Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 2 September 2011 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Hadhrat Masih Mau’ud ’alaihish shalaatu was salaam dalam memberi nasihat secara mendasar terhadap orang-orang yang baru baiat. Beliau as bersabda: “Setelah baiat hendaknya setiap orang mengadakan perobahan suci dalam diri pribadi, menjalin hubungan erat dengan Tuhan mereka dan berusaha untuk meningkatkan mutu akhlaq.”

Dalam suatu kesempatan beliau bersabda: ”Mereka yang masuk kedalam Silsilah Ahmadiyah ini yang mempunyai iradah dan hubungan dengan saya sebagai murid memiliki tujuan agar mereka menjadi orang-orang yang berkelakuan baik, bertabiat baik, menjadi orang-orang bertaqwa hingga mencapai puncak martabat yang tinggi. Tidak ada suatu kerusuhan, kenakalan dan kelakuan buruk dapat menghampiri dan menjamahnya. Dia patuh menunaikan shalat berjamaah setiap hari lima waktu, ia tidak berkata dusta, ia tidak menyakiti hati orang lain dengan mulutnya dan ia tidak terlibat dalam suatu kelakuan buruk apapun. Dan tidak pula terpikir didalam hatinya untuk melakukan kenakalan, kerusuhan, kezaliman dan melakukan suatu fitnah. Pendeknya, ia menghindarkan diri dari setiap maksiat dan kejahatan dan tidak melakukan keburukan baik dengan fisik maupun dengan lisan dan menghindari semua perasaan nafsu ammarah serta dari gerak-gerik yang tak terpuji dan menjadi hamba Allah yang berhati suci dan bertabiat seperti orang miskin dan dalam dirinya tidak terdapat fitrat dan pikiran yang beracun.”[2]

Dengan karunia Allah Ta’ala pada hari ini orang-orang yang telah beriman kepada Imam Zaman, mereka berusaha menciptakan perobahan suci dalam diri mereka secara tetap dan tidak berobah lagi. Hal itu merupakan revolusi rohaniah yang timbul didalam diri orang-orang yang sungguh-sungguh memahami hakikat baiat. Saya sekarang akan menjelaskan beberapa peristiwa atau kisah orang-orang yang setelah baiat melakukan revolusi rohaniah yang sangat besar. Mereka itu terdiri dari berbagai Bangsa di dunia yang telah mendapat kemajuan dalam menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala dan mendapat kemajuan dalam melakukan kebaikan serta dalam meningkatkan mutu akhlaq yang tinggi dan telah mendapat kemajuan dalam menumpas dorongan-dorongan hawa nafsu dan dalam mematuhi hukum-hukum Allah Ta’ala. Mereka selalu berusaha meningkatkan mutu kerohanian mereka. Rasa takut kepada Allah Ta’ala dan rasa cinta kepada-Nya mengungguli rasa takut terhadap kekuatan dunia dan terhadap rasa cinta kepada-nya. Kisah-kisah ini saya ambil dari laporan hari kedua Jalsa Salana, mengenai bagaimana orang-orang yang setelah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah mendapat perobahan yang luar biasa. Pada waktu itu laporan tentang peristiwa-peristiwa ini tidak dapat dibacakan disebabkan sempitnya waktu. Pokok pembicaraan ini sangat penting yang dapat mengesankan anggota Jemaat lama dan menambah kekuatan iman mereka.

Amir Sahib Jemaat Delhi (India) melaporkan bahwa di sana sedang terjadi banyak perobahan yang jelas sekali dalam diri orang-orang yang baru baiat menjadi Ahmadi. Beliau mengatakan, “Usman Sahib yang baiat masuk Jemaat pada Jalsa Salana Qadian tahun 2010 yang lalu, menjelaskan bahwa; ‘Sebelum baiat masuk Jemaat saya malas dan tidak dawam menunaikan shalat. Namun setelah baiat saya bukan hanya menunaikan shalat lima waktu secara dawam namun shalat tahajjud juga saya sudah mulai menunaikannya secara rutin.’”

Semoga amal ibadah para mubayi’in baru yang acapkali menulis surat kepada saya termasuk Usman Sahib ini terus berjalan dengan dawam. Semoga Allah Ta’ala memberi kesadaran kepada para Ahmadi lama diantara kita yang kadang-kadang menunjukkan kemalasan atau kelalaian dalam menunaikan shalat bahwa setelah masuk kedalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as mereka akan giat melaksanakan semua kewajiban, tanpa hal itu baiat mereka akan sia-sia. Diantara kewajiban yang paling besar adalah menunaikan shalat lima waktu, setelah itu menunaikan shalat nawafil. Setiap orang harus memperhatikan hal itu seperti halnya para anggota yang baru masuk Jemaat sedang giat mengadakan perobahan dalam diri mereka.

Muballigh kita di wilayah Upper East, Ghana bernama Tariq Mahmud Sahib menulis katanya, ketika diadakan sebuah Jalsa di region Gambagha seorang imam Ahmadi baru dalam pidatonya berkata: ”Kita ini sejak dulu telah menjadi Muslim. Mayoritas penduduk bagian Utara Ghana adalah orang-orang Islam dan dengan karunia Allah Ta’ala disana ramai orang-orang sedang berbondong-bondong masuk Jemaat. Pada masa permulaan Jemaat masuk di Ghana Jemaat Ahmadiyah dengan pesat berkembang di daerah pantai Selatan Ghana dan orang-orang yang masuk Jemaat itu berasal dari penganut agama Kristen. Di daerah itu Jemaat berkembang dengan pesat sekali. Sedangkan di daerah bagian yang berpenduduk Muslim banyak sekali permusuhan terhadap Jemaat, kecuali sebuah kampung yang semua penduduknya telah baiat dan telah menjadi orang-orang Ahmadi yang teguh. Sejak awal permulaan Jemaat berkembang di daerah pantai Selatan. Namun di daerah Utara Ghana dikarenakan mayoritas berpenduduk Muslim di sana banyak penentangan sangat hebat. Kini sejak beberapa tahun lalu Jemaat Ahmadiyah sedang berkembang dengan sangat pesat sekali disana.

