Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 12 Februari 2010/Tabligh 1389 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hari ini saya ingin menyampaikan di hadapan saudara-saudara tentang peristiwa-peristiwa para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. yang sedemikian rupa menggugah iman, sehingga dari peristiwa itu dapat diketahui bagaimana teguhnya mereka pada keyakinan dan bagaimana keyakinan mereka  terhadap Dzat Allah Ta’ala serta bagaimana ketawakalan mereka dan kecintaan mereka terhadap Allah Ta’ala dan kemudian bagaimana Allah Ta’ala juga terus memperlihatkan dan menzahirkan contoh-contoh yang luar biasa itu bagi mereka.

Peristiwa pertama, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. telah menerangkan bahwa di sana (di Kasymir) ada seorang sesepuh. Dia telah banyak menghafal di luar kepala definisi-definisi atau batasan-batasan berbagai disiplin ilmu dan seni. Dia menanyakan kepada para ulama besar manapun tentang definisi suatu ilmu. Apa saja yang diterangkan oleh ulama, orang tua ini menangkap ada saja kekurangan di dalam definisi-definisi tersebut. Dikarenakan dia hafal di luar kepala kalimat-kalimat atau kata-kata baku dari defenisi segala sesuatu. Seperti itulah dia berusaha menanamkan pengaruhnya kepada setiap orang. Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. bersabda:

“Pada suatu hari di istana Raja, dia bertanya kepada saya:

‘Maulwi Sahib! Apa yang disebut hikmah?’ Dia bertanya sedemikian rupa sehingga jika ada definisi yang dikemukakan, maka saya akan dianggap ada kesalahan.

Lalu Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. bersabda: ‘Saya katakan bahwa hikmah merupakan nama untuk menghindar dari syirik sehingga terhindar dari akhlak buruk yang umum.’

Dia menanyakan dengan heran, ‘Di mana tertulis definisi hikmah ini?’

Kemudian Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. bersabda: ‘Di samping saya duduk seorang tabib dari Delhi yang juga Hafiz Al-Quran.’

Saya katakan kepada tabib yang hafiz Quran itu, ‘perdengarkanlah kepadanya terjemahan rukuk ke-empat surah Bani Israil yang di dalamnya tertera ayat:

ذٰلِکَ مِمَّاۤ  اَوۡحٰۤی  اِلَیۡکَ رَبُّکَ مِنَ الۡحِکۡمَۃِ ؕ …

Dzalika mimmâ awhâ ilayka Robbuka minal-hikmah –-’

‘Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu.’ (Bani Israil [17]: 40).

Kemudian sesepuh itu benar-benar menjadi sangat keheranan.” [1]

(Penjelasan) ini mulai dari rukuk ke-empat ayat 32 sampai ayat 41. Di dalamnya Allah Ta’ala telah memberitahukan, kemudian menerangkan berbagai perkara. Ini merupakan semua keburukan-keburukan dan menghindar darinya merupakan hikmah. Sesepuh ini senantiasa menantang para ulama. Akan tetapi orang semacam itu ada di setiap zaman yang tujuannya bukan untuk menyebarkan ilmu, melainkan ingin menanamkan wibawa keilmuannya. Padahal mereka itu kosong dari ketakwaan. Begitu juga kondisi ulama dewasa ini. Pada zaman itu pun bagaimana ru’ub dari ketinggian ilmunya ditanamkan kepada orang lain.

Dewasa ini terdapat beraneka ragam stasiun televisi dan orang-orang ini tampil di dalamnya. Dengan penjelasan ini saya katakan kepada semua orang Ahmadi dan khususnya kepada para pemuda bahwa sekarang ini janganlah terpengaruh dari berbagai program TV yang ditayangkan. Contohnya beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun televisi di Pakistan ada seorang ulama ‑‑untuk merebut hati para pemirsa dari kalangan anak muda dan untuk menarik minat mereka kepadanya ‑ dia melontarkan satu pernyataan, yakni di mana pun dalam Al-Quran tidak ada tertulis bahwa pardah itu penting bagi perempuan. Ini hanya untuk istri-istri nabi. Padahal di dalam Al-Quran Karim, surah Al-Ahzab, di mana terdapat perintah untuk istri-istri nabi. Di sana juga terdapat perintah kepada orang-orang mukmin secara umum. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al-Ahzab [33] ayat 60:

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  قُلۡ  لِّاَزۡوَاجِکَ  وَ  بَنٰتِکَ وَ نِسَآءِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ یُدۡنِیۡنَ عَلَیۡہِنَّ مِنۡ جَلَابِیۡبِہِنَّ …

Yâ ayyuhan-nabiyyu qul li-azwâjika wa banâtika wa nisâ-il-mu-minîna ‘alayhinna min jalâbîbihinn

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mukmin: “Ketika mereka keluar maka hendaklah mereka menarik kerudung ke atas kepala sampai ke dada mereka.”

Sekarang pun sebagian orang mulai mengeluarkan penafsiran-penafsiran maksud menarik kerudung dari kepala lalu sampai ke atas dada, yakni jika kepala telanjang sekali pun maka tidak apa-apa. Dan sebagai dampaknya yang terlihat adalah pada umumnya di sebagian negara-negara Islam, kini tidak ada lagi pardah tutup kepala dan tidak pula tersisa pardah untuk tubuh. Alasan itulah di Eropa, di sini, timbul satu reaksi yang di sebagian tempat muncul dalam bentuk perlawanan menentang pardah. Para ulama begini yang saya sendiri tidak mendengar program mereka. Tetapi inilah yang telah saya dengar juga bahwa mereka melontarkan sebuah pernyataan bahwa di mana pun dari Al-Quran tidak terbukti sekarang Khilafat itu perlu atau Khilafat akan berdiri. Memang tidak diragukan lagi bagi orang-orang itu [khilafat] tidak perlu ada. Karena orang-orang yang tidak mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as., orang-orang yang tidak beriman kepada Imam Zaman di kalangan mereka, Khilafat tidak bisa berdiri. Dan berkat-berkat yang berkaitan dengan Khilafat tersebut tidak bisa mereka dapatkan. Jadi ini satu pembahasannya akan disebutkan secara sekilas.

Peristiwa berikutnya juga merupakan peristiwa yang menyangkut Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra.. Abdul Qadir Sahib mantan pengusaha garmen menerangkan bahwa satu kali beliau pergi ke sebuah tempat di Lahore. (Hal ini berkaitan dengan sebelumnya). Pada saat itu Dr. Allamah Iqbal Sahib sedang belajar di College pemerintah di Lahore. Arnold, seorang dosen perguruan tinggi, mengatakan bahwa masalah trinitas sama sekali tidak bisa dicerna oleh benak orang-orang Asia. (Yakni ini merupakan persoalan orang-orang Kristen, maka hal ini tidak bisa dipahami oleh orang-orang Asia), maka Doktor yang kemudian dikenal dengan panggilan Allamah Iqbal datang menemui Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. dan memberitahukan ucapan sang dosen ini dan bertanya,

“Jawaban apa yang saya akan berikan?”

