Percaya dan Bergantung Sepenuhnya kepada Allah Ta’ala

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 28 November 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “Harus selalu diingat bahwa hanya Allah Ta’ala Yang memiliki wewenang atau kekuasaan sejati untuk memberi pertolongan apabila diminta.”[2] Itu artinya, apabila pertolongan diperlukan untuk menyempurnakan pekerjaan kalian masing-masing maka hanya Dzat Allah Ta’ala sajalah yang dalam corak sempurna mampu menolong kalian. Dia memiliki kekuatan untuk menolong dan Dia menyediakan pertolongan tersebut. Ini noktah yang teramat penting yang harus selalu diingat oleh setiap mu’min sejati, apakah pertolongan itu sifatnya untuk pribadi ataupun untuk umum atau Jemaat. Namun, pada prakteknya bisa kita lihat manusia tidak memberi perhatian penuh sebagaimana mestinya akan hal itu. Sebagian besar orang berkata, “Dengan karunia Allah Ta’ala semata, semua keperluan kita telah terpenuhi.” Tetapi, jika pernyataan itu kita renungkan dalam-dalam, kita akan sadar pada hakikatnya kita masih bergantung pada berbagai sumber sarana untuk menyempurnakan pekerjaan atau keperluan kita.

Berkaitan dengan itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan beberapa peristiwa dimana seseorang mengira dia memperoleh cita-citanya melalui pertolongan dan bantuan orang lain sebagai tumpuannya atau melalui kekuatan khusus diri pribadinya. Begitulah mula-mula manusia selalu berpikir. Jikapun ia dapat meraih semua yang dia maksudkan melalui daya pikiran dan ilmu pengetahuan yang dia miliki, dia mengira telah dapat mengatasi semua problem melalui kekuatan dan kemampuannya sendiri, kemudian merasa bangga dengannya bahkan takabbur bahwa dia tidak memerlukan pertolongan siapapun.

Namun, ada waktunya apabila dia sendiri tidak mampu bertahan pada kekuatannya sendiri tanpa pertolongan atau bantuan orang lain. Ia mulai meminta bantuan kepada keluarganya atau kepada kerabat keluarga terdekatnya dan merekapun menolongnya. Barulah ia menyadari keluarga atau kerabat terdekatnya itu baik dan berguna di waktu menghadapi kesulitan. Ada pula masanya ketika keluarga atau kaum kerabatnya itu tidak dapat atau tidak bersedia lagi menolongnya. Kemudian ia mencari teman atau kenalan-kenalannya untuk mendapatkan pertolongan dari mereka dan merekapun menolongnya. Barulah ia sadar teman atau kenalan-kenalannya itu baik dan berguna sekali di waktu menghadapi kesulitan.

Ada juga masanya ketika teman-teman dan kenalan-kenalannya itu berhalangan tidak dapat menolongnya, apakah halangannya itu beralasan, atau hanya sengaja menghindar dari padanya karena mereka tidak mau menolongnya. Kemudian, dia datang kepada golongan atau Jemaat di mana ia menjadi anggotanya dan golongan atau Jemaat itu menolongnya. Apabila maksudnya terpenuhi dia mulai menyadari alangkah baiknya menjadi anggota golongan atau Jemaat ini kemudian hubungannya dengan golongan itu semakin bertambah erat. Kadangkala, suatu ketika ada juga manusia tergelincir semata-mata karena Jemaatnya tidak dapat menolong untuk memenuhi keperluannya.

Tiba juga masanya, ketika kehidupan beberapa keluarga, teman-teman atau Jemaat sekalipun, dalam keadaan sempit sehingga tidak dapat menolong saat diperlukan bantuan. Jika terjadi demikian mereka pergi kepada Pemerintah dan Pemerintah pun menolong mereka. Pada waktu itu Pemerintah menjadi tumpuan terakhir bagi orang-orang seperti itu. Namun, apabila tiba masanya Pemerintah juga tidak dapat memberi pertolongan kepada mereka. Mereka berpikir bahwa mereka sekarang tidak memperoleh hak lagi. Apabila terjadi demikian mereka pergi kepada orang-orang berada atau kepada badan sosial untuk mendapatkan pertolongan. Mereka itu mengira organisasi badan sosial telah menolong mereka tatkala tiada satu pun yang dapat menolong mereka. Jika seandainya badan sosial itu tidak menolong mereka lagi, sudah barang tentu mereka akan kehilangan dari hak-hak mereka.[3]