Selanjutnya Imam Ahmadi baru ini yang telah masuk Jemaat bersama para pengikutnya itu berkata; ”Sejak dulu kita telah menjadi orang-orang Muslim, akan tetapi kita tidak mengetahui ajaran Islam yang sejati. Ahmadiyah-lah yang telah memberi penerangan dengan jelas kepada kami tentang Islam yang hakiki.”

Imam Sahib itu berkata lagi: ”Sebelum masuk Ahmadiyah saya biasa membuat ta’weez (ajimat atau guna-guna) untuk orang-orang yang meminta kepada saya. Namun berkat Jemaat Ahmadiyah saya sudah meninggalkan pekerjaan syirik itu. Dan sekarang saya anggap hal itu perbuatan di luar ajaran Islam.”

Jadi pekerjaan kotor membuat taweez ini telah merebak kemana-mana bukan hanya terdapat di Pakistan atau di Hindustan saja, bahkan di negara-negara Arab dan di negara-negara lainnya juga. Itulah bid’ah yang sudah merajalela dan dengan karunia Allah Ta’ala setelah kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as perbuatan bid’ah itu telah mulai diberantas dan dihapuskan dan beliau as telah bersabda: ”Ajaran yang hakiki adalah yang dikemukakan oleh Islam. Jalinlah hubungan dengan Allah Ta’ala, jalinlah hubungan dengan Allah Ta’ala secara perorangan dan amalkan-lah hukum-hukum Allah Ta’ala, hal itu semua yang harus kalian lakukan.”

Kemudian Sadr Jemaat sebuah kampung di daerah Lokosa menjelaskan katanya; “Sebelum masuk Jemaat karena perkara kecil saja saya cepat merasa tersinggung dan marah sehingga saya sering memukul anak dan istri saya juga. Mencaci dan menghina orang sudah menjadi adat kebiasaan saya. Semenjak masuk Jemaat saya sangat memperhatikan kewajiban menunaikan shalat dan saya merasa bahwa sekarang saya sudah mempunyai kesabaran yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”

Tengoklah bagaimana orang Afrika yang tinggal jauh di pedalaman telah merasakan adanya perobahan yang sangat baik dalam dirinya setelah masuk Ahmadiyah. Penyebabnya adalah bahwa ia telah menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala, telah berusaha menaruh perhatian untuk menunaikan kewajiban ibadah shalat dan berusaha untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Ketika saya mengadakan lawatan ke Jerman ada seorang pemuda baru masuk Jemaat dan iapun mengatakan, “Dahulu sebelum masuk Jemaat saya sangat pemarah. Karena tersinggung perkara kecil saja sering menjadi marah. Akan tetapi setelah masuk Jemaat Ahmadiyah saya telah merasakan adanya perobahan dan saya merasa bahwa Ahmadiyah telah mengajar saya untuk berhati-hati, berlaku sabar dan tabah. Hal ini dapat terjadi karena saya telah berusaha mengikat hubungan seerat mungkin dengan Allah Ta’ala.”

Apabila hubungan telah terjalin erat dengan Allah Ta’ala maka manusia memperoleh kemampuan untuk mengontrol tabiat dirinya. Dan timbul juga perhatian di dalam hatinya untuk memenuhi hak-hak sesama hamba Allah Ta’ala.

Ada lagi seorang Nou Mubayyi (orang yang baru baiat) berkata; ”Saya mempunyai kebiasaan meminum minuman keras dan merokok. Setelah masuk Ahmadiyah kedua kebiasaan adat buruk ini telah saya tinggalkan. Selanjutnya berkata; Jika kita sudah mulai menunaikan shalat lima waktu secara dawam maka perhatian terhadap kedua perkara sia-sia ini tidak akan ada lagi.”

Itulah berkat dari pada hubungan erat dengan Allah Ta’ala yang telah mereka tegakkan. Menaruh perhatian khas terhadap ibadah shalat dan meningkatkan hubungan erat dengan Allah Ta’ala menjadi sarana untuk meninggalkan semua pekerjaan buruk dan sia-sia dan untuk melakukan taubah dari perbuatan-perbuatan dosa. Jadi, shalat-shalat hakiki-lah yang dapat menjauhkan manusia dari perbuatan-perbuatan buruk. Jemaat Ahmadiyah tidak hanya mengemukakan kisah-kisah peristiwa lama, bahkan pada masa sekarang juga telah terjadi banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menarik dan menggugah iman berkat mengamalkan ajaran-ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah menimbulkan perobahan berupa revolusi rohaniah di kalangan para Anggota Jemaat. Firman Allah Ta’ala dalam Alqur’an: إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ Innash shalaata tanha ’anil fahsyaai wal munkar yakni shalat mencegah manusia dari perbuatan buruk dan keji, sekarang juga firman Tuhan ini sedang mengumumkan kesempurnaannya. Yaitu orang yang dengan sungguh-sungguh menunaikan shalat-shalat-nya, yang sungguh-sungguh bersujud dihadapan Allah Ta’ala, pasti shalat-shalatnya itu dapat mencegah perbuatan buruk, perbuatan keji dan perbuatan yang tidak diinginkan. Bahkan setiap da’wa dan nubuatan Alqur’anul Karim sedang menzahirkan kesempurnaannya di zaman ini dan sedang sempurna melalui orang-orang yang sungguh-sungguh mengamalkan ajaran-ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as Hal demikian memang tidak akan nampak dimata orang-orang Ghair Ahmadi atau dimata orang-orang Muslim biasa.

