Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 16 Maret 2012 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم. ]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Dalam kelanjutan dari subjek khutbah minggu lalu, saya akan menerangkan berbagai pengalaman pertablighan yang indah sebagaimana yang dilaksanakan oleh para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as terkait dalam beberapa kejadian, hari ini juga saya akan jelaskan.

Pengabulan Doa dan Kesalehan Para Sahabat

Saya telah katakan maksud dan tujuan diceritakannya berkenaan keterkaitan berbagai kejadian tersebut adalah pengabulan doa dari para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut sebagaimana pada masa yang sudah berlalu sering saya jelaskan; dan mereka menerima Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah membawa kita menikmati berbagai pengabulan doa orang-orang terdahulu pada zaman ini. Semoga Allah Ta’ala terus meningkatkan ketinggian derajat mereka. Tanpa karunia jasa mereka banyak dari kita akan kehilangan nikmat-nikmat yang diturunkan oleh Allah Ta’ala ini.

Hal kedua, kesalehan mereka, keberanian keimanan mereka, ghairat keagamaan mereka, semangat pengkhidmatan mereka terhadap agama dapat menginspirasi keturunan mereka dan juga orang-orang yang tidak terdapat hubungan darah sekalipun tetapi memiliki hubungan kerohanian dengan mereka serta generasi ini semua, baik yang ada keturunan darah maupun tidak dapatlah mengambil semangat pengkhidmatan ini untuk mereka sendiri sebagai generasi-generasi berikutnya.

Dengan demikian kita harus berupaya untuk bisa memenuhi hak-hak kesalehan dan kebajikan mereka. Banyak yang menulis surat kepada saya bahwa mereka menceritakan beberapa kali pertemuan mereka dengan sesepuh Fulan dan hubungannya dengan sesepuh tersebut, beserta hal-hal menakjubkan saat berkaitan dengan sesepuh tersebut.

Namun perlu diingat, hubungan ini akan terhormat dan bisa memenuhi hak para sesepuh tersebut hanya ketika orang-orang yang berkaitan dengannya bisa berjalan meneladani jejak langkah para sesepuh tersebut. Jadi tanggung jawab kita adalah untuk senantiasa menjaga suri tauladan mereka dengan cara mengikutinya.

Hadhrat Mian Jamaluddin Sahib r.a.

Hari ini saya akan mengingatkan riwayat dari Hadhrat Mian Jamaluddin Sahib r.a.. Beliau menceritakan, “Maulwi Banam Nawabuddin (seorang ulama) mendatangi sebuah kaum, merupakan bagian masyarakat di kabupaten Amritsar, dalam benaknya mengatakan, ‘Sungguh benar saya mempunyai tugas untuk mendatangi para Mirzai (Mirzai adalah sebutan untuk para Ahmadi) dan mencarinya baik dari desa ke desa maupun dari kota ke kota.’

Dikatakan oleh orang-orang bahwa dia sedang membentengi aqidah di kota itu dan dikenal masyarakat sebagai seorang yang bersuara lantang, saya datang untuk mengetahuinya karena Maulwi itu mengunjungi salah satu desa terdekat dengan rumah saya dan sayalah satu-satunya Ahmadi di daerah itu. Mereka mengirimnya untuk saya karena telah diketahui bahwa di desa ini ada seorang Mirzai, memang di desa ini tidak ada orang Ahmadi sebelumnya, sehingga setelah kedatangan saya di desa ini banyak terjadi pertentangan pendapat, salah seorang penduduk menemui saya dan memberi kabar tentang adanya Maulwi yang akan mengadakan perdebatan. Desa tempat tinggal Maulwi itu dekat dengan tempat tinggal saya.”

Mian sahib berkata bahwa, “Saya berpikir keras karena banyak orang menginginkan perdebatan itu, kebenaran maupun hakikat tidak diperlukan lagi, sehingga semua permasalahan menjadi kacau. Saya katakan bahwa Hadhrat Sahib telah menghentikannya, sehingga dengan alasan itu saya tidak melakukan perdebatan dan pembahasan jenis lainnya. “[2]

Pada zaman itu Hadhrat Masih Mau’ud as telah menghentikan kepada para pengikutnya untuk tidak memasuki area perdebatan agama yang tidak semestinya, karena hal itu tidak berpengaruh baik kepada masyarakat, Maulwipun menyerah.

Kemudian Mian Sahib mengatakan, “Saya tidak tertarik dalam perdebatan, jika memang masyarakat menginginkan maka hendaknya pihak lain harus menyajikan pertanyaan maupun keberatan mereka dan saya akan bertanggungjawab memberikan jawaban-jawabannya. Kami akan mendatangi desanya, namun Maulwi tersebut menolaknya dengan alasan sesekali akan kunjungan ke sana, dan kami usulkan agar satu pertanyaan dilontarkan dan akan ada satu jawaban yang diterangkan. Kalau begitu biarlah masyarakat yang memutuskan atau kami yang bertanggung jawab. Dan akhirnya Maulwi Sahib dan penduduk kampungnya yang datang kemari.”

Mian Sahib menceritakan bahwa seseorang telah mengirim pesan bahwa akan ada kunjungan ke desa ini. Kunjungan Maulwi ini berakhir di desa Mian Sahib bersama dengan tiga laki-laki. Mereka mempunyai hubungan perkenalan dengan tokoh desa terhormat yang adalah seorang Hindu dan memintanya: “Aturlah perdebatanku dengan ‘Mirzai’!”

Setelah saya menerima pesan dari seorang pengirim pesan di desa ini, maka saya berdoa dengan rendah hati meminta pertolongan Tuhan dari keburukan Maulwi karim tersebut. Sebagai seseorang yang tidak pernah bangga dengan diri sendiri dan hanya mengharapkan karunia Engkau, kebenaran dan hakekat dipertaruhkan, setelah berdoa dengan model seperti itu kemudian saya pergi kesana untuk menemui Maulwi tersebut.

 Sudah banyak orang berkumpul baik Hindu maupun Muslim. Karpet telah digelar, saya dan Maulwi tersebut duduk agak berdekatan, beberapa menit terdiam. Kemudian saya membuka pembicaraan dan mengatakan: “Maulwi Sahib, apa tujuan Maulwi untuk berkunjung di sekitar sini?” Maulwi sahib menjawab: “Karena banyak perbedaan pendapat di dalam umat Muhammadi, maka saya harus membenahinya.”

Kemudian Mian sahib bertanya: “Sudah sampai batas mana hingga sekarang pembenahan tersebut telah dilakukan? Dan berapa banyak sertifikat yang telah dicapai dari upaya pembenahan tersebut?” Maulwi itu mengatakan: “Ya saya memiliki banyak.” Kemudian saya katakan: “Baiklah, boleh kan saya melihatnya?” Maulwi Sahib menjawab: “Saya tidak bisa menunjukkannya karena itu semua ketinggalan di kampung.”

Dia mengatakan lagi: “Tujuan saya sebenarnya adalah untuk berdebat dengan orang-orang ‘Mirzai’ yang kafir dan mempengaruhi orang lain menjadi kafir juga. Saya ingin berdebat di hadapan banyak orang.” Kemudian saya katakan: “Saya juga termasuk yang dituduh kafir oleh orang-orang, sekarang apa yang akan kita bahas?” Maulwi ini mengatakan: “Anda sedang bicara dalam bahasa Urdu dan saya akan berbahasa Arab.” Saya jawab: “Saya tidak bisa berbahasa Arab, saya akan menggunakan bahasa Punjabi.” Maulwi tersebut menjawab: “Baiklah, kita akan bicara dalam bahasa Punjabi.”