Pada zaman ini organisasi Hak Asasi Manusia bekerja dalam kedua taraf, baik taraf Nasional maupun Internasional dan berjuang untuk bertanding secara hukum terhadap Pemerintah. Mereka dapat melakukan tuntutan dan melakukan tekanan-tekanan secara internasional kepada Pemerintah. Beberapa dari Organisasi itu bekerja dengan sangat baik. Namun, kenyataan tidak dapat dibantah, suatu waktu akan tiba masanya ketika usaha-usaha dan rencana seseorang atau bantuan dari keluarga, dari teman, dari sebuah perkumpulan, dari bangsanya, ataupun dari Organisasi Hak Asasi Manusia, sama sekali tidak dapat diperoleh. Tetapi, jika dalam keadaan sangat mendesak seorang manusia berhasil meraih apa yang dimaksudkannya, dan ia mengira sumber keberhasilannya itu datang dari Yang Ghaib maka pasti hakikat keberhasilannya itu dia nisbahkan kepada Allah.

Berkenaan dengan organisasi kebajikan dan lembaga sosial, pada zaman sekarang para Ahmadi sudah mengetahui dengan baik bahwa apabila mereka terdampar di berbagai negara di dunia, mereka berusaha mencari bantuan penyelesaian suaka mereka melalui lembaga itu. Banyak organisasi atau lembaga seperti itu, diantaranya sebuah lembaga sangat besar yang bekerja dengan bantuan PBB berusaha membantu mereka, namun kadangkala Pemerintah yang bersangkutan tidak bersedia mendengar keluhan kasus para pencari suaka itu.

Namun, apabila kasus suaka seseorang sudah selesai dan merasa keberhasilannya itu telah diperoleh dari Yang Ghaib, jika ia beriman kepada Tuhan maka ia yakin pertolongannya itu datang dari Allah Ta’ala. Dengan keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala, manusia mengaitkan keberhasilan pekerjaannya itu datang dari-Nya sekalipun diselesaikan melalui suatu pertolongan dari luar. Ia juga mengerti betul bahwa pertolongan keluarga, teman, organisasi, pemerintah dan lembaga kebajikan atau lembaga sosial pada hakikatnya adalah pertolongan Allah Ta’ala dan sumber semua pertolongan itu datangnya dari Allah Ta’ala.

Orang-orang yang tidak mempunyai hubungan erat dengan Allah Ta’ala menganggap semua sumber sarana dunia adalah segala-galanya bagi mereka. Dan apabila mereka gagal dan semua sumber sarana itu tidak memberi faedah lagi kepada mereka, maka mereka mulai sadar dan ingat kepada Allah Ta’ala. Mereka ingat kepada Allah Ta’ala sebab mereka tidak mempunyai pilihan lain lagi dan mulailah mereka berseru kepada Allah Ta’ala untuk memohon pertolongan dari pada-Nya sambil mengakui bahwa Dia adalah Sumber segala kekuatan dan kekuasaan.

Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa betapapun hebatnya mereka, Pemerintah dan lembaga-lembaga, semuanya mempunyai kekuatan sangat terbatas. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa apabila semua sumber daya kekuatan sudah menghadapi kegagalan, tidak dapat memberikan pertolongan lagi kepada mereka, maka mereka mulai ingat kepada Tuhan, sekalipun sebelumnya mereka tidak mempunyai suatu hubungan dengan Allah Ta’ala. Sebab tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali hanya datang kepada Allah Ta’ala.