Maka beliaura. bersabda, “Sampaikanlah kepada dosen tersebut bahwa jika pendakwaannya benar, maka Hadhrat Al-Masiha.s. dan para Hawari atau murid-murid beliauas. juga mungkin tidak dapat memahami masalah itu. Karena beliauas. juga adalah orang Asia.” Setelah mendengar jawaban ini, dosen itu sedemikian rupa menjadi diam seolah-olah dia tidak pernah mendakwakan ini. Kemudian selanjutnya beliau menulis bahwa terdengar pula di Eropa, di dalam sebuah konferensi dia telah melontarkan keberatan ini. Tetapi dari sana juga dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.[2]

Kemudian satu peristiwa Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki Sahib menerangkan bahwa pada zaman Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud as., ketika tengah terjadi serangan wabah penyakit tha’un/pes di berbagai wilayah di Punjab. Beliau menerangkan, “Saya pergi ke Goryalah, Kecamatan Kariya, Kabupaten Gujrat dengan maksud untuk menyampaikan tabligh dan di sana saya tinggal beberapa hari di [rumah] seorang Ahmadi mukhlis bernama Choudry Sulthan Alim Sahib. Pada saat tinggal di sana, setiap malam saya naik ke atas atap rumahnya terus menyampaikan ceramah-ceramah dan terus-menerus memberikan pemahaman kepada orang-orang mengenai Ahmadiyah karena didalam ceramah-ceramah itu saya juga terus memberikan peringatan kepada orang-orang dengan azab-azab penyakit tha’un dan lain-lain. Oleh karena itu pada suatu subuh, beberapa orang dari kampung itu datang menemui saya dan mereka mengatakan bahwa di dalam ceramah-cermah tuan banyak memperingatkan orang-orang yang tidak beriman kepada Mirza Sahib dengan penyakit tha’un dan lain-lain. Tetapi hendaknya tuan tahu bahwa kampung Goryalah terletak di tempat yang sangat tinggi dan kemudian permukaan tanah, air serta udara di sini begitu bagus sehingga di sini bakteri-bakteri penyakit sama sekali tidak bisa menjangkaunya. Lalu Maulwi Sahib menyampaikan bahwa saya katakan kepada mereka bahwa memang ini sepenuhnya benar, akan tetapi kalian beritahukanlah apakah pernah ada muballigh Ahmadi datang ke kampung ini sebelum saya yang menyampaikan tabligh Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud as. kepada kalian? Orang-orang kampung itu mengatakan sebelumnya tidak ada, maka tidak pernah ada yang datang. Maulwi Sahib mengatakan saya berkata inilah sebabnya bahwa kampung kalian sampai sekarang masih selamat. Kini sesudah tabligh saya dan keingkaran kalian, jika kampung ini selamat juga dari azab Allah Ta’ala, maka saya akan menganggap bahwa sungguh benar-benar indah dan baik kondisi tanah kampung ini sehingga dapat mencegah ancaman firman Allah Ta’ala:

… وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا ﴿۱۶﴾

Wa mâ kun-Nâ Mu’adzdzibîna hattâ Nab’atsa rosûlâ

Yakni Allah berfirman: ”Dan Kami sama sekali tidak mengirim azab selama kami tidak mengirim rasul”. (Bani Israil 16 )

Selanjutnya Maulwi Sahib mengatakan bahwa ini merupakan kebijakan Allah Ta’ala. Yakni setelah saya mengatakannya kepada orang-orang dan saya pergi dari sana. Tetapi tepat beberapa hari kemudian tikus-tikus mulai mati di kampung itu. Kemudian penyakit tha’un sedemikian dahsyatnya mewabah sehingga kematian telah menjadikan kebanyakan kawasan kampung itu menjadi kosong dan banyak orang-orang berlari menuju ke kampung lain.” [3]

Jadi azab Allah Ta’ala juga terdapat dalam beragam cara. Thaun merupakan sebuah azab yang sedemikian rupa Hadhrat Masih Mau’udas. sendiri telah memberikan kabar sebelumnya. Kemudian beliauas. memberitahukan juga sebuah tanda gempa bumi. Sekarang ini juga azab-azab datang dalam beragam corak di dunia. Akan tetapi dunia tidak ingin mengenal Allah Ta’ala dan tidak pula ingin mengenal Imam Zaman dan tidak juga dunia ingin mengenal Hadhrat Muhammadsaw.. Bahkan perasaan itu sama sekali telah mati. Di setiap tempat di dunia, kehancuran demi kehancuran tengah terjadi. Namun ternyata tidak ada perhatian ke arah itu untuk merenungkan berkenaan dengan ini. Allah Ta’ala-lah yang telah memberi akal kepada mereka dan Dia yang telah melindungi dunia dari segala macam bencana.

Kemudian Muluk Shilahuddin Sahib menerangkan berkenaan dengan Maulana Baqapuri Sahib yang merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’udas.. Dalam riwayatnya, beliaura. menulis bahwa Hadhrat Khalifatul Masih Tsanira. telah mendirikan misi pertablighan di wilayah Sindh. Beliaura. menetapkan Maulana Baqapuri Sahib sebagai Amir pertablighan di wilayah tersebut. Pada saat itu di kalangan suku Nujudgi jumlahnya mendekati seribu orang di Sindh. Orang-orang Arya Samaj telah menebarkan perangkap pemurtadan seperti orang-orang Malkan (orang yang baru masuk Islam/muallaf). Maulana Sahib bekerja keras dalam beberapa bulan mempelajari beberapa kitab-kitab dalam bahasa Sindhi, sehingga beliau mampu menyampaikan ceramah.[4] Dan dari sejak permulaan di seluruh kawasan itu beliau telah sukses melakukan perlawanan terhadap orang-orang Arya Samaj. Di tempat mana saja orang-orang ini (Arya Samaj) menyesatkan orang-orang Sindh yang lugu, lalu membuat mereka bersedia meninggalkan Islam, maka Maulana Sahib datang ke sana memperteguh iman mereka terhadap Islam. Demikianlah hasil dari usaha kerja keras yang panjang, yakni dalam tujuh atau delapan bulan, orang-orang Arya Samaj menjadi putus asa terhadap suku Nujudgi dan api pemurtadan ini pun menjadi dingin.

Namun kemudian tahun kedua, yakni di tahun 1924, terjadi peristiwa bahwa para ulama, para pemuka masyarakat dan orang-orang miskin, ketiga-tiganya bersatu-padu bangkit menentang Maulwi Sahib dan tiba-tiba mulai terjadi diskusi, sedangkan Maulana Baqapuri Sahib hanya seorang diri dan para ulama ghair Ahmadi datang dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa kali dikatakan bahwa mereka berjumlah 12 orang. Tetapi dengan karunia Allah Ta’ala beliau senantiasa meraih kemenangan. Sebagai dampaknya, perhatian orang-orang menjadi bertambah besar terhadap Ahmadiyah.