Mian Sahib berkata: “Baik, dilanjut memasuki pembahasan yang besar.” Maulwi Sahib tersebut berkata: “Katakan apa mazhab Anda?” Saya menjawab: “Sebaiknya Tuan terlebih dahulu menjelaskan mazhab Tuan.” Maulwi Sahib berkata: ”Mazhabku adalah Hanafi dan saya percaya pada Keesaan Tuhan, tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad Rasulullah saw adalah nabi yang suci dan meyakini Hadhrat Isa as hidup di langit keempat atas dasar 20 ayat-ayat Al Quran Syarif beserta hadits shahih, dan saya meyakini siapapun yang menolak pemahaman ini, maka dia menjadi kafir dan pengetahuanku ini telah disertifikasi.”

Maulwi Sahib berkata: “Kemudian sekarang silahkan Tuan menceritakan apa mazhab dan paham Anda?” Saya katakan: “Saya percaya pada Keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan Nabi Muhammad saw sebagai Khaataman Nabiyyiin (meterai semua nabi), dan berdasarkan Al-Qur’an dan Al Hadits diyakini bahwa Hadhrat Isa as bani Israil telah meninggal dan meyakini akan datangnya Isa as dan Mahdi pada umat ini, pada zaman ini Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahiblah yang telah mendakwahkan diri sebagai Masih Mau’ud dan Mahdi, sehingga saya ​​membenarkan Masih Mau’ud tersebut telah datang dan meyakini orang yang tidak percaya padanya maka dia tidak berada di dalam kebenaran.

Saya tidak memiliki sertifikat untuk ditunjukkan mengenai pengetahuan pemahaman ini karena ini semua hasil dari belajar secara otodidak (belajar sendiri) dari khazanah yang tersimpan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as.

Saya menyatakan, jika ada orang yang bisa membuktikan dari Al Quran dan Al Hadits yang otentik (Yakni hadits yang silsilah riwayatnya sampai kepada Hadhrat Rasulullah saw) bahwa Hadhrat Isa as masih hidup di langit keempat, maka saya harus bertobat.”

Dikisahkan oleh Mian Sahib bahwa “Inilah yang saya katakan kepada Maulwi Sahib tersebut”.

Maulwi Sahib mengatakan: “Baiklah kalau begitu, saya minta untuk menuliskan pernyataan tersebut secara tertulis dan menandatanganinya.” Sementara saya sedang menulis dan menandatangani pernyataan tersebut Maulwi Sahib mencoba untuk mengalihkan perhatian terhadap hal lain, seperti menanyakan kepadaku telah memiliki penafsiran Al Quran berapa banyak.

Saya menjawab bahwa saya memiliki pemahaman dalam penafsiran Al-Qur’an Syarif beserta hadits-hadits yang mendukungnya. Kemudian Maulwi Sahib menanyakan: “Apakah Anda memahami Al-Al-Qur’an al-Karim?” Saya jawab: “Ya saya memahaminya.” Kemudian Maulwi Sahib bertanya lagi: “Apakah Anda juga memahami terjemahan Al-Qur’an?” Saya jawab: “Saya memahaminya, karena memang inilah yang akan kita bahas.”

 Saya mengatakan: “Tetapi saya tidak akan menceritakan hal ini. Sebaiknya kita membicarakan hal yang menjadi pokok permasalahan terlebih dahulu.” Maulwi Sahib malah menanyakan: “Dzaalikal kitaab apa artinya?” Kemudian saya mengingatkan: “Kita datang di tempat ini untuk membahas sebuah permasalahan tertentu, jadi silahkan ajukan soal yang ada kaitannya, bahwa Tuan telah mempunyai keberatan, itu saja yang perlu disampaikan. Saya tidak mau menjelaskan di luar permasalahan yang menjadi keberatan Maulwi Sahib.

Kemudian malah Maulwi itu mengajukan pertanyaan lain: “Berapa ayat yang terdapat dalam Al-Al-Qur’an al-Karim?” Kemudian saya mengatakan juga bahwa: “Tuan kelihatan justru menghindar dari permasalahan yang pokok.” Kemudian Maulwi Sahib mengatakan: “Ya memang seperti itulah saya memahami Al-Al-Qur’an al-Karim.”

Atas hal tersebut saya mengatakan: “Kalau begitu atas karunia Ilahi saya lebih baik dalam memahami Al Quran daripada Tuan. Sekarang saya persilahkan Anda mengajukan soal yang menjadi keberatan sebagaimana Tuan telah katakan di belakang majlis bahwa Tuan akan mengungkapkannya — yakni di majlis ini Anda harus mengatakannya — dan selain hal ini saya tidak akan membahasnya, sehingga pembahasan ini tidak akan melebar kemana-mana.” Maulwi Sahib berkata: “Saya tidak memahami berbagai penafsiran di masa awal dan perihal khulafa.”

Saya jawab: “Bersuka citalah karena saya mengetahuinya, saya mengetahui berbagai perkataan dari Hadhrat Abu Bakar r.a., Hadhrat Usman r.a., Hadhrat Ali r.a. bahkan sangat memahaminya. Sebagaimana Nabi Karim saw telah menasehatkan ‘alaikum bisunnatii wa bisunnatil khulafaair roosyidiinal mahdiyyiin. [3] Kamu sekalian memiliki tauladan bernaung dalam khilafah dari sunnah empat khalifah, sehingga kami meyakini Mirza Sahib sebagai Khalifatullah. Bahkan kami memahami sunnah Nabi Karim saw melalui riwayat beliau ini. Selanjutnya kami berjuang melalui cara seperti ini.”

Maka Maulwi sahib berkata: “Saya tidak bisa memahami tafsir Al Quran yang lain.” Atas hal itu saya menjawab: “Hal ini merupakan sebuah kesalahan yakni memahami Al Quran hanya dari berbagai tafsir yang ada. Kita tidak akan menemukan pemahaman yang benar apabila mengkaji Al Quran berdasarkan silsilah penafsiran belaka. Allah Ta’ala tidak sepakat dengan pemikiran semacam itu. Ini ada petunjuk dari Al Quran yang menyatakan: وَ لَقَدۡ یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّکۡرِ فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾ “Dan sungguh Kami mudahkan Al Qur’n itu’ (Al Qomar [54]: 18) dan اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا ﴿﴾ “Apakah kamu sekalian tidak merenungkan Al Qur’an?…” (An Nisa [4]: 83). Nampaknya Maulwi Sahib tidak fokus terhadap masalah yang sedang didiskusikan, sehingga perhatiannya kesana kemari tidak jelas.

Sampai akhirnya Chip Number Dar (tokoh Hindu desa terhormat) berkata: “Tolong persembahkan di majlis ini ayat-ayat Al Quran yang membuktikan bahwa Hadhrat Isa as masih hidup di langit keempat dengan wujud jasmaninya!” Maulwi Sahib berkata: “Number Dar Sahib! Saya akan mempersembahkan ayat-ayat itu namun pada salinan Al Quran tidak ada.”

Number Dar Sahib berkata: “Maulwi Sahib! Jika disini tidak ada maka orang-orang pun juga tidak peduli.” Maulwi Sahib dengan bersungut-sungut mengatakan: “Saya mohon bawakan Al Quran Syarif kesini!”

Ketika salinan dibawa kepadanya mulai membuat alasan mengatakan itu adalah Al Quran Mirza’ dan dia tidak menerimanya. Saya berkata kepadanya: “Tidak ada itu yang namanya Al-Qur’an Mirza.” Dia meyakininya disitu tidak ada. Akhirnya ia mengambil Al Quran itu dan setelah melihatnya, kemudian Maulwi Sahib membolak-baliknya. Saya kemudian mengucapkan: “La’natullahi ‘alal kaadzibiin” tiga kali.