Amir Sahib Ghana menulis tentang seorang yang giat menjalankan tabligh, “Ketika kami pergi ke daerah Upper East untuk bertabligh sampailah ke tempat bernama Bimbaago dimana seorang guru telah baiat masuk Jemaat karena sangat tertarik oleh ajaran yang dikemukakan oleh Jemaat Ahmadiyah. Keikhlasan beliau begitu tinggi sehingga setelah beberapa waktu lama ketika diadakan Ijtima Nasional Khuddam di kota Bolga terletak di daerah Utara, beliau membawa 20 orang teman gurunya untuk hadir dalam Ijtima itu. Berkat kegiatan tablighnya semua teman-temannya itu telah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Mereka itu mempunyai semangat khas untuk bertabligh. Dengan karunia Allah Ta’ala di sana jumlah anggota Jemaat semakin meningkat dengan sangat pesat.”

Di sebuah wilayah bernama Kopilla di negara Burkina Faso, seorang khadim bernama Sanah Suleman, mempunyai tiga orang saudara yang telah baiat, namun orang tua mereka sangat keras menentang Jemaat. Seringkali matanya gelap dalam menentang Jemaat Ahmadiyah, menghina dan mencaci-maki anak-anaknya dan mengusir mereka keluar dari rumahnya. Di Burkina Faso, selain Radio Jemaat, radio-radio lainnya juga menyiarkan beberapa program Jemaat setiap hari. Suatu hari ketiga anak itu menyetel Radio di hadapan ayah mereka dan dalam Radio itu sedang disiarkan sebuah makalah berisi ajaran-ajaran Islam yang sangat indah.

Setelah mendengar semua siaran itu bapak mereka memanggil semua anak-anaknya dan berkata; ”Ingatlah! Kamu sekalian yang telah menggabungkan diri dengan orang-orang kafir (yakni ia menganggap orang-orang Ahmadi itu kafir). Berhentilah kalian! Dengarlah program yang sedang disiarkan oleh Radio ini. Alangkah indahnya program siaran ini. Inilah kata-kata manusia Ilahi yang langsung meresap kedalam hati sanubari dan langsung tertanam dalam hati. Dengarlah siaran ini, mengapa kalian telah menggabungkan diri dengan Ahmadiyah. Berhentilah kalian dari kumpulan orang-orang Kafir itu!”

Kemudian ayah mereka itu berkata: ”Dengarlah! Inilah ajaran Islam yang sebenarnya yang sedang disampaikan oleh Radio ini.” Sesungguhnya ayah mereka itu tidak tahu bahwa siaran yang sedang ia dengar itu adalah siaran dari Ahmadiyah melalui Radio Pemerintah di sana. Akan tetapi ketika pada akhir program itu diperdengarkan nazm Ahmadiyah Zindah baad! Ahmadiyah Zindah baad! Maka orang itu segera menutup siaran Radionya itu. Kemudian anak-anak mereka berkata; ”Ayah, apa yang ayah katakan itu sungguh benar! Orang-orang inilah yang sebenarnya manusia-manusia Ilahi yang ucapan-ucapan mereka sangat meresap kedalam lubuk hati. Itulah sebabnya sekarang hubungan kami dengan Jemaat Ahmadiyah jauh semakin kuat dari sebelumnya.”

Tidak ada sarana lain yang lebih baik bagi orang-orang seperti itu kecuali berusaha mengamalkan hukum-hukum Islam sesuai dengan tafsir dan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan mendengarkan serta merenungkan tafsir-tafsir yang dijelaskan oleh beliau as Sebab tidak ada orang yang mampu memberikan ilmu pengetahuan yang lebih baik dari itu didalam dunia zaman sekarang ini, kecuali Hadhrat Masih Mau’ud as.

Seorang Muballigh kita bernama Irshad Mahmud Sahib dari Kirgistan menulis, “Melalui National Sadr (Ketua Nasional) Jemaat Kirgistan, Tuan Salamah, seorang perempuan muda bernama Jildiz Abdulllaeva telah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Perempuan itu bekerja di kantor American Base di Kirgistan. Disana seorang pegawai dari Amerika sangat tertarik kepadanya karena ia melihat perempuan ini sangat baik perangai dan perilakunya serta mempunyai banyak sifat malu. Laki-laki Amerika telah menyatakan keinginan untuk mengawininya. Perempuan kita itu berkata kepadanya; ‘Saya seorang Muslimah Ahmadi, akan saya jawab kepada anda setelah menanyakan masalah ini kepada pengurus Jemaat saya.’