Akibatnya di beberapa tempat, Jemaat-jemaat berdiri di Sindh. Kemudian bertambah banyak lagi orang-orang mulai mendengar perkara [Jemaat]. Ketika timbul hasrat masyarakat [untuk mengetahui Jemaat], maka wibawa beliau tertanam pada para ulama dan sambil menyebut nama Maulwi Baqapuri, mereka mengatakan bahwa ‘kita tidak bisa menghadapinya’ dan darinya timbul perhatian dari orang-orang yang mempunyai fitrat baik. Allah Ta’ala telah menganugerahkan taufik kepada banyak orang untuk menerima Ahmadiyah. Pada tahun 1928 (walaupun dalam keadaan sakit beliau pergi melakukan tabligh ke berbagai kota, maka pada saat itu di Sindh hanya terdapat satu Jemaat yang terdiri dari dua-empat keluaga). Tetapi sesudah itu dengan karunia Allah Ta’ala, 50 Jemaat berdiri di sana. Maulana Basyarat Basyir Sahib juga menulis bahwa sesudah suku Nujudgi menerima Islam, mereka menjalin hubungan Ristah Natha dengan kerabat dekat mereka [yang ghair] dan inilah penyebab kelemahan iman mereka. Sesudah itu kemudian pelan-pelan mereka mulai menjauh dari Ahmadiyah dan juga dari Islam.

Walhasil hari ini pun orang-orang Ahmadi hendaknya ingat bahwa sebagian orang-orang tidak berhati-hati, terjadi keputusan yang emosional (terburu-buru mengambil keputusan), yakni terjadi pernikahan-pernikahan di luar Jemaat yang dampaknya terjadi kehancuran pada generasi-generasi yang akan datang dan lama-kelamaan seluruh anggota keluarga menjadi terpisah dari agama.

Kemudian diceritakan juga ketika Maulwi Sahib mengetahui bahwa di dekat Larkana atau di sebuah kota akan terjadi penghinduan, maka beliau datang ke sana dan beliau memberikan pemahaman kepada seorang muslim Hafiz Al-Quran bernama Gugal Chand yang merupakan tokoh dan kepala desa muslim di sana. Dia mulai mengungkapkan bahwa ‘para mullah tidak memberikan bantuan kepada kami”. Kini telah diadakan perjanjian dengan orang-orang Hindu bahwa besok lusa seluruh penduduk kota ini akan memeluk agama Hindu. Kemudian dia mengajak kepada Maulwi Sahib untuk makan, maka beliau menolak untuk makan dan mengatakan, “saya sama sekali tidak akan memakan roti kamu” dan menangis sejadi-jadinya. Dari kejadian itu orang-orang menjadi sangat terpengaruh. Kemudian pembicaraan diteruskan. Beliau diajak untuk makan kemudian kembali beliau menolak dan air mata beliau bercucuran. Maka tokoh itu mengatakan: “melanggar janji itu merupakan kesalahan dan dosa”.

Maulwi Sahib mengatakan, “tidak ada sesuatu yang lebih besar lagi dari iman”.

Maka perkataan ini dapat difahami olehnya. Lalu tokoh itu mengatakan, “kami tidak akan menjadi Hindu dan kami mengirimi surat agar mereka sama sekali jangan datang”.

Maulwi Sahib mengatakan “pertama, tuan harus menulis surat, baru kemudian saya akan makan”.

Sesuai dengan itu, beliau menulis surat bahwa “Islam merupakan agama yang hidup karena itu kami pun mengajak kalian untuk bergabung di dalam Islam”. Dari antara kami tidak ada seorang pun yang akan meninggalkan agamanya dan jika ada yang berupaya untuk datang kemari maka dia akan menjadi sangat hina. Sesudah itu kemudian beliau makan dan orang-orang Ariya di sana pun menemui kegagalan dan menjadi sangat resah.[5]

Berkenaan dengan Sayyid Sarwar Syah Sahib terdapat sebuah riwayat bahwa ilmu Hadhrat Maulwi Sahib sedemikian rupa tingginya dan pengaruhnya pada para ulama di masanya itu tampak jelas dari peristiwa di bawah ini.[6] Ketika Sayyid Sahib tinggal di Hosyiarpur untuk berobat maka di dekat rumah sakit, beliau bertanya kepada seorang pegulat. Maulwi Sahib yang di depan ini siapa? (mungkin ada Maulwi yang terlihat oleh beliau). Dia menjawab bahwa ini adalah Maulwi Minhajuddin dari kampung Najibullah yang dikenal raisul munazhirîn (tokoh debator) dan dia ingin berdiskusi dengan tuan. (Dia telah mendengar bahwa Maulwi Sahib datang kemari dan merupakan seorang ulama besar. Jadi dia [Maulwi Najibullah Sahib] mengatakan kepada para ulama ghair Ahmadi “ya saya ini seorang debator yang ulung, maka saya akan berdiskusi”. Atas pertanyaan beliau, maka Maulwi Minhajuddin Sahib berkata bahwa perkara baru yang tuan telah pilih berkenaan dengan itu yakni mengenai Ahmadiyah, besok di tempat ini persis pada jam 10 kita akan diskusi). Sesuai dengan itu beliau terus menunggu tapi Maulwi penentang itu tidak kunjung datang. (Ini juga merupakan peristiwa yang cukup menarik). Di depan ujung jalan pasar Haripur terdapat sepetak tanah kosong. Kemudian jalan terusan ke pasar Skandarpur. Beliau (Maulwi Sahib) mengatakan bahwa beliau telah berjalan ke arah pasar Haripur dan begitu sampai di pertengahan pasar beliau melihat Maulwi sahib (ghair Ahmadi) dan pengikutnya sedang datang. Tetapi begitu melihat beliau mereka segera kembali dan lari menghindar. Yakni Maulwi ghair Ahmadi tadi mulai lari, maka Maulwi Sahib menerangkan, “Saya pun ikut berlari mengejar di belakangnnya. Saya mengira mungkin mereka telah pergi ke mesjid Jami’. Tetapi sesampai di sana dapat diketahui bahwa Maulwi [ghair Ahmadi] itu tidak datang ke sana. Sesuai dengan itu ketika saya pergi ke arah lain, maka saya melihat bahwa Maulwi Sahib sedang lewat di parit yang berlumpur lalu menuju ke arah kebun. Dan pegulat itu berdiri di pinggirnya tengah tetawa terbahak-bahak dengan kerasnya sehingga keluar air mata dari matanya. Lalu dia itu memberitahukan bahwa Maulwi Minhajuddin ini kemarin pergi ke Maulwi fulan di Skandarpur dan mengambil kitab-kitab dari sana lalu mulai melakukan persiapan untuk diskusi dan terus membaca kitab-kitab sepanjang malam. Pada waktu subuh (yakni Maulwi ghair Ahmadi) datang untuk melaksanakan shalat fajar, maka kepadanya ditanyakan bahwa “apa yang tuan lakukan sehingga tuan sepanjang malam tidak tidur”. Dia menjawab bahwa “saya tengah mencari rujukan untuk berdiskusi dengan Maulana Sarwar Sahib. Tetapi tafsir mana pun yang saya lihat di dalamnya disebutkan kedua-duanya tentang kehidupan dan kematian Hadhrat Isa”. Oleh karena itu tidak ada dalil qothi (tidak ada dalil bagus yang dapat membungkam mulut) yang bisa diketemukan.” Kemudian Maulwi dari Skandarpur yang merupakan ustadz-ul-kulguru dari semua guru mengatakan kepada Maulwi yang mempersiapkan untuk diskusi: “Saya lebih kaget dari tuan karena Maulwi Sarwar Syah Sahib menjadi Ahmadi dan saya pun pernah bersedia untuk berdiskusi karena dorongan orang-orang itu juga. Tetapi saya berusaha menghidar dari hal itu. Karena Maulwi Sahib (Sarwar) ke depan akan merangkul kabupaten ini dan sebagai dampak yang akan terjadi dari diskusi, semua para ulama di kabupaten ini akan berlari tunggang-langgang dari hadapannya dan seberapa banyak berdiskusi dengannya sebanyak itu pula kemudharatan yang akan terjadi dan tanah para ulama akan menjadi kotor.” Lalu pegulat itu mengatakan, karena itulah Maulwi sahib tidak datang kepada tuan untuk berdiskusi dan sekarang mereka lari setelah melihat tuan.[7]  