Maulwi sahib memegangi Al-Qur’an itu sambil melihat siapa penerbit maupun penulisnya itu dan bertanya: ‘Siapa penulisnya?’ Saya menyahut: ‘Na’udzubillah! Apakah Tuan tidak menganggap itu Firman Ilahi dengan bertanya seperti itu?’ Maulwi Sahib menjawab: ‘Baiklah, tidak, tidak, saya telah melakukan kesalahan. Maksud saya siapa penyusun terjemahannya?’

Kemudian saya meminta Maulwi itu untuk menunjukkan beberapa pemahaman yang dia miliki dengan pembuktian dalam pencarian ayat. Maulwi tersebut membuka-buka lembaran Al-Qur’an selama dua puluh menit tetapi tidak menemukan satu ayatpun. Akhirnya saya bertanya kepadanya: “Maulwi Sahib, Tuan telah mengatakan memiliki dua puluh ayat-ayat Al Quran, jika yang satu tidak ketemu maka cari yang kedua, apabila yang kedua pun tidak ketemu cari yang ketiga.”

Akhirnya Maulwi tersebut mengatakan: “Ayat-ayat itu tidak ada dalam Al-Qur’an, saya tidak bisa menemukannya dan saya akan membacakan ayat tersebut dari ingatan. Kemudian Maulwi tersebut membacakan ayat Al-Qur’an: اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسٰۤی اِنِّیۡ مُتَوَفِّیۡکَ وَ رَافِعُکَ اِلَیَّ وَ مُطَہِّرُکَ مِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ جَاعِلُ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡکَ فَوۡقَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۚ ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ فِیۡمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿۵۵﴾ — “Yaa Isa sesungguhnya Aku telah mewafatkan engkau … “ (Ali Imran 03: 56), tetapi Maulwi tersebut menerjemahkannnya sbb: “Ketika Allah berfirman ‘Wahai Isa, Aku akan membangkitkan ruh engkau bersama dengan seluruh tubuh engkau ke langit.’”

Atas hal itu saya mengatakan: “Maulwi Sahib, ayat tersebut harus ditemukan dalam Al Quran dan kita diskusikan dengan kata-kata asli dalam tampilan penuh dalam Al-Qur’an.” Maulwi tersebut kembali mengambil Al-Qur’an dan membukanya selama sepuluh menit namun tidak bisa menemukan satu ayatpun. Orang-orang mulai menertawakannya dengan mengatakan apa modelnya pengetahuan Al-Qur’an seperti itu bahwa beliau tidak bisa menemukan satu ayat yang dikenal. Cemoohan orang-orang ini tersebar di sana.” [4]

Demikianlah yang terjadi, kadang kita bukan hanya menemukan sekali atau beberapa kali di waktu yang lalu, saya sering mendengarnya namun juga pada kesempatan lain. Selain itu bisa diambil kesimpulan itulah kebiasaan para ulama secara umum dalam penolakan kebenaran.

 

Hadhrat Munshi Mahboob Alam Sahib r.a.

Kemudian Hadhrat Munshi Mahboob Alam Sahib r.a. menceritakan; “Hakim Muhammad Ali Sahib di dunia kesehatan sebagai tabib untuk daerah Jammu dan Kasymir. Dia tinggal di Lahore setelah mengambil masa pensiun. Saya dinas di sana. Dia juga sering menggunakan kata-kata yang sangat buruk dalam menentang Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pada suatu hari dalam suatu percakapan dengan saya dia menggunakan kata hinaan ‘dayuts’ (seorang pria tercela, tidak punya harga diri atau seorang yang tidak punya malu) untuk pribadi beberkat Hadhrat Masih Mau’ud as. (Na’udzubillah) Saya banyak melakukan Istighfar semalaman saat itu sebagai tanda penyesalan telah berbicara dengan pria terhormat pada posisinya namun tidak beradab seperti itu, sehingga malam itu saya melihat dalam mimpi bahwa Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as berada di tempatnya almarhum Mian Ciragh Din dan saya hadir di hadapan beliau dengan penuh khidmat.

Ketika saya ucapkan: ‘Assalamu’alaikum’ kepada Hudhur, maka Hudhur menjawab: ‘Wa’alaikum salam dan menanyakan padaku: ‘Dimana orang yang telah memanggil kami sebagai ‘dayuts’ itu berada?’ Saya melihat ke sekeliling area dan melihat Muhammad Ali datang. Maka saya mengatakan kepada beliau: ‘Hudhur, itu dia Muhammad Ali Hakim sedang datang kemari dan masih di luar.’ Hudhur bersabda: ‘Katakan kepadanya bahwa kami tidak mau ketemu dengannya karena dia seorang ‘dayuts’. Saksikan balasan hukuman Allah Ta’ala.’ Setengah bulan setelah mimpi itu putrinya dibawa lari oleh seorang pria klerk (pegawai juru tulis di kantor) dan pasangan itu akhirnya ditangkap oleh opsir polisi dan disidang di Mahkamah polisi Gujranwala.

Dalam penjelasannya, pria itu mengatakan kepada pihak polisi: ‘Wanita itu istriku.’ Sementara wanitanya mengatakan: ‘Pria itu pelayanku.’ Dikarenakan pernyataan mereka berdua berbeda seperti itu maka polisi menjadi ragu-ragu, sehingga menyerahkan kasus pasangan tersebut kepada institusi di atasnya yakni Deputi Komisioner. Di sana gadis itu mengatakan: ‘Ayahku adalah seorang ‘dayus’ (tidak punya malu) dan tidak mau mengatur pernikahanku.’ — Jadi, sekarang putri dari Hakim Sahib itu sendiri yang mengatakan seperti itu. ‘Saya terpaksa merekomendasi seorang pejabat yang berwenang sehingga dia berkenan mendengarkannya.’

Meskipun Deputi Komisioner mengatakan: “Kembalilah kepada Ayah engkau!” Namun gadis itu menolak untuk kembali kepada keluarganya dengan alasan: “Ayah akan membunuhku.” Meskipun demikian Deputi Komisioner menetapkan untuk mengembalikan gadis itu kepada keluarganya dengan terlebih dahulu mengirim gadis itu kepada Deputi Komisioner Lahore dan menyatakan bahwa ayahnya tidak diperkenankan untuk mengurus dan mengatur pernikahan putrinya.

Walaupun Deputi Komisioner memanggil Hakim Sahib di kantornya, setelah bertemu Hakim Sahib dan mengatakan: “Engkau memang seorang ‘dayus’ yang besar. (Dua kali Deputi Komisioner telah menyebut dia seperti itu). Engkau tidak bisa menjaga putri engkau dan memang engkau adalah seorang yang sangat memalukan, jadi tidak diperkenankan mengatur pernikahan putri engkau. Putri engkau akan kami kembalikan kepada engkau setelah pembayaran uang jaminan sebesar Rupees 5000 dilunasi.”

Dan demikianlah sebagai balasannya. Kemudian tersebarlah berita ini sehingga berita ini menjadi tenar bahwa Hakim Sahib tersebut adalah seorang ‘dayus’ telah menyebar di kota itu. Setiap orang mengenalnya sebagai seorang ‘dayuts’. Setelah itu dalam waktu yang singkat putrinya menjadi seorang Nashrani. [5]

 

Hadhrat Ameer Khan Sahib r.a.

Hadhrat Ameer Khan sahib r.a. bercerita: “Ketika saya mendengar kabar kewafatan Hadhrat Khalifah Awwal dan Chaudry Ghulam Ahmad Sahib telah bergabung dalam kelompok Paighami maka saya pergi menemuinya ke sana untuk membuatnya menyadari berbagai hal mengenai kelompok itu. Alhamdulillah, beliau berkenan menyadari apa yang didengarnya, berhenti dari pemahaman-pemahaman orang-orang Paighami dan sekarang telah tinggal di Qadian.