Ia (wanita Jemaat itu) datang ke Mission House (Darut Tabligh, Rumah Misi) dan dikatakan kepadanya [oleh pengurus Jemaat], ‘Seorang perempuan Muslim tidak boleh menikah dengan orang non-Muslim. Islam tidak memberi izin untuk itu.’ Maka perempuan Muslimah Ahmadi yang baik hati ini menolak untuk dinikahi. Laki-laki Kristen itu sangat penasaran lalu berkata kepada perempuan itu: ‘Jika saya masuk Islam apakah saya boleh kawin dengan engkau?’ Perempuan Ahmadi ini berkata kepadanya; ‘Jika anda hendak masuk Islam, masuklah dengan hati yang ikhlas dan dengan sungguh-sungguh. Masuk Islam karena untuk menikah tidak dapat saya terima. Jika anda masuk Islam untuk menikahi saya, tidak akan saya terima dan tidak mau saya menikah dengan anda.’

Padahal disebabkan kemiskinan orang-orang perempuan Kirgistan lebih cenderung untuk nikah dengan orang-orang asing. Akan tetapi anak perempuan Ahmadi ini menolak tawaran laki-laki Kristen itu untuk menikah dengannya. Kemudian lelaki Kristen itu melakukan penyelidikan tentang Islam dan terus-menerus membaca buku-buku Jemaat selama enam bulan, akhirnya pada tanggal 1 Juli 2011 ia baiat masuk Ahmadiyah, Islam Sejati. Di kala sedang mengadakan penyelidikan tentang Islam Ahmadiyah lelaki Kristen ini telah membaca banyak website yang menentang Islam Ahmadiyah. Di situpun ia menelaahnya dan akhirnya perasaan hati pemuda ini merasa tenteram dan puas dengan keterangan-keterangan dari Ahmadiyah yakni Islam Hakiki dan Allah Ta’ala telah memberi taufiq kepadanya untuk baiat masuk Jemaat Ahmadiyah yakni Islam Hakiki.”

Ringkasnya, itulah perobahan suci tabiat manusia dan itulah istiqamah, keteguhan hati. Untuk memperoleh martabah demikian harus banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala. Perempuan itu belum lama masuk Ahmadiyah dan keadaannya juga miskin. Sebetulnya ia telah mendapat calon risyta (pasangan nikah) yang baik dari segi duniawinya. Akan tetapi ia telah menolaknya demi agama dan demi keimanan yang telah ia peroleh. Hal itu menjadi bahan pikiran bagi perempuan-perempuan di sana mengapa ia telah menolak menikah dengan orang asing yang sebenarnya menjadi tumpuan dan harapan bagi banyak wanita di negeri itu. Banyak orang-orang yang baiat karena tujuan untuk menikah dengan wanita Jemaat. Itulah sebabnya sebuah peraturan telah ditetapkan dalam Jemaat bahwa selama belum mencapai satu tahun setelah baiat dan belum diketahui kemukhlisannya pada umumnya bagi para wanita Ahmadi tidak diizinkan menikah dengan Mubayi’ baru itu. Maksudnya, supaya jelas keadaannya bahwa orang itu baiat karena semata-mata untuk menikah atau tidak, [yaitu baiat karena memang menerima kebenaran Jemaat]?

Zaman sekarang melalui website banyak macam godaan-godaan bagi orang-orang yang lemah iman dan tuna ilmu, seperti telah saya jelaskan sebelumnya. Ada beberapa orang yang terpengaruh dan ada saja yang tergoda hati mereka oleh bujuk-rayu didalam website itu sehingga menimbulkan kegelisahan. Akan tetapi pemuda Kristen Amerika itu tetap konsisten membaca website para penentang dan juga ia telah mempelajarinya kemudian ia membuka dan menelaah website Jemaat juga, kemudian membandingkannya dan berdoa juga, akhirnya kebenaran telah ia perolehnya dan ia menerima Islam melalui Ahmadiyah. Kadang kala pihak lawan berusaha menggelincirkan pendirian anak-anak Ahmadi terutama yang masih disebut remaja, mereka. Kadangkala melalui pergaulan dan persahabatan mereka secara halus digelincirkan dari jalan yang benar. Mereka juga harus banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala agar jangan terlibat dalam suatu perkara duniawi yang dapat menyesatkan iman mereka. Dengan karunia Allah Ta’ala ta’leem Jemaat Ahmadiyah penuh dengan dalil-dalil yang tangguh. Sebab ajaran ini adalah ajaran Islam sejati. Dimana saja Hadhrat Masih Mau’ud as membuktikan kebenaran da’wa beliau di sana beliau selalu membuktikannya dengan sebuah dalil yang jelas. Oleh karena itu tidak menimbulkan komplikasi. Apa yang kita perlukan untuk itu, adalah kita harus mencari ilmu pengetahuan agama.

Ansar Abbas Bhatti, Muballigh Jemaat Ahmadiyah Benin melaporkan; “Telah diadakan Jalsa para Mubayi’in baru di sebuah kampung bernama Lokoli, wilayah Alada dan dalam sebuah pidato telah dijelaskan mengenai kewajiban-kewajiban orang-orang Muslim. Setelah selesai acara Jalsah datanglah seorang Mullah bersama rombongan ke sana dan mereka berusaha menghasut para Mubayi’in baru itu untuk keluar dari Jemaat. Mereka berkata; ‘Jika kamu sekalian beriman kepada orang yang telah menda’wakan diri menjadi Imam Mahdi itu maka kamu semua akan masuk kedalam neraka. Kamu sekalian dan orang-orang yang sudah menerimanya semua akan masuk kedalam neraka jahannam. Kamu sekalian harus segera bertaubat sebab semua imam-imam orang Islam, para alim-ulama Islam, para pemimpin negara telah menyatakan orang-orang Ahmadi kafir dan ahli neraka jahannam. Kedalam neraka jahannamlah kamu sekalian akan jatuh terperosok atau sudah jatuh terperosok kedalamnya. Karena telah bergabung dengan orang-orang Ahmadiyah ini kamu akan menjadi ahli neraka semuanya.’

