pohon atau tembok atau ada batu cadas sebagai penghalang. Kemudian kembali dia berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam kedua kalinya. Yakni tidak cukup hanya satu salam. Kemudian berjumpa maka ucapkanlah salam. Yakni biasakanlah salam sedemikian rupa sebanyak-banyaknya sehingga semua rasa dengki, semua kekotoran di dalam diri kalian,semua kekotoran hati menjadi hilang.

Kemudian tertera sebuah riwayat bahwa Hadhrat Usamah bin Zaid r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw berlalu dari sebuah majlis dimana duduk orang Islam,orang musyrik penyembah berhala dan orang-orang Yahudi. Merupakan majlis yang majmuk. Rasulullah saw mengucapkan salam pada mereka semua. Bukhari kitabul isti’dzan.

Jadi Rasulullah saw tampa kecuali menyampaikan salam pada setiap orang dalam majlis itu. Beliau tidak mengatkan bahwa kepada orang-orang Muslim saja salam itu. Sementara dewasa ini para mulla /kiyai (Pakistan) mengatakan,ucapkanlah salam pada fulan dan janganlah ucapkan salam pada fulan. Kalian pun juga di masyarakat ini tampa sungkan-sungkan ucapkanlah salam pada mereka di dalam masyarakat ini. Kemudian beritahukanlah maksudnya pada mereka. Pada akhirnya salam merekapun kalianlah yang melakukan. Kalianpun juga harus mengucapkan salam. Kalian pun seyogianya mengucapkan salam. Sejumlah orang-orang yang dekat memang mereka mengetahui,mereka pun mengucapkan salam juga. Kemarin ketika saya datang maka ada hal yang sangat menarik bagi saya. Sejuml;ah mereka yang merupakan penduduk asli disini mereka mengucapkan السلام عليكم assalamualaikum. Jadi kepada setiap orang harus dibertahukan, bertahukanlah kepada mereka maksudnya supaya keindahan-keindahan ajaran Islam mereka pun juga mengetahui. Dan dari itu jalan kalian untuk menyampaikan dakwatiilallah pun akan tarbuka lagi satu jalan.

Dalam kaitan ini saya akan memberitahukan cara Hadhrat Masih Mauud a.s. Qadhi Muhammad Yusuf meriwayatkan bahwa Hadhrat Masih mauud a.s sedemikian rupa beliau memperhatikan salam bahwa Hudhur kendati beberapa saat sekalipun pergi dari jemaat / majlis lalu beliau kembali maka setiap kali beliau pergi dan datang pun beliau mengucapkan السلام عليكم assalamualaikum.Siratul mahdi bagian 3:32

Hafizh Muhammad Ibrahim Sahib Qadiyani meriwayatkan. Hudhur a.s selalu mengucapkan السلام عليكم السلام عليكم assalaamu alaikum-assalaamu alaikum lebih dahulu. Siratul mahdi bagian 3:114

Jadi semua ini adalah kerena kecintaan beliau kepada para pengikut beliau, bahkan kepada siapaun yang duduk maka beliau biasa mengucapkan salam dengan cara seperti itu. Seolah-olah beliau memiliki gejolak rasa simpati kepada semua hamba-hamba Allah dan atas dasar gejolak dan semangat itulah beliau senantiasa menyebarkan salam.        Beliau bersabda:Pada zaman ini kondisi kebanyakan para pimpinan Islam adalah yang paling buruk. Mereka seolah-olah berfikir bahwa mereka hanya diciptakan untuk makan minum, kefasikan dan melakukan dosa. Mereka sama sekali tidak mengerti agama, kosong dari takwa dan penuh dengan keangkuhan dan ketakabburan . Jika ada seorang yang miskin mengucapkan السلام عليكم pada mereka ,maka dalam menjawabnya mengucapkan السلام وعليكم waalaikuamusssalam mereka anggap merupakan kehinaan bagi mereka. Bahkan mereka menganggap bahwa keluarnya kaliamah itu dari mulut orang yang miskin seperti itu merupakan tindakan yang tidak mengenal sopan santun dan kalimah yang lancang. Padahal raja-raja besar Islam pada masa awal dalam السلام عليكم assalaamualaikum mereka tidak menganggap mengurangi kebesaran mereka.” Yakni mereka tidak menganggap bahwa itu akan mengurangi keagungan mereka” Tetapi orang-orang ini rajapun juga tidak, namun kalimah yang sedemikian indah ,yakni السلام عليكم asssalamualaikum, yang merupakan sebuah doa untuk tetap meraih keselamatan ketakabburan mereka yang merajalela telah menampilakan kalimah itu hina pada pandangan mereka. Jadi seyogianya dilihat bahwa betapa zaman ini telah menjadi sedemikian berubah. Bahwa setiap ciri khas Islam dilihat dengan pandangan sebelah mata .”

Chasymai Makrifat Ruhani Hazain jilid 23: 327

Jadi hari ini merupakan kewajiban setiap orang Ahmadi bahwa simbol /ciri Islam ini sedemikian rupa seyogianya mereka sebarkan sehingga ini menjadi ciri khas orang Ahmadi. Untuk itu mereka pun seyogianya sendiri berupaya dan katakan pula pada anak dan istri mereka, pada hari-hari ini, pada hari-hari Jalsah dimana kalian melewatkan waktu dengan doa-doa dalam mendengar acara –acara Jalsah, disana kepada semua orang yang kalian ketemui pun kalian harus menyampaikan doa keselamatan, supaya dalam pertemuan ini, dimana orang-orang berkumpul yang mana mereka berkumpul untuk kebaikan kondisi agama mereka, disini kalian berkumpul sesuai anjuran Hadhrat Masih Mauud a.s adalah untuk meneguhkan ikatan cinta dan persaudaraan di antara sesama, untuk teguhnya ikatan itu kirimkanlah pula doa-doa keselamatan. Jika di dunia orang Ahmadi di setiap tempat dengan hati yang bersih mulai memanjatkan doa-doa keselamatan maka dengan cepat kesatuan itu dan akibat dari doa-doa ini- insyaaallah- kalian akan melihat kemajuan Ahmadiyah.