Demikian juga saya telah melakukan tabligh kepada Chaudry Nikmat Khan Sahib di daerah Kheri dan beliau telah menjadi Ahmadi dalam waktu yang singkat. Kemudian ketika beliau tinggal di Aunah dan saya mendengar kabar bahwa beliau masih menyimpan pemahaman Paighami maka saya mengiriminya surat dan berbagai kitab supaya dengannya bisa membuatnya untuk meninggalkan kelompok itu dengan segera.”[6]

Atas karunia Allah Ta’ala maka sekarang penambahan anggota kelompok Paighami sangat sedikit dan di sana sini atas karunia Allah Ta’ala penambahan kaum Ahmadi cukup meningkat pada dekade dua atau tiga tahun belakangan ini, mereka telah menjadi Mubayyi’in (baiat terhadap Khilafat Ahmadiyah).

Hadhrat Maulwi Muhammad Abdullah Sahib r.a.

 

Hadhrat Maulwi Muhammad Abdullah Sahib r.a. menceritakan: “Pada suatu kali saya pergi mengunjungi Hadhrat Sahib dan hadir di hadapan beliau. Pada waktu itu Hadhrat Sahib sedang berdiri di suatu tempat dan seorang sahabat sedang berdiri di dekat Hudhur. Saya diperkenalkan oleh Hadhrat Sahib kepada sahabat beliau tersebut sembari beliau as melihat saya, “Maulwi Abdullah ini adalah orang yang berpengalaman dalam perdebatan. Banyak perdebatan yang dilakukannya, yakni perdebatan pertablighan, dialog dan lain-lain, dan Allah Ta’ala selalu membuatnya memperoleh kemenangan.”

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Ya, kebenaran selalu menang.” Hadhrat Sahib menambahkan sabdanya lagi: ‘Ya, selalu memperoleh kemenangan!’

Ketika mendengar kalimat penuh berkat dari mulut beberkah Hadhrat Masih Mau’ud as maka saya merasa tenang puas, sangat gembira dan semakin yakin bahwa kalimat itu keluar dari mulut beliau. Saya berharap semoga selalu tetap teguh pada kebenaran dan Allah Ta’ala senantiasa akan membuatku memperoleh kemenangan. Maka saya tidap pernah ragu untuk melakukan perdebatan maupun pembahasan dialog sampai saat ini, menakjubkan selalu menan. Inilah yang terjadi.”[7]

Hadhrat Chaudhry Muhammad Ali Sahib r.a.

Hadhrat Chaudhry Muhammad Ali Sahib r.a. menceritakan: “Ayahku pergi untuk menghadiri Jalsah di Sialkot dan setelah kembali ia mulai melakukan Tabligh. Tablighnya membuahkan hasil dan orang banyak mulai mengambil bai’at. Pertablighannya ditujukan kepada kaum Ghatiya Liyang (orang-orang pada kalangan menengah ke bawah).

Saya pernah mendengar dari Ghulam Rasul Basraa bahwa ketika Hadhrat Sahib melihat banyak orang-orang kalangan seperti ini bai’at maka beliau bersabda: ‘Apa itu Ghatiya Liyang?’ Dijawab: ‘Orang-orang kampung yang berada di kota.’ Hakim Ali yang merupakan saudara laki-laki dari Chaudry Muhammad Ali Sahib berkata: ‘Riwayat ini benar adanya.’” [8]

 

Hadhrat Shaikh Abdur Rasheed Sahib r.a.

Hadhrat Shaikh Abdur Rasheed Sahib r.a. menceritakan: “Ada seorang Maulwi ghair Ahmadi yakni Maulwi Muhammad Ali Sahib dari Boparhi datang ke sini. Dia dikenal pembacaan Al-Qur’annya sangat merdu dan ceramah-ceramahnya kebanyakan dihadiri oleh kaum perempuan.” – yakni suaranya dan isi ceramahnyapun bagus, penampilannya menarik, suaranya juga merdu, tilawatnya juga baik.

“Dia datang ke kampung kami dan tinggal sekitar dua atau tiga bulan. Di satu kesempatan Maulwi itu dalam ceramahnya menggunakan bahasa kasar juga dalam menentang Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya berbahas perihal itu dengannya yang berakibat orang tua saya mengatakan kepada saya, ‘Sekarang kamu keluar dari rumah!’, terutama ibu yang sangat terpengaruh oleh Maulwi Boparhi tersebut. Orang tua mengatakan: ‘Kami akan mengusir dia.’

Saya harus tinggal jauh dari rumah selama beberapa bulan. Ayah saya berkata kepada ibu saya, ‘Sebelumnya Shaikh Sahib (yakni saya) lalai dalam ibadah agama, selalu banyak tidur tetapi sekarang dia rutin shalat dan bahkan shalat Tahajjud, atas dasar apa kita mengusirnya?’ – (Jadi di satu sisi ada penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, sehingga inilah alasan untuk memisahkannya (mengusirnya dari rumah), namun juga ada kesan positif disebabkan perubahan beliau setelah menjadi seorang Ahmadi – “Namun demikian, dari segi sudut pandang keduniawian (untung rugi materi dan posisi) juga ayah sering memperingatkan kepada saya untuk meninggalkan ‘Mirzaiyyat’ (Ahmadiyah).”

Dalam hal ini saya biasa mengatakan kepada mereka, ‘Buatlah saya mengerti. Saya pernah bertukar pemikiran dengan Maulwi Muhammad Hussein Sahib tersebut atas kesalahpahaman terhadap paham kami. Maulwi Muhammad Hussein Sahib adalah orang yang berhutanb kepada kami. Ayah saya biasa mengirim saya untuk menagihnya.

Secara kebetulan, satu kali Maulwi itu pernah mengeluarkan poster menolak konsep ‘Mahdi darah’ dan menulis beberapa hadits untuk mendukung pandangannya itu, bahwa hadits-hadits tentang Mahdi Penumpah Darah adalah lemah menurutnya dan tidak ada dasarnya.

Poster ini akhirnya sampai kepada Hadhrat Masih Mau’ud as juga. Setelah melihat selebaran ini Hadhrat Masih Mau’ud as mempersiapkan sebuah penyelidikan dan mengirimkan Dokter Muhammad Ismail Sahib ke kampung-kampung dimana para Maulwi (ulama) berada. Dia  (Doktor Muhammad Ismail) membawa posternya kepada para ulama untuk meminta fatwa (pendapat). Sebagian ulama memberikan fatwa, sebagian yang ulama menolak untuk memberikan fatwa. Dr Sahib menceritakan semua ini kepada Hadhrat Sahib. (Ketika selebaran Maulwi Hussein ini disampaikan kepada para ulama, sebagian Ulama setuju memberi fatwa dan sebagian menolak untuk memberi fatwa, memang alot).

Selain itu, Dokter Sahib yang dikirim oleh Hadhrat Sahib untuk mendatangi para ulama tersebut, dia melaporkan semua hasil penyelidikannya: ‘Saya dulunya sering memberikan anggur dan buah-buahan lain untuk dipersembahkan kepada para maulwi dan mendapatkan fatwa yang dimaksud dari mereka. Mendatangi mereka itu hendaknya dengan memberi hadiah. Kalau hanya sedikit buah yang dibawa maka bagaimana akan mendapatkan fatwa.’

Hudhur Atba mengatakan bahwa praktek penerimaan ‘hadiah’ oleh para Maulwi ini berlanjut hingga hari ini, hanya tarif mereka sudah naik sedikit!