Lalu mereka berkata; ‘Orang-orang Muslim di Pakistan tidak suka kepada orang-orang Ahmadi. Di sana juga mereka dinyatakan bukan orang Islam.’ Maka, dalam menjawab hasutan Mullah itu Mu’allim kita berkata kepada semua orang yang hadir di situ; ‘Para Mullah ini sudah datang kesini sebagai tamu kita. Dengan sangat hormat kami ingin bertanya kepada mereka yaitu, apakah yang sedang mereka ucapkan ini dapat dibuktikan kebenarannya dari Kitab Suci Alqur’an? Kami berbicara atas dasar Kitab Suci Alqur’anul Karim. Jika memang betul apa yang diucapkan itu atas dasar Alqur’anul Karim, dengan lapang dada kami semua akan percaya. Tapi ingat! Jika Alqur’an membenarkan pendirian kami, sekali-kali kami tidak akan meninggalkan pendirian kami.’

Tiba-tiba seorang Maulvi bangkit dan berkata; ‘Lupakanlah Alqur’an! Jika semua ulama dan imam di Benin sudah ijma’ mengatakan anda salah dan sesat, apa perlunya kita rujuk kepada Al-Qur’anul Karim. Anda sudah dinyatakan salah, cukuplah sudah, tidak perlu suatu dalil lagi. Sudah diputuskan, anda semua ahli neraka jahannam.’ Jadi mereka itu seolah-olah sudah duduk menjadi Tuhan.

Melihat keadaan mereka demikian para mubiyi’in baru itu meradang dan mulai emosional. Para mubayi’in baru berkata; ‘Jika kalian tidak memerlukan Alqur’an lagi, maka kami pun tidak memerlukan kalian semua. Pergilah kalian dari tempat ini sekarang juga.’ Para Mubayyi’in baru itu dengan keras memaksa mau mengusir mereka, namun Mu’allim kita dengan tenang memberi pengertian sambil berkata; ‘Mereka telah datang kepada kita sebagai tamu, bersabarlah menghadapi mereka itu, tunjukkanlah akhlaq yang baik kepada mereka. Cara perlakuan seperti ini tidak baik.’ Akan tetapi orang-orang kita sudah tidak dapat menahan emosi akhirnya mereka mengusir para mullah itu dan diusir dari dalam masjid.

Sebenarnya kelakuan para mullah seperti itu telah berjalan semenjak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as Perangai para mullah itu serupa seperti itu, apabila dalil-dalil Alqur’anul Karim dihadapkan kepada mereka, dibacakan ayat-ayat Alqur’an, maka mereka cepat mengalihkan pembicaraan kearah yang lain. Jika mereka mengemukakan sebuah hadits menjelaskannya sekehendak hati mereka atau mengikuti pendapat ulama mereka.

Terdapat kisah seorang sahabat senior ketika baiat, beliau berkata kepada seorang ulama besar, “Buktikanlah wafat Nabi Isa as dari suatu ayat Alqur’an.” Ulama besar itu berkata: “Saya menarik orang-orang dari kamu dengan Alqur’an dan membawa kearah lain, kemudian kamu membawa lagi kearah itu. Kami sedikitpun tidak dapat membuktikan kehidupan Isa Al Masih dari Alqur’an.” Itulah cara berpikir mereka yang sudah berlangsung sejak dahulu kala.[3]

Anshar Ahmad Batti, Muballigh Benin selanjutnya menulis, “Pada tanggal 12 Juli 2011 setelah shalat Maghrib sebuah program tabligh telah dimulai di Ndjanji Zimbomi. Ketika dijelaskan tentang kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan kemajuan-kemajuan Islam Ahmadiyah yang telah dicapai oleh beliau as, maka serempak orang-orang kampung menyatakan ingin menggabungkan diri dengan Jemaat beliau as. Mereka berkata, ‘Dimana Islam sedang mendapat kemajuan ke sanalah kami ingin pergi.’ Dengan karunia Allah Ta’ala dalam majlis tabligh itu telah baiat 167 orang masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah. Sebelum pergi dari sana Mu’allim kita berkata kepada mereka, ‘Besok lusa kami akan datang lagi kesini, sebab besok lusa adalah hari Jumat kami akan datang untuk shalat Jumat bersama-sama anda semua.’

 Orang-orang yang baiat itu semuanya adalah Muslim sejak dahulu. Dapat dibayangkan bagaimana keadaan Islam mereka saat Mu’allim kita berkata, ‘Besok lusa akan datang lagi untuk shalat Jumat’, mereka bertanya, ‘Apakah yang dimaksud dengan Jumat itu? Kami tidak pernah menyaksikan orang berjumat (Jumatan) dan tidak pernah pula kami jumatan. Semenjak lima belas tahun silam kami menjadi Muslim, tidak pernah seorang Maulvi atau seorang imam pun yang mengajar kami berjumat dan tidak pernah pula melihat seorang Imam pun yang berjumat di sini.’

Pada hari Jumat yang telah ditentukan itu Mu’allim kita pergi ke sana dan memimpin shalat Jumat. Setelah itu diadakan refresher course (yaitu tarbiyyat berupa kursus penyegaran) juga di sana. Kepada mereka dijelaskan tentang ajaran Islam, diterangkan kepada mereka apa shalat fardhu itu, apa shalat Jumat dan apa shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha dan sebagainya. Diajarkan juga kepada mereka beberapa macam tentang ajaran Alqur’an dan kewajiban-kewajiban lainnya sebagai orang Muslim.