Sekarang ini pun beginilah kondisi para ulama. Mereka juga melakukan seruan yang buruk tampil di TV. Tetapi ketika dikirimkan pesan, yakni baiklah di TV kalian atau di TV kami, maka dari pihak mereka sama sekali tidak memberikan jawaban. Ini juga sesuai dengan ilham Hazrat Masih Mau’ud as.:

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ

nushirtu birru’bi-

Aku ditolong oleh Tuhan dengan ru’ub (wibawa).[8]

Melalui orang-orang yang beriman kepada beliau as. juga Allah Ta’ala tengah memperlihatkan pengaruhnya kepada orang-orang .

Berkenaan dengan Dr. Hadhrat Hafiz Khalifah Rasyiduddin Sahib, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra. bersabda: Pada satu kali pendeta Dr. Zwimer datang ke Qadian. Dia ini warga-negara Amerika dan merupakan pendeta yang terkenal di dunia. Di satu tempat, di sana dia merupakan editor majalah tabligh yang sangat besar. Dan memang dia juga memiliki satu kedudukan yang sangat menonjol di seluruh masyarakat pertablighan dunia Kristen. Dia juga telah mendengar pembicaraan tentang Qadian. Ketika dia datang ke Hindustan dan setelah melihat tempat-tempat lainnya, dia datang ke Qadian. Bersamanya ada satu lagi pendeta bernama Garden atau Gordan. Dr. Khalifah Rasyiduddin Sahib pada saat itu masih hidup. Beliau memperlihatkan semua tempat-tempat di Qadian ke padanya. Namun namanya pendeta, akhirnya ya pendeta juga. Dia tidak bisa mengelak untuk tidak mengejek. Pada saat itu di Qadian belum ada aparat komite kota dan lain sebagainya dan memang demikian pula kampung-kampung kecil serta kota-kota kecamatan di India-Pakistan di sana, di sebagian jalan-jalan dan lorong-lorong kecil kadang-kadang bahkan kebanyakan terlihat sampah. Yakni di jalan-jalan kecil senantiasa dipadati sampah-sampah. Pendeta Zwemer dalam bincang-bincangnya sambil tertawa berkata, “kami juga telah melihat Qadian dan telah melihat juga kebersihan kampung halaman Masih yang baru”. Dr. Khalifah Rasyiduddin Sahib sambil tertawa mengatakan padanya: “Pendeta sahib! Kini pemerintahan Masih pertamalah yang sedang berlaku di Hindustan dan ini merupakan contoh kebersihan pemerintahannya. Pemerintahan Masih yang baru kini belum berdiri.” Dia sangat malu atas ucapan itu.[9]

Pir Sirajul Haq Nu’mani Sahib berkenaan dengan Hadhrat Munsyi Zafar Ahmad Sahib dari Kapurtala menerangkan bahwa Munsyi Zafar Ahmad Sahib dari Kapurtala dan seorang muridnya Maulwi Rasyid Ahmad Gangguhi sedang terjadi pembicaraan berkaitan dengan kewafatan dan kehidupan Hadhrat Masih Ibnu Maryam. Dalam pembicaraan itu murid Maulwi Sahib gagal dalam membuktikan kehidupan Al-Masih. Tapi pembicaraan terhenti tatkala [ada pertanyaan] bahwa apakah pernah ada umur manusia sepanjang itu sebelumnya? Yakni berusia 120 tahun. Dan kini apakah bisa atau tidak [umur manusia sepanjang itu?]. Di dalam pembicaraan itu pun dia tidak dapat menjawab. Dia mengemukakan dalil-dalil. Pada akhirnya dia menulis sepucuk surat kepada Maulwi Rasyid Ahmad Sahib. Maulwi Sahib menulis dalam menjawab pertanyaan itu bahwa “ya usianya tidak hanya sepanjang 120 tahun saja”. Bahkan umur lebih dari itupun bisa. Bahkan Hadhrat Isa benar-benar masih duduk di langit sejak dari 2000 tahun lalu (coba dengarkan dalil-dalil Maulwi Sahib). Perhatikanlah, dari sejak zaman Nabi Adam as., syaitan sampai sekarang masih tetap terus hidup dan telah beberapa ribu tahun lamanya. Dalam memberikan jawaban Munsyi Zafar Ahmad Sahib berkata bahwa yang sedang dalam pembahasan adalah terkait umur manusia bukan umur syaitan. Apakah –-na’udzubillah– Hadhrat Masih as. dari kalangan syaitan, sehingga umur syaitan diberikan sebagai perumpamaan dan ini juga merupakan sebuah pendakwaan belaka. Ini adalah pendakwaan anda. Maulwi Rasyid Ahmad Sahib tidak menganggap berbeda antara pedakwaan dan dalil. (Ini adalah sebuah pendakwaan di mana sesudah pedakwaan, baru diberikan dalil untuk kebenarannya). Maka di dalam pendakwaan dan dalil terdapat perbedaan. Beliau mengatakan bahwa Maulwi Sahib tidak memahami perbedaan antara pendakwan dan dalil. Yakni untuk itu dalil apa yang diberikan sehingga syaitan yang ada di zaman Adam sampai sekarang masih hidup dan umurnya sedemikian panjangnya. Setelah mendengar jawaban Munsyi Zafar Sahib, murid Maulwi Rasyid Sahib kembali menulis surat kepada Maulwi Rasyid Sahib bahwa Maulwi Sahib yakni inilah jawaban yang telah diberikan oleh Munsyi Zafar Sahib, maka Maulwi Rasyid Sahib memberikan jawaban kepada muridnya bahwa “kamu itu sedang berhadapan dengan orang Mirzai (Ahmadi), katakan kepada orang Ahmadi itu bahwa kami tidak berbicara dengan orang-orang Mirzai dan kamu pun jangan berjumpa dengan mereka”.[10]