“Walaupun tadinya para Maulwi itu menolak untuk memberi fatwa maka dengan cara seperti itu sedikit demi sedikit bisa memperoleh fatwa juga. Hadhrat Sahib setelah mendengarkan cerita ini tersenyum-senyum sambil menutupi sebagian mulutnya dengan bagian dari sorbannya. (Menarik bagian dari sorbannya untuk menutupi sebagian mulutnya)

Saya mengetahui risalah yang Maulwi Muhammad Hussein Sahib telah terbitkan dan sebarkan, dan dimintakan fatwa tentangnya kepada para ulama. Dengan demikian saya ingat hal tersebut tatkala bertukar pikiran dengan Maulwi Muhammad Hussein Sahib.

Suatu hari saya berkata kepadanya: “Akidah Anda berkenaan tentang Mahdi yang pernah Anda sebarkan yakni Mahdi darah [Imam Mahdi Penakluk yang memerangi non-Muslim] tidak akan pernah datang dan hadits-hadits yang mendukunganya merupakan hadits dhoif, lemah dan hanya sangkaan belaka. Di sisi lain, Anda telah mengatakan kepada banyak orang bahwa Mahdi akan datang. Mengapa Anda menerangkan dua hal yang bertentangan? Mengapa juga tidak menerangkan akidah asli Anda? Namun atas semua yang saya ungkapkan, dia tidak mempunyai jawabannya. Dan setiap kali dia mengatakan: ‘Pergilah wahai Mirzai, pergi! Kamu semua!’ “ [9]

Hadhrat Shaikh Muhammad Ismael Sahib r.a. bin Syaikh Masita Sahib

Hadhrat Shaikh Muhammad Ismael Sahib r.a. bin Syaikh Masita Sahib menceritakan: “Pada satu hari ketika setelah Sholat Ashar bersama Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as tepatnya di Masjid Mubarak, seorang kenalan baru mengatakan dengan khidmat: “Seorang Maulwi telah mengunjungi kampung kami dan saat malam hari mengumpulkan banyak orang ghair Ahmadi, mulai ceramah dengan penuh semangat. Kami mendengarnya dia mengutip hadits “لا نبي بعدي” ‘lā nabiya ba’diy (tidak ada nabi sesudahku).”

Dia mengatakan: ‘Perhatikan wahai masyarakat! Sementara Nabi saw bersabda tidak akan ada nabi setelahku sedangkan Mirza Sahib dari Qadian mengatakan: “Saya adalah seorang nabi dan seorang rasul.” Bagaimana kita bisa menerima dia sebagai seorang nabi dan rasul?’

Saya berdiri saat itu dan bertanya: ‘Maulwi Sahib! Tuan juga tahu itu bahwa beliau saw juga bersabda bahwa tidak akan ada masjid setelah masjidku yakni Masjid Nabawi, lalu bagaimana Tuan akan memaknai sabda Nabi saw tersebut?

Sebagaimana Tuan menafsirkan (memaknai) hadits berkaitan dengan masjid demikian pula kami menafsirkan (memaknai) hadits tentang ‘Lā nabiya ba’diy. Sampaikanlah pendapat tuan bahwa kami memaknai hadits ‘lā nabiya ba’diy (tidak ada nabi sesudahku) tidak akan ada seorang nabi pun yang akan membatalkan syariat yang ada, yakni syariat yang dibawa oleh Nabi saw, syariat beliau saw tidak akan menjadi batal. Nabi yang seperti itu tidak bisa datang karena Rasulullah saw pembawa syariat terakhir. Oleh karena itu tidak bisa ada nabi lagi yang membawa syariat baru.”[10]

Mendengar penjelasan ini, Maulwi itu terdiam dan tertegun, lalu mengucapkan makian. Beginilah biasanya bila mereka tidak dapat menanggapi (menyampaikan jawabannya). Ketika tidak ada jawaban dari Maulwi itu maka saya berkata: ‘Maulwi Sahib! Kami tidak akan memberikan jawaban atas makian tuan di hadapan orang-orang ini?’

Hadhrat Masih Mau’ud as sangat senang mendengar hal ini, dan beliau tertawa lebar.”[11]

Dewasa ini pokok soal inilah yang menonjol. Rakyat awam diracuni oleh pemikiran dengan mengatakan, “Sekarang tidak ada nabi bisa datang sesudah Hadhrat Rasulullah saw dan orang-orang Ahmadi menganggap Mirza Sahib sebagai seorang nabi.” Penentangan terhadap para Ahmadi di Pakistan kebanyakan dengan mengangkat soal pertentangan masalah ini.

Hadhrat Maulwi Jalaluddin r.a.

Mian Sharafat Ahmad Sahib menceritakan kisah mengenai keadaan ayahandanya, almarhum Hadhrat Maulwi Jalaluddin r.a.: “Ayahku sangat antusias dalam pengkhidmatan agama, bahkan di usia tua sekalipun dan akan melampaui upaya orang-orang muda. Pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih Ats Tsani r.a., tahun 1934 H, saya menyaksikan dalam salah satu khotbah Jumatnya, beliau ra menetapkan kewafatan ayah sebagai mati syahid. Beliau mengakui bahwa Maulwi Sahib bekerja melebihi dari orang-orang muda. Beliau bersabda: ‘Saya melihat tiga orang yang bekerja secara aktif di medan tabligh dan mereka ini adalah: Pertama, Hafiz Roshin Ali Sahib. Kedua, Maulwi Sahib (Maulwi Jalaluddin r.a.) dan ketiga Maulwi Ghulam Rasool Sahib Rajiki. Ketiga pengkhidmat ini bekerja tidak kenal siang dan malam dalam medan pertablighan.’”[12]

Kemudian Mian Sharafat Ahmad Sahib menulis bahwa ayahandanya, Almarhum Maulwi Jalaluddin Sahib r.a. mengaitkan pekerjaan tabligh dengan salah satu mimpi beliau. “Saya menuliskannya, beliau menceritakan ru-yanya sebagai berikut: ‘Pada suatu hari saya melihat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as datang ke rumah kami atau kampung kami, saya tidak ingat tepatnya, dan meminta sebuah pena pada saya. Setelah itu saya terbangun dengan mata terbuka.

Kemudian tidak berapa lama saya hadir di Qadian dan saya pergi menemui beliau, lalu beliau mengambil tenunan tangan kain katun warna putih yang panjang dan dua pena dengan warna yang berbeda sebagai hadiah kepada saya dan saya menceritakan mimpi itu dengan penuh khidmat kepada Hudhur Sahib serta meminta penafsiran.

Hudhur Sahib bersabda kepadaku bahwa nazarku telah terkabulkan beliau bersabda; “Tuan telah menyempurnakan mimpi Tuan, maksud pena adalah Tuan mengkhidmati agama, baik melalui tulisan-tulisan maupun lisan juga dengan sangat baik.” Ayah saya mengatakan bahwa “Setelah itu saya mencurahkan perhatian kepada pertablighan dengan sepenuh waktu dan kekuatan dari itu hingga seterusnya dan usahanya membuahkan hasil.”

Dua saudara laki-lakinya telah bai’at, salah satunya adalah seorang sarjana terkenal di wilayahnya. — Maulwi Ali Muhammad Sahib adalah Hakim Ketua di Kabupaten Ferozpoor. Ketika orang mendengar hal ini mereka benar-benar kecewa. Dua bersaudara ini yakni Maulwi Jalaluddin Sahib dan Maulwi Ali Muhammad Sahib sekarang sudah menjadi Ahmadi.

Kehebohan ini telah tersebar di kalangan ghair Ahmadi hingga terdengar ke kampung-kampung lain di Ferozpoor, seperti semacam berita kewafatan layaknya. Kemudian upaya pertablighan Maulwi Sahib menciptakan banyak Jama’at yang tulus. Alhamdulillaah. [13]

Kemudian Mian Sharafat Ahmad Sahib menceritakan bahwa ayahnya Alm Maulwi Jalaluddin Sahib r.a. melakukan banyak pertablighan Islam selama episode Malkana pada tahun 1924. Beliau melakukan tabligh kepada orang-orang biasa dan juga kepada orang terkenal di daerah itu serta pihak berwenang.