Penduduk kampung lain yang terletak tidak jauh dari sana juga baiat masuk Jemaat. Di sana juga ketika dikatakan akan datang untuk shalat Jumat. Penduduk kampung itu memberitahukan, sepanjang tahun mereka bemusuhan dengan penduduk kampung yang sebelumnya telah baiat sebanyak 167 orang itu. Kami tidak pernah bekunjung ke sana dan tidak pula disukai kedatangan mereka ke sini. Kedua penduduk kampung itu bermusuhan sangat keras.

Kemudian kedua penduduk kampung itu sambil memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala secara terpisah telah diberi pengertian dan telah dinasihati dengan baik, ‘Kita semua sudah menjadi kampung Ahmadi. Setelah menjadi Ahmadi semua perselisihan dan permusuhan sudah selesai, tidak ada masalah lagi. Kita semua sudah menjadi satu. Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah datang ke dunia untuk mempersatukan umat. Supaya kita sebagai Muslim bersatu padu untuk meraih kemajuan. Bagaimanapun kita semua harus bersatu dalam semua urusan dan bersama-sama menunaikan shalat Jumat.’

Ringkasnya, dengan karunia Allah Ta’ala kedua kampung itu telah akur dan bersatu padu, semua kedengkian dan permusuhan yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya telah hapus dan mereka telah bersatu untuk mengadakan Jumatan.”

 Oleh karena itu melalui Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as, topik tentang Yaumul Jumat juga dengan cara yang baru telah sempurna sehingga setelah permusuhan yang berjalan selama lima belas tahun mereka mulai menunaikan Shalat Jumat bersama-sama dan berkat shalat Jumat ini permusuhan antara kedua kampung itu telah hilang.

Bukan hanya permusuhan mereka saja telah lenyap bahkan sesuai dengan firman Allah Ta’ala suasana dan spirit رحماء بينهم ’ruhamaa-u bainahum– “saling mencintai diantara mereka” mulai ditegakkan dan rasa ikhlas serta pengorbanan satu sama lain mulai tertanam di dalam kalbu mereka. Itulah kelebihan orang-orang Mu’min dan itulah perubahan-perubahan suci yang untuk menciptakannya Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang ke dunia.

Amir Sahib Jemaat Ahmadiyyah Delhi telah melaporkan, “Muhammad Mursalin Sahib setelah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah pada tahun 2008 mengatakan bahwa tiga hari setelah baiat masuk Ahmadiyah bermimpi telah pergi untuk menghadiri suatu program dan di sana pergi ke sebuah kamar dari bangunan tua. Di kamar itu ada dua orang lain lagi tinggal di situ. Oleh karena kamar itu gelap tidak ada cahaya kami tidak dapat saling mengenal satu sama lain. Diantaranya saya nampak Hadhrat Rasulullah saw, lalu saya menghampiri beliau dan melihat-lihat sambil menyentuh tubuh beliau. Kemudian Hudhur saw menunjukkan telunjuk beliau kearah atap diatas, sehingga nampak pemandangan seluruh langit. Pemandangan nampak kepada saya sangat indah perlahan-lahan nampak pemandangan sebuah taman bunga. Kemudian Hudhur saw memutarkan telunjuk beliau kearah lain akhirnya pemandangan pun sudah hilang. Saya berkata kepada Hudhur saw, ‘Hudhur saya hendak pergi ke Mumbay.’ Hudhur saw bersabda; ‘Kenapa engkau tidak pergi ke Punjab saja?’ Setelah itu mata saya terbangun.

Mimpi ini saya beritahukan kepada Qaid Majlis Khuddamul Ahmadiyya yang sudah saya kenal. Beliau berkata: ‘Ini merupakan perintah dari Hudhur saw oleh sebab itu kita harus pergi ke Qadian.’ Untuk pertama kali saya pergi ke Qadian bersama Qaid Sahib. Di sana ziarah ke Darul Masih dan ketika saya berziarah ke Baitur Riazat saya jumpai sebuah kamar seperti yang saya lihat dalam mimpi itu sehingga hati saya merasa senang dan pikiran saya merasa tenteram. Dengan karunia Allah Ta’ala saya telah baiat masuk Ahmadiyah dan saya merasa iman semakin bertambah teguh. Untuk kemajuan iman para pendatang baru dalam Jemaat Allah Ta’ala juga acapkali memperlihatkan tanda-tanda dikabulkannya doa-doa mereka.

Saya akan menyampaikan contoh beberapa kisah pengabulan doa orang-orang Ahmadi yang tinggal jauh di pedalaman negara-negara diduna yang sangat menggugah iman dan menambah keyakinan para Ahmadi baru maupun para Ahmadi lama.

Amir Sahib Jemaat Burkina Faso menulis, “Beberapa bulan yang lalu, Al-Haj Poonty Sahib, penduduk kota Seytenga dan Zaim Ansarullah wilayah Dori jatuh sakit keras. Ketika beliau dibawa ke Rumah Sakit dokternya memanggil keluarga beliau ke Hospital itu dan berkata kepadanya: ‘Tidak akan ada gunanya pengobatan untuk orang sakit ini. Atau masudnya ia tidak lama lagi akan menghembuskan nafas yang terakhir. Oleh sebab itu bawalah kembali pasien ini pulang ke rumah.’