Apabila semua sarana sudah dipergunakan, namun tetap gagal, barulah mereka berkata: “Ya Allah, hanya Engkaulah Yang dapat menolong kami. Engkaulah Pemilik segala kekuatan.” Kitab Suci Al-Quran juga menerangkan bahwa dalam keadaan gelisah dan putus asa, orang-orang tidak bertuhan bahkan orang-orang musyrik pun, pasrah sembari menghadap kepada Allah Ta’ala. Karena itu Allah Ta’ala berfirman; وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا Artinya: “Apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan, maka sia-sialah bagimu segala yang kamu seru selain Dia. Tetapi apabila Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan, kamu berpaling; dan manusia sangat tidak tahu berterima kasih.” (Bani Israil:68).

Allah Ta’ala berfirman, bahwa tatkala terperangkap di dalam badai dan musibah, manusia mulai berseru kepada-Nya. Tetapi mereka melupakan Tuhan apabila sudah terlepas dari musibah. Itulah karakter alami manusia, ingat kepada Tuhan dengan sangat merendahkan diri sambil berdoa, apabila problem sudah menimpa. Mereka mulai menganggap Tuhan sebagai sumber pertolongan. Namun, segera setelah terlepas dari bahaya, mereka kembali lagi kepada kesibukan dunia dan mulailah takabbur dan sombong.

Manusia sangat tidak berterima kasih, namun kasih-sayang Tuhan sangat luas tidak terbatas. Perhatikanlah, sekalipun tahu betapa luasnya kasih sayang Allah Ta’ala, namun setelah selamat sampai ke daratan mereka berbuat pelanggaran-pelanggaran kembali sehingga terlempar jauh dari Tuhan. Doa-doa yang dipanjatkan dan perbuatan merendahkan diri yang mereka lakukan di hadapan Allah Ta’ala hanya untuk sementara waktu ketika menghadapi kesulitan. Namun Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah mendengar seruan dan permohonan mereka lalu menyelamatkan mereka dari bahaya. Selanjutnya, manusia masih juga berkata, bahwa Allah -naudzubillah- telah berbuat kejam.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan sebuah kisah orang yang tidak percaya kepada Dzat (keberadaan) Allah Ta’ala. Namun, pada waktu kesulitan datang menimpanya, keluarlah seruan dan rintihan dari mulutnya dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Seorang mahasiswa kedokteran di kota Lahore yang selalu berdebat dengan keras menentang adanya Dzat Allah Ta’ala. Di waktu terjadi gempa bumi sesuai dengan nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as., ia sedang berada di dalam kamarnya. Dia merasa karena goncangan gempa itu, seakan-akan langit-langit rumah akan runtuh menutupi dirinya. Dia merasa yakin, tidak ada kekuatan yang dapat menyelamatkannya. Karena berlatar belakang agama Hindu, dengan serta merta ia pun berseru, “Ram! Ram! Artinya, “Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!” Pada hari berikutnya temannya bertanya, “Apa yang telah terjadi pada Anda, sehari sebelumnya tak percaya Tuhan, namun dengan suara keras berseru Ram! Ram!?” Maka ia bilang, “Saya tidak sadar apa yang telah terjadi. Saya kehilangan akal. Kesadaran hilang.”

Hakikatnya adalah, pada waktu itulah akalnya menjadi sadar, hanya ada satu tumpuan yang tampak kepadanya, yaitu Tuhan, Pemilik semua Kekuatan. Selain Tuhan Yang Maha Kuasa tidak ada yang dapat menolong untuk menyelamatkannya, maka ia berseru kepada Allah Ta’ala. Selama ia melihat ada kekuatan lain yang dapat menolongnya maka, perhatiannya akan terpusat kepada sumber kekuatan itu dan selama kekuatan itu memberi faedah kepadanya ia menghargai dan memujiNya sambil sangat merendahkan diri di hadapanNya. Tetapi apabila ia melihat tidak ada sumber lain lagi yang dapat menolongnya maka ia mulai berseru kepada Tuhan sambil memuji-Nya.