Alhasil inilah sebenarnya kisah para ulama yang hanya sekedar nama. Hari ini, sebelumnya juga dan untuk yang akan datang pun akan tetap seperti itu. Berkenaan dengan Dr. Hafiz Khalifah Rasyiduddin Sahib diterangkan bahwa terdapat sebuah riwayat bahwa Dr. Sahib masuk ke istana Rampur sambil mengucapkan “assalamu’alaykum” dengan nada keras dan tidak sesuai dengan tatakrama istana. Yakni mengucapkan “assalamu’alaykum” dengan nada lantang. Begitu juga beliau tidak menunduk untuk memberikan penghormatan di hadapan Nawwab Sahib. Sudah merupakan tradisi orang-orang yang tinggal di istana bahwa manakala ada orang yang masuk ke istana, maka harus masuk sesuai tatakrama istana dan kemudian benar-benar merundukkan kepala lalu mengucapkan salam dengan nada pelan. Ketika diingatkan kepada Dr. Sahib, maka beliau menjawab “Saya tidak tunduk pada siapaun kecuali kepada Tuhan”. Nawwab Sahib mengancam untuk mengganti dan mengambil tindakan keras, yaitu, “Saya akan mengganti tuan dan juga akan mengambil tindakan tegas”.

Beliau ini adalah seorang dokter pegawai pemerintah, lalu beliau berkata, “Di tangan Tuhan saya lah terletak leher anda. Ketika Dia menghendaki, Dia bisa menggeser anda dari jabatan ini”. Dan beliau menantang Nawwab Sahib di istananya dan sejarah menjadi saksi bahwa demikianlah yang terjadi. Hadhrat Dr. Sahib menulis surat permohonan doa ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. yang sebagai jawabannya Hadhrat Masih Mau’ud as. menulis:

“Kesayanganku, Dr. Khalifah Rasyiduddin Sahib, Sallamahullahu ‘alaikum warahmatullah. Kartu tuan telah sampai, insyaallah aku akan berdoa untuk tuan. Namun tuan harus tetap teguh dan istiqomah. Jangan terdapat rasa takut dalam diri tuan. Di setiap tempat diperlukan karunia Allah Ta’ala. Dalam perjalanan dan ketidakberdayaan itu hendaknya menempuh jalan dengan banyak berdoa dan tadarru”.

Kemudian dengan karunia Allah Ta’ala, doa Hadhrat Masih Mau’ud as. telah memperlihatkan pengaruhnya. Yakni atas rekomendasi dari Residen Inggris kepada Nawwab Rampur karena terbukti menderita sakit ingatan, maka dia dinyatakan tidak layak untuk memegang jabatan itu, lalu dia dicopot dari jabatannya. Orang yang telah memberikan ancaman untuk mengganti dan membebaskan tugaskan Dr Sahib. Namun demikian dalam keadaan sedang menjabat, dia sendiri yang dicopot dari jabatannya.[11]

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. menerangkan bahwa pada suatu ketika saya mampir di stasiun kereta api di Lahore saat matahari terbenam, ada beberapa alasan sehingga beliau pergi ke mesjid orang-orang China. Beberapa lama setelah itu, yakni ketika beliau tengah berwudhu untuk shalat malam, saudara Maulwi Muhammad Husen Batalwi, Mia Ali Muhammad mengatakan kepada saya (Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra.) bahwa berdasarkan Al-Quran dan Hadits, maka bagaimana perkara nasikh dan mansukh? (ini sudah merupakan pandangan orang-orang ghair Ahmadi bahwa ada beberapa ayat Al-Quran yang mansukh). Maka saya katakan kepadanya “tidak ada yang mansukh”. Dia bukan orang terpelajar walaupun beliau merupakan guru Mir Nasir. Ilmu keagamaannya tidak banyak. Beliau ini menyinggung perjumpaan itu kepada saudaranya (Maulwi Muhammad Husen Batalwi). Maulwi Muhammad Husen Batalwi pada saat itu masih muda dan sangat bersemangat. Peristiwa ini merupakan perkara yang terjadi sebelum Khalifah Awwal ra. Baiat [kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s.]. Beliau ra. Mengatakan, “Saya sedang melakukan shalat, sementara dia Maulwi Muhammad Husen Batalwi Sahib dengan sangat bersemangat jalan mondar-mandir ke sana kemari”.

Ketika saya telah selesai shalat maka Maulwi Muhammad Husen Batalwi mengatakan, “Mari kemari, anda telah mengatakan kepada saudara saya bahwa di dalam Al-Quran tidak ada nasikh mansukh”.

Saya katakan “ya tidak ada”.

Tiba-tiba dengan sangat bersemangat Maulwi Muhammad Husen Batalwi mengatakan, “Apakah anda telah membaca kitab Abu Muslim Isfahani?”

Lalu Maulwi Muhammad Husen Batalwi pun tidak mengakui adanya nasikh-mansukh. Maka Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. menceritakan, “Kalau begitu kita berdua sepaham.”

Kemudian Maulwi Muhammad Husen Batalwi mengatakan, “Apakah anda tahu Sayid Ahmad? Dia sebagai tokoh terkemuka di Murad Abad”.

Saya jawab, “Saya mengetahui para ulama di Rampur, Laknow dan Bhupaal tetapi saya tidak mengenal yang bernama Sayid Ahmad.”

Mengenai nasikh-mansukh, dikatakan bahwa Sayid Ahmad juga tidak mengakui pemahaman nasikh-mansukh.

Baru lah saya katakan, “Sangat bagus sekali kalau begitu sekarang kita bertiga sepemahaman”.

Kemudian Maulwi Muhammad Husen Batalwi Sahib mengatakan bahwa ini semua merupakan penganut aliran bid’ah karena Imam Syaukani rh. menulis bahwa orang yang tidak mengakui nasikh dan mansukh adalah penganut bid’ah, maka saya katakan bahwa anda telah berdua. Saya memberitahukan sebuah keputusan yang mudah mengenai masalah nasikh dan mansukh kepada anda. Kalian coba bacakan ayat apa saja yang mansukh. Seiring dengan itu di dalam hati saya terfikir bahwa jika dia membaca lima ayat dari ayat-ayat tersebut, maka jawaban apa yang akan saya berikan. Hanya Allah Ta’ala lah yang memberikan pemahaman, maka perkara ini dapat dipahami sehinga timbul kekhawatiran. (Ini merupakan kisah sebelum beliau ra. berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.). Dia membaca sebuah ayat, saya katakan bahwa di dalam kitab fulan yang anda juga mengakui, diberikan jawabannya. Dia menjawab, ya. Kemudian saya mengatakan baca lagi, maka dia menjadi terdiam. Para ulama biasanya senantiasa diliputi keragu-raguan bahwa jangan sampai dia menjadi malu. Oleh karena itu dia memilih diam dianggap sebagai suatu pilihan yang paling tepat.[12]

Tapi para ulama dewasa ini keadaanya tidak seperti ini. Keras kepala mereka melewati ambang batas. Kelihaian dan kelicikan Muhammad Husen Batalwi inilah yang seterusnya berlanjut.