Di dunia ini hari ini ada lagi yang tengah menyelenggarakan Jalsah. Penuhilah jalsah-jalsah di setiap tempat itu dengan amanat keselamatan.Di negara-negara mana apabila kalian menyebarkan amanat kedamaian dan keselamatan Islam maka sebagaimana saya telah katakan di dalam dakwati ilallah juga akan tercipta kemudahan-kemudahan dan akan tercipta juga kemudahan-kemudahan dalam melakukan kontak-kontak dengan orang-orang.

Oleh karena itu merupakan kewajiban orang-orang Ahmadi yang tinggal di negeri ini juga bahwa sebagaimana mereka (penduduk asli) telah memberikan kalian izin untuk tinggal , mencari nafkah dan telah memberikan izin untuk memperbaiki keadaan ekonomi kalian di negeri mereka dan satu lagi kebaikan yang mereka telah lakukan bahwa banyak sekali yang kondisi ekonominya di negerinya tadinya tidak begitu baik di bandingkan dengan disini,karena itu untuk berterima kasih atas kebaikan mereka akan menjadi kewajiban kalian bahwa sambil mengamalkan ajaran cantik yang Islam telah berikan pada kalian, yang pada zaman ini dalam corak yang benar Hadhrat Masih Mauud a.s telah letakkan di hadapan kita. Sampaikanlah itu pada mereka . Islam adalah amanat keselamatan, setiap Ahmadi harus seyogianya menyebarkannya di dunia semoga Allah menganugarahi taufik kepada setiap Ahmadi.

Dalam ru’ya dan ilham-ilham banyak Allah telah memberikan habar suka kepada Hadhrat Masih Mauud a.s. dengan mengatakan السلام عليكم . Pada saat ini saya akan menyajikan sebuah ru’ya Hadhrat Masih Mauud a.s .

“Saya telah melihat dalam mimpi bahwa pertama-tama seolah-olah ada seorang yang berkata kepada saya bahwa nama saya adalah Fatah dan Zafar. Kemudian dari lidah mengalir kata-kata ini: اصلح الله امري كله- ashlahallaahu amriy kullahu-yakni Allah dengan karunia-Nya telah membetulkan semua pekerjaan saya. Kemudian saya melihat diri saya berada di rumah yang menyerupai mesjid”, Yakni saya ada di sebuah rumah yang berbentuk mesjid” dan saya berdiri di dekat sebuah lemari dan Hamid Ali juga berdiri. Dalam kondisi demikian pandangan saya melihat pandangan saya tertuju pada sesuatu dan saya melihat Mia Abdullah Gaznawi yang tengah duduk dan saudara saya Gulam Kadir juga duduk,baru setelah mendekat saya mengucapkan السلام عليكم-assalaamu ‘alaikum dan maka mereka pun mengucapkan وعليكم السلام-wa ‘alaikumussalam dan banyak kalimat-kalimat doa juga yang mereka ikut sertakan baca yang hanya kalimah ini yang tinggal atau masih teringat,yaitu “اخرك الله-akhkharakallaahu-Bahwa semoga Allah menjadikan baik semua pekerjaan kamu. Dia menjadikan hasil akhir yang baik Tetapi artinya yang masih ingat ialah yang kata-katanya seperti ini : Mudah-mudahan Tuhan engkau menjadi penolong dan engkau meraih kemenangan,kemudian saya duduk di majlis itu dan berkata bahwa sayapun melihat mimpi bahwa saya mengatakan السلام عليكم – assalaamu ‘alaikum pada seseorang . Dia menjawab ,والظفر وعليكم السلام-wa ‘alaikumussalaam wazh-zhafar.- salam sejahtera untukmu dan kemenangan.

 (Tadzkirah hal 249 cetakan 1969

Jadi menjadi kewajiban setiap Ahmadi bahwa karena berkat Hadhrat Masih Mauud a.s mereka menjadi orang yang meraih salam Allah itu. Salam ini adalah bersama Masih Mauud a.s dan Jemaat beliau juga. Maksud beliau adalah untuk berdirinya sebuah Jemaat yang bersih dan hasil akhir yang baik bagi Jemaat ini juga sebagaimana di dalam ini diberitahukan. Tetapi setiap individu Jemaat dengan menyebarkan keselamatan itu baik secara pribadi pun seyogianya mengambil bagian dari berkat-berkat itu supaya habar suka kemenangan dan kesuksesan yang Allah telah habar sukakan dari berkat-berkatnya setiap orang dapat mengambil bagian. Oleh karena itu kembali saya tegaskan bahwa sebarkanlah amanat keselamatan kepada yang lain juga dan diantara kalian juga sejalan sebagai orang – orang yang beriman ciptakanlah nuasa cinta dan kasih sayang dan jadilah kalian menjadi pewaris surga-surga Allah yang abadi dimana terdapat keselamatan demi keselamat semata. Semoga Allah menganugerahi taufik pada kita. Amin.

Qamaruddin Syahid