Setelah itu beliau dibawa kesebuah Rumah Sakit Pemerintah di kota Wagadubu. Para dokter di sana juga tidak bersedia untuk mengobati beliau, sebab dikatakan bahwa pesakit ini akan menjadi tamu untuk beberapa jam lagi saja. Karena itu semua anggota keluarga beliau sudah berputus asa. Amir Sahib berkata kepada mereka, ‘Sekarang pengobatan ini sudah tidak mungkin lagi dan para dokter sudah melihat keadaan beliau secara lahiriah, kehidupan atau nyawa ada ditangan Tuhan. Sekarang tulislah surat kepada Khalifa-e-waqt untuk memohon doa.’ (Pada hari itu juga mereka menulis surat kepada Hudhur untuk memohon doa.)

Setelah selesai mengirimkan surat itu (kepada Hudhur atba) dan setelah memanjatkan doa khas maka Allah Ta’ala dengan karunia-Nya yang khas kesehatan beliau mulai berangsur pulih kembali. Tanpa diduga Al-Haj Poonty Sahib dengan karunia Allah Ta’ala sudah sehat kembali seperti sedia kala dan sekarang beliau sedang bekerja seperti biasa. Beliau kerjakan semua pekerjaan Ansarullah dengan penuh semangat, ikut menghadiri rapat pengurus juga seperti biasa.”

 

Sebaliknya, seorang lain yang juga bernama Haji Poonty dari sebuah kampung bernama Chelle. Ia sangat keras menentang Jemaat Ahmadiyah dan setiap waktu ia menghasut orang-orang untuk melawan Jemaat Ahmadiyah. Keadaan kesehatannya nampak sangat baik dan tidak mengidap suatu penyakit apapun. Pada suatu hari orang-orang di kampung sedang mendengarkan Radio Ahmadiyah yang sedang menyiarkan program tabligh. Orang itu tiba-tiba datang di kampung itu dan mulai memaki-maki Ahmadiyah sambil berkata, “Janganlah kalian mendengarkan siaran tabligh Radio orang-orang Kafir.’ Orang-orang di kampung itu berkata: ‘Jika kamu tidak suka kepada orang-orang Ahmadiyah, tidak apa-apa, namun janganlah kamu memaki-maki mereka. Jangan menghina mereka.’ Lalu ia berkata; ‘Aku tidak akan berhenti dan akan terus memaki mereka dan sampai kapan-pun tidak akan berhenti.’ Maka pada malam itu dalam keadaan sehat walafiat ia tidur sampai pagi. Namun pagi-pagi dijumpainya sudah mati tidak bernyawa lagi. Tidak diketahui penyakit apa yang ia derita sepanjang malam itu hingga ajalnya.

Seorang Muallim di daerah Porto Novo, Benin bernama Raini Zakaria Sahib menulis; “Anak Hafizu Sahib telah hilang. Dalam keadaan sedih dan gelisah ia mencari anak itu kesemua tempat didaerah itu. Di Radio juga berkali-kali diumumkan tentang anaknya yang hilang itu, akan tetapi anak tidak dapat ditemukan. Dalam keadaan sedih dan gelisah ia menelepon saya; ‘Saya tidak punya harapan lagi untuk menemukan anak itu.’

Muallim Zakaria Sahib berkata kepadanya, ‘Janganlah berputus asa, sebab putus asa adalah dosa. Kita beriman kepada seorang Imam yang doanya sangat maqbul. Cobalah gunakan resep doa itu, lihatlah nanti Allah Ta’ala akan menurunkan karunia-Nya kepada engkau. Engkau juga berdoa dan saya juga berdoa, mari kita berdoa bersama-sama.’

Bapak anak itu berkata (via telepon), ‘Setelah mendengar nasihat anda saya segera bersujud dan berdoa kepada Allah Ta’ala: “Wahai Allah! Di daerah ini semua orang tidak ada yang menerima kebenaran Imam Engkau. Di daerah ini hanya saya seorang yang telah menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan Imam Engkau sungguh benar. Melalui pengakuan kebenaran ini aku memohon kepada Engkau, ya Allah kembalikanlah anakku kepadaku.”

Saya terus berdoa dengan sungguh-sungguh dan memohon kepada Allah Ta’ala agar anak itu segera dikembalikan kepada saya. Setelah berdoa saya keluar dari rumah menuju jalan dari mana anak itu telah hilang. Ketika saya masih berada di tengah jalan itu, tiba-tiba nampak anak saya keluar dari hutan, alhamdulillah! Peristiwa ini bagi saya sungguh merupakan tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as yang sangat jelas dan sebagai mu’jizah yang hidup diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada saya.’”

Amir Sahib Jemaat Ahmadiyah Niger menulis; “Di tempat kami ada seorang kawan bernama Muhammad Tsalits Sahib bekerja di sebuah Bank. Beliau selalu datang ke mesjid kita untuk mengerjakan shalat. Pada suatu hari beliau baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Officer Bank dan teman-temannya mulai mengganggunya dan berkata; ‘Jemaat Ahmadiyah telah memberinya uang sehingga ia masuk Ahmadiyah.’

Dia berkata; ‘Saya merasa sangat tersinggung dengan perkataan mereka itu, mereka telah menuduh bahwa saya telah masuk Ahmadiyah karena menerima uang. Pada malam hari itu saya banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala karena saya telah menerima Ahmadiyah, “Ya Allah! Berilah bimbingan kepada saya! Jemaat ini nampak secara lahiriah sangat menonjol dalam pengkhidmatan kepada Islam, akan tetapi aku tidak tahu keadan mereka yang sebenarnya, maka ya Allah! Beri tahulah aku apa yang sebenarnya. Aku hanya melihat mereka secara lahiriah.”