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. bersabda: “Tuhan saya senantiasa menjadi pemegang kunci khazanah saya. Ini juga merupakan sebuah misal tawakkal. Karena ketawakkalan saya senantiasa tertuju kepada Tuhan dan Tuhan Yang Maha Kuasa inilah yang senantiasa menolong saya. Sebagai contoh, satu kali di Madinah, saya tidak punya apa-apa, sehingga untuk makan malam pun saya tidak memiliki apa-apa. Ketika untuk shalat Isya saya berwudhu lalu pergi ke mesjid, maka di jalan seorang polisi mengatakan kepada saya, “Komandan kami memanggil tuan.”

Saya meminta maaf karena saya mau pergi shalat, lalu dia mengatakan, “Saya tidak tahu, saya adalah polisi. Saya melakukan sesuatu sesuai perintah. Tuan ikut saya, kalau tidak saya terpaksa akan membawa tuan”. Karena tidak berdaya, saya pun menyertainya. Dia membawa saya ke sebuah rumah. Apa yang saya lihat ternyata seorang komandan kaya duduk di depan wadah atau piring besar yang penuh dengan jelebi (kue kuning muda yang digoreng atau kue merah muda yang terbuat dari susu murni yang sangat manis di India atau Pakistan). Dia menanyakan kepada saya, dinamakan apa kue ini? Saya menjawab bahwa di negeri kami itu disebut Jelebi. Dia mengatakan bahwa dia mendengar dari seorang India, lalu saya menyuruh membuat itu, maka terpikir oleh saya katanya, saya harus memberikan makan itu pertama-tama kepada siapa saja orang Hindustan yang ada di sini. Oleh karena itu terpikir oleh saya ada tuan. Untuk itulah saya menyuruh memanggil tuan. Sekarang tuan telah datang silahkan maju ke depan dan makanlah. Saya katakan bahwa waktu azan telah selesai, dan sudah waktunya untuk shalat. Kalau ada waktu saya akan makan setelah shalat. Dia mengatakan, “tidak apa-apa, Kami akan mengirim seseorang ke mesjid supaya begitu iqomat, dia segera datang untuk memberitahukan.”

Lalu saya makan hingga kenyang dan kemudian pembantunya datang menginformasikan bahwa shalat sudah siap dimulai dan iqamat telah selesai. Jadi seperti itulah Allah Ta’ala menyediakan makan.

Kemudian beliau ra. bersabda bahwa pada waktu subuh yang kedua, ketika saya membersihkan koper dan sedang membongkar buku-buku saya, maka secara tiba-tiba saya menemukan uang satu pondsterling. Oleh karena saya tidak pernah memungut harta siapa pun dan tidak pernah juga terlihat oleh saya uang siapapun dan saya juga mengetahui benar bahwa dari sejak lama di tempat itu selain saya tidak ada orang lain yang lewat dan tidak pula ada yang datang. Oleh karena itu saya mengambilnya dengan menganggap itu sebagai hadiah dari Tuhan dan saya bersyukur bahwa ini cukup untuk waktu yang panjang.[13]

Hadhrat Hafiz Rosyan Ali Sahib berkata, “Pada suatu hari saya belum makan”.

Ketika duduk-duduk dalam menunggu pelajaran ternyata waktu makan telah lewat. (Saat itu dalam kondisi khawatir saya pergi ke mana, maka kelas Khalifatul Masih Awwal ra. jangan-jangan telah mulai, beliau ra. biasa memberikan pelajaran) sehingga pelajaran Hadits kami telah dimulai. Tanpa menghiraukan rasa lapar saya, saya sibuk mengikuti pelajaran dan mengatakan bahwa ketika baru saja mulai mendengar suara para pelajar yang sedang belajar dan semuanya sedang saya lihat, maka tiba-tiba suara pelajaran menjadi kabur dan telinga serta mata saya kendati sedang dalam keadaan sadar, luput dari melihat dan mendengar. Dalam keadaan demikian di hadapan saya seseorang meletakkan hidangan makanan segar dan hangat yang telah siap santap. Yakni roti prata (roti yang digoreng dengan minyak samin) dan daging yang sudah dibakar. Saya makan makanan itu dengan sangat lahap penuh kelezatan. Ketika saya tidak lapar lagi dan perut saya telah kenyang, maka kondisi saya ini menjadi berubah, kembali pada kondisi saya ini ke keadaan yang pertama dan kemudian kembali terdengar oleh saya suara pelajaran. Tetapi pada saat itu juga masih ada terasa kelezatan rasa makanan di mulut saya dan di perut saya seperti kenyangnya seseorang sesudah makan makanan, terdapat rasa berat juga dirasakan dan seperti itulah yang tampak terasakan. Saya menjadi segar bugar dari memakan makanan sebagaimana pada umumnya dengan memakan makanan lahiriah. Sedangkan saya tidak pergi ke mana-mana dan tidak pula ada seseorang yang telah melihat saya menyantap makanan.[14]

 Walhasil ini juga merupakan sebuah pemandangan yang Khalifatul Masih Awwal ra. juga telah menerangkan tentang pemandangan itu di satu tempat dengan referensi ini.

Hadhrat Munsyi Zafar Ahmad Sahib telah menerangkan sebuah peristiwa di mana saat itu saya hadir. Yakni Hadhrat Masih Mau’ud as. menginap dalam urusan sidang di pengadilan Gurdaspur (banyak orang-orang berdatangan dan makanan pun dimasak), maka tukang masak melihat seberapa banyak sahabat-sahabat yang hadir, sesuai dengan jumlah itu juga makanan disiapkan. Akan tetapi kemudian ada lagi tamu-tamu lainnya yang datang dan tamu-tamu yang datang itu melebihi yang diperkirakan. (Namun makanan tetap mencukupi). Kemudian pada besok paginya berkenaan dengan makan, dia menanyakannya ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as., “Apakah sebanyak itu juga makanan yang akan dimasak besok? Seberapa banyak yang dimasak pada hari ini atau lebih banyak yang dimasak?” (karena tamu lebih banyak yang datang).

Maka Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “Apakah kamu hendak menguji Allah Ta’ala? Allah Ta’ala pada saat itu telah menjaga kehormatan [kita], sekarang kamu siapkanlah makanan yang banyak!” [15]

Jadi ini juga merupakan pertolongan Allah Ta’ala yang telah datang. Maksudnya bukanlah dengan sengaja Allah Ta’ala itu diuji.