Demikianlah ada satu cerita lain berkenaan dengan Perang Dunia I yang senantiasa diperdengarkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bahkan beliau sendiri bersabda bahwa beberapa kali saya mendengar yaitu dalam keadaan seperti ini ketika orang-orang ateis beriman pada Allah Ta’ala. Ceritanya demikian, di zaman Perang Dunia Pertama pada 1918 yang membuat orang-orang tidak bertuhan juga menjadi sadar dan berseru kepada Tuhan. Ketika itu Pemerintah Jerman menyerang Tentara Sekutu (Inggris dan Prancis) dengan kekuatan yang sangat dahsyat sehingga membuat Tentara Sekutu itu dalam suasana yang berbahaya sekali, dimana mereka kehilangan tempat berlindung. Kekuatan jalur pertahanan mereka sepanjang 7 kilometer telah dihancurkan hingga porak-poranda, sebagian tentara melarikan diri ke satu arah dan sebagian lain lagi ke arah lain.

Keadaan itu membuat pasukan Jerman mendapat kesempatan untuk menyerang dan menghancurkan kekuatan musuh mereka. Pada waktu itu Jenderal Tentara Sekutu yang bertugas di medan tempur memberi tahu Commander in Chief (komando tertinggi) bahwa ia tidak memiliki pasukan lagi, pertahanan telah porak poranda dan untuk mengatasi keadaan pertahanan yang sudah kacau-balau diluar kemampuannya.

Pada waktu itu telah dirasakan bahwa pertahanan militer mereka akan dihancurkan dan nama Prancis dan Britain (Inggris) akan hilang sirna. Ketika kiriman telegram sampai kepada Perdana Menteri Ingris, di sana dia sedang memimpin sebuah rapat penting bersama para menterinya. Ia tidak dapat dilakukan suatu apapun. Sekalipun jika tersedia pasukan cadangan, mereka tidak dapat segera dikirim ke sana pada waktu itu.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Sekalipun orang-orang Eropa penganut agama Kristen, namun jika diperhatikan keadaan keimanan mereka itu kosong, bahkan kebanyakan dari mereka tidak bertuhan dan sangat materialis. Telah pula diumumkan, 80% dari penduduk negara mereka tidak bertuhan. Ketika itu, Eropa yang materialistik sangat bangga dengan kekayaan mereka dan para petinggi pemerintah sangat sombong dan arogan karena sumber kekuatan yang mereka kuasai. Pada waktu itu Penguasa Tertinggi mereka yang menikmati kekuasaan dan pujian istimewa merasa tidak ada lagi jalan keluar dari kesulitan mencekam yang tengah mereka hadapi. Sambil menatap muka semua kerabat kerja dia berkata kepada mereka, ‘Marilah kini kita berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya.’ Maka, mereka pun semua berdoa sambil berlutut.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Sangat ajaib! Doa mereka terkabul. Karena doa itulah mereka selamat. Terlepas dari kesulitan. Sebagaimana ayat Quran yang telah saya tilawatkan sebelumnya menerangkan bahwa pertolongan Allah Ta’ala turun di waktu seseorang menghadapi kesulitan, sedangkan orang lain meninggalkannya. Dikatakan juga bahwa Allah Ta’ala mengabulkan doa yang dipanjatkan dengan hati perih penuh gelisah sekalipun dia orang ateis atau tidak bertuhan.

Kadangkala Allah Ta’ala demi membuktikan DzatNya menunjukkan tanda-tandaNya kepada orang ateis juga. Pada zaman sekarang orang-orang ateis mulai kembali kepada Tuhan setelah menyaksikan tanda-tanda dari-Nya. Tetapi, jika mereka berupaya memusuhi Nabi Allah atau Jemaat-Nya maka biar betapa pun gelisahnya mereka berdoa, tidak akan dikabulkan. Sebab, hal itu bertentangan dengan taqdir Allah Ta’ala yang kekal dan abadi bahwa utusan-Nya akan menang sesuai janji-Nya. Namun, dalam peperangan antara Jerman dan Britain, kedua belah pihak keadaannya sama. Sebab itu, Allah Ta’ala mengabulkan doa penuh keperihan salah satu pihak dari mereka.