Pada suatu malam saya melihat sebuah ijtima (kumpulan) orang dalam mimpi. Ijtima itu begitu besar sehingga sejauh mata memandang terlihat hanya manusia yang begitu banyak jumlahnya. Semua memakai pakaian berwarna serba putih. Saya melihat diatas panggung ada Amir Sahib. Saya juga melihat Hadhrat Khalifatul Masih al-Khamis memakai pakaian yang indah serba putih juga dan dengan suara keras sekali beliau (Hudhur) sedang berulang-ulang mengucapkan “لا إله إلا الله” laa ilaaha illalladan semua orang juga mengikuti mengucapkan “لا إله إلا الله” laa ilaaha illallah’. Suasana pada waktu itu sangat mengherankan dan menyenangkan hati. Dalam keadaan demikian saya terbangun dan kalimah laa ilaaha illallah masih sedang terucap di lidah saya. Keadaan itu laksana wewangian tertanam dalam kalbu saya. Pada zaman ini Allah Ta’ala telah meletakkan tanggung jawab penyebaran kalimah laa ilaaha illallah ini diatas pundak anggota Jemaat Ahmadiyah. Melalui mimpi itu Allah Ta’ala telah menenteramkan hati saya, bahwa keputusan saya untuk menggabungkan diri dengan Jemaat Ahmadiyah sungguh tepat dan benar. Oleh karena itu sekarang saya tidak merasa takut dari siapa pun dan dengan karunia Allah Ta’ala sekarang iman saya semakin bertambah teguh.’”

Demikianlah beberapa peristiwa yang telah beliau uraikan kepada kita. Bagaimana orang-orang telah mendapatkan iman yang kuat setelah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah dan Allah Ta’ala juga memeperlihatkan pemandangan-pemandangan yang menakjubkan didalam mimpi yang telah meningkatkan keyakinan dan keimanan mereka.

Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as pernah bersabda; ”Sambil berpikir tengoklah baik-baik, dalam tempo 1300 tahun siapa yang telah memperoleh zaman ’ala minhajjin nubuwwat? Dengan tanda-tanda dari Allah Ta’ala dan dengan dukungan-Nya yang khas dan segar mereka mendapatkan nur dan yaqin seperti yang telah diraih oleh para sahabah Rasulullah saw. Di jalan Allah Ta’ala mereka menanggung banyak kesedihan menerima ejekan, cemoohan, laknat dan sumpah serapah dan beragai macam perkara yang menyakitkan hati dan kata-kata kasar dan kotor serta putusnya hubungan silaturrahmi, sebagaimana yang telah dihadapi oleh para sahabah r.a.. Melalui tanda-tanda Ilahi yang sangat gamblang, dengan dukungan dan pertolongan samawi, dan melalui ajaran yang bijak mereka senantiasa meraih kehidupan suci. Mereka menunaikan shalat dan memanjatkan doa sambil menangis sehingga tempat-tempat sujud mereka basah dengan air mata. Banyak sekali diantara mereka yang mendapat mimpi-mimpi yang benar. Banyak juga diantara mereka yang menerima ilham dari Allah Ta’ala. Banyak sekali diantara mereka yang selalu ingat kepada maut dan hati mereka lurus dan lembut. Kaki mereka melangkah diatas jalan taqwa. Mereka dari golongan lasykar Ilahi, yang Allah Ta’ala sendiri menjadi pelindung mereka. Setiap hari Dia menyucikan kalbu mereka. Setiap hari Dia menuangkan iman dan hikmah kedalam kalbu mereka. Dia menarik kehadirat-Nya melalui tanda-tanda samawi, sebagaimana Dia selalu menarik para Sahabat ke hadirat-Nya. Pendeknya didalam Jemaat ini semua tanda-tanda samawi dapat diperoleh yang dipahami sebagai berkat dari lafaz َآخَرِينَ مِنْهُمْ aakhariina minhum’ – Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka…’ (Surah al-Jumuah, 62 : 4) dan pada suatu hari firman-firman Allah Ta’ala pasti akan mencapai kesempurnaannya.”[4]

Semoga Allah Ta’ala menanamkan keyakinan dan iman yang teguh dalam hati setiap orang Ahmadi, semoga hubungan kita dengan Khaliq Hakiki selalu meningkat setiap waktu. Dan semoga tidak pernah terjadi kelemahan dalam iman kita.

Setelah pelaksanaan shalat Jumat, akan dilaksanakan shalat jenazah hadhir, yang penguburannya akan dilakukan juga hari ini. Beliau adalah Khursyid Begum, istri dari Abdul Mannan Sahib almarhum. Hal ini mungkin telah diumumkan sebelumnya. Beliau wafat di pagi hari tanggal 27 Agustus. إنا لله وإنا إليه راجعون Almarhumah adalah putri saudara dari Babu Qasim Din Shahib, salah seorang Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau juga menantu dari Babu Aziz Din Shahib. Semoga Allah memperlakukannya dengan penuh pengambunan, meningkatkan derajatnya dan memberi taufik kepada keluarga yang ditinggalkan untuk bersabar.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid 2 halaman 220, terbitan Rabwah

[3] Tadzkiratul Mahdi karya Hadhrat Pir Sirajul Haq Shahib Nu’mani ra, halaman 155-158, terbitan Qadian, tahun 1915.

[4] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14, halaman 306-307