Orang-orang kagum melihat orang dengan umur tujuh/delapan puluh tahun tuanya dengan pakaian compang-camping bekerja siang dan malam untuk membuat orang-orang menjadi Muslim dan mereka menerima Ahmadiyah, mereka menerima pengaruh pandangan yang baik dari dirinya. Beliau mengajarkan candah juga kepada mereka dengan memadai. Beliau melakukan pekerjaan Jemaat dengan senang hati. Atas segala upaya dan jerih payahnya juga banyak orang dari daerah itu masuk ke dalam silsilah Ahmadiyah.” [14]

Hafiz Ghulam Rasool Wazirabadi Sahib r.a.

Hafiz Ghulam Rasool Wazirabadi Sahib r.a. menceritakan: “Pada satu kali saat Hadhrat Masih Mau’ud as berada di tempat Mian Basyir Ahmad Sahib, terlihat mereka berdua berbicang dengan santai dan asyik kemudian terdengar banyak sekali pembicaraan yang penting mengenai berbagai jalan keluar permasalahan. Kemudian beliau mengatakan dengan sabdanya: ‘Saya telah membuat Sekolah Tinggi sehingga orang-orang meraih pendidikan di sana dan kemudian setelah selesai pendidikan mereka akan melakukan pertablighan. Tetapi saya menyayangkan bahwa setelah mencari pendidikan di Sekolah Tinggi kebanyakan orang menjadi sibuk dalam bisnis mereka dan tujuanku tidak terealisasi.’

Beliau bertanya apakah ada orang yang akan memberikan anak laki-laki mereka hanya untuk menimba ilmu-ilmu agama?

Waktu itu saya ceritakan bahwa anak Alm Maulwi Abidullah yang seumuran anakku bersamaku. Saya mendukung program Hadhrat Sahib. Hadhrat Sahib melalui tangannya yang diberkati memintaku untuk mengupayakan hal ini dan saat itu yang membantu pelaksnaan dalam pendirian Madrasah Ahmadiyah adalah Mian Fazluddin Sahib Sialkothi, dia menyatakan dukungannya dengan membawa anak itu kepada Mufti Muhammad Sadiq Sahib, saat itu dialah yang berposisi sebagai Hight Master Sahib (Guru Besar).

Anak itu setelah selesai belajar di sekolah itu maka dia memperoleh karunia menjadi seorang sarjana dan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. mengirimnya atas dasar kewenangan kekhilafatan beliau ke Mauritius sebagai seorang Muballigh, dimana ia menjabat selama hampir tujuh tahun. Atas kehendak Allah Ta’ala dia telah meninggal dunia.

Setelah itu Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. pada tahun 1924 M memerintahkanku untuk membawa kembali istri dan anak-anaknya terdiri satu anak perempuan dan satunya lagi anak laki-laki yang masih kecil. Dua tahun kemudian jandanya yakni Fatimah Bibi — yang merupakan putri dari saudara kecilku yakni Hafiz Ghulam Muhammad Sahib — juga meninggal dunia. Dia juga merupakan Muballighah yang fasih berbicara.” Yakni jandanya juga merupakan Muballighah yang sangat baik

Beliau menulis: Allahummaghfirlahaa warhamhaa. Kemudian bersabda bahwa “Pengasuhan kedua anak itu atas karunia-Nya di bawah perawatanku. (Hingga penulisan cerita ini) Putri itu telah menikah dan anak laki-laki itu yang bernama Basyiruddin bersamaku dan saat itu menjadi seorang mahasiswa di Madrasah Ahmadiyah.”

Saya menulis dengan hati yang pilu bahwa hal itu merupakan cita-citanya bahwa setelah pendidikan selesai anaknya juga melakukan pekerjaan pertablighan seperti ayahnya Alm Maulwi Abidullah Syahiid yang meninggal dalam medan pertablighan”. [15]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menurunkan karunia-Nya. Hadhrat Khalifatul Masih Tsani juga mendoakan berkhidmat di Mauritius. Ini juga termasuk dalam hitungan untuk waktu yang lama. Semoga anaknya juga senantiasa terpelihara hingga sekarang. Masa mendatang walaupun keturunan beliau tidak ada yang menjadi Muballigh namun meskipun begitu juga selalu terdapat pertablighan yang besar di Mauritius. Selalu mengkhidmati Jemaat ini dalam waktu yang lama.

Kemudian Mian Sharafat Ahmad Sahib lebih lanjut menulis tentang ayahnya, Alm Hadhrat Maulwi Jalaluddin r.a., bahwa, “Ia pergi ke suatu tempat, disana dia akan memimpin Shalat Jumat. Dalam perjalanan ia membeli kue dalam jumlah sedikit dengan dua pese untuk memenuhi rasa lapar. Setelah dirasa cukup, merapikan pakaiannya dan mulailah melanjutkan perjalanan. Segera setelah itu ia menderita stroke akut disebabkan oleh angin panas, ia pingsan dan jatuh di jalan.

Seseorang kebetulan lewat secara tidak sengaja melihatnya dan melaporkannya di kantor polisi bahwa ‘Maulwi Sahib Qadiani’ tergeletak di jalan yang panas karena terkena serangan stroke. Seorang intel polisi yang merupakan pengikutnya datang berlari. Dia tidak bisa menemukan kereta apapun sehingga ia terpaksa perlahan-lahan berhasil membawa Maulwi Sahib ke kota dengan jalan kaki.

Pada saat itu angin panas bertiup dengan sangat parah, Maulwi Sahib tidak bisa mengatasinya dan tergeletak di teras. Orang-orang menghimbau supaya dengan cepat melanjutkan perjalanan pertolongannya tetapi ia mengatakan bahwa ia telah mencapai apa yang menjadi tujuannya.

Orang-orang memberikan berbagai pengobatan namun tidak ada pengaruhnya. Orang-orang mengatakan mereka akan mengirim telegram ke anaknya, tetapi dia bilang bahwa nanti anaknya akan kaget, biarlah sekarang Tuhan yang menolongnya. Setelah mengucapkan kalimat itu akhirnya dia meninggal dalam pelaksanaan tugas pengkhidmatan dari junjungannya dengan penuh ketaatan berujung kepada perjumpaan dengan Tuhannya yang sejati. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Dikisahkan bahwa prosesi doa pemakaman dan penguburannya diatur oleh masyarakat ghair Ahmadi. Disana juga tidak ada seorang Ahmadi pun dan merekalah yang menguburkannya. Semoga Allah Ta’ala membalas segala upayanya dengan balasan yang baik.

Baru setelah dua atau tiga hari kemudian para Ahmadi mengetahuinya kemudian mendatanginya dan mereka memberitahukan info kejadian kepada keluarganya (yakni anaknya) dan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. Hudhur mengingatnya dalam khutbah Jumatnya dan setelah itu melakukan shalat jenazah gaib. Beliau mengumumkan wasiyatnya juga dan memimpin doa pemakamannya in Absentia. [16]

Semoga Allah Ta’ala terus mengangkat derajat para pendahulu setinggi-tingginya dan senantiasa menjaga ruh semangat mereka tetap hidup dalam jiwa kita semua serta kita semua bisa meneruskan perjuangan mereka.

Sekarang saya membacakan beberapa kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as pada suatu tempat bersabda:

“Saya menganggap merupakan kesalahan para Maulwi yang menentang ilmu modern. Pada kenyataannya mereka melakukannya untuk menyembunyikan kesalahan dan kelemahan mereka sendiri. Tertanam di kepala mereka bahwa penelitian ilmu modern bertentangan terhadap Islam dan berburuk sangka sebagai ilmu yang menyesatkan.