Di dalam cerita Perang Dunia Pertama tentara Jerman tidak mengetahui hancurnya garis pertahanan lawan sehingga mereka tidak dapat mengambil kesempatan baik dalam situasi demikian. Sebaliknya, Commander in Chief (Komando tertinggi) Tentara Sekutu berseru kepada seorang komandannya, yang ia percayai kemampuan dan kekuatannya, ‘Jangan bertanya apa pun! Saya beritahukan, kini keadaan kita di medan perang sangat kritis dan fatal. Pihak musuh (Jerman dkk.) telah merusak garis pertahanan kita. Jalan terbuka bagi mereka untuk maju menembus wilayah kita. Sementara kita tidak mempunya kekuatan tentara tambahan lagi. Pergilah ke medan perang. Aturlah semampu kamu bagaimana pun caranya agar celah yang kosong itu sementara waktu terisi dengan kekuatan kita.’ Tanpa bertanya apa pun, dengan patuhnya, sang komandan langsung pergi ke tempat para pegawai sipil yang bekerja di kantor pertahanan. Dia kumpulkan mereka dan berkata, ‘Kalian sangat cinta berkhidmat kepada Negara dan sangat gembira menyaksikan tentara menjalankan tugas mereka. Kini tiba masanya untuk maju ke depan membuat barisan.’ Dia sediakan sejumlah senjata bagi mereka. Dia latih mereka untuk ditempatkan di garis perbatasan. Mereka menetapi seruannya. Dua puluh empat jam belum berlalu, serombongan tentara pertahanan bantuan telah tiba di tempat yang dituju.”[4]

Maksud dari penjelasan ini adalah, apabila keadaan sudah sangat mendesak dan tidak mendapatkan bantuan dari manapun, orang-orang tidak bertuhan dan sangat materialis sekalipun berusaha mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala. Karena itu, jika orang-orang tak bertuhan dan sangat materialis menunjukkan contoh demikian, maka orang-orang yang menyatakan diri hanya bertumpu kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan, dan memang harus demikian, mereka harus lebih banyak memusatkan perhatian mereka setiap waktu hanya kepada Allah Ta’ala.

Itulah sebabnya Allah Ta’ala telah mengajarkan kita doa yang diperintahkan untuk dibaca setiap menunaikan shalat dan perintah membacanya dalam setiap rakaat agar perhatian kita kepada Tuhan jangan berpaling ke arah lain. Sekali-kali jangan bersandar kepada kekuatan duniawi kecuali kepada Allah Ta’ala. Memang, Allah Ta’ala menyuruh kita membuat rencana untuk suatu pekerjaan, tetapi tawakkal harus dicurahkan sepenuhnya kepada Dzat Allah Ta’ala semata.

Kita tidak hanya pasrah kepada Allah Ta’ala ketika sudah gagal dan tidak mendapatkan siapapun yang dapat menolong kita, seperti orang yang mendapat musibah badai angin taufan di atas samudra. Apabila semua kekuatan dan harapan sudah hilang, baru mereka ingat kepada Allah Ta’ala. Melainkan, Allah Ta’ala telah mengajar doa untuk dipanjatkan dalam setiap rakaat di waktu shalat yaitu, “Hanya kepadaKu lah dan hanya kepada-Kulah kalian berpaling.” Doa itu ialah, إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ ‘iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’in.’ – “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Al Fatihah: 5). Baginda Nabi Muhammad saw. bersabda, dalam sebuah hadits yang sangat panjang, “Apabila seorang hamba berkata, إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Ayat ini merangkum hubungan dua arah antara Aku dengan hamba-Ku yang sangat erat. Apa yang hambaKu minta Aku akan memberinya.’”[5]

Bukankah ini satu keberuntungan orang-orang yang beriman bahwa Allah Ta’ala memberi jaminan untuk mengabulkan doa hamba-hamba-Nya? Jaminan ini sifatnya kekal, hanya apabila manusia selalu menunaikan ibadah secara dawam seraya berserah diri kepada-Nya, bukan seperti orang-orang ateis yang berdoa hanya di waktu sedang ditimpa kesulitan.