Berkenaan dengan Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib, Mukhtar Ahmad Hasymi Sahib menyebutkan bahwa pada suatu kesempatan saya diperintahkan bahwa jika menurut hemat tuan ada yang berhak untuk ditolong dan dia merasa malu untuk menanyakan sendiri, maka nama orang-orang seperti itu ajukanlah dari pihak tuan sendiri. Tapi hendaknya senantiasa diperhatikan bahwa apakah dia memang benar-benar berhak mendapat bantuan. Sesuai dengan itu dalam setiap kesempatan saya mengajukan nama orang-orang yang berhak, lalu saya memohonkan bantuan untuk mereka. Pada suatu waktu, Hadhrat Mia Sahib ra. memberikan petunjuk kepada saya untuk membayarkan sejumlah uang sebagai bantuan kepada beberapa orang miskin. Tetapi saya tetap diam. Atas hal itu Hadhrat Mia Sahib sambil melihat ke arah saya, beliau ra. menanyakan perihal diamnya saya. Saya katakan bahwa dana bantuan itu telah habis dan tidak ada lagi yang tersisa. Beliau ra. dengan pandangan yang penuh kasih sayang sambil meletakkan tangan di pundak saya, berkata jangan khawatir tariklah semua simpanan uang yang ada dan bayarkanlah kepada orang-orang itu. Allah Ta’ala akan memberi banyak uang. Maka sesuai dengan itu dalam beberapa hari setelah itu, uang ratusan rupees datang dalam bulan itu.[16]

Ada sebuah riwayat dari Shabahuddin Sahib berkenaan dengan Hadhrat Mirza Syarif Ahmad Sahib. Beliau mengatakan, “Saya sendiri yang mendengar darinya bahwa ketika beliau pergi ke Inggris pada saat itu beragam perjalanan yang beliau tengah lakukan”. Ada satu pabrik juga yang ingin dibangun di Qadian. Mungkin untuk itu ada beberapa barang yang ingin dibeli atau ada informasi-informasi lain yang beliau perlukan. Walhasil untuk membantunya dalam perjalanan, beliau menugaskan seorang berkebangsaan Inggris. Dia memberitahukan bahwa biaya perjalanan dalam bentuk uang pondsterling tengah habis dan kini sulit untuk melanjutkan perjalanan, maka beliau berkata: “Jangan khawatir –Insya Allah- jika Tuhan menghendaki akan dapat diatasi”

Maka orang Inggris itu menjadi sangat heran dan berkata, “Tuan di negara ini sebagai orang asing dan kemudian di sini [di Inggris] bagaimana uang akan bisa didapatkan?”

Hadhrat Mia Sahib berkata, “Saya telah berdo’a kepada Tuhan bahwa ‘Wahai Tuhan hanya Engkau-lah yang akan menolong kami di negeri asing ini’.”

Beliau berkata, “pada hari berikutnya ketika kami tengah pergi ke pasar, maka ada seseorang yang menahan beliau lalu mulai memanggil-manggil beliau dengan kata-kata ‘saint, saint’ yang artinya adalah ‘wali-wali’ dan sambil memohon do’a kepada beliau, orang tersebut menyerahkan cek dalam jumlah besar, maka orang Inggris yang membantu beliau itu menjadi sangat heran atas peristiwa itu dan ia berkata bahwa Tuhan anda itu merupakan Tuhan yang unik.[17]

Hadhrat Syekh Fadhal Ahmad Batalwi ra. sahib meriwayatkan, “Dalam perjalanan menuju Dilhowzi saya ditemani istri pertama saya, saudaranya Akbar Ali Sahib dan saudara saya Amir Ahmad Sahib juga ikut dalam perjalanan itu. Kami bepergian menggunakan delman pemerintah yang tertutup dan ditarik dengan menggunakan sapi. Ada tiga empat delman yang merupakan milik para juru tulis Hindu. Pada zaman itu, inilah sebagai sarana transportasi. Perjalanan itu merupakan kunjungan pemerintah yang panjang, maka kami pada waktu terbenamnya matahari sampai di sebuah tempat pemberhentian bernama Dunaira.

Para petugas Hindu di sana memberikan tenda-tenda kepada saudara-saudara mereka yang beragama Hindu ketika keluarga dekat mereka singgah dan saya terpaksa tinggal sendirian. Setiap kali berusaha mencari rumah dan tenda ke sana kemari tetapi tidak berhasil. Akbar Ali Sahib sambil ketakutan mengatakan kepada saya, ‘Malam telah berada di ambang pintu, kini apa yang akan terjadi?’

Saya katakan, huda dari ceh gam dari?’ – bertawakkallah kepada Tuhan, bagi Dia apa susahnya?– Tuhan pasti akan menyediakan sarana. Dalam keadaan seperti itu seorang penunggang kuda datang dan dia dengan penuh cinta menyampaikan salam kepada saya sambil mengatakan, ‘Tuan ada dimana?’

Saya memperdengarkan kisah bahwa dia mengatakan, ‘Tunggulah sebentar, saya akan datang’.

Tidak lama kemudian dia datang membawa tenda dan rumput [untuk alas] serta ada beberapa prajurit juga. Melalui perantaraan mereka, dia menyuruh mendirikan tenda dan setelah membentangkan rumput-rumput di dalamnya. Dia mengatakan turunkanlah anggota keluarga tuan yang di dalam. Kemudian dia mendirikan sebuah tenda lagi untuk buang hajat. Kemudian dia mengatakan, “Saya akan membawa makanan untuk tuan, tapi mohon maaf, ini akan cukup memakan waktu.”

Setelah mengirimkan barang-barang yang diperlukan, yakni air dan lain-lain, lebih kurang jam sebelas malam, dia sendiri datang membawa makan malam seperti zardah (nasi kuning), lauk pauk dal (makanan dari kacang-kacangan), roti dan dia meminta maaf karena sudah larut malam sehingga daging sudah tidak diperoleh lagi. Hanya dal yang bisa didapat, ‘Tuan terimalah ini.’

Kemudian tatkala ditanya, dia mengatakan ‘Tuan tidak mengenal saya?’

Saya katakan, ‘Maafkanlah saya.’

Saya mengatakan, ‘Saya ragu bahwa saya pernah sesekali berjumpa dengan tuan. Itu pun saya tidak ingat di mana pernah berjumpa,’

Maka dia mengatakan, ‘Tuan lah yang telah merekomendasikan permohonan saya, sehingga saya dipromosikan menjadi pegawai negeri. Untuk itulah saya mengucapkan terima kasih pada tuan’ dan dia mengatakan bahwa karena sudah larut malam, saya akan pergi dan meninggalkan beberapa orang yang berjaga pada malam hari supaya jangan ada barang-barang yang hilang.

Beliau mengatakan bahwa sesudah itu saya sujud syukur dan atas anugerah Allah Ta’ala itu, iman saya menjadi bertambah dan meningkat.”[18]

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. menerangkan: “Pada suatu kali, Maha Raja Kasymir mengatakan kepada saya, ‘kenapa Maulwi Ji mengatakan kepada kami bahwa kami ini memakan babi. Oleh sebab itu kami melakukan penyerangan tanpa sebab. (Di hadapan Raja Kasymir, Khaliafatul Masih Awwal ra. mengatakan kepada mereka bahwa kalian hanya memakan babi dan tidak memakan daging. Karena itu sedikit keras kalau dalam keadaan marah). Coba beritahukan, katanya orang Inggris juga makan babi? Kenapa mereka tidak memperlihatkan kemarahannya secara membabi buta (karena mereka bisa mengendalikan diri). Maka saya katakan padanya bahwa bersama itu mereka senantiasa memakan daging sapi juga. Dampak dari itu terjadi perbaikan. Setelah mendengar itu mereka menjadi diam dan sampai dua tahun tidak melakukan pembahasan agama dengan saya.”[19]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Dia [Allah Ta’ala] di dalam Al-Quran Syarif mengemukakan ajaran-Nya yang dengan perantaraan itu dan yang dengan mengamalkan itu, maka di dunia ini juga tersedia pertemuan dengan Tuhan. Sebagaimana Dia berfirman:

… فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿۱۱۱﴾٪

Faman kâna yarjû liqô-a Robbihî, fal-ya’mal ‘amalan shôlihaw walâ yusyrik bi’ibâdati Robbihî ahadâ

Maka barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Tuhan-nya hendaklah ia beramal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya. (Al-Kahfi:111)

Yaitu barangsiapa di dunia ini juga mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya yang merupakan Tuhan yang hakiki dan merupakan Tuhan Yang Maha Pencipta, maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh sedemikian rupa yang tidak ada kekacauan di dalamnya. Yaitu amal yang bukan untuk pamer pada orang lain dan tidak pula akibat dari itu timbul keangkuhan bahwa ‘saya seperti ini dan saya seperti itu’ dan tidak pula imannya itu kurang dan tidak sempurna dan tidak pula di dalamnya terdapat bau busuk yang bertentangan dengan kecintaan pribadi. Bahkan hendaknya penuh dengan ketulusan dan kesetiaan dan bersama itu pula hendaknya terhindar dari segala macam syirik. Tidak dinyatakan matahari, bulan, bintang-bintang di langit, tidak pula udara, api dan air. Tidak ada sesuatu atau apa saja yang lain dan benda di bumi dinyatakan sebagai sembahan dan tidak pula sarana-sarana duniawi sedemikian rupa dihormati serta bersandar pada benda itu sehingga seolah-olah itu merupakan sekutu Tuhan. Tidak pula tekad dan usahanya dianggap sebagai satu macam syirik dari antara syirik-syirik yang ada. Bahkan setelah melakukan segala-galanya lalu dianggapnya bahwa “kami tidak pernah melakukan apa-apa”. Hendaknya seperti orang yang sangat kehausan dan tidak berdaya sama sekali dan tidak pula timbul rasa angkuh pada amalnya. Bahkan secara hakiki menganggap dirinya jahil dan malas serta di hadapan singgasana Ilahi setiap saat ruhnya merintih dan dengan do’a-do’a, karunia-karunia-Nya itu ditarik ke arah dirinya serta dia menjadi seperti orang yang sangat kehausan dan sama sekali tidak berdaya dan tiba-tiba timbul di hadapannya mata air yang sangat jernih dan bersih. Singkat kata dengan jatuh bangun dan susah payah dirinya sampai di bibir mata air itu. (Dia jatuh bangun untuk sampai ke sumber mata air itu). Dan dia telah meletakkan bibirnya di atas mata air itu dan dia tidak terpisah dengan mata air itu selama belum kenyang meminum airnya.”[20]

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada setiap orang Ahmadi untuk meningkatkan diri dalam kerendahan hati, dalam ketawakalan dan memajukan mereka dalam keimanan mereka. Semoga kita dapat menyaksikan pemandangan bantuan dan pertolongan Tuhan bersama kita dan kita menjadi orang yang dapat meraih kemajuan dalam ilmu dan amal. Semoga pemandangan itu juga kita anggap merupakan sebuah anugerah dari antara anugerah-anugerah Allah Ta’ala dan kita senantiasa terhindar dari ketakaburan dan materialistik. Semoga bantuan dan pertolongan Allah Ta’ala yang telah Dia perlakukan kepada para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. dan kepada kita juga, Dia anugerahkan taufik untuk dapat melakukan amal seperti para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. sehingga kita senantiasa meraih bagian dari bantuan dan pertolongan-Nya itu. Semoga kita menjadi orang yang senantiasa tunduk di hadapan Allah Ta’ala dan kita selalu berusaha meminum air dari mata air itu sepuas-puasnya.

Penerjemah: Mln. Qamaruddin Syahid.

[1] Diambil dari Hayat Nur, hal.174, Edisi Baru Cetakan Dhiaul Islam, Rabwah. Diambil dari Mirqatul Yaqin, hal. 253-254, Cetakan Rabwah

[2] Diambil dari Hayat Nur, hal. 106-107, Edisi Baru, Cetakan Baru, Cetakan Dhiaul Islam Press, Rabwah. Diambil dari Mirqatul Yaqin, hal 106-107, Cetakan Dhiaul Islam Press,  Rabwah.

[3] Diambil dari Hayat Qudsi Maulana Gulam Rasul Rajiki, hal. 136, Edisi Baru Percetakan Dhiaulislam, Rabwah.

[4] Kini perhatikanlah ketekunan yang luar biasa orang-orang pada zaman itu, kerja keras dan asyik sehingga dalam beberapa bulan bahasa Sindhi pun telah dia pelajari dan juga telah layak untuk menyampaikan ceramah

[5] Diambil dari Sahabat Ahmad, jilid 10, hal 234-236, Edisi Baru Cetakan Dhiaul Islam, Percetakan Rabwah

[6] Hadhrat Maulana Sarwar Syah Sahib dalam waktu yang panjang menjadi Mufti Jemaat

[7] Diambil dari Ashhabi Ahmad, jilid 5, hal. 444-454, Cetakan Dhiyaululislam, Percetakan Rabwah

[8] Tadzkirah, hal 53, Edisi 4, 2004, Cetakan Rabwah

[9] Diambil dari Tafsir Kabir,  jilid. 5, hal 89, cetakan Rabwah

[10] Diambil dari Ashabi Ahmad, jilid. 4, hal 50, Edisi Baru, Cetakan Qadian

[11] Diambil dari riwayat hidup Hadhrat Dr. Hafiz Khalifah Rasyiduddin, penyusun Hanif Ahmad Mahmud, hal. 70, Percetakan Syekh Tariq Mahmud dari Panipat, Lahore

[12] Dari Mirqatul Yaqin dari Hayat Nuruddin, Catatan Akbar Syah, Najib Abadi, hal. 125-126, Dhiaul Islam, Percetakan Rabwah

[13] Hayat Nur, hal. 515-516, Edisi Baru, Cetakan Dhiaulislam, Perpustakaan Rabwah

[14] Diambil dari Hayat Nur, hal 289-290, Edisi baru, Cetakan Dhiaul Islam, Percetakan Rabwah

[15] Diambil dari sahabat-sahabat Ahmad, jilid 4, hlm. 227-228, Edisi Baru, Cetakan Qadian

[16] Hayat Basyir, Karya Abdul Qadir, mantan pedagang kain, hlm. 271, Cetakan Dhiaul Islam, Percetakan Rabwah

[17] Diambil dari riwayat hidup Hadhrat Mirza Syarif Ahmad, hal 85-86, cetakan Rabwah

[18] Diambil dari Ashhabi Ahmad, jilid 3, hal. 79-80, edisi baru, cetakan Qadian

[19] Mirqatul Yaqin fi hayati Nuruddin, martabah Akbar Syakh Khan Najib Abadi, hal. 252, Cetakan Dhiaul Islam, Percetakan Rabwah

[20] Pidato Sialkot, Ruhani Khazain, jilid 20, hal. 154, Cetakan Rabwah