Mereka telah menyatakan bahwa kecerdasan dan ilmu sains (pengetahuan) benar-benar bertentangan dengan Islam, karena mereka tidak memiliki kapasitas untuk mengkritisi kelemahan filsafat. Untuk menyembunyikan kelemahan mereka ini, mereka menyusun rumusan bahwa tidak sah atau menyatakan haram untuk mempelajari ilmu-ilmu modern. Jiwa mereka gentar terhadap nama filsafat itu dan sujud menyerah sebelum mengadakan berbagai penelitian baru.” [17]

Kemudian juga beliau bersabda: “Namun, mereka tidak ingat, bahwa filsafat yang benar adalah filsafat yang dihasilkan dari wahyu Ilahi dengan perantaraan Al Quran adalah sebuah kemutlakan. Itu hanya akan diberikan kepada mereka dan mereka dengan kemauan sendiri secara tulus mengabdikan dirinya kepada Allah Ta’ala dengan penuh kerendahan hati dan akhlaq yang mulia, sehingga pintu Allah Ta’ala terbuka untuknya. Yang hati dan pikirannya jauh dari keburukan ketakaburan dan mereka mengakui segala kelemahannya, sehingga setelahnya menyatakan untuk melakukan pengabdian yang tulus.” [18]

Kemudian juga beliau bersabda: “Dengan demikian, hal ini diperlukan bahwa ilmu pengetahuan modern itu muncul untuk tujuan pelayanan kepada keimanan dan menghubungkannya dengan Firman Allah, dan hal ini bisa diperoleh dengan usaha besar.

Namun, hal ini juga telah ditemukan dalam pengalamanku, dan saya menyebut hal ini sebagai peringatan bahwa orang-orang yang terlibat dalam ilmu-ilmu pengetahuan ini sebagai satu pemikiran dan begitu terobsesi dan asyik dalam penelitian mereka, sehingga mereka tidak menghiraukan jama’ah kerohanian.” — Yakni hanya berkutat dalam keilmuan tersebut dan tidak menghiraukan ilmu agama.

“Dan mereka tidak akan bertemu Ilahi hanya dengan duduk sebagai ahli hati serta ahli dzikir belaka dan mereka tidak memiliki cahaya Ilahi apapun atas kemauan sendiri. Orang-orang seperti itu biasanya tergelincir dan menjadi jauh meninggalkan Islam. Dan mendingan kalau mereka bersedia meneliti ilmu-ilmu untuk kepentingan Islam, justru mereka mencoba dengan sia-sia untuk membuat Islam tersingkir di bawah ilmu pengetahuan dan mereka beranggapan menjadi penyedia jasa konsultasi keagamaan dan pelayanan nasional.

Namun ingatlah, bahwa pekerjaan seperti itu tidak akan bisa terlaksana. — Yakni tidak bisa mengkhidmati keagamaan dengan cara seperti itu — satu-satunya orang yang dapat melayani agama adalah ia yang memiliki cahaya langit dalam dirinya.” [19] Jadi berupayalah untuk memperoleh cahaya langit ini!

Kemudian juga beliau bersabda: “Pemahamanku adalah untuk kalian yang telah memiliki hubungan denganku, dan dikarenakan adanya hubungan ini maka kalian telah menjadi anggota tubuhku.” – yakni sekarang ini kita menjadi anggota tubuh Hadhrat Masih Mau’ud as – “Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang sangat besar bahwa kalian bersama saya menjaga hubungan ini dikarenakan kalian merupakan anggota tubuhku. “

Anggota tubuh seseorang juga tidak akan bisa bekerja sendiri, karena itu pemahaman ini hendaknya dipahami. Jadi setiap Ahmadi memiliki kehormatan besar sekaligus tanggung jawab yang besar berkenaan dengan hal ini, hendaknya berusaha mewujudkan tujuan turunnya (diutusnya) Hadhrat Masih Mau’ud as, pekerjaan kita untuk mengikuti ajaran Islam yang benar itu, mengajarkan hakikat Al-Qur’an. Hal mana pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as telah banyak menulis nasehat untuk kita.

Kita tidak bisa memenuhi janji bai’at kita tanpa pelaksanaan itu semua. Beliau as bersabda: “Kalian telah menjadi anggota tubuhku, amalkanlah apapun yang sudah saya katakan. Bekerjalah dengan menggunakan akal dan kalam Ilahi, sehingga tercipta dalam diri kalian cahaya pemahaman sejati serta keyakinan dan kalian bisa menjadi wasilah (perantara) yang membawa orang lain dari kegelapan menuju cahaya. Sejak hari ini keberatan-keberatan didasarkan pada masalah yang berhubungan dengan alam kehidupan, medis dan astronomi adalah penting untuk ilmu-ilmu tersebut, sehingga kita memiliki pemahaman terbuka dengan jelas tentang keberatan itu sebelum kita menanggapinya.” [20]

Kemudian beliau as bersabda: “Dengarkan oleh kalian apa yang saya katakan dan ingat dengan baik, bahwa jika apa yang dikatakan tidak dari ketulusan hati dan tidak mengamalkan dengan sekuat tenaga, maka ia tidak bisa memberi pengaruh apapun“ – yakni apapun yang beliau as katakan “tidak akan membawa pengaruh apapun apabila tidak diikuti niat dari ketulusan hati disertai amal perbuatan kalian”.

Beliau bersabda: “Keagungan kebenaran Nabi kita saw ini terbukti dari keberhasilan dan kemenangan terhadap hati yang beliau terima sesuai dengan kapasitasnya dan yang tak tertandingi dalam sejarah umat manusia sejak zaman Nabi Adam as. Semua ini terjadi karena adanya kesesuaian secara sempurna antara kata-kata (qaul) dan perbuatan (fi’il) beliau saw.” [21]

Jadi, adalah tugas terpenting kita untuk mengikuti model beberkah Nabi Suci saw dan ini semua dapat terwujud dengan adanya kesesuaian dalam kata dan perbuatan serta apabila kita berusaha sungguh-sungguh dalam hal ini, insya Allah segala upaya kita akan membuahkan hasil yang lebih baik.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita sehingga kita bisa memenuhi keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as, yakni kita tetap menjadi orang-orang yang senantiasa menyebarkan agama. Semoga kita menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang supaya menuju jalan yang lurus. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang bisa memenuhi kewajiban karena telah menjadi “anggota tubuh beliau”.

Walaupun kita terkadang belum sesuai antara kata dan perbuatan kita, meskipun kita terkadang masih terkalahkan oleh kekuatan dajjal dan pesona duniawi, semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menghadapi semua itu dengan pemahaman yang benar.

Shalat Jenazah Gaib Al Haaj Umar Ibrahim, Sultan Agadez

Hari ini saya akan melaksanakan sholat jenazah ghaib terhadap Mukarrom Sultan Agadez, Nigeria yang telah wafat dalam umur 75 tahun pada tanggal 21 Februari. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Namanya Al Haaj Umar Ibrahim, Sultan Agadez mendapatkan taufiq masuk Ahmadiyah pada September tahun 2002. Ia adalah sultan terbesar di Niger dan merupakan hukum adat yang sekaligus menjadi anggota Kabinet kehormatan presiden.

Dia telah menjadi Sultan Agadez dengan perjuangan pembenahan dalam negrinya. Dia menjadi sultan sejak tahun 1960 di Nigeria dan menjadi sultan yang sangat dihormati dan merupakan sultan yang ke-51. Dia menjadi sultan selama 51 atau 52 tahun. Dia telah membuat upaya besar dalam pembentukan perdamaian di Agadez. Sultan itu pernah menghadiri Jalsah Benin pada tahun 2002 dengan menempuh perjalanan ribuan kilometer bersama dengan 12 orang pengawalnya yang mengikuti perjalanannya dan setelah Jalsah selesai dia menginap di Benin selama seminggu, sehingga bisa berdialog dengan Amir Sahib Benin berkenaan tentang Jemaat.