 Kita harus senantiasa ingat bahwa kita adalah Ahmadi dan kita telah berbaiat kepada Hadhrat Imam Zaman. Kita telah berjanji akan menjalani kehidupan demi meraih ridha Allah Ta’ala, dan sekali-kali tidak akan berpaling dari Allah Ta’ala di waktu ditimpa kesusahan maupun di waktu kita mendapat kesenangan. Kita harus selalu ingat dan betul-betul paham doa berikut ini; إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ ‘iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’iin.’ – “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Al Fatihah: 5).

Kita harus mengoreksi diri kita masing-masing, apa yang harus kita lakukan dan apa yang sedang kita lakukan. Apakah mutu ibadah kita dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala sudah sesuai dengan perintah Allah Ta’ala? Ataukah kita selalu berulang-ulang membaca إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ 32 kali sehari semalam seperti burung beo berkicau? Kita harus sadar, keadaan kita ini demikian lemah sedangkan musuh-musuh kita sangat perkasa. Dibandingkan dengan mereka, kita tidak memiliki sumber kekayaan duniawi berupa apapun yang bisa diharapkan kecuali kita bergantung kepada Allah Ta’ala dan tunduk dihadapan-Nya, seraya memahami betul intisari إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ ‘iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’iin.’ – “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Sekarang serangan setan telah melampaui batas puncak kejahatannya di atas dunia. Berbagai macam kesulitan telah diciptakannya di setiap tempat untuk menghadang kita. Permusuhan orang-orang yang menamakan diri mereka Muslim semakin bertambah kuat karena kita telah beriman kepada Hadhrat Imam Zaman. Demikian pula, sikap cemburu pihak non Muslim juga meningkat karena pengaruh Jemaat semakin luas melingkupi semua lapisan masyarakat dunia. Secara sepintas kita dapat menyaksikan sikap cemburu mereka itu di dalam sebuah media di Jerman. Mereka telah mulai unjuk gigi untuk melawan Jemaat. Kita yakin bahwa para penentang itu akan terbakar hangus di dalam api yang mereka kobarkan sendiri, insya Allah!

Tetapi, kita jangan melupakan kewajiban kita sendiri. Sekali-kali jangan lalai untuk menunaikan ibadah dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Karena, jika demikian, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk melawan kekuatan musuh. Padahal kekuatan itu demikian perkasanya sehingga tidak ada di dunia ini yang mampu melawannya. Kita harus selalu ingat, apabila Allah Ta’ala telah bangkit untuk menolong seseorang, pasti orang itu akan memperoleh kemenangan. Tidak akan ada kekuatan dunia yang mampu menghalangi kemenangannya karena pertolongan Tuhan sangat luas dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. Sebagaimana Dzat Allah Ta’ala tidak terbatas begitu juga Sifat-sifat-Nya tanpa batas. Karenanya, setiap Ahmadi harus selalu tunduk di hadapan-Nya dan senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya. Bukan hanya para Ahmadi di Pakistan yang sedang menghadapi banyak sekali kesulitan dan tantangan atau bukan hanya para Ahmadi yang tinggal di beberapa negara, melainkan para Ahmadi di setiap negara atau di setiap tempat, dengan ketaatan yang sempurna harus tunduk kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan-Nya.

Jemaat kita mempunyai persatuan dan kesatuan yang sangat kokoh kuat, sebagaimana mestinya demikian. Itulah keistimewaan Jemaat kita. Setiap anggota Jemaat harus memanjatkan doa untuk orang lain, agar pertolongan Allah Ta’ala turun setiap waktu dan di setiap tempat kepada setiap orang Ahmadi. Jika keadaan kita seperti itu maka kita akan menyaksikan turunnya pertolongan Tuhan yang sangat menakjubkan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ingatlah! Allah Ta’ala Maha Ghani (Kaya-raya) tidak memerlukan suatu apapun dari kita. Jika kita tidak banyak berdoa dan tidak berulang kali memanjatkan doa, Dia tidak akan menghiraukan kita.” (Malfuzhat, jilid X, h. 137, edisi 1985, terbitan Inglistan.)

 Pendeknya, banyak berdoa adalah rahasia kemajuan dan kemenangan kita. Kita harus menaruh perhatian penuh ke arahnya. Kesulitan apapun yang sedang kita hadapi, baik yang diadakan oleh banyak golongan atau oleh beberapa pemerintah, atau yang dibangkitkan melalui media oleh masyarakat yang cemburu, atau oleh sekelompok orang yang berusaha menjatuhkan nama baik Jemaat, maka untuk menghadapi semua itu kita memohon, “Semoga Allah Ta’ala menolong kita.”

Kita sama sekali tidak mengharapkan pertolongan dari suatu instansi apapun atau pihak mana pun. Kita harus banyak berdoa, jika kita melakukan kesalahan yang mengakibatkan mundurnya pertolongan Allah Ta’ala, semoga Dia dengan kasih sayang-Nya memaafkan kita, dan menghapuskan kemarahan-Nya kepada kita kemudian menggabungkan kita kedalam golongan orang-orang yang menerima turunnya karunia dan berkat, laksana hujan deras, dan menjadi orang-orang yang memahami dengan tepat dan benar hakikat إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ ‘iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’iin.’ – ‘Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.’”

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “Perhatikanlah! Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada kita إيَّاكَ نَعْبُدُ ‘iyya-Ka na’budu’ – ‘Hanya kepada Engkaulah kami beribadah’. Mungkin saja manusia bertumpu hanya kepada kekuatan dan kemampuan pribadinya dan menjadi jauh dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu berkaitan dengan itu Dia telah mengajarkan pula إيَّاكَ نَسْتَعينُ ‘iyya-Ka nasta’iin.’ – ‘Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’. Jangan mengira bahwa kalian beribadah kepada Tuhan hanya mengandalkan kekuatan diri kalian. Sekali-kali tidak! Melainkan, selama tidak ada pertolongan Allah Ta’ala, kalian tidak dapat melakukan sesuatu apapun tanpa diberikan kekuatan dari Nya. Dia sendiri Dzat yang Suci. Apabila tidak diberikan kekuatan dan taufik dari-Nya, apapun tidak dapat dilakukan.”[6]

Pendek kata, hakikat kebenaran ini harus ditanamkan betul-betul di dalam benak kita agar kita selalu ingat kepadaNya. Semoga Allah Ta’ala memberi kemampuan istimewa untuk memahami hal itu semua dan untuk mengamalkannya. Saya ingin mengingatkan kembali untuk berdoa. Sekarang situasi dan keadaan dunia berobah teramat cepat. Semoga hal itu menjadikan sarana bagi kemajuan Jemaat bukan sebaliknya menjadi hambatan bagi kemajuan Jemaat. Dan semoga Allah Ta’ala menjadikan kita para pelaku ibadah hakiki kepadaNya dan menjadi pewaris pertolongan-Nya secara terus-menerus. [Pent. Mln. Hasan Basri]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatanNya yang Perkasa

[2] Malfuzhat Jild 2 hal. 53 edisi tahun 1985, cetakan di Inggris

[3] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 12, h. 119-120.

[4] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 12, h. 120-122.

[5] Shahih Muslim, Kitab tentang Shalat, bab Wajib membaca surat Al-Fatihah setiap rakaat dan bagi orang yang tidak bisa dan belum mempelajarinya disarankan membaca surat lain, selain surat Fatihah. Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ». ‘Laa shalaata liman lam yaqra bi Fatihatil Kitaab.’ Tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْيَ خِدَاجٌ- ثَلاَثًا- غَيْرُ تَمَامٍ». فَقِيلَ لأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}. قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي- وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي- فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}. قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ}. قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ». قَالَ سُفْيَانُ حَدَّثَنِي بِهِ الْعَلاَءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ دَخَلْتُ عَلَيْهِ وَهُوَ مَرِيضٌ فِي بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ أَنَا عَنْهُ.

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kami berada di belakang imam?” Maka dia menjawab, “Bacalah Ummul Qur’an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiku.’ Selanjutnya Dia berkata, ‘HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} ‘Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, ‘Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’.”

[6] Malfuzhat, jilid 1, h. 422, edisi 1985, Inglistan.