Setelah terasa kedekatannya dengan Ahmadiyah maka sebelum kembali ke Nigeria, ia mengungkapkan niatnya untuk bergabung, katanya: “Saya akan bai’at sebelum kembali ke Nigeria.” Ia bersama dengan rombongan 12 orang pengawal yang kuat, menyatakan bai’at menerima Ahmadiyah, dan mengatakan: “Hatiku merasa gembira setelah menyaksikan ribuan orang shalat berjama’ah di Jalsah Benin ini. Kami sudah banyak berkunjung ke berbagai negri Muslim namun tidak terlihat nuansa keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala di dalam pertemuan-pertemuan mereka.”

 Dia datang untuk menghadiri Jalsah Inggris pada tahun 2003 dan mengadakan pertemuan pertamanya dengan saya, dia sultan yang berakhlak sangat baik, sangat ramah dan murah senyum.

Ketika mendengar kewafatan Hadhrat Khalifatul Masih IV rh, dia segera datang dan menginap di rumah misi. Takziyah bersama Muballigh in Charge (Raisut Tabligh). Anak-anaknya pun juga sangat beretika, dia menikahi empat sampai lima wanita.

Muballigh in Charge kita yang di Nigeria, Akbar Ahmad Sahib menulis bahwa ia menyaksikan Sultan ini sebagai orang yang sangat ramah apabila berkesempatan bertemu dengan penduduk Agades dan hangat dalam komunikasi. Keramahan juga ditujukan saat bertemu dengan Missionary in Charge (Raisut Tabligh). dan sangat menghormatinya.

Disiplin dalam menegakkan hukum di negrinya. Dikisahkannya: “Tatkala saya jalan-jalan maka bertemu dengannya, membuat pertemuan itu demikian penuh kecintaan dan selalu bertanya tentang Jama’at dan Khalifatul Masih.”

Sultan itu datang ke Benin dan bertemu dengan saya selama di perjalanan pada April tahun 2004. Sultan itu datang bersama 12 orang pengawalnya. Di sana sempat mulaqat (bertemu) dengn saya dan menceritakan: “Kira-kira saya telah melakukan perjalanan selama tiga hari tiga malam, dengan perjalanan di padang gurun yang cukup sulit juga. Perjalanan ini sejauh lebih dari 2000 kilometer.” Disana kami membahas berbagai hal. Sultan ini menunjukkan koleksi photonya dan lain-lain, pertemuan yang sangat menyenangkan.

Di kalangan Ahmadiyah Nigeria juga terlihat banyak ketulusan dan kesetiaan. Dan terlepas dia menjadi seorang Sultan, ia memiliki banyak kerendahan hati. Semoga Allah mengangkat derajatnya lebih tinggi lagi.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Hadhrat sahib yang dimaksud adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as. Penggunaan istilah ‘Hadhrat sahib’ ini disesuaikan dengan kaedah penulisan aslinya dalam Bahasa Urdu.

[3] Sunan Ibni Maajah, Kitabul Muqaddimah

Hadhrat Abdurrahman Bin Amr as-Sulami ra menerangkan bahwa beliau telah mendengar Urbadh bin Sariyah mengatakan bahwa pada satu kali Hadhrat Rasulullah memberikan nasehat yang sangat berkesan yang karenanya berlinanglah air mata mereka, hati mereka merasa takut. Kami bertanya, “Wahai Rasul Allah! Ini sesungguhnya merupakan sebuah nasehat yang sedemikian rupa yang dilakukan oleh seorang yang mengucapkan selamat perpisahan. Berilah kepada kami petunjuk yang sedemikian rupa supaya kami tetap tegak pada jalan yang lurus.” Beliau saw bersabda, “Saya tengah meninggalkan kalian pada jalan yang terang benderang. Malamnya pun seperti siangnya. Kecuali orang yang malang tidak ada yang akan tersesat di dalamnya, yakni ini merupakan jalan yang sangat terang. Dan dari antara kalian mereka yang tinggal (masih hidup lama setelah beliau) maka dia akan melihat perselisihan yang besar. (Bersama itu beliau memperingatkan bahwa kendati di jalan-jalan yang terang itu akan terjadi perselisihan) Dalam kondisi seperti itu kamu harus berjalan pada jalanku yang umum, yang sudah dikenal dan hendaknya berjalan sesuai dengan sunnah khulafa rasyidin (para Khalifah yang lurus) dan mahdiyyin (mendapat petunjuk). Kamu jadikanlah taat itu sebagai ciri khas kamu. Kendati budak Habsyi yang ditetapkan sebagai amir kamu. Berpeganglah pada agama itu. Perumpamaan orang mu’min adalah seperti unta yang berpelana atau berkekang. Kemana kamu membawanya maka ke arah itulah dia akan berjalan. Dan untuk taat dia menjadi hal biasa.”

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلا هَالِكٌ؛ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

[4] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 7, halaman 181 – 185, Riwayat Hadhrat Mian Jamaluddin sahib ra)

[5] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 9, halaman 207 – 209, Riwayat Hadhrat Munshi Mahboob Alam sahib ra.

[6] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 6, halaman 146 – 147, Riwayat Hadhrat Ameer Khan sahib ra.

[7] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 10, halaman 221 – 222, Riwayat Hadhrat Maulwi Abdullah sahib ra.

[8] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 10, halaman 235, Riwayat Chaudry Muhammad Ali Khan sahib ra.

[9] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 29 – 30, Riwayat Hadhrat Syaikh Abdur Rasyid sahib ra.

[10] Sunan an-Nasai, Kitabul Masaajid, Bab fadhl masjid an-Nabi saw; “Abdullah bin Ibrahim berkata kepada kami bahwa ia menyaksikan Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘fa-inni aakhirul anbiyaa-i wa innahu aakhirul masaajid.’ – ‘Sesungguhnya aku adalah akhir dari pada nabi-nabi sedangkan itu (Masjid Nabawi) adalah akhir daripada masjid-masjid.’ (Sebagaimana setelah masjid Nabawi [Masjid yang dibangun Nabi saw di Madinah] tetap ada masjid-masjid, namun, mengikut dalam hal syariat atau tata cara peribadatan kepada masjid Nabawi, demikian pula bisa ada nabi lagi yang mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Ada pun tidak akan ada nabi yang membatalkan atau mengajarkan hal-hal yang menganggap tidak perlu merujuk kepada Nabi Muhammad saw.

فَقَالَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِنِّي آخِرُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّهُ آخِرُ الْمَسَاجِدِ».

[11] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 6, halaman 90 – 91, Riwayat Syaikh Muhammad Ismail sahib ra.

[12] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 274, Riwayat Hadhrat Mian Sharafat Ahmad sahib ra.

[13] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 274 -276, Riwayat Hadhrat Mian Sharafat Ahmad sahib ra.

[14] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 278 – 279, Riwayat Hadhrat Mian Sharafat Ahmad sahib ra.

[15] Rejister Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 174 – 176, Riwayat Hadhrat Hafiz Ghulam Rasool sahib ra.

[16] Dikutip dari Register Riwayat Sahabat ra Ghair Mathbu’ah, jilid 12, halaman 279 – 280, Riwayat Hadhrat Mian Sharafat Ahmad sahib ra.

[17] Malfuzat, jilid Awal, halaman 68, Mathbu’ah London.

[18] Malfuzat, jilid Awal, halaman 68 – 69, Mathbu’ah London.

[19] Malfuzat, jilid Awal, halaman 69, Mathbu’ah London.

[20] Malfuzat, jilid Awal, halaman 68, Mathbu’ah London.

[21] Malfuzat, jilid Awal, halaman 67 – 68, Mathbu’